Anda di halaman 1dari 13

BLOK 10

Scenario 1

LEARNING OBJECTIVE

“ IBU JARIKU YANG MALANG ”

NAMA : Wira Amaz Gahari


NIM : N 101 14 011
KELOMPOK :5

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS TADULAKO
2016
SOAL

1. Bagaimana Anamnesis, Pemfis, Pemeriksaan penunjang, diagnosis, penatalaksanaan,


dan prognosis pada kasus musculoskeletal ?
2. Bagaimana Etiologi, Patofisiologi, dan Faktor resiko pada kasus musculoskeletal ?
3. Apakah ada keterkaitan antara gaya hidup dan penyakit yang dialami dalam scenario ?
4. Apakah hubungan kekakuan sendi di pagi hari ?
5. Apa bentuk komplikasi yang bisa dialami pada scenario ?

JAWAB

1. Anamnesis yang dapat ditanyakan :


a. Data pasien
- Nama
- Umur
- Jenis kelamin
- Agama
- Alamat
- Pekerjaan
- Status Hubungan
- Suku Bangsa
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
- Lokasi penyakit
- Waktu (Onset & Frekuensi)
- Kualitas & kuantitas
- Faktor pencetus / modifikasi ( perihal yang memperberat dan memperingan
keluhan pasien)
- Gejala penyerta
- Kronologis
c. Riwayat Penyakit Sebelumnya
Keluhan seputar apakah dulu pernah mengalami sakit yang sama seperti saat ini,
apakah ada penyakit lain sebelumnya, apakah dulu pernah dioperasi, atau pun
jenis obat apa saja yang pernah dikonsumsi pasien sebelumnya. Berguna untuk
mengetahui kemungkinan hubungan penyakit yang di derita saat ini
d. Riwayat Penyakit Keluarga
e. Riwayat kesehatan sosial-ekonomi
Pemeriksaan Fisik
1. Persiapan klien
Persiapkan ruangan senyaman mungkin. Berikan informasi yang jelas kepada klien tentang
prosedur tindakan yang akan dilakukan, bila perlu didemonstrasikan terlebih dulu mengenai
gerakan yang akan dilakukan. Beberapa posisi mungkin mengakibatkan ketidaknyamanan pada
klien, oleh karena itu hindarkan aktivitas yang tidak perlu dan berikan periode istirahat pada
waktu pemeriksaan jika diperlukan. Pencahayaan yang baik pada di ruangan pemeriksaan juga
sangat penting.

2. Inspeksi
Observasi kulit dan jaringan terhadap adanya perubahan warna, pembengkakan, massa,
maupun deformitas. Catat ukuran dan bentuk dari persendian. Pembengkakan yang terjadi
dapat dikarenakan adanya cairan yang berlebih pada persendian, penebalan lapisan sinovial,
inflamasi dari jaringan lunak maupun pembesaran tulang. Deformitas yang terjadi termasuk
dislokasi, subluksasi, kontraktur ataupun ankilosis. Perhatikan juga postur tubuh dan gaya
berjalan klien, misalnya gaya berjalan spastik hemiparese ditemukan pada klien stroke, tremor
pada klien parkinson, dan gaya berjalan pincang. Jika klien berjalan pincang, maka harus
diobservasi apakah hal tersebut terjadi oleh karena kelainan organik pada tubuh sejak bayi atau
oleh karena cedera muskuloskeletal. Untuk dapat membedakannya dengan melihat bentuk
kesimetrisan pinggul, bila tidak simetris artinya gaya berjalan bukan karena cedera
muskuloskeletal.

3. Palpasi
Lakukan palpasi pada setiap sendi termasuk keadaan suhu kulit, otot, artikulasi dan area pada
kapsul sendi. Normalnya sendi tidak teraba lembek pada saat dipalpasi, demikian juga pada
membran sinovial. Dan dalam jumlah yang sedikit, cairan yang terdapat pada sendi yang normal
juga tidak dapat diraba. Apabila klien mengalami fraktur, kemungkinan krepitasi dapat
ditemukan, tetapi pemeriksaan ini tidak dianjurkan karena dapat memperberat rasa nyeri yang
dirasakan klien.

4. Rentang Gerak ( ROM )


o Buatlah tiap sendi mencapai rentang gerak normal penuh. Pada kondisi normal sendi harus
bebas dari kekakuan, ketidakstabilan, pembengkakan, atau inflamasi.
o Bandingkan sendi yang sama pada kedua sisi tubuh terhadap keselarasan.
o Uji kedua rentang gerak aktif dan pasif untuk masing-masing kelompok sendi otot mayor yang
berhubungan.
o Jangan paksa sendi bergerak ke posisi yang menyakitkan.
o Beri klien cukup ruang untuk menggerakkan masing-masing kelompok otot sesuai rentang
geraknya.
o Selama pengkajian terhadap rentang gerak, kekuatan dan tegangan otot , inspeksi juga
memgenai adanya pembengkakan, deformitas, dan kondisi dari jaringan sekitar, palpasi atau
observasi terjadinya kekakuan, ketidakstabilan, gerakan sendi yang tidak biasanya, sakit, nyeri,
krepitasi dan nodul-nodul.
o Bila sendi tampak bengkak dan inflamasi, palpasilah kehangatannya.
o Selama pengukuran rentang gerak pasif, minta klien agar rilek dan memungkinkan pemeriksa
menggerakkan sendi secara pasif sampai akhir rentang gerak terasa. Pemeriksa
membandingkan rentang gerak aktif dan pasif yang harus setara untuk masing-masing sendi
dan diantara sendi-sendi kontralateral. Dalam keadaan normal dapat bergerak bebas tanpa
sakit atau krepitasi.
o Bila diduga terjadi penurunan gerakan sendi, gunakan sebuah goniometer untuk pengukuran
yang tepat mengenai derajat gerakan. (Caranya tempatkan goniometer pada tengah siku
dengan lengan melebar disepanjang lengan bawah dan lengan atas klien. Setelah klien
memfleksikan lengan, goniometer akan mengukur derajat fleksi sendi).
o Ukur sudut sendi sebelum rentang gerak sendi secara penuh atau pada posisi netral dan ukur
kembali setelah sendi bergerak penuh. Bandingkan hasilnya dengan derajat normal gerakan
sendi.
o Tonus dan kekuatan otot dapat diperiksa selama pengukuran rentang gerak sendi.
o Tonus dideteksi sebagai tahanan otot saat ekstremitas rilek secara pasif digerakkan melalui
rentang geraknya. Tonus otot normal menyebabkan tahanan ringan dan data terhadap gerakan
pasif selamanya rentang geraknya.
o Periksa tiap kelompok otot untuk mengkaji kekuatan otot dan membandingkan pada kedua
sisi tubuh. Caranya minta klien membentuk suatu posisi stabil. Minta klien untuk memfleksikan
otot yang akan diperiksa dan kemudian menahan tenaga dorong yang dilakukan pemeriksa
terhadap fleksinya . Periksa seluruh kelompok otot mayor. Bandingkan kekuatan secara
bilateral, dalam keadaan normal kekuatan otot secara bilateral simetris terhadap tahanan
tenaga dorong, lengan dominan mungkin sedikit lebih kuat dari lengan yang tidak dominan.
o Bersamaan dengan tiap manuver : minta klien membentuk suatu posisi kuatnya. Berikan
peningkatan tenaga dorong secara bertahap terhadap kelompok otot.
o Klien menahan dorongan dengan usaha untuk menggerakkan sendinya berlawanan dengan
dorongan tersebut.
o Klien menjaga tahanan tersebut agar tetap ada sampai diminta untuk menghentikannya.
o Sendi seharusnya bergerak saat pemeriksa memberi variasi kekuatan tenaga dorong terhadap
kelompok otot tersebut.
o Bila kelemahan otot terjadi, periksa ukuran otot dengan menempatkan pita pengukur di
sekitar lingkar otot tubuh tersebut dan membandingkannya dengan sisi yang berlawanan.

Sumber : Potter, Patricia A, Pocket guide to health assessment, hal.346-348.


5. Tes kekuatan otot
Pemeriksaan kekuatan otot dapat dilakukan dengan menggerakkan tiap ekstremitas (
pergerakan penuh ) dalam menahan tahanan. Lakukan tindakan ini dengan menggunakan
beberapa tahanan yang bervariasi. Apabila klien tidak mampu melakukan gerakan untuk
melawan tahanan yang diberikan pemeriksa, maka klien untuk meggerakan ekstremitas dalam
melawan gravitasi. Jika hal ini tidak dapat dilakukan, usahakan/ bantu klien untuk melakukan
rentang gerak secara pasif. Apabila cara ini juga tidak berhasil, maka perhatikan dan rasakan
(palpasi) kontraksi otot pada saat klien berusaha menggerakkannya.

6. Pemeriksaan Phalen ( Phalen’s test )


Minta klien untuk melakukan fleksi 90o pada kedua pergelangan tangan, dan kedua punggung
tangan saling merapat ( bersentuhan ). Pertahankan posisi ini selama 60 detik. Normal tidak ada
keluhan, tetapi pada “ Carpal Tunnel Syndrome “, tangan akan kebas dan terasa seperti
terbakar. Carpal Tunnel syndrome adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan /
penekanan saraf pada pergelangan tangan.

7. Tanda Tinel ( Tinel’s Sign )


Lakukan perkusi langsung pada nervus yang berada di bagian tengah dari pergelangan tangan. “
Tinel’s Sign “ positif apabila sewaktu perkusi dilakukan klien merasa seperti terbakar ataupun
merasa geli pada area pergelangan tangan, dan sekitarnya. Ini juga dapat ditemukan pada “
Carpal Tunnel Syndrome “.

8. Tanda bulge ( Bulge Sign )


Lakukan gerakan (seperti masase) dengan agak kuat pada bagian medial paha bagian dalam ke
arah lutut lebih kurang 2-3 kali, kemudian tahan. Tangan yang lain menahan pada sisi yang
berlawanan. Perhatikan bagian tengah dari lutut pada daerah yang agak cekung terhadap
adanya tonjolan yang jelas dari gelombang cairan. Normalnya tonjolan tersebut tidak ada (
“Bulge Sign” negative ).

9. Pemeriksaan ballotemen
Pemeriksaan ini dapat digunakan apabila terdapat sejumlah cairan pada area patela. Gunakan
tangan kiri untuk menekan rongga suprapatelar. Dengan jari tangan kanan dorong patella
dengan tajam ke arah femur. Apabila tidak terdapat cairan maka patella yang terdorong akan
kembali ke posisi semula.

10. Pemeriksaan McMurray ( McMurray’s test )


Pemeriksaan ini dilakukan apabila klien melaporkan adanya riwayat trauma yang diikuti dengan
rasa nyeri pada lutut dan kesulitan dalam menggerakkannya. Klien dibaringkan dengan posisi
supine, dan pemeriksa berdiri di sisi klien pada bagian yang akan diperiksa. Sokong tumit kaki
dan fleksikan lutut dan pinggul. Tangan yang lain memegang lutut. Kemudian rotasikan kaki dari
dalam ke luar dan sebaliknya, lalu sambil menahan tumit kaki dan memegang lutut dorong
tumit tersebut kea rah kepala. Setelah itu secara perlahan lutut diluruskan. “McMurray’s test”
positif apabila terdengar atau terasa bunyi “klik“ pada lutut. Normalnya kaki dapat diluruskan
kembali dengan lembut tanpa kekakuan dan tanpa nyeri.

11. Pemeriksaan LaSegue ( LaSegue’s test )


Berikan posisi supine pada klien, kemudian angkat salah satu tungkai bawah dan tungkai yang
lain tetap lurus di atas tempat tidur. Lalu dorsofleksikan telapak/ pergelangan kaki. Dilakukan
pada kedua kaki secara bergantian. Hasilnya positif apabila klien mengeluhkan nyeri sewaktu
pemeriksaan. Keluhan ini biasanya terjadi pada hernia nucleus pulposus ( HNP )

Pemeriksaan Penunjang
1. Bone X-Ray

2. CT-Scan

3. MRI ( Magnetic Resonance Imaging ).


MRI merupakan teknik scaning diagnostic yang non invasive dan menggunakan medan magnet.
Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi tentang tulang, sendi , kartilago, ligament dan
tendon. Klien dengan keluhan nyeri leher dan pinggang dapat diketahui dengan MRI untuk
melihat kemungkinan adanya herniasi.
Kelebihan dari MRI adalah klien tidak terpapar oleh ion-ion radiasi. MRI penting dalam
pengkajian untuk mengetahui perbaikan dari suatu pembedahan ortopedik.

4. Angiography

5. Athroscopy
Dapat digunakan untuk mengetahui adanya robekan pada kapsul sendi atau ligament
penyangga lutut, bahu, tumit, pinggul, pergelangan tangan dan temporomandibular.
Pemeriksaan ini merupakan tindakan endoskopi yang memungkinkan pandangan langsung ke
dalam ruang sendi.

6. Bone Densitometry
Merupakan pemeriksaan untuk mengetahui kadar mineral dalam tulang dan kepadatannya
untuk mendiagnosa penyakit osteoporosis.
Diagnosis

Dengan melihat keluhan yang ada pada pasien, maka diambil kesimpulan penyakit yang dialami
pasien adalah gout arthritis. Penyakit gout-arthritis, terdapat gangguan kesetimbangan
metabolisme (pembentukan dan ekskresi) dari asam urat tersebut, meliputi:

1. Penurunan ekskresi asam urat secara idiopatik

2. Penurunan eksreksi asam urat sekunder, misalnya karena gagal ginjal

3. Peningkatan produksi asam urat, misalnya disebabkan oleh tumor (yang meningkatkan
cellular turnover) atau peningkatan sintesis purin (karena defek enzim-enzim atau
mekanisme umpan balik inhibisi yang berperan).

4. Peningkatan asupan makanan yang mengandung purin

• Peningkatan produksi atau hambatan ekskresi akan meningkatkan kadar asam urat
dalam tubuh.

• Asam urat ini merupakan suatu zat yang kelarutannya sangat rendah sehingga
cenderung membentuk kristal.

• Penimbunan asam urat paling banyak terdapat di sendi dalam bentuk kristal
mononatrium urat. Mekanismenya hingga saat ini masih belum diketahui.

Adanya kristal mononatrium urat ini akan menyebabkan inflamasi melalui beberapa cara:

1. Kristal bersifat mengaktifkan sistem komplemen terutama C3a dan C5a.

• Komplemen ini bersifat kemotaktik dan akan merekrut neutrofil ke jaringan (sendi
dan membran sinovium).

• Fagositosis terhadap kristal memicu pengeluaran radikal bebas toksik dan


leukotrien, terutama leukotrien B.

• Kematian neutrofil menyebabkan keluarnya enzim lisosom yang destruktif.

2. Makrofag yang juga terekrut pada pengendapan kristal urat dalam sendi akan melakukan
aktivitas fagositosis, dan juga mengeluarkan berbagai mediator proinflamasi seperti IL-1,
IL-6, IL-8, dan TNF.

• Mediator-mediator ini akan memperkuat respons peradangan, di samping itu


mengaktifkan sel sinovium dan sel tulang rawan untuk menghasilkan protease.
• Protease ini akan menyebabkan cedera jaringan.

Penimbunan kristal urat dan serangan yang berulang akan menyebabkan


terbentuknya endapan seperti kapur putih yang disebut tofi/tofus (tophus) di tulang
rawan dan kapsul sendi. Di tempat tersebut endapan akan memicu reaksi peradangan
granulomatosa, yang ditandai dengan massa urat amorf (kristal) dikelilingi oleh
makrofag, limfosit, fibroblas, dan sel raksasa benda asing. Peradangan kronis yang
persisten dapat menyebabkan fibrosis sinovium, erosi tulang rawan, dan dapat diikuti
oleh fusi sendi (ankilosis). Tofus dapat terbentuk di tempat lain (misalnya tendon,
bursa, jaringan lunak). Pengendapan kristal asam urat dalam tubulus ginjal dapat
mengakibatkan penyumbatan dan nefropati gout.

Penatalaksanaan
Farmakoterapi:
a. NSAID oral short-acting pada dosis maksimum adalah obat pilihan ketika tidak ada
kontraindikasi
b. Colchicine dapat menjadi alternative yang efektif tetapi lambat untuk bekerja daripada
NSAID. Untuk mengurangi resiko efek samping (terutama diare) harus digunakan dalam
dosis 500mg/hari.
c. Allopurinol tidak boleh dimulai selama serangan akut tetapi pada pasien yang sudah
boleh menggunakan allopurinol, harus dilanjutkan dan serangan akut harus ditangani
secara konvensional.
d. Kortikosteroid intraartikular sangat efektif dalam monoarthritis gout akut.

Non-farmakoterapi
Gout adalah gangguan metabolic, yang dipengaruhi oleh diet, asupan alcohol,
hyperlipidemia dan berat badan. Intervensi seperti istirahat yang cukup, modifikasi
diet dan menurunkan berat badan pada pasien yang berlebihan berat badan.
Nutrisi untuk penderita artritis gout
a. Pembatasan purin.
b. Kalori sesuai dengan kebutuhan
c. Tinggi karbohidrat
d. Rendah protein
e. Rendah lemak
f. Tinggi cairan.

Macam-macam prognosis

1. Ad vitam (hidup)
2. Ad functionam (fungsi)
3. Ad sanationam (sembuh)

Jenis Prognosis

1. Sanam (sembuh)
2. Bonam (baik)
3. Malam (buruk/jelek)
4. Dubia (tidak tentu/ragu-ragu)
1. Dubia ad sanam/bonam (tidak tentu/ragu-ragu, cenderung sembuh/baik)
2. Dubia ad malam (tidak tentu/ragu-ragu, cenderung buruk/jelek)

Sumber :

- Bates B. Buku Saku Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan. Edisi 2. Jakarta: EGC;
2008. ISBN 979-448-359-1.
- Hermawan AG. Bed Side Teaching Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Pertama.
Surakarta: Sebelas Maret University Press; 2006. ISBN 979-498-297-0

2. Etiologi dari kasus gout arthritis :

a. factor keturunan
b. meningkatnya kadar asam urat karena diet tinggi protein dan makanan kaya senyawa
purin lainnya.
c. Konsumsi alcohol berlebih, karena alcohol merupakan salah satu sumber purin yang juga
dapat menghambat pembuangan urin di ginjal
d. Penggunaan obat tertentu yg meningkatkan kadar asam urat terutama diuretika

Patofisiologi dari kasus gout arthritis :

Pada penyakit gout-arthritis, terdapat gangguan kesetimbangan metabolisme


(pembentukan dan ekskresi) dari asam urat tersebut, meliputi:

1. Penurunan ekskresi asam urat secara idiopatik

2. Penurunan eksreksi asam urat sekunder, misalnya karena gagal ginjal


3. Peningkatan produksi asam urat, misalnya disebabkan oleh tumor (yang meningkatkan
cellular turnover) atau peningkatan sintesis purin (karena defek enzim-enzim atau
mekanisme umpan balik inhibisi yang berperan).

4. Peningkatan asupan makanan yang mengandung purin

• Peningkatan produksi atau hambatan ekskresi akan meningkatkan kadar asam urat
dalam tubuh.

• Asam urat ini merupakan suatu zat yang kelarutannya sangat rendah sehingga
cenderung membentuk kristal.

• Penimbunan asam urat paling banyak terdapat di sendi dalam bentuk kristal
mononatrium urat. Mekanismenya hingga saat ini masih belum diketahui.

Adanya kristal mononatrium urat ini akan menyebabkan inflamasi melalui beberapa cara:

1. Kristal bersifat mengaktifkan sistem komplemen terutama C3a dan C5a.

• Komplemen ini bersifat kemotaktik dan akan merekrut neutrofil ke jaringan (sendi
dan membran sinovium).

• Fagositosis terhadap kristal memicu pengeluaran radikal bebas toksik dan


leukotrien, terutama leukotrien B.

• Kematian neutrofil menyebabkan keluarnya enzim lisosom yang destruktif.

2. Makrofag yang juga terekrut pada pengendapan kristal urat dalam sendi akan
melakukan aktivitas fagositosis, dan juga mengeluarkan berbagai mediator
proinflamasi seperti IL-1, IL-6, IL-8, dan TNF.

• Mediator-mediator ini akan memperkuat respons peradangan, di samping itu


mengaktifkan sel sinovium dan sel tulang rawan untuk menghasilkan protease.

• Protease ini akan menyebabkan cedera jaringan.

Penimbunan kristal urat dan serangan yang berulang akan menyebabkan


terbentuknya endapan seperti kapur putih yang disebut tofi/tofus (tophus) di tulang
rawan dan kapsul sendi. Di tempat tersebut endapan akan memicu reaksi peradangan
granulomatosa, yang ditandai dengan massa urat amorf (kristal) dikelilingi oleh
makrofag, limfosit, fibroblas, dan sel raksasa benda asing. Peradangan kronis yang
persisten dapat menyebabkan fibrosis sinovium, erosi tulang rawan, dan dapat diikuti
oleh fusi sendi (ankilosis). Tofus dapat terbentuk di tempat lain (misalnya tendon,
bursa, jaringan lunak). Pengendapan kristal asam urat dalam tubulus ginjal dapat
mengakibatkan penyumbatan dan nefropati gout.

Faktor Risiko :

a. Umur
b. Jenis Kelamin
c. Gaya Hidup (Merokok, pola makan, dll)
d. Aktifitas tubuh (kesegaran jasmani, pekerjaan, dll)
e. Kekuatan fisik
f. Ukuran tubuh

Sumber :

- Sumardiyono, dkk. 2012. Pengaruh Faktor Resiko Terhadap Gangguan


Muskuloskeletal Pada Pekerja Batik Tulis di Kabupaten Sragen.Vol 1(1). Viewed 29
Maret 2016. https://eprints.uns.ac.id/12555/
- Rasjad, Chairuddin. 2012. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Yarsif Wantapone:
Jakarta

3. Gout sebagian dipicu oleh faktor genetik, kebiasaan makan dan gaya hidup, seperti
berlebihan mengkonsumsi makanan tinggi purin. Kadar asam urat tinggi (hiperurikemia)
yang berlangsung terus menerus menyebabkan terjadinya pengendapan kristal di sendi-
sendi dan jaringan lunak sekitarnya, sehingga menimbulkan manifestasi klinis penyakit gout.
Peningkatan asupan makanan yang mengandung purin menyebabkan peningkatan produksi
atau hambatan ekskresi akan meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh Asam urat
merupak suatu zat yang kelarutannya sangat rendah sehingga cenderung membentuk
kristal. Penimbunan kristal urat dan serangan berulang akan menyebabkan terbentuknya
endapan seperti kapur putih yang disebut tofi/tofus di tulang rawan dan kapsul sendi (Noor,
2016).
Sumber :
- Noor, zairin. 2016. Buku ajar gangguan muskuloskeletal. Edisi 2. Salemba
Medika: Jakarta.
4. Hubungan kekakuan sendiri pada pagi hari berhubungan dengan beberapa tanda dan gejala
dari beberapa penyakit musculoskeletal, pada penyakit osteoarthritis, biasanya pasien
dating dengan keluhan merasa kaku pada pagi hari, tetapi tidak lebih dari 30 menit,
sedangkan pada pasien rheumatoid arthritis, mengalami kekakuan kurang lebih 1 jam,
kekakuan ini disebabkan oleh tidak adanya aktifitas yang dilakukan tubuh pada saat tidur,
dan ketika bangun pada pagi hari, sendi-sendi akan merasakan kaku, pada penyakit gout
arthritis pun demikian, penderita akan mengalami kekakuan pada persendian dan biasanya
disertai rasa nyeri pada persendirian.
Sumber : Eka, Peni, Oktavianus.2013. Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Nyeri,
Kekakuan Sendi dan Aktivitas Fisik pada Pasien Osteoartritis Lutut di Poliklinik Bedah Ortopedi RSU
dr. Soedarso Pontianak Tahun 2013.viewed 29 Maret 2016.
http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jfk/article/viewFile/5162/5309

5. Komplikasi Pasien dengan Artritis Pirai ( Gout )


Komplikasi yang muncul akibat arthritis pirai antara lain:

a. Gout kronik bertophus


Merupakan serangan gout yang disertai benjolan-benjolan (tofi) di sekitar sendi yang sering
meradang. Tofi adalah timbunan kristal monosodium urat di sekitar persendian seperti di
tulang rawan sendi, sinovial, bursa atau tendon. Tofi bisa juga ditemukan di jaringan lunak
dan otot jantung, katub mitral jantung, retina mata, pangkal tenggorokan.

b. Nefropati gout kronik


Penyakit tersering yang ditimbulkan karena hiperurisemia. terjadi akibat dari pengendapan
kristal asam urat dalam tubulus ginjal. Pada jaringan ginjal bisa terbentuk mikrotofi yang
menyumbat dan merusak glomerulus.

c. Nefrolitiasi asam urat (batu ginjal)


Terjadi pembentukan massa keras seperti batu di dalam ginjal, bisa menyebabkan nyeri,
pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Air kemih jenuh dengan garam-garam
yang dapat membentuk batu seperti kalsium, asam urat, sistin dan mineral struvit
(campuran magnesium, ammonium, fosfat).
d. Persendian menjadi rusak hingga menyebabkan pincang
e. Peradangan tulang, kerusakan ligament dan tendon
f. Batu ginjal ( kencing batu ) serta gagal ginjal ( Emir Afif, 2010 )
Sumber :
- Aditi, Sella Gita., Agustina, Hana Rizmadewi., dan Amarullah, Afif Amir. (2010).
Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa AKPER terhadap Pencegahan Infeksi
Nosokomial Flebitis. Jurnal Ilmu Keperawatan Volume 2, No. 1 Tahun 2010.
Universitas Padjadjaran.