Anda di halaman 1dari 41

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

4.1.1 Letak Geografis

Daerah penelitian berada di Kota Semarang yang terletak antara 6°5’0”

Lintang Selatan dan 110°35’0” Bujur Timur dengan luas wilayah 373.70 km2

dengan sebelah barat adalah Kabupaten Kendal, sebelah timur adalah Kabupaten

Demak, sebelah selatan Kabupaten Semarang batas sebelah utara adalah Laut

Jawa dengan panjang garis pantai mencapai 13,6 kilometer.

4.1.2 Wilayah Administrasi

Pada Gambar 4.1 dan lampiran 1 merupakan lokasi penelitian yang berada

di wilayah administrasi Kota Semarang. Unit analisis yang dikaji meliputi 4

Kecamatan pesisir yaitu Kecamatan Tugu terdapat 6 kelurahan yaitu Kelurahan

Mangkang Kulon, Kelurahan Mangunharjo, Kelurahan Mangkang Wetan,

Kelurahan Randugarut, Kelurahan Karanganyar, dan Kelurahan Tugu. Kecamatan

Semarang Barat terdapat 2 kelurahan yaitu Kelurahan Tambakharjo dan

Kelurahan Tawangsari. Kecamatan Semarang Utara terdapat 3 kelurahan yaitu

Kelurahan Panggung Lor, Kelurahan Bandarharjo dan Kelurahan Tanjung Mas,

dan Kecamatan Genuk terdapat 3 kelurahan yaitu Kelurahan Terboyo Kulon,

Kelurahan Terboyo Wetan dan Kelurahan Trimulyo.

29
30
Gambar 4.1 Peta Lokasi Penelitian
31

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Geomorfologi

Geomorfologi pantai diperoleh dari Peta Lembar Semarang dan Bagian

Utara Ungaran, Jawa (1999). Data tersebut diolah dengan membuat Polygon

berdasarkan bentukan lahan. Berdasarkan data pada Peta Geomorfologi maka

daerah pesisir Kota Semarang terdapat 3 jenis bentukan lahan yaitu Dataran

Pantai, Pasir Pantai, dan Dataran Delta yang dapat dilihat pada gambar 4.2 dan

Tabel 4.1. berdasarkan hasil data dan penelitian maka dapat uraikan sebagai

berikut.

Tabel 4.1 Bentukan lahan lokasi penelitian


No Kelurahan Bentuk Lahan Kelas kerentanan
1 Mangkang Kulon Pantai Berpasir Tinggi
2 Mangunharjo Pantai Berpasir Tinggi
3 Mangkang Wetan Mangrove Tinggi
4 Randugarut Pantai Berpasir Tinggi
5 Karanganyar Pantai Tinggi
Berlumpur
6 Tugurejo Pantai Berpasir Tinggi
7 Tambakharjo Rawa Payau Tinggi
8 Tawangsari Pantai Berpasir Tinggi
9 Panggung Lor Delta Tinggi
10 Bandarharjo Delta Tinggi
11 Tanjung Emas Delta Tinggi
12 Terboyo Kulon Delta Tinggi
13 Terboyo Wetan Pantai Berpasir Tinggi
14 Trimulyo Pantai Berpasir Tinggi

Pada lokasi pertama, bentukan lahan di Kelurahan Mangkang Kulon

adalah Dataran Pantai. Pada sekitar lokasi penelitian ditemukan juga hutan

mangrove. Dari hasil data dan lapangan maka geomorfologi lokasi tersebut

termasuk pantai berpasir yang tergolong kelas kerentanan tinggi.


32

Lokasi kedua, bentukan lahan di Kelurahan Mangunharjo adalah Dataran

Pantai. Pada sekitar lokasi penelitian ditemukan hutan mangrove, serta bibit

mangrove yang ditanam oleh warga sekitar dan kerjasama instansi. Dari hasil data

dan lapangan maka geomorfologi lokasi tersebut termasuk pantai berpasir yang

tergolong kelas kerentanan tinggi.

Lokasi ketiga, bentukan lahan di Kelurahan Mangkang Wetan adalah

Dataran Pantai. Pada sekitar lokasi penelitian banyak lahan yang tergenang

sehingga tidak memiliki pantai melainkan adanya hutan mangrove sehingga

sangat sulit untuk menuju lokasi tersebut harus menggunakan kapal. Dari hasil

data dan lapangan maka geomorfologi lokasi tersebut termasuk mangrove yang

tergolong kelas kerentanan tinggi.

Lokasi keempat, bentukan lahan di Kelurahan Randugarut adalah Dataran

Pantai. Pada sekitar lokasi penelitian banyak lahan tambak warga tergenang.

selain itu jumlah hutan mangrove semakin sedikit karena adanya reklamasi oleh

kawasan industri wijayakusuma. Dari hasil data dan lapangan maka geomorfologi

lokasi tersebut termasuk pantai berpasir yang tergolong kelas kerentanan tinggi.

Lokasi kelima, bentukan lahan di Kelurahan Karanganyar adalah Dataran

Pantai. Pada sekitar lokasi penelitian banyak lahan tambak warga tergenang.

Selain itu juga jumlah hutan mangrove yang semakin sedikit. Dari hasil data dan

lapangan maka geomorfologi lokasi tersebut termasuk berlumpur yang tergolong

kelas kerentanan tinggi.

Lokasi keenam, bentukan lahan di Kelurahan Tugurejo terdapat 2 jenis

yaitu Pasir Pantai dan Dataran Pantai. Pada Lokasi penelitian merupakan obyek
33

wisata pantai tirang. Selain itu di sekitar lokasi penelitian terdapat hutan

mangrove. Dari hasil data dan lapangan maka geomorfologi lokasi tersebut

termasuk pantai berpasir yang tergolong kelas kerentanan tinggi. Lokasi ketujuh,

bentukan lahan di Kelurahan Tambakharjo terdapat 2 jenis yaitu Pasir Pantai dan

Dataran Pantai. Pada lokasi penelitian tersebut bukan merupakan bentukan lahan

yang alami, karena sudah terjadi reklamasi oleh PT. IPU. Lahan reklamasi

tersebut bukan secara wilayah administrasi tetapi melainkan membentuk pulau

tersendiri yang menyatu dengan lahan tambak. Lahan sebelum adanya reklamasi

tersebut adalah lahan tambak. Dari hasil data dan lapangan maka geomorfologi

lokasi tersebut termasuk rawa payau yang tergolong kelas kerentanan tinggi.

Lokasi kedelapan, bentukan lahan di Kelurahan Tawangsari terdapat 3

jenis yaitu Pasir Pantai, Dataran Pantai dan Dataran Delta. Pada lokasi penelitian

tersebut bukan bentukan lahan alami karena sudah terjadi reklamasi oleh PT.

Gempita Cipta Bersama. Lahan tersebut merupakan areal penambahan reklamasi.

pada sekitar lokasi tersebut juga sangat dekat dengan obyek wisata pantai marina

yang juga pantai dari reklamasi. Dari hasil data dan penelitian maka geomorfologi

lokasi tersebut termasuk Pantai berpasir yang tergolong kelas kerentanan tinggi.

Lokasi kesembilan, bentukan lahan di Kelurahan Panggung Lor adalah

Dataran Delta. Pada lokasi tersebut merupakan daerah reklamasi yang

dimanfaatkan sebagai objek wisata pantai baruna. Dari hasil data dan penelitian

maka geomorfologi lokasi tersebut termasuk delta yang tergolong kelas

kerentanan tinggi.
34

Lokasi kesepuluh, bentukan lahan di Kelurahan Bandarharjo adalah

Dataran Delta. Pada lokasi tersebut merupakan daerah reklamasi yang

dimanfaatkan untuk kawasan industri yang berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung

Mas. Dari hasil data dan penelitian maka geomorfologi lokasi tersebut termasuk

delta yang tergolong kelas kerentanan tinggi.

Lokasi kesebelas, bentukan lahan di Kelurahan Tanjung Emas adalah

Dataran Delta. Pada lokasi tersebut terdapat hutan mangrove serta bangunan yang

tergenang. Dari hasil data dan penelitian maka geomorfologi lokasi tersebut

termasuk delta yang tergolong kelas kerentanan tinggi.

Lokasi keduabelas, bentukan lahan di Kelurahan Terboyo Kulon adalah

Dataran Pantai dan Dataran Delta. Pada lokasi tersebut terdapat lahan tambak dan

hutan mangrove. Dari hasil data dan penelitan maka geomorfologi lokasi tersebut

termasuk delta yang tergolong dalam kelas kerentanan tinggi.

Lokasi ketigabelas, bentukan lahan di Kelurahan Terboyo Wetan adalah

Dataran Pantai. Pada sekitar lokasi tersebut terdapat lahan tambak dan Kawasan

Industri Terboyo. Dari hasil data dan penelitian maka geomorfologi lokasi

tersebut termasuk Pantai berpasir yang tergolong kelas kerentanan tinggi.

Lokasi keempatbelas, bentukan lahan di Kelurahan Trimulyo adalah

Dataran Pantai. Pada sekitar lokasi tersebut terdapat lahan tambak dan Kawasan

Industri Terboyo. Dari hasil data dan penelitian maka geomorfologi di lokasi

tersebut termasuk pantai berpasir yang tergolong kelas kerentanan tinggi.


Gambar 4.2 Peta Geomorfologi Kota Semarang.

35
36

Berdasarkan hasil penelitian, maka Indeks kerentanan berdasarkan

parameter geomorfologi dapat dilihat pada Gambar 4.3. Hasil yang diperoleh pada

penilaian indeks kerentanan pesisir semua lokasi penelitian termasuk dalam kelas

tinggi dengan skor 3 yaitu terdapat di lokasi Kelurahan Mangkang Kulon,

Kelurahan Mangunharjo, Kelurahan Mangkang Wetan, Kelurahan Randugarut,

Kelurahan Karanganyar, Kelurahan Tugurejo, Kelurahan Tambakharjo,

Kelurahan, Tawangsari, Kelurahan Panggung Lor, Kelurahan Bandarharjo,

Kelurahan Tanjung Mas, Kelurahan Terboyo Kulon, Kelurahan Terboyo Wetan

dan Kelurahan Trimulyo.


37
Gambar 4.3 Peta Skor Indeks Kerentanan Pesisir Berdasarkan Parameter Geomorfologi.
38

4.2.2 Perubahan Garis Pantai

Dalam pengolahan data perubahan garis pantai dilakukan dengan

mendigitasi polyline pada data Citra Landsat 7 Tahun 2005 dan Citra Landsat 8

Tahun 2015 dengan jarak waktu 11 tahun dapat dilihat pada gambar 4.4.

selanjutnya membuat garis bantu sesuai bentuk garis pantai lalu membuat interval

dengan jarak 100 m. setiap interval dilakukan garis transek untuk mengetahui

terjadinya abrasi maupun akresi pada lokasi tersebut. untuk mengetahui data

perubahan garis pantai mengalami abrasi dan akresi dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Berdasarkan hasil data maka dapat dijelaskan sebagai berikut.

Tabel 4.2 Laju Perubahan Garis Pantai Tahun 2005-2015

Perubahan Garis
Perubahan Kelas
No Kelurahan Pantai
(m/tahun) Kerentanan
+ -
1 Mangkang Kulon 32,84 -144,67 -1,242555556 Tinggi
2 Mangunharjo 317,49 -3357,78 -13,8195 Tinggi
3 Mangkang Wetan 0 -7012,6 -116,8766667 Tinggi
4 Randugarut 0 -7371,23 -73,7123 Tinggi
5 Karanganyar 621,69 -2048,76 -8,9191875 Tinggi
6 Tugurejo 3053,41 -181,24 16,89511765 Rendah
7 Tambakharjo 12706,49 0 70,59161111 Rendah
8 Tawangsari 2611,79 0 20,09069231 Rendah
9 Panggung Lor 4200,77 -234,99 28,327 Rendah
10 Bandarharjo 1133 -184,23 23,71925 Rendah
11 Tanjung Mas 475,14 -1697,97 -10,19025 Tinggi
12 Terboyo Kulon 29,83 -436,71 -6,781333333 Tinggi
13 Terboyo Wetan 0 -658,61 -10,97683333 Tinggi
14 Trimulyo 0 -962,24 -12,028 Tinggi

Pada lokasi pertama di Kelurahan Mangkang Kulon pada kode transek 1

sampai 8 terjadinya abrasi sebesar -144,67 m dan pada kode transek 9 akresi

sebesar 32,84 m. pada sekitar lokasi penelitian, terjadinya abrasi mengakibatkan


39

hutan mangrove yang mengalami kerusakan, padahal lokasi tersebut juga salah

satu kawasan obyek wisata pantai Mangunharjo. Sedangkan terjadinya akresi

dipengaruhi oleh adanya pengendapan karena berdekatan dengan sungai.

Berdasarkan dari hasil data maka rata-rata laju perubahan garis pantai di lokasi

sebesar -1,24 m/thn tergolong dalam kelas kerentanan tinggi.

Pada lokasi kedua di Kelurahan Mangunharjo pada kode transek 12,13,16

sampai 31 terjadinya abrasi sebesar -3357,78 m. sedangkan kode transek 10,11,14

dan 15 terjadi akresi sebesar 317,49. Pada sekitar lokasi penelitian, terjadinya

abrasi mengakibatkan banyak hutan mangrove rusak. Sedangkan terjadinya akresi

dipengaruhi oleh adanya pengendapan sedimen oleh sungai. Berdasarkan dari

hasil data maka rata-rata laju perubahan garis pantai di lokasi sebesar -13,81

m/thn tergolong dalam kelas kerentanan tinggi. Pada lokasi ketiga di Kelurahan

Mangkang Wetan pada kode transek 32 sampai 37 terjadinya abrasi sebesar -

7012,6 m. Pada sekitar lokasi penelitian, terjadinya abrasi mengakibatkan banyak

hutan mangrove rusak dan lahan tambak yang tergenang. Berdasarkan dari hasil

data maka rata-rata laju perubahan garis pantai di lokasi sebesar -116,87 m/thn

tergolong dalam kelas kerentanan tinggi.

Pada lokasi keempat di lokasi Kelurahan Randugarut pada kode transek 38

sampai 47 terjadinya abrasi sebesar -7371,23 m. pada sekitar lokasi penelitian,

terjadinya abrasi mengakibatkan hutan mangrove rusak dan lahan tambak yang

tergenang. Berdasarkan dari hasil data maka rata-rata laju perubahan garis pantai

di lokasi sebesar -7371,23 m/thn tergolong dalam kelas kerentanan tinggi


40

Pada lokasi kelima di lokasi Kelurahan Karanganyar pada kode transek 48

sampai 53 dan 57 sampai 59 terjadinya abrasi sebesar -2048,76 m. Sedangkan

kode transek 54 sampai 56 dan 60 sampai 63 terjadinya akresi sebesar 621,69 m.

pada sekitar lokasi penelitian, terjadinya abrasi mengakibatkan hutan mangrove

rusak dan lahan tambak yang tergenang. Sedangkan terjadinya akresi dipengaruhi

oleh adanya pengendapan sedimen oleh sungai. Berdasarkan dari hasil data maka

rata-rata laju perubahan garis pantai di lokasi sebesar -8,91 m/thn tergolong dalam

kelas kerentanan tinggi

Pada lokasi keenam di lokasi Kelurahan Tugurejo pada kode transek 69

sampai 72 terjadinya abrasi sebesar -181,24 m. Sedangkan kode transek 64

sampai 68 dan 73 sampai 79 terjadinya akresi sebesar 3053,41 m. Pada sekitar

lokasi penelitian, terjadinya abrasi mengakibatkan rusaknya hutan mangrove pada

pantai tirang. Sedangkan terjadinya akresi dipengaruhi karena adanya reklamasi

oleh PT. IPU. Berdasarkan dari hasil data maka rata-rata laju perubahan garis

pantai di lokasi sebesar 16,89 m/thn tergolong dalam kelas kerentanan rendah.

Pada lokasi ketujuh di lokasi Kelurahan Tambakharjo pada kode transek

81 sampai 98 terjadinya akresi sebesar 12706,49 m. Pada lokasi penelitian,

terjadinya akresi disebabkan adanya reklamasi PT.IPU. Berdasarkan dari hasil

data maka rata-rata laju perubahan garis pantai di lokasi sebesar 70,59 m/thn

tergolong dalam kelas kerentanan rendah.

Pada lokasi kedelapan di lokasi Kelurahan Tawangsari pada kode transek

99 sampai 111 terjadinya akresi sebesar 2611,79 m. pada lokasi penelitian,

terjadinya akresi disebabkan adanya reklamasi PT. Gempita Cipta Bersama.


41

Berdasarkan dari hasil data maka rata-rata laju perubahan garis pantai di lokasi

sebesar 20,09 m/thn tergolong dalam kelas kerentanan rendah.

Pada lokasi kesembilan di lokasi Kelurahan Panggung Lor pada kode

transek 125 terjadi abrasi sebesar -234,99 m. Sedangkan kode transek 112 sampai

123 terjadi akresi sebesar 4111,32 m. Pada sekitar lokasi penelitian, terjadinya

abrasi dipengaruhi oleh adanya gelombang laut dan pasang air laut karena lokasi

tersebut sebuah reklamasi yang dijadikan obyek wisata bernama pantai baruna.

Sedangkan terjadinya akresi disebabkan karena adanya reklamasi untuk dijadikan

wisata bernama pantai baruna namun tidak terawat dengan baik. Berdasarkan dari

hasil data maka rata-rata laju perubahan garis pantai di lokasi sebesar 28,32 m/thn

tergolong dalam kelas kereentanan rendah.

Pada lokasi kesepuluh di lokasi Kelurahan Bandarharjo pada kode transek

126 sampai 128 terjadi abrasi sebesar -184,23 m. Sedangkan kode transek 129

sampai 134 terjadi akresi sebesar 1133 m. pada sekitar lokasi penelitian,

terjadinya abrasi dipengaruhi oleh adanya gelombang laut dan pasang air laut serta

land subsidence dikarenakan lokasi tersebut merupakan kawasan industri.

Sedangkan terjadinya akresi disebabkan adanya reklamasi yang salah satunya

untuk perluasan kawasan industri. Berdasarkan hasil data maka rata-rata laju

perubahan garis pantai di lokasi sebesar 23,71 m/thn tergolong dalam kelas

kerentanan rendah

Pada lokasi kesebelas di lokasi Kelurahan Tanjung Mas pada kode transek

138 sampai 146 terjadi abrasi sebesar -1697,97 m. Sedangkan kode transek 135

sampai 137 terjadi akresi sebesar 475,14 m. pada sekitar lokasi penelitian terjadi
42

abrasi dipengaruhi karena adanya arus gelombang dan pasang air laut serta land

subsidence dikarenakan lokasi tersebut merupakan kawasan industri. Sedangkan

terjadinya akresi disebabkan adanya reklamasi perluasan kawasan pelabuhan

tanjung mas. Berdasarkan dari hasil data maka rata-rata laju perubahan garis

pantai di lokasi sebesar -10,19 m/thn tergolong dalam kelas kerentanan tinggi.

Pada lokasi keduabelas di lokasi Kelurahan Terboyo Kulon pada kode

transek 147 sampai 151 terjadi abrasi sebesar -436,71 m. Sedangkan kode transek

152 terjadi akresi sebesar 29,83 m. Pada sekitar lokasi penelitian terjadi abrasi

mengakibatkan banyak lahan tambak tergenang, bangunan tergenang, serta

kerusakan hutan mangrove. Sedangkan terjadinya akresi dipengaruhi adanya

pengendapan oleh sungai. Dari hasil data maka rata-rata laju perubahan garis

pantai di lokasi sebesar -6,78 m/thn tergolong dalam kelas kerentanan tinggi.

Pada lokasi ketigabelas di lokasi Kelurahan Terboyo Wetan pada kode

transek 153 sampai 158 terjadi abrasi sebesar -658,61 m. Pada sekitar lokasi

penelitian terjadi abrasi dipengaruhi oleh adanya arus gelombang, pasang air laut

serta land subsidence. Dari hasil data maka rata-rata laju perubahan garis pantai di

lokasi sebesar -10,97 m/thn tergolong dalam kelas kerentanan tinggi.

Pada lokasi keempatbelas di lokasi Kelurahan Trimulyo pada kode transek

159 sampai 166 terjadi abrasi sebesar -962,24 m. pada sekitar lokasi penelitian

terjadi abrasi dipengaruhi oleh adanya arus gelombang dan pasang air laut serta

land subsidence. Dari hasil data maka rata-rata laju perubahan garis pantai di

lokasi sebesar -12,028 m/thn tergolong dalam kelas kerentanan tinggi.


43
Gambar 4.4 Peta Perubahan Garis Pantai Tahun 2005-2015.
44

Berdasarkan hasil penelitian maka indeks kerentanan pesisir berdasarkan

perubahan garis pantai tahun 2005-2015 dapat dilihat pada gambar 4.5. Hasil yang

diperoleh pada penilaian indeks kerentanan pesisir yang termasuk dalam kelas

rendah dengan skor 1 terdapat di lokasi Kelurahan Tugurejo, Kelurahan

Tambakharjo, Kelurahan Tawangsari, Kelurahan Panggung Lor, dan Kelurahan

Bandarharjo. Sedangkan perubahan garis pantai yang termasuk dalam kelas

Tinggi skor 3 terdapat di lokasi Kelurahan Mangkang Kulon, Kelurahan

Mangunharjo, Kelurahan Mangkang Wetan, Kelurahan Randugarut, Kelurahan

Karang Anyar, Kelurahan Tanjung Mas, Kelurahan Terboyo Kulon, Kelurahan

Terboyo Wetan dan Kelurahan Trimulyo.


Gambar 4.5 Peta Skor Indeks Kerentanan berdasarkan Parameter Perubahan Garis Pantai.

45
46

4.2.3 Kenaikan Muka Air Laut

Data kenaikan muka air laut relatif (mm/tahun) di peroleh dari AVISO

yang merupakan data pengamatan satelit altimetri multi misson Topex/Poseidon,

Jason-1, Jason-2 dalam kurun waktu 23 tahun (Januari 1993 hingga September

2016) dapat dilihat pada lampiran 3. Data tersebut memiliki format NetCDF (.nc).

Data tersebut diolah dengan perangkat lunak Ocean Data View (ODV) untuk

mengetahui Mean Sea Level (MSL) pada tiap titik stasiun disesuaikan lokasi

Pesisir Semarang yang dapat dilihat pada lampiran 4. Setelah hasil Mean Sea

Level diperoleh maka titik tersebut diinterpolasikan dengan perangkan lunak SIG

untuk ditampilkan rata-rata laju kenaikan muka air laut. Berdasarkan hasil

pengolahan interpolasi maka dapat diketahui nilai rata-rata kenaikan muka air laut

di pesisir Semarang yang dapat dilihat pada gambar 4.6. dapat dilihat pada Tabel

4.3

Tabel 4.3 Rata-rata Laju Kenaikan Muka Air Laut Tahun 1993-2016
No Kelurahan Rata-rata Laju Kenaikan Kelas kerentanan
Muka Laut (mm/tahun)
1 Mangkang Kulon 4,79 Tinggi
2 Mangunharjo 4,79 Tinggi
3 Mangkang Wetan 4,79 Tinggi
4 Randugarut 4,79 Tinggi
5 Karanganyar 4,79 Tinggi
6 Tugurejo 4,79 Tinggi
7 Tambakharjo 4,79 Tinggi
8 Tawangsari 4,79 Tinggi
9 Panggung Lor 4,79 Tinggi
10 Bandarharjo 4,79 Tinggi
11 Tanjung Emas 4,79 Tinggi
12 Terboyo Kulon 4,79 Tinggi
13 Terboyo Wetan 4,79 Tinggi
14 Trimulyo 4,79 Tinggi
47

Berdasarkan hasil data maka nilai indeks kerentanan berdasarkan

parameter kenaikan muka air laut di pesisir Semarang adalah 4,79 mm/tahun.

Berdasarkan hasil tersebut maka wilayah tergolong dalam kelas kerentanan tinggi

dengan skor 3 terdapat di lokasi Kelurahan Mangkang Kulon, Kelurahan

Mangunharjo, Kelurahan Mangkang Wetan, Kelurahan Randugarut, Kelurahan

Karanganyar, Kelurahan Tugurejo, Kelurahan Tambakharjo, Kelurahan,

Tawangsari, Kelurahan Panggung Lor, Kelurahan Bandarharjo, Kelurahan

Tanjung Mas, Kelurahan Terboyo Kulon, Kelurahan Terboyo Wetan dan

Kelurahan Trimulyo.
Gambar 4.6 Peta Kenaikan Muka Air Laut Kota Semarang

48
49

4.2.4 Pasang Surut air laut

Data pasang surut yang digunakan dalam penelitian merupakan hasil data

pengukuran stasiun BMKG Kelas II Maritim pada tahun 2005 sampai 2015 kurun

waktu 11 tahun. Dalam pengambilan data tahun 2005 hingga 2010 merupakan

data pengamatan langsung oleh BMKG. Sedangkan pada tahun 2011 hingga

2015 pihak BMKG menggunakan data prakiraan dikarenakan pada tahun tersebut

tidak melakukan pengamatan dan mengambil data tersebut dari pihak TNI AL.

Untuk mengetahui rata-rata pasang surut dengan menggunakan nilai

maksimum dan nilai minimum pada tiap tahun lalu dibagi jumlah tahun. Namun,

karena adanya keterbatasan data maka untuk menghitung rata rata setiap tahun

setiap tahun digunakan nilai rata-rata tahun 2005 hingga 2015 lalu dibagi jumlah

tahun. Berdasarkan hasil pengolahan, maka data pasang surut tahun 2005 sampai

2015 dapat dilihat pada Tabel 4.4

Tabel 4.4 Hasil Pengolahan Data Pasang Surut Tahun 2005-2015


No Kelurahan Rata-rata Pasang Kelas
Surut (m/tahun) kerentanan
1 Mangkang Kulon 0,96 Rendah
2 Mangunharjo 0,96 Rendah
3 Mangkang Wetan 0,96 Rendah
4 Randugarut 0,96 Rendah
5 Karanganyar 0,96 Rendah
6 Tugurejo 0,96 Rendah
7 Tambakharjo 0,96 Rendah
8 Tawangsari 0,96 Rendah
9 Panggung Lor 0,96 Rendah
10 Bandarharjo 0,96 Rendah
11 Tanjung Emas 0,96 Rendah
12 Terboyo Kulon 0,96 Rendah
13 Terboyo Wetan 0,96 Rendah
14 Trimulyo 0,96 Rendah
50

Berdasarkan hasil data maka rata-rata pasang surut daerah penelitian

adalah 0,96 meter terdapat di lokasi Kelurahan Mangkang Kulon, Kelurahan

Mangunharjo, Kelurahan Mangkang Wetan, Kelurahan Randugarut, Kelurahan

Karanganyar, Kelurahan Tugurejo, Kelurahan Tambakharjo, Kelurahan,

Tawangsari, Kelurahan Panggung Lor, Kelurahan Bandarharjo, Kelurahan

Tanjung Mas, Kelurahan Terboyo Kulon, Kelurahan Terboyo Wetan dan

Kelurahan Trimulyo

Nilai tersebut mewakili pesisir Semarang. Nilai rata-rata pasang surut

mempunyai arti penting dalam kerentanan pesisir, karena berkontribusi dalam

penggenangan daerah pesisir. Nilai indeks kerentanan berdasarkan parameter

pasang surut di pesisir Semarang dapat dilihat pada gambar 4.7. Dari hasil

tersebut maka pesisir semarang termasuk dalam kelas kerentanan rendah dengan

skor 1.
Gambar 4.7 Peta Skor Indeks Kerentanan berdasarkan Parameter Pasang Surut Laut.

51
52

4.2.5 Gelombang laut

Data Gelombang yang digunakan dalam penelitian merupakan hasil data

pengukuran stasiun BMKG Kelas II Maritim tahun 2005 hingga 2015 dalam

kurun waktu 11 tahun. Data Gelombang laut dihitung dengan Model Windwaves-

05 dengan memperhitungkan gelombang yang diakibatkan oleh energi angin

permukaan. Dalam pengambilan data memiliki keterbatasan karena tidak bisa

menampilkan peta hasil Model Windwaves-05. Hal tersebut dikarenakan Stasiun

BMKG Kelas II Maritim Semarang tidak mengolah menggunakan model

Windwaves-05 sehingga yang didapatkan hanya hasil rata-rata tinggi gelombang

tahun 2005 hingga 2015. Berdasarkan hasil pengolahan, maka data gelombang

laut tahun 2005 sampai 2015 dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Hasil Pengolahan Data Gelombang Laut Tahun 2005-2015


No Kelurahan Rata-rata Gelombang Kelas
Laut (m/tahun) kerentanan
1 Mangkang Kulon 0,58 Rendah
2 Mangunharjo 0,58 Rendah
3 Mangkang Wetan 0,58 Rendah
4 Randugarut 0,58 Rendah
5 Karanganyar 0,58 Rendah
6 Tugurejo 0,58 Rendah
7 Tambakharjo 0,58 Rendah
8 Tawangsari 0,58 Rendah
9 Panggung Lor 0,58 Rendah
10 Bandarharjo 0,58 Rendah
11 Tanjung Emas 0,58 Rendah
12 Terboyo Kulon 0,58 Rendah
13 Terboyo Wetan 0,58 Rendah
14 Trimulyo 0,58 Rendah

Berdasarkan hasil data maka nilai rata-rata gelombang laut daerah

penelitian adalah 0,58 meter terdapat di lokasi Kelurahan Mangkang Kulon,


53

Kelurahan Mangunharjo, Kelurahan Mangkang Wetan, Kelurahan Randugarut,

Kelurahan Karanganyar, Kelurahan Tugurejo, Kelurahan Tambakharjo,

Kelurahan, Tawangsari, Kelurahan Panggung Lor, Kelurahan Bandarharjo,

Kelurahan Tanjung Mas, Kelurahan Terboyo Kulon, Kelurahan Terboyo Wetan

dan Kelurahan Trimulyo. Dari hasil tersebut maka berdasarkan indeks kerentanan

berdasarkan parameter gelombang laut di pesisir Semarang termasuk dalam kelas

kerentanan rendah dengan skor 1 dapat dilihat pada gambar 4.8.


Gambar 4.8 Peta Skor Indeks Kerentanan berdasarkan Parameter Gelombang Laut.

54
55

4.2.6 Kemiringan Pantai

Dalam penelitian penentuan pengambilan sampel titik kemiringan pantai

menggunakan sampel daerah (Area Sampling) dengan metode sampel titik

sistematis (Systematic Point Sampling). Data kemiringan pantai yang digunakan

dalam penelitian merupakan hasil data pengukuran lapangan pada tiap lokasi

penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 4.9 dan Tabel 4.6.

Tabel 4.6 Hasil pengukuran Kemiringan Pantai


No Kelurahan Kordinat Kemiringan Kemiri Skor
(Tgβ) ngan
X Y X(m) Y(m) (%)
1 424162 9232982 11 0,22 2,55 Rendah
Mangkang
424090 9233021 11 0,25 2,89 Rendah
Kulon
424029 9233051 11 0,33 3,82 Rendah
2 425598 9232248 11 0,16 1,85 Sedang
Mangunharjo 425446 9232290 11 0,15 1,74 Sedang
425315 9232360 11 0,15 1,74 Sedang
3 Mangkang
11 0,23 2,66
Wetan 426008 9232126 Rendah
4 426626 9230624 11 0,8 9,24 Rendah
Randugarut 426610 9230618 11 0,82 9,47 Rendah
426613 9230612 11 0,81 9,36 Rendah
5 Karang Anyar 427003 9230601 5 0,48 12,19 Rendah
6 429198 9231308 11 0,6 6,94 Rendah
Tugurejo 429210 9231306 11 0,65 7,51 Rendah
429239 9231317 11 0,55 6,36 Rendah
7 431373 9232105 5 0,47 11,93 Rendah
Tambakharjo 431376 9232120 5 0,45 11,43 Rendah
431376 9232123 5 0,45 11,43 Rendah
8 431730 9231996 5 0,34 8,64 Rendah
Tawangsari 431728 9231977 5 0,32 8,14 Rendah
431733 9231971 5 0,38 9,66 Rendah
9 433666 9232302 5 0,57 14,45 Rendah
Panggung Lor 433666 9232287 5 0,6 15,21 Rendah
433661 9232292 5 0,62 15,71 Rendah
10 435028 9232139 5 0,29 7,38 Rendah
Bandarharjo 434989 9232131 5 0,55 13,95 Rendah
434948 9232123 5 0,48 12,19 Rendah
56

No Kelurahan Kordinat Kemiringan Kemiringan Skor


(Tgβ) (%)
11 438464 9232985 11 0,31 3,59 Rendah
Tanjung
438463 9233012 11 0,27 3,12 Rendah
Emas
438458 9233000 11 0,29 3,36 Rendah
12 439151 9232967 11 0,36 4,17 Rendah
Terboyo
439142 9233004 11 0,29 3,36 Rendah
Kulon
439132 9232964 11 0,24 2,78 Rendah
13 439954 9233136 11 0,15 1,74 Sedang
Terboyo
439880 9233084 11 0,16 1,85 Sedang
Wetan
439817 9233051 11 0,14 1,62 Sedang
14 440121 9233282 11 0,36 4,17 Rendah
Trimulyo 440145 9233305 11 0,29 3,36 Rendah
440175 9233326 11 0,24 2,78 Rendah

Pada lokasi pertama, lokasi tersebut berada di Kelurahan Mangkang

Kulon. Dari hasil penelitian memiliki kemiringan 2,55%, 2,89%, dan 3,82%

termasuk dalam kelas kerentanan rendah. Pada lokasi Mangkang Kulon memiliki

sebuah pantai yang bernama Pantai Mangunharjo sehingga sangat mudah untuk

diambil titik kemiringannya. Pada lokasi kedua berada di Mangunharjo memiliki

kemiringan 1,85%, 1,74% termasuk dalam kelas kerentanan sedang. Lokasi

tersebut dipengaruhi oleh adanya pasang air laut sehingga sering adanya kegiatan

penanaman hutan bakau walaupun hutan bakau disana masih terjaga sangat baik.

Pada lokasi ketiga, lokasi tersebut berada di Kelurahan Mangkang Wetan.

Dari hasil penelitian memiliki kemiringan 2,66% termasuk kedalam kelas

kerentanan rendah. Pada pengambilan kemiringan pantai di lokasi Mangkang

Wetan hanya 1 titik karena lokasi yang sangat sulit untuk diambil. Lokasi

Mangkang Wetan tidak memiliki pantai dan terhalang adanya hutan bakau. Pada

lokasi keempat, lokasi tersebut berada di Randugarut. Dari hasil penelitian


57

memiliki kemiringan 9,24%, 9,47% dan 9,36% termasuk dalam kelas kerentanan

rendah. Lokasi Randugarut bukan pantai yang secara alami karena adanya

reklamasi oleh kegiatan industri yang berada di Kawasan Industri Wijayakusuma.

Pada lokasi kelima, lokasi tersebut berada di Kelurahan Karang Anyar.

Dari hasil penelitian memiliki kemiringan 12,19% termasuk kedalam kelas

kerentanan rendah. Pada pengambilan kemiringan pantai di lokasi Karang Anyar

hanya 1 titik karena lokasi yang sangat sulit untuk diambil. Lokasi tersebut tidak

memiliki pantai, sedikitnya hutan bakau, dan banyak tambak yang tenggelam.

Pada lokasi keenam, lokasi tersebut berada di Kelurahan Tugurejo. Dari hasi

penelitian memiliki kemiringan 6,36%, 6,94%, dan 7,51% termasuk dalam kelas

kerentanan rendah. Lokasi tersebut sangat mudah untuk diukur karena lokasi

tersebut merupakan obyek wisata Pantai Tirang. Lokasi Tugurejo.

Pada lokasi ketujuh, lokasi tersebut berada di Kelurahan Tambakharjo.

Dari hasil penelitian memiliki kemiringan 11,43% dan 11,93% termasuk dalam

kelas kerentanan rendah. Pada lokasi Tambakharjo tidak memiliki pantai yang

secara alami karena lokasi tersbut merupakan daerah reklamasi oleh PT. IPU.

Pada lokasi kedelapan, lokasi tersebut berada di Tawangsari. Dari hasil penelitian

memiliki kemiringan 8,64%, 8,14% dan 9,66% termasuk dalam kelas kerentanan

rendah. Pada lokasi Tawangsari tidak memiliki pantai yang secara alami karena

lokasi tersebut merupakan daerah reklamasi oleh PT. Gempita Cipta Bersama.

Pada lokasi kesembilan, lokasi tersebut berada di Kelurahan Panggung

Lor. Dari hasil penelitian memiliki kemiringan 14,45%, 15,21% dan 15,71%
58

termasuk dalam kelas kerentanan rendah. Pada lokasi tersebut merupakan obyek

wisata pantai baruna. namun lokasi tersebut sudah tidak terawat. Pada Lokasi

kesepuluh, lokasi tersebut berada di Kelurahan Bandarharjo. Dari hasil penelitian

memiliki kemiringan 7,38%, 12,19%, dan 13,95% termasuk dalam kelas

kerentanan rendah. Pada lokasi tersebut tidak memiliki pantai secara alami karena

adanya reklamasi kegiatan indsutri yang dimanfaatkan menjadi obyek wisata

Pantai Cipta.

Pada lokasi kesebelas, lokasi tersebut berada di Kelurahan Tanjung Mas.

Dari hasil penelitian memiliki kemiringan 3,12%, 3,36% dan 3,59% termasuk

dalam kelas kerentanan rendah. Pada lokasi tersebut dipengaruhi oleh adanya

reklamasi namun tidak terencana dengan baik. Pada Lokasi keduabelas, lokasi

tersebut berada di Kelurahan Terboyo Kulon. Dari hasil penelitian memiliki

kemiringan 2,78%, 3,36% dan 4,17% termasuk dalam kelas kerentanan rendah.

Pada lokasi tersebut tidak memiliki pantai yang secara alami sehingga pada lokasi

tersebut sangat dekat dengan batu kerakal untuk menahan laju ombak.

Pada lokasi ketigabelas, lokasi tersebut berada di Kelurahan Terboyo

Wetan. Dari hasil penelitian memiliki kemiringan 1,62%, 1,74% dan 1,85

termasuk dalam kelas kerentanan sedang. Pada lokasi tersebut memiliki pantai

yang berdekatan dengan tambak dan industri. Dengan hasil kemiringan tersebut

sehingga sangat mudah dipengaruhi oleh adanya kenaikan muka laut. Pada lokasi

keempatbelas, lokasi tersebut berada di Kelurahan Trimulyo. Dari hasil penelitian

memiliki kemiringan pantai 2,78%, 3,36% dan 4,17% termasuk dalam kelas

kerentanan rendah. Lokasi tersebut berada dekat dengan kawasan industri.


59
Gambar 4.9 Peta Titik Sebaran Kemiringan Pantai Menggunakan Citra Landsat 8 Tahun 2015
60

Dari hasil kemiringan pantai pada tabel 4.6 dapat diketahui nilai indeks

kerentanan berdasarkan parameter kemiringan pantai pada gambar 4.10 yang

termasuk ke dalam kelas rendah dengan skor 1 yaitu Kelurahan Mangkang Kulon,

Mangkang Wetan, Randugarut, Karang Anyar, Tugurejo, Tambakharjo,

Tawangsari, Panggung Lor, Bandarharjo, Tanjung Emas, Terboyo kulon,

Trimulyo. Sedangkan Kemiringan pantai yang termasuk kedalam kelas sedang

dengan skor 2 yaitu Kelurahan Mangunharjo dan Terboyo Wetan.


Gambar 4.10 Peta Skor Indeks Kerentanan berdasarkan Kemiringan Pantai Kota Semarang.

61
62

4.2.7 Kerentanan wilayah Pesisir Semarang

Indeks kerentanan pesisir digunakan untuk menilai kerentanan pesisir

semarang dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

Rumus:

axbxcxd xexf
CVI = √
6

Keterangan:
a = kondisi geomorofologi
b = laju perubahan garis pantai (m/ tahun)
c = kemiringan pantai (%)
d = tingkat muka air laut relatif (mm/tahun)
e = rentang pasang surut (m)
f = rerata tinggi gelombang signifikan (m)

Setelah melakukan perhitungan indek kerentanan pesisir pada setiap

parameter, maka hasil kerentanan pesisir dapat digolongkan tingkat kerentanan

pesisir berdasarkan kelas potesi bahaya/kerentanan berdasarkan tabel 3.3. Dari

hasil penggolongan tingkat kelas potensi bahaya/kerentanan, maka hasil tersebut

dapat dilihat pada Tabel 4.7. Berdasarkan hasil penggolongan tingkat kelas

potensi bahaya/kerentanan maka diketahui bahwa terdapat 5 Kelurahan yang

termasuk dalam kelas kerentanan sedang dan 9 Kelurahan termasuk dalam kelas

kerentanan tinggi.

Tabel 4.7 Hasil perhitungan dan pengkelasan CVI


Kelas
Kelurahan GEO SLP AE MSL PST GLB CVI
CVI
Mangkang Kulon 3 1 3 3 1 1 2,1 Tinggi
Mangunharjo 3 2 3 3 1 1 3,0 Tinggi
63

Kelas
Kelurahan GEO SLP AE MSL PST GLB CVI
CVI
Mangkang Wetan 3 1 3 3 1 1 2,1 Tinggi
Randugarut 3 1 3 3 1 1 2,1 Tinggi
Karang Anyar 3 1 3 3 1 1 2,1 Tinggi
Tugurejo 3 1 1 3 1 1 1,2 Sedang
Tambakharjo 3 1 1 3 1 1 1,2 Sedang
Tawangsari 3 1 1 3 1 1 1,2 Sedang
Panggung Lor 3 1 1 3 1 1 1,2 Sedang
Bandarharjo 3 1 1 3 1 1 1,2 Sedang
Tanjung Emas 3 1 3 3 1 1 2,1 Tinggi
Terboyo Kulon 3 1 3 3 1 1 2,1 Tinggi
Terboyo Wetan 3 2 3 3 1 1 3,0 Tinggi
Trimulyo 3 1 3 3 1 1 2,1 Tinggi
Ket: GEO = Geomorfologi PST = Pasang surut
SLP = Kemiringan pantai GLB = Gelombang laut
AE = Perubahan garis pantai

Nilai Coastal Vulnerability Index (CVI) pada tabel 4.7 merupakan nilai

yang dihasilkan dari pengolahan dan analisis skor parameter kerentanan pesisir.

Parameter geomorfologi, kenaikan muka air laut, pasang surut, dan gelombang

memiliki skor yang sama pada tiap kelurahan. Dibandingkan dengan parameter

kemiringan pantai, perubahan garis pantai, memiliki skor yang berbeda pada tiap

kelurahan.
Gambar 5.0 Peta Indeks Kerentanan Pesisir Kota Semarang

63
64

Peta kerentanan pesisir Semarang disajikan pada gambar 5.0. dari gambar tersebut

terlihat bahwa kelas potensi bahaya/kerentanan tergolong sedang terdapat di

kelurahan Tugurejo, Kelurahan Tambakharjo, Kelurahan Tawangsari, Kelurahan

Panggung Lor, dan Kelurahan Bandarharjo. Sedangkan untuk kelas potensi

bahaya/kerentanan tergolong tinggi terdapat di Kelurahan Mangkang Kulon,

Kelurahan Mangunharjo, Kelurahan Mangkang Wetan, Kelurahan Randugarut,

Kelurahan Karanganyar, Kelurahan Tanjung Mas, Kelurahan Terboyo Kulon,

Kelurahan Terboyo Wetan dan Kelurahan Trimulyo.

4.3 Pembahasan

4.3.1 Menilai tingkat kerentaanan wilayah pesisir terhadap kenaikan muka

laut

Penilaian kerentanan pesisir berdasarkan Geomorfologi yaitu berupa pantai

berpasir, mangrove, berlumpur, rawa payau dan delta. Sejalan dari hasil

penelitian, menurut Marfai (2003: 42), bahwa bentukan lahan di pesisir Semarang

dipengaruhi adanya proses vulkanik yang mengalami erosi intensif dari Gunung

Api Ungaran yang berada di selatan. Selain itu, adanya proses fluvial dari proses

sungai yang berasal dari Sungai Garang dan adanya proses marine yang

menyebabkan erosi dan sedimentasi pada delta. Sejalan dengan pendapat diatas,

menurut Yusuf (1999) dan Marfai (2003:44), bahwa secara geologi, pesisir

Semarang terbentuk dari batuan sedimen yang berasal dari proses marine serta

proses fluvial. Teksturnya berupa lempung dan pasir. Berdasarkan hasil data maka

semua hasil penilaian tersebut tergolong dalam kelas kerentanan tinggi.


65

Penilaian kerentanan pesisir berdasarkan Perubahan Garis Pantai yaitu rata-

rata perubahan laju garis pantai yang mengalami akresi dan abrasi. Hasil tersebut

sebagian besar mengalami abrasi di Kecamatan Tugu yang meliputi Kelurahan

Mangkang Kulon, Kelurahan Mangunharjo, Kelurahan Mangkang Wetan,

Kelurahan Randugarut dan Kelurahan Karanganyar. Selanjutnya Kecamatan

Semarang Utara meliputi Kelurahan Tanjung Mas dan Kecamatan Genuk meliputi

Kelurahan Terboyo Kulon, Kelurahan Terboyo Wetan dan Kelurahan Trimulyo.

Sejalan dari hasil penelitian, menurut Sardiyatmo, dkk (2013: 4), bahwa

Kecamatan Tugu di tahun 2004-2009 terjadi abrasi seluas 51.616 ha. Kecamatan

Semarang Utara mengalami abrasi tahun 2004-2009 terjadi abrasi seluas 18.965.

Kecamatan Genuk mengalami abrasi tahun 2004-2009 terjadi abrasi seluas

14.122. Selain itu, hasil penelitan yang mengalami akresi terbesar di Kecamatan

Semarang Barat meliputi Kelurahan Tambakharjo, Kelurahan Tawangsari,

Kelurahan Panggung Lor. Sejalan dengan hasil penelitian, menurut Sardiyatmo,

dkk (2013:4), bahwa Kecamatan Semarang Barat mengalami akresi tahun 2004-

2009 seluas 65.462 ha.

Penilaian kerentanan pesisir berdasarkan Kenaikan Muka laut yaitu rata-rata

laju kenaikan muka air laut. Berdasarkan hasil data maka laju kenaikan muka air

laut di kota Semarang termasuk tinggi. Laju kenaikan muka air laut didapatkan

dari satelit altimetri dalam penelitian ini. Dalam Karsidi (2011) disebutkan bahwa

hasil pemantauan satelit altimetri yang diterbitkan AVISO perancis menunjukkan

adanya konsistensi dengan data kenaikan permukaan laut dari hasil pengamatan

Jaringan Stasiun Pasang Surut Nasional yang dioperasikan Bakosurtanal. Sejalan


66

dengan pendapat diatas, menurut Miler dalam Anindya (2006:37) bahwa data

altimetri satelit memiliki unggulan dalam hal padatnya data dan mampu merekam

seluruh permukaan bumi. Satelit TOPEX/Poseidon dan Jason-1 telah merekam

altimetri sejak tahun 1992 yang menujukkan data Kenaikan muka laut.

Penilaian kerentanan pesisir berdasarkan Pasang Surut yaitu rata-rata pasang

surut air laut di Kota Semarang. Data yang digunakan untuk menghitung rata-rata

dengan menghitung keseluruhan rata-rata dari tahun 2005 hingga 2015. Data

tersebut menurut (Shafira) sebagai forecaster di BMKG Maritim II Semarang

mengatakan, untuk data 10 tahun sudah termasuk standar menghitung rata-rata

pasang surut air laut. Menurut adhitya dan Darmono dalam anindya (2006:34)

bahwa tipe pasang surut di Kota Semarang adalah campuran condong ke ganda

dengan metode admiralty dengan nilai 1,1. Tipe pasang campuran condong ke

ganda artinya terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari tetapi

berbeda tinggi dan waktunya. Sejalan dengan pendapat diatas, menurut Gisela dkk

(2014:537) bahwa, tipe pasang surut di perairan Semarang adalah campuran

condong harian ke ganda dengan metode admiralty dengan bilangan formzhal

1,33. Berdasarkan hasil pendapat diatas dengan data penelitian maka rata-rata

pasang surut air laut di Kota Semarang termasuk rendah.

Penilaian kerentanan pesisir berdasarkan Gelombang laut yaitu rata-rata

gelombang laut di Kota Semarang. Data gelombang laut dihitung dari model

Windwaves-05 dalam bentuk hasil nilai rata-rata kurun waktu 2005-2015.

Menurut Suratno dalam Roni (2012:15) bahwa Model Windwaves-05 merupakan

model MRI-II (Marine Research Institute) dari Jepang. Model Windwaves-05


67

sudah sejak tahun 2004 dioperasikan rutin pelayanan informasi meteorologi

kelautan di BMKG untuk memberi peringatan dini gelombang tinggi. Nilai tinggi

gelombang dalam kerentanan pantai dapat mempengaruhi perubahan garis pantai

tersebut. menurut Pendleton et al., (2005:7) bahwa tinggi gelombang berkaitan

dengan terjadinya bahaya genangan laut yang dikarenaka mobilisasi dan

pengangkutan sedimen. Berdasarkan hasil data, rata-rata gelombang laut di kota

Semarang tergolong rendah.

Penilaian kerentanan pesisir berdasarkan Kemiringan pantai yaitu

mengetahui kemiringan pantai di Kota Semarang. Menurut Pendleton et al.,

(2005:7) bahwa nilai kemiringan dapat mengidentifikasi keretanan terhadap

genangan dan potensi kecepatan perubahan garis pantai karena daerah pesisir

landai akan lebih cepat daripada daerah yang lebih curam. Sejalan dengan

pendapat diatas, Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota

Semarang (2015:9) Kota bawah merupakan pantai dan dataran rendah yang

memiliki kemiringan 0% sampai 5%. Berdasarkan hasil data maka kemiringan

pantai di Kota Semarang tergolong kerentanan rendah dan sedang.

Berdasarkan dari hasil kerentanan parameter maka dapat diketahui indeks

kerentanan pesisir. Dari hasil indeks kerentanan pesisir maka dapat digolongkan

kelas potensi bahaya/kerentanan. Dari hasil tersebut maka yang mengalami kelas

potensi bahaya/kerentanan tergolong sedang terdapat di kelurahan Tugurejo,

Kelurahan Tambakharjo, Kelurahan Tawangsari, Kelurahan Panggung Lor, dan

Kelurahan Bandarharjo. Sedangkan untuk kelas potensi bahaya/kerentanan

tergolong tinggi terdapat di Kelurahan Mangkang Kulon, Kelurahan


68

Mangunharjo, Kelurahan Mangkang Wetan, Kelurahan Randugarut, Kelurahan

Karanganyar, Kelurahan Tanjung Mas, Kelurahan Terboyo Kulon, Kelurahan

Terboyo Wetan dan Kelurahan Trimulyo. Berdasarkan hasil penelitian, maka

parameter yang sangat berpengaruh terhadap kerentanan di pesisir Semarang yaitu

perubahan garis pantai, Geomorfologi dan Kenaikan Muka air laut. Dari sisi,

perubahan garis pantai dapat terjadi perubahan yang negatif berupa abrasi sehinga

mengurangi luas daratan. Lalu kaitannya dengan Faktor Geomorfologi yang

berupa pantai berpasir, mangrove, berlumpur, rawa payau dan delta di Pesisir

Semarang tergolong dalam kerentanan tinggi di pesisir Semarang. Selain itu juga,

topografi di kota pesisir Semarang yang tergolong landai sehingga sangat rentan

terhadap kenaikan muka laut.

Kenaikan muka laut merupakan suatu ancaman bagi wilayah pesisir di

dunia, yang termasuk pesisir Semarang. Menurut Marfai (2013:38), efek kenaikan

muka air laut dapat memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan daerah

pesisr, yaitu berupa erosi, banjir dan perubahan lahan basah dan dataran rendah,

meningkatkan kerusakan akibat banjir dan badai, serta kenaikan salinitas pada

estuari dan akuifer. Menurut Nicholls dan Mimura dalam Marfai (2013:38),

bahwa pesisir Semarang mengalami banjir rob sekaligus land subsidence maka

akan memperburuk banjir rob akibat kenaikan muka air laut. Berdasarkan hasil

penelitian dengan pendapat diatas, maka pesisir Kota Semarang tergolong rentan

terhadap kenaikan muka laut karena dari topografi, geomorfologi dan Perubahan

garis pantai yang terus menerut untuk mundur sehingga menyebabkan abrasi.