Anda di halaman 1dari 28

PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN LENTUR

Makalah Perkerasan Jalan

Oleh Kelompok 4 :

Irvan Yunus (1504105066)


Eka Pawitra Suta (1504105076)
Naufal Firdaus Sandy Kusuma (1504105081)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan karya tulis berjudul “Perencanaan
Tebal Perkerasan Lentur”.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang Perencanaan Tebal
Perkerasan Jalan ini dapat menambah pengetahuan bagi pembaca dan bisa memberi
manfaat untuk masyarakat.

Denpasar , 5 Maret 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii

DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii

BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 1

1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................ 2

BAB 2 PEMBAHASAN ............................................................................................... 3

2.1 Penyebaran Tekanan di Dalam Tanah ........................................................ 3

2.2 Komponen Perkerasan Lentur (Flexible Pavement) ................................... 3

2.2.1 Tanah Dasar (sub grade) ............................................................................. 3

2.2.2 Lapis Pondasi Bawah (sub base course) ..................................................... 4

2.2.3 Lapis Pondasi (base course) ....................................................................... 5

2.2.4 Lapis Permukaan (surface course) .............................................................. 5

2.3 Jenis-jenis Lapis Permukaan (surface course) ............................................ 6

2.3.1 Lapis Aspal Beton (LASTON) ............................................................... 6

2.3.2 Lapis Penetrasi Makadam (LAPEN) ...................................................... 6

2.3.3 Lapis Asbuton Campuran Dingin (LASBUTAG) .................................. 6

2.3.4 Hot Rolled Asphalt (HRA) ..................................................................... 7

2.3.5 Laburan Aspal (BURAS) ........................................................................ 7

2.3.6 Laburan Batu Satu Lapis (BURTU) ....................................................... 7

2.3.7 Laburan Batu Dua Lapis ......................................................................... 7

iii
2.3.8 Lapis Aspal Beton Pondasi Atas (LASTON ATAS) .............................. 8

2.3.9 Lapis Aspal Beton Pondasi Bawah (LASTON BAWAH)...................... 8

2.3.10 Lapis Tipis Aspal Beton .......................................................................... 8

2.3.11 Lapis Tipis Aspal Pasir (LATASIR) ....................................................... 8

2.3.12 Aspal Makadam ...................................................................................... 8

2.4 Kriteria Konstruksi Perkerasan Jalan.......................................................... 9

BAB 3 PERHITUNGAN ............................................................................................ 11

3.1 Definisi, Singkatan, dan Istilah ................................................................. 11

3.2 Contoh Soal .............................................................................................. 14

BAB 4 PENUTUP ...................................................................................................... 19

3.1 Kesimpulan ............................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 22

iv
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


perkerasan jalan merupakan lapisan perkerasan yang terletak diantara lapisan
tanah dasar dan roda kendaraan yang berfungsi memberikan pelayanan kepada sarana
transportasi, diharapkan selama masa pelayanan tidak terjadi kerusakan yang
berarti. Bahan dan material pembentuk lapisan perkerasan jalan adalah agregat
sebagai material utama yang berpengaruh terhadap daya dukung lapisan permukaan
jalan dan aspal sebagai bahan pengikat agregat agar lapisan perkerasan kedap air.

Dua jenis perkerasan yang biasa digunakan yaitu perkerasan lentur yang
menggunakan aspal sebagai bahan pengikatnya dan perkerasan kaku yang
menggunakan semen sebagai bahan pengikat agregat. Jenis perkerasan lentur yang
digunakan di Indonesia umumnya menggunakan campuran aspal panas baik untuk
pelapisan ulang, pemeliharaan maupun pembangunan jalan baru. Jenis-jenis
perkerasan di Indonesia yang mempergunakan campuran aspal panas antara lain:
Lapis Aspal Beton (Laston) atau AC (Asphalt Concrete), Lapis Tipis Aspal Beton
(Lataston) atau HRS (Hot Rolled Sheets) dan Lapis Tipis Aspal Pasir (Latasir).

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut :

1. Apa itu perkerasan jalan lentur?


2. Apa saja kriteria yang diperlukan dalam membuat perkerasan jalan lentur ?
3. Bagaimana menyelesaikan soal dalam perkerasan jalan lentur?

1
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian dari perkerasan jalan lentur.
2. Mengetahui kriteria yang dibutuhkan dalam membuat perkerasan jalan
lentur.
3. Mengetahui solusi penyelesaian soal dalam perkerasan jalan lentur.

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Penyebaran Tekanan di Dalam Tanah

Konstruksi perkerasan lentur (flexible pavement) adalah perkerasan yang


menggunakan aspal sebagai bahan pengikat. Lapisan-lapisan perkerasannya bersifat
memikul dan menyebabkan beban lalu lintas tanah dasar . Suatu struktur perkerasan
lentur biasanya terdiri atas beberapa lapisan bahan, dimana setiap lapisan akan
menerima beban dari lapisan diatasnya, meneruskan dan menyebarkan beban
tersebut ke lapisan dibawahnya. Jadi semakin ke lapisan struktur bawah, beban yang
ditahan semakin kecil. Untuk mendapatkan keuntungan yang maksimum dari
karakteristik diatas, lapisan bahan biasanya disusun secara menurun berdasarkan
daya dukung terhadap beban diatasnya. Lapisan paling atas adalah material dengan
daya dukung terhadap beban paling besar (dan paling mahal harganya), dan semakin
kebawah adalah lapisan dengan daya dukung terhadap beban semakin kecil dan
semakin murah harganya (Sukirman, 1992).

2.2 Komponen Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)


2.2.1 Tanah Dasar (sub grade)

Tanah Dasar adalah permukaan tanah semula atau permukaan galian


atau permukaan tanah timbunan, yang dipadatkan dan merupakan permukaan
dasar untuk perletakan bagian-bagian perkerasan lainnya.

Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung


dari sifat- sifat dan daya dukung tanah dasar. Umumnya persoalan yang
menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut:

3
a. Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) dari macam
tanah tertentu akibat beban lalu lintas.

b. Sifat mengembang dan menyusut dari tanah tertentu akibat


perubahan kadar air.

c. Daya dukung tanah yang tidak merata dan sukar ditentukan


secara pasti pada daerah dengan macam tanah yang sangat berbeda sifat dan
kedudukannya, atau akibat pelaksanaan.

2.2.2 Lapis Pondasi Bawah (sub base course)

Lapis Pondasi Bawah adalah bagian perkerasan yang terletak antara


lapis pondasi dan tanah dasar.

Fungsi lapis pondasi bawah antara lain:

a. Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk mendukung


dan menyebarkan beban roda.

b. Mencapai efisiensi penggunaan material yang relatif murah


agar lapisan-lapisan selebihnya dapat dikurangi tebalnya (penghematan biaya
konstruksi).

c. Untuk mencegah tanah dasar masuk ke dalam lapis pondasi.

d. Sebagai lapis pertama agar pelaksanaan dapat berjalan lancar.

Hal ini sehubungan dengan terlalu lemahnya daya dukung tanah dasar
terhadap roda-roda alat-alat besar atau karena kondisi lapangan yang
memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengaruh cuaca.

Bermacam-macam tipe tanah setempat (CBR > 20%, PI < 10%) yang
relatif lebih baik dari tanah dasar dapat digunakan sebagai bahan pondasi
bawah. Campuran-campuran tanah setempat dengan kapur atau semen
portland dalam beberapa hal sangat dianjurkan, agar dapat bantuan yang
efektif terhadap kestabilan konstruksi perkerasan.

4
2.2.3 Lapis Pondasi (base course)

Lapis Pondasi adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis


permukaan dengan lapis pondasi bawah (atau dengan tanah dasar bila tidak
menggunakan lapis pondasi bawah).

Fungsi lapis pondasi antara lain:

a. Sebagai bagian perkerasan yang menahan beban roda,

b. Sebagai perletakan terhadap lapis permukaan.

Bahan-bahan untuk lapis pondasi umumnya harus cukup kuat dan


awet sehingga dapat menahan beban-beban roda. Sebelum menentukan suatu
bahan untuk digunakan sebagai bahan pondasi, hendaknya dilakukan
penyelidikan dan pertimbangan sebaik-baiknya sehubungan dengan
persyaratan teknik.

Bermacam-macam bahan alam / bahan setempat (CBR > 50%, PI <


4%) dapat digunakan sebagai bahan lapis pondasi, antara lain : batu pecah,
kerikil pecah dan stabilisasi tanah dengan semen atau kapur.

2.2.4 Lapis Permukaan (surface course)

Lapis Permukaan adalah bagian perkerasan yang paling atas. Fungsi


lapis permukaan antara lain:

a. Sebagai bahan perkerasan untuk menahan beban roda

b. Sebagai lapisan rapat air untuk melindungi badan jalan


kerusakan akibat cuaca.

c. Sebagai lapisan aus (wearing course).

5
Bahan untuk lapis permukaan umumnya adalah sama dengan bahan
untuk lapis pondasi, dengan persyaratan yang lebih tinggi. Penggunaan bahan
aspal diperlukan agar lapisan dapat bersifat kedap air, disamping itu bahan
aspal sendiri memberikan bantuan tegangan tarik, yang berarti mempertinggi
daya dukung lapisan terhadap beban roda lalu lintas.

Pemilihan bahan untuk lapis permukaan perlu dipertimbangkan


kegunaan, umur rencana serta pentahapan konstruksi, agar dicapai manfaat
yang sebesar-besarnya dari biaya yang dikeluarkan.

2.3 Jenis-jenis Lapis Permukaan (surface course)


2.3.1 Lapis Aspal Beton (LASTON)

Lapis Aspal Beton (LASTON) adalah merupakan suatu lapisan pada


konstruksi jalan yang terdiri dari agregat kasar, agregat halus, filler dan aspal
keras, yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada
suhu tertentu.

2.3.2 Lapis Penetrasi Makadam (LAPEN)

Lapis Penetrasi Macadam (LAPEN) adalah merupakan suatu lapis


perkerasan yang terdiri dari agregat pokok dengan agregat pengunci
bergradasi terbuka dan seragam yang diikat oleh aspal keras dengan cara
disemprotkan diatasnya dan dipadatkan lapis demi lapis dan apabila akan
digunakan sebagai lapis permukaan perlu diberi laburan aspal dengan batu
penutup.

2.3.3 Lapis Asbuton Campuran Dingin (LASBUTAG)

Lapis Asbuton Campuran Dingin (LASBUTAG) adalah campuran


yang terdiri dari agregat kasar, agregat halus, asbuton, bahan peremaja dan

6
filler (bila diperlukan) yang dicampur, dihampar dan dipadatkan secara
dingin.

2.3.4 Hot Rolled Asphalt (HRA)

Hot Rolled Asphalt (HRA) merupakan lapis penutup yang terdiri dari
campuran antara agregat bergradasi timpang, filler dan aspal keras dengan
perbandingan tertentu, yang dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas
pada suhu tertentu.

2.3.5 Laburan Aspal (BURAS)

Laburan Aspal (BURAS) adalah merupakan lapis penutup terdiri


dengan ukuran butir maksimum dari lapisan aspal taburan pasir 9,6 mm atau
3/8 inch.

2.3.6 Laburan Batu Satu Lapis (BURTU)

Laburan Batu Satu Lapis (BURTU) adalah merupakan lapis penutup


yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat
bergradasi seragam. Tebal maksimum 20 mm.

2.3.7 Laburan Batu Dua Lapis

Laburan Batu Dua Lapis (BURDA) adalah merupakan lapis penutup


yang terdiri dari lapisan aspal ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara
berurutan. Tebal maksimum 35 mm.

7
2.3.8 Lapis Aspal Beton Pondasi Atas (LASTON ATAS)

Lapis Aspal Beton Pondasi Atas (LASTON ATAS) adalah


merupakan pondasi perkerasan yang terdiri dari campuran agregat dan aspal
dengan perbandingan tertentu, dicampur dan dipadatkan dalam keadaan
panas.

2.3.9 Lapis Aspal Beton Pondasi Bawah (LASTON BAWAH)

Lapis Aspal Beton Pondasi Bawah (LASTON BAWAH) adalah pada


umumnya merupakan lapis perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan
tanah dasar jalan yang terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan
perbandingan tertentu dicampur dan dipadatkan pada temperatur tertentu.

2.3.10 Lapis Tipis Aspal Beton

Lapis Tipis Aspal Beton (LATASTON) adalah merupakan lapis


penutup yang terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang, filler
dan aspal keras dengan perbandingan tertentu yang dicampur dan dipadatkan
dalam keadaan panas pada suhu tertentu. Tebal padat antara 25 sampai 30
mm.

2.3.11 Lapis Tipis Aspal Pasir (LATASIR)

Lapis Tipis Aspal Pasir (LATASIR) adalah merupakan lapis penutup


yang terdiri dari campuran pasir dan aspal keras yang dicampur, dihampar dan
dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu.

2.3.12 Aspal Makadam

Aspal Makadam adalah merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari


agregat pokok dan/atau agregat pengunci bergradasi terbuka atau seragam
yang dicampur dengan aspal cair, diperam dan dipadatkan secara dingin.

8
Bagian perkerasan jalan umumnya meliputi: lapis pondasi bawah (sub
base course), lapis pondasi (base course), dan lapis permukaan (surface
course).

2.4 Kriteria Konstruksi Perkerasan Jalan


Konstruksi perkerasan lentur dipandang dari keamanan dan kenyamanan
berlalu lintas haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

• Permukaan yang rata, tidak bergelombang, tidak melendut dan tidak


berlubang.

• Permukaan yang cukup kaku, sehingga tidak mudah berubah bentuk akibat
beban yang bekerja di atasnya.

• Permukaan cukup kesat, memberikan gesekan yang baik antara ban dan
permukaan jalan sehingga tidak mudah selip.

• Permukaan tidak mengkilap, tidak silau jika terkena sinar matahari

Konstruksi perkerasan jalan dipandang dari segi kemampuan memikul dan


menyebarkan beban, haruslah memenuhi syarat-syarat :

9
• Ketebalan yang cukup sehingga mampu menyebarkan beban/muatan lalu
lintas ke tanah dasar.

• Kedap terhadap air, sehingga air tidak mudah meresap ke lapisan dibawahnya.

• Permukaan mudah mengalirkan air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya
dapat cepat dialirkan.

• Kekakuan untuk memikul beban yang bekerja tanpa menimbulkan deformasi


yang berarti.

10
BAB 3

PERHITUNGAN

3.1 Definisi, Singkatan, dan Istilah

A. Angka Ekivalen Beban Gandar Sumbu Kendaraan (E)

Angka yang menyatakan perbandingan tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh


lintasan beban gandar sumbu tunggal kendaraan terhadap tingkat kerusakan yang
ditimbulkan oleh satu lintasan beban standar sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000
lb). Menurut Koestalam dan Sutoyo (2010) formulasi perhitungan angka ekivalen (E)
yang diberikan oleh Bina Marga dapat dilihat pada rumus dibawah ini :

Keterangan :

E = Angka ekivalen beban sumbu kendaraan

P = Beban sumbu kendaraan (Ton)

K = 1 untuk sumbu tunggal,

0,086 untuk sumbu ganda

0,031 untuk sumbu triple

B. Indeks Permukaan (IP)

Angka yang dipergunakan untuk menyatakan ketidakrataan dan kekokohan


permukaan jalan yang berhubungan dengan tingkat pelayanan bagi lalu-lintas yang
lewat.

11
C. Struktual Number (SN)

Indeks yang diturunkan dari analisis lalu-lintas, kondisi tanah dasar, dan
lingkungan yang dapat dikonversi menjadi tebal lapisan perkerasan dengan
menggunakan koefisien kekuatan relatif yang sesuai untuk tiap-tiap jenis material
masing-masing lapis struktur perkerasan.

D. Koefisien Drainase

Faktor yang digunakan untuk memodifikasi koefisien kekuatan relatif sebagai


fungsi yang menyatakan seberapa baiknya struktur perkerasan dapat mengatasi
pengaruh negatif masuknya air ke dalam struktur perkerasan.

E. Lajur Rencana

Salah satu lajur lalulintas dari sistem jalan raya yang menampung lalu-lintas
terbesar. Umumnya lajur rencana adalah salah salah satu lajur dari jalan raya dua
lajur atau tepi luar dari jalan raya yang berlajur banyak.

F. Lapis Asbuton Campuran Dingin (LASBUTAG)

Campuran yang terdiri atas agregat kasar, agregat halus, asbuton, bahan peremaja,
dan filler (bila diperlukan) yang dicampur, dihamparkan, dan dipadatkan secara
dingin.

G. Lapis Beton Aspal (LASTON)

Lapisan pada konstruksi jalan yang terdiri atas agregat kasar, agregat halus, filler,
dan aspal keras yang dicampur, dihamparkan, dan dipadatkan dalam keadaan panas
pada suhu tertentu.

H. Lapis Penetrasi Makadam (LAPEN)

12
Lapis perkerasan yang terdiri atas agregat pokok dan agregat pengunci bergradasi
terbuka dan seragam yang diikat oleh aspal keras dengan cara disemrotkan di atasnya
dan dipadatkan lapis demi lapis dan jika akan digunakan sebagai lapis permukaan
perlu diberi laburan aspal dengan batu penutup.

I. Lapis Permukaan

Bagian perkerasan yang paling atas.

J. Lapis Pondasi

Bagian perkerasan yang terletak antara lapis permukaan dan lapis pondasi bawah
(atau dengan tanah dasar bila tidak menggunakan lapis pondasi bawah).

K. Lapis Pondasi Bawah

Bagian perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan tanah dasar.

L. Reliability

Kemungkinan (probability) bahwa jenis kerusakan tertentu atau kombinasi jenis


kerusakan pada struktur perkerasan akan tetap lebih rendah atau dalam rentang yang
diizinkan selama umur rencana.

M. Tanah Dasar

Permukaan tanah semula atau permukaan galian atau permukaan tanah timbunan
yang dipadatkan dan merupakan permukaan tanah dasar untuk perletakan bagian-
bagian perkerasan lainnya.

N. Umur Rencana (UR)

Jumlah waktu dalam tahun yang dihitung sejak jalan tersebut mulai dibuka
sampai saat diperlukan perbaikan berat atau dianggap perlu untuk diberi lapis
permukaan yang baru.

13
O. Falling Weight Deflectometer (FWD)

Alat untuk mengukur kekuatan struktur perkerasan jalan yang bersifat non-
destruktif.

3.2 Contoh Soal


3.2.1 Contoh Perencanaan Perkerasan Baru dan Konstruksi Bertahap
Jalan baru direncanakan untuk umur rencana 20 tahun yang dibagi menjadi 2 tahap
konstruksi, yaitu tahap pertama sampai umur 13 tahun dan dilanjutkan pembangunan
tahap kedua. Jalan tersebut terdiri atas 3 lajur untuk masing-masing arahnya dan
diasumsikan memiliki faktor distribusi arah (DD) sebesar 50%. Pada tahun pertama,
jalan tersebut diperkirakan dilalui beban lalu-lintas standar sebesar 2.5 x 10 dan
proyeksi tingkat pertumbuhan (gabungan) adalah 3% per tahun. Parameter-parameter
lainnya diasumsikan sebagai berikut :

 Roverall = 90%
 Rstage = 95% (2 tahap konstruksi)
 S0 = 0.35
 PSI = 2.1
 SN rencana = 5.6
 Lalu-lintas pada akhir tahun ke-13, W18 = 16.0 x 106
 Penurunan tingkat pelayanan akibat lalu-lintas sampai akhir tahun ke-13,
PSITR = 1.89
 Modulus resilien tanah dasar efektif : Mr = 5.700 psi
 Aspal beton : EAC = 400.000 psi
 Lapis pondasi atas granular : EBS = 30.000 psi
 Lapis pondasi bawah granular : ESB = 11.000 psi

Penyelesaian

Koefisien kekuatan relatif (ai) untuk masing-masing lapis perkerasaan adalah sebagai
berikut :

14
 Maka dari grafik, koefisien kekuatan relatif Aspal beton : a1 = 0.42

 Maka dari grafik, koefisien kekuatan relatif Lapis pondasi atas granular : a2 =
0.14 (Gambar 3)

15
 Maka dari grafik, koefisien kekuatan relatif Lapis pondasi bawah granular : a3
= 0.08 (Gambar 4)

Koefisien drainase (nilai mi) untuk masing-masing lapis pondasi adalah sebagai
berikut:

 Lapis pondasi atas granular : a2 = 1.20 (Tabel 5)


 Lapis pondasi bawah granular : a3 = 1.20 (Tabel 5)

Tentukan SN yang diperlukan di atas material lapis pondasi dengan nomograf pada
Gambar 7 dengan menggunakan modulus resilien material lapis pondasi atas (dari
pada modulus resilien tanah dasar). Nilai EBS = 30.000 psi, untuk tahap pertama

16
reliability (R) = 95 %, w18 = 16.0 x 10 dan PSITR = 1.89 menghasilkan SN1 = 3.2.
Sehingga, tebal lapis permukaan aspal beton yang diperlukan adalah :

Seperti untuk lapis aspal beton, dengan menggunakan modulus lapis pondasi bawah
11.000 psi sebagai modulus resilien tanah dasar, SN2 = 4.5 dan tebal material lapis
pondasi atas yang diperlukan adalah :

17
Akhirnya, tebal material lapis pondasi bawah yang diperlukan adalah :

Untuk konstruksi tahap kedua, perencanaannya sama dengan perencanaan untuk


pelapisan tambah (overlay) dengan menggunakan Rstage sebesar 95%. Akan tetapi,
terlebih dahulu dilakukan survey untuk mengumpulkan data-data kondisi perkerasan
tahap pertama pada akhir tahun ke – 13. Data-data tersebut diperlukan untuk
merencanakan tebal lapis tambah yang sama dengan tebal lapis perkerasan untuk
konstruksi tahap kedua.

18
BAB 4

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Konstruksi perkerasan lentur (flexible pavement) adalah perkerasan
yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat.
2. Komponen perkerasan lentur terdiri dari lapisan permukaan atas,
pondasi atas, pondasi bawah, dan tanah dasar.
3. Konstruksi perkerasan lentur dipandang dari keamanan dan
kenyamanan berlalu lintas haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut :
 Permukaan yang rata, tidak bergelombang, tidak melendut dan
tidak berlubang.
 Permukaan yang cukup kaku, sehingga tidak mudah berubah
bentuk akibat beban yang bekerja di atasnya.
 Permukaan cukup kesat, memberikan gesekan yang baik antara
ban dan permukaan jalan sehingga tidak mudah selip.
 Permukaan tidak mengkilap, tidak silau jika terkena sinar
matahari
4. Konstruksi perkerasan jalan dipandang dari segi kemampuan memikul
dan menyebarkan beban, haruslah memenuhi syarat-syarat :
 Ketebalan yang cukup sehingga mampu menyebarkan
beban/muatan lalu lintas ke tanah dasar.
 Kedap terhadap air, sehingga air tidak mudah meresap ke lapisan
dibawahnya.
 Permukaan mudah mengalirkan air, sehingga air hujan yang jatuh
di atasnya dapat cepat dialirkan.

19
 Kekakuan untuk memikul beban yang bekerja tanpa
menimbulkan deformasi yang berarti.

20
21
LAMPIRAN

Sesi diskusi

1. Nama : Ni Kadek Tia Dewi


NIM : 1504105059
Pertanyaan :
- Dalam contoh soal, apa maksdunya umur rencana yang digunakan
20 tahun dan dibagi menjadi 13 tahun tahap pertama dan 7 tahun
tahap kedua?
Jawaban :
- Tahap pertama akan dilakukan survey untuk mengumpulkan data-
data kondisi perkerasan tahap pertama pada akhir tahun ke – 13.
Sedangkan tahap kedua akan menggunakan data-data tersebut
untuk merencanakan tebal lapis tambahan.
2. Nama : Salsabila Khairunnisa
NIM : 1504105063
Pertanyaan :
- Bagaimana cara menentukan nilai Indeks Permukaan?
3. Nama : Putu Cinthya Pratiwi Kardita
NIM : 1504105068
- Apakah dalam merencanakan jalan perlu mengetahui berapa
koefisien drainase nya? Apa alasanya?
Pertanyaan :
- Koefisien drainase perlu diperhitungkan, supaya perencana dapat
mengetahui seberapa baik kualitas drainase jalan nya. Semakin
buruk kualitas drainase jalan semakin lama pula air akan
tergenang, hal ini akan menyebabkan jalan lebih cepat rusak
karena sifat aspal yang memang berlawanan dengan air.
Jawaban :
4. Nama : Rahajeng Diah Pramesthi
NIM : 1504105073
Pertanyaan :
- Apa solusi dalam permasalahan yang terjadi dalam lapisan dasar
atau subgrade?
Jawaban :

22
- Solusi untuk mengatasi permasalah dalam lapisan dasar tersebut
adalah dengan metode galian dan timbunan dan dilakukan
pemadatan 10 % hingga 15 % dalam menimbun tanah. Oleh karena
lapisan dasar tersebut akan lebih padat terhadap air, lebih rata
untuk melakukan pelapisan jalan, serta akan menurunkan resiko
penurunan tanah akibat beban lalu lintas nantinya.
5. Nama : Hylcia Alexandra K. Wenas
NIM : 1504105077
Pertanyaan :
- Bagaimana menentukan besarnya nilai umur rencana dalam
perhitungan?
Jawaban :
- Umur rencana ditentukan oleh perencana, biasanya waktu
rencana diukur dari dalam jangka berapa tahun jalan tersebut
akan di survei kembali. Hal ini dilakukan agar mengetahui keadaan
jalan tersebut, apakah perlu diperbaiki kembali atau tidak, apakah
rencana awal sudah sesuai dengan keadaan pada kenyataannya.
6. Nama : Pande Made Putra Ardiana
NIM : 1504105085
Pertanyaan :
- Apa maksudnya fungsi sebagai lapisan aus dalam lapisan
permukaan?
Jawaban :
- Lapisan aus dalam lapisan permukaan merupakan sebuah lapisan
halus yang akan mengalami kontak langsung dengan beban
kendaraan atau roda kendaraan. Fungsinya adalah untuk
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan kualitas
konstruksi.
7. Nama : M. Khoirul Anam
NIM : 1504105087
Pertanyaan :
- Darimana asalnya data yang didapat ketika akan menghitung
rencana tebal perkerasan jalan?
Jawaban :
- Berdasarkan survei yang telah dilakukan, sehingga perencana
jalan dapat menentukan kelas jalan untuk merencanakan tebal
perkerasan jalan yang dibutuhkan.

23
DAFTAR PUSTAKA

Sukirman Silvia, 1999. ”Perkerasan Lentur Jalan Raya”. Nova.Bandung.

Departemen Pekerjaan Umum, 2002. Pedoman Perkerasan Lentur Metode Bina


Marga (Pt T-01-2002-B), Jakarta.

http://kelempemgg.blogspot.co.id/2012/05/contoh-prhitungan-perencanaan.html

https://binamarga.grobogan.go.id/info/artikel/29-konstruksi-perkerasan-lentur-
flexible-pavement

24