Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

“IDE, KONSEP, TERM DAN SESAT PIKIR”

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

LOGIKA

Dosen:

Endang Retnoningsih, M.Kom

Disusun oleh:

Astri Anshar (031524911)

FAKULTAS HUKUM, ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA

2018

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir Page 1


KATA PENGANTAR

Puji Syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat dan karunia yang
tidak henti-hentinya kami terima di sepanjang hidup. Dialah dzat yang memampukan kami
dalam pembuatan makalah ini. Tak lupa shalawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad
SAW yang kami nantikan syafaatnya di dunia dan di akhirat.

Makalah ini tersusun dalam menyempurnakan isi masalah ini, namun banyak
kekurangan dan kami terus berusaha mencari ilmu sampai titik darah penghabisan.

Besar harapan kami agar makalah ini dapat berguna untuk rekan-rekan mahasiswa
dalam memahami kajian tentang logika. Akhir ucapan, terimakasih sebesar-besarnya untuk
semua yang membimbing dan membantu dalam pembuatan makalah ini.

Oleh karena itu, atas segala saran dan masukkannya kami ucapkan terimakasih.
Semoga bermanfaat dan semoga Allah SWT senantiasa memberkati kita semua. Amin
Yarabbal ‘Alamiin.

Gorontalo, 18 Oktober 2018

Penyusun

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 2


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2


DAFTAR ISI............................................................................................................................. 3
BAB I ......................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 4
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 4
1.3. Tujuan Masalah ............................................................................................................... 4
BAB II........................................................................................................................................ 5
PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 5
2.1. Pengertian Ide, Konsep dan Term ................................................................................... 5
2.2 Macam-macam Term ....................................................................................................... 6
3.1 Pengertian Sesat Pikir....................................................................................................... 8
3.2 Pembagian Sesat Pikir ..................................................................................................... 9
BAB III .................................................................................................................................... 13
PENUTUP................................................................................................................................ 13
3.1. KESIMPULAN ............................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 14

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 3


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ide atau pengertian yang terdapat dalam alam pikiran kita tidak memiliki bentuk yang
nyata. Maka dari itu agar ide atau pengertian dapat menjadi berguna, butuh suatu
implementasi dan tidak hanya di pendam dalam diri kita saja. Adanya implementasi dari
suatu ide yang nyata akan berguna untuk kita (yang mempunyai ide). Oleh karena itu kita
perlu menyatakannya dan mengkomunikasikannya kepada orang lain. Itu semua terdiri dari
kata-kata, simbol-simbol, term-term untuk menyatakan ide-ide dan pikirannya.

Selama ini hal yang perlu diperhatikan adalah unit dasar bahasa yang kita gunakan
yaitu kata-kata. Tetapi sebenarnya perhatian yang lebih utama bukanlah kata-kata, melainkan
pada term-term. Dalam berlogika kita membutuhkan suatu ide yang tertera tak hanya sekedar
dalam hanya kata-kata. Kita harus dapat memilih arah yang tepat untuk mengutarakan ide
untuk menjadi suatu definisi yang jelas.

Dalam ilmu logika, untuk mengerti arti dari kata tertentu tidak hanya memperhatikan
fungsi dan tempat kata itu di dalam suatu kalimat saja. Namun pemikiran kita terdiri dari
kata-kata atau pemikiran yang tidak terlepas antara satu sama lain. Kata-kata dihubungkan
menjadi satu kalimat sehingga mengandung arti. Kata-kata yang tidak jelas atau salah akan
menjadikan kesalahpahaman. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengerti kata-kata apa
yang kita pakai, pengertian kata yang terkandung di dalamnya dan kenyataan yang hendak
dimaksudkan dengan kata itu. Sehubungan dengan penjelasan di atas maka di dalam makalah
ini, kita akan mencoba membahas tentang Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir. Dari latar
belakang di atas dapat diambil beberapa rumusan masalah, yaitu :

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Ide, Konsep, dan Term?

2. Apa yang di maksud dengan Sesat Pikir?

1.3. Tujuan Masalah

1. Agar mengetahui tentang pengertian Ide, Konsep dan Term

2. Mengetahui tentang Sesat Pikir.

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 4


BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Ide, Konsep dan Term

Dalam buku logika scientifika karya DR.W.Poespoprodjo, S.H., S.S., B.Ph., L.Ph. ide adalah
sebuah kata yang berasal dari kata Yunani eidos, eidos berarti ‘yang orang lihat’,
‘penampakan’, ‘bentuk’, ‘gambar’, ‘rupa’ yang dilihat.

Rene Descartes mengatakan bahwa "ide adalah model pikiran" (Ensiklopedia Filsafat
Stanford). Ide dipahami sebagai cara yang dianggap (atau contoh dari pikiran atau
manifestasi pikiran). Jika dijelaskan bahwa esensi atau sifat pikiran adalah berpikir, maka ide
adalah cara berpikir yang mewakili obyek untuk pikiran. Secara praksis, Descartes membagi
ide menjadi tiga: ide bawaan (innate idea), ide adventif (adventitious idea), dan ide tiruan
(factitious idea). Pembagian itu menjelaskan adanya Tuhan, manusia dan alam semesta.

 Ide bawaan (tak terbatas) adalah gagasan Tuhan, ide adventif (terbatas pada pikiran)
adalah gagasan manusia, dan ide tiruan adalah gagasan (terbatas pada tubuh) adalah
alam semesta.
 Ide adventif tergantung pada ide bawaan. Ide adventif adalah apa yang direnungkan
oleh pikiran.
 Ide tiruan adalah ide independen, hal-hal yang ada eksternal dari pikiran.

Oleh karena itu, ide sebagai obyek perwakilan dari pikiran. Tentunya, sebagai model atau
bentuk pikiran, ide memunculkan konsep.

Lalu yang disebut konsep? Dalam buku yang sama konsep berasal dari kata Latin: concipere,
yang artinya mencakup, mengandung, mengambil, menyedot, menangkap. Dari kata
concipere muncul kata benda conceptus yang berarti tangkapan.

Dalam keterangan yang lain konsep adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa latin
conceptus (kata benda masculinum) yang dibentuk dari kata conceptum yang berasal dari kata
kerja (konjugasi III) concipio. Kata ini berarti ‘mengambil ke dalam dirinya’ atau
‘menangkap’.

Penangkapan ide atau konsep bisa terjadi dengan benar atau tidak benar, maka aprehensi
sederhana juga dapat diragukan atau ditolak. Apabila ide atau konsep kita tangkap secara
tidak sah atau secara tidak benar, maka hal tersebut akan berakibat pada keputusan yang juga
tidak sah dan tidak benar.

Setelah kita mengetahui pengertian tentang ide dan konsep maka apa itu term ? Term
merupakan ekspresi verbal dari suatu ide. Term itu adalah suatu bunyi yang diucapkan dan

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 5


berfungsi sebagai suatu tanda konvensional dari suatu ide yang terdapat di fikiran kita atau
batin kita. Lebih jelasnya term adalah bagian dari suatu kata yang berfungsi sebagai S atau P.
Di dalam buku Dr. W. Poespoprodjo, SH, pengertian term adalah pernyataan ide atau konsep
dalam kata atau sejumlah kata. Pembagian term sama dengan pembagian yang berlaku pada
konsep atau ide. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial, maka terdorong untuk
mengungkapkan pikirannya. Oleh karena itu, digunakan tanda-tanda sebagai sarana
hubungan.

Term biasanya di ekspresikan sebagai suatu kata benda atau frase benda. Di dalam
suatu proposisi, setiap term menandakan kelas dari berbagai barang. Dalam kata lain, term
adalah bagian dari suatu kalimat yang berfungsi sebagai subjek dan predikat. Contoh :
“semua sapi adalah mamalia”. Term subjek dalam proposisi tersebut adalah sapi. Dan
predikatnya adalah mamalia.1

Term terdiri dari nama-nama yang tepat ( proper names) , nama – nama umum
(common names), dan frase – frase deskriptif (descriptive phrases).

Contoh :

proper names common names descriptive phrases


Jokowi Manusia Presiden RI
Arab Saudi Negara Para pejabat duta besar
RI
Universitas Terbuka Aktivitas Buku – buku
perpustakaan
Koruptor Binatang Penggelapan uang

Term terdiri dari kata-kata yang tepat dan mempunyai satu definisi yang menjadikan konsep
atau ide menjadi nyata. Dari definisi di atas bisa disimpulkan term merupakan pernyataan
lahiriyah dari konsep atau ide. Hanya saja kata atau kesatuan dari beberapa kata yang
menyatakan konsep atau ide, itulah yang dinamakan term Logika. Tapi tidak semua kata bisa
dikatakan term Logika. Dan setiap term logika terdiri dari satu kata atau lebih.

2.2 Macam-macam Term

Di lihat dari segi isi yang terkandung dalam Term. Term terbagi menjadi dua, yaitu :

a. Term yang bersifat kategorimatis

Term kategorimatis adalah kata atau sejumlah kata yang dapat berdiri

1
) Rafael Raga Maran, Pengantar Logika, (Jakarta: Grasindo, 2007), hal.27

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 6


sendiri. Contohnya seperti kata bunga, binatang, burung, pohon. Kategori term itu
disebut term tunggal. Ada juga yang disebut term majemuk yaitu term yang terdiri
dari dua kata atau lebih dan berfungsi sebagai S atau P. Contohnya seperti gunung
yang tinggi, Doni yang memakai topi, Arina yang menyanyi dan lainnya.

b. Term yang bersifat sinkategorimatis.

Digunakan sebagai term yang tidak bisa memiliki arti jika bantuan kata-kata yang
lain. Dapat pula dikatakan sebagai kata penghubung. Contohnya kata yang, di, dan,
untuk, kepada, dan lainnya. Dalam term yang bersifat sinkategorismatis ini dapat
dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

 Univocal

Dalam kategori ini digunakan untuk hal atau benda yang mempunyai arti
sama. Contohnya: Adam adalah manusia, Regina adalah manusia. Jadi
manusia digunakan dalam arti yang sama berupa Adam dan Regina yang
sama-sama manusia.

 Equivocal

Dalam kategori ini digunakan untuk hal atau benda yang mempunyai arti
berbeda. Contohnya : Kambing itu adalah kambing hitam, Ujang adalah orang
yang sering dijadikan kambing hitam di kampusnya. Dapat kita perhatikan
pada proposisi pertama mempunyai arti kambing yang berwarna hitam.
Sedang proposisi yang kedua mempunyai arti bahwa Ujang sebagai kambing
hitam itu adalah orang yang selalu disalahkan padahal ia tidak salah.

 Analogis

Dalam kategori ini digunakan untuk hal atau benda yang mempunyai arti
berlainan, namun dari segi tertentu memiliki arti yang sama. Misalnya, kaki
seorang wanita dan kaki meja, atau seseorang yang sehat dan obat yang sehat.

Dilihat dari segi asas perlawanan atau ketidaksesuaian dapat dibedakan menjadi
empat bagian. Yaitu:

a) Term-term kontradiktoris. Dua term yang saling mengingkari term lainnya. Contoh:
mati-tidak mati, Hidup-tidak hidup, ada-tidak ada.
b) Term-term kontraris. Dua term yang berada dalam kelas yang sama. Contoh: dingin-
panas (temperature), bahagia-sengsara (perasaan), hitam-putih (warna).
c) Term-term privatif. Term yang menyatakan suatu yang secara ilmiyah dimiliki atau
tidak memiliki. Contoh: kekayaan-kemiskinan, kesehatan-ketidaksehatan.
d) Term-term relatif. Term satu menyiratkan term lainnya. Contoh: suami-istri, guru-
murid.

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 7


Dilihat dari kuantitasnya, term dibagi menjadi empat yaitu term singular, term
partikular, term universal, dan term kolektif. Berikut adalah pengertiannya :

a) Term singular adalah term yang menyebut hanya satu individu atau obyek tertentu.
Contoh: Sinta, Rodhiyah, buku ini, pensil ini.
b) Term partikular adalah term yang menyebut hanya sebagian dari seluruhnya. Contoh:
beberapa mahasiswa, beberapa dosen, sebagian manusia, sebagian binatang.
c) Term universal adalah term yang menyebut seluruh lingkungan dan bawahannya
masing-masing tanpa ada yang dikecualikan. Contoh: Manusia, hewan, kucing, tikus.
d) Term kolektif adalah term yang mengacu pada satu kumpulan atau obyek/ individu
yang dianggap sebagai satu unit. Contoh: Keluarga, masyarakat, regu, Jemaah,
rombongan.

Di lihat dari segi hakikat referen dibedakan menjadi tiga yaitu term konkret, term
abstrak, term kosong. Berikut adalah pengertiannya:

a) Term konkret yaitu term yang referennya nyata atau dapat dialami secara indrawi.
Contoh: rumah, kucing, manusia, pohon, bunga, dan lainnya.
b) Term abstrak yaitu term yang referennya tidak dapat dialami secara empiris. Hanya
dapat dimengerti dalam fikiran saja. Contoh: keberanian, kemanusiaan, kebaikan,
keadilan.
c) Term kosong yaitu term yang tidak memiliki referen-referen actual tetapi memiliki
referen-referen imaginer. Contoh: peri, jin, malaikat, syaiton.

3.1 Pengertian Sesat Pikir

Fallacy berasal dari bahasa Yunani dan Latin yang berarti ‘sesat pikir’. Fallacy didefinisikan
secara akademis sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku
nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja. Hal ini juga
bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana dengan berpikir ‘ngawur’.

Ada dua pelaku fallacy yang terkenal dalam sejarah filsafat, yaitu mereka yang menganut
Sofisme dan Paralogisme. Mereka melakukan sesat pikir dengan cara sengaja menyesatkan
orang lain, padahal si pengemuka pendapat yang diserang tidak sesat pikir. Disebut demikian
karena yang pertama-tama mempraktekkannya adalah kaum sofis, nama suatu kelompok
cendekiawan yang mahir berpidato pada zaman Yunani kuno.

Mereka selalu berusaha memengaruhi khalayak ramai dengan argumentasi-argumentasi yang


menyesatkan yang disampaikan melalui pidato-pidato mereka agar terkesan kehebatan
mereka sebagai orator-orator ulung. Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang
menyimpan tendensi pribadi dan lainnya. Sedangkan yang berpikir ngawur tanpa
menyadarinya adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 8


bertanggungjawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya atau biasa disebut dengan
istilah paralogisme.

Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi tak bermoral, seperti
mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, provokasi sektarian,
pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan
dengan janji palsu.

Begitu banyak manusia yang terjebak dalam lumpur “fallacy”, sehingga diperlukan sebuah
aturan baku yang dapat memandunya agar tidak terperosok dalam sesat pikir yang berakibat
buruk terhadap pandangan dunianya. Seseorang yang berpikir tapi tidak mengikuti aturannya,
terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bisa memengaruhi orang lain yang juga tidak
mengikuti aturan berpikir yang benar.

3.2 Pembagian Sesat Pikir

Dalam sejarah perkembangan logika terdapat berbagai macam tipe kesesatan dalam
penalaran.Secara sederhana kesesatan berpikir dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu
kesesatan formal dan kesesatan material.

1. Kesesatan formal adalah kesesatan yang dilakukan karena bentuk (forma) penalaran
yang tidak tepat atau tidak sahih. Kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap
prinsip-prinsip logika mengenai term dan proposisi dalam suatu argumen (hukum-
hukum silogisme).
2. Kesesatan material adalah kesesatan yang terutama menyangkut isi (materi)
penalaran. Kesesatan ini dapat terjadi karena faktor bahasa (kesesatan bahasa) yang
menyebabkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan, dan juga dapat teriadi karena
memang tidak adanya hubungan logis atau relevansi antara premis dan kesimpulannya
(kesesatan relevansi).

Berikut ini adalah beberapa jenis fallacy dari jenis “Kesesatan Relevansi” (Kesesatan
Material) yang sering dilakukan oleh kaum sofis sejak masa Yunani kuno:

a) Fallacy of Dramatic Instance, yaitu kecenderungan untuk melakukan analisa masalah


sosial dengan menggunakan satu-dua kasus saja untuk mendukung argumen yang
bersifat general atau umum (over generalisation).

Contoh: “Semua yang menentang hukuman mati para terpidana narkoba berarti adalah
pelaku atau pendukung kejahatan narkoba. Saya melihat sendiri dengan mata kepala
saya bahwa tetangga saya kemarin begitu ngotot menentang hukuman mati bagi
pengedar narkoba, eh, ternyata seminggu kemudian ia tertangkap polisi karena
mengedarkan narkoba.”

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 9


Pembuktian Sesat Pikir: Satu-dua kasus yang terjadi terkait pengalaman pribadi kita
dalam satu lingkungan tertentu tidak bisa dengan serta merta dapat ditarik menjadi
satu kesimpulan umum yang berlaku di semua tempat.

b) Argumentum ad Hominem Tipe I (Abuse): Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi
ketika argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya,
tetapi justru menyerang pribadi yang menjadi lawan bicara.

Contoh: Saya tidak ingin berdiskusi dengan Anda, karena Anda seorang anak kecil
yang bodoh dan tidak tahu apa-apa.

Pembuktian Kesesatan Berpikir: Argumen Anda menjadi benar, bukan dengan


membodohi atau menganggap remeh orang lain, tetapi karena argumen Anda disusun
berdasarkan kaidah logika yang benar dan bukti-bukti atau teori yang telah diakui
kebenarannya secara ilmiah.

c) Argumentum ad Hominem Tipe II (Sirkumstansial): Berbeda dari argumentum ad


hominem tipe I, maka sesat pikir tipe II ini menyerang pribadi lawan bicara
sehubungan dengan keyakinan seseorang dan atau lingkungan hidupnya, seperti:
kepentingan kelompok atau bukan kelompok, dan hal-hal yang berkaitan dengan
SARA.

Contoh 3: “Saya tidak setuju dengan apa yang dikatakan olehnya terkait dengan
agama Islam, karena ia bukan orang Islam.”

Pembuktian Kesesatan Berpikir: Ketidaksetujuan bukan karena hasil penalaran dari


argumentasi yang logis, tetapi karena lawan bicara berbeda agama.

d) Argumentum Auctoritatis: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika nilai
penalaran ditentukan semata oleh keahlian atau kewibawaan orang yang
mengemukakannya. Jadi suatu gagasan diterima sebagai gagasan yang benar hanya
karena gagasan tersebut dikemukakan oleh seorang yang sudah terkenal karena
keahliannya.

Contoh: “Saya meyakini bahwa pendapat dosen itu benar karena ia seorang guru
besar.”

Pembuktian Sesat Pikir: Kebenaran suatu pendapat bukan tergantung pada siapa yang
mengucapkannya, meski ia seorang guru besar sekalipun, tetapi karena ketepatan
silogisme yang digunakan berdasarkan aturan logika tertentu dan atau berdasarkan
verifikasi terhadap fakta atau teor ilmiah yang ada.

e) Kesesatan Non Causa Pro Causa (Post Hoc Ergo Propter Hoc): Ini adalah jenis sesat
pikir yang terjadi ketika terjadi kekeliruan penarikan kesimpulan berdasarkan sebab-
akibat. Orang yang mengalami sesat pikir jenis ini biasanya keliru menganggap satu
sebab sebagai penyebab sesungguhnya suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang
terjadi secara berurutan. Orang lalu cenderung berkesimpulan bahwa peristiwa

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 10


pertama merupakan penyebab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua adalah
akibat dari peristiwa pertama–padahal urutan waktu saja tidak dengan sendirinya
menunjukkan hubungan sebab-akibat.

Contoh: Anda membuat surat untuk seseorang yang anda cintai dengan menggunakan
pulpen A, dan ternyata cinta Anda diterima. Kemudian pulpen A itu anda gunakan
untuk ujian, dan Anda lulus. “Ini bukan sembarang pulpen!” kata anda. “Pulpen ini
mengandung keberuntungan.”

Pembuktian Sesat Pikir: Cinta Anda diterima oleh sebab orang yang Anda cintai juga
menerima cinta Anda, bukan karena pena yang Anda gunakanuntuk menulis surat
cinta. Anda lulus ujian, bukan karena pena yang Anda gunakan mengandung
keberuntungan, tetapi karena Anda menguasai dengan baik materi yang diujikan dan
dapat menjawab dengan benar sebagian besar materi ujian dengan tepat waktu.

f) Argumentum ad Baculum: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika argumen
yang diajukan berupa ancaman dan desakan terhadap lawan bicara agar menerima
suatu konklusi tertentu, dengan alasan bahwa jika menolak akan berdampak negatif
terhadap dirinya

Contoh: “Jika Anda tidak mengakui kebenaran apa yang saya katakan, maka Anda
akan terkena azab Tuhan. Karena yang saya ungkapkan ini bersumber dari ayat-ayat
suci dari agama yang kita yakini.”

Pembuktian Sesat Pikir: Tuhan tidak mengazab seseorang hanya karena orang itu
tidak menyetujui pendapat Anda atau tafsir Anda terhadap ayat-ayat kitab suci.

g) Argumentum ad Misericordiam: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika
argumen sengaja diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara
dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan atau keinginan tertentu.

Contoh: “Hukuman mati terhadap pengedar narkoba itu harus dilakukan, karena
alangkah sedihnya perasaan mereka yang keluarganya menjadi korban narkoba.
Betapa beratnya hidup yang harus ditanggung oleh keluarga korban narkoba untuk
menyembuhkan dan merawat korban narkoba, belum lagi bila keluarga mereka yang
kecanduan narkoba itu meninggal. Betapa hancur hati mereka. Karena itu hukuman
mati bagi pengedar narkoba itu adalah hukuman yang sudah semestinya.”

Pembuktian Sesat Pikir: Hukuman mati bagi penjahat narkoba itu tidak dijatuhkan
berdasarkan penderitaan keluarga korban, tetapi karena pelaku tersebut terbukti
melanggar perundangan-undangan yang berlaku di dalam satu proses pengadilan yang
sah, bersih, dan adil.

h) Argumentum ad Ignorantiam: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika seseorang
memastikan bahwa sesuatu itu tidak ada oleh sebab kita tidak mengetahui apa pun
juga mengenai sesuatu itu atau karena belum menemukannya.

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 11


Contoh: “Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu tak ada gunanya, karena sampai
sekarang korupsi masih terus terjadi.”

Pembuktian Sesat Pikir: KPK dibutuhkan bukan ketika korupsi sudah berhasil
diberantas, tetapi justru saat korupsi masih merajalela di tingkat aparat penegak
hukum lainnya (mafia peradilan), aparat birokrasi, dan pejabat politik.

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 12


BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Jadi, untuk menyatakan suatu ide dan agar dapat diimplementasikan, kita harus
menyampaikan kata-kata dengan tepat. Agar tidak menjadikan kesalahfahaman dan
pengertian yang kurang tepat. Untuk itu, adanya term menjelaskan bagian-bagian kata yang
telah dikelompokan secara konvensional.

Term adalah pernyataan ide atau konsep dalam kata atau sejumlah kata. Namun tidak
semua kata bisa disebut term. jelasnya Term adalah bagian dari suatu kata yang berfungsi
sebagai S atau P. Term terdiri dari nama-nama yang tepat yaitu ( proper names) , nama–
nama umum (common names), dan frase–frase deskriptif (descriptive phrases).

Macam-macam term dari segi isi ada dua yaitu kategorimatik yang berarti suatu kata
yang membutuhkan penghubung untuk menjadikannya suatu arti. Dan sinkategorimatik yang
terdiri dari tiga kategori yaitu univocal, equivocal dan analogis. Dari segi kuantitasnya ada
empat yaitu term singular, partikular, universal, kolektif. Dari segi hakikat referen yaitu
term-term konkret, abstrak dan kosong. Dan dari segi asas perlawanan atau ketidaksesuaian
dapat dibedakan menjadi empat yaitu term-term kontradiktoris, term-term kontraris, term-
term privative dan term-term relatif.

Sesat Pikir adalah kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku
nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja. Hal ini juga
bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana dengan berpikir ‘ngawur’.

Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi tak bermoral,
seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, provokasi
sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih
kekuasaan dengan janji palsu.

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 13


DAFTAR PUSTAKA

Poespoprodjo dkk. 2011. Logika Ilmu Menalar. (Bandung: Pustaka Grafika).

Hendrik Rapar, John. 1996. Pengantar Logika (Asas-asas penalaran sistematis). (Yogyakarta:
Kanisisus).
Raga Maran, Rafael. 2007. Pengantar Logika. (Jakarta:Grasindo).
Lanur, Alex. 1983. Logika Selayang Pandang. (Yogyakarta: Kanisius)

Poespoprodjo dkk. 1999. Logika Scientifika-pengantar dialektika dan ilmu. (Bandung:


Pustaka Grafika)

Makalah Ide, Konsep, Term dan Sesat Pikir 14