Anda di halaman 1dari 33

USULAN SKRIPSI

TAUFIK HALDI

PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PENDERITA HIPERTENSI TERHADAP PERILAKU KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT AMPLODIPIN

(Studi Di Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan)

AMPLODIPIN (Studi Di Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan) PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2018

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Kemenkes RI, 2014). Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala sehingga juga di sebut sillent killer, tetapi tekanan darah yang terus tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu, hipertensi dideteksi dini dengan pemeriksaan tekanan darah secara berkala (Depkes RI, 2012).

Hipertensi salah satunya disebabkan oleh faktor gaya hidup modern, orang zaman sekarang sibuk mengutamakan pekerjaan untuk mencapai kesuksesan. Kesibukan dan kerja keras serta masalah yang banyak mengakibatkan timbulnya rasa stres dan timbulnya tekanan yang tinggi. Perasaan tertekan membuat tekanan darah menjadi naik. Selain itu, orang yang sibuk juga tidak sempat untuk berolahraga. Akibatnya lemak dalam tubuh semakin banyak dan tertimbun yang dapat menghambat aliran darah. Pembuluh yang terhimpit oleh tumpukan lemak menjadikan tekanan darah menjadi tinggi. Inilah salah satu penyebab terjadinya hipertensi (Susilo, 2011).

Hampir di setiap negara, hipertensi menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang paling sering dijumpai (WHO, 2000). Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama yang menjadi angka kematian global, dan diperkirakan telah mengakibatkan terjadinya 9,4 juta kematian di dunia. Hipertensi adalah salah satu faktor risiko utama kematian global dan diperkirakan telah menyebabkan 9,4% kematian dunia per tahunnya. Prevalensi hipertensi disetiap tahunnya diperkirakan akan terus meningkat sebanyak 7,2% mulai tahun 2013 hingga 2030 (American Heart Association, 2013). Prevalensi penduduk dengan tekanan darah tinggi secara nasional sebesar 30,9%. Prevalensi tekanan darah tinggi pada perempuan (32,9%) lebih tinggi dibanding dengan laki-laki (28,7%). Prevalensi di perkotaan sedikit lebih tinggi

(31,7%) dibandingkan dengan perdesaan (30,2%). Prevalensi semakin meningkat seiring dengan pertambahan umur (Depkes RI, 2017). Pada tahun 2016, di Provinsi Jawa Timur, persentase hipertensi sebesar 13,47% atau sekitar 935.736 penduduk, dengan proporsi laki-laki sebesar 13,78% (387.913 penduduk) dan perempuan sebesar 13.25% (547.823 penduduk). Sedangkan untuk Kabupaten Bangkalan, persentasi hipertensi sebesar 15,03% atau sekitar 38.139 penduduk, dengan proporsi laki-laki 16,10% (17.777 penduduk) dan perempuan 14,22% (20.352 penduduk) (Dinkes Prov. Jatim, 2017). Pada tahun 2016, di Kabupaten Bangkalan tepatnya di kecamatan Burneh, persentase hipertensi sebesar 1,70% atau sekitar 560 penduduk, dengan proporsi laki-laki sebesar 1,82% (263 penduduk) dan perempuan sebesar 1,77% (297 penduduk) (Dinkes Kab. Bangkalan, 2017). Ada dua terapi yang dilakukan untuk me ngobati hipertensi yaitu terapi farmakologis dan terapi non farmakologis. Terapi farmakologis yaitu dengan menggunakan obat-obatan antihipertensi yang terbukti dapat menurunkan tekanan darah, sedangkan terapi non farmakologis atau disebut juga dengan modifikasi gaya hidup yang meliputi berhenti merokok, mengurangi kelebihan berat badan, menghindari alkohol, modifikasi diet serta yang mencakup psikis antara lain mengurangi stress, olah raga, dan istirahat (Kosasih dan Hassan, 2013). Tingkat kepatuhan merupakan penentu utama keberhasilan pengobatan. Sejauh ini tingkat kepatuhan bervariasi, dalam penelitian yang berbeda telah tercatat ketidakpatuhan terendah yaitu 10% dan tertinggi 92%. Penyebab ketidakpatuhan dalam terapi pengobatan adalah kurang lebih 50% pasien sengaja tidak meminum obat sesuai dengan resep yang dianjurkan, dan sisanya terjadi karena pasien tidak menyadari bahwa mereka tidak me minum obat yang diresepkan atau rejimen pengobatannya terlalu kompleks. Tingkat kepatuhan yang rendah dapat mengakibatkan memburuknya kondisi kesehatan pasien, seringnya menjalani rawat inap di rumah sakit, kematian dan peningkatan biaya perawatan kesehatan. Tingkat kepatuhan rendah tidak hanya berakibat buruk bagi pasien, tetapi juga penyedia layanan kesehatan, dokter dan bahkan para peneliti medis yang bekerja untuk menetapkan nilai obat pada populasi sasaran. Oleh karena itu, me mbantu

orang untuk meminum obat mereka dengan tepat akan membantu untuk menghindari risiko tinggi kekambuhan yang lebih parah (Jimmy, et al. 2011).

Ketidakpatuhan pasien menjadi masalah serius yang dihadapi para tenaga kesehatan profesional. Hal ini disebabkan karena hipertensi merupakan penyakit yang paling banyak dialami oleh masyarakat tanpa ada gejala yang signifikan dan juga merupakan penyakit yang menimbulkan penyakit lain ya ng berbahaya bila tidak diobati secepatnya (Niven, 2002).

Banyak orang yang kurang memahami mengenai bahaya tekanan darah tinggi. Pengetahuan atau ranah kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan lebih langgeng dibandingkan perilaku yang tidak didasarkan pada pengetahuan. Pengetahuan inilah yang dapat mempengaruhi pasien hipertensi dalam melakukan upaya pencegahan terjadinya komplikasi stroke. Sedangkan sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Menurut Newcomb, salah satu ahli psikologis social menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan tindakan atau aktivitas melainkan predisposisi tindakan suatu perilaku. Dalam penentuan sikap yang utuh diperlukan pengetahuan, pikiran keyakinan dan emosi memegang peranan penting. Dalam hal ini pengetahuan dan sikap merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perilaku kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat (Notoatmodjo, 2012).

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk menganalisis adanya pengaruh pengetahuan dan sikap penderita hipertensi terhadap perilaku kepatuhan penggunaan obat amlodipin di Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan.

1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan permasalahan penelitian yaitu: ”Apakah ada pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap penderita terhadap perilaku kepatuhan penggunaan obat amplodipin di Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan”?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap

Burneh

hipertensi

terhadap perilaku kepatuhan penggunaan obat amplodipin di Puskesmas Kabupaten Bangkalan.

1.3.2

penderita

Tujuan Khusus

a. Mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap pasien tentang hipertensi di

Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan. b. Mengetahui perilaku kepatuhan penggunaan obat amplodipin di Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan. c. Mengidentifikasi keberhasilan terapi pengobatan pasien hipertensi di Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan.

d. Menganalisis pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap terhadap perilaku kepatuhan penggunaan obat amplodipin di Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peneliti untuk

menambah wawasan mengenai pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap penderita hipertensi terhadap perilaku kepatuhan penggunaan obat amplodipin.

1.4.2 Bagi Universitas

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran dan sebagai sumber referensi dalam pengambilan data untuk penelitian berikutnya.

1.4.3 Bagi Puskesmas Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas maupun kuantitas

dalam melaksanakan pengobatan hipertensi.

1.4.4 Bagi Penderita Hipertensi Penelitian ini diharapkan dapat

mengenai pelaksanaan pengobatan hipertensi.

menambah pemahaman

dan pengetahuan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi

2.1.1 Definisi Hipertensi

Definisi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung

(penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai (InfoDatin, 2015). Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi

berbagai faktor risiko yang dimiliki seseorang. Faktor pemicu hipertensi dibedakan menjadi yang tidak dapat dikontrol seperti riwayat keluarga, jenis kelamin, dan umur, serta faktor yang dapat dikontrol seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, perilaku merokok, pola konsumsi makanan yang mengandung natrium dan lemak jenuh (Pratiwi, 2013).

2.1.2 Epidimiologi Hipertensi

Hampir di setiap negara, hipertensi menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang paling sering dijumpai (WHO, 2000). Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama yang menjadi angka kematian global, dan diperkirakan telah mengakibatkan terjadinya 9,4 juta kematian di dunia. Hipertensi adalah salah satu faktor risiko utama kematian global dan diperkirakan telah menyebabkan 9,4% kematian dunia per tahunnya. Prevalensi hipertensi disetiap tahunnya diperkirakan akan terus meningkat sebanyak 7,2% mulai tahun 2013 hingga 2030 (American Heart Association, 2013). Prevalensi penduduk dengan tekanan darah tinggi secara nasional sebesar 30,9%. Prevalensi tekanan darah tinggi pada perempuan (32,9%) lebih tinggi dibanding dengan laki-laki (28,7%).Prevalensi di perkotaan sedikit lebih tinggi (31,7%) dibandingkan dengan perdesaan (30,2%). Prevalensi semakin meningkat seiring dengan pertambahan umur (Depkes RI, 2017).

Pada tahun 2016, di Provinsi Jawa Timur, persentase hipertensi sebesar 13,47% atau sekitar 935.736 penduduk, dengan proporsi laki-laki sebesar 13,78% (387.913 penduduk) dan perempuan sebesar 13.25% (547.823 penduduk). Sedangkan untuk Kabupaten Bangkalan, persentasi hipertensi sebesar 15,03% atau sekitar 38.139 penduduk, dengan proporsi laki-laki 16,10% (17.777 penduduk) dan perempuan 14,22% (20.352 penduduk) (Dinkes Prov. Jatim, 2017). Pada tahun 2016, di Kabupaten Bangkalan tepatnya di kecamatan Burneh, persentase hipertensi sebesar 1,70% atau sekitar 560 penduduk, dengan proporsi laki-laki sebesar 1,82% (263 penduduk) dan perempuan sebesar 1,77% (297 penduduk) (Dinkes Kab. Bangkalan, 2017).

2.1.3 Klasifikasi Hipertensi

Berdasarkan tingginya tekanan darah seseorang dikatakan hipertensi bila tekanan darahnya lebih dari 140mmHg. Untuk pembagian yang lebih rinci, The seventh of Joint Nasional Committee On Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure yaitu Badan peneliti di Amerika serikat (USA) yang lebih dikenal dengan sebutan JNC VII, menentukan klasifikasi tekanan darah orang dewasa umur lebih dari 18 tahun yang dapat dilihat pada tabel:

Tabel 2.1. Klasifikasi tekanan darah orang dewasa umur lebih dari 18 tahun (JNC 7)

Klasifikasi

Sistol (mmHg)

Diastole (mmHg)

Normal

< 120

<80

Prehipertensi

120-139

80-89

Hipertensi tingkat 1

140-159

90-99

Hipertensi tingkat 2

>160

>100

2.1.4 Etiologi Hipertensi

Hipertensi berdasarkan etiologinya dibagi menjadi dua yaitu hipertensi primer atau esensial dan hipertensi sekunder.

2.1.4.1

Hipertensi Primer

Sekitar 95% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi esensial (primer). Penyebab hipertensi esensial ini masih belum diketahui, tetapi faktor genetik dan lingkungan diyakini memegang peranan dalam menyebabkan hipertensi esensial. Faktor genetik dapat menyebabkan kenaikan aktivitas dari sistem renin-angiotensin-aldosteron dan sistem saraf simpatik serta sensitivitas garam terhadap tekanan darah. Selain faktor genetik, faktor lingkungan yang mempengaruhi antara lain yaitu konsumsi garam, obesitas dan gaya hidup yang tidak sehat serta konsumsi alkohol dan merokok (Weber dkk., 2014).

Penurunan ekskresi natrium pada keadaan tekanan arteri normal merupakan peristiwa awal dalam hipertensi esensial. Penurunan ekskresi natrium dapat menyebabkan meningkatnya volume cairan, curah jantung, dan vasokonstriksi perifer sehingga tekanan darah meningkat. Faktor lingkungan dapat memodifikasi ekspresi gen pada peningkatan tekanan. Stres, kegemukan, merokok, aktivitas fisik yang kurang, dan konsumsi garam dalam jumlah besar dianggap sebagai faktor eksogen dalam hipertensi (Robbins dkk., 2007).

2.1.4.2 Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder disebabkan oleh adanya penggunaan obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah. Obat-obat tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi atau memperberat hipertensi. Penghentian penggunaan obat tersebut merupakan tahap pertama dalam penanganan hipertensi sekunder (Depkes RI, 2006).

2.1.5 Patofisiologi Hipertensi

Tekanan darah merupakan suatu sifat kompleks yang ditentukan oleh interaksi berbagai faktor seperti faktor genetik dan lingkungan yang mempengaruhi dua variabel hemodinamik yaitu curah jantung dan resistensi perifer total (Robbins dkk., 2007). Curah jantung merupakan faktor yang menentukan nilai tekanan darah sistolik dan resistensi perifer total menentukan nilai tekanan darah diastolik. Kenaikan tekanan darah dapat terjadi akibat kenaikan curah jantung dan/atau kenaikan resistensi perifer total (Saseen dan Maclaughlin, 2008).

Ginjal memiliki peranan dalam mengendalikan tekanan darah melalui sistem renin-angiotensin-aldosteron. Mekanisme pengaturan tekanan darah oleh ginjal seperti dilihat pada gambar 2.1 (Anggraini dkk. 2009).

Renin yang dihasilkan oleh sel justaglomerulus ginjal mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin-1, kemudian angiotensin-1 diubah menjadi angiotensin-2 oleh angiotensin converting enzyme (ACE). Angiotensin-2 dapat berikatan dengan reseptor angiotensin-2 tipe 1 (AT1) atau reseptor angiotensin-2 tipe 2 (AT2). Stimulasi reseptor AT1 dapat meningkatkan tekanan darah melalui efek pressor dan volume darah (Saseen dan Maclaughlin, 2008). Efek pressor angiotensin-2 meliputi vasokonstriksi, stimulasi pelepasan katekolamin dari medula adrenal, dan meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik. Selain itu, angiotensin-2 menstimulasi sintetis aldosteron dari korteks adrenal yang menyebabkan retensi natrium dan air. Retensi natrium dan air ini mengakibatkan kenaikan volume darah, kenaikan resistensi perifer total, dan akhirnya kenaikantekanan darah (Saseen dan Maclaughlin, 2008; Saseen, 2009).

Tekanan darah juga diregulasi oleh sistem saraf adrenergik yang dapat menyebabkan terjadinya kontraksi dan relaksasi pembuluh darah. Stimulasi reseptor a- 2 pada sistem saraf simpatik me nyebabkan penurunan kerja saraf simpatik yang dapat menurunkan tekanan darah. Stimulasi reseptor a-1 pada perifer menyebabkan terjadinya vasokonstriksi yang dapat meningkatkan tekanan darah. Stimulasi reseptor ß-1 pada jantung menyebabkan kenaikan denyut jantung dan kontraktilitas, sedangkan stimulasi reseptor ß-2 pada arteri dan vena menyebabkan terjadinya vasodilatasi (Saseen dan Maclaughlin, 2008; Saseen, 2009).

2.1.6 Manifestasi Klinis Hipertensi

Hipertensi dikenal dengan sebutan “Silent Killer” karena hipertensi tidak menunjukkan tanda dan gejala, dan banyak orang yang tidak mengetahui bahwa mereka menderita penyakit ini. Bahkan ketika tekanan darah yang sangat tinggi, sebagian besar orang tidak memiliki tanda-tanda atau gejala seperti sakit kepala, muntah, pusing dan lebih sering mimisan (Bell, et al. 2013).

Tekanan darah yang tidak terkontrol akan menjadi sangat tinggi (keadaan ini disebut hipertensi berat atau hipertensi maligna) yang diderita bertahun-tahun, maka mungkin akan timbul gejala seperti: (a) sak it kepala saat terjaga, kadang- kadang disertai mual dan muntah akibat peningkatan tekanan darah intrakranium (b) penglihatan kabur akibat kerusakan hipertensif pada retina; (c) cara berjalan yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat; (d) nokturia yang disebabkan peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus; (e) edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler (Palmer, 2007).

2.1.7 Komplikasi Hipertensi

Menurut

Corwin

(2009)

komplikasi

yang

diakibatkan

oleh

penyakit

hipertensi

yaitu:

a. Stroke dapat terjadi akibat hemoragi tekanan darah di otak, atau akibat embolus

yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi

dan penebalan, sehingga aliran darah ke area otak yang diperdarahi kurang. Artero otak yang mengalami aterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma.

b. Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang atreosklerotik tidak dapat

menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus yang menghambat aliran darah melewati pembuluh darah. Pada hipertensi kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga, hipertrofi ventrikel dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan risiko pembentukan bekuan.

c. Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekana tinggi pada kapiler glomerulus ginjal. Dengan rusaknya glomerulus, aliran darah ke unit fungsional ginjal, yaitu nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksisk dan kematian. Dengan rusaknya membran gromelurus, protein akan

keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang dan menyebabkan edema, yang sering dijumpai pada hipertensi kronis.

d. Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi, terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang meningkat cepat dan berbahaya). Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan keruang intersisial di seluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron disekitar kolaps dan terjadi koma serta kematian.

e. Kejang dapat terjadi pada wanita preeklamsi. Bayi yang lahir mungkin memiliki berat lahir kecil masa kehamilan akibat perfusi placenta yang tidak adekuat, kemudian dapat mengalami hipoksia dan asidosis jika ibu mengalami kejang selama atau sebelum proses persalinan.

2.1.8

Penatalaksanaan Hipertensi

2.1.8.1

Terapi Non Farmakologi

Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan tekanan darah, dan secara umum sangat menguntungkan dalam menurunkan risiko permasalahan kardiovaskular. Pada pasien yang menderita hipertensi derajat 1, tanpa faktor risiko kardiovaskular lain, maka strategi pola hidup sehat merupakan tatalaksana tahap awal, yang harus dijalani setidaknya selama 4 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut, tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang diharapkan atau didapatkan faktor risiko kardiovaskular yang lain, maka sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi (Soenarta et al., 2015).

Berdasarkan Soenarta et al., (2015) terdapat beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh banyak guidelines adalah :

1. Penurunan berat badan

Mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan manfaat yang lebih selain penurunan tekanan darah, seperti menghindari diabetes dan dislipidemia.

2.

Mengurangi asupan garam

Di Indonesia, makanan tinggi garamdan lemak merupakan makanan tradisional pada kebanyakandaerah. Tidak jarang pula pasien tidak menyadari kandungangaram pada maka nan cepat saji, ma kanan kaleng, daging olahandan sebagainya. Tidak jarang, diet rendah garam ini juga bermanfaat untuk mengurangi dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi derajat ≥ 2. Dianjurkan untuk asupan garam tidak melebihi 2 gr/hari

3. Olah raga

Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30 60 menit/ hari, minimal 3 hari/ minggu, dapat me nolong penurunan tekanan darah. Terhadap pasien yang tidak memiliki waktu untuk berolahraga secara khusus, sebaiknya harus tetapdianjurkan untuk berjalan kaki, mengendarai sepeda atau menaiki tangga dalam aktivitas rutin mereka di tempat kerjanya.

4. Mengurangi konsumsi alkohol

Walaupun konsumsi alkohol belum menjadi pola hidup yang umum di Indonesia, namun konsumsi alkohol semakin hari semakin meningkat seiring dengan perkembangan pergaulan dan gaya hidup, terutama di kota besar. Konsumsi alkohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan demikian membatasi atau menghentikan konsumsi alkohol sangat membantu dalam penurunan tekanan darah.

5. Berhenti merokok

Walaupun hal ini sampai saat ini belum terbukti berefek langsung dapat

risiko

menurunkan tekanan darah,

tetapi merokok merupakan salah satu faktor

utama penyakit

kardiovaskular, dan pasien sebaiknya

dianjurkan untuk

berhenti

merokok.

2.1.8.2

Terapi Farmakologi

1.

Diuretik

Diuretik

menurunkan

tekanan

darah

terutama

dengan

mengosongkan

simpanan

natrium

dalam

tubuh.

Diuretik

menurunkan

tekanan

darah

dengan

mengurangi volume darah dan curah jantung, tetapi setelah 6-8 minggu maka curah jantung kembali normal sedangkan resistensi vaskular menurun. Natrium diperkirakan berperan dalam resistensi vaskular dengan meningkatkan kekakuan pembuluh darah dan reaktivasi saraf. Hal ini kemungkinan berhubungan dengan peningkatan pertukaran natrium-kalsium yang menghasilkan suatu peningkatan kalsium intraselular (Benowitz, 2009)

Empat subkelas diuretik yang digunakan untuk mengobati hipertensi yaitu tiazid, loop, agen penahan kalium, dan antagonis aldosteron. Diuretik terutama golongan tiazid merupakan lini pertama pada pasien hipertensi. Diuretik penahan kalium memiliki efek yang lemah bila digunakan sendiri tetapi memberikan efek aditif bila dikombinasi dengan golongan tiazid atau loop. Antagonis aldosterone memiliki efek yang lebih poten dengan mula kerja yang lambat (Depkes RI, 2006). Contoh diuretik tiazid yaitu hidroklorotiazid, klortalidon, dan indapamid. Diuretik loop yaitu bumetanid, torsemid, dan furosemid. Diuretik penahan kalium yaitu amilorid dan triamteren. Antagonis aldosteron yaitu eplerenon dan spironolakton (Chobanian dkk., 2014).

Semua obat diuretik oral efektif dalam mengobati hipertensi, tetapi tiazid ternyata yang paling luas digunakan. Kerja dari diuretik tiazid seperti hydrochlorothiazide, awalnya menurunkan tekanan darah dengan meningkatkan asupan natrium dan ekskresi air. Terapi jangka-lama, volume plasma mendekati nilai normal, tetapi resisten perifer menurun. Diuretik hemat-kalium sering kali dikombinasikan dengan tiaziid. Diuretik tiazid memiliki efek lebih lemah dan lambat, juga lebih lama (6-48 jam) dan terutama digunakan pada terapi pemeliharaan hipertensi dan kelemahan jantung (decompensatio cordis). Obat-obat ini memiliki kurva efek dosis datar, artinya bila dosis optimal dinaikkan lagi, efeknya (diuresis, penurunan tekanan darah) tidak bertambah (Tjay & Rahardja,

2007).

2. Alfa-Blocker Obat-obat ini merintangi receptor-alfa adrenerg yang terdapat di otot polos pembuluh, khususnya di pembuluh kulit dan mukosa. Dapat dibedakan 2 jenis receptor yaitu alfa-1 dan alfa-2, yang berada post-synaptis, alfa-2 juga presynaptis.

a. Alfa-1-Blocker

Penyekat alfa-1 bekerja pada pembuluh darah perifer dan menghambat pengambilan katekolamin pada sel otot halus, menyebabkan vasodilatasi dan menurunkan tekanan darah (ALLHAT, 2003) tanpa menyebabkan penurunan curah jantung dan takikardi. Contoh penyekat alfa- 1 yaitu prazosin, doksazosin, dan terazosin (Cross, 2006).

Penyekat alfa-1 harus dihindari pada pasien dengan penyakit kardiovaskular karena dapat meningkatkan resiko kematian (Barranger dkk., 2006). Efek samping yang tidak disukai dari penyekat alfa-1 adalah fenomena dosis pertama yang ditandai dengan pusing sementara atau pingsan, palpitasi, dan sinkop 1-3 jam setelah dosis pertama. Hipotensi ortostatik dan pusing dapat berlanjut dengan pemberian terus menerus. Penggunaannya harus hati-hati pada pasien lanjut usia. Penyekat alfa melewati hambatan otak-darah dan dapat menyebabkan efek samping pada sistem saraf pusat seperti kehilangan tenaga, letih, dan depresi (Depkes RI,

2006).

b. Alfa-2-Blocker

Klonidin dan metildopa menurunkan tekanan darah terutama dengan merangsang reseptor alfa- adrenergik di otak. Perangsangan ini menurunkan aliran simpatik dari pusat vasomotor di otak, curah jantung, dan tahanan perifer (Barranger dkk., 2006). Penggunaan agonis alfa- 2 sentral secara kronis menyebabkan retensi natrium dan air, terutama pada penggunaan metildopa. Klonidin dosis rendah dapat digunakan untuk mengobati hipertensi tanpa penambahan diuretik. Metildopa harus diberikan bersama diuretik untuk mencegah timbulnya efek antihipertensi yang terjadi dengan penggunaan jangka panjang, kecuali pada kehamilan (Depkes RI, 2006).

Penghentian penggunaan agonis alfa-2 sentral secara tiba-tiba dapat menyebabkan rebound hypertension. Efek ini diduga disebabkan oleh meningkatnya pelepasan norepinefrin. Metildopa dapat menyebabkan hepatitis atau anemia hemolitik, tetapi efek ini jarang terjadi. Metildopa harus dihentikan segera

apabila terjadi kenaikan serum transaminase atau alkalin fosfatase liver yang menetap (Oparil dkk., 2003).

3. Beta Blocker

Reseptor beta terdiri dari reseptor beta-1 dan reseptor beta-2. Reseptor beta- 1 yang terdapat di jantung dan ginjal berfungsi dalam mengatur denyut jantung, pelepasan renin, dan kontraktilitas jantung. Reseptor beta-2 yang terdapat di paru- paru, hati, pankreas, dan otot polos arteri berfungsi dalam mengatur bronkodilatasi dan vasodilatasi. Penyekat beta menurunkan tekanan darah dengan mengurangi curah jantung dan mengurangi pelepasan renin dari ginjal (Weber dkk., 2014).

Penyekat beta yang berikatan dengan reseptor beta-1 bersifat kardioselektif karena tidak menghambat reseptor beta-2 dan tidak menstimulasi bronkokonstriksi. Obat-obat yang termasuk dalam penyekat beta-1 seperti metoprolol, betaksolol, atenolol, asebutolol, dan bisoprolol lebih aman pada pasien asma, penyakit paru- paru obstruksi kronis, dan penyakit vaskular. Pada dosis tinggi, penyekat beta selektif kehilangan kardioselektifitasnya (Barranger dkk., 2006). Beberapa penyekat beta mempunyai aktivitas simpatomimetik intrinsik (ISA). Asebutolol, karteolol, penbutolo l, dan pindolol adalah penyekat beta ISA yang bekerja secara agonis pada beta reseptor parsial (Depkes RI, 2006). Penyekat beta ISA dapat menstimulasi reseptor beta tetapi dengan aksi yang lebih lemah dari agonis beta sebenarnya. Jika diberikan pada pasien dengan denyut jantung yang lemah, maka penyekat beta ISA dapat meningkatkan denyut jantung. Hal yang sebaliknya terjadi pada pasien dalam keadaan istirahat atau melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan takikardi, dimana pada pasien-pasien ini penyekat beta ISA dapat menurunkan denyut jantung karena adanya dominasi sifat penyekat beta (Saseen,

2009).

4. Obat-obat SSP

Agonis alfa-2-adrenerg menstimulasi receptor alfa-2-adrenerg yang banyak sekali terdapat di susunan saraf pusat (otak dan medula). Akibat rangsangan ini melalui suatu mekanisme feedback negatif, aktivitas saraf adrenerg perifer dikurangi. Pelepasan NA menurun dengan efek menurunnya daya tahan pembuluh

perifer dan TD. Efek ini sebetulnya paradoksal, karena banyak pembuluh memiliki receptor-alfa-2 yang justru menimbulkan vasokontriksi. Mekanisme efek hipotensinya yang tepat belum dipahami secara menyeluruh, hanya diketahui bahwa aktivitas SSP ditekan oleh aktivitas reseptor tersebut. Di samping itu, ditemukan bahwa pengikatan pada receptor-imidazolin-1 (Im1) di otak berefek menurunkan aktivitas saraf simpatik. Klonidin dan moksonidin juga bekerja via pengikatan pada reseptor Im1 ini. Metildopa dan guanfasin mengikat diri hanya pada receptor-alfa-2. Volume menit jantung dan frekuensinya praktis tidak dipengaruhi. Penggunaannya khusus pada semua bentuk hipertensi, biasanya dikombinasi dengan diuteikum (Tjay dan Rahardja, 2015).

Karena banyak efek sampingnya, zat ini bukan merupakan pilihan pertama, tetapi hanya sebagai obat cadangan bila obat-obat hipertensi lain kurang efektif. Klonidin juga digunakan pada migran dan terhadap gejala climacterium. Efek samping yang tersering berupa efek sentral, antara lain sedasi, mulut kering, sukar guram, bradycardia, impotensi, depresi dan gelisah. Pada umumnya sering kali dan hebat pada klonidin dan jarang pada maksonidin, metildopa, dan guanfasin. Hipertensi „rebound‟ pada penghentian pengobatan secara mendadak dapat terjadi, terutama pada klonidin dan reserpin serta lebih jarang pada obat-obat lain. Metildopa dapat digunakan oleh wanita hamil dengan hipertensi, sedangkan obat- obat lain belum memiliki cukup data. Klonidin, moksonidin dan metildopa masuk ke dalam air susu ibu (Tjay dan Rahardja, 2015).

5. Calsium Canal Blocker

Calcium channel blocker (CCB) menurunkan tekanan darah dengan menghambat aliran ion kalsium melalui kanal L pada sel otot polos arteri. Ada dua jenis CCB yaitu dihidropiridin seperti amlodipin dan nifedipin yang bekerja mendilatasi arteri, serta nondihidropiridin seperti dilitiazem dan verapamil yang bekerja mendilatasi arteri dengan efek yang lebih lemah dari dihidropiridin, tetapi

memiliki efek mengurangi denyut jantung dan kontraktilitas. Generasi pertama CCB seperti verpamil dan dilitiazem dapat mempercepat progresifitas congestive heart failure pada pasien dengan kelainan fungsi jantung. Penggunaan CCB generasi pertama harus dihindari kecuali untuk terapi pada pasien angina, hipertensi, atau aritmia. Dilitiazem dan verapamil harus dihindari pada pasien

dengan blok AV derajat 2 dan 3, gagal jantung kongesif karena disfungsi sitolik, hipotensi, bradikardi, dan arterial fibrilasi Nifedipin aksi pendek harus dihindari pada pasien hipertensi atau hipertensi emergensi karena menyebabkan tekanan darah diastolik tidak teratur dan takikardi (Barranger dkk., 2006). Efek samping utama CCB yaitu menyebabkan edema perifer yang biasa terjadi pada dosis tinggi. Efek samping ini dapat dikurangi dengan mengkombinasikan CCB bersama ACEI atau ARB. Calcium channel blocker (CCB) dihidropiridin menunjukkan efek yang menguntungkan pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dan stroke. Calcium channel blocker (CCB)

nondihidropiridin tidak direkomendasikan pada pasien gagal jantung, tetapi lebih dipilih pada pasien dengan detak jantung yang cepat dan untuk mengontrol detak jantung pada pasien atrial fibrillation yang tidak dapat mentoleransi penyekat beta. Calcium channel blocker (CCB) nondihidropiridin juga dapat mengurangi proteinuria. Calcium channel blocker (CCB) memiliki efek menurunkan tekanan darah yang besar ketika dikombinasi dengan ACEI atau ARB (Weber dkk., 2014).

6. Angiotensin Reseptor Blocker

Angiotensin- 2 dihasilkan dengan me libatkan dua jalur enzim yaitu RAAS (renin angiotensin aldosterone system) yang melibatkan ACE dan jalur alternative yang menggunakan enzim kimase. Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI) hanya menghambat efek angiotensin yang dihasilkan melalui RAAS, sedangkan ARB menghambat angiotensin-2 dari semua jalur. Angiotensin receptor blocker (ARB) menghambat secara langsung reseptor angiotensin-2 tipe 1 (AT1) yang memediasi efek angiotensin-2 yaitu vasokonstriksi, pelepasan aldosterone aktivasi saraf simpatik, pelepasan hormon antidiuretik, dan konstriksi arteriol eferen dari glomerulus. Angiotensin receptor blocker (ARB) tidak memblok reseptor angiotensin-2 tipe 2 (AT2). Hal ini menyebabkan efek yang menguntungkan dari stimulasi AT2 seperti vasodilatasi, perbaikan jaringan, dan penghambatan pertumbuhan sel tetap utuh dengan penggunaan ARB (Depkes RI, 2006). Contoh ARB yaitu valsartan, kandesartan, irbesartan, dan losartan (Chobanian dkk., 2004).

Penggunaan ARB biasanya dapat ditoleransi dengan baik, karena tidak menyebabkan batuk dan jarang menyebabkan angioedema . Angiotensin receptor

blocker (ARB) harus digunakan secara hati-hati pada pasien dengan kerusakan hati dan ginjal serta dikontraindikasikan pada kehamilan. Efek samping ARB meliputi pusing, kelelahan, diare, rasa sakit, dan infeksi (Weber dkk., 2014).

7. Vasodilator

Vasodilator adalah zat-zat yang berkhasiat vasodilatasi langsung terhadap arteriole dan dengan demikian menurunkan TD tinggi (Tjay dan Rahardja, 2015). Efek antihipertensi dari hidralazin dan minoksidil disebabkan oleh relaksasi langsung otot polos arteriolar tetapi tidak menyebabkan vasodilasi ke pembuluh darah vena. Kedua obat juga menyebabkan penurunan tekanan perfusi kuat yang mengaktifkan refleks baroreseptor. Pengaktifan baroreseptor menyebabkan meningkatnya aliran simpatik, sehingga meningkatkan denyut jantung, curah jantung, dan pelepasan renin (Depkes RI, 2006). Vasodilator arteri langsung dapat menyebabkan retensi cairan dan takikard ia sehingga penggunaannya harus dikombinasi dengan diuretik dan penyekat beta atau obat lainnya (klonidin, dilitiazem, atau verapamil) yang dapat mengurangi denyut jantung (Barranger dkk.,

2006).

Hidralazin dikontraindikasikan pada pasien dengan penyakit arteri coroner dan mitral valvular rhemautic heart disease. Minoksidil dikontraindikasikan pada pasien dengan pheochromocytoma, acute myocardial infraction, dan dissecting aortic aneurysm. Efek samping dari hidralazin yaitu terjadinya sindrom seperti lupus (dosis >300mg/hari), dematitis, demam, dan neuropati perifer. Minoksidil menyebabkan hirsutism (Barranger dkk., 2006).

8. ACE-Inhibitor

ACE-inhibitor menghambat perubahan Angiotensin-1 menjadi Angiotensin- 2 sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosterone. Selain itu, degradasi bradikinin juga dihambat sehingga kadar bradikinin dalam darah meningkat dan berperan dalam efek vasodilatasi ACE-inhibitor. Vasodilatasi secara langsung akan menurunkan tekanan darah, sedangkan berkurangnya aldosteron akan menyebabkan ekskresi air dan natrium dan retensi kalium (Ikawati dkk, 2008).

ACE-inhibitor tidak mengganggu refleks kardiovaskular dan tidak memiliki banyak efek samping seperti diuretik dan beta blocker. Efek yang tidak diinginkan dari penggunaan ACE-inhibitor yang sering terjadi adalah batuk kering yang bisa disebabkan oleh peningkatan bradikinin (Neal, 2006).

Walapun kadar Angiotensin-1 dan renin meningkat, namun pemberian ACE-inhibitor jangka panjang tidak menimbulkan toleransi dan penghentian obat ini biasanya tidak menimbulkan hipertensi rebound. Selain itu, ACE-inhibitor menurunkan resistensi perifer tanpa diikuti refleks takikardia. Besarnya penurunan tekanan darah pada pemberian akut sebanding dengan tingginya kadar renin yang tinggi, tetapi juga pada hipertensi dengan renin normal maupun rendah. Hal ini karena ACE-inhibitor menghambat degradasi bradikinin yang mempunyai efek vasodilatasi. Selain itu, ACE-inhibitor juga diduga berperan menghambat pembentukkan angiotensin- 2 secara local di endotel pembuluh darah. Pemberian diuretik dan pembatasan asupan garam akan memperkuat efek antihipertensinya. Berkurangnya produksi angiotensin-2 oleh ACE-inhibitor akan mengurangi sekresi aldosterone di korteks adrenal. Akibatnya terjadi sekresi air dan natrium, sedangkan kalium mengalami retensi sehingga ada tendensi terjadinya hyperkalemia terutama pada gangguan ginjal (Nafrialdi, 2009).

Pada ginjal ACE-inhibitor menyebabkan vasodilatasi arteri renalis sehingga meningkatkan aliran darah ginjal dan secara umum akan memperbaiki laju filtrasi glomerulus. Pada sirkulasi glomerulus, ACE-inhibitor menimbulkan vasodilatasi lebih dominan pada arteriol eferen disbanding dengan arteriol eferen sehingga menurunkan tekanan intraglomeruler. Efek ini dimanfaatkan untuk mengurangi proteinuria pada nefropati diabetik dan sindrom nefrotik, dan juga untuk memperlambat progresivitas nefropati diabetik. Namun pada stenosis unilateral pada ginjal tunggal ACE-inhibitor dapat memperburuk fungsi ginjal. Penurunan tekanan filtrasi glomerulus pada keadaan stenosis arteri renalis di atas dapat menimbulkan kegagalan filtrasi (Darnindro dan Muthalib, 2008).

ACE-inhibitor

efektif

untuk

hipertensi

ringan,

sedang

maupun

berat.

Bahkan beberapa diantaranya dapat digunakan pada krisis hipertensi seperti captopril dan enalaprilat. Obat ini efektif pad a sekitar 70% pasien. Kombinasi

dengan diuretik memberikan efek sinergistik. Kombinasi dengan beta bloker memberikan efek adiktif. Sedangkan kombinasi dengan vasodilator lain, termasuk prazosin dan antagonis kalsium, memberikan efek yang baik tetapi pemberian bersama penghambat adrenergik lain yang menghambat respons adrenergi α dan β sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan hipotensi berat dan berkepanjangan (Ikawati dkk, 2008).

Macam-macam obat Penghambat Angiotensin-Converting Enzyme (ACE- inhibitor) adalah terdiri dari sepuluh macam, yaitu: Captopril, lisinopril, perindopril, ramipril, quinapril, enalapril, benazepril, fisinopril, trandozapril dan imidapril (Tjay dan Raharja, 2010).

2.2

Amplodipine

2.2.1

Definisi Amlodipine

Obat Amlodipine merupakan penghambat kanal kalsium yang termasuk golongan dihidropiridin. Obat ini bekerja dengan menghambat masuknya ion kalsium melalui membran sel ke dalam sel otot polos vaskular dan sel otot jantung yang akan mempengaruhi kontraksi otot polos vaskular dan kontraksi otot jantung. obat ini menghambat masuknya ion kalsium secara selektif lebih ke otot polos vaskular dibandingkan dengan otot jantung (Anonim, 2017).

2.2.2 Dosis Amlodipine

a. Hipertensi dan angina dosis awal 1x5 mg bila perlu di tingkatkan sampai dengan sehari maks 10 mg (ISO Vol.48).

b. Hipertensi; angina stabil kronis diberikan p er oral 5 sampai 10 mg dan pada lansia

di berikan per oral awalnya 2,5 mg (A to Z).

c. Dosis awal pengobatan dengan amlodipine adalah 2.5 mg satu kali sehari, kemudian dapat ditingkatkan menjadi 5 mg satu kali sehari dosis maksimum adalah 10 mg satu kali sehari (Anonim,2017).

2.2.3 Farmakokinetik Amlodipine baik diserap setelah dosis oral dengan puncak konsentrasi darah yang terjadi setelah 6 sampai 12 jam. Itu bioavailabilitas bervariasi tetapi

biasanyasekitar 60 sampai 65%. Amlodipine dilaporkan menjadi sekitar 97,5% terikat protein plasma. Memiliki eliminasi terminal berkepanjangan paruh 35 sampai 50 jam dan mapan plasma konsentrasi tidak tercapai sampai setelah 7-8 hari penggunaan. Amlodipine secara ekstensif dimetabolisme di hati; metabolit sebagian besar diekskresikan dalam urin bersama-sama dengan kurang dari 10% dari dosis sebagai obat tidak berubah. amlodipine tidak dihapus oleh dialisis.(sweetman, 2009)

2.2.4 Farmakodinamik

Hemodinamik: Setelah pemberian dosis terapi untuk pasien dengan hipertensi, Amlodipine menghasilkan vasodilatasi menghasilkan penurunan tekanan darah terlentang dan berdiri. Ini penurunan tekanan darah tidak disertai dengan perubahan yang signifikan pada tingkat detak jantung atau katekolamin plasma dengan dosis kronis. Meskipun pemberian intravena akut Amlodipine menurunkan tekanan darah arteri dan meningkatkan denyut jantung dalam studi hemodinamik pasien dengan angina stabil kronis, pemberian oral kronis Amlodipine dalam uji klinis tidak menyebabkan perubahan yang signifikan dalam tekanan tingkat atau darah jantung pada pasien normotensif dengan angina (Anonim, 2017).

Dengan pemberian oral sekali sehari kronis, efektivitas antihipertensi dipertahankan selama minimal 24 jam. konsentrasi plasma berkorelasi dengan efek pada pasien muda dan tua. Besarnya penurunan tekanan darah dengan Amlodipine juga berkorelasi dengan ketinggian elevasi pretreatment; dengan demikian, individu dengan hipertensi sedang (tekanan diastolik 105-114 mmHg) memiliki sekitar respon 50% lebih besar dibandingkan pasien dengan hipertensi ringan (tekanan diastolik 90-104 mmHg). darah normal tidak mengalami perubahan yang signifikan secara klinis tekanan darah (+ 1 / -2 mmHg) (Anonim, 2017).

2.2.5 Efek Samping

Efek

samping

yang

sering

dilaporkan

adalah

nyeri

abdomen,

mual,

palpitasi,

wajah

memerah,

edema,

gangguan

tidur,

sakit

kepala,

pusing,

letih;

Jarang

terjadi,

gangguan

saluran

cerna,

mulut

kering,

gangguan

pengecapan,

hipotensi,

pingsan,

nyeri

dada,

dispnea,

rhinitis,

perubahan

perasaan,

tremor,

paraestesia, gangguan kencing, impoten, ginekomastia, perubahan berat badan, mialgia, gangguan penglihatan, tinitus, pruritus, ruam kulit (termasuk adanya laporan eritema multiform), alopesia, purpura dan perubahan warna kulit; Sangat jarang, gastritis, pankreatitis, hepatitis, jaundice, kolestasis, hiperplasia pada gusi, infark miokard, aritmia, vaskulitis, batuk, hiperglikemia, trombositopenia, angioedema dan urtikaria (Anonim, 2017).

2.2.6 Kontraindikasi

Obat amlodipine tidak dapat digunakan pada beberapa keadaan berikut :

penderita yang memiliki riwayat hipersensitif atau riwayat alergi terhadap amlodipine atau calcium channel blockers lain. Penderita yang mengalami syok kardiogenik, stenosis aorta, atau angina pektoris yang tidak stabil. Penderita yang tekanan darah rendah yaitu kurag dari 90/60 mmHg). Penderita yang sedang hamil dan menyusui (Anonim, 2017).

2.3

TEORI KAP (Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku)

2.3.1

Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan merupakan penindraan melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat pentng dalam membentuk perilaku seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo, 2007)

Menurut Notoatmodjo (2007) Pengetahuan dalam kognitif tercakup domain kogitif mempunyai 6 tingkat, yakni :

1)

Tahu (know)

dalam

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetauan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang telah diterima. Contohnya: dapat menyebutkan tanda gejala dari pengobatan hipertensi.

2)

Memhami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.Misalnya, dapat menjelaskan mengapa harus minum obat secara teratur.

3)

Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

4)

Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat menggambarkan (membuat bagan),

membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

5)

Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, merencanakan, menjelaskan, menyesuaikan, dan sebagainya, terhadap suatu materi atau rumusan- rumusan yang telah ada.

6)

Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

2.3.2 Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari- hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcob, salah seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atua kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2007).

Menurut Allport (1954) menjelakaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yaitu :

1. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.

2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiranm dan emosi memegang peranan penting. Suatu contoh misalnya, seorang ibu telah mendengar tentang penyakit hipertensi (penyebab, akibat, pencegahan, dan sebagainya). Pengetahuanini akan membawa ibu untuk berpikir dab berusaha supaya anaknya tidak terkena penyakit hipertensi. Dalam berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga ibu tersebut berniat mengimunisasikan anaknya untuk mencegah agar tidak terkena hipertensi. ibu ini mempunyai sikap

tertentu terhadap objek yang berupa penyakit hipertensi. Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tindakan (Notoatmodjo, 2007).

1. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan

stimulus yang diberikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap gizi dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang gizi.

2. Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menjelaskan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha

untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.

3. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Mislanya: seorang ibu yang mengajak ibu yang lain (tetangganya, saudaranya, dan sebagainya) untuk pergi menimbangkan anaknya ke posyandu atau mendiskusikan tentang gizi, adalah suatu bukti bahwa si ibu tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap gizi anak

4. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko yang merupakan sikap yang paling tinggi. Misalnya: seorang ibu mau Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara

langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Misalnya, sebagaimana pendapat anda tentang pelayanan dokter di Rumah Sakit ? Secara langsung dapat dilakukan dengan pernyataan- pernyataa hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden. Misalnya, apabila ruah ibu luas, apakah boleh dipakai untuk kegiatan posyandu ? atau saya akan menukah apabila saya sudah berumur 25 tahun (sangat setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju).menjadi akseptor KB, meskipun mendapat tantangan dari mertua atau orang tuanya sendiri.

2.3.3 Praktik atau Tindakan (Practice) Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (over behavior).

Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor

pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Di samping faktor fasilitas, juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain, misalnya dari suami atau istri, orang tua atau mertua, dan lain-lain. Praktik ini mempunyai beberapa tingkatan.

1. Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama. Misalnya, seorang ibu dapat memilih makanan yang bergizi tinggi bagi anak balitanya.

2. Respons terpimpin (guided response)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat dua. Misalnya, seorang ibu dapat memasak sayur dengan benar, mulai dari cara mencuci dan memoto ng- motongnya, lamanya memasak, menutup pancinya, dan sebagainya.

3. Mekanisme (mecanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga. Misalnya, seorang ibu yang sudah mengimunisasikan bayinya pada umur-umur tertentu, tanpa menunggu perintah atau ajakan orang lain.

4. Adopsi (adoption)

Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya, tindakan itu sudah dimodifikasikannya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Misalnya, ibu dapat memilih dan memasak makanan yang bergizi tinggi berdasarkan bahan-bahan yang murah dan sederhana.

Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dialkukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lau (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.

2.4

Kepatuhan

2.4.1 Pengertian Kepatuhan

Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh yang artinya taat. Kepatuhan adalah perilaku pasien dalam melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan dokter atau orang lain (Arisman, 2004).

Kepatuhan adalah tingkat ketepatan perilaku seorang individu dengan nasehat medis atau kesehatan. Dengan menggambarkan penggunaan obat sesuai petunjuk pada resep serta mencakup penggunaannya pada waktu yang benar (Siregar, 2006).

Kepatuhan seorang pasien yang menderita hipertensi tidak hanya dilihat berdasarkan kepatuhan dalam meminum obat antihipertensi tetapi juga dituntut peran aktif pasien dan kesediaanya untuk memeriksakan ke dokter sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Keberhasilan dalam mengendalikan tekanan darah tinggi merupakan usaha bersama antara pasien dan dokter yang menanganinya

(Burnier,2001).

2.4.2 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan Hipertensi

1. Jenis Kelamin

Perbedaan jenis kelamin yang ditentukan secara biologis, yang secara fisik melekat pada masing-masing jenis kelamin, laki-laki dan perempuan (Rostyaningsih, 2013). Jenis kelamin berkaitan dengan peran kehidupan dan perilaku yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Dalam hal menjaga kesehatan, biasanya kaum perempuan lebih memperhatikan kesehatanya dibandingkan dengan laki-laki. Perbedaan pola perilaku sakit juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, perempuan lebih sering mengobatkan dirinya dibandingkan dengan laki-laki (Notoatmodjo, 2010).

2. Pendidikan

Pendidikan

adalah

suatu

kegiatan,

usaha

manusia

meningkatkan

kepribadian

atau

proses

perubahan

perilaku

menuju

kedewasaan

dan

penyempurnaan kehidupan manusia dengan jalan membina dan mengembangkan potensi kepribadiannya, yang berupa rohni (cipta, rasa, karsa) dan jasmani. Domain pendidikan dapat diukur dari (Notoatmodjo, 2003) :

1. Pengetahuan terhadap pendidikan yang diberikan (knowledge).

2. Sikap atau tanggapan terhadap materi pendidikan yang diberikan (attitude).

3. Praktek atau tindakan sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan.

Menurut penelitian yang dilakukan Ekarini (2011) dan Mubin dkk (2010) menunjukan tingkat pendidikan berhubungan dengan tingkat kepatuhan pasien hipertensi dalam menjalani pengobatan. Responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi sebagian besar memiliki kepatuhan dalam menjalani pengobatan.

3. Status Pekerjaan

Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003), pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang, dan banyak tantangan. Orang yang bekerja cenderung memiliki sedikit waktu untuk mengunjungi fasilitas kesehatan (Notoatmodjo, 2007).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Su-Jin Cho (2014) pekerjaan memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pasien hipertensi dalam menjalani pengobatan (p=0,006). Dimana pasien yang bekerja cenderung tidak patuh dalam menjalani pengobatan dibanding dengan mereka yang tidak bekerja.

4. Lama Menderita Hipertensi

Tingkat kepatuhan penderita hipertensi di Indonesia untuk berobat dan kontrol cukup rendah. Semakin lama seseorang me nderita hipertensi maka tingkat kepatuhanya makin rendah, hal ini disebabkan kebanyakan penderita akan merasa bosan untuk berobat (Ketut Gama et al, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Suwarso (2010) menunjukan ada hubungan yang signifikan antara lama menderita hipertensi dengan ketidakpatuhan pasien penderita hipertensi dalam menjalani

pengobatan (p=0,040). Dimana semakin lama seseorang menderita hipertensi maka cenderung untuk tidak patuh karena me rasa jenuh menjalani pengobatan atau meminum obat sedangkan tingkat kesembuhan yang telah dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan.

5. Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga dapat menjadi faktor yang dapat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan individu serta menentukan program pengobatan yang akan mereka terima. Keluarga juga memberi dukungan dan membuat keputusan mengenai perawatan anggota keluarga yang sakit. Derajat dimana seseorang terisolasi dari pendampingan ora ng lain, isolasi sosial, secara negatif berhubungan dengan kepatuhan (Carpenito,2000).

6. Peran Tenaga Kesehatan

Peran serta dukungan petugas kesehatan sangatlah besar bagi penderita, dimana petugas kesehatan adalah pengelola penderita sebab petugas adalah yang paling sering berinteraksi, sehingga pemahaman terhadap konsisi fisik maupun psikis menjadi lebih baik dan dapat mempengaruhi rasa percaya dan menerima kehadiran petugas kesehatan dapat ditumbuhkan dalam diri penderita dengan baik (A.Novian, 2013). Selain itu peran petugas kesehatan (perawat) dalam pelayan kesehatan dapat berfungsi sebagai comforter atau pemberi rasa nyaman, protector, dan advocate (pelindung dan pembela), communicator, mediator, dan rehabilitator. Peran petugas kesehatan juga dapat berfungsi sebagai konseling kesehatan, dapat dijadikan sebagai tempat bertanya oleh individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat untuk memecahkan berbagai masalah dalam bidang kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat (Wahid Iqbal Mubarak, 2007).

Depkes RI, 2012. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI, 2014. Pusat dan Informasi Hipertensi. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Susilo,Y & Wulandary,A (2011). Cara jitu mengatasi hipertensi, Yogyakarta : C.V Andi Offset.

World Health Organization., 2000. Obesity, Preventing and Managing the Global Epidemic. Report of a WHO consultation, Tecnical Report Series 894. Generva: World Health Organization.

Dinkes Prov. Jatim. 2017. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

Dinkes Kab. Bangkalan. 2017. Profil kesehatan KAbupaten Bangkalan 2016

Kemenkes RI (2018). Profil kesehatan Indonesia 2017

American Heart Association. 2016. Risk factors for stroke, 12. Dallar. Texas: American Heart Association News

Jimmy, B. & Jose, J. (2011). Patient Medication Adherence: Measures in Daily Practice. Oman Medical Journal, 26(3), 155-159, DOI

10.5001/omj.2011.38.

Kosasih dan Hassan, I., (2013), Patofisiologi Klinik, Jakarta: Binarupa Aksara Publisher

Pratiwi, M., Tala, Z. 2013. Gambaran Status Gizi Pasien Lansia di RSUP H. Adam Malik Medan.

Kemenkes, RI., 2015. INFODATIN Hipertensi. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Jakarta.

JNC VII. 2003. The seventh report of the Joint National Committee on prevention, detection, evaluation, and treatment of high blood pressure. Hypertension, 42: 1206-52.

Weber, M.A., Schiffrin, E.L., White, W.B., Mann, S., Lindholm, L.H., Kenerson, J.G., dkk., 2014. Clinical Practice Guidelines for the Management of Hypertension in the Community: A Statement by the American Society of Hypertension and the International Society of Hypertension. Journal of Clinical Hypertension (Greenwich, Conn.), 16: 1426.

Robbins, dkk., 2007. Buku Ajar Patologi Volume 2 Edisi 7. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Depkes RI. 2006. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Penyakit Hipertensi. Departemen kesehatan. Jakarta

Depkes RI., 2006. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Departemen Kesehatan. Jakarta

Saseen, J.J., 2009, Essential Hypertension dalam Koda-Kimble, M.A., Young, L.Y., Alldredge, B.K., Corelli, R.L., Guglielmo B.J., Kradjan W.A. dan Williams B.R., (Eds.), Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs, Ninth Edition. 347-386, Lippincot Williams dan Wilkins, Philadelphia.

Sasseen, JJ., and Maclaughlin, EJ., 2008. Cardiovascular Disorder: Hypertention. Editor: DiPiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M., Pharmacotherapy A Pathophysiological Approach, Sixth Edition. MCGRAW-HILL Medical Publishing Division, New York.

Anggraini, A.D., Waren, A., Situmorang, E., Asputra, H., dan Sagita, S., 2009. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas Bangkinang. Riau :

Laporan penelitian FK UNRI.

Palmer, A. (2007). Tekanan Darah Tinggi. Jakarta : Erlangga.

Bell, K., June, T., &Bernie, R. O. (2015). Hypertension: The Silent Killer:

Updated JNC-8 Guideline Recommendations. Alabama Pharmacy Association,

5-7

Corwin, E. J. (2009). Buku Saku Patofisiologi (3th Ed.). Jakarta: EGC

Soenarta, AA, et al., 2015. Pedoman Tatalaksana Hipertensi Pada Penyakit Kardiovaskuler.Edisi I. Indonesia: Himpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia 2015.

Benowitz NL., 2009. Antihypertensive Agents. Dalam Katzung BG, Ed. Basic and Clinical Pharmacology Edisi 11. San Fransisco: McGrawHill

Tjay, T.H., Rahardja, K., 2007. Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya. Edisi 6. Jakarta: Gramedia

Depkes RI. 2006. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Penyakit Hipertensi. Departemen kesehatan. Jakarta

Cho, Su-Jin, Jinhyun Kim. 2014. Factors Associated With Nonharence to Antihypertensive Medication, Vol. 16, Hal. 461-467

Arisman, 2004. Penilaian Status Gizi Perorangan dalam Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC

Siregar, Charles., 2006. Farmasi Klinik Teori dan Penerapan. Jakarta: EGC

Burnier M., Schneider MP., Chiolero A., Stubi CL., Brunner HR., 2001. Electronic Compliance Monitoring in Resistant Hypertension: the Basis for Rationaltherapeutic Decisions. Journal of Hypertension