Anda di halaman 1dari 15

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA INGGRIS SISWA

KELAS X SMA N 1 GALUR MELALUI STORY TELLING


( Proposal ini disusun guna memenuhi tugas MK Penelitian Tindakan Kelas )
Dosen pengampu : Prof. Dr. Farida Hanum

Oleh :
Izna Maulina 10110244004
KEBIJAKAN PENDIDIKAN
FILSAFAT SOSIOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan bisa dikatakan adalah salah satu kunci pembentukan sumber daya manusia yang
berkualitas, baik dari aspek pengetahuan, aspek sikap maupun aspek psikomotorik. Kualitas baik
tersebut dapat dicapai dengan adanya lembaga pendidikan. Di Indonesia sendiri, lembaga
pendidikan formal tertinggi adalah tingkat Perguruan Tinggi. Melalui lembaga pendidikan formal
tersebut Pemerintah memfasilitasi sarana prasana yang bersifat fisik maupun non fisik seperti mata
pelajaran yang disediakan guna mendukung pendidikan nasional.
Meski prasarana sudah disediakan, namun masalah pendidikan terus terjadi, baik masalah
pendidikan nasional maupun masalah pada tingkat satuan pendidikan itu sendiri. Mulai dari
masalah kurikulum, tenaga pendidik yang belum merata, biaya pendidikan yang tinggi, gedung
sekolah yang belum memadai, dan lain sebagainya.
Begitu pula dengan masalah-masalah pendidikan yang terjadi di SMA N 1 Galur. Berdasarkan
observasi yang pernah dilakukan, di sekolah tersebut terdapat berbagai masalah. Mulai dari
bangunan sekolah yang kurang memadai, ini terlihat dari sempitnya lahan sekolah yang membuat
sekolah ini terlihat bukan seperti sekolah pada umumnya. Masalah lain yaitu kebersihan sekolah
yang kurang baik, banyak sampah yang berserakan tidak pada tempatnya, kamar mandi yang tidak
bersih, serta banyaknya coretan-coretan yang ada pada meja para siswa. Selain itu juga
kedisiplinan siswa yang kurang baik, ini terlihat banyaknya siswa yang tidak disiplin dalam
memakai seragam sekolah, banyak yang terlambat masuk kelas.
Selain nilai kedisiplinan yang kurang baik, terdapat pula nilai-nilai lain yang tidak diterapkan
denganbaik disekolah tersebut. Misalnya nilai kesopanan, banyak siswa yang kurang menghormati
para Guru maupun karyawan sekolah. Hal ini dibuktikan dengan ketika Guru sedang mengajar,
ada beberapa siswa yang ramai bicara sendiri, makan dikelas, dan lain-lain. Nilai prestasi di SMA
N 1 Galur ini juga tidak terlaksana dengan baik, ini bisa dilihat dari masih rendahnya minat baca
siswa, terbukti dengan sepinya Perpusatakaan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang
dilakukan, masih banyak lulusan sekolah ini yang menjadi pengangguran. Jika ada yang
melanjutkan ke Perguruan Tinggi pun jumlah sangat sedikit.
Masalah yang terkait dengan mata pelajaran juga terjadi pada sekolah ini. Berdasarkan observasi
yang dilakukan, peneliti pernah ikut masuk ke dalam kelas X di SMA N 1 Galur dan bertepatan
dengan mata pelajaran bhs.Inggris. Masalah yag terjadi terkait dengan kegiatan mata pelajaran
bhs.Inggris pada kelas X ini adalah, banyak dari mereka yang belum mampu berbicara dengan
menggunakan bhs. Inggris. Ini terbukti ketika Guru mengajak mereka berkomunikasi dengan
bhs.Inggris, banyak dari mereka yang tidak bisa menanggapi dan tidak paham akan apa yang
dijelaskan. Ketidak mampuan ini diduga karena mereka tidak terbiasa berkomunikasi dengan
bahasa Inggris, metode pengajaran Guru yang kurang tepat, dan lingkungan mereka yang tidak
mendukung.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan Guru mata pelaran ini, didapat informasi bahwa
nilai rata-rata bhs.Inggris siswa kelas X belum mencapai standar nilai minimal yang ditentukan.
Selain itu banyak siswa yang belum fasih dalam berkomunisi menggunakan bhs.Inggris. Oleh
karena itu, dari masalah-masalah yang ada di SMA N 1 Galur, penelitian ini sangat berguna untuk
mengatasi masalah-masalah tersebut.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah terdapat masalah-masalah, antara lain :
1. Masih banyak masalh-masalah yang terjadi dalam pendidikan nasional
2. Bangunan sekolah SMA N 1 Galur yang terlalu sempit atau kecil
3. Rendahnya nilai kedisiplinan, nilai kebersihan, nilai kesopanan siswa-siswa di SMA N 1
Galur.
4. Rendahnya minat baca siswa-siswi SMA N 1 Galur
5. Masih kurangnya kemampuan berbahasa Inggris siswa-siswi kelas X SMA N 1 Galur
6. Metode pengajaran Guru yang belum terlaksana dengan tepat

C. Batasan Masalah
Dengan adanya beberapa identifikasi masalah, maka peneliti akan fokus meneliti tentang Upaya
Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris Siswa kelas X SMA N 1 Galur Melalui
Story Telling.
D. Rumusan Masalah
1. Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa kelas X
SMA N 1 Galur ?
E. Tujuan
Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi dan dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini
adalah untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa kelas X SMA N 1 Galur.
F. Manfaat
a. Manfaat bagi Sekolah
1. Memberikan kontribusi bagi SMA N 1 Galur terkait dengan inovasi baru
mengenai story telling
b. Manfaat bagi Guru
1. Memberikan masukan atau metode pengajaran yang baru mengenai mata pelajaran
bahasa Inggris melalui story telling.
2. Membantu Guru dalam mengajar di kelas dengan metode yang lebih mudah dan
menarik
c. Manfaat bagi Siswa
1. Membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan berbicara bhs.Inggris melalui
metode yang lebih mudah yaitu Sotry Telling.
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Ketrampilan Berbicara
Kemampuan berbicara dimiliki oleh semua manusia. Namun ketrampilan berbicara di depan orang
banyak belum tentu dimiliki oleh setiap orang. Pembicara harus mengembangkan teknik-teknik
untuk persiapan, untuk menyusun struktur pembicaraan, untuk menularkan energo dan semangat,
serta untuk menangkap dan menanggapi minat pendengar. Dasar suatu pembicaraan yang efektif
adalah persiapan yang kompeten. Pada zaman sekarang ini semua orang dituntut untuk dapat
terampil dalam berbicara. ( Bill Scott, 1987:5 )
Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan
kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh.
Moris dalam Novia (2002) menyatakan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang alami
antara anggota masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk tingkah laku
sosial. Sedangkan, Wilkin dalam Maulida (2001) menyatakan bahwa tujuan pengajaran bahasa
Inggris dewasa ini adalah untuk berbicara. Lebih jauh lagi Wilkin dalam Oktarina (2002)
menyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan menyusun kalimat-kalimat karena
komunikasi terjadi melalui kalimat-kalimat untuk menampilkan perbedaan tingkah laku yang
bervariasi dari masyarakat yang berbeda.
Komunikasi atau berbicara dalam bentuk diskusi dalam proses belajar mengajar berlangsung amat
efektif, baik antar pengajar dengan pelajar maupun diantara para pelajar sendiri, sebab
mekanismenya memungkinkan si pelajar terbiasa mengemukakan pendapat secara argumentative
dan dapat mengkaji dirinya, apakah yang telah diketahuinya benar atau tidak. (Onong Uchjana E,
1994:102)
Menurut aliran komunikatif dan pragmatic, ketrampilan berbicara dan ketrampilan menyimak
berhubungan secara kuat. Ketrampilan berbicara mensyaratkan adanya pemahaman minimal dari
pembicara dalam membentuk sebuah kalimat. Dalam konteks komunikasi, pembicara berlaku
sebagai pengirim, sedangkan penerima sebagai penerima warta. Proses pembelajaran berbicara
akan menjadi mudah jika peserta didik terlibat aktif berkomunikasi. Evaluasi ketrampilan
berbicara dilakukan secara berbeda pada setiap jenjangnya. Misalnya pada tingkat Sekolah Dasar,
kemampuan menceritakan, berpidato, dan lain-lain dapat dijadikan sebagai bentuk evaluasi.
(Iskandarwassid, 2006:239)
Tujuan ketrampilan berbicara akan mencakup pencapaian hal-hal berikut :
1. Kemudahan berbicara
Peserta didik harus mendapat kesempatan yang besar untuk berlatih berbicara sampai mereka
mengembangkan ketrampilan ini secara wajar, lancar, dan menyenangkan, baik di dalam
kelompok kecil maupun dihadapan pendengar umum yang lebih besar jumlahnya. Para peserta
didik perlu mengembangkan kepercayaan yang tumbuh melalui latihan.
2. Kejelasan
Dalam hal ini peserta didik berbicara dengan tepat dan jelas, baik artikulasi maupun diksi kalimat-
kalimatnya. Gagasan yang diucapkan harus tersusun dengan baik. Dengan latihan berdiskusi yang
mengatur cara berfikir yang logis dan jelas, kejelasan berbicara tersebut dapat dicapai.
3. Bertanggung Jawab
Latihan berbicara yang bagus menekankan pembicara untuk bertanggung jawab agar berbicara
secara tepat, dan dipikirkan dengan sungguh-sungguh mengenai apa yang menjadi topik
pembicaraan, tujuan pembicaraan, siapa yang diajak bicara, dan bagaimana situasi pembicaraan
serta momentumnya. Latihan demikian akan menghindarkan peserta didik dari berbicara yang
tidak bertanggung jawab atau bersilat lidah yang mengelabui kebenaran.
4. Membentuk Pendengaran yang Kritis
Latihan berbicara yang baik sekaligus mengembangkan keterampilan menyimak secara tepat dan
kritis juga menjadi tujuan utama program ini. Disini peserta didik perlu belajar untuk dapat
mengevaluasi kata-kata, niat, tujuan pembicara yang secara emplisit mengajukan pertanyaan : (1)
Siapakah yang berkata, (2) mengapa ia berkata demikian, (3) apa tujuannya, (4) apa
kewenangannya ia berkata begitu?
5. Membentuk kebiasaan
Kebiasaan berbicara tidak dapat dicapai tanpa adanya kebiasaan berinteraksi dalam bahasa yang
dipelajari atau bahkan dalam bahasa ibu. Faktor ini demikian penting daam membentuk kebiasaan
berbicara dalam perilaku seseorang.
Tujuan ketrampilan berbicara diatas dapat dicapai jika program, pengajaran dilandasi prinsip-
prinsip yang relevan dan pola KBM yang membuat para peserta didik secara aktif mengalami
kegiatan berbicara.
Biasanya, kesulitan-kesulitan yang dialami oleh pengajar dan peserta didik adalah :
1. Distorsi fonem sebagai masalah artikulasi
2. Masalah gagap yang lebih bersifat individual
3. Pengacauan artikulasi kata-kata karena terlalu cepat keluarnya
4. Kesulitan pendengaran yang bisa disebabkan oelh suara terlalu keras atau terlalu lembut
5. Masalah lain yang menyimpang dari garis formal kegiatan (Iskandarwassid, 2011:243)

B. Definisi Bahasa Inggris

Sebelum kita paham akan apa definisi bahasa Inggris, terlebih dahulu kita harus paham
mengenai definisi bahasa itu sendiri. Menurut Wittgenstein, bahasa merupakan bentuk
pemikiran yang dapat dipahami, berhubungan dengan realitas, dan memiliki bentuk dan struktur
yang logis. Sedangkan menurut Ferdinand De Saussure, bahasa adalah ciri pembeda yang paling
menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang
berbeda dari kelompok yang lain. Lain halnya dengan Plato, menurutnya bahasa adalah pernyataan
pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan)
yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut.
Menurut Bloch dan Trager, bahasa adalah suatu system symbol-simbol bunyi yang digunakan oleh
suatu kelompok social sebagai alat untuk berkomunikasi. Senada dengan Bloch dan Trager, Joseph
Bram mengatakan bahwa bahasa adalah suatu system yang berstruktus dari anggota suatu
kelompok social sebagai alat bergaul satu sama lain. Ronald Wardhaugh, seorang Linguis Barat,
dalam Introduction to Linguistics memberikan definisi sebagai berikut: bahasa ialah suatu system
symbol-simbol bunyi yang digunakan untuk komunikasi manusia (Asep Ahmad Hidayat, 2006:22)
Bahasa Inggris sendiri adalah media komunikasi utama bagi masyarakat di negara Inggris,
Amerika Serikat, Kanada, Australia, New Zealand, Afrika Selatan, dan di banyak negara lainnya.
Bahasa Inggris (English) merupakan bahasa resmi dari banyak negara-negara persemakmuran dan
dipahami serta dipergunakan secara meluas. Bahasa Inggris dipergunakan di lebih banyak negara
di dunia dibanding bahasa yang lain serta dibanding bahasa yang lain kecuali bahasa Cina, bahasa
ini juga lebih banyak dipergunakan orang.
Bahasa Inggris termasuk rumpun bahasa-bahasa Anglo-Frisia pada cabang barat bahasa-bahasa
Jerman, dan merupakan sebuah bahasa subfamili dari bahasa-bahasa Indo-Eropa.
Bahasa Inggris hampir mendekati bahasa Frisia, sedikit lebih luas dari
bahasa Netherlandic (Belanda –Flemish) dan dialek Jerman tingkat rendah (Plattdeutsch), serta
jauh dari bahasa Jerman Modern tingkat tinggi.

C. Strategi Belajar
Strategi berasal dari kata Yunani strategia yang berarti ilmu perang atau panglima perang.
Brdasarkan pengertian ini, maka strategi adalah suatu seni merancang operasi di dalam
peperangan, seperti cara-cara mengatur posisi atau siasat berperang , angkatan darat atau laut.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua (1989) strategi adalah ilmu dan
seni menggunakan semua sumber dayan bangsa-bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan
tertentu dalam perang dan damai. Yang dapat dianggap berkaitan langsung dengan pengertian
startegi dalam pengajaran bahasa ialah strategi merupakan rencana yang cermat mengenai kegiatan
untuk mencapai sasasaran khusus. Dalam konteks pengajaran, menurut Gagne (1974) strategi
adalah kemampuan internal sesorang untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil
keputusan. Artinya, bahwa proses pembelajaran akan menyebabkan peserta didik berpikir secara
unik untuk dapat menganalisis, memecahkan masalah di dalam mengambil keputusan.
Belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu (KBBI, 1989). Dalam bahasa
sederhana kita belajar dimaknai sebagai menuju kea rah yang lebih baik dengan cara sistematis.
Brunner mengemukakan proses belajar yang terdiri atas tiga tahapan yaitu tahap informasi,
transformasi, dan evaluasi. Teori belajar lain dikemukakan oleh Gagne yang menetapkan proses
belajar melalui analisis yang cermat dalam suatu kontribusi pengajaran. ( Iskandarwassid, 2011:2)
Sedangakan strategi belajar adalah sifat, tingkah laku yang tidak teramati, atau langkah nyata yang
dapt diamati (Huda, 1999). Menurut Brown, strategi belajar berkaitan dengan pemrosesan,
penyimpanan, dan pengambilan masukan perolehan bahasa. Pengertian strategi pembelajaran
menurut Zaini dan Bahri (2003) yaitu strategi pembelajaran mempunyai pengertian suatu garis-
garis besar haluan untuk bertinak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.
Dihubungkan dengan pembelajaran, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan
pengajar dan peserta didik dalam mewujudkan kegiatan pembelajaran yang telah digariskan. Ada
empat strategi dasar dalam pembelajaran, yaitu mengidentifikasi apa yang diharapkan, memilih
system pendekatan, memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik pembelajaran,
menetapkan norma-norma dan batas minial keberhasilan. ( Iskandarwassid, 2011:8)
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran meliputi
kegiatan atau pemakaian teknik yang dilakukan oleh pnegajar mulai dari perencanaan ,
pelaksanaan kegiatan sampai ke tahap evaluasi, serta program tindak lanjut yang berlangsung
dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu , yaitu pengajaran. ( Iskandarwassid, 2011:9)
Apabila semua uraian diatas dihubungkan dengan pengajaran bahasa Inggris, maka strategi
pembelajaran bahasa Inggris adalah pola ketrampilan pembelajaran yang dipilih dosen atau
pengajar untuk melaksanakan program pembelajaran ketrampilan berbahasa Inggris.
D. Storytelling
Menurut Echols (1975) storytelling terdiri atas dua kata, yaitu story berarti cerita dan telling berarti
penceritaan.” Penggabungan dua kata storytelling berarti penceritaan cerita atau menceritakan
cerita. Sedangkan menurut Malan (1991), storytelling disebut juga bercerita atau mendongeng.
Mendongeng adalah bercerita berdasarkan tradisi lisan. Storytelling merupakan usaha yang
dilakukan oleh pendongeng dalam menyampaikan isi perasaan, buah pikiran atau sebuah cerita
kepada anak-anak secara lisan. Storytelling sangat bermanfaat sekali bagi guru seperti yang
dikemukakan oleh Loban (1972:521) menyatakan bahwa storytelling dapat menjadi motivasi
untuk mengembangkan daya kesadaran, memperluas imajinasi anak, orang tua atau menggiatkan
kegiatan storytelling pada berbagai kesempatan.
Kegiatan story telling dapat memperbaiki daya nalar anak dan memperluas komunikasi anak
dengan orang dewasa, anak dengan temannya atau anak itu sendiri. Morrow dalam Tompkins
(2005:15) menyatakan bahwa storytelling dapat memberi kesenangan dan merangsang imajinasi
anak. Menurut Bachrudin (2008:15) melalui keterlibatan dengan dongeng (virtual reality), anak
akan tergaet masuk kedalam rangkaian kejadian dan pertarungan nasib tokoh cerita (plot). Dengan
berbekal emosi, intelegensi dan daya imajinasi anak, mereka akan turut mengalami kejadian
dalamcerita itu. Berdasarkan pernyataan di atas bahwa storytelling dapat memberi kesenangan,
kegembiraan, kemakmuran, mengembangkan daya imajinasi, memberikan pengalaman baru,
mengembangkan wawasan anak dan menurunkan warisan budayadari generasi satu kegenerasi
berikutnya. Hal yang paling utama, bahwa storytelling dapat memperkaya wawasan yang dimiliki
anak berkembang dan menjadi perilakuinsani, yang mempertimbangkan tentang baik dan
buruknya tindakan yang dilakukan.

Storytelling adalah seni bercerita yang lebih tinggi dan memerlukan banyak berlatih sebagai salah
satu kegiatan seni bercerita. Storytelling adalah kegiatan aktivitas yang bermanfaat dalam
pembelajaran. Storytelling dapat menumbuhkan motivasi untuk menyimak cerita atau bercerita
(Muh-Nur Mustakim, 2005:175). Kegiatan storytelling dapat dilakukan oleh anak-anak dengan
tujuan memperbaiki 20 keterampilan komunikasi menyongsong pertumbuhan imajinasi anak,
memotivasianak untuk mengisahkan cerita yang dialaminya, dan memberi hiburan pada anak.
Menurut Saxby (1991:5-10), manfaat mendongeng bagi anak terbentang luas mulai dari
dukunganterhadap pertumbuhan berbagai pengalaman, perasaan, emosi, bahasa,
perkembangankognitif, sosial, estetis, spritual, eksplorasi dan penemuan. Manfaat
dari Storytelling memberi kesenangan, kenikmatan,mengembangkan daya imajinasi anak,
memberikan pengalaman baru,mengembangkan wawasan anak, menurunkan warisan budaya dari
generasi satu ke generasi berikutnya.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research), bersifat
partisipan. Madsudnya yaitu bahwa orang yang akan melakukan tindakan harus juga terlibat dalam
proses penelitian dari awal. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model penelitian tindakan
yang dikemukakan oleh Kemmis dan Teggart (Suwarsih Madya,1994:27)
Adapun proses penelitian tindakan model kemmis dan teggart adalah
1. Perencanaan pertama
2. Tindakan pertama
3. Pengamatan pertama (Observe 1)
4. Refleksi pertama
5. Revisi terhadap perencanaan pertama
6. Tindakan kedua (Observe 2)
7. refleksi kedua

B. Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Galur, di kelas X pada semester ganjil bulan Oktober sampai
November 2012.
C. Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMA N 1 Galur. Sedangkan objek dari
penelitian ini adalah penerapan storytelling, untuk meningkatkan kemampuan berbicara bhs.
Inggris siswa.
D. Sumber Data
Data yang digunakan adalah data kualitatif, berupa data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh langsung dari hasil observasi dan wawancara. Data sekunder diperoleh dari dokumentasi
yaitu dari lembaga atau organisasi yang bersangkutan sebagai data tambahan.
E. Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif. Dalam
penelitian kolaboratif, pihak yang melakukan tindakan adalah Guru mata pelajaran bhs. Inggris
untuk kelas X. Sedangkan yang melakukan melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya
proses tindakan adalah peneliti. Penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari
Kemmis dan Taggart, yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya.
Menurut Kemmis dan Taggart ada beberapa tahapan dalam penelitian ini (Rochiati Wiriaatmadja,
2005:66) yaitu:
1. Perencanaan (plan)
2. Tindakan (act)
3. Pengamatan (observe)
4. Refleksi (reflect)
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dengan cara kolaborasi yaitu penelitian yang melibatkan
orang lain disamping peneliti yaitu sebagai observer (teman sejawat). Peneliti menggunakan alur
tahapan (perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi disajikan dalam dua siklus).
Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Siklus dihentikan apabila data yang ditampilkan di
lapangan sudah jenuh, artinya jika sudah ada peningkatan kemampuan berbicara bhs.Inggris dari
siswa dalam model pembelajaran storytelling. Adapun alur penelitiannya sebagai berikut:
Gambar 1. Model Spiral Kemmis dan Taggart
F. Tahapan Penelitian
Tahapan Penelitian Siklus I
1. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan rencana pelaksanaan
program model pembelajaran storytelling :
1) Melakukan izin terhadap pihak Sekolah dan Guru mata pelajaran terkait untuk menerapkan
model storytelling dalam mata pelajaran bhs. Inggris
2) Peneliti melakukan wawancara terhadap Guru bhs.Inggris dan para siswa
3) Peneliti berkoordinasi dengan Guru bhs.Inggris kelas X terkait dengan tempat dan waktu
penelitian
4) Peneliti menyiapkan tema atau topik untuk diterapkan dalam storytelling nanti
5) Peneliti melakukan koordinasi dengan kolaborator, yaitu Guru pengampu mata pelajaran
bhs.Inggris kelas X terkait dengan tema dan bagaimana pelaksanaan model storytelling nanti pada
saat KBM berlangsung
6) Peneliti menyiapkan lembar pedoman observasi dan wawancara yang dibutuhkan dalam
penelitian
2. Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus pertama dilakukan dalam 2 kali pertemuan, yaitu setiap 1
minggu sekali. Tahap tindakan dilakukan oleh Guru bhs.Inggris bersama peneliti dalam
menerapkan model pembelajaran storytelling. Adapun tindakan yang dilakukan pada tiap siklus
yaitu:
1) Pendahuluan
Guru memberikan penjelasan mengenai apaitu model pembelajaran storytelling. Dan juga
membagi semua siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5orang setiap kelompok. Setelah
itu, Guru memberikan masing-masing kelompok tersebut dengan tema yang sudah disiapkan oleh
Guru bersama peneliti.
2) Kegiatan inti
Setelah siswa terbagi dalam kelompok-kelompok kecil dan sudah mendapatkan tema, maka
mereka menyusun atau membuat sebuah cerita yang terkait dengan tema yang telah diberikan,
minimal satu paragraf yang terdiri dari lima kalimat. Sebagai contoh tema bencana gempa bumi,
maka mereka harus membuat cerita yang berkaitan dengan gempa bumi. Setelah menyusun cerita,
masing-masing anggota kelompok menceritakan cerita kelompok mereka di depan kelas
perkalimat atau per paragraph sesuai dengan jumlah kalimat atau paragraph yang mereka buat.
Seusai mereka bercerita didepan kelas, Guru memberikan masukan bagi mereka. Dalam tahap ini,
peneliti berfungsi sebagai pengamat aktivitas dan melakukan wawancara.
3) Penutup
Guru memberikan apresiasi bagi kelompok yang baik dari segi cerita dan cara penyampaian cerita
mereka di depan kelas dinilai paling baik.
1. Observasi
Observasi dilakukan selama pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang
telah disiapkan dan mencatat kejadian-kejadian yang tidak terdapat dalam lembar obseravasi
dengan membuat lembar catatan lapangan (field note). Hal-hal yang diamati selama pelaksanaan
tindakan adalah aktivitas selama model pembelajaran storytelling dilaksanakan. Selain itu
dilaksanakan juga wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara. Wawancara
dilaksanakan pada siswa-siswi yang mengikuti model pembelajaran storytelling sesudah
pelaksanaan tindakan.
1. Refleksi
Pada tahap ini peneliti bersama Guru melakukan evaluasi dari pelaksanaan tindakan pada siklus I,
meliputi analisis, sintesis, pemaknaan, penjelasan, dan penyimpulan data dan informasi yang
berhasil dikumpulkan. Data dan informasi tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan
perencanaan pelaksanaan metode pembelajaran storytelling pada siklus berikutnya. Jika hasil yang
diharapkan belum tercapai maka dilakukan perbaikan dan dilakukan pada siklus kedua. Siklus
selanjutnya dilakukan, apabila para siswa belum menunjukkan beberapa karakter yang menjadi
indikator lancar berbahas inggris. Apabila dalam tindakan siklus pertama hasil tersebut sudah
tercapai maka siklus kedua akan tetap dilaksanakan untuk membuktikan bahwa hasil tersebut
bukan sebuah kebetulan, tetapi merupakan hasil dari penerapan model pembelajaran Storytelling.
1. Tahapan Penelitian Siklus II
Rencana tindakan siklus II dimaksudkan sebagai hasil refleksi dan perbaikan terhadap pelaksanaan
program pada siklus I. Tahapan tindakan pada siklus II mengikuti tahapan tindakan siklus I.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:
1. Observasi
Dalam penelitian ini terdapat dua pedoman observasi yaitu observasi untuk keaktifan mahasiswa
dan lembar observasi pelaksanaan model pembelajaran storytelling. Lembar observasi untuk siswa
berupa lembar observasi penilaian kinerja (proses) dan lembar observasi aktifitas belajar siswa.
Sedangkan lembar observasi pelaksanaan program adalah lembar observasi yang digunakan untuk
mengamati pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh Guru dan peneliti.
Wawancara
Wawancara dilakukan dengan cara bertanya kepada Guru pengampu mata pelajaran bhs.Inggris
dan para siswa mengenai pelaksanaan storytelling di kelas dalam rangka meningkatkan
kemampuan berbicara bhs.Inggris.
Dokumentasi
Dokumentasi diperoleh dari hasil lembar observasi, lembar wawancara, catatan lapangan, daftar
mahasiswa dan foto-foto selama program berjalan.
H. Instrumen Penelitian
1. Peneliti
Dalam penelitian ini, peneliti merupakan instrumen karena peneliti sekaligus sebagai perencana,
pelaksana, pengumpul data, penganalisis data, dan menjadi pelapor penelitian
1. Lembar Observasi
Metode observasi dilakukan untuk mengamati suasana kelas tempat berlangsungnya
pembelajaran. Mengamati antusias siswa dalam mengikuti model pembelajaran storytelling di
kelas.
1. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara ini digunakan untuk mengetahui respon atau tanggapan Guru dan siswa
mengenai model pembelajaran storytelling dalam rangka meningkatkan kemampuan berbicara
bhs. Inggris siswa.
1. Dokumentasi
Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah rencana pelaksanaan pembelajaran
program, daftar nama dan nilai berbicara siswa pada mata pelajaran bhs.Inggis, dokumen
mengenai model pembelajaran yang diterapkan oleh Guru sebelumnya, dan dokumentasi selama
pelaksanaan model pembelajaran storytelling berjalan.
1. Catatan Lapangan
Metode catatan lapangan dipergunakan untuk mencatat suasana kelas pada saat proses
pembelajaran berlangsung. Hal-hal yang dicatat meliputi :
1. Keaktifan siswa pada proses pembelajaran
2. Aktifitas guru dalam menerapkan metode pembelajaran storytelling
I. Teknis Analisis Data
Teknis analisis data yang digunakan adalah reduksi data yaitu kegiatan pemilihan data,
penyederhanaan data serta transfomasi dari hasil catatan lapangan. Penyajian data berupa
sekumpulan informasi dalam bentuk tes naratif yang disusun, diatur dan diringkas sehingga mudah
dipahami. Hal ini dilakukan secara bertahap kemudian dilakukan penyimpulan dengan cara diskusi
bersama mitra kolaborasi. Untuk menjamin pemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan
dan dicatat dalam penelitian digunakan triangulasi. Triangulasi diartikan sebagai teknik
pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan
sumber data yang telah ada.
J. Validasi Data
Peneliti dalam memeriksa validitas dan reliabilitas data dengan menggunakan teknik triangulasi
dan membercheck , triangulasi sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan
dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Dalam penelitian ini
triangulasi dilakukan dengan pedoman observasi, pedoman wawancara dan catatn lapangan (field
note). Sedangkan membercheck dilakukan dengan mengulang garis besar apa yang diungkapkan
oleh informan pada akhir wawancara guna memastikan kembali data yang diperoleh dari hasil
wawancara dan mengoreksi bila ada kesalahan serta menambah apabila terdapat beberapa
kekurangan.
Daftar Pustaka

– Effendy, Onong.1994.Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek.Bandung:PT Remaja


Rosdakarya.
– Wassid, Iskandar.2011.Strategi pembelajaran bahasa.Bandung:PT Remaja Rosdakarya
– Ahmad Asep hidayat. 2006. Filsafat bahasa mengungkapkan hakikat bahasa, makna, dan
tanda.Bandung : PT Remaja Rosdakarya
– Wiriatmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Rosdakarya
– http://lembagabahasa.com/language/definisi-bahasa , diunduh tanggal 1 Desember 2012
– http://id.scribd.com/doc/87122057/2/kajian-teori-metode-storytelling-dengan-media-
panggung, diunduh tanggal 3 Desember 2012
Lampiran
Pedoman wawancara
Guru :
1. Bagaimana antusias para siswa ketika KBM mata pelajaran bhs. Inggris berlangsung
dengan menggunakan strategi pembelajaran storytelling?
2. Bagaimana keaktifan siswa di kelas dalam berbicara menggunakan bhs. Inggris ?
3. Bagaimana penggunaan grammar siswa dalam berbicara bhs. Inggris ?
4. Bagaimana kelancaran siswa dalam berbicara bhs. Inggris ?
5. Bagaimana kejelasan artikulasi siswa dalam berbicara bhs. Inggris ?
6. Bagaimana keberanian siswa dalam berbicara menggunakan bhs. Inggris saat proses KBM
?
7. Bagaimana antusias siswa jika dilihat sebelum dan sesudah adanya storytelling ?
8. Menurut anda, sudah efektifkah penerapan storytelling dalam meningkatkan kemampuan
berbicara siswa?
Siswa :
1. Bagaimana kertertarikan Saudara dalam mengikuti storytelling di kelas? Apakah
menyenangkan?
2. Menurut Saudara, lebih menyenangkan menggunakan storytelling atau model pengajaran
sebelumnya?
3. Seberani apakah Saudara berbicara menggunakan bhs.Inggris pada saat proses KBM ?
4. Bagaiamana kelancaran Saudara dalam berbicara bhs. Inggris setelah
mengikuti storytelling ?
5. Bagaimana antusias Saudara dalam mengikuti storytelling di kelas?
6. Bagaimana pemahaman Saudara ketika mengikuti storytelling di kelas ?
7. Bagaimana nilai tes atau ujian Saudara setelah mengikuti storytelling ?
8. Menurut Saudara, sudah efektifkah penerapan storytelling dalam meningkatkan
kemampuan berbicara siswa?
Pedoman Observasi

No. Aspek yang Diamati Selalu Sering Kadang Tidak Ke


pernah

Belajar bhs. Inggris menarik


1

Belajar bhs. Inggris mudah


2

Dapat berbicara bhs. Inggris


3

Lancar berbicara bhs. Inggris


4

Memiliki artikulasi jelas berbicara bhs. Inggris


5

Pemilihan kata mudah dipahami


6

Rajin berbicara bhs.Inggris saat KBM


7

Penggunaan grammar benar


8

Nilai speaking sesuai dengan nilai standar


9 minimal

Berani berbicara menggunakan bhs. Inggris


10