Anda di halaman 1dari 26

CASE REPORT

KATARAK SENILIS IMATUR ODS

Oleh:
Anugerah Indah Sari
Ayu Indah Rachmawati
Nofia Dian Ardiani S

Pembimbing:
Dr. Rani Himayani, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU PENYAKIT MATA


RUMAH SAKIT UMUM DR. H. ABDUL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
2018
BAB I
ILUSTRASI KASUS

1.1 IdentitasPasien
Nama : Ny. F
Umur : 60 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Banjar Agung, Tulang Bawang
Tanggal Periksa : 17 Desember 2018

1.2 Anamnesis
Informasi didapatkan melalui autoanamnesis pada tanggal 17 Desember 2018.

Keluhan Utama
Kedua mata buram tanpa disertai mata merah sejak 1 tahun yang lalu dan bertambah
parah sejak 1 bulan yang lalu.

Keluhan Tambahan
Merasa silau jika terkena sinar/cahaya

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poli mata RSAM dengan keluhan kedua mata buram secara perlahan,
yang semakin memberat buramnya, tanpa disertai mata merah sejak 1 bulan yang lalu.
Pasien awalnya sering merasa silau apabila diruangan terang dan mengaku kesulitan
melihat saat siang hari daripada malam hari. Pasien merasa melihat kabut asap yang
berangsur menjadi buram. Nyeri kepala disangkal, mata merah disangkal, pusing
kepala disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien menderita darah tinggi sejak 6 tahun yang lalu dan tidak rutin minum obat
darah tinggi. Riwayat DM disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien tidak mengetahui ada atau tidaknya keluarga yang memiliki hipertensi atau
DM.

1.3 PemeriksaanFisik
1. Tanda Vital
KeadaanUmum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 160/110 mmHg
Frekuensi Nadi : 79 x/menit
Frekuensi Napas : 18x/menit
Suhu : 36.20C

2. Status Generalis
Kepala
Bentuk : Simetris, normochepal
Rambut : Hitam keputihan
Mata : Sesuai Status Oftalmologis
Telinga : Edema (-), sekret (-)
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-), epistaksis (-)
Mulut : Kering (-), sianosis (-)
Kesan : Dalam batas normal

Leher
Trakea : Deviasi trachea (-), letak normal
KGB : TidakadapembesaranKGB leher
Kesan : Dalam batas normal
Thoraks
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Systolic thrill tidakteraba
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi : SI/SII reguler, murmur (-), gallop (-)
Kesan : Pemeriksaanjantungdalambatas normal

Paru
Anterior Posterior
Kanan Kiri Kanan Kiri
Inspeksi Normochest, Normochest, Normochest, Normochest,
pergerakan dada pergerakan dada pergerakan dada pergerakan dada
simetris simetris simetris simetris
Palpasi Ekspansi dada Ekspansi dada Ekspansi dada Ekspansi dada
dextra = sinistra dextra = sinistra dextra = sinistra dextra = sinistra
Perkusi Sonor Sonor Sonor Sonor
Auskultasi Suara napas Suara napas Suara napas Suara napas
vesikuler (N), vesikuler (N), vesikuler (N), vesikuler (N),
ronki -/-, ronki -/-, ronki -/-, ronki -/-,
wheezing -/- wheezing -/- wheezing -/- wheezing -/-
Kesan : Pemeriksaan paru dalam batas normal

Abdomen
Inspeksi : Datar
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Timpani (+)
Palpasi : Teraba lembut, nyeri (-), hepar & lien dalam batas normal
Kesan : Pemeriksaan abdomen dalambatas normal

Ekstremitas
Superior : Akral dingin (-/-), oedem (-/-)
Infrerior : Akral dingin (-/-), oedem (-/-)
Kesan : Dalam batas normal
3. Status Lokalis Oftalmologis

Oculus Dextra (OD) Oculus Sinistra (OS)


½⁄ Visus 1⁄
60 300
Tidak dilakukan Koreksi Tidak dilakukan
Tidak dilakukan Skiaskopi Tidak dilakukan
Tidak dilakukan Sensus Coloris Tidak dilakukan
Ortoforia, eksoftalmus (-), Ortoforia, eksoftalmus (-),
endoftalmus (-), proptosis (-), Bulbus Oculi endoftalmus (-), proptosis (-),
strabismus (-) strabismus (-)
Hitam, simetris, madarosis (-) Supersilia Hitam, simetris, madarosis (-)

Tidak ditemukan Parese/Paralise Tidak ditemukan


Edema (-), ektropion (-), Palpebra Superior Edema (-),ektropion (-),
entropion (-), hiperemis (-) entropion (-), hiperemis (-)
Edema (-),ektropion (-), Palpebra Inferior Edema (-),ektropion (-),
entropion (-), hiperemis (-) entropion (-), hiperemis (-)
Hiperemis (-), membran (-), Konjungtiva Palpebra Hiperemis (-),membran (-),
folikel (-), papil (-) folikel (-), papil (-)
Sekret (-) Konjungtiva Fornices Sekret (-)
Injeksi konjungtiva (-) Konjungtiva Bulbi Injeksi konjungtiva (-)
Injeksi siliar (-), Ikterik (-) Sclera Injeksi siliar (-), Ikterik (-)
Jernih, ulkus (-), infiltrat(-), Kornea Jernih, ulkus (-), infiltrat(-),
arcus senilis (+) arcus senilis (+)
Dangkal Camera Oculi Anterior Dangkal
Kecoklatan, kripta (+) Iris Kecoklatan, kripta (+)
Bulat, reflex pupil (+/+) Pupil Bulat, reflex pupil (+/+)
Keruh, shadow test (+) Lensa Keruh, shadow test (+)
Refleks merah (+) menurun Fundus Refleks Refleks merah (+) menurun
Tidak dilakukan Corpus Vitreum Tidak dilakukan
T dig N Tensio Oculi T dig N
Tidak ada obstruksi Sistem Kanalis, Tidak ada obstruksi
Lakrimalis

Kesan: Visus ODS:½⁄60/ 1⁄300, COA ODS: dangkal/dangkal, lensa ODS keruh,
shadow test (+) / keruh, shadow test (+), Refleks fundus ODS (+
menurun/+ menurun)
1.4 Resume
Ny. F, 60 tahun datang dengan keluhan kedua mata buram seperti berkabut sejak
1tahun yang lalu, semakin hari semakin terasa berat buramnya. Fotofobia (+), nyeri
kepala (-), mual muntah (-). Riwayat hipertensi (+).

Status oftalmologis:
OD Visus: ½⁄60, ortoforia, COA: dangkal, lensa: keruh, shadow test (+)

OS Visus: 1⁄300, ortoforia, COA: dangkal, lensa: keruh, shadow test (+)

1.5 Pemeriksaan Anjuran


 Biometri
 USG

1.6 Diagnosis Kerja


Katarak senilis imatur ODS

1.7 Diagnosis Banding


Katarak senilis insipien ODS
Katarak senilis imatur ODS
Katarak senilis matur ODS
Katarak senilis hipermatur ODS

1.8 Penatalaksanaan
Umum Pre Operatif:
 Rontgen thoraks
 Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, GDS, CT/BT)
 Pemeriksaan jantung

Operatif:

Phacoemulsifikasi OD + IOL
Umum Post Operatif:

 Menjaga kebersihan mata dengan ditutup menggunakan kasa steril yang diganti
setiap harinya.
 Mengikuti instruksi perawatan mata post-op katarak selama satu bulan (mata tidak
basah, terbentur/diucek, menunduk berlebihan, mengedan, mengangkat beban >5
kg)
 Kontrol kembali ke poliklinik mata setelah diperbolehkan pulang pasca operasi
untuk mengevaluasi perbaikan visus, tanda inflamasi dan infeksi.

1.9 Prognosis
Quo ad vitam : Ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam :Dubiaad bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Mata


Mata merupakan organ visual yang terdiri dari bola mata (Bulbus oculi) dan
struktur tambahan (Structurae oculi accessorae). Bola mata terletak di suatu cavitas
yang menyerupai piramid segi empat berongga dengan dasar yang mengarah ke
anteromedial dan apeks ke posteromedial. Bola mata terdiri atas kornea dan nervus
opticus.
Bola mata orang dewasa normal memiliki diameter anteroposterior sekitar 24,2
mm. Bola mata terdiri atas tiga lapisan yaitu lapisan luar (fibrosa), lapisan tengah
(vaskular), dan lapisan dalam. Lapisan fibrosa terdiri dari sklera dan kornea. Lapisan
vaskular yang kaya pembuluh darah terdiri dari koroid, korpus siliaris, dan iris.
Lapisan dalam terdiri atas retina yang memiliki bagian optik dan non-visual.Bola mata
memiliki media refraksi yaitu media yang dapat membiaskan cahaya yang masuk ke
mata, yaitu lensa, kornea, aqueous humor, dan vitreous humor.

- Sklera : merupakan lapisan luar berwarna opak yang menutupi lima perenam
posterior bola mata. Sklera memiliki ketebalan 0,5 mm, terdiri atas jaringan ikat
padat, dan relatif avaskular. Di bagian posterior sklera akan menebal dan
bergabung dengan epineurium yang melapisi nervus opticus.
- Kornea : adalah selaput bening yang menutupi seperenam anterior bola mata.
Kornea memiliki lima lapisan yaitu : epitel, membran bowman, stroma, membran
descement, dan endotel.
- Koroid : merupakan lapisan yang sangat vaskular pada dua pertiga posterior mata
yang tersusun atas jaringan ikat longgar bervaskular yang banyak mengandung
fibroblast, melanosit, serat kolagen dan elastin, limfosit, makrofag, sel mast, dan
sel plasma. Koroid memiliki banyak pembuluh darah yang berfungsi untuk
memberi nutrisi pada retina bagian terluar yang terletak di bawahnya.
- Korpus Siliaris: membentang ke depan dari ujung anterior koroid ke pangkal iris.
Korpus siliaris terdiri atas pars plicata dan pars plana. Processus siliaris berasal dari
pars plicata yang merupakan pembentuk aqueous humor.
- Iris : merupakan perpanjangan korpus siliaris ke anterior. Di dalam stroma iris
terdapat sfingter dan otot otot dilator. Iris mengendalikan banyaknya cahaya yang
masuk ke dalam mata dengan mengecilkan (miosis) atau melebarkan (midriasis)
pupil.
- Retina : merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima
rangsangan cahaya dan terdiri atas sembilan lapisan, yaitu : membran limitans
interna, lapisan serat saraf, lapisan sel ganglion, lapisan pleksiform dalam, lapisan
inti dalam (nukleus dalam), lapisan pleksiform luar, lapisan inti luar (nukleus luar),
membran limitans eksterna, lapisan fotoreseptor, dan epitel pigmen retina
- Lensa : merupakan struktur bikonkaf yang transparan dan avaskular dengan tebal
sekitar 4 mm dan diameternya 10 mm. Terletak di posterior iris dan anterior
vitreous humor. Lensa ditahan ditempatnya oleh ligamentum suspensorium atau
zonula zinni yang tersusun atas banyak fibril. Lensa terdiri dari enam puluh lima
persen air, 35% protein, dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di jaringan tubuh
lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan
lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun
tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah ataupun saraf di lensa.
- Aqueous Humor : diproduksi oleh korpus siliaris. Aqueous humor memberi nutrisi
untuk kornea dan lensa yang tidak memiliki pembuluh darah. Aqueous humor akan
masuk ke camera oculi posterior, berjalan melalui pupil ke dalam camera oculi
anterior, dan bermuara ke dalam sinus venosus sklera atau canalis schlemm.
- Vitreous body : merupakan cairan yang berada di dalam corpus viterum. Vitreous
body penting untuk mempertahankan bentuk bola mata agar tetap bulat. Berfungsi
untuk mentransmisi cahaya, menahan retina, dan menopang lensa

2.2 Fisiologi Lensa


Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk
memfokuskan cahaya yang datang dari jauh, otot otot siliaris relaksasi, menegangkan
serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang
terkecil, daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya paralel atau terfokus ke
retina. Untuk memfokuskan cahaya dari benda dekat, otot siliaris berkontraksi
sehingga tegangan zonula berkurang.
Kapsul lensa yang elastik kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis
diiringi oleh peningkatan daya biasnya. Kerjasama fisiologik tersebut antara korpus
siliaris, zonula, dan lensa untuk memfokuskan benda dekat ke retina dikenal sebagai
akomodasi. Seiring dengan pertambahan usia, kemampuan refraksi lensa perlahan-
lahan berkurang.

Metabolisme Lensa Normal


Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation (sodium dan
kalium). Kedua kation berasal dari humour aqueous dan vitreous. Kadar kalium di
bagian anterior lensa lebih tinggi di bandingkan posterior. Dan kadar natrium di
bagian posterior lebih besar. Ion K bergerak ke bagian posterior dan keluar ke aqueous
humour, dari luar Ion Na masuk secara difusi dan bergerak ke bagian anterior untuk
menggantikan ion K dan keluar melalui pompa aktif Na-K ATPase, sedangkan kadar
kalsium tetap dipertahankan di dalam oleh Ca-ATPase.
Metabolisme lensa melalui glikolsis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%). Jalur
HMP shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose, juga
untuk aktivitas glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldose reduktse adalah
enzim yang merubah glukosa menjadi sorbitol, dan sorbitol dirubah menjadi fructose
oleh enzim sorbitol dehidrogenase.
2.3 Katarak
Katarak berasal dari Yunani “Katarrhakies”, Inggris “Cataract”, Latin “Cataracta”
yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana seperti tertutup
air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada
lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein
lensa atau terjadi akibat kedua-duanya. Kekeuruhan ini menyebabkan sulitnya cahaya
untuk mencapai retina, sehingga penderita katarak mengalami gangguan penglihatan
dimana objek terlihat kabur. Mereka yang mengidap kelainan ini mungkin tidak
menyadari telah mengalami gangguan katarak apabila kekeruhan tidak
terletak dibagian tengah lensanya. Lima puluh satu persen (51%) kebutaan diakibatkan
oleh katarak. Katarak senilis merupakan jenis katarak yang paling sering ditemukan.
Katarak senilis adalah setiap kekeruhan pada lensa yang terjadi pada usia lanjut, yaitu
di atas usia 50 tahun.
Gangguan penglihatan yang dirasakan oleh penderita katarak tidak terjadi secara
instan, melainkan terjadi berangsur-angsur, sehingga penglihatan penderita terganggu
secara tetap atau penderita mengalami kebutaan. Katarak tidak menular dari satu mata
ke mata yang lain, namun dapat terjadi pada kedua mata secara bersamaan. Katarak
biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun dan pasien mungkin meninggal
sebelum diperlukan pembedahan. Apabila diperlukan pembedahan maka
pengangkatan lensa akan memperbaiki ketajaman penglihatan pada > 90% kasus,
sisanya mungkin mengalami kerusakan retina atau mengalami penyulit pasca bedah
serius misalnya glaukoma, ablasio retina, atau infeksi yang menghambat pemulihan
daya pandang.

2.3.1 Etiologi
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya
usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun
keatas. Akan tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu
terinfeksi virus pada saat hamil muda. Penyebab katarak lainnya meliputi:
 Faktor keturunan
 Cacat bawaan sejak lahir
 Masalah kesehatan, misalnya diabetes
 Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid
 Gangguan pertumbuhan
 Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama
 Asap rokok
 Operasi mata sebelumnya
 Trauma (kecelakaan) pada mata

2.3.2 Faktor Resiko


Katarak adalah penyakit degeneratif yang dipengaruhi oleh beberapa faktor,
baik internal maupun eksternal. Faktor internal yang berpengaruh antara lain
adalah umur dan jenis kelamin sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh
adalah pekerjaan dan pendidikan yang berdampak langsung pada status sosial
ekonomi dan status kesehatan seseorang, serta faktor lingkungan, yang dalam
hubungannya dalam paparan sinat Ultraviolet yang berasal dari sinar matahari.
 Usia
Proses normal ketuaan mengakibatkan lensa menjadi keras dan keruh.
Dengan meningkatnya umur, maka ukuran lensa akan bertambah dengan
timbulnya serat-serat lensa yang baru. Seiring bertambahnya usia, lensa
berkurang kebeningannya, keadaan ini akan berkembang dengan
bertambahnya berat katarak. .Prevalensi katarak meningkat tiga sampai
empat kali pada pasien berusia >65 tahun.
 Jenis Kelamin
Usia harapan hidup wanita lebih lama dibandingkan oleh laki-laki, ini
diindikasikan sebagai faktor resiko katarak dimana perempuan penderita
katarak lebih banyak dibandingkan laki-laki.
 Riwayat Penyakit
Diabetes Melitus (DM) dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks
refraksi, dan kemampuan akomodasi. Meningkatnya kadar gula darah, juga
akan meningkatkan kadar gula di aqueous humor. Glukosa dari aqueous akan
masuk ke lensa melalui difusi dimana sebagian dari glukosa ini diubah
menjadi sorbitol oleh enzim aldose reduktase melalui jalur poliol, yang tidak
dimetabolisme dan tetap tinggal di lensa.
Telah terbukti bahwa akumulasi intraselular sorbitol menyebabkan perubahan
osmotik sehingga air masuk ke lensa, yang akan mengakibatkan
pembengkakkan serabut lensa. Penelitian pada hewan telah menunjukkan
bahwa akumulasi poliol intraseluler menyebabkan kolaps dan likuifaksi
(pencairan) serabut lensa, yang akhirnya terjadi pembentukan kekeruhan pada
lensa.

2.3.3 Patogenesis
Katarak senilis adalah penyebab utama gangguan penglihatan pada orang
tua. Patogenesis katarak senilis bersifat multifaktorial dan belum sepenuhnya
dimengerti. Walaupun sel lensa terus bertumbuh sepanjang hidup, tidak ada sel-
sel yang dibuang. Seiring dengan bertambahnya usia, lensa bertambah berat dan
tebal sehingga kemampuan akomodasinya menurun. Saat lapisan baru dari
serabut korteks terbentuk secara konsentris, sel-sel tua menumpuk ke arah
tengah sehingga nukleus lensa mengalami penekanan dan pengerasan (sklerosis
nuklear).
Crystallin (protein lensa) mengalami modifikasi dan agregasi kimia menjadi
high-molecular weight-protein. Agregasi protein ini menyebabkan fluktuasi
mendadak pada indeks refraksi lensa, penyebaran sinar cahaya, dan penurunan
transparansi. Perubahan kimia protein lensa nuklear ini juga menghasilkan
pigmentasi yang progresif sehingga seiring berjalannya usia lensa menjadi
bercorak kuning kecoklatan sehingga lensa yang seharusnya jernih tidak bisa
menghantarkan dan memfokuskan cahaya ke retina. Selain itu, terjadi penurunan
konsentrasi Glutathione dan Kalium diikuti meningkatnya konsentrasi Natrium
dan Kalsium.

Perubahan yang terjadi pada lensa usia lanjut:


a. Kapsula
 Menebal dan kurang elastic (1/4 dibanding anak)
 Mulai presbiopia
 Bentuk lamela kapsul berkurang atau kabur
 Terlihat bahan granular
b. Epitel makin tipis
 Sel epitel (germinatif pada ekuator bertambah besar dan berat)
 Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata
c. Serat lensa
 Serat ireguler
 Pada korteks jelas kerusakan serat sel
 Brown sclerotic nucleu, sinar UV lama kelamaan merubah protein nukelus
lensa, sedang warna coklat protein lensa nucleus mengandung histidin dan
triptofan di banding normal
 Korteks tidak berwarna karenai kadar asam askorbat tinggi dan
menghalangi fotooksidasi.

Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda. Perubahan fisik dan
kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparasi, akibat perubahan pada
serabut halus multipel yang memanjang dari badan siliar ke sekitar daerah di
luar lensa, misalnya menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Pada protein
lensa menyebabkan koagulasi, sehingga mengakibatkan pandangan dengan
penghambatan jalannya cahaya ke retina.

2.3.4 Klasifikasi Katarak


a. Usia
 Katarak kongenital (terlihat pada usia dibawah 1 tahun)
 Katarak juvenil (terlihat sesudah usia 1 tahun)
 Katarak senile (setelah usia 50 tahun)
b. Lokasi kekeruhan lensa
 Nuklear
 Kortikal
 Subkapsular (posterior/anterior)  jarang
c. Derajat kekeruhan lensa
 Insipien
 Imatur
 Matur
 Hipermatur
d. Kecepatan perkembangannya
 Stationary
 Progressive
e. Penampakan biomikroskopis
 Lamellar
 Coralliform
 Pungtata
f. Etiologi
 Katarak primer
 Katarak sekunder
g. Konsistensinya
 Katarak lunak
 Katarak keras

2.3.5 Tipe Katarak Senilis


a. Katarak Nuklear
Dalam tingkatan tertentu sklerosis dan penguningan nuklear dianggap
normal setelah usia pertengahan. Pada umumnya, kondisi ini hanya sedikit
mengganggu fungsi penglihatan.Jumlah sklerosis dan penguningan yang
berlebihan disebut katarak nuklear, yang menyebabkan opasitas sentral.
Tingkat sklerosis, penguningan dan opasifikasi dinilai dengan menggunakan
biomikroskop slit-lamp dan pemeriksaan reflex merah dengan pupil dilatasi.
Katarak nuklear cenderung berkembang dengan lambat. Sebagian besar
katarak nuklear adalah bilateral, tetapi bisa asimetrik. Ciri khas dari katarak
nuklear adalah membaiknya penglihatan dekat tanpa kacamata, keadaan
inilah yang disebut sebagai “penglihatan kedua”. Ini merupakan akibat
meningkatnya kekuatan fokus lensa bagian sentral, menyebabkan refraksi
bergeser ke miopia (penglihatan dekat). Kadang-kadang, perubahan
mendadak indeks refraksi antara nukleus sklerotik dan korteks lensa dapat
menyebabkan monocular diplopia .
Penguningan lensa yang progresif menyebabkan diskriminasi warna yang
buruk. Pada kasus yang sudah lanjut, nukleus lensa menjadi opak dan coklat
dan disebut katarak nuklear brunescent. Secara histopatologi, karakteristik
katarak nuklearis adalah homogenitas nukleus lensa dengan hilangnya lapisan
tipis seluler.

b. Katarak Kortikal
Katarak kortikal adalah kekeruhan pada korteks lensa. Ini adalah jenis
katarak yang paling sering terjadi. Lapisan korteks lensa tidak sepadat pada
bagian nukleus sehingga lebih mudah terjadi overhidrasi akibat
ketidakseimbangan elektrolit yang mengganggu serabut korteks lensa
sehingga terbentuk osifikasi kortikal, yang ditunjukkan pada diabetes dan
galaktosemia. Perubahan hidrasi serat lensa menyebabkan terbentuknya
celah-celah dalam pola radial disekeliling daerah ekuator. Katarak ini
cenderung bilateral, tetapi sering asimetrik. Derajat gangguan fungsi
penglihatan bervariasi, tergantung seberapa dekat kekeruhan lensa dengan
sumbu penglihatan. Gejala yang sering ditemukan adalah penderita merasa
silau pada saat mencoba memfokuskan pandangan pada suatu sumber cahaya
di malam hari.
Pemeriksaan menggunakan biomikroskop slitlamp akan mendapatkan
gambaran vakuola, degenerasi hiropik serabut lensa, serta pemisahan lamella
kortek anterior atau posterior oleh air. Kekeruhan putih seperti baji terlihat di
perifer lensa dengan ujungnya mengarah ke sentral, kekeruhan ini tampak
gelap apabila dilihat menggunakan retroiluminasi. Secara histopatologi,
karakteristik dari katarak kortikal adalah adanya pembengkakan hidrofik
serabut lensa. Globula Morgagni (globules-globulus material eosinofilik)
dapat diamati di dalam celah antara serabut lensa.

c. Katarak Subkapsularis Posterior


Katarak subkapsularis posterior terdapat pada korteks di dekat kapsul
posterior bagian sentral. Katarak ini biasanya didapatkan pada penderita
dengan usia yang lebih muda dibanding kedua jenis katarak yang lain.
Gejalanya antara lain adalah fotofobia dan penglihatan yang buruk saat
mata berakomodasi atau diberikan miotikum. Ini dikarenakan ketika pupil
konstriksi saat berakomodasi, cahaya yang masuk ke mata menjadi terfokus
ke sentral, dimana terdapat katarak subkapsularis posterior, menyebabkan
cahay menyebar dan mengganggu kemampuan mata untuk memfokuskan
pada makula.
Deteksi katarak subkapsularis posterior paling baik menggunakan
biomikroskop slitlamp pada mata yang telah ditetesi midriatikum. Pada awal
pembentukan katarakakan ditemukan gambaran kecerahan mengkilap seperti
pelangi yang halus pada lapisan korteks posterior. Sedangkan pada tahap
akhir terbentuk kekeruhan granular dan kekeruhan seperti plak di kortek
subkapsular posterior.Kekeruhan lensa di sini dapat timbul akibat trauma,
penggunaan kortikosteroid (topikal atau sistemik), peradangan atau pajanan
radiasi pengion.

Gambar 2. Tipe Katarak Senilis. A (katarak nuklear), B (katarak kortikal), C


(katarak subkapsularis posterior)

2.3.6 Stadium Katarak Senilis


a. Katarak Insipien
Pada stadium ini akan terlihat hal-hal berikut :
 Katarak kortikal : kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji
menuju korteks anterior dan posterior. Vakuol mulai terlihat di dalam
korteks.
 Katarak subkapsular posterior : kekeruhan mulai terlihat anterior
subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi
jaringan degenerative (benda Morgagni). Kekeruhan ini dapat
menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada
semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang
lama.

b. Katarak Imatur
Katarak imatur, sebagian lensa keruh atau katarak. Katarak yang belum
mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah
volume lensa akibat meningktnya tekanan osmotik bahan lensa yang
degeneratif. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan
hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma sekunder.

c. Katarak Matur
Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh massa lensa.
Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila
katarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan
keluar, sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal. Akan terjadi
kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi
lensa. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali, tidak
terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris
negatif.

d. Katarak Hipermatur
Katarak hipermatur, katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut,
dapat menjadi keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang
berdegenerasi keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi kecil,
berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan
lipatan kapsul lensa. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan
kapsul yang tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat
keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu
disertai dengan nukleus yang terbenam di dalam korteks lensa karena lebih
berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni.
2.3.7 Penatalaksanaan Katarak
Operasi katarak merupakan operasi mata yang sering dilakukan diseluruh
dunia, karena merupakan modalitas utama terapi katarak. Tujuan dilakukan
operasi katarak adalah perbaikan tajam penglihatan sehingga meningkatkan
kualitas hidup pasien.

Adapun indikasi operasi :


a. Indikasi Optik
Merupakan indikasi terbanyak dari pembedahan katarak. Jika penurunan dari
tajam penglihatan pasien telah menurun hingga mengganggu kegiatan sehari-
hari, maka operasi katarak bisa dilakukan.
b. Indikasi Medis
Pada beberapa keadaan di bawah ini, katarak perlu dioperasi segera, bahkan
jika prognosis kembalinya penglihatan kurang baik :
 Katarak hipermatur
 Glaukoma sekunder
 Uveitis sekunder
 Dislokasi/Subluksasio lensa
 Benda asing intra-lentikuler
 Retinopati diabetika
 Ablasio retina
c. Indikasi Kosmetik
Jika penglihatan hilang sama sekali akibat kelainan retina atau nervus
optikus, namun kekeruhan katarak secara kosmetik tidak dapat diterima,
misalnya pada pasien muda, maka operasi katarak dapat dilakukan hanya
untuk membuat pupil tampak hitam meskipun pengelihatan tidak akan
kembali.

TEKNIK OPERASI KATARAK :


a. Intracapsular Cataract Extraction ( ICCE)
Pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Dapat
dilakukan pada zonula Zinn telah rapuh atau bergenerasi dan mudah diputus.
Pada katarak ekstraksi intrascapular tidak akan terjadi katarak sekunder dan
merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama populer.
Akan tetapi pada teknik ini tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada
pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai segmen
hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini yaitu
astigmat, glaucoma, uveitis, endoftalmitis dan perdarahan, sekarang jarang
dilakukan.
b. Extracapsular Cataract Extraction (ECCE)
 Extracapsular Cataract Extraction (ECCE)
Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan
pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior
sehingga massa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan
tesebut.
Termasuk dalam golongan ini ekstraksi linear, aspirasi dan ligasi.
Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan
kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra ocular,
kemungkinan akan dilakukan bedah glaucoma, mata dengan predisposisi
untuk tejadinya prolaps badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi
retina, mata dengan sitoid macula edema, pasca bedah ablasi, untuk
mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti
prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu
dapat terjadinya katarak sekunder.
 Small Incision Cataract Surgery (SICS)
SICS adalah salah satu teknik operasi katarak yang pada umumnya
digunakan di negara berkembang. Teknik ini biasanya menghasilkan hasil
visus yang bagus dan sangat berguna untuk operasi katarak dengan
volume yang tinggi. Teknik ini dilakukan dengan cara insisi 6 mm pada
sclera (jarak 2 mm dari limbus), kemudian dibuat sclera tunnel sampai di
bilik mata depan. Dilakukan CCC, hidrodiseksi, hidrideliniasi dan disini
nucleus dikeluarkan dengan manual, korteks dikeluarkan dengan aspirasi
dan irigasi kemudian dipasang IOL in the bag.
 Phacoemulsification.
Phacoemulsifikasi adalah teknik yang paling mutakhir. Hanya
diperlukan irisan yang sangat kecil saja. Dengan menggunakan getaran
ultrasonik yang dapat menghancurkan nukleus lensa. Sebelum itu dengan
pisau yang tajam, kapsul anterior lensa dikoyak. Lalu jarum ultrasonik
ditusukkan ke dalam lensa, sekaligus menghancurkan dan menghisap
massa lensa keluar. Cara ini dapat dilakukan sedemikian halus dan teliti
sehingga kapsul posterior lensa dapat dibiarkan tanpa cacat. Dengan
teknik ini maka luka sayatan dapat dibuat sekecil mungkin sehingga
penyulit maupun iritasi pasca bedah sangat kecil.Irisan tersebut dapat
pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan jahitan sehingga
memungkinkan pasien dapat melakukan aktivitas normal dengan segera.
Teknik ini kurang efektif pada katarak yang padat.

2.3.8 Komplikasi operasi


Terdapat banyak komplikasi yang bisa terjadi dari operasi katarak dan
komplikasi ini bisa dibagi menjadi :
a. Intraoperation : Selama ECCE atau phacoemulsification, ruangan anterior
mungkin akan menjadi dangkal karena pemasukan yang tidak adekuat dari
keseimbangan solution garam kedalam ruangan anterior, kebocoran akibat
insisi yang terlalu lebar, tekanan luar bola mata, tekanan positif pada vitreus,
perdarahan pada suprachoroidal.
b. Postoperation
Komplikasi selama postoperative dibagi dalam Early Complication Post
Operation dan Late Complication Post Operation.
 Hilangnya vitreous. Jika kapsul posterior mengalami kerusakan selama
operasi maka gel vitreous dapat masuk kedalam bilik anterior, yang
merupakan resiko terjadinya glaucoma atau traksi pada retina. Keadaan ini
membutuhkan pengangkatan dengan satu instrument yang mengaspirasi
dan mengeksisi gel (vitrektomi).
 Prolaps iris. Iris dapat mengalami protrusi melalui insisi bedah pada
periode pasca operasi dini. Terlihat sebagai faerah berwarna gelap pada
lokasi insisi. Pupil mengalami distorsi. Keadaan ini membutuhkan
perbaikan segera dengan pembedahan.
 Endoftalmitis. Komplikasi infektif ekstraksi katarak yang serius namun
jarang terjadi. Pasien datang dengan :
 Mata merah yang terasa nyeri.
 Penurunan tajam penglihatan, biasanya dalam beberapa hari setelah
pembedahan.
 Pengumpulan sel darah putih di bilik anterior (hipopion).
 Astigmatisme pascaoperasi. Mungkin diperlukan pengangkatan jahitan
kornea untuk mengurangi astigmatisme kornea. Ini dilakukan sebelum
pengukuran kacamata baru namun setelah luka insisi sembuh.
 Ablasio retina. Tehnik-tehnik modern dalam ekstraksi katarak
dihubungkan dengan rendahnya tingkat komplikasi ini. Tingkat
komplikasi ini bertambah bila terdapat kehilangan vitreous.
 Edema macular sistoid. Makula menjadi edema setelah pembedahan,
terutama bila disertai hilangnya vitreous. Dapat sembuh seiring waktu
namun dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan yang berat.
 Opasifikasi kapsul posterior. Pada sekitar 20% pasien, kejernihan kapsul
posterior berkurang pada beberapa bulan setelah pembedahan ketika sel
epitel residu bermigrasi melalui permukaannya. Penglihatan menjadi
kabur dan mungkin didapatkan rasa silau.

2.3.9 Prognosis
Tidak adanya penyakit okular lain yang menyertai pada saat dilakukannya
operasi yang dapat mempengaruhi hasil dari operasi, seperti degenerasi makula
atau atropi nervus optikus memberikan hasil yang baik dengan operasi standar
yang sering dilakukan yaitu ECCE dan Phacoemulsifikasi.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Apakah Diagnosis sudah Tepat?


Ya. Berdasarkan anamnesis yang dilakukan secara langsung kepada pasien
(autoanamnesis) dan pemeriksaan fisik didapatkan ringkasan sebagai berikut :

Ny.F, usia 60 tahun datang ke poli Mata RSAM dengan keluhan pandangan kedua
mata kabur, tanpa disertai mata merah, yang dirasakan semakin memberat sejak 1
tahun terakhir. Pasien merasa melihat kabut asap yang berangsur menjadi buram
pada kedua matanya. Pasien mengaku merasa silau apabila diruangan terang dan
lebih nyaman melihat saat malam hari daripada siang hari. Nyeri kepala
disangkal, mata merah disangkal, pusing kepala disangkal. Riwayat trauma pada
mata disangkal. Pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi sejak 6 tahun yang
lalu. Riwayat Diabetes Mellitus disangkal.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal, tanda-
tanda vital tekanan darah 160/110, frekuensi nadi, pernapasan, dan suhu dalam
batas normal. Status oftalmologis Visus OD ½/60, visus OS 1/300. Edema
palpebra ODS (-/-). Injeksi ODS (-/-). Kornea ODS (jernih/jernih). COA ODS
(dangkal/dangkal). Reflek pupil ODS (+/+). Lensa ODS keruh (+/+). Shadow test
(+/+). Refleks fundus ODS (+/+).

(A) (B)
Gambar 3. Tampak anterior mata Ny. F. A (okular dekstra), B (okular sinistra)
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik tersebut, Ny.F dapat didiagnosis
menderita katarak senilis tipe imatur. Hal ini sesuai dengan teori yang ada,
dimana katarak senilis merupakan jenis katarak yang paling sering ditemukan,
yaitu adanya kekeruhan pada lensa yang terjadi di atas usia 50 tahun.

Seiring dengan bertambahnya usia, lensa bertambah berat dan tebal sehingga
kemampuan akomodasinya menurun. Saat lapisan baru dari serabut korteks
terbentuk secara konsentris, sel-sel tua menumpuk ke arah tengah sehingga
nukleus lensa mengalami penekanan dan pengerasan (sklerosis nuklear).

Crystallin (protein lensa) mengalami modifikasi dan agregasi kimia menjadi high-
molecular weight-protein. Agregasi protein ini menyebabkan fluktuasi mendadak
pada indeks refraksi lensa, penyebaran sinar cahaya, dan penurunan transparansi.
Perubahan kimia protein lensa nuklear ini juga menghasilkan pigmentasi yang
progresif sehingga seiring berjalannya usia lensa menjadi bercorak kuning
kecoklatan sehingga lensa yang seharusnya jernih tidak bisa menghantarkan dan
memfokuskan cahaya ke retina.

Dalam kasus ini, Ny.F menderita katarak senilis dengan tipe imatur, dimana
katarak dengan tipe imatur terjadi apabila kekeruhan hanya memenuhi sebagian
lensa, tidak sepenuhnya memenuhi seluruh lensa. Pada katarak imatur terjadi
penambahan volume lensa akibat meningktnya tekanan osmotik bahan lensa yang
degeneratif.

3.2 Apakah Penatalaksanaan sudah Tepat?


Pada pasien direncanakan dilakukannya operasi phacoemulsifikasi dan
penanaman IOL pada kedua mata. Operasi dilakukan terpisah dengan mata kiri
terlebih dahulu oleh karena visus yang lebih buruk pada mata kiri.
Penatalaksanaan yang dilakukan telah sesuai. Operasi katarak umumnya
dilakukan pada mata dengan visus yang terburuk terlebih dahulu. Pasca operatif,
pasien diberikan tatalaksana tetes mata antibiotik dan analgetik oral untuk
menghindari adanya infeksi pasca operasi dan mengatasi nyeri yang timbul akibat
operasi.
DAFTAR PUSTAKA

Ilyas S. 2014. Ilmu penyakit mata. Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.

Moore KL, Anne MR. 2013. Anatomi klinis dasar. Jakarta: Hipokrates.

Moore KL, Dalley AF, Anne MR, Moore ME. 2013. Anatomi berorientasi klinis. Edisi
ke-5. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Riordan-Eva P. Whitcher JP. 2009. Oftalmologi umum vaughan & asbury. Edisi ke-17.
Jakarta: EGC.

Sitorus RS. Sitompul R. Widyawati S. Bani AP. Buku ajar oftalmologi. Edisi ke-1.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI.