Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

MATA KULIAH PETROLOGI

Oleh :

PATARDO NAIBAHO

F1D217014

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS JAMBI

2018

1
HALAMAN PERSETUJUAN

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN


MATA KULIAH PETROLOGI PTP332
DI KAWASAN DAERAH RANTAU PANJANG DAN SEKITARNYA
KECAMATAN SIAU
KABUPATEN MERANGIN PROVINSI JAMBI

Oleh:
PATAARDO NAIBAHO
F1D217014

Jambi, 30 November 2018


Mengetahui,
Dosen Pengampu

D.M. Magdalena Ritonga, S.T.


NIP 201710071017

i
HALAMAN PERSEMBAHAN

Dengan rahmat Tuhan yang Maha Esa, dengan ini saya persembahkan
laporan ini dan terima kasih kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah
memberikan kekuatan dan kelancaran selama proses pembuatan laporan ini dari
awal hingga akhir. Kemudian tidak terlupa untuk kedua orang tua saya yang telah
mendukung dan membantu saya.
Kemudian laporan ini juga saya persembahkan dan saya ucapkan
terimakasih kepada Dosen yang telah memberikan materi dan memberikan
ilmunya kepada saya agar dapat membuat isi laporan ini menjadi lebih baik.
Laporan ini juga saya persembahkan kepada para Asisten Laboratorium Petrologi,
yang telah mendidik, mengajar, membimbing serta membantu saya dalam
pembuatan laporan ini agar laporan ini dapat diselesaikan dengan baik sebaik-
baiknya.
Tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman saya dari
Teknik Geologi angkatan 2017 yang telah membantu saya juga dalam membuat
laporan ini dan terima kasih kepada asisten laboratorium petrologi yang telah
membantu sepanjang orientasi lapangan. Mohon maaf jika ada kesalahan kata atau
sikap saat dilapangan.

ii
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yanga Maha Esa yang telah memberi rahmat
dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan
praktikum lapangan ini. Kegiatan ekskursi lapangan akhir semester yang diadakan
di lapangan merupakan kegiatan waib yang menjadi salah satu syarat sebelum
menyelesaikan praktikum petrologi. Pada laporan praktikum lapangan ini
membahas tentang pendeskripsian batuan baik secara geomorfologi maupun
litologi yang tujuannya untuk melihat singkapan-singkapan serta batuan yang
terdapat Provinsi Jambi khususnya di kawasan Daerah Rantau Panjang dan
Sekitarnya,kecamatan Siau, kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Hal ini
bermanfaat bagi kita sehingga dapat mengetahui batuan yang dominan di area
tersebut. Pada kegiatan yang di lakukan juga menentukan titik koordinat
menggunakan GPS, kemiringan dan kelerengan singkapan menggunakan
Kompas Geologi yang terdapat di lokasi pengamatan. Semoga dengan laporan
praktikum ini dapat memberikan pengetahuan dan informasi yang lebih luas
kepada pembaca. Penulis membutuhkan kritik dan saran dari pembaca jika
terdapat kesalahan pada laporan. Terima kasih.

Jambi, 02 November 2018

Patardo Naibaho

iii
ABSTRAK

Petrologi adalah ilmu yang berfokus pada studi mengenai batuan dan kondisi
pembentukannya. Petrologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan
geologi yang mempelajari batuan pembentuk kulit bumi, mencakup aspek
pemerian (deskripsi) dan aspek genesa-interpretasi. Pengertian luas dari petrologi
adalah mempelajari batuan secara mata telanjang, secara optic atau mikroskopis,
secara kimia dan radioisotop. Studi petrologi dibatasi secara megaskopis saja.
Aspek pemerian antara lain meliputi warna, tekstur, struktur, komposisi, berat
jenis, kekerasan, kesarangan (porositas), kelulusan (permebilitas) dan klasifikasi
atau penamaan batuan. Aspek genesa interpretasi mencakup tentang sumber
asal hingga proses atau cara terbentuknya batuan.Batuan merupakan kumpulan
dari mineral-mineral yang sejenis maupun tidak sejenis yang terbentuk secara
alami. Batuan memiliki sifat dan karakter yang berbeda satu dengan yang lain.
Batuan penyusun kerak bumi terbagi menjadi tiga, yaitu:
 Batuan beku adalah kumpulan mineral silikat sebagai hasil pembekuan
daripada magma yang mendingin (Huang, 1962).
 Batuan sedimen adalah batuan hasil litifikasi bahan rombakan batuan yang
berasal dari proses denudasi atau hasilreaksi kimia maupun hasil kegiatan
organisme (Pettijohn, 1964).
 Batuan metamorf atau batuan adalah batuan yang berasal dari suatu batuan
yang sudah ada yang mengalami perubahan tekstur dan komposisi mineral
pada fasa padat sebagai perubahan kondisi fisika (Winkler, 1967).

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN .............................................................................. i


HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................... ii
KATA
PENGANTAR.......................................................................................................iii
ABSTRAK ............................................................................................................ iv
DAFTAR ISI .......................................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... viii
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 9
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 9
1.2 Maksud dan Tujuan ................................................................................ 10
1.3 Lokasi dan Kesampaian .......................................................................... 10
1.4 Manfaat ................................................................................................... 10
1.5 Metodelogi .............................................................................................. 11
BAB 2 GEOLOGI REGIONAL ........................................................................ 14
2.1 Fisiografi ................................................................................................ 14
2.2 Statigrafi Regional .................................................................................. 15
2.3 Struktur Geologi ..................................................................................... 16
BAB 3 PEMBAHASAN..................................................................................... 20
BAB 4 KESIMPULAN ....................................................................................... 26
4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 26
4.2 Saran ....................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 27
LAMPIRAN.........................................................................................................28

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Fisiografi regional Sumatera (Van Bemmelen, 1949)….....................15


Gambar 2 Peta Geologi Regional Daerah Penelitian Lembar Sarolangun
Bangko...................................................................................................16
Gambar 3 Singkapan batuan Piroklastik..............................................................19
Gambar 4 Singkapan batuan piroklastik dan Sedimen........................................10
Gambar 5 Intrusi batuan beku Andesit...............................................................12

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Diagram Alir............................................................................................ 3


Tabel 2. Alat dan Fungsi........................................................................................4

vii
i
DAFTAR LAMPIRAN

viii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Daerah Rantau Panjang dan Sekitarnya, Kec. Muara Siau, kab. Merangin
menjadi lokasi ekskuri kali ini. Sebelumnya, ekskursi kali ini berguna untuk
mengetahui keadaan dilapangan berbeda di laboratorium. Saat di laboratorium
praktikan hanya mendeskripsikan batuan yang sudah ada atau batuan yang sudah
didapatkan terlebih dahulu, Sedangkan kalau dilapangan praktikan terlebih dahulu
mengecek amankah singkapan teresebut dan melihat sesar dn berapa lapisan
singkapan tersebut. Ekskursi kali ini berlokasi di Daerah Rantau Panjang dan
Sekitarnya, Kec. Muara Siau, Kab. Merangin. Batuan yang berada di lokasi yaitu
Stop site 1 batuan piroklastik, stop site 2 terdapat batuan Metamorf dan
Metasedimen. Di Stop site 3 terdapat batuan Beku. Dalam Ekskursi ini, praktikan
juga dituntut untuk terbiasa dalam menghadapi segala yang ada saat di lapangan.
Seperti cuaca panas terik matahari hingga hujan, dan bisa diatasi dengan
menggunakan topi. Tergelincir karena sepatu yang bergesekan dengan tanah yang
licin akibat hujan. Mampu menghadapi saat turun naiknya lokasi praktikum. Dan
kerjasama dari tim. Semua itu akan membiasakan nanti jika praktikan kuliah
lapangan, ekskursi, atau bahkan bekerja dilapangan.
Petrologi adalah ilmu geologi yang mempelajari tentang batuan sebagai
penyusun kerak bumi. Bumi yang kita tempati ini disusun oleh berbagai jenis
batuan. Mempelajari batuan merupakan pengetahuan dasar untuk mempelajari
geologi. Dan mempelajari petrologi juga untuk mengetahui sejarah bumi kita ini.
Kerak bumi ini bersifat dinamik, dan merupakan tempat berlangsungnya berbagai
proses yang mempengaruhi pembentukan keempat jenis batuan tersebut.
Sepanjang kurun waktu dan akibat dari proses - proses ini, Suatu batuan akan
berubah menjadi jenis batuan yang lain. Seperti yang tergambar pada siklus
batuan. Pembentukan berbagai macam mineral di alam akanmenghasilkan
berbagai jenis batuan tertentu. Proses almiah tersebut bisa berbeda - beda dan
membentuk berbagai jenis batuan yang berbeda.

9
1.2 Maksud dan Tujuan
1.2.1 Maksud
Adapun maksud diadakanya ekskursi ini adalah:
1. Agar dapat melihat secara langsung singkapan-singkaoan batuan
yang dilapangan.
2. Dapat mendeskripsikan secara langsung batuan yang ada dialam
1.2.2 Tujuan
1. Untuk bisa mendeskripsikan ukuran butir pada saat dilapangan
2. Untuk bisa mengetahui bagaimana langkah yang akan dilakukan
jika menemukan singkapan
3. Untuk mengetahui cara penulisan di laporan sementara lapangan
4. Untuk mengetahui cara pengukuran strike dan dip
5. Untuk bisa mengetahui cara penggunaan alat

1.3 Lokasi dan Kesampaian


Pada waktu sampai di lokasi Daerah Rantau Panjang dan Sekitarnya, Kec.
Muara Siau, Kab. Merangin dengan cuaca cerah sekitar pukul 08.00 WIB kami
sampai dilokasi. Dalam kegiatan ekskursi tersebut kami membuat ploting di tiga
tempat adanya singkapan. Singkapan pertama dengan koordinat X= 0177760, dan
Y=9748583, pada lokasi kedua dengan titik koordinat X= 0176830, dan Y=
9746816, dan pada lokasi ketiga dengan titik koordinat X= 0176730, dan Y=
9746960. Kami langsung diberikan arahan terlebih dahulu oleh dosen dan asisten
laboratorium, Setelah itu kami langsung mengeplot lokasi dengan menggunakan
GPS, Lalu menandai di peta dengan data GPS yang diberikan oleh asisten.

1.4 Manfaat
Dalam melakukan kegiatan ekskursi lapangan ini bermanfaat untuk
mengetahui keberadaan suatu singkapan dan pemetaan singkapan tersebut. Selain
itu juga dapat mengetahui nama formasi, umur batuan, morfologi daerah tersebut
dan proses geologi yang terjadi di wilayah yang diteliti. Manfaat dari praktikum
lapangan matakuliah Petrologi ini adalah untuk menambah pemahaman para
praktikan dalam matakuliah Petrologi dan untuk acuan dilapangan untuk

10
kedepannya agar para praktikan saat dilepas dalam dunia kerja agar bisa atau
dapat melakukan penelitian sendiri serta juga untuk pendalaman ilmu lapangan
para praktikan.

1.5 Metodelogi
1.5.1 Alat dan Bahan
 Kompas
 Gps
 Peta Topografi Daerah Rantau Panjang
 Peta Geologi Daerah Rantau Panjang
 Alat tulis lengkap
 Clip board
 Lup
 Komparator
 Palu Geologi

11
1.5.2 Diagram Alir

PERSIAPAN

Tinjauan Awal :

 Pengamatan daerah secara topografi


 Pengumpulan data sekunder  Pencarian akses jalan menuju daerah
yang akan di amati
 Persiapan alat dan bahan
 Penentuan metode geologi yang
 Persiapan pribadi
dilakukan
 Pembekalan dari asisten
 Menentukan geomorfologinya
 Melakukan pengukuran plunge,
Bearing dan Rake

Pelaksanaan Kegiatan ekskursi

 litologi
 geomorfologi
 pengambilan sampel
 pengukuran strike dan dip

 dokumentasi lapangan
Tahap Pengolahan Data
Dan Analisis

Analisi Kuantitatif :

Studi literatur dari materi


praktikum petrologi

TAHAP PENYELESAIAN :

Laporan orientasi praktikum


lapangan petrologi.

12
1.5.3 Tahap Pekerjaan
a. Tahap persiapan
Tahap ini meliputi perencanaan dan persiapan kegiatan ekskursi
seperti penyediaan peta topografi, peminjaman alat dan bahan
keperluan ekskursi, surat perizinan resmi, hingga persiapan mental dan
fisik.
b. Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan dibagi menjadi empat bagian, yaitu: plotting,
orientasi lapangan, Deskripsi dan Sketsa. Ploting merupakan salah satu
kegiatan dalam membaca peta dan menentukaan posisi para praktikan
di lapangan.
Pada tahap Orientasi Lapangan, praktikan melakukan
pengumpulan data geologi di lapangan meliputi lokasi pengamatan,
pencatatan keadaan geomorfologi, litologi, pengambilan sampel, serta
dokumentasi (foto). Tahap ketiga adalah pendeskripsian batuan,
praktikan melakukan pendeskripsian dengan melihat litologi yang
tersingkap didaerah tersebut, mengambil sampel dan memberikan
pemerian pada batuan yang tesingkap. Tahap terakhir dalam
pelaksanaan kegiatan Ekskursi yaitu membuat skesta, baik itu sketsa
singkapan maupun sketsa bentang alam yang ada.
c. Tahapan Studi Pustaka
Penelitian dan pengamatan yang dilakukan penulis juga didasari
dengan suatu kajian pustaka yang berisi literatur-literatur yang
berhubungan dengan hal-hal yang diamati dan diteliti.Teknik studi
pustaka ini juag menjadi referensi penulis dalam membuat laporan
resmi Ekskursi ini agar bisa menjelaskan lebih rinci.
d. Tahap pembuatan laporan
Tahap ini merupakan tahap akhir dalam kegiatan Ekskursi yang
meliputi penulisan laporan dari hasil analisis data geologi yang dicatat
ketika melakukan kegiatan ekskursi di Muara Siau Kabupaten
Merangin.

13
BAB II
GEOLOGI REGIONAL

2.1 Fisiografi
Pulau sumatera memiliki luas daerah berkisar 435.000 km2, dengan panjang
1650 km, lebar 100-200 km di daerah utara dan 350 km dibagian selatan. Pulau
sumatera memiliki orientasi Barat laut yang terbentang pada ekstensi lempeng
Benua Eurasia.Trendline utama dari pulau sumatera ini cukup sederhana, dimana
dibagia belakangnya dibentuk oleh pegunungan Barusan yang berada di sepanjang
bagian barat (Van Bemmelen, 1949).
Menurut Van Bemmelen, 1949 pulau sumatera terletak disebelah Barat Daya
dari kontinen Paparan sunda dan merupakan jalur konvergen antara lempeng
Hindia-Australia yang menyusup si sbelh Barat lempeng Paparan Sunda. Pulau
sumatera terbagi kedalam 3 zona yaitu:
1. Perbukitan Barisan
2. Zona sesar Semangko
3. Struktur Keselurusan
Zona perbukitan barisan merupakan satu zona perbukitan yang memanjang
dengan arah orientasi Tenggara-BaratLaut dengan panjang 1.650 km degan lebar
100 km. Puncak ketinggian dari zona ini adalah Puncak InderaPura yang berada di
Gunung Kerinci dengan ketinggian 3.800m. Pola ini diinterprestasikan sebagai
zona yang terbentuk akibat geoteknik Sistem pegunungan Sunda yang awalnya
memiliki arah Tenggara-BaratLaut menjadi Barat-Timur yang berada di pulau
Jawa. Pada umumnya zona ini berada pada Gunung api aktif, Morfologi nya
berbentuk kubah.
Zona Sesar Sumatera atau disebut denga Zona Sesar Semangko adalah zona
yang memiliki pola memanjang dimana pola zona ini mengikuti Fisiografi dari
Bukit Barsisan, dimana zona ini meupakan Geoantiklin yang memanjang
berbentuk depresi, Zona ini memanjang dari mulai semangko (Sumatera Selatan-
Lampung). Daerah puncak dari zona ini hingga ke bagian Barat Laut di kotaradja
Aceh yang merupakan suatu lembah dan batas akhir zona ini.

14
Gambar 1 Fisiografi regional Sumatera (Van Bemmelen, 1949)

2.2 Statigrafi Regional


Secara statigrafi terdapat 2 formasi yaitu Breksi Gunung api-Tuf(Qhv)
dan Asai (Ja). Berikut merupakan urutan formasi dari tua ke muda:
1. Formasi Asai(Ja)
Terdiri dari perselingan batupasir malih, batusabak, filit, batulanau
terkersikkan dan batugamping. Terdapat sekis, genes kuarsit dan
batutanduk secara setempat. Terdapat ubahan mineral epidot-klorit-pirit
pada batusabak sebagai akibat dari intrusi granit aria (Kgra). Diendapkan
dilingkungan laut flysch. Disungau asai diterobos oleh Granit Arai (Kgra),
kebanyakan kontak setempat dan tersesarkan. Secara regional dapat di
korelasikan dengan formasi Siguntur pada lembar painan (Rosidi,
dkk.1976). Di beberapa tempat terlipatkan, berubah bentuk. Diduga proses
malihan ini terjadi pada akhir jura (Suwarna, dkk. 1992)
2. Breksi Gunung Api-Tuf(Qhv)
Terdiri dari Litologi pada satuan Breksi Gunung Api-Tuf ini
berupa Tuf, breksi lahar dan lava bersusunan andesit. Batuan Gunung api-
Tuf (Qhv) berumur kuater terendapkan tidak selaras dengan formasi Asai
(Ja) (Suwarna, dkk. 1992).

15
Gambar 2 Peta Geologi Regional Daerah Penelitian Lebar Sarolangun Bangko (Suwarna,
1992)

2.3 Struktur Geologi


Strukttur Geologi di daerah penilitian berupa sesar, kelurusan, foliasi, dan
kekar, regional yang memiliki arah barat laut-tenggara dan arah penunjaman
barat-laut-tenggara. Jenis sesarnya dalah sesar mendatar dan naik ke kanan pada
batuan sedimen terubahkan dari Mengkarang dan Formasi peneta dan intrusi
Pratesier. Lipatan dapat dideteksi di beberapa bagian formasi Telukwang dengan
dips sudut rendah. Kelurusan hanya dapat dideteksi di Formasi Kasai yang
berumur Plio-Pleistosen. Sedangkan kekar ditemukan pada batuan sedimen
terubahkan dan batuan intrusive berumur Pratersier.
Pada Permian awal ditunjukkan oleh pengendapan sedimen klastik dan
batugamping terumbu Formasi Mengkarang dengan sisipan sedimen klastik
volkanogenik diikuti oleh batuan sedimen Formasi Telukwang dan Anggota
batuimpi. Lingkungan pengendapan sedimentasi formasi tersebut berada di
sepanjang tepi benua hingga laut dangkal, bersamaan dengan aktivitas vulkanik
andesitik-bastik dari Formasi palepat selain dari produk batuan lava dan klastik.
Di Akhir Trias-Awal Jura, intrusi Granit Tantan ke dalam batuan Permian
terjadi dan metamorphosis tingkat rendah terjadi secara regional. Permuakaan laut
naik di Jura Tengah hingga Kpaur Awal, Akhir Jura diindikasikan dengan
pembentukan gundukan lumpur batugamping Formasi Mersip, dan pada awal

16
akhirr Jura hingga Kapur Awal ditandai dengan pengendapan butiran halus klastik
Formasi Peneta.
Intrusi Granit Arai di Kapur Tengah ke Formasi Asai, Mersip dan Peneta
diikuti oleh deformasi, pengangkatan, dan metaorfisme rendah ke formasi.
Aktivitas tektonik ini juga diikuti dengan penggabungan blok Mengkarang dan
Blok peneta dalam sebuah kontak sesar naik secara tektonik pada Kapur Akhir.
Tektonik pada Miosen Tengah-Awal pliosen ditunjukkan oleh
pengangkatan Bukit Barisan. Dicekungan belakangan busur sedimentasi Formasi
Muaraenim berlangsung pada lingkungan transgresi dan regresi. Kemudian,
aktivitas tektonik dalam waktu Plio-Pleistosen seluruh daerah terangkat diikuti
oleh erosi, dan sesar mendatar kanan dengan searah barat laut-tenggara dan juga
terlipat. Dalam waktu yang sama dari aktivitas tektonik ini sedimentasi dari
gunung api-klastik Formasi Kasai terjadi.
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk akibat lithifikasi bahan
rombakan dari batuan asal, maupun hasil denudasi atau hasil reaksi kimia maupun
hasil kegiatan organisme. Bahan rombakan batuan asal itu bisa batuan beku,
batuan metamorf maupun batuan sedimen yang telah rusak atau lapuk akibat
terkena matahari, angin , hujan dan lain sebagainya. Selanjutnya batuan yang telah
lapuk tersebut ter-erosi dan tertransportasi ke cekungan pengendapan dan
mengeras (membatu) atau biasa disebut mengalami litifikasi. Batuan sedimen
banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan ketebalan dari beberapa
cm sampai beberapa km. Ukuran butirnya bisa dari sangat halus (berukuran
lempung) sampai sangat kasar ( berukuran > 64 mm , misalnya pada batu breksi
atau konglomerat). Dan beberapa proses lagi seperti media transportasi , struktur
sedimen dan lain sebagainya yang cukup komplek dalam kaitannya dengan batuan
sedimen (Amin, 2014).
Batuan banyak sekali jenisnya. Salah satu jenis dari batuan adalah batuan
Metamorf. Nama metamorf ini menjadi sebuah nama dari jenis batuan melengkapi
batuan beku dan batuan sedimen. Batuan metamorf ini sering disebut juga sebagai
batuan malihan. Batuan metamorf atau batuan malihan ini merupakan sekelompok
batuan yang merupakan hasil dari ubahan atau transformasi dari suatu tipe batuan
yang sudah ada sebelumnya (protolit) oleh suatu proses yang disebut dengan

17
metamorfosis atau mengalami perubahan bentuk. Batuan metamorf ini
mempunyai kegunaan sangat penting bagi manuasia. Melalui penelitian yang
dilakukan pada batuan metamorf ini dapat diperoleh informasi yang sangat
penting mengenai suhu dan juga tekanan yang terjadi jauh di dalam permukaan
bumi. Namun saat ini batuan metamorf telah banyak yang tersingkap di
permukaan bumi dikarenakan adanya erosi tanah dan juga pengangkatan (Fenton,
1940).
Proses terbentuknya batuan metamorf dibagi menjadi 3 bagia yaitu
Metamorf termal (kontak), batuan metamorf yang terbentuk karena pengaruh suhu
yang sangat panas. Suhu yang panas dikarenakan letaknya dekat dengan magma.
Contoh dari batuan metamorf kontak adalah marmer. Marmer termasuk batuan
malihan dari batugamping. Berkaitan dengan hal tersebut, suhu yang panas akan
membakar bahkan mencairkan batugamping. Pada tahap selanjutnya,
batugamping mengalami pendinginan dan menjadi marmer. Metamorf dinamo
(sintektonik), batuan yang terbentuk karena pengaruh tekanan yang sangat tinggi.
Batuan metamorf dinamo pada umumnya terjadi di bagian atas kerak bumi.
Adanya tekanan dari arah yang berlawanan menyebabkan perubahan butir-butir
mineral menjadi pipih dan ada yang mengkristal kembali. Jenis metamorfosa ini
banyak dijumpai pada daerah-daerah patahan dan lipatan. Pada jenis batuan
metamorf dinamo, batuan sedimen berubah menjadi batuan hablur, misalnya:
Gneis, Sabak, Antrasit, dan Serpih. Metamorfik pneumatolitis kontak, batuan
metamorf pneumatolitis kontak terbentuk karena pengaruh gas-gas dari magma.
Pengaruh gas panas pada mineral batuan menyebabkan perubahan komposisi
kimiawi mineral tersebut. Contoh batuan metamorf pneumatolitis kontak adalah
kuarsa dengan gas borium berubah menjadi Turmalin (Pambudi, K. 2009).

18
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Lokasi Pengamatan 1


Pada kegiatan ekskursi atau kuliah lapangan yang berlangsung pada hari
Jumat, 30 November 2018 jam 14.30 wib, dengan elevasi 258 m, yang berlokasi
di Muara Siau, Kabupaten Merangin, Propinsi Jambi, Indonesia. Koordinat lokasi
pengamatan pertama yaitu X= 0177760, dan Y=9748583. Cuaca pada saat itu
adalah Cerah dan bersuhu panas.
3.1.1 Satuan batuan Breksi Piroklastik

Gambar: Singkapan batuan pumice (Oleh patar)


Azimuth N 130° E
Pada singkapan ini yang berlokasi di Kecamatan Muara siau,
Kabupaten Merangin, Prov. Jambi. Pada singkapan ini merupakan hasil
jatuhan dari gunung api purba, dalam singkapan tersebut terdapat
perbedaan umur batuannya, didalaam singkapan yang besar ini praktikan
melihat adanya pencampuran dua batuan yang berbeda umur yaitu antar
jura dan kuarter. Mengapa ini bisa terjadi?, Singkapan ini merupakan hasil
dari jatuhan gunung yang api purba yang terdapat di sekitarnya. Ketika
terjadi letusan gunung api maka saat jatuhan tersebut memiliki rentan
waktu berbeda, pada saat terjadi jatuhan yang pertama, kemudian bagian
atasnya ter-erosi oleh air hujan pada saat letusan, ketika air hujan datang,
itu hanya dapat menggerus bagian atasnya dan meninggalkan matriksnya.
Setelah mengalami erosi, kemudian jatuahn terjadi lagi tepatnya diatas
gundukan yang pertama yang semakin lama semakin membentuk suatu
bukit yang besar, ketika terjadi proses jatuhan maka bagian yang pertama
akan terkompresi sehingga batuannya akan lebih keras dibandingkan
batuan diatasnya. Bukti lain bahwa singkapan ini merupakan hasil jatuhan
dari letusan gunung berapi adalah ditemukannya tepra.

3.1.2 Deskripsi Batuan

19
Gambar: Batuapung
Pada hasil ekskursi lapangan, pada stopsite pertama, praktikan
menemukan batuan berjenis pumice didaerah singkapan tersebut. Dari batu
pumice praktikan mendeskripsikan. Dari sampel yang praktikan temukan
batuan tersebut berjenis batuan piroklastik dengan warna merah keabua-
abuan, serta mempunya struktur skoria. Dari batuan ini mempunyai tekstur
dengan ukuran butir Tuff halus (0.04 mm – 2 mm) serta pembundaran
Rounded- Well rounded. Adapun komposisi mineral pada batuan ini,
dengan mineral sialisnya antara lain kuarsa; mineral ferromagnesian nya
tuidak ada; dan mineral tambahannya adalah buih-buih magma. Dari
pendeskripsiaan batuan ini yang didapat dari singkapan dapat di simpulkan
bahwa nama batuannya adalah batuapung (pumice).

3.1.3 Genesa
Singkapan batuan adalah suatu batuan yang mengalami pengangkatan
ke permukaan bumi yang ciri dan karakteristiknya sama dengan batuan
asalnya. Dari singkapan inilah para peneliti dapat mengetahui jenis dan
umur batuannya tanpa melakukan penggalian untuk menemukan
batuannya. Dari singkapan yang praktikan temukan pada ekskursi
lapangan tersebut, dengan mengambil sampel batuan. Jenis sampel yang
didapat yaitu batuapung atau pumice. Batuapung ini memiliki petrogenesa
yaitu terjadi ketika adanya letusan gunung api yang menghasilkan buih-bih
magma, selanjutnya terpadatkan karena turunnyaa suhu permukaan
sehingga terbentuklah batuapung.

20
3.2 Lokasi Pengamatan 2
Pada kegiatan ekskursi atau kuliah lapangan yang berlangsung pada hari
Jumat, 30 November 2018 jam 8.00 wib, dengan elevasi 185 m yang berlokasi di
Muara Siau, Kabupaten Merangin, Propinsi Jambi, Indonesia. Koordinat lokasi
pengamatan pertama yaitu X= 0176830, dan Y= 9746816. Cuaca pada saat itu
adalah Cerah dan bersuhu panas.

Gambar : Foto Singkapan (Oleh Patar)


Arah N 14° E

Singkapan ini berada didaerah Muara Siau,Kabupaten Merangin, Provinsi


Jambi. Jenis batuan yang praktikan temukan pada singkapan ini adalah metamorf
dan sedimen. Singkapan ini berada di dekat sungai dan dipinggir jalan, dengan
ketinggian lapisannya kurang lebih 8 meter. Bentuk morfologi pada daerah
singkapan ini merupaka daerah perbukitan struktutural, umur sungai muda dimana
ditandai bentuk sungai menyerupai huruf V dengan ciri airnya derah dan
menggerus ke bawah. Pada singkapan yang praktikan temukan terdapan dua
lapisan yang berbeda ukuran lapisan dan jenis batuannya.
3.2.1 Satuan Batuan Metamorf Slate

21
Gambar: Slate
Dilihat dari lapisan singkapannya batuan metamorf ini terdapat pada
lapisan kedua dengan tebal lapisan kedua yaitu kurang lebih 3 meter. Pada
lapisan ini terdapat batuan dengan warna freshnya berwarna abu-abu
sedangkan warna lapuknya berwarna coklat. Dari batuan ini mempunyai
struktur foliasi slate serta teksturnya adalah lepidoblast. Dari hasil
pendeskripsian batuan ini dapat disimpulkan bahwa nama batuan ini adalah
metamorf slate. Batuan ini memiliki bentuk runcing dan perlapisan batuannya
sejajar dan terarah. Adapun genesa batuan metamorf ini memiliki butir antar
sedang-kasar dengan memperlihatkan penjajaran mineral yang lebih besar ,
seperti mika, yang dibariskan pada satu arah, memperlihatkan struktur foliasi
yang tidak teratur . Terbentuk pada temperatur (> 400 C) dan tekanan yang
cukup tinggi yang diperlukan selama pembentukannya.

3.2.2 Satuan batuan Sedimen klastik

22
Gambar: batupasir halus
Pada lapisan yang kedua pada singkapan, dengan tebal lapisan 2,3
meter. Pada lapisan ini terdapat jenis batuan sedimen klastik, kemudian
praktikan mengambil sampel batuan dan mendeskripsikan batuan tersebut.
Dari lapisan ini praktikan mengambil sampel jenis batuan sedimen klastik.
Adapun warna freshnya berwarna hitam daan warna lapuknya berwarna
kecoklatan dengan ukuran butirnya pasir halus 0,125-0,25 mm. Pemilahan
pada sampel ini terpilah baik dengan kebundaran membundar serta kemasnya
adalah tertutup. Fragmennya terdiri dari mineral dan matriks/semen pada
batuan ini mineral/silika. Strukturnya adalah perlapisan dengan porositas
buruk, porositas yang buruk pada suatu batuan disebabkan pada batuan
tersebut tidak mampu menyerap air dengan baik, sehingga dikatakan
porositas dari suatu batuan tersebut. Dari hasil deskripsi sampel ini dapat
disimpulkan bahwa nama batuannya adalah batupasir halus. Genesa dari
batuan ini merupakan hasil pecahan batuan asal baik batuan beku mupun
metamorf yang tererosi dan tertransportasi pada suatu cekungan yang
akhirnya terendapkan kemudian terlitifikasi hingga membentuk batuan
sedimen dalam waktu yang sangat lama.

23
3.3 Lokasi Pengamatan 3
Pada lokasi pengamatan ketiga pada kuliah lapangan ini yang berlangsung
pada hari Jumat, 30 November 2018 jam 11.05 wib, dengan elevasi 185 m yang
berlokasi di salah satu sungai yang terdapat di Muara Siau, Kabupaten Merangin,
Propinsi Jambi, Indonesia. Koordinat lokasi pengamatan pertama yaitu X=
0176730, dan Y= 9746960. Cuaca pada saat itu adalah Cerah dan bersuhu panas.

3.3.1 Satuan Intrusi Batuan Beku Andesit

Gambar: Singkapan batuan Andesit (Oleh Patar)


N 130° E
Pada lokasi pengamatan ini, praktikan menemukan sebuah singkapan
intrusi batuan beku dangkal. Pada singkapan batuan tersebut terdapat kompleks
kekar yang terdiri dari dari kekar gerus (kekar berpasangan), kekar tarik dan
zona breksiasi (zona hancuran). Singkapan ini merupakan jenis batuan andesit
dengan intrusi dangkal ditandai dengan adanya lubang gas yang kecil dan
banyak. Selain itu pada singkapan ini juga terdapat xenolith (Batuan asing yang
tertanam dibatuan induk). Xenolith ini terbentuk saat intrusi yaitu peristiwa
naiknya magma kepermukaan bumi melalui rekahan batuan. Saat magma
menerobos batuan yang paling tua, tetapi tidak sampai ke permukaan dan
akhirnya ter bekukan didalam batuan yang diterobosnya dan akhirnya tertanam
didalam batuan tersebut. Kemudian praktikan mengambil sampel dari
singkapan tersebut dan mendeskripsikannya. Yang pertama yaitu dari warna
fresh batuannya yaitu Abu-abu sedangkan warna lapuknya Abu-abu
kecoklatan. Jenis batuannya adalah batuan beku intermediet dengan struktur

24
vesikular. Struktur batuan vesikular atau terdiri dari lubang-lubang gas. Lubang
gas tersebut akibat perubahan suhu yang tidak stabil ketika magma menerobos
ke permukaan bumi (intrusi). Derajat kristalisasinya adalah hipokristalin
(terdiri dari massa gelas dan kristal). Derajat granularitasnya adalah Afanitik
dengan relasi Equigranular. Adapun komposisi mineral yang terkandung dala
batuanya adalah plagioklas dan hornblende. Dari hasil pendeskripsian ini dapat
disimpulakan bahwa nama batuannya adalah Andesit. Genesa pada Andesit ini
terbentuk secara intrusi dangkal.

25
BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
1. Saat di lapangan, sama halnya dengan praktikum saat di laboratorium.
Bedanya deskripsi yang didapatkan itu lebih banyak dan lebih lengkap.
2. Saat di lapangan, dan saat menemukan singkapan hal yang pertama
dilakukan yaitu melihat singkapan dari jauh, lalu mensketsakan
singkapan, langkah selanjutnya melihat dengan lebih dekat lagi
singkapan itu, jika perlu menandai lokasi saat menemukan singkapan
tersebut dengan menggunakan GPS, foto singkapan dengan
menggunakan perbandingan.
3. Untuk menulis di laporan sementara saat berada di lapangan yaitu
pertama tulis keadaan dari saat menuju ke lapangan sampai saat
dilapangan. Catat koordinat saat berada di lapangan dan saat berada pada
setiap singkapan. Sketsa morfologi dari lokasi dan catat morfologinya.
Deskripsikan sampel dan singkapan yang ditemukan.
4. Dip digunakan untuk mengukur kemeringingan lapisan batuan dari suatu
singkapan. Sedangkan strike digunakan untuk mengukur kemenerusan
dari singkapan.
5. Alat yang digunakan untuk praktikum kali ini adalah kompas geologi dan
kompas. Dan dip dilihat dari gelembung tabung yang juga sudah berada
di tengah. Untuk strike setelah gelembung berada ditengah jangan lupa
untuk memencet tombol kecil yang berada di kanan bawah untuk
mengunci jarum agar tidak lari lagi. Sedangkan untuk dip saat
penggerakan tabung digunakan alat penggerak tabung dan penunjuk dari
kompas, jika gelembung sudah berada di tengah angkat dan baca saja
hasil pengukuran tanpa dikunci lagi.

4.2 Saran
Sebaiknya saat memberi arahan lebih tegas, sehingga para praktikan lebih
memperhatikan.

26
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Mustaghfirin. 2014. Batuan SMK Geologi Pertambangan. Jakarta:


Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Fenton. 1940. The Rock Book. New York: Doubleday Company, inc.
Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ESDM. 2013. Aspiring National
Geopark Of Merangin Jambi.
Suwarna, dkk. 1992. Peta geologi Lembar Sarolangun Bangko. Pusat Penelitaian
dan Pengembangan Geologi : Bandung.
Van Bemmelen, R . W . 1949. Geology of Indonesia. Volume IA. Martinus Nijhof
: Den Haag, Belanda.

27
LAMPIRAN

Foto Kelompok 4

Foto Singkapan Stopsite 2

28
Foto singkapan stopsite1

Foto Singkapan Stopsite 3

29
30