Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Proses saponifikasi adalah hidrolisis lemak menjadi asam lemak dan


gliserol dalam kondisi basa. Pembuat kondisi basa yang biasanya digunakan
adalah basa kuat berupa NaOH (natrium hidroksida atau sodium hidroksida).
Hasil dari proses saponifikasi ini adalah sabun dan gliserol. Komposisi utama
sabun adalah mengandung C12 dan C16, selain itu juga mengandung suatu asam
karboksilat. Kata saponifikasi atau saponify yang berarti proses pembuatan sabun.
Bahasa Latin, sapon berarti sabun dan fy adalah akhiran yang berarti membuat.
Bangsa Romawi kuno pada saat itu mulai membuat sabun sejak 2300 tahun yang Commented [W1]: Tidak pakai titik

lalu dengan memanaskan pada campuran lemak hewan dengan abu kayu.

2.1. Saponifikasi
Sabun terdiri dari garam natrium atau kalium dari berbagai asam lemak
terutama asam oleat, stearat, palmitat, laurat, dan miristat. Alkali yang biasanya
digunakan adalah NaOH dan Na2CO3 atau KOH dan K2CO3. Terdapat dua jenis
produk yang dihasilkan dalam proses saponifikasi, yaitu sabun dan gliserin. Sabun
adalah hasil reaksi kimia antara fatty acid dan alkali. Fatty acid adalah suatu
lemak yang diperoleh dari lemak hewan dan nabati (Groggins, 1958).
Gliserin yang berlebih umumnya dipisahkan dari sabun dalam industri
pembuatan sabun skala besar karena gliserin memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Senyawa gliserin banyak digunakan pada produk-produk kecantikan sebagai
humektan atau pelembap seperti moisturizer, cream, dan lotion. Proses
saponifikasi adalah suatu reaksi yang terjadi antara lemak dan kaustik soda
(alkali) atau peristiwa hidrolisis dari senyawa ester. Proses saponifikasi sabun ini
terdiri dari 2 metode, yaitu pada proses saponifikasi trigliserida secara langsung
dan proses saponifikasi metil ester asam lemak (Sukeksi, 2017).
2.1.1. Saponifikasi Trigliserida secara Langsung
Proses ini dilakukan dengan mereaksikan trigliserida berupa lemak atau
minyak dengan basa secara langsung untuk menghasilkan sabun yang transparan.
Proses saponifikasi ini hampir sama dengan proses menggunakan ketel, hanya

3
4

saja proses ini dilakukan secara kontinu sementara proses dengan ketel memakai
sistem batch. Langkah-langkah dari proses saponifikasi ini adalah pembentukan
sabun transparan yang diawali dengan pemanasan senyawa trigliserida dan basa di
dalam tangki saponifikasi dan diaduk pada suhu 80 °C serta tekanan 1 atm. Lebih
dari 95% lemak akan berhasil mengalami saponifikasi dengan menggunakan
proses ini. Hasil dari proses saponifikasi trigliserida secara langsung yang
dilakukan adalah terbentuknya dua jenis produk, yaitu senyawa sabun dan gliserol
2.1.2. Saponifikasi Metil Ester Asam Lemak
Metil ester asam lemak dihasilkan dari reaksi esterifikasi trigliserida dari
lemak atau minyak dengan metanol yang membebaskan gliserin. Gliserin tidak
terlibat dalam proses saponifikasi seperti pada proses saponifikasi asam lemak.
Hal tersebut akan mempermudah proses pemurnian pada sabun. Pemisahan metil
ester asam lemak dengan gliserin dilakukan dengan menggunakan proses distilasi.
Metil ester asam lemak kemudian direaksikan dengan senyawa kaustik
soda yang dapat berupa NaOH di dalam suatu reaktor alir tubular pada suhu 120
°C sehingga dihasilkan produk sabun dengan konversi asam lemak yang cukup
tinggi. Metanol yang terdapat dalam campuran reaksi dipisahkan dengan
menggunakan flash drum. Produk sabun yang telah bebas dari metanol dialirkan
ke reaktor alir tubular kedua melalui pompa vakum untuk menyempurnakan
reaksi. Hasilnya berupa produk sabun yang dikeringkan pada pengering dengan
menggunakan vakum untuk menghasilkan produk lembaran sabun. Perbedaan
proses ini dengan saponifikasi trigliserida secara langsung adalah adanya senyawa
metanol yang dihasilkan pada suatu proses saponifikasi metil ester asam lemak.

2.2. Bahan Dasar Pembuatan Sabun


Sabun dibuat melalui proses saponifikasi lemak minyak dengan larutan
alkali membebaskan gliserol. Teknologi pada proses pembuatan suatu sabun telah
berkembang semakin pesat saat ini. Sabun dengan berbagai jenis dan bentuk yang
bervariasi dapat diperoleh dengan mudah di pasaran, seperti sabun mandi, sabun
cuci untuk pakaian atau perkakas rumah tangga, serta sabun yang digunakan
dalam industri dan banyak jenis sabun lainnya yang digunakan. Kandungan zat-
zat yang terdapat pada sabun juga bervariasi sesuai dengan sifat dan jenis sabun.
5

2.2.1. Minyak atau Lemak


Minyak atau lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur
berupa ester dari gliserol. Lemak atau minyak yang digunakan dapat berupa lemak
hewani, minyak nabati, lilin, atau minyak ikan laut. Perbedaan antara minyak dan
lemak adalah wujud keduanya dalam keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair
pada temperatur ruang sekitar 28 °C, sedangkan lemak akan berwujud padat.
Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus
dibatasi karena berbagai alasan, seperti kelayakan ekonomi dan spesifikasi produk
sabun yang tidak akan mudah teroksidasi, mudah berbusa, serta mudah larut.
Minyak dan lemak memiliki kandungan asam lemak yang berbeda-beda.
Perbedaan tersebut menyebabkan sabun yang terbentuk mempunyai sifat yang
berbeda. Minyak yang memiliki kandungan asam lemak rantai pendek dan ikatan
tak jenuh akan menghasilkan sabun cair, sedangkan rantai panjang dan ikatan
yang jenuh akan menghasilkan sabun yang tak larut pada temperatur ruang.
Industri pembuat sabun umumnya memproduksi sabun yang berasal dari
campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur
dengan tallow karena memiliki sifat yang saling melengkapi. Minyak kelapa
memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi dan dapat membuat
sabun mudah larut dan berbusa, sedangkan tallow memiliki kandungan stearat dan
dan palmitat yang tinggi yang akan memperkeras struktur sabun yang dihasilkan.
Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri
pengolahan daging sebagai hasil samping. Tallow ada yang memiliki kualitas
tinggi dan kualitas rendah. Tallow dengan kualitas tinggi biasanya digunakan
dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan
dalam pembuatan sabun cuci. Asam oleat dan stearat adalah asam lemak yang
paling banyak terkandung di dalam tallow. Jumlah Free Fatty Acid (FFA) dari
tallow berkisar antara 0,75-7,0 %. Kandungan utama dari tallow yaitu asam oleat
40-45%, asam palmitat 24-37%, asam stearat 14-19%, asam miristat 2-8%, asam
linoleat 3-4%, dan asam laurat 0,2%. Titer point pada tallow umumnya di atas 40
°C. Tallow dengan titer point di bawah 40°C dikenal dengan nama grease. Grease
diolah terlebih dahulu untuk mengurangi kadar FFA dalam proses saponifikasi.
6

Lard merupakan lemak babi yang masih banyak mengandung asam lemak
tak jenuh, seperti asam oleat (60-65%) dan asam lemak jenuh, seperti asam stearat
(35-40%). Lard harus melalui proses hidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk
mengurangi sifat tak jenuhnya jika digunakan sebagai bahan pengganti tallow.
Sabun yang dihasilkan lard umumnya memiliki warna putih dan mudah berbusa.
Minyak sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat
warna karotenoid, sehingga harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun dari 100%
minyak sawit bersifat keras dan sulit berbusa. Minyak sawit harus dicampur
dengan bahan lain sebagai bahan pembuatan sabun. Minyak sawit mengandung
asam palmitat 42-44%, asam oleat 35-40%, asam linoleat 10%, asam linolenat
0,3%, asam arachidonat 0,3%, asam laurat 0,3%, dan asam miristat 0,5-1%.
Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam
industri pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan diperoleh
melalui ekstraksi daging buah atau kopra yang dikeringkan. Minyak ini menjadi
penyusun penting dalam sabun untuk keperluan rumah tangga. Minyak kelapa
mengandung asam lemak jenuh yang tinggi, terutama asam laurat sekitar 44-52%,
sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang menimbulkan bau tengik.
Minyak inti sawit diperoleh dari biji buah kelapa sawit. Minyak inti sawit
memiliki kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa, sehingga
dapat digunakan sebagai bahan pengganti minyak. Minyak inti sawit memiliki
kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan asam lemak rantai pendek yang
lebih rendah dari minyak kelapa. Kandungan asam lemaknya terdiri atas asam
laurat 40-52%, asam miristat 14-18%, asam oleat 11-19%, asam palmitat 7-9%,
asam kaprat 3-7%, asam kaprilat 3-5%, asam stearat 1-3%, dan asam linoleat 2%.
Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-
asam lemak dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan
asam lemak terbesar dalam minyak ini adalah asam palmitat 52-58% dan asam
oleat 27-32%. Minyak sawit stearin juga mengandung asam linoleat 6,6-8,2%,
asam stearat 4,8-5,3%, asam miristat 1,2-1,3%, dan asam laurat 0,1-0,4%. Minyak
sawit stearin berwujud padat pada temperatur ruang, sehingga memiliki harga
lebih murah dari minyak olein atau minyak sawit itu sendiri (Widyasanti, 2016).
7

Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil
memiliki kandungan asam lemak tak jenuh (asam oleat) yang cukup tinggi,
sehingga harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai
bahan baku dalam pembuatan sabun. Minyak ikan melalui proses hidrogenasi
untuk digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan sabun, namun sekarang
banyak diproses dengan teknik yang lebih baik ketika ikatan tak jenuh diperlukan.
Minyak jarak dihasilkan dari tanaman jarak pagar. Jarak pagar memiliki
kandungan minyak yang cukup besar sekitar 55% dalam inti biji atau 33% dari
berat total biji. Minyak tersebut dapat dihasilkan melalui ekstraksi biji jarak
dengan pengepresan mekanik. Minyak jarak memiliki kandungan asam lemak
oleat dan linoleat yang tinggi. Minyak dengan kandungan asam lemak ini dapat
dimanfaatkan untuk bahan pembuatan sabun yang mereaksikan lemak tersebut
dengan senyawa NaOH atau dikenal sebagai reaksi saponifikasi (Sari, 2010).
Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan
kualitas tinggi memiliki warna yang kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak
zaitun memiliki sifat yang keras, tapi lembut untuk bagi kulit. Zaitun secara alami
mengandung senyawa yang tak mengalami saponifikasi, seperti fenol, tokoferol,
pigmen, dan skualena. Minyak zaitun juga mengandung lemak triasil gliserol yang
sebagian besar berupa asam lemak tidak jenuh tunggal jenis oleat. Kandungan
asam oleat dapat mencapai 55% dari total asam lemak dalam minyak zaitun.
2.2.2. Alkali
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah
NaOH, KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. Alkali yang digunakan dalam
pembuatan sabun adalah senyawa basa seperti NaOH atau KOH yang bersifat
kuat dengan pH lebih dari 10. Bahan kimia ini bersifat higroskopis atau mudah
menyerap air dan bersifat korosif. Penggunaan NaOH akan menghasilkan sabun
yang teksturnya keras yang dikenal dengan sebutan sabun padat atau sabun
batang. Penggunaan KOH akan menghasilkan sabun cair atau krim, tergantung
tingkat pengenceran yang digunakan. Abu soda atau natrium karbonat merupakan
senyawa alkali yang dapat digunakan untuk saponifikasi asam lemak, tetapi tidak
untuk saponifikasi trigliserida dari minyak atau lemak (Hanifah, 2017).
8

2.2.3. Bahan Pendukung


Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu penyempurnaan
sabun hasil proses saponifikasi melalui pengendapan sabun dan pengambilan
gliserin hingga menjadi produk yang siap untuk dipasarkan. Bahan-bahan tersebut
adalah garam berupa NaCl dan bahan-bahan aditif. NaCl merupakan komponen
kunci dalam proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl pada produk sangat kecil
karena kandungan NaCl yang tinggi dapat memperkeras struktur sabun. NaCl
yang digunakan umumnya berwujud air garam (brine) atau padatan berupa kristal.
NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin
tidak mengalami pengendapan di dalam brine karena kelarutannya yang tinggi,
sedangkan sabun akan mengalami pengendapan. NaCl harus bebas dari zat besi,
kalsium, dan magnesium agar diperoleh sabun berkualitas. Bahan aditif adalah
bahan yang ditambahkan untuk meningkatkan kualitas dan minat produk sabun.
Builder digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat
mineral-mineral yang terlarut di dalam air. Builder juga membantu menciptakan
kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih
baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah
lepas. Penambahan filler berfungsi untuk memperbanyak atau memperbesar
volume. Bahan pengisi sabun yang umum digunakan adalah senyawa natrium
sulfat, natrium sitrat, dan tetra sodium pyrophosphate. Bahan pengisi ini memiliki
warna putih, berbentuk bubuk, dan mudah larut dalam air(Austin, 1984).
Bahan antioksidan ditambahkan dalam proses pembuatan sabun berfungsi
untuk menstabilkan sabun dan menghilangkan bau tengik. Natrium silikat,
natrium hiposulfit, dan natrium tiosulfat diketahui dapat digunakan sebagai bahan
antioksidan dalam pembuatan sabun. Stannous chloride juga merupakan bahan
antioksidan yang sangat kuat dan dapat memutihkan sabun atau sebagai bleaching
agent. Bahan ini berfungsi untuk memberikan warna kepada sabun. Hal ini
ditujukan agar memberikan efek yang menarik bagi konsumen untuk mencoba
ataupun membeli sabun dengan warna yang lebih menarik. Biasanya warna-warna
sabun yang ada di pasaran adalah warna merah, putih, hijau maupun jingga.
Parfum termasuk bahan pendukung dalam pembuatan sabun. Keberadaaan parfum
9

memegang peranan yang cukup besar dalam hal ketertarikan konsumen akan
produk sabun. Pemberian jenis parfum yang salah dapat berakibat fatal walaupun
secara kualitas produk sabun yang ditawarkan memiliki keunggulan lainnya.

2.3. Proses Pembuatan Sabun secara Batch


Proses pembuatan sabun secara batch dilakukan dengan pemanasan bahan
baku lemak atau minyak dengan senyawa alkali seperti NaOH atau KOH berlebih
di dalam sebuah ketel. Garam ditambahkan jika proses saponifikasi telah selesai
untuk mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengandung garam, gliserol, dan
kelebihan alkali dikeluarkan, sehingga gliserol diperoleh dari proses penyulingan.
Endapan pada sabun yang bercampur dengan garam, alkali, dan gliserol kemudian
dimurnikan dengan air lalu akan diendapkan dengan garam secara berulang.
Endapan tersebut kemudian akan direbus dengan air secukupnya untuk
mendapatkan campuran halus yang lama-kelamaan akan membentuk lapisan
homogen dan mengapung. Sabun ini dapat dijual langsung tanpa pengolahan yang
lebih lanjut sebagai sabun industri yang murah. Beberapa bahan pengisi juga
ditambahkan, seperti pasir atau batu apung dalam pembuatan sabun gosok.

2.4. Proses Pembuatan Sabun secara Kontinu


Proses pembuatan sabun secara kontinu dilakukan dengan hidrolisis lemak
atau minyak dengan air pada temperatur dan tekanan tinggi dengan katalis, seperti
sabun seng. Lemak atau minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu ujung
reaktor besar. Asam lemak dan gliserol yang terbentuk dikeluarkan dari ujung
yang berlawanan dengan cara penyulingan. Asam-asam ini kemudian dinetralkan
dengan alkali untuk menjadi sabun. Alkali yang umumnya digunakan dalam
pembuatan sabun adalah natrium hidroksida dan kalium hidroksida, namun
kadang-kadang NH4OH juga digunakan. Sabun yang dibuat dengan NaOH lebih
lambat larut dalam air jika dibandingkan dengan sabun yang dibuat dengan KOH.

2.5. Mekanisme Kerja Sabun


Kotoran yang melekat pada kulit atau benda lainnya pada umumnya
berasal dari lemak, minyak, butir-butir tanah, dan sebagainya. Zat tersebut sangat
sukar untuk larut di dalam air karena bersifat non polar, sehingga diperlukan
sabun untuk melarutkannya. Suatu gugus sabun terdiri dari gugus –COONa.
10

Sabun yang dimasukkan ke dalam pelarut polar, seperti air akan mengalami
ionisasi. Gugus-gugus ini akan membentuk buih yang akan mengarah pada air
karena bersifat polar, sedangkan bagian yang lain akan mengarah pada kotoran
karena bersifat non polar. Kotoran akan terikat pada sabun dan sabun akan terikat
pada air. Adanya gerakan tangan atau mesin cuci akan membuat kotoran itu
tertarik atau terlepas. Jenis kotoran yang berupa minyak atau lemak akan
membentuk emulsi minyak, air, dan sabun sebagai emulgator. Sabun bertemu
dengan kotoran tanah, maka akan diadsorpsi oleh sabun dan membentuk suatu
suspensi butiran tanah air. Sabun berfungsi sebagai zat pembentuk suspensi.
Sabun merupakan bahan surfaktan, yaitu senyawa yang berfungsi untuk
menurunkan tegangan permukaan air. Sifat ini menyebabkan larutan sabun dapat
memasuki serat, menghilangkan, dan mengusir kotoran serta minyak. Kotoran dan
minyak dari permukaan serat dapat dicuci dengan sabun karena struktur kimianya.
Muatan negatif dan ion sabun juga menyebabkan tetes minyak sabun untuk
menolak satu sama lain sehingga minyak yang teremulsi tidak dapat mengendap.
Sifat sabun yang tidak menguntungkan sebagai bahan pembersih salah
satunya adalah sabun mengendap dengan ion kalsium dan magnesium, yang
merupakan kation yang umumya terdapat dalam air sadah. Sabun menjadi kurang
berbuih. Hal ini terjadi karena ion Ca2+ atau Mg2+ dapat bereaksi dengan sabun
membentuk endapan. Sabun yang sudah mengendap tidak dapat menghilangkan
kotoran, bahkan membentuk buih logam. Hal ini akan menyebabkan fungsi sabun
sebagai pengikat kotoran menurun atau bahkan menjadi tidak efektif. Cara
mencegah pembentukan buih logam adalah dengan menggunakan air lunak alami
atau air lunak larutan yang tidak mengandung ion kalsium atau magnesium. Sabun
akan berbuih kembali setelah semua ion Ca2+ atau Mg2+ di dalam air mengendap.

2.6. Jenis-jenis Sabun


Saat ini, telah ditemukan berbagai macam jenis bahan baku sabun antara
lain dari daun-daun, akar, kacang-kacangan atau biji-bijian yang bisa digunakan
untuk membentuk sabun yang mudah larut dan membawa kotoran dari pakaian.
Bahan baku sabun menggunakan material dasar yang disebut sebagai saponin
yang mengandung pentasiklis triterpena asam karboksilat, seperti asam olenoat.
11

Jenis sabun secara umum terbagi menjadi dua, yaitu sabun lunak dan
sabun keras. Sabun lunak adalah sabun yang mengandung ion kalium karena
dalam proses pembuatannya digunakan basa kalium hidroksida. Sabun jenis ini
disebut sabun lunak karena kalium hidroksida memiliki sifat pemutih (bleaching)
yang lebih lunak daripada natrium hidroksida yang digunakan pada sabun keras.
Contoh sabun lunak adalah produk sabun mandi, shampoo, dan pasta gigi. Sabun
keras adalah sabun yang memiliki kandungan ion natrium karena dalam proses
pembuatannya digunakan senyawa basa kuat, yaitu natrium hidroksida. Natrium
hidroksida merupakan basa yang lebih keras daripada kalium hidroksida. Daya
pemutihnya sangat iritatif dan bersifat melukai terhadap kulit. Sabun jenis ini
tidak cocok digunakan untuk membersihkan seluruh tubuh, kecuali pada bagian-
bagian tertentu seperti telapak tangan atau organ lain yang berkulit lebih tebal.
Jenis-jenis sabun bukan hanya itu saja, terdapat juga jenis sabun yang
merupakan campuran antara jenis sabun keras dan sabun lunak, misalnya krim
pencukur. Penggunaan sabun keras pada krim ini dimaksudkan untuk melunakkan
kulit, sehingga rambut yang menempel di atasnya, seperti jambang, kumis,
janggut, atau bulu kaki lebih mudah dibersihkan. Kualitas suatu sabun salah
satunya ditentukan oleh pengotor yang terdapat pada lemak atau minyak yang
digunakan. Pengotor tersebut antara lain berupa hasil samping hidrolis minyak
atau lemak, protein, partikulat, vitamin, pigmen, senyawa fosfat, dan sterol. Hasil
degradasi minyak selama proses penyimpanan akan memengaruhi bau dan warna
sabun. Perlu ditambahkan zat aditif untuk memperoleh sabun yang berfungsi
khusus, seperti gliserol, pewarna, aroma, antioksidan, penghalus, dan aditif kulit
untuk memfokuskan tujuan sabun dari pembuatan sabun tersebut secara khusus.
Sabun merupakan garam logam alkali kandungan dengan asam lemak dan
minyak dari bahan alam yang disebut trigliserida. Setiap minyak dan lemak
mengandung komponen asam-asam lemak yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut
menyebabkan sabun yang terbentuk mempunyai sifat yang berbeda. Minyak
dengan kandungan asam lemak rantai pendek dan ikatan tak jenuh menghasilkan
sabun yang bersifat cair. Minyak dengan asam lemak rantai panjang dan ikatan
jenuh akan menghasilkan jenis sabun yang tidak larut pada suhu ruang.
12

2.6.1 Sabun Transparan


Sabun ini tampilannya jernih dan cenderung memiliki kadar yang ringan.
Sabun ini mudah sekali larut karena mempunyai sifat sukar mengering. Faktor
yang memengaruhi transparansi sabun adalah kandungan alkohol, gula, dan
gliserin dalam sabun. Hal yang esensial adalah kualitas gula, alkohol, dan gliserin
ketika sabun yang akan dibuat bersifat jernih dan bening. Pemilihan bahan
memperpertimbangkan warna dan kemurniannya. Parfum berperan penting dalam
warna sabun seperti adanya tincture dan infusi agar sabun menjadi wangi.
Kerugian adanya parfum dapat menyebabkan spotting atau bintik hitam.
2.6.2. Castile Soap .
Sabun ini menggunakan olive oil atau minyak zaitun untuk formulanya.
Sabun ini aman dikonsumsi karena tidak menggunakan lemak hewani. Castile
Soap mulai direkayasa dengan melakukan penambahan minyak nabati lainnya,
terutama minyak kelapa dan minyak sawit dengan tujuan agar menghasilkan lebih
banyak busa, lebih tahan lama, dan lebih keras. Suatu produk sabun dapat
dikategorikan sebagai castile soap apabila bahan-bahan dasarnya masih memiliki
kandungan sedikitnya 40% minyak zaitun murni atau extra virgin olive oil.
2.6.3. Deodorant Soap .
Sabun ini bersifat sangat aktif sehingga digunakan untuk menghilangkan
aroma tak sedap pada bagian tubuh. Cara kerja dari deodorant sendiri adalah
dengan memengaruhi bau serta kelenjar keringat. Penggunaan deodorant mulai
dikenal dan dipatenkan oleh seseorang yang berasal dari Philadelpia. Deodorant
tidak dianjurkan digunakan untuk kulit wajah atau untuk tubuh karena memiliki
suatu kandungan yang cukup keras yang dapat menyebabkan iritasi kulit.
2.6.4. Acne Soap
Sabun jenis ini dikhususkan untuk membunuh bakteri-bakteri yang dapat
menimbulkan jerawat. Sabun jerawat ini dapat mengakibatkan kulit kering apabila
pemakaiannya digunakan bersamaan dengan penggunaan produk anti-acne lain.
Kulit yang kering akan membuat akan menyebabkan iritasi dan juga dapat
membuat kulit menjadi warna merah serta akan membuat sakit, sehingga akan
lebih baik jika memberi clearing lotion setelah menggunakan acne soap di kulit.
13

2.7. Penelitian Terkait


Penelitian tentang pembuatan sabun yang telah dilakukan menurut
Praptanti (2011) dengan judul Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang sebagai Sabun
Herbal. Sabun yang dibuat menggunakan bahan aktif alami sebagai komponen
penyusunnya. Kulit pisang diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan daging buahnya. Penelitian ini melakukan pembuatan
sabun herbal dengan menggunakan kulit pisang pada berbagai variasi konsentrasi
NaOH, yaitu 7,2%, 10,4%, dan 13,4% yang ditetapkan berdasarkan SNI.
NaOH ditambahkan secara bertahap akan menyebabkan kekerasan produk
sabun akan semakin meningkat. Uji kualitas sabun herbal kulit pisang dan ekstrak
kulit pisang disesuaikan berdasarkan SNI 06-3532-1994 berupa uji kadar air,
kadar alkali bebas, analisis asam lemak bebas, uji minyak mineral, dan pH,.
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian tersebut adalah penambahan
NaOH akan meningkatkan kekerasan dari produk sabun. Melalui pengamatan sifat
fisik dan pengujian kualitas yang sabun, produk yang memenuhi standar adalah
sabun kulit pisang dan sabun ekstrak kulit pisang dengan variasi NaOH 13,4%.
Penelitian lainnya menurut Lilis dkk, (2017) yang berjudul Pembuatan
Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) sebagai Sumber
Alkali. Variabel tetapnya adalah volume minyak (30 mL), kecepatan pengadukan
(250 rpm), dan rasio volume minyak dan alkali 1:2. Variabel bebasnya adalah
suhu reaksi (60°C, 70°C, dan 80°C) dan waktu pengadukan (60 menit, 90 menit,
120 menit). Variabel terikat yang diteliti adalah densitas, bilangan penyabunan,
kadar alkali bebas, dan pH. Semakin lama waktu pengadukan dan semakin tinggi
suhu, maka semakin rendah pH sabun dihasilkan. Nilai pH terbaik yang diperoleh
sesuai SNI adalah pada suhu 80°C dan waktu pengadukan 120 menit yaitu 9,1.
Suhu yang tinggi akan menyebabkan semakin lama waktu pengadukan,
maka densitas sabun yang dihasilkan cenderung meningkat. Densitas terbaik
sesuai SNI diperoleh pada suhu 60 °C dan 70 °C dalam waktu pengadukan 60
menit, yaitu sebesar 1,08 dan 1,1. Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu
pengadukan, maka semakin rendah nilai bilangan penyabunan dan kadar alkali
bebas. Sabun dengan bilangan penyabunan sesuai SNI terbaik adalah pada 70 oC.
5

DAFTAR PUSTAKA

Austin, G. T. 1984. Shreve’s Chemical Process Industries Fifth Edition. New


York: McGraw-Hill.
Groggins. P. H. 1958. Unit Processes in Organic Synthesis. Tokyo: McGraw-Hill
Kogakusha.
Hanifah, I. 2017. Proses Saponifikasi. (Online). https://www.academia.edu//6723
411774/prosessaponifikasi. (Diakses pada tanggal 16 Februari 2019)
Sari, T. I., dkk. 2010. Pembuatan Sabun Padat dan Sabun Cair dari Minyak
jarak. Jurnal Teknik Kimia. Vol. 17(1) : 28-33.
Sukeksi, L., dkk. 2017. Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah
Kapuk (Ceiba petandra) sebagai Sumber Alkali. Jurnal Teknik Kimia USU.
Vol. 6(3) : 8-13.
Widyasanti, A., dkk. 2016. Pembuatan sabun padat transparan menggunakan
minyak kelapa sawit dengan penambahan bahan aktif ekstrak the putih.
Jurnal Teknik Pertanian Lampung. Vol. 5(3) : 125-136

Anda mungkin juga menyukai