Anda di halaman 1dari 37

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

STROKE
MAKALAH
Tugas pada mata kuliah asuhan keperawatan sistem Neurobehavior
Program Studi Ilmu Keperawatan
Kelas A2 Semester 5

Dosen Pengampu:
Aris Citra Wisuda S.Kep, Ns, M.Kes

Disusun Oleh:
Kelompok 17
1. Uci Minarsi 14.14201.31.05
2. Oktaviani Saraswati 14.14201.31.40

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


BINA HUSADA PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2016/2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, bahwa penulis telah
menyelesaikan tugas kelompok pada mata kuliah Askep Neurobehavior yang
alhamdulillah tepat pada waktunya dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Klien
Stroke”.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang
penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan
materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga
kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan
terima kasih kepada:

1. Dosen pembimbing Aris Citra Wisuda, S.Kep, Ns, M.Kes yang telah
memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi
dan menyelesaikan tugas ini.
2. Orang tua yang telah memberi dukungan dalam bentuk moril maupun
materil.
3. Teman-teman yang telah membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai
kesulitan sehingga tugas ini selesai.

Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran


bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang
diharapkan dapat tercapai.

Palembang, 3 September 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... 2


DAFTAR ISI .......................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 4
1.2 Tujuan ................................................................................................ 5
1.3 Rumusan Masalah .............................................................................. 5

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian .......................................................................................... 6
2.2 Anatomi Fisiologi ............................................................................... 7
2.3 Etiologi .............................................................................................. 10
2.4 Patofisiologi ...................................................................................... 12
2.5 Pathway ............................................................................................. 15
2.6 Manifestasi Klinis ............................................................................. 18
2.7 Pemeriksaan Penunjang .................................................................... 19
2.8 Penatalaksanaan ................................................................................ 20

BAB III KONSEP DASAR KEPERAWATAN


3.1 Pengkajian ......................................................................................... 21
3.2 Diagnosa Keperawatan....................................................................... 23
3.3 Intervensi ........................................................................................... 24

BAB IV PENUTUP
3.1 Kesimpulan ....................................................................................... 31
3.2 Saran .................................................................................................. 32

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 33

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Stroke adalah penyebab kematian yang utama.Pola penyebab kematian di
rumah sakit yang utama dari data Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang
menyebutkan bahwa stroke menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian
di RS.Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung
dan kanker secara global.
Stroke merupakan satu masalah kesehatan yang besar dalam kehidupan
modern saat ini. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk
terkena serangan stroke, sekitar 2,5 % atau 125.000 orang meninggal, dan sisanya
cacat ringan maupun berat. Jumlah penderita stroke cenderung terus meningkat
setiap tahun, bukan hanya menyerang penduduk usia tua, tetapi juga dialami oleh
mereka yang berusia muda dan produktif. Stroke dapat menyerang setiap usia,
namun yang sering terjadi pada usia di atas 40 tahun. Angka kejadian stroke
meningkat dengan bertambahnya usia, makin tinggi usia seseorang, makin tinggi
kemungkinan terkena serangan stroke (Yayasan Stroke Indonesia, 2006).
Angka kejadian stroke memang meningkat seiring bertambahnya usia.
Setiap penambahan usia 10 tahun sejak usia 35 tahun, risiko stroke meningkat dua
kali lipat. Selain itu,sekitar 5% orang Indonesia yang berusia diatas 65 tahun pernah
mengalami setidaknya satu kali stroke. Untuk usia lebih dari 5 tahun, penyebab
kematian yang terbanyak adalah stroke, baik di perkotaan maupun di perdesaan
(Riskesdas, 2007). Prevalensi nasional stroke adalah 0,8% (berdasarkan diagnosis
tenaga kesehatan dan gejala).

Cidera serebrovaskular/stoke, meliputi awitan tiba-tiba defisit neurologis


karena insufiensi suplai darah ke suatu bagian dari otak. Insufiensi suplai darah
disebabkan oleh trombus, biasanya sekunder terhadap aterosklerosis, terhadap
embolisme yang berasal dari tempat lain dalam tubuh, atau terhadap perdarahan
akibat ruftur arteri atau (aneursima). Stoke merupakan penyebab kematian utama

4
ketiga di amerika serikat. Setiap tahun 500.000 orang amerika mengalami stroke,
350.000 dari mereka hidup dengan kecacatan dalam berbagai ketingkatan atau
(american heart association, 1989). Faktor risiko meliputi aterosklerosis, penyakit
jantung, merokok, diabetes militus, hipertensi, dan aterosklerosis serebral.

1.2 Tujuan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan stroke
hemoragic.
2. Tujuan Khusus
a.Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data pada klien dengan stroke
hemoragic
b.Mahasiswa mampu menganalisa data hasil pengkajian pada klien dengan
stroke hemoragic
c.Mahasiswa mampu melakukan rencana tindakan pada klien dengan stroke
hemoragic
d.Mahasiswa mampu melakukan tindakan keperawata pada klien dengan stroke
hemoragic
e.Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilakukan pada
klien
dengan stroke hemoragic

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian penyakit stroke ?
2. Bagaimana anatomi fisiologi penyakit stroke?
3. Bagaimana etiologi penyakit stroke?
4. Bagaimana patofisiologi penyakit stroke?
5. Bagaimana pathway penyakit stroke?
. 6. Bagaimana manifestasi klinis penyakit stroke?
7. Bagaimana pemeriksaan penunjang penyakit stroke?
8. Bagaimana penatalaksanaan penyakit stroke?

5
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian
Cedera serebrovaskular atau stroke meliputi awitan tiba-tiba defisit
neurologis karena insufisiensi suplai darah ke suatu bagian dari otak. Insufisiensi
suplai darah disebabkan oleh trombus, biasanya sekunder terhadap arterisklerosis,
terhadap embolisme berasal dari tempat lain dalam tubuh, atau terhadap perdarahan
akibat ruptur arteri (aneurisma).
Menurut WHO. (2007) Stroke adalah disfungsi neurologi akut yang
disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda
dan gejala sesuai dengan daerah fokal pada otak yang terganggu.
Stroke terdiri dari 2 jenis yaitu : Stroke adalah sindrom yang awal timbulnya
mendadak, progresif cepat, berupa deficit neurologis fokal atau global yang
langsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata
disebabkan oleh gangguan peredaran otak non traumatic (Mansjoer 2007).
Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi
secara tiba-tiba dan cepat, disebabkan karena gangguan perdarahan otak. Stroke
atau Cerebro Vasculer Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak ( Brunner dan Suddarth,
2008 ).
Stoke adalah gangguan peredaran darah otak yang menyebabkan defisit
neurologis mendadak sebagai akibat iskemia atau hemoragi sirkulasi saraf otak (
Sudoyo Aru). Istilah stroke biasanya secara spesifik untuk menjelaskan infark
serembrum.
Menurut WHO, stroke adalah :
a.Disfungsi neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang
timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal pada
otak yang terganggu.
b.Sindrom neurologik fokal mendadak seperti hemipharesis yang secara sekunder
disebabkan semacam gangguan pembuluh darah.

6
Menurut WHO, Monica Project (1995), stroke adalah gangguaan fungsi
otak fokal atau global yang timbul mendadak, berlangsung lebih dari 24 jam
kecuali jika klien mengalami pembedahan atau meninggal sebelum 24 jam dan
disebabkan pendarahan otak.
Dalam Buku Ajar Patofisiologi : Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit,
stroke adalah gangguan neurologis fokal dan merupakan akibat sekunder suatu
proses patologis yang dialami pembuluh darah serebral.

Hasil otopsi otak yang mengalami strok

2.2 Anatomi Fisiologi

1. Otak
Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100
triliun neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otak besar),
serebelum (otak kecil), brainstem (batang otak), dan diensefalon. (Satyanegara,
1998)

Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan korteks
serebri. Masing-masing hemisfer serebri terdiri dari lobus frontalis yang merupakan
area motorik primer yang bertanggung jawab untuk gerakan-gerakan voluntar,
lobur parietalis yang berperanan pada kegiatan memproses dan mengintegrasi

7
informasi sensorik yang lebih tinggi tingkatnya, lobus temporalis yang merupakan
area sensorik untuk impuls pendengaran dan lobus oksipitalis yang mengandung
korteks penglihatan primer, menerima informasi penglihatan dan menyadari sensasi
warna.
Serebelum terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh
duramater yang menyerupai atap tenda yaitu tentorium, yang memisahkannya dari
bagian posterior serebrum. Fungsi utamanya adalah sebagai pusat refleks yang
mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan
kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.
Bagian-bagian batang otak dari bawak ke atas adalah medula oblongata,
pons dan mesensefalon (otak tengah). Medula oblongata merupakan pusat refleks
yang penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan,
pengeluaran air liur dan muntah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang
penting pada jaras kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan
serebelum. Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisi
aquedikus sylvius, beberapa traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat
stimulus saraf pendengaran dan penglihatan.
Diensefalon di bagi empat wilayah yaitu talamus, subtalamus, epitalamus
dan hipotalamus. Talamus merupakan stasiun penerima dan pengintegrasi
subkortikal yang penting. Subtalamus fungsinya belum dapat dimengerti
sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus akan menimbulkan hemibalismus yang
ditandai dengan gerakan kaki atau tangan yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh.
Epitalamus berperanan pada beberapa dorongan emosi dasar seseorang.
Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan saraf
otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan emosi. (Sylvia A. Price, 1995)

2. Sirkulasi darah otak


Otak menerima 17 % curah jantung dan menggunakan 20 % konsumsi
oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh
dua pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Da dalam rongga

8
kranium, keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem
anastomosis, yaitu sirkulus Willisi.(Satyanegara, 1998)
Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria karotis komunis
kira-kira setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis interna masuk ke dalam tengkorak
dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum, menjadi arteri serebri anterior
dan media. Arteri serebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur
seperti nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, kapsula interna, korpus
kolosum dan bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis serebri,
termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Arteri serebri media mensuplai
darah untuk lobus temporalis, parietalis dan frontalis korteks serebri.
Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang
sama. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum, setinggi
perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri
basilaris, arteri basilaris terus berjalan sampai setinggi otak tengah, dan di sini
bercabang menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri posterior. Cabang-
cabang sistem vertebrobasilaris ini memperdarahi medula oblongata, pons,
serebelum, otak tengah dan sebagian diensefalon. Arteri serebri posterior dan
cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diensefalon, sebagian lobus oksipitalis
dan temporalis, aparatus koklearis dan organ-organ vestibular. (Sylvia A. Price,
1995)
Darah vena dialirkan dari otak melalui dua sistem : kelompok vena interna,
yang mengumpulkan darah ke Vena galen dan sinus rektus, dan kelompok vena
eksterna yang terletak di permukaan hemisfer otak, dan mencurahkan darah, ke
sinus sagitalis superior dan sinus-sinus basalis lateralis, dan seterusnya ke vena-
vena jugularis, dicurahkan menuju ke jantung. (Harsono, 2000)

2.3 Etiologi
Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan stroke antara lain :
a. Thrombosis Cerebral.
ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga
menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan oedema dan kongesti

9
di sekitarnya.Thrombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau
bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan
penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan iskemi serebral.Tanda dan
gejala neurologis seringkali memburuk pada 48 jam sete;ah thrombosis.
Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan thrombosis otak :
1) Atherosklerosis
Atherosklerosis adalah mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya
kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Manifestasi klinis
atherosklerosis bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi melalui mekanisme
berikut :
a) Lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran darah.
b) Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi thrombosis.
c) Merupakan tempat terbentuknya thrombus, kemudian melepaskan kepingan
thrombus (embolus)
d) Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi
perdarahan.
2) Hypercoagulasi pada polysitemia
Darah bertambah kental , peningkatan viskositas /hematokrit meningkat dapat
melambatkan aliran darah serebral.
3) Arteritis( radang pada arteri )

b. Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan
darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari thrombus di jantung
yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebral. Emboli tersebut berlangsung
cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik. Beberapa keadaan dibawah ini
dapat menimbulkan emboli :
1) Katup-katup jantung yang rusak akibat Rheumatik Heart Desease.(RHD)
2) Myokard infark

10
3) Fibrilasi,. Keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk pengosongan
ventrikel sehingga darah terbentuk gumpalan kecil dan sewaktu-waktu kosong
sama sekali dengan mengeluarkan embolus-embolus kecil.
4) Endokarditis oleh bakteri dan non bakteri, menyebabkan terbentuknya
gumpalan-gumpalan pada endocardium.

c. Haemorhagi
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam ruang
subarachnoid atau kedalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi
karena atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya pembuluh darah otak
menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan
penekanan, pergeseran dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan ,sehingga
otak akan membengkak, jaringan otak tertekan, sehingga terjadi infark otak,
oedema, dan mungkin herniasi otak.

d. Hypoksia Umum
1) Hipertensi yang parah.
2) Cardiac Pulmonary Arrest
3) Cardiac output turun akibat aritmia

e. Hipoksia setempat
1) Spasme arteri serebral , yang disertai perdarahan subarachnoid.
2) Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migrain.
Faktor Resiko Tambahan
a.Kadar lemak darah yang tinggi termasuk Kolesterol dan Trigliserida.
Meningginya kadar kolesterol merupakan factor penting untuk
terjadinya arteriosklerosis atau menebalnya dinding pembuluh darah yang diikuti
penurunan elastisitas pembuluh darah.
b. Kegemukan atau obesitas

11
c.Merokok
Merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen yang akan
mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan
kekentalan darah.
d. Riwayat keluarga dengan stroke
e. Lanjut usia
f Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia.
Polisitemia dapat menghambat kelancaran aliran darah ke otak.
Sementara leukemia/ kanker darah dapat menyebabkan terjadinya pendarahan otak.
g. Kadar asam urat darah tinggi
h. Penyakit paru- paru menahun.

2.4 Patofisiologi
a.Stroke Hemoragic
Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama
kasus gangguan pembuluh darah otak. Perdarahan serebral dapat terjadi di luar
duramater (hemoragi ekstradural atau epidural), dibawah duramater, (hemoragi
subdural), diruang subarachnoid (hemoragi subarachnoid) atau di dalam substansi
otak (hemoragi intraserebral). Hemoragi ekstradural (epidural) adalah kedaruratan
bedah neuro yang memerlukan perawatan segera. Ini biasanya mengikuti fraktur
tengkorak dengan robekan arteri dengan arteri meningea lain.
Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya sama
dengan hemoragi epidural, kecuali bahwa hematoma subdural biasanya jembatan
vena robek. Karenanya, periode pembentukan hematoma lebih lama ( intervensi
jelas lebih lama) dan menyebabkan tekanan pada otak. Beberapa pasien mungkin
mengalami hemoragi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda dan gejala.
Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi,
tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisma pada area sirkulus wilisi
dan malformasi arteri-vena kongenital pada otak. Arteri di dalam otak dapat
menjadi tempat aneurisma. Hemoragi intraserebral paling umum pada pasien
dengan hipertensi dan aterosklerosis serebral, karena perubahan degeneratif karena

12
penyakit ini biasanya menyebabkan ruptur pembuluh darah. pada orang yang lebih
muda dari 40 tahun, hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi
arteri-vena, hemangioblastoma dan trauma, juga disebabkan oleh tipe patologi
arteri tertentu, adanya tumor otak dan penggunaan medikasi (antikoagulan oral,
amfetamin dan berbagai obat aditif).
Perdarahan biasanya arterial dan terjadi terutama sekitar basal ganglia.
Biasanya awitan tiba-tiba dengan sakit kepala berat. Bila hemoragi membesar,
makin jelas defisit neurologik yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan
abnormalitas pada tanda vital. Pasien dengan perdarahan luas dan hemoragi
mengalami penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital.

b. Stroke Non Hemoragic


Terbagi atas 2 yaitu :
1) Pada stroke trombotik, oklusi disebabkan karena adanya penyumbatan lumen
pembuluh darah otak karena thrombus yang makin lama makin menebal, sehingga
aliran darah menjadi tidak lancar. Penurunan aliran arah ini menyebabkan iskemik
yang akan berlanjut menjadi infark. Dalam waktu 72 jam daerah tersebut akan
mengalami edema dan lama kelamaan akan terjadi nekrosis. Lokasi yang tersering
pada stroke trombosis adalah di percabangan arteri carotis besar dan arteri vertebra
yang berhubungan dengan arteri basiler. Onset stroke trombotik biasanya berjalan
lambat.
Sedangkan stroke emboli terjadi karena adanya emboli yang lepas dari
bagian tubuh lain sampai ke arteri carotis, emboli tersebut terjebak di pembuluh
darah otak yang lebih kecil dan biasanya pada daerah percabangan lumen yang
menyempit, yaitu arteri carotis di bagian tengah atau Middle Carotid Artery ( MCA
). Dengan adanya sumbatan oleh emboli akan menyebabkan iskemik.

13
2.6. Manifestasi Klinis
Stroke ini menyebabkan berbagai defisit neurologik, bergantung pada
lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya
tidak adekuat, dan jumlah aliran darah kolateral (sekunder atau aksesori)
a.Kehilangan motorik : hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada
sesi otak yang berlawanan, hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh.
b.Kehilangan komunikasi : disartria (kesulitan bicara), disfasia atau afasia (bicara
defektif atau kehilangan bicara), apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan
tindakan yang dipelajari sebelumnya)
c.Gangguan persepsi: disfungsi persepsi visual, gangguan hubungan visual-
spasial, kehilangan sensori
d.Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis
e.Disfungsi kandung kemih
Gejala - gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tidak berfungsi yang
disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Gejala itu muncul
bervariasi, bergantung bagian otak yang terganggu.

Gejala-gejala itu antara lain bersifat:


a.Sementara timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam
dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. Hal ini disebut Transient
ischemic attack (TIA). Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama,
memperberat atau malah menetap.
b.Sementara,namun lebih dari 24 jam gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini
dissebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND)
c.Gejala makin lama makin berat (progresif). Hal ini desebabkan gangguan aliran
darah makin lama makin berat yang disebut progressing stroke atau stroke
inevolution.
d.Sudah menetap/permanent.

14
2.7 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa
stroke antara lain adalah:
a. Angiografi
Arteriografi dilakukan untuk memperlihatkan penyebab dan letak
gangguan. Suatu kateter dimasukkan dengan tuntunan fluoroskopi dari arteria
femoralis di daerah inguinal menuju arterial, yang sesuai kemudian zat warna
disuntikkan.
b.CT-Scan
CT-scan dapat menunjukkan adanya hematoma, infark dan perdarahan.
c.EEG (Elektro Encephalogram)
Dapat menunjukkan lokasi perdarahan, gelombang delta lebih lambat di
daerah yang mengalami gangguan.
d.Pungsi Lumbal
Menunjukan adanya tekanan normal, tekanan meningkat dan cairan yang
mengandung darah menunjukan adanya perdarahan.
e. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik.
f. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena
g.Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal
(Doenges E, Marilynn,2000 hal 292).

2.8. Penatalaksanaan
Untuk mengobati keadaan akut perlu diperhatikan faktor-faktor kritis
sebagai berikut
a. Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan :
1) Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan
lendiryang sering, oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi, membantu
pernafasan.
2) Mengontrol tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk usaha
memperbaiki hipotensi dan hipertensi.
3) Berusaha menemukan dan memperbaiki aritmia jantung.

15
4) Merawat kandung kemih, sedapat mungkin jangan memakai kateter.
5) Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat
mungkin pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan
gerak pasif.

16
BAB III.
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
a. Pengkajian Primer
- Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret
akibat kelemahan reflek batuk
- Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan
yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
- Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut,
takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran
mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut

b. Pengkajian Sekunder
1) Aktivitas dan istirahat
Data Subyektif:
- kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis.
- mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot )
Data obyektif:
- Perubahan tingkat kesadaran
- Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia )
,kelemahan umum.
- gangguan penglihatan

2) Sirkulasi
Data Subyektif:
- Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung ,
endokarditis bacterial ), polisitemia.

17
Data obyektif:
- Hipertensi arterial
- Disritmia, perubahan EKG
- Pulsasi : kemungkinan bervariasi
- Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal

3). Integritas ego


Data Subyektif:
- Perasaan tidak berdaya, hilang harapan
Data obyektif:
- Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan
- kesulitan berekspresi diri

4) Eliminasi
Data Subyektif:
- Inkontinensia, anuria
- distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus(
ileus paralitik )

5) Makan/ minum
Data Subyektif:
- Nafsu makan hilang
- Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK
- Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia
- Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
Data obyektif:
- Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring )
- Obesitas ( factor resiko )

6) Sensori neural
Data Subyektif:

18
- Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )
- nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid.
- Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati
- Penglihatan berkurang
- Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada
muka ipsilateral ( sisi yang sama )
- Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
Data obyektif:
- Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah
laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif
- Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke,
genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam (
kontralateral )
- Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
- Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/
kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global /
kombinasi dari keduanya.
- Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil
- Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
- Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi
lateral

7) Nyeri / kenyamanan
Data Subyektif:
- Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
Data obyektif:
- Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial

19
2.Diagnosa Keperawatan
a.Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan gangguan suplai
oksigen ke otak
b.Nyeri berhubungan dengan suplai oksigen ke otak tidak seimbang
c.Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kesulitan menelan dan mengunyah
d.Gangguan pola tidur berhubungan dengan penekanan sistem saraf pusat dan
nyeri
e.Gangguan perubahan persepsi sensori berhubungan dengan kerusakan sistem
saraf sensori
f.Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan pada N. Fasialis
g.Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hemiplegia dan penurunan
integritas
h.Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan keseimbangan dan
koordinasi, spastisitas dan cidera otak
i.Intoleransi aktifvitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay
oksigen dengan kebutuhan
j.Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas
k.Resiko jatuh berhubungan dengan perubahan ketajaman penglihatan

NO Diagnosa
Keperawatan/ NOC NIC
Masalah Kolaborasi
1 Ketidakefektifan NOC : NIC :
perfusi jaringan Circulation status Monitor TTV
cerebral Neurologic status Monitor AGD,
berhubungan Tissue Prefusion : ukuran pupil,
dengan gangguan cerebral ketajaman,
suplai oksigen ke Setelah dilakukan kesimetrisan dan

20
otak asuhan reaksi
selama………ketidak Monitor adanya
DO efektifan perfusi diplopia, pandangan
- Gangguan status jaringan cerebral kabur, nyeri kepala
mental teratasi dengan Monitor level
- Perubahan perilaku kriteria hasil: kebingungan dan
- Perubahan respon Tekanan systole dan orientasi
motorik diastole dalam rentang Monitor tonus otot
- Perubahan reaksi yang diharapkan pergerakan
pupil Tidak ada Monitor tekanan
- Kesulitan menelan ortostatikhipertensi intrkranial dan
- Kelemahan atau Komunikasi jelas respon nerologis
paralisis ekstrermitas Menunjukkan Catat perubahan
- Abnormalitas bicara konsentrasi dan pasien dalam
orientasi merespon stimulus
Pupil seimbang dan Monitor status cairan
reaktif Pertahankan
Bebas dari aktivitas parameter
kejang hemodinamik
Tidak mengalami nyeri Tinggikan kepala 0-
kepala 45o tergantung pada
konsisi pasien dan
2 Nyeri berhubungan NOC : order medis
dengan suplai · Pain Level,
· Pain control,
oksigen ke otak tidak NIC :
· Comfort level
seimbang Kriteria Hasil : Pain Management
· Mampu mengontrol1. Lakukan pengkajian
nyeri nyeri secara
· Mampu mengenali komprehensif
nyeri (skala, termasuk lokasi,
intensitas, frekuensi karakteristik, durasi,
dan tanda nyeri) frekuensi, kualitas
· Menyatakan rasa dan faktor presipitasi
nyaman 2. Observasi reaksi

21
setelah nyeri nonverbal dari
berkurang ketidaknyamanan
· Tanda vital dalam3. Kurangi faktor
rentang presipitasi nyeri
normal 4. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan
inter personal)
5. Ajarkan tentang
teknik non
farmakologi
6. Tingkatkan istirahat
Analgesic
Administration
1. Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas, dan derajat
nyeri sebelum
pemberian obat
2. Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
3. Cek riwayat alergi
4. Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
satu
5. Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
6. Evaluasi
efektivitas analgesik,
tanda dan gejala
(efek samping)
3 Ketidakseimbangan NOC: NIC :
nutrisi kurang dari a. Nutritional status: Kaji adanya alergi
kebutuhan tubuh Adequacy of nutrient makanan
Berhubungan dengan :b. Nutritional Status : Kolaborasi

22
Ketidakmampuan food and Fluid Intake dengan ahli gizi
untuk memasukkan c. Weight Control untuk menentukan
atau mencerna nutrisi Setelah dilakukan jumlah kalori dan
oleh karena faktor tindakan keperawatan nutrisi yang
biologis, psikologis selama….nutrisi dibutuhkan pasien
atau ekonomi. kurang teratasi dengan Yakinkan diet
DS: indikator: yang dimakan
- Nyeri abdomen Albumin serum mengandung tinggi
- Muntah Pre albumin serum serat untuk
- Kejang perut Hematokrit mencegah konstipasi
- Rasa penuh tiba-tiba Hemoglobin Ajarkan pasien
setelah makan Total iron binding bagaimana membuat
DO: capacity catatan makanan
- Diare Jumlah limfosit harian.
- Rontok rambut yang Monitor adanya
berlebih penurunan BB dan
- Kurang nafsu makan gula darah
- Bising usus berlebih Monitor
- Konjungtiva pucat lingkungan selama
- Denyut nadi lemah makan
Jadwalkan
pengobatan dan
tindakan tidak
selama jam makan
Monitor turgor
kulit
Monitor
kekeringan, rambut
kusam, protein, Hb
dan kadar Ht
Monitor mual dan

23
muntah
Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor intake
nuntrisi
Informasikan pada
klien dan keluarga
tentang manfaat
nutrisi
Kolaborasi
dengan dokter
tentang kebutuhan
suplemen makanan
seperti NGT/ TPN
sehingga intake
cairan yang adekuat
dapat dipertahankan.
Atur posisi semi
fowler atau fowler
tinggi selama makan
Kelola pemberan
anti emetik:.....
Anjurkan banyak
minum
Pertahankan terapi
NOC : IV line
4 Gangguan pola tidur - Anxiety reduction Catat adanya
berhubungan dengan - Comfort level edema, hiperemik,
penekanan sistem - pain level hipertonik papila

24
saraf pusat dan nyeri - rest : extent and lidah dan cavitas
pattern oval
-sleep : extent ang NIC :
patterrn sleep enhancement
 Determinasi efek-
Kriteria hasil : efek medikasi
- Jumlah jam tidur terhadap pola tidur
dalam batas normal 6-  Jelaskan pentingnya
8 jam/hari tidur yang adekuat
- pola tidur, kualitas  Fasilitas untuk
dalam batas normal mempertahankan
-perasaan segar aktivitas sebelum
sesudah tidur atau tidur (membaca)
istirahat  Ciptakan
-mampu lingkungan yang
mengidentifikasi hal- nyaman
hal yang  Kolaborasi
meningkatkan tidur pembelian obat
tidur
 Diskusikan dengan
pasien dan
keluarga tentang
teknik tidur pasien
 Instruksikan untuk
memonitori tidur
pasien
 Monitor waktu
makan dan minum
dengan waktu tidur
 Monitor / catat
kebutuhan tidur

25
pasien setiap hari
dan jam

5 Gangguan perubahan NOC : NIC :


persepsi sensori - vision compensation -mencapai komunikasi
berhubungan dengan behavior defisit penglihatan
kerusakan sistem saraf -mencapai komunikasi
sensori Kriteria hasil : : kaji reaksi pasien
-monitor gejala terhadap penurunan
penglihatan penglihatan
-memakai kacamat - ajarkan pasien untuk
atau lensa benar menentukan tujuan
-memakai huruf braile dan belajar melihat
-memakai penyinaran dengan cara lain
atau cahaya yang -deskripsikan
sesuai lingkunga sekitar
pasien
-manajemen
lingkungan: ciptakan
lingkungan yang aman
bagi pasien
- pindahkan benda
berbahaya dr
lingkungan pasien
-pasang side rail
- sediakan tempat
tidur rendah
-tempatkan benda-
benda pada tempat

26
pada tempat yg dapat
dijangkau pasien
6 Gangguan komunikasi NOC : NIC :
verbal berhubungan -Ansiety self control Communication
dengan N. Fasialia -coping enhancement : speach
-sensori function: defisit
hearing dan fision -gunakan penerjemah,
-fear self control jika diperlukan
-berikan satu kalimat
Kriteria hasil : simpel setiap bertemu
- Komunikasi : jika diperlukan
penerimaan, - konsul dengan
interpretasi dan dokter kebutuhan
ekspresi pesan lisan, terapi bicara, dorong
tulisan, dan non verbal pasien untuk
meningkat berkomunikasi secara
- komunikasi ekspresif perlahan dan untuk
atau kesulitan mengulangi
berbicara permintaan
-gerakan terkoordinasi - Dengarkan dengan
mampu penuh perhatian
mengkoordinasi - berdiri di depan
gerakan dalam pasien ketika
menggunakan isyarat berbicara
-gunakan kartu baca
selanjutnya ajarkan
bicara melalui
esofagus jika
diperlukan
NOC : NIC :

27
7 Kerusakan integritas - tissu :integriti : skin pressure management
kulit berhubungan and mucous -anjurkan pasien
dengan hemiflegia dan Membranes untuk menggunakan
penurunan integritas -hemodialis acces pakaian yang longgar
-hindari kerutan
Kriteria hasil : tempat tidur
-integritas kulit yang -jaga kebersihan kulit
baik bisa agar bersih dan kering
dipertahankan (sensasi -mobilisasi pasien (
elastisitas, temperatur, ubah posisi pasien
hidrasi, pigmentasi) setiap 4 jam sekali)
-tidak ada luka atau -monitor kulit akan
lesi pada kulit adanya kemerahan
-perffusi jaringan baik -oleskan lotion atau
mampu melindungi minyak baby oil pada
kulit dan daerah yang tertekan.
mempertahankan Monitor aktivitas dan
kelembapan kulit dan mobilisasi pasien
perawatan alami -monitor status nutrisi
pasien

NOC : NIC :
8 Hambatan monbilitas - joint movemet : -Monitoring vital sign
fisik berhubungan active sebelum dan sesudah
dengan kehilangan - mobility level latihan dan lihat
keseimbangan dan -self care : adls respon pasien saat
koordinasi spastisitas transfer performance latihan
dan cidera otak - konsultasikan
kriteria hasil : dengan terapi fisik
-klien meningkat tentang rencana
dalam aktivitas fisik ambulasi sesuai

28
- mngerti tujuan dari kebutuhan
peningkatan mobilitas - bantu klien untuk
- Memperbalisasikan menggunakan tongkat
perasaan dalam sat berjalan dan cegah
meningkatan kekuatan cidera
dan kemampuan - ajarkan pasien atau
berpindah tenaga kesehatan lain
-mempergerakkan tntang teknik ambulasi
penggunaan alat - kaji kemampuan
-bantu untuk pasien dalam
mobilisasi mobilisasi
- berikan alat bantu
jika klien perlu
9 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
Berhubungan dengan : Self Care : ADLs Observasi adanya
Ketidakseimbangan Toleransi aktivitas pembatasan klien
antara suplei oksigen Konservasi eneergi dalam melakukan
dengan kebutuhan Setelah dilakukan aktivitas
Gaya hidup yang tindakan keperawatan Kaji adanya faktor
dipertahankan. selama …. Pasien yang menyebabkan
DS: bertoleransi terhadap kelelahan
Melaporkan secara aktivitas dengan Monitor nutrisi dan
verbal adanya Kriteria Hasil : sumber energi yang
kelelahan atau Berpartisipasi dalam adekuat
kelemahan. aktivitas fisik tanpa Monitor pasien akan
Adanya dyspneu disertai peningkatan adanya kelelahan fisik
atau ketidaknyamanan tekanan darah, nadi dan emosi secara
saat beraktivitas. dan RR berlebihan
DO : Mampu melakukan Monitor respon
aktivitas sehari hari kardivaskuler
Respon abnormal (ADLs) secara terhadap aktivitas

29
dari tekanan darah mandiri (takikardi, disritmia,
atau nadi terhadap Keseimbangan sesak nafas,
aktifitas aktivitas dan istirahat diaporesis, pucat,
Perubahan ECG : perubahan
aritmia, iskemia hemodinamik)
Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat
pasien
Kolaborasikan dengan
Tenaga Rehabilitasi
Medik dalam
merencanakan progran
terapi yang tepat.
Bantu klien untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang mampu
dilakukan
Bantu untuk memilih
aktivitas konsisten
yang sesuai dengan
kemampuan fisik,
psikologi dan sosial
Bantu untuk
mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber
yang diperlukan untuk
aktivitas yang
diinginkan
Bantu untuk
mendpatkan alat
bantuan aktivitas

30
seperti kursi roda,
krek
Bantu untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
Bantu klien untuk
membuat jadwal
latihan diwaktu luang
Bantu pasien/keluarga
untuk
mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif
beraktivitas
Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
Monitor respon fisik,
emosi, sosial dan
spiritual.
10 Defisit perawatan NOC : NIC :
diri Self care : Activity of Self Care assistane :
Berhubungan dengan : Daily Living (ADLs) ADLs
intoleransi aktivitas Setelah dilakukan Monitor kemempuan
DO : tindakan keperawatan klien untuk perawatan
ketidakmampuan selama …. Defisit diri yang mandiri.
untuk mandi, perawatan diri teratas Monitor kebutuhan
ketidakmampuan dengan kriteria hasil: klien untuk alat-alat

31
untuk berpakaian, Klien terbebas dari bau bantu untuk
ketidakmampuan badan kebersihan diri,
untuk makan, Menyatakan berpakaian, berhias,
ketidakmampuan kenyamanan terhadap toileting dan makan.
untuk toileting kemampuan untuk Sediakan bantuan
melakukan ADLs sampai klien mampu
Dapat melakukan secara utuh untuk
ADLS dengan melakukan self-care.
bantuan Dorong klien untuk
melakukan aktivitas
sehari-hari yang
normal sesuai
kemampuan yang
dimiliki.
Dorong untuk
melakukan secara
mandiri, tapi beri
bantuan ketika klien
tidak mampu
melakukannya.
Ajarkan klien/
keluarga untuk
mendorong
kemandirian, untuk
memberikan bantuan
hanya jika pasien
tidak mampu untuk
melakukannya.
Berikan aktivitas rutin
sehari- hari sesuai
kemampuan.

32
Pertimbangkan usia
klien jika mendorong
pelaksanaan aktivitas
sehari-hari.

11 Resiko jatuh NOC : NIC :


berhubungan dengan -trauma risk por - mengidentifikasi
perubahan ketajaman -injury risk por defisit kognitif atau
penglihatan fisik pasien yang
Kriteria hasil : dapat meningkatkan
-keseimbangan untuk potensi jatuh dalam
mempertahankan lingkungan tersebut
akulibrium -mengidentifikasi
-gerakan terkoordinasi periaku dan faktor
-kemampuan otot yang mempengaruhi
untuk bekerja sama resiko jatuh
secara palunter untuk Mengidentifikasi
melakukan gerakan karakteristik
yang bertujuan lingkungan yang
-kejadian jatuh : tidak meningkatkan potensi
ada kejadian jatuh untuk jatuh : lantai yg
-pengetahuan: licin dan tangga
pemahaman terbuka
pencegahan jatuh - sarankan perubahan
pengetahuan: dalam gaya berjalan
keselamatan anak fisik kepada pasien
- pengetahuan : -,endorong pasien
keamanan pribadi untuk menggunakan
Tingkat agitasi tongkat atau alat bantu
-kekerasan berjalan
-kejadian terjun -kunci roda dari kursi

33
roda
-ajarkan pasien
bagaimana jatuh untuk
meminimalkan cidera

34
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Penelitian berskala cukup besar dilakukan oleh ASNA (AseanNeurologic
Association) di 28 Rumah Sakit di seluruh Indonesia. Penelitian inidilakukan pada
penderita stroke akut yang dirawat di Rumah Sakit (hospitalbased study) dan
dilakukan survey mengenai faktor-faktor risiko, lamaperawatan dan mortalitas
serta morbiditasnya. Hasilnya menunjukkan bahwapenderita laki-laki lebih
banyak dari perempuan dengan profil usia di bawah45 tahun cukup banyak yaitu
11,8%, usia 45-64 tahun berjumlah 54,7% dandi atas usia 65 tahun 33,5%.
(Misbach,2007).
Penilaian yang akurat dan tepat dari Activities of Daily Living
(ADL)pada pasien pasca stroke sangat penting untuk menilai outcome
dariperawatan stroke. Kwon dkk melakukan penilaian disabilitas pada pasienpasca
stroke dengan menilai Barthel Index (BI), motor component ofFunctional
Independence Measure (M-FIM) dan modified Rankin Scale(mRS). Mereka
mendapatkan hubungan erat antara BI, M-FIM dan mRS
Dalam menilai disabilitas pasien stroke secara umum (Kwon
dkk,2004).Pada klien dengan stroke, terdapat beberapa masalah keperawatan yang
muncul diantaranya adalah ketidakefektifan perfusi jaringan serebral,
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, hambatan mobilitas fisik,
dan defisit perawatan diri.Untuk diagnosa hambatan mobilitas fisik, salah satu
implementasi yang dapat dilakukan adalah dengan latihan rentang gerak atau
Range of Motion (ROM).Untuk pasien dengan penurunan kesadaran dapat
dilakukan ROM pasif, dan untuk pasien yang tidak mengalami penurunan
kesadaran, dapat dilakukan ROM aktif.
Berdasarkan tujuan keperawatan yang telah ditetapkan, masalah
keperawatan yang teratasi adalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh.Untuk 3 diagnosa keperawatan lainnya, belum dapat teratasi

35
sepenuhnya.Dikarenakan keterbatasan waktu sehingga mahasiswa hanya
mengobservasi klien selama 3 hari, dari tanggal 30 Mei–1 Juni 2013.

4.2. Saran
Dalam kesimpulan diatas maka penulis dapat mengemukakan saran –
saran sebagai berikut :
1. Bagi Mahasiswa
Hendaknya lebih proaktif, cepat dan tanggap dalam menghadapi segala
situasi dan kondisi yang dihadapi baik dalam teori atau kasus lapangan, khususnya
pada proses kegawat daruratan.
2. Lahan Praktek
Diharapkan pada lahan lebih meningkat pelayanan.
a.Dalam melakukan asuhan keperawatan klien dengan stroke, perawat dapat
mengimplementasikan ROM, minimal 2 kali dalam sehari.
b.Dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan stroke, perawat dapat
mengimplementasikan merubah posisi pasien secara berkala, dengan minimal 2
jam sekali.
c.Dan melakukan terapi akupuntur GI pada pasien stroke jika perlu.
3. Institusi Pendidikan
Dapat membimbing dalam proses pembuatan asuhan keperawatan
khususnya pada kegawat daruratan dengan sabar dan teliti serta memotivasi para
mahasiswa dalam segi mental dan spiritual.

36
DAFTAR PUSTAKA

Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong / Donna L.Wong; alih bahasa, Andry
Hartono, Sari Kurnianingsih, Setiawan ; editor edisi bahasa Indonesia, Egi
Komara Yudha – Ed.6-Jakarta ; EGC,2008

Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan


pendokumentasian perawatan pasien / marilynn E.Doenges, Mary France
Moorhouse, Alice C.Geissher : Alih bahasa, I made Kariasa, Ni Made Sumarwati
; editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester Yasmin Asih – Ed.3-Jakarta :
EGC.1999

Amin Huda Nurarif, Hardhi Kusuma. 2015. Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosis Medis, Intervensi NIC, kriteria hasil NOC.Edisi 3.Jogjakarta :
Mediaction

Potter dan Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC.

Arif Mutaqqin. 2008.Pengantar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Persarafan.Jakarta : Salemba Medika

Buku Saku Diagnosa Keperawatan : Diagnosa Nanda Intervensi NIC, Kriteria


Hasil Noc / Penulis Judith M. Wilkinson, Nancy R.Ahern : Ahli Bahasa Esty
Wanyuningsih : Editor Edisi Bahasa Indonesia, Dwi Widiarti – Edisi 9. Jakarta :
EGC, 2011

Arief Mansjoer, dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1, Edisi 3. Jakarta :
Media Aesculapius FKUI

Smeltzer,S.C& Bare,B.G. 2006. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Edisi


8.Jakarta : EGC

Sudoyo,W.et al. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III.Edisi 4.Jakarta :
Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam.

Wilkinson, JM & Ahern,N. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Intervensi


NIC, kriteria hasil NOC.Edisi 9.Jakarta : EGC

Kristyawati, et al. 2011.Efektivitas Range of Motion (ROM) : Aktif – Asistif :


Spherical Grip Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Ekstrimitas Atas pada
Pasien Stroke di RSUD Tugurejo Semarang.

Santana,A&Fathi, A 2005. Pemenuhan Mobilisasi Pada Pasien Post Stroke Di


Ruang Unit Stroke Rumah Sakit UmumDr. Pirngadi Medan.

37