Anda di halaman 1dari 16

ETHICS AND THE AUDIT PROFESSION

APAKAH ETIKA

Etika (etichs) dapat didefinisikan secara luas sebagai serangkaian prinsip


atau nilai moral. Masing-masing kita memiliki seperangkat nilai meskipun kita
mungkin belum meyakininya secara nyata. Para ahli filsafat, organisasi keagamaan,
dan kelompok-kelompok lainnya telah mendefinisikan etika dalam berbagai
prinsip-prinsip moral atau nilai-nilai yang ideal. Contoh serangkaian prinsip atau
nilai moral yang telah ditentukan adalah undang undang dan peraturan, kode etik
bisnis bagi sekelompok profesi seperti akuntan publik, serta kode perilaku dalam
organisasi.

Merupakan hal umum bila setiap orang memiliki perbedaan dalam prinsip
moral dan nilai serta kepentingan relative yang terkait dengan prinsip-prinsip
tersebut. Perbedaan ini merupakan gambaran dari pengalaman hidup, kesuksesan
dan kegagalan, serta pengaruh dari orang tua, guru, dan teman-teman

Perilaku etis sangat diperlukan oleh masyarakat agar dapat berfungsi secara
teratur. Hal ini sangat beralasan karena etika merupakan perekat untuk menyatukan
masyarakat. Bayangkan apa yang terjadi bila kita tidak dapat mempercayai orang
lain yang berhubungan dengan kita untuk berlaku jujur jika para orang tua, guru,
karyawan, saudara kandung, rekan kerja, dan teman kita terus menerus berbohong
maka hampir tidak mungkin kita dapat melakukan komunikasi yang efektif.

Kebanyakan orang mendefinisikan perilaku tidak etis sebagai perilaku yang


menyimpang dari pada mereka yakini sebagai perilaku yang patut dalam
lingkungan mereka. masing-masing menentukan bagi diri sendiri mana yang
merupakan perilaku tidak etis, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dengan
demikian, penting untuk memahami apa yang menyebabkan orang-orang
berperilaku tidak etis.
Ada dua alasan utama yang menjadi penyebab orang berperilaku tidak etis.
Kedua alasan tersebut adalah standar etika orang tersebut berbeda dari etika
masyarakat secara umum, atau orang tersebut memilih untuk berlaku egois. Sering
kali, keduanya muncul menjadi penyebab perilaku tidak etis.

Berikut ini enam nilai inti etis mengenai perilku etis menurut josephson
intitute:

1. Dapat di percaya (trustworthiness), mencakup kejujuran, integritas


realibilitas, dan loyalitas.
2. Penghargaan (respect), mencakup gagasan seperti kepantasan, (civility),
kesopansantunan (courtesy), kehormatan, toleransi, dan penerimaan.
3. Pertanggungjawaban (respondsibility), berarti bertanggung jawab atas
tindakan seseorang serta dapat menahan diri.
4. Kelayakan (fairness), dan keadilan mencakup isu isu tentang kesamaan
penilaian, sikap tidak memihak, proporsionalitas, keterbukaan, dan
keseksamaan.
5. Perhatian (caring), berarti sungguh sungguh memperhatikan kesejahteraan
pihak lain dan mencakup tindakan yang memperhatikan kepentingan
sesama serta memperlihatkan perbuatan baik.
6. Kewarganegaraan (citizenship), termasuk kepatuhan pada undang undang
serta melaksanakan kewajiban sebagai warga negara agar proses dalam
masyarakat berjalan dengan baik, anrtara lai pemungutan suara, bertindak
sebagai juri pengadilan di AS, dan melindungi sumber daya alam yang ada.

Dua alasan utama mengapa seseorang bertindak tidak etis :

1. Standar etika seseorang berbeda dengan masayarakat umum.


Contoh ekstrem orang orang yang perilakunya melanggar hampir semua
etika yang dianut oleh setiap orang adalah obat terlarang, perampok bank, dan
pencuri. Sebagian besar orang yang melakukan tindakan tersebut tidak
menunjukkan rasa penyesalan saat mereka tertangkap, karena standar etika
mereka berbeda dengan yang berlaku di masyarakat secara keseluruhan.
Banyak contoh perilaku menyimpang, misalnya ketika orang yang tidak
jujur dalam melaporkan pajak mereka, memperlakukan orang lain tidak baik,
berbohong ketika melamar pekerjaan, atau karyawan yang tidak menjalankan
tugas dengan sebaik-baiknya, yang pada umumnya mayoritas orang akan
menganggap hal tersebut sebagai perilaku tidak etis. Jika orang lain yang
memutuskan bahwa perilaku tersebut merupakan perilaku yang etis dan dapat
diterima, maka hal ini menandakan adanya konflik nilai-nilai etika yang perlu
ditangani.

2. Orang memilih untuk bertindak mementingkan diri sendiri


Sebagian besar prilaku tidak etis disebabkan oleh tindakan yang
mementingkan diri sendiri. Skandal poilitik terjadi akibat adanya keinginan
untuk mendapatkan kekuasaan politik, kecurangan dalam mengisi SPT pajak
dan laporan pengeluaran dimotivasi oleh ketamakan atas uang, bertindak
dibawah kemampuan yang sebenarnya dan berlaku curang dalam ujian yang
diikuti umumnya terjadi akibat rasa malas. Orang yang melakukan perbuatan
tidak etis tersebut mengetahui bahwa perbuatannya menyimpang, namun ia
memilih untuk melakukan penyimpangan tersebut karena diperlukan
pengorbanan pribadi untuk bertindak sesuai dengan etika.

DILEMA ETIKA

Dilema etika (ethical dilemma) adalah situasi yang dihadapi oleh seseorang
dimana ia harus mengabil keputusan tentang prilaku yang tepat.

Para auditor, akuntan, dan pebisnis lainnya, mengahadapi banyak dilema


etika dalam karir bisnis mereka. Terlibat dengan klien yang mengancam akan
mencari auditor baru jika tidak diberikan opini unqualified akan menimbulkan
dilema apakah akan menentang supervisor yang telah merekayasa pendapatan divisi
sebagai cara untuk memperoleh bonus yang lebih besar merupakan sebuah dilemma
etika. Meneruskan untuk menjadi bagian dari manajemen perusahaan yang
mengganggu dan tidak memperlakukan karyawannya dengan baik atau berlaku
tidak jujur terhadap pelanggannya merupakan dilemma etika, terlebih bila orang
tersebut memiliki keluarga yang harus ia nafkahi dan persaingan dalam
mendapatkan pekerjaan sangat tinggi.

Ada cara cara alternatif untuk menyelesaikan dilema etika, tetapi kita
berhati hati untuk menghindari metode yang merasionalkan prilaku etis. Berikut ini
dalah metode metode rasionalisasi yang digunakan, yang dengan mudah dapat
mengakibatkan tindakan tidak etis.


 Setiap orang melakukannya. Argumentasi yang mendukung penyalahgunaan
pelaporan pajak, pelaporan pengadaan barang/jasa biasanya didasarkan pada
rasionalisasi bahwa semua orang melakukan hal yang sama, oleh karena itu dapat
diterima.
 Jika sah menurut hukum,hal itu etis. Menggunakan argumentasi bahwa semua
perilaku legal adalah beretika sangat berhubungan dengan ketepatan hukum.
Dengan pemikiran ini, tidak ada kewajiban menuntut kerugian yang telah
dilakukan seseorang.
 Kemungkinan ketahuan dan konsekuensinya. Pemikiran ini bergantung pada
evaluasi hasil temuan seseorang. Umumnya, seseorang akan memberikan
hukuman (konsekuensi) pada temuan tersebut.

Pendekatan enam langkah berikut ini dimaksudkan agar dapat menjadi suatu
pendekatan yang relatif sederhana agar dapat menyelesaikan dilema etika :

1. Memperoleh fakta yang relevan


2. Mengidentifikasi isu isu etis berdasarkan fakta tersebut
3. Menentukan siapa yang akan terpengaruh oleh akibat dari dilema tersebut
dan bagaimana setiap orang atau kelompok itu terpengruhi
4. Mengidentifikasi berbagai alternatif yang tersedia bagi orang yang harus
menyelesaikan dilema tersebut
5. Mengidentifikasi konsekuensi yang mungkin terjadi dari setiap alternative
6. Memutuskan tindakan yang tepat
KEBUTUHAN KHUSUS AKAN PERILAKU ETIS DALAM PROFESI

Arti istilah profesional adalah tanggung jawab untuk bertindak lebih dari
sekadar memenuhi tanggung jawab diri sendiri maupun ketentuan hukum dan
peraturan masyarakat. Akuntan pulik sebagai profesional, mengakui adanya
tanggung jawab kepada masyarakat, klien, serta rekan praktisi, termasuk prilaku
yang terhormat, meskipun itu berarti pengorbanan diri.

Alasan adanya harapan yang begitu tinggi pada penerapan etika bagi para
professional adalah kebutuhan akan kepercayaan publik dalam kualitas pelayanan
yang diberikan oleh professional tersebut, bagaimanapun individu-individu yang
memberikan jasa tersebut. Bagi profesi akuntan publik, merupakan hal yang
penting bahwa klien dan pihak-pihak eksternal pengguna laporan keuangan untuk
memiliki kepercayaan dalam kualitas audit dan jasa lainnya yang diberikan oleh
akuntan publik tersebut. Jika para pengguna jasa tidak memiliki kepercayaan pada
para tenaga medis, hakim, atau akuntan publik, maka para professional tersebut
akan kehilangan kemampuan untuk melayani klien dan juga masyarakat umum
secara efektif. Kepercayaan publik terhadap kualitas jasa professional yang
diberikan akan meningkat bila profesi mendorong diterapkannya standar kinerja
dan standar perilaku yang tinggi bagi para praktisinya.

KAP memiliki hubungan yang berbeda dengan para pengguna laporan


keuangan dibandingkan dengan hubungan mayoritas profesi lainnya terhadap klien
mereka. KAP ditugasskan oleh manajemen untuk perusahaan perseorangan, atau
oleh komite audit untuk perusahaan publik, dan dibayar oleh perusahaan yang
menerbitkan laporan keuangan, namun penerima manfaat utama dari jasa audit
tersebut adalah para pengguna laporan keuangan.
Merupakan hal yang penting bagi para pengguna laporan keuangan untuk
memandang KAP sebagai pemberi jasa yang kompeten dan objektif. Jika para
pengguna yakin bahwa KAP tidak memberikan pelayanan yang bernilai
(mengurangi risiko informasi), maka nilai jasa audit atau jasa astetasi lainnya yang
diberikan oleh KAP tersebut akan menurun sehingga permintaan akan jasa-jasa
tersebut dengan demikian akan menurun. Oleh karena itu, terdapat motivasi yang
besar bagi KAP untuk melakukan tingkat profesionalisme yang tinggi.
KODE PRILAKU PROFESIONAL

Kode perilaku profesional AICPA menyediakan baik standar umum


perilaku yang ideal maupun perilaku khusus yang harus diberlakukan. Kode etik ini
terdiri atas empat bagian : prinsip prinsip, peraturan perilaku, interpretasi atas
peraturan perilaku, dan kaidah etika.

1. Prinsip-prinsip : standar etika ideal yang dinyatakan dalam istilah filosofi.


Prinsip-prinsip ini bersifat teoritis, mencakup tanggung jawab, kepentingan
publik, integritas, objektivitas dan independensi, keseksamaan, ruang
lingkup dan sifat jasa.
2. Peraturan etika : standar etika minimum yang dinyatakan sebagai
peraturan spesifik. Prinsip-prinsip ini bersifat praktis.
3. Intepretasi atas peraturan etika : disusun oleh Divisi Etika Profesi
AICPA. Intepretasi ini bersifat teoritis, tetapi praktisi harus menyesuaikan
penyimpangannya.
4. Kaidah etika : Publikasi penjelasan serta beragam jawaban atas pertanyaan
tentang peraturan etika yang disampaikan pada AICPA oleh para praktisi
serta pihak lainnya yang tertarik akan ketentuan-ketentuan etika.
Intepretasi ini bersifat teoritis, tetapi praktisi harus menyesuaikan
penyimpangannya.

Prinsip-prinsip etis
1. Tanggung jawab
Dalam mengemban tanggung jawabnya sebagai profesional, para anggota
harus melaksanakan pertimbaangan profesioanl dan moral yang sensitif dalam
semua aktivitas mereka.
2. Kepentingan publik
Para anggota harus menerima kewajiban untuk bertidak sedemikian rupa agar
dapat melayani kepentingan publik, menghargai kepercayaan publik, serta
menunjukkan komitmennya pada profesionalisme.
3. Integritas
Untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan publik, para anggota
harus melaksanakan seluruh tanggung jawab profesionalnya dengan tingkat
integritas tinggi.
4. Objektivitas dan independensi
Anggota harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari konflik
kepentingan dalam melaksanakan tanggung jawab profesionalnya.
5. Keseksamaan
Anggota harus memperhatikan standar teknis dan etis profesi, terus berusaha
keras meningkatkan kompetensi dan mutu jasa yang diberikannya, serta
melaksanakan tanggung jawab profesional sesuai dengan kemampuan
terbaiknya.
6. Ruang lingkup dan sifat jasa
Anggota yang berpraktik bagi publik harus memperhatikan prinsip-prisip kode
prilaku profesional dalam menentukan lingkup dan sifat jasa yang akan
disediakannya.

INDEPENDENSI

Nilai auditing sangat bergantung pada persepsi publik atas independensi


auditor. Independensi dalam audit berarti mengambil sudut pandang yang tidak
biasa. Auditor tidak hanya harus independensi dalam fakta, tetapi juga harus
independen dalam penampilan. Independensi dalam fakta (independen in fact) ada
bila auditor benar benar mampu mempertahankan sikap yang tidak bisa dalam
audit, sedangkan independensi dalam penampilan (independence in appearance)
adalah hasil dari interpretasi lain atas independensi ini.
PCAOB juga menerbitkan aturan independensi tambahan yang berkaitan
dengan ketentuan jasa perpajakan tertentu.
Jasa nonaudit
Sarbanes-oaxley act dan peraturan SEC yang direvisi lebih lanjut
membatasi, tetapi tidak benar benar menghilangkan, jenis jasa nonaudit yang dapat
diberikan kepada klien audit yang merupakan perusahaan terbuka. Banyak dari jasa
ini dilarang menurut aturan independensi SEC. Aturan baru ini menjelaskan banyak
larangan yang ada dan memperluas situasi dimana jasa terbuka tidak
diperkenankan. Berikut adalah sembilan jasa yang tidak di perkenankan :
 Jasa pembukuan dan akutansi lain
 Perancangan dan implementasi sistem informasi keuangan
 Jasa penaksiran atau penilaian
 Jasa actuarial
 Outsorurcing audit internal
 Fungsi manajemen dan sumber daya manusia
 Jasa pialang atau dealer atau penasihat investasi atau bankir investasi
 Jasa hukum dan pakar yang tidak berkaitan dengan audit
 Semua jasa lain yang ditentukan oleh PCAOB sebagai tidak diperkenankan

Komite audit
Komite audit adalah sejumlah anggota dewan direksi perusahaan yang
tanggung jawabnya termasuk membantu auditor agar tetap independen dari
manajemen. Kebanyakan komite audit terdiri dari tiga hingga lima atau terkadang
paling banyak tujuh direktur yang bukan merupakan bagian dari manajemen
perusahaan.

Konflik yang timbul dari hubungan personalia


Menurut peraturan SEC yang dikeluarkan sebelum Sabarnes-Oxley Act dan
masih berlaku hingga kini, kantor akuntan publik dianggap tidak independen
berkenaan dengan klien audit jika mantan partner, prinsipal, pemegang saham, atau
karyawan profesional dari kantor tersebut diterima bekerja pada klien dan
mempunyai kepentingan keuangan yang berkelanjutan dalam kantor akuntan
bersangkutan atau dalam posisi yang mempengaruhi kebijakan operasi ata kantor
akuntan tersebut.
Rotasi partner
Seperti yang disyaratkan oleh Sabarnes-Oxley Act, aturan independensi
SEC mengharuskan pimpinan dan partner audit merotasi penugasan audit sesudah
lima tahun. (partner yang sama tidak akan terlibat dalam kinerja aktual audit
tertentu dan kemudian kembali terlibat dengan review pekerjaan sesudah
penyelesaian audit tersebut).
Kepentingan kepemilikan
Aturan SEC tentang hubungan keuangan berfokus pada perspektif
penugasan dan melarang kepemilikan pada klien audit bagi orang orang yang dapat
mempengaruhi audit. Aturan itu melarang setiap kepemilikan oleh orang orang
yang terlibat dalam audit dan keluarga dekat mereka, termasuk (a) anggota tim
penugasan audit, (b) mereka yang dapat memengaruhi penugasan audit dalam rantai
komando perusahaan, (c) partner dan para manajer yang memberikan lebih dari 10
jam jasa nonaudit kepada klien, dan (d) partner dalam kantor partner yang
bertanggung jawab atas penugasan audit.

PERATURAN PERILAKU DAN INTERPRETASI INDEPENDENSI

Peraturan 101-independensi Seorang anggota yang berpraktik untuk perusahaan


publik harus independen dalam pelaksanaan jasa profesionalnya sebagaimana
disyaratkan oleh standar yang dirumuskan lembaga yang dibentuk oleh dewan.
Interpretasi peraturan 101 melarang anggota yang terlibat untuk memiliki
saham atau investasi langsung lainnya dalam klien audit karena hal itu berpotensi
merusak independensi audit aktual ( independensi dalam fakta ), dan pasti akan
mempengaruhi persepsi pemakai atas independensi auditor ( independensi dalam
penampilan ).
Anggota yang tercakup
Peratuaran 101 berlaku untuk anggota yang terlibat yang dapat
mempengaruhi penugasan atestasi. Anggota yang tercakup meliputi yang berikut
ini :
1. Orang orang pada tim penugasan atestasi
2. Orang orang yang dapat mempengaruhi penugasan atestasi
3. Partner atau manajer yang memberikan jasa nonatestasi kepada klien
4. Partner di kantor partner yang bertanggung jawab atas penugasan atestasi
5. Kantor akuntan dan program tunjangan karyawannya
6. Entitas yang dapat dikendalikan oleh setiap anggota yang terlibat tersebut
diatas atau oleh dua orang atau lebih anggota yang terlibat atau entitas yang
beroperasi bersama

Kepentingan keuangan langsung vs tidak lansung


Kepemilikan lembar saham atau ekuitas lainnya oleh para anggota atau
keluarga dekatny dikenal dengan kepentingan keuangan langsung (direct
financial interest). Kepentingan keuangan tidak langsung (indirect financial
interest) muncul ketika terdapat hubungan kepemilikan yang dekat, tetapi bukan
hubungan langsung antara auditor dan kliennya.
Material atau tidak material
Materialitas mempengaruhi apakah kepemilikan saham merupakan suatu
pelanggaran atas 101 hanya untuk kepentingan tidak langsung. Materialitas harus
dilihat dalam hubungannya dengan kesejahteraan dan pendapatan anggota.
Mantan praktisi
Dalam sebagian besar situasi, interpretasi memungkinkan para mantan
partner atau pemegang saham menhinggalkan perusahaan karena hal hal seperti
mengundurkan diri dan menjual kepemilikan saham.
Prosedur pemberian pinjaman yang normal
Umumnya, tidak di perkenankan adanya perjanjian kredit antara kantor
akuntan publik atau para karyawannya dengan klien audit karena hal itu merupakan
hubungan keuangan.
Kepentingan keuangan dan penerimaan pekerja anggota keluarga inti serta
keluarga terdekat
Kepentingan keuangan dari keluarga ini, yang didefinisikan sebagai
pasangan suami istri, anak anak, atau anggota keluarga lain, umumnya diperlakukan
seolah olah merupakan kepentingan keuangan dari anggota itu sendiri.
Investasi bersama dengan klien
Investasi bersama merupakan investasi yang dilakukan oleh anggota dan
klien yang memungkinkannya mengendalikan entitas atau properti. Independensi
anggota yang terlibat tidak akan terganggu jika investasi bersama itu bersifat
material terhadap anggota yang terlibat.
Direktur, pejabat, manajemen, atau karyawan perusahaan
Jika seorang akuntan publik adalah anggota dari dewan direksi atau pejabat
perusahaan klien, maka kemampuannya untuk melakukan evaluasi yang
independen atas kewajaran penyajian laporan keuangan akan terpengaruh.
Konsultasi dan jasa audit lainnya
KAP menawarkan banyak jasa lainnya untuk membantu klien yang secara
potensial dapat mengganggu independensi. Aktivitas semacam itu dapat diizinkan
sepanjang anggotanya tidak menjalankan fungsi manajemen atau membuat
keputusan manajemen.
PERATURAN PERILAKU LAINNYA

Peraturan 102 tentang integritas dan objektivitas:

Peraturan 102-Integritas dan Objektivitas Dalam pelaksanaan setiap jasa


profesional, seorang anggota harus dapat memisahkan objektivitas dan integritas,
harus bebas dari konflik kepentingan, dan tidak beoleh dengan sengaja membuat
kesalahan penyajian atas fakta atau menyerahkan penilaiannya kepdad orang lain.

Ketiga kode standar berikutnya berhubungan dengan kepatuhan auditor


pada persyaratan standar teknis. Berikut ini adalah persyaratan dari Standar
teknis:
Peraturan 201-Standar Umum Seorang anggota harus memenuhi standar berikut
dan interpretasinya yang ditetapkan oleh lembaga yang ditunjuk oleh dewan.

A. Kompetensi profesional. Hanya mengerjakan jasa profesional dimana anggota


atau kantor anggota menganggap secara wajar dapat diselesaikan dengan
kompetensi profesional
B. Keseksamaan profesional. Menggunakan kemahiran profesional dalam
pelaksanaan jasa profesional
C. Perencanaan dan supervisi. Merencanakan dan mengawasi secara mencukupi
pelaksanaan jasa profesional
D. Data relevan yang mencukupi. Memperoleh data relevan yang mencukupi
sebagai dasar yang layak untuk membuat kesimpulan atau rekomendasi dalam
hubungannya dengan jasa profesional yang dilaksanakan

Peraturan 202-Ketaatan pada Standar Seorang anggota yang melaksanakan jasa


audit, review, kompilasi, konsultasi manajemen, perpajakan, atau jasa profesional
lainnya harus mematuhi standar yang ditetapkan oleh lembaga yang ditunjuk oleh
dewan.

Peraturan 203-Prinsip Prinsip Akutansi Seorang anggota tidak boleh (1)


memberikan pendatpat atau menyatakan secara tegas bahwa laporan keuangan atau
data keuangan lainnya milik suatu entitas telah disajikan sesuai dengan prinsip
prinsip akutansi yang berlaku umum atau (2) menyatakan bahwa ia tidak
menyadarai bahwa adanya modifikasi yang material yang harus dibuat pada laporan
atau data tersebut agar sesuai dengan prinsip prinsip akutansi yang berlaku umum,
jika laporan atau data tersebut mengandung penyimpangan dari prinsip akutansi
yang dirumuskn oleh badan yang ditunjuk oleh dewan untuk menetapkan prinsip
semacam itu, yang mempunyai dampak material terhadap laporan atau data yang
diambil secara keseluruhan. Namun, jika laporan atau data tersebut mengandung
penyimpangan dan anggota dapat memperlihatkan akibat keadaan yang tidak biasa
maka tanpa penyimpangan tersebut, laporan keuangan data itu justru akan
menyesatkan, anggota dapat mematuhi aturan dengan menjelaskan
penyimpangannya, dampak nya bila dapat diperkirakan, dan alasan mengapa
kepatuhan terhadap prinsip prinsip tersebut diatas akanj menghasilkan laporan yang
menyesatkan.

Tujuan utama peraturan 201 hingga 203 adalah untuk memberikan


dukungan kepada ASB, PCAOB, FASB, dan badan penyusun-standar teknis
lainnya.

Persyaratan spesifik dari peraturan 301 yang berkaitan dengan informasi


rahasia klien (confidental client information) adalah sebagai berikut:

Peraturan 301-Informasi Rahasia Klien Seorang anggota dalam prakitik publik


tidak boleh mengunkapkan setiap informasi rahasia klien tanpa persetujuan klien.
Peraturan ini tidak boleh diartikan (1) untuk membebaskan seorang anggota
dari kewajiban profesionalnya menurut peraturan 202 dan 203, (2) untuk
mempengaruhi dengan cara apapun kewajiban anggota memenuhi panggilan
pengadilan yang dibuat secara sah dan dapat diberlakukan, (3) untuk menghambat
review atas praktik profesional anggota menurut AICPA atau perkumpulan akuntan
publik negara bagian atau otorisasi Dewan Akutansi, atau (4) untuk menghalangi
seorang anggota mengajukan keluhan dengan, atau menanggapi suatu penyelidikan
yang dilakukan oleh, divisi etika profesional atau dewan pengadilan intitut atau
badan investigatif atau disipliner dari perkumpulan akuntan publik negara bagian
atau Dewan Akutansi.
Anggota dari setiap badan yang diidentifikasi dari butir (4) diatas dan
anggota yang terlibat dengan review praktik profesional yang diidentifikasi dalam
butir (3) diatas tidak boleh menggunakan keunggulan posisi mereka atau
mengungkapkan setiap informasi rahasia klien milik anggota manapun yang datang
pada mereka dalam menjalankan aktivitas tersebut. Larangan ini tidak akan
membatasi pertukaran informasi para anggota yang berhubungan dengan hasil
investigatif atau disipliner yang dijelaskan dalam butir (4) diatas, atau review
praktik profesional yang dijelaskan dalam butir (3) diatas.

Kebutuhan atau kerahasiaan Selama melakukan audit dan sebagian besar


jenis penugasan lainnya, para praktisi memperoleh sejumlah informasi rahasia,
termasuk gaji pejabat perusahaan, rencana penetapan harga produk dan periklanan,
serta data biaya produk. Jikanauditor membocorkan informasi ini ke pihak luar atau
kepada karyawan klien yang tidak mempunyai akses ke informasi itu, hubungan
mereka denga manajemen bisa sangat tegang,dan dalam kasus ekstrem, dapat
membahayakan klien. Persyaratan kerahasiaan berlaku untuk semua jasa yang
diberikan oleh akuntan publik,termasuk jasa perpajakan dan manajemen.
Pengecualian atas kerahasiaan Seperti yang dinyatakan dalam paragraf
kedua peraturan 301, ada empat pengecualian atas persyaratan kerahasiaan.
Keempat pengecualian itu berkenaan dengan tanggung jawab yang lebih penting
ketimbang mempertahankan hubungan rahasia dengan klien.
1. Kewajiban yang berhubungan dengan standar teknis.
2. Panggilan pengadilan dan ketaatan pada hukum serta peraturan
3. Peer review
4. Respons terhadap divisi etika
Guna membantu akuntan publik mempertahankan objektivitas dalam
melaksanakan audit atau jasa atestasi lainnya, dilarang mendasarkan fee pada hasil
penugasan. Persyaratan peraturan 302 yang berhubungan dengan fee kontijen
adalah:

Peraturan 302-Fee Kontijen Seorang anggota dalam praktik publik tidak boleh
1) Melasanakan jasa profesional apapun dengan fee kontijen, tau menerima fee
semacam itu dari klien dimana anggota atau kantor akuntan anggota
melakukan:
a) Audit tidak review atas laporan keuangan, atau
b) Kompilasi laporan ketika anggota menduga, atau secara wajar dapat
menduga, bahwa pihak ketiga akan menggunakan laporan keuangan itu dan
laporan kompilasi anggota tidak mengungkapkan kurang nya
independensi,atau
c) Pemeriksaan atas informasi keuangan posrpektif.
Atau,
2) Menyiapkan SPT pajak yang asli yang telah di perbaiki atau klaim atas restitusi
pajak agar mendapatkan fee kontijen dari klien.
Larangan (1) diatas berlaku selama periode dimana anggota atau kantor
anggota ditugaskan untuk memberikan salah satu jasa diatas, dan periode yang
dicakup oleh setiap laporan keuangan historis yang terlibat pada salah satu jasa
diatas.
Kecuali seperti dinyatakan dalam kalimat berikut, fee kontijen adalah fee
yang diperoleh dari pelaksanaan suatu jasa sesuai dengan perjanjian dimana tidak
ada fee yang dibebankan kecuali temuan atau hasil spesifik dicapai, atau jumlah fee
bergantung pada temuan atau hasil dari jasa seperti itu. Hanya untuk tujuan
peraturan ini, fee tidak dianggap sebagai kontijen bila ditetapkan oleh pengadilan
atau otoritas publik lainnya, atau, dalam masalah pajak, bila ditentukan berdasarkan
hasil dari proses hukum atau temuan intansi pemerintahan.
Fee anggota dapat bervariasi tergantung pada, misalnya, kerumitan jasa
yang diberikan.

Tindakan yang dapat didiskreditkan


Peraturan 501-Tindakan yang Dapat Didiskreditkan Seorang anggota tidak
boleh melakukan tindakan yang dapat didiskreditkan bagi profesinya.
Untuk mendorong akuntan publik berprilaku secara profesional , peraturan
ini juga melarang iklan atau permohonan yang palsu, menyesatkan, atau menipu.
Peraturan 502-Ikaln dan Bentuk Permohonan Lainnya Seorang anggota dalam
praktik publik tidak boleh berusaha memperoleh klien dengan iklan atau bentuk
permohonan lainnya dengan cara yang palsu, menyesatkan, atau menipu.
Permohonan dengan menggunakan paksaan, melampaui batas atau mengganggu
sangat dilarang.
Komisi dan fee referral
Komisi adalah kompensasi yang dibayarkan untuk merekomendasikan atau
mereferensikan produk atau jasa pihak ketiga kepada klien atau merekomendasikan
atau mereferensikan produk atau jasa klien kepada pihak ketiga.
Peraturan 503-Komisi dan Fee Referal
A. Komisi yang dilarang. Seorang anggota dalam praktik publik tidak boleh
menerima komisi untuk merekomendasikan atau merefernsikan produk atau
jasa kepada klien, atau menerima komisi untuk merekomendasikan atau
mereferensikan suatu produk atau jasa yang dipasok oleh klien, atau menerima
komisi, apabila anggota atau kantor anggota tersebut juga melakukan untuk
klien tersebut.
a) Audit atau review atas laporan keuangan, atau
b) Kompilasi laporan keuangan bila anggota itu menduga, atau bila secara
wajar dapat diduga, bahwa pihak ketiga akan mengungkapkan laporan
keuangan itu dan laporan kompilasi anggota tidak mengungkapkan
kurangnya independensi, atau
c) Pemeriksaan atas informasi keuangan porspektif

Larangan ini berlaku selama periode dimana anggota ditugaskan untuk


melaksanakan setiap jasa diatas dan periode yang tercakup oleh laporan keuangan
historis yang terlibat dalam jasa tersebut diatas.
B. Pengungkapan komisi yang diizinkan . anggota dalam praktik publik yang tidak
dilarang oleh peraturan ini untuk melaksanakan jasa atau menerima komisi dan
bayaran, atau berharap mendapat komisi, harus menungkapkan fakta tersebut
kepada orang atau entitas dimana anggota itu merekomendasikan atau
mereferensikan suatu produk atau jasa yang berkaitan dengan komisi ini.
C. Fee referal. Setiap anggota yang menerima fee referal untuk
merekomendasikan atau mereferensikan jasa akuntan publik kepada orang atau

Bentuk dan nama organisasi


Peraturan 505 mengizinkan para praktisi untuk membentuk organisasi
sesuai dengan salah satu dari enam bentuk ini, sepanjang hal itu diizinkan oleh
hukum negara bagian : perusahaan perorangan, persekutuan umum, korporasi
umum ( general corporation ), korporasi profesional ( professional
corporation/PC), perusahaan dengan kewajiban terbatas (limited liability
company/LLC), atau persekutuan dengan kewajiban terbatas (limited liability
partnership/LLP).
Peraturan 505-bentuk dan nama organisasi anggota dapat berpraktik dalam
bidang akutansi publik hanya dalam bentuk organisasi yang diizinkan oleh hukum
atau peraturan negara bagian yang karakteristik nya sesuai dengan resolusi dewan.
Seorang anggota tidak boleh berpraktik dalam bidang akuntansi publik
dengan nama kantor yang menyesatkan. Nama dari satu atau lebih pemilik lama
bisa disertakan dalam kantor organisasi penerus.
Sebuah kantor akuntan tidak boleh menunjuk dirinya sendiri sebagai
“Anggota dari AICPA” kecuali semua pemilik kantor akuntan publiknya adalah
anggota dari intitute itu.
PEMBERLAKUAN

Kelalaian untuk mengikuti peraturan prilaku dapat mengakibatkan


pemecatan dari AICPA. Hal ini tidak mencegah seorang akuntan publik untuk
melakukan praktik akuntansi publik, tetapi merupakan sanksi sosial yang berat.
Selain peraturan perilaku, anggaran rumah tangga AICPA juga memberikan skors
otomatis atau dikeluarkan dari AICPA atas tuduhan tindakan kejahatan yang bisa
dihukum penjara lebih dari satu tahun dan untuk berbagai kejahatan yang
berhubungan dengan pajak. Semua pemecatan dari AICPA karena melanggar
peraturan dipublikasikan dalam CPA News Letter, sebuah publikasi yang
dikirimkan kepada semua anggota AICPA, dan dimuat dalam The Wall Street
Journal.