Anda di halaman 1dari 14

SATUAN ACARA PENYULUHAN

“ HEART FAILURE”
DI RUANG IPJT RSUD dr SAIFUL ANWAR MALANG

Oleh :
PROFESI NERS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
AKPER DHARMA KEDIRI

RSUD Dr SAIFUL ANWAR


MALANG
2019
LEMBAR PENGESAHAN
Satuan Acara Penyuluhan HEART FAILURE

RSUD. Dr. SAIFUL ANWAR MALANG


Tanggal : 14 Februari 2019

Oleh :
PROFESI NERS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
AKPER DHARMA KEDIRI

Mengetahui,

Persepton Akademik Perseptor Klinik

( ) ( )

Kepala Ruangan

( )
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : HEART FAILURE

Sub Pokok Bahasan :


1. Definisi Heart Failure/ Gagal Jantung
2. Penyebab Heart Failure/ Gagal Jantung
3. Tanda Dan Gejala Heart Failure/ Gagal Jantung
4. Penatalaksanaan Heart Failure/ Gagal Jantung
5. Pencegahan Heart Failure/ Gagal Jantung
Sasaran : Keluarga pasien dan pasien
Tempat : Ruang tunggu R IPJT RSUD DR SAIFUL ANWAR
Hari/Tanggal : Kamis, 14 Februari 2019
Waktu : 09.00 WIB (1 x 25 menit)

I. Latar Belakang
Di era globalisasi dengan perkembangan teknologi di berbagai bidang
termasuk informasi, manusia modern semakin menemukan sebuah ketidakberjarakan
yangmembuat belahan dunia yang satu dengan belahan dunia yang lain seakan tampak
menyatu sehingga terbentuklah “ Global Village “ ( Virzara Auryn, 2007 : 13 ). Ketika
eraglobalisasi menyebabkan informasi semakin mudah diperoleh, negara berkembang
dapatsegera meniru kebiasaan negara barat yang dianggap cermin pola hidup modern.
Sejumlah perilaku seperti mengkonsumsi makanan siap saji ( fast food ) yang
mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kerja
berlebihan, kurang berolah raga dan stress,serangan hipertensi,infeksi dan peningkatn
usapan garam telah menjadi gaya hidup manusia terutama di perkotaan. Padahal kesemua
faktor tersebutdapat merupakan faktor-faktor penyebab penyakit jantung. Penyakit jantung
merupakan penyakit neurologis yang sering dijumpai dan harus ditangani secara cepat dan
tepat. jantung merupakan kelainan fungsi kardiovaskuler yangtimbul bisa juga secara
mendadak,karena disebabkan oleh serangan hipertensi.yang dapatterjadi pada siapa saja
dan kapan saja ( Arif Muttaqin, 2008 : 128 ). Menurut WHO 1999, Penyakit gagal jantung
adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrien.( Arif Muttaqin, 2008 : 128
).Seseorang yang menderita penyakit jantng akan mengalami kelemahan
penurunankekuatan otot disertai dengan nyeri. Akibatnya, orang tersebut akan mengalami
gangguan dalam memenuhi perawatan diri dan melakukan aktivitas kehidupan sehari-
harinya. Aktivitas kehidupan sehari-hari adalah aktivitas perawatan diri yang harus
dilakukansetiap hari untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup sehari-hari.
Aktivitaskehidupan sehari-hari meliputi 6 hal, yaitu higiene/mandi, berpakaian, beralih
tempat, berpindah, toileting dan menyuap. Menurut jurnal kesehatan 2003 yang
dikeluarkan WHO, penyakit jantung telah menjadi pembunuh paling mematikan nomor
dua di dunia dengan jumlah penderita lebihkurang 5 juta setiap tahunnya. Saat ini, di
Indonesia penyakit jantung menempati urutanketiga sebagai penyakit mematikan setelah
penyakit stroke dan kanker dengan jumlah penderita yang semakin meningkat dari tahun
ke tahun. Di Indonesia diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk terkena
serangan jantung dan sekitar 25% atau 125.000 orang meninggal dan sisanya mengalami
cacat ringan atau berat .Mengingat prevalensi angka kejadian penyakit jantung yang
semakin meningkat dari tahun ke tahun, maka penyakit ini harus segera ditangani. Jika
tidak ditangani dengan segera maka penderita jantung bisa berakhir dengan kematian atau
kecacatan, yakni lumpuh dimensia atau pikun dan gangguan lain seperti sulit bicara dan
melakukankegiatan lainnya. Adapun upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah
terjadinya penyakit jantung iniadalah dengan memulai memperbaiki gaya hidup dan
mengendalikan faktor resiko, antaralain : Hindari obesitas dan kolesterol tinggi serta
mulailah dengan mengkonsumsi lebih banyak sayuran, buah-buahan dan makanan yang
berserat lainnya. Berhenti merokok danhindari asap rokok. Kurangi minum alkohol,
karena alkohol dapat menaikkan tekanandarah, memperlemah jantung, mengentalkan
darah dan menyebabkan kejang arteri.
Lakukan olahraga/aktivitas fisik, olahraga dapat mengurangi bobot badan
danmengendalikan kadar kolesterol. Kendalikan tekanan darah dan kadar gula darah.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka saya sebagai mahasiswa berminat melakukan
penyuluhan tentang penyakit gagal jantung

I. Tujuan Instruksional Umum


Setelah dilakukan penyuluhan selama 25 menit, keluarga klien mampu memahami
tentang konsep kanker kandung kemih
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan selama 25 menit, keluarga klien mampu memahami :
1. Definisi Heart Failure/ Gagal Jantung
2. Penyebab Heart Failure/ Gagal Jantung
3. Tanda dan gejala Heart Failure/ Gagal Jantung
4. Penatalaksanaan Heart Failure/ Gagal Jantung
5. Pencegahan Heart Failure/ Gagal Jantung
III. Materi (terlampir)
IV. Metode
Ceramah dan tanya jawab

V. Alat dan Media


1. Leaflet
2. LCD dan Proyektor
3. Laptop

VI. Pengorganisasian
Petugas Penyuluhan :
1. Moderator :
2. Narasumber :
3. Observer :
4. Fasilitator :
5. Evaluator :

VII. Setting Waktu dan Tempat


Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Waktu : 09.00 – 09.25 WIB
Tempat : Ruang Tunggu Ruang IPJT RSSA
Hari, Tanggal : Kamis, 14 Februri 2019
VIII. Kegiatan Penyuluhan
N
Waktu Kegiatan Respon Audience
o Penyuluhan
Pembukaan
1 1. Memberi salam 1. Menjawab salam
5 menit pembukaan 2. Memperhatikan
2. Memperkenalkan diri 3. Memperhatikan
3. Menjelaskan tujuan 4. Memperhatikan
penyuluhan 5. Menjawab pertanyaan yang
4. Menyebutkan materi yang ajukan oleh penyuluh
akan diberikan
5. Memberikan beberapa
pertanyaan pada audience
tentang materi
penyuluhanyang akan
dilaksanakan
Pelaksanaan
2 1. Membagikan leaflet pada 1. Menerima dan membaca
10 menit audience leaflet yang telah dibagikan
2. Definisi Heart Failure/ 2. Memperhatikan
Gagal Jantung 3. Memperhatikan
3. Penyebab Heart Failure/ 4. Memperhatikan
Gagal Jantung 5. Memperhatikan
4. Tanda dan gejala Heart 6. Memperhatikan
Failure/ Gagal Jantung 7. Memperhatikan
5. Penatalaksaan Heart
Failure/ Gagal Jantung
6. Pencegahan Heart Failure/
Gagal Jantung
7. Menjelaskan tentang 5k,
6 Langkah Mencuci
Tangan dan pemilihan
tempat sampah
Evaluasi
3 1. Memberikan kesempatan 1. Bertanya
5 menit pada audience untuk 2. Menjawab pertanyaan
bertanya tentang materi
yang telah diberikan
2. Memberikan pertanyaan
pada audience tentang
materi penyuluhan yang
telah disampaikan
Terminasi
4 1. Mengucapkan terimakasih 1. Mendengarkan
5 menit atas perhatian yang 2. Menjawab salam
diberikan
2. Mengucapkpan salam
penutup

IX. Evaluasi
A. Evaluasi
Evaluasi pembelajaran
Pasien dan keluarga pasien dapat:
- Berespon terhadap pertanyaan yang terkait dengan Bersama pengunjung menyimpulkan materi
penyuluhan
- Menjawab pertanyaan
1. Menjawab salam Peserta dapat memahami materi yang sudah diberikan.

N Evaluasi Pembelajaran Ya Tidak


o
1. Evaluasi structural
a. Satuan Acara Pengajaran sudah siap sesuai
dengan masalah keperawatan
b. Kontrak waktu sudah tepat dengan kelompok
masyarakat
c. Media sudah disiapkan yaitu leaflet dan slide
2. Evaluasi Proses
a. Media dapat digunakan dengan baik
b. Pendidikan kesehatan dapat dilaksanakan sesuai
waktu.
c. Partisipasi peserta yang hadir
d. Peserta aktif memperhatikan
e. Peserta dapat mengikuti sampai selesai

3. Evaluasi Hasil
a. Evaluasi dilakukan secara langsung dengan
tanya jawab.
b. Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan klien
dan keluarga dapat mengerti dan mengetahui
materi yang diberikan
MATERI
HEART FAILURE (GAGAL JANTUNG)

1 Definisi Heart Failure


Gagal jantung (Heart Failure) adalah ketidakmampuan jantung untuk
memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan
nutrisi. Secara klinis keadaan pasien sesak napas disertai dengan adanya bendungan
vena jugularis, hepatomegali, asites dan edema perifer. Gagal jantung biasanya
diawali lebih dulu oleh gagal jantung kiri dan secara lambat diikuti gagal jantung
kanan.
Gagal jantung adalah ketidak mampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh
tubuh. Risiko HF akan meningkat pada lansia karena penurunan fungsi ventrikel
akibat penuaan. HF ini dapat menjadi kronik apabila disertai dengan penyakit-
penyakit lain seperti hipertensi, penyakit jantung katup, kardiomiopati, penyakit
jantung koroner, dan lain-lain.

2 Penyebab Heart Failure


Penyebab Gagal Jantung ada beberapa factor yang sering terjadi pada penderita
kelainan otot jantung, menyebabkan menurunnya kontraktilitas pada jantung. Kondisi
yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot jantung meliputi:
1. Penyakit arterosklerosis koroner yang mengakibatkan disfungsi pada miokardium
karena terganggunya aliran darah pada otot jantung.
2. Hipertensi sistemik/ pulmonal yang mengakibatkan meningkatnya beban kerja
jantung yang akhirnya mengakibatkan hipertropi serabut otot jantung.
3. Peradangan dan penyakit Miokardium degenaratif berhubungan dengan gagal jantung
karena kondisi ini secara tidak langsung merusak serabut otot jantung dan
menyebabkan kontraksi menurun.
4. Penyakit jantung lain, yang sebenarnya tidak ada secara langsung mempengaruhi
jantung, mekanisme yang terlibat mencakup gangguan aliran darah melalui jantung
misalnya stenosis katub semiluner, ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah
misalnya tamponade pericardium, perikarditis kontriktif dan stenosis katub AV,
peningkatan mendadak afterload akibat meningkatnya tekanan darah sistemik
(hipertensi “maligna”) dapat menyebabkan gagal jantung tidak ada hipertropi
miokardial.
3 Tanda Gejala Heart Failure
 Gagal jantung kiri
a. Dyspnea
b. Orthopneu
c. Paroxysmal nokturnal dyspneu
d. Batuk
e. Mudah lelah
f. Gelisah dan cemas
 Gagal jantung kanan
a. Pitting edema
b. Anoreksia
c. Hepatomegali
d. Nokturia
e. Kelemahan

4 Penatalaktanaan Heart Failure


Penatalaksanaan gagal jantung baik itu akut maupun kronik ditujukan untuk
memperbaiki gejala dan prognosis, serta kualitas hidup, meskipun penatalaksanaan secara
individual tergantung dari etiologi serta beratnya kondisi.
Pendekatan pada pasien gagal jantung antara lain dengan: 1) menentukan penyakit
yang mendasari; 2) mengendalikan faktor-faktor pencetus atau penyulit; 3) menentukan
derajat gagal jantung; 4) mengurangi beban jantung ( mengurangi aktivitas fisik dan berat
badan ); 5) memperbaiki kontraktilitas ( fungsi ) miokard; 6) koreksi terhadap retensi garam
dan air; 7) mengevaluasi apakah ada kemungkinan dilakukan koreksi bedah.
Penatalaksanaan penderita dengan gagal jantung meliputi penatalaksanaan secara
non farmakologis dan farmakologis, keduanya dibutuhkan karena akan saling
melengkapi untuk penatalaksaan paripurna penderita gagal jantung.
A. Penatalaksanaan Non Farmakologis
1. Edukasi kepada pasien mengenai penyakitnya, pengobatan serta pertolongan yang
dapat dilakukan sendiri.
2. Perubahan gaya hidup seperti pengaturan nutrisi dan penurunan berat badan
pada penderita dengan kegemukan. Pembatasan asupan garam, konsumsi alkohol,
serta pembatasan asupan cairan perlu dianjurkan pada penderita terutama pada
kasus gagal jantung kongestif berat. Penderita juga dianjurkan untuk berolahraga
karena mempunyai efek yang positif terhadap otot skeletal, fungsi otonom,
endotel serta neurohormonal dan juga terhadap sensitifitas terhadap insulin.
3. Gagal jantung kronis dapat dicetuskan oleh infeksi paru, sehingga vaksinasi
terhadap influenza dan pneumococal perlu dipertimbangkan. Profilaksis antibiotik
pada operasi dan prosedur gigi diperlukan terutama pada penderita dengan
penyakit katup primer maupun pengguna katup prostesis.

B. Penatalaksanaan Farmakologis
Terapi gagal jantung terdiri atas : 1) terapi spesifik terhadap kausa yang mendasari
gagal jantung, misalnya revaskularisasi pada PJK atau valve repair untuk penyakit
jantung katup; dan 2) terapi non spesifik terhadap sindroma klinis gagal jantung.
Adapun dasar-dasar terapi gagal jantung kongestif :
Masalah Terapi
Preload meningkat Restriksi garam, diuretika, venodilator
Curah jantung rendah, tahanan vaskuler
Arteriolar dilator/inhibitor ACE
sistemik meningkat
Kontraktilitas menurun Obat inotropik positif
Frekwensi denyut jantung cepat
Tingkatkan blok atrio-ventrikular
Fibrilasi atrial
Perbaiki kemampuan ventrikel kiri
Takikardia sinus

Obat-obat yang biasa digunakan untuk gagal jantung kronis antara lain: diuretik
(loop dan thiazide), angiotensin converting enzyme inhibitors, betablocker (carvedilol,
bisoprolol, metoprolol), digoxin, spironolakton, vasodilator (hydralazine /nitrat),
antikoagulan, antiaritmia, serta obat positif inotropik.
Pemberian nitrat (sublingual, buccal dan intravenus) mengurangi preload serta
tekanan pengisian ventrikel dan berguna untuk pasien dengan angina serta gagal
jantung. Pada dosis rendah bertindak sebagai vasodilator vena dan pada dosis yang
lebih tinggi menyebabkan vasodilatasi arteri termasuk arteri koroner. Sehingga dosis
pemberian harus adekuat sehingga terjadi keseimbangan antara dilatasi vena dan
arteri tanpa mengganggu perfusi jaringan. Kekurangannya adalah teleransi terutama
pada pemberian intravena dosis tinggi, sehingga pemberiannya hanya 16 – 24 jam.
Sodium nitropusside dapat digunakan sebagai vasodilator yang diberikan pada
gagal jantung refrakter, diberikan pada pasien gagal jantung yang disertai krisis
hipertensi. Pemberian nitropusside dihindari pada gagal ginjal berat dan gangguan
fungsi hati. Dosis 0,3 – 0,5 µg/kg/menit.
Nesiritide adalah peptide natriuretik yang merupakan vasodilator. Nesiritide adalah
BNP rekombinan yang identik dengan yang dihasilkan ventrikel. Pemberiannya akan
memperbaiki hemodinamik dan neurohormonal, dapat menurunkan aktivitas susunan
saraf simpatis dan menurunkan kadar epinefrin, aldosteron dan endotelin di plasma.
Pemberian intravena menurunkan tekanan pengisian ventrikel tanpa meningkatkan
laju jantung, meningkatkan stroke volume karena berkurangnya afterload. Dosis
pemberiannya adalah bolus 2 µg/kg dalam 1 menit dilanjutkan dengan infus 0,01
µg/kg/menit.
Pemberian inotropik dan inodilator ditujukan pada gagal jantung yang disertai
hipotensi dan hipoperfusi perifer. Obat inotropik dan / atau vasodilator digunakan
pada penderita gagal jantung akut dengan tekanan darah 85 – 100 mmHg. Jika
tekanan sistolik < 85 mmHg maka inotropik dan/atau vasopressor merupakan
pilihan. Peningkatan tekanan darah yang berlebihan akan dapat meningkatkan
afterload. Tekanan darah dianggap cukup memenuhi perfusi jaringan bila tekanan
arteri rata - rata > 65 mmHg.
Pemberian dopamin 2 µg/kg/mnt menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah
splanknik dan ginjal. Pada dosis 2 – 5 µg/kg/mnt akan merangsang reseptor adrenergik
beta sehingga terjadi peningkatan laju dan curah jantung. Pada pemberian 5 – 15
µg/kg/mnt akan merangsang reseptor adrenergik alfa dan beta yang akan
meningkatkan laju jantung serta vasokonstriksi. Pemberian dopamin akan merangsang
reseptor adrenergik beta 1 dan alfa 2, menyebabkan berkurangnya tahanan vaskular
sistemik (vasodilatasi) dan meningkatnya kontraktilitas. Dosis umumnya 2 – 3
µg/kg/mnt, untuk meningkatkan curah jantung diperlukan dosis 2,5 – 15 µg/kg/mnt.
Pada pasien yang telah mendapat terapi penyekat beta, dosis yang dibutuhkan lebih
tinggi yaitu 15 – 20 µg/kg/mnt.
Penanganan invasif yang dapat dikerjakan adalah Pompa balon intra aorta,
pemasangan pacu jantung, implantable cardioverter defibrilator, ventricular assist
device. Pompa balon intra aorta ditujukan pada penderita gagal jantung berat atau
syok kardiogenik yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan, disertai
regurgitasi mitral atau ruptur septum interventrikel. Pemasangan pacu jantung
bertujuan untuk mempertahankan laju jantung dan mempertahankan sinkronisasi
atrium dan ventrikel, diindikasikan pada penderita dengan bradikardia yang
simtomatik dan blok atrio-ventrikular derajat tinggi. Implantable cardioverter device
bertujuan untuk mengatasi fibrilasi ventrikel dan takikardia ventrikel. Vascular Assist
Device merupakan pompa mekanis yang mengantikan sebgaian fungsi ventrikel,
indikasi pada penderita dengan syok kardiogenik yang tidak respon terhadap terapi
terutama inotropik.

5 Pencegahan Heart Failure


a. Pengenalan gejala oleh pasien dan segara mencari pertolongan medis
b. Segera memanggil tim medis emergensi yang dapat melekukan tindakan
resusitasi
c. Transportasi pasien ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas ICCU/ICU serta
staf medis dokter dan perawat yang terlatih
d. Melakukan terapi reperfusi
e. Oksigen
Oksigan harus diberikan pad a pasien dengan saturasi oksigen arteri
<90%. Pada semua pasien STEMI tanpa komplikasi dapat diberikan oksigen
selama 6 jam pertama.
f. Diet rendah garam
g. Diet rendah kalori dan diet rendah lemak
h. Mengurangi makanan yang mengandung kolesterol tinggi.
i. Istirahat total, tirah baring, posisi semi fowler.
j. Pemeriksaan TTV (Tanda-Tanda Vital)
k. Pemeriksaan EKG
l. Foto rontgen thorax
DAFTAR PUSTAKA

American Heart Association. Heart Disease and Stroke Facts, 2006 Update. Dalla, Texas :
AHA, 2006

Baughman, C. Diane & Hackley JoAnn. 2000. Keperawatan Medikal Bedah Buku Saku
Untuk Brunner dan Suddarth, Edisi 1, Alih Bahasa : Yasmin Asih, Editor Monica Ester,
Jakarta : EGC

Mansjoer A. dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke 3 Volume 1, Jakarta : Media
Aesculapius

Karim S,. Kabo P. 2002. EKG dan Penanggulangan Beberapa penyakit Jantung untuk
Dokter UMUM. Jakarta : Balai Penerbit FK UI

Brunside, JW. McGlynn, Tj. 1995. Diagnosis Fisik. Alih Bahasa: Lumanto, Henny. Jakarta :
EGC