Anda di halaman 1dari 15

TUGAS INTERAKSI OBAT

INTERAKSI OBAT PADA PROSES ABSORBSI

Dosen: Dr. Refdanita, M.Si, Apt

DISUSUN OLEH :

OKTAVIANI INTAN (15334093)

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL (ISTN)
JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya, penulis bisa menyusun dan menyajikan makalah Interaksi Obat tentang
“Interaksi obat pada proses absorbsi” dengan tepat waktu. Penulis juga mengucapkan terimakasih
kepada Dr. Refdanita, M.Si, Apt selaku dosen mata kuliah, yang telah memberikan bimbingannya
kepada penulis dalam proses penyusunan makalah ini. Tidak lupa penulis mengucapkan
terimakasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dorongan dan motivasi.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik serta saran
yang membangun guna menyempurnakan makalah ini sehingga dapat menjadi acuan dalam
menyusun makalah-makalah atau tugas-tugas selanjutnya.
Penulis juga memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan
pengetikan dan kekeliruan sehingga membingungkan pembaca dalam memahami maksud penulis.

Jakarta, Oktober 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Interaksi obat yang merugikan menyebabkan ribuan orang harus dirawat dirumah sakit di
Amerika Serikat setiap tahun. Penelitian selama satu tahun baru-baru ini di sejumlah apotik
menunjukkan bahwa hampir satu dari empat pasien yang mendapatkan resep pernah mengalami
interaksi obat yang berarti pada suatu saat tertentu dalam tahun tersebut. Interaksi demikian telah
menimbulkan gangguan yang serius sehingga kadang-kadang menyebabkan kematian. Untunglah
jumlah interaksi yang menimbulkan kematian hanya sebagian kecil dari jumlah interaksi obat
seluruhnya yang terjadi. Yang lebih sering terjadi adalah interaksi yang meningkatkan toksisitas
atau turunnya efek terapi pengobatan sehingga pasien tidak merasa sehat kembali atau tidak cepat
sembuh sebagaimana seharusnya (Harkness,1984).
Kadang-kadang interaksi sama sekali tidak memberikan simptom yang dapat diamati.
Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung kemungkinan tidak terkendalikan
sebagaimana mestinya. Jika dokter tidak mengetahui adanya interaksi obat, ia mungkin mengambil
keputusan pengobatan yang salah (Harkness,1984)
Obat yang ada saat ini sangat efektif dan sangat berkhasiat. Interaksi yang terjadi
merupakan masalah yang besar. Sangatlah sulit bagi seorang dokter atau apoteker yang sibuk
untuk meluangkan waktu memantau interaksi obat bagi tiap pasien, walaupun dokter atau apoteker
yang bersangkutan sedang mencari berbagai kemungkinan interaksi. Bila kita simak masalah ini
dan kenyataan bahw banyak pasien menerima pengobatan ganda – termasuk obat bebas yang
digunakan sendiri – serta banyak dokter atau apoteker sendiri mungkin tidak menyadari interaksi
berbahaya pada umumnya, dapatlah dibayangkan gawatnya masalah ini (Harkness, 1984).
Secara singkat dapat dikatakan interaksi obat terjadi jika suatu obat mengubah efek obat
lainnya. Kerja Obat yang diubah dapat menjadi lebih atau kurang aktif. Farmakologi obat itu
sendiri adalah ketika obat diminum kemudian mengalami empat proses dasar dalam tubuh yang
dikenal dengan singkatan ADME (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, dan Eksresi). Dari mulut,
menuju lambung, lalu ke usus. Disini obat diserap (Absorpsi) kedalam aliran darah dan disebarkan
(Distribusi) ke seluruh tubuh sehingga muncul efek. Obat kemudian diuraikan (Metabolisme) oleh
hati. Akhirnya, bentuk obat yang sudah diuraikan ini dikeluarkan dari tubuh (Eksresi) dalam
bentuk urine melalui proses diginjal. Pada interaksi obat, sesuatu obat mengubah obat yang lain
dalam satu atau lebih proses farmakologi diatas. Jenis interaksi ini disebut interaksi
farmakokinetik. Jenis interaksi utama lainnya adalah interaksi farmakologik. Pada jemis ini, efek
suatu obat akan menambah (Sinergisme) efek obat lainnya, atau mengurangi (antagonisme) efek
obat kedua tersebut (Harkness, 1984).
Obat yang mengalami tetap bisa digunakan atau dikonsumsi. Biasanya dosis atau waktu
pemberian obat dapat diubah untuk mencegah timbulnya efek yang merugikan. Beberapa interaksi
malahan menguntungkan dan sengaja dimanfaatkan. Tentu saja ada sejumlah kasus yang
menghendaki agar sejumlah obat tertentu pada keadaan apapun tidak boleh diberikan bersama-
sama (Harkness, 1984).
BAB II
PEMBAHASAN
A. INTERAKSI OBAT
Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi
obatobat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang
signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama (Gitawati, 2008).
Interaksi obat dapat terjadi pada proses farmakokinetik dan farmakodinamik, atau
gabungan dari keduanya. Interaksi obat in vitro (Campuran pada larutan atau sediaan injeksi)
disebut dengan “Drug Incompatibilities”, bukan interaksi obat. Salah satu atau kedua obat yang
bercampur menjadi tidak aktif. Misalnya, campuran thiopental dengan suxamethonium membentuk
senyawa kompleks. Heparin dapat menginaktifasi obat lain (Suprapti, 2010).
Pasien-pasien yang harus diberi perhatian apabila terjadi interaksi obat adalah pasien lanjut
usia, yang biasanya menderita beberapa penyakit kronis,sehingga minum banyak macam obat,
selain tentunya perubahan klirens obat karena faktor usia (Suprapti, 2010).
Selain interaksi obat dengan obat dapat juga terjadi interaksi obat dengan senyawa yang
terkandung dalam makanan (misalnya jus anggur / grapefruit juice, yang dapat ‘downregulates
expression’ specific isoform P450, CYP3A4 didinding usus), dan interaksi obat dengan obat herbal
(Suprapti, 2010).
Interaksi obat penting secara klinis apabila therapeutic range obat B sempit (yaitu, apabila
sedikit saja penurunan efek, akan menyebabkan hilangnya efikasi dan/atau peningkatan sedikit
efek akan menyebabkan toksisitas). Interaksi farmakokinetik menjadi penting apabila kurva kadar-
respons obat B curam (perubahan kecil pada kadar plasma menyebabkan perubahan efek yang
bermakna) dan margin terapetiknya sempit, maka interaksi obat akan menyebabkan masalah besar,
misalnya obat antithrombotic, antidysrhytmic, antiepileptiv, lithium, antineoplastic, dan
immunosuppressant (Suprapti, 2010).
Interaksi obat bisa juga tidak mempengaruhi klinis, misalnya perubahan besar kadar plasma
obat yang relatif tidak toksik seperti Penicillin, tidak menyebabkan masalah klinis karena safety
margin-nya besar, kadar plasma yang dihasilkan oleh dosis normal sangat jauh dengan kadr plasma
hilang jauh dengan kadar plasma hilangny efikasi atau timbulnya toksisitas (Suprapti, 2010).

B. ABSORPSI OBAT
Ketika suatu sediaan obat diberikan dengan cara ekstravaskuler (Peroral, Intramuskular,
intraperitoneal, subkutan, atau melalui rektum) kepada pasien,maka obat akan mengalami proses
ADME (Absorbsi, Distribusi, Metabolisme, dan Eksresi), sebelum ia mencapai reseptor (R) yang
dikenal dengan proses Farmakokinetik (Hakim, 2012).
Absorbsi adalah transfer suatu obat dari tempat pemberian kedalam aliran darah. Kecepatan
dan efisiensi absorbsi tergantung pada pemberiannya. Proses absorbsi sangat penting dalam
menentukan efek obat. Pada umumny obat yang tidak diabsorbsi tidak menimbulakan efek, kecuali
antasida dan obat yang bekerja local (Gitawati, 2008).
Absorbsi merupakan proses perpindahan molekul obat, senyawa kimia,
makanan/minuman,herbal dari aplikasinya menuju kesirkulasi sistemik (peredaran darah besar)
kemudian didistribusikan. Absorbsi juga dikenal sebagai proses penyerapan baik itu obat, senyawa
kimia, makanan/minuman, herbal yang terjadi di lambung dan usus (Gitawati, 2008).
Absorbsi obat meliputi proses obat dari saat dimasukkan kedalam tubuh, melalui jalurnya
hingga masuk kedalam sirkulasi sistemik. Pada level seluler, obat diabsorbsi melalui beberapa
metode, terutama transport aktif dan transport pasif (Gitawati, 2008).
Ø Metode absorpsi :
· Transport Pasif
Transport pasif tidak memerlukan energi , sebab hanya dengan proses difusi obat dapat
berpindah dari daerah dengan kadar konsentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah.
Transport pasif terjadi selama molekul-molekul kecil dapat berdifusi sepanjang membaran dan
berhenti bila konsentrasinya pada kedua sisi membran seimbang.
· Transport Aktif
Transport aktif membutuhkan energi untuk menggerakkan obat dari daerah dengan
konsentrasi obat rendah kedaerah konsentrasi obat tinggi.
Ø Kecepatan Absorpsi:
Apabila pembatas antara obat aktif dan sirkulasi sistemik hanya sedikit (jumlah sel) maka
absorpsi terjadi cepat dan obat segera mencapai level. Dilihat dari bentuk sediaan obatnya semakin
kecil bentuk partikelnya maka akan semakin mudah menyerap, rute pemberian injeksi intravena
(iv) lebih cepat diabsorpsi jika dibandingkan dengan per oral. Kecepatan absorpsi dapat
dipengaruhi oleh :
o Diperlambat oleh nyeri dan stres, akan mengurangi aliran darah, mengurangi pergerakan saluran
cerna, retensi gaster
o Makanan tinggi lemak dan padat akan menghambat pengosongan lambung dan memperlambat
waktu absorbsi obat
o Faktor bentuk obat, absorbsi dipengaruhi formulasi obat : Tablet, kapsul, cairan, sustained, release,
dll
o Kombinasi dengan obat lain dengan kata lain interaksi satu obat dengan obat lain atau dengan zat
lain yang dapat meningkatkan atau memperlambat tergantung jenis obatnya.
Ø Faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan (Absorbsi)
 Aliran darah ketempat absorpsi
 Total luas permukaan yang tersedia sebagai tempat absorbsi
 Waktu kontak permukaan absorpsi

C. INTERAKSI OBAT PADA PROSES ABSORBSI


Sebagian besar obat-obat yang diberikan secara oral melalui membrane mukosa saluran
pencernaan, dan sebagian besar interaksi yang terjadi lebih banyak mengakibatkan penurunan
daripada kenaikan absorpsi. Harus dibedakan antara penurunan kecepatan absorpsi dan
peningkatan jumlah total yang diabsorpsi. Untuk obat-obat yang diberikan dalam jangka panjang,
misalnya dalam dosis berulang (seperti antikoagulan oral) kecepatan absorpsi biasanya tidak
penting, karena jumlah total obat yang diabsorpsi tidak meningkat. Dalam hal lain obat-obat yang
diberikan dalam dosis tunggal, dikehendaki diabsorpsi secara cepat (misalnya hipnotik atau
analgesic), dimana obat-obat tsb dibutuhkan secara cepat dalam konsentrasi tinggi sehingga
penurunan kecepatan absorpsi menyebabkan kegagalan dalam mencapai efek yang diperlukan.
Interaksi dalam proses farmakokinetik, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi
(ADME) dapat meningkatkan ataupun menurunkan kadar plasma obat. Interaksi obat secara
farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak dapat diekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk
obat lainnya meskipun masih dalam satu kelas terapi, disebabkan karena adanya perbedaan sifat
fisikokimia, yang menghasilkan sifat farmakokinetik yang berbeda. Contohnya, interaksi
farmakokinetik oleh simetidin tidak dimiliki oleh H2-bloker lainnya; interaksi oleh terfenadin,
aztemizole tidak dimiliki oleh antihistamin non-sedatif lainnya.

Obat-obat yang digunakan secara oral biasanya diserap dari saluran cerna ke dalam sistem
sirkulasi. Ada banyak kemungkinan terjadi interaksi selama obat melewati saluran cerna. Absorpsi
obat dapat terjadi melalui transport pasif maupun aktif, di mana sebagian besar obat diabsorpsi
secara pasif. Proses ini melibatkan difusi obat dari daerah dengan kadar tinggi ke daerah dengan
kadar obat yang lebih rendah. Pada transport aktif terjadi perpindahan obat melawan gradien
konsentrasi (contohnya ion-ion dan molekul yang larut air) dan proses ini membutuhkan energi.
Absorpsi obat secara transport aktif lebih cepat dari pada secara tansport pasif. Obat dalam bentuk
tak-terion larut lemak dan mudah berdifusi melewati membran sel, sedangkan obat dalam bentuk
terion tidak larut lemak dan tidak dapat berdifusi. Di bawah kondisi fisiologi normal absorpsinya
agak tertunda tetapi tingkat absorpsinya biasanya sempurna.
Bila kecepatan absorpsi berubah, interaksi obat secara signifikan akan lebih mudah terjadi,
terutama obat dengan waktu paro yang pendek atau bila dibutuhkan kadar puncak plasma yang
cepat untuk mendapatkan efek. Mekanisme interaksi akibat gangguan absorpsi antara lain :
a. Perubahan PH saluran cerna
Untuk obat-obat yang diabsorpsi di usus, bukan dilambung, mempunyai efek akibat
perubahan pH saluran pencernaan yakni : Jika ada zat yang bersifat basa (garam
bikarbonat) yang masuk bersamaan dengan obat yang bersifat asam (pKa 2,5-7,5, misalnya
NSAID dan gol penisilin), maka zat yang bersifat basa ini akan menurunkan absorbsi obat
karena obat yang bersifat asam ini akan berinteraksi dengan zat yang bersifat basa sehingga
obat akan lebih cenderung dalam bentuk ion bukanmolekulnya. sementara kita tahu, obat
dalam bentuk ion tidak diabsorbsi oleh usus. Sebaliknya, jika ada zat yang bersifat asam
(asam sitrat dan asam tartarat) dimana masuk bersamaan dengan obat yang bersifat basa
lemah (pKa 5 – 11, misalnya reserpin &propoksifen), maka absorbsi obat akan turun.
Sementara, obat yang bersifat basa sangat lemah dengan pKa < 5 (kofein pKa =0, 8),
absorbsinya tidak tergantung pada pH lambung. Hal ini bisa dijelaskan karena interaksi
dengan zatnya tidak menyebabkan ia menjadi bentuk ion.

b. Kompleksasi dan absorbsi


Karbon aktif dikehendaki bekerja sebagai bahan pengabsorpsi dalam saluran usus
untuk mengobati kasus overdosis obat-obatan atau untuk menghilangkan bahan-bahan
toksik, tetapi tidak dapat dielakkan dapat mengakibatkan juga mengabsoprsi obat-obat
dalam dosis terapi. Antasida juga dapat mengadsorpsi sejumlah besar obat, tetapi seringkali
mekanisme interaksi lainnya juga terjadi. Contohnya tetrasiklin dapat mengkhelat sejumlah
ion-ion logam divalent dan trivalent seperti kalsium, aluminium, bismuth dan besi
membentuk kompleks yang sulit diasbsorpsi sehingga mengurangi efek antibakteri. Ion-ion
logam ini terdapat dalam produk susu dan antasida. Pemisahan dosis dengan cara
perbedaan pemberian 2-3 jam dapat mengurangi efek interaksi ini. Pengurangan
bioavailabilitas penisilamin yang disebabkan beberapa antasida juga disebabkan oleh aksi
pengkhelatan meskipun adsorpsi telah berjalan beberapa waktu. Kolestiramin, suatu resin
penukar anion dikehendaki untuk mengikat asam-asam empedu dan metabolit kolesterol
dalam usus dapat mengikat sejumlah obat (misalnya digoksin, warfarin, levotiroksin)
sehingga mengurangi absorpsinya.
Suatu obat apabila membentuk kompleks dengan senyawa pembentuk kompleks,
maka struktur molekulnya akan menjadi besar. Akibatnya tidak bisa di absorbsi oleh usus.
Misalnya kolesteramin dapat membentuk kompleks dengan obat – obat yang memiliki
gugus karboksilat (NSAID) atau hidroksil (sulfonamid). Akibatnya struktur molekul obat –
obat membesar dan tidak bisa terabsorbsi. Contoh interaksi lainnya adalah kolesteramin
dengan warfarin (antikoagulan) yang menyebabkan aktifitas koagulan lebih rendah
(penurunan efek antikoagulan dari warfarin). Selain itu , disebutkan pula bahwa terjadi
peningkatan faktor eliminasi dari warfarin. Solusi : pemberian dengan selang waktu
(selama 3 jam).
Contoh lainnya adalah tetrasiklin dapat membentuk kompleks dengan ion calsium,
magnesium, besi , dan alumunium yang sering terdapat di obat-obat maag. akibatnya
absorbsi tetrasiklin menjadi menurun. Hal ini dapat menyebabkan resistensi antibiotik juga.
Pengatasannya adalah dengan pemberian selang waktu 3 – 4 jam. Jika ada obat antasida
dan tetarasiklin, maka tetrasiklin dulu dengan selang waktu 6 jam, baru antasida. jangan
dibalik, karena antasida itu tidak diabsorbsi (hanya diadsorpsi, jadi tetap di lambung).
sehingga walaupun dengan selang waktu, tetrasiklin tetap tidak diabsorbsi.
Interaksi antara antibiotik golongan fluorokinolon (siprofloksasin, enoksasin,
levofloksasin, lomefloksasin, norfloksasin, ofloksasin dan sparfloksasin) dan ion-ion
divalent dan trivalent (misalnya ion Ca2+ , Mg2+dan Al3+ dari antasida dan obat lain) dapat
menyebabkan penurunan yang signifikan dari absorpsi saluran cerna, bioavailabilitas dan
efek terapetik, karena terbentuknya senyawa kompleks. Interaksi ini juga sangat
menurunkan aktivitas antibiotik fluorokuinolon. Efek interaksi ini dapat secara signifikan
dikurangi dengan memberikan antasida beberapa jam sebelum atau setelah pemberian
fluorokuinolon. Jika antasida benar-benar dibutuhkan, penyesuaian terapi, misalnya
penggantian dengan obat-obat antagonis reseptor H2 atau inhibitor pompa proton dapat
dilakukan. Beberapa obat antidiare (yang mengandung atapulgit) menjerap obat-obat lain,
sehingga menurunkan absorpsi. Walaupun belum ada riset ilmiah, sebaiknya interval
pemakaian obat ini dengan obat lain selama mungkin.

c. Perubahan motilitas saluran cerna dan laju pengosongan lambung


Sebagian besar obat diabsorpsi pada bagian atas usus kecil, obat yang mengubah
kecepatan leju pengosongan lambung dapat mempengaruhi absorpsi. Contohnya
propanthelin memperlambat pengosongan lambung dan mengurangi absorpsi parasetamol
sedangkan metoklopramide memperlihatkan efek sebaliknya. Namun, jumlah total obat
yang diabsorpsi tetap. Propantelin juga menaikkan absorpsi hidroklorotiazid. Obat-obat
antimuskarinik menurunkan motilitas usus, demikian halnya dengan antidepresan trisiklik
dapat menaikkan absorpsi dikumarol, mungkin disebabkan oleh kenaikan waktu disolusi
dan absorpsi, tetapi dalam kasus levodopa, obat-obat tsb mengurangi absorpsi,
kemungkinan disebabkan pada waktu transit di mukosa usus metabolisme meningkat.
Pengurangan absorpsi levodopa juga terlihat dengan homatropin. Kesemuanya
menggambarkan bahwa hal yang terjadi secara aktual seringkali tidak dapat diperkirakan
karena hasil akhir mungkin diakibatkan oleh beberapa mekanisme yang berbeda. Semakin
lama obat tertahan di lambung, maka absorbsi obat tersebut di dalam usus akan semakin
lama. Dengan demikian, apabila terjadi peningkatan kecepatan pengosongan lambung,
maka akan terjadi peningkatan absorbsi obat. Dan ternyata peningkatan absorbsi obat ini
menyebabkan efek toksik karena tingginya kadar obat di dalam darah. Hal ini berbahaya
untuk obat-obat yang memiliki indeks terapi sempit dimana saat obat masuk ke dalam
lambung bersama dengan obat-obat yang memiliki kemampuan mempercepat pengosongan
lambung, maka obat yang indeks terapi sempit tadi akan meningkat kecepatan absorbsinya.
Akibatnya kadar obat dalam darah pada periode awal, konsentrasinya meningkat melebihi
batas toksik.

Nampak jelas bahwa apabila obat 1 di minum sendiri, kadar dalam darah berada pada
therapeutic effect. Namun dengan adanya obat 2 (drug 2) yang bersifat mempercepat
pengosongan lambung,akan meningkatkan konsentrasi obat 1 (drug 1) dalam darah
sehingga menyebabkan toksik. Contoh obat-obat yang meningkatkan waktu pengosongan
lambung adalah metoclopramide, reserpine, anticholinesterase, sodium bikarbonat. Obat-
obat yang menurunkan waktu pengosongan lambung, contohnya isoniazid, analgesic
sentral, morphine, chloroquine, phenytoin, Al(OH)3, Mg(OH)2
d. Pengaruh makanan
Obat ketika digunakan dengan makanan (berlemak) absorbsinya dapat menjadi lebih kecil
dibandingkan diminum sendiri, begitu pula sebaliknya.
e. Pengikatan oleh protein transport
Bioavailabilitas beberapa obat dibatasi oleh aksi obat yang diangkut oleh protein,
yang melepaskan obat yang diangkut dengan cara difusi melewati usus namun kembali
diangkut oleh protein pengangkut kembali ke dalam usus. Saat ini, protein pengangkut obat
yang telah dikarakterisasi dengan baik adalah P-glikoprotein. Digoksin merupakan substrat
dari P-glikoprotein dan obat yang menginduksi protein ini seperti rifampisin akan
mengurangi bioavailabilitas digoksin. Mekanisme interaksi melalui penghambatan
transport aktif gastrointestinal, misalnya grapefruit juice, yakni suatu inhibitor protein
transporter uptake pump di saluran cerna, akan menurunkan bioavailabilitas beta-bloker
dan beberapa antihistamin (misalnya, fexofenadin) jika diberikan bersama-sama.7
Pemberian digoksin bersama inhibitor transporter efflux pumpPglikoprotein (a.l.
ketokonazol, amiodarone, quinidin) akan meningkatkan kadar plasma digoksin sebesar 60-
80% dan menyebabkan intoksikasi (blokade jantung derajat-3), menurunkan ekskresinya
lewat empedu, dan menurunkan sekresinya oleh sel-sel tubulus ginjal proksimal
penggunaan antibiotika berspektrum luas yang mensupresi flora usus dapat menyebabkan
menurunnya konversi obat menjadi komponen aktif. Obat dapat terjadi melalui transport
pasif maupun aktif, di mana sebagian besar obat diabsorpsi secara pasif. Proses ini
melibatkan difusi obat dari daerah dengan kadar tinggi ke daerah dengan kadar obat yang
lebih rendah. Pada transport aktif terjadi perpindahan obat melawan gradien konsentrasi.

f. Perubahan flora saluran cerna


Contoh : Digoksin yang digunakan bersamaan dengan antibiotik akan terjadi peningkatan
konsentrasi digoksin dan peningkatan toksisitas. Karena antibiotik akan membunuh bakteri
flora normal yang digunakan untuk mengurai digoksin.
g. Keadaaan malabsorbsi
Neomisin menyebabkan sindrom malabsorpsi yang terlihat mirip dengan sariawan non
tropic. Efek ini mengurangi absorpsi sejumlah obat termasuk digoksin dan metotreksat.

D. EVALUASI KEJADIAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN RAWAT INAP GERIATRI


PENDERITA GAGAL JANTUNG

Suatu interaksi terjadi ketika efek suatu obat diubah oleh kehadiran obat lain, obat herbal,
makanan, minuman atau agen kimia lainnya dalam lingkungannya. Interaksi obat dianggap penting
secara klinik bila berakibat meningkatkan toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang
berinteraksi terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi
yang rendah). Kejadian interaksi dapat terjadi pada pasien yang menggunakan dua atau lebih obat.
Penggunaan obat yang banyak, sering terjadi pada pasien geriatri yang mengidap penyakit
degeneratif seperti hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, osteoartritis, dan penyakit
kardiovaskular.
Desain penelitian yang digunakan adalah rancangan studi potong lintang (Cross Sectional).
Pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap data sekunder berupa rekam medik (RM) pasien
dari bulan Maret sampai April 2016. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien geriatri gagal
jantung yang dirawat inap di rumah sakit Betha Medika, yang berusia lebih dari 60 tahun (pasien usia
lanjut) [7]. Sampel dari penelitian ini adalah pasien geriatri gagal jantung yang dirawat inap di rumah sakit
Betha Medika, yang berusia lebih dari 60 tahun, dengan penyakit penyerta, dan mendapat lebih dari 2
macam obat yang digunakan bersamaan. Kejadian interaksi obat dievaluasi berdasarkan literatur dari obat
yang berpotensi mengalami interaksi dengan keluhan pasien setelah diberikan obat yang diperoleh dari data
rekam medik.
Berdasarkan perhitungan jumlah sampel menggunakan rumus Solvin, diperoleh jumlah sampel
pasien geriatrik gagal jantung yang dirawat inap selama bulan Maret-April 2016 sebanyak 70 pasien.
Prevalensi gagal jantung pada penelitian ini terjadi pada 45% laki laki dan 54 % perempuan. Pasien
perempuan lebih banyak karena pada usia 60 tahun ke atas sudah mengalami menopause dengan resiko
menderita penyakit kardiovaskuler yang sama dengan laki-laki. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa
perempuan
Interaksi obat yang berpotensi terjadi secara teoritis dari obat gagal jantung dengan
golongan obat gagal jantung lain, atau obat gagal jantung dengan obat untuk pengobatan penyakit penyerta
yang diberikan pada pasien dalam penelitian ini dapat di lihat pada tabel 1 di bawah.
No Obat Gagal jantung Obat lain Efek interaksi obat
1 Spirolakton Digoksin Digoksin menongkat
Aspirin Spirolaktan meningkat
2 Digoksin Amlodipine Digoksin meningkat
PPI Digoksin meningkat
Rifampicin Digoksin menurun
Sukralfat Digoksin menurun
3 Amlodipin Antagonis H2 Amlodipin meningkat
AINS Amlodipine menurun
4 Bisoprolol Fumarate AINS Bisopprolol menurun
Amlodipin Efek Sinergis
Mekanisme Interaksi Obat
Spironolakton dengan Digoksin
Interaksi terjadi pada proses Absorpsi, dimana spironolakton menginduksi transporter
membran P-glikoprotein (P-gp). Absorpsi aktif dari dalam lumen saluran pencernaan ke dalam
darah terjadi melalui transporter membran P-glikoprotein (P-gp). Peningkatan kemampuan dari
spironolakton untuk berikatan pada glikoprotein P ini menyebabkan glokoprotein yang dapat
berikatan dengan digoksin menurun, sehingga digoksin yang absorpsi berkurang.
Spironolakton dengan Aspirin
Interaksi terjadi pada proses ekskresi, dimana aspirin menurunkan sekresi natrium,
sehingga natrium dalam darah meningkat, akibatnya efek spironolakton menurun, tetapi aspirin
dalam dosis kecil tidak mempengaruhi. Aspirin juga menghambat sekresi aktif canrenone
(metabolit aktif spironolakton), sehingga efek metabolit spironolakton meningkat untuk
pemberian dosis berikutnya
Digoksin dengan Amlodipin
Interaksi terjadi pada proses ekskresi, dimana sekresi aktif dari dalam darah ke lumen
tubulus proksimal terjadi melalui transporter membran P-glikoprotein (P-gp). Amlodipin
menghambat transporter membran P-glikoprotein (P-gp), sehingga penghambatan ini
menyebabkan digoksin yang diekskresi berkurang. Penurunan ekskresi digoksin menyebabkan
kadar digoksin di dalam darah meningkat.
Digoksin dengan PPI
Interaksi terjadi pada proses ekskresi, dimana amlodipin menghambat transporter
membran P-glikoprotein, penghambatan ini menyebabkan digoksin yang diekskresi berkurang,
dan terjadi peningkatan kadar digoksin dalam darah.
Digoksin dengan Rifampicin
Interaksi terjadi pada proses metabolisme, rifampisin merupakan penginduksi enzim Cyp
1A dan 3A, menyebabkan digoksin banyak yang dimetabolisme menghasilkan metabolit yang
tidak aktif, sehingga efek dari digoksin menurun.
Digoksin dengan Sukralfat
Mekanisme kerja sukralfat adalah membentuk kompleks ulser adheren dengan eksudat
protein seperti albumin dan fibrinogen pada sisi ulser dan melindunginya dari serangan asam,
membentuk barier viskos pada permukaan mukosa di lambung dan duodenum, serta
menghambat aktivitas pepsin dan membentuk ikatan garam dengan empedu. Pemberian bersama
sukralfat dengan digoksin menyebabkan penurunan absorpsi dari digoksin. Interaksi obat
sukralfat dengan digoksin terjadi pada proses absorpsi
Amlodipin dengan Antagonis H2
Interaksi terjadi pada proses metabolisme dimana cimetidin menghambat metabolisme
oksidatif amlodipin oleh hati, sehingga kadar amlodipin meningkat. Interaksi terjadi juga pada
proses absorpsi dimana penurunan keasaman lambung akan meningkatkan bioavailabilitas
amlodipin.
Amlodipin dengan AINS
Interaksi terjadi secara farmakodinamika, dimana Anti Inflamasi Non Steroid (AINS)
bekerja menghambat pembentukan prostaglandin sehingga menghambat vasodilatasi (terjadi
vasokontriksi) dan menghambat menghambat sekresi natrium di ginjal sehingga terjadi retensi
urine, kedua efek ini menyebabkan tekanan darah meningkat. Efek dari amlodipin menurunkan
tekanan darah tinggi berkurang dengan AINS. Penggunaan bersama amlodipin dengan AINS
juga berpotensi terjadinya perdarahan karena calcium kanal bloker (amlodipin) mengganggu
gerakan ion kalsium melalui membrane sehingga menghambat agregasi platelet, dan AINS
melalui penghambatannya terhadap enzim cyclooksigenase menyebabkan pembentukan
tromboxan yang berfungsi untuk proses pembekuan darah terhambat.
Bisoprolol dengan AINS
Interaksi obat terjadi secara farmakodinamika, dimana Anti Inflamasi Non Steroid
(AINS) bekerja menghambat enzim cyclooksigenase sehingga pembentukan prostaglandin. Efek
dari penghambatan prostaglandin yaitu menghambat vasodilatasi (terjadi vasokontriksi) dan
menghambat sekresi natrium di ginjal sehingga terjadi retensi urine, kedua efek ini menyebabkan
tekanan darah meningkat. Efek dari bisoprolol untuk menurunkan tekanan darah tinggi
berkurang dengan AINS.
Bisoprolol dengan Amlodipin
Interaksi terjadi secara farmakodinamika dengan efek sinergis, dimana bisoprolol bekerja
dengan cara memblok reseptor beta adrenergik dengan efek menurunkan kerja jantung.
Amlodipin bekerja dengan cara menduduki kanal kalsium yang menyebabkan penurunan
kontaktilitas miokardium. Penggunaan bersama kedua obat ini menyebabkan efek yang tidak
diinginkan yaitu hipotensi dan bradikardi.
BAB III

KESIMPULAN

Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi
obatobat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang
signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama

Absorbsi adalah transfer suatu obat dari tempat pemberian kedalam aliran darah.
Kecepatan dan efisiensi absorbsi tergantung pada pemberiannya.

Mekanisme interaksi akibat gangguan absorpsi antara lain:

1. Interaksi Langsung

2. Perubahan pH cairan saluran cerna

3. Motilitas saluran cerna

4. Pembentukan senyawa kompleks tak larut

5. Obat menjadi terikat pada sekuestran asam empedu (BAS)

6. Perubahan flora usus

7. Absorbsi obat dari traktus gastrointestinalis dipengaruhi oleh beberapa senyawa


DAFTAR PUSTAKA

Harkness, R, 1984 “Interaksi Obat”, ITB : Bandung

Hakim, L, 2012 “Farmakokinetik Klinik”, Bursa Ilmu, Universitas Gadjah Mada : Yokyakarta.
Suprapti, H,2010.”Jurnal INTERAKSI OBAT”
http://Elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/jurnal/INTERAKSI%20OBAT.pdf

http://muyassarahbsr.blogspot.com/2016/12/interaksi-obat-tingkat-absorbsi.html

http://ndrasendana.blogspot.com/2014/06/interaksi-obat-dalam-proses-absorpsi.html

Mariam, Siti. 2016 Jurnal Penelitian. “Evaluasi Kejadian Interaksi Obat Pada Pasien
Rawat Inap Geriatri Penderita Gagal Jantung”, Bogor

Beri Nilai