Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

CLOSE FRAKTUR CLAVIKULA

A. Pengertian
Clavikula (tulang selangka) adalah tulang menonjol di kedua sisi di
bagian depan bahu dan atas dada. Dalam anatomi manusia, tulang selangka atau
clavicula adalah tulang yang membentuk bahu dan menghubungkan lengan atas
pada batang tubuh. serta memberikan perlindungan kepada penting yang
mendasari pembuluh darah dan saraf.
Tulang clavicula merupakan tumpuan beban dari tangan, sehingga jika
terdapat beban berlebih akan menyebabkan beban tulang clavicula berlebih, hal
ini bias menyebabkan terputusnta kontinuitas tulang tersebut (Dokterbujang,
2012).
Smeltzer S.C & Bare B.G (2001) fraktur adalah terputusnya kontinuitas
tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
Fraktur clavicula merupakan 5% dari semua fraktur sehingga tidak
jarang terjadi. Fraktur clavicula juga merupakan cedera umum di bidang
olahraga seperti seni bela diri, menunggang kuda dan balap motor melalui
mekanisme langsung maupun tidak langsung. Tidak menutup kemungkinan
fraktur clavicula yang terjadi disertai dengan trauma yang lain, karena letaknya
yang berdekatan dengan leher, setiap kejadian fraktur clavicula harus dilakukan
pemeriksaan cervical. Fraktur clavicula biasa bersifat terbuka atau tertutup,
tergantung dari mekanisme terjadinya (Dokter bujang, 2012).

B. Etiologi
Penyebab utama/ primer dari fraktur adalah trauma, bisa karena
kecelakaan kendaran bermotor, olahraga, malnutrisi. Trauma ini bisa langsung/
tidak langsung (kontraksi otot, fleksi berlebihan). Fraktur klavikula dapat terjadi
sebagai akibat dari jatuh pada tangan yang tertarik berlebihan, jatuh pada bahu
atau injury secara langsung. Sebagian besar fraktur klavikula sembuh sendiri,
bidai atau perban digunakan untuk immobilisasi yang komplit, walaupun tidak
umum, mungkin menggunakan ORIF.
Faktur Klavikula, menurut sejarah fraktur pada klavikula merupakan
cedera yang sering terjadi akibat jatuh dengan posisi lengan terputar/ tertarik
keluar (outstreched hand) dimana trauma dilanjutkan dari pergelangan tangan
sampai klavikula, namun baru - baru ini telah diungkapkan bahwa sebenarnya
mekanisme secara umum patah tulang klavikula adalah hantaman langsung ke
bahu atau adanya tekanan yang keras ke bahu akibat jatuh atau terkena pukulan
benda keras. Data ini dikemukankan oleh (Nowak et a,l Nordqvist dan
Peterson).

C. Manifestasi Klinis
Kemungkinan akan mengalami sakit, nyeri, pembengkakan, memar,
atau benjolan pada daerah bahu atau dada atas. Tulang dapat menyodok melalui
kulit, tidak terlihat normal. Bahu dan lengan bisa terasa lemah, mati rasa, dan
kesemutan. Pergerakan bahu dan lengan juga akan terasa susah. Pasien mungkin
perlu untuk membantu pergerakan lengan dengan tangan yang lain untuk
mengurangi rasa sakit atau ketika ingin menggerakan (Medianers, 2011).
Gambaran klinis pada patah tulang klavikula biasanya penderita datang
dengan keluhan jatuh atau trauma. Pasien merasakan rasa sakit bahu dan
diperparah dengan setiap gerakan lengan. Pada pemeriksaan fisik pasien akan
terasa nyeri tekan pada daerah fraktur dan kadang - kadang terdengar krepitasi
pada setiap gerakan. Dapat juga terlihat kulit yang menonjol akibat desakan dari
fragmen patah tulang. Pembengkakan lokal akan terlihat disertai perubahan
warna lokal pada kulit sebagai akibat trauma dan gangguan sirkulasi yang
mengikuti fraktur. Untuk memperjelas dan menegakkan diagnosis dapat
dilakukan pemeriksaan penunjang.

D. Klasifikasi
Klasifikasi patah tulang secara umum adalah :
1. Fraktur lengkap adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang
luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya
menyeberang dari satu sisi ke sisi lain.
2. Fraktur tidak lengkap adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang
dengan garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai
korteks (masih ada korteks yang utuh).

Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan


hubungan dengan dunia luar, meliputi:

1. Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih


utuh, tulang tidak menonjol malalui kulit.
2. Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena
adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka
potensial terjadi infeksi

Lokasi patah tulang pada klavikula diklasifikasikan menurut Dr. FL Allman


tahun 1967 dan dimodifikasi oleh Neer pada tahun 1968, yang membagi
patah tulang klavikula menjadi tiga kelompok:

1. Kelompok 1: patah tulang pada sepertiga tengah tulang klavikula


(insidensi kejadian 75 - 80%).
 Pada daerah ini tulang lemah dan tipis.
 Umumnya terjadi pada pasien yang muda.

2. Kelompok 2: patah tulang klavikula pada sepertiga distal (15 - 25%).


Terbagi menjadi 3 tipe berdasarkan lokasi ligament coracoclavicular
(conoid dan trapezoid).

 Tipe 1. Patah tulang secara umum pada daerah distal tanpa adanya
perpindahan tulang maupun ganguan ligament coracoclevicular.
 Tipe 2 A. Fraktur tidak stabil dan terjadi perpindahan tulang, dan
ligament coracoclavicular masih melekat pada fragmen.
 Tipe 2 B. Terjadi ganguan ligament. Salah satunya terkoyak
ataupun kedua - duanya.
 Tipe 3. Patah tulang yang pada bagian distal clavikula yang
melibatkan AC joint.
 Tipe 4. Ligament tetap utuk melekat pata perioteum, sedangkan
fragmen proksimal berpindah keatas.
 Tipe 5. Patah tulang kalvikula terpecah menjadi beberapa fragmen.

3. Kelompok 3: patah tulang klavikula pada sepertiga proksimal (5%)


Pada kejadian ini biasanya berhubungan dengan cidera neurovaskuler.

E. Patofisiologi
Patah Tulang selangka (Fraktur klavikula) umumnya disebabkan oleh
cedera atau trauma. Hal ini biasanya terjadi ketika jatuh sementara posisi tangan
ketika terbentur terentang atau mendarat di bahu. Sebuah pukulan langsung ke
bahu juga dapat menyebabkan patah tulang selangka/ fraktur klavikula. Hal ini
mungkin terjadi selama perkelahian, kecelakaan mobil, atau dalam olahraga,
seperti sepak bola dan gulat.
Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat
menimbulkan ganggguan rasa nyaman nyeri. Selain itu dapat mengenai tulang
dan dapat terjadi revral vaskuler yang menimbulkan nyeri gerak sehingga
mobilitas fisik terganggau. Disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai
jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi dan kerusakan jaringan
lunak akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit. Fraktur adalah patah
tulang, biasanya disebabkan oleh trauma gangguan metabolik, patologik yang
terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur terbuka atau tertutup akan
mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri.
Selaian itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi neurovaskuler yang
akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggu, disamping
itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat
terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar. Pada umumnya pada pasien
fraktur terbuka maupun tertutup akan dilakukan immobilitas yang bertujuan
untuk mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tetap pada tempatnya
sampai sembuh. (Sylvia, 1995 : 1183, dalam keperawatan site, 2013

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium :
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui: Hb, hematokrit sering
rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED) meningkat bila kerusakan
jaringan lunak sangat luas. Pada masa penyembuhan Ca dan P meningkat di
dalam darah.
2. CT scan
Sebuah mesin CT scan khusus menggunakan komputer untuk mengambil
gambar dari klavikula Pasien. Pasien mungkin akan diberi pewarna sebelum
gambar diambil. Pewarna biasanya diberikan dalam pembuluh darah Pasien
(Intra Vena). Pewarna ini dapat membantu petugas melihat foto yang lebih
baik. Orang yang alergi terhadap yodium atau kerang (lobster, kepiting, atau
udang) mungkin alergi terhadap beberapa pewarna. Beritahu petugas jika
Pasien alergi terhadap kerang, atau memiliki alergi atau kondisi medis
lainnya.
3. Magnetic resonance imaging scan/ MRI
MRI menggunakan gelombang magnetik untuk mengambil gambar tulang
selangka/ klavikula, tulang dada, dan daerah bahu. Selama MRI, gambar
diambil dari tulang, otot, sendi, atau pembuluh darah. Pasien perlu berbaring
diam selama MRI.
4. X-ray
X-ray digunakan untuk memeriksa patah tulang atau masalah lain. X-ray
dari kedua klavikula Pasien terluka dan terluka dapat diambil.

G. Penatalaksaan Medis
Penatalaksanaan pada fraktur clavicula ada dua pilihan yaitu
dengantindakan bedah atau operative treatment dan tindakan non bedah atau
konsevatif.

Tindakan pembedahan dapat dilakukan apabila terjadi hal-hal berikut :


1. Fraktur terbuka.
2. Terdapat cedera neurovaskuler.
3. Fraktur comminuted.
4.Tulang memendek karena fragmen fraktur tumpang tindih.
5. Rasa sakit karena gagal penyambungan (nonunion).
6. Masalah kosmetik, karena posisi penyatuan tulang tidak semestinya
(malunion)

Melakukan dengan cara terapi :

 Obat-obatan:
Obat-obatan dapat diberikan untuk meringankan rasa sakit. Pasien juga
mungkin perlu obat antibiotik atau suntikan tetanus jika terdapat luka
robek di kulit.
 Sling atau selempang
Ada beberapa jenis sling yang dapat digunakan untuk mencegah klavikula
patah dari kerusakan lebih lanjut. Sling di ikatkan di lengan dan
digantungkan ke leher untuk kenyamanan dan keamanan.
 Terapi pendukung
Paket es dapat ditempatkan pada klavikula yang patah untuk mengurangi
pembengkakan, nyeri, dan kemerahan. Latihan yang meningkatkan
jangkauan gerak dapat dilakukan setelah rasa sakit berkurang. Hal ini
membantu untuk membawa kembali kekuatan dan kekuatan bahu dan
lengan.

H. Komplikasi
Komplikasi fraktur klavikula meliputi trauma saraf pada pleksus
brakhialis, cedera vena atau arteria subklavia akibat frakmen tulang, dan mal
union (penyimpangan penyatuan). Mal union merupakan masalah kosmetik bila
pasienmemakai baju dengan leher rendah. Komplikasi akut meliputi cedera
pembuluh darah, pneumouthorax, haemothorax. Komplikasi lambat dapat
meliputi, mal union adalah proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi
dalam waktu semestinya, namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.
Sedangkan Non union adalah kegagalan penyambungan tulang setelah 4 sampai
6 bulan.

I. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (fraktur)
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal
dan neuromuskuler

K. Tujuan/ Rencana Tindakan (NOC/ NIC)


Rencana Keperawatan
Diagnosa Keperawatan/
Tujuan dan Kriteria
Kolaborasi Intervensi
Hasil
Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan: v Pain Level, 1. 1. Lakukan pengkajian nyeri
Agen injuri (biologi, kimia,
v Pain Control, secara komprehensif termasuk
fisik, psikologis), kerusakan
v Comfort Level lokasi, karakteristik, durasi,
jaringan Setelah dilakukan frekuensi, kualitas dan faktor
DS: tindakan presipitasi
· Laporan secara verbal keperawatan selama ….
2. 2. Observasi reaksi nonverbal
DO: Pasien tidak mengalami dari ketidaknyamanan
· Posisi untuk menahan nyeri nyeri, dengan kriteria
3. 3. Bantu pasien dan keluarga
· Tingkah laku berhati-hati hasil: untuk mencari dan menemukan
· Gangguan tidur 1. 1. Mampu mengontrol dukungan
· Terfokus pada diri sendiri nyeri (tahu penyebab
4. 4. Kontrol lingkungan yang
· Fokus menyempit nyeri, mampu dapat mempengaruhi nyeri
· Tingkah laku distraksi, menggunakan tehnik seperti suhu ruangan,
· Respon autonom nonfarmakologi untuk pencahayaan dan kebisingan
· Perubahan autonomic mengurangi nyeri, 5. 5. Kurangi faktor presipitasi
dalam tonus otot mencari bantuan) nyeri
· Tingkah laku ekspresif 2. 2. Melaporkan bahwa
6. 6. Kaji tipe dan sumber nyeri
· Perubahan dalam nafsu nyeri berkurang dengan untuk menentukan intervensi
makan dan minum menggunakan 7. 7. Ajarkan tentang teknik non
manajemen nyeri farmakologi: napas dala,
3. 3. Mampu mengenali relaksasi, distraksi, kompres
nyeri (skala, intensitas, hangat/ dingin
frekuensi dan tanda
8. 8. Berikan analgetik untuk
nyeri) mengurangi nyeri: ……...
4. 4. Menyatakan rasa
9. 9. Tingkatkan istirahat
nyaman setelah nyeri
berkurang Tanda vital
10. Berikan informasi tentang nyeri
dalam rentang normal seperti penyebab nyeri, berapa
5. 5. Tidak mengalami lama nyeri akan berkurang dan
gangguan tidur antisipasi ketidaknyamanan dari
prosedur
11. 10. Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian analgesik
pertama kali
Gangguan mobilitas fisik NOC : NIC :
Berhubungan dengan: v Joint Movement : Active Exercise therapy : ambulation
· Gangguan metabolisme sel
v Mobility Level 1. 1. Monitoring vital sign
Keterlembatan v Self Care : ADLs sebelm/sesudah latihan dan lihat
perkembangan v Transfer Performance respon pasien saat latihan
· Pengobatan Setelah dilakukan 2. 2. Konsultasikan dengan terapi
· Keterbatasan ketahan tindakan fisik tentang rencana ambulasi
kardiovaskuler Keperawatan selama…. sesuai dengan kebutuhan
· Kehilangan integritas Gangguan mobilitas 3. 3. Bantu klien untuk
struktur tulang fisik teratasi dengan menggunakan tongkat saat
· Kurang pengetahuan tentang kriteria hasil: berjalan dan cegah terhadap
kegunaan 1. 1. Klien meningkat cedera
pergerakan fisik dalam aktivitas fisik 4. 4. Ajarkan pasien atau tenaga
· Kerusakan persepsi sensori 2. 2. Mengerti tujuan dari kesehatan lain tentang teknik
· Tidak nyaman, nyeri peningkatan mobilitas ambulasi
· Kerusakan muskuloskeletal
3. 3. Memverbalisasika
5. 5. Kaji kemampuan pasien
dan neuromuskuler perasaan dalam dalam mobilisasi
· Intoleransi aktivitas/ meningkatkan kekuatan
6. 6. Latih pasien dalam
penurunan kekuatan dan dan kemampuan pemenuhan
stamina berpindah kebutuhan ADLs secara mandiri
· Depresi mood atau cemas 4. 4. Memperagakan sesuai kemampuan
· Penurunan kekuatan otot, penggunaan alat Bantu
kontrol dan atau masa
DO: untuk mobilisasi
7. 7. Dampingi dan Bantu pasien
· Kesulitan merubah posisi (walker) saat mobilisasi dan bantu penuhi
· Perubahan gerakan kebutuhan ADLs ps.
(penurunan untuk berjalan, 8. 8. Berikan alat Bantu jika klien
kecepatan, kesulitan memerlukan.
memulai langkah pendek) 9. 9. Ajarkan pasien bagaimana
merubah posisi dan berikan
· Keterbatasan motorik kasar bantuan jika diperlukan
dan halus
· Keterbatasan ROM
· Gerakan disertai nafas
pendek atau tremor
· Ketidak stabilan posisi
selama melakukan ADL
· Gerakan sangat lambat dan
tidak terkoordinasi
DAFTAR PUSTAKA

Barbara, C. B., (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah, Volume I,


EGC: Jakarta.

Mansjoer, dkk., (2000). Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3. Media Aesculapius:


Jakarta

Price & Wilson, (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyaki.


Volume 2. Edisi 6. EGC : Jakarta.

Sjamsuhidajat R., (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC: Jakarta

Smeltzer & Bare, (2003). Buku ajar keperawatan medical bedah. Volume 3. Edisi
8. EGC: Jakarta
PATHWAYS FRAKTUR CLAVIKULA

Trauma langsung Trauma tidak langsung Kondisi Patologis

FRAKTUR

Diskointunitas tulang pergeseran fragmen


tulang Nyeri

Perubahan jaringan sekitar Kerusakan fragmen


tulang

Pergeseran fragmen tulang Tekanan sumsum tulang tinggi


dari kapiler

Deformitas

Gangguan fungsi Reaksi stres klien

Gg mobilitas fisik Melepaskan katekolamin

Metabolisme asam
lemak

Laserasi kulit Bergabung dengan trombosit

Gg integritas kulit Emboli

Putus Vena/ laserasi menyumbat


pembuluh darah

perdarahan spasme otot

kehilangan volume cairan peningkatan tekanan kapiler

syok hipovolemik pelepasan histamin

protein plasma hilang

edema

penekanan pembuluh darah

penurunan perfusi jaringan


Gg perfusi jaringan