Anda di halaman 1dari 10

STUDY EPIDEMIOLOGI PENYAKIT DEMAM BERDARAH DI KABUPATEN

MALANG.

PROPOSAL
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Parasitologi
Yang dibina oleh Ibu Sofia Ery Rahayu

Oleh:
Dinda Tri Yunisa
160342606229
(Email : dinda1.d166@gmail.com)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

DESEMBER 2018
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)
sampai saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang
cenderung meningkat jumlah pasien serta semakin luas penyebarannya. Penyakit DBD ini
ditemukan hampir di seluruh belahan dunia terutama di negara tropik dan subtropik, baik
sebagai penyakit endemik maupun epidemik. Hasil studi epidemiologik menunjukkan bahwa
DBD menyerang kelompok umur balita sampai dengan umur sekitar 15 tahun. Kejadian Luar
Biasa (KLB) dengue biasanya terjadi di daerah endemik dan berkaitan dengan datangnya
musim hujan, sehingga terjadi peningkatan aktifitas vektor dengue pada musim hujan yang
dapat menyebabkan terjadinya penularan penyakit DBD pada manusia melalui vektor Aedes.
Sehubungan dengan morbiditas dan mortalitasnya, DBD disebut the most mosquito
transmitted disease (Djunaedi, 2006).

Penyakit DBD di Indonesia masih sangat umum bagi masyarakat. Penyakit DBD di
Indonesia pertama kali terjadi di Surabaya pada tahun 1968, dan di Jakarta dilaporkan pada
tahun 1969. Pada tahun 1994 kasus DBD menyebar ke 27 provinsi di Indonesia. Sejak tahun
1968 angka kesakitan kasus DBD di Indonesia terus meningkat, tahun 1968 jumlah kasus
DBD sebanyak 53 orang (Incidence Rate (IR) 0.05/100.000 penduduk) meninggal 24 orang
(42,8%). Pada tahun 1988 terjadi peningkatan kasus sebanyak 47.573 orang (IR
27,09/100.000 penduduk) dengan kematian 1.527 orang (3,2%) (Hadinegoro dan Satari,
2002). Jumlah kasus DBD cenderung menunjukkan peningkatan baik dalam jumlah maupun
luas wilayah yang terjangkit, dan secara sporadis selalu terjadi KLB. KLB terbesar terjadi
pada tahun 1988 dengan IR 27,09/100.000 penduduk, tahun 1998 dengan IR 35,19/100.000
penduduk dan Case Fatality Rate (CFR) 2 %, pada tahun 1999 IR menurun sebesar
10,17/100.000 penduduk (tahun 2002), 23,87/100.000 penduduk (tahun 2003) (Kusriastusi,
2005).

Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti DBD masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat di Provinsi Jawa Timur baik di perkotaan maupun di pedesaan. Pada beberapa
tahun terakhir, penyakit yang ditularkan oleh nyamuk cenderung mengalami peningkatan
jumlah kasus maupun kematiannya. Seperti KLB, DBD secara nasional juga menyebar di
beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur. Penyebaran kasus DBD di Jawa Timur terdapat di
38 kabupaten/kota (semua kabupaten/kota) dan juga di beberapa kecamatan atau desa yang
ada di wilayah perkotaan maupun di pedesaan. Jumlah kasus dan kematian akibat penyakit
DBD di Jawa Timur selama 5 tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun
2001 dan 2004 terjadi lonjakan kasus yang cukup drastis, yaitu tahun 2001 sebanyak 8246
kasus (IR 23,50/100.000 penduduk), dan tahun 2004 (sampai dengan Mei) sebanyak 7180
kasus (IR 20,34/100.000 penduduk). Berdasarkan penyebaran kasus DBD di Jawa Timur,
Kabupaten Pacitan termasuk salah satu daerah penyebaran kasus DBD dengan IR menurun
sebesar 10,17/100.000 penduduk (tahun 2002), 23,87/100.000 penduduk (tahun 2003)
(Kusriastusi, 2005).

Penyakit DBD sangat umum terjadi di masyarakat dan sering dinggap remeh. Tingkat
epidemiologi pada setiap daerah berbeda. Setiap tahun jumlah yang terjangkit penyakit ini
masih sangat banyak. Dan diperlukan pemantauan agar bisa dihindari. Penelitian ini
bertujuan untuk mengatahui tingkat epidemiologi di Kabupaten Malang.

Rumusan Masalah

a. Bagaimanakah perbandingan penyakit demam berdarah dari tahun ke tahun?


b. Bagaimanakah perbandingan penyakit demam berdarah dengan penyakit yang lain?

Tujuan

a. Untuk mengetahui perbandingan penyakit demam berdarah dari tahun ke tahun


b. Untuk mengetahui perbandingan penyakit demam berdarah dengan penyakit yang lain

Manfaat Penelitian

c. Bagi masayarakat dapat mengetahui tingakt epidemiologi penyakit demam berdarah.


d. Bagi pembaca, dapat meningkatkan pencegahn demam berdarag agar terhindar dan
tidak mengakibatkan tingakat epidemiologi peyakit ini bertambah.
KAJIAN PUSTAKA

Definisi Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue dan mengakibatkan spektrum manifestasi klinis yang bervariasi antara yang paling
ringan, demam dengue (DD), DBD dan demam dengue yang disertai renjatan atau dengue
shock syndrome (DSS) ditularkan nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus yang terinfeksi.
Host alami DBD adalah manusia, agentnya adalah virus dengue yang termasuk ke dalam
famili Flaviridae dan genus Flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, Den-2, Den3 dan
Den-4.1 Dalam 50 tahun terakhir, kasus DBD meningkat 30 kali lipat dengan peningkatan
ekspansi geografis ke negara- negara baru dan, dalam dekade ini, dari kota ke lokasi
pedesaan.9 Penderitanya banyak ditemukan di sebagian besar wilayah tropis dan subtropis,
terutama Asia Tenggara, Amerika Tengah, Amerika dan Karibia (Kristina et al, 2004)
Etiologi DBD

Penyakit Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan virus
dengue yang termasuk kelompok B Arthopod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang
dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviricae, dan mempunyai 4 jenis serotipe yaitu :
DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi
terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibodi yang terbentuk terhadap serotipe
lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap
serotipe lain. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak
yang menunjukkan manifestasi klinik yang berat (Hadinegoro et al, 2001). Vektor penyakit
DBD adalah nyamuk jenis Aedes aegypti dan Aedes albopictus terutama bagi Negara Asia,
Philippines dan Jepang, sedangkan nyamuk jenis Aedes polynesiensis, Aedes scutellaris dan
Aedes pseudoscutellaris merupakan vektor di negara-negara kepulauan Pasifik dan New
Guinea. Vektor DBD di Indonesia adalah nyamuk Aedes (Stegomya) aegypti dan albopictus
(Djunaedi, 2006).

Penularan Penyakit DBD

Penularan penyakit DBD memiliki tiga faktor yang memegang peranan pada penularan
infeksi virus, yaitu manusia, virus dan vektor perantara (Hadinegoro et al, 2001). Lebih
jelasnya Depkes RI, 2005 menjelaskan mekanisme penularan penyakit DBD dan tempat
potensial penularannya.
1. Mekanisme Penularan DBD

Seseorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber


penular DBD. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum
demam. Bila penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut
terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri
dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk, termasuk di dalam kelenjar liurnya.
Kira-kira 1 minggu setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk
menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan berada dalam
tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, nyamuk Aedes aegypti yang telah
menghisap virus dengue menjadi penular sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi
karena setiap kali nyamuk menusuk (menggigit), sebelumnya menghisap darah akan
mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis), agar darah yang dihisap tidak
membeku. Bersamaan air liur tersebut virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang
lain (Depkes RI, 2005)

2. Menurut (Depkes RI, 2005) tempat potensial bagi penularan DBD Penularan DBD
dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya. Oleh karena itu tempat
yang potensial untuk terjadi penularan DBD adalah:

a. Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan/endemis).

b. Tempat-tempat umum yang menjadi tempat berkumpulnya orangorang yang datang


dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus
dengue yang cukup besar seperti: sekolah, RS/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan
lainnya, tempat umum lainnya (hotel, pertokoan, pasar, restoran, tempat ibadah dan lain-
lain).

c. Pemukiman baru di pinggir kota, penduduk pada lokasi ini umumnya barasal dari
berbagai wilayah maka ada kemungkinan diantaranya terdapat penderita yang membawa
tipe virus dengue yang berbeda dari masing-masing lokasi.

Epidemiologi Penyakit DBD

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue dan mengakibatkan spektrum manifestasi klinis yang bervariasi antara yang paling
ringan, demam dengue (DD), DBD dan demam dengue yang disertai renjatan atau dengue
shock syndrome (DSS) ; ditularkan nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus yang
terinfeksi.( Supartha, 2008) Host alami DBD adalah manusia, agentnya adalah virus dengue
yang termasuk ke dalam famili Flaviridae dan genus Flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu
Den-1, Den-2, Den3 dan Den-4.1 Dalam 50 tahun terakhir, kasus DBD meningkat 30 kali
lipat dengan peningkatan ekspansi geografis ke negara- negara baru dan, dalam dekade ini,
dari kota ke lokasi pedesaan( WHO, 2009). Penderitanya banyak ditemukan di sebagian besar
wilayah tropis dan subtropis, terutama Asia Tenggara, Amerika Tengah, Amerika dan Karibia
(Kurane, 2007).
Virus dengue dilaporkan telah menjangkiti lebih dari 100 negara, terutama di daerah
perkotaan yang berpenduduk padat dan pemukiman di Brazil dan bagian lain Amerika
Selatan, Karibia, Asia Tenggara, dan India. Jumlah orang yang terinfeksi diperkirakan sekitar
50 sampai 100 juta orang, setengahnya dirawat di rumah sakit dan mengakibatkan 22.000
kematian setiap tahun; diperkirakan 2,5 miliar orang atau hampir 40 persen populasi dunia,
tinggal di daerah endemis DBD yang memungkinkan terinfeksi virus dengue melalui gigitan
nyamuk setempat (Knnowlton et all., 2009)
Jumlah kasus DBD tidak pernah menurun di beberapa daerah tropik dan subtropik
bahkan cenderung terus meningkat(Weissenbock et all., 2010) dan banyak menimbulkan
kematian pada anak 90% di antaranya menyerang anak di bawah 15 tahun.( Malavinge et all.,
2004) Di Indonesia, setiap tahunnya selalu terjadi KLB di beberapa provinsi, yang terbesar
terjadi tahun 1998 dan 2004 dengan jumlah penderita 79.480 orang dengan kematian
sebanyak 800 orang lebih.( Kusriastuti, 2005) Pada tahun-tahun berikutnya jumlah kasus
terus naik tapi jumlah kematian turun secara bermakna dibandingkan tahun 2004. Misalnya
jumlah kasus tahun 2008 sebanyak 137.469 orang dengan kematian 1.187 orang atau case
fatality rate (CFR) 0,86% serta kasus tahun 2009 sebanyak 154.855 orang dengan kematian
1.384 orang atau CFR 0,89%.( Kusriastuti, 2010)
Penularan virus dengue terjadi melalui gigitan nyamuk yang termasuk subgenus
Stegomya yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus sebagai vektor primer dan Ae.
polynesiensis, Ae.scutellaris serta Ae (Finlaya) niveus sebagai vektor sekunder, selain itu juga
terjadi penularan transexsual dari nyamuk jantan ke nyamuk betinamelalui perkawinan serta
penularan transovarial dari induk nyamuk ke keturunannya. Ada juga penularan virus dengue
melalui transfusi darah seperti terjadi di Singapura pada tahun 2007 yang berasal dari
penderita asimptomatik(Tambyah et all., 2008). Dari beberapa cara penularan virus dengue,
yang paling tinggi adalah penularan melalui gigitan nyamuk Ae. aegypti(Gubler, 2002). Masa
inkubasi ekstrinsik (di dalam tubuh nyamuk) berlangsung sekitar 8-10 hari, sedangkan
inkubasi intrinsik (dalam tubuh manusia) berkisar antara 4-6 hari dan diikuti dengan respon
imun ( Kristina et all. 2004).
Penelitian di Jepara dan Ujung pandang menunjukkan bahwa nyamuk Aedes spp.
berhubungan dengan tinggi rendahnya infeksi virus dengue di masyarakat; tetapi infeksi
tersebut tidak selalu menyebabkan DBD pada manusia karena masih tergantung pada faktor
lain seperti vector capacity, virulensi virus dengue, status kekebalan host dan lain-lain( Lubis
1990) Vector capacity dipengaruhi oleh kepadatan nyamuk yang terpengaruh iklim mikro dan
makro, frekuensi gigitan per nyamuk per hari, lamanya siklus gonotropik, umur nyamuk dan
lamanya inkubasi ekstrinsik virus dengue serta pemilihan Hospes. Frekuensi nyamuk
menggigit manusia, di antaranya dipengaruhi oleh aktivitas manusia; orang yang diam (tidak
bergerak), 3,3 kali akan lebih banyak digigit nyamuk Ae. Aegypti dibandingkan dengan orang
yang lebih aktif, dengan demikian orang yang kurang aktif akan lebih besar risikonya untuk
tertular virus dengue. Selain itu, frekuensi nyamuk menggigit manusia juga dipengaruhi
keberadaan atau kepadatan manusia; sehingga diperkirakan nyamuk Ae. aegypti di rumah
yang padat penghuninya, akan lebih tinggi frekuensi menggigitnya terhadap manusia
dibanding yang kurang padat (Canyon, 2000). Kekebalan host terhadap infeksi dipengaruhi
oleh beberapa faktor, salah satunya adalah usia dan status gizi, usia lanjut akan menurunkan
respon imun dan penyerapan gizi ( Fatmah, 2006). Status status gizi yang salah satunya
dipengaruhi oleh keseimbangan asupan dan penyerapan gizi, khu susnya zat gizi makro yang
berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh (Harahap, 2004). Selain zat gizi makro, disebutkan
pula bahwa zat gizi mikro seperti besi dan seng mempengaruhi respon kekebalan tubuh,
apabila terjadi defisiensi salah satu zat gizi mikro, maka akan merusak sistem imun (Husaini
et all., 2003)
Status gizi adalah keadaan kesehatan akibat interaksi makanan, tubuh manusia dan
lingkungan yang merupakan hasil interaksi antara zat-zat gizi yang masuk dalam tubuh
manusia dan penggunaannya. Tanda-tanda atau penampilan status gizi dapat dilihat melalui
variabel tertentu [indikator status gizi] seperti berat badan, tinggi badan, dan lain lain (WHO-
NHD, 2000).
Penderita DBD yang tercatat selama ini, tertinggi adalah pada kelompok umur <15 tahun
(95%) dan mengalami pergerseran dengan adanya peningkatan proporsi penderita pada
kelompok umur 15-44 tahun, sedangkan proporsi penderita DBD pada kelompok umur >45
tahun sangat rendah seperti yang terjadi di Jawa Timur berkisar 3,64%.( Wirahjanto, 2006)
Munculnya kejadian DBD, dikarenakan penyebab majemuk, artinya munculnya kesakitan
karena berbagai faktor yang saling berinteraksi, diantaranya agent (virus dengue), host yang
rentan serta lingkungan yang memungkinan tumbuh dan berkembang biaknya nyamuk Aedes
spp.( Kasjono dan Kristiawan, 2008).

Profil Kabupaten Malang


Luas Kabupaten Malang adalah 3.238,27 km2 yang terletak antara 112° 17’ 10.90”
sampai dengan 122° 57’ 00” Bujur Timur dan 7° 44’ 55.11” sampai 8° 26’ 35.45” Lintang
Selatan. Posisi Kabupaten Malang terletak pada ketinggian 250-500 meter diatas permukaan
laut, dengan kondisi daerah perlembahan atadataran rendah, sedangkan daerah dataran tinggi
pada ketinggian antara 500-3.600 meter diatas permukaan laut yang terdapat di daerah
Malang Selatan, Lereng Pegunungan Tengger, Gunung Semeru dan sekitar Lereng Gunung
Kawi dan Gunung Arjuno (Profil Kesehatan Kabupaten Malang, 2015).
Adapun batas wilayah sebagai berikut :
 Sebelah Barat : Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri
 Sebelah Utara : Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Pasuruan
 Sebelah Timur : Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Lumajang Sebelah Selatan :
Samudera Indonesia
Sedangkan di bagian tengah wilayah Kabupaten Malang dibatasi oleh Kota Malang dan Kota
Batu. Wilayah Administrasi Kabupaten Malang terdiri dari:
 Jumlah kecamatan : 33 kecamatan
 Jumlah desa/kelurahan : 378 desa/ 12 kelurahan
 Rukun Warga : 3.125 RW
 Rukun Tetangga : 14.352 RT
METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional.


Dengan menganalisis yang diperoleh data yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten
Malang.

Waktu dan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah di Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. Pelaksanaan


penelitian dilakukan selama 2 bulan yaitu pada bulan Desember 2018 sampai dengan bulan
Januari 2019.

Lokasi Dinas Kesehatan Kabupaten Malang


Populasi,Sampel, dan Teknik Sampling

Populasi penelitian ini adalah dokumen penyakit demam berdarah tahun 2012 sampai
2016. Sampel dari penelitian ini yaitu orang yang terjangkit DBD. Pengambilan sampel
dilakukan dengan teknik Proposive Sampling ,yaitu dengan mengambil data secara langsung
yang diberikan oleh pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Malang.

Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil data sekunder ke petugas
Dinas Kesehatan Kabuaten Malang.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif memakai persen. Dengan


menjelaskan data yang diberikan dari Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. Dan dibuat
grafik untuk tingkat epidemiologi penyakit demam berdarah dari tahun 2012 sampai 2016.