Anda di halaman 1dari 16

NAMA : FAZHA SEFIRA CAHYA RESTI

NIM : 15304241033

KELAS : PENDIDIKAN BIOLOGI A 2015

1. JUDUL APLIKASI:

ELEKTROKARDIOGRAM

2. GAMBAR DAN ALAT

Bagian dari alat EKG :


a) 4 (empat) buah sadapan ekstremitas, yaitu:
• Tangan kiri (LA)
• Tangan kanan (RA)
• Kaki kiri (LL)
• Kaki kanan (RL)
b) 6 (enam) buah sadapan dada yaitu V1, V2, V3, V4, V5, V6
c) Kabel sadapan yang terdiri dari 10 elektroda (4 buah unruk elektroda ekstremitas, dan 6
buahuntuk elektroda dada)
d) Kertas grafik EKG
f) Kertas Perekam EKG
3. PRINSIP KERJA :

Aktivitas listrik jantung dapat diukur dengan mudah dengan menggunakan instrumen
elektrokardiograf (hasil terekam disebut elektrokardiogram). Elektrokardiogram digunakan
sebagai alat bantu diagnostik di rumah sakit, karena ukuran, frekwensi dan durasi gelombang
normal yang terbentuk adalah konstan pada orang sehat. Perubahan apapun pada pola gelombang
dapat mengindikasikan adanya masalah, misalnya blok jantung terlihat sebagai gelombang P
yang tidak di ikuti kompleks QRS. Hilangnya gelombang P mengidentifikasi bahwa nodus AV
mengambil alih pacu jantung, dan fibrilasi ventrikel terlihat sebagai gelombang yang iregular.
Elektrokardiogram (EKG) merupakan rekaman grafik potensial-potensial listrik yang di
timbulkan oleh jaringan jantung. Jantung merupakan otot tubuh yang bersifat unik karena
mempunyai sifat membentuk impuls secara otomatis dan berkontraksi ritmis. Pembentukan
impuls listrik terjadi dalam sistem penghantar jantung, perangsang serabut serabut otot sepanjang
miokardium mengakibatkan kontraksi jantung. Pembentukan dan hantaran impuls listrik ini
menimbulkan arus listrik yang lemah yang menyebar melalui tubuh.
Dimana kita ketahui bahwa arus listrik adalah banyaknya muatan yang mengalir dalam sebuah
penghantar tiap satuan waktu. Sedangkan beda potensial antara ujung-ujung penghantar dikenal
dengan tegangan listrik. Hubungan arus dan tegangan dalam sebuah penghantar dinyatakan
dalam persmaan yang dikenal dengan hukum ohm. Jika suatu hambatan listrik diberi beda
potensial V sehingga padanya mengalir arus listrik sebesar I maka daya listrik didefinisikan
sebagai:
Untuk potensial yang besarnya tidak konstant misalnya, maka dimana pada sebuah rangkaian
resistor :
a. Seri
b. Paralel

Dalam alirannya, arus listrik juga mengalami cabang-cabang. Ketika arus listrik melalui
percabangan tersebut, arus listrik terbagi pada setiap percabangan dan besarnya tergantung ada
tidaknya hambatan pada cabang tersebut. Bila hambatan pada cabang tersebut besar maka
akibatnya arus listrik yang melalui cabang tersebut juga mengecil dan sebaliknya bila pada
cabang, hambatannya kecil maka arus listrik yang melalui cabang tersebut arus listriknya besar.
Sehingga didapatkan gasil yang mengikuti hukum kirchoff, dimana hukum kirchoff adalah
jumlah kuat arus listrik yang masuk ke suatu titik simpul sama dengan jumlah kuat arus listrik
yang keluar dari titik simpul tersebut. Hukum I Kirchhoff tersebut sebenarnya tidak lain
sebutannya dengan hukum kekekalan muatan listrik seperti tampak dalam analogi pada gambar
berikut.

Hukum Kirchoff
a) Kirchoff Current Law (KCL)
Dalam suatu percabangan, jumlah arus yang masuk sama dengan jumlah arus yang keluar

b) Kirchoff Voltage Law (KVL)


Dalam suatu rangkaian tertutup (loop) jumlah seluruh beda potensial sama dengan 0.
Bentuk Sinyal Listrik yang mana telah diterapkan dalam penggunaan Elektrokardiogram
(EKG). EKG direkam dengan meletakkan elektroda-elektroda ke berbagai bagian permukaan
tubuh dan menghubungkannya dengan alat perekam. Hubungan alat ini sedemikian rupa
sehingga defleksi ke bawah menyatakan potensial negatif.
EKG mempunyai nilai diagnostik pada keadaan-keadaan klinik berikut ini:
• Hipertrofi atrium dan ventrikel
• Kelambatan sadapan impuls listrik pada atrium dan ventrikel
• Iskemia dan infark miokardium
• Penentuan asal dan pemantauan sifat disritmia
• Perikarditis
• Penyakit sistemik yang memberi efek pada jantung
• Penentuan efek obat-obat jantung, khususnya digitalis dan obat antiaritmia tertentu
• Ganguan keseimbangan elektrolit, khususnya kalium
• Penilaian fungsi pacu jantung
EKG merupakan tes laboratorium, bukan merupakan “sine qua non” diagnosis penyakit
jantung. Pasien penyakit jantung mungkin mempunyai EKG normal, dan individu normal
mungkin mempunyai EKG abnormal. Terlalu sering seorang pasien dianggap mempunyai cacat
jantung semata-mata berdasarkan beberapa kelainan pada EKG, sebaliknya pasien mungkin
mendapat kepastian tidak menderita penyakit jantung semata-mata berdasarkan EKG normal.
Maka dari pada itu, EKG harus selalu dinilai dari keadaan kliniknya.
A. Bentuk Gelombang.

Gambar 1. Bentuk Sinyal Elektrokardiograf


Elektrokardiogram tediri atas sebuah gelombang P, sebuah kompleks QRS dan sebuah
gelombang T. Seringkali kompleks QRS itu terdiri atas tiga gelombang yang terpisah, yakni
gelombang Q, gelombang R dan gelombang S, namun jarang ditemukan.

B. Amplitudo atau Tegangan EKG


Besarnya tegangan–tegangan normal yang terdapat pada EKG bergantung pada cara
pemasangan elektroda-elektroda pada permukaan tubuh dan jarak elektoda ke jantung. Bila salah
satu elektroda dipasang langsung diatas jantung dan elektroda yang lain ditempatkan pada
permukaan tubuh lain, tegangan kompleks QRS mungkin sebesar 3 sampai 4 millivolt. Tegangan
ini pun masih kecil bila dibandingkan dengan potensial aksi monofasik sebesar 110 millivolt
yang direkam langsung pada membran otot jantung. Bila EKG direkam dengan memasang
elektroda pada kedua lengan atau pada satu lengan dan satu tungkai, tegangan kompleks QRS
biasanya kurang lebih 1 milivolt, mulai dari puncak gelombang R sampai kedasar gelombang S;
besarnya tegangan gelombang T antara 0,1 dan 0.3 volt dan tegangan gelombang P antara 0,2
dan 0,3 millivolt.

C. Durasi atau Interval Gelombang


a. Interval P-Q atau Interval P-R
Lama waktu antara permulaan gelombang P dan permulaan gelombang QRS adalah interval
waktu antara permulaan kontraksi ventrikel. Periode ini disebut sebagai interval P-Q. Interval P-
Q normal adalah kira-kira 0,16 detik. Kadang-kadang interval ini juga disebut sebagai interval P-
R sebab gelombang Q sering tidak ada.
b. Interval Q-T
Kontraksi ventrikel berlangsung hampir dari permulaan gelombang Q sampai akhir gelombang
T. Interval ini juga disebut sebagai interval P-R sebab gelombang Q sering tidak ada. Sinyal
EKG ini memiliki sifat- sifat khas yang lain yaitu: Amplitudo rendah (sekitar 10μV – 10mV) dan
frekuensi rendah (sekitar 0,05 – 100Hz).

D. Terbentuknya Sinyal EKG dan Biopetensial Jantung


Jantung terdiri dari 2 bagian besar otot halus, yaitu atrium dan ventrikel yang membentuk
syncytium atau fusi dari sel-sel yang mengalirkan depolarisasi dari satu sel ke sel yang lain yang
berdekatan. Disebabkan oleh kebocoran ion pada membran otot yang halus, jaringan jantung
mengalami depolarisasi spontan dan secara efektif berosilasi. Simpul Sinoatrial(SA) berdenyut
70-80 tiap detik pada kondisi normal. Simpul Atrioventrikular(AV) berdenyut 40-60 per detik
dan bundle branch berosilasi 15-40 per detik.Depolarisasi dari SA menyebar melalui atrium dan
mencapai AV dalam 40 ms. Jaringan simpul AV membutuhkan waktu 110 ms untuk
mendepolarisasi dan mencapai bundel branch, yang dinamakan sistem purkinje. Ventrikel
berkontraksi, ventrikel kanan memasok darah ke paru-paru, dan ventrikel kiri mendorong darah
ke aorta berulang-ulang melalui sistem sirkulasi. Periode kontraksi ini disebut systole.
Potensial aksi dari ventrikel bertahan sekitar 200-250 ms, ini menyebabkan ventrikel
berkontraksi dan mengosongkan darah menuju arteri. Jantung berpolarisasi selama sisa waktu,
ini dinamakan diastole. Selama diastole, saat jantung beristirahat, semua sel berpolarisasi
sehingga potensial di dalam tiap sel lebih negatif dibandingkan dengan di luar sel. Normalnya
depolarisasi pertama kali terjadi pada simpul SA, menyebabkan bagian luar dari jaringan lebih
negatif dibanding di dalam sel, dan lebih negatif dari kondisi sebelumnya. Ketidakseimbangan
dari arus ion, I menyebabkan tangan kiri (LA) terukur lebih positif dari tangan kanan (RA).
Tegangan terukur disebut gelombang P(P-wave).
Setelah 90 ms, atrium terdepolarisasi sempurna dan arus ion yang terukur berkurang menjadi nol.
Depolarisasi kemudian melawati simpul atrioventrikular menyebabkan delay sekitar 110 ms.
Depolarisasi kemudian melalui otot ventrikel kanan, mendepolarisasinya dan membuat lebih
negatif dari otot ventrikel kiri yang masih terpolarisasi. Arah dari I menyebabkan LA lebih
positif dari RA , ini dinamakan gelombang R.
Bentuk lengkap dari gelombang pada Gambar 1 disebut elektrokardiogram (EKG) dengan label
P,Q,R,S dan T sebagai indikasi. Gelombang P terjadi dari depolarisasi atrium, sedangkan pola
QRS terjadi karena depolarisasi dari ventrikel dengan amplitudo dari titik R mendekati 1mV.
Gambar lengkap suatu sinyal EKG dapat dilihat pada gambar 1. Dengan melihat sinyal listrik
yang terekam pada permukaan tubuh, yang kesemuanya prosedur noninvasif, seorang kardiolog
dapat mengetahui kondisi fungsional dari jantung. Studi mengenai kardiologi berdasarkan
rekaman EKG dari ribuan pasien selama bertahun-tahun dan pengamatan mengenai hubungan
antara bermacam-macam bentuk gelombang dengan ketidaknormalan yang berbeda-beda.
Kardiologi klinis merupakan ilmu empiris, sebagian besar merupakan pengetahuan
eksperimental. Seorang kardiolog belajar mengenai arti berbagai bagian dari sinyal EKG dari
ahli yang telah belajar dari ahli yang lain. Karena itu tidak didapatkan persamaan matematis
yang dapat mengambarkan bentuk sinyal EKG dengan pendekatan yang baik

E. Jenis-jenis Noise EKG


Seperti halnya dengan sinyal biomedical yang lainnya, sinyal EKG juga dipengaruhi oleh
beberapa sumber noise yang tidak diinginkan. Menurut Gari D. Clifford, beberapa sumber noise
tersebut adalah:
a. Muscle artefact (MA)
Noise ini berasal dari kontraksi yang terjadi dibawah elektroda EKG. Noise ini mempunyai
bandwith yang hampir sama dengan sinya EKG sehingga sulit untuk dihilangkan dengan filter
yang sederhana.
b. Electrode movement(EM)
Dihasilkan karena sedikitnya kontak antara elektroda EKG dengan kulit.
c. Baseline wander(BW)
Noise ini disebabkan oleh pergerakan subjek selama perekaman EKG.

Gambar 2. Jenis Noise pada EKG


F. Prinsip Dasar Kerja Elektrokardiograf
Aktivitas elektrik ditimbulkan oleh sel jantung sebagai ion yang bertukar melewati membran sel.
Elektroda yang dapat menghantarkan aktivitas listrik dari jantung ke mesin EKG ditempatkan
pada posisi yang strategis di ekstremitas dan precordium dada. Energi elektrik yang sangat
sensitive kemudian diubah menjadi grafik yang ditampilkan oleh mesin EKG. Tampilan ini
disebut elektrokardiogram. Kontraksi jantung direpresentasikan dalam bentuk gelombang pada
kertas EKG, dan dinamakan gelombang P, Q, R, S, dan T. Bentuk gelombang ini ditunjukkan
pada defleksi terhadap garis isoelektrik (garis yang menunjukkan tidak adanya energi). Garis
isoelektrik dapat ditentukan dengan melihat interval dari T hingga P.
• Gelombang P adalah defleksi positif yang pertama dan merepresentasikan depolarisasi atrium
• Gelombang Q merupakan defleksi negative pertama setelah gelombang P
• Gelombang R merupakan defleksi positif pertama setelah gelombang P
• Gelombang S merupakan defleksi negative setelah gelombang R
• Bentuk gelombang QRS biasanya dilihat sebagai satu unit dan merepresentasikan depolarisasi
ventrikel
• Gelombang T mengikuti gelombang S dan bergabung dengan kompleks QRS sebagai segmen
ST
• Gelombang T merepresentasikan kembalinya ion ke dalam sisi (appropriate) dalam membrane
sel. Ini sama dengan relaksasi dari serabut otot dan menggambarkan repolarisasi ventrikel
• Interfal QT merupakan waktu antara gelombang Q dan gelombang T.
G. Irama Normal Pada EKG
Rekaman EKG biasanya dibuat pada kertas yang berjalan dengan kecepatan standard 25mm/
detik dan defleksi 10mm sesua dengan potensial 1mV.Sebagai jantung mengalami depolarisasi
dan repolarisasi , arus listrik yang dihasilkan menyebar tidak hanya di dalam hati, tetapi juga
seluruh tubuh. Kegiatan ini listrik yang dihasilkan oleh jantung dapat diukur oleh sederetan
elektroda ditempatkan pada permukaan tubuh. Mencatat penelusuran disebut elektrokardiogram
(ECG atau EKG). EKG merupakan urutan depolarisasi dan repolarisasi dari atrium dan ventrikel.
EKG dicatat pada kecepatan 25 mm / detik, dan tegangan yang dikalibrasi sehingga 1 mV = 10
mm dalam arah vertikal. Oleh karena itu, masing-masing 1-mm persegi kecil merupakan 0,04
detik (40 msec) dalam waktu dan 0,1 mV pada tegangan. Karena kecepatan rekaman standar,
seseorang dapat menghitung detak jantung dari interval antara gelombang yang berbeda.

H. Prinsip Pengukuran Dan Instrumentasi Yang Digunakan


Sinyal pengukuran ECG memiliki rentang potensial sekitar 2 mV dan frekuensi 0.05 – 150 Hz.
Huruf P, Q, R, S, T, dan U yang dipilih Einthoven sebagai identitas nama gelombang dipakai
oleh standar Asosiasi Jantung Amerika (American Heart Association) dan Asosiasi Instrumen
Medis tingkat lanjut (Association for the Advancement of Medical Instrumentation). Instrumen
modern ECG merupakan sebuah sistem pengukuran yang mengintegrasikan peralatan komputer,
12-16 bit analog-digital (A/D) converter, micro controller, dan processor input-output (I/O).
Sistem ECG menghitung matriks-matriks dari 12 sinyal Lead dan menganalisisnya dengan
aturan yang baku sehingga tercipta hasil akhir pengukuran.
Gambaran EKG normal menunjukkan bentuk dasar sebagai berikut :

1. Gelombang P : Gelombang ini pada umumnya berukuran kecil dan merupakan hasil
depolarisasi atrium kanan dan kiri.
2. Segmen PR : Segmen ini merupakan garis iso-elektrik yang menghubungkan antara
gelombang P dengan Kompleks QRS
3. Kompleks QRS : Kompleks QRS merupakan suatu kelompok gelombang yang merupakan
hasil depolarisasi ventrikel kanan dan kiri.Kompleks QRS pada umumnya terdiri dari gelombagn
Q yang merupakan gelombang defleksi negatif pertama, gelombang R yang merupakan
gelombang defleksi positif pertama, dan gelombang S yang merupakan gelombang defleksi
negatif pertama setelah gelombang R.
4. Segmen ST : Segmen ini merupakan garis iso-elektrik yang menghubungkan kompleks QRS
dengan gelombang TPeriode isoelektrik (ST segmen) berikut QRS adalah waktu di mana seluruh
ventrikel depolarized dan kasar sesuai dengan fase dataran tinggi dari potensial aksi ventrikel.
Segmen ST adalah penting dalam diagnosis iskemia ventrikel atau hipoksia karena dalam kondisi
seperti, segmen ST bisa menjadi baik tertekan atau ditinggikan.
5. Gelombang T : Gelombang T merupakan pontesial repolarisasi dari ventrikel kiri dan kanan
6. Gelombang U : Gelombang in berukuran kecil dan sering tidak ada. Asal gelombang ini masih
belum jelas.
Dalam melaporkan hasil EKG sebaiknya mencakup hal-hal berikut :
1. Frekuensi (heart rate)
2. Irama jantung (Rhyme)
3. Sumbu jantung (Axis)
4. Ada /tidaknya tanda tanda hipertrofi (atrium/ventrikel)
5. Ada/tidaknya tanda tanda kelainan mikard (iskhemi/ injuri/infark)
6. Ada/tidaknya tanda tanda akibat gangguan lain (efek obat obatan, gangguan keseimbangan
elektrolit, gangguan fungsi pacu jantung )

K. Sadapan pada EKG


Kata sadapan memiliki 2 arti pada elektrokardiografi yaitu bisa merujuk ke kabel yang
menghubungkan sebuah elektrode ke elektrokardiograf, atau ke gabungan elektrode yang
membentuk garis khayalan pada badan di mana sinyal listrik diukur. Sebuah elektrokardiogram
diperoleh dengan menggunakan potensial listrik antara sejumlah titik tubuh menggunakan
penguat instrumentasi biomedis. Sebuah sadapan mencatat sinyal listrik jantung dari gabungan
khusus elektrode rekam yang ditempatkan di titik-titik tertentu tubuh pasien.
• Saat bergerak ke arah elektrode positif, muka gelombang depolarisasi (atau rerata vektor listrik)
menciptakan defleksi positif di EKG di sadapan yang berhubungan.
• Saat bergerak dari elektrode positif, muka gelombang depolarisasi menciptakan defleksi negatif
pada EKG di sadapan yang berhubungan.
• Saat bergerak tegak lurus ke elektrode positif, muka gelombang depolarisasi (atau rerata vektor
listrik) menciptakan kompleks equifasik (atau isoelektrik) di EKG, yang akan bernilai positif saat
muka gelombang depolarisasi (atau rerata vektor listrik) mendekati (A), dan kemudian menjadi
negatif saat melintas dekat (B).
Ekstremitas
Instrumen Electrocardiogram (ECG) mampu merekam aktivitas potensial elektrik yang
dihasilkan oleh jantung. Dari awal penemuannya hingga sekarang, masih ada beberapa prinsip
utama yang tetap digunakan oleh instrumen ini. Beberapa diantaranya adalah identitas nama
sinyal gelombang, standar penempatan tempat rekaman pada lengan dan kaki, serta teori
pemodelan yang menyatakan jantung sebagai kutub yang berubah-ubah terhadap waktu. Sadapan
bipolar standar (I, II, dan III) merupakan sadapan asli yang dipilih oleh Einthoven untuk
merekam potensial listrik pada bidang frontal. Elektroda-elektroda diletakkan pada lengan kiri (
LA = Left Arm), lengan kanan (RA = Right Arm), dan tungkai kiri (LL = Left Leg). Sifat kontak
dengan kulit harus dibuat dengan melumuri kulit dengan gel elektroda. Sadapan LA, RS, dan LL
kemudian dilekatkan pada elektroda masing-masing. Dengan memutar tombol pilihan pada alat
perekam pada 1, 2, dan 3, akan terekam sadapan standar ( I, II, dan III).

Alat elektrokardiografi juga mempunyai elektroda, tungkai kanan (RL = Right Leg), dan
sadapan yang bertindak sebagai “arde” (ground) dan tidak mempunyai peranan dalam
pembentukan EKG. Sadapan bipolar menyatakan selisih potensial listrik antara 2 tempat tertentu.
• Hantaran I = Selisih potensial antara lengan kiri dan lengan kanan (LA-RA)
• Hantaran II = Selisih potensial antara tungkai kiri dan lengan kanan (LL-RA)
• Hantaran III = Selisih potensial antara tungkai kiri dan lengan kiri (LL-LA)

Hubungn antara ketiga sadapan tersebut dinyatakan secara aljabar oleh persamaan
Enthoven: sadapan II = sadapan I + sadapan III. Hal tersebut didasarkan pada Hukum Kirchhoff
yang menyatakan bahwa jumlah aljabar semua selisih potensial dalam tetutup sama dengan nol.
Bila Enthofen membalik polaritas sadapan II (yaitu RA-LL), ketiga aksi sadapan biopoler akan
menghasilkan lingkaran tertutup, dan sadapan I+II+III=0. Karena itu, II=I+III. Potensial listrik
yang direkam dari salah satu ekstremitas akan sama tidak tergantung pada letak elektroda tesebut
pada ekstremitas. Elektroda-elektroda biasanya diletakkan tepat di atas pergelangan tangan
dengan kaki. Bila ekstremitas sudah diamputasi, elektroda dapat di letakkan pada puntung
ekstremitas. Pada pasien yang menderita tremor, rekaman yang baik dapat di peroleh dengan
meletakkan elektroda pada bagian atas ekstremitas.
Sadapan Dasar
Evolusi ECG berlanjut ketika F.N. Wilson menambahkan konsep perekaman ”multikutub”. Pada
konsep ini ada titik referensi yang merata-ratakan beda potensial ketiga cabang lainnya. Wilson
menyusun tiga Lead cabang terminal dan enam Lead cabang yang ditempatkan pada dada depan
untuk membentuk 12 Lead standar ECG.
Sebuah elektrode tambahan (biasanya hijau) terdapat di EKG 4 dan 12 sadapan modern,
yang disebut sebagai sadapan dasar yang menurut kesepakatan ditempatkan di kaki kiri, meski
secara teoritis dapat ditempatkan di manapun pada tubuh.
Sadapan Prekordial
Sadapan prekordial V1 (merah), V2 (kuning), V3 (hijau), V4 (coklat), V5 (hitam), dan V6
(ungu) ditempatkan secara langsung di dada. Karena terletak dekat jantung, 6 sadapan itu tak
memerlukan augmentasi. Terminal sentral Wilson digunakan untuk elektrode negatif, dan
sadapan-sadapan tersebut dianggap unipolar. Sadapan prekordial memandang aktivitas jantung di
bidang horizontal. Sumbu kelistrikan jantung di bidang horizontal disebut sebagai sumbu Z.
Sadapan V1, V2, dan V3 disebut sebagai sadapan prekordial kanan sedangkan V4, V5, dan V6
disebut sebagai sadapan prekordial kiri.

Posisi Sadapan Prekordial EKG:


Kompleks QRS negatif di sadapan V1 dan positif di sadapan V6. Kompleks QRS harus
menunjukkan peralihan bertahap dari negatif ke positif antara sadapan V2 dan V4. Sadapan
ekuifasik itu disebut sebagai sadapan transisi. Saat terjadi lebih awal daripada sadapan V3,
peralihan ini disebut sebagai peralihan awal. Saat terjadi setelah sadapan V3, peralihan ini
disebut sebagai peralihan akhir. Harus ada pertambahan bertahap pada amplitudo gelombang R
antara sadapan V1 dan V4. Ini dikenal sebagai progresi gelombang R. Progresi gelombang R
yang kecil bukanlah penemuan yang spesifik, karena dapat disebabkan oleh sejumlah
abnormalitas konduksi, infark otot jantung, kardiomiopati, dan keadaan patologis lainnya.
• Sadapan V1 ditempatkan di ruang intercostal IV di kanan sternum.
• Sadapan V2 ditempatkan di ruang intercostal IV di kiri sternum.
• Sadapan V3 ditempatkan di antara sadapan V2 dan V4.
• Sadapan V4 ditempatkan di ruang intercostal V di linea (sekalipun detak apeks berpindah).
• Sadapan V5 ditempatkan secara mendatar dengan V4 di linea axillaris anterior.
• Sadapan V6 ditempatkan secara mendatar dengan V4 dan V5 di linea midaxillaris.
Yang harus diperhatikan dalam melaksanakan perekaman EKG antara lain :
1. EKG sebaiknya direkam pada pasien yang berbaring di tempat tidur yang nyaman atau pada
meja yang cukup lebar untuk menyokong seluruh tubuh. Pasien harus istirahat total untuk
memastikan memperoleh gambar yang memuaskan. Hal ini paling baik dengan menjelaskan
tindakan terlebih dahulu kepada pasien yang takut untuk menghilangkan ansietas. Gerakan atau
kedutan otot oleh pasien dapat merubah rekaman.
2. Kontak yang baik harus terjadi antara kulit dan elektroda. Kontak yang jelek dapat
mengakibatkan rekaman suboptimal.
3. Alat elektrokardiografi harus distandarisasi dengan cermat sehingga 1 milivolt (mV) akan
menimbulkan defleksi 1 cm. Standarisasi yang salah akan menimbulkan kompleks voltase yang
tidak akurat, yang dapat menimbulkan kesalahan penilaian.
4. Pasien dan alat harus di arde dengan baik untuk menghindari gangguan arus bolak-balik.
5. Setiap peralatan elektronik yang kontak dengan pasien, misalnya pompa infus intravena yang
diatur secara elektrik dapat menimbulkan artefak pada EKG.

4. KEGUNAAN
Dalam era globalisasi dimana arus informasi dan pengetahuan mengalir dengan deras
diharapkan seorang dokter memiliki kompetensi minimal yang diharapkan mampu
mengembangkan profesionalisme dokter. Sebagai seorang praktisi medis, terutama dokter
dimana dalam menangani pasien-pasien dengan keluhan yang mengarah pada penyakit jantung
dibutuhkan kemampuan dan keterampilan dalam interpretasi elektrokardiografi sebagai salah
satu pemeriksaan penunjang. EKG (elektrokardiogram atau elektrokardiograf) merupakan salah
satu penunjang diagnostik yang penting dalam dunia kedokteran. EKG mampu merekam
aktivitas gelombang listik jantung dari beberapa sudut pandang yang terjadi akibat perbedaan
potensial listrik dalam sel jantung.
EKG dalam pengaplikasiannya dalam dunia medis memiliki manfaat yang tinggi dan
tidak mahal. Pengaplikasian EKG dapat memberikan data yang membantu dalam diagnosis
keluhan nyeri dada, pembesaran jantung, mengenali aritmia, gangguan konduksi, mendeteksi
infark miokard dan beberapa gangguan elektrolit. Dalam aplikasi EKG yang cukup banyak
tentunya tidak mengesampingkan perannya sebagai alat penunjang diagnostik, sehingga
mengenali keadaan pasien dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang benar tentu tidak dapat
diabaikan.
Rekaman dalam suatu sistem kerja EKG tersebut dibuat dengan alat elektrokardiograph,
dimana Elektrokardiograph adalah suatu instrumen yang digunakan dalam merekam aktifitas
listrik jantung, dimana pemasangannya di lakukan di dada.
Pengaplikasian pada rekaman EKG dapat digunakan untuk mendiagnosis adanya :
1. Hipertrofi atria dan ventrikel
2. Infark miokard
3. Aritmia
4. Perikarditis
5. Efek obat – obatan khususnya digitalis
6. Gangguan elektrolit
7. Beberapa penyakit sistemik seperti hipertiroid
8. Menentukan kodisi jantung dari pasien.
Saat ini, dokter dapat membuat pengukuran yang detil terhadap aktivitas listrik jantung
dengan menempelkan elektroda pada titik-titik tertentu tubuh pasien misalnya di bagian dada,
lengan, dan kaki. Hasil yang tercatat, disebut dengan elektrokardiogram, dapat membantu
mengidentifikasi kerusakan pada jantung.
Beberapa aplikasi ECG dalam dunia medis diantaranya adalah:
• Sebagai alat bantu diagnostik di rumah sakit, karena ukuran, frekuensi dan durasi gelombang
normal yang terbentuk adalah konstan pada orang sehat.
• Merupakan standar emas untuk diagnosis aritmia jantung yaitu dengan mengetahui adanya
kelainan-kelainan irama jantung
• Memandu tingkatan terapi dan risiko untuk pasien yang dicurigai adanya infark otot jantung
akut.
• Membantu mengetahui adanya gangguan elektrolit (sebagai contoh hiperkalemia dan
hipokalemia)
• Mengetahui adanya gangguan perikarditis
• Memungkinkan penemuan abnormalitas konduksi (sebagai contoh blok cabang berkas kanan
dan kiri)
• Digunakan sebagai alat tapis penyakit jantung iskemik selama uji stres jantung
• Kadang-kadang berguna untuk mendeteksi penyakit bukan jantung (sebagai contoh emboli paru
atau hipotermia)
• Mendeteksi adanya miokardium infark dan tipe penyakit arteri koroner lainnya, seperti angina
(infark, hipertrophy atrial dan ventrikel)
• Mendeteksi adanya disritmia jantung
• Mendeteksi adanya pembesaran jantung
• Mendeteksi adanya penyakit inflamasi pada jantung
• Mendeteksi adanya efek obat-obatan pada jantung seperti digitalis (lanoxin) dan Tricyclic
antidepressants.
• Mengetahui kelainan-kelainan miokardium.
• Mengetahui adanya pengaruh atau efek obat-obat jantung.
Teknik pengaplikasian Elektrokardiografi (EKG)
• Standard Clinical ECG
Menggunakan 12 Lead. Digunakan untuk menganalisa kondisi kesehatan jantung pasien.
• Vectorcardiogram
Pemodelan potensial tubuh sebagai vektor 3 dimensi dengan sadapan bipolar Einthoven.
Menggunakan 3 Lead.
• Monitoring ECG
Menggunakan 1 atau 2 elektroda yang ditempelkan pada titik tertentu yang digunakan untuk
memantau kondisi kesehatan jantung pasien dalam jangka waktu yang panjang.

5. CARA PENGGUNAAN ALAT

1. Atur Posisi Pasien, posisi pasien diatur terlentang datar


2. Buka dan longgarkan pakaian pasien bagian atas, bila pasien memakai jam tangan,
gelang, logam lain agar dilepas
3. Bersihkan kotoran dengan menggunakan kapas pada daerah dada, kedua pergelangan
tangan dan kedua tungkai dilokasi manset elektroda.
4. Mengoleskan jelly pada permukaan elektroda.
5. Memasang manset elektroda pada kedua pergelangan tangan dan kedua tungkai.
6. Memasang arde.
7. Menghidupkan monitor Elektrokardiogram.
8. Menyambungkan kabel Elektrokardiogram pada kedua tungkai pergelangan tangan dan
kedua tungkai pergelangan kaki pasien, untuk rekaman ekstremitas lead (Lead I, II, III,
AVR, AVL, AVF) dengan cara :
 Warna merah pada pergelangan tangan kanan
 Warna hijau pada kaki kiri
 Warna hitam pada kaki kanan.
 Warna kuning pada pergelangan tangan kiri.
 Memasang elektroda dada untuk rekaman precardial lead

o V1 pada interkosta keempat garis sternum kanan


o V2 pada interkosta keempat garis sternum kiri
o V3 pada pertengahan V2 dan V4
o V4 pada interkosta kelima garis pertengahan clavikula kiri
o V5 pada axila sebelah depan kiri
o V6 pada axila sebelah belakang kiri

9. Melakukan kalibrasi dengan kecepatan 25 mili/detik


10. Bila rekaman Elektrokardiogram telah lengkap terekam, semua elektroda yang melekat
ditubuh pasien dilepas dan dibersihkan seperti semula.