Anda di halaman 1dari 24

USULAN SKRIPSI

TAUFIK HALDI

PENGARUH PENGETAHUAN DAN SIKAP PENDERITA


HIPERTENSI TERHADAP KEPATUHAN PENGGUNAAN
OBAT AMPLODIPIN
(Studi Di Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Kemenkes RI, 2014).
Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala sehingga juga di sebut sillent killer,
tetapi tekanan darah yang terus tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat
menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu, hipertensi dideteksi dini dengan
pemeriksaan tekanan darah secara berkala (Depkes RI, 2012).

Prevalensi penduduk dengan tekanan darah tinggi secara nasional sebesar


30,9%. Prevalensi tekanan darah tinggi pada perempuan (32,9%) lebih tinggi
dibanding dengan laki-laki (28,7%) (Depkes RI, 2017). Berdasarkan data Dinas
kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2016, persentase hipertensi sebesar 13,47%
atau sekitar 935.736 penduduk, dengan proporsi laki-laki sebesar 13,78% (387.913
penduduk) dan perempuan sebesar 13.25% (547.823 penduduk). Sedangkan untuk
Kabupaten Bangkalan, persentasi hipertensi sebesar 15,03% atau sekitar 38.139
penduduk, dengan proporsi laki-laki 16,10% (17.777 penduduk) dan perempuan
14,22% (20.352 penduduk) (Dinkes Prov. Jatim, 2017).
Ada dua terapi yang dilakukan untuk mengobati hipertensi yaitu terapi non
farmakologis dan terapi farmakologis. Terapi non farmakologis dapat dilakukan
dengan modifikasi gaya hidup yang meliputi berhenti merokok, melakuan diet berat
badan, menghindari alkohol, serta yang mencakup psikis antara lain menghindari
stress, melakukan olah raga, dan istirahat yang cukup, sedangkan terapi
farmakologis menggunakan obat-obatan antihipertensi yang dapat menurunkan
tekanan darah. Golongan obat antihipertensi antara lain beta blocker, angiotensin II
receptor blocker (ARB), angiostensin converting enzym inhibitor (ACEI), diuretic,
dan calcium channel blocker dianggap sebagai obat antihipertensi utama dan salah
satunya obat amlodipin untuk pengendalian tekanan darah tinggi (Depkes, 2006).
Amlodipin merupakan obat antihipertensi yang tergolong dalam obat
antagonis kalsium golongan dihidropiridin (antagonis ion kalsium). Amlodipin
bekerja dengan menghambat influks (masuknya) ion kalsium melalui membran ke
dalam otot polos vaskular dan otot jantung seingga mempengaruhi kerja kontraksi
otot polos vaskular dan otot jantung. Dosis satu kali sehari akan menghasilkan
penurunan tekanan darah yang berlangsung 24 jam. Onset kerja dari amlodipin
adalah perlahan-lahan, sehingga tidak menyebabkan terjadinya hipotensi akut
(Sukmayanti Alegantina, 2015).
Kepatuhan merupakan sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan
yang diberikan oleh profesional kesehatan. Pengetahuan pasien terhadap
penggunaan obat amlodipin sangat berpengaruh pada kepatuhan berobat karena
semakin tinggi pengetahuan yang dimiliki oleh pasien, maka semakin tinggi pula
kesadaran untuk patuh berobat terapi amlodipin (Niven, 2002).

Pada Teori Lawrence Green terdapat faktor-faktor perilaku yang dibentuk


dari 3 faktor, yaitu faktor pemudah (Predisposing factor), faktor pemungkin
(Enabling factor) dan faktor pendorong (Reinforcing factor) predisposisi
(Predisposing factors). Pada penelitian ini termasuk dalam faktor predisposisi, yaitu
faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku
seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai,
tradisi, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan tentang obat sangat
diperlukan oleh pasien untuk dapat menggunakan obat dengan benar, tujuannya
agar pasien memperoleh terapi yang maksimal dengan efek samping yang minimal.
Pengetahuan juga diperlukan untuk menghindari terjadinya komplikasi dari
penyakit yang sedang diderita oleh pasien tersebut (Notoatmodjo, 2007).

Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Burneh karena kasus hipertensi di


kecamatan Burneh cukup tinggi, yaitu sebesar 1,70% atau sekitar 560 penduduk,
dengan proporsi laki-laki sebesar 1,82% (263 penduduk) dan perempuan sebesar
1,77% (297 penduduk) (Dinkes Kab. Bangkalan, 2017).

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka pada penelitian ini ingin


dianalisis, pengaruh pengetahuan dan sikap penderita hipertensi terhadap kepatuhan
penggunaan obat amlodipin di Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan permasalahan penelitian
yaitu:”Apakah ada pengaruh pengetahuan dan sikap penderita terhadap kepatuhan
penggunaan obat amplodipin di Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan”?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh pengetahuan dan sikap penderita hipertensi terhadap
kepatuhan penggunaan obat amplodipin di Puskesmas Burneh Kabupaten
Bangkalan.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengetahuan dan sikap pasien tentang hipertensi di Puskesmas
Burneh Kabupaten Bangkalan.
b. Mengetahui kepatuhan penggunaan obat amplodipin di Puskesmas Burneh
Kabupaten Bangkalan.
c. Menganalisis pengaruh pengetahuan dan sikap terhadap kepatuhan penggunaan
obat amplodipin di Puskesmas Burneh Kabupaten Bangkalan.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peneliti untuk
menambah wawasan mengenai pengaruh pengetahuan dan sikap penderita
hipertensi terhadap kepatuhan penggunaan obat amplodipin.
2. Bagi Universitas
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran dan sebagai
sumber referensi dalam pengambilan data untuk penelitian berikutnya.
3. Bagi Puskesmas
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas maupun kuantitas
dalam melaksanakan pengobatan hipertensi.
4. Bagi Penderita Hipertensi
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman dan pengetahuan
mengenai pelaksanaan pengobatan hipertensi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hipertensi
2.1.1 Definisi Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah
sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada
dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup
istirahat/tenang. Hipertensi merupakan suatu gangguan pada sistem peredaran
darah, yan cukup banyak mengganggu kesehatan masyarakat. Peningkatan tekanan
darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan
kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak
(menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan
yang memadai (InfoDatin, 2015).
Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi
berbagai faktor risiko yang dimiliki seseorang. Faktor pemicu hipertensi dibedakan
menjadi yang tidak dapat dikontrol seperti riwayat keluarga, jenis kelamin, dan
umur, serta faktor yang dapat dikontrol seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik,
perilaku merokok, pola konsumsi makanan yang mengandung natrium dan lemak
jenuh (Pratiwi, 2013).
2.1.2 Epidimiologi Hipertensi
Hampir di setiap negara, hipertensi menduduki peringkat pertama sebagai
penyakit yang paling sering dijumpai (WHO, 2000). Hipertensi merupakan salah
satu faktor risiko utama yang menjadi angka kematian global, dan diperkirakan
telah mengakibatkan terjadinya 9,4 juta kematian di dunia. Hipertensi adalah salah
satu faktor risiko utama kematian global dan diperkirakan telah menyebabkan 9,4%
kematian dunia per tahunnya. Prevalensi hipertensi disetiap tahunnya diperkirakan
akan terus meningkat sebanyak 7,2% mulai tahun 2013 hingga 2030 (American
Heart Association, 2013).
Prevalensi penduduk dengan tekanan darah tinggi secara nasional sebesar
30,9%. Prevalensi tekanan darah tinggi pada perempuan (32,9%) lebih tinggi
dibanding dengan laki-laki (28,7%).Prevalensi di perkotaan sedikit lebih tinggi
(31,7%) dibandingkan dengan perdesaan (30,2%). Prevalensi semakin meningkat
seiring dengan pertambahan umur (Depkes RI, 2017).
Pada tahun 2016, di Provinsi Jawa Timur, persentase hipertensi sebesar
13,47% atau sekitar 935.736 penduduk, dengan proporsi laki-laki sebesar 13,78%
(387.913 penduduk) dan perempuan sebesar 13.25% (547.823 penduduk).
Sedangkan untuk Kabupaten Bangkalan, persentasi hipertensi sebesar 15,03% atau
sekitar 38.139 penduduk, dengan proporsi laki-laki 16,10% (17.777 penduduk) dan
perempuan 14,22% (20.352 penduduk) (Dinkes Prov. Jatim, 2017).
Pada tahun 2016, di Kabupaten Bangkalan tepatnya di kecamatan Burneh,
persentase hipertensi sebesar 1,70% atau sekitar 560 penduduk, dengan proporsi
laki-laki sebesar 1,82% (263 penduduk) dan perempuan sebesar 1,77% (297
penduduk) (Dinkes Kab. Bangkalan, 2017).
2.1.3 Klasifikasi Hipertensi

Berdasarkan tingginya tekanan darah seseorang dikatakan hipertensi bila


tekanan darahnya lebih dari 140mmHg. Untuk pembagian yang lebih rinci, The
seventh of Joint Nasional Committee On Prevention, Detection, Evaluation and
Treatment of High Blood Pressure yaitu Badan peneliti di Amerika serikat (USA)
yang lebih dikenal dengan sebutan JNC VII, menentukan klasifikasi tekanan darah
orang dewasa umur lebih dari 18 tahun yang dapat dilihat pada tabel:

Tabel 2.1. Klasifikasi tekanan darah orang dewasa umur lebih dari 18 tahun
(JNC 7)
Klasifikasi Sistol (mmHg) Diastole (mmHg)
Normal < 120 <80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi tingkat 1 140-159 90-99
Hipertensi tingkat 2 >160 >100

2.1.4 Etiologi Hipertensi

Hipertensi berdasarkan etiologinya dibagi menjadi dua yaitu hipertensi


primer atau esensial dan hipertensi sekunder.
2.1.4.1 Hipertensi Primer

Sekitar 95% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi esensial


(primer). Penyebab hipertensi esensial ini masih belum diketahui, tetapi faktor
genetik dan lingkungan diyakini menyebabkan hipertensi esensial. Faktor genetik
dapat menyebabkan kenaikan aktivitas dari sistem renin-angiotensin-aldosteron
dan sistem saraf simpatik serta sensitivitas garam terhadap tekanan darah. Selain
faktor genetik, faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi
yaitu konsumsi garam, obesitas dan gaya hidup yang kurang sehat serta merokok
dan konsumsi alkohol (Weber dkk, 2014).

2.1.4.2 Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder disebabkan oleh adanya penggunaan obat-obat tertentu


yang dapat meningkatkan tekanan darah. Obat-obat tertentu, baik secara langsung
ataupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi atau memperberat hipertensi.
Penghentian penggunaan obat tersebut merupakan tahap pertama dalam
penanganan hipertensi sekunder (Depkes RI, 2006).

2.1.5 Patofisiologi Hipertensi

Tekanan darah merupakan suatu sifat kompleks yang ditentukan oleh


interaksi berbagai faktor seperti faktor genetik dan lingkungan yang mempengaruhi
dua variabel hemodinamik yaitu curah jantung dan resistensi perifer total (Robbins
dkk, 2007). Curah jantung merupakan faktor yang menentukan nilai tekanan darah
sistolik dan resistensi perifer total menentukan nilai tekanan darah diastolik.
Kenaikan tekanan darah dapat terjadi akibat kenaikan curah jantung dan/atau
kenaikan resistensi perifer total (Saseen dan Maclaughlin, 2008).

Ginjal memiliki peranan dalam mengendalikan tekanan darah melalui


sistem renin-angiotensin-aldosteron. Mekanisme pengaturan tekanan darah oleh
ginjal. Renin yang dihasilkan oleh sel justaglomerulus ginjal mengubah
angiotensinogen menjadi angiotensin-1, kemudian angiotensin-1 diubah menjadi
angiotensin-2 oleh angiotensin converting enzyme (ACE). Angiotensin-2 dapat
berikatan dengan reseptor angiotensin-2 tipe 1 (AT1) atau reseptor angiotensin-2
tipe 2 (AT2). Stimulasi reseptor AT1 dapat meningkatkan tekanan darah melalui
efek pressor dan volume darah (Saseen dan Maclaughlin, 2008). Efek pressor
angiotensin-2 meliputi vasokonstriksi, stimulasi pelepasan katekolamin dari
medula adrenal, dan meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik. Selain itu,
angiotensin-2 menstimulasi sintetis aldosteron dari korteks adrenal yang
menyebabkan retensi natrium dan air. Retensi natrium dan air ini mengakibatkan
kenaikan volume darah, kenaikan resistensi perifer total, dan akhirnya kenaikan
tekanan darah (Saseen dan Maclaughlin, 2008; Saseen, 2009).

Tekanan darah juga diregulasi oleh sistem saraf adrenergik yang dapat
menyebabkan terjadinya kontraksi dan relaksasi pembuluh darah. Stimulasi
reseptor a-2 pada sistem saraf simpatik menyebabkan penurunan kerja saraf
simpatik yang dapat menurunkan tekanan darah. Stimulasi reseptor a-1 pada perifer
menyebabkan terjadinya vasokonstriksi yang dapat meningkatkan tekanan darah.
Stimulasi reseptor ß-1 pada jantung menyebabkan kenaikan denyut jantung dan
kontraktilitas, sedangkan stimulasi reseptor ß-2 pada arteri dan vena menyebabkan
terjadinya vasodilatasi (Saseen dan Maclaughlin, 2008; Saseen, 2009).

2.1.6 Manifestasi Klinis Hipertensi

Hipertensi dikenal dengan sebutan “Silent Killer” karena hipertensi tidak


menunjukkan tanda dan gejala, dan banyak orang yang tidak mengetahui bahwa
mereka menderita penyakit ini. Bahkan ketika tekanan darah yang sangat tinggi,
sebagian besar orang tidak memiliki tanda-tanda atau gejala seperti sakit kepala,
muntah, pusing dan lebih sering mimisan (Bell, et al. 2013).

Tekanan darah yang tidak terkontrol akan menjadi sangat tinggi keadaan ini
disebut hipertensi berat, maka mungkin akan timbul gejala seperti:

(a) sakit kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah akibat
peningkatan tekanan darah intrakranium
(b) penglihatan kabur akibat kerusakan hipertensif pada retina;
(c) cara berjalan yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat;

(d) nokturia yang disebabkan peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerulus;
(e) edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler
(Palmer, 2007).

2.1.7 Komplikasi Hipertensi

Menurut Corwin (2009) komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit hipertensi


yaitu:

a. Stroke dapat terjadi akibat hemoragi tekanan darah di otak atau akibat embolus
yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tinggi. Stroke dapat terjadi
pada hipertensi kronis apabila arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi
dan penebalan, sehingga aliran darah ke area otak yang diperdarahi kurang. Artero
otak yang mengalami aterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan
kemungkinan terbentuknya aneurisma.

b. Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang atreosklerotik tidak dapat
menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus yang
menghambat aliran darah melewati pembuluh darah. Pada hipertensi kronis dan
hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi
dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga,
hipertrofi ventrikel dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi
ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan risiko
pembentukan bekuan.

c. Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekana tinggi pada
kapiler glomerulus ginjal. Dengan rusaknya glomerulus, aliran darah ke unit
fungsional ginjal, yaitu nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi
hipoksisk dan kematian. Dengan rusaknya membran gromelurus, protein akan
keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang dan
menyebabkan edema, yang sering dijumpai pada hipertensi kronis.

d. Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi, terutama pada hipertensi maligna


(hipertensi yang meningkat cepat dan berbahaya). Tekanan yang sangat tinggi pada
kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan
keruang intersisial di seluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron disekitar kolaps
dan terjadi koma serta kematian.
e. Kejang dapat terjadi pada wanita preeklamsi. Bayi yang lahir mungkin memiliki
berat lahir kecil masa kehamilan akibat perfusi placenta yang tidak adekuat,
kemudian dapat mengalami hipoksia dan asidosis jika ibu mengalami kejang
selama atau sebelum proses persalinan.

2.1.8 Penatalaksanaan Hipertensi


2.1.8.1 Terapi Non Farmakologi

Berdasarkan Soenarta et al., (2015) terdapat beberapa pola hidup sehat yang
dianjurkan oleh banyak guidelines adalah :

1. Penurunan berat badan

Melakukan diet dan mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak


asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan manfaat yang lebih selain
penurunan tekanan darah, seperti menghindari diabetes dan dislipidemia.

2. Mengurangi asupan garam

Di Indonesia, makanan tinggi garam dan lemak merupakan makanan


tradisional pada kebanyakan daerah. Tidak jarang pula pasien tidak menyadari
kandungan garam pada makanan cepat saji, makanan kaleng, daging olahan dan
sebagainya. Tidak jarang, diet rendah garam ini juga bermanfaat untuk mengurangi
dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi derajat ≥ 2. Dianjurkan untuk
asupan garam tidak melebihi 2 gr/hari

3. Olah raga

Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30 – 60 menit/ hari,


minimal 3 hari/ minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah

4. Menghindari konsumsi alkohol

Konsumsi alkohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas per hari
pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan demikian membatasi atau
menghentikan konsumsi alkohol sangat membantu dalam penurunan tekanan darah.
2.1.8.2 Terapi Farmakologi

Obat antihipertensi memiliki beberapa golongan obat namun memiliki


mekanisme kerja yang berbeda. Setiap obat memiliki mekanisme kerja yang
berbeda tetapi hamper mirip dengan obat yang jenis golongannya sama.

Tabel 2.2. Golongan Obat Antihipertensi

Nama obat Mekanisme kerja Contoh obat


Diuretik Obat-obatan jenis diuretik bekerja Hydrochlorotiazide,
dengan cara mengeluarkan cairan tubuh Furosemide,
(lewat kencing) sehingga volume cairan Chlorothiazide,
ditubuh berkurang yang mengakibatkan Chlortalidone,
daya pompa jantung menadi lebih Spironulakton.
ringan.
Simpatoplegik Golongan obat ini bekerja dengan Metildopa,
bloker menghambat aktivitas saraf simpatis Klonidin, Reserpin,
(saraf yang bekerja pada saat Pentolamin,
beraktivitas).
Beta bloker Obat golongan ini bekerja dengan Metilpropanolol,
melalui penurunan daya pompa jantung. Pindolol,
Jenis beta bloker tidak dianjurkan pada Acebutolol,
penderita yang diketahui mengidap Atenolol, Timolol.
gangguan pernapasan seperti asma
bronkial.
Vasodilator Obat golongan ini bekerja langsung pada Prazosin,
pembuluh darah dengan relaksasi otot Hidralazin.
polos (otot pembuluh darah)
Ace Inhibitor Obat golongan ini bekerja dengan Captopril,
menghambat pembentukan zat Lisinopril,
angiotensun II (zat yang dapat Benazepril,
menyebabkan peningkatan tekanan Delapril,
darah). Fosinopril.
Angiotensin Obat ini bekerja dengan menghalangi Valsartan, Losartan,
Reseptor penempelan zat Angiotensin II pada Candesartan.
Blocker reseptornya yang mengakibatkan
ringannya daya pompa jantung.
Calsium Golongan obat ini menurunkan daya Amlodpin,
Cabnal Bloker pompa jantung dengan cara menghambat Nifedipin,
kontraksi jantung (kontraktilitas). Nikardipin,
Calcium channel blocker (CCB) Verapamil,
menurunkan tekanan darah dengan Diltiazem.
menghambat aliran ion kalsium melalui
kanal L pada sel otot polos arteri.

2.2 Amplodipin
2.2.1 Definisi Amlodipin

Amlodipin atau turunan garamnya berupa amlodipin besilat mempunyai


nama kimia yaitu aminoethoxy methyl-4-(2- chlorophenyl)-3-ethoxycarbonyl-5-
methoxycarbonyl-6-metyl 1,4dihydropyridine benzene sulfonate (Acharjya, S. K.
dkk, 2010)

Amlodipin memberikan efek farmakologis sebagai agen antihipertensi


dengan mekanisme kerja Calcium Channel Blocker (CCB). Amlodipin bekerja
dengan cara menghambat ion kalsium masuk ke dalam vaskularisasi otot polos dan
otot jantung sehingga mampu menurunkan tekanan darah (Anand dkk, 2011).
Selain sebagai agen antihipertensi, amlodipin juga dapat digunakan untuk
pengobatan angina pectoris dengan cara meningkatkan aliran darah ke otot jantung.
(Ma, Y. et al., 2007)

2.2.2 Dosis Amlodipin

a. Hipertensi dan angina dosis awal 1x5 mg bila perlu di tingkatkan sampai dengan
sehari maks 10 mg (ISO Vol.48).

b. Hipertensi; angina stabil kronis diberikan per oral 5 sampai 10 mg dan pada lansia
di berikan per oral awalnya 2,5 mg (A to Z).
c. Dosis awal pengobatan dengan amlodipin adalah 2.5 mg satu kali sehari,
kemudian dapat ditingkatkan menjadi 5 mg satu kali sehari dosis maksimum adalah
10 mg satu kali sehari (Anonim,2017).

2.2.3 Farmako kinetik


Amlodipin baik diserap setelah dosis oral dengan puncak konsentrasi darah
yang terjadi setelah 6 sampai 12 jam. Itu bioavailabilitas bervariasi tetapi
biasanyasekitar 60 sampai 65%. Amlodipin dilaporkan menjadi sekitar 97,5%
terikat protein plasma. Memiliki eliminasi terminal berkepanjangan paruh 35
sampai 50 jam dan mapan plasma konsentrasi tidak tercapai sampai setelah 7-8 hari
penggunaan. Amlodipin secara ekstensif dimetabolisme di hati; metabolit sebagian
besar diekskresikan dalam urin bersama-sama dengan kurang dari 10% dari dosis
sebagai obat tidak berubah. Amlodipin tidak dihapus oleh dialisis (Sweetman,
2009).
2.2.4 Farmakodinamik

Hemodinamik: Setelah pemberian dosis terapi untuk pasien dengan


hipertensi, Amlodipin menghasilkan vasodilatasi menghasilkan penurunan tekanan
darah terlentang dan berdiri. Ini penurunan tekanan darah tidak disertai dengan
perubahan yang signifikan pada tingkat detak jantung atau katekolamin plasma
dengan dosis kronis. Meskipun pemberian intravena akut Amlodipin menurunkan
tekanan darah arteri dan meningkatkan denyut jantung dalam studi hemodinamik
pasien dengan angina stabil kronis, pemberian oral kronis Amlodipin dalam uji
klinis tidak menyebabkan perubahan yang signifikan dalam tekanan tingkat atau
darah jantung pada pasien normotensif dengan angina (Anonim, 2017).

Dengan pemberian oral sekali sehari kronis, efektivitas antihipertensi


dipertahankan selama minimal 24 jam. Konsentrasi plasma berkorelasi dengan efek
pada pasien muda dan tua. Besarnya penurunan tekanan darah dengan Amlodipin
juga berkorelasi dengan ketinggian elevasi pretreatment; dengan demikian, individu
dengan hipertensi sedang (tekanan diastolik 105-114 mmHg) memiliki sekitar
respon 50% lebih besar dibandingkan pasien dengan hipertensi ringan (tekanan
diastolik 90-104 mmHg). Darah normal tidak mengalami perubahan yang
signifikan secara klinis tekanan darah (+ 1 / -2 mmHg) (Anonim, 2017).
2.2.5 Efek Samping

Efek samping yang sering dilaporkan adalah nyeri abdomen, mual,


palpitasi, wajah memerah, edema, gangguan tidur, sakit kepala, pusing, letih;
Jarang terjadi, gangguan saluran cerna, mulut kering, gangguan pengecapan,
hipotensi, pingsan, nyeri dada, dispnea, rhinitis, perubahan perasaan, tremor,
paraestesia, gangguan kencing, impoten, ginekomastia, perubahan berat badan,
mialgia, gangguan penglihatan, tinitus, pruritus, ruam kulit (termasuk adanya
laporan eritema multiform), alopesia, purpura dan perubahan warna kulit; Sangat
jarang, gastritis, pankreatitis, hepatitis, jaundice, kolestasis, hiperplasia pada gusi,
infark miokard, aritmia, vaskulitis, batuk, hiperglikemia, trombositopenia,
angioedema dan urtikaria (Anonim, 2017).

2.2.6 Kontraindikasi

Obat amlodipin tidak dapat digunakan pada beberapa keadaan berikut :


penderita yang memiliki riwayat hipersensitif atau riwayat alergi terhadap
amlodipin atau calcium channel blockers lain. Penderita yang mengalami syok
kardiogenik, stenosis aorta, atau angina pektoris yang tidak stabil. Penderita yang
tekanan darah rendah yaitu kurag dari 90/60 mmHg). Penderita yang sedang hamil
dan menyusui (Anonim, 2017).

2.3 TEORI KAP (Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku)


2.3.1 Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan merupakan penindraan melalui panca indra manusia, yakni


indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau
kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk perilaku
seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo, 2012)

Menurut Notoatmodjo (2012) Pengetahuan dalam kognitif tercakup dalam


domain kogitif mempunyai 6 tingkat, yakni :
1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari


sebelumnya. Pengetauan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang
spesifik dari seluruh bahan yang telah diterima. Contohnya: dapat menyebutkan
tanda gejala dari pengobatan hipertensi.

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara


benar objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara
benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek
yang dipelajari.Misalnya, dapat menjelaskan mengapa harus minum obat secara
teratur.

3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang


telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat
diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan
sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya, dapat menggunakan
prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) dalam
pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

4) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu


objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi
tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat
dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat menggambarkan (membuat bagan),
membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

5) Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau


menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan
kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, merencanakan,
menjelaskan, menyesuaikan, dan sebagainya, terhadap suatu materi atau rumusan-
rumusan yang telah ada.

6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau


penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan
suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang
telah ada.
2.3.1.1 Cara Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau


memberikan seperangkat alat tes/kuesioner tentang isi materi yang ingin diukur.
Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan
dengan tingkatan-tingkatan di atas (Notoatmodjo, 2012).

2.3.2 Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi
adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-
hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcob,
salah seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan
kesiapan atua kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif
tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi
merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi
tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap
merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai
suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2007).

Menurut Allport (1954) menjelakaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen


pokok, yaitu :

1. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.


2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh


(total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiranm dan
emosi memegang peranan penting. Suatu contoh misalnya, seorang ibu telah
mendengar tentang penyakit hipertensi (penyebab, akibat, pencegahan, dan
sebagainya). Pengetahuanini akan membawa ibu untuk berpikir dab berusaha
supaya anaknya tidak terkena penyakit hipertensi. Dalam berpikir ini komponen
emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga ibu tersebut berniat mengimunisasikan
anaknya untuk mencegah agar tidak terkena hipertensi. ibu ini mempunyai sikap
tertentu terhadap objek yang berupa penyakit hipertensi. Seperti halnya dengan
pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tindakan (Notoatmodjo, 2007).

1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap gizi dapat dilihat
dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang gizi.
2. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menjelaskan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha
untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari
pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
3. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu
masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Mislanya: seorang ibu yang
mengajak ibu yang lain (tetangganya, saudaranya, dan sebagainya) untuk pergi
menimbangkan anaknya ke posyandu atau mendiskusikan tentang gizi, adalah suatu
bukti bahwa si ibu tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap gizi anak
4. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan


segala resiko yang merupakan sikap yang paling tinggi. Misalnya: seorang ibu
mau Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden
terhadap suatu objek. Misalnya, sebagaimana pendapat anda tentang pelayanan
dokter di Rumah Sakit ? Secara langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-
pernyataa hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden. Misalnya, apabila
ruah ibu luas, apakah boleh dipakai untuk kegiatan posyandu ? atau saya akan
menukah apabila saya sudah berumur 25 tahun (sangat setuju, tidak setuju, sangat
tidak setuju).menjadi akseptor KB, meskipun mendapat tantangan dari mertua
atau orang tuanya sendiri.

2.3.2.1 Pengukuran Sikap

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.


Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan respondes
terhadap suatu objek. Secara langsung dapat dilakukan dengan
pernyataanpernyataan hipotesis kemudian ditanyakan kepada responden
(Notoatmodjo, 2012)

2.3.3 Praktik atau Tindakan (Kepatuhan)

Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh yang artinya taat. Kepatuhan adalah
perilaku pasien dalam melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan
dokter atau orang lain (Arisman, 2004).

Kepatuhan adalah tingkat ketepatan perilaku seorang individu dengan


nasehat medis atau kesehatan. Dengan menggambarkan penggunaan obat sesuai
petunjuk pada resep serta mencakup penggunaannya pada waktu yang benar
(Siregar, 2006).

Kepatuhan seorang pasien yang menderita hipertensi tidak hanya dilihat


berdasarkan kepatuhan dalam meminum obat antihipertensi tetapi juga dituntut
peran aktif pasien dan kesediaanya untuk memeriksakan ke dokter sesuai dengan
jadwal yang ditentukan. Keberhasilan dalam mengendalikan tekanan darah tinggi
merupakan usaha bersama antara pasien dan dokter yang menanganinya
(Burnier,2001).
2.3.4 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan dalam Menjalani
Pengobatan Hipertensi

1. Jenis Kelamin

Perbedaan jenis kelamin yang ditentukan secara biologis, yang secara fisik
melekat pada masing-masing jenis kelamin, laki-laki dan perempuan
(Rostyaningsih, 2013). Jenis kelamin berkaitan dengan peran kehidupan dan
perilaku yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Dalam
hal menjaga kesehatan, biasanya kaum perempuan lebih memperhatikan
kesehatanya dibandingkan dengan laki-laki. Perbedaan pola perilaku sakit juga
dipengaruhi oleh jenis kelamin, perempuan lebih sering mengobatkan dirinya
dibandingkan dengan laki-laki (Notoatmodjo, 2010).

2. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu kegiatan, usaha manusia meningkatkan


kepribadian atau proses perubahan perilaku menuju kedewasaan dan
penyempurnaan kehidupan manusia dengan jalan membina dan mengembangkan
potensi kepribadiannya, yang berupa rohni (cipta, rasa, karsa) dan jasmani. Domain
pendidikan dapat diukur dari (Notoatmodjo, 2003) :

1. Pengetahuan terhadap pendidikan yang diberikan (knowledge).

2. Sikap atau tanggapan terhadap materi pendidikan yang diberikan (attitude).

3. Praktek atau tindakan sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan.

Menurut penelitian yang dilakukan Ekarini (2011) dan Mubin dkk (2010)
menunjukan tingkat pendidikan berhubungan dengan tingkat kepatuhan pasien
hipertensi dalam menjalani pengobatan. Responden yang memiliki tingkat
pengetahuan yang tinggi sebagian besar memiliki kepatuhan dalam menjalani
pengobatan.

3. Status Pekerjaan

Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003), pekerjaan adalah


sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan
keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan
cara mencari nafkah yang membosankan, berulang, dan banyak tantangan. Orang
yang bekerja cenderung memiliki sedikit waktu untuk mengunjungi fasilitas
kesehatan (Notoatmodjo, 2007).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Su-Jin Cho (2014) pekerjaan


memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pasien hipertensi dalam
menjalani pengobatan (p=0,006). Dimana pasien yang bekerja cenderung tidak
patuh dalam menjalani pengobatan dibanding dengan mereka yang tidak bekerja.

4. Lama Menderita Hipertensi

Tingkat kepatuhan penderita hipertensi di Indonesia untuk berobat dan


kontrol cukup rendah. Semakin lama seseorang menderita hipertensi maka tingkat
kepatuhanya makin rendah, hal ini disebabkan kebanyakan penderita akan merasa
bosan untuk berobat (Ketut Gama et al, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh
Suwarso (2010) menunjukan ada hubungan yang signifikan antara lama menderita
hipertensi dengan ketidakpatuhan pasien penderita hipertensi dalam menjalani
pengobatan (p=0,040). Dimana semakin lama seseorang menderita hipertensi maka
cenderung untuk tidak patuh karena merasa jenuh menjalani pengobatan atau
meminum obat sed angkan tingkat kesembuhan yang telah dicapai tidak sesuai
dengan yang diharapkan.

5. Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga dapat menjadi faktor yang dapat berpengaruh dalam


menentukan keyakinan dan nilai kesehatan individu serta menentukan program
pengobatan yang akan mereka terima. Keluarga juga memberi dukungan dan
membuat keputusan mengenai perawatan anggota keluarga yang sakit. Derajat
dimana seseorang terisolasi dari pendampingan orang lain, isolasi sosial, secara
negatif berhubungan dengan kepatuhan (Carpenito,2000).

6. Peran Tenaga Kesehatan

Peran serta dukungan petugas kesehatan sangatlah besar bagi penderita,


dimana petugas kesehatan adalah pengelola penderita sebab petugas adalah yang
paling sering berinteraksi, sehingga pemahaman terhadap konsisi fisik maupun
psikis menjadi lebih baik dan dapat mempengaruhi rasa percaya dan menerima
kehadiran petugas kesehatan dapat ditumbuhkan dalam diri penderita dengan baik
(A.Novian, 2013). Selain itu peran petugas kesehatan (perawat) dalam pelayan
kesehatan dapat berfungsi sebagai comforter atau pemberi rasa nyaman, protector,
dan advocate (pelindung dan pembela), communicator, mediator, dan rehabilitator.
Peran petugas kesehatan juga dapat berfungsi sebagai konseling kesehatan, dapat
dijadikan sebagai tempat bertanya oleh individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat untuk memecahkan berbagai masalah dalam bidang kesehatan yang
dihadapi oleh masyarakat (Wahid Iqbal Mubarak, 2007).
Depkes RI, 2012. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian Dan Pengembangan
Kesehatan. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Kemenkes RI, 2014. Pusat dan Informasi Hipertensi. Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia
Susilo,Y & Wulandary,A (2011). Cara jitu mengatasi hipertensi, Yogyakarta : C.V Andi
Offset.

World Health Organization., 2000. Obesity, Preventing and Managing the


Global Epidemic. Report of a WHO consultation, Tecnical Report Series
894. Generva: World Health Organization.
Dinkes Prov. Jatim. 2017. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

Dinkes Kab. Bangkalan. 2017. Profil kesehatan KAbupaten Bangkalan 2016

WHO. 2015. Hypertension Fact Sheet. http://www.searo.who.int/linkfiles/non_commun


icable_diseases_hypertension-fs.pdf

Kemenkes RI (2018). Profil kesehatan Indonesia 2017

American Heart Association. 2016. Risk factors for stroke, 1–2. Dallar. Texas: American
Heart Association News

Jimmy, B. & Jose, J. (2011). Patient Medication Adherence: Measures in Daily


Practice. Oman Medical Journal, 26(3), 155-159, DOI
10.5001/omj.2011.38.
Kosasih dan Hassan, I., (2013), Patofisiologi Klinik, Jakarta: Binarupa Aksara Publisher

Pratiwi, M., Tala, Z. 2013. Gambaran Status Gizi Pasien Lansia di RSUP H.
Adam Malik Medan.
Kemenkes, RI., 2015. INFODATIN Hipertensi. Pusat Data dan Informasi
Kementerian Kesehatan RI. Jakarta.
JNC VII. 2003. The seventh report of the Joint National Committee on prevention,
detection, evaluation, and treatment of high blood pressure. Hypertension, 42: 1206-52.

Weber, M.A., Schiffrin, E.L., White, W.B., Mann, S., Lindholm, L.H., Kenerson,
J.G., dkk., 2014. Clinical Practice Guidelines for the Management of
Hypertension in the Community: A Statement by the American Society of
Hypertension and the International Society of Hypertension. Journal of
Clinical Hypertension (Greenwich, Conn.), 16: 14–26.
Robbins, dkk., 2007. Buku Ajar Patologi Volume 2 Edisi 7. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Depkes RI. 2006. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Penyakit
Hipertensi. Departemen kesehatan. Jakarta
Depkes RI., 2006. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi. Direktorat
Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Departemen Kesehatan. Jakarta
Saseen, J.J., 2009, Essential Hypertension dalam Koda-Kimble, M.A., Young,
L.Y., Alldredge, B.K., Corelli, R.L., Guglielmo B.J., Kradjan W.A. dan
Williams B.R., (Eds.), Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs,
Ninth Edition. 347-386, Lippincot Williams dan Wilkins, Philadelphia.

Sasseen, JJ., and Maclaughlin, EJ., 2008. Cardiovascular Disorder: Hypertention.


Editor: DiPiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G.,
Posey, L.M., Pharmacotherapy A Pathophysiological Approach, Sixth
Edition. MCGRAW-HILL Medical Publishing Division, New York.
Anggraini, A.D., Waren, A., Situmorang, E., Asputra, H., dan Sagita, S., 2009.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi pada
Pasien yang Berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas Bangkinang. Riau :
Laporan penelitian FK UNRI.
Palmer, A. (2007). Tekanan Darah Tinggi. Jakarta : Erlangga.
Bell, K., June, T., &Bernie, R. O. (2015). Hypertension: The Silent Killer:
Updated JNC-8 Guideline Recommendations. Alabama Pharmacy Association,
5-7
Corwin, E. J. (2009). Buku Saku Patofisiologi (3th Ed.). Jakarta: EGC
Soenarta, AA, et al., 2015. Pedoman Tatalaksana Hipertensi Pada Penyakit
Kardiovaskuler.Edisi I. Indonesia: Himpunan Dokter Spesialis
Kardiovaskular Indonesia 2015.
Benowitz NL., 2009. Antihypertensive Agents. Dalam Katzung BG, Ed. Basic
and Clinical Pharmacology Edisi 11. San Fransisco: McGrawHill
Tjay, T.H., Rahardja, K., 2007. Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan
Efek-efek Sampingnya. Edisi 6. Jakarta: Gramedia
Depkes RI. 2006. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Penyakit
Hipertensi. Departemen kesehatan. Jakarta
Cho, Su-Jin, Jinhyun Kim. 2014. Factors Associated With Nonharence to
Antihypertensive Medication, Vol. 16, Hal. 461-467
Arisman, 2004. Penilaian Status Gizi Perorangan dalam Gizi dalam Daur
Kehidupan. Jakarta: EGC
Siregar, Charles., 2006. Farmasi Klinik Teori dan Penerapan. Jakarta: EGC
Burnier M., Schneider MP., Chiolero A., Stubi CL., Brunner HR., 2001.
Electronic Compliance Monitoring in Resistant Hypertension: the Basis for
Rationaltherapeutic Decisions. Journal of Hypertension