Anda di halaman 1dari 194

http://facebook.

com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka

Haji Murat
http://facebook.com/indonesiapustaka
LEO TOLSTOI

Haji Murat
Diterjemahkan dari bahasa Rusia
oleh
Koesalah Soebagyo Toer
http://facebook.com/indonesiapustaka
HAJI MURAT
Leo Tolstoi
Diterjemahkan dari bahasa Rusia
oleh Koesalah Soebagyo Toer

Diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya


Jalan Kramat Raya 5 K, Jakarta 10450
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
All rights reserved

Disain sampul oleh Syarifudin


Cetakan pertama, 02.2009

PJ 844.01.2009
ISBN 978-979-419-351-8
http://facebook.com/indonesiapustaka
Pengantar

Novel pendek Haji Murat sudah pernah saya terjemahkan


ke bahasa Indonesia tahun 1968, tapi naskah terjemahan
itu disita oleh militer waktu saya ditahan akhir tahun itu,
dan dengan sendirinya hilang. Karena saya anggap novel
ini penting untuk dibaca oleh bangsa Indonesia sebagai
bangsa pejuang, juga penting sebagai suri teladan, maka
walau dengan berat hati saya terjemahkan ulang novel ini
sekarang, 40 tahun kemudian.
Tidak dapat disangsikan bahwa Tolstoi adalah patriot
bangsanya. Ingat bahwa ia secara sukarela pernah terjun
dalam Perang Krim (1853-1856) melawan Turki yang
dibantu oleh Inggris, Perancis dan Sardinia. Pengalaman
dalam perang ini kemudian ia bukukan dalam Sebastopol-
http://facebook.com/indonesiapustaka

skiye rasskazi (Cerita-cerita Sebastopol). Ingat juga novel


adikaryanya Voina i mir (Perang dan Damai), merawikan
kemenangan rakyat Rusia dalam menangkis serbuan tentara
Napoleon (1805-1814). Tapi dalam Haji Murat ia justru
mengetengahkan tokoh Haji Murat dari Chechnya yang
cinta kemerdekaan, melawan Rusia yang waktu itu berada

5
di bawah kekuasaan Tsar Nikolai I (1825-1855). Ia lukiskan
Haji Murat (tahun 1849-1852) sebagai tokoh yang gagah
berani, tangkas dan cerdas. Sebaliknya ia lukiskan Nikolai
I sebagai despot yang tak berperikemanusiaan, namun
merasa diri sebagai sumber kebijaksanaan Rusia dan dunia.
Jenderal-jenderal (antara lain Vorontsov dan Kamenev) dan
para perwiranya ia lukiskan sebagai orang-orang yang tidak
peka dan suka hidup berfoya-foya dengan mengorbankan
kepentingan rakyat. Sebaliknya rakyat yang sederhana (se-
perti Avdeyev) ia lukiskan sebagai orang lugu, cinta kerja,
yang tak punya rasa permusuhan, juga terhadap Haji Murat
dan para muridnya. Walau cerita ini diakhiri dengan kema-
tian Haji Murat, tetapi dalam benak pembaca terpateri Haji
Murat sebagai tokoh yang pantang menyerah.
Dari sini kelihatan, bagi Tolstoi, setidak-tidaknya
dalam novel ini dan di usia lanjutnya, keadilan dan kema-
nusiaan lebih penting daripada tanahair. Mungkinkah
karena itu, Tolstoi menggarap novel pendek ini cukup lama,
tak kurang dari delapan tahun (antara 1896-1904)? Kema-
tian Haji Murat, seperti dikatakan Tolstoi dalam kalimat
terakhir novel ini, “mengingatkan saya pada pulutan yang
terbajak di tengah ladang”.
Tentang Leo Tolstoi (1828-1910) sendiri dan karyanya
ada baiknya pembaca membaca pengantar novel Tolstoi
yang lain, Anna Karenina (Kepustakaan Populer Gramedia,
http://facebook.com/indonesiapustaka

2007) yang ditulis oleh Prof. Willen V. Sikorsky dengan


judul “Novel Leo Tolstoi yang banyak dibaca di dunia”.

Koesalah Soebagyo Toer

6
I
Saya pulang memintas ladang. Waktu itu tengah musim
panas benar. Rumput sudah disiangi dan orang-orang baru
bersiap menuai gandum hitam.
Di tengah musim itu lengkap sekali himpunan beragam
bunga yang elok: semanggi merah, putih, merah muda yang
harum baunya dan tampak lunak; aster yang menyolok
warnanya; bunga “cinta-tak-cinta” yang putih susu dengan
bagian tengah bewarna kuning terang, dengan bau sedikit
apak; bunga kolsa berbau madu; bunga genta tulip lila dan
putih tegak menjolok; bunga kacang jalar; bunga skabius
yang rapi, kuning, merah dan lila; bunga lawatan berbulu
halus merah muda, dengan bau semerbak nyaris terdengar
bunyinya; bunga padi-padian yang biru terang bila terkena
matari dan masih baru, tapi jadi biru muda dan merah di
http://facebook.com/indonesiapustaka

sore hari menjelang layu; dan maskumambang yang mesra


berbau badam, yang cepat layunya.
Saya himpun seikat besar berjenis bunga itu dan saya
pun pulang, tapi saat itu terlihat oleh saya dalam parit ada
bunga pulutan merah padam yang sedang mekar, yang di
tempat kita disebut bunga “tartar”. Orang selalu berusaha

7
membabatnya, bahkan kalau terbabat tanpa disengaja, para
penyabit segera menjauhkannya dari jerami, agar tidak ter-
gores tangannya. Terpikir oleh saya untuk memetik bunga
pulutan itu dan memasukkannya ke tengah ikatan. Saya
turun ke dalam parit. Sesudah mengusir kumbang berbulu
lebat yang sedang hinggap di tengah bunga dan dengan
nikmat dan malas terlena di sana, saya petiklah bunga itu.
Tapi alangkah sukar; batang bunga itu tidak hanya meng-
gores tangan dari segala penjuru, tapi juga menembus sapu
tangan yang saya pakai membungkus tangan. Dia begitu
kuat, hingga sekitar lima menit saya habiskan untuk itu,
dan sapu tangan saya robek-robek. Ketika akhirnya saya
berhasil memetik bunga itu, batangnya sudah hancur bi-
nasa dan bunganya pun sudah tak tampak segar dan indah
lagi. Kecuali itu, karena kasar dan rusak, bunga tidak lagi
cocok dengan bunga-bunga manis lain di dalam ikatan. Saya
menyesal telah dengan sia-sia merusak bunga yang tadinya
begitu baik pada tempatnya, dan membuangnya. “Alangkah
besar daya hidupnya,” begitu pikir saya mengenang upaya
yang telah saya lakukan untuk memetik bunga itu. “Begitu
tangguh ia bertahan dan begitu mahal ia mempertaruhkan
hidupnya.”
Jalan ke rumah melewati tanah hitam beruap yang
baru selesai dibajak. Saya berjalan menanjak sedikit me-
nempuh tanah hitam berdebu. Ladang yang sudah dibajak
http://facebook.com/indonesiapustaka

adalah ladang tuan tanah, sangat luas, hingga di kiri-kanan


mencapai jalanan: ke depan dan ke arah gunung tidak ada
yang kelihatan kecuali tanah hitam yang telah dibajak rata
dan yang belum tiba waktunya dibajak. Pembajakan bagus
sekali, tidak kelihatan di ladang itu satu pun tumbuhan atau
rumput—seluruhnya hitam. “Sungguh manusia makhluk

8
kejam, perusak; berapa banyak jenis makhluk hidup dan
tumbuhan dia musnahkan untuk kepentingan hidupnya
sendiri,” demikian pikir saya sambil tanpa disengaja men-
cari-cari sesuatu yang masih hidup di tengah ladang hitam
mati itu. Di depan saya, di kanan jalan, tampak semacam
semak kecil. Setelah saya dekati, saya lihat di tengah semak
itu bunga “tartar” tadi juga, yang bunganya dengan sia-sia
saya petik dan buang.
Semak “tartar” itu terdiri dari tiga cabang. Satu cabang
sudah patah, dan sisanya mencongak seperti tangan putung.
Pada dua cabang yang lain bertengger masing-masing satu
bunga. Kedua bunga itu tadinya merah, tapi sekarang hitam.
Satu batangnya patah, dan patahannya menggelantung ke
bawah, dengan bunga kotor di ujungnya. Batang yang lain
masih mencongak ke atas, walau berlumur lumpur tanah
hitam. Kelihatan bahwa seluruh semak itu pernah terlindas
roda dan sesudah itu baru bangkit lagi, karena itu miring
berdirinya, tapi bagaimanapun ia berdiri. Seperti telah
dicabut sebagian tubuhnya, dipuntir jeroannya, direnggut
tangannya, dicungkil matanya. Tapi ia tetap berdiri dan
tidak menyerah pada orang yang telah membunuh semua
saudara di sekitarnya.
“Daya yang luar biasa!” pikir saya. “Manusia sudah
mengalahkan semuanya, berjuta rumput dimusnahkan,
tapi yang ini tidak menyerah.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dan teringatlah oleh saya riwayat lama di daerah


Kaukasus yang sebagian saya saksikan sendiri, sebagian saya
dengar dari saksi mata, dan sebagian lagi saya bayangkan
sendiri. Riwayat itu demikian, menurut yang tersusun dalam
ingatan dan angan-angan saya.
Terjadi akhir tahun 1851.

9
Pada suatu petang yang dingin di bulan November,
Haji Murat datang di aul Makhket di daerah Chechnya yang
sedang rusuh; asap kizyak mengepul semerbak.
Alunan lengking muazin baru saja berlalu dan kini
lewat udara yang bersih berbau asap kizyak terdengar
dengan jelas lenguh lembu dan embik domba yang ber-
desak-desakan di semua saklya yang berdempet-dempet
seperti sarang tawon, juga suara tenggorok orang lelaki
yang bertengkar, dan suara perempuan dan anak-anak dari
bawah, dari pancuran.
Haji Murat adalah Naib Shamil yang terkenal dengan
perbuatan-perbuatan kepahlawanannya, yang tidak pernah
bepergian tanpa cirinya, yaitu iringan berpuluh murid yang
berkerumun di sekitarnya. Tapi kini, dengan mengenakan
kerudung dan burka yang menyembulkan senapan di
bawahnya, ia berkuda hanya dengan seorang murid. Ia
berusaha seboleh-bolehnya tak nampak men colok, dan
waspada memandang wajah penduduk yang dijumpainya
di jalan dengan mata yang hitam lincah.
Sampai di tengah aul, Haji Murat tidak terus me-
nyusuri jalan yang menuju lapangan, tapi membelok ke
kiri, memasuki lorong sempit. Sampai di saklya kedua di
lorong yang menjorok ke bukit kecil ia berhenti, menoleh
ke sekitar. Di bawah teratak di depan saklya tidak ada
orang, tapi di atas atap di balik cerobong tanah liat yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

baru olesannya berbaring orang berkerudung mantel. Haji


Murat menyentuh pelan orang yang berbaring itu dengan
gagang cambuknya dan mendecap dengan lidahnya. Dari
balik mantel menyembul lelaki tua mengenakan topi malam
dan jaket lusuh compang-camping. Mata orang tua itu tanpa
bulu mata, merah dan basah; untuk membukakan mata itu

10
ia mengedip-ngedip. Haji Murat mengucapkan salam yang
biasa, “Assalamualaikum,” dan membuka wajah.
“Alaikum salam,” ujar orang tua itu sambil tersenyum
dengan mulut ompongnya, sesudah mengenali Haji Murat.
Ia bangkit dengan kakinya yang kurus, lalu menginjakkan
kaki itu ke sepatu bersol kayu yang terletak dekat cerobong.
Sesudah mengenakan sepatu, tanpa tergesa ia memasukkan
tangan ke lengan mantelnya yang sudah mengkerut, dan
turun mundur lewat tangga yang disandarkan ke atap.
Sambil mengenakan mantel dan turun orang tua itu meng-
geleng-gelengkan kepala dengan lehernya yang kurus kisut
dan terbakar matahari, dan tak henti-henti berkomat-ka-
mit dengan mulut ompongnya. Sampai di tanah, dengan
sikap ramah ia pegang tali kekang kuda Haji Murat dan
sanggurdi kanannya. Tetapi murid Haji Murat yang kokoh
cekatan cepat turun dari kudanya, mendorong dan meng-
gantikannya.
Haji Murat turun dari kudanya, dan sambil terpincang-
pincang sedikit masuk ke bawah teratak. Dari pintu cepat ke-
luar anak lelaki umur sekitar lima belas untuk menyambut,
yang dengan heran memandang kedua orang tamu dengan
matanya yang jernih, hitam seperti buah bes masak.
“Lari sana ke masjid, panggil bapak,” perintah orang
tua itu kepadanya, lalu mendahului Haji Murat membuka
pintu saklya yang berderit ringan. Waktu Haji Murat ma-
http://facebook.com/indonesiapustaka

suk, dari pintu dalam keluar perempuan yang tak lagi muda,
ramping kurus, mengenakan jaket merah di atas kemeja
kuning dan celana komprang biru, membawa dua bantal.
“Kedatangan Anda membawa berkah,” katanya, dan
sesudah membongkok dua kali, ia letakkan kedua bantal
itu di dekat dinding depan untuk duduk para tamu.

11
“Anak-anakmu semoga selamat,” jawab Haji Murat
sambil melepas burka, senapan dan pedang, dan mem-
berikannya pada orang tua itu.
Orang tua itu dengan hati-hati menggantungkan se-
napan dan pedang ke paku di samping senapan tuan rumah,
di antara dua baskom besar mengkilat di dinding yang dioles
rata dan dikapur bersih.
Haji Murat memperbaiki letak pistol di punggungnya,
menghampiri bantal yang telah diletakkan oleh perempuan
tadi, dan sesudah menutupkan kaftan-nya, duduk di atas
bantal. Orang tua itu duduk di depannya bertelanjang
kaki, lalu sambil memejamkan mata menadahkan kedua
tangannya. Haji Murat demikian juga. Sesudah membaca
doa, keduanya mengusap wajah dengan kedua tangan yang
akhirnya dipersatukan di ujung jenggot.
“Nye khabar?” tanya Haji Murat kepada orang tua itu,
artinya: “Ada kabar baru?”
“Khabar iok—‘tidak ada’,” jawab orang tua itu sambil
memandang bukan ke wajah, tetapi ke dada Haji Murat
dengan matanya yang merah tak bercahaya. “Saya hidup
dari beternak lebah, dan baru saja datang menengok anak.
Dia yang tahu.”
Haji Murat tahu bahwa orang tua itu tak mau meng-
ungkapkan apa yang diketahuinya dan perlu diketahui oleh
Haji Murat. Ia sedikit menganggukkan kepalanya, tapi tak
http://facebook.com/indonesiapustaka

mau bertanya lebih lanjut.


“Yang baru tak ada,” ujar orang tua itu. “Cuma semua
kelinci bermusyawarah, bagaimana mengusir elang. Tapi
elang merebut aul satu demi satu. Minggu lalu anjing-an-
jing Rusia membakar rumput kering orang Michitskii dan
merusak wajah mereka,” ujar orang tua itu geram dengan

12
suara parau.
Murid Haji Murat masuk. Sesudah dengan lunak me-
langkah-langkah lebar dengan kaki yang kokoh di atas lantai
tanah, seperti Haji Murat juga, ia tanggalkan burka, senapan
dan pedangnya, dan ia sangkutkan sendiri semuanya itu di
paku tempat bergantungnya senapan Haji Murat, sementara
belati dan pistol ia biarkan tetap terselip.
“Siapa ini?” tanya orang tua itu kepada Haji Murat
sambil menunjuk orang yang baru masuk.
“Muridku. Eldar namanya,” kata Haji Murat.
“Baik,” kata orang tua itu, lalu menunjukkan tempat
kulit kempa di samping Haji Murat kepada Eldar.
Eldar duduk bersila, dan tanpa kata-kata ia layangkan
pandang dengan matanya yang indah seperti mata domba
ke wajah orang tua yang sedang berbicara. Orang tua itu
bercerita bahwa pemuda-pemuda mereka minggu lalu
berhasil menangkap dua serdadu: satu mereka bunuh, satu
lagi mereka kirim kepada Shamil di Vedeno. Haji Murat
mendengarkan dengan lalai, sambil menoleh-noleh ke pintu
dan mendengar-dengarkan suara-suara di luar. Di bawah
teratak di depan saklya terdengar langkah-langkah kaki,
pintu berderit, dan tuan rumah masuk.
Tuan rumah, Sado, berumur sekitar empat puluh ta-
hun, berjenggot kecil, berhidung panjang, bermata hitam,
walau tidak sehitam mata anak umur lima belas tahun,
http://facebook.com/indonesiapustaka

anaknya, yang berlari di belakangnya dan bersama ayahnya


masuk saklya dan duduk dekat pintu. Sesudah melepas
sepatu kayunya, tuan rumah menggeser kopiah yang usang
dan lusuh ke tengkuknya yang tertutup rambut hitam dan
sudah lama tak dicukur, lalu langsung berjongkok di depan
Haji Murat.

13
Seperti orang tua tadi, ia memejamkan mata, me-
nadahkan tangan, membaca doa, mengusap wajah dengan
tangannya, dan baru sesudah itu mulai bicara. Ia menga-
takan bahwa dari Shamil ada perintah untuk menangkap
Haji Murat hidup atau mati; baru kemarin para utusan
Shamil meninggalkan tempat itu; rakyat takut mengabaikan
perintah Shamil, karena itu perlu berhati-hati.
“Di rumahku,” kata Sado, “selagi aku hidup, tak se-
orang pun akan melakukan sesuatu pada sahabatku. Tapi
di luar bagaimana? Itu perlu dipikirkan.”
Haji Murat mendengarkan dengan saksama, dan meng-
anggukkan kepala tanda setuju. Ketika Sado selesai bicara,
ia mengatakan, “Baik. Sekarang perlu kirim pembawa surat
kepada orang Rusia. Muridku yang yang akan pergi, tapi
perlu pengantar.”
“Akan kukirim saudaraku, Bata,” kata Sado. “Panggil
Bata,” katanya kepada anaknya.
Anak itu, seperti berpegas, melompat dengan kakinya
yang lincah, dan sambil cepat melambaikan tangan keluar
dari saklya. Sekitar sepuluh menit kemudian ia kembali
bersama seorang Chechen yang pendek hitam berotot
kakinya, mengenakan kaftan kuning tak tertata, dengan
lengan baju compang-camping berumbai dan kain stiwel
hitam terjulur. Haji Murat menyambut orang yang baru
datang, dan seketika itu tanpa buang-buang kata yang tak
http://facebook.com/indonesiapustaka

perlu, singkat berkata:


“Bisa mengantar muridku ke orang Rusia?”
“Boleh,” ujar Bata cepat, riang. “Apa pun boleh. Tak
ada orang Chechen bisa melawan saya. Bisa saja orang lain
pergi, janji macam-macam, tapi tak bikin apa-apa. Tapi
saya bisa.”

14
“Baiklah,” kata Haji Murat. “Untuk itu kamu dapat
tiga,” katanya sambil menyodorkan tiga jari.
Bata mengangguk tanda mengerti, tapi menambahkan
bahwa yang penting bukan uang, tapi demi kehormatan ia
siap mengabdi pada Haji Murat. Semua orang di pegunung-
an tahu Haji Murat, bagaimana ia menghajar orang Rusia
macam menghajar babi ….
“Baik,” kata Haji Murat. “Tali baik kalau panjang, tapi
kata-kata baik kalau pendek.”
“Baiklah, saya akan diam,” kata Bata.
“Di mana Argun membelok, di depan lereng bukit,
tempat terbuka di hutan, ada dua timbunan rumput kering.
Tahu?”
“Tahu.”
“Di sana tiga orang muridku menunggu aku,” kata
Haji Murat.
“Aiya!” kata Bata mengangguk.
“Tanya Khan Magoma. Khan Magoma tahu, apa mesti
dilakukan dan dikatakan. Antarkan dia ke komandan orang
Rusia, Vorontsov, pangeran. Bisa kamu?”
“Akan saya antarkan.”
“Antarkan juga pulangnya. Bisa?”
“Boleh.”
“Selesai ngantarkan, kamu kembali ke hutan. Aku akan
ada di sana.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Akan saya lakukan semua,” kata Bata yang lalu bang-


kit, melekapkan tangan ke dada dan keluar.
“Perlu juga kirim orang ke Gekhi,” kata Haji Murat ke-
pada tuan rumah, ketika Bata sudah keluar. “Di Gekhi perlu
ini,” katanya mulai sambil memegang salah satu lipatan
jubahnya, tapi seketika itu ia turunkan tangannya, dan ia

15
terdiam, melihat dua orang perempuan masuk saklya.
Yang seorang istri Sado, yaitu yang kurus, yang tidak
lagi muda, dan tadi meletakkan bantal. Yang lain gadis
remaja bercelana komprang merah berjaket hijau dengan
rangkaian mata uang menutup seluruh dada. Di ujung
kepangan rambutnya yang hitam panjang, tidak tebal, tapi
kaku yang terjela di tengah punggungnya yang kurus, ter-
gantung mata uang rubel dari perak; matanya yang hitam
seperti buah kismis, seperti juga mata adik dan ayahnya,
bersinar riang di tengah wajahnya yang masih muda tapi
dikerengkan. Ia tak memandang para tamu itu, tapi keli-
hatan ia merasakan kehadiran mereka.
Istri Sado membawa meja bulat pendek bermuatan teh,
pilgish, panekuk bermentega, keju, chur—roti tipis—dan
madu. Gadis itu membawa baskom, kumgan dan kain lap.
Sado dan Haji Murat keduanya bungkam, sementara
kedua perempuan yang datang mengenakan selop merah
tanpa kata-kata itu meletakkan barang-barang yang dibawa-
nya di depan para tamu. Dan Eldar yang dengan mata
domba menatap kakinya yang tersila, juga tidak bergerak-
gerak, macam patung, sementara kedua perempuan ada di
dalam saklya. Baru ketika kedua perempuan itu keluar dan
langkah-langkah lunak mereka di luar pintu tak terdengar
lagi, Eldar menarik napas lega, dan Haji Murat memegang
salah satu lipatan jubahnya, mengeluarkan peluru dari
http://facebook.com/indonesiapustaka

dalamnya, dan dari bagian bawah peluru ia keluarkan surat


yang tergulung bertentuk pipa.
“Berikan kepada anakmu,” katanya sambil menunjuk-
kan surat.
“Balasannya pada siapa?” tanya Sado.
“Kepada kamu, dan dari kamu kepadaku.”

16
“Akan saya lakukan,” kata Sado, lalu memasukkan su-
rat ke dalam lipatan jubahnya. Sudah itu ia pegang kumgan,
dan ia sorongkan baskom ke dekat Haji Murat. Haji Murat
menyingsingkan lengan jaket yang menutup lengannya
yang putih berotot, dan menadahkannya di bawah kucuran
air jernih dingin yang dituangkan Sado dari kumgan. Haji
Murat mengeringkan kedua tangannya dengan kain lap
yang bersih kaku, lalu menggeserkan diri ke dekat makanan.
Eldar demikian juga. Sementara para tamu makan, Sado
duduk di depan mereka dan beberapa kali mengucapkan
terima kasih atas kunjungan itu. Anak lelaki yang duduk
dekat pintu, tanpa melepaskan pandang matanya yang
cerlang hitam dari Haji Murat, tersenyum, seolah dengan
senyum itu ia membenarkan kata-kata ayahnya.
Walau lebih dari sehari semalam tidak makan apa pun,
Haji Murat hanya makan sedikit roti dan keju; ia ambil pisau
kecil dari bawah belatinya dan dengan pisau itu ia colek
madu, dan ia oleskan pada rotinya.
“Madu kami baik. Tahun ini sesudah bertahun-tahun:
banyak dan baik mutunya,” kata orang tua itu, agaknya
merasa puas Haji Murat menyantap madunya.
“Terima kasih,” kata Haji Murat, lalu meninggalkan
makanan.
Eldar masih ingin makan, tapi seperti mursidnya, ia
menjauhkan diri dari meja, dan menyodorkan baskom dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kumgan kepada Haji Murat.


Sado tahu bahwa dengan menerima Haji Murat, ia
meriskir hidupnya, sebab sesudah terjadinya pertengkaran
Shamil dengan Haji Murat, sudah diumumkan kepada
seluruh penduduk Chechnya untuk tidak menerima Haji
Murat, dengan ancaman hukuman mati. Ia tahu bahwa

17
penduduk aul setiap saat bisa mengetahui adanya Haji
Murat di rumahnya dan bisa menuntut penyerahannya.
Tapi hal itu tidak meresahkannya, sebaliknya menggem-
birakannya. Sado menganggap sebagai tugasnya untuk
membela tamu—kunak-nya, walau risikonya nyawa, dan
ia merasa senang dan bangga bahwa ia telah bertindak
sebagaimana mestinya.
“Sementara Anda di rumah saya, dan kepala saya masih
di atas bahu ini, tak seorang pun akan melakukan sesuatu
pada Anda,” ulangnya kepada Haji Murat.
Haji Murat memandang matanya yang bersinar-sinar
dengan saksama, dan karena mengerti bahwa yang di-
katakan Sado itu benar, ia pun berkata sedikit khidmat:
“Semoga kamu mendapat kegembiraan dan hidup.”
Sado melekapkan sebelah tangannya ke dada sebagai
tanda terima kasih atas perkataan Haji Murat yang baik itu.
Sado memasang penutup jendela saklya dan menyala-
kan kayu di tungku pemanasan, lalu dengan wajah sangat
riang dan bersemangat keluar dari kamar tamu dan masuk
ke kamar yang dihuni seluruh keluarganya. Para perempuan
belum tidur, sedang berbicara tentang tamu-tamu berba-
haya yang menginap di kamar tamu.

II
http://facebook.com/indonesiapustaka

Malam itu juga dari benteng terdepan Vozdvizhenskaya,


lima belas werst dari aul tempat Haji Murat menginap,
keluar dari kubu di belakang gerbang Chakhgirinskiye tiga
orang prajurit dengan seorang bintara. Para prajurit me-

18
ngenakan mantel bulu pendek dengan kopiah dan mantel
gulungan di bahu serta sepatu lars tinggi, seperti biasa pada
prajurit di Kaukasus waktu itu. Para prajurit yang memang-
gul senapan itu mula-mula berjalan menyusur jalan besar,
tapi sekitar lima ratus langkah kemudian menyimpang, dan
sesudah berjalan ke kanan sekitar dua puluh langkah dengan
suara gemerisik karena menginjak dedaunan kering, mereka
berhenti di dekat sebuah pohon yang patah; batangnya yang
hitam nampak juga di tengah kegelapan. Lewat pohon itu
biasanya disampaikan rahasia.
Bintang-bintang terang seakan berlari di sekitar ke-
muncak pohon, ketika para prajurit berjalan lewat hutan,
tapi kini berhenti dan memancarkan sinarnya di sela-sela
rerantingan.
“Untung kering,” kata bintara Panov sambil menurun-
kan senapannya yang panjang berbayonet, dan dengan
bunyi ribut menyandarkannya ke pokok pohon. Ketiga
prajurit berbuat demikian juga.
“Mana barang itu, kok hilang,” gerutu Panov marah,
“lupa, atau jatuh di jalan.”
“Apa yang kamu cari?” tanya salah seorang prajurit
dengan suara riang, keras.
“Pipa! Setan, di mana tadi jatuh!”
“Pipa itu masih, ya?” tanya suara keras tadi.
“Masih, ini dia.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Langsung di tanah, ya?”


“Di mana lagi?”
“O, beres.”
Merokok dalam tugas rahasia dilarang, tapi tugas raha-
sia itu sudah hampir bukan rahasia lagi, lebih tepat disebut
penjagaan terdepan, agar orang-orang pegunungan tak

19
datang membawa senjata tanpa ketahuan, dan seperti dulu
menembaki kubu. Panov pun tidak merasa perlu mening-
galkan rokok, karena itu ia setuju dengan usul prajurit
riang itu. Prajurit riang mengeluarkan pisau kecil dari kan-
tongnya, dan mulai menggali tanah. Sesudah lubang tergali,
ia rapikan, ia pasang pipanya, lalu ia masukkan tembakau
ke lubang, ia padatkan, dan pipa pun siap. Batang korek api
menyala, sejenak menyinari muka prajurit yang menonjol
tulang pipinya dan berbaring menengkurap itu. Dari dalam
pipa kayu terdengar bunyi mendesir dan Panov menghirup
bau harum makhorka menyala.
“Beres, ya?” katanya sambil bangkit.
“Jelas dong.”
“Avdeyev memang jago! Anak muda yang pintar. Nah,
coba minggir.”
Avdeyev melompat ke samping, memberikan tempat
kepada Panov, dan mengembuskan asap dari mulutnya.
Sesudah ia puas merokok, antara para prajurit terjadi
percakapan ini.
“Kabarnya, komandan kompi menggerayang laci lagi.
Maklum, kalah main,” kata salah seorang prajurit dengan
suara malas.
“Tapi pasti dia kembalikan,” kata Panov.
“Tentu, dia kan opsir baik,” Avdeyev membenarkan.
“Baik sih baik,” si pemula percakapan melanjutkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan murung, “tapi kalau menurutku, kompi mesti bi-


cara sama dia: kalau dia ambil, bilang berapa, dan kapan
kembalinya.”
“Bagaimana saja keputusan kompi,” kata Panov sambil
menjauh dari pipa.
“Dunia ini memang dunianya orang gedean,” kata

20
Avdeyev membenarkan.
“Ya soalnya, haver mesti dibeli, sepatu mesti dibikin
betul menghadapi musim semi, uang dia perlu; tapi kalau
memang dia ambil …,” desak prajurit yang tak puas itu.
“Aku bilang, bagaimana kompi maunya saja,” kata
Panov. “Ini kan bukan yang pertama: ambil, dan kembali-
kan.”
Zaman itu di Kaukasus tiap kompi mengatur sendiri
ekonominya lewat orang-orang yang dipilih. Kompi me-
nerima uang dari perbendaharaan, untuk tiap orang enam
rubel lima puluh kopek, dan mengatur bahan makan sendiri:
menanam kol, menyabit rumput, memiliki beberapa gero-
bak, melagakkan kuda-kuda kompinya yang diberi makan
kenyang. Adapun uang kompi disimpan dalam laci yang
kuncinya dipegang oleh komandan kompi, dan sering ter-
jadi komandan kompi meminjam uang dari laci kompi itu.
Itulah yang terjadi sekarang, yang dibicarakan para prajurit
itu. Prajurit Nikitin yang murung ingin minta laporan dari
komandan kompi, tapi Panov dan Avdeyev menganggap
itu tak perlu.
Sesudah Panov, Nikitin merokok juga; ia menggelar
mantel, lalu duduk bersandar ke pohon. Para prajurit diam.
Yang terdengar hanya angin yang mengusik kemuncak po-
hon jauh di atas kepala sana. Tiba-tiba di tengah desir lirih
tak henti-henti itu terdengar lolong, jerit, tangis, dan gelak
http://facebook.com/indonesiapustaka

kawanan serigala.
“Begitulah kalau binatang terkutuk itu bunyi,” kata
Avdeyev.
“Itu mereka menertawakan kamu, karena moncongmu
mencong,” kata prajurit keempat dengan logat Ukraina.
Suasana kembali hening, hanya angin mengusik

21
cabang pepohonan, kadang menampakkan, dan kadang
menutup gemintang.
“Omong-omong, Antonich,” tiba-tiba tanya Avdeyev ri-
ang kepada Panov, “pernah nggak kamu merasa bosan?”
“Bosan bagaimana?” jawab Panov malas.
“Kalau aku pernah begitu bosan, sampai rasanya, tak
tahulah, mau aku habisi saja hidup ini.”
“Ah, kamu!” kata Panov.
“Waktu itu sampai habis uangku buat minum, itu
karena bosan. Makin lama makin parah. Aku pikir, biarlah
mabok, nanti aku bunuh diri.”
“Karena minum, bisa lebih buruk daripada itu.”
“Dan itu pernah kualami. Ya, mau ke mana?”
“Tapi, kenapa bosan?”
“Aku? Rindu rumah.”
“Emang, hidupmu kaya?”
“Bukan kaya, tapi beres. Baiklah.”
Dan mulailah Avdeyev menceritakan apa yang sudah
sering ia ceritakan kepada Panov juga.
“Kan aku menggantikan abangku?” kata Avdeyev ber-
cerita. “Anak dia lima! Sedang aku baru kawin. Jadi, emakku
minta aku. Aku pikir, apalah aku ini! Ya, barangkali saja
nanti orang ingat kebaikanku. Aku temuilah tuan tanahku.
Tuan kami orang baik. Dia bilang, ‘Baik sekali kamu, ya
sana.’ Begitulah, aku menggantikan abang.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Ya, itu kan baik?” kata Panov.


“Tapi ya itu, Antonich, sekarang aku bosan. Dan lebih
dari itu aku bosan, karena orang bilang, kenapa aku meng-
gantikan abang. Orang bilang, sekarang abang kuasa, sedang
aku tersiksa. Dan makin kupikir, makin tersiksa. Ini jelas
dosa.”

22
Avdeyev terdiam.
“Baga imana kalau kit a merok ok lagi?” tanya
Avdeyev.
“Ya ayo, bereskan!”
Tapi tak sempat kedua prajurit merokok. Baru saja
Avdeyev berdiri dan mau membereskan kembali pipa itu,
di tengah desir angin terdengar langkah-langkah di jalan.
Panov mencekau senjatanya dan menyodok Nikitin dengan
kakinya. Nikitin bangkit dan mengangkat mantelnya. Bang-
kit juga orang ketiga—Bondarenko.
“Tadi malam aku bermimpi, kawan-kawan ….”
Avdeyev melarang Bondarenko bicara, dan para praju-
rit pun bungkam, mendengar-dengarkan. Langkah-langkah
lunak orang yang tak mengenakan sepatu bot mendekat.
Makin lama makin jelas terdengar di tengah kegelapan itu
desir dedaunan dan rerantingan kering. Kemudian terde-
ngar pembicaraan dengan suara tenggorok khusus yang
biasa dipakai orang Chechen. Para prajurit sekarang tak
hanya mendengar, tapi melihat dua bayangan melintas di
tempat terang di antara pepohonan. Satu bayangan agak
pendek, yang lain agak tinggi. Ketika kedua bayangan sudah
sejajar dengan prajurit, Panov dengan senjata di tangan
menghadang bersama kedua temannya.
“Siapa di situ?” teriaknya.
“Chechen damai,” ujar orang yang lebih dekat. Dialah
http://facebook.com/indonesiapustaka

Bata. “Senjata iok, pedang iok,” katanya sambil memperli-


hatkan diri. “Perlu kinez.”
Orang yang lebih tinggi berdiri diam di depan kawan-
nya. Dia pun tak membawa senjata.
“Sandi. Jadi—ke resimen,” kata Panov menerangkan
kepada temn-temannya.

23
“Kinez Vorontsov, perlu sekali, perlu urusan penting,”
ujar Bata.
“Baik, baik, kami antar,” kata Panov. “Ya, bagaimana
kalau yang ngantar kamu, dengan Bondarenko?” katanya
kepada Avdeyev, “kalau sudah diserahkan pada yang tugas,
balik sini. Awas tapi,” kata Panov, “hati-hati, giring di depan.
Jidat telanjang ini orang licik.”
“Apa ini?” kata Avdeyev sambil menggerakkan senapan
dengan bayonetnya, seakan menusuk. “Aku tebas sekali
—amblas.”
“Tak ada guna dia, kalau kamu potong,” kata Bonda-
renko. “Ya, ayo!”
Sesudah langkah kedua prajurit bersama sandi sudah
tak kedengaran lagi, Panov dan Nikitin kembali ke tem-
patnya.
“Persetan, malam-malam gentayangan!” kata Nikitin.
“Artinya perlu,” kata Panov. “Mulai dingin,” tambah-
nya sambil membuka mantel, mengenakannya, dan duduk
bersandar ke pohon.
Sekitar dua jam kemudian Avdeyev dan Bondarenko
kembali.
“Gimana, sudah diserahkan?” tanya Panov.
“Ya, sudah. Tapi komandan resimen belum tidur. Lang-
sung diantar padanya. Tapi kawan-kawan, jidat telanjang
itu anak-anak baik, lho,” sambung Avdeyev. “Sungguh! Aku
http://facebook.com/indonesiapustaka

omong-omong sama mereka.”


“Tahu, kamu memang suka omong,” kata Nikitin
kesal.
“Betul-betul macam orang Rusia. Yang satu kawin.
Marushka bar? kataku. Bar, katanya. ‘Baranchuk bar?’
kataku. ‘Bar.’ ‘Banyak?’ ‘Sepasang,’ katanya. Ya, begitulah

24
kami omong-omong. Betul anak-anak baik.”
“Percaya, baik,” kata Nikitin, “tapi kalau ketemu dia
satu-satu, jeroanmu dikeluarkannya.”
“Kelihatannya hampir fajar,” kata Panov.
“Ya, bintang-bintang mulai hilang,” kata Avdeyev
sambil duduk.
Dan para prajurit pun kembali diam.

III
Jendela di tangsi dan rumah-rumah prajurit sudah lama
gelap, tapi jendela di salah satu rumah terbaik dalam
benteng itu masih semua terang. Rumah itu didiami oleh
komandan Resimen Kurinskii, putra penglima tertinggi,
ajudan tsar, Pangeran Semyon Mikhailovich Vorontsov.
Vorontsov tinggal di situ bersama istri, Maria Vasilyevna,
wanita cantik terkenal dari Petersburg. Ia tinggal di benteng
kecil Kaukasus dengan kemewahan yang belum pernah
ditunjukkan oleh siapa pun dan kapan pun di sini. Bagi
Vorontsov, dan terutama bagi istrinya, hidup mereka di sini
tidak hanya sederhana, melainkan juga penuh kekurangan;
adapun bagi penduduk di sini hidup mereka itu mence-
ngangkan, mewah luar biasa.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sekarang, pukul dua belas malam, dalam kamar tamu


yang luas terlapisi seluruhnya dengan permadani dan
terhias potret-potret besar, duduk suami-istri tuan rumah
bersama para tamunya mengitari meja. Mereka main kartu.
Salah seorang pemain adalah tuan rumah sendiri, Kolonel
Vorontsov yang jangkung berambut pirang, mengenakan

25
monogram-pita ajudan tsar; rekan mainnya adalah kan-
didat Universitas Petersburg yang belum lama ditetapkan
oleh nyonya pangeran sebagai guru putra nyonya pangeran
dari suaminya yang pertama, seorang anak yang berambut
kusut dan berwajah murung. Di depan mereka bermain dua
orang perwira: yang seorang komandan kompi Poltoratskii
yang berdada bidang, berwajah kemerahan, pindahan dari
kesatuan garda, dan yang lain ajudan resimen yang sangat
lurus duduknya, berwajah tampan, dengan air muka di-
ngin. Nyonya pangeran Maria Vasilyevna sendiri, wanita
cantik yang gemuk, bermata lebar beralis hitam, duduk di
samping Poltoratskii, sambil menyentuh kaki Poltoratskii
dengan roknya dan menengok-nengok ke kartunya. Dalam
kata-katanya, dalam pandangan matanya, dalam senyum-
nya, dalam semua gerak tubuhnya, maupun dalam minyak
wangi yang semerbak tercium dari tubuhnya, terkandung
segala yang membuat Poltoratskii lupa, kecuali kesadaran
bahwa nyonya itu duduk di dekatnya, yang akibatnya ia
terus melakukan kesalahan, dan itu semakin membuat
rekan mainnya marah.
“Wah, ini tidak bisa ini! Masak as dipendam lagi!”
ujar ajudan dengan merah mukanya, ketika Poltoratskii
menurunkan kartu as.
Seperti bangun tidur, Poltoratskii bengong meman-
dang ajudan yang kesal itu dengan matanya yang hitam,
http://facebook.com/indonesiapustaka

berjauhan letaknya dan memancarkan kebaikan hatinya.


“Maafkanlah dia!” kata Maria Vasilyevna sambil terse-
nyum. “Anda lihat, saya sudah bilang tadi,” katanya kepada
Poltoratskii.
“Yang Anda bilang tadi lain sama sekali,” kata Polto-
ratskii tersenyum.

26
“Apa begitu?” kata Maria Vasilyevna disertai senyum
juga. Dan senyum jawaban itu sungguh menggetarkan dan
menggembirakan Poltoratskii; dan dengan wajah merah
padam dicengkamnya kartu-kartu itu dan mulai diko-
coknya.
“Bukan kamu yang mesti ngocok,” kata ajudan kereng,
dan dengan tangannya yang putih bercincin ia bagikan kartu
itu begitu rupa, seakan ingin segera lepas ia dari kartu itu.
Pelayan-kamar pangeran masuk kamar tamu untuk
melaporkan bahwa prajurit jaga ingin menghadap pa-
ngeran.
“Maaf, Tuan-tuan,” kata Vorontsov dalam bahasa Ru-
sia beraksen Inggris. “Kamu wakili aku, Marie.”
“Setuju semua?” tanya nyonya pangeran sambil berdiri
sepenuh badan, cepat dan ringan, hingga mendesir bunyi
kain suteranya, sambil tersenyum cemerlang seorang wanita
yang bahagia.
“Saya selalu setuju,” kata ajudan yang merasa sangat
puas karena lawan mainnya sekarang nyonya pangeran yang
sama sekali tak bisa main. Poltoratskii hanya mengembang-
kan kedua tangannya sambil tersenyum.
Permainan rubber sedang berakhir ketika pangeran
kembali ke kamar tamu. Ia kembali dengan gembira dan
bergairah.
“Tahukah Tuan-tuan, apa yang hendak saya usul-
http://facebook.com/indonesiapustaka

kan?”
“Apa itu?”
“Mari kita minum sampanye.”
“Untuk itu saya selalu setuju,” kata Poltoratskii.
“Apa boleh buat, memang sangat menyenangkan,”
kata ajudan.

27
“Vasilii! Bawa sini,” kata pangeran.
“Ada apa kamu dipanggil?” tanya Maria Vasilyevna.
“Prajurit jaga dan satu orang lagi.”
“Siapa? Siapa?” buru-buru tanya Maria Vasilyevna.
“Tak bisa aku mengatakan,” kata Vorontsov sambil
mengangkat bahu.
Sampanye didatangkan. Para tamu meneguk masing-
masing segelas, dan sesudah mengakhiri permainan minta
diri, dan bubar.
“Kompi Anda besok tugas ke hutan?” tanya pangeran
kepada Poltoratskii.
“Ya. Kenapa?”
“Jadi, kita ketemu besok,” kata pengaeran sambil
senyum tipis.
“Dengan senang hati,” kata Poltoratskii walau tak
begitu memahami apa yang dikatakan Vorontsov, karena
hanya memikirkan bahwa sebentar lagi ia akan menjabat
tangan besar putih Maria Vasilyevna.
Maria Vasilyevna, seperti biasa, tidak hanya menja-
bat erat, tapi juga mengguncang tangan Poltoratskii. Dan
sekali lagi ia mengingatkan kesalahan Poltoratskii waktu
menjalankan kartu ruit, dan tersenyum padanya, yang oleh
Poltoratskii terasa sebagai senyuman yang manis, mesra
dan mengandung arti.
Poltoratskii berjalan pulang dengan riang, yang hanya
http://facebook.com/indonesiapustaka

bisa dimengerti oleh orang-orang seperti dia yang dibe-


sarkan dan dididik di kalangan bangsawan, yang sesudah
berbulan-bulan hidup terpencil sebagai tentara, kembali
bertemu dengan wanita dari kalangan asal. Dan dengan
wanita semacam nyonya pangeran Vorontsova pula.
Sampai di rumah yang ia tinggali dengan kawannya,

28
ia dorong pintu masuk, tapi pintu itu terkunci. Ia ketuk.
Pintu tidak juga dibuka. Ia jadi kesal, lalu ia genderang pintu
terkunci itu dengan kaki dan pedangnya. Dari balik pintu
terdengar langkah-langkah kaki, dan Vavilo, petani hamba
pesuruh Poltoratskii, melepas pasak pintu.
“Sejak kapan akal-akal ngunci pintu?! Tolol!”
“Maaf, Aleksei Vladimir ….”
“Mabok lagi! Aku kasih unjuk kamu, bagaimana ….”
Poltoratskii mau memukul Vavilo, tapi tak jadi.
“Persetan kamu. Nyalakan lilin!”
“Baik, Tuan.”
Vavilo memang habis minum, dan ia minum karena
hadir di hari-nama pejabat perbekalan. Waktu pulang ia
renungkan hidupnya sendiri, ia bandingkan dengan hidup
Ivan Makeich, pejabat perbekalan itu. Ivan Makeich punya
penghasilan, punya istri, dan berharap setahun lagi bisa
menebus dirinya. Vavilo sendiri sejak kecil sudah diangkat
ke atas, artinya mengabdi pada tuan-tuan; kini umurnya
sudah empat puluh tahun lebih, tapi ia belum juga kawin,
dan hidup berpindah-pindah dengan tuannya yang tak
menentu. Tuannya orang baik, tidak banyak berkelahi, tapi
apalah hidup macam itu! “Dia janjikan kebebasan kalau
nanti kembali dari Kaukasus. Tapi ke manalah aku akan
pergi dengan kebebasan itu! Hidup macam anjing begini!”
pikir Vavilo. Dan ia begitu mengantuk, hingga karena takut
http://facebook.com/indonesiapustaka

jangan-jangan orang masuk dan mencuri sesuatu, ia pa-


sanglah pasak pintu dan ia pun tertidur.
Poltoratskii masuk kamar tempat ia tidur dengan
kawannya, Tikhonov.
“Nah, bagaimana, kalah?” tanya Tikhonov yang ter-
bangun.

29
“Ah, tidak, menang tujuh belas rubel, dan minum
sampanye Cliquot satu botol.”
“Dan lihat Maria Vasilyevna?”
“Dan lihat Maria Vasilyevna,” ulang Poltoratskii.
“Sebentar lagi mesti bangun,” kata Tikhonov, “dan jam
enam berangkat.”
“Vavilo,” pekik Poltoratskii. “Awas, jangan sampai lupa
bangunkan aku besok jam lima.”
“Bagaimana membangunkan kalau Tuan lagi marah?”
“Aku bilang bangunkan. Dengar?”
“Ya, dengar sih.”
Vavilo keluar membawa sepatu dan pakaian.
Poltoratskii membaringkan badan ke tempat tidur, dan
sambil tersenyum merokok papiros dan mematikan lilin. Di
tengah kegelapan itu ia melihat di hadapannya wajah Maria
Vasilyevna yang tersenyum.
Suami-istri Vorontsov pun tidak segera tertidur. Ketika
para tamu sudah pergi, Maria Vasilyevna mendekati sua-
minya, berhenti di depannya, dan bertanya kereng:
“Eh bien, vous aller me dire ce que c’est?” (“Nah, akan
kamu katakan tidak, ada apa?”)
“Mais, ‘ma chere ….” (“Tidak, sayangku….”)
“Pas de ‘ma chere’! C’est un emissaire, n’est-ce pas?”
(“Tak ada urusan dengan ‘sayangku’! Itu sandi, kan?”)
“Quand meme je ne puis pas vous le dire.” (“Biar be-
http://facebook.com/indonesiapustaka

gitu, tak bisa aku mengatakan.”)


“Vous ne pouvez pas? Alors c’est moi qui vais vous
le dire!” (“Tak bisa? Kalau begitu aku yang akan men-
gatakan!”)
“Vous?” (“Kamu?”)
“Haji Murat, kan?” kata nyonya pangeran yang sudah

30
beberapa hari mendengar tentang perundingan dengan
Haji Murat, dan menduga bahwa Haji Murat sendiri yang
mendatangi suaminya.
Vorontsov tak bisa membantah, tapi ia mengecewakan
istrinya, sebab yang bertamu bukan Haji Murat sendiri,
cuma sandi yang menyampaikan bahwa Haji Murat besok
akan menemuinya di tempat penebangan hutan.
Di tengah kejemuan hidup di dalam benteng, pasangan
muda Vorontsov—baik suami maupun istri—merasa senang
dengan kejadian itu. Sesudah mengatakan alangkah menye-
nangkan berita itu nantinya untuk ayahnya, pada pukul tiga
Vorontsov dengan istrinya pun tidur.

IV
Sesudah tiga malam tidak tidur karena menghindari
kejaran murid-murid Shamil, Haji Murat pun seketika
tertidur begitu Sado keluar dari saklya, sesudah mengu-
capkan selamat malam kepadanya. Ia tidur tanpa melepas
pakaian, bertelekan pada tangan yang sikunya mengepit
bantal merah empuk yang diberikan oleh tuan rumah. Tak
jauh darinya, dekat dinding, tidur Eldar. Eldar berbaring
telentang, menjelepahkan lebar-lebar anggota badannya
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang muda dan kuat, hingga dadanya yang tinggi dengan


lipatan hitam jubah putih itu lebih tinggi daripada kepalanya
yang biru, baru bercukur, dan tergolek di atas bantal. Bibir
atasnya yang seperti bibir anak-anak tertutup bulu halus
bergerak-gerak, mengerut dan mengembang. Ia tidur seperti
juga Haji Murat: berpakaian lengkap, dengan pistol dan

31
belati tersisip. Di dalam tungku, kayu sudah hampir habis
terbakar dan di atas tungku, lampu malam hampir tak lagi
memancarkan terang.
Tengah malam pintu masuk kamar tamu berderit, dan
Haji Murat seketika itu bangkit dan mencekam pistolnya.
Sado masuk kamar dengan langkah lunak di lantai tanah.
“Ada perlu apa?” tanya Haji Murat tegas, seakan tidak
habis tidur.
“Mesti dipikirkan,” kata Sado sambil berjongkok
di depan Haji Murat. “Perempuan di atas atap itu, lihat,
waktu kamu datang,” katanya, ”dan menyampaikan pada
suaminya, dan sekarang seluruh aul tahu. Barusan tetangga
perempuan datang pada istri, bilang orang-orang tua sudah
kumpul di masjid mau menangkap kamu.”
“Kalau begitu mesti pergi,” kata Haji Murat.
“Kuda-kuda sudah siap,” kata Sado dan cepat keluar
dari saklya.
“Eldar,” bisik Haji Murat, dan Eldar begitu mendengar
namanya disebut, dan yang penting mendengar suara guru-
nya, melompat berdiri dengan kakinya yang kokoh sambil
membetulkan letak kopiahnya. Haji Murat mengenakan
senapan dan burka. Eldar melakukan hal itu juga. Dan tanpa
mengatakan apa pun keduanya keluar dari saklya di bawah
teratak. Anak lelaki bermata hitam datang menyerahkan
kedua kuda. Mendengar ketak-ketuk tapal kuda di jalan
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang keras, kepala entah siapa muncul dari balik pintu sak-
lya tetangga, dan seorang lelaki, entah siapa, lari ke gunung
menuju masjid, sepatu kayunya berbunyi nyaring.
Bulan tak nampak, tetapi bintang-bintang bersinar
terang di langit kelam, dan di tengah kegelapan itu tampak
sosok atap-atap saklya, dan yang lebih besar daripada yang

32
lain-lain, bangunan masjid beserta menaranya di dataran
aul yang paling tinggi. Dari masjid terdengar gemuruh
suara orang.
Haji Murat cepat mencekau senapannya, memasuk-
kan kaki ke sanggurdi yang sempit. Tanpa suara dan tanpa
kentara ia layangkan tubuhnya, dan tanpa kedengaran ia
dudukkan dirinya di atas bantalan pelana yang tinggi.
“Semoga Tuhan melindungimu!” katanya kepada tuan
rumah, dan sambil mencari sanggurdi kanan dengan gerak-
an kaki kanannya yang biasa, ia sedikit mendorong anak
lelaki yang memegang kuda dengan cambuknya sebagai
isyarat agar anak itu menyingkir. Anak itu pun menyingkir.
Dan seolah tahu apa yang harus dilakukannya, kuda itu pun
dengan langkah tegap meninggalkan lorong dan masuk jalan
besar. Eldar menyusul di belakang; Sado yang mengenakan
mantel bulu melambai-lambaikan kedua tangannya, hampir
berlari di belakang mereka, berpindah dari sisi satu ke sisi
lain jalan yang sempit itu. Di pintu keluar, di seberang jalan,
muncul bayangan bergerak, disusul bayangan lain.
“Brenti! Siapa itu di jalan? Berhenti!” pekik satu suara
dan beberapa orang pun menghempang jalan.
Haji Murat bukannya berhenti, melainkan mencabut
pistol dari pinggangnya, dan sambil menambah kecepatan
ia terjunkan kudanya ke tengah orang-orang yang meng-
hempang jalannya. Orang-orang yang berdiri di jalan itu bu-
http://facebook.com/indonesiapustaka

bar, dan tanpa menoleh lagi Haji Murat dengan meligas pun
terus melaju. Eldar dengan derap cepat mengikutinya. Di
belakang mereka mendentum dua tembakan dan dua peluru
mendesing lewat, tapi tak mengenai dirinya atau pun Eldar.
Haji Murat terus mencongklang seperti tadi. Lewat sekitar
tiga ratus meter ia hentikan kudanya yang sedikit terengah

33
dan mulai mendengar-dengarkan. Di depan, di bawah sana,
bergemercik air yang mengalir cepat. Di belakang bersahut-
sahutan kokok ayam jantan dari aul. Di sela semua bunyi
itu terdengar derap kuda mendekat dan suara percakapan
di belakang Haji Murat. Haji Murat memacu kudanya dan
berangkat dengan kecepatan merata seperti tadi.
Mereka yang mencongklang di belakang Haji Murat
tidak lama kemudian berhasil mengejarnya. Jumlah mereka
sekitar dua puluh orang berkuda. Mereka adalah penduduk
aul yang bertekad menangkap Haji Murat, atau paling tidak,
untuk membersihkan diri di hadapan Shamil, berpura-pura
hendak menangkapnya. Ketika mereka sudah cukup dekat
hingga mulai kelihatan, Haji Murat berhenti, melepaskan
kendali dan dengan gerakan yang biasa, dengan tangan kiri
ia membuka kantong senapan dan dengan tangan kanan
mencabut senapan. Eldar berbuat demikian juga.
“Mau apa?” teriak Haji Murat. “Mau nangkap, ya?
Ya, tangkaplah!” dan ia angkat senapannya. Penduduk aul
berhenti.
Haji Murat dengan senapan di tangan mulai menuruni
lembah. Orang-orang berkuda mengikutinya, tapi tidak
mendekat. Ketika Haji Murat sudah menyeberang ke sisi
sana lembah, orang-orang berkuda memekik kepadanya,
minta dia mendengarkan apa yang ingin mereka katakan.
Sebagai jawabnya, Haji Murat menembak dengan sena-
http://facebook.com/indonesiapustaka

pannya dan mencongklangkan kudanya. Ketika ia meng-


hentikan kudanya, pengejaran terhadapnya sudah tak ter-
dengar; tidak terdengar juga kokok ayam jantan, sebaliknya
lebih terang terdengar di tengah hutan itu gemericik air dan
kadang-kadang ratapan burung hantu. Dinding hutan yang
kelam sudah dekat benar. Itulah hutan tempat para murid

34
menantikannya. Sampai di hutan Haji Murat berhenti; ia
menghirup udara banyak-banyak dalam peparunya, bersuit,
dan kemudian diam mendengar-dengarkan. Sejenak kemu-
dian suit demikian terdengar juga dari hutan. Haji Murat
membelok dari jalan dan masuk hutan. Sesudah berjalan
sekitar seratus langkah, Haji Murat melihat api unggun di
sela-sela batang-batang pohon, bayang-bayang orang yang
duduk di dekat api dan kuda berpelana, terikat, yang sampai
separonya diterangi nyala api.
Salah seorang dari yang duduk dekat api cepat berdiri,
mendekati Haji Murat, dan memegangi kendali dan sang-
gurdi. Dia adalah orang Avaria, Hane namanya, yang
disebut saudara Haji Murat dan mengepalai rumah tang-
ganya.
“Api matikan,” kata Haji Murat sambil turun dari kuda.
Orang-orang mulai membongkar api dan menginjak-injak
batang-batang kayu yang menyala.
“Bata tadi di sini?” tanya Haji Murat sambil meng-
hampiri burka yang tergelar.
“Ya, tapi sudah lama pergi sama Khan Magoma.”
“Lewat mana perginya?”
“Sana,” jawab Hanefi sambil menunjuk arah yang
berlawanan dengan arah datangnya Haji Murat.
“Bagus,” kata Haji Murat, lalu melepas senapannya dan
mengisinya. “Mesti hati-hati, aku dikejar,” katanya kepada
http://facebook.com/indonesiapustaka

orang yang mematikan api.


Orang itu adalah orang Chechen, Gamzalo. Gamzalo
mendekat ke burka, mengambil senapan yang terletak di
atasnya, dan tanpa mengatakan sesuatu pergi ke tepi la-
pangan, ke tempat datangnya Haji Murat. Eldar turun dari
kudanya, memegang kuda Haji Murat dan sesudah menarik

35
kedua kepala kuda itu tinggi-tinggi, menambatkanya ke
pokok pohon, kemudian seperti juga Gamzalo, sambil me-
manggul senapan pergi ke sisi lain lapangan. Api unggun
sudah dimatikan dan hutan tidak lagi tampak begitu kelam
seperti sebelumnya, dan di langit bintang-bintang bersinar
walau tak begitu terang.
Melihat ke bintang-bintang, ke arah gugus Bintang
Jung yang sudah naik separoh langit, Haji Murat memperki-
rakan hari sudah lama lewat tengah malam, dan sudah lewat
waktu untuk solat malam. Ia minta kumgan pada Hane
yang selalu menyimpannya dalam kantong, mengenakan
burka, dan pergi ke air.
Haji Murat melepas sepatu dan bersuci, kemudian
berdiri di atas burka dengan kaki telanjang, dan sesudah
itu bersimpuh; sesudah menyumbat kedua telinga dengan
jari-jarinya dan memejamkan mata, ia solat yang biasa
dengan menghadap ke timur.
Selesai solat ia kembali ke tempatnya di dekat kan-
tong pelana; ia duduk di atas burka, bertelekan ke lutut,
menekurkan kepala, dan berpikir.
Haji Murat selalu percaya pada nasib baiknya. Sebelum
melakukan sesuatu, ia sudah yakin benar akan berhasil,
dan memang demikianlah selalu. Itulah yang sudah ter-
jadi, hanya kadang-kadang saja ada perkecualian, dalam
meneruskan kehidupan militernya yang membadai. Seka-
http://facebook.com/indonesiapustaka

rang pun ia mengharapkan demikian. Ia membayangkan


dengan pasukan yang akan diberikan kepadanya oleh Vo-
rontsov, ia akan dapat menghadapi Shamil dan menawan-
nya serta membalas dendam padanya; lalu Tsar Rusia akan
memberikan anugerah kepadanya, dan ia akan menguasai
lagi tidak hanya Avaria, tapi juga seluruh Chechnya yang

36
akan tunduk kepadanya. Dengan pikiran-pikiran itu tanpa
terasa ia pun tertidur.
Ia bermimpi, bersama murid-murid disertai alunan
dan pekik “Haji Murat datang” ia menyerbu Shamil dan
menangkapnya bersama istri-istrinya, dan ia mendengar
istri-istri itu menangis dan meratap. Ia terbangun. Alunan
suara “La ilaha” dan pekik “Haji Murat datang”, dan tangis
para istri Shamil—itu adalah lolong, pekik dan raung sejum-
lah serigala yang membuatnya terbangun. Haji Murat meng-
angkat kepala dan menengok ke langit yang sudah mulai
terang di sela pokok-pokok pohon di timur, dan bertanya
kepada seorang murid yang duduk tak berapa jauh darinya
tentang Khan Magoma. Tahu bahwa Khan Magoma belum
kembali, Haji Murat menekurkan kepala dan seketika juga
tidur ayam kembali.
Ia terbangun oleh suara riang Khan Magoma yang telah
kembali bersama Bata dari melaksanakan perutusan. Khan
Magoma seketika itu menghadap Haji Murat dan mulai
menceritakan bahwa para serdadu menemui dan mengan-
tarkan mereka ke pangeran sendiri, kemudian Magoma
bicara langsung dengan pangeran, dan pangeran merasa
senang dan berjanji akan menemui mereka di tempat
orang-orang Rusia menebang hutan, di sebelah Michik, di
lapangan Shalim. Bata menyela-nyela pembicaraan kawan-
nya untuk menambahkan rincian cerita.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Haji Murat menanyakan secara rinci, dengan kata-kata


bagaimana Vorontsov menjawab usul Haji Murat untuk
menyeberang ke pihak orang Rusia. Dan Khan Magoma dan
Bata dengan serentak mengatakan bahwa pangeran berjanji
akan menerima Haji Murat sebagai tamu dan akan berusaha
supaya ia merasa senang. Haji Murat bertanya lagi tentang

37
jalan, dan ketika Khan Magoma dapat meyakin kannya
bahwa ia tahu benar jalannya dan akan mengantarkannya
langsung ke sana, Haji Murat mengambil uang dan mem-
berikan tiga rubel yang dijanjikannya kepada Bata; kepada
murid-muridnya ia perintahkan untuk mengambil senapan
bertatah emas dan kopiah beserta sorban dari kantong pela-
na, dan ia perintahkan kepada mereka untuk membersihkan
diri agar dapat menemui orang Rusia dengan penampilan
yang baik. Sementara mereka membersihkan senapan,
pelana, abah-abah dan kuda, bintang-bintang padam, hari
terang, dan angin silir bertiup menjelang matahari terbit.

V
Pagi-pagi ketika hari masih gelap, dua kompi berkampak di
bawah pimpinan Poltoratskii keluar sejauh sepuluh werst
dari gerbang Chakhgirin; sesudah menyebar barisan penem-
bak, begitu hari mulai terang, mulailah mereka menebang
hutan. Menjelang pukul delapan, kabut bercampur asap
semerbak rerantingan lembab yang berdesis dan bergemer-
sik di api unggun mulai membubung ke angkasa, dan para
penebang yang sebelumnya dalam jarak lima langkah tidak
dapat saling melihat dan hanya dapat saling mendengar
http://facebook.com/indonesiapustaka

suaranya, kini mulai dapat melihat api unggun maupun


berjalan menerabas hutan yang tertimbun batang-batang
pohon; matahari terkadang muncul seperti bercak terang
di tengah kabut, terkadang menghilang kembali. Di lapang-
an penebangan tidak seberapa jauh dari jalan, lima orang
duduk dekat genderang: Poltoratskii bersama calon perwira

38
Tikhonov, dua perwira kompi tiga dan bekas perwira garda
kavaleri yang diturunkan pangkatnya karena duel, kawan
Poltoratskii dalam Korps Page, Baron Freze. Di sekitar gen-
derang bertaburan kertas-kertas, puntung rokok dan botol-
botol kosong. Perwira-perwira itu sudah minum wodka,
makan makanan ringan dan kini minum porter. Penabuh
genderang membuka tutup botol kedelapan. Poltoratskii,
walau tidak cukup tidur, berada dalam suasana hati yang
menunjukkan naiknya kekuatan jiwa dan kegembiraan
tanpa beban, seperti selalu dirasakannya apabila ia berada
di tengah para prajurit dan kawan-kawan, di tempat bahaya
mungkin mengancam.
Di antara para perwira itu terjadi percakapan ramai
tentang berita terakhir, yaitu gugurnya Jenderal Sleptsov.
Terkait dengan gugurnya jenderal itu, tak seorang pun
memandang berakhirnya hidup dan kembalinya hidup
kepada sumbernya sebagai saat terpenting dalam hidup;
yang tampak oleh mereka hanya kehebatan perwira yang
gagah berani ini, yang telah menyerbu dengan pedang ke
tengah orang-orang pegunungan dan membabatnya tanpa
peduli apa pun.
Walau semuanya, terutama para perwira yang pernah
mengalami, tahu dan bisa tahu bahwa di dalam perang di
Kaukasus waktu itu, kapan pun dan di mana pun tidak
pernah terjadi pertempuran campuh dengan pedang yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

selalu dibayangkan dan digambarkan itu (dan kalaupun


terjadi pertempuran campuh dengan pedang dan bayonet,
yang dibabat dan ditusuk selalu hanya orang-orang yang
melarikan diri), namun ksi tentang pertempuran campuh
itu diakui adanya oleh para perwira itu dan memberikan
kepada mereka kebanggaan dan kegembiraan pasti, dan

39
hal itu mewarnai sikap mereka selagi mereka duduk dekat
genderang, merokok, minum dan berkelakar, yang seorang
dengan nada gagah, yang lain sebaliknya dengan nada
sangat merendah, tanpa memikirkan maut yang dapat
saja setiap saat menimpa masing-masing dari mereka, se-
bagaimana yang telah menimpa Sleptsov. Dan betul, seakan
sebagai pembenaran atas penantian mereka di tengah
percakapan itu, di sebelah kiri jalan terdengar bunyi indah
segar tembakan bedil yang jernih mendesing, dan peluru
yang mendesau riang itu meluncur di udara berkabut dan
menancap ke sebatang pohon. Beberapa tembakan berat-
nyaring dari senapan para prajurit membalas tembakan
musuh itu.
“Lho!” teriak Poltoratskii dengan suara riang, “ini kan
dalam lingkungan penebangan! Iyalah, Kostya,” katanya
kepada Freze, “ini keberuntunganmu. Gabunglah dengan
kompimu sana. Kita bikin pertempuran yang indah! Kita
bikin pagelaran sekarang.”
Baron yang diturunkan pangkatnya itu melompat ber-
diri dan dengan langkah cepat berjalan menuju kepulan asap
tempat kompinya terhimpun. Kuda Kabardian kecil berbulu
kerangga disodorkan kepada Poltoratskii. Poltoratskii pun
naik. Ia bariskan kompinya, ia bawa ke tengah jajaran pen-
embak, ke arah datangnya tembakan. Jajaran penembak
itu bercokol di tepi hutan, di depan ngarai yang telanjang
http://facebook.com/indonesiapustaka

melandai. Angin bertiup ke hutan. Tidak hanya lereng ngarai


di sini, sisi ngarai di sana pun tampak dengan jelas.
Ketika Poltoratskii sampai di tengah jajaran penembak,
matahari muncul dari balik kabut, dan di sisi sana ngarai di
dekat bermulanya hutan kecil lain, sekitar seratus sazhen
jauhnya, tampak beberapa penunggang kuda. Mereka

40
adalah orang-orang Chechen yang sebelumnya mengejar
Haji Murat dan kini ingin melihatnya datang menemui
orang Rusia. Seorang dari mereka melepaskan tembakan
ke arah jajaran penembak. Beberapa prajurit dari jajaran pe-
nembak membalasnya. Orang-orang Chechen menarik diri
dan tembak-menembak berhenti. Tetapi ketika Poltoratskii
tiba dengan kompinya, ia memerintahkan menembak dan
begitu komando diberikan, di seluruh jajaran pun tanpa
henti berdentuman bunyi senapan yang riang menyegar-
kan diiringi asap yang mengepul indah. Girang dengan
hiburan itu, para prajurit cepat-cepat mengisi senapan dan
mengosongkannya berturut-turut. Orang Chechen agaknya
merasakan adanya kelakar itu, dan sambil mencongklang
ke depan mereka lepaskan beberapa tembakan ke arah para
prajurit. Salah satu tembakan melukai seorang prajurit. Di-
alah Avdeyev yang telah melakukan misi rahasia tadi. Ketika
kawan-kawan mendekatinya, ia sudah terbaring tengkurap
sambil memegang luka di perut dengan kedua tangannya
dan terus menggoncang-goncangkan badannya.
“Dia baru mau ngisi senapan, sana sudah nyalak,” kata
prajurit yang berpasangan dengan Avdeyev. “Saya lihat, dia
lepas senapannya.”
Avdeyev adalah dari kompi Poltoratskii. Melihat para
prajurit berkerumun, ia memacu kudanya ke sana.
“Bagaimana, kawan, kena, ya?” katanya. “Apanya?”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Avdeyev tidak menjawab.


“Dia baru mau ngisi, Yang Mulia,” ujar prajurit yang
tadi berpasangan dengan Avdeyev, “saya dengar sana nya-
lak, saya lihat dia lepas senapannya.”
“Ck-ck,” decak Poltoratskii. “Nah, bagaimana Avdeyev,
sakit?”

41
“Bukan sakit, tapi tak bisa jalan. Kalau ada minuman,
Yang Mulia.”
Wodka, artinya minuman keras yang biasa diminum
para prajurit di Kaukasus, akhirnya diperoleh dan Panov
sambil mengerutkan kening kereng menyodorkan sloki
minuman itu kepada Avdeyev. Avdeyev pun minum, tapi
seketika itu juga menolak sloki itu dengan tangannya.
“Tidak masuk,” katanya. “Minum kamu sendiri.”
Panov menggantikan minum. Avdeyev kembali men-
coba berdiri, tapi kembali duduk. Mantel dihamparkan dan
Avdeyev dibaringkan di situ.
“Kolonel datang, Yang Mulia” lapor sersan mayor
kepada Poltoratskii.
“Baiklah, kamu urus,” kata Poltoratskii, lalu sambil
mengayunkan cambuk ia menderap cepat menyambut
Vorontsov.
Vorontsov menunggang kuda ras Inggris berbulu
pirang tua diiringi ajudan resimen, seorang Kazak, dan
seorang penterjemah Chechen.
“Ada apa di sini?” tanyanya kepada Poltoratskii.
“Itu dia, datang gerombolan menyerang jajaran,” jawab
Poltoratskii.
“Nah, nah, dan kalian yang mulai?”
“Tidak, Pangeran,” kata Poltoratskii tersenyum, “me-
reka sendiri merangsek.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Saya dengar, seorang prajurit luka?”


“Ya, sayang sekali. Prajurit yang baik.”
“Parah?”
“Rupanya parah, di perut.”
“Dan Anda tahu, ke mana saya pergi?” tanya Vo-
rontsov.

42
“Tidak tahu.”
“Tak bisa menduga?”
“Tidak.”
“Haji Murat nyebrang dan sebentar lagi menemui
kita.”
“Tidak mungkin!”
“Kemarin sandi datang darinya,” kata Vorontsov yang
dengan susah-payah menahan senyum riang. “Sekarang dia
mesti tunggu saya di lapangan Shalin; karena itu sekarang
Anda sebarkan penembak sampai lapangan dan sudah itu
datang ke saya.”
“Siap,” kata Poltoratskii sambil menyentuhkan tangan
ke topi, lalu menemui kompinya. Jajaran ia turunkan sendiri
ke sisi kanan, sedang dari sisi kiri ia perintahkan sersan
mayor untuk melakukannya. Orang yang luka sementara
itu diangkut empat prajurit ke benteng.
Poltoratskii sudah kembali menemui Vorontsov ketika
ia lihat orang-orang berkuda menyusulnya dari belakang.
Poltoratskii berhenti dan menunggu mereka.
Di depan sekali orang yang sangat mengesankan, me-
ngendarai kuda bersurai putih, mengenakan kaftan putih
dan sorban di atas topinya, menyandang senapan berta-
tah emas. Orang itu adalah Haji Murat. Ia menghampiri
Poltoratskii dan mengatakan sesuatu kepadanya dalam
bahasa Tartar. Poltoratskii mengangkat alis, mengem-
http://facebook.com/indonesiapustaka

bangkan kedua tangan sebagai tanda tidak mengerti, dan


tersenyum. Haji Murat menjawab senyuman itu dengan
senyuman juga, dan senyuman balasan itu mempesonakan
Poltoratskii karena mengungkapkan kebaikan hati seorang
kanak-kanak. Poltoratskii sungguh tidak menyangka akan
menemui orang pegunungan yang mengerikan itu dalam

43
keadaan demikian. Yang ia duga adalah orang yang murung
wajahnya, kering dan asing, padahal di hadapannya adalah
orang paling sederhana yang memperlihatkan senyuman
begitu ramah sehingga ia tak nampak sebagai orang asing,
melainkan sebagai sahabat yang sudah lama dikenal. Hanya
ada satu hal yang istimewa padanya, yaitu matanya yang
berjauhan satu sama lain, yang memandang mata orang
lain dengan tekun, tenang, menghunjam.
Pengiring Haji Murat terdiri dari empat orang. Yang
seorang Khan Magoma, yang malam sebelumnya men-
jumpai Vorontsov. Dia berwajah bundar kemerahan dengan
mata hitam cemerlang tanpa kelopak, dengan wajah yang
mengungkapkan kegembiraan hidup. Seorang lagi bun-
tek berambut panjang dengan alis rimbun. Dialah orang
Tavlin, Hane , yang mengelola semua milik Haji Murat.
Ia membawa kuda pengiring dengan kantong pelana yang
penuh berisi. Yang mencolok di antara pengiring itu dua
orang; yang seorang pemuda tampan yang ramping seperti
perempuan, mengenakan sabuk, bidang dadanya dengan
jenggot pirang sedikit menonjol dan dengan mata domba,
dialah Eldar; dan yang lain jereng sebelah matanya, tanpa
alis dan bulu mata, berjenggot pirang tua tercukur, dengan
bekas lula menlintas hidung dan wajahnya, itulah orang
Chechen, Gamzalo.
Poltoratskii menunjukkan Vorontsov yang muncul
http://facebook.com/indonesiapustaka

di jalan kepada Haji Murat. Haji Murat menuju ke sana,


dan sesudah dekat melekapkan tangan kanan ke dada dan
mengatakan sesuatu dalam bahasa Tartar, dan berhenti.
Orang Chechen penterjemah menterjemahkan:
“Katanya, saya menyerahkan diri pada kehendak Tsar
Rusia. Saya ingin, katanya, mengabdi padanya. Sudah lama,

44
katanya. Shamil tak membolehkan.”
Sesudah mendengar penterjemah, Vorontsov meng-
ulurkan tangan yang bersarung kulit lunak kepada Haji
Murat. Haji Murat memandang tangan itu, sesaat melam-
batkan geraknya, tapi kemudian menjabat erat tangan itu
dan kembali mengatakan sesuatu sambil kadang menoleh
pada penterjemah, kadang pada Vorontsov.
“Katanya, dia tak mau menyeberang kepada siapa pun
kecuali kamu, sebab kamu putra sardar. Dia sangat hormat
padamu.”
Vorontsov mengangguk sebagai tanda terima kasih.
Haji Murat masih mengatakan sesuatu lagi sambil menun-
juk pengiringnya.
“Dia bilang bahwa orang-orang ini muridnya, yang
seperti juga dia, akan mengabdi pada orang Rusia.”
Vorontsov menoleh pada mereka dan mengangguk
juga pada mereka.
Khan Magoma yang penggembira, bermata hitam
tanpa kelopak, menganggukkan kepala juga, mengucap-
kan sesuatu yang tentunya lucu kepada Vorontsov, sebab
orang Avaria yang panjang rambutnya itu tersenyum mem-
perlihatkan giginya yang putih cemerlang. Gamzalo yang
berambut pirang tua hanya menjeling sekejap dengan se-
belah matanya yang merah kepada Vorontsov, lalu kembali
menatapkan pandangan ke telinga kudanya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Ketika Vorontsov dan Haji Murat dengan para pe-


ngiringnya melintas kembali ke benteng, para prajurit yang
ditarik dari jajaran penembak dan berkerumun, mem-
perdengarkan suaranya:
“Berapa nyawa dibabatnya, terkutuk, dan sekarang
barangkali, akan dibikin senang,” kata seorang.

45
“Tentu. Dia kan komandan pertama Shamil? Sekarang
tentunya ….”
“Habis, jagoan, mau apa, penunggang kuda hebat.”
“Si pirang itu, sih, macam binatang buas, dia me-
lirik.”
“Ya, anjing mestinya.” Semuanya pun memperhatikan
si pirang.
Di tempat penebangan, para prajurit yang terdekat
dengan jalan berlarian keluar untuk melihat. Perwira me-
larang mereka, tapi Vorontsov mencegahnya.
“Biar mereka lihat kenalan lamanya. Tahu kamu, siapa
itu?” tanya Vorontsov pada prajurit yang berdiri di dekatnya,
yang waktu itu pelan-pelan mengucapkan kata-kata dengan
aksen Aglits.
“Sama sekali tidak, Yang Mulia.”
“Haji Murat, pernah dengar?”
“Tentu, Yang Mulia, sering kita hajar dia.”
“Nah, karena dia juga kita beruntung.”
“Tepat, Yang Mulia,” jawab prajurit yang merasa puas
dapat berbicara dengan komandannya.
Haji Murat mengerti bahwa orang membicarakannya
dan senyum gembira pun berkilau di matanya. Dengan hati
gembira Vorontsov kembali ke benteng.
http://facebook.com/indonesiapustaka

VI
Vorontsov sangat puas bahwa dialah, justru dialah, yang
berhasil memancing dan menerima musuh Rusia yang
utama, paling perkasa, kedua sesudah Shamil. Hanya ada

46
satu hal yang tak menyenangkan, yaitu bahwa komandan
dari pasukan di Benteng Vozdvizhenskaya adalah Jenderal
Meller-Zakomelskii; jadi, lewat dialah segalanya mesti
dilakukan. Padahal Vorontsov melakukan hal itu sendiri,
tanpa melaporkannya pada jenderal, karenanya bisa terjadi
hal yang tak menyenangkan. Dan pikiran ini sedikit mera-
cuni kepuasan hati Vorontsov.
Sampai di rumah, Vorontsov mempercayakan para
murid Haji Murat kepada ajudan resimen, sedang Haji
Murat sendiri dibawanya ke rumahnya.
Nyonya pangeran Maria Vasilyevna dengan pakaian
megah sambil tersenyum, bersama anak lelakinya yang tam-
pan berambut ikal umur enam tahun, menemui Haji Murat
di kamar tamu, dan Haji Murat sambil melekapkan tangan
ke dada dengan khidmat mengatakan lewat penterjemah
yang masuk bersamanya, bahwa ia menganggap dirinya
sebagai kunak pangeran, karena pangeran telah menerima
dirinya di rumahnya, dan seluruh keluarga kunak adalah
suci juga bagi sang kunak, seperti kunak sendiri. Penampil-
an maupun gerak-gerik Haji Murat menyenangkan Maria
Vasilyevna. Ketika Haji Murat merah padam mukanya
karena Maria Vasilyevna menyodorkan tangannya yang
besar putih, hal itu lebih lagi menyenangkan hati Maria
Vasilyevna, dan itu menguntungkan Haji Murat. Maria
Vasilyevna mempersilakannya duduk, dan sesudah bertanya
http://facebook.com/indonesiapustaka

kepada Haji Murat apakah Haji Murat minum kopi, ia pun


memerintahkan orang menyediakannya. Namun Haji Murat
menolak kopi ketika kopi disuguhkan padanya. Haji Murat
mengerti sedikit bahasa Rusia, tapi tak bisa bicara. Kalau
dia tak mengerti, dia tersenyum, dan senyuman itu menye-
nangkan hati baik Maria Vasilyevna maupun Poltoratskii.

47
Anak Maria Vasilyevna yang ikal dan tajam penglihatannya,
yang oleh ibunya disebut Bulka, terus berdiri di dekat ibunya
dan terus memandang Haji Murat, yang didengarnya adalah
seorang militer yang luar biasa.
Vorontsov meninggalkan Haji Murat pada istrinya,
lalu pergi ke kantoran untuk mengatur penyampaian berita
kepada atasan tentang menyeberangnya Haji Murat. Ia tulis
laporan kepada komandan sayap kiri, Jenderal Kozlovskii,
ke Groznaya, dan surat kepada ayahnya. Kemudian ia buru-
buru pulang, takut istrinya merasa tak enak karena ia telah
memaksakan istrinya menemui orang yang tak dikenal dan
mengerikan, yang harus diperlakukan demikian rupa hingga
tidak tersinggung dan tidak pula terlalu termesrai. Namun
kekhawatirannya itu ternyata tidak perlu. Haji Murat waktu
itu duduk di kursi memangku Bulka, anak tiri Vorontsov,
dan sambil menekurkan kepalanya dengan saksama ia
mendengarkan apa yang dikatakan penterjemah padanya,
terjemahan kata-kata yang diucapkan Maria Vasilyevna
sambil ketawa. Maria Vasilyevna telah mengatakan padanya
bahwa jika Haji Murat menghadiahkan kepada siapa saja
barang miliknya yang telah dipuji oleh kunaknya, tak lama
kemudian Haji Murat akan jalan seperti Adam….
Begitu Vorontsov masuk, Haji Murat menurunkan
Bulka dari pangkuannya. Bulka waktu itu tampak kaget dan
kesal. Haji Murat lalu berdiri dan seketika itu juga meng-
http://facebook.com/indonesiapustaka

ubah air mukanya yang jenaka dengan sikap kereng dan


serius. Ia baru duduk ketika Vorontsov sudah duduk. Me-
nyambung percakapan sebelumnya, ia menjawab perkataan
Maria Vasilyevna bahwa memang demikianlah hukumnya,
bahwa apa saja yang menyenangkan hati seorang kunak
harus diberikan kepada si kunak.

48
“Anak Nyonya ini kunak saya,” katanya dalam bahasa
Rusia sambil membelai rambut ikal Bulka yang waktu itu
naik kembali ke pangkuannya.
“Pemberontak kamu ini ternyata menarik,” kata Ma-
ria Vasilyevna kepada suaminya dalam bahasa Perancis.
“Bulka mengagumi belatinya, dan ia hadiahkan belati itu
kepadanya.”
Bulka pun memperlihatkan belati itu kepada ayah
tirinya.
“C’est un objet de prix,”1 kata Maria Vasilyevna.
“Il faudra trouver l’occasion de lui faire cadeau,” 2
kata Vorontsov.
Haji Murat duduk menekurkan kepala dan sambil
mengamati rambut ikal anak lelaki itu, ujarnya, “Dia akan
jadi penunggang kuda yang mahir.”
“Tapi belati ini baik sekali, ya, baik sekali,” kata Vo-
rontsov ketika ia mencabut belati terasah yang bergaris
lekuk di tengahnya. “Terima kasih.”
“Coba tanya dia, apa yang dia kehendaki dariku,” kata
Vorontsov kepada penterjemah.
Penterjemah menyampaikan kata-kata itu, dan Haji
Murat seketika itu menjawab bahwa ia tak memerlukan
apa-apa, tapi ia minta agar dirinya kini dibawa ke tempat
di mana ia bisa melakukan solat. Vorontsov memanggil
pelayan kamar dan memerintahkannya untuk memenuhi
http://facebook.com/indonesiapustaka

keinginan Haji Murat.


Begitu Haji Murat sendiri di kamar yang diperuntuk-
kan baginya, wajahnya berubah; lenyaplah air muka puas,

1
Ini barang berharga. (Pr.)
2
Perlu mencari kesempatan memberikan hadiah padanya. (Pr.)

49
mesra dan khidmat, berganti dengan air muka prihatin.
Penerimaan yang diberikan padanya oleh Vorontsov
jauh lebih baik daripada yang ia duga. Tetapi makin baik
penerimaan itu, makin kurang kepercayaan Haji Murat
kepada Vorontsov dan para perwiranya. Yang paling di-
takutkannya adalah bahwa ia akan ditangkap, dibelenggu
dan dikirim ke Siberia, atau sekadar dibunuh, dan karena
itu ia bersikap siaga.
Kepada Eldar yang baru datang, ia bertanya di mana
murid-murid ditempatkan, di mana kuda-kuda, dan apakah
senjata mereka diambil.
Eldar melaporkan bahwa kuda-kuda ada di kandang
pangeran, para murid ditempatkan di bangsal, senjata dibi-
arkan pada mereka, dan penterjemah menyuguhi mereka
dengan penganan dan teh.
Haji Murat menggeleng-gelengkan kepala dengan
heran, dan sesudah melepas pakaian ia pun solat. Selesai
solat ia minta diambilkan belati perak, lalu mengenakan
pakaian serta ikat pinggang, dan duduk bersila di atas dipan,
menanti apa yang bakal terjadi.
Pukul lima ia diundang makan siang di tempat pa-
ngeran.
Dalam makan siang itu Haji Murat tidak makan apa
pun kecuali nasi goreng yang ia ciduk ke piringnya dari
tempat Maria Vasilyevna menciduk juga untuk dirinya
http://facebook.com/indonesiapustaka

sendiri.
“Dia takut, kita meracun dia,” kata Maria Vasilyevna
kepada suaminya. “Dia menciduk dari tempat aku men-
ciduk.” Dan seketika itu juga ia bertanya kepada Haji Murat
lewat penterjemah, kapan sekarang dia akan solat. Haji
Murat mengangkat lima jari dan menunjuk matahari.

50
“Kalau begitu sebentar lagi.”
Vorontsov mengeluarkan jam dan menekan pegasnya;
jam berbunyi empat kali dan seperempat. Haji Murat
agaknya kagum dengan bunyi jam itu; ia minta dibunyikan
lagi dan minta melihat jam itu.
“Voila l’occasion. Donnez-lui la montre,”3 kata Maria
Vasilyevna kepada suami.
Vorontsov seketika itu menawarkan jam itu kepada
Haji Murat. Haji Murat melekapkan tangan ke dada dan
menerima jam itu. Beberapa kali ia menekan pegas, men-
de ngarkan dan menggeleng-gelengkan kepala dengan
senang.
Sesudah makan siang, orang melaporkan kepada pa-
ngeran tentang datangnya ajudan Meller-Zakomelskii.
Ajudan menyampaikan kepada pangeran bahwa ketika
mengetahui menyeberangnya Haji Murat, jenderal merasa
sangat tidak senang karena perkara itu tidak disampaikan
kepadanya; ia menuntut supaya Haji Murat seketika itu
juga didatangkan kepadanya. Vorontsov menyatakan bahwa
perintah jenderal akan dilaksanakan, dan lewat penterjemah
ia sampaikan tuntutan jenderal itu kepada Haji Murat, dan
minta kepada Haji Murat untuk menemui Meller bersama
dia.
Maria Vasilyevna tahu apa sebab ajudan datang, dan
seketika itu ia pun mengerti bahwa antara suaminya de-
http://facebook.com/indonesiapustaka

ngan jenderal bisa terjadi sesuatu yang tak menyenangkan.


Suaminya sudah memberikan beberapa dalih, tapi tetap
saja ia ikut dengannya dan dengan Haji Murat menemui
jenderal.

3
Nah, ini kesempatan. Hadiahkan jam itu padanya. (Pr.)

51
“Vous reriez beaucoup mieux de rester; c’est mon af-
faire, mais pas la votre.”4
“Vous ne pouvez pas m’empecher d’aller voir madame
la generale.”5
“Itu bisa lain waktu.”
“Aku mau sekarang.”
Tak bisa lain lagi. Vorontsov setuju dan mereka bertiga
pun berangkat.
Ketika mereka masuk, Meller dengan sikap sopan tapi
murung mengantarkan Maria Vasilyevna kepada istrinya;
ajudan disuruhnya membawa Haji Murat ke kamar tamu
dan tidak dibiarkan ke mana pun sebelum ada perintah
darinya.
“Silakan,” kata jenderal kepada Vorontsov sambil
membuka pintu kamar kerja dan mempersilakan pangeran
berjalan dahulu.
Sampai di dalam kamar kerja, ia berhenti di depan pa-
ngeran dan tanpa mempersilahkannya duduk, katanya:
“Saya di sini komandan militer, tapi kenapa semua
perundingan dengan musuh dilakukan tanpa saya? Kenapa
Anda tak melaporkan pada saya tentang keluarga Haji
Murat?”
“Kepada saya datang sandi yang menyatakan keinginan
Haji Murat untuk menyerah pada saya,” jawab Vorontsov
dengan wajah pucat karena gelisah dan menduga akan
http://facebook.com/indonesiapustaka

datang ulah kasar dari jenderal yang berang itu, sementara


dia sendiri tertular berangnya.

4
Lebih baik kiranya kamu tinggal; ini urusanku, bukan urusanmu.
(Pr.)
5
Kamu tak bisa menghalangi aku berkunjung pada nyonya jen-
deral. (Pr.)

52
“Saya tanya, kenapa tidak Anda laporkan kepada
saya?”
“Saya sudah bermaksud melaporkannya, Baron,
tetapi….”
“Saya bukan baron Anda, tapi Yang Mulia.” Dan di
sini mendadak lepas kemarahan baron yang sudah lama
dikendalikannya itu. Ia ungkapkan semua yang sudah lama
menggelegak di dalam jiwanya.
“Saya mengabdi dua puluh enam tahun kepada tsar,
bukan supaya anak-anak kemarin sore yang baru mulai
mengabdi, mengatur apa yang bukan urusannya di bawah
hidung saya, dengan memanfaatkan hubungan keluarga.”
“Yang Mulia! Saya minta Anda tidak membicarakan
apa yang tidak benar,” sela Vorontsov.
“Saya bicara benar, dan saya tidak mau…,” ujar jenderal
lebih berang lagi.
Saat itulah dengan bunyi roknya yang gemersik ma-
suk Maria Vasilyevna, dan di belakangnya seorang wanita
sederhana yang tak seberapa tinggi sosoknya, istri Meller-
Zakomelskii.
“Nah, cukuplah, Baron; Simon tidak bermaksud me-
ngecewakan Anda,” ujar Maria Vasilyevna.
“Saya, Nyonya Pangeran, tidak bicara soal itu ….”
“Nah, tapi lebih baiklah kita tinggalkan itu. Ingatlah,
perbantahan yang buruk, lebih baik daripada pertengkaran
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang baik. Apa yang saya katakan….” Ia pun ketawa.


Dan jenderal yang sedang marah itu pun tunduk pada
senyum menawan wanita cantik tersebut. Di bawah kumis-
nya tersimpul senyum.
“Saya akui, saya keliru,” kata Vorontsov, “tetapi….”
“Saya juga sudah terburu napsu,” kata Meller, lalu

53
mengulurkan tangan kepada pangeran.
Perdamaian pun ditegakkan dan diputuskan untuk
sementara meninggalkan Haji Murat di rumah Meller, ke-
mudian mengirimnya kepada komandan sayap kiri.
Haji Murat waktu itu duduk di kamar sebelah. Walau
ia tak mengerti yang mereka percakapkan, ia mengerti apa
yang perlu dia mengerti, yaitu bahwa mereka bertengkar
tentang dirinya, dan bahwa ia meninggalkan Shamil itu
merupakan hal yang sangat penting artinya bagi orang
Rusia, karena itu, asalkan dia tidak dibuang atau dibunuh,
dia bisa menuntut banyak hal dari mereka. Kecuali itu ia
pun mengerti bahwa walau Meller-Zakomelskii adalah ko-
mandan, ia tidak punya arti penting sebagaimana Vorontsov,
bawahannya. Dan bahwa yang penting adalah Vorontsov,
bukan Meller-Zakomelskii. Karena itu, ketika Meller-Za-
komelskii memanggil Haji Murat dan mulai memeriksanya,
Haji Murat bersikap angkuh dan resmi. Katanya, ia keluar
dari pegunungan untuk mengabdi pada tsar putih, dan ia
akan mempertanggungjawabkan segalanya pada sardarnya,
yaitu panglima tertinggi, pangeran Voronstov di Ti is.

VII
http://facebook.com/indonesiapustaka

Avdeyev yang terluka diangkut ke rumah sakit yang bertem-


pat di sebuah rumah papan kecil tertutup, di luar benteng,
dan dibaringkan di salah satu tempat tidur yang kosong di
ruang inap umum. Di ruangan itu terdapat empat orang
pasien: satu orang penderita tifus yang terus bergolek-
golek karena panas, seorang lagi pucat, bermata kebiruan,

54
menderita demam menghadapi serangan penyakit dan tidak
henti-henti menguap, dan dua orang yang terluka dalam
serangan tiga minggu sebelumnya, yang seorang luka di
telapak tangan (yang ini berdiri), yang seorang lagi luka di
bahu (yang ini duduk di tempat tidur). Semua orang itu,
kecuali penderita sakit tifus, merubung prajurit yang dipikul
itu dan menanyai para pemikulnya.
“Dulu diberondong tembakan, macam ditabur kapri,
tidak apa-apa; tapi ini baru lima tembakan, sudah kena,”
ujar salah seorang pemikul.
“Soal itu tergantung!”
“Oh,” teriak keras Avdeyev menahan nyeri, ketika ia
diturunkan ke tempat tidur. Sesudah dibaringkan, ia tak
lagi mengeluh, tapi tak henti-henti menggerakkan telapak
kakinya. Dia pegang lukanya dengan kedua belah tangan
dan tanpa henti menatap ke depan.
Datang dokter, dan ia minta agar si terluka dibalik-
kan badannya untuk melihat apakah peluru tidak tembus
di belakang.
“Ini apa?” tanya dokter menunjuk dua goresan putih
bersilang di punggung dan pantat.
“Itu yang lama, Yang Mulia,” ujar Avdeyev sambil
mengeluh.
Itu adalah bekas hukuman, akibat minum.
Avdeyev kembali dibalikkan, dan dokter lama meng-
http://facebook.com/indonesiapustaka

orek perutnya dengan alat sonde dan mencoba menemukan


pelurunya, tapi tak berhasil. Dokter pun pergi sesudah me-
masang perban dan mengelemnya dengan plester yang leng-
ket. Selama luka dikorek dan kemudian diperban, Avdeyev
berbaring dengan gigi terkatup dan mata terpejam. Tapi
ketika dokter sudah pergi, ia membuka mata dan menoleh

55
ke sekitar dengan keheranan. Matanya menatap para pasien
dan pembantu dokter, tapi seakan tak melihat mereka, na-
mun melihat hal lain yang sangat mengherankannya.
Datang kawan-kawan Avdeyev—Panov dan Seregin.
Avdeyev tetap juga berbaring sambil memandang ke depan
dengan keheranan. Lama ia tak dapat mengenali kedua sa-
habatnya, walau matanya memandang mereka langsung.
“Kamu kenapa tak mau kirim kabar pulang, Petra?”
Avdeyev tak menjawab, walau ia langsung memandang
Panov.
“Aku bilang, kenapa tak kirim kabar pulang?” tanya
Panov lagi sambil menyentuh tangannya yang dingin dan
lebar telapaknya.
Avdeyev seakan tersedar.
“A, Antonich datang!”
“Ya, ini aku datang. Apa kamu tak mau kirim kabar
pulang? Biar Seregin yang nulis.”
“Seregin,” kata Avdeyev yang dengan susah-payah
mengalihkan pandangan matanya ke Seregin, “mau nulis…?
Nah, tulislah: ‘Anakmu Petrukha, begitu katanya, meng-
harap panjang umur.’ Tadinya aku ngiri pada abang. Begitu
aku bilang kemarin. Tapi sekarang aku senang. Biarlah dia
hidup. Semogalah, aku senang. Ya tulislah begitu.”
Sesudah mengatakan itu, lama ia diam sambil menatap
Panov.
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Nah, apa pipanya ketemu?” tiba-tiba ia bertanya.


Panov menggelengkan kepala, tidak menjawab.
“Pipa, pipa, aku bilang, ketemu?” ulang Avdeyev.
“Ada di kantong.”
“Itu dia. Nah, sekarang kasih aku lilin, aku mau mati,”
kata Avdeyev.

56
Waktu itu datang Poltoratskii menjenguk prajurit-
nya.
“Bagaimana, kawan, sakit?” katanya.
Avdeyev memejamkan mata, menggeleng menidakkan.
Wajahnya yang menonjol tulang pipinya pucat dan tampak
kereng. Ia tak menjawab apa-apa, hanya kembali mengulang
perkataannya kepada Panov, “Beri lilin. Aku mau mati.”
Lilin dimasukkan ke tangannya, tapi jari-jarinya tidak
melekap, maka lilin itu diselipkan di antara jari-jarinya
dan dipegangi. Poltoratskii pergi, dan lima menit sesudah
ia pergi, pembantu dokter menempelkan telinganya ke
jantung Avdeyev dan mengatakan bahwa Avdeyev sudah
meninggal.
Kematian Avdeyev dalam berita yang dikirimkan ke
Ti is dilukiskan sebagai berikut: “Tanggal 23 November
dua kompi Resimen Kurinskii keluar dari benteng untuk
menebang hutan. Tengah hari serombongan besar orang
pegunungan tiba-tiba menyerang para penebang. Jajaran
penembak bergerak mundur, tapi waktu itu kompi dua
maju ke depan dan menghalau orang pegunungan itu.
Dalam peristiwa itu dua prajurit mengalami luka ringan dan
seorang gugur. Sedangkan orang pegunungan kehilangan
sekitar seratus tewas dan luka.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

VIII
Pada hari ketika Petrukha Avdeyev meninggal di rumah sakit
Vozdvizhenskii itu, bapaknya yang sudah tua, istri abangnya
(untuk menggantikan abangnya itulah ia jadi tentara), dan

57
anak perempuan abangnya yang masih gadis sedang mene-
bah haver di penebahan yang dingin. Malam sebelumnya
turun salju tebal dan menjelang pagi salju membeku. Bapak
tua bangun bersama kokok ayam tiga kali. Melihat sinar
bulan di jendela yang terselubung es, ia turun dari tungku,
mengenakan sepatu, mantel bulu, topi hangat, dan pergi
ke tempat penebahan. Setelah dua jam lamanya bekerja di
sana, orang tua itu kembali ke pondok dan membangunkan
anak lelakinya dan orang-orang perempuan. Ketika kedua
perempuan dan anak gadis itu tiba di tempat, penebahan
sudah dalam keadaan bersih, sekop kayu tertancap pada
salju pasir putih, dan di sampingnya sapu sudah dalam
keadaan terbalik, sedangkan gebung-gebung haver tertata
rapih dalam dua deret, terhubungkan dengan tali panjang di
atas penebahan yang bersih. Mereka mengambil alat tebah
dan mulai menebah dengan tiga pukulan teratur. Bapak tua
menggebuk kuat dengan alat tebah yang berat sekaligus
membelah jerami, si gadis memukul dengan pukulan rata
dari atas, dan menantu bapak tua membalikkannya.
Bulan naik dan hari mulai terang. Satu tali sudah me-
reka lepas ketika anak lelaki yang besar, Akim, yang menge-
nakan mantel pendek dan topi hangat keluar mendatangi
mereka yang sedang bekerja.
“Kamu kenapa bermalam-malas?” teriak bapak tua
kepadanya sambil menghentikan tebahan dan bertelekan
http://facebook.com/indonesiapustaka

pada alat tebah.


“Kan perlu membereskan kuda?”
“Membereskan kuda,” olok bapak tua. “Mama yang
akan membereskan. Ambil alat ini. Sudah jadi gemuk begini
kamu. Pemabok!”
“Memang kamu yang kasih minum?” gerutu anaknya.

58
“Apa?” tanya bapak tua mengguntur sambil mengerut-
kan kening dan menunda tebahan.
Si anak mengambil alat tebah tanpa mengatakan apa
pun, dan pekerjaan pun berlangsung dengan empat alat
tebah: trap, ta-pa-tap, trap, ta-pa-tap … Trap!—gebuk alat
tebah bapak tua keras sesudah tiga kali pukulan.
“Coba lihat tengkukmu itu, sudah macam tengkuk
tuan-tuan. Sedang sarung tanganku mau copot saja begini,”
ujar bapak tua yang menunda gebukannya hanya agar ti-
dak kehilangan irama dengan memutarkan alat tebahnya
di udara.
Satu tali mereka lepas dan kedua perempuan mencopot
jerami dengan alat penggaruk.
“Goblok Petrukha, mau menggantikan kamu. Kalau
kamu jadi serdadu, bisa jadi watak burukmu hilang; dan
kalau dia di rumah, bisa jadi nilainya sama dengan lima
orang macam kamu.”
“Yah, sudah, cukup, Bapak,” kata si menantu sambil
menyingkirkan ikatan jerami yang sudah ditebah.
“Ya, biar dikasih makan enam orang, hasil kerja tak
sampai satu orang. Petrukha biasa sendiri saja kerja buat
dua orang, nggak macam ….”
Ibu tua yang mengenakan sepatu kulit kayu baru yang
terikat erat dengan kain wol, datang dari kebun dengan bu-
nyi mendesir akibat menginjak salju di jalan setapak yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

sudah keras. Para lelaki menggaruk biji haver yang belum


ditampi menjadi onggokan, sedang para perempuan dan si
gadis menyisihkannya.
“Anggota dewan datang. Semua mesti korve ngangkut
bata,” kata ibu tua, “aku nyiapkan makan pagi. Apa kamu
saja pergi?”

59
“Baiklah, siapkan si dawuk, dan pergi sana,” kata bapak
tua kepada Akim. “Tapi awas, jangan sampai macam hari
itu, mesti tahu tanggung jawab. Ingat Petrukha.”
“Waktu dia di rumah, dia yang dimarahi,” Akim kini
mengomeli bapaknya, “dia nggak ada, aku yang jadi sasa-
ran.”
“Berarti memang pantas,” kata ibunya marah juga.
“Nggak bisa kamu mengganti Petrukha.”
“Baiklah, baiklah!” kata anaknya.
“Ya itu, baiklah. Kamu sudah bikin habis tepung buat
minum, tapi sekarang bilang baiklah.”
“Mengungkit hal lama berarti mengingatkan dua kali,”
kata si menantu, lalu semua menaruh alat tebahnya dan
masuk rumah.
Pertengkaran antara bapak dan anak itu sudah lama
mulai, hampir sejak Peter menggantikan kakaknya menjadi
serdadu. Sudah sejak itu pak tua merasa bahwa ia sudah
menukar burung elang dengan burung kukuk. Memang
benar, menurut hukum sebagaimana diketahui pak tua,
orang yang tak beranak harus menggantikan orang yang
berkeluarga. Akim ada empat anak, sedang pada Peter tak
ada, tapi sebagai pekerja, Peter sama juga dengan bapak-
nya: cekatan, cerdas, kuat, tangguh, dan yang penting ia
cinta kerja. Dia selalu kerja. Kalau ia melewati orang-orang
yang sedang kerja, seperti juga pak tua, seketika juga ia
http://facebook.com/indonesiapustaka

membantu mereka—entah menyabit satu-dua larik, entah


memindahkan rabuk, entah menebang pohon, entah pula
membelah kayu. Pak tua menyayangkan anaknya yang
kecil itu, tapi tak adalah lagi yang bisa ia lakukan. Menjadi
serdadu waktu itu seperti maut. Jadi serdadu sama saja
dengan bagian tubuh yang terpotong, dan mengingatnya tak

60
ada guna—sama juga dengan menyiksa batin sendiri. Cuma
kadang-kadang untuk menyakiti hati anaknya yang besar,
pak tua mengingatkannya, seperti sekarang ini. Adapun si
ibu sering mengenangkan anaknya yang kecil, dan sudah
lama, sudah tahun kedua, ia minta pak tua mengirimi Pe-
trukha uang. Tapi pak tua bungkam saja.
Keluarga Avdeyev sebetulnya kaya dan pada pak
tua ada tersimpan uang, tapi ia sudah bertekad tak akan
menyentuh simpanannya itu. Sekarang, ketika si ibu
mendengar si bapak ingat anaknya yang kecil, si ibu pun
kembali memintanya agar waktu menjual haver nanti ia
kirimi anaknya itu uang, biar cuma serubel. Itulah juga yang
ia lakukan. Sesudah tinggal berdua dengan pak tua, sesu-
dah orang-orang muda berangkat kerja rodi, ia mendesak
suaminya mengirim uang serubel dari penjualan haver itu.
Begitulah, ketika dari timbunan haver yang sudah ditampi
ada dua belas seperempat bagian yang sudah dimuat de-
ngan karung linen ke tiga kereta, dan karung-karung linen
sudah dengan rapi dihimpit dengan pasak kayu, ia serah-
kanlah surat yang sudah ditulis oleh juru tulis gereja dengan
dikteannya kepada pak tua, dan pak tua pun berjanji akan
melengkapi surat itu dengan uang serubel dan mengirim-
kannya menurut alamat yang ada.
Pak tua yang mengenakan mantel bulu baru dengan
baju kaftan, dan memakai kain stiwel wol baru warna
http://facebook.com/indonesiapustaka

putih, menerima surat itu, memasukkannya dalam dom-


pet, dan sesudah berdoa kepada Tuhan, ia pun duduk di
kereta terdepan dan berangkat ke kota. Cucunya duduk
di kereta belakang. Di kota, pak tua minta kepada petugas
untuk membacakan surat itu dan ia mendengarkan dengan
saksama dan mengangguk-angguk tanda setuju.

61
Dalam surat ibu si Petrukha tertulis, pertama, kirim
salam sejahtera, kedua, kirim salam hormat kepada semua-
nya, menyampaikan berita tentang meninggalnya bapak
baptis, dan akhirnya berita bahwa Aksinya (istri Peter) “tidak
mau tinggal bersama kami dan pergi mencari pengalaman.
Kabarnya, ia baik-baik saja dan tulus”. Disinggung masalah
permen dan uang serubel, lalu ditambahkan kata demi kata
darinya sendiri, ketika ibu tua yang bersedih itu sambil
berurai air mata, minta juru tulis gereja menuliskan: “Dan,
anakku sayang, burung daraku Petrushenka, tak habis-habis
mamamu menangis karena sedih. O, anakku tercinta, pada
siapa kamu tinggalkan mamamu ini.…” Sampai di sini ibu
tua itu meraung dan meratap, kemudian katanya:
“Yah, cukuplah.”
Begitulah yang tertulis dalam surat, tapi Petrukha tidak
beruntung menerima berita tentang istrinya yang mening-
galkan rumah, tentang uang serubel, dan kata-kata ibunya
yang terakhir. Surat beserta uang kembali ke pengirim de-
ngan kabar bahwa Petrukha terbunuh dalam perang “dalam
membela tsar dan agama Ortodoks”. Demikian ditulis oleh
juru tulis militer.
Mendengar berita itu, ibu tua meraung tak henti-henti,
baru kemudian mulai kerja. Hari Minggu berikutnya ia pergi
ke gereja membagikan hosti “kepada orang-orang yang baik,
untuk mengenangkan hamba Tuhan, Peter”.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sang istri, Aksinya, juga meraung ketika ia mende-


ngar kematian “suami tercinta, dengan siapa” ia “sempat
hidup bersama cuma setahun”. Ia menyesali suami dan
juga hidupnya yang hancur-lebur. Dan dalam raungannya
ia mengenangkan “rambut Peter Mikhailovich yang coklat
muda menggelombang, cintanya, dan kehidupannya yang

62
pahit dengan si piatu Vanka”, lalu dengan pedas mem-
persalahkan “Petrukha yang menyayangi abangnya, tapi
tak menyayangi istrinya sebagai seorang kelana di tengah
orang-orang yang asing”.
Namun di dasar jiwanya, Aksinya merasa senang
dengan kematian Peter. Karena ia sudah bunting dengan
pembantu toko, dengan siapa ia hidup bersama, karena
kini tak seorang pun bisa mengecamnya, dan pembantu
toko bisa mengawininya seperti pernah dikatakannya waktu
pembantu toko itu merayunya.

IX
Vorontsov, Mikhail Semyonovich, yang berpendidikan Ing-
gris, putra duta besar, di antara para pejabat tinggi Rusia
adalah orang yang jarang berpendidikan Eropa masa itu.
Orangnya ambisius, lunak dan mesra sikapnya terhadap
bawahan, sebaliknya sangat memperhatikan sopan-san-
tun kebangsawanan dalam hubungan dengan atasan. Ia
memiliki semua pangkat tinggi dan bintang dan dianggap
sebagai militer yang trampil, bahkan sebagai pemenang atas
Napoleon di Krasnii. Umurnya pada 1851 menjelang tujuh
puluh tahun, tapi dia masih segar sekali, geraknya tegap
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan yang penting, ia cukup cekatan mengendalikan jalan


pikirannya yang mendalam dan memikat, yang dimaksud
untuk mempertahankan kekuasaan dan menegaskan serta
menyebarkan popularitasnya. Ia punya kekayaan besar,
baik milik sendiri maupun milik istrinya, Nyonya Pangeran
Branitskaya, dan dari tunjangan besar yang diperolehnya

63
sebagai wakil pemerintah. Dan ia gunakan sebagian besar
pengeluarannya untuk membiayai istana dan kebunnya di
pantai selatan Krim.
Malam hari tanggal 7 Desember 1851 datang troika
kurir ke istananya di Ti is. Perwira yang membawa berita
dari Jenderal Kozlov tentang menyeberangnya Haji Murat
kepada orang Rusia itu lelah, hitam mukanya terkena debu.
Dengan mengangkangkan kaki ia melewati penjaga menuju
beranda istana wakil pemerintah yang lebar. Waktu itu pu-
kul enam sore, dan Vorontsov sedang menuju meja makan
siang, ketika orang melaporkan padanya tentang datangnya
kurir. Tanpa menunda-nunda lagi ia langsung menerima
kurir itu, karenanya ia terlambat beberapa menit menuju
meja makan. Ketika ia memasuki kamar tamu, para undan-
gan yang jumlahnya sekitar tiga puluh orang dan waktu itu
duduk di dekat Nyonya Pangeran Yelizaveta Ksaveryevna
dan berdiri dalam beberapa kelompok dekat jendela, mulai
bangkit dan menolehkan mukanya kepada orang yang baru
masuk. Vorontsov mengenakan seragam militer hitam yang
biasa, tanpa epolet, tapi mengenakan Bintang Salib putih
dengan talinya di leher.
Wajahnya yang botak bercukur tersenyum memikat
dan matanya memicing, memandang semua orang yang
sudah berkumpul.
Ia masuk kamar tamu dengan langkah-langkah lunak
http://facebook.com/indonesiapustaka

tergopoh, mengucapkan permintaan maaf kepada para


wanita atas keterlambatannya, mengucapkan salam kepada
para pria, dan mendekati Nyonya Pangeran Manana Orbely-
ani dari Gruzia, wanita cantik gemuk tinggi berwajah Timur,
umur empat puluh limaan, dan mengulurkan tangan kepada
wanita itu untuk dituntunnya ke meja. Nyonya Pangeran

64
Yelizaveta Ksaveryevna sendiri mengulurkan tangan kepada
jenderal berambut pirang berkumis meremang yang baru
datang. Pangeran dari Gruzia mengulurkan tangan kepada
Nyonya Graf Choiselle, sahabat nyonya pangeran. Doktor
Andreyevskii, para ajudan dan lain-lain, baik disertai wanita
maupun tidak, berjalan mengikuti ketiga pasangan itu.
Para pelayan yang berbaju kaftan, mengenakan kaus kaki
panjang dan sepatu, menyingkir sedikit dan menyodorkan
kursi kepada mereka yang akan duduk; pelayan kepala de-
ngan megah menuangkan sup yang mengepul dari mangkuk
besar terbuat dari perak.
Vorontsov duduk di tengah meja panjang itu. Di hadap-
annya duduk nyonya pangeran, istrinya, dengan jenderal.
Di sebelah kanan Vorontsov adalah pasangannya, wanita
cantik Orbelyani, di sebelah kirinya Nona Pangeran Gruzia
yang kemerahan wajahnya, berkulit hitam ramping, me-
ngenakan berbagai perhiasan berkilauan, tak henti-henti
tersenyum.
“Excellentes, chere amie,” jawab Vorontsov atas per-
tanyaan yang diajukan oleh nyonya pangeran, berita apa
yang diterimanya dari kurir. “Simon a eu de la chance.”6
Dan mulailah ia bercerita dengan suara keras agar
semua yang duduk mengelilingi meja dapat mendengar
berita yang mempesona itu—yang untuk dirinya sendiri
tidak sepenuhnya merupakan berita, sebab sudah lama
http://facebook.com/indonesiapustaka

memang dilakukan perundingan—yaitu bahwa pembantu


Shamil yang paling berani dan paling terkenal, Haji Murat,
telah menyerahkan diri kepada orang Rusia, dan esok hari
akan dibawa ke Ti is.

6
Baik sekali, kawanku sayang. Semyon beruntung. (Pr.)

65
Semua yang mendengar, bahkan para pemuda, ajudan
dan birokrat yang duduk di ujung meja terjauh, semuanya
terdiam dan mendengarkan, padahal sebelum itu mereka
ketawa-ketawa lirih, entah kenapa.
“Anda sudah bertemu dengan Haji Murat itu, Jende-
ral?” tanya nyonya pangeran kepada orang di sampingnya,
jenderal berkumis meremang, yang pirang rambutnya,
ketika pangeran sudah berhenti bicara.
“Dan tidak cuma sekali, Nyonya Pangeran.”
Lalu jenderal bercerita tentang bagaimana Haji Murat
pada tahun 1843, sesudah Gergebilya direbut oleh orang
pegunungan itu, berhadapan dengan pasukan Jenderal
Passek, dan hampir saja di bawah mata pasukan itu mem-
bunuh Kolonel Zolotukhin.
Vorontsov mendengarkan jenderal disertai senyum
senang, agaknya ia merasa puas karena jenderal telah
terlanjur banyak bicara. Tapi wajah Vorontsov tiba-tiba
berubah lalai dan muram.
Jenderal yang bocor mulut itu mulai bercerita tentang
bagaimana pada lain kesempatan ia berhadapan dengan
Haji Murat.
“Dia itulah, Yang Mulia ingat,” ujar jenderal, “yang
menghadang pasukan pertolongan kepada tentara ekspedisi
Rusia.”
“Di mana?” tanya Vorontsov sambil memicingkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

mata. Sebabnya, karena jenderal pemberani itu menyebut


“pertolongan” untuk ekspedisi Darginskii yang gagal itu, di
mana seluruh pasukan dan Pangeran Vorontsov sebagai pe-
mimpinnya akan tewas kiranya, jika tidak ditolong oleh pa-
sukan yang baru datang. Semua orang tahu, dalam ekspedisi
Darginskii di bawah Vorontsov itu, pihak Rusia kehilangan

66
banyak tentara tewas dan luka, ditambah beberapa meriam.
Itu adalah peristiwa yang memalukan, karena itu kalau
ada yang bicara tentang ekspedisi itu dengan hadirnya Vo-
rontsov, sama juga ia bicara bahwa Vorontsov telah menulis
laporan kepada tsar, yang menyatakan bahwa itu adalah
kepahlawanan gilang-gemilang pasukan Rusia. Dengan kata
“pertolongan” itu langsung ditunjukkan bahwa peristiwa itu
bukan kepahlawanan gilang-gemilang, melainkan kesalahan
yang mencelakakan orang banyak. Semua orang tahu itu,
tapi sebagian berpura-pura tidak mendengar makna kata-
kata jenderal, sebagian lagi menanti dengan khawatir sekali
apa yang akan terjadi selanjutnya, dan sebagian yang lain
lagi saling pandang sambil tersenyum.
Hanya si jenderal berkumis meremang berambut pi-
rang yang sama sekali tak melihat hal itu, dan terbawa oleh
ceritanya sendiri, ia menjawab dengan tenang:
“Dalam memberikan pertolongan, Yang Mulia.”
Dan karena sudah digiring ke tema yang disukainya,
jenderal pun bercerita tentang bagaimana “Haji Murat de-
ngan gesitnya memecah pasukan Rusia menjadi dua, hingga
kalau kami tak datang memberi pertolongan,” dia seolah
dengan rasa senang tersendiri mengulang kata “memberi
pertolongan” itu, “semua barangkali akan tinggal di situ.”
Tapi jenderal tidak sempat mengungkapkan semuanya,
sebab Manana Orbelyani yang paham masalah itu menukas
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan bertanya kepada jenderal, kenyamanan apa saja


yang ada di kediamannya di Ti is. Jenderal pun terkejut, ia
memandang semua orang dan juga ajudannya yang duduk
di ujung meja dan memandangnya dengan penuh tanda
tanya. Tiba-tiba jenderal pun mengerti. Ia tak menjawab
pertanyaan nyonya pangeran. Ia pun terdiam dengan wajah

67
murung, dan mulailah ia dengan buru-buru makan tanpa
mengunyah makanan mewah yang ada di piringnya, tanpa
mengetahui apa jenisnya, bahkan bagaimana rasanya.
Semua orang jadi merasa kikuk, tapi kekikukan itu
kemudian diluruskan oleh Pangeran Gruzia yang sangat
bodoh, tapi dia adalah orang istana dan penjilat yang lihai
dan mahir luar biasa, yang waktu itu duduk di sisi lain Nyo-
nya Pangeran Vorontsov. Seakan-akan tak melihat apa pun,
ia mulai bercerita tentang bagaimana Haji Murat melarikan
janda Akhmet-Khan Mekhtulinskii:
“Malam hari dia masuk perkampungan, menangkap
mana yang dia perlukan, lalu mencongklang bersama
rombongan.”
“Kenapa justru perempuan itu yang dia tangkap?”
tanya nyonya pangeran.
“Kan dia musuh suaminya? Terus dia kuntit, tapi sam-
pai matinya Khan tak bisa ketemu. Ya begitulah, membalas
dendam kepada jandanya.”
Nyonya pangeran menterjemahkan kata-kata itu dalam
bahasa Perancis untuk sahabat lamanya, Nyonya Graf
Choiselle yang duduk di samping Pangeran Gruzia.
“Quelle horreur!”7 kata nyonya sambil memejamkan
dan menggelengkan kepala.
“Tidak betul itu,” kata Vorontsov sambil senyum,
“orang bilang, tawanan itu dia perlakukan dengan peng-
http://facebook.com/indonesiapustaka

hormatan ksatria, lalu dia lepaskan.”


“Ya, dengan tebusan.”
“Dengan sendirinya, tapi bagaimanapun dia sudah
bertindak mulia.”

7
Alangkah mengerikan! (Pr.)

68
Kata-kata pangeran ini memberikan alur pada cerita
selanjutnya tentang Haji Murat. Orang-orang istana itu
mengerti bahwa makin asyik bicara tentang Haji Murat,
makin menyenangkan juga itu bagi Pangeran Vorontsov.
“Mengagumkan keberanian orang itu. Orang hebat.”
“Memang, tahun empat sembilan, di tengah siang
bolong dia masuk Temir-Khan-Shura, dan merampok wa-
rung-warung.”
Orang Armenia yang duduk di ujung meja waktu itu
berada di Temir-Khan-Shura, dan ia pun bercerita lebih
lanjut tentang kehebatan Haji Murat.
Pada umumnya, sepanjang waktu makan siang itu
orang bercerita tentang Haji Murat. Semua berlomba-lomba
memuji keberaniannya, kecerdasannya, kebesaran hatinya.
Ada yang bercerita tentang bagaimana Haji Murat menyu-
ruh bunuh dua puluh enam tawanan; tapi terhadap cerita
itu terdengar kilah yang biasa ini:
“Apa boleh buat! A la guerre comme a la guerre.”8
“Dia orang besar.”
“Sekiranya lahir di Eropa, barangkali bisa jadi Na-
poleon baru,” kata Pangeran Gruzia bodoh yang berbakat
penjilat itu.
Dia tahu bahwa tiap kali orang menyinggung Napoleon,
itu menyenangkan Vorontsov, karena ia berkalung Bintang
Salib putih sebagai tanda kemenangan atas Napoleon.
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Ya, kalau bukan Napoleon, ya jenderal kavaleri yang


gagah beranilah, ya,” kata Vorontsov.
“Kalau bukan Napoleon, ya Myuratlah.”
“Dan namanya Haji Murat.”

8
Ini kan perang? (Pr.)

69
“Haji Murat menyebrang, sekarang habislah riwayat
Shamil,” kata seseorang.
“Mereka merasa bahwa mereka sekarang (sekarang itu
berarti: di depan Vorontsov) tak ada lagi yang menghalangi,”
kata yang lain.
“Tout cela est grace a vous,”9 kata Manana Orbelyani.
Pangeran Vorontsov mencoba menahan gelombang
jilatan yang mulai melandanya. Tapi ia senang dan ia pun
menuntun pasangannya dari meja ke kamar tamu dengan
perasaan yang seriang-riangnya.
Seusai makan siang, ketika diedarkan kopi di kamar
tamu, Pangeran Vorontsov bersikap amat ramah terhadap
semua orang, dan ketika menghampiri jenderal berkumis
meremang berambut pirang, ia berusaha menunjukkan
bahwa dirinya tidak melihat kekikukan jenderal itu.
Sesudah mengedari semua tamu, pangeran duduk
main kartu. Dia cuma main permainan lama—lomber.
Mitra main pangeran adalah Pangeran Gruzia, lalu Jen-
deral Armenia yang telah belajar main lomber dari pelayan
pangeran, dan orang keempat Doktor Andreyevskii yang
terkenal kekuasaannya.
Vorontsov meletakkan kotak tembakau emas dengan
potret Aleksander I di dekatnya, membuka kartu dari kain
satin, dan baru hendak membagikannya ketika seorang
pelayan, orang Italia bernama Giovani, membawa surat
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan baki perak.


“Ada kurir lagi, Yang Mulia.”
Vorontsov meletakkan kartu, meminta maaf kepada
para mitra mainnya, membuka surat dan mulai membaca.

9
Semua itu berkat Anda. (Pr.)

70
Surat itu dari putranya, yang menceritakan menye-
berangnya Haji Murat dan bentroknya dengan Meller-Za-
komelskii.
Nyonya pangeran mendekat dan bertanya apa yang
ditulis putranya.
“Tentang hal itu juga. Il a eu quelque desagrements
avec le commandant de la place. Simon a eu tort.10 But all
is well what ends well,”11 katanya sambil mengulurkan surat
kepada istrinya, lalu minta kepada para mitra main yang
menanti dengan sikap hormat untuk mengambil kartu.
Ketika kartu pertama telah dibagikan, Vorontsov mem-
buka kotak tembakau dan ia lakukanlah apa yang selalu ia
lakukan, terutama kalau sedang merasa senang: dengan
tangannya yang putih keriput karena tua ia ambil sejumput
tembakau Perancis dan ia dekatkan ke hidungnya, lalu ia
buang.

X
Ketika esoknya Haji Murat menghadap kepada Vorontsov,
ruang tunggu pangeran itu penuh orang. Ada jenderal
berkumis meremang yang kemarin juga hadir, berpakaian
seragam lengkap dengan bintang-bintangnya, dan datang
http://facebook.com/indonesiapustaka

untuk minta diri; ada komandan resimen yang terancam


pengadilan karena menyalahgunakan perbekalan resi-
men; ada orang kaya Armenia yang dilindungi oleh Doktor
10
Dengannya terjadi beberapa hal tak menyenangkan dengan
komandan benteng. Semyon salah. (Pr.)
11
Tapi apa yang berakhir baik, tak ada masalah. (Ing.)

71
Andreyevskii, yang menguasai perdagangan wodka dan
kini berusaha memperbarui kontrak; ada janda perwira
yang gugur, yang mengenakan pakaian hitam dan datang
untuk urusan pensiun atau penanggungan anak-anaknya
oleh negara; ada Pangeran Gruzia yang bangkrut, yang
mengenakan setelan Gruzia megah, dan sedang berusaha
memperoleh tanah milik yang dikuasai oleh gereja; ada
perwira polisi membawa bungkusan besar berisi proyek
tentang cara baru untuk menaklukkan Kaukasus; dan ada
seorang Khan yang hadir di sini hanya agar dapat bercerita
di rumah bahwa ia telah hadir di rumah pangeran.
Semua menunggu giliran dan satu demi satu diantar-
kan oleh pemuda-ajudan yang tampan berambut pirang ke
kamar kerja pangeran.
Ketika Haji Murat yang pincang dengan langkah gagah
memasuki ruang tunggu, semua mata tertuju padanya dan
ia mendengar namanya disebut dengan bisik-bisik dari
berbagai penjuru.
Haji Murat mengenakan baju panjang putih di atas jas
coklat dengan kerah berenda perak. Kakinya berlilit kain
hitam dan bersepatu lunak juga seperti sarung pembung-
kus telapak kakinya. Kepalanya yang bercukur tertutup
topi tinggi bersorban. Karena sorban itu juga menurut
laporan Akhmet-Khan, ia ditahan oleh Jenderal Klugenau,
dan menjadi penyebab ia menyeberang pada Shamil. Haji
http://facebook.com/indonesiapustaka

Murat berjalan dengan langkah cepat di atas lantai parkit


ruangan tunggu, seluruh tubuhnya yang kurus goyang
karena ia agak pincang, bertumpu pada kakinya yang lebih
pendek daripada kaki lainnya. Matanya yang saling ber-
jauhan dengan tenang memandang ke depan, seakan tak
melihat siapa pun.

72
Ajudan yang tampan mengucapkan salam, lalu mem-
persilakan Haji Murat duduk sementara ia melapor kepada
pangeran. Haji Murat menolak duduk. Ia letakkan sebelah
tangannya ke belatinya. Ia terus berdiri dengan mengang-
kangkan kaki, sambil memandang para hadirin dengan
sikap benci.
Penterjemah, Pangeran Tarkhanov, mendekati Haji
Murat dan berbicara dengannya. Haji Murat dengan eng-
gan menjawab terputus-putus. Dari kamar kerja keluar
seorang pangeran orang Kumits, yang telah menyampaikan
pengaduan pada perwira polisi, dan di belakangnya ajudan
memanggil Haji Murat, mengantarkannya ke pintu kamar
kerja, dan melepasnya ke dalam.
Vorontsov menerima Haji Murat sambil berdiri di
ujung meja. Wajah putih tua panglima tertinggi tidak lagi
tersenyum sebagaimana kemarin, melainkan boleh di-
katakan kereng dan khidmat.
Sambil masuk ke ruang besar yang bermeja besar,
berjendela-jendela besar dan berkerai hijau, Haji Murat
melekapkan kedua tangannya yang kecil terbakar matahari
ke dada tempat silang baju Kaukasus yang dikenakannya,
dan tanpa tergesa dengan jelas dan hormat ia berkata dalam
bahasa Kumits yang dikuasainya, sambil menekurkan pan-
dangan matanya:
“Saya menyerahkan diri ke bawah perlindungan tsar
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang agung dan juga ke bawah perlindungan Tuan. Dengan


sesungguhnya saya berjanji, sampai titik darah penghabisan
akan mengabdi kepada tsar kulit putih, dan berharap akan
bermanfaat dalam perang melawan Shamil, musuh saya
dan juga musuh Tuan.”
Sesudah mendengar penterjemah, Vorontsov me-

73
noleh kepada Haji Murat, dan Haji Murat menoleh pada
Vorontsov.
Mata kedua orang itu mengungkapkan banyak hal
yang tak terucapkan dengan kata-kata, dan mengungkapkan
hal yang lain dari yang diucapkan oleh penterjemah. Mata
mereka dengan langsung, tanpa kata-kata, saling meng-
ungkapkan hakikat kebenaran yang ada: mata Vorontsov
menyatakan bahwa sepatah kata pun dari yang diucapkan
oleh Haji Murat tak ia percayai. Vorontsov tahu bahwa
Haji Murat adalah musuh segala yang bersifat Rusia; ia
akan tetap demikian, dan sekarang tunduk hanya karena
terpaksa. Haji Murat pun mengerti hal itu, namun ia men-
coba meyakinkan Vorontsov tentang kesetiaannya. Adapun
mata Haji Murat menyatakan bahwa sudah waktunya bagi
orang tua itu untuk memikirkan mati, dan bukan perang.
Sebaliknya, walau sudah tua, dia orang yang licik, dan harus
berhati-hati terhadapnya. Vorontsov pun mengerti hal itu,
namun demikian ia nyatakan kepada Haji Murat, apa yang
menurutnya perlu dilakukan demi keberhasilan perang.
“Kamu katakan kepadanya,” kata Vorontsov kepada
penterjemah (dia gunakan kata “kamu” untuk perwira-per-
wira yang masih muda), “bahwa sesembahan kita pemurah
dan juga perkasa, karena itu agaknya dengan permohonan
saya, beliau akan memaafkannya dan menerimanya meng-
abdi kepada beliau. Sudah disampaikan?” tanyanya sambil
http://facebook.com/indonesiapustaka

memandang Haji Murat. “Sementara saya belum menerima


keputusan yang pemurah dari yang dipertuan tsar, katakan
padanya, saya memikul tanggungjawab atas dirinya dan
akan berusaha agar ia merasa nyaman selama berada di
sini.”
Haji Murat sekali lagi melekapkan kedua tangannya ke

74
dada, dan mengucapkan entah apa dengan sibuknya.
Seperti disampaikan oleh penterjemah, ia mengatakan,
bahwa dulu pun, ketika ia berkuasa di Avaria, tahun 1839,
dengan setia ia mengabdi pada orang Rusia, dan tidak
berkhianat kiranya jika musuhnya Akhmet-Khan tidak
bermaksud mencelakakan dan mem tnahnya di depan
Jenderal Klugenau.
“Tahu, tahu,” kata Vorontsov (walau kalaupun tahu,
sudah lama ia lupa.) “Tahu,” katanya sambil duduk dan
menunjukkan kepada Haji Murat sofa yang berdiri merapat
ke dinding. Tapi Haji Murat tidak duduk. Ia mengangkat
bahunya yang kokoh sebagai tanda bahwa ia bertekad tidak
duduk di hadapan orang yang demikian penting itu.
“Baik Akhmet-Khan maupun Shamil, keduanya mu-
suh saya,” sambungnya ditujukan kepada penterjemah.
“Katakan kepada pangeran: Akhmet-Khan sudah mati, saya
tak sempat balas dendam padanya, tapi Shamil masih hidup.
Saya tak mau mati, sebelum balas dendam kepadanya,” ka-
tanya sambil mengangkat alis dan mengatupkan rahangnya
erat-erat.
“Ya, ya,” ujar Vorontsov tenang. “Bagaimana dia mau
balas dendam kepada Shamil?” katanya pada penterjemah.
“Bilang pada dia bahwa dia boleh duduk.”
Haji Murat kembali menolak duduk dan menjawab
pertanyaan yang diajukan padanya, ia mengatakan, justru
http://facebook.com/indonesiapustaka

ia menyeberang pada orang Rusia untuk membantu mereka


menghancurkan Shamil.
“Baik, baik,” kata Vorontsov. “Jelasnya apa yang ingin
dia lakukan? Duduk, duduk ….”
Haji Murat pun duduk dan mengatakan bahwa kalau
saja dia dikirim ke Lini Lezginskaya dan kepadanya diberi-

75
kan pasukan, dia jamin dia akan dapat membangkitkan
seluruh Dagestan dan Shamil takkan mungkin bertahan.
“Itu baik. Itu baik,” kata Vorontsov. “Akan saya pikir-
kan.”
Penterjemah menyampaikan kepada Haji Murat kata-
kata Vorontsov itu. Haji Murat pun merenung.
“Sampaikan pada Sardar,” katanya lagi, “bahwa kelu-
arga saya ada di tangan musuh; dan sementara keluarga saya
ada di pegunungan, saya terikat, dan tidak bisa mengabdi.
Dia akan membunuh istri saya, membunuh ibu saya, mem-
bunuh anak-anak saya, jika saya langsung menyerang dia.
Sebaiknya pangeran menolong keluarga saya, menukarnya
dengan sejumlah tawanan, maka sesudah itu saya, kalau
tidak mati, ya menghancurkan Shamil.”
“Baik, baik,” kata Vorontsov. “Akan kita pikirkan hal
itu. Sekarang biar dia menemui kepala staf dan menjelas-
kan dengan rinci keadaannya, maksud-maksudnya, dan
keinginan-keinginannya.”
Dengan itu berakhirlah pertemuan pertama Haji Murat
dengan Vorontsov.
Hari itu juga, petang hari, berlangsung pertunjukan
opera Italia di teater yang dihias dengan selera Timur.
Vorontsov duduk di logenya, dan di bawah muncul sosok
pincang Haji Murat yang dikenal, mengenakan sorban. Ia
masuk bersama ajudan yang diperbantukan padanya oleh
http://facebook.com/indonesiapustaka

Vorontsov, Loris Melikov, dan mengambil tempat duduk di


barisan pertama. Dengan martabat Timur, martabat Islam,
tidak hanya tanpa pernyataan heran, tapi juga dengan sikap
masa bodoh, setelah mendengarkan seluruh babak pertama
Haji Murat berdiri, dan sambil dengan tenang menoleh
sekeliling ia berjalan keluar, hingga menarik perhatian

76
semua penonton.
Hari berikutnya Sabtu, hari biasa untuk acara malam
keluarga Vorontsov. Di ruangan yang terang-benderang
musik bermain di kebun musim dingin tertutup. Wanita-
wanita muda dan muda sekali, dengan pakaian yang
memperlihatkan leher, tangan, dan hampir seluruh dada,
berputar-putar dalam pelukan para pria yang mengenakan
pakaian seragam warna terang. Di dekat buffet, para pelayan
yang mengenakan baju merah, kaus kaki dan sepatu,
menuang-nuangkan sampanye dan mengedarkan permen
kepada para wanita. Istri “Sardar”, sekalipun sudah tidak
lagi muda, dengan dada setengah terbuka, mengedar di
antara para tetamu, mengucapkan salam sambil tersenyum
dan menyampaikan lewat penterjemah beberapa patah
kata mesra kepada Haji Murat, yang dengan sikap masa
bodoh sebagaimana kemarin di teater menoleh kepada para
tamu. Di belakang nyonya rumah, ikut juga wanita-wanita
lain dengan dada terbuka menghampiri Haji Murat tanpa
malu-malu, berdiri di depannya, dan sambil tersenyum
melontar pertanyaan yang sama: bagaimana pendapat Haji
Murat tentang apa yang dilihatnya. Adapun Vorontsov yang
mengenakan epolet dan kor emas, dengan Bintang Salib dan
pita di leher, menghampiri Haji Murat dan melontarkan
pertanyaan yang itu juga, agaknya ia yakin seperti semuanya
yang mengajukan pertanyaan itu bahwa tidak mungkin Haji
http://facebook.com/indonesiapustaka

Murat tidak senang dengan segala yang dilihatnya. Dan Haji


Murat menjawab Vorontsov dengan jawaban yang telah
diberikannya juga kepada semua yang lain: bahwa kepada
mereka tidak ada semua itu, tanpa menyebutkan baikkah
atau burukkah hal yang tidak ada pada mereka itu.
Di sini pun, di tengah bal ini, Haji Murat berusaha

77
berbicara dengan Vorontsov mengenai masalahnya, yaitu
penebusan keluarganya, tetapi Vorontsov berpura-pura
tidak mendengar dan meninggalkannya. Loris Melikov
kemudian mengatakan kepada Haji Murat bahwa di sana
bukan tempat yang tepat untuk membicarakan urusan.
Ketika lonceng berbunyi sebelas kali dan Haji Murat
mencocokkan waktu di arloji yang dihadiahkan padanya
oleh Maria Vasilyevna, ia bertanya kepada Loris Melikov,
apakah boleh pergi. Loris Melikov menjawab bisa, tapi akan
lebih baik kiranya kalau ia tetap tinggal di sana. Namun
demikian Haji Murat tidak tinggal dan pergi dengan kereta
yang disediakan untuknya ke apartemen yang dikhususkan
baginya.

XI
Hari kelima keberadaan Haji Murat di Ti is, Loris Malikov,
ajudan perwakilan mendatanginya atas perintah panglima
tertinggi.
“Saya sepenuhnya siap mengabdi pada Sardar,” kata
Haji Murat disertai ungkapan diplomatisnya yang biasa,
yaitu menundukkan kepala dan melekapkan kedua tangan
ke dada. “Sampaikan,” katanya sambil dengan mesra me-
http://facebook.com/indonesiapustaka

mandang mata Loris Melikov.


Loris Melikov duduk di kursi yang berdiri di dekat
meja. Haji Murat duduk ke dipan pendek di depannya, dan
sambil bertelekan ke lututnya ia menundukkan kepala dan
dengan saksama mendengarkan apa yang dikatakan Loris
Melikov padanya. Loris Melikov yang lancar berbicara ba-

78
hasa Tartar mengatakan bahwa pangeran ingin mendengar
riwayat Haji Murat dari mulut Haji Murat sendiri, walau ia
sudah mengetahui masa lalu Haji Murat.
“Kamu ceritakan pada saya,” kata Loris Melikov, “saya
akan tulis, lalu saya terjemahkan ke bahasa Rusia, dan nanti
pangeran akan menyampaikannya kepada Yang Dipertuan
Tsar.”
Haji Murat diam (dia tidak pernah menukas kata-kata
orang lain, juga selalu menanti, apakah ada yang akan di-
katakan lagi oleh lawan bicaranya), kemudian mengangkat
kepala, menggeser kopiahnya ke belakang, memperlihatkan
senyum kekanak-kanakan yang telah mempesona Maria
Vasilyevna.
“Itu boleh,” katanya, agaknya merasa tersanjung bahwa
riwayatnya akan dibaca oleh Yang Dipertuan Tsar.
“Ceritakan pada saya (dalam bahasa Tartar tidak ada
sapaan dengan Anda) semuanya dari awal, tak usah tergesa-
gesa,” kata Loris Melikov sambil mengeluarkan buku catatan
dari kantongnya.
“Itu boleh, cuma banyak, banyak sekali yang bisa di-
ceritakan. Ada banyak urusan,” kata Haji Murat.
“Tak selesai sehari, hari lain kamu teruskan,” kata
Loris Melikov.
“Dari awal diceritakan?”
“Ya, dari awal sekali: di mana lahir, di mana tinggal.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Haji Murat menundukkan kepala. Lama ia duduk


demikian; kemudian diambilnya batang kayu yang terletak
dekat dipan, dikeluarkannya pisau dari baja yang tajam
seperti pisau cukur, dari bawah belati bergagang gading
berkerangka emas, dan mulailah ia mengerat-ngerat batang
kayu itu sambil bercerita:

79
“Tulislah: lahir di Tselmes, sebuah aul kecil, sekepala
keledai, kata orang di pegunungan tempat kami tinggal,”
demikian ia mulai. “Tak jauh dari aul kami, sekitar dua
tembakan senapan, Khunzakh, tempat tinggal para khan.
Dan keluarga kami dekat dengan mereka. Ibu saya menyu-
sui khan yang lebih tua, Abununtsal Khan, karena itu saya
jadi dekat dengan khan-khan itu. Ada tiga orang khan:
Abununtsal Khan, saudara susuan abang saya Osman,
Umma Khan, boleh dikata saudara susuan saya, dan Bulach
Khan, khan paling kecil, yang oleh Shamil dilemparkan dari
tebing. Tentang itu nanti. Umur saya kira-kira lima belas
ketika murid-murid mulai mendatangi aul kami. Mereka
membacoki batu dengan pedang kayu sambil berteriak:
“Kaum Muslimin, khazawat!” Orang Chechen semuanya
berpihak pada para murid, orang Avaria juga mulai berpihak
pada mereka. Waktu itu saya tinggal di istana. Saya sudah
seperti saudara denan para khan: apa yang saya ingin, saya
lakukan dan saya jadi kaya. Saya ada kuda, senjata, dan
uang. Saya hidup semau saya, dan tak mikirkan apa-apa.
Begitulah saya hidup, sampai Kazi Mullah dibunuh dan
Gamzat menggantikan kedudukannya. Gamzat mengirim
utusan kepada para khan untuk menyatakan bahwa jika
mereka tak menerima khazawat, Khunzakh akan dia han-
curkan. Di sini kami mesti mikir. Para khan itu takut orang
Rusia, tapi takut juga menerima khazawat, maka ibu khan
http://facebook.com/indonesiapustaka

mengirim saya dan anaknya yang kedua, Umma Khan, ke


Ti is untuk minta bantuan panglima tertinggi Rusia mela-
wan Gamzat. Panglima tertinggi waktu itu adalah Rozen,
baron. Dia tak menerima saya maupun Umma Khan. Cuma
memerintahkan menyampaikan, dia akan membantu, tapi
dia tak melakukan apa pun. Cuma para perwiranya mulai

80
mendatangi kami dan main kartu dengan Umma Khan.
Mereka menyuguh Umma Khan minum dan membawa-
nya ke tempat-tempat yang buruk, dan habislah semua
miliknya dalam permainan dengan mereka. Umma Khan
itu kuat badannya, seperti lembu, dan berani seperti singa,
tapi jiwanya lemah seperti air. Kalau tidak saya bawa pergi,
barangkali dia akan kehilangan kudanya yang terakhir dan
senjatanya. Sesudah pergi ke Ti is itulah jalan pikiran saya
berubah, dan saya mulai membujuk ibu khan dan khan-
khan muda itu untuk menerima khazawat.”
“Kenapa berubah?” tanya Loris Melikov. “Tak suka
orang Rusia, ya?”
Haji Murat diam saja.
“Tidak, tidak suka,” katanya mantap, lalu mengatupkan
matanya. “Dan ada masalah lain yang bikin saya menerima
khazawat.”
“Masalah apa itu?”
“Di luar Tselmes kami bersama khan bentrok dengan
tiga orang murid: dua lolos, yang ketiga saya bunuh dengan
pistol. Waktu saya dekati dia untuk mengambil senjatanya,
dia masih hidup. Dia toleh saya. ‘Kamu bunuh saya,’ kata-
nya, ‘saya senang. Tapi kamu orang Muslim, masih muda
dan kuat, terimalah khazawat. Allah menghendaki.’”
“Lalu, kamu terima?”
“Tidak terima, tapi mulai berpikir,” kata Haji Murat,
http://facebook.com/indonesiapustaka

lalu meneruskan ceritanya. “Waktu Gamzat mendekati


Khunzakh, kami kirim padanya orang-orang tua. Kami
minta mereka menyampaikan bahwa kami setuju menerima
khazawat, tapi sebaiknya dia kirimkan kepada kami orang
yang menguasai soalnya, untuk menjelaskan bagaimana
cara menerima khazawat itu. Gamzat menyuruh orang-

81
orang tua itu mencukur kumis, melubangi cuping hidung-
nya, menggantungkan tanda di hidung itu, dan mengirim
mereka balik. Orang-orang tua itu bilang, Gamzat bersedia
mengirim seorang syekh untuk mengajarkan khazawat,
cuma supaya khansha mengirim padanya anaknya yang
kecil sebagai amanat. Khansha percaya, dan mengirim
Bulach Khan kepada Gamzat. Gamzat menerima Bulach
Khan dengan baik dan mengirim orang untuk minta agar
kakak-kakak khan datang juga padanya. Dia minta disam-
paikan bahwa dia ingin mengabdi pada para khan, seperti
dulu ayahnya mengabdi pada ayah para khan. Khansha
adalah perempuan lemah, bodoh dan lancang, seperti semua
perempuan, jika mereka hidup sekehendak hatinya. Ia takut
akan mengirim kedua anaknya, dan mengirim Umma Khan
saja. Saya mengawani. Pada jarak satu werst para murid
datang menyambut, menyanyi, menembak-nembak dan
memamerkan kebolehannya berkuda sekitar kami. Ketika
kami tiba, Gamzat keluar dari kemah, menghampiri ke tali
kekang Umma Khan dan menerimanya sebagai khan. Dia bi-
lang: ‘Saya tak pernah berbuat jahat kepada keluarga Anda,
dan tak ingin. Cuma, jangan bunuh saya dan jangan halangi
saya mengajak orang-orang menerima khazawat. Saya akan
mengabdi pada Anda dengan seluruh pasukan saya, seperti
ayah saya dulu mengabdi pada ayah Anda. Izinkan saya
masuk rumah Anda. Saya akan membantu Anda dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

nasihat-nasihat saya, dan Anda silakan lakukan sekehendak


Anda.’ Umma Khan itu tak pandai bicara. Dia tak tahu apa
yang mesti dia katakan, dan ia diam. Maka saya lalu bilang,
kalau begitu, silakan Gamzat datang ke Khunzakh. Khansha
dan khan akan menerimanya dengan penuh penghormatan.
Tapi saya tak diberi kesempatan bicara sampai selesai, dan

82
di sinilah buat pertama kali saya bentrok dengan Shamil. Dia
waktu itu di sana juga, di dekat imam. “Bukan kamu yang
ditanya, tapi khan,” kata dia kepada saya. Saya terdiam, se-
dang Gamzat mengantar Umma Khan ke kemah. Kemudian
Gamzat memanggil saya dan menyuruh saya pergi ke Khun-
zakh bersama para utusannya. Saya lalu pergi. Para utusan
mulai membujuk khansha agar mengirim anak sulungnya
kepada Gamzat. Saya melihat terjadinya pengkhianatan, dan
saya minta pada khansha supaya tidak mengirim anaknya.
Tapi otak di kepala perempuan sama juga dengan rambut
pada telur. Khansha percaya dan menyuruh anaknya pergi.
Abununtsal tak mau pergi. Maka khansha lalu bilang, “Jadi,
kamu takut, ya?” Seperti tawon, dia tahu di tempat mana
menyengat paling sakit. Abununtsal meluap dan tak mau
lagi bicara dengan khansha, dan perintahkan pasang pelana.
Saya mengawani. Gamzat menjemput kami lebih baik lagi
dari waktu menjemput Umma Khan. Dia sendiri keluar
menjemput pada jarak dua tembakan menjelang gunung. Di
belakangnya barisan penunggang kuda dengan tanda-tanda,
menyanyikan “La ilaha ila Allah”, menembak-nembak,
memamerkan kebolehannya berkuda. Ketika kami tiba di
pekubuan, Gamzat membawa khan ke kemah. Saya tinggal
dengan kuda-kuda kami. Saya ada di balik gunung ketika
dalam kemah Gamzat mulai terdengar tembakan. Saya lari
ke kemah. Umma Khan menggeletak tengkurap bersimbah
http://facebook.com/indonesiapustaka

darah, sedang Abununtsal bertarung dengan para murid.


Separuh mukanya terpapras dan menggelantung. Dengan
sebelah tangan ia pegang bagian muka itu dan dengan tan-
gan yang lain ia tikam semua yang mendekat kepadanya
dengan belati. Di depan saya, dia tikam saudara Gamzat,
dan bermaksud menikam yang lain, tapi waktu itu murid-

83
murid mulai menembaknya, dan ia jatuh.”
Haji Murat berhenti bicara, wajahnya yang terbakar
matahari menjadi merah padam, dan matanya menjadi
merah oleh darah.
“Saya jadi takut, dan saya lari.”
“Begitu, ya?” kata Loris Melikov, “saya pikir kamu tak
pernah takut pada apa pun.”
“Sesudah itu tak pernah; sejak itu saya selalu ingat
peristiwa yang memalukan itu, dan kalau teringat itu, sudah
tak takut lagi.”

XII
“Sekarang cukup dulu. Mesti sembahyang,” kata Haji Mu-
rat, lalu mengeluarkan arloji Vorontsov dari kantong dada
dalam jaketnya; dengan hati-hati ia tekan per arloji itu,
dan sambil memiringkan kepala dan mengembangkan se-
nyum kekanak-kanakan ia mendengarkan. Arloji berbunyi,
menunjukkan pukul dua belas seperempat.
“Kunak Vorontsov peshkesh,” katanya sambil senyum.
“Orang baik.”
“Ya, baik,” kata Loris Melikov. “Arlojinya juga baik.
Nah, kamu sembahyanglah. Akan kutunggu.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Yakshi, baik,” kata Haji Murat, lalu pergi ke kamar


tidur.
Sesudah sendiri, Loris Melikov menuliskan dalam
buku catatannya apa yang paling penting dari cerita Haji
Murat kepadanya, lalu merokok papiros dan mulai berjalan
mondar-mandir dalam kamar. Sampai di dekat pintu yang

84
berhadapan dengan kamar tidur, Loris Melikov mendengar
suara ramai orang-orang bicara cepat dalam bahasa Tartar,
entah tentang apa. Ia menduga mereka adalah murid-murid
Haji Murat; maka ia buka kamar itu, dan ia masuk.
Dalam kamar itu mengambang bau kulit yang khas
asam, seperti biasa tercium pada orang pegunungan. Di lan-
tai, di atas burka dekat jendela, duduk Gamzalo yang jereng
berambut pirang, mengenakan jaket lusuh robek-robek
sedang mengikat tali kekang. Dengan suaranya yang parau
ia bicara bersemangat tentang sesuatu, tapi begitu Loris
Melikov masuk, ia terdiam dan meneruskan pekerjaannya
tanpa mempedulikan Loris Melikov. Di depannya berdiri
Khan Magoma yang periang, yang sambil menyeringai
hingga kelihatan giginya yang putih dan matanya yang hitam
berkilat tanpa bulu mata, mengulang-ulang perkataannya.
Si tampan Eldar yang tersingsing lengan bajunya, dengan
tangan yang kokoh menggosok tali pelana yang tersangkut
pada paku. Khane , pekerja utama dan pengatur rumah
tangga, tidak ada di kamar. Ia ada di dapur menyiapkan
makan siang.
“Tentang apa ini kalian bertengkar?” tanya Loris Me-
likov pada Haji Murat sesudah menyapanya.
“Habis, dia terus memuji Shamil,” kata Khan Ma-
goma sambil mengulurkan tangan pada Loris. “Katanya,
Shamil orang besar. Ya pandai, ya suci, ya mahir berkuda.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Bagaimana mungkin dia meninggalkan Shamil, tapi terus


memujinya?”
“Meninggalkan, tapi memuji,” ujar Khan Magoma
memperlihatkan giginya yang putih dan matanya yang
berkilat.
“Bagaimana, kok kamu anggap dia suci?” tanya Loris.

85
“Kalau tak suci, tak mungkin orang mendengarkan
dia,” ujar Gamzalo cepat.
“Yang suci bukan Shamil, tapi Mansur,” kata Khan
Magoma. “Itu baru orang suci betul. Waktu dia jadi imam,
semua orang lain sekali. Dia datangi aul-aul, dan orang
keluar menyambutnya, mencium ujung bajunya, menye-
sali dosa-dosanya, dan bersumpah tak akan berbuat jahat.
Orang-orang tua bilang: waktu itu semua orang hidup
seperti orang suci—tidak merokok, tidak minum, tidak
mangkir sembahyang, saling memaafkan kesalahan, bahkan
pembunuh dimaafkan. Waktu itu, kalau orang nemu uang
atau barang, digantungkannya itu pada tongkat, didirikan
di jalan-jalan. Jadi, Allah memberikan berkah pada semua
orang, tidak seperti sekarang,” kata Khan Magoma.
“Sekarang juga di pegunungan, orang tak minum dan
merokok,” kata Gamzalo.
“Lamoroi Shamil-mu itu,” kata Khan Magoma sambil
menjeling pada Haji Murat.
“Lamoroi” adalah nama ejekan untuk orang pegu-
nungan.
“Lamoroi orang gunung. Di pegunungan itu juga
hidupnya elang,” jawab Gamzalo.
“Bagus! Pintar kamu menukas,” ujar Khan Magoma
sambil menyeringai, senang dengan jawaban cepat lawan-
nya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Melihat wadah papiros perak di tangan Loris Melikov,


dia minta dibolehkan merokok. Dan ketika Loris Melikov
mengatakan bahwa mereka dilarang merokok, ia menjeling
dengan sebelah matanya, menggoyangkan kepala ke arah
kamar tidur Haji Murat. Dia bilang boleh, asal orang tak
lihat. Seketika itu ia pun merokok, tanpa tunda-tunda lagi,

86
dan waktu menghembuskan asapnya dia lekukkan bibirnya
yang merah.
“Kurang baik itu,” kata Gamzalo kereng, lalu keluar
kamar. Khan Magoma menjeling ke arahnya dan sambil
merokok bertanya pada Loris Melikov, di mana sebaiknya
beli jaket sutra dan kopiah putih.
“Memangnya kamu banyak uang?”
“Ada, cukuplah,” jawab Khan Magoma menjeling.
“Kamu tanyai dia, dari mana uangnya,” kata Eldar
sambil menolehkan wajahnya yang tampan, tersenyum
pada Loris.
“Dari menang,” ujar Khan Magoma cepat, lalu ia pun
bercerita bahwa kemarin ia jalan-jalan di Ti is, ketemu
segerombolan orang, kusir Rusia dan orang Armenia yang
sedang main rolet. Taruhannya besar: tiga uang emas dan
banyak uang perak. Khan Magoma seketika pun tahu per-
mainan apa itu, dan menggemerincingkan uang tembaga
yang ada dalam kantongnya. Ia masuk kalangan lalu bilang
bahwa dia bertaruh melawan semuanya.
“Lawan semuanya? Memangnya kamu ada duit?” tanya
Loris Melikov.
“Cuma dua belas kopek,” kata Khan Magoma meri-
ngis.
“Jadi, kalau kalah?”
“Ya, ini.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dan Khan Magoma menunjuk pistolnya.


“Kamu serahkan?”
“Buat apa diserahkan? Ya, lari. Siapa menghalangi,
saya bunuh. Sudah siap.”
“Jadi, kamu menang?”
“Ya, saya raup, lalu saya pergi.”

87
Loris Melikov paham Khan Magoma dan Eldar. Khan
Magoma pemuda periang, pemboros, tak tahu ke mana
dibuang sisa umurnya, selalu gembira, angin-anginan,
main-main dengan nyawanya sendiri dan nyawa orang
lain. Untuk main dengan nyawanya sendiri dia sekarang
menyeberang ke orang Rusia, dan untuk itu juga besok ia
bisa menyeberang kembali ke Shamil. Eldar pun pemuda
yang cukup dapat dipahami: dia orang yang cukup setia pada
mursidnya, tenang, kuat dan keras. Yang tidak jelas bagi
Loris Melikov hanya Gamzalo si pirang. Loris Melikov me-
lihat bahwa orang itu tidak hanya setia kepada Shamil, tapi
juga merasa jijik, benci, muak dan dendam tak terkira pada
semua orang Rusia, karena itu Loris Melikov tak mengerti,
untuk apa dia menyeberang ke orang Rusia. Terpikir oleh
Loris Melikov, yang disampaikan juga oleh beberapa orang
pimpinan, bahwa penyeberangan Haji Murat dan ceritanya
mengenai permusuhan dengan Shamil itu hanya tipuan,
bahwa ia menyeberang hanya untuk melihat titik-titik lemah
orang Rusia, dan sesudah lari kembali ke pegunungan ia
akan mengerahkan kekuatannya ke titik-titik yang lemah
itu. Dan Gamzalo dengan seluruh eksistensinya membenar-
kan perkiraannya itu. “Mereka dan Haji Murat sendiri bisa
menyembunyikan maksud-maksudnya itu, tapi si Gamzalo
menunjukkan kebenciannya yang tak bisa disembunyikan-
nya itu,” demikian pikir Loris Melikov.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Loris Melikov mencoba bicara dengannya. Ia bertanya,


apakah Gamzalo bosan di sini. Tapi tanpa menghentikan
pekerjaannya dan sambil menjeling ke arah Loris Melikov
dengan matanya yang cuma sebelah ia menggeram putus-
putus dengan suaranya yang serak:
“Tidak, tidak bosan.”

88
Demikian juga jawabnya terhadap pertanyaan-per-
tanyaan lain.
Sementara Loris Melikov berada di kamar para penga-
wal, masuk juga murid keempat Haji Murat, orang Avaria
yang namanya Khane ; muka dan leher murid ini bewok,
dan dadanya yang tegap ditumbuhi rambut lebat seperti
bulu binatang. Orang ini pekerja yang kokoh badannya
dan selalu tenggelam dalam pekerjaannya; ia orang yang
tak banyak pertimbangan, dan seperti Eldar, selalu tunduk
pada majikannya.
Ketika ia masuk kamar para pengawal untuk mengam-
bil beras, Loris Melikov menghentikan dia dan bertanya
padanya, dari mana asal dia, dan apakah sudah lama ber-
sama Haji Murat.
“Lima tahun,” jawabnya. “Saya dari aul yang sama
dengan dia. Bapak saya membunuh pamannya, dan mereka
ingin membunuh saya,” katanya tenang dari balik alisnya
yang rimbun sambil memandang wajah Loris Melikov. “Saya
lalu minta diterima sebagai saudara.”
“Apa maksudnya diterima sebagai saudara?”
“Dua bulan saya tidak bercukur, tidak memotong kuku,
lalu datang kepada mereka. Mereka lalu menyuruh saya
menemui Patimat, ibu dia. Patimat menyusui saya, dan saya
pun jadi saudaranya.”
Dari kamar sebelah terdengar suara Haji Murat.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Eldar seketika itu mengerti bahwa dirinya dipanggil; ia


menggosokkan kedua tangannya dan dengan langkah lebar
buru-buru masuk kamar tamu.
“Dia panggil kamu,” katanya sekembalinya dari sana;
Loris Melikov memberikan papiros lagi kepada Khan Ma-
goma yang periang, lalu masuk kamar tamu.

89
XIII
Ketika Loris Melikov masuk kamar tamu, Haji Murat me-
nyambutnya dengan wajah gembira.
“Jadi, diteruskan?” katanya sambil duduk di dipan.
“Ya, tentu,” kata Loris Melikov. “Saya singgahi penga-
wal-pengawalmu dan bicara dengan mereka. Satu orang
periang,” tambah Loris Melikov.
“Ya, Khan Magoma, orang angin-anginan,” kata Haji
Murat.
“Saya suka yang muda tampan itu.”
“Ah, Eldar. Dia muda, keras, macam besi.” Ia lalu diam.
“Jadi, cerita terus?”
“Ya, ya.”
“Saya sudah cerita, bagaimana para khan itu dibunuh.
Nah, mereka dibunuh, lalu Gamzat masuk Khunzakh dan
berkuasa di istana khan,” kata Haji Murat mulai. “Tinggal
khansha, si ibu. Gamzat memanggilnya. Khansha mencela
Gamzat. Gamzat lalu mengedip kepada muridnya, Aselder,
dan Aselder lalu menghantam dari belakang, membunuh
khansha.”
“Untuk apa pula dia dibunuh?” tanya Loris Melikov.
“Ya itu, sudah manjat dengan kaki depan, mesti juga
dengan kaki belakang. Mesti dihabisi seluruh keluarga. Dan
itu yang mereka lakukan. Shamil membunuh yang paling ke-
http://facebook.com/indonesiapustaka

cil, melempar dia dari tebing. Seluruh Avaria tunduk kepada


Gamzat, cuma saya dan kakak saya tak mau tunduk. Kami
mesti balas dendam padanya karena dibunuhnya para khan.
Kami pura-pura tunduk padanya, tapi yang kami pikirkan
cuma bagaimana balas dendam kepadanya. Kami berembuk
dengan kakek dan memutuskan menanti saat dia keluar dari

90
istana, dan membunuhnya dengan menghadang. Tapi ada
yang mendengar-dengarkan kami dan bilang pada Gamzat,
karena itu dia panggil kakek kami, dan bilang, “Dengar,
kalau betul cucu-cucumu bermaksud buruk terhadap saya,
saya gantung kamu bersama mereka di satu palang. Saya
melakukan perintah Allah dan saya tak bisa dihalangi. Pergi
sana, dan ingat kata-kata saya.” Kakek pulang dan bilang
itu pada saya. Maka kami putuskan untuk tidak menunggu,
nyelesaikan urusan pada hari pertama hari besar di masjid.
Kawan-kawan menolak, tinggal saya dan kakak saya. Kami
bawa masing-masing dua pistol, pakai burka, dan berangkat
ke masjid. Gamzat masuk dengan tiga puluh orang mu-
rid. Semua mereka pegang pedang terhunus. Di samping
Gamzat berjalan Aselder, murid kesayangannya, orang yang
memenggal kepala khansha. Melihat kami, dia memekik,
minta kami melepas burka, dan menghampiri saya. Belati
ada di tangan saya; saya bunuh dia, lalu melompat ke arah
Gamzat. Tapi abang Osman sudah menembaknya. Gamzat
masih hidup dan dengan belatinya ia melompat ke arah
abang saya, tapi saya sempat menyasar kepalanya. Jumlah
murid tiga puluh orang, sedang kami cuma berdua. Mereka
berhasil membunuh abang Osman, tapi saya lolos, melom-
pat ke jendela dan lari. Ketika orang tahu bahwa Gamzat
terbunuh, seluruh rakyat bangkit dan para murid melarikan
diri; yang tidak lari dihabisi.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Haji Murat berhenti dan menarik napas berat.


“Semua itu baik,” sambungnya, “sesudah itu segalanya
kacau. Shamil menggantikan tempat Gamzat. Dia kirim
utusan, minta supaya saya bergabung dengan dia melawan
orang Rusia; kalau saya menolak, dia mengancam akan
menghancurkan Khunzakh dan membunuh saya. Saya

91
bilang, tidak akan bergabung dengan dia, dan akan saya
cegah dia datang.
“Kenapa kamu tak gabung dengan dia?” tanya Loris
Melikov.
Haji Murat memicingkan mata dan tidak segera men-
jawab.
“Tidak mungkin. Shamil berhutang darah abang Os-
man dan Abununtsal Khan. Jadi, saya tidak bergabung
dengan dia. Jenderal Rozen mengirimi saya pangkat perwira
dan menunjuk saya sebagai kepala Avaria. Segalanya sebe-
tulnya bisa baik, tapi Rozen mengangkat sebagai penguasa
Avaria mula-mula Khan Kazikumikh, Mahomet Mirza,
kemudian Akhmet Khan. Nah, Akhmet Khan ini membenci
saya. Dia pernah melamar anak gadis khansha, Saltanet,
untuk anaknya. Saltanet tak diberikan kepadanya, dan dia
pikir sayalah yang menghalangi. Dia membenci saya dan
dia kirim para pengawalnya buat membunuh saya, tapi saya
bisa lolos dari mereka. Lalu dia mengadukan saya kepada
Jenderal Klugenau; dia katakan saya melarang orang Avaria
kasih kayu bakar pada serdadu Rusia. Dia bilang juga bahwa
saya pakai sorban, nah ini,” kata Haji Murat sambil menun-
juk sorban di atas kopiahnya, “dan itu berarti bahwa saya
bergabung dengan Shamil. Jenderal tidak percaya dan dia
tidak perintahkan mengganggu saya. Tapi ketika jenderal
pergi ke Ti is, Akhmet Khan bertindak sendiri, dengan satu
http://facebook.com/indonesiapustaka

kompi serdadu dia tangkap saya, dia rantai, dan dia ikatkan
saya pada meriam. Enam hari enam malam saya diikatkan
ke meriam. Hari ketujuh dilepas dan dibawa ke Temir Khan
Shura. Empat puluh serdadu menggiring dengan senapan
terisi. Tangan saya diikat dan dia perintahkan bunuh saya,
kalau saya mau lari. Saya tahu itu. Ketika kami hampir sam-

92
pai, di dekat Moksokh jalan setapak itu sempit, di sebelah
sana tebing yang jauhnya sekitar lima belas sazhen, maka
saya tinggalkan serdadu itu ke kanan, ke pinggir tebing.
Seorang serdadu mau mencegah saya, tapi saya lompat ke
bawah tebing sambil menarik dia. Serdadu itu akhirnya
mati, sedang saya, ya ini, masih hidup. Tulang rusuk, ke-
pala, tangan, kaki—semua patah. Merangkak pun tak bisa.
Kepala berputar dan saya tertidur. Terbangun sudah basah
oleh darah. Seorang gembala lihat. Dia panggil orang banyak
dan mereka bawa saya ke aul. Tulang rusuk, kepala pulih,
pulih juga kaki, cuma jadi lebih pendek.
Haji Murat pun menyelonjorkan kaki kanannya.
“Masih bisa dipakai, dan baik,” katanya. “Orang-orang
tahu dan pada datang. Saya sembuh kembali dan pergi ke
Tselmes. Orang Avaria kembali minta saya mimpin mereka,”
kata Haji Murat tenang, mantap penuh kebanggaan. “Dan
saya setuju.”
Haji Murat cepat bangkit. Ia keluarkan tas dan kantong
pelana, dan dari situ ia keluarkan dua surat yang sudah
menguning, ia berikan kepada Loris Melikov. Kedua surat
itu dari Jenderal Klugenau. Loris Melikov membacanya.
Surat pertama berbunyi: Letnan Muda Haji Murat! Kamu
berdinas padaku—aku puas dengan kamu dan aku mengang-
gap kamu orang baik. Belum lama Jenderal Mayor Akhmet
Khan memberitahu aku bahwa kamu pengkhianat, bahwa
http://facebook.com/indonesiapustaka

kamu mengenakan sorban, bahwa kamu ada hubungan de-


ngan Shamil, bahwa kamu mengajari rakyat tak mematuhi
pimpinan orang Rusia. Aku perintahkan menahan kamu
dan membawa kamu padaku, tapi kamu lari; aku tak tahu
itu baik atau buruk, sebab aku tak tahu kamu bersalah atau
tidak. Sekarang dengar kata-kataku. Kalau hati nuranimu

93
memang bersih terhadap tsar yang agung, kalau kamu tak
bersalah dalam hal apa pun, datanglah padaku. Tak usah
takut pada siapa pun—aku pembelamu. Khan tak kan
berbuat sesuatu padamu; dia sendiri ada di bawahku, jadi
kamu tak usah takut.”
Selanjutnya Klugenau menulis bahwa dia selalu me-
megang janji dan bersikap adil, dan sekali lagi mendesak
Haji Murat untuk menemuinya.
Ketika Loris Melikov selesai membaca surat pertama,
Haji Murat mengeluarkan surat yang lain, tapi sebelum
menyerahkan surat itu kepada Loris Melikov, ia bercerita
tentang bagaimana ia membalas surat pertama itu.
“Saya tulis padanya, saya memang memakai sorban,
tapi itu bukan untuk Shamil, tapi untuk penyelamatan jiwa;
saya tak ingin dan tak bisa menyeberang pada Shamil, sebab
gara-gara dia bapak saya, saudara-saudara saya, dan sanak-
sanak saya terbunuh; tapi kepada orang Rusia juga saya
tak bisa menyeberang, sebab saya sudah dipermalukan. Di
Khunzakh, waktu saya diikat, seorang bangsat me … i saya.
Dan saya tak bisa menyeberang pada kalian sebelum orang
itu terbunuh. Tapi yang terpenting, saya takut pada si penipu
Akhmet Khan itu. Lalu jenderal mengirim pada saya surat
ini,” kata Haji Murat sambil mengulurkan kertas lain yang
sudah menguning kepada Loris Melikov.
“Kamu sudah membalas suratku, terima kasih,”
http://facebook.com/indonesiapustaka

demikian Loris Melikov membaca. “Kamu tulis bahwa


kamu tak takut kembali, tapi kamu tak bisa melakukan itu
karena seorang ka r sudah mempermalukan kamu; di sini
aku yakinkan kamu bahwa hukum Rusia adalah adil, dan de-
ngan mata kepalamu sendiri kamu akan lihat bahwa orang
yang sudah mempermalukan kamu itu akan dihukum; aku

94
sudah memerintahkan menyelidiki hal itu. Dengar kata-
kataku, Haji Murat, aku punya hak merasa tak puas dengan
dirimu, sebab kamu tak percaya padaku dan kejujuranku,
tapi aku maafkan kamu, karena aku tahu, pada umumnya
orang pegunungan memang ada sifat tak mudah percaya.
Kalau hati nuranimu memang bersih, kalau kamu memakai
sorban betul-betul untuk penyelamatan jiwa, maka kamu
benar dan bisa dengan berani langsung memandang mata
pemerintah Rusia dan mataku; aku yakinkan kamu bahwa
orang yang sudah mempermalukan kamu akan dihukum
(hartamu akan dikembalikan), dan kamu akan lihat dan
tahu apa artinya hukum Rusia. Lebih-lebih karena orang
Rusia memandang secara lain dalam semua hal; di mata
mereka kamu tak kehilangan apa pun bahwa seorang
bangsat sudah mempermalukan kamu. Aku sendiri sudah
mengizinkan orang Gimrinets memakai sorban dan meman-
dang perbuatan mereka itu sebagaimana mestinya; jadi aku
ulangi, tidak ada yang mesti kamu takutkan. Datanglah ke-
padaku bersama orang yang sekarang aku kirim kepadamu;
dia setia kepadaku, dia bukan (budak musuh-musuhmu),
melainkan sahabat orang yang mendapat perhatian khusus
dari pemerintah.”
Selanjutnya Klugenau kembali membujuk Haji Murat
untuk menyeberang.
“Saya tak percaya itu,” kata Haji Murat, ketika Loris
http://facebook.com/indonesiapustaka

Melikov selesai membaca surat, “dan saya tak menemui


Klugenau. Yang pokok bagi saya adalah balas dendam pada
Akhmet Khan, dan itu tak bisa saya lakukan lewat orang
Rusia. Waktu itu juga Akhmet Khan mengepung Tselmes;
dia mau menangkap saya atau membunuh saya. Saya tak
ada banyak orang, jadi tidak bisa saya melawan dia. Justru

95
waktu itulah datang pada saya utusan Shamil bawa surat.
Dia janji membantu saya melawan Akhmet Khan dan
membunuh dia, dan menyerahkan pada saya pimpinan atas
seluruh Avaria. Lama saya berpikir, lalu saya menyeberang
kepada Shamil. Sejak itulah saya tak berhenti bertempur
melawan orang Rusia.”
Sampai di sini Haji Murat bercerita tentang penga-
laman perangnya. Banyak jumlahnya dan sebagian di
antaranya dikenal oleh Loris Melikov. Semua aksi dan
serbuannya mengagumkan dilihat dari cepatnya gerak dan
keberanian serangannya yang selalu membuahkan hasil.
“Tidak pernah ada persahabatan antara saya dan
Shamil,” kata Haji Murat mengakhiri ceritanya, “tapi dia
takut saya, sedang dia perlu saya. Kebetulan waktu itu ada
yang tanya kepada saya, siapa yang akan jadi imam sesu-
dah Shamil? Saya katakan, yang akan jadi imam ialah yang
pedangnya selalu siap sedia. Kata-kata saya ini disampaikan
orang kepada Shamil, lalu dia ingin lepas dari saya. Dia
kirim saya ke Tabasaran. Saya pun pergi. Saya rebut seribu
domba, tiga ratus kuda. Dia bilang, perbuatan saya itu ke-
liru, lalu saya dicopot dari kenaiban dan saya disuruh kirim
kepadanya seluruh uang yang ada. Saya kirimkan seribu
uang emas. Dia kirim murid-muridnya dan dia rampas dari
saya semua milik saya. Dia tuntut saya datang kepadanya.
Saya tahu, dia mau bunuh saya, karena itu saya tak pergi.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dia kirim orang untuk menangkap saya. Saya melawan,


lalu menyebrang ke Vorontsov. Cuma keluarga tidak saya
bawa. Ibu saya, istri saya, dan anak lelaki saya di tangannya.
Tolong sampaikan pada Sardar: selama keluarga saya ada
di sana, tak ada yang bisa saya lakukan.”
“Akan saya sampaikan,” kata Loris Melikov.

96
“Usahakanlah, cobalah. Apa yang saya punya, kamu
punya juga. Cuma tolonglah, lewat pangeran. Saya terikat,
dan ujung tali yang lain di tangan Shamil.”
Dengan kata-kata itulah Haji Murat mengakhiri ceri-
tanya pada Loris Melikov.

XIV
Tanggal 20 Desember, Vorontsov menulis surat berikut
kepada Menteri Pertahanan Chernishev. Surat itu dalam
bahasa Perancis.
“Saya tidak menulis kepada Anda lewat pos terakhir,
Pangeran Yang Terhormat, karena saya ingin memutuskan
dahulu apa yang akan kita lakukan dengan Haji Murat, dan
karena saya merasa kurang sehat. Dalam surat saya yang
terakhir saya sampaikan kepada Anda tentang datangnya
Haji Murat ke sini. Ia tiba di Ti is tanggal 8; hari beri-
kutnya saya berkenalan dengannya, dan sekitar delapan
atau sembilan hari lamanya saya berbicara dengannya dan
menimbang-nimbang apa yang akhirnya dapat ia lakukan
untuk kita, terutama apa yang akan kita lakukan dengan-
nya sekarang, sebab ia sangat memikirkan nasib keluar-
ganya, dan ia berkata dengan terus-terang bahwa selagi
http://facebook.com/indonesiapustaka

keluarganya berada di tangan Shamil, ia lumpuh dan tak


mampu untuk mengabdi pada kita dan membuktikan rasa
terima kasihnya atas penerimaan yang baik dan maaf yang
kita berikan padanya. Bahwa dia tak mendengar berita
apa pun tentang anggota keluarga yang dicintainya, hal
itu membuatnya merasa demam. Orang-orang yang saya

97
tugaskan untuk mendampinginya meyakinkan saya bahwa
malam-malam ia tidak tidur, hampir tidak makan apa pun,
dan terus-menerus berdoa. Yang dimintanya hanyalah
jalan-jalan berkuda dengan beberapa orang Kazak. Itulah
satu-satunya hiburan dan gerak yang mungkin ia lakukan,
sebagai akibat kebiasaan bertahun-tahun lamanya. Tiap
hari ia datang kepada saya untuk bertanya, apakah pada
saya ada berita tentang keluarganya, dan ia minta saya
memerintahkan untuk mengumpulkan semua tawanan yang
ada dalam kekuasaan kita di berbagai lini guna ditawarkan
kepada Shamil sebagai penukar. Untuk itu akan ia tambah-
kan sejumlah uang. Untuk keperluan itu ada orang-orang
yang memberikan uang itu padanya. Ia berulang-ulang
mengatakan: selamatkanlah keluarga saya, kemudian beri-
kan pada saya kemungkinan untuk mengabdi pada Anda
(paling baik di lini Lezginskaya, menurutnya), dan kalau
selama sebulan saya tak memperlihatkan jasa yang besar,
hukumlah saya, kalau menurut Anda hal itu perlu.
Saya jawab bahwa semua itu agaknya menurut saya
wajar sekali, dan di tengah kita bahkan banyak saja orang
yang kiranya tak mempercayainya jika sekiranya keluarg-
anya tertinggal di pegunungan, dan bukan di tengah kita
sebagai sandra. Saya katakan bahwa akan saya lakukan
segala yang mungkin untuk mengumpulkan tawanan kita
di perbatasan, tapi karena saya tidak berhak menurut
http://facebook.com/indonesiapustaka

konstitusi kita memberikan uang padanya untuk tebusan


sebagai tambahan uang yang akan diperolehnya sendiri,
maka barangkali saya akan mencari cara-cara lain un-
tuk membantunya. Sesudah itu saya sampaikan dengan
terus-terang pendapat saya padanya, bahwa Shamil tidak
mungkin akan menyerahkan keluarga Haji Murat. Saya

98
sampaikan juga bahwa barangkali Shamil akan menyampai-
kan langsung hal itu kepada Haji Murat, disertai janji akan
memberikan maaf penuh dan jabatan-jabatan sebelumnya,
disertai pula ancaman bahwa jika ia tidak kembali, akan
dibunuhnya ibu, istri dan keenam anak Haji Murat. Saya
tanya dia, apakah bisa dia mengatakan dengan terus-terang,
apa yang kiranya dia lakukan, sekiranya dia menerima
pernyataan demikian dari Shamil. Haji Murat mengangkat
mata dan kedua tangannya ke langit dan mengatakan bahwa
segalanya ada di tangan Allah, tapi sampai kapan pun dia
tidak akan menyerahkan diri ke tangan musuhnya, sebab ia
yakin sepenuhnya bahwa Shamil tidak akan memaafkannya,
karena itu tidak akan lama lagi ia hidup. Mengenai pembi-
nasaan keluarganya, Haji Murat tidak yakin bahwa Shamil
akan bertindak demikian gegabah: pertama, dia tidak akan
membuat musuh-musuhnya lebih putus asa dan lebih ber-
bahaya lagi; dan kedua, di Daghestan bahkan banyak sekali
tokoh berpengaruh yang akan mencegahnya untuk berbuat
demikian. Akhirnya dia ulangi kepada saya beberapa kali,
bahwa apa pun kehendak Allah di masa depan, yang ter-
pikir olehnya kini adalah bagaimana menebus keluarga.
Dia mohon kepada saya, demi Allah, untuk membantunya
dan mengijinkannya kembali ke daerah sekitar Chechnya,
di mana dengan perantaraan dan dengan perkenan para
pimpinan kita dia dapat berhubungan dengan keluarganya
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan mendengar selalu berita tentang keadaan keluarganya,


serta cara-cara untuk membebaskannya. Dia katakan bahwa
banyak orang dan bahkan beberapa naib di negeri musuh
itu kurang-lebih menaruh rasa segan kepadanya. Menurut-
nya, di tengah penduduk yang sudah tunduk kepada orang
Rusia atau netral itu, dengan bantuan kita, dia akan dengan

99
mudah menjalin hubungan yang sangat bermanfaat untuk
mencapai tujuan yang dia dambakan siang dan malam.
Tercapainya tujuan yang demikian meresahkan dirinya
itu akan memungkinkannya bertindak demi kepentingan
kita dan menimbulkan kepercayaan kita. Dia minta agar
dirinya dikirim kembali ke Groznaya dengan konvoi dua
puluh atau tiga puluh Kazak yang gagah berani, yang dapat
kiranya berguna baginya untuk membela diri terhadap mu-
suh-musuhnya, dan bagi kita untuk menjamin kebenaran
maksud-maksud yang telah diucapkannya.
Anda tentu mengerti, Pangeran Yang Terhormat,
bahwa semua ini sangat membingungkan saya, sebab apa
pun yang akan kita lakukan, tanggungjawab yang besar
terletak di bahu saya. Kiranya sangat tidaklah hati-hati
untuk bersikap tidak mempercayainya; tapi sekiranya kita
ingin meniadakan darinya sarana untuk melarikan diri,
maka kiranya kita harus memasukkannya dalam tutupan;
tapi ini menurut pendapat saya tidak adil dan tidak politis
kiranya. Tindakan demikian, yang beritanya akan tersebar
dengan cepat di seluruh Daghestan, kiranya dapat sangat
merugikan kita, yaitu meniadakan semangat pada mereka
(yang banyak jumlahnya), yang mau bertindak kurang-lebih
terbuka melawan Shamil dan yang berkepentingan terhadap
kedudukan wakil imam yang paling berani dan aktif, yang
menganggap dirinya terpaksa menyerahkan diri ke tangan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kita. Begitu kita bertindak terhadap Haji Murat sebagai


terhadap seorang tawanan, maka seluruh efek negatif dari
pengkhianatannya terhadap Shamil kiranya akan runtuh
untuk kerugian kita.
Karena itu, saya pikir, tidak dapat saya bertindak
seperti sudah saya lakukan, namun saya pun merasa,

100
bahwa akan ada kemungkinan untuk menuduh saya telah
melakukan kesalahan besar, jika sekiranya terpikir oleh
Haji Murat untuk lari kembali. Di dalam dinas, dan di
dalam urusan yang demikian rumit ini sukarlah, untuk
tidak menyebutnya mustahil, menempuh satu jalan yang
lurus, tanpa risiko untuk melakukan kekeliruan dan untuk
tidak memikul tanggungjawab sendiri. Tapi begitu tampak
jalan lurus, haruslah kita tempuh jalan itu – terjadilah apa
yang akan terjadi.
Saya mohon Anda, Pangeran Yang Terhormat, untuk
menyampaikan hal ini agar ditimbang oleh Yang Maha Mu-
lia Imperator, dan saya akan merasa bahagia jika Junjungan
Kita berkenan menyetujui langkah saya. Semua yang saya
tulis di atas telah saya tulis juga kepada Jenderal Zavadovskii
dan Kozlovskii demi terjalinnya hubungan langsung antra
Kozlovskii dengan Haji Murat yang dalam hal ini sudah
saya ingatkan bahwa tanpa persetujuan Kozlovskii, tidak
ada apa pun yang bisa dilakukan, dan ke mana pun tidak
mungkin melangkah. Saya nyatakan kepadanya, bahwa un-
tuk kebaikan kita, akan lebih baik lagi, jika Haji Murat pergi
bersama konvoi kita, jangan sampai Shamil menyebarkan
berita seolah kita memasukkan Haji Murat dalam kurungan.
Tapi dalam hal ini saya meminta janjinya untuk kapan pun
tidak pergi ke Vozdvizhenskoye, karena anak saya, kepada
siapa ia pertama kali menyerahkan diri, dia anggap sebagai
http://facebook.com/indonesiapustaka

kunak (kawan)-nya, dan bukan sebagai pejabat di tempat


itu, karenanya bisa terjadi salah pengertian. Dalam hal ini
Vozdvizhenkoye terlalu dekat dengan penduduk yang be-
sar jumlahnya dan bermusuhan terhadap kita, sedangkan
untuk hubungan yang dia inginkan dengan wakil-wakilnya,
Groznaya sangat baik ditinjau dari segala segi.

101
Kecuali dua puluh Kazak terpilih yang atas perminta-
annya sendiri tak boleh selangkah pun tertinggal dari
dirinya, saya kirimkan juga kapten kavaleri Loris Melikov,
seorang perwira yang pantas, hebat dan sangat cakap, bisa
bicara bahasa Tartar dan mengenal baik Haji Murat, yang
agaknya juga cukup mempercayainya. Selama sepuluh
hari yang dilewatkannya di sini, Haji Murat tinggal dalam
satu rumah bersama Pangeran Letnan Kolonel Tarkhanov,
kepala uyezd Shushinskii, yang kebetulan ada di sini untuk
urusan dinas. Dia ini orang yang sungguh-sungguh patut,
dan saya sepenuhnya mempercayainya. Dia pun mendapat
kepercayaan dari Haji Murat. Lewat dialah, karena dia
dapat bicara baik sekali dalam bahasa Tartar, kami mem-
pertimbangkan masalah-masalah yang paling sensitif dan
rahasia.
Saya bertukar pendapat dengan Tarkhanov mengenai
Haji Murat, dan dia setuju sekali dengan saya, bahwa kita
harus mengambil langkah seperti yang saya telah ambil,
atau memasukkan Haji Murat dalam penjara dan menja-
ganya dengan segala peraturan yang paling ketat – sebab
kalau satu kali kita sudah memperlakukannya buruk, tidak
mudah lagi kita menjaganya – atau menjauhkannya sama
sekali dari tempat ini. Tapi kedua macam langkah terakhir
ini kiranya tidak hanya meniadakan seluruh keuntungan
yang dapat kita peroleh dari perseteruan antara Haji
http://facebook.com/indonesiapustaka

Murat dan Shamil, tapi juga pasti menghentikan kiranya


berkembangnya protes dan kemungkinan kemarahan
orang pegunungan terhadap kekuasaan Shamil. Pangeran
Tarkhanov mengatakan pada saya bahwa dia sendiri yakin
akan kebenaran Haji Murat, dan Haji Murat tidak sangsi,
bahwa Shamil kapan pun tidak akan mengampuni, dan

102
akan memerintahkan menghukum Haji Murat, sekalipun ia
menjanjikan pengampunan. Satu-satunya hal yang menjadi
ganjalan Tarkhanov dalam hubungan dengan Haji Murat
adalah ketaatan Haji Murat pada agamanya, dan dia pun
tidak merahasiakan adanya kemungkinan bahwa Shamil
bisa bertindak terhadap Haji Murat dari sudut ini. Tapi,
seperti sudah saya katakan di atas, kapan pun Shamil tidak
akan dapat meyakinkan Haji Murat, bahwa dia tidak akan
membunuh Haji Murat, baik sekarang maupun beberapa
waktu kemudian sesudah Haji Murat kembali.
Inilah saja, Pangeran Yang Terhormat, yang ingin
saya sampaikan kepada Anda mengenai tahapan urusan
di tempat ini.”

XV
Laporan tersebut dikirim dari Ti is tanggal 24 Desember.
Malam tahun baru tahun 1852, sesudah berturut-turut
memacu sepuluh ekor kuda dan menggebrak sepuluh orang
sais, kurir akhirnya menyampaikannya kepada Pangeran
Chernishev yang waktu itu menjabat Menteri Peperang-
an.
Dan tanggal 1 Januari 1852 Chernishev menyampaikan
http://facebook.com/indonesiapustaka

laporan Vorontsov itu kepada Imperator Nikolai, termasuk


urusan-urusan lainnya.
Chernishev tidak suka Vorontsov, baik karena pada
umumnya orang menaruh hormat kepada Vorontsov, kare-
na Vorontsov kaya sekali maupun karena Vorontsov adalah
seorang tuan yang sejati, sedang Chernishev bagaimanapun

103
adalah seorang pervenu12, tapi terutama karena Imperator
cenderung kepada Vorontsov. Dalam laporan yang lalu—
mengenai persoalan Kaukasus, Chernishev berhasil menim-
bulkan ketidakpuasan Nikolai terhadap Vorontsov karena
gara-gara kecerobohan pimpinan, hampir seluruh pasukan
yang tak besar jumlahnya di Kausasus dimusnahkan oleh
orang pegunungan. Sekarang ia bermaksud menyampaikan
segi negatif cara Vorontsov menangani Haji Murat. Ia ingin
menunjukkan kepada Yang Dipertuan bahwa Vorontsov se-
lalu bertindak tidak bijaksana, terutama dengan merugikan
orang Rusia, yaitu dengan caranya melakukan pembelaan
dan bahkan mengikutsertakan orang pribumi, dan dengan
membiarkan Haji Murat tetap berada di Kaukasus. Sangat
mungkin bahwa Haji Murat menyeberang kepada kita hanya
untuk mengamati sarana-sarana pertahanan kita, karena
itu lebih baik mengirim Haji Murat ke pusat Rusia, dan
baru memanfaatkannya nanti ketika keluarganya sudah
diselamatkan dari pegunungan dan ada kemungkinan untuk
memperoleh keyakinan terhadap kesetiaannya.
Maksud ini tidak bisa diwujudkan oleh Chernishev
hanya karena pagi tanggal 1 Januari itu Nikolai khususnya
sedang tidak berselera dan tidak akan menerima apa pun
dan dari siapa pun saran yang dasarnya adalah pertentang-
an. Lebih-lebih ia tidak cenderung menerima saran Cher-
nishev karena walau Chernishev ia tenggang sebagai orang
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang untuk sementara belum dapat digantikan, ia anggap


juga sebagai seorang bangsat besar. Ia ketahui bahwa dalam
proses Kaum Desembris, Chernishev mencoba merusak
nama Zakhar Chernishev dan berusaha menguasai harta

12
orang kaya baru (Pr.).

104
miliknya. Jadi, karena suasana hati Nikolai yang demikian
itu Haji Murat tetap tinggal di Kaukasus, dan nasibnya tidak
berubah, satu hal yang mungkin saja terjadi sekiranya Cher-
nishev menyampaikan laporan itu pada waktu yang lain.
Lonceng berbunyi pukul setengah sepuluh ketika
Chernishev dengan kusirnya yang gemuk berjenggot meng-
hampiri gerbang kecil Istana Musim Dingin. Cuaca berkabut
dengan suhu minus dua puluh derajat Celsius waktu itu.
Kusir dengan ramah mengangguk kepada sahabatnya, kusir
Pangeran Dolgorukii. Adapun Chernishev yang mengena-
kan topi bulu kebiruan dan lancip ujung-ujungnya sudah
duduk di boks kereta salju seperti yang biasa dikendarai oleh
Nikolai Pavlovich. Kusir Pangeran Dolgorukii sudah menu-
runkan tuannya dan kini berdiri di dekat gerbang istana; ia
melipatkan tali kekang di bawah ujung tempat duduk yang
terbuat dari kain katun tebal, dan kini menggosok-gosokkan
kedua tangannya karena kedinginan.
Chernishev mengenakan baju mantel dengan kerah
dari kulit berang-berang empuk beruban; ia bertopi hangat
segitiga dengan bulu ayam jantan sesuai mode. Ia singkap-
kan selimut kulit beruang itu, dengan hati-hati ia keluarkan
kedua kakinya yang kedinginan karena tak bersepatu luar
(dia bangga tak mengenakan sepatu luar) dari kereta salju.
Sesudah membuat tekad dengan pacu berdering ia berjalan
dengan langkah panjang di atas permadani menuju pintu
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang dengan sikap hormat dibukakan oleh penjaga pintu


baginya. Di kamar depan ia lepaskan baju mantel dan ia
serahkan kepada pelayan tua yang berlari mendapatkannya,
lalu Chernishev menghampiri cermin dan dengan hati-hati
melepas topi hangat dari wignya yang keriting. Ia perhatikan
dirinya di dalam cermin, dan dengan gerak tangan tua yang

105
biasa itu ia benahi pelipis dan jambulnya, ia benarkan letak
Bintang Salib, tanda jasa dan epolet besar bermonogram,
dengan lembut ia langkah-langkahkan kakinya yang tua dan
sudah susah digerakkan, dan mulailah ia mendaki tangga
landai berlapis permadani itu.
Sesudah melewati para pelayan kamar yang berbaris
dekat pintu sambil membungkuk penuh hormat kepadanya,
Chernishev masuk kamar tamu. Petugas jaga, yaitu ajudan
Tsar yang baru ditunjuk, tampak megah dengan seragam
barunya, epoletnya dan tanda jasanya; dengan wajah keme-
rahan segar, dengan kumis dan pelipis hitam yang disisir
ke arah mata sebagaimana sisiran Nikolai Pavlovich, ia
menyambut Chernishev dengan hormat. Pangeran Vasilii
Dolgorukii, kawan Menteri Peperangan, berdiri menyambut
Chernishev dan menyapanya. Ia bercambang, berkumis
dan berpelipis seperti juga Nikolai, tapi ia memperlihatkan
wajah kosong, menunjukkan sikap bosan.
“L’empereur?”13 tanya Chernishev kepada ajudan dan
dengan mata mengandung pertanyaan menunjuk pintu
kamar kerja.
“Sa Majeste vient de rentrer,”14 kata ajudan yang
jelas merasa senang mendengarkan suaranya sendiri, lalu
melangkah lunak demikian ringan, hingga gelas penuh air
yang diletakkan di atas kepalanya pun tidak akan kiranya
tumpah; ia menghampiri pintu yang membuka tanpa bu-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nyi, dan menghilang di baliknya disertai sikap menunjuk-


kan penghormatan dengan seluruh dirinya ke arah yang
ditujunya.

13
Imperator? (Pr.)
14
Yang Mulia baru saja kembali. (Pr.)

106
Dolgorukii sementara itu membuka tasnya dan meme-
riksa kertas-kertas di dalamnya.
Adapun Chernishev sambil mengerutkan kening
berjalan mondar-mandir untuk melemaskan kaki sambil
mengingat-ingat segala yang perlu dilaporkannya kepada
Imperator. Chernishev sedang berada dekat pintu kamar
kerja, ketika pintu itu kembali terbuka dan dari dalam keluar
ajudan yang lebih megah dan hormat lagi daripada yang
sebelumnya, dan dengan isyarat ia mempersilakan menteri
dan kawannya untuk menemui Yang Dipertuan.
Istana Musim Dingin setelah terjadinya kebakaran
sudah lama dibangun kembali, tapi Imperator Nikolai
tinggal di situ masih di tingkat atas. Kamar kerja tempat
ia menerima laporan dari para menteri dan pejabat tinggi
adalah sebuah ruangan yang sangat tinggi, dengan empat
jendela besar-besar. Potret besar Imperator Aleksandr I
tergantung pada dinding utama. Di antara jendela-jendela
berdiri dua meja. Menyusur dinding berdiri beberapa kursi,
di tengah ruangan ada meja tulis besar sekali, di depan meja
itu kursi Nikolai, dan kursi-kursi para tamu.
Nikolai, yang mengenakan baju hitam tanpa epolet tapi
dengan lidah-lidah baju pendek itu, duduk di dekat meja.
Ia menyandarkan tubuhnya yang besar meregang kaku di
bagian perutnya yang membuncit, dan dengan pandangan
yang kaku tanpa ekspresi memperhatikan orang-orang
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang masuk. Wajahnya yang putih memanjang, dengan


dahi lebar landai yang menjorok dari balik rambut pelipis
yang rata itu, hari ini khususnya tampak dingin dan tanpa
gerak. Rambut pelipis itu dengan rapi dipersatukan dengan
wig yang menutup botak di kepalanya. Matanya yang selalu
redup dan kali itu lebih redup daripada biasanya, bibirnya

107
yang terkatup di bawah kumis yang melengkung ke atas,
pipinya yang sintal berpangkas dan bertopang kerah tinggi
serta cambang yang lurus seperti sosis, dan jenggotnya
yang menempel ke kerah—semua itu menimbulkan kesan
tak puas dan bahkan marah pada wajahnya. Penyebab
perasaan hati itu adalah kelelahan. Adapun penyebab
kelelahan adalah karena malam sebelumnya ia hadir dalam
bal maskarad, dan seperti biasa, ketika ia sedang berjalan
mondar-mandir mengenakan ketopong perwira kavaleri
dengan hiasan burung di kepala, di antara orang-orang
yang berdesak-desak di sekitarnya dan dengan takut-takut
menghindarkan diri dari sosoknya yang besar dan percaya
diri, ia kembali bertemu dengan ketopong yang dalam bal
maskarad yang lalu sempat membangkitkan nafsu tuanya,
dengan kulitnya yang putih dan nada suaranya yang merdu.
Ketopong itu kemudian menjauh darinya, tapi berjanji
akan menjumpainya lagi dalam bal maskarad berikutnya.
Dalam maskarad kemarin ketopong itu mendekat padanya,
dan Nikolai pun tidak melepasnya lagi. Ia membawanya ke
boks yang dikhususkan untuk itu, di mana ia dapat tinggal
berdua saja dengan sang nona. Sampai di pintu boks tanpa
berkata-kata Nikolai menoleh, mencari pelayan boks dengan
matanya, tapi pelayan tak ada. Nikolai mengerutkan kening
dan mendorong sendiri pintu boks dan mempersilakan sang
nona maju ke depan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Il y a quelqu’une,”15 kata si nona sambil berhenti. Di


boks itu memang ada orang. Di atas dipan beledu duduk
berdempetan seorang perwira Uhlan dengan wanita muda
manis berambut pirang, berombak berpakaian domino,

15
Ada orang. (Pr.)

108
dengan ketopong dibuka. Melihat sosok Nikolai tegak lurus
bernada geram, wanita berambut pirang itu buru-buru me-
ngenakan ketopongnya, sedangkan perwira Uhlan terpaku
ngeri, memandang Nikolai tanpa berkedip, dan tidak juga
bangkit dari dipan.
Nikolai sudah biasa menyaksikan ekspresi perasaan
ngeri yang ditimbulkannya pada orang lain, dan perasaan
ngeri itu selalu menyenangkan baginya, tapi kadang-kadang
suka juga ia mempesona orang yang merasa ngeri dengan
sebaliknya menegur dengan kata-kata ramah. Dan itulah
yang dilakukannya kini.
“Nah, kawan, kamu lebih muda daripada saya,” kata-
nya kepada perwira yang menjadi kaku sikapnya karena
ngeri, “jadi, bisa kasih tempat kepada saya.”
Perwira melompat dan dengan wajah pucat memerah,
sambil membungkuk ia keluar dari boks tanpa berkata-kata,
mengikuti ketopongnya, dan Nikolai pun tinggal berdua
dengan sang nona.
Ketopong itu ternyata perawan manis umur dua pu-
luh tahun, putri pendidik anak, wanita Swedia. Gadis itu
menceritakan kepada Nikolai bahwa sejak kecil ia sudah
jatuh cinta kepada Nikolai dari melihat potret-potretnya;
ia mendewakan Nikolai dan telah memutuskan untuk
bagaimanapun harus memperoleh perhatian darinya. Nah,
ia kini sudah berhasil, maka menurutnya, ia sudah tak me-
http://facebook.com/indonesiapustaka

merlukan apa-apa lagi. Gadis itu pun dibawa ke tempat yang


biasa bagi Nikolai untuk bertemu dengan para wanita, dan
Nikolai menghabiskan waktu lebih sejam dengannya.
Ketika malam itu ia kembali ke kamarnya dan mem-
baringkan diri di tempat tidur sempit keras yang dibang-
gakannya, dan menyelimuti diri dengan jubah yang dia

109
anggap (dan juga ia katakan) sama terkenalnya dengan
topi Napoleon, lama ia tak dapat tertidur. Kadang ia ingat
ekspresi takut dan gembira pada wajah putih perawan itu,
kadang juga ia ingat bahu padat wanita yang selalu menjadi
kekasihnya waktu itu, Nelidova, dan membandingkan yang
pertama dengan yang kedua. Tidak terpikir olehnya bahwa
percabulan oleh pria yang sudah berkeluarga adalah tidak
baik, dan heran ia kiranya, jika ada orang mempersalahkan-
nya karena itu. Tapi, walau ia yakin bahwa ia bertindak seba-
gaimana mestinya, tetap tinggal padanya uap tak nyaman,
dan untuk meredam perasaan itu mulailah ia memikirkan
hal yang selalu menenangkan hatinya, yaitu bahwa dirinya
adalah orang besar.
Walau lambat terlelap, seperti biasanya ia bangun
pukul delapan dan sesudah ke belakang seperti biasa, dan
menggosok tubuhnya yang besar penuh dengan es dan
berdoa kepada Tuhan, ia pun membaca doa yang biasa
diucapkannya sejak kecil, “Bunda Maria”, “Aku Percaya”,
“Bapa Kami”, tanpa memperhatikan apa pun maknanya, dan
keluar dari gerbang kecil ke jalan di tepian sungai, berbaju
mantel dan berkopiah.
Di tengah jalan di tepian ia bertemu dengan murid
lembaga pendidikan ilmu hukum, yang besar juga tubuhnya
seperti dirinya, mengenakan pakaian seragam dan topi.
Melihat pakaian seragam lembaga yang tak disukainya
http://facebook.com/indonesiapustaka

karena cenderung pada kebebasan itu, Nikolai Pavlovich


mengerutkan kening, namun sosok murid yang tinggi, gerak
tubuhnya yang mencondong, dan caranya memberikan
hormat dengan mengedepankan siku itu melunakkan rasa
tak puasnya.
“Siapa nama keluargamu?” tanyanya.

110
“Polosatov, Yang Mulia Imperator.”
“Bagus!”
Murid itu terus berdiri dengan menempelkan tangan
ke topinya. Nikolai berhenti.
“Mau dinas militer?”
“Sama sekali tidak, Yang Mulia Imperator.”
“Bodoh!” Nikolai membalikkan badan lalu jalan, dan
mulai dengan keras mengucapkan kata-kata yang pertama
teringat olehnya. “Koperwein, Koperwein,” katanya be-
berapa kali mengulang nama perawan kemarin itu. Ia tak
memikirkan apa yang ia katakan, tapi meredam perasaan-
nya dengan perhatian terhadap apa yang ia katakan. “Se-
perti apa kiranya Rusia tanpa diriku,” katanya kepada diri
sendiri ketika ia menyadari bahwa rasa tak puas kembali
menghampir. “Ya, seperti apa kiranya tanpa diriku, bukan
hanya Rusia, tapi juga Eropa.” Dan teringatlah olehnya
iparnya, Raja Prusia, kelemahan dan kebodohannya, dan
ia pun menggeleng-gelengkan kepala.
Kembali ke beranda, ia lihat kereta Yelena Pavlovna
yang bersama bujang merah sedang menghampir ke Ger-
bang Saltikov. Yelena Pavlovna baginya adalah personi kasi
orang-orang kosong yang membincangkan tidak hanya ilmu
pengetahuan, puisi, tetapi juga bagaimana mengendalikan
orang banyak, seraya membayangkan bahwa mereka bisa
mengendalikan dirinya dengan lebih baik daripada diri-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nya, diri Nikolai dalam mengendalikan orang banyak itu.


Nikolai tahu bahwa berapa pun ia tindas orang-orang itu,
tetapi mereka akan kembali mencul. Dan teringatlah ia akan
abangnya, Mikhail Pavlovich, yang belum lama mening-
gal. Dan perasaan kecewa dan sedih pun meliputinya. Ia
mengerutkan kening dengan murung dan kembali mulai

111
membisikkan kata-kata yang pertama teringat olehnya tadi.
Baru berhenti berbisik ia ketika memasuki istana. Ia masuk
kamar, dan sesudah mengelus cambang dan rambut pelipis
dan lipatan rambut ubun-ubun di depan cermin, ia memilin
kumis, langsung masuk kamar kerja, di mana berlangsung
acara pelaporan.
Yang pertama kali ia terima adalah Chernishev. Seke-
tika itu juga, dari wajahnya dan terutama dari mata Nikolai,
Chernishev mengerti bahwa Nikolai sekarang sedang tidak
senang, dan karena tahu petualangan Nikolai kemarin,
mengertilah Chernishev, apa penyebabnya. Setelah me-
nyapa Chernishev dengan dingin dan mempersilakannya
duduk, Nikolai menatapkan pandangan mata yang tanpa
ekspresi.
Kasus pertama dalam laporan Chernishev adalah ka-
sus terbongkarnya pencurian oleh para pejabat intendans;
kemudian pemindahan pasukan di perbatasan Prusia; lalu
pemberian penghargaan kepada beberapa orang yang ter-
lewatkan dalam daftar sebelumnya menjelang Tahun Baru;
kemudian laporan Vorontsov tentang menyeberangnya Haji
Murat, dan akhirnya kasus celaka seorang mahasiswa aka-
demi kedokteran yang mencoba membunuh profesornya.
Sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat Nikolai
mengelus lembaran-lembaran kertas dengan tangannya
yang putih besar bercincin emas di jari manisnya, dan men-
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengarkan laporan tentang pencurian itu tanpa melepaskan


pandangan pada dahi dan jambul Chernishev.
Nikolai yakin bahwa semua orang mencuri. Ia tahu
bahwa sekarang perlu ia menghukum para pejabat in-
tendans itu dan memutuskan akan menjadikan mereka
serdadu, namun ia tahu juga bahwa itu tidak akan mence-

112
gah mereka yang menggantikannya untuk melakukan hal
yang sama. Ciri pejabat adalah mencuri, sedang kewajiban
Imperator adalah menghukum mereka; betapapun membo-
sankan hal itu baginya, ia laksanakan juga tugas itu dengan
kesadaran penuh.
“Rupanya di Rusia ini cuma ada satu orang yang jujur,”
katanya.
Seketika itu Chernishev pun mengerti bahwa satu-sa-
tunya orang yang jujur di Rusia itu adalah Nikolai, dan ia
pun tersenyum setuju.
“Kiranya memang begitu, Yang Mulia,” katanya.
“Tinggalkan, nanti aku kasih instruksi,” kata Nikolai
sesudah menerima dokumen dan meletakkannya di sisi
kiri meja.
Sesudah itu Chernishev mulai melapor tentang pembe-
rian penghargaan dan tentang pemindahan pasukan. Niko-
lai memeriksa daftar, mencoret beberapa nama, kemudian
dengan singkat dan tegas menetapkan pemindahan dua
divisi ke perbatasan Prusia.
Nikolai bagaimanapun tak dapat memaafkan Raja
Prusia yang sesudah peristiwa tahun 1848 diberinya konsti-
tusi, karena itu walau dengan saudara iparnya itu ia meng-
gunakan kata-kata ramah dalam surat maupun langsung,
ia anggap perlu sebagai tindakan jaga-jaga untuk memiliki
pasukan di perbatasan Prusia. Pasukan itu bisa saja diperlu-
http://facebook.com/indonesiapustaka

kan apabila terjadi pemberontakan rakyat di Prusia (Nikolai


di mana-mana melihat orang siap memberontak) untuk
membela tahta saudara iparnya, seperti dulu ia memakai
pasukan untuk membela Austria terhadap orang-orang
Hongaria. Pasukan di perbatasan itu diperlukan juga untuk
memberikan lebih banyak bobot dan makna pada nasihat-

113
nasihatnya kepada Raja Prusia itu.
“Ya, apa yang kiranya terjadi dengan Rusia sekarang,
jika bukan aku,” demikian kembali terpikir olehnya.
“Nah, apa lagi?” katanya.
“Kurir dari Kaukasus,” kata Chernishev, dan mulailah
ia melapor tentang apa yang ditulis Vorontsov tentang me-
nyeberangnya Haji Murat.
“O, begitu,” kata Nikolai. “Ini awal yang bagus.”
“Rupanya rencana yang Yang Mulia susun mulai mem-
buahkan hasil,” Chernishev memulai.
Pujian terhadap kemampuan strategisnya ini sangat
menyenangkan Nikolai, sebab walau ia bangga dengan
kemampuan-kemampuan strategisnya, di dasar jiwanya
ia mengakui bahwa semuanya itu tak ada. Dan sekarang ia
ingin mendengarkan pujian-pujian yang lebih rinci terha-
dap dirinya.
“Menurut kamu sendiri bagaimana” tanyanya.
“Menurut saya, kalau dulu secara berangsur-angsur,
walau pelan, diikuti rencana Yang Mulia maju ke depan de-
ngan menebang hutan dan menghancurkan perbekalannya,
Kaukasus sudah lama kiranya tunduk. Menyeberangnya
Haji Murat, menurut saya, hanya karena itu. Dia mengerti
bahwa dia tak mungkin lagi bertahan.”
“Betul,” kata Nikolai.
Rencana gerak maju pelan-pelan ke wilayah musuh
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan menebang hutan dan menghancurkan perbekalan


itu adalah rencana Yermolov dan Velyaminov yang sama
sekali berlawanan dengan rencana Nikolai, yaitu perlu
sekaligus menguasai wilayah Shamil dan menghancurkan
sarang penyamun itu, dan untuk itulah pada 1845 dibentuk
ekspedisi Darginskaya yang telah makan demikian banyak

114
korban nyawa manusia. Namun Nikolai menganggap ren-
cana gerak pelan-pelan, penebangan hutan dan penghan-
curan perbekalan itu sebagai rencananya sendiri. Sebetulnya
untuk mempercayai bahwa rencana gerak pelan-pelan,
penebangan hutan dan penghancuran perbekalan itu adalah
rencananya, perlu disembunyikan kenyataan bahwa ia jus-
tru berkeras mengambil tindakan militer yang sama sekali
bertentangan dengan itu pada 1845. Tapi ia tidak menyem-
bunyikan kenyataan itu, dan membanggakan rencana baik
ekspedisi tahun 1845 maupun rencana gerak maju pelan-
pelan, sekalipun kedua rencana itu jelas bertentangan satu
sama lain. Jilatan yang terus-menerus, terang-terangan,
dan bertentangan dengan kenyataan dari orang-orang di
sekitarnya itu menyebabkannya tak dapat melihat perten-
tangan-pertentangan, tidak dapat menyelaraskan tindak-
an-tindakan dan kata-katanya dengan kenyataan, dengan
logika, atau bahkan dengan akal sehat sederhana sekalipun;
sebaliknya ia cukup yakin bahwa semua perintahnya, beta-
papun semua itu tidak berarti, tidak adil dan tidak sejalan
satu sama lain, telah menjadi berarti, adil dan sejalan satu
sama lain, justru karena dia yang memberikan.
Demikian juga keputusannya mengenai mahasiswa
akademi kedokteran bedah, yang mulai dilaporkan oleh
Chernishev sesudah laporan mengenai Kaukasus.
Masalahnya adalah pemuda yang sudah dua kali tidak
http://facebook.com/indonesiapustaka

lulus ujian itu menempuh ujian untuk ketiga kalinya, dan


ketika penguji kembali tidak meluluskannya, mahasiswa
yang sakit syaraf itu menganggap keputusan itu tidak adil,
lalu mengambil pisau lipat dari meja, dan dengan mata
gelap menyerang sang profesor hingga menderita beberapa
luka ringan.

115
“Siapa namanya?” tanya Nikolai.
“Bzhezovskii.”
“Orang Polandia?”
“Asal Polandia, Katolik,” jawab Chernishev.
Nikolai mengerutkan kening.
Sudah banyak Nikolai mendatangkan bencana pada
orang Polandia. Sebagai alasannya ia cukup meyakinkan
dirinya bahwa semua orang Polandia adalah bangsat. Dan
Nikolai menganggap mereka memang bangsat, dan ia
membenci mereka, sebagaimana ia mendatangkan bencana
pada mereka.
“Tunggu sebentar,” katanya, dan ia pun memejamkan
mata dan menundukkan kepala.
Chernishev tahu, karena sudah sering mendengar itu
dari Nikolai bahwa kalau ia perlu memutuskan sesuatu
masalah penting, ia hanya perlu berkonsentrasi beberapa
saat; bahwa sesudah itu ia akan mendapat ilham, dan kepu-
tusan pun tersusun dengan sendirinya sebagai keputusan
yang paling benar, apa pun kata hati kecilnya. Yang terpikir
olehnya sekarang adalah bagaimana sebesar mungkin
memuaskan rasa berang terhadap orang Polandia yang
dipicu dalam dirinya oleh riwayat mahasiswa tersebut, dan
suara hati kecilnya pun membisikkan keputusan berikut
ini. Ia ambil laporan itu dan di garis pinggir ia tulis dengan
tulisan besar-besar: (“Pantas mendapat hukuman mati.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Tapi, puji Tuhan, pada kita tak ada hukuman mati. Dan
aku takkan memberlakukannya. Giring 12 kali lewat seribu
orang. Nikolai,”) dan ditandatanganinya dengan tulisan
besar-besar yang dibuat-buat.
Nikolai tahu bahwa dua belas ribu cambukan tidak
hanya berarti maut yang pasti dan menyiksa, tapi juga be-

116
rarti kekejaman, sebab cukup dengan lima ribu pukulan saja
orang yang paling kuat pun akan terbunuh. Tapi ia senang
bersikap kejam tanpa ampun dan senang memikirkan
bahwa pada kita tak ada hukuman mati.
Sesudah menandatangani perintah tentang mahasiswa
itu, ia sodorkan keputusan tersebut kepada Chernishev.
“Nah, ini,” katanya. “Baca.”
Chernishev membaca, dan sebagai tanda kagum dan
hormat terhadap bijaknya keputusan itu, ia pun menekur-
kan kepalanya.
“Keluarkan semua mahasiswa ke lapangan, supaya
mereka menghadiri penghukuman itu,” tambah Nikolai.
“Akan bermanfaat itu buat mereka. Aku enyahkan se-
mangat revolusi, aku renggutkan sejak calon perwiranya,”
pikirnya.
“Saya, Yang Mulia,” kata Chernishev, dan sesudah diam
beberapa waktu dan membenahi jambulnya, ia pun kembali
pada laporan tentang Kaukasus.
“Jadi, apa perintah Yang Mulia kepada Mikhail Semyo-
novich?”
“Terus berpegang pada sistimku untuk merusak tem-
pat tinggal, menghancurkan perbekalan di Chechnya, dan
mengganggu mereka dengan serangan-serangan,” kata
Nikolai.
“Tentang Haji Murat, apa perintah Yang Mulia?” tanya
http://facebook.com/indonesiapustaka

Chernishev.
“Kan Vorontsov sudah nulis bahwa dia mau gunakan
di Kaukasus.”
“Apakah itu tidak riskan?” kata Chernishev sambil
menghindari pandangan mata Nikolai. “Saya khawatir,
Mikhail Semyonovich terlalu mempercayai.”

117
“Lalu apa kiranya pikirmu” tukas Nikolai tajam, karena
ia merasa ada maksud Chernishev untuk menampilkan
kebijakan Vorontsov dari sudut yang negatif.
“Terpikir oleh saya, akan lebih aman mengirimnya ke
Rusia.”
“Itu yang terpikir olehmu,” kata Nikolai mengejek.
“Tapi aku tak begitu, dan aku setuju dengan Vorontsov.
Jadi, tulislah begitu padanya.”
“Saya, Yang Mulia,” kata Chernishev, lalu bangkit dan
membungkukkan badan.
Membungkuk juga Dolgorukii, yang selama berlang-
sungnya pelaporan itu hanya menyampaikan beberapa
patah kata tentang pemindahan pasukan, menjawab per-
tanyaan Nikolai.
Sesudah Chernishev, diterima Bibikov, Gubernur
Jenderal Wilayah Barat, yang datang untuk minta diri.
Nikolai menyetujui langkah yang diambil Bibikov terhadap
para petani yang memberontak dan tidak mau berpindah
ke gereja Oktodoks, dan ia memerintahkan kepada Bibikov
untuk mengadili semua yang tidak patuh itu dengan penga-
dilan militer. Itu akan berarti menghukum mereka dengan
menggiringnya lewat barisan. Kecuali itu, ia memerintah-
kan juga untuk menjadikan serdadu, para redaktur surat
kabar yang telah memuat keterangan tentang pengalihan
beberapa ribu orang petani negara ke daerah kepangeranan
http://facebook.com/indonesiapustaka

masing-masing.
“Aku lakukan ini karena kuanggap perlu,” katanya.
“Dan mencari keterangan tentangnya tidak aku izinkan.”
Bibikov mengerti kejamnya perintah tentang para
penganut Uniat itu, dan tidak adilnya pengalihan para
petani negara, artinya satu-satunya orang-orang merdeka

118
waktu itu, ke daerah kepangeranan masing-masing, artinya
menjadi petani hamba keluarga Tsar. Tetapi menyatakan
keberatan adalah mustahil. Tidak setuju dengan perintah
Nikolai berarti kehilangan seluruh kedudukan cemerlang
yang telah dia peroleh selama empat puluh tahun dan yang
ia manfaatkan. Karena itu dengan patuh ia pun menunduk-
kan kepalanya yang hitam beruban sebagai tanda tunduk
dan siap memenuhi kehendak tertinggi yang kejam, tidak
masuk akal dan tidak tulus itu.
Sesudah melepas Bibikov, Nikolai dengan perasaan
telah melaksanakan kewajibannya dengan baik meregang-
kan badan, menoleh ke arloji dan pergi berpakaian untuk
keluar. Ia kenakan pakaian seragam lengkap dengan epolet,
bintang dan pitanya, lalu ia keluar menuju ruangan tamu,
di mana lebih dari seratus pria berpakaian seragam dan
wanita bergaun mewah berpotongan rendah, menurut
tempat masing-masing, dengan perasaan gentar menanti-
kannya keluar.
Dengan pandangan mata tanpa ekspresi, dengan dada
dibusungkan, dan dengan perut yang membuncit karena
diikat dari bawah dan atas, ia mendapatkan mereka yang
telah menunggu, dan karena merasa bahwa semua pandang-
an tertuju padanya dengan sikap merendah dan gentar,
ia pun memperlihatkan sikap lebih khidmat lagi. Ketika
matanya bertemu dengan wajah-wajah yang dikenalnya dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

ingat ia, siapa ini dan siapa itu, ia pun sekali-sekali berhenti
dan mengucapkan beberapa patah kata dalam bahasa Rusia
atau Perancis, seraya menusuk mereka dengan pandangan
mata yang dingin tanpa ekspresi dan mendengarkan apa
yang mereka katakan padanya.
Sesudah menerima ucapan selamat, Nikolai pun

119
menuju gereja.
Tuhan lewat para hambanya, seperti juga orang-orang
awam, mengucapkan selamat dan memuji Nikolai, dan
Nikolai sebagaimana mestinya, walau hal itu membosan-
kannya, menerima ucapan selamat dan pujian itu. Semua
itu memang harus demikian adanya, sebab pada dialah ter-
gantung kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh dunia, dan
walau ia lelah karenanya, bagaimanapun ia tidak menolak
dunia yang mendukungnya. Ketika di akhir misa diakon
yang megah dan bersisir rapih mengucapkan kata-kata
“untuk selama-lamanya”, dan kata-kata itu dengan seren-
tak disambut para penyanyi dengan suaranya yang indah,
Nikolai melihat Nelidova berdiri di dekat jendela dengan
bahunya yang halus, dan memutuskan memilih dia, dan
bukan perawan yang kemarin.
Sesudah misa, Nikolai menemui Permaisuri, dan
menghabiskan waktu beberapa menit di lingkungan kelu-
arga dengan berkelakar bersama anak-anak dan istrinya.
Kemudian lewat Hermitage ia singgah ke tempat Menteri
Istana Volkonskii, dan sambil lalu memerintahkan ke-
padanya untuk menyisihkan dari dana khususnya pensiun
tahunan untuk ibu si perawan kemarin. Dari situ ia pergi
untuk acara jalan-jalan seperti biasa.
Makan siang hari itu berlangsung di ruangan Pompei;
selain anak-anal lelaki yang kecil, Nikolai dan Mikhail, telah
http://facebook.com/indonesiapustaka

diundang juga Baron Liven, Graf Rzhevusskii, Dolgorukii,


utusan Prusia dan ajudan Raja Prusia.
Selagi menantikan keluarnya Permaisuri dan Impera-
tor, di antara utusan Prusia dan Baron Liven terjalin per-
cakapan tentang berita-berita meresahkan terakhir yang
diterima dari Polandia.

120
“La Pologne et le Caucase, ce sont les deux cauteres
de la Russie,” kata Liven. “Il nous faut cent mille hommes
a peu pres dans chacun de ces deux pays.”16
Utusan Prusia pura-pura menyatakan kaget, apakah
hal itu memang demikian.
“Vous dites la Pologne,” katanya.
“Oh, oui, c’etait un coup de maitre de Maeternich de
nous en avoir laisse d’ambarras ….”17
Tepat di tengah percakapan itu masuklah Permaisuri
dengan kepalanya yang menggeletar dan dengan senyum
beku, disusul Nikolai.
Di meja makan, Nikolai bercerita tentang menye-
berangnya Haji Murat dan kini perang Kaukasus tentunya
akan segera berakhir, berkat kebijakannya mendesak orang
pegunungan dengan cara membabat hutan dan dengan
sistim perkubuan.
Utusan Prusia bertukar pandang sesaat dengan ajudan
Prusia, dan kini memuji-muji rencana Nikolai yang sekali
lagi membuktikan bakat-bakat besarnya dalam strategi,
padahal pagi itu juga ia bicara tentang kelemahan besar
Nikolai yang menganggap dirinya sebagai ahli strategi yang
besar.
Sesudah makan siang, Nikolai pergi menonton balet, di
mana ratusan wanita berbahu terbuka berderet mengenakan
kain triko, seorang di antaranya khusus melontarkan pan-
http://facebook.com/indonesiapustaka

dang padanya. Nikolai memanggil koreograf, mengucapkan

16
Polandia dan Kaukasus—itu dua tempat lemah untuk Rusia.
Kita perlu paling tidak seratus ribu orang untuk masing-masing
tempat itu. (Pr.)
17
O, ya, itu adalah langkah cakap Maeternich untuk mendatangkan
kesulitan pada kita. (Pr.)

121
terima kasih padanya, dan memerintahkan menghadiahkan
cincin bermata berlian.
Hari berikutnya, ketika Chernishev melapor, Nikolai
sekali lagi menegaskan perintahnya kepada Vorontsov agar
kini, ketika Haji Murat sudah menyeberang, ditingkatkan
gangguan terhadap Chechnya dan menghimpitnya dengan
kepungan.
Chernishev menuliskan isi perintah tersebut untuk
Vorontsov, dan sesudah dipacu sejumlah kuda pos dan
dibagi-bagi tugas kusir, kurir lain pun rnencongklang ke
Ti is.

XVI
Sebagai pelaksanaan kebijakan Nikolai Pavlovich, seketika
itu, bulan Januari 1852, dilakukan serbuan ke Chechnya.
Pasukan yang ditunjuk untuk melakukan serbuan
terdiri dari empat batalyon infanteri, dua ratus Kazak, dan
delapan meriam. Barisan bergerak menyusur jalan. Tapi
di kedua sisi barisan itu berbaris pasukan gerak cepat yang
mengenakan sepatu tinggi, mantel bulu dan topi tinggi, me-
nyandang senapan lengkap dengan pelurunya dalam sabuk
selempang; mereka tak henti-henti bergiliran naik dan turun
http://facebook.com/indonesiapustaka

tebing. Seperti biasa, pasukan bergerak di wilayah musuh


dengan seboleh-bolehnya menjaga ketenteraman. Hanya
kadang-kadang berderak bunyi meriam yang tergoyang
dalam parit, atau mendengus dan meringkik kuda artileri
yang tak mengerti adanya perintah tentang ketenteraman,
atau terdengar pekik komandan yang marah kepada anak

122
buahnya dengan suara serak ditahan, karena jajaran anak
buah itu terlalu longgar atau terlalu dekat, atau terlalu jauh
dari barisan. Hanya satu kali ketenangan terganggu, yaitu
ketika dari balik semak duri yang terletak di antara jajaran
orang dan barisan, melompat seekor kambing jantan yang
putih perut dan pantatnya dan kelabu punggungnya, begitu
juga seekor kambing jantan kecil bertanduk melengkung.
Hewan cantik itu ketakutan. Dengan lompatan lebar dan
dengan kaki depan dilipat, ia menerobos barisan demikian
dekat, hingga beberapa serdadu sambil memekik dan gelak
ketawa mengejarnya dengan maksud menusuknya dengan
bayonet. Tapi kedua kambing itu berbalik arah, melompat
menerobos jajaran orang, dan seperti burung, mereka
menghilang ke atas perbukitan, dikejar beberapa tentara
berkuda dan anjing resimen.
Hari masih musim dingin, tapi matahari mulai naik
lebih tinggi, dan tengah hari ketika pasukan yang berangkat
pagi-pagi itu sudah berjalan sekitar sepuluh werst, matahari
bersinar demikian rupa hingga cuaca menjadi panas dan
cahayanya demikian terang, hingga silau mata memandang
baja bayonet dan kilau yang tiba-tiba menyorot seperti
matahari kecil dari kuningan meriam.
Di belakang hanya kali kecil yang deras dan jernih
airnya, yang tadi telah diseberangi barisan; dan di depan,
ladang yang sudah tergarap dan padang rumput serta
http://facebook.com/indonesiapustaka

ngarai-ngarai dangkal; lebih ke depan, perbukitan hitam


gaib terselimut hutan, sedang di sebelah sana perbukitan
itu batu-batu karang menjorok, dan di cakrawala di atas
sana gunung-gunung bersalju yang selalu indah dan selalu
berubah-ubah, bermainkan cahaya seperti batu intan.
Di depan resimen kelima berjalan Butler, perwira

123
tampan yang belum lama pindah dari pasukan garda, dan
kini berbaju hitam, bertopi tinggi, memanggul pedang. Ia
merasakan kegembiraan hidup yang luar biasa, bercampur
kesadaran tentang dekatnya bahaya maut. Dan ia merasakan
adanya kehendak untuk beraksi, dan adanya kesadaran
tentang keikutsertaannya dalam suatu tekad besar yang
dikendalikan oleh satu kehendak. Butler kini untuk kedua
kalinya tampil dalam aksi, dan ia senang memikirkan bahwa
sebentar lagi musuh akan melepaskan tembakan ke arah
mereka, dan ia bukan hanya tidak akan menundukkan ke-
pala karena ancaman peluru meriam yang melayang atau
memberikan perhatian kepada peluru yang mendesing,
tapi seperti juga di waktu yang lalu, ia akan menegakkan
kepala lebih tinggi lagi disertai senyum di bibir, seraya me-
noleh ke kanan ke kiri pada kawan dan prajurit, dan akan
membicarakan sesuatu yang lain sekali dengan gaya suara
masa bodoh.
Barisan membelok dari jalan bagus memasuki jalan
yang jarang dilalui orang di tengah ladang jagung yang
tinggal tunggul, dan mulai mendekati hutan, tetapi justru
saat itu tanpa kelihatan dari arah mana datangnya, peluru
meriam melayang disertai desingan celaka, dan jatuh di te-
ngah iring-iringan gerobak, di dekat jalan di ladang jagung,
dan membongkar tanah ladang itu.
“Mulai,” kata Butler sambil tersenyum riang kepada
http://facebook.com/indonesiapustaka

kawannya yang berjalan bersamanya.


Dan memang sesudah jatuhnya peluru meriam itu, dari
balik hutan muncul rombongan orang Chechen berkuda
yang mengenakan tanda-tanda. Di tengah rombongan itu
kelihatan tanda hijau besar, dan sersan mayor tua yang
bisa melihat jauh menyatakan kepada Butler yang rabun

124
bahwa orang itu tentunya Shamil sendiri. Rombongan itu
menuruni gunung dan muncul di puncak ngarai yang ter-
dekat di sebelah kanan dan mulai turun. Jenderal yang kecil
sosoknya dan mengenakan baju hitam hangat dan topi tinggi
berjumbai, menghampiri resimen Butler dengan kudanya
dan memerintahkan kepada Butler maju ke kanan untuk
menghadapi kavaleri musuh yang sedang turun itu. Butler
cepat membawa resimennya ke arah yang ditunjukkan, tapi
belum lagi sempat turun ke ngarai, dari belakang sudah
ia dengar berturut-turut tembakan meriam. Ia menoleh:
dua kepulan asap kebiruan muncul di atas dua meriam,
dan asap itu kemudian merayap pelan menyusur ngarai.
Rombongan yang rupanya tak menyangka akan mendapat
tembakan artileri itu mundur ke belakang. Resimen Butler
mulai menembak mengejar orang-orang pegunungan, dan
seluruh lembah pun tertutup asap mesiu. Hanya di atas lem-
bah tampak orang pegunungan buru-buru mengundurkan
diri sambil menembaki orang-orang Kazak yang mengejar
mereka. Barisan maju terus mengikuti orang pegunungan,
dan di lereng ngarai yang kedua mereka sampai di aul.
Butler bersama resimennya berlari masuk aul, menyu-
sul orang-orang Kazak. Penduduk kosong. Para serdadu
diperintahkan membakar gandum, jerami dan saklyanya
sekalian. Di seluruh aul merayap asap sepat, dan di tengah
asap itu para serdadu melongok-longok dan menyeret
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke luar saklya apa saja yang mereka temukan, terutama


mereka tangkap dan tembak ayam-ayam yang tak sempat
dibawa pergi orang pegunungan. Para perwira duduk agak
jauh dari asap dan makan pagi serta minum. Sersan mayor
menghidangi mereka dengan beberapa sarang lebah di atas
papan. Tidak terdengar adanya orang Chechen. Tak lama

125
sesudah tengah hari datang perintah untuk mundur. Resi-
men-resimen menyusun barisan di luar aul, dan Butler ter-
paksa berada di barisan belakang. Begitu barisan berangkat,
muncul orang-orang Chechen, dan sambil mengikuti dari
belakang mereka iringi barisan dengan tembakan.
Ketika barisan memasuki tempat terbuka, orang pe-
gunungan itu berhenti mengikuti. Butler tidak kehilangan
seorang pun, dan ia kembali dengan hati gembira dan
bergairah.
Ketika barisan menyeberang kali yang tadi pagi dise-
berangi juga dan orang berjalan berarak-arak di ladang
jagung dan padang rumput, para penyanyi resimen masing-
masing maju ke depan, dan berkumandanglah lagu-lagu.
Angin tidak bertiup, udara segar, bersih dan transparan,
hingga pegunungan bersalju yang sekitar seratus werst
jauhnya itu tampak seolah dekat sekali. Dan ketika para
penyanyi berhenti menyanyi, terdengarlah derap teratur
kaki para serdadu dan derak-derik meriam sebagai latar
belakang mulainya lagi dan berakhirnya lagi lagu. Lagu yang
dinyanyikan di resimen kelima Butler itu diciptakan oleh
seorang letnan muda untuk mengagungkan resimen dan
dinyanyikan dengan motif tari, disertai ulangan: “Begitu
selalu, kawanku, kawanku!”
Butler berkuda di samping komandan langsungnya,
Mayor Petrov, yang tinggal bersamanya dan ia senang
http://facebook.com/indonesiapustaka

sekali dengan keputusannya keluar dari garda dan pergi


ke Kaukasus. Alasan pokok untuk keluar dari garda ialah
karena ia kalah main kartu di Petersburg, hingga tak ter-
sisa harta apa pun lagi padanya. Ia takut bahwa ia tak akan
mampu menahan diri dari main kalau ia tetap tinggal di
garda, padahal tak ada apa-apa lagi yang dapat ia pakai main

126
dan kalah. Sekarang semuanya sudah berakhir. Sekarang
yang ada adalah hidup yang lain, yang begitu baik dan he-
bat. Ia sudah lupa juga sekarang akan keruntuhannya dan
utang-utangnya yang tak terbayar. Dan Kaukasus, perang,
para serdadu, para perwira, dan Mayor Petrov pemberani
yang pemabok dan baik hati—semua itu terasa begitu baik
olehnya, hingga kadang-kadang tidak percaya ia bahwa
dirinya sekarang tidak di Petersburg, tidak di ruangan
penuh asap rokok, sedang melipat ujung kartu dan bertaruh,
membenci Bandar dan merasakan nyeri yang menindas di
kepala, melainkan di sini, di daerah yang indah ini, di tengah
orang Kaukasus yang gagah.
“Begitu selalu, kawanku, kawanku!” seru para pe-
nyanyi. Kudanya melangkah-langkah menurut irama lagu
itu. Kuda resimen berbulu lebat warna abu-abu Trezorka
yang ditungganginya, seperti layaknya komandan, sambil
memutarkan ekornya berjalan di depan resimen Butler
dengan wajah berpikir. Dalam hati Butler terasa tegap,
tenang dan riang. Perang dalam bayangannya hanyalah
bagaimana siap menerima bahaya dan kemungkinan maut,
dan untuk itu ia pantas mendapat penghargaan, juga peng-
hormatan baik dari teman-temannya di sini maupun dari
sahabat-sahabatnya di Rusia. Sisi lain perang—maut, luka
para serdadu, perwira, orang pegunungan—anehnya tidak
tergambar dalam bayangan pikirannya. Tanpa disadarinya,
http://facebook.com/indonesiapustaka

untuk mempertahankan bayangan puitisnya mengenai pe-


rang, tidak pernah ia memperhatikan mereka yang terbunuh
dan terluka. Itulah juga sikapnya sekarang—pada kita ter-
bunuh tiga orang dan terluka dua belas orang. Dia lewati
saja mayat yang terbaring tetelentang itu, dan hanya dengan
sebelah mata ia lihat letak tangan yang aneh seperti lilin itu

127
dan noda merah tua di kepala, tak mau ia mengamatinya.
Orang pegunungan dalam bayangannya hanyalah penung-
gang kuda yang mahir, dan terhadap mereka itu ia harus
membela diri.
“Ya beginilah, kawan,” ujar mayor di sela-sela suara
lagu. “Tidak seperti di tempat Anda di Pieter: lencang kanan,
lencang kiri. Ya beginilah, kerja, lalu pulang. Mashurka nanti
menghidangi kita pastel, sup kubis yang enak. Ya, beginilah
hidup! Kan? Hei, ayo, ‘Fajar sibuk’,” perintahnya menyebut
lagu kesayangannya.
Mayor hidup sebagai suami-istri dengan anak mantri
kesehatan, mula-mula dengan panggilan Masha, kemudian
Maria Dmitriyevna. Maria Dmitriyevna wanita cantik be-
rambut pirang dan bertahi lalat banyak, umur tiga puluh ta-
hun, tapi tak beranak. Apa pun masa lalunya, tapi sekarang
ia menjadi pendamping setia mayor, melayaninya seperti
seorang bibi, dan ini perlu bagi mayor yang sering minum
sampai kehilangan kesadaran itu.
Ketika mereka tiba di benteng, segalanya seperti sudah
diramalkan oleh mayor. Maria Dmitriyevna menyediakan
makan siang yang nikmat bagi dia dan Butler serta dua
orang perwira undangan dari pasukan, dan mayor makan-
minum sampai kenyang, hingga tak dapat bicara lagi, lalu
pergi tidur. Butler yang juga lelah, tapi puas dan agak
kelebihan minum chikhir, masuk ke kamarnya dan belum
http://facebook.com/indonesiapustaka

lagi sempat melepas pakaian ia sudah meletakkan telapak


tangan di bawah kepalanya yang tampan dan berombak
rambutnya, jatuh tertidur dengan nyenyak tanpa mimpi
dan mendusin lagi.

128
XVII
Aul yang hancur oleh serbuan itu adalah aul di mana Haji
Murat menginap sebelum menyeberang pada orang Ru-
sia.
Sado yang diinapi Haji Murat, menyingkir bersama
keluarga ke pegunungan, ketika orang Rusia mendekati aul.
Kembali ke aul, Sado menemukan saklyanya sudah rusak:
atapnya runtuh, pintu dan tiang beranda dibakar, dan ba-
gian dalam rumah dicemari. Anak lelakinya, si anak tampan
yang dengan mata berkilau dan gembira memandang Haji
Murat kemarin, kini diangkut dengan kuda bertutup burka
ke masjid sudah menjadi mayat. Ia ditusuk dengan bayo-
net di punggung. Wanita manis yang melayani Haji Murat
dalam kunjungannya kemarin, sekarang dengan baju yang
robek-robek di dada hingga terlihat buah dadanya yang
tua menggelantung, dengan rambut awut-awutan berdiri
membungkuki anaknya dan mencakari wajahnya sendiri
hingga berdarah dan tak henti-henti meratap. Sado dengan
beliung dan sekop pergi bersama para kerabat untuk meng-
gali kubur buat anaknya. Kakek tua duduk dekat dinding
saklya yang sudah runtuh, dan sambil meraut sebuah tong-
kat memandang kosong ke depan. Ia baru saja kembali dari
menengok sarang lebah. Dua tumpukan jerami yang ada di
sana telah dibakar; telah dipatahkan dan dibakar juga pohon
http://facebook.com/indonesiapustaka

abrikos dan ceri yang ditanam oleh orang tua itu dan telah
tumbuh; tapi yang penting adalah dibakarnya semua sarang
lebah bersama lebahnya. Ratap para perempuan terdengar
di semua rumah dan di lapangan tempat diangkutnya dua
tubuh lagi. Anak-anak kecil meraung bersama ibu mereka.
Meraung juga hewan yang kelaparan karena tak diberi

129
makan. Anak-anak dewasa tidak bermain, tapi dengan mata
ketakutan memandang orang-orang tua.
Pancuran air telah dicemari, agaknya dengan sengaja,
agar air tak bisa diambil darinya. Telah dicemari juga mas-
jid. Mullah membersihkannya bersama para mutallim.
Para orang tua kepala keluarga berkumpul di lapang-
an dan sambil jongkok membahas keadaan itu. Tentang
kebencian terhadap orang Rusia tak seorang pun bicara
lagi. Perasaan yang ditanggung oleh orang Chechen dari
yang kecil sampai yang besar lebih hebat daripada keben-
cian. Perasaan itu bukan kebencian, melainkan penolakan
untuk mengakui anjing-anjing Rusia itu sebagai manusia,
dan sikap jijik, sikap muak, dan sikap tak dapat mengerti
kekejaman tak masuk akal dari orang-orang itu, sehingga
keinginan untuk memusnahkan mereka sebagai keinginan
untuk memusnahkan tikus, laba-laba berbisa atau serigala
menjadi terasa sangat wajar, sebagaimana sikap mereka
untuk melindungi diri sendiri.
Di hadapan penduduk aul ada dua pilihan: tinggal
di tempat semula dan dengan sekuat tenaga membangun
semua yang dengan kerja sedemikian juga telah dibangun
tapi dengan demikian mudah telah dihancurkan secara
tak masuk akal, serta menantikan terulangnya peristiwa
tersebut; atau tunduk kepada mereka, dan itu berlawanan
dengan hukum agama dan bertentangan dengan rasa muak
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan benci kepada orang Rusia.


Para orang tua pun berdoa dan dengan suara bulat
memutuskan untuk mengirim utusan kepada Shamil,
memohon bantuannya, dan saat itu juga mulai membangun
kembali apa yang sudah dihancurkan.

130
XVIII
Hari ketiga sesudah penyerbuan itu Butler keluar sudah
tidak lagi pagi-pagi, dari serambi belakang, dengan maksud
berjalan-jalan dan menghirup udara, sebelum acara minum
teh pagi hari yang biasanya ia lakukan bersama Petrov.
Matahari sudah naik dari balik pegunungan dan silau mata
memandang pondok-pondok putih yang disinarinya di sisi
kanan jalan, namun seperti biasa, riang dan tenang rasanya
memandang ke kiri, ke arah pegunungan hitam yang men-
jauh dan menjulang diliputi hutan, ke arah rangkaian kusam
pegunungan bersalju yang menampakkan diri dari balik
ngarai, dan selalu menampakkan diri sebagai gumpalan-
gumpalan awan.
Butler memandang pegunungan itu, menghirup napas
sepenuh peparunya, dan ia girang bahwa ia hidup, justru
dia yang hidup di dunia yang indah ini. Ia agak girang juga
bahwa kemarin ia membawakan diri begitu baik dalam tu-
gas, baik pada waktu maju maupun terutama pada waktu
mundur, ketika tugas itu cukup berbahaya. Ia pun girang,
kalau ingat bahwa kemarin sekembali dari ekspedisi, Masha
atau Maria Dmitriyevna, teman hidup Petrov, menjamu
mereka dan bersikap biasa dan ramah dengan semuanya,
tapi terutama, demikian terkesan olehnya, bersikap mesra
padanya. Maria Dmitriyevna dengan jalinan rambutnya
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang tebal, bahunya yang bidang, payudaranya yang tinggi,


dan wajahnya yang disinari senyum dan diliputi tahi lalat,
tanpa disengaja telah memikat hati Butler sebagai orang
muda bujangan yang kuat badannya. Butler merasa bahkan
bahwa wanita itu menghendakinya. Tapi Butler berang-
gapan kurang baik kiranya perbuatan itu terhadap kawan

131
yang tulus dan baik hati; karenanya terhadap Maria Dmi-
triyevna ia mempertahankan sikap hormat yang biasa, dan
senang ia dapat berbuat demikian. Sekarang ini ia sedang
memikirkan hal itu.
Pikiran itu terganggu oleh suara derap kaki kuda di
jalan berdebu; terdengar olehnya suara itu dari hadapan,
sepertinya beberapa orang sedang mencongklang. Maka ia
angkat kepalanya dan ia lihat di ujung jalan serombongan
penunggang kuda sedang mendekat. Di depan sekitar dua
puluh orang Kazak ada dua orang: satu orang mengena-
kan jaket putih dan topi tinggi bersorban, satu orang lagi
perwira tentara Rusia, berkulit gelap, berhidung bengkok,
berjaket biru dengan banyak hiasan perak pada pakaian dan
senapannya. Orang yang mengenakan sorban menunggang
kuda abu-abu tampan bermata indah, sedang si perwira
menunggang kuda Karabakh yang tinggi perlente. Sebagai
penggemar kuda, Butler seketika itu dapat menilai kekuatan
kuda yang pertama. Ia berhenti untuk mengetahui, siapa
kedua orang tersebut. Si Perwira bertanya kepada Butler:
“Apa ini rumah komandan tentara?” tanyanya menon-
jolkan bahasanya yang tanpa tasrif dan asal-usulnya yang
non-Rusia, sambil menunjuk dengan cambuknya rumah
Ivan Metveyevich.
“Betul,” kata Butler. “Dan itu siapa?” tanyanya sambil
mendekati si perwira, dan menunjuk dengan matanya ke
http://facebook.com/indonesiapustaka

arah orang bersorban itu.


“Haji Murat itu. Datang ke mari akan bertamu pada
komandan tentara,” kata perwira.
Butler sudah mendengar tentang Haji Murat dan pe-
nyeberangannya ke orang Rusia, tapi sama sekali ia tidak
menyangka akan melihatnya di sini, di benteng kecil ini.

132
Haji Murat memandangnya dengan sikap bersahabat.
“Selamat pagi, koshkoldi,” kata Butler menyebut sa-
paan Tartar yang diakrabinya.
“Saubul,” jawab Haji Murat sambil mengangguk. Ia
menghampiri Butler dan mengulurkan tangannya. Pada
dua jari tangan itu tergantung cambuk.
“Komandan?” katanya.
“Bukan, komandan ada, sebentar saya panggil,” kata
Butler kepada si perwira, lalu mendaki anak tangga dan
menolakkan pintu.
Tapi pintu yang oleh Maria Dmitriyevna dinamakan
pintu “serambi depan” itu tertutup. Butler mengetuk, tapi
karena tak mendapat jawaban, ia melingkar lewat pintu be-
lakang. Ia panggil kusirnya, tapi karena tidak juga mendapat
jawaban dan tak menemukan seorang pun dari kedua ku-
sirnya, ia masuk dapur. Maria Dmitriyevna yang berikat
kain kepala dan memerah mukanya, dengan lengan baju
disingsingkan hingga tampak tangannya yang sintal putih,
sedang mengiris-iris adonan yang menggeluntung dan putih
juga seperti tangannya, menjadi potongan-potongan kecil
untuk pastel.
“Ke mana saja kusir-kusir itu?” kata Butler.
“Pergi minum-minum,” jawab Maria Dmitriyevna.
“Kenapa?”
“Pintu terkunci, di depan rumah ada rombongan orang
http://facebook.com/indonesiapustaka

pegunungan. Haji Murat datang.”


“Ngarang Anda, ya?” kata Maria Dmitriyevna terse-
nyum.
“Saya tidak main-main. Betul. Mereka ada di dekat
beranda.”
“Betul?” kata Maria Dmitriyevna.

133
“Untuk apa saya ngarang? Lihatlah sendiri, mereka
ada di dekat beranda.”
“Ini baru berita,” kata Maria Dmitriyevna sambil
menurunkan lengan bajunya dan meraba-raba arnal jalinan
rambutnya yang lebat. “Kalau begitu biar saya bangunkan
Ivan Matveyevich,” katanya.
“Biar saya sendiri. Dan kamu, Bondarenko, pergi sana
buka pintu,” kata Butler.
“Begitu juga boleh,” kata Maria Dmitriyevna, lalu
kembali pada pekerjaannya.
Ketika tahu dirinya didatangi Haji Murat, Ivan Mat-
veyevich yang sudah mendengar keberadaan Haji Murat di
Groznaya, sama sekali tidak heran. Ia bangkit dari tidurnya,
melinting papiros, merokok, lalu mulai berpakaian sambil
batuk-batuk keras dan menggerutukan pimpinan yang
mengirimkan “setan itu” padanya. Selesai berpakaian,
ia minta “obat” pada kusir. Dan karena kusir sudah tahu
bahwa yang dimaksud dengan obat adalah wodka, ia pun
memberikannya.
“Tak ada yang lebih buruk daripada minuman cam-
puran,” gerutunya sambil meneguk wodka dan mengunyah
roti hitam. “Kemarin itu minum chikhir, sekarang sakit
kepala. Nah, sekarang siap,” tutupnya, lalu pergi ke kamar
tamu. Oleh Butler, Haji Murat dan perwira pengantarnya
sudah dibawa ke sana.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Perwira pengantar Haji Murat menyampaikan kepada


Ivan Matveyevich perintah komandan sayap kiri untuk me-
nerima Haji Murat, mengizinkan Haji Murat berhubungan
dengan orang pegunungan lewat sandi, tapi sama sekali tak
boleh membiarkannya keluar benteng tanpa konvoi orang
Kazak.

134
Sesudah membaca surat perintah, Ivan Matveyevich
menatap Haji Murat, lalu kembali memperhatikan surat
perintah. Sesudah beberapa kali ia mengalihkan pandangan
dari surat perintah ke tamunya, akhirnya ia mengarahkan
pandangannya ke Haji Murat, katanya:
“Yakshi, bek-yakshi. Biar dia tinggal di sini. Jadi,
sampaikan padanya, saya diperintahkan untuk tidak
melepasnya. Dan perintah itu suci. Kita akan tempatkan
dia, … bagaimana pikirmu, Butler? Kita tempatkan dia di
kantoran?”
Sebelum Butler sempat menjawab, Maria Dmitriyevna
yang sudah datang dari dapur dan berdiri di pintu, bilang
pada Ivan Matveyevich:
“Kenapa di kantoran? Kita tempatkan saja di sini. Kita
kasih kamar tamu dan gudang. Paling tidak di sini akan
kelihatan,” katanya. Ia lalu memandang Haji Murat, dan
ketika pandangan matanya beradu dengan Haji Murat, ia
pun buru-buru menoleh.
“Ya, saya pikir, Maria Dmitriyevna betul,” kata But-
ler.
“Ei, ei, pergi sana, di sini tak ada urusan perempuan,”
kata Ivan Matveyevich mengerutkan kening.
Selama berlangsungnya percakapan itu Haji Murat
duduk sambil meletakkan sebelah tangannya ke gagang
belati dan nyaris tersenyum benci. Ia bilang, baginya tak
http://facebook.com/indonesiapustaka

jadi masalah di mana tinggal. Satu yang diperlukannya dan


diizinkan oleh Sardar, yaitu berhubungan dengan orang
pegunungan, karena itu ia minta supaya mereka diizinkan
datang kepadanya. Ivan Matveyevich mengatakan bahwa
hal itu akan dilakukan, dan ia minta Butler menemani para
tamu selagi makanan akan didatangkan buat mereka dan

135
disiapkan kamar-kamar. Dia sendiri akan pergi ke kantoran
menulis surat-surat yang diperlukan dan menyusun perin-
tah-perintah yang dibutuhkan.
Sikap Haji Murat terhadap kenalan-kenalannya yang
baru itu sekarang juga sedang terbentuk dengan jelas.
Terhadap Ivan Matveyevich, Haji Murat sejak perkenalan
pertama dengannya merasa muak dan benci, dan ia selalu
dengan angkuh bicara dengan Ivan Matveyevich. Khususnya
ia senang dengan Maria Dmitriyevna yang menyiapkan dan
membawakannya makanan. Ia senang kesederhanaannya,
dan terutama kecantikannya yang asing bagi etniknya, juga
kecenderungan Maria Dmitriyevna yang tanpa disadari
terarah padanya. Haji Murat berusaha tidak memandang
Maria Dmitriyevna, namun matanya tanpa disengaja ter-
arah kepadanya dan mengamati gerak-geriknya.
Sedang dengan Butler sejak perkenalan pertama, seka-
ligus ia bisa bersahabat. Ia bicara banyak dan bersemangat
dengan Butler, mengajukan pertanyaan tentang hidupnya
dan bercerita padanya tentang hidupnya sendiri, serta me-
nyampaikan berita-berita yang dibawa untuknya oleh para
sandi mengenai keadaan keluarganya. Ia bahkan meminta
nasihat kepada Butler, apa yang harus dilakukannya.
Semua berita yang disampaikan padanya oleh para
sandi itu tak menguntungkan. Selama empat hari ia berada
di benteng itu, dua kali sandi mendatanginya, dan kedua
http://facebook.com/indonesiapustaka

kalinya itu berita yang dibawanya buruk.

136
XIX
Keluarga Haji Murat sesudah Haji Murat menyeberang ke-
pada orang Rusia telah dibawa ke aul Vedeno dan ditahan
di sana dengan pengawalan, menanti keputusan Shamil.
Para wanita—ibu tua Patimat dan dua orang istri Haji Mu-
rat—serta kelima anak mereka yang masih kecil tinggal di
bawah penjagaan penatus Ibrahim Rashid, sedangkan anak
lelaki Haji Murat, pemuda Yusuf yang berumur delapan
belas tahun, ditahan di ruang bawah tanah, yaitu dalam
lubang yang dalamnya lebih dari satu sazhen, bersama
empat penjahat yang—sama dengan dirinya—menunggu
keputusan nasibnya.
Keputusan belum ada, karena Shamil sedang pergi. Ia
sedang dalam ekspedisi melawan orang Rusia.
Tanggal 6 Januari 1852 Shamil kembali pulang ke Ve-
deno sesudah pertempuran melawan orang Rusia, di mana
menurut orang Rusia, ia telah dihajar dan lari ke Vedeno,
sedangkan menurut Shamil sendiri dan para muridnya, ia
telah memperoleh kemenangan dan berhasil menghalau
orang Rusia. Dalam pertempuran itu, satu hal yang jarang
sekali terjadi ialah Shamil menembak sendiri dengan se-
napannya; ia menghunus pedang, memacu kudanya, dan
menyerbu ke tengah orang Rusia, namun para murid yang
menyertainya menahannya, dua di antaranya terbunuh
http://facebook.com/indonesiapustaka

seketika itu juga di dekat Shamil.


Tengah hari, Shamil dengan rombongan murid sampai
ke tempat kediamannya; para murid yang mendompak di
sekitarnya menembak-nembak dengan senapan dan pistol,
tak henti-henti mengumandangkan kata-kata “La ilaha ila
Allah”.

137
Seluruh penduduk aul besar Vedeno berdiri di jalan
dan di atas atap-atap rumah menyambut pemimpinnya, dan
sebagai tanda kemenangan menembak-nembak juga dengan
senapan dan pistol. Shamil mengendarai kuda putih Arab,
dan pada waktu mendekati rumah, dengan riang ia menye-
rahkan tali kekangnya. Pakaian kuda itu sangat sederhana,
tanpa hiasan emas atau perak: hanya kekang dibuat seperti
sabuk merah dengan beledu di tengah, sanggurdinya dari
logam berbentuk gelas, dengan alas merah menyembul dari
bawah pelana. Imam mengenakan mantel dari kain laken
coklat dengan kulit bulu hitam di dekat leher dan lengan
baju; pada tubuhnya yang kurus jangkung melingkar sabuk
beserta belatinya. Kepalanya tertutup topi tinggi yang papak
bagian atasnya, dengan jumbai hitam, terlilit sorban yang
ujungnya terjulai ke leher. Kakinya berselop hijau, betis
terlilit kain stiwel yang diikat tali sederhana.
Secara umum imam tidak mengenakan apa pun yang
berkilau, dari emas atau perak. Tubuhnya yang tinggi, tegak,
besar, dengan pakaian tanpa hiasan, dan dikelilingi mu-
rid-murid yang pakaian dan senjatanya bersalut emas dan
perak itu, mendatangkan kesan agung, seperti memang ia
harapkan di tengah rakyat. Wajahnya yang pucat dilingkari
jenggot kelabu berpangkas, dengan mata kecil yang terus-
menerus dipicingkan, sama sekali tidak bergerak-gerak,
seperti terbuat dari batu. Selagi melintasi aul, ia merasa
http://facebook.com/indonesiapustaka

ribuan mata tertuju kepadanya, tetapi matanya sendiri tak


memandang siapa pun. Para istri Haji Murat dan anak-
anaknya bersama semua penghuni saklya pun ke luar ke
serambi untuk melihat kedatangan imam. Hanya ibu tua
Patimat—ibu Haji Murat—tidak keluar; ia tinggal duduk
seperti tadi di lantai saklya dengan rambut beruban adul-

138
adulan, sambil memeluk lutut dengan tangannya yang ku-
rus, dan dengan mata merah berkedip-kedip memandang
rerantingan yang terbakar di tungku. Seperti anak lelakinya,
ia selalu membenci Shamil, sekarang lebih lagi dibanding
sebelumnya, dan tak ingin ia melihat Shamil.
Anak lelaki Haji Murat pun tidak menonton kedatang-
an Shamil yang penuh kemenangan. Ia hanya mendengar
suara tembakan dan nyanyian dari lubangnya yang gelap dan
bau. Ia tersiksa, seperti tersiksanya orang muda yang masih
penuh semangat hidup, namun kehilangan kemerdekaan.
Duduk di lubang yang bau dan memandang orang-orang
yang itu-itu juga, yaitu para tahanan yang sial, kotor, dan
kerempeng bersamanya, yang sebagian besar membenci
satu sama lain itu, ia mengiri sekarang pada orang-orang
yang dapat menikmati udara, cahaya, kebebasan, yang
sekarang mendompak di punggung kuda yang lincah di
sekitar sang pemimpin, menembak-nembak dan serentak
mengumandangkan “La ilaha ila Allah”.
Sesudah melewati aul, Shamil memasuki pekarangan
luas yang berbatasan dengan pekarangan-dalam tempat
haremnya. Dua orang Lezgin bersenjata menyambut Shamil
di pintu gerbang yang terbuka di pekarangan pertama. Pe-
karangan itu penuh orang. Mereka adalah orang-orang yang
datang dari tempat-tempat jauh untuk urusan masing-ma-
sing; ada juga para pemohon, dan ada orang-orang yang di-
http://facebook.com/indonesiapustaka

minta datang oleh Shamil sendiri untuk diadili dan diputus


perkaranya. Ketika Shamil masuk, semua orang yang ada di
pekarangan berdiri dan dengan hormat menyambut imam
dengan melekapkan tangan ke dada. Sebagian berlutut dan
terus berlutut, sementara Shamil melintasi pekarangan
dari gerbang yang satu—gerbang luar—ke gerbang yang

139
lain—gerbang dalam. Walau Shamil tahu bahwa di antara
orang-orang yang menantikannya itu banyak terdapat wajah
yang tak menyenangkannya, dan banyak pemohon mem-
bosankan yang menuntut perhatian, tetap ia dengan wajah
membatu tanpa perubahan melewati mereka, dan sesudah
memasuki pekarangan dalam, turun di beranda tempat
tinggalnya, yaitu sesudah masuk gerbang ke kiri.
Akibat ekspedisi itu Shamil mengalami ketegangan, ti-
dak hanya sik tapi lebih-lebih mental, karena walau umum
mengakui bahwa ekspedisi itu berhasil, namun ia tahu
ekspedisi telah gagal, banyak aul Chechen dibakar dan diru-
sak, rakyat Chechen yang gampang berubah pendirian dan
angin-anginan banyak goyah, dan sebagian mereka lebih
cenderung pada orang Rusia dan sudah siap menyeberang
kepada mereka. Semua itu berat dan untuk mencegahnya
harus diambil tindakan, namun saat itu Shamil tak ingin
melakukan, dan tak ingin memikirkan apa pun. Satu saja
yang ia inginkan sekarang ini: istirah dan indahnya belaian
hidup berkeluarga dari istri yang paling dicintainya di antara
istri-istri, yaitu Aminet, orang Kistinka yang cepat jalannya,
hitam matanya, delapan belas umurnya.
Tapi tidak hanya tidak boleh sekarang ini ia memikir-
kan bertemu dengan Aminet, yang sekarang pun ada di
seberang pagar yang memisahkan bangunan di pekarangan-
dalam dengan bagian lelaki yang ditempati Shamil, (Shamil
http://facebook.com/indonesiapustaka

yakin bahwa sekarang pun, selagi ia turun dari kudanya,


Aminet bersama istri-istri lainnya mengintip dari celah
pagar), namun tidak hanya tidak boleh ia menemui Aminet,
merebahkan diri ke bantal bulu untuk istirahat dari kele-
lahan pun tidak boleh. Perlu lebih dulu ia melakukan solat
tengah hari, walau sedikit pun tak ada keinginannya untuk

140
itu, karena tidak melakukan hal itu tidak hanya tidak mung-
kin dalam kedudukannya sebagai pemimpin keagamaan,
namun baginya sendiri hal itu mustahil tidak dilakukan,
seperti halnya makan tiap hari. Dan ia pun bersuci dan
kemudian solat. Selesai solat, ia panggil orang-orang yang
telah menunggunya.
Pertama sekali masuk mertua dan sekaligus gurunya,
orang tua ubanan jangkung berjenggot putih seperti salju
dan berwajah kemerahan, Jemal Edin. Lebih dulu ia berdoa
kepada Tuhan, lalu mulai menyampaikan pertanyaan ke-
pada Shamil tentang peristiwa-peristiwa dalam ekspedisi,
dan mulai bercerita tentang apa yang terjadi di pegunungan
selama Shamil absen.
Di antara berbagai peristiwa—tentang pembunuhan
balas dendam, pencurian hewan, tuduhan tak mematuhi
ketentuan tarikat: merokok tembakau, meminum minuman
keras—Jemal Edin melaporkan bahwa Haji Murat telah
mengirim orang untuk membawa keluarganya ke pihak
orang Rusia, tapi ketahuan, maka keluarga itu pun dibawa
ke Vedeno dan dikawal, sementara menunggu keputusan
imam. Di kamar tamu sebelah berkumpul orang-orang tua
untuk membahas masalah-masalah itu, dan Jemal Edin
menyarankan Shamil untuk melepas mereka sekarang juga,
karena sudah tiga hari ini mereka menunggu Shamil.
Sesudah makan siang yang dihidangkan oleh istrinya
http://facebook.com/indonesiapustaka

Zaidet yang berhidung mancung, berkulit gelap, wajahnya


tak manis, dan tak dicintainya, tapi merupakan istri tertua-
nya, Shamil pun masuk kamar tamu.
Enam orang yang merupakan dewan penasihat berdiri
menyambutnya. Mereka itu orang-orang tua berambut
ubanan berjenggot kelabu dan pirang, mengenakan sorban

141
atau tidak, bertopi tinggi, berjaket dan jubah baru, bersa-
buk lengkap dengan belatinya. Shamil lebih tinggi sekepala
dibandingkan mereka semua. Seperti juga Shamil, mereka
semua menengadahkan tangan ke udara, dan membaca doa
sambil memejamkan mata, kemudian meraup wajah dengan
kedua tangan, menurunkannya ke jenggot dan menangkup-
kannya. Usai itu semua mereka duduk, Shamil di tengah,
di atas bantal yang lebih tinggi, dan mulailah pembahasan
semua kasus yang dihadapi.
Kasus orang-orang yang dituduh melakukan kejahatan
diputuskan menurut syariat: dua orang dijatuhi hukuman
potong tangan karena mencuri, satu orang dijatuhi hukum-
an penggal kepala karena membunuh, tiga orang diampuni.
Kemudian mereka beralih pada kasus yang pokok: yaitu
memikirkan langkah untuk melawan penyeberangan orang
Chechen ke orang Rusia. Untuk melawan penyeberangan
itu Jemal Edin telah menyusun pernyataan berikut:
“Semoga kalian mendapat kedamaian abadi dengan
Tuhan Yang Maha Kuasa.
Saya mendengar orang Rusia memesrai kalian dan
menyerukan kepada kalian untuk tunduk. Jangan percayai
mereka dan jangan tunduk, tapi tahanlah. Kalau tidak dalam
hidup yang sekarang, kalian akan mendapat pahala dalam
hidup yang akan datang. Ingatlah kejadian yang lalu, ketika
senjata kalian dirampasi. Kalau pada tahun 1840 itu Tuhan
http://facebook.com/indonesiapustaka

tak menyadarkan kalian, kiranya kalian sudah menjadi


serdadu berbayonet dan tidak lagi berbelati, dan istri kalian
kiranya sudah tanpa sharovar dan menjadi sasaran cercaan.
Pikirkan masa depan berdasarkan kejadian yang sudah lalu
itu. Lebih baik mati dengan menyimpan kebencian kepada
orang Rusia, daripada hidup dengan orang ka r itu. Tahan-

142
kanlah, sedang saya akan datang kepada kalian dengan
Alquran dan pedang, dan memimpin kalian melawan orang
Rusia. Sekarang dengan keras saya perintahkan kalian
untuk tidak hanya tidak bermaksud, tapi juga berencana
untuk tunduk kepada orang Rusia.”
Shamil menyetujui pernyataan itu, menandatangani-
nya dan memutuskan untuk menyebarkannya.
Sesudah masalah-masalah itu, dibahas juga masalah
Haji Murat. Masalah ini penting sekali bagi Shamil. Wa-
lau ia tak mau mengakuinya, ia tahu bahwa sekiranya
Haji Murat dengan kecerdikannya, keberaniannya, dan
kegagahannya bersama dia, tidak terjadi kiranya apa yang
telah terjadi di Chechnya. Berdamai dengan Haji Murat
serta memanfaatkan jasa-jasanya kiranya baik; tapi kalau
hal itu tidak mungkin, bagaimanapun tak boleh dibiarkan
dia membantu orang Rusia. Karena itu bagaimanapun dia
harus dipanggil, dan sesudah dipanggil, dibunuh. Caranya
ialah dengan mengirim ke Ti is orang yang dapat kiranya
membunuhnya di sana, atau memanggil dia ke sini, dan di
sini dihabisi. Sarana untuk itu ada satu, yaitu keluarganya,
dan yang penting anak lelakinya yang—Shamil tahu—sangat
dicintai oleh Haji Murat. Karena itu perlu bertindak lewat
anak lelaki itu.
Ketika para penasihat membicarakan hal itu, Shamil
memicingkan matanya dan diam.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Para penasihat tahu bahwa itu berarti Shamil kini


sedang mendengarkan suara Nabi yang memberikan pe-
tunjuk, apa yang harus dilakukannya. Sesudah lima menit
diam dengan khidmat, Shamil membuka mata, lebih me-
nyipitkannya lagi dan katanya:
“Bawa ke sini anak Haji Murat.”

143
“Dia ada di sini,” kata Jemal Edin.
Dan memang Yusuf sudah berdiri de dekat gerbang
pekarangan-dalam menunggu panggilan. Anak Haji Murat
itu kurus, pucat, compang-camping dan bau, tapi masih
kelihatan tampan baik tubuhnya maupun wajahnya, dengan
mata hitam menyala-nyala seperti mata ibunya, Patimat.
Perasaan Yusuf terhadap Shamil tidak sama dengan
perasaan ayahnya. Ia tak tahu apa yang terjadi di masa
lalu, atau tahu, tetapi tidak mengalaminya, tidak mengerti,
kenapa ayahnya begitu bermusuhan dengan Shamil. Menu-
rutnya sama sekali tidak perlu bermusuhan dengan Shamil.
Satu hal yang diharapkannya, yaitu melanjutkan hidup
foya-foya yang pernah dialaminya sebagai putra naib di
Khunzakh. Berlawanan dan bertentangan dengan ayahnya,
ia sangat mengagumi Shamil dan sangat menaruh hormat
yang memang umum di pegunungan itu. Sekarang dengan
rasa hormat bercampur ngeri ia masuk ke kamar tamu,
dan ketika berhenti di dekat pintu, pandangnya bertemu de-
ngan pandangan mata Shamil yang mantap dan disipitkan.
Ia berdiri beberapa waktu lamanya, kemudian mendekati
Shamil dan mencium tangannya yang besar putih, dengan
jari-jari panjang.
“Kamu anak Haji Murat?”
“Saya, Imam.”
“Kamu tahu, apa yang dia lakukan?”
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Tahu, Imam, dan saya menyayangkan.”


“Kamu bisa nulis?”
“Saya belajar jadi mullah.”
“Kalau begitu tulis pada ayahmu, kalau dia kembali
menemuiku sekarang, sebelum hari raya Bairam, akan ku-
maafkan dia, dan segalanya akan pulih seperti sebelumnya.

144
Tapi kalau tidak dan dia tetap pada orang Rusia, maka—
Shamil mengerutkan kening mengandung ancaman—akan
kuedarkan emak kamu, ibu kamu ke semua aul, dan akan
kupenggal kepalamu.”
Tak satu pun otot bergerak pada wajah Yusuf; ia me-
nundukkan kepala sebagai tanda mengerti kata-kata Shamil.
“Tulis begitu, dan berikan pada utusanku.”
Shamil terdiam dan lama memandang Yusuf.
“Tulis, aku kasihan pada kamu, dan tak akan kubunuh,
tapi akan kucungkil matamu, seperti kulakukan pada semua
pengkhianat. Pergi.”
Yusuf tampak tenang di hadapan Shamil, tapi ketika
ia dibawa pergi dari kamar tamu, ia serang orang yang
membawanya, dan ia rebut belati darinya dan mau bunuh
diri, tapi berhasil diringkus tangannya, diikat, dan digiring
kembali ke lubang.
Petang itu, seusai solat Magrib dan hari mulai gelap,
Shamil mengenakan jubah putihnya dan menyeberang
pagar ke bagian pekarangan tempat tinggal para istrinya,
dan menuju kamar Aminet. Tapi Aminet tidak ada. Ia ber-
sama istri-istri yang lebih tua. Maka Shamil pun berusaha
untuk tidak kelihatan, berdiri di balik pintu kamar, menan-
tikan Aminet. Tapi Aminet marah kepada Shamil, karena
Shamil menghadiahkan bahan sutra tidak kepadanya,
tapi kepada Zaidet. Ia melihat Shamil keluar dari kamar
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan masuk lagi, mencarinya, tapi sengaja Aminet tak mau


kembali ke kamar. Lama Shamil berdiri dekat pintu kamar
Zaidet, dan sambil ketawa sendiri Zaidet memperhatikan
sosok putih itu keluar-masuk kamarnya. Sia-sia menanti-
nya, Shamil kembali ke kamar sendiri, sudah menjelang
solat tengah malam.

145
XX
Haji Murat seminggu lamanya tinggal di benteng, di rumah
Ivan Matveyevich. Walau Maria Dmitriyevna telah berteng-
kar dengan Khane yang gondrong (Haji Murat hanya
membawa dua orang: Khane dan Eldar) dan mengusirnya
dari dapur, hingga hampir saja Khane membunuhnya,
Maria Dmitriyevna tampak menaruh perasaan khusus,
hormat dan simpati kepada Haji Murat. Ia sekarang sudah
tidak membawakan makan siang untuk Haji Murat, karena
pekerjaan itu sudah diserahkannya kepada Eldar, namun
setiap kesempatan digunakannya untuk bertemu dengan
Haji Murat dan untuk menyenangkan hatinya. Ia pun am-
bil bagian aktif dalam perundingan tentang keluarga Haji
Murat, tahu berapa istrinya, anak-anaknya, berapa-berapa
umurnya, dan tiap kali sesudah datangnya sandi ia pun
sedapat mungkin bertanya tentang hasil perundingan.
Butler pun dalam seminggu itu sempat bersahabat
dengan Haji Murat. Kadang-kadang Haji Murat datang ke
kamarnya, kadang-kadang Butler mendatangi Haji Murat.
Kadang mereka bercakap-cakap lewat penterjemah, kadang
dengan sarana mereka sendiri, dengan tanda-tanda, dan
yang pokok dengan senyum mereka. Haji Murat kelihatan
sempat menyukai Butler. Hal itu kelihatan dalam sikap
Eldar terhadap Butler. Ketika Butler masuk ke kamar Haji
http://facebook.com/indonesiapustaka

Murat, Eldar menyambut Butler dengan ketawa gembira


hingga kelihatan giginya yang cemerlang, buru-buru me-
letakkan bantal di bawah sandaran kursi dan melepas
pedang Butler bila ia sedang mengenakan pedang.
Butler berkenalan dan cocok juga dengan si gondrong
Khane yang disebut saudara Haji Murat. Khane kenal

146
banyak lagu pegunungan dan dapat menyanyikannya de-
ngan baik. Untuk menyenangkan hati Butler, Haji Murat
memanggil Khane dan memerintahkannya menyanyi,
dengan menyebut nama-nama lagu yang menurutnya baik.
Suara Khane tenor tinggi, dan ia menyanyi dengan sangat
saksama dan ekspresif. Salah satu lagu itu sangat disukai
Haji Murat dan mengesankan Butler karena melodinya yang
sedih-khidmat. Butler minta kepada penterjemah untuk
menceritakan isinya dan ia mencatatnya.
Lagu itu mengenai balas dendam, mengenai hal yang
dihadapi oleh Khane dan Haji Murat. Lagunya demikian:
“Tanah di makamku akan mengering—dan engkau akan
melupakanku, ibuku tercinta! Pekuburan akan ditumbuhi
rumput—dan rumput akan meredam kesedihanmu, bapak
tuaku! Air mata akan mengering di mata saudara perem-
puanku, dan akan terbang kedukaan hatinya.
Tapi engkau takkan melupakanku, kakakku, sebelum
kaubalaskan kematianku. Takkan kaulupakan juga aku,
saudara keduaku, sebelum kau terbaring di sampingku.
Engkau panas, wahai peluru, dan engkau bawa maut,
tapi bukankah engkau budakku yang setia? Wahai tanah
hitam, engkau timbuni aku, tapi bukankah kau yang kuin-
jak-injak dengan kudaku? Dingin engkau, wahai maut, tapi
akulah dulu tuanmu. Tanah akan menerima tubuhku, langit
akan menerima jiwaku.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Haji Murat selalu mendengarkan lagu itu dengan mata


terpejam, dan pada waktu lagu berakhir dengan nada me-
manjang menghilang, ia selalu mengatakan dalam bahasa
Rusia:
“Lagu bagus, lagu pintar.”
Puisi kehidupan pegunungan yang luar biasa dan ener-

147
gik, kedatangan Haji Murat, dan keakraban murid-murid
Haji Murat dengannya lebih lagi mempesona Butler. Ia
pun membeli jaket, mantel Kaukasus dan kain stiwel, dan
ia merasa diri sebagai orang pegunungan yang menjalani
kehidupan sebagaimana orang-orang itu.
Pada hari keberangkatan Haji Murat, Ivan Matveyevich
mengumpulkan beberapa perwira untuk mengantarkan
Haji Murat. Para perwira sebagian duduk dekat meja teh di
mana Maria Dmitriyevna menuang-nuangkan teh, sebagian
lagi dekat meja lain, dengan wodka, chikhir dan makanan
kecil, ketika Haji Murat yang berpakaian perjalanan dan
bersenjata masuk ruangan dengan langkah-langkah cepat,
lunak, pincang.
Semua berdiri dan satu demi satu menyalaminya. Ivan
Matveyevich mempersilakannya duduk di sofa, tapi dengan
mengucapkan terima kasih ia duduk di kursi dekat jendela.
Diamnya semua hadirin waktu ia masuk, kelihatan sama
sekali tidak membuatnya bingung. Dengan penuh perhatian
ia pandang semua wajah hadirin, lalu ia arahkan pandang-
an masa bodoh pada meja di mana terletak samovar dan
makanan kecil. Perwira Petrokovskii yang lincah dan untuk
pertama kali melihat Haji Murat, bertanya kepadanya lewat
penterjemah, apakah Haji Murat senang Ti is.
“Aiya,” katanya.
“Dia bilang, ya,” jawab penterjemah.
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Apa yang menyenangkan dia?”


Haji Murat mengatakan sesuatu.
“Paling senang ia pada teater.”
“Dan dalam bal panglima tertinggi, apa ia senang?”
Haji Murat mengerutkan kening.
“Tiap bangsa punya kebiasaan sendiri. Pada kami,

148
wanita tak berpakaian seperti itu,” katanya sambil menoleh
pada Maria Dmitriyevna.
“Apa yang dia tak suka?”
”Kami ada peribahasa,” kata Haji Murat pada pen-
terjemah, “Anjing menyuguh keledai dengan daging, dan
keledai menyuguh anjing dengan jerami; keduanya pun
kelaparan.” Ia tersenyum. “Untuk masing-masing bangsa,
kebiasaannya adalah baik.”
Percakapan tidak bersambung. Para perwira ada yang
mulai minum teh, ada yang makan makanan kecil. Haji
Murat menerima gelas teh yang ditawarkan kepadanya dan
meletakkannya di depan dirinya.
“Mau apa? Krem? Atau roti putih?” tanya Maria Dmi-
triyevna sambil menawarkan padanya.
Haji Murat menundukkan kepala.
“Jadi, selamat berpisah!” kata Butler sambil meng-
gamit lutut Haji Murat. “Kapan kita ketemu lagi?”
“Selamat berpisah! Selamat berpisah!” kata Haji Murat
dalam bahasa Rusia sambil tersenyum. “Kunak budur. Ku-
nak kamu erat. Waktu untuk pergi,” katanya sambil mengi-
baskan kepala, seolah ke arah yang harus ditujunya.
Di pintu kamar muncul Eldar mendukung sesuatu yang
besar putih di punggung dan memegang pedang. Haji Murat
melambaikan tangan padanya, dan Eldar pun menghampiri
Haji Murat dengan langkah lebar dan menyerahkan padanya
http://facebook.com/indonesiapustaka

burka putih dan pedang. Haji Murat berdiri, menerima


burka, mengalihkannya ke tangan sebelah dan menyerah-
kannya kepada Maria Dmitriyevna sambil mengatakan
sesuatu. Penterjemah mengatakan:
“Dia bilang, kamu sudah memuji burka ini, ambil-
lah.”

149
“Untuk apa ini?” kata Maria Dmitriyevna memerah
wajahnya.
“Begitu harusnya. Adat begitu,” kata Haji Murat.
“Ya, terima kasih,” kata Maria Dmitriyevna sesudah
menerima burka. “Mudah-mudahan Anda dapat menye-
lamatkan anak Anda. Ulan yakshi,” tambahnya. “Tolong
terjemahkan, saya harap dia dapat menyelamatkan kelu-
arganya.”
Haji Murat menoleh kepada Maria Dmitriyevna dan
mengangguk sebagai tanda setuju. Kemudian ia mengambil
pedang dari tangan Eldar dan menyerahkannya pada Ivan
Matveyevich. Ivan Matveyevich menerima pedang dan
mengatakan pada penterjemah:
“Katakan padanya supaya dia ambil kuda kebiri coklat
saya, tak ada lagi yang bisa dihadiahkan.”
Haji Murat mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah-
nya untuk menyatakan bahwa ia tak memerlukan apa pun
dan ia tak akan mengambil kuda itu, lalu sambil menunjuk
ke pegunungan dan ke hatinya, ia melangkah keluar. Semua
orang menyusulnya. Para perwira yang tinggal di ruangan
mencabut pedang, mengamat-amati bilahnya, dan menyim-
pulkan bahwa itu adalah pedang sejati.
Butler keluar bersama Haji Murat, ke beranda. Tapi
saat itulah terjadi hal yang tak disangka-sangka, yang bisa
kiranya berakhir dengan kematian Haji Murat, jika tidak
http://facebook.com/indonesiapustaka

karena ketajaman, kemantapan dan kecekatannya.


Penduduk aul Tash-Kichu di daerah Kumits yang
menaruh rasa hormat sekali kepada Haji Murat dan be-
berapa kali datang ke benteng hanya untuk menengok
naib yang terkenal itu, tiga hari sebelum keberangkatan
Haji Murat mengirim utusan kepadanya untuk minta agar

150
ia datang ke masjid mereka pada hari Jumat. Adapun para
pangeran Kumits yang tinggal di Tash-Kichu, yang mem-
benci Haji Murat, dan punya dendam terhadap Haji Murat,
ketika mengetahui hal itu, menyatakan kepada orang banyak
bahwa mereka tak akan mengizinkan Haji Murat masuk
masjid. Rakyat berontak, dan terjadilah perkelahian antara
rakyat dengan pendukung para pangeran. Penguasa Rusia
berhasil menenteramkan orang pegunungan dan minta
kepada Haji Murat agar tidak datang ke masjid itu. Haji
Murat pun tidak pergi ke sana, dan pikirnya dengan itu
urusan sudah selesai.
Tetapi di saat keberangkatan Haji Murat, ketika ia
menuju beranda, dan kuda-kuda berdiri dekat pintu masuk,
pangeran Arslan Khan dari Kumits yang dikenal oleh Butler
dan Ivan Matveyevich tiba di rumah Ivan Matveyevich.
Melihat Haji Murat, ia mencabut pistol dari pinggang
dan mengarahkannya pada Haji Murat. Tapi belum sempat
Arslan Khan menembak, Haji Murat sudah dengan cepat
melompat seperti kucing, walau ia pincang, dari beranda ke
arah Arslan Khan. Arslan Khan menembak, tapi meleset.
Adapun Haji Murat, sesudah mencapai Arslan Khan, dengan
sebelah tangannya mencekam tali kekang kuda Arslan Khan,
dengan tangan lainnya mencekam belati, dan memekik
dalam bahasa Tartar.
Butler dan Eldar bersamaan lari menghampiri kedua
http://facebook.com/indonesiapustaka

musuh dan meringkus tangan mereka. Dan mendengar


tembakan itu Ivan Matveyevich pun keluar.
“Apa pula kau, Arslan, bikin hal menjijikkan di rumah-
ku?” katanya, ketika ia ketahui apa yang terjadi. “Kurang
baik itu, kawan. Di lapangan ada dua kemauan berbeda,
kamu lagi bikin penyembelihan.”

151
Arslan Khan, orang yang badannya kecil, berkumis
hitam, dalam keadaan pucat dan bergetar seluruh tubuhnya,
turun dari kudanya dan menatap benci ke arah Haji Murat
dan bersma Ivan Matveyevich masuk ruangan. Sedangkan
Haji Murat kembali ke tempat kuda, sambil menarik napas
berat dan tersenyum.
“Kenapa mau dibunuhnya Haji Murat?” tanya Butler
lewat penterjemah.
“Dia bilang, begitulah hukumnya pada kami,” kata
penterjemah menyampaikan kata-kata Haji Murat. “Arslan
harus balas dendam padanya karena hutang darah. Itu
sebabnya dia mau bunuh Haji Murat.”
“Dan bagaimana kalau dia mengejar di jalan?” tanya
Butler.
Haji Murat tersenyum.
“Ya, dibunuhnya, jadi itu sudah kehendak Allah. Nah,
selamat berpisah,” katanya lagi dalam bahasa Rusia, dan
sambil memegang tengkuk kuda ia tebarkan pandangan
pada semua yang mengantarkannya, dan dengan mesra
bertemu pandang dengan Maria Dmitriyevna.
“Selamat berpisah, Ibu,” katanya kepada Maria Dmi-
triyevna, “terima kas….”
“Semoga, semoga selamatkan keluarga,” ulang Maria
Dmitriyevna.
Ia tak mengerti kata-kata itu, tapi ia mengerti rasa
http://facebook.com/indonesiapustaka

simpati Maria Dmitriyevna kepadanya, karena itu ia ang-


gukkan kepala kepadanya.
“Ingat, jangan lupa kunak,” kata Butler.
“Katakan, aku sahabat setianya, aku takkan lupa,”
jawabnya lewat penterjemah. Walau kakinya bengkok, baru
saja kaki itu menyentuh sanggurdi, dengan cepat dan ringan

152
ia sudah melayangkan tubuhnya ke pelana yang tinggi. Ia
benahi letak pedangnya, ia raba pistolnya dengan gerak yang
biasa baginya, dengan gaya bangga prajurit pegunungan
waktu mengendarai kuda, ia pun enyah dari rumah Ivan
Matveyevich. Khane dan Eldar juga naik ke punggung kuda
masing-masing, dan sesudah bersama minta diri kepada
para tuan rumah dan para perwira, mereka pun menderap
mengikuti mursidnya.
Sebagaimana biasa, mulailah komentar tentang orang-
orang yang pergi.
“Hebat!”
“Seperti serigala ia menyerang Arslan Khan; jadi orang
lain sama sekali.”
“Bohong. Penipu besar saja dia,” kata Petrokovskii.
“Mudah-mudahan saja lebih banyak penipu Rusia
macam itu,” tiba-tiba dengan kecewa Maria Dmitriyevna
ikut campur. “Seminggu tinggal bersama kita, kecuali ke-
baikan tak ada kita lihat pada dirinya,” katanya lagi. “Me-
nyenangkan, pintar, adil.”
“Dari mana Anda tahu itu?”
“Artinya, saya jadi tahu itu.”
“Mengintip, ya?” kata Ivan Matveyevich yang baru
masuk. “Ya itulah, ngintip.”
“Taruhlah, ngintip. Keberatan, ya? Kenapa Anda
mencela kalau orang itu memang baik? Dia orang Tartar,
http://facebook.com/indonesiapustaka

tapi baik.”
“Betul, Maria Dmitriyevna,” kata Butler. “Bagus sekali,
Anda membela dia.”

153
XXI
Kehidupan para penghuni benteng-benteng terdepan di lini
Chechen berjalan seperti sebelumnya. Sejak itu berbunyi
dua kali tanda bahaya, dan sebagai akibatnya kompi-kompi
bergegas keluar dan para Kazak dan milisi mencongklang,
namun kedua kalinya mereka tak berhasil menghentikan
orang-orang pegunungan. Satu kali di Vozdvizhenskaya
mereka juga berhasil mencuri delapan kuda Kazak dari tem-
pat minum dan membunuh seorang Kazak. Tidak dilakukan
lagi serbuan, sejak serbuan terakhir, ketika aul dirusak itu.
Hanya ditunggu pelaksanaan ekspedisi ke Chechnya Besar
terkait pengangkatan komandan baru sayap kiri, Pangeran
Baryatinskii.
Pangeran Baryatinskii sebagai sahabat ahli waris dan
bekas komandan Resimen Kabardinskii, kini sebagai kom-
andan seluruh sayap kiri, segera sesudah kedatangannya
di Groznaya, menghimpun pasukan untuk meneruskan
pelaksanaan rencana Yang Dipertuan Agung, seperti ditulis
oleh Chernishev kepada Vorontsov. Sesudah dihimpun di
Benteng Vozdvizhenskaya pasukan keluar dari benteng,
mengambil posisi ke arah Kurinskii. Pasukan berkemah di
sana dan membabat hutan.
Vorontsov muda tinggal dalam kemah yang terbuat
dari kain laken indah, dan istrinya Maria Vasilyevna datang
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke perkemahan dan seringkali bermalam. Sudah menjadi


rahasia umum adanya hubungan Baryatinskii dengan
Maria Vasilyevna, karena itu para perwira dan prajurit
nonbangsawan dengan kasar mencaci Maria Vasilyevna.
Gara-gara dia itu, mereka disebar untuk tugas sandi malam
hari. Biasanya orang pegunungan mendatangkan meriam

154
dan melepaskan tembakan ke perkemahan. Sebagian besar
peluru tidak mengenai sasaran, karena itu biasanya tem-
bakan-tembakan itu diabaikan saja; tapi agar orang pegu-
nungan tidak bisa mendatangkan meriam, dan agar tidak
menakutkan Maria Vasilyevna, disebar petugas sandi.
Namun jalan tiap malam untuk tugas sandi agar nyo-
nya tidak takut itu bagaimanapun menyinggung perasaan
dan menjengkelkan, karenanya prajurit dan perwira yang
tak diterima dalam pergaulan tinggi itu pun mencaci Maria
Vasilyevna dengan kata-kata tak enak.
Nah, dari benteng datanglah Butler berlibur. Ia men-
jumpai pasukan itu untuk bertemu dengan teman-teman
seangkatannya dari Korps Page dan teman-teman seresimen
yang pernah bertugas di Resimen Kurinskii sebagai ajudan
dan pengawal komandan. Mula-mula kedatangannya sangat
menyenangkan dirinya. Ia tinggal di kemah Poltoratskii,
dan di situ ia temui banyak kenalan yang menyambutnya
dengan gembira. Ia pun menemui Vorontsov yang ia kenal
sedikit karena pernah bersama bertugas di satu resimen.
Vorontsov menerimanya dengan sangat ramah dan mem-
perkenalkannya dengan Pangeran Baryatinskii serta meng-
undangnya datang ke acara makan siang perpisahan yang
diselenggarakan untuk bekas komandan sayap kiri sebelum
Baryatinskii, Jenderal Konzlovskii.
Makan siang itu mewah sekali. Didatangkan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

didirikan berderet-deret enam kemah. Sepanjang deretan


itu berdiri meja lengkap dengan alat-alat makan dan botol.
Semuanya mengingatkan pada kehidupan pasukan garda di
Petersburg. Pukul dua semuanya sudah duduk menghadap
meja. Di tengah duduk: di satu sisi Kozlovskii, dan di sisi
lain Baryatinskii. Di kanan Kozlovskii duduk Vorontsov dan

155
di kiri istrinya. Di kedua sisi meja sepanjang jajaran kursi
duduk para perwira resimen Kabardinskii dan Kurinskii.
Butler duduk di samping Poltoratskii; keduanya meng-
obrol dengan riang dan minum dengan para perwira di
sebelahnya. Ketika tiba saat yang panas dan para pelayan
menuangkan sampanye ke gelas-gelas, Poltoratskii dengan
sikap prihatin yang tulus dan dengan kecewa mengatakan
pada Butler, “Wah, sama dengan mempermalukan diri
sendiri ‘si bagaimana’.”
“Memang kenapa?”
“Kan dia mesti pidato? Apa yang dia bisa?”
“Ya, ini lain dengan menyingkirkan penghalang di
bawah brondongan. Dan lagi di sini hadir para wanita, juga
tuan-tuan bangsawan. Memang kasihan lihat dia,” kata para
perwira satu sama lain.
Tibalah saat yang khidmat. Baryatinskii berdiri, dan
sambil mengangkat gelas mengucapkan pidato pendek
untuk Kozlovskii. Dan ketika Baryatinskii selesai dengan
pidatonya, Kozlovskii berdiri dan mulai dengan suaranya
yang cukup mantap:
“Atas kehendak Yang Dipertuan Agung, saya akan me-
ninggalkan Anda sekalian, berpisah dengan Anda sekalian,
Tuan-tuan Perwira,” katanya. “Tapi anggaplah saya masih
selalu bersama Anda sekalian…. Anda sekalian tahu betul,
tidak ada prajurit sendirian di lapangan. Karena itu, kalau
http://facebook.com/indonesiapustaka

di dalam tugas saya mendapat anugerah atau kemurahan


dari Yang Dipertuan Agung Imperator berupa apakah
kedudukan, apakah nama baik, dapat saya katakan dengan
tegas bahwa…,” di sini suaranya menggeletar, “semua itu
hanya berkat Anda sekalian dan hanya Anda sekalian, te-
man-temanku yang tercinta!” dan wajahnya yang berkerut

156
menjadi lebih berkerut lagi. Ia pun terisak-isak dan air mata
mengembang di matanya. “Dari lubuk hati yang terdalam
saya sampaikan kepada Anda sekalian rasa hormat saya
yang setulus-tulusnya….”
Kozlovskii tak bisa bicara lebih lanjut; ia bangkit, lalu
memeluki para perwira yang menghampirinya. Semua
terharu. Nyonya pangeran menutup wajahnya dengan seta-
ngan. Pangeran Semyon Mikhailovich mengedip-ngedipkan
mata dengan mulut dimiringkan. Banyak di antara perwira
mencucurkan air mata juga. Butler yang tak begitu menge-
nal Kozlovskii pun tak dapat menahan air matanya. Semua
itu sangat menyenangkan baginya. Kemudian mulai mereka
bersulang untuk Baryatinskii, untuk Vorontsov, untuk para
perwira, untuk para prajurit; dan para tamu keluar dari
makan siang sudah dalam keadaan mabuk dan kebanyakan
minum, dengan gembira seperti biasa pada prajurit, dan
memang mereka sangat cenderung pada kebiasaan itu.
Cuaca sangat bagus, cerah, hening, dan udara segar
menyehatkan. Dari segala penjuru berkeretak bunyi api
unggun, dan berkumandang suara nyanyian. Terasa bahwa
semua orang merayakan sesuatu. Dengan perasaan sangat
bahagia dan terharu Butler pergi menemui Poltoratskii.
Para perwira berkumpul di sekitar Poltoratskii, meja main
dibentangkan, dan ajudan meletakkan taruhan senilai se-
ratus rubel. Ada dua kali Butler keluar dari kemah sambil
http://facebook.com/indonesiapustaka

memegang dompet di dalam kantong pantalonnya, tapi


akhirnya tidak dapat ia menahan diri, dan mulai bertaruh,
walau sudah berjanji pada saudara-saudaranya untuk tidak
main.
Tak sampai sejam berlalu, Butler dengan tubuh me-
merah, berkeringat, dan belepotan kapur, sudah duduk ber-

157
telekan meja dengan kedua belah tangan, dan menuliskan
angka-angka taruhannya dan pindahannya di bawah kartu
yang kusut sudutnya. Kekalahan begitu banyak, hingga ta-
kut ia menghitung, berapa jumlah yang harus dibayarnya.
Tanpa menghitung pun ia tahu bahwa dengan menyerahkan
semua gaji yang bisa dia ambil sebelumnya dan harga ku-
danya pun tak dapat ia melunasi hutangnya yang dituliskan
oleh ajudan yang tak dikenalnya itu. Ia masih ingin main
kiranya, tapi ajudan dengan wajah kereng meletakkan
kartu dengan tangannya yang putih, dan mulai menghitung
kolom-kolom kapur catatan untuk Butler. Butler dengan
bingung minta maaf bahwa ia tak bisa membayar sekarang
jumlah kekalahannya; ia katakan bahwa ia akan kirimkan
uang itu dari rumah, dan ketika ia mengatakan itu, ia lihat
semua orang pun merasa kasihan padanya, dan semua, bah-
kan Poltoratskii menghindari pandangan matanya. Itulah
malam terakhir baginya. Sebetulnya dia hanya perlu tidak
main dan datang menemui Vorontsov yang memanggilnya,
“dan segalanya akan beres kiranya”, pikirnya. Tapi sekarang
keadaan bukan hanya tidak beres, malah mengerikan.
Sesudah minta diri kepada para teman dan kenalan ia
pun pulang, dan begitu sampai di rumah langsung memba-
ringkan badan dan tidur delapan belas jam berturut-turut,
seperti biasanya kalau habis kalah main. Maria Dmitriyevna
langsung mengerti Butler telah kalah main, dari cara Butler
http://facebook.com/indonesiapustaka

minta padanya uang setengah rubel, agar diberikannya


sebagai uang rokok kepada Kazak yang mengantarkannya,
dan dari wajahnya yang sedih dan jawabannya yang singkat-
singkat. Maria Dmitriyevna memarahi Ivan Matveyevich,
kenapa suaminya itu tidak melarang Butler.
Esok harinya Butler terbangun pukul dua belas, dan

158
ketika ia ingat akan keadaannya, inginlah dia kembali
menenggelamkan diri dalam kelupaan yang baru saja diting-
galkannya, tapi kini tak mungkin lagi. Ia harus mengambil
tindakan untuk membayar empat ratus tujuh puluh rubel
yang menjadi hutangnya kepada orang yang tak dikenalnya
itu. Salah satu tindakan itu adalah menulis surat kepada
saudaranya, berisi penyesalan telah berdosa, dan mohon
kepada saudara itu untuk terakhir kali mengiriminya lima
ratus rubel, dihitung dari harga kilang sebagai satu-satunya
harta milik bersama mereka. Kemudian ia tulis kepada
kerabat perempuannya yang pelit, minta kepada kerabat itu
untuk mengiriminya lima ratus rubel juga, terserah dengan
bunga berapa persen. Kemudian ia temui Ivan Matveyevich,
dan karena tahu bahwa pada Ivan Matveyevich atau lebih
tepat pada Maria Dmitriyevna ada uang, ia minta menghu-
tanginya lima ratus rubel juga.
“Aku bisa kasih, sebetulnya,” kata Ivan Matveyevich,
“sekarang juga aku bisa kasih kiranya, tapi Mashka takkan
kasih. Mereka, perempuan-perempuan itu, memang kikir,
persetan. Tapi memang mesti cari akal, persetan. Apa pada
si setan tukang kantin itu, tak ada?” Tapi dari tukang kantin
pun tak ada kemungkinan untuk pinjam. Jadi pertolongan
untuk Butler hanya mungkin datang dari saudaranya, atau
dari kerabat yang pelit itu.
http://facebook.com/indonesiapustaka

XXII
Sesudah mencapai tujuannya di Chechnya, Haji Murat
kembali ke Tiflis dan tiap hari mendatangi Vorontsov.

159
Pada waktu diterima oleh Vorontsov, ia mohon Vorontsov
mengumpulkan orang pegunungan yang menjadi tahanan
untuk ditukarkan dengan keluarganya. Ia kembali menga-
takan bahwa tanpa itu berarti ia terikat dan tidak dapat,
sebagaimana ia inginkan, mengabdi pada orang Rusia dan
menghancurkan Shamil. Vorontsov tidak tegas berjanji
melakukan apa yang bisa ia lakukan, tapi menunda-nunda
dengan mengatakan bahwa ia akan putuskan hal itu ketika
Jenderal Argutinskii datang dari Ti is dan ia berunding
dengan Argutinskii. Maka Haji Murat pun minta Vorontsov
mengizinkannya untuk beberapa waktu tinggal di Nukha,
kota kecil Transkaukasus, di mana menurut penilaiannya
lebih enak baginya melakukan perundingan dengan Shamil
dan dengan orang-orang yang setia kepadanya mengenai
keluarganya. Kecuali itu, di Nukha yang merupakan kota
Muslim ada masjid, di mana dengan lebih nyaman ia bisa
melaksanakan solat yang diwajibkan menurut hukum Islam.
Vorontsov menulis tentang hal itu ke Petersburg, sementara
itu ia izinkan Haji Murat pindah ke Nukha.
Bagi Vorontsov, bagi kekuasaan di Petersburg, begitu
juga bagi sebagian besar orang Rusia yang mengetahui
riwayat Haji Murat, peristiwa yang dialami Haji Murat ini
merupakan perkembangan positif dalam perang Kaukasus,
atau sekedar peristiwa yang menarik; sedangkan bagi Haji
Murat sendiri peristiwa ini, khususnya di saat terakhir, meru-
http://facebook.com/indonesiapustaka

pakan perkembangan yang mengerikan dalam hidupnya. Ia


lari dari pegunungan sebagian untuk menyelamatkan diri,
sebagian lagi karena benci kepada Shamil, dan betapa sukar
pun pelarian itu ia telah mencapai tujuannya. Pertama kali ia
merasa senang dengan keberhasilannya itu dan memang ia
menyusun rencana untuk menyerang Shamil. Tapi ternyata

160
mengeluarkan keluarganya, yang semula ia kira mudah di-
lakukan, ternyata lebih sukar. Shamil menangkap keluarga-
nya dan menahannya, dan berjanji akan mengedarkan para
wanitanya ke berbagai aul, dan membunuh atau membikin
buta anak lelakinya. Sekarang Haji Murat pindah ke Nukha
dengan maksud—lewat kelicikan atau kekerasan—mencoba
merebut keluarga dari tangan Shamil dengan bantuan para
pengikutnya di Daghestan. Sandi terakhir yang menemuinya
di Nukha menyampaikan kepadanya bahwa orang-orang
Avaria yang setia kepadanya bermaksud melarikan kelu-
arganya, dan bersama keluarga itu menyeberang kepada
orang Rusia, tetapi jumlah orang yang bersedia melakukan
hal itu terlalu sedikit, dan mereka tidak akan melakukan itu
dari tempat penahanan keluarga di Vedeno; mereka hanya
akan melakukannya jika keluarga itu dipindah dari Vedeno
ke tempat lain. Waktu itulah, di perjalanan, mereka berjanji
akan melakukan. Haji Murat minta disampaikan kepada
para sahabatnya bahwa ia menjanjikan tiga ribu rubel untuk
penyelamatan keluarganya.
Di Nukha Haji Murat ditempatkan di sebuah rumah
kecil berkamar lima, tidak jauh dari masjid dan istana Khan.
Di rumah itu juga tinggal beberapa perwira dan penterjemah
yang diperbantukan kepadanya beserta para pengawalnya.
Kegiatan Haji Murat terdiri dari menanti dan menerima
para sandi dari pegunungan dan jalan-jalan berkuda, yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

diizinkan baginya di sekitar Nukha.


Pulang dari jalan-jalan tanggal 8 April, Haji Murat
tahu bahwa ketika ia sedang tak ada, telah datang seorang
pejabat dari Ti is. Sekalipun ingin sekali mengetahui, apa
yang dibawa pejabat itu untuknya, sebelum masuk kamar
di mana ia dinantikan oleh perwira polisi dan pejabat itu,

161
Haji Murat masuk kamar sendiri untuk melakukan solat
tengah hari. Selesai bersolat, ia masuk kamar lain yang ber-
fungsi sebagai kamar tamu dan kamar tunggu. Pejabat yang
datang dari Ti is, penasihat negara Kirillov yang gendut,
menyampaikan kepada Haji Murat keinginan Vorontsov
supaya menjelang tanggal dua belas nanti ia datang ke Ti is
untuk bertemu dengan Argutinskii.
“Yakshi,” kata Haji Murat marah. Ia tak suka pada
pejabat Kirillov.
“Uang bawa?”
“Bawa,” kata Kirillov.
“Untuk dua minggu sekarang,” kata Haji Murat menun-
jukkan sepuluh jarinya, lalu empat jari lagi. “Mana?”
“Sebentar,” kata pejabat sambil mengambil dompet
dari kantong perjalanan. “Untuk apa dia uang?” tanyanya
dalam bahasa Rusia kepada perwira polisi, menduga Haji
Murat tidak mengerti, padahal Haji Murat mengerti, maka
ia menoleh marah pada Kirillov. Sambil mengambil uang,
Kirillov ingin bercakap-cakap dengan Haji Murat agar ada
yang bisa disampaikannya sekembali menemui Pangeran
Vorontsov. Ia pun bertanya kepada Haji Murat lewat pen-
terjemah, apakah bosan ia di sini. Haji Murat dari samping
menoleh benci pada orang gendut kecil yang mengenakan
pakaian dinas tanpa senjata itu dan tidak menjawab. Pen-
terjemah mengulangi pertanyaannya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Katakan padanya, saya tak mau bicara dengannya.


Uangnya saja serahkan.”
Sesudah mengatakan itu, Haji Murat kembali duduk
menghadap meja, bersiap menghitung uang.
Kirillov mengeluarkan uang emas dan menyusun tujuh
tumpukan masing-masing terdiri dari sepuluh mata uang

162
emas (Haji Murat menerima lima mata uang emas sehari),
lalu menggesernya ke arah Haji Murat. Haji Murat men-
curahkan uang itu ke lengan jubahnya, berdiri, dan tanpa
disangka-sangka sama sekali menepuk botak penasihat
negara itu, lalu keluar dari ruangan. Penasihat negara ter-
jompak, dan minta penterjemah menyampaikan pada Haji
Murat bahwa tidak seharusnya Haji Murat melakukan hal
itu, sebab Kirillov berpangkat kolonel. Perwira polisi pun
menegaskan hal itu. Tapi Haji Murat menganggukkan ke-
pala sebagai tanda tahu, lalu keluar dari ruangan.
“Apa yang bisa kita lakukan dengannya?” kata perwira
polisi. “Tikam, habis perkara. Dengan setan-setan ini tak
bisa kita bicara. Saya lihat dia mulai ngamuk.”
Begitu hari gelap, datang dari pegunungan dua orang
sandi yang berkerudung sampai ke mata. Perwira polisi
mengantarkan mereka ke kamar Haji Murat. Salah seorang
sandi adalah orang Tavlin berkulit gelap gemuk, yang lain
orang tua kurus. Berita yang mereka bawa tidak menyenang-
kan Haji Murat. Para sahabatnya yang telah berjanji akan
menyelamatkan keluarganya sekarang langsung menolak
karena takut pada Shamil yang mengancam akan memberi-
kan hukuman yang paling mengerikan terhadap mereka
yang akan membantu Haji Murat. Mendengar cerita para
sandi, Haji Murat menelekankan tangannya pada kakinya
yang disilangkan, lalu menekurkan kepalanya yang bertopi
http://facebook.com/indonesiapustaka

tinggi, dan lama diam. Ia berpikir, dan ia berpikir dengan


tegas. Ia tahu bahwa ia berpikir sekarang untuk terakhir
kali dan perlu keputusan. Haji Murat mengangkat kepala,
mengeluarkan dua mata uang emas, memberikannya pada
para sandi sekeping seorang, katanya: “Pergilah.”
“Bagaimana jawabnya?”

163
“Jawaban seperti nanti diberikan Allah. Pergilah.”
Para sandi berdiri, lalu pergi, dan Haji Murat terus
duduk di atas permadani sambil menelekankan sikunya ke
lutut. Lama ia duduk seperti itu, dan berpikir.
“Apa akal? Mempercayai Shamil dan kembali kepada-
nya?” pikirnya. “Dia itu serigala; dia akan ingkar. Sekiranya
pun tidak ingkar, tunduk padanya, pada penipu pirang itu
tidak mungkin. Tidak mungkin, sebab sekarang, sesudah
aku tinggal di tengah orang Rusia, dia sudah tak akan per-
caya lagi padaku,” pikir Haji Murat.
Dan teringatlah olehnya dongeng Tavlin tentang
burung elang yang pernah tertangkap, hidup di tengah
manusia, kemudian kembali pada bangsanya di pegunung-
an. Ia kembali, tapi sudah mengenakan rantai, dan pada
rantai itu terikat bering-bering. Dan elang-elang lain tidak
menerimanya.
“Pergi sana,” kata mereka, “ke tempat di mana kamu
diberi bering-bering perak. Pada kami tak ada bering-be-
ring, juga tak ada rantai.”
Elang itu tak ingin meninggalkan tanah airnya dan ia
tinggal. Tapi elang-elang lain tak mau menerimanya dan
mematukinya.
“Begitulah aku akan mereka patuki,” pikir Haji Murat.
“Tinggal di sini? Menyerahkan Kaukasus pada Tsar Rusia,
dan mendapat kehormatan, pangkat, dan kekayaan?”
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Itu bisa,” pikirnya, ingat akan pertemuan-pertemuan-


nya dengan Vorontsov dan kata-kata pujian pangeran tua
itu. “Mesti ambil keputusan sekarang, kalau tidak, dia
tumpas keluargaku.”
Sepanjang malam Haji Murat tak tidur dan terus
berpikir.

164
XXIII
Menjelang tengah malam keputusan telah tersusun. Ia
memutuskan untuk lari ke pegunungan, lalu dengan orang-
orang Avaria yang setia kepadanya menyerbu ke Vedeno,
dan di situ mati atau membebaskan keluarganya. Apakah
dia akan membawa keluarganya kembali pada orang Ru-
sia, atau akan lari dengannya ke Khunzakh dan bertempur
dengan Shamil—Haji Murat belum memutuskan. Yang
diketahuinya hanyalah, sekarang ia harus lari dari orang
Rusia ke pegunungan. Dan ia sekarang mulai mewujudkan
keputusan itu dalam perbuatan. Dari bawah bantal ia tarik
jaket hitamnya yang berlapis kapas dan pergi ke ruangan
para pengawalnya. Mereka itu tinggal di seberang lorong.
Begitu ia masuk lorong dan terbuka pintunya, kesejukan
segar malam berbintang menerpa dirinya, dan terdengar
olehnya nyanyian sekaligus beberapa burung bulbul dari
kebun di samping rumah.
Usai menelusuri lorong, Haji Murat membuka pintu
kamar para pengawalnya. Kamar itu tak berpenerangan,
hanya bulan muda perempat pertama menyorot lewat jen-
dela. Meja dan dua buah kursi berdiri di sisi, dan keempat
pengawal terbaring di atas permadani berselimut burka
di lantai. Khane tidur di luar bersama kuda. Mendengar
derit pintu, Gamzalo bangun, menoleh pada Haji Murat,
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan ketika dikenalinya Haji Murat, ia kembali berbaring.


Sedangkan Eldar yang berbaring di dekatnya segera bang-
kit, mulai mengenakan jaket dan menantikan perintah Haji
Murat. Kurban dan Khan Magoma tetap tidur. Haji Murat
meletakkan jaket ke meja, dan jaket mengetuk daun meja
dengan sesuatu benda keras. Benda itu adalah mata uang

165
emas yang dijahitkan dalam jaket.
“Jahitkan juga ini,” kata Haji Murat sambil menyerah-
kan uang emas yang baru diterimanya.
Eldar menerima uang itu, pergi ke tempat terang, dan
seketika itu juga mengambil pisau kecil dari bawah belati
dan mulai membelah lapisan jaket. Gamzalo bangkit, duduk,
bersila.
“Dan kamu, Gamzalo, suruh teman-temanmu periksa
senapan, pistol, siapkan amunisi. Besok kita pergi jauh,”
kata Haji Murat.
“Munisi ada, peluru ada. Beres,” kata Gamzalo, lalu
meneriakkan sesuatu yang tak bisa dimengerti.
Gamzalo mengerti untuk apa Haji Murat menyuruh
mengisi senapan. Dari mula ia hanya mengharapkan satu
hal saja, dan makin lama harapan itu makin kuat: mengha-
jar, memotong sebanyak mungkin anjing-anjing Rusia, dan
lari ke pegunungan. Dan sekarang ia melihat, itu juga yang
diinginkan oleh Haji Murat, maka puaslah ia.
Ketika Haji Murat pergi, Gamzalo membangunkan
kawan-kawannya dan berempat sepanjang malam itu
mereka memeriksa bedil, pistol, obat, batu api, mengganti
yang buruk, menuangkan mesiu yang baru ke rak, mengisi
kelongsong dengan mesiu yang sudah ditakar, dan dengan
peluru yang sudah dibungkus kain berminyak, mengasah
pedang dan belati serta meminyaki bilahnya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Menjelang fajar Haji Murat kembali masuk lorong,


mengambil air untuk bersuci. Dibandingkan semalam, dari
lorong itu makin keras terdengar suara burung-burung
bulbul sebelum fajar. Di kamar para pengawal terdengar
desir-desar teratur bunyi belati yang diasah pada batu.
Haji Murat menciduk air dari bak, dan sudah masuk kamar

166
sendiri, ketika dari kamar para muridnya, di samping bunyi
asahan belati, terdengar juga suara lengking Khane me-
nyanyikan lagu yang Haji Murat kenal. Haji Murat berhenti,
dan mulai mendengarkan.
Dalam lagu itu diceritakan bagaimana penunggang
kuda yang tangkas, Gamzat, bersama kawan-kawannya
melarikan kawanan kuda putih dari pihak Rusia. Kemudian
di sebelah sana Terem, seorang pangeran Rusia, berhasil
mengejarnya dan satu pasukan besar bak hutan menge-
pungnya. Kemudian nyanyian bercerita tentang bagaimana
Gamzat membunuh kuda-kuda itu, dan bersama kawan-
kawan berlindung di balik kuda-kuda yang telah terbunuh
dan terus bertempur melawan orang Rusia selagi peluru
masih ada dalam bedil, selagi belati masih ada di pinggang,
dan selagi darah masih ada dalam urat darah. Tapi sebelum
mati, Gamzat melihat burung-burung di langit, dan ia pun
berseru kepada burung-burung itu: “Hai, burung-burung
musiman, terbanglah kalian ke rumah kami dan sampai-
kan pada saudari-saudari, ibu-ibu, dan gadis-gadis putih
kami, bahwa kami semua mati demi khazawat. Katakan
pada mereka, tubuh kami takkan terbaring dalam kubur,
melainkan akan disobek-sobek dan tulang-tulang kami
akan dilahap serigala, dan mata kami akan dipatuk gagak-
gagak hitam.”
Lagu berakhir dengan kata-kata itu, dan dengan kata-
http://facebook.com/indonesiapustaka

kata terakhir yang dinyanyikan dengan sendu itu Khan


Magoma yang penggembira menggabungkan diri dengan
suara tegap, dan pada akhir lagu memekik keras: “La ilaha
ila Allah” dan ia menjerit tajam. Kemudian segalanya he-
ning, dan kembali yang terdengar hanya nyanyian burung
bulbul dari kebun dan desir-desar belati yang diasah ke

167
batu di balik pintu.
Haji Murat begitu tercenung, hingga tak dilihatnya
kendi sudah tertunduk dan air mengucurinya. Ia pun meng-
geleng-gelengkan kepala dan masuk ke kamarnya.
Usai membaca Alquran Haji Murat memeriksa se-
napannya dan duduk di tempat tidur. Tak ada lagi yang
mesti dilakukannya. Untuk keluar harus minta izin kepada
perwira polisi. Di luar masih gelap, sedang perwira polisi
masih tidur.
Lagu Khane itu mengingatkannya pada lagu lain yang
dibuat oleh ibunya. Lagu ini bercerita tentang kejadian yang
sesungguhnya, yaitu ketika Haji Murat baru saja dilahirkan,
seperti kemudian diceritakan ibunya kepadanya.
Beginilah bunyi lagu itu: “Belati baja menyobek payu-
daraku putih, dan aku tempelkan matariku padanya; aku
mandikan dia dengan darah hangatku, dan luka pun sembuh
tanpa jamu apa pun; aku tak takut mati, tidak juga nanti
anakku, penunggang kuda yang tangkas.”
Kata-kata lagu itu tertuju pada ayah Haji Murat, dan
makna lagu ialah bahwa ketika Haji Murat lahir, istri Khan
melahirkan juga anak lain, Umma Khan, dan ia minta ibu
Haji Murat yang pernah menjadi ibu susu anak pertama,
Abu Nuntsal untuk juga menjadi ibu susu Umma Khan.
Tapi Patimat tak mau meninggalkan anaknya sendiri, dan
bilang tak mau. Ayah Haji Murat marah dan memerintahkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

padanya. Ketika ibu Haji Murat tetap menolak, ayah Haji


Murat menikamnya, dan terbunuh kiranya ibu Haji Murat,
sekiranya tak diselamatkan orang. Begitulah, ia tidak me-
nyerahkan anaknya; ia menyusuinya sendiri, dan tentang
itulah dia membuat lagu itu.
Haji Murat teringat akan ibunya. Ketika ibunya me-

168
nyanyikan lagu itu untuk menidurkannya di samping dirinya
dengan berselimut jubah, di atas saklya, ia minta ibunya
memperlihatkan bekas luka di lambungnya itu. Ia melihat
ibunya seperti keadaan sesungguhnya dulu di hadapannya
—tidak, sudah kerut-merut, beruban dan rompal giginya
seperti ketika ia tinggalkan, tapi masih muda, cantik dan
kuat, hingga ketika umur Haji Murat sudah sekitar lima
tahun dan berat, ibunya itu mampu mendukungnya dalam
keranjang, melintas pegunungan untuk menemui kakek
Haji Murat.
Teringat juga olehnya kakeknya, pandai perak yang
sudah kerut-merut kulitnya, ubanan jenggotnya, ketika
kakeknya menempa perak dengan tangan berotot-otot, dan
memaksa cucunya itu berdoa. Teringat olehnya air mancur
di kaki gunung, ketika ia sambil berpegangan celana ibunya
pergi ke air mancur itu bersama ibunya untuk mengambil
air. Teringat juga olehnya anjing kurus yang menjilati
wajahnya, dan terutama bau dan rasa susu asam, ketika ia
berjalan menemui ibunya di gubuk tempat ibunya memerah
susu sapi dan kemudian menjerangnya. Teringat olehnya,
ketika ibunya untuk pertama kali mencukur rambutnya,
dan di baskom kuningan mengkilat yang tergantung di
dinding, dengan kagum ia melihat kepalanya sendiri yang
bulat membiru.
Dan karena teringat akan dirinya semasa kecil, ia pun
http://facebook.com/indonesiapustaka

teringat anak lelaki yang dicintainya, Yusuf, yang untuk per-


tama kali pun ia sendiri yang mencukurnya. Sekarang Yusuf
sudah menjadi pemuda tampan, penunggang kuda yang
tangkas. Ia teringat anak itu ketika terakhir kali ia melihat-
nya, yaitu pada hari ketika ia meninggalkan Tselmes. Yusuf
menyerahkan kuda padanya dan minta izin untuk mengan-

169
tarkannya. Anak itu sudah berpakaian dan bersenjata dan
memegang tali kekang kudanya. Wajah Yusuf yang tampan,
muda dan kemerahan, dan seluruh sosoknya yang tinggi
ramping (dia lebih tinggi daripada ayahnya) memancarkan
keberanian pemuda dan kegembiraan hidup. Bahunya yang
bidang, walau ia masih muda, pinggul pemudanya yang
lebar dan badannya yang kurus jangkung, tangannya yang
panjang kuat, kekuatannya, kelenturannya dan kecekatan-
nya dalam semua gerak, selalu menggembirakan sang ayah
yang selalu mengaguminya.
“Lebih baik kamu tinggal. Kamu sekarang sendiri di
rumah. Jaga ibu dan nenekmu,” kata Haji Murat.
Dan Haji Murat ingat ekspresi muda dan bangga yang
mewarnai sikap Yusuf, ketika dengan wajah memerah puas
ia mengatakan bahwa selama ia hidup, tak seorang pun
akan berbuat buruk terhadap ibu dan neneknya. Waktu itu,
bagaimanapun Yusuf tetap menaiki kudanya dan mengan-
tarkan ayahnya sampai kali. Dari kali ia kembali dan sejak
itu Haji Murat tak pernah lagi melihat istri, ibu, maupun
anak lelakinya.
Dan anak itulah yang akan dibikin buta oleh Shamil!
Haji Murat tak mau memikirkan, apa yang akan orang
lakukan dengan istrinya.
Pikiran-pikiran itu demikian menggelisahkan Haji
Murat, hingga ia tak dapat lagi duduk. Ia pun melompat,
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan dengan langkah pincang cepat menghampiri pintu,


dan sesudah membukanya ia berseru memanggil Eldar.
Matahari belum terbit, tapi hari sudah terang benar. Burung
bulbul belum juga berhenti bernyanyi.
“Sampaikan sana pada perwira polisi, aku ingin jalan-
jalan; pelanai kuda-kuda itu,” katanya.

170
XXIV
Satu-satunya hiburan bagi Butler waktu itu adalah puisi
perang yang mengasyikkannya tidak hanya dalam dinas,
tapi juga dalam kehidupan pribadinya. Dengan mantel
Kaukasus ia mendompak di punggung kudanya. Dua kali
ia bersama Bogdanovich melakukan penghadangan, walau
untuk kedua kalinya itu tak ada yang terhadang, dan tak
seorang pun mereka bunuh. Keberanian dan persahabatan
dengan Bogdanovich yang terkenal sebagai pemberani itu,
entah kenapa terasa menyenangkan dan penting olehnya.
Hutang sudah ia bayar dengan meminjam uang dari orang
Yahudi dengan bunga tinggi, artinya ia hanya menunda
dan menjauhkan diri dari keadaan gawat itu. Ia berusaha
tak memikirkan keadaannya, dan kecuali dengan puisi
perang, ia pun berusaha juga berlupa dengan minuman.
Makin lama makin banyak ia minum, dan dari hari ke hari
semakin melemah susilanya. Dia sekarang bukan lagi Yosif
yang baik dalam hubungan dengan Maria Dmitriyevna,
sebaliknya menjadi kasar dalam mencumbu; tapi heran
ia bahwa dirinya ditolak tegas, satu hal yang membuatnya
sangat malu.

Akhir bulan April datang di benteng itu kesatuan yang


oleh Baryatinskii, ditugaskan melaksanakan gerakan baru
http://facebook.com/indonesiapustaka

memintasi seluruh Chechnya yang dianggap tidak tertem-


bus. Kesatuan terdiri dari dua kompi resimen Kabardinskii,
dan kedua kompi itu menurut kebiasaan yang berlaku di
Kaukasus diterima sebagai tamu oleh kompi-kompi yang
bermarkas di benteng Kurinskii. Para prajurit ditempatkan
di asrama-asrama dan disuguh tidak hanya makan malam,

171
bubur, daging ham, tapi juga wodka, sedang para perwira
ditempatkan di rumah para perwira dan sebagaimana la-
yaknya, para perwira sini menyuguh para perwira yang
baru datang.
Suguhan diakhiri dengan minum-minum dan nyanyi-
nyanyi, dan Ivan Matveyevich yang mabuk berat sudah
tidak hanya merah, tapi sudah pucat-kelabu. Ia duduk di
kursi yang menghadap ke belakang dan dengan pedangnya
ia menebas-nebas musuh bayangan. Kadang ia memaki,
kadang ketawa terbahak, kadang ia memeluk, kadang
menandak dengan iringan lagu yang disayanginya: “Shamil
mulai berontak tahun-tahun lalu, tra-la-la, tahun-tahun
lalu.”
Butler ada di situ juga. Ia mencoba menganggap itu
juga sebagai puisi perang, tapi di lubuk hatinya ia kasihan
pada Ivan Matveyevich, namun untuk menghentikannya
tidak ada kemungkinan. Ketika akhirnya merasa puyeng,
diam-diam ia pun keluar dan pulang.
Bulan purnama menyinari rumah-rumah putih dan
batu-batuan jalan. Suasana demikian terang hingga setiap
batu, jerami, kotoran, tampak belaka di jalan. Mendekati
rumah, Butler bertemu dengan Maria Dmitriyevna yang
mengenakan kerudung penutup kepala dan bahunya.
Sesudah mendapat penolakan dari Maria Dmitriyevna,
Butler sedikit menahan diri dan menghindari pertemuan
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengannya. Tapi sekarang, di tengah sinar bulan, dan akibat


minum, Butler merasa senang dengan pertemuan itu dan
ingin lagi bersikap mesra kepadanya.
“Anda ke mana?” tanyanya.
“Melihat si tua saya,” jawab Maria Dmitriyevna ra-
mah.

172
Maria Dmitriyevna betul-betul jujur dan tegas menolak
cumbuan Butler, tapi ia merasa kurang enak bahwa akhir-
akhir itu Butler menghindarinya.
“Untuk apa dilihat, sebentar dia datang.”
“Betul, ya?”
“Kalau tak datang, ya diangkut.”
“Itu dia, kurang baik juga,” kata Maria Dmitriyevna.
“Jadi, tak perlu ke sana?”
“Tidak, tidak perlu. Lebih baik kita pulang.”
Maria Dmitriyevna berbalik dan berjalan pulang di
samping Butler. Bulan bersinar begitu terang hingga di
sekitar bayangan yang bergerak di dekat jalan bergerak juga
sinar di sekitar kepala. Butler melihat sinar di sekitar kepala-
nya dan hendak mengatakan kepada Maria Dmitriyevna
bahwa ia tetap senang dengan Maria Dmitriyevna, tapi tak
tahu ia bagaimana mulai. Maria Dmitriyevna menunggu
apa yang akan dikatakan Butler. Begitulah, tanpa membuka
mulut mereka sampai dekat sekali ke rumah, dan justru
ketika itu dari tikungan muncul orang-orang berkuda, yaitu
seorang perwira dengan pengiringnya.
“Siapa pula ini?” kata Maria Dmitriyevna sambil ming-
gir.
Bulan bersinar ke belakang orang-orang yang baru
datang, hingga Maria Dmitriyevna baru mengenalinya ke-
tika orang-orang itu sudah sejajar dengan mereka. Orang itu
http://facebook.com/indonesiapustaka

adalah perwira Kamenev yang dulu berdinas bersama Ivan


Matveyevich, jadi Maria Dmitriyevna mengenalnya.
“Pyotr Nikolayevich, Anda, ya?” kata Maria Dmitri-
yevna.
“Siapa lagi?” kata Kamenev. “A, Butler! Selamat malam!
Belum tidur, ya? Jalan-jalan sama Maria Dmitriyevna? Hati-

173
hati dihajar sama Ivan Matveyevich. Di mana dia?”
“Itu, Anda dengar sendiri,” kata Maria Dmitriyevna
sambil menunjuk ke arah datangnya bunyi tulumbas dan
lagu. “Mereka lagi foya-foya.”
“Itu orang-orang Anda yang foya-foya?”
“Bukan, baru datang dari Khasav-Yurt, dan itu mereka
dipestakan.”
“A, bagus juga. Kalau begitu saya masih keburu. Saya
perlu dia cuma sebentar.”
“Ada urusan, ya?” tanya Butler.
“Sedikit.”
“Baik atau buruk?”
“Tergantung! Untuk kami baik, untuk orang lain bisa
buruk,” Kamenev ketawa.
Waktu itu mereka yang berjalan kaki maupun Kamenev
sudah sampai rumah Ivan Matveyevich.
“Chikhirev!” seru Kamenev pada seorang Kazak. “Coba
sini.”
Kazak Don maju ke depan dari yang lain-lain. Kazak
itu memakai seragam Don yang biasa, memakai sepatu luar,
baju mantel, dan ada kantong pelana.
“Mana barang itu?” kata Kamenev sambil turun dari
kudanya.
Kazak turun juga dari kuda dan mengeluarkan dari
kantong pelananya karung berisi sesuatu. Kamenev meng-
http://facebook.com/indonesiapustaka

ambil karung dari tangan Kazak dan memegangnya.


“Mau ditunjukkan beritanya? Anda tak takut?” katanya
pada Maria Dmitriyevna.
“Takut apa pula,” kata Maria Dmitriyevna.
“Ini dia,” kata Kamenev sambil mengambil kepala ma-
nusia dan memperlihatkannya di sinar bulan. “Ngenali?”

174
Barang itu adalah kepala yang tercukur, dengan teng-
korak besar menjorok ke depan di atas mata, dengan jeng-
got hitam terpangkas dan kumis terpangkas juga, dengan
sebelah mata terbuka dan sebelah lagi setengah tertutup.
Tengkorak itu sebagian terpotong dan sebagian lagi tak
sampai terpotong, dengan hidung berlumur darah hitam
mengental. Leher terikat anduk berlumur darah. Walau
kepala itu penuh luka, pada lipatan bibirnya yang membiru
terpancar keramahan bernada kekanakan.
Maria Dmitriyevna memperhatikan dan tanpa me-
ngatakan apa-apa ia pun menoleh dan berjalan cepat
menuju rumah.
Butler tak dapat melepaskan pandangan dari kepala
yang mengerikan itu. Itulah kepala Haji Murat. Padahal
belum lama ia bersamanya dan bercakap-cakap dalam
suasana begitu bersahabat.
“Apa yang terjadi? Siapa yang membunuhnya? Di
mana?” tanyanya.
“Mau lari. Tertangkap,” kata Kamenev dan menyerah-
kan kepala itu kepada Kazak, lalu ia masuk rumah bersama
Butler.
“Dan mati dengan gagah berani,” kata Kamenev.
“Bagaimana kejadiannya?”
“Tunggu dulu sampai Ivan Matveyevich datang, nanti
akan saya ceritakan rinci. Untuk itu saya dikirim ke sini.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Akan saya bawa ke semua benteng, semua aul, dan akan


saya ceritakan.”
Dikirimlah orang untuk menjemput Ivan Matveyevich,
dan Ivan Matveyevich pun datang dalam keadaan mabuk,
bersama dua perwira yang juga mabuk berat. Ia peluk Ka-
menev.

175
“Saya ada perlu dengan Anda,” kata Kamenev. “Bawa
kepala Haji Murat.”
“Bohong! Dibunuh?”
“Ya, mau lari.”
“Saya sudah bilang, dia akan menipu. Mana dia? Ke-
pala itu? Coba tunjukkan.”
Orang memanggil Kazak, dan Kazak membawa karung
berisi kepala itu. Kepala dikeluarkan, dan Ivan Matviyevich
dengan mata mabuk lama memandanginya.
“Tapi bagaimanpun ia gagah berani,” katanya. “Biar
saya cium dia.”
“Ya, benar, ini memang kepala yang berani,” kata
seorang dari para perwira.
Ketika semua sudah melihatnya, kepala itu pun dikem-
balikan kepada Kazak. Kazak memasukkannya ke dalam
karung dan mencoba meletakkannya dengan sesedikit
mungkin membentur lantai.
“Tapi, Kamenev, kenapa kamu ulang-ulang perkata-
anmu waktu memperlihatkan?” kata seorang perwira.
“Tidak, biar saya cium dia. Dia sudah menghadiahi
saya pedang,” teriak Ivan Matveyevich.
Butler masuk ke beranda. Maria Dmitriyevna duduk di
anak tangga kedua. Ia menoleh kepada Butler, tapi seketika
juga melengos dengan nada marah.
“Ada apa, Maria Dmitriyevna?” tanya Butler.
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Kalian semua ini bajingan. Muak aku. Betul-betul


bajingan,” katanya sambil bangkit.
“Bisa jadi juga dengan yang lain-lain,” kata Butler, tak
tahu apa yang hendak dikatakannya. “Itu karena perang.”
“Perang!” pekik Maria Dmitriyevna. “Perang macam
apa? Bajingan semua, itu saja. Mayat mesti dikubur, tapi

176
ini mereka ketawakan. Betul-betul bajingan,” ulangnya
sambil turun dari beranda dan masuk rumah lewat pintu
belakang.
Butler kembali ke kamar tamu dan minta Kamenev
menceritakan secara rinci bagaimana kejadiannya. Dan
Kamenev pun bercerita. Kejadiannya itu demikian.

XXV
Haji Murat mendapat izin jalan-jalan berkuda di dekat kota,
dan tentu saja dengan pengawalan orang Kazak. Orang Ka-
zak di Nukha seluruhnya berjumlah lima puluh orang. Dari
jumlah itu dipilih sepuluh orang dengan komandan masing-
masing, jadi kalau mereka ditugaskan seperti diperintahkan,
yaitu tiap kali sepuluh orang, terpaksa dua hari sekali mesti
bertugas. Karena itu pada hari pertama dikirim sepuluh
Kazak, tapi kemudian diputuskan tiap kali dikirim lima
orang saja, dan Haji Murat diminta untuk tidak membawa
serta semua pengawalnya. Namun pada 25 April Haji Murat
pergi jalan-jalan dengan membawa kelima orang pengawal-
nya. Pada waktu Haji Murat menaiki kudanya, komandan
tentara melihat kelima pengawal itu bersiap pergi dengan
Haji Murat, dan ia mengatakan pada Haji Murat bahwa ia
http://facebook.com/indonesiapustaka

tidak diizinkan membawa serta semua pengawal, tapi Haji


Murat seolah tak mendengar dan terus memberangkatkan
kudanya, dan pimpinan tentara pun tidak mendesaknya
lagi. Di antara orang Kazak terdapat polisi desa dari garda
Georgiyevskii yang berambut pirang potong batok, masih
muda, sehat kemerahan kulitnya, namanya Nazarov. Dia

177
anak sulung keluarga konservatif miskin, yang dibesarkan
tanpa ayah dan harus memberi makan ibunya yang sudah
tua bersama tiga anak perempuan dan dua adik lelakinya.
“Hati-hati, Nazarov, jangan biarkan terlalu jauh!” seru
komandan tentara.
“Siap, Yang Mulia,” jawab Nazarov, dan sesudah men-
jejakkan kaki pada sanggurdi, ia pun menduakan kuda kebiri
yang berhidung bengkok, berules pirang, perkasa dan besar
tubuhnya itu, sambil memanggul bedilnya. Empat Kazak
mengikuti di belakangnya: Ferapontov yang jangkung kurus,
tukang catut dan pencuri nomor satu yang pernah menjual
munisi kepada Gamzalo; Ignatov yang sudah kelewat lama
dinas, sudah tidak lagi muda, tapi sehat, yang selalu mem-
banggakan kekuatan siknya; Mishkin, anak muda yang
lemah badan dan selalu diketawakan oleh semua yang lain;
dan Petrakov, anak tunggal, pirang rambutnya, yang selalu
riang dan bersahabat sikapnya.
Sejak pagi kabut mengambang, tapi menjelang makan
pagi cuaca berubah dan matahari bersinar ke dedaunan yang
baru saja mengembang, ke rerumputan yang masih muda,
ke tanaman gandum yang baru saja bersemi, dan ke riak
kencang air sungai yang tampak di kiri jalan.
Kuda Haji Murat berjalan melangkah. Para Kazak
dan para pengawal mengikuti di belakangnya, berusaha
untuk tidak ketinggalan darinya. Mereka berpapasan de-
http://facebook.com/indonesiapustaka

ngan perempuan-perempuan yang mendukung keranjang,


prajurit-prajurit yang menunggang gerobak, dan cikar
yang dihela sapi. Sesudah sekitar dua werst, Haji Murat
memacu kuda Kabardin putihnya; ia jalan demikian cepat,
hingga para pengawal jalan mendua lebar-lebar. Para Kazak
mengikuti.

178
“Uh, memang bagus kudanya,” kata Ferapontov.
“Kalau pada masa itu, waktu masih musuh, pasti sudah
kuturunkan dia.”
“Ya, kawan, untuk kuda itu orang berani bayar tiga
ratus rubel di Ti is.”
“Tapi dengan kudaku ini kesusul dia,” kata Nazarov.
“Tentu, mesti kamu susul,” kata Ferapontov. “Haji
Murat nambah kecepatan.”
“Ei, kunak, tidak boleh begitu. Lambat sedikit!” teriak
Nazarov sambil mengejar Haji Murat.
Haji Murat menoleh dan tanpa mengatakan apa pun
ia melanjutkan jalan seperti tadi, tanpa mengurangi ke-
cepatan.
“Awas, mau apa setan-setan itu?” kata Ignatev. “Lihat
itu, dipacunya.”
Begitulah mereka berjalan sampai satu werst arah ke
pegunungan.
“Saya bilang, tidak boleh!” teriak Nazarov lagi. Haji
Murat tidak menjawab dan tidak menoleh, hanya lebih
menambah kecepatan lagi, dan dari jalan biasa ia beralih
ke mencongklang.
“Percuma, tak akan lolos kamu!” teriak Nazarov yang
merasa tersinggung.
Ia cambuk kuda kebiri pirang yang besar itu, lalu sam-
bil berdiri pada sanggurdi dan sambil membungkuk ia pacu
http://facebook.com/indonesiapustaka

sekuat-kuatnya kuda itu mengejar Haji Murat.


Langit begitu terang, udara begitu segar, dan daya
hidup begitu riang bermain dalam jiwa Nazarov ketika
ia—bersatu jiwa dengan kuda yang kuat dan perkasa itu
—terbang di jalan yang rata menyusul Haji Murat, hingga
sama sekali tak terpikir olehnya kemungkinan terjadinya

179
hal yang buruk, entah yang menyedihkan entah pun yang
mengerikan. Ia hanya gembira bahwa setiap congklangan-
nya semakin mendekatkannya pada Haji Murat. Dari derap
kuda besar Kazak yang semakin menghampirinya, Haji
Murat membayangkan bahwa tak lama lagi ia akan terkejar,
karena itu dengan tangan kanan ia cabut pistol, dan dengan
tangan kiri agak ia hambat kuda Kabardin yang sudah naik
darah mendengar derap kuda di belakangnya.
“Tidak boleh, saya bilang!” teriak Nazarov ketika ia
sudah hampir menyusul Haji Murat dan mengulurkan ta-
ngan untuk menangkap tali kekang Haji Murat. Tapi belum
sempat ia menangkap tali kekang, sudah terdengar bunyi
tembakan.
“Apa ini kaubikin?” teriak Nazarov sambil mencekam
dadanya. “Hajar dia, kawan-kawan,” ujarnya, lalu terhuyung
dan roboh ke pegangan pelana.
Tapi orang-orang pegunungan itu lebih cepat daripada
orang-orang Kazak dan menembak mereka dengan pistol
dan menebasnya dengan pedang. Nazarov bergantung pada
leher kuda yang mendukungnya dengan ketakutan di dekat
teman-temannya. Kuda yang dinaiki Igantov ambruk me-
nimpa sebelah kakinya. Dua orang pegunungan mencabut
pedang dan tanpa turun dari kudanya melukai kepala dan
kedua tangannya. Petrakov menyerbu hendak menolong
temannya, tapi seketika itu meletus dua tembakan, satu
http://facebook.com/indonesiapustaka

mengenai punggung, satu lagi mengenai pinggang, dan ia


pun terjungkal dari kuda seperti karung.
Mishkin membalikkan kudanya dan mencongklang ke
benteng. Khane dan Khan Magoma mengejar Mishkin, tapi
Mishkin sudah jauh di depan, dan orang pegunungan pun
tak dapat menyusulnya.

180
Melihat bahwa mereka tak dapat lagi menyusul Kazak
itu, Khane dan Khan Magoma pun kembali mendapatkan
kawan-kawannya. Gamzalo menikam Ignatov dengan belati,
membunuh juga Nazarov dan menjatuhkannya dari kuda.
Khan Magoma mengambil kantong peluru mereka yang
sudah dibunuh. Khane mau mengambil kuda Nazarov, tapi
Haji Murat berseru kepadanya tidak usah, dan terus jalan
ke depan. Para murid mencongklang mengikutinya sambil
menghalau kuda Petrakov yang berlari mengejar mereka.
Mereka sudah sampai sekitar tiga werst dari Nukha di te-
ngah ladang padi, ketika terdengar tembakan dari menara,
yang berarti tanda bahaya.
Petrakov terbaring telentang dengan perut terbelah,
wajahnya yang muda menatap langit, dan ia sekarat seperti
ikan megap-megap.
“Masya Allah, apa yang sudah mereka lakukan!” seru
komandan benteng sambil mencekam kepalanya, ketika ia
tahu tentang larinya Haji Murat. “Di mana otak mereka!
Dibiarkan lolos, perampok-perampok itu!” teriaknya ketika
mendengar laporan Mishkin.
Tanda bahaya diberikan di mana-mana; tidak hanya
semua Kazak yang ada dikirim untuk mengejar mereka
yang lari, tapi dikumpulkan juga semua orang yang bisa
dikumpulkan, milisi dari aul-aul yang tentram. Diumumkan
hadiah seribu rubel bagi siapa yang dapat membawa Haji
http://facebook.com/indonesiapustaka

Murat, hidup atau mati. Dan dua jam sesudah Haji Murat
dan kawan-kawan melarikan diri dari orang Kazak, lebih
dari dua ratus orang berkuda mencongklang mengikuti
perwira polisi untuk mencari dan menangkap mereka yang
lari.
Sesudah menempuh jarak beberapa werst menyusur

181
jalan besar, Haji Murat mengerem kuda putihnya yang berat
napasnya dan sudah menjadi kelabu warnanya karena ke-
ringat, dan berhenti. Di kanan jalan tampak saklya-saklya
dan menara aul Belarjik, di kiri ladang dan di ujungnya
tampak sungai. Sekalipun jalan ke pegunungan menuju ke
kanan, Haji Murat membelok ke arah yang berlawanan,
ke kiri, dengan anggapan bahwa pengejaran terhadapnya
justru ke kanan. Dengan menyeberangi Sungai Alazan ia
akan sampai ke jalan besar, di mana ia takkan ditunggu
siapa pun, dan dengan menelusuri jalan itu ia akan sampai
hutan, dan sesudah itu kembali menyeberangi sungai dan
lewat hutan ia akan sampai pegunungan. Sesudah memu-
tuskan rencana itu, ia pun membelok ke kiri. Tetapi ternyata
mustahil mencapai sungai. Sawah yang harus dilewatinya,
seperti selalu terjadi di musim semi, baru saja digenangi
air dan berubah menjadi lumpur sedalam lebih dari tulang
kering kuda. Haji Murat dan para pengawalnya membelok
ke kanan, ke kiri, dengan harapan menemui tempat yang
lebih kering, tapi sawah yang ditemuinya sama saja sudah
diairi dan kini tergenang air. Kuda-kuda menarik kakinya
yang tenggelam dalam lumpur liat dengan bunyi berkecipak
seperti terlepasnya sumbat, dan sesudah lewat beberapa
langkah, berhenti dengan napas ngos-ngosan.
Begitu lama mereka berjuang hingga hari mulai gelap,
tapi belum juga mereka mencapai sungai. Di sebelah kiri
http://facebook.com/indonesiapustaka

terdapat rumpun belukar dengan dedaunan kecil yang


rimbun. Haji Murat memutuskan memasuki belukar itu
dan sesudah memberikan istirahat pada kuda-kudanya yang
letih, menginap di sana.
Begitu masuk belukar, Haji Murat dan para pengawal
turun dari kudanya, dan sesudah mengikat kaki kuda-kuda

182
itu, membiarkan mereka makan, sedang mereka sendiri
makan roti dan keju yang mereka bawa. Bulan muda yang
semula bersinar, kini berlindung di balik pegunungan dan
malam jadi gelap. Burung bulbul di Nukha cukup banyak.
Dua ekor di antaranya ada dalam belukar itu. Ketika Haji
Murat dan orang-orangnya ribut memasuki belukar, bu-
rung-burung itu terdiam. Tetapi ketika mereka sudah tak
mengeluarkan bunyi, kembali burung-burung itu ramai
bersahutan. Haji Murat yang mendengar-dengarkan suara
malam, tanpa disengaja mendengar suara burung-burung
itu.
Dan bunyi burung-burung itu mengingatkannya pada
lagu tentang Gamzat yang semalam ia dengar, ketika ia
mengambil air. Setiap saat kini ia bisa berada dalam keadaan
seperti dialami Gamzat. Terpikir olehnya bahwa itulah
yang akan terjadi, dan tiba-tiba hatinya jadi bersungguh-
sungguh. Ia tebarkan burka di tanah, dan ia baca Alquran.
Belum lagi selesai, sudah terdengar olehnya bunyi-bunyian
mendekati belukar. Itu adalah bunyi sejumlah besar kaki
kuda yang berkecipak di dalam lumpur. Khan Magoma yang
tajam penglihatannya, begitu berlari ke satu tepi belukar
melihat di kegelapan bayang-bayang hitam orang berkuda
dan orang berjalan mendekati belukar. Khane melihat
gerombolan serupa dari arah yang lain. Itu adalah Karganov,
komandan tentara uyezd dengan para milisinya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

“Yah, harus berjuang seperti Gamzat,” pikir Haji


Murat.
Begitu tanda bahaya diberikan, Karganov dengan se-
ratus milisi dan Kazak mulai mengejar Haji Murat, tapi di
mana pun tak ia menemukan Haji Murat maupun jejaknya.
Karganov dengan putus asa sudah kembali pulang, ketika

183
menjelang malam ia bertemu dengan seorang Tartar tua.
Karganov bertanya, apakah orang Tartar itu melihat enam
orang berkuda. Orang tua menjawab, melihat. Ia melihat
keenam orang itu berputar-putar di sawah dan kemudian
masuk belukar, di mana mereka mengumpulkan kayu ba-
kar. Karganov mengajak orang tua itu dan kembali. Melihat
kuda-kuda yang diikat kakinya ia pun yakin bahwa Haji
Murat ada di situ. Malam itu juga ia kepung belukar itu,
dan ia tunggu pagi untuk menangkap Haji Murat hidup
atau mati.
Mengerti dirinya dikepung, Haji Murat memeriksa
parit tua di tengah belukar, dan memutuskan bersarang di
situ dan melakukan perlawanan sementara ada peluru dan
tenaga. Tentang itu ia sampaikan kepada kawan-kawannya,
dan ia perintahkan mereka membuat kubu di dalam parit
itu. Dan para pengawal seketika itu mulai memotong de-
dahanan, menggali tanah dengan belati, membuat tanggul.
Haji Murat kerja bersama mereka.
Begitu hari mulai terang komandan milisi naik kuda
mendekati belukar, dan berseru:
“Hai, Haji Murat! Menyerahlah! Kami banyak, dan
kalian sedikit.”
Sebagai jawabannya, di atas parit muncul asap, ber-
dentum bunyi bedil, dan peluru mengenai kuda milisi; kuda
terhuyung bersama komandan milisi dan ambruk. Sesudah
http://facebook.com/indonesiapustaka

itu berdentuman bedil para milisi yang berdiri di tepi belu-


kar. Peluru mereka berdesing dan berdengung menerabas
dedaunan dan rerantingan dan jatuh ke kubu, tapi tidak
mengenai orang-orang yang ada di balik kubu. Hanya seekor
kuda Gamzalo yang lepas terkena peluru. Kuda itu terluka
di kepala. Ia jatuh, tapi sesudah merenggutkan tonggak

184
dan menerjang belukar, ia menyurukkan diri ke kuda-kuda
lainnya, dan dengan menghimpitkan badan kepada mereka,
ia basahi rerumputan muda dengan darahnya. Haji Murat
dan orang-orngnya hanya menembak waktu ada di antara
milisi yang maju ke depan, dan tembakan mereka jarang
meleset. Tiga orang milisi terluka, dan para milisi tidak
hanya tidak memutuskan untuk menyerbu Haji Murat dan
kuda-kudanya, tapi juga semakin jauh dari mereka dan
menembak hanya dari jauh, secara acak.
Begitulah berlangsung sampai lebih dari sejam. Ma-
tahari naik setengah pohon, dan Haji Murat sudah terpikir
akan menaiki kudanya dan mencoba menerobos ke sungai,
ketika terdengar pekik rombongan besar yang baru datang.
Itu adalah Gaji Aga Mekhtulinskii bersama orang-orangnya.
Jumlah mereka dua ratus orang. Gaji Aga pernah menjadi
kunak Haji Murat dan hidup dengannya di pegunungan, tapi
kemudian menyeberang kepada orang Rusia. Bersamanya
adalah Akhmet Khan anak musuh Haji Murat. Seperti
halnya Karganov, Gaji Aga mulai dengan berseru kepada
Haji Murat supaya menyerah, tapi seperti tadi, Haji Murat
menjawab dengan tembakan.
“Cabut pedang, kawan-kawan!” seru Gaji Aga sambil
mencabut pedang sendiri dan berkumandanglah suara ra-
tusan orang yang sambil bersorak menyerbu ke belukar.
Para milisi berlari ke belukar, tapi dari balik kubu ber-
http://facebook.com/indonesiapustaka

turut-turut berdentum beberapa tembakan. Ada tiga orang


jatuh, para penyerang berhenti, dan dari pinggir belukar pun
orang mulai menembak. Mereka menembak-nembak dan
bersamaan itu sedikit demi sedikit mendekati kubu, berlari
dari semak yang satu ke semak lainnya. Sebagian berhasil
mencapai semak itu, sebagian lagi menjadi sasaran peluru

185
Haji Murat dan orang-orangnya. Haji Murat menembak
tanpa meleset, seperti juga Gamzalo yang jarang buang
tembakan percuma, dan tiap kali menjerit riang bahwa
pelurunya mengena. Kurban bersarang di ujung parit dan
menyanyikan “La ilaha ila Allah”, dan menembak tanpa
tergesa-gesa, tapi jarang mengena. Adapun Eldar dengan
badan menggeletar karena tak sabar untuk menyerbu ke
arah musuh dengan belatinya, sering menembak dan kalau
mengena tak henti-henti ia menoleh kepada Haji Murat dan
melongok ke luar kubu. Khane yang gondrong dengan le-
ngan baju tersingsing di sini pun bertindak sebagai pelayan.
Ia mengisi senapan yang diulurkan padanya oleh Haji Murat
dan Kurban, dengan sungguh-sungguh memasukkan pe-
lantak besi ke dalam lubang peluru yang sudah diminyaki
dan menuangkan mesiu kering dari sebuah tabung ke dalam
kelongsong peluru. Adapun Khan Magoma tidak duduk se-
perti yang lain-lain, melainkan berpindah-pindah dari parit
ke kuda dan menghalau kuda-kuda itu ke tempat yang lebih
aman, dan tidak henti-henti ia memekik dan menembak.
Dialah yang pertama kali terluka. Peluru mengenai lehernya,
dan ia duduk mundur sambil meludah darah dan memaki.
Yang kedua terluka Haji Murat. Peluru melanda bahunya.
Ia sobek kain kapas dari jaketnya, ia sumbatkan ke lukanya,
dan terus menembak.
“Serbu dengan pedang,” kata Eldar untuk ketiga ka-
http://facebook.com/indonesiapustaka

linya.
Ia muncul dari balik kubu, siap untuk menyerbu musuh,
tapi pada saat itu peluru menerjangnya dan ia pun oleng dan
jatuh telentang di kaki Haji Murat. Haji Murat menolehnya.
Mata Eldar yang indah seperti mata domba memandang
tetap dan sungguh-sungguh pada Haji Murat. Mulut yang bi-

186
bir atasnya monyong macam bibir anak-anak itu menyentak,
dan tidak membuka lagi. Haji Murat melepaskan diri dari
kaki Eldar dan terus membidik. Khane membungkuk ke
badan Eldar yang terbunuh dan cepat mengambil amunisi
yang belum ditembakkan dari jubahnya. Kurban sementara
itu terus menyanyi sambil pelan-pelan memasukkan peluru
dan membidikkan senapannya.
Musuh yang berlari dari semak ke semak sambil
memekik dan berteriak makin lama makin mendekat.
Satu lagi peluru mengenai lambung kanan Haji Murat. Ia
baringkan badan ke parit, dan sekali lagi ia sobek sepotong
kain kapas dari jaketnya dan ia sumbatkan ke lukanya. Luka
pada lambung itu fatal dan ia pun merasa dirinya sedang
sekarat. Kenangan dan gambaran satu demi satu melintas
cepat dalam angannya. Sekali ia melihat di depan matanya
si perkasa Abununtsal Khan, yang sambil memegang pipi-
nya yang tertebas dan menggelantung, menyerbu musuh
dengan belati di tangan; kali lain ia melihat Vorontsov
tua yang lemah tak berdarah dengan wajahnya yang putih
licik, dan mendengar suaranya yang empuk; kali lain lagi
ia melihat anak lelakinya Yusuf, istrinya So at, wajah mu-
suhnya Shamil yang pucat dengan jenggotnya yang kelabu
dan matanya yang dipicingkan.
Dan semua kenangan itu melintas dalam angannya
tanpa menimbulkan perasaan apa pun padanya: kasihan,
http://facebook.com/indonesiapustaka

atau benci, atau keinginan apa pun. Semua itu terasa begitu
tak berarti dibandingkan dengan apa yang mulai dan sudah
mulai terjadi dengannya. Sementara itu tubuhnya yang per-
kasa meneruskan apa yang sudah dimulainya. Ia kerahkan
kekuatan terakhir, bangkit dari balik kubu dan menembak
dengan pistol orang yang berlari ke arahnya, dan mengena.

187
Orang itu jatuh. Kemudian ia keluar sama sekali dari lubang,
dan dengan belatinya berjalan lurus dengan terpincang-pin-
cang, menyambut musuh. Berdentum beberapa tembakan
dan ia pun terhuyung dan jatuh. Beberapa milisi dengan
sorak kemenangan menyerbu tubuh yang telah jatuh itu.
Tetapi tubuh yang kelihatannya sudah mati itu tiba-tiba
bergerak. Mula-mula kepala yang bercukur, tanpa kopiah,
dan berlumur darah itu bangkit, kemudian bangkit juga
sosok tubuhnya, dan dengan berpegangan pada sebatang
pohon ia bangkit sepenuhnya. Ia tampak begitu mengerikan,
hingga orang-orang yang datang berlari ke arahnya terhenti.
Tapi tiba-tiba ia menggetar, melesat dari pohon dan seutuh
tubuhnya jatuh tengkurap seperti pulutan terbajak, dan
tidak bergerak lagi.
Ia tak bergerak, tapi masih merasa. Ketika Gaji Aga
yang pertama berlari ke arahnya menebas kepalanya dengan
belati besar, ia merasa seperti dihantam kepalanya dengan
palu, dan ia tak mengerti, siapa yang melakukan dan kenapa
ia lakukan itu. Itulah kesadaran terakhirnya sehubungan
dengan tubuhnya. Sudah itu ia tak merasakan apa pun, dan
musuh menginjak-injak dan menyembelihnya, yang tak ada
hubungan sama sekali dengan dirinya. Gaji Aga menginjak
punggungnya dan dengan dua bacokan memotong kepala-
nya, dan dengan hati-hati agar tidak mengotori selopnya
dengan darah, menggelindingkannya dengan kakinya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Darah merah menyembur dari urat leher dan darah hitam


dari kepala, dan membasahi rumput.
Baik Karganov, Gaji Aga, Akhmet Khan maupun semua
milisi seperti pemburu menghadapi binatang buruan yang
sudah terbunuh, berkerumun di atas tubuh Haji Murat dan
orang-orangnya (Khane , Kurban dan Gamzalo diikat), dan

188
berdiri-diri di dalam belukar yang penuh dengan asap mesiu
sambil berceloteh dengan riang menyambut kemenangan
mereka.
Burung bulbul yang tadi terdiam waktu terjadi tembak-
menembak kembali berbunyi, semula seekor yang dekat,
dan kemudian yang lain-lain di ujung terjauh.
Kematian inilah yang mengingatkan saya pada pulutan
yang terbajak di tengah ladang.
http://facebook.com/indonesiapustaka

189
Daftar kata-kata lokal
Aiya - ya.
Aul - tempat pemukiman di Kaukasus dan Asia
Tengah.
Bar - Ada, punya.
Baranchuk - anak.
Burka - jas panjang sampai lutut dari kain lakan tipis
dengan bulu domba.
Chur - sejenis roti yang digiling tipis.
Iok - tidak, tidak ada.
Kafta - baju panjang dengan ikatan di pinggang.
Khan - pemimpin orang Tartar.
Khansha - khan perempuan.
Kinez - knyaz (pangeran) menurut ucapan orang
Chechnya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Kizyak - kotoran hewan yang dipadatkan, sebagai


bahan bakar di daerah padang rumput di
selatan dan timur Rusia.
Kumgan - semacam kobokan.
Kunak - saudara, kawan.
Makhorka - rajangan batang pohon tembakau.

190
Marushka - istri.
Nye - baru.
Papiros - sigaret Rusia berbentuk pipa kertas yang
ujungnya berisi tembakau.
Peshkesh - (orang) baik.
Pilgish - sejenis kue dari tepung.
Rubel - satuan uang Rusia, satu rubel sama dengan
seratus kopek.
Saklya - rumah petani di Kaukasus.
Sardar - serdar, panglima tertinggi.
Sazhen - ukuran panjang, setara dengan 2.134 m.
Sharovar - celana longgar wanita.
Tulumbas - sejenis rebana.
Uyezd - daerah administratif setingkat kabupaten.
Werst - ukuran jauh, setara dengan 1,06 kilometer.
Yakshi - baik.
[:]
http://facebook.com/indonesiapustaka

191
http://facebook.com/indonesiapustaka
Tidak dapat disangsikan bahwa Tolstoi adalah patriot bangsanya. Secara
sukarela ia terjun dalam Perang Krim (1853-1856) melawan Turki yang
dibantu oleh Inggris, Perancis, dan Sardinia. Pengalaman dalam perang
ini kemudian ia bukukan dalam Sebastopolskiye Rasskazi (Cerita-cerita
Sebastopol). Roman adikaryanya Voina i mir (Perang dan Damai), di mana
ia merawikan kemenangan rakyat Rusia dalam menangkis serbuan ten-
tara Napoleon (1805-1814). Dalam Haji Murat ia justru mengetengahkan
tokoh Haji Murat dari Chechnya yang cinta kemerdekaan, melawan Rusia
yang ketika itu berada di bawah kekuasaanTsar Nikolai I (1827-1855). la
lukiskan Haji Murat (tahun 1849-1852) sebagai tokoh yang gagah berani,
tangkas dan cerdas. Sebaliknya, ia lukiskan Nikolai I sebagai tokoh despot
yang tak berperikemanusiaan, namun merasa diri sebagai sum ber kebi-
jaksanaan Rusia dan dunia. Para jenderal (a.i. Vorontsov dan Kamenev)
dan para perwiranya ia lukiskan sebagai orang-orang yang tidak peka
dan suka hidup berfoya-foya dengan mengorbankan kepentingan rakyat.
Sebaliknya rakyat yang sederhana (sepertiAvdeyev) ia lukiskan sebagai
orang lugu, cinta kerja, yang tak punya rasa permusuhan, juga terhadap
Haji Murat dan para muridnya.
Walau cerita ini berakhir dengan kematian Haji Murat, dalam benak
pembaca terpateri Haji Murat sebagai tokoh yang pantang menyerah.
... Bagi Tolstoi, setidak-tidaknya dalam roman ini dan di usia lanjutnya,
keadilan dan kemanusiaan lebih penting daripada tanahair.
http://facebook.com/indonesiapustaka

P U STAKA JA Y A
ISBN 978-979-419-351-8
Jalan Kramat Raya 5 K
Jakarta 10450
Telp. (021)3909284
Faks. (021)3909320
e-mail: pustakajaya.dpj@yahoo.com 9 789794 193518