Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS STANDAR ISI

Permendikbud Nomor21 tahun 2016

Disusun oleh:

Kelompok 4 Pendidikan Biologi A 2015

Septi Setya Ningsih 15304241012

Detty Safitri 15304241013

Melati Astria Jayanti 15304241016

Diah Lestari 15304241022

Nur Jati Dwi Puji L 15304241030

EndrianiPutriTaufani 15304241031

Fazha Sefira Cahya Resti 15304241033

Leyla Putri Astuti 15304241041

Silmi Kapah 15304244008

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


Permendikbud No. 21 Tahun 2016 ini memuat tentang Tingkat Kompetensi dan
Kompetensi Inti sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Kompetensi Inti meliputi
sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan ketrampilan. Ruang lingkup materi yang spesifik
untuk setiap mata pelajaran dirumuskan berdasarkan Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti
untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dengan
diberlakukannya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 64
Tahun 2013 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku.
Pada Pasal 1 yang berbunyi standar isi untuk Pendidikan Dasar dan Menengah yang
selanjutnya disebut Standar Isi terdiri dari Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti sesuai
dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dapat diketahui bahwa utuk tingkat kompetensi
dan kompetensi inti dibagi sesuai jenjang pendidikan tertentu yaitu Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas.
Pasal 1 ayat 2: Kompetensi Inti meliputi sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan
keterampilan. Kompetensi inti pada ranah sikap (KI-1 dan KI-2) meupakan kombinasi reaksi
afektif, kognitif. Dan perilaku. Kompetensi sikap tersebut meliputi mnerima, menjalankan,
menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Kompetensi inti pengetahuan (KI-3) terdiri dari dua
dimensi, yaitu perkembangan kognitif dan dimensi oengetahuan (knoeledge). Perkembangan
kognitif meliputi kemampuan memahami, menerapkan, dan menganalisis, sedangkan knowledge
meliputi pengetahuan konseptual, prosedural. Kompetensi Inti pada ranah keterampilan
mengandung keterampilan abstrak dan keterampilan konkret. Keterampilan abstrak lebih bersifat
mental skill, yang cenderung merujuk pada keterampilan menyaji, mengolah, menalar, dan
mencipta dengan dominan pada kemampuan mental/keterampilan berpikir. Sedangkan
keterampilan konkret lebih bersifat fisik motorik yang cenderung merujuk pada kemampuan
menggunakan alat, mencoba, membuat, memodifikasi dan mencipta.

Kompetensi Inti sikap religius dan sosial (KI-1 dan KI-2) memberi arah tentang tingkat
kompetensi sikap yang harus dimiliki oleh peserta didik, dibentuk melalui pembelajaran KI-3
dan KI-4. Kompetensi Inti pengetahuan dan keterampilan (KI-3 dan KI-4) memberi arah tentang
tingkat kompetensi pengetahuan dan keterampilan minimal yang harus dicapai peserta didik.
Kompetensi Dasar dari KI-3 merupakan dasar pengembangan materi pembelajaran
pengetahuan, sedangkan Kompetensi Dasar dari KI-4 berisi keterampilan dan pengalaman
belajar yang perlu dilakukan peserta didik. Berdasarkan KD dari KI-3 dan KI-4 tersebut,
pendidik dapat mengembangkan proses pembelajaran dan cara penilaian yang diperlukan untuk
mencapai tujuan pembelajaran langsung, sekaligus memberikan dampak pengiring (nurturant
effect)terhadap pencapaian tujuan pembelajaran tidak langsung yaitu KI-1 dan KI-2.

Melalui proses dan pengalaman belajar yang dirancang dengan baik, peserta didik akan
memperoleh pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) berupa pengembangan sikap
spiritual dan sosial yang relevan dengan Kompetensi Dasar dari KI-1 dan KI-2. Agar menjamin
terjadinya keterkaitan antara SKL, KI, KD, materi pembelajaran, proses pembelajaran, serta
penilaian perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.

a. Melakukan linierisasi KD dari KI-3 dan KD dari KI-4;

b. Mengembangkan materi pembelajaran yang tertuang pada buku teks sesuai KD dari KI-3;

c. Mengidentifikasi keterampilan yang perlu dikembangkan sesuai rumusan KD dari KI-4;

d. Mengembangkan kegiatan pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran dan


keterampilan yang harus dicapai;

e. Mengidentifikasi sikap-sikap yang dapat dikembangkan dalam kegiatan yang dilakukan


mengacu pada rumusan KD dari KI-1 dan KI- 2, dan menentukan cara penilaian
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang relevan.

Pasal 1 ayat 3: ruang lingkup materi setiap mata pelajaran spesifik sesuai KI dan KD.
Saya setuju dengan peraturan tentang ruang lingkup materi untuk setiap mata pelajaran sesuai
dengan KI dan KD. Salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
pembelajaran secra keseluruhan adalah kemampuan dan keberhasilan guru merancang materi
pembelajaran. Pada dasarnya, materi pembelajaran bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
silabus. Secara garis besar, materi pembelajaran adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang
harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaram tersebut
harus sesuai dengan KI dan KD. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran
hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan
kompetensi dasar, serta tercapainya indikator.

Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam menetapkan materi pelajaran
diantaranya :

a. Materi pelajaran harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan instruksional.

b. Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan tingkat pendidikan atau perkembangan siswa
pada umumnya.

c. Menetapkan materi pembelajaran harus serasi dengan urutan tujuan.

d. Urutan materi pelajaran hendaknya memperhatikan kesinambungan (kontinuitas).

e. Materi pelajaran di susun dari hal yang sederhana menuju yang komplek, dari yang
mudak menuju yang sulit, dari yang konkret menuju yang abstark. Dengan cara ini siswa
akan mudah memahaminya.

f. Materi pelajaran hendaknya mencakup hal-hal yang bersifat factual maupun konseptual.

Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik
menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh
terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan
dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD).

Adapun dalam pengembangan materi pembelajaran guruharus mampu mengidentifikasi


materi pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:

1. potensi peserta didik;

2. relevansi dengan karakteristik daerah;

3. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;

4. kebermanfaatan bagi peserta didik;


5. struktur keilmuan;

6. aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;

7. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan

8. alokasi waktu.

Pasal 1 ayat 4 : standar isi peminatan kejuruan pada SMK/MAK diatur dalam Peraturan
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah. Berdasarkan peraturan mengenai standar isi peminatan
kejuruan untuk SMK/MAK, diatur oleh Ditektur Jenderal Pendidikan Menengah. Hal tersebut
menurut saya sudah tepat, aturan-aturan mengenai pemilihan jurusan . akan tetapi lebih baik
apabila jurusan yang disediakan di SMK/MAK sesuai dengan peluang pekerjaan yang ada di
Indonesia. Mengingat banyaknya pengangguran di Indonesia, akan lebih baik apabila jurusan
dari sekolah kejuruan sesuai dengan lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia, sehingga lulusan
SMK/MA mendapat pekerjaan yang tepat berdasarkan jurusan yang diambil.

Pasal 1 ayat 5 : pencapaian kompotensi inti dan penguasaan ruang lingkup materi sesuai
jenjang dan jenis pendidikan ditetapkan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Berdasarkan
analisis pasal 1 ayat 2 dan 3 dapat dikatakan bahwa pencapaian dan penguasaan kompetensi
harus sesuai dengan jenjang pendidikan, hal tersebut karena pola pikir setiap tingkatan sangat
berbeda sehingga harus ada batasan untuk masing-masing jenjang pendidikan. Hal terebut agar
tidak terjadi penyampaian materi yang kebablasan atau ketidaktepatan materi yang diberikan.
Disini kurikulum berperan atau turut berpartisipasi dalam kontrol sosial dan menekankan pada
unsur berpikir kritis, menciptakan pelajaran, pengalaman, cara berpikir, keterampilan, dan
kemampuan baru yang bermanfaat. Berdasarkan prinsip kurikulum dapat dikatakan bahwa benar
apabila KI dan KD ditetapkan oleh Pusat Kurikulum dan Pembukuan. Akan tetapi seorang guru
dapat keluar dari kurikulum untuk mengembangkan kompetensi siswa, apabila kompetensi yang
tercantum dalam kurkulum sudah semua tercapai.

Pasal 2 : Ketika Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2016 Nomor 021
mulai berlaku, Satuan Pendidikan Dasar dan Satuan Pendidikan Menengah wajib menggunakan
Peraturan ini paling lambat dalam jangka waktu 3 tahun untuk semua tingkatan kelas yang ada.
Kritik dan saran : apabila peraturan tersebut ingin segera terealisasikan dan terpakai untuk
seluruh Satuan Pendidikan Dasar dan Satuan Pendidikan Menengah maka Peraturan tersebut
apabila sudah ditetapkan harus segera di publikasikan atau di sebar luaskan agar tenaga pendidik
dan seluruh instansi bisa menggunakan peraturan yang baru. Sebab, apabila tidak segera
dipublikasikan maka komponen dalam pendidikan seperti instansi sekolah dan tenaga pendidik
tidak akan segera mengetahui dan pelaksanaan dari Peraturan yang baru pun dapat mundur lagi
dari tanggal yang telah ditentukan atau fapat di katakan tidak sesuai denagn target yang telah
dtentukan yang bisa berakibat pada tidak tercapainya tujuan pendidikan dalam jangka waktu
yang telah ditentukan.

Pasal 3 :Ketika Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2016 Nomor 021
mulai berlaku, maka Peraturan Menteri PendidikanNasional Nomor 64 Tahun 2013 yang berisi
tentang Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dinyatakan sudah dicabut dan tidak berlaku.
Kritik dan saran : hal tersebut menurut saya tidak masalah apabila peraturan yang sebelumnya
dicabut karena dalam peraturan yang baru pun hal yang dibahas didalamnya sama yaitu
membahas tentang Standar Isi. Namun, alangkah baiknya apabila Peraturan yang baru tersebut
berusaha memperbaiki Peraturan yanng lama. Melihat dari hal tersebut maka dengan Peraturan
baru seharusnya mempertahankan sesuatu yang bagus dan memperbaiki sesuatu yang kurang
bagus dari Peraturan lama. Sehingga, dengan adanya pembaharuan Peraturan tersebut membuat
Pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik dan dapat digunakan ntuk mencapai tujuan Nasional
Indonesia dan mencapai tujuan Pendidikan Indonesia yang tepat sasaran.

Pasal 4 :Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2016 Nomor 021 mulai
berlaku pada tanggal 28 Juni 2016. Kritik dan saran : apabila sudah di tetapkan tanggal tersebut
Peraturan mulai berlaku maka alangkah baiknya apabila peraturan tersebut untuk segera di sebar
luaskan agar segala sesuatu yang berada di dalam peraturan yang lama menjadi tidak berlaku dan
segala isi yang ada di Peraturan baru segera berlaku dan di jalankan oleh instansi pendidikan
terutama tenaga pendidiknya.

Ayat 6 :

Kompetensi dasar berasal dari kompetensi inti pada tiap mata pelajaran di rumuskan sesuai
dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu yang di tetapkan oleh pusat kurikulum dan
perbukuan yang dimiliki oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan.
Kritik dan saran : KI maupun KD dirumuskan sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan
tertentu tidak menjadi suatu masalah asalkan dalam pembuatan rumusan tersebut sesuai dengan
tujuan pendidikan dan melihat kedalam kebutuhan, kebermanfaatan, keefektifan serta
keefisienan dari materi tersebut untuk mencapai suatu mata pelajaran tersebut.

Ayat 7 :

Penyusunan secara jelas kompetensi dasar yang ada pada kompetensi inti sikap spiritual sesuai
dengan perumusan ayat 6 pada mata pelajaran pendidikan agama dan budipekerti.

Kritik dan saran : didalam kompetensi inti terdapat berbagai macam aspek yang harus di
penuhi dan dilaksanakan sebagai wujud ketercapaiannya suatu tujuan pendidikan. Aspek yang
harus dicapai tersebut diantaranya yaitu aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Sikap
spiritual atau yang biasa disebut dengan keagamaan termasuk kedalam aspek sikap yang
terkandung didalam kompetensi inti mata pelajaran pendidikan agama dan budipekerti, sehingga
apabila dalam mewujudkan sikap spiritual tersebut di jelaskan atau di jabarkan secara lebih rinci
maka akan masuk kedalam aspek yang berada di dalam mata pelajaran budipekerti. Karena
kedua mata pelajaran tersebut saling berkaitan dimana agama merupakan dasar dari perilaku atau
budipekerti yang baik, sebab di dalam agama pasti dianjurkan untuk melakukan sesuatu yang
baik dan meninggalkan sesuatu yang buruk. Sehingga pada ayat 7 ini sudah baik apabila dalam
perumusannya disusun secara jelas.

Ayat 8 : Penyusunan secara jelas kompetensi dasar yang ada pada kompetensi inti sikap
sosial sesuai dengan perumusan ayat 6 pada mata pelajaran pendidikan pancasila dan
kewaraganegaraan. Kritik dan saran : melihat dari berbagai aspek yang harus dicapai tersebut
diantaranya yaitu aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Sikap sosial termasuk kedalam
aspek sikap yang terkandung didalam kompetensi inti mata pelajaran pendidikan pancasila dan
kewarganegaraan, dimana dalam mata pelajaran tersebut menjunjung tinggi rasa kekeluargaan,
kebersamaan, dan kesolidan dalam suatu negara sehingga apabila dalam mewujudkan sikap
sosial tersebut di jelaskan atau di jabarkan secara lebih jelas dannterperinci maka akan
memberikan suatu kejelasan kepada siswa dan dapat mendidik siswa untuk menjaga keutuhan
bangsa, kekeluargaan, kebangsaan dll. Sehingga pada ayat 8 ini sudah baik apabila dalam
perumusannya disusun secara jelas dan berdasarkan tujuan pendidikan.
Ayat 9 : Standar isi pendidikan dasar dan menengah didalamnya terdapat tingkat
kompetensi dan kompetensi inti yang sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu
merupakan bagian yang tidak terpisah dari Peraturan Menteri. Kritik dan saran : segala sesuatu
tentang pendidikan memang tanggung jawab Menteri Pendidikan, tetapi dalam pelaksanaan
dalam mewujudkan standar isi yang sesuai dengan tujuan pendidikan Menteri memebutuhkan
bantuan tenaga pendidik dan lainnya dalam terjun langsung menangani siswa dan mendidik
siswa. Sehingga, dalam penyusunan dan pembuatan tujuan pendidikan Menteri tetap harus
menerima usulan dari tenaga pendidik atau yang lainnya yang mengetahui keadaan yang
sebenarnya saat ini. Sehingga, walaupun hal diatas merupakan bagian yang tidak terpisah dari
Peraturan Menteri tetapi tetap tepat sasaran dan sesuai dengan keadaan yang ada saat ini.