Anda di halaman 1dari 5

Operator Selular Sepakat Matikan Internet Selama Nyepi di Bali

Rabu, 6 Maret 2019 13:57 WIB

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengimbau


operator seluler yang menyediakan jasa internet di Bali untuk mematikan jaringannya
saat Hari Raya Nyepi berlangsung.
Menanggapi hal tersebut, empat operator seluler yakni Telkomsel, Indosat, XL dan
Smartfren menyatakan akan mengikuti anjuran Kominfo dan akan mematikan
jaringan internet pada Kamis, (7/3/2019) mendatang.
Melalui pernyataan resminya, keempat operator tersebut menyatakan hal senada.
Layanan internet di Provinsi Bali akan dimatikan sementara mulai dari hari Kamis
pukul 06.00 WITA sampai Jumat, 8 Maret pukul 06.00 WITA.
"Telkomsel selaku salah satu penyelenggara telekomunikasi akan mematuhi imbauan
dari Kementerian Komunikasi dan Informatika tersebut," ungkap Denny Abidin,
General Manager External Corporate Communications Telkomsel.
PT XL Axiata pun menyatakan hal serupa. Operator seluler ini menyatakan akan
mendukung kebijakan pemerintah sesuai dengan surat edaran yang dirilis oleh
Kementerian Kominfo.
"XL Axiata akan mengikuti arahan pemerintah untuk menonaktifkan layanan internet
di Bali selama Nyepi," ungkap Henry Wijayanto, Head of External Communications XL
Axiata melalui pesan singkat, Selasa (5/3/2019).
Indosat dan Smartfren juga menyatakan sikap yang sama. Dalam pernyataan resminya
mereka menyatakan akan mematikan jaringan internet selama Nyepi di Bali namun
tetap menjaga layanan di beberapa titik vital.
Farouk, Group Head Corporate Communications Indosat, mengatakan bahwa
perusahaan akan tetap menjaga kualitas layanan akses internet untuk obyek-obyek vital
serta layanan kepentingan umum lainnya.
Sementara Presiden Direktur PT Smartfren Telecom Tbk, Merza Fachys mengatakan
lokasi-lokasi seperti rumah sakit, kantor kepolisian, instalasi militer, BPBD, BMKG,
BASARNAS hingga pemadam kebakaran akan tetap dapat menggunakan
layanan internet Smartfren.
"Layanan akan kembali normal sebagaimana mestinya pada Jumat 8 Maret 2019 pukul
06.00 WITA," ungkap Merza.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Operator Selular Sepakat
Matikan Internet Selama Nyepi di
Bali, http://www.tribunnews.com/techno/2019/03/06/operator-selular-sepakat-
matikan-internet-selama-nyepi-di-bali.

Editor: Fajar Anjungroso


===================

Internet dan Nyepi di Tahun Politik


Selasa, 5 Maret 2019 16:58 WIB

Pelaksanaan Nyepi, Panca Wali Krama, dan tahapan kampanye Pemilu 2019 pun dapat
sama-sama berjalan dengan baik dan lancar
Denpasar (ANTARA) - Setelah untuk pertama kalinya pada 2018, Pulau Bali pun
kembali bebas jaringan internet saat Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1941 pada 7 Maret
2019, karena layanan data seluler seluruh "provider" di Pulau Dewata dihentikan
sementara selama 24 jam.
"Layanan akan diputus selama 24 jam seperti halnya Nyepi tahun lalu, yang dimulai
dari dari 7 Maret pukul 06.00 Wita sampai dengan 8 Maret pukul 06.00 Wita. Saya
mengharapkan semoga umat lain yang berdomisili di Bali pada saat itu juga bisa
menghormati keputusan ini," kata Plt Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi
Bali Gede Darmawa, di Denpasar.
Meskipun diputus sementara, layanan internet pada objek vital dan sifatnya untuk
kepentingan umum tetap akan berfungsi, seperti layanan rumah sakit, kantor
kepolisian, militer, BPBD, BMKG, BASARNAS, bandara, dan sebagainya.
"Kepastian penghentian internet saat Nyepi juga merujuk pada Surat Edaran Menteri
Komunikasi dan Informatika RI, yang menindaklanjuti Surat Gubernur Bali Nomor
027/1342/Set/Diskominfos tanggal 21 Februari 2019 perihal Bebas Internet pada Hari
Suci Nyepi," katanya.
Menurut dia, surat ini juga untuk merespons Seruan Bersama Majelis-Majelis Agama
dan Keagamaan Provinsi Bali Tahun 2019 tanggal 7 Februari 2019.
"Dengan adanya penghentian sementara layanan internet, diharapkan umat Hindu
lebih khidmat dan khusyuk menjalani Hari Raya Suci Nyepi kali ini. Surat ini sifatnya
mengajak setiap komponen masyarakat, salah satunya para provider internet untuk
menciptakan Hari Suci Nyepi yang berkualitas," ujar Darmawa.
Menindaklanjuti keputusan tersebut, tiap operator/provider diharapkan melakukan
sosialisasi kepada pelanggan dan masyarakat yang berada pada lokasi yang terdampak
penghentian sementara layanan internet.
Penghentian sementara layanan internet itu mendapat dukungan sejumlah tokoh
agama di Bali. Ketua MUI Provinsi Bali Abdul Kadir Makaramah menilai keputusan
pemberhentian sementara merupakan satu bentuk toleransi pemeluk agama terhadap
pelaksanaan hari raya agama lainnya.
"Kita harus menghormati dan menghargai pelaksanaan hari raya agama lain dalam hal
ini Hari Suci Nyepi umat Hindu di Bali dan hari raya agama lainnya yang tentunya
memiliki aturan-aturan tersendiri, kami di Bali siap mendukung," ujar Abdul Kadir.
Dukungan senada disampaikan Ketua Walubi Provinsi Bali Pendeta DD IKG Karyana
Govinda dan Ketua Musyawarah Pelayanan Antar Gereja (MPAG) Provinsi Bali
Pendeta Jonathan Suharto. Keduanya juga mendukung kebijakan pemerintah untuk
melaksanakan penghentian sementara layanan internet di Bali selama perayaan Hari
Raya Suci Nyepi.
"Kami ucapkan terima kasih atas keputusan pemerintah, kami juga turut mendukung
pelaksanaan hari raya umat Hindu di Bali agar lebih khusyuk. Karena berkaca dari
pengalaman-pengalaman sebelumnya, permasalahan bisa timbul berawal dari media
sosial yang didukung jaringan internet," ucap Pdt Jonathan Suharto.
Gayung bersambut, perusahaan penyedia jasa layanan telekomunikasi berteknologi 4G
LTE, PT. Smartfren Telecom Tbk juga menyatakan siap mendukung dan melaksanakan
amanat Surat Edaran Menkominfo Nomor 3 Tahun 2019 untuk memaknai kekhidmatan
Hari Raya Nyepi 2019 dan Tahun Baru Saka 1941.
Pada saat Nyepi, layanan internet dari operator seluler salah satunya, Smartfren tidak
akan dapat dinikmati masyarakat Bali sebagaimana hari-hari biasa, kecuali area objek
vital dan layanan umum lainnya, seperti layanan rumah sakit, Kantor Kepolisian,
instalasi Militer, BPBD, BMKG, Basarnas, Pemadam Kebakaran, masih dapat
menggunakan layanan komunikasi.
Layanan akan kembali normal sebagaimana mestinya, pada Jumat (8/3) Pukul 06.00
WITA.

Ritual harus damai

Tidak hanya tokoh agama, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Bali
Umar Ibnu Alkhatab juga mengharapkan pelaksanaan sejumlah ritual besar keagamaan
di Pulau Dewata harus dipastikan berlangsung damai.
"Hal itu penting, jangan sampai kepentingan politik para peserta Pemilu 2019 menodai
kegiatan ritual keagamaan di pulau ini. Kami harapkan sejumlah upacara keagamaan
di Bali jangan sampai diganggu dengan kegiatan-kegiatan politik. Semestinya ritual
keagamaan dibersihkan dari muatan-muatan politik, sehingga tidak ada konflik
kepentingan," katanya di Denpasar (6/2).
Apalagi, Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1941 juga menjadi istimewa karena akan
dilaksanakan ritual besar Panca Wali Krama (dilaksanakan setiap 10 tahun sekali) di
Pura Agung Besakih, Karangasem yang puncaknya pada 6 Maret 2019.
"Jadi, jangan sampai pihak-pihak yang 'bertarung' dalam pemilu memanfaatkan
momen keagamaan ini untuk kepentingan politik sesaat, termasuk kepentingan politik
yang bertebaran di dunia maya," katanya.
Ia berharap agar kepentingan politik dilaksanakan sesuai aturan mainnya dan
pelayanan publik jangan sampai ada gangguan di tengah tahapan hajatan politik yang
sedang berjalan. "Bawaslu dan KPU, kami minta agar memastikan proses pemilu bisa
berjalan dengan baik," ucapnya.
Dukungan serupa juga datang dari Koordinator Divisi Penyelesaian Sengketa Bawaslu
Provinsi Bali I Ketut Rudia. Bahkan, ia meminta para peserta pemilu untuk tidak
mencoba-coba melakukan kampanye di tempat-tempat peribadatan karena jika terbukti
ancamannya hukuman pidana.
"Para caleg memang tidak dilarang datang ke pura, tetapi jangan sampai berkampanye
atau membawa berbagai atribut kampanye saat datang ke pura. Caleg menghaturkan
punia saat datang ke pura pun tidak dilarang, sepanjang tidak ada 'embel-embel' harus
memilihnya," katanya.
Ia berharap di Bali tidak sampai ada caleg yang dibatalkan karena terlibat 'money
politic' seperti di daerah-daerah lain. "Kalau menghaturkan punia itu sebaiknya
langsung diletakkan di atas canang yang akan dipersembahkan dan tidak diberikan
melalui orang tertentu di pura tersebut," ujarnya.
Harapan senada juga disampaikan Ketua Bawaslu Provinsi Bali Ketut Ariyani. Ia
mengharapkan situasi hari Nyepi Tahun Saka 1941, Panca Wali Krama Pura Besakih,
yang bersamaan dengan tahapan kampanye agar benar-benar berjalan kondusif.
"Harapan kami, kegiatan adat, budaya dan agama tetap jalan, kegiatan pemilu juga
jalan. Tetapi tidak mengurangi makna upacara dan tidak tercederai oleh kepentingan-
kepentingan politik," katanya di Denpasar (4/2).
Terkait kepentingan politik itu, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali
meminta agar ada penyesuaian pemasangan alat peraga kampanye (APK) Pemilu 2019
dalam pelaksanaan rangkaian ritual Melasti hingga Hari Suci Nyepi pada 7 Maret.
"Kalau memang ada yang dipandang tidak sinkron di jalan lintasan Melasti, supaya
dengan hormat dipastikan apakah disingkirkan sementara, agar tidak terjadi benturan,"
kata Ketua PHDI Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana saat menjadi
narasumber dalam "Rapat Mitra Kerja Cegah Dini dalam rangka Hari Raya Nyepi dan
Panca Wali Krama Tahun 2019", di Denpasar (4/2).
Umat Hindu di Bali pada awal Maret mendatang, tidak saja akan merayakan Nyepi
seperti tahun-tahun sebelumnya, namun untuk tahun ini menjadi istimewa karena akan
dilaksanakan ritual besar Panca Wali Krama (dilaksanakan setiap 10 tahun sekali) di
Pura Agung Besakih, Karangasem yang puncaknya pada 6 Maret 2019.
Dengan demikian, pelaksanaan Nyepi, Panca Wali Krama, dan tahapan kampanye
Pemilu 2019 pun dapat sama-sama berjalan dengan baik dan lancar. "Kami harapkan
menjadi satu kesatuan yang bisa menjaga keharmonisan satu kepentingan dengan yang
lainnya untuk Bali dan Indonesia," ucap Sudiana yang juga Rektor IHDN Denpasar itu.

https://www.antaranews.com/berita/805657/internet-dan-nyepi-di-tahun-politik
==============

Memaknai Nyepi di Tengah Tahun Politik


5 Maret 2019 13:11 Diperbarui: 6 Maret 2019

Perayaan Nyepi tahun ini sedikit berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.


Sebabnya, Nyepi tahun ini bertepatan dengan tahun politik.
Bukan untuk membawa momen sakral ini ke dalam politik, akan tetapi ada banyak
nilai-nilai keluhuran perayaan nyepi yang sebenarnya bisa direnungkan dalam
keseharian di tengah pusaran tahun politik tahun.
Ini juga yang dikatakan Ketua Penyiaran Hindu Jatim Gede Putu Swardana, dengan
menyebut tema nyepi tahun ini yakni Dengan Brata Penyepian Kita Sukseskan Pemilu
2019.
Kompasianer, di momen sakral ini kami mengajak Anda menuliskan segala bentuk
opini mengenai nilai-nilai keluhuran Hindu yang bisa diterapkan. Atau, menuliskan
cerita-cerita bagaimana perayaan Nyepi di sekitar Anda berlangsung.

https://www.kompasiana.com/kompasiana/5c7e0e9caeebe17acc7a8e17/topik-
pilihan-memaknai-nyepi-di-tengah-tahun-politik
===============