Anda di halaman 1dari 11

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ekosistem perairan tawar secara umum dibagi menjadi dua yaitu perairan
lentik atau perairan tergenang seperti kolam, danau, rawa dan perairan lotik atau
perairan mengalir seperti mata air dan sungai (Odum, 1996).
Sungai merupakan suatu habitat perairan tawar yang terbentuk karena bagian
dari siklus hidrologi yang dibatasi oleh bukit atau gunung yang menampung curah
hujan dan mengalir menuju laut.bila dibandingkan dengan lautan maupun daratan.
Perairan air tawar merupakan Suatu ekosistem dapat terbentuk oleh adanya
interaksi antara makhluk dan lingkungannya, baik antara makhluk hidup dengan
makhluk hidup lainnya dan antara makhluk hidup dengan lingkungan abiotik
(habitat).
Interaksi dalam ekosistem didasari adanya hubungan saling membutuhkan
antara sesama makhluk hidup dan adanya eksploitasi lingkungan abiotik untuk
kebutuhan dasar hidup bagi makhluk hidup. Di lihat dari aspek kebutuhannya,
sesungguhnya interaksi bagi makhluk hidupumumnya merupakan upaya
mendapatkan energi bagi kelangsungan hidupnya yang meliputi pertumbuhan,
pemeliharaan, reproduksi dan pergerakan. Keberlangsungan tersebut membuat
setiap individu berjuang untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Sehingga mereka memproduksi segala hal yang mereka butuhkan dalam
melangsungkan hidupnya.
Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan air mengalir.
Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk ekosistem air
mengalir adalah sungai. Ekosistem memiliki ciri-ciri antara lain variasi suhu tidak
menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca.
Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya
tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme
yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi. Hewan dan tumbuhan
rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan
osmosis lingkungan atau isotonis. Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton
merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat.
Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam
mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara
keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang dan
pencernaan.Organisme lain yang hidup pada ekosistem air tawar adalah plankton,
neuston, perifiton dan bentos. Plankton terdiri atas fitoplankton dan zooplankton;
biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air. Neuston
merupakan organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau
bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air. Perifiton merupakan
tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada tumbuhan atau benda lain,
misalnya keong. Dan bentos adalah hewan dan tumbuhan yang hidup pada
endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan
remis.
BAB II.PEMBAHASAN

2.1 Jenis Ekosistem Air Tawar


Secara umum ekosistem air tawar dibagi menjadi dua jenis yaitu ekosistem
lentik atau air tenang dan ekosistem air yang mengalir atau lotik.
Ekosistem Lentik atau Ekosistem Air Tenang
Perairan menggenang (lentik) adalah suatu bentuk ekosistem perairan yang
di dalamnya aliran atau arus air tidak memegang peranan penting. Hal ini
karena aliran air tidak begitu besar atau tidak mempengaruhi kehidupan
organisme yang ada di dalamnya. Pada perairan ini faktor yang amat penting
diperhatikan adalah pembagian wilayah air secara vertikal yang memiliki
perbedaan sifat untuk tiap lapisannya. Perairan menggenang di bagi dalam tiga
lapisan utama yang didasari oleh ada tidaknya penetrasi cahaya matahari dan
tumbuhan air, yaitu: Littoral, limnetik dan profundal, sedangkan atas dasar
perbedaan temperatur perairannya, perairan menggenang dibagi menjadi 3
kelompok yaitu: metalimnion, epilimnion, dan hipolimnion. Kelompok
organisme di perairan menggenang berdasarkan niche utama dalam
kedudukan rantai makanan meliputi produser (autotrof), makro konsumer
(heterotrof) dan mikrokonsumer (dekomposer). Kelompok organisme yang
ada di perairan menggenang berdasarkan cara hidupnya meliputi: benthos,
plankton, perifiton, nekton dan neuston. Contoh kosistem air tenang yaitu
danau, rawa air tawar, kolam, rawa gambut dan lain sebagainya:
Danau

Danau merupakan perairan lentik yang alami, dan terdiri dari danau
vulkanik yaitu danau yang terbentuk karena peristiwa letusan gunung berapi,
dan danau tektonik yaitu danau yang terbentuk karena peristiwa tektonik
misalnya akibat gempa bumi. Danau vulkanik dan tektonik banyak terdapat di
Indonesia karena Indonesia wilayahnya 6 merupakan gugusan gunung berapi
dan tedapat pada lempeng benua yang labil. Danau memiliki kedalaman yang
sangat dalam, berair jernih, penyuburan relatif lambat, produktifitas primer
rendah dan pada tahap awal perkembangan keanekaragaman organismenya
juga rendah. Danau vulkanik pada awal terbentuknya memiliki suhu air yang
tinggi, kaya akan bahan belerang, miskin bahan organik, sehingga hanya
organismenya tertentu yang memiliki kemampuan adaptasi khusus seperti
kelompok algae Cyanophyta yang menjadi organisme pioner di sana. Agak bebeda
dengan danau vulkanik, danau tektonik pada awal perkembanganya suhu air relative
rendah, air jernih, memiliki kandungan bahan organic yang cukup lengkap sehingga
dapat dihuni oleh berbagai jenis organisme, meskipun dengan jenis dan densitas
yang masih sangat terbatas karena tingkat penyuburanya relatif lambat.

Waduk

Waduk merupakan perairan menggenang akibat pembendungan secara sengaja


beberapa sungai untuk kepentingan tertentu. Berdasarkan pada tipe sungai yang
dibendung dan fungsinya, dikenal tipe waduk, yaitu waduk irigasi, waduk lapangan
dan waduk serbaguna. Waduk irigasi berasal dari pembendungan sungai intermiten,
memiliki luas antara 10 – 500 Ha dan difungsikan untuk kebutuhan irigasi. Waduk
lapangan berasal dari pembendungan sungai episodik dengan luas kurang dari 10 Ha
dan difungsikan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat di 7 sekitar waduk, seperti
pembuatan telaga di Wonosari. Waduk serbaguna berasal dari pembendungan sungai
yang permanen dengan luas lebih dari 500 Ha dan digunakan untuk keperluan PLTA,
irigasi, air minum dan lain-lain.

Daerah litoral

Merupakan daerah pinggiran perairan yang masih bersentuhan dengan


daratan. Pada daerah ini terjadi percampuran sempurna antara berbagai faktor
fisika kimiawi perairan. Organisme yang biasanya ditemukan antara lain :
tumbuhan akuatik, kerang, crustacea, amfibi, ikan, perifiton dan lain-lain
Daerah limnetik
Merupakan daerah kolam air yang terbentang antara zona litoral di satu
sisi dan zona litoral disisi lain. Zona ini memiliki berbagai variasi secara fisik,
kimiawi maupun kehidupan didalamnya. Organisme yang hidup banyak
ditemukan didaerah ini antara lain : ikan, udang, dan plankton.
Daerah profunda
Merupakan daerah dasar perairan yang lebih dalam dan menerima sedikit
cahaya matahari dibanding derah litoral dan limnetik. Bagian ini dihuni oleh
sedikit organisme terutama dari organisme bentik karnivor dan detrifor..
Daerah bentik
Merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos dan sisa-sisa
organisme mati. Berdasarkan produksi materi organiknya, terdapat dua macam
danau yaitu danau oligotropik dan danau eutropik. Danau oligotropik
merupakan danau yang dalam dan kekurangan makanan, karena fitoplankton
di daerah limnetik tidak produktif. Ciri-cirinya, airnya jernih sekali, dihuni
oleh sedikit organisme, dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang
tahun. Danau eutropik merupakan danau yang dangkal dan kaya akan
kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya adalah
airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan oksigen terdapat di
daerah profundal. Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau
eutrofik akibat adanya materi-materi organik yang masuk dan endapan.
Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-
sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya
danau dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi
ledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus
yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau
tersebut. Pengkayaan danau seperti ini disebut eutrofikasi. Eutrofikasi
menyebabkan air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan
danau.
Kolam

Kolam umumnya di definisikan sebagai kumpulan air yang dangkal dan


sifat umumnya relatif merupakan air tenang dan kaya akan vegetasi

Rawa air tawar

Rawa merupakan bentuk peralihan antara air terbuka dan dataran. Rawa
biasanya dikelilingi vegetasi, umunya dangkal dan tanaman mengapung.
Vegetasi rawa terdiri dari tumbuh-tumbuhan menahun yang selalu hijau yang
diselingiu oleh tamnaman merambat. Variasi atau keanekargaman hewan
sangat kecil. Terdapat protozoa, rotifer, nematode, larva capung, Amphisoda,
Isopoda, ikan, dan kura-kura. Pada lapisan dasar terdapat insekta, keong, dan
ikan-ikan. Dalam keadaan yang tidak menyenangkan penghuni rawa
membentuk kista. Sebagai contoh ikan (lepidosiner dan ceratodus) mem
bungkus diri dengan lumpur selama beberapa bulan.
Ekosistem Lotik atau Ekosistem Air Mengalir
Perairan mengalir (lotik) adalah suatu bentuk ekosistem perairan yang di
dalamnya aliran atau arus air memegang peranan penting. Hal ini karena aliran
air cukup begitu besar contohnya yaitu sungai. Sungai adalah suatu badan air
yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung
sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan
memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian
dan garis lintang.
Komunitas yang berada di sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang
mengalir deras tidak mendukung keberadaan komunitas plankton, karena akan
terbawa arus. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang
melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.
Organisme sungai dapat bertahan tidak terbawa arus karena mengalami
adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat melekat
pada batu. Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir menghuni
habitat kecil yang bebas dari pusaran air.
2.2 Klasifikasi Ekologis

Klasifikasi Ekologis Organisme Air Tawar : Habitat air tawar merupakan


perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air
dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup, Berdasarkan aliran
energi Organisme dibagi menjadi 3 yaitu :
 Autotroph (produsen), tanaman hijau dan mikroorganisme
kemosintetik.
 Phagotroph (konsumen makro), herbivora, predator, parasit.
 Saprotroph (konsumen mikro atau pengurai), diklasifikasikan sesuai
dengan bahan organik yang diuraikan .
Berdasarkan kebiasaan hidup Organisme dibedakan sebagai berikut yaitu:
Plankton
Terdiri alas fitoplankton dan zooplankton, organisme mengapung yang
arah pergerakannya kira-kira tergantung arus. Walaupun beberapa
zooplankton menunjukkan gerakan berenang yang aktif yang membantu
mempertahankan posisi vertical, plankton secara keseluruhan tidak dapat
bergerak melawan arus.
Nekton
Organisme yang dapat berenang dan bergerak dengan kemauan sendiri,
misalnya ikan, amfibi, serangga air besar.
Neuston
Organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau
bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air.
Perifiton
Merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada
tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.
Bentos
Hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada endapan. Bentos
dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan remis.

2.3 Perairan Air Tawar dengan Kualitas baik


Bersumber dari jurnal ekologi perairan yang dikeluarkan oleh Fakultas
Pertanian Universitas Gajah Mada Yogjakarta pada tahun 2011 menyatakan
bahwa Sungai Tambak Bayan yang berada di daerah Yogjakarta memiliki kualitas
yang baik, hal ini berarti tingkat pencemarannya masih tergolong rendah. Kondisi
tersebut dapat dilihat dari adanya kelompok bentos yang hidup menetap
(sesile) dan daya adaptasi yang bervariasi. Sebuah perairan yang tercemar
ditandai dengan kandungan CO yang lebih besar bila dibandingkan dengan
kangdungan oksigennya (O2). Terdapat korelasi antara tingkat pencemaran air
dengan organisme yang hidup dalam sebuah perairan air tawar. Semakin tinggi
kadar CO , maka kepadatan populasi semakin rendah. Semakin tinggi kadar O2
dan kecerahan air maka kepadatan populasi semakin tinggi. Dalam penelitian
terdapat tiga stasiun pengamatan pada penggal sungai yang sama. Dari ketiga
stasiun pengamatan,stasiun I menunjukkan nilai densitas terendah. Rendahnya
kerapatan ini menunjukkan bahwa lingkungan perairan pada stasiun I tidak
kondusif untuk kehidupan gastropoda yang ada di dalamnya. Hal ini disebabkan
karena pada stasiun I didapatkan kondisi sungai yang telah dimanfaatkan
untuk banyak kebutuhan manusia sehingga terjadi degradasi kualitas ekosistem
dan terjadi pencemaran bahan-bahan yang tidak disukai gastropoda atau
organisme lainnya. Buruknya kualitas air jika dibandingkan dengan stasiun
lain ini dibuktikan dengan tidak adanya keragaman spesies pada stasiun ini. Pada
stasiun ini hanya ditemukan satu jenis gastropoda yaitu keong. Stasiun II indeks
densitas gastropodanya merupakan yang paling tinggi. Kerapatan populasi pada
stasiun II lebih tinggi karena jenis substrat berupa batuan, lumpur, dan pasir.
Selain itu kandungan oksigen terlarut (5,53 ppm) lebih tinggi dari kandungan CO2
bebas (4,3 ppm). Oksigen dibutuhkan organisme dalam melakukan proses
respirasi. Faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah jenis subsrat dasar,
kandungan oksigen terlarut, kandungan karbondioksida, serta kedalaman dan
kecerahan air. Sedang faktor yang kurang berpengaruh adalah pH substrat, suhu
air dan suhu udara. Meskipun masih tergolong baik namun meningkatnya
aktivitas manusia di bantaran sungai dalam pemenuhan kebutuhannya mengancam
terjadinya degradasi kualitas lingkungan perairan sehingga perlu dilakukan
pengelolaan terpadu untuk menjaganya agar tetap terpelihara dengan baik
dan terkontrol.

2.4 Perairan Air Tawar Dengan Kualitas Kurang Baik


Kabupaten Gunung kidul sebagian besar wilayahnya merupakan
bentangan karst gunung sewu yang sangat unik. Wilayah karst ini secara alami
merupakan daerah yang tandus dan kering karena minimnya sumber air tanah dan
air permukaan, sehingga bentukan cekungan yang secara alami terbentuk di
wilayah ini menjadi sangat berarti bagi kehidupan disekitarnya. Cekungan pada
daerah karst pada saat musim penghujan akan terisi air dan kemudian dikenal
sebagai telaga. Salah satu telaga di kabupaten Gunungkidul adalah Telaga Jongge.
Telaga Jongge oleh masyarakat Gunungkidul difungsikan sebagai sarana MCK,
untuk aktivitas pertanian, perikanan, peternakan, wisata dan ritual budaya.
Kegiatan ini dapat mengakibatkan terganggunya ekosistem telaga dan perubahan
keberadaan organisme air di telaga. Perubahan kondisi periaran tersebut dapat
digambarkan melalui keberadaan organisme di perairan tersebut salah satunya
zooplankton. Zooplankton adalah plankton hewani yang hidupnya melayang-
layang dalam air dan dia mempunyai kemampuan untuk berenang. Zooplankton
dalam ekosistem perairan memiliki peran yang penting karena zooplankton
merupakan konsumen pertama fitoplankton yang mempunyai peran untuk
memindahkan energi dari produsen primer yaitu fitoplankton ke tingkat konsumen
yang lebih tinggi lagi seperti larva ikan, dan ikan-ikan kecil. Zooplankton
merupakan salah satu organisme yang rentan terhadap kondisi perubahan
lingkungan. Ketika jumlah zooplankton minim, kelimpahan konsumennya seperti
larva ikan, dan ikan-ikan kecil akan mengalami penurunan. Kondisi inilah yang
terjadi pada ekosistem air tawar Telaga Jongge.
BAB III.KESIMPULAN
Kesimpulan
Ekosistem air tawar memiliki peranan yang sangat penting karena
merupakan sumber air rumah tangga dan industri yang murah. Sebuah perairan
yang tercemar ditandai dengan kandungan CO yang lebih besar bila dibandingkan
dengan kangdungan oksigennya (O2). Terdapat korelasi antara tingkat pencemaran
air dengan organisme yang hidup dalam sebuah perairan air tawar. Semakin tinggi
kadar CO , maka kepadatan populasi semakin rendah. Semakin tinggi kadar O2
dan kecerahan air maka kepadatan populasi semakin tinggi.

Saran
Makalah ini diharapkan dapat menjadi acuan dilakukannya pemeliharaan
untuk menjaga kualitas lingkungan perairan air tawar. Meningkatnya aktivitas
manusia di bantaran sungai dalam pemenuhan kebutuhannya mengancam
terjadinya degradasi kualitas lingkungan perairan air tawar sehingga perlu
dilakukan pengelolaan terpadu untuk menjaganya agar tetap terpelihara
dengan baik dan terkontrol.
DAFTAR PUSTAKA

Endarto, Danang. 2007. Geomorfologi Umum. Surakarta: Surakarta Maret


University Press

McNaughton, S.J. dan Wolf, Larry L. 1990. Ekologi Umum. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press

http://ekosistem-ekologi.blogspot.com/2013/02/mengenal-ekosistem-air-
tawar.html
Odum, Eugene P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press