Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Keluarga

1. Definisi Keluarga

Menurut Depkes RI 1988 (dalam buku Sulistyo 2012) keluarga adalah unit terkecil

dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan

tinggal di suatu tempat dibawah satu atap dan dalam keadaan saling ketergantungan.

Keluarga adalah suatu system sosial yang berisi dua atau lebih orang yang hidup

bersama yang mempunyai hubungan darah, perkawinan atau adopsi, tingga bersama dan

saling menguntungkan, empunyai tujuan bersama, mempunyai generasi peneus, saling

pengertian dan saling menyayangi. (Murray & Zentner, 1997) dikutip dari (Achjar, 2010)

2. Struktur Keluarga

Menurut Friedman:

a. Stuktur peran keluarga


Menggambarkan peran masing masing anggota keluarga
b. Nilai atau norma keluarga
Menggambarkan nilai dan norma yg dipelajari dan diyakini dalam keluarga
c. Pola Komunikasi Keluarga
Menggambarkan bagaimana cara berkomunikasi antara orangtua, anak,

ataupun keluarga besar


d. Struktur kekuatan keluarga
Menggambarkan kemampuan keluarga dalam memengaruhi orang lain dalam

perilaku ke arah positif.

Struktur keluarga terdiri atas bermacam-macam (Santun, 2008) di antaranya adalah:

1. Patrilineal

Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari atas sanak saudara sedarah

dalam beberapa generasi, di mana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.

2. Matrilineal

Matrrilineal adalah keluarga sederah yang terdiri atas sanak saudarah dalam

beberapa generasi di mana hubungan itu disusn melalui jalur garis ibu.
3. Matrilokal

Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sederah

istri.

4. Patrilokal

Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sederah

suami.

5. Keluarga kawinan

Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan

beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan suami

istri.

3. Ciri Ciri Keluarga

Menurut Robert Iver dan Charles Horton yang di kutip dari (Setiadi, 2008):

1. Keluarga merupakan hubungan perkawinan

2. Keluarga bentuk suatu kelembagaan yang berkaitan dengan hubungan perkawinan

yang senganja dibentuk atau dipelihara.

3. Keluarga mempunyai suatu system tata nama (Nomen Clatur) termasuk perhitungan

garis keturunan.

4. Keluarga mempunyai fumgsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggotanya

berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak.

5. Keluarga merupakan tempat tingggal bersama, ruamh atau rumah tangga.

Adapun Ciri keluarga Indonesia menurut Setiadi (2008):

1) Mempunyai ikatan yang sangat erat dengan dilandasi semangat gotong royong.

2) Dijiwai oleh nilai kebudayaan ketimuran.

3) Umumnya dipimpim oleh suami meskipun proses pemutusan dilakukan secara

musyawarah.
4. Tipe Keluarga

Menurut Muwarni (2008) dalam Jurnal (Graham, Blentic, Duque, & Begbie, 2008) di

sebutkan beberapa tipe keluarga yaitu :

a. Tipe Keluarga Tradisional

1) Keluarga Inti ( Nuclear Family ) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-

anak.

2) Keluarga Besar ( Exstended Family ) adalah keluarga inti di tambah dengan sanak

saudara, misalnya nenek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.

3) Keluarga “Dyad” adalah suatu rumah tangga yang terdiri dari suami dan istri tanpa

anak.

4) “Single Parent” adalah suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua

(ayah/ibu) dengan anak (kandung/angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh

perceraian atau kematian.

5) “Single Adult” adalah suatu rumah tangga yang hanya terdiri seorang dewasa

(misalnya seorang yang telah dewasa kemudian tinggal kost untuk bekerja atau

kuliah)

b. Tipe Keluarga Non Tradisional

1. The Unmarriedteenege mather

Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa

nikah

2. The Stepparent Family

Keluarga dengan orang tua tiri.

3. Commune Family

Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara

hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang
sama : sosialisasi anak dengan melelui aktivitas kelompok atau membesarkan anak

bersama.

4. The Non Marital Heterosexual Conhibitang Family

Keluarga yang hidup bersama dan berganti – ganti pasangan tanpa melelui

pernikahan.

5. Gay And Lesbian Family

Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana suami – istri

(marital partners).

6. Cohibiting Couple

Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena beberapa alas an

tertentu.

7. Group-Marriage Family

Beberapa orang dewasa menggunakan alat – alat rumah tangga bersama yang saling

merasa sudah menikah, berbagi sesuatu termasuk sexual dan membesarkan anaknya.

8. Group Network Family

Keluarga inti yang dibatasi aturan atau nilai – nilai, hidup bersama atau berdekatan

satu sama lainnya dan saling menggunakan barang – barang rumah tangga bersama,

pelayanan dan tanggung jawab membesarkan anaknya.

9. Foster Family

Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga atau saudara didalam

waktu sementara, pada saat orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk

menyatukan kembali keluarga yang aslinya.

10. Homeless Family


Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanent karena

krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem

kesehatan mental.

11. Gang.

Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang- orang muda yang mencari ikatan

emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam

kekerasan dan criminal dalam kehidupannya.

5. Fungsi Keluarga

Menurut Friedman (1986) dalam (Santun, 2008) mengidentifikasi lima fungsi

keluarga, sebagai berikut:

a. Fungsi Afektif

Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga. Fungsi afektif

berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif

tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Hal tersebut dapat

dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga. Dengan

demikian, keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota keluarga

dapat mengembangkan konsep diri positif. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga

dalam melaksanakan fungsi afektif adalah :

1) Saling mengasuh

2) Saling menghargai

3) Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga dimulai sejak pasangan sepakat memulai hidup

baru.

Fungsi afektif merupakan “sumber energi” yang menentukan kebahagiaan keluarga.

Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga, timbul karena fungsi afektif di

dalam keluarga tidak dapat terpenuhi.


b. Fungsi Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu, yang

menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial.

Sosialisasi dimulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk

belajar bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia akan menatap ayah, ibu, dan orang-

orang yang ada di sekitarnya. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai

melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi.

c. Fungsi Reproduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya

manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk memenuhi kebutuhan

biologis pada pasangan tujuan untuk membentuk keluarga adalah untuk meneruskan

keturunan.

d. Fungsi Ekonomi

Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh

anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Banyak pasangan sekarang kita lihat dengan penghasilan yang tidak seimbang antara suami

dan istri, hal ini menjadikan permasalahan yang berujung pada perceraian.

e. Fungsi Perawatan Kesehatan

Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan,

yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota keluarga

yang sakit.

6. Tahap Perkembangan Keluarga

Menurut Duval (1985) dalam Setiadi (2008), membagi keluarga dalam 8 tahap

perkembangan, yaitu:

a. Keluarga Baru (Berganning Family)


Pasangan baru menikah yang belum mempunyai anak. Tugas perkembangan keluarga

tahap ini antara lain adalah :

1) Membina hubungan intim yang memuaskan.

2) Menetapkan tujuan bersama.

3) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok social.

4) Mendiskusikan rencana memiliki anak atau KB.

5) Persiapan menjadi orang tua.

6) Memehami prenatal care (pengertisn kehamilan, persalinan dan menjadi orang tua).

b. Keluarga dengan anak pertama < 30 bulan (Child Bearing).

Masa ini merupakan transisi menjadi orang tua yang akan menimbulkan krisis

keluarga. Studi klasik Le Master (1957) dari 46 orang tua dinyatakan 17 % tidak bermasalah

selebihnya bermasalah dalam hal :

1) Suami merasa diabaikan.

2) Peningkatan perselisihan dan argument.

3) Interupsi dalam jadwal kontinu.

4) Kehidupan seksusl dan social terganggu dan menurun.

Tugas perkembangan keluarga tahap ini antara lain adalah :

1) Adaptasi perubahan anggota keluarga (peran, interaksi, seksual dan kegiatan).

2) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.

3) Membagi peran dan tanggung jawab (bagaimana peran orang tua terhadap bayi

dengan memberi sentuhan dan kehangatan).

4) Bimbingan orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.

5) Konseling KB post partum 6 minggu.

6) Menata ruang untuk anak.

7) Biaya / dana Child Bearing.


8) Memfasilitasi role learning angggota keluarga.

9) Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.

c. Keluarga dengan Anak Pra Sekolah

Tugas perkembangannya adalah menyesuaikan pada kebutuhan pada anak pra sekolah

(sesuai dengan tumbuh kembang, proses belajar dan kotak sosial) dan merencanakan

kelahiran berikutnya. Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :

1) Pemenuhan kebutuhan anggota keluarga.

2) Membantu anak bersosialisasi.

3) Beradaptasi dengan anak baru lahir, anakl yang lain juga terpenuhi.

4) Mempertahankan hubungan di dalam maupun di luar keluarga.

5) Pembagian waktu, individu, pasangan dan anak.

6) Merencanakan kegiatan dan waktu stimulasi tumbuh dan kembang anak.

d. Keluarga dengan Anak Usia Sekolah (6 – 13 tahun)

Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :

1) Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, sekolah dan lingkungan

lebih luas.

2) Mendoprong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual.

3) Menyediakan aktivitas untuk anak.

4) Menyesuaikan pada aktivitas komuniti dengan mengikut sertakan anak.

5) Memenuhi kebutuhan yang meningkat termasuk biaya kehidupan dan kesehatan

anggota keluarga.

e. Keluarga dengan Anak Remaja (13-20 tahun).

Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :


1) Pengembangan terhadap remaja (memberikan kebebasan yang seimbang dan

brertanggung jawab mengingat remaja adalah seorang yang dewasa muda dan mulai

memiliki otonomi).

2) Memelihara komunikasi terbuka antara anak dan orange tua.hindari perdebatan,

kecurigaan dan permusuhan.

3) Memelihara hubungan intim dalam keluarga.

4) Mempersiapkan perubahan system peran dan peraturan anggota keluarga untuk

memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota keluarga.

f. Keluarga dengan Anak Dewasa (anak 1 meninggalkan rumah).

Tugas perkembangan keluarga mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan

menerima kepergian anaknya, menata kembali fasilitas dan sumber yang ada dalam keluarga,

berperan sebagai suami istri, kakek dan nenek. Tugas perkembangan keluarga pada saat ini

adalah :

1) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.

2) Mempertahankan keintiman.

3) Menbantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat.

4) Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima kepergian anaknya.

5) Menata kembali fasilitas dan sumber yang ada pada keluarga.

6) Berperan suami – istri kakek dan nenek.

7) Menciptakan lingkungan rumah yang dapat menjadi contoh bagi anak – anaknya.

g. Keluarga Usia Pertengahan (Midle Age Family).

Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :

1) Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam mengolah minat social dan

waktu santai.

2) Memuluhkan hubungan antara generasi muda tua.


3) Keakrapan dengan pasangan.

4) Memelihara hubungan/kontak dengan anak dan keluarga.

5) Persiapan masa tua/ pension.

h. Keluarga Lanjut Usia.

Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :

1) Penyesuaian tahap masa pension dengan cara merubah cara hidup.

2) Menerima kematian pasangan, kawan dan mempersiapkan kematian.

3) Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat.

4) Melakukan life review masa lalu.

7. Tugas Keluarga Dalam Kesehatan

Menurut Freedman (1981) membagi 5 tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang

harus dilakukan, yaitu :

a. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya

Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi

perhatian dan tanggung jawab keluarga, maka apabila menyadari adanya perubahan perlu

segera dicatat kapan erjadinya, perubahan apa yang terjadi dan beberapa besar

perubahannya.

b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga

Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat

sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang

mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga maka segera

melakukan tindakan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi.

Jika keluarga mempunyai keterbatasan seyogyanya meminta bantuan orang lain

dilingkungan sekitar keluarga.


c. Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak dapat membantu dirinya

sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda.

d. Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan

kepribadian anggota keluarga.

e. Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan lembaga kesehatan

(pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada)

8. Peran Perawat dalam Keluarga

Setiadi (2008) mengatakan dalam pemberian asuhan keperawatan kesehatan keluarga,

ada beberapa peranan yang dapat dilakukan oleh perawat antara lain adalah

a. Pengenal kesehatan (health monitor)

Perawat membantu keluarga untuk mengenal penyimpangan dari keadaan normal tentang

kesehatannya dengan menganalisa data secara objektif serta membuat keluarga sadar akan

akibat masalah dalam perkembangan keluarga.

b. Pemberian pelayanan pada anggota keluarga yang sakit

Dengan memberikan asuhan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit

c. Koordinator pelayanan kesehatan dan keperawatan kesehatan keluarga

Yaitu berperan dalam mengkoordinir pelayanan kesehatan keluaraga baik secara

berkelompok maupun individu.

d. Fasilitator

Yaitu dengan cara menjadikan pelayanan kesehatan itu mudah dijangkau oleh keluarga dan

membantu mencarikan jalan pemecahannya.

e. Pendidik kesehatan

Yaitu merubah perilaku keluarga dan perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat.

f. Penyuluh dan konsultan


Yaitu berperan dalam memberikan petunjuk tentang asuhan keperawatan dasar dalam

keluarga.

Dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap keluarga perawat tidak dapat bekerja

sendiri, melainkan bekerja sama secara tim dan bekerja sama dengan profesi lain untuk

mencapai asuhan keperawatan keluarga dengan baik.

B. Konsep Hipertensi

1. Definisi Hipertensi

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg secara kronis (Tanto

Chris, 2014)

Hipertensi adalah tekanan darah meningkat yang abnormal dan diukur paling tidak

pada tiga kesempatan yang berbeda, tekanan darah normal bervariasi sesuai usia sehingga

setiap diagnosis hipertensi harus spesifik sesuai usia (Corwin, 2009)

2. Etiologi

Sekitar 90% hipertensi dengan penyebab yang belum diketahui pasti disebut dengan

hipertensi primer atau esensial, sendangkan 7% disebabkan oleh kelainan ginjal atau

hipertensi renalis dan 3% disebabkan oleh kelainan hormonal atau hipertensi hormonal dan

penyebab lain (Arif Muttaqin, 2014):

a. Gaya hidup modern

Gaya hidup modern cenderung membuat berkurangnya aktivitas fisik (olah raga).

Konsumsi alkohol tinggi, minum kopi, merokok.

b. Pola makan tidak sehat

Tubuh membutuhkan natrium untuk menjaga keseimbangan cairan dan mengatur

tekanan darah. Tetapi bila asupannya berlebihan, tekanan darah akan meningkat akibat

adanya retensi cairan dan bertambahnya volume darah.

c. Obesitas
Saat asupan natrium berlebih, tubuh sebenarnya dapat membuangnya melalui air seni.

Tetapi proses ini bisa terhambat, karena kurang minum air putih, berat badan berlebihan,

kurang gerak atau ada keturunan hipertensi maupun diabetes mellitus. Berat badan yang

berlebih akan membuat aktifitas fisik menjadi berkurang. Akibatnya jantung bekerja lebih

keras untuk memompa darah.

Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi yang tidak bisa

dikendalikan:

1). Ras

2). Genetik

3). Usia

Penyebab hipertensi sekunder adalah :

1. Ginjal (Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor)

2. Vaskular (Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli kolestrol,

Vaskulitis)

3. Kelainan endokrin (Diabetik Melitus, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme)

4. Saraf (Stroke, Ensepalitis,SGB)

5. Obat – obatan (Kontrasepsi oral, Kortikosteroid).

3. Klasifikasi

Klasifikasi hipertensi menurut The Joint National Committee on the Detection and

Treatment of Hipertension (Arif Muttaqin,2014)

1. Diastolik

a. < 85 mmHg : Tekanan darah normal

b. 85 – 89 : Tekanan darah normal tinggi

c. 90 -104 : Hipertensi ringan

d. 105 – 114 : Hipertensi sedang


e. >115 : Hipertensi berat

2. Sistolik (dengan tekanan diastolik 90 mmHg)

a. < 140 mmHg : Tekanan darah normal

b. 140 – 159 : Hipertensi sistolik perbatasan terisolasi

c. > 160 : Hipertensi sistolik teriisolasi

Menurut World Health Organization (WHO, 2009)

1. Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140 mmHg dan diastolik

kurang atau sama dengan 90 mmHg

2. Tekanan darah perbatasan (border line) yaitu bila sistolik 141-149 mmHg dan diastolik 91-

94 mmHg

3. Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau sama dengan 160

mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.

Tingginya tekanan darah bervariasi, yang terpenting adalah cepat naiknya tekanan darah.

Dibagi menjadi dua:

1). Hipertensi Emergensi

Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera dengan obat

antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ target akut atau progresif

target akut atau progresif. Kenaikan tekanan darah mendadak yang disertai kerusakan

organ target yang progresif dandiperlukan tindakan penurunan tekanan darahyang

segera dalam kurun waktu menit/jam.

2). Hipertensi urgensi

Situasi dimana terdapat peningkatan tekanan darah yang bermakna tanpa adanya gejala

yang berat atau kerusakan organ target progresif bermakna tanpa adanya gejala yang

berat atau kerusakan organ target progresif dan tekanan darah perlu diturunkan dalam

beberapa jam. Penurunan tekanan darah harus dilaksanakan dalam kurun waktu 24-48
jam (penurunan tekanan darah dapat dilaksanakan lebih lambat (dalam hitungan jam

sampai hari).

4. Patofisiologi

Pengaturan tekanan arteri meliputi kontrolsistem persarafan yang kompleks dan

hormonal vena saling berhubungan satu sama lain dalam memengaruhi curah jantung dan

tekanan vaskuler perifer. Hal lain yang ikut dalam pengaturan tekanan darah adalah refleks

baroreseptor dengan mekanisme berikut ini.

Curah jantung ditentukan oleh volume sekuncup dan frekuensi jantung. Tahanan

perifer ditentukan oleh diameter arteriol. Bila diameternya menurun (vasokontriksi), tahanan

perifer meningkat; bila diameternya meningkat (vasodilatasi), tahanan perifer akan menurun.

Pengaturan tekanan arteri dipengaruhi oleh baroreseptor pada sinus karotikus dan

arkus aorta yang akan menyampaikan impuls ke pusat saraf simpatis di medula. Impuls

tersebutakan menghambat stimulasi sistem saraf simpatis.bila tekanan arteri meningkat, maka

ujung ujung baroreseptor akan tegang, sehingga bangkit dan menghambat pusat simpatis. Hal

ini akan menurunkan tegangan pusat simpati, akibatnya frekuensi jantung akan menurun,

arteriol mengalami dilatasi, dan tekanan arteri kembali ke level awal. Hal yang sebaliknya

terjadi bila ada penurunan tekanan arteri. Baroreseptor mengontrol perubahan tekanan darah.

(Arif Muttaqin,2014)

Individu dengan Hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak

diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana sistem

saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai rangsang respons emosi, kelenjar adrenal

juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medula adrenal

mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol

dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokonsriktor pembuluh darah.

Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan


pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah

menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriksi striktor kuat, yang pada gilirannya merangsang

sekresi aldesteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air

oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut

cenderung mencetuskan keadaan Hipertensi (Smeltzer, 2010) dalam KTI Frangky Dinata,

2015.

5. Tanda dan Gejala

Pada pemeriksaan fisik, mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah

yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat

(kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat edema pupil (edema

pada diskus optikus) (Brunner & Suddart, 2015).

Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan gejala sampai

bertahun-tahun. Gejala biasanya menunjukkan adanya kerusakan vaskuler, dengan

manifestasi yang khas sesuai system organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah

bersangkutan. Penyakit arteri koroner dengan angina adalah gejala yang paling menyertai

hipertensi. Hipertrofi ventrikel kiri terjadi sebagai respons peningkatan beban kerja ventrikel

saat dipaksa berkontraksi melawan tekana sistemik yang menigkat. Apabila jantung tidak

mampu lagi menahan peningkatan beban kerja, maka dapat terjadi gagal jantung kiri

(Brunner & Suddart, 2015).

Wijaya & Putri (2013), menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul:

a. Nyeri kepala saat terjaga, disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekana

intracranial.

b. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi.

c. Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat,

d. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus,


e. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.

6. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan menurut Ardiansyah (2012) pada penderita hipertensi adalah sebagai

berikut:
a. Terapi Farmakologi
1) Hidroklorotiazid (HCT) 12,5 -25 mg per hari dengan dosis tunggal pada pagi

hari (pada hipertensi dalam kehamilan, hanya digunakan bila disertai

hemokonsentrasi atau edema paru).


2) Reserpin 0,1-0,25 mg sehari sebagai dosis tunggal.
3) Propanolol mulai dari 10 mg dua kali sehari yang dapat dinaikkan 20 mg dua

kali sehari (kontraindikasi untuk penderita asma).


4) Kaptopril 12,5-25 mg sebanyak dua sampai tiga kali sehari (kontraindikasi pada

kehamilan selama janin hidup dan untuk penderita asma).


5) Nifedipin mulai dari 5 mg dua kali sehari, bisa dinaikkan 10 mg dua kali sehari.

b. Terapi Non Farmakologi

Langkah awal biasanya adalah dengan mengubah pola hidup penderita, yakni

dengan cara:

1) Menurunkan berat badan sampai batas ideal.

2) Mengubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan, atau kadar

kolesterol darah tinggi.

3) Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3 gram natrium atau 6

gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asuhan kalsium,

magnesium, dan kalsium yang cukup).

4) Mengurangi mengkonsumsi alkohol.

5) Berhenti merokok.

6) Olahraga aerobik yang tidak terlalu berat (penderita hipertensi esensial tidak

perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali).

7. Komplikasi
Hipertensi yang tidak ditanggulangi dalam jangka panjang akan menyebabkan

kerusakan arteri didalam tubuh sampai organ yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut.

Komplikasi hipertensi dapat terjadi pada organ-organ tubuh menurut Wijaya & Putri (2013),

sebagai berikut:
a. Jantung
Pada penderita hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan

mengendor dan berkurang elastisitasnya, yang disebut dekompensasi. Akibatnya,

jantung tidak lagi mampu memompa sehingga banyaknya cairang yang tetahan

diparu maupun jaringan tubuh lain yang dapat menyebabkan sesak nafas atau

oedema. Kondisi ini disebut gagal jantung.


b. Otak
Komplikasi hipertensi pada otak, menimbulkan resiko stroke apabila tidak diobati

resiko terkena stroke 7 kali lebih besar.

c. Ginjal

Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan system penyaringan didalam ginjal

akibat lambat laun ginjal tidak mampu membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan

tubuh yang masuk melalui aliran darah dan terjadi penumpukan di dalam tubuh.

d. Mata

Hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya retinopati hipertensi dan dapat

menimbulkan kebutaan.

C. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga

1. Pengkajian Keperawatan Keluarga

Menurut Harmoko, 2012 pengkajian keperawatan memiliki beberapa model, salah

satunya model Friedman. Model pengkajian keluarga menurut Friedman terdiri dari enam

kategori yaitu:

1. Mengidentifikasi data

2. Tahap dan riwayat perkembangan


3. Data lingkungan

4. Struktur Keluarga

5. Fungsi Keluarga

6. Stress, koping, dan adaptasi keluarga

Berikut adalah uraian dari pengkajian keluarga model Friedman:

1. Identifikasi data

Informasi identifikasi keluarga sangat penting untuk lebih mengenal masing masing

anggota keluarga. Data yang diperlukan meliputi:

a. nama keluarga

b. alamat dan nomor telepon

c. komposisi keluarga

2. Tahap dan riwayat perkembangan

Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah:

a. Tahap perkembangan keluarga saat ini

b. Tugas keluarga yang belum terpenuhi

c. Riwayat keluarga inti

Riwayat keluarga mulai lahir hingga saat ini yang meliputi riwayat penyakit keturunan,

riwayat kesehatan masing masing anggota keluarga, serta riwayat perkembangan dan

kejadian kejadian atau pengalaman penting yang berhubungan dengan kesehatan.

d. Riwayat keluarga sebelumnya

Menjelaskan mengenai riwayat asal kedua orang tua.

3. Lingkungan Keluarga

Meliputi seluruh alam kehidupan keluarga mulai dari pertimbangan bidang bidang

yang kecil sampai aspek yang lebih luas. Pengkajian lingkungan meliputi:

a. Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifikasikan dengan:

1. Tipe tempat tinggal

2. Gambaran kondisi rumah

b. Karakteristik rumah dan lingkungan dan komunitas tempat tinggal yang lebih luas.

Menjelaskan tentang:

1. Karakteristik fisik dari lingkungan

2. Karakteristik demografi lingkungan dan komunitas

3. Pelayan kesehatan yang ada di lingkungan

4. Fasilitas fasilitas yang mudah dijangkau keluarga

5. Tersedianya transportasi umum

6. Insiden kejahatan disekitar lingkungan.

c. Mobilitas geografis keluarga

d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat.

4. Struktur keluarga

Struktur keluarga yang perlu dikaji menurut friedman adalah:

a. Pola komunikasi keluarga

b. Struktur kekuatan keluarga

c. Struktur peran, meliputi:

peran formal, peran informal, dan analisa model peran.

5. Fungsi keluarga

Fungsi keluarga yang perlu dikaji menurut Friedman adalah:

1) Fungsi afektif

Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan

dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga dan

bagaimana anggota keluarga mengembangkan sikap saling mengerti.


2) Fungsi keperawatan

a) Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan

b) Untuk mengtahui kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan

kesehatan yang tepat.

c) Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga merawat keluarga yang

sakit.

d) Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga memelihara lingkungan

rumah yang sehat.

e) Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga menggunakan fasilitas

kesehatan yang mana akan mendukung kesehatan seseorang.

Adapun beberapa fungsi lain, seperti:

a. Fungsi sosialisasi

Pada kasus penderita hipertensi yang sudah mengalami komplikasi stroke, dapat

mengalami gangguan fungsi sosial baik di dalam keluarga maupun didalam komunitas

sekitar keluarga.

b. Fungsi reproduksi

Pada penderita hipertensi perlu dikaji riwayat kehamilan (untuk mengetahui adanya

tanda-tanda hipertensi saat hamil).

c. Fungsi ekonomi

Status ekonomi keluarga sangat mendukung terhadap kesembuhan penyakit. Biasanya

karena faktor ekonomi rendah individu segan untuk mencari pertolongan dokter

ataupun petugas kesehatan lainya (Friedman, 2013).

6. Koping keluarga

1) Stresor yang dimiliki

2) Kemampuan keluarga berespons terhadap stresor


3) Strategi koping yang digunakan

4) Strategi adaptasi disfungsional

2. Diagnosa Keperawatan

Perumusan diagnosis keperawatan keluarga dapat diarahkan pada sasaran individu atau

keluarga. Komponen diagnosis keperawatan meliputi masalah (problem), penyebab (etiologi)

dan atau tanda (sign). Sedangkan etiologi mengacu pada 5 tugas keluarga yaitu :
a. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah
1) Persepsi terhadap keparahan penyakit
2) Pengertian
3) Tanda dan gejala
4) Faktor penyebab
5) Persepsi keluarga terhadap masalah
b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan
1) Sejauh mana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah
2) Masalah dirasakan keluarga/Keluarga menyerah terhadap masalah yang dialami
3) Sikap negatif terhadap masalah kesehatan
4) Kurang percaya terhadap tenaga kesehatan
5) Informasi yang salah
c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
1) Bagaimana keluarga mengetahui keadaan sakit
2) Sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan
3) Sumber – sumber yang ada dalam keluarga
4) Sikap keluarga terhadap yang sakit
d. Ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan
1) Keuntungan/ manfaat pemeliharaan lingkungan
2) Pentingnya higyene sanitasi
3) Upaya pencegahan penyakit
e. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas keluarga
1) Keberadaan fasilitas kesehatan
2) Keuntungan yang didapat
3) Kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan
4) Pengalaman keluarga yang kurang baik
5) Pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh keluarga
Menurut Komang, 2010 (dalam KTI Frangky, 2015) adapun diagnosa dalam keperawatan

keluarga meliputi :
a. Gangguan rasa nyaman, nyeri pada anggota keluarga dengan hipertensi berhubungan

dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang mengalami

hipertensi.
b. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal

masalah hipertensi.
c. Resiko jatuh berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan sumplai dan

kebutuhan oksigen pada keluarga.

3. Rencana Keperawatan

Harmoko (2012), mendefinisikan: rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan

tindakan yang ditentukan perawat untuk dilaksanakan, dalam memecahkan masalah

kesehatan dan keperawatan yang telah didefinisikan.


Berikut adalah rencana asuhan keperawatan keluarga dengan Hipertensi:
Tabel Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosa Tujuan Kriteria Standar Rencana


Keperawatan Evaluasi Evaluasi Intervensi
Gangguan Tujuan umum : Respon 1. Keluarga 1. Memberikan
rasa nyaman Setelah verbal dapat pendidikan
nyeri dilakukan menjelaska kesehatan
hipertensi kunjungan ke n mengenai
berhubungan rumah selama pengertian, penyakit
dengan 12 hari penyebab, hipertensi :
ketidakmamp diharapkan nyeri tanda dan pengertian,
uan keluarga berkurang gejala penyebab,
merawat hipertensi tanda dan
anggota Tujuan khusus: 2. Keluarga gejala.
keluarga Setelahdilakuka mampu 2. Membantu
yang n tindakan mengambil keluarga
mengalami keperawatan keputusan dalam
nyeri selama 10x60 jika ada memutuskan
hipertensi menit keluarga anggota keputusan
mampu: keluarga yang tepat.
dengan 3. Memberikan
1. Mengenal hipertensi pendidikan
masalah 3. Keluarga kesehatan
kesehatan mampu dalam
2. Mengambil merawat merawat
keputusan anggota anggota
3. Merawat keluarga keluarga
anggota dengan dengan
keluarga hipertensi hipertensi
yang sakit 4. Keluarga 4. Membantu
4. Memodifikas mampu keluarga
i lingkungan mengubah mengenal dan
5. Memanfaatk faktor mengubah
an fasilitas lingkungan faktor
pelayanan yang lingkungan
kesehatan menyebabk yang
an menyebabkan
hipertensi hipertensi
5. Keluarga 5. Membantu
mampu keluarga
memanfaaa dalam mencari
stkan fasilitas
fasilitas kesehatan
kesehatan yang tersedia.
yang ada.
Kurangnya Tujuan umum : Respon 1. Keluar 1. Memberik
pengetahuan Setelah verbal ga dapat an pendidikan
berhubungan dilakukan menjelaskan kesehatan
dengan kunjungan ke pengertian mengenai
ketidakmamp rumah selama hipertensi pengertian
uan keluarga 12 hari 2. Keluar hipertensi
mengenal diharapkan ga dapat 2. Memberik
masalah keluarga mampu menyebutkan an pendidikan
hipertensi mengambil klasifikasi kesehatan
keputusan hipertensi mengenai
3. Keluar klasifikasi
Tujuan khusus: ga mampu hipertensi
Setelahdilakuka menjelaskan 3. Memberik
n tindakan tanda dan an pendidikan
keperawatan gejala kesehatan
selama 10x60 hipertensi mengenai tanda
menit keluarga 4. Keluar dan gejala
mampu: ga dapat hipertensi
mengerti 4. Memberik
1. Mengenal penyebab an pendidikan
masalah hipertensi kesehatan
kesehatan 5. Keluar mengenai
2. Mengambil ga penyebab
keputusan menyebutkan hipertensi
3. Merawat komplikasi 5. Memberik
anggota dari an pendidikan
keluarga hipertensi kesehatan
yang sakit mengenai
4. Memodifikas komplikasi
i lingkungan hipertensi
5. Memanfaatk
an fasilitas
pelayanan
kesehatan
Resiko jatuh Tujuan umum : Respon 1. Keluar 1. Memberik
berhubungan Setelah verbal ga dapat an pendidikan
dengan dilakukan menjelas kan kesehatan
ketidakmamp kunjungan ke bagaimana mengenai
uan keluarga rumah selama cara bagaimana cara
mengambil 12 hari mengambil keluarga
keputusan diharapkan keputusan mengambil
keluarga dapat jika salah keputusan
mengambil satu keluarga 2. Memberik
keputusan ada yang an pendidikan
mengalami kesehatan
Tujuan khusus: perubahan kepada keluarga
Setelahdilakuka status
n tindakan kesehatan
keperawatan 2. Keluar
selama 10x60 ga dapat
menit keluarga mengambil
mampu keputusan
1. Mengena
l masalah
kesehatan
2. Mengam
bil keputus
3. Merawat
anggota
keluarga yang
sakit
4. Memodif
ikasi
lingkungan
5. Memanf
aatkan fasilitas
pelayanan
kesehatan