Anda di halaman 1dari 2

Hubungan Stadium Rhinitis Alergi dengan Derajat Gangguan

Pendengaran

Background

Alergi adalah reaksi sistim imun yang berlebihan terhadap suatu antigen tertentu yang
kemudian disebut dengan allergen, dan diperantarai oleh Immunoglobulin E (IgE) (Levinson,
2014). Alergi berhubungan dengan atopi, yaitu suatu kecenderungan genetik untuk memproduksi
antibody IgE yang tinggi sebagai respon terhadap paparan allergen, dan akan bermanifestasi klinis
menjadi penyakit alergi salah satunya alergi di saluran pernapasan, yaitu rinitis alergi dan asma
(Abbas et al, 2015).

Rinitis alergi merupakan masalah kesehatan global yang berdampak pada penurunan kualitas
hidup, berkurangnya produktivitas kerja dan prestasi sekolah, serta dapat mengganggu aktivitas
social (Bosquet at al, 2008). Rinitis alergi juga mempengaruhi secara signifikan terhadap anggaran
kesehatan. Di Amerika biaya untuk rinitis alergi saja mencapai 2.7 milyar dolar setahun dan
hampir 3,8 juta waktu bekerja dan sekolah hilang setiap tahunnya akibat rinitis alergi (Asha’ari et
al, 2010)

Rinitis Alergi merupakan gangguan fungsi hidung yang terjadi setelah pajanan alergen melalui
inflamasi mukosa hidung yang diperantarai oleh IgE dengan gejala karakteristiknya rinore,
obstruksi hidung, dan hidung gatal, serta bersin – bersin dapat sembuh spontan dengan atau tanpa
pengobatan. Kelompok kerja Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma (ARIA-WHO 2001)
membuat klasifikasi baru rinitis alergi dengan memakai parameter gejala dan kualitas hidup.
Berdasarkan lamanya gejala, rinitis alergi dibagi dalam intermiten dan persisten, sedangkan
berdasarkan derajat berat penyakit, dibagi menjadi ringan atau sedang berat (ARIA-WHO update,
2008). Prevalensi rinitis alergi di dunia saat ini mencapai 10 - 25% atau lebih dai 600 juta penderita
dari seluruh etnis dan usia (Melati, 2010).

Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala dan pemeriksaan fisik THT.
Ketepatan diagnosis sebaiknya ditunjang dengan tes kulit atau bila memungkinkan dengan
Radioallergosorbent test (IgE RAST), tetatpi tes ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi serta
hasilnya memerlukan waktu beberapa hari (ARIA-WHO update, 2008). Tes kulit merupakan alat
diagnostic utama dan direkomendasikan untuk mendeteksi reaksi alergi tipe cepat karena terdapat
korelasi yang tinggi dengan tingkat gejala, sehingga dapat menjadi standar untuk dibandingkan
dengan tes lainnya (Melati, 2010). Kelebihan tes ini adalah sederhana, realtif murah, aman,
menggunakan berbagai alergen sekaligus dalam waktu bersamaan, hasilnya dapat dibaca dalam
waktu 15 menit serta mudah diterima oleh penderita. Penggunaan ekstrak alergen yang telah
distandarisasi dianjurkan supaya keamanan tetap terjaga. Kekurangannya adalah kemungkinan
untuk tidak memberiksan hasil yang signifikan pada individu dengan sensitifitas antigen yang
rendah sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut berupa tes intradermal. Pemeriksaan ini
pun tidak selalu tersedia di rumah sakit atau ruang praktik swasta sehingga perlu dipikirkan tes
penunjang lain yang mudah dilakukan (Kraouse JH, 2008).

Alergi dipercaya mempunyai pengaruh pada gangguan telinga tengah dan dalam. Rhinitis
alergi dapat melibatkan telinga dalam. Penelitian mengenai hal ini masih sangat sedikit. Namun
pada telinga dalam ditemukan adanya imunitas humoral dan selular dan adanya aktivitas
imunologi pada sacus dan ductus endolimfatikus. Imunoglobulin G,M dan A dan komponen yang
dikeluarkan semua dapat ditemukan di saccus endolimfatikus, sementara plasma sel dan makrofag
dan plasma cell bisa ditemukan pada perisacular connective tissue (Altermatt, 1990).