Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM I

POLA PERILAKU HEWAN (Achantina fulica)

LAPORAN
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Ekologi, Jurusan
Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas
Siliwangi Tasikmalaya

Disusun Oleh:
Kharisma Soraya 162154042
Leni Noviyanti 162154070
Ai Tinah 162154082
Yati Nuraeni 162154098
Maya Cindiati 162154110

KELAS 3D

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2019
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Semesta Alam, Yang
Maha Besar dan Maha Bijaksana Allah swt., karena atas berkat dan rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Pola Perilaku Hewan Achatina fulica.
Laporan ini kami susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Ekologi Pendidikan Biologi di Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Siliwangi.
Kami menyadari dalam penyusunan Laporan ini masih banyak kekurangan
karena terbatasnya kemampuan dan pengetahuan kami, namun berkat bantuan dari
berbagai pihak akhirnya kami dapat menyelesaikan laporan ini, oleh karena itu
pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat:
1. Dr. Purwati K. Suprapto, M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi;
2. Liah Badriah, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Ekologi yang telah
membimbing dan memotivasi kami;
3. Diki Muhammad Chaidir, M.Pd selaku dosen mata kuliah Ekologi yang telah
membimbing dan memotivasi kami;
4. Teman-teman seperjuangan Biologi 2016 khususnya Biologi D dan adik-adik
tingkat yang tak pernah lelah memberikan semangat dan masukan untuk
penulis;
Semoga segala amal dan kebaikan semuanya mendapat imbalan dari Allah
swt. Aamiin.

Tasikmalaya, Maret 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……….......……………………………….. ………..


DAFTAR ISI ………………………………………………………………..
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang …………………………………………….............
B. Rumusan Masalah ………………………………………………....
C. Tujuan Penelitian …………………………………………….........
D. Manfaat Penelitian …………………………………………...........
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Umum Achatina fulica
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
B. Alat dan Bahan ……………………………………….………….
C. Langkah Kerja ………………………………………….…….….
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………...
A. Hasil Pengamatan
B. Pembahasan
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mahluk hidup dalam kehidupannya membutuhkan lingkungan sebagai
wadah dalam melakukan aktivitasnya. Beberapa makhluk hidup memiliki
perilaku tertentu dalam merespon lingkungannya sehingga dapat melakukan
aktivitasnya. Hewan merupakan salah satu kingdom makhluk hidup yang
dimana setiap jenisnya memiliki berbagai adaptasi terhadap lingkungannya.
Hewan memiliki perilaku umum yang dimiliki oleh banyak jenis, dan
sedikit pola perilaku yang dimiliki oleh semua jenis. Ketika semua jenis
hewan memerlukan reproduksi, makan dan juga mencoba untuk tidak menjadi
santapan oleh predator, semua jenis hewan memiliki beberapa perilaku
tertentu yang berbeda antar jenis. Begitu pula dengan pola perilaku serta
aktivitas harian Bekicot (Achatina fulica). Perilaku atau kelakuan dalam arti
luas ialah tindakan yang tampak yangdilaksanakan oleh makhluk hidup dalam
usaha peyesuaian diri terhadap keadaan lingkungan yang sedemikian rupa
sehingga mendapat kepastian dalam kelangsunganhidupnya. Perilaku adalah
aktivitas suatu organisme akibat adanya suatu stimulus.
Bekicot merupakan salah satu hama tanaman yang memberikan
dampak kerusakan besar pada sektor perkebunan dan pertanian. Populasi
bekicot yang meningkat menjadi masalah serius pada kedua sektor tersebut.
Bekicot menghancurkan tanaman budidaya seperti memakan daun pada
tanaman cabe, pisang, tomat dan bayam. Walaupun demikian bekicot
memiliki manfaat sebagai bahan pangan, pakan, dan obat (Lelwa et al. 2008).
Perilaku harian dan jarak edar bekicot menunjukkan pola perilaku harian
bekicot dan jarak harian yang ditempuh bekicot. Hal ini menjadi informasi
bermanfaat untuk usaha budidaya dan pengendalian bekicot sebagai hama
tanaman (Syukur 1993).
Bekicot (Achatina sp.) adalah salah satu jenis anggota kelas gastropoda
yang berasal dari Afrika. Terdapat dua spesies bekicot yang dikenal di
Indonesia yaitu A. fulica dan A. variegata. Secara morfologi perbedaan kedua
spesies tersebut terletak pada bentuk dan warna cangkang. A. fulica memiliki
cangkang berwarna coklat dengan garis tidak jelas, serta bentuk cangkang
lebih ramping dan runcing, sedangkan A. variegata memiliki cangkang
berwarna lebih muda dengan garis coklat kemerahan lebih jelas dan bentuk
cangkang lebih gemuk, dan membulat. Penyebaran bekicot A. fulica lebih luas
dibanding A. variegata. Bekicot hidup pada daerah lembap dan aktif pada
malam hari (nokturnal). Sifat nokturnal ini tidak disebabkan oleh faktor gelap
di waktu malam akan tetapi oleh faktor suhu dan kelembapan lingkungan.
Bekicot tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Berbagai faktor dan
kondisi lingkungan tersebut mempengaruhi perilaku harian. Perilaku harian
bekicot meliputi perilaku aktif, perilaku makan, perilaku eliminatif, perilaku
inaktif dan perilaku kawin.
Jarak edar merupakan perilaku aktif bekicot di habitatnya terutama saat
mereka mencari makan dan mencari pasangan. Bekicot cenderung memilih
daerah-daerah tertentu untuk bersarang akan tetapi jarang kembali ke tempat
yang sama persis. Achatina fulica dewasa mempertahankan wilayah jelajah
dan daerah istirahat yang tidak tetap sedangkan A. fulica yang belum dewasa
cenderung berpindah tempat.

B. Rumusan Masalah
Dari paparan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang kami
temukan yaitu:
1. Bagaimana jam-jam biologis dari Achatina fulica?
2. Bagaimana pola perilaku dasar dari Achatina fulica dan hubungannya
dengan berat badan, jarak tempuh dan suhu lingkungan?

C. Tujuan
Tujuan pembuatan laporan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui jam-jam biologis dari Achatina fulica.
2. Mengetahui perilaku bekicot (Achatina fulica) hubungannya dengan berat
badan, jarak tempuh dan suhu lingkungan.

E. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Untuk Mengetahui pola aktivitas dan estimasi jarak yang dapat
ditempuh setiap jamnya oleh Achantina fulica dalam melakukan
aktivitasnya. Sehingga dapat mempelajari pola perilakunya selama 24 jam,
melalui pengamatan tersebut maka diketahui bagaimana perilaku hewan
untuk mempertahankan hidupnya.
2. Bagi Masyarakat
Mengetahui pola perilaku siput. Sehingga dapat diterapkan pada
kehidupan sehari-hari seperti pada pemberian pakan pada usaha budidaya
atau pengendalian hama bekicot disarankan pada malam hari karena pada
saat itu bekicot sangat aktif dan banyak melakukan perilaku makan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Deskripsi Umum Bekicot (Achatina fulica)


Bekicot (Achatina fulica) merupakan salah satu jenis hewan lunak dari
filum Moluska kelas Gastropoda yang dapat diamati perilakunya dalam merespon
lingkungannya. Bekicot (Achatina fulica) merupakan hewan poikilothermal yang
dimana tidak ada pengaturan suhu tubuh sehingga suhu tubuhnya kurang lebih
sama dengan suhu lingkungannya. Hewan ini merupakan hewan yang aktif pada
malam hari (nocturnal) yang dimana pada siang hari, hewan ini akan istirahat atau
diam.
Bekicot merupakan hewan bertubuh lunak (Moluska) yang tidak memiliki
tulang belakang. tubuhnya dilindungi oleh cangkang dari bahan kapur yang kuat
dan didalmnya mengandung lapisan mutiara. Cangkang bekicot terpilin Spiral
(Body whorl) dengan jumlah putaran tujuh, bentuk cangkang Fusiform, tidak
memiliki tutup cangkang (Operculum). Warna cangkang coklat dengan pola-pola
garis gelap di permukaan nya. Hewan Hermaphrodite tidak dapat dibedakan
antara jantan dan betina nya ,karena tiap Individu memproduksi Ova dan Sperma
sekaligus. Sperma dari Tubuh bekicot tidak dapat dibuahi sel telur yang
diproduksinya sendiri .Untuk pembuahan telur diperlukan adanya pertukaran
sperma dengan bekicot lain melalui kegiatan Kopulasi .
Badan ditutup oleh cangkang, panjang sekitar 90 mm. ciri-ciri umumnya
yakni memiliki sel-sel kemoreseptor yang terletak pada ujung tentakel okuler dan
juga memiliki reseptor cahaya berupa ocelli. Menurut hasil penelitian Issogianti
dengan menggunakan SEM, tentakel okuler bekicot mempunyai susunan serupa
dengan tentakel Helix pomatia maupun Helix aspersa.
Bekicot tercakup di dalam sub clasiss pulmonata dari clasiss gastropoda
yang merupakan kelompok mollusca yang sangat besar. Siput darat berbeda
dengan gastropoda lainnya, pertama, dalam hal pernapasan, ia sudah tidak
memiliki ctenidia, yaitu semacam insang dan fungsinya telah diganti oleh bagian
pillium yang tipis dan kaya dengan pembuluh pembuluh kapiler-kapiler darah,
kedua mengenai system nervosium, ganglia yang utama terkumpul membentuk
bangunan serupa cincin mengelilingi esgophagus, tanpa jaringan pengikat di
dalamnya.
Bentuk cangkang siput pada umumnya seperti kerucut dari tabung yang
melingkar seperti konde. Puncak kerucut merupakan bagian yang tertua, disebut
apex. Sumbu kerucut disebut columella. Gelung terbesar disebut body whorl dan
gelung kecil-kecil di atasnya disebut spire. Di antara bibir dalam dan gelung
terbesar terdapat umbilicus, yaitu ujung culumella yang berupa celah sempit
sampai lebar dan dalam. Apabila umbilicus tertutup, maka cangkang disebut
imperforate.
Berikut adalah morfologi Achatian fulica :
1. Bagian Kepala (Caput) ,terdapat :
a. Photoreseptor (Sepasang Tentakel yang panjang ,tegak ke atas), sebagai
alat penerima rangsang cahaya karena memiliki Stigma (mata di ujung
tetakel, berbentuk bulat) dan Stylus (Tungkai tentakel) yang dapat
dijulurkan dan ditarik.
b. Khemoreseptor (Tentakel pendek ,sepasang ,mengarah ke bawah ) sebagai
alat penerima sensor kimiawi sekaligus sebagai alat peraba.
c. Rima Oris (Celah mulut) ,tepinya bergigi halus (Radula) .untuk
membuktikannya ,perlu mulutnya diraba dengan ujung jari.
2. Kaki perut (Gastropodos) ,lebar dan pipih ,sebagai alt gerak ,memiliki banyak
kelenjar penghasil mucus (Lendir).bagian Muskuler ini dapat di Konsumsi.
3. Anus (Muara saluran cerna). Nampak jelas di Porus Genitalis (Muara organ
genitalia), terletak di bagian Photoreseptor, berfungsi untuk lewatnya penis
pada saat Kopulasi
Menurut Purchon (1968) susunan alat reproduksi bekicot lebih sederhana
dibandingkan dengan susunan alat reproduksi Helix pomatia. Susunan alat
reproduksi bekicot dewasa menurut Berry dan Chan seperti gambar 2. Sedangkan
menurut Ghose (1963) Saluran ovotestis terdiri dari 3 bagian yaitu saluran
ovotestis apical, vesikula ovisperm, dan ovotestis basal. Vesikula ovisperm
berfungsi untuk tempat penimbunan sperma. Sepanjang spermoviduk, saluran
sperma dipisahkan secara tidak sempurna dengan uterus. Uterus dibedakan
menjadi dua bagian yaitu bagian apical dan bagian basal. Pada dindingnya terdapt
banyak lipatan yang mengandung banyak kelenjar calcic dan mukosa. Kelenjar
lainnya adalah kelenjar albumen yang membesar pada saat musim birahi. Dalam
kelenjar tersebut dijumpai glikogen dan galaktogen. Saluran albumen
meninggalkan kelenjar albumen yang bermuara di Carrefour di bagian basal
saluran ovotestis. Albumen berfungsi sebagai pelumas saat pelepasan telur dan
sebagai pembungkus telur yang dapat menjaga kelembaban telur selama
pengeraman karena mampu menyerap air dari sekitarnya. Vagina dan penis
bersama-sama bertemu di atrium genital dan bermuara ke luar pada aperture
genital.
Bekicot bereaksi negatif terhadap lingkungan yang kurang
menguntungkan dengan melakukan fase dorman atau estivasi. Oleh karena itu
dalam sejarah hidupnya bekicot dikenal sebagai temporary period of generalized
reproductive inactivity (Mead, 1961).
Bekicot seperti halnya dengan hewan lainnnya, memiliki perilaku dalam
merespon lingkungannya dimana bekicot akan beraktivitas pada suhu atau
kelembaban yang rendah. Perilaku bekicot tersebut dapat diamati dengan
melakukan pengamatan selama 24 jam dengan mengelompokkan jenis-jenis
aktivitasnya dan mengukur jarak tempuhnya. Berdasarkan uraian tersebut maka
dilaksanakan praktikum ini.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu sampai hari Minggu bulan
Februari tahun 2019, bertempat di belakang gedung FKIP Universitas Siliwangi.

B. Alat dan Bahan


1. Bahan
a. Achatina fulica
b. Cat
2. Alat
a. Lidi
b. Bendera plastik
c. Spidol
d. Meteran
e. Senter
f. Jas hujan
g. Higrometer
h. Thermometer
i. Jam/stopwatch
j. Kompas
k. Gunting
l. Double tape
m. Tali kasur
C. Prosedur Kerja
1. Mengumpulkan bekicot (Achatina fulica) sebanyak 20 ekor dengan ukuran
yang seragam.
2. Memberi nomor pada setiap Achatina fulica dengan urutan 1-20 dengan cat.
3. Buatlah bendera dari platik dengan diberi tiang dari lidi dengan tinggi 15 cm
dan bendera diberi urutan nomor yang sama.
4. Tentukan ekositem yang representatif untuk aktivitas Achatina fulica dan
lepaskan 20 Achatina fulica pada jam 12 siang di satu titik.
5. Amati setiap perubahan yang dilakukan Achatina selama 24 jam.
6. Ukur suhu dan kelembapan setiap jam selama 24 jam.
7. Buatlah peta arah gerak Achatina fulica , dan amatilah jam-jam biologi seta
pola dasar perilaku dari Achatina fulica.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum ini yaitu sebagai berikut :
1. Tabel rata – rata kelompok 1
2. Tabel rata-rata kelompok 2
3. Tabel rata-rata kelompok 3
4. Tabel rata-rata kelompok 4
5. Tabel rata-rata kelompok 5
6. Tabel rata-rata kelompok 6
a. Jihan Azhaar Ramadhanty
b. Reni Nur Aeni
c. Fiana Nur Amalita

d. Rida Abdul Aziz

No. Waktu Rata-rata perpindahan tiap 6 jam


1. Jam ke 1-6 pukul: 12.00 s/d 18.00 3.526 : 20 =176,3
2. Jam ke 7-12 pukul : 18.00 s/d 24.00 5.468 : 20 = 273,4
3. Jam ke 13-18 pukul : 24.00 s/d 4.583 : 20 = 229,15
06.00
4. Jam ke 19-24 pukul : 06.00 s/d 1216 : 20 = 60,8
12.00
Total seluruh rata-rata/24 jam 12.793 20 = 639,65
B. Pembahasan
Bekicot (Achatina fulica) memiliki jam biologi yang berbeda dengan
hewan lainnya seperti halnya pada kadal (Mabouya sp.). Jam biologi merupakan
waktu atau jam tertentu dimana suatu hewan akan melakukannya aktivitas yang
berbeda-beda yang disesuaikan dengan kondisi lingkungannya. Perilaku bekicot
(Achatina fulica) tersebut dapat berupa istirahat, makan, kawin, maupun dalam
proses pembuangan zat sisa metabolismenya. Semua kegiatan biologis tersebut
dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang disesuaikan dengan suhu
lingkungannya.
Praktikum ini melihat perilaku bekicot (Achatina fulica) selama 24 jam
dengan melakukan pengamatan setiap 1 jam sekali. Aktivitas bekicot yang
diamati ialah diam, kawin, jalan, makan, memanjat, dan proses pembuangan zat
sisa metabolismenya. Praktikum ini pula diukur suhu kelembaban udara yang
dimana pengukuran ini berguna untuk mengetahui suhu dimana bekicot
melakukan aktivitasnya.
Selama 24 jam ternyata banyak hal yangterjadi diantaranya adalah
aktivitas bekicot, jarak edar yang semakin luas.
Bekicot diberi perlakuan pada malam hari karena aktivitas bekicot di siang hari
tidak begitu aktif, banyak diantaranya yang hanya terdiam dan beberapa
diantaranya berpindah tempat. Sedangkan ketika malam hari, bekicot semakin
aktif, ada bekicot yang mencari makan, ada pula yang terus begerak berpindah
tempat, naik pohon, ada yang melakukan perkawinan, ada
pula yang mendefekasikan fesesnya. Semakin malam, jarak edar bekicot semakin
jauh. Umumnya bekicot mencari tempat-tempat lembap dan gelap. Oleh
karenanya bekicot lebih aktif beraktifitas di malam hari, maka bekicot termasuk
hewan nocturnal.
Bekicot termasuk keong darat yang pada umumnya mempunyai kebiasaan
hidup di tempat lembab dan aktif di malam hari (nocturnal). Sifat nocturnal
bekicot bukan semata-mata ditentukan oleh factor gelap di waktu malam tetapi
ditentukan oleh factor suhu dan kelembaban lingkungannya. Di waktu siang
setelah hujan, banyak ditemukan bekicot berkeliaran dimana-mana.
Selain mengamati aktifitas bekicot dan menghitung jarak edar, suhu dan
kelembapannya pun diamati. Semakin tinggi suhu maka kelembapan udaranya
semakin rendah, tetapi di daerah ternaung ada beberapa waktu saat suhu terus
naik, kelembapannya konstan, ini berarti tekanan udaranya semakin rendah.
Hasil pengamatan pada praktikum ini memperlihatkan aktivitas dari
perilaku bekicot terhadap lingkungannya dimana bekicot akan aktif melakukan
aktivitasnya pada sekitar jam 10 malam hingga jam 4 pagi. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa aktivitas berjalan lebih banyak dilakukan oleh bekicot
dibandingkan dengan aktivitas lainnya. Aktivtas berjalan banyak dilakukan pada
saat kelembaban rendah, yaitu sekitar pukul 10 malam hingga jam 3 pagi.
aktivitas diam pada siang hari banyak dilakukan oleh bekicot karena berhubungan
dengan pengaruh suhu lingkungan yang mulai naik.
Praktikum ini juga dapat diketahui jarak tempuh dari bekicot tersebut.
Hasil menunjukkan bahwa semakin besar ukuran tubuh dari bekicot maka jarak
tempuh dari bekicot tersebut semakin besar pula. Hal tersebut dapat pula
disebabkan oleh struktur umur yang berbeda-beda pada setiap bekicot yang
dijadikan sebagai objek pengamatan.
Berdasarakan peta pergerakan diatas, maka ketika suhu lingkungan rendah
dan kelebaban tinggi maka pergerakan Achatina fulica bergerak lebih jauh
dibandingkan saat suhunya tingi. Tercatat prilakunya ada yang diam, mau dan
bereproduksi, pada saat diam kebanyakan bila di lihat pada kondisi
lingkungan ketika itu besuhu tingi, maka hewan tersebut diam. Tapi pada saat
pergerakan maju kebanykan pada saat suhu rendah kelembaban tnggi. Hal ini
menunjukan suatu prilaku dasar naluriah yang dimiliki oleh hewan tersebut.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Simpulan pada praktikum ini adalah hasil pengamatan perilaku bekicot
(Achatina fulica) yang berhubungan dengan berat badan, jarak tempuh dan suhu
lingkungan memperlihatkan semakin besar ukuran dan berat badan maka jarak
tempuh akan besar pula. Suhu lingkungan yang semakin rendah akan
memperlihatkan perilaku bekicot (Achatina fulica) yang semakin aktif dalam
melakukan aktivitasnya.
Achantina fulica merupakan hewan nokturnal atau beraktivitas pada
malam hari. Bekicot melakukan aktivitas seperti berjalan, makan, melakukan
defekasi, kopulasi, dan bertelur. Jarak yang ditempuh selama melakukan aktivitas
adalah jarak edar. Jarak edar dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya suhu,
kelembaban udara, dan kelembaban tanah. Semakin tinggi suhu maka semakin
rendah kelembapan udara serta kelembaban tanahnya dan semakin luas jarak
edarnya. Hal ini terjadi karena bekicot menyukai tempat lembab sehingga mereka
akan berjalan mencari tempat yang lebih lembab dan gelap untuk mendapatkan
makanan.
Jarak edar dipengaruhi oleh berat badan, semakin besar berat badan
bekicot, maka jarak edarnya semakin pendek, dan sebaliknya.
Sedangkan panjang cangkang tidak begitu mempengaruhi, karena berat badan dan
panjang cangkang tidak selalu berkorelasi. Ada bekicot yang jika diukur berat
badannya termasuk berukuran besat dan cangkang nya pendek. Jadi
panjang cangkang tidak mempengaruhi jarak edar maupun pola aktivitasnya jarak
edarnya.

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Fitriani, F. (2015). Perilaku Harian Dan Jarak Edar Achatina fulica. Skripsi Tidak

Diterbitkan. Bogor, Institut Pertanian Bogor.

Syukur U. (1993). Pola Aktivitas dan Jarak Edar Achatina fulica Rowdich di Kebun

FMIPA IKIP Padang, Sumatera Barat [Skripsi]. Padang (ID): IKIP Padang.

Anonim. (2011). Mengenal bekicot achatina fulica. [online]. Tersedia : http://oryza-

sativa135rsh.blogspot.com/2011/01/mengenal-bekicot-acatina-fulica.html. .[ 1

Maret 2013].

Ulysitompul. (2011). Achatina fulica . [online]. Tersedia

: http://ulysitompul.blogspot.com/2011/07/achatina-fulica-bekicot.html. [1

Maret 2013].

Jasin, M. 1989. Sistematik Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Sinar Wijaya,

Surabaya.
LAMPIRAN

Peta Arah Gerak Achatina fulica kelompok 6