Anda di halaman 1dari 9

“Konsep Penganggaran Kesehatan”

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kualitas perencanaan dan
penganggaran. Namun hingga saat ini proses penyusunan perencanaan dan penganggaran belum
sepenuhnya dapat terlaksana sesuai harapan. Permasalahan yang sering dihadapi oleh para
perencana setiap tahun diantaranya adalah sulitnya sinkronisasi dan koordinasi antar unit serta
waktu perencanaan yang terkesan singkat atau tergesa-gesa. (Permnkes RI No. 7 Tahun 2014)
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka para perencana diharapkan dapat memahami
siklus dan jadwal serta kegiatan umum perencanaan dan penganggaran. Hal ini untuk
memudahkan penyusunan Rencana Kerja (Renja) di tingkat Pusat (Kementerian/Lembaga) dan
Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) yang bersumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN), baik dari rupiah murni, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan atau
Pinjaman/Hibah Luar Negeri (P/HLN). Perhatian ditekankan pada sinkronisasi antara Pusat dan
Daerah khususnya untuk Dana Dekonsentrasi (Dekon) dan Tugas Pembantuan (TP). (Permnkes
RI No. 7 Tahun 2014)
Dengan mengetahui dan memahami siklus dan jadwal penyusunan serta kegiatan umum
perencanaan APBN ini, diharapkan dapat menyusun perencanaan dengan baik dan tepat waktu.
(Permnkes RI No. 7 Tahun 2014)

B. Ruang Lingkup Pembahasan


Ruang lingkup pembahasan makalah ini yaitu :
1. Pengertian Penganggaran Kesehatan.
2. Konsep Penganggaran Kesehatan.
3. Penganggaran Nasional.
4. Anggaran Pelayanan Kesehatan.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan Jurnal yang dibahas, rumusan masalah dari makalah ini yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan penganggaran kesehatan ?
2. Bagaimana konsep penganggaran kesehatan ?
3. Bagaimana peran pemerintah dalam penganggaran kesehatan ?

D. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penganggaran kesehatan.
2. Untuk mengetahui bagaimana konsep penganggaran kesehatan.
3. Untuk mengetahui bagaimana peran pemerintah dalam penganggaran kesehatan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Penganggaran Kesehatan
1. Pengertian Anggaran
Anggaran adalah suatu rencana yang disusun secara sistematik yang meliputi seluruh kegiatan
lembaga, yang dinyatakan dalam unit moneter dan berlaku untuk jangka waktu tertentu yang
akan datang. Anggaran juga dimaksudkan sebagai pernyataan mengenai estimasi kinerja yang
hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial. Anggaran
adalah suatu pendekatan yang formal dan sistematis dari pelaksanaan tanggung jawab
manajemen didalam perencanaan koordinasi dan pengawasan. (Winarno, 2013)
Anggaran dapat diinterprestasikan sebagai paket pernyataan perkiraan penerimaan dan
pengeluaran yang diharapkan akan terjadi dalam satu atau beberapa periode mendatang.
Anggaran ini merupakan cerminan dari apa yang akan dilakukan oleh pemerintah, termasuk
didalamnya adalah kebijakan. Karena didalam anggaran terdiri dari pos penerimaan dan
pengeluaran yang berpengaruh terhadap masyarakat.(Trisugiarto, 2016)
Dalam pengelolaan perusahaan, terlebih dahulu manajemen menetapkan tujuan dan sasaran,
dan kemudian membuat rencana kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Dampak
keuangan yang diperkirakan akan terjadi sebagai akibat dari rencana kerja tersebut, kemudian
disusun dan dievaluasi melalui proses penyusunan anggaran. (Widodo, 2012)
Pada dasarnya anggaran yang bermanfaat dan realistis tidak hanya dapat membantu
mempererat kerja sama karyawan, memperjelas kebijakan dan merealisasikan rencana saja, tetapi
juga dapat menciptakan keselarasan yang lebih baik dalam perusahaan dan keserasian tujuan
diantara diantara para manajer dan bawahannya. (Widodo, 2012)
Menurut Mulyadi, anggaran disusun oleh manajemen dalam jangka waktu satu tahun untuk
membawa perusahaan ke kondisi tertentu yang diperhitungkan. Dengan anggaran, manajemen
mengarahkan jalannya kondisi perusahaan. Tanpa anggaran, dalam jangka pendek perusahaan
akan berjalan tanpa arah, dengan pengorbanan sumber daya yang tidak terkendali.
Munandar, mengungkapkan pengertian anggaran adalah sebagai berikut : “Suatu rencana
yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan
dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan
datang.” (Widodo, 2012)

2. Fungsi Anggaran
Secara lebih detail anggaran mempunyai beberapa, antara lain : (Trisugiarto, 2016)
a. Anggaran merupakan hasil akhir proses penyusunan rencana kerja.
b. Anggaran merupakan cetak biru aktivitas yang akan dilaksanakan di masa mendatang.
c. Anggaran sebagai alat komunikasi intern yang menghubungkan berbagai unit kerja dan
mekanisme kerja antar atasan dan bawahan.
d. Anggaran sebagai pengendali unit kerja.
e. Anggaran sebagai alat motivasi dan persuasi tindakan efektif dan efisien dalam pencapain visi
organisasi.
f. Anggaran merupakan intrumen politik.
g. Anggaran merupakan instrumen kebijakan fiskal.
3. Tujuan Penganggaran
Tujuan penganggaran adalah penyusunan rencana keuangan untuk operasi pemerintahan atau
organisasi di masa depan. Selain itu, penganggaran merupakan indikasi kebijakan fiskal
organisasi untuk mencapai berbagai tujuan meliputi ekonomi, sosial dan politik. Kita
dapat mempertimbangkan berbagai empat dimensi untuk setiap program anggaran, yaitu: (Nasab,
2016)
a. Prakiraan Laba dan sumber ekonomi lainnya.
b. Kumpulan kebijakan dan tujuan organisasi.
c. Rangkaian kegiatan dan tujuan pelaksanaan kebijakan untuk mencapai tujuan.
d. Mengantisipasi biaya dari aktivitas di masa depan.

4. Pendekatan Sistem Penganggaran


Dalam sistem perencanaan dan penganggaran terdapat tiga (3) pendekatan yaitu
penganggaran terpadu, penganggaran berbasis kinerja, dan kerangka pengeluaran jangka
menengah (KPJM). (Permnkes RI No. 7 Tahun 2014)
a. Pendekatan Penganggaran Terpadu
Merupakan penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk
seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip
pencapaian efisiensi alokasi dana. Penganggaran terpadu dilakukan dengan mengintegrasikan
seluruh proses perencanaan dan penganggaran di lingkungan Kementerian/Lembaga (K/L) untuk
menghasilkan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) dengan klasifikasi
anggaran menurut organisasi, fungsi, dan jenis belanja. Integrasi atau keterpaduan proses
perencanaan dan penganggaran dimaksudkan agar tidak terjadi duplikasi dalam penyediaan dana
untuk K/L baik yang bersifat investasi maupun untuk keperluan biaya operasional. Perencanaan
dan penganggaran disusun secara terpadu dan menyeluruh dengan memperhatikan berbagai
sumber dana yaitu APBN, termasuk PNBP dan P/HLN, serta APBD. (Permnkes RI No. 7 Tahun
2014)

b. Pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja


Merupakan suatu pendekatan dalam sistem perencanaan dan penganggaran yang menunjukkan
secara jelas keterkaitan antara alokasi anggaran dengan kinerja yang dihasilkan, serta
memperhatikan efisiensi dalam pencapaian kinerja. Kinerja yang dimaksud adalah prestasi kerja
yang berupa keluaran dari kegiatan atau hasil dari program dengan kualitas dan kuantitas yang
terukur. (Permnkes RI No. 7 Tahun 2014)
c. KPJM
KPJM adalah pendekatan penyusunan anggaran berdasarkan kebijakan dengan pengambilan
keputusan yang menimbulkan implikasi anggaran dalam kurun waktu lebih dari satu tahun
anggaran. Pendekatan tersebut sangat bermanfaat dalam mengelola keuangan negara dalam
rangka pelaksanaan pembangunan nasional. Adapun manfaat dari KPJM tersebut antara
lain: (Permnkes RI No. 7 Tahun 2014)
1) Memelihara kelanjutan fiskal dan meningkatkan disiplin fiskal.
2) Meningkatkan keterkaitan antara proses perencanaan dan penganggaran.
3) Mengarahkan alokasi sumber daya agar lebih rasional dan strategis.
4) Meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dengan pemberian pelayanan yang
optimal.
B. Konsep Penggaran Kesehatan
1. Sistem Anggaran Negara
Sistem anggaran negara, meliputi :
a. Penganggaran Tradisional
Penganggaran tradisional yaitu sistem anggaran tradisional (line-item budgeting system) adalah
sistem anggaran yang berdasarkan obyek pengeluaran, dengan titik berat pada segi pelaksanaan
dan pengawasan anggaran. (Winarno, 2013)
Konsep penganggaran tradisional ini telah diterapkan pada paruh kedua Abad 20 dan di
anggap sebagai alat utama pencapaian tujuan perusahaan. (Luecke, 2017)
b. Penganggaran Kinerja
Penganggaran kinerja disebut juga dengan performance budgeting system, merupakan
penyempurnaan dari sistem anggaran tradisional, yang menekankan pada manajemen anggaran
yaitu dengan memperhatikan baik segi ekonomi dan keuangan pelaksanaan anggaran. (Winarno,
2013)
c. Penganggaran Program
Penganggaran program merupakan gabungan dari kedua sistem di atas, lebih menekankan pada
segi perencanaan anggaran dan bukan pada pengendalian anggaran. (Winarno, 2013)

2. Alokasi Dana Kesehatan


Besarnya alokasi dana untuk kesehatan tergantung pada beberapa kondisi, yaitu sebagai berikut :
(Winarno, 2013)
a. Besarnya pendapatan daerah yaitu Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK)
dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
b. Kemampuan dinas kesehatan menyusun program dan anggaran yang realistis.
c. Visi Pemda dan DPRD tentang kedudukan sektor kesehatan dalam konteks pembangunan
daerah relatif terhadap kesehatan.
d. Kemampuan Dinas Kesehatan untuk melakukan advokasi kepada pemda dan DPRD.
3. Langkah-Langkah Penganggaran
Langkah-langkah yang harus diikuti dalam penganggaran adalah sebagai berikut : (Winarno,
2013)
a. Penetapan tujuan
b. Pengevaluasian sumber-sumber daya yang tersedia
c. Negoisasi antara pihak-pihak yang terlibat mengenai angka anggaran
d. Persetujuan akhir
e. Pendistribusian anggaran yang disetujui.

C. Penganggaran Nasional
1. Peran Pemerintah dalam Penganggaran
Seiring dengan berjalannya reformasi di Indonesia, Pemerintah mengeluarkan paket Undang-
Undang di bidang keuangan negara yang meliputi Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara, Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara, dan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara. (Trisugiarto, 2016)
Ketiga paket undang-undang ini menjadi tonggak reformasi pengelolaan keuangan negara.
Undang-undang Keuangan Negara Pasal 3 ayat 1 menyatakan bahwa Keuangan Negara dikelola
secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, efektif, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Hal ini mendorong
Pemerintah agar lebih profesional dalam pengelolaan keuangan. Banyak perubahan yang terjadi
dalam pengelolaan keuangan negara, mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan,
sampai dengan pertanggungjawaban dan pemeriksaan oleh pengawas. (Trisugiarto, 2016)
Sebelum reformasi di bidang keuangan, sistem perencanaan dan penggaran yang berlaku
menggunakan pendekatan line item dan incremental, dimana dalam pendekatan line item lebih
berorientasi pada input sedangkan pada pendekatanincremental lebih pada perspektif tahunan.
Setelah munculnya Undang-Undang Keuangan Negara, sistem perencanaan dan penganggaran
mengalami perubahan. Ada 3 (tiga) jenis pendekatan yang dilakukan, yaitu Kerangka
Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM), Penganggaran Terpadu, dan Penganggaran Berbasis
Kinerja (PBK) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan
Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan amanat dari
Undang-undang Keuangan Negara Nomor 17 Tahun 2003.(Trisugiarto, 2016)

2. Penganggaran dan Otonomi Daerah


Faktor-faktor yang mempengaruhi penyelenggaraan otonomi daerah dimana faktor-faktor
tersebut sekaligus sebagai faktor yang sangat menentukan prospek otonomi daerah untuk masa
mendatang. Faktor pertama yang menentukan prospek otonomi daerah adalah manusia sebagai
subyek penggerak dalam penyelengaraan otonomi daerah. Faktor manusia ini haruslah baik
dalam pengertian moral maupun kapasitasnya. Faktor ini mencakup unsur pemerintah daerah
yang terdiri dari kepala daerah dan DPRD, aparatur daerah maupun masyarakat daerah yang
merupakan lingkungan tempat aktivitas pemerintah daerah dilaksanakan. Kemampuan aparatur
pemerintah daerah merupakan suatu faktor yang menentukan apakah suatu daerah dapat atau
mampu menyelenggarakan urusan rumah tangganya sendiri dengan baik atau tidak. (Winarno,
2013)
Kebijakan publik adalah apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan dan tidak
dilakukan, kebijakan publik adalah apa yang dibuat dan dilakukan oleh pemerintah, bukan
swasta. Kebijakan sebagai sebuah ”rationale” sebuah manifestasi dari pilihan yang penuh
pertimbangan. Sebuah kebijakan adalah usaha untuk mendefinisikan dan menyusun basis
rasional untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan. (Winarno, 2013)
Proses kebijakan publik meliputi beberapa hal yaitu: identifikasi masalah kebijakan,
dilakukan melalui : (Winarno, 2013)
a. Identifikasi yang menjadi tuntutan (demands) atas tindakan pemerintah.
b. Penyusunan agenda (agenda setting) adalah memfokuskan perhatian atas keputusan apa yang
akan diputuskan terhadap masalah publik tertentu
c. Perumusan kebijakan (policy formulation) merupakan tahapan pengusulan rumusan kebijakan
melalui inisiasi dan penyusunan usulan kebijakan.
d. Pengesahan kebijakan (legitimating of policies) adalah pengesahan kebijakan melalui tindakan
politik oleh partai politik, kelompok penekan, presiden dan kongres.
e. Implementasi kebijakan (policy implementation) adalah implementasi kebijakan melelui
birokrasi dan alat atau fasilitas lain. Pemikiran ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk melihat
potensi yang merupakan input dari suatu kebijakan.

3. Analisis Program Penganggaran


Teknik analisis ini digunakan untuk mengetahui program-program yang dijadikan prioritas
pemerintah daerah sesuai urutan berdasarkan indikator pencapaian visi misi kepala daerah dan
program prioritas arahan pemerintah pusat. Melalui teknik ini diketahui bagaimana program
kesehatan berkontribusi terhadap tujuan pembangunan daerah beserta penganggarannya. Analisis
ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu : (Prabowo, 2016)
a. Tahap Pertama. Pada tahap ini akan di analisis program-program berdasarkan kriteria
pencapaian output visi misi pemerintah daeran. Pada matriks prioritas ini akan dihasilkan
pengurutan prioritas program sesuai dengan total hasil penjumlahan mulai dari nilai tertinggi
hingga terendah. Selanjutnya akan dipilih program-program dengan nilai total di atas rata-rata
jumlah total. (Prabowo, 2016)
b. Tahap Kedua. Pada tahap selanjutnya, akan di analisis kembali urutan program-program yang
memiliki nilai di atas rata-rata sebagaimana dihasilkan pada tahap pertama. Analisis tahap kedua
ini merupakan penentuan prioritas utama program yang akan menghasilkan urutan program
terpenting dari program yang terpilih. (Prabowo, 2016)
c. Tahap Ketiga. Sedangkan tahap ketiga ini akan dibandingkan secara bersama, bagaimana setiap
program yang terpilih dari proses pertama dan kedua di atas memiliki kesesuaian. Kesesuaian
sebagaimana dimaksud adalah perbandingan antara ururtan kebujakan alokasi anggaran setiap
program dengan urutan prioritas program berdasarkan pencapaian visi misi kepala daerah
(RPJMD). (Prabowo, 2016)

Kriteria yang digunakan untuk memberi bobot pada program SKPD (Satuan Kerja Perangkat
Daerah) di bidang kesehatan adalah sebagai berikut : (Prabowo, 2016)
a. Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat
b. Efisiensi biaya
c. Efektivitas pencapaian visi misi daerah

Alokasi belanja langsung pada tiap SKPD merupakan salah satu cermin komitmen and good
will Pemerintah daerah dalam implementasi kebijakan keuangan daerah. Secara umum memang
besarnya alokasi anggaran bukan merupakan indikator bahwa SKPD terkait memiliki program
prioritas daerah. Akan tetapi hal ini dapat memberikan petunjuk mengenai SKPD mana saja yang
memiliki tanggung jawab besar untuk mengalokasikan belanja langsung tersebut. (Prabowo,
2016)

D. Anggaran Pelayanan Kesehatan


1. Kebutuhan Anggaran Kesehatan
Kebutuhan layanan kesehatan penduduk secara regional spesifik di kebanyakan negara.
Sistem kesehatan nasional dihadapkan pada dilema mengalokasikan sumber daya ke wilayah ini
untuk memperhitungkan kebutuhan. Meskipun sistem historis dan inkremental merupakan norma
di masa lalu, negara-negara semakin memanfaatkan informasi mengenai kebutuhan lokal untuk
mempengaruhi alokasi ini. (Firdaus, 2012)
Di Indonesia, ketidaksetaraan pola pendanaan bersejarah diperburuk oleh dampak undang-
undang desentralisasi yang diberlakukan pada tahun 1999 dan direvisi pada tahun 2001 yang
menempatkan sebagian besar layanan kesehatan di bawah tanggung jawab pemerintah
kabupaten. (Firdaus, 2012)
Dinas Kesehatan Kabupaten sekarang harus bersaing dengan sektor lain untuk pendanaan.
Tinjauan pengeluaran publik baru-baru ini menunjukkan bahwa pengeluaran kesehatan lokal
sebagian besar terkait dengan pendapatan kabupaten daripada kebutuhan populasi. Ketidakadilan
di tingkat kabupaten cenderung berkontribusi terhadap ketidakadilan di tingkat individu : studi
penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki salah satu distribusi sumber daya kesehatan
masyarakat paling miskin di wilayah ini.
(Firdaus, 2012)

2. Alokasi Dana Kesehatan


Dinas Kesehatan memiliki pengaruh terhadap sistem kesehatan dengan mewajibkan
pemerintah daerah untuk menyediakannya paket layanan minimal (Standar Pelayanan Minimal
atau SPM) untuk populasi mereka. SPM terdiri dariperawatan ibu dan bayi, keluarga berencana,
bayi dan kesehatan anak (termasuk pemeriksaan kesehatan rutin dan merawat anak-anak yang
menderita kekurangan gizi, diare dan infeksi pernafasan) dan prioritasnya menular penyakit
(tuberkulosis, malaria dan demam berdarah). Itu SPM menetapkan target tingkat cakupan yang
relevankelompok penduduk mulai dari sekitar 75% (cakupan kasus malaria) sampai 95% (asuhan
antenatal). Paket mencakup perawatan kesehatan pribadi dan kesehatan masyarakat tindakan
(misalnya penyemprotan demam berdarah). Paketnya jugamendefinisikan dukungan untuk
perawatan kesehatan pribadi yang lebih luas untuk orang miskin termasuk perawatan dasar dan
rujukan. Layanan ini tidak didefinisikan dengan baik dan dalam tulisan ini kita
membatasi perhatikan biaya layanan universal yang ada ditentukan untuk diberikan kepada
seluruh populasi. (Firdaus, 2012)
Pembiayaan untuk mencapai target SPM berasal dari beberapa sumber. Sejak tahun 2004
telah ada skema asuransi untuk orang miskin berdasarkan karakteristik rumah tangga dan
individu pertama dikelola oleh asuransi kesehatan negara agensi (PT Askes) dan, sejak 2008,
sebagai program khusus dari Kementerian Kesehatan (Jamkesmas). Kabupaten adalah diperlukan
untuk menyediakan dana untuk layanan prioritas ke sisa populasi tapi sedikit yang
diketahui tentang biaya komitmen tersebut dan bagaimana hal itu bervariasi melintasi negara.
Variasi biaya yang luas sangat mungkin terjadi karena negara ini terdiri dari lebih dari 17.000
pulau yang memiliki status ekonomi dan sosial yang sangat berbeda. Fokus penelitian ini adalah
pada estimasi dana yang dibutuhkan untuk mencapai minimum. (Firdaus, 2012)
Tingkat cakupan SPM yang ditetapkan secara politis untuk setiap layanan memiliki potensi
untuk menghasilkan pergeseran sumber daya yang penting menuju daerah dengan penggunaan
rendah relatif terhadap kebutuhan. Analisis statistik Faktor kebutuhan untuk menentukan
pembobotan terhambat oleh kurangnya kumpulan data berskala besar yang representatif di
daerah di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Demografis dan Survei
Kesehatan disediakan apa yang mungkin paling konsisten dan dapat diandalkan untuk
pemodelan kebutuhan kesehatan tapi biasanya tidak representatif di bawah tingkat provinsi dan
sebagian besar terbatas pada serangkaian indikator proses utama untuk ibu dan pemanfaatan
kesehatan anak.(Firdaus, 2012)

3. Alokasi Sumber Daya


Tahap kedua dari proses alokasi sumber daya adalah sebuah keputusan tentang tingkat
sumber daya untuk mengalokasikan untuk diukur kebutuhan masing-masing sub kelompok dan
populasi. Di sistem kesehatan yang mapan adalah metode yang biasa asumsikan satuan sumber
daya adalah total anggaran yang tersedia dan mengalokasikannya berdasarkan kebutuhan
pembobotan. Dimana disana tidak ada anggaran yang mapan alternatifnya adalah membangun
sumber daya persyaratan dengan melihat layanan individual berdasarkan data epidemiologi dan
biaya normatifpengobatan. (Firdaus, 2012)
Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis kebutuhan untuk layanan angina dan infark
miokard menggunakan data pasien di Wales. Kompleksitas yang universalkebutuhan paket di
sebagian besar negara OECD membatasi sejauh mana metodologi ini dapat diterapkan paling
banyak jasa. Sebaliknya, rendahnya tingkat sumber daya dan niat untuk mengarahkan mereka ke
kebutuhan prioritas berarti banyak yang rendah dan Middle Income Countries (LMICs) bertujuan
untuk fokus kepada publikpendanaan untuk perawatan kesehatan pada rentang intervensi yang
terbatas yang terbukti efektivitas biaya. Paket manfaat dasar pendekatan, dengan fokus pada
jangkauan sempit yang sebagian besar menular penyakit dan kesehatan ibu dan anakmenjadi ciri
umum strategi sektoral di Indonesia banyak LMICs. Pendekatannya sangat penting bagi
internasional inisiatif advokasi lebih banyak tapi lebih tepat sasaran belanja untuk perawatan
kesehatan. Pendekatan bottom up, pendekatan untuk kebutuhan alokasi sumber daya mungkin
praktis untuk terbatasnya layanan yang dibiayai oleh negara seperti itu negara dan lebih spesifik
terhadap kebutuhan daripada rumus umum. (Firdaus, 2012)

E. Solusi Pemecahan Masalah


Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penganggaran kesehatan, maka kita terlebih
dahulu harus mengetahui apa yang dimaksud dengan anggaran dan penganganggaran kesehatan.
Anggaran merupakan estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang
dinyatakan dalam ukuran finansial. Anggaran adalah suatu pendekatan yang formal dan
sistematis dari pelaksanaan tanggung jawab manajemen didalam perencanaan koordinasi dan
pengawasan. (Winarno, 2013)
Penganggaran kesehatan adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi
seluruh kegiatan kesehatan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk
jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang. Konsep penganggaran kesehatan terdiri dari
Penganggaran Tradisional, Penganggaran Kinerja dan Penganggaran Program. Konsep
penganggaran tersebut termasuk dalam Sistem Anggaran Negara. (Winarno, 2013)
Penganggaran tradisional merupakan sistem anggaran yang berdasarkan obyek pengeluaran,
dengan titik berat pada segi pelaksanaan dan pengawasan anggaran. Kemudian penganggaran
tradisional disempurnakan menjadi penganggaran kinerja, yang menekankan pada manajemen
anggaran yaitu dengan memperhatikan baik segi ekonomi dan keuangan pelaksanaan anggaran.
Sedangkan penganggaran program merupakan gabungan dari penganggaran tradisional dan
penganggaran kinerja, yang lebih menekankan pada segi perencanaan anggaran dan bukan pada
pengendalian anggaran. (Winarno, 2013)
Peran pemerintah dalam penganggaran kesehatan yaitu mengalokasikan dana kesehatan
melalui APBN dan APBD untuk diteruskan ke instansi-instansi kesehatan yang telah ditentukan
untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan mempermudah dalam melakukan kegiatan
kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pemerintah juga bertugas
mengawasi agar dana yang sudah diberikan dapat digunakan sesuai dengan
tujuannya. (Trisugiarto, 2016)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama
periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial. Anggaran adalah suatu
pendekatan yang formal dan sistematis dari pelaksanaan tanggung jawab manajemen didalam
perencanaan koordinasi dan pengawasan. Penganggaran kesehatan adalah suatu rencana yang
disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan kesehatan, yang dinyatakan dalam unit
(kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang. Konsep
penganggaran kesehatan terdiri dari Penganggaran Tradisional, Penganggaran Kinerja dan
Penganggaran Program. Konsep penganggaran tersebut termasuk dalam Sistem Anggaran
Negara.
Sebelum reformasi di bidang keuangan, sistem perencanaan dan penggaran yang berlaku
menggunakan pendekatan line item dan incremental, dimana dalam pendekatanline item lebih
berorientasi pada input sedangkan pada pendekatan incremental lebih pada perspektif tahunan.
Setelah munculnya Undang-Undang Keuangan Negara, sistem perencanaan dan penganggaran
mengalami perubahan. Jenis pendekatan yang dilakukan, yaitu Kerangka Pengeluaran Jangka
Menengah (KPJM), Penganggaran Terpadu, dan Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) sesuai
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan
Anggaran Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan amanat dari Undang-undang
Keuangan Negara Nomor 17 Tahun 2003.

B. Saran
Pembuatan makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan sumber yang
kami peroleh. Sehingga isi dari makalah ini masih bersifat umum, oleh karena itu saya harapkan
agar pembaca bisa mencari sumber yang lain guna membandingkan dengan pembahasan yang
saya buat, guna mengoreksi bila terjadi kelasahan dalam pembuatan makalah ini.