Anda di halaman 1dari 21

SIKLUS BELAJAR 3E-7E

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Strategi Belajar Mengajar


yang dibina oleh Avia Riza Dwi Kurnia, S. P., M. Pd dan Deny Setiawan M. Pd

Disusun Oleh:
Kelompok 4 Offering C 2016
Elvira Harum P 160341606012
Rama Maulidin R. A 160341606023

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BIOLOGI
Maret 2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat serta karunia-Nya
kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Siklus Belajar 3E-7E”.
Shalawat serta salam kami haturkan kepada Rasulullah SAW yang menjadi suri teladan
terbaik bagi umat manusia.

Terima kasih kami sampaikan kepada Avia Riza Dwi Kurnia, S. P., M. Pd dan Deny Setiawan
M. Pd selaku dosen pembimbing dalam penulisan tugas ini. Terima kasih kami sampaikan
kepada kawan-kawan seperjuangan yang selalu mendukung kami. Penyusunan makalah ini
dalam rangka tugas matakuliah Strategi Belajar Mengajar yang dibina oleh Avia Riza Dwi
Kurnia, S. P., M. Pd dan Deny Setiawan M. Pd. Makalah dengan judul “Siklus Belajar 3E-
7E” diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan bagi peneliti lainnya
khususnya dalam mengembangkan pembelajaran biologi yang sesuai dengan tuntutan abad
21.

Kami menyadari dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan.


Kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.

Malang, 12 Maret 2019

Penyusun

DAFTAR ISI
ii
Halaman

HALAMAN JUDUL i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii


BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Siklus Belajar 3
2.2 Tahap-tahap Siklus Belajar 4
2.3 Hakikat Pembelajaran Learning cycle 14
2.4 Keunggulan dan kelemahan dari metode siklus belajar 15

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan 16
3.2 Saran 17

DAFTAR RUJUKAN 18

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penggunaan model maupun metode yang tepat pada pembelajaran
dapat mendorong tumbuhnya rasa senang siswa terhadap pelajaran,
menumbuhkan dan meningkatkan motivasi dalam mengerjakan tugas, memberikan
kemudahan bagi siswa untuk memahami pelajaran sehingga memungkinkan siswa
mencapai hasil belajar yang lebih baik.
Siklus belajar merupakan salah satu metode perencanaan yang telah diakui
dalam pendidikan IPA. Siklus belajar dikembangkan berdasarkan teori yang
dikembangkan pada masa kini tentang bagaimana siswa seharusnya belajar. Metode
ini merupakan metode yang mudah untuk digunakan oleh guru dan dapat memberikan
kesempatan untuk mengembangkan kreativitas belajar IPA pada setiap siswa.
Guru harus menemukan cara-cara memahami pandangan-pandangan siswa,
merencanakan kerangka alternatif, merangsang kebingungan antar siswa dan
mengembangkan tugas-tugas yang mengajukan konstruksi pengetahuan.
Model pembelajaran learning cycle dikembangkan dari teori
perkembangan kognitif Piaget. Model belajar ini menyarankan agar proses
pembelajaran dapat melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang aktif sehingga
proses asimilasi, akomodasi dan organisasi dalam struktur kognitif siswa tercapai.
Bila terjadi proses konstruksi pengetahuan dengan baik maka siswa akan dapat
meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang dipelajari. Prinsip yang paling
umum dan esensial yang dapat diturunkan dari konstruktivisme ialah siswa
memperoleh pengetahuan diluar sekolah dan pendidikan seharusnya memperhatikan
hal tersebut dan juga pelajaran kemudian dikembangkan dari gagasan yang telah ada
mungkin melalui langkah-langkah intermediet dan berakhir dengan gagasan yang
telah mengalami modifikasi. Salah satu model belajar mengajar yang menerapkan
konstruktivisme adalah penggunaan model siklus belajar atau sering disebut Learning
Cycle.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Jelaskan pengertian siklus belajar?
2. Bagaimana tahap-tahap siklus belajar 3E, 4E, 5E, 6E, 7E ?
3. Jelaskan hakikat pembelajaran learning cycle ?
4. Jelaskan keunggulan dan kelemahan dari metode siklus belajar?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian siklus belajar.
2. Mengetahui tahap-tahap siklus belajar 3E, 4E, 5E, 6E, 7E.
3. Mengetahui hakikat pembelajaran learning cycle.
4. Mengetahui keunggulan dan kelemahan dari metode siklus belajar.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Siklus Belajar


Dalam sebuah Jurnal Euclid Trowbridge & Bybee (1996) mengatakan bahwa
“Learning Cycle (daur belajar) merupakan model pembelajaran sains yang berbasis
konstruktivistik. Model ini dikembangkan oleh J. Myron Atkin, Robert Karplus dan
Kelompok SCIS (Science Curriculum Improvement Study), di Universitas California,
Berkeley, Amerika Serikat sejak tahun 1970-an”.
Menurut Maswatu (2013) Learning Cycle adalah “suatu model pembelajaran
yang berpusat pada siswa (student centered) yang merupakan rangkaian tahap-tahap
kegiatan yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai
kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan berperan aktif ”.
Learning Cycle patut dikedepankan karena sesuai dengan teori belajar Piaget. Ciri
khas model pembelajaran ini adalah setiap siswa secara individu belajar materi
pembelajaran yang telah dipersiapkan oleh guru, kemudian hasil belajar individual
dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan oleh anggota kelompok dan
semua anggota kelompok bertanggungjawab secara bersama-sama atas keseluruhan
jawaban.
Pada awalnya Learning Cycle dikembangkan ke dalam 3 fase pembelajaran,
yaitu fase Exploration, fase Invention, dan fase Discovery, yang kemudian istilahnya
diganti menjadi Exploration, Concept Introduction dan Concept Application. Ketiga
tahapan tersebut terus mengalami perkembangan, Maswatu (2013) mengemukakan
bahwa “ada tiga tahapan dalam siklus belajar yaitu eksplorasi (exploration),
menjelaskan (explanation), dan memperluas (elaboration/extention), yang dikenal
dengan Learning Cycle 3E “.Selanjutnya model ini kemudian dikembangkan lagi dan
dewasa ini lebih dikenal dengan model siklus belajar sains 4-E ( 4-E science learning
cycle ), dengan tahapan-tahapan : exploration phase, explanation phase, expansion
phase, evaluation phase.. Learning cycle 4 phase saat ini telah dikembangkan dan
disempurnakan menjadi learning cycle 5 phase , learning cycle 6 phase , dan

3
learning cycle 7 phase . Pada learning cycle 5 phase, ditambahkan engagement phase
(persiapan) sebelum exploration phase dan ditambahkan pula evaluation phase
(evaluasi) pada bagian akhir siklus. Sekarang ini learning cycle 5 phase dikenal
dengan istilah LC 5E (Engagement, Exploration, Explaination, Elaboration, dan
Evaluation), Lorsbach (Fajaroh dan Dasna, 2007). Pada learning cycle 6 phase
ditambahkan phase echo sesudah phase explain, sehingga pembelajaran learning
cycle 6 phase sering juga disebut dengan pembelajaran learning cycle 6E. Eisenkraft
mengembangkan model Learning Cycle menjadi Learning Cycle 7E (Elicit, Engage,
Explore, Explain, Elaborate, Evaluate, and Extend).

2.2 Tahap-Tahap Siklus Belajar 3E,4E, 5E,6E, dan 7E


A. Siklus Belajar 3E
Pada awalnya Learning Cycle dikembangkan ke dalam 3 fase pembelajaran,
yaitu fase Exploration, fase Invention, dan fase Discovery, yang kemudian istilahnya
diganti menjadi Exploration, Concept Introduction dan Concept Application. Ketiga
tahapan tersebut terus mengalami perkembangan. Maswatu, (2013) mengemukakan
bahwa “ada tiga tahapan dalam siklus belajar yaitu eksplorasi (exploration),
menjelaskan (explanation), dan memperluas (elaboration/extention), yang dikenal
dengan Learning Cycle 3E “.
1. Eksplorasi (exploration)
Pada tahap eksplorasi pembelajar diberi kesempatan untuk memanfaatkan
panca inderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dari
kegiatan ini diharapkan muncul pertanyaan-pertanyaan yang mengarah
berkembangnya pemikiran tingkat tinggi yang diawali dengan kata-kata mengapa dan
bagaimana, Munculnya pertanyaan tersebut sekaligus menjadi indikator kesiapan
siswa menuju fase berikutnya. Sementara pada fase ini guru berperan untuk
menjawab pertanyaan siswa, memberikan pertanyaan untuk membimbing siswa
mengamati dan melibatkan siswa melakukan proses sains dan mengasah keterampilan
berpikir, memberikan petunjuk agar eksplorasi tetap berlangsung. Dengan kata lain
dalam fase ini guru memberikan pertanyaan yang bersifat divergen.
2. Menjelaskan (explanation)

4
Pada fase ini diharapkan terjadi proses menuju keseimbangan antara konsep-
konsep yang telah dimiliki siswa dengan konsep-konsep baru yang dipelajari pada
fase ini siswa diharuskan menelaah sumber pustaka dan berdiskusi. Pada tahap ini
siswa mengenal istilah-istilah yang berkaitan dengan konsep-konsep baru yang
sedang dipelajari. Sedangkan dalam fase ini guru berperan membimbing siswa
berpikir sehingga pemaham konsep yang diajarkan ditemukan secara kooperatif.
Dalam fase ini guru memberikan pertanyaan yang bersifat konvergen.
3. Memperluas (elaboration/extention)
Pada fase ini siswa diajak menerapkan pemahaman konsep yang telah
dipelajari dengan pemahaman sebelumnya agar pemahaman dan penguasaan konsep
siswa menjadi lebih mendalam, untuk melakukan hal tersebut dapat melalui kegiatan
seperti kegiatan memecahkan masalah (problem solving). dari ketiga tahapan tersebut
dapat digambarkan kedalam diagram alur pembelajaran sebagai berikut:

Gambar 2.1 Tahap Penerapan Model Siklus Belajar 3E


(Sumber: Sani, 2013)

B. Siklus Belajar 4E

5
Siklus belajar (learning cycle) 4E adalah model pembelajaran yang
berorientasi pada teori Piaget dan teori pembelajaran kognitif serta aplikasi model
pembelajaran konstruktivis. Model ini dikembangkan oleh Robert Karplus dan
koleganya dalam rangka memperbaiki kurikulum sains SCIS (cience Curriculum
Improvement Study) dengan tahapan-tahapannya : exploration, invention dan
discovery, namun kemudian dikembangkan oleh Charles R. Barman dengan tahapan-
tahapannya : exploration phase, concept introduction, dan concept application.
Selanjutnya model ini kemudian dikembangkan lagi dan dewasa ini lebih dikenal
dengan model siklus belajar sains 4-E ( 4-E science learning cycle ), dengan tahapan-
tahapan : exploration phase, explanation phase, expansion phase, evaluation phase
(Carin 1993:87)
Siklus belajar 4E terdiri dari empat langkah atau empat tahap (4-E) yaitu:
eksplorasi (exploration), eksplanasi (explanation), ekspansi (expansion), dan evaluasi
(evaluation) (Martin,1994). Adapun tahapannya terdiri dari :
1. Exploration (penyelidikan)
Pada fase ini para siswa belajar melalui keterlibatan dan tindakan-tindakan,
gagasan-gagasan mereka dan hubungan-hubungan dengan materi baru diperkenalkan
dengan bimbingan guru yang minimal agar memungkinkan siswa menerapkan
pengetahuan sebelumnya, mengembangkan minat, menumbuhkan dan memelihara
rasa ingin tahu terhadap materi itu. Materi perlu disusun secara cermat sehingga
sasaran belajar itu menggunakan konsep dan gagasan yang mendasar. Selama fase ini
guru menilai pemahaman para siswa terhadap sasaran pelajaran. Menurut Bybee
bahwa, tugas guru disini tidak boleh memberitahukan atau menerangkan konsep.
2. Explanation (Pengenalan)
Pada fase ini para siswa kurang terpusat dan ditunjukkan untuk
mengembangkan mental. Tujuan dari fase ini guru membantu para siswa
memperkenalkan konsep sederhana, jelas dan langsung yang berkaitan dengan fase
sebelumnya, dengan berbagai strategi para siswa disini harus terfokus pada pokok
penemuan konsep-konsep yang mendasar secara kooeperatif dibawah bimbingan guru

6
(guru sebagai fasilitator) mengajukan konsep-konsep itu secara sederhana, jelas dan
langsung.
3. Expansion (Perluasan)
Pada fase ini para siswa mengembangkan konsep-konsep yang baru dipelajari
untuk diterapkan pada contoh-contoh lain, dipakai sebagai ilustrasi konsep intinya
dapat membantu para siswa mengembangkan gagasan-gagasan mereka dalam
kehidupannya.
4. Evaluation (Evaluasi)
Pada fase ini ingin mengetahui penjelasan para siswa terhadap siklus
pembelajaran ini. Evaluasi dapat berlangsung setiap fase pembelajaran, untuk
menggiring pemahaman konsep juga perkembangan keterampilan proses. Evaluasi
bukan hanya pada akhir bab. Dari fase-fase yang disebutkan di atas menurut Carin
dan Martin tujuan paedagoginya adalah sama. Untuk jelasnya seperti pada gambar.

Gambar 2.2 Tahap Penerapan Model Siklus Belajar 4E


(Sumber: Sani, 2013)

7
C. Siklus Belajar 5E
Selanjutnya model siklus ini mengalami perkembangan menjadi Learning Cycle
5E (Engage, Explore, Explain, Elaborate, and Evaluate) sampai pada tahun 2003. Pada
Learning Cycle 5e, terdapat penggabungan ketiga fase pada Learning Cycle 3e dan
penambahan dua fase terbaru yakni ditambahkan tahap engage sebelum explore dan
tahap evaluate pada bagian akhir dari siklus. Selain itu pada tahap concept introduction
dan concept application masing-masing diberi istilah explain dan elaborate. Menurut
Sutarno (2007) fase-fase pada siklus belajar 5 fase dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Tahap Pembangkitan Minat (Engagement)
Tahap engagement bertujuan mempersiapkan diri pebelajar agar terkondisi
dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal
dan ide-ide mereka serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi
pada pembelajaran sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan keingintahuan
(curiosity) pebelajar tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada
fase ini pula siswa diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan
dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi.
2. Tahap Eksplorasi (Exploration)
Pada tahap eksplorasi, pebelajar diberi kesempatan untuk memanfaatkan
panca inderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi denganlingkungan melalui
kegiatan-kegiatan seperti praktikum, menganalisisartikel, mendiskusikan fenomena
alam, mengamati fenomena alam atauperilaku sosial. Dari kegiatan ini diharapkan
timbul ketidakseimbangan dalam struktur mentalnya (cognitive disequilibrium) yang
ditandai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada
berkembangnya daya nalar tingkat tinggi (high level reasoning) yang diawali dengan
katakata seperti mengapa dan bagaimana. Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut
sekaligus merupakan indikator kesiapan siswa untuk menempuh fase berikutnya.

3. Tahap Penjelasan (Explanation)


Pada fase explaination, guru harus mendorong siswa untuk menjelaskan
konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan

8
mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi. Pada tahap ini pebelajar menemukan
istilah-istilah dari konsep yang dipelajari.
4. Tahap Elaborasi (Elaboration)
Pada tahap ini pengalaman baru dirancang untuk membantu
siswa membangun pemahaman yang lebih luas tentang konsep yang telah
diterangkan. Siswa memperluas konsep yang telah dipelajari, membuat koneksi
dengan konsep lain yang berhubungan, serta mengaplikasikan pemahaman mereka
dalam dunia nyata. Siswa bekerja secara kooperatif, mengidentifikasi dan
menyelesaikan aktifitas baru.
5. Tahap Evaluasi (Evaluation)
Pada tahap evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau
pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan
evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari
jawaban dengan menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh
sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi tentang
proses penerapanmodel learning cycle yang sedang diterapkan, apakah sudah
berjalan dengan sangat baik, cukup baik, atau masih kurang. Demikian pula
melalui evaluasi diri, siswa akan dapat mengetahui kekurangan atau
kemajuan dalam proses pembelajaran yang sudah dilakukan.

D. Siklus Belajar 6E
Sekarang ini learning cycle 5 phase dikenal dengan istilah LC 5E
(Engagement, Exploration, Explaination, Elaboration, dan Evaluation), Lorsbach
(2002). Pada learning cycle 6 phase ditambahkan phase echo sesudah phase explain,
sehingga pembelajaran learning cycle 6 phase sering juga disebut dengan
pembelajaran learning cycle 6E yang terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut:
Tahapan dalam learning cycle 6 phase adalah sebagai berikut:
1. Fase Pendahuluan (Engagement)
Tahap engagement bertujuan mempersiapkan diri siswa agar terkondisi dalam
menempuh phase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-
ide mereka serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada
pembelajaran sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan keingintahuan siswa

9
tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula siswa
diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan di-pelajari dan
dibuktikan dalam tahap eksplorasi.
2. Fase Eksplorasi (Exploration)
Pada fase exploration, siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam
kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji
prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-
kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur.
3. Fase Penjelasan (Explaination)
Pada fase explaination, guru harus mendorong siswa untuk menjelaskan
konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan
mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi. Pada tahap ini siswa menemukan istilah-
istilah dari konsep yang dipelajari.
4. Fase Penguatan Konsep (Echo)
Pada fase echo, siswa memperkuat konsep yang telah diperoleh pada fase
exploration. Peran guru pada phase echo mengkonfirmasi penguasaan konsep oleh
siswa dan memberikan tambahan dukungan atau informasi serta pengalaman
tambahan jika diperlukan.
5. Fase Penerapan Konsep (Extention)
Pada fase extention, siswa menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi
baru melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan dan problem solving.
6. Fase Evaluasi (Evaluation)
Pada tahap akhir, evaluation, dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase
sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau
kompetensi siswa melalui problem solving dalam konteks baru yang kadang-kadang
mendorong siswa melakukan investigasi lebih lanjut.

E. Siklus Belajar 7E
Model pembelajaran Learning Cycle terus mengalami perkembangan,
perkembangan ini terjadi dikarenakan kadang model pembelajaran harus dapat diubah

10
untuk mempertahankan nilai setelah informasi baru, wawasan baru dan pengetahuan
yang baru disusun dengan kata lain perubahan tersebut dapat dikatakan sebagai upaya
inovasi dalam pembelajaran, hingga pada tahun 2003 Eisenkraft mengembangkan
Learning Cycle 5E menjadi 7 tahapan. Menurut Laelasari, dkk (2014) dengan
kesuksesan siklus belajar 5E dan instruksional yang meneliti tentang bagaimana
orang belajar dari penelitian mendengar dan mengembangkan kurikulum yang
menuntut bahwa model 5E dapat diperluas lagi menjadi model 7E. Berikut disajikan
diagram perubahan model pembelajaran Learning Cycle 5E ke Learning Cycle 7E,

Gambar 2.3 Perubahan Tahapan Learning Cycle 5E menjadi 7E (Sumber: Eisenkraft, 2003)
Berdasarkan Gambar 2.3 Perubahan yang terjadi pada tahapan Learning Cycle
5E menjadi Learning Cycle 7E terjadi pada fase Engage jadi dua tahapan yaitu Elicit
dan Engage, sedangkan pada tahapan Elaborate dan Evaluate berubah menjadi tiga
tahap yaitu menjadi Elaborate, Evaluate dan Extend. Aktivitas siswa belajar dalam
Learning Cycle 7E dapat memberikan keuntungan kepada siswa diantaranya dapat
meningkatkan ketertarikan siswa dalam belajar. Learning Cycle 7E juga dapat
membantu siswa memperoleh pengetahuan baru oleh dirinya sendiri. Windiarti
(2014) mengemukakan bahwa, “pengetahuan yang dikonstruksi sendiri oleh siswa
akan menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang hanya
diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan bermakna.
Pengetahuan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan”. Aktivitas

11
dalam Learning Cycle 7E lebih banyak dilakukan oleh siswa sehingga siswa menjadi
lebih aktif dalam pembelajaran. Menurut Eisenkraft (dalam Windiarti, 2014:21)
tahapan–tahapan model pembelajaran Learning Cycle 7E dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Elicit (mendatangkan pengetahuan awal siswa)
Merupakan fase untuk mengetahui sampai dimana pengetahuan awal siswa
terhadap pelajaran yang akan dipelajari dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan
yang merangsang pengetahuan awal siswa agar timbul respon dari pemikiran siswa
serta menimbulkan kepenasaran tentang jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan oleh guru. Fase ini dimulai dengan pertanyaan mendasar yang berhubungan
dengan pelajaran yang akan dipelajari dengan mengambil contoh yang mudah yang
diketahui siswa seperti kejadian sehari-hari yang secara umum memang terjadi.
2. Engage (ide, rencana pembelajaran dan pengalaman)
Merupakan fase dimana siswa dan guru akan saling memberikan informasi
dan pengalaman tentang pertanyaan-pertanyaan awal tadi, memberitahukan siswa
tentang ide dan rencana pembelajaran sekaligus memotivasi siswa agar lebih
berminat untuk mempelajari konsep dan memperhatikan guru dalam mengajar. Fase
ini dapat dilakukan dengan demonstrasi, diskusi, membaca, atau aktivitas lain yang
digunakan untuk membuka pengetahuan siswa dan mengembangkan rasa keingin
tahuan siswa.

3. Explore (menyelidiki)
Merupakan fase yang membawa siswa untuk memperoleh pengetahuan
dengan pengalaman langsung yang berhubungan dengan konsep yang akan dipelajari.
Siswa dapat mengobservasi, bertanya, dan menyelidiki konsep dari bahan-bahan
pembelajaran yang telah disediakan sebelumnya.
4. Explain (menjelaskan)

12
Merupakan fase yang didalamnya berisi ajakan terhadap siswa untuk
menjelaskan konsep-konsep dan definisi-definisi awal yang mereka dapatkan ketika
fase eksplorasi. Kemudian dari definisi dan konsep yang telah ada didiskusikan
sehingga pada akhirnya menuju konsep dan definisi yang lebih formal.
5. Elaborate (menerapkan)
Merupakan fase yang bertujuan untuk membawa siswa menjelaskan definisi-
definisi, konsep-konsep, dan keterampilan-keterampilan pada permasalahan-
permasalahan yang berkaitan dengan contoh dari pelajaran yang dipelajari.
6. Evaluate (menilai)
Merupakan fase evaluasi dari hasil pembelajaran yang telah dilakukan pada
fase ini dapat digunakan berbagai strategi penilaian formal dan informal. Guru
diharapkan secara terus menerus dapat mengobservasi dan memperhatikan siswa
terhadap kemampuan dan keterampilannya untuk menilai tingkat pengetahuan dan
atau kemampuannya, kemudian melihat perubahan pemikiran siswa terhadap
pemikiran awalnya.
7. Extend (memperluas)
Merupakan fase yang bertujuan untuk berpikir, mencari menemukan dan
menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah dipelajari bahkan kegiatan ini dapat
merangsang siswa untuk mencari hubungan konsep yang mereka pelajari dengan
konsep lain yang sudah atau belum mereka pelajari.

Dari ketujuh tahap pembelajaran Learning Cycle 7E dapat dibuat diagram alur
pembelajarannya, sebagai berikut:

13
Gambar 2.4 Tahapan Pembelajaran Learning Cycle 7E
(Sumber: Laelasari, Subroto, & Ikhsan, 2014:85)

2.3 Hakikat Pembelajaran Learning Cycle


Dalam proses pembelajaran, kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan
yang paling pokok, karena berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak
bergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan dijalankan
secara professional. Agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuan
yang ditetapkan, salah satu strateginya adalah dengan memilih model pembelajaran
yang sesuai yaitu model pembelajaran learning cycle.
Model pembelajaran learning cycle dipilih karena merupakan model
pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) sehingga menjadikan
peserta didik sebagai subjek bukan semata-mata sebagai objek yang hanya menerima
informasi dari pengajar. Learning Cycle (LC) patut dikedepankan, karena sesuai
dengan teori belajar Piaget, teori belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget
menyatakan bahwa belajar merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi
struktur, isi dan fungsi. Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental
tingkat tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalh-masalah. Isi
adalah perilaku khas individu dalam merespon masalah uang dihadapi, sedangkan
fungsi merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan
organisasi.

14
Dengan demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer
pengetahuan dari guru ke siswa, seperti dalam falsafah behaviorisme, tetapi
merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa
secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih bermakana dan
menjadikan skema dalam diri siswa menjadi pengetahuan fungsional yang setiap saat
dapat diorganisasi oleh siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.

2.4 Keunggulan dan Kelemahan dari Metode Siklus Belajar


Dilihat dari dimensi guru, implementasi model pembelajaran ini
dapat memperluas wawasan dan meningkatkan kreativitas guru dalam merancang
kegiatan pembelajaran. Sedangkan dilihat dari dimensi siswa, penerapan model
pembelajaran ini memberikan kelebihan sebagai berikut:
1. Meningkatkan motivasi belajar karena siswa dilibatkan secara aktif dalam proses
pembelajaran
2. Lebih berpeluang untuk menyampaikan pendapat dan gagasan
3. Dapat menumbuhkan kegiatan belajar
4. Pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Sedangkan kekurangan penerapan model pembelajaran ini adalah sebagai berikut:


1. Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-
langkah pembelajaran.
2. Menuntut kesungguhan dan kreatifitas guru dalam merancang dan melaksanakan
proses pembelajaran.
3. Memerlukan pengelolahan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi.

BAB III
PENUTUP

15
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan sebagai beriukut :
1. Learning Cycle adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa
(student centered) yang merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan yang
diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi yang
harus dicapai dalam pembelajaran dengan berperan aktif.
2. Ada tiga tahapan dalam siklus belajar yaitu eksplorasi (exploration), menjelaskan
(explanation), dan memperluas (elaboration/extention), yang dikenal dengan
Learning Cycle 3E “.Selanjutnya model ini kemudian dikembangkan lagi dan
dewasa ini lebih dikenal dengan model siklus belajar sains 4-E ( 4-E science
learning cycle ), dengan tahapan-tahapan : exploration phase, explanation phase,
expansion phase, evaluation phase. Selanjutnya model ini mengalami
perkembangan menjadi Learning Cycle 5E (Engage, Explore, Explain, Elaborate,
and Evaluate). Pada learning cycle 6 phase ditambahkan phase echo sesudah
phase explain, sampai pada tahun 2003, Eisenkraft mengembangkan model
Learning Cycle menjadi Learning Cycle 7E (Elicit, Engage, Explore, Explain,
Elaborate, Evaluate, and Extend).
3. Model pembelajaran learning cycle dipilih karena merupakan model
pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) sehingga
menjadikan peserta didik sebagai subjek bukan semata-mata sebagai objek yang
hanya menerima informasi dari pengajar.
4. Model pembelajaran learning cycle memiliki kelebihan meningkatkan motivasi
belajar karena siswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran dan
kekurangan berupa efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai
materi dan langkah-langkah pembelajaran.

3.2 Saran

16
Pembelajaran biologi yang dilakukan diharapkan dapat dijalankan sesuai dengan
tuntutan kurikulum dan tuntutan zaman yang semakin berkembang, agar dapat
tercipta sumber daya manusia yang unggul dalam menghadapi tantangan global.

DAFTAR RUJUKAN

17
Carin, A.A . 1993. Teaching Science Through Discovery . Seventh Edition .New
York : Mcmillan Publishing Company.
Eisenkraft, Arthur.2003. Expanding the 5E Model. The science Teacher. Volume 70,
Nomor 6.
Laelsasari, Subroto T., Karimah, N. I. 2004. Penerapan Model Pembelajaran Learning
Cycle 7E Dalam Kemampuan Representasi Matematis Siswa. Jurnal Euclid Vol
1.No.2.Online:http://www.fkipunswagati.ac.id/ejournal/index.php/euclid/article
/view/55 (diakses pada 28 Februari 2019)
Lorsbach, A.W, (2002), The Learning Cycle as a Tool for Planning Science
Instruction, http://www.coe.ilstu.edu/scienced/lorsbach/257lrcy.html, (diakses
pada 28 Februari 2019).
Martin, Ralph.E. 1994. Teaching Science For All Children. Boston :Allyn and Bacon.
Maswatu, Sunardi .2013.Skripsi: Model Pembelajaran Learning. Online:
http://suardimaswatu.blogspot.co.id/2013/03/skripsi-model-pembelajaran-
learning.html. (diakses pada 28 Februari 2019)
Sani, R.A. (2013). Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Sutarno. 2007. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Jakarta : Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi.
Windiarti, Zeny.2014. Perbedaan Kemampuan Penilaian Adaptif Siswa Yang Diajar
Menggunakan Model Pembelajaran Learning Cycle 7E dengan Model
Pembelajaran Konvensional Pada Materi Luas Permukaan Balok Kelas VIII
SMP Negeri 17 Surabaya. Undergraduate thesis: UIN Sunan Ampel Surabaya

18