Anda di halaman 1dari 22

RESUME BUKU

PSIKOLOGI AGAMA

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Psikologi Agama

Dosen Pengampu:

H. Dedih Surana, Drs. M.Ag

Disusun Oleh:

Ivaline Febriansari 10030116061

PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

2019
A. Pengertian Psikologi Agama
Menurut Ramayulis Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang
mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan
beragama, dengan demikian psikologi agama mencakup 2 bidang kajian yang sama
sekali berlainan , sehingga ia berbeda dari cabang psikologi lainnya.

Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat dalam Ramayulis bahwa psikologi agama
meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang
bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan
bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk
dalam kostruksi pribadi.

Psikologi agama tidak berhak membuktikan benar tidaknya suatu agama,


karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai tehnik untuk mendemonstrasikan hal-hal
yang seperti itu baik sekarang atau masa depan, Ilmu pengetahuan tidak mampu
membuktikan ketidak-adaan Tuhan, karena tidak ada tehnik empiris untuk
membuktikan adanya gejala yang tidak empiris, tetapi sesuatu yang tidak dapat
dibuktikan secara empiris bukanlah berarti tidak ada jiwa. Psikologi agama sebagai
ilmu pengetahuan empiria tidak menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi
dalam psikologi agama dapat diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku
manusia. Psikologi dapat menguraikan iman agama kelompok atau iman individu,
dapat mempelajari lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan , tingkah
laku keagamaan, atau pengalaman keagamaan , pengalaman keagamaan, hukum-
hukum umum tetang terjadinya keimanan, proses timbulnya kesadaran beragama dan
persoalan empiris lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi manusia dengan
pendirian dan perbuatan yang disebut agama, atau lebih tepatnya hidup keagamaan.
(Ahyadi. Hal 9 dan 10)

Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat, psikologi agama meneliti dan menalaah
kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh
keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya.
Disamping itu, psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan
jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan
tersebut. (Zakiah Daradjat,1970;11).

Menurut Thouless dalam Jalaluddin berpendapat bahwa psikologi agama


adalah cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap
perilaku kegamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang dipungut
dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan. (Robert H. Thouless;25).

Dalam kajian psikologi agama, persoalan agama tidak ditinjau dari makna yang
terkandung dalam pengertian yang bersifat definitif. Pengertian agama dalam kajian
dimaksud lebih bersifat umum, yaitu mengenai proses kejiwaan terhadap agama serta
pengaruhnya dalam kehidupan pada umumnya. Melalui pengertian umum seperti itu,
paling tidak akan dapat diamati bagaimana fungsi dan peranan keyakinan terhadap
sesuatu yang dianggap sebagai agama kepada sikap dan tingkah laku lahir dan batin
seseorang. Dengan kata lain, bagaimana pengaruh keberagamaan terhadap proses dan
kehidupan kejiwaan hingga terlihat dalam sikap dan tingkah laku lahir (sikap dan
tindakan serta cara bereaksi) serta sikap, dan tingkah laku batin (cara berpikir, merasa
atau sikap emosi).

Menurut Zakiah Darajat, kesadaran beragama (religious conciousnes) adalah


aspek mental dari aktivitas agama. Aspek ini merupakan bagaian/segi agama yang
hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi. Sedangkan yang
dimaksud dengan pengalaman agama (religious experience) adalah unsur perasaan
dalam kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang
dihasilkan dalam tindakan (amaliyah) nyata.

B. Esensi dan Tujuan Psikologi Agama


Hakikatnya dari psikologi agama adalah bahwa psikologi agama merupakan
cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam
hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam
kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari
tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi. Yang
bertujuan untuk mengembangkan pemahaman terhadap agama dengan
mengaplikasikan metode-metode penelitisn yang bertipe bukan agama dan bukan
teologis. (Jalaluddin: 2004, hal 15)

C. Ruang Lingkup dan Kegunaannya


Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup
pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari
masalah agama yang lainnya. Sebagai contoh, dalam tujuannya psikologi agama dan
ilmu perbandingan agama memiliki tujuan yang tak jauh berbeda, yakni
mengembangkan pemahaman terhadap agama dengan mengaplikasikan metode-
metode penelitian yang bertipe bukan agama dan bukan teologis. Bedanya adalah, bila
ilmu perbandingan agama cenderung perhatiannya pada agama-agama primitif dan
eksotis tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman dengan
memperbandingkan satu agama dengan agama lainnya. Sebaliknya psikologi agama,
seperti pernyataan Robert H. Toubless, memutuskan kajiannya pada agama yang hidup
dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada
pemahaman terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan
psikologi. (Robert H. Thouless;25)
Prof. Dr. Zakiah Daradjat ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian
psikologi agama meliputi kajian mengenai:

1. Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai


kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tenteram sehabis
sembahyang, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-
ayat suci, perasaan tenang, pasrah dan menyerah setelah berzikir dan ingat kepada
Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan.
2. Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap
Tuhannya, misalnya rasa tenteram dan kelegaan batin.
3. Mempelajari, meneiliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup
sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang.
4. Meneliti dan mempelajari kesadaraan dan perasaan orang terhadap kepercayaan
yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut
memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5. Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap
ayat-ayat suci dan kelegaan batinnya.
Tegasnya psikologi agama hanya mempelajari dan meneliti fungsi-fungsi jiwa
yang memantul dan memperlihatkan diri dalam perilaku dalam kaitannya dengan
kesadaran dan pengalaman agama manusia. Kedalamnya juga tidak termasuk unsur-
unsur keyakinan yang bersifat abstrak (gaib) seperti tentang Tuhan, Surga dan Neraka,
kebenaran sesuatu agama, kebenaran kitab suci dan lainnya, yang tak mungkin teruji
secara empiris. Dengan demikian psikologi agama menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat
adalah mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam
kelakuan dan tindak agama orang itu dalam hidupnya (Zakiah Daradjat:15). Persoalan
pokok dalam psikologi agama adalah kajian terhadap kesadaran agama dan tingkah
laku agama, kata Robert H. Thouless, atau kajian terhadap tingkah laku agama dan
kesadaran agama. (Robert H. Thouless).

Hasil kajian psikologi agama tersebut ternyata dapat dimanfaatkan dalam


berbagai lapangan kehidupan seperti dalam bidang pendidikan, psikoterapi dan
mungkin pula dalam lapangan lainnya dalam kehidupan. Bahkan sudah sejak lama
pemerintah kolonial Belanda memanfaatkan hasil kajian psikologi agama untuk
kepentingan politik. Pendekatan agama yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje
terhadap para pemuka agama dalam upaya mempertahankan politik penjajahan
Belanda di tanah air, barangkali dapat dijadikan salah satu contoh kegunaan psikologi
agama.

Di bidang industri juga psikologi agama dapat dimanfaatkan. Sekitar tahun


1950-an di perusahaan minyak Stanvac (Plaju dan Sungai Gerong) diselenggarakan
ceramah agama Islam untuk para buruhnya. Para penceramah adalah para pemuka
agama setempat. Kegiatan berkala ini diselenggarakan didasarkan atas asumsi bahwa
ajaran agama mengandung nilai-nilai moral yang dapat menyadarkan para buruh dari
perbuatan yang tak terpuji dan merugikan perusahaan. Sebaikanya dari hasil kegiatan
tersebut di evaluasi, dan ternyata pengaruh ini dapat mengurangi kebocoran seperti
pencurian, manipulasi maupun penjualan barang-barang perusahaan yang sebelumnya
sukar dilacak. (Jalaludin:2004. Hal 17)
Sebaliknya sekitar tahun 1979, perusahaan tekstil di majalaya pernah melarang
buruhnya menunaikan sholat jumat. Menurut pimpinan perusahaan waktu istirahat siag
dan sholat jumat mengurangi jumlah jam kerja dan akan mengurangi produksi. Tetapi
setelah larangan di laksanaka, dan buruh dipaksakan tetap bekerja, ternyata produksi
menurun secara drastis. Disini terlihat hubungan antara tingkat produksi dan etos kerja
yang ada kaitanya dengan kesadaran agama. (Jalaludin:2004. Hal 17)

Dalam ruang lingkup yang lebih luas , jepang ternyata menggunakan


pendekatan psikologi agama dalam membangun negaranya. Bermula dari mitos bahwa
kaisar jepang adalah titisan dewa matahari (amiterasu omikami), mereka dapat
menumbuhkan jiwa bushido, yaitu ketaatan terhadap pemimpin. Mitos ini telah dapat
membangkitkan perasan agama para prajurit dalam perang dunia ke II untuk melakukan
harakiri (bunuh diri) dan ikut dalam pasukan kamikaze (pasukan berani mati). Dan
setelah usai perang dunia ke II. Jiwa bushido tersebut bergeser menjadi etos kerja dan
disiplin serta tanggung jawab moral. (Jalaludin:2004. Hal 18)

Dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama, baik secara langsung


maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan
kesadaran agama. Pengobatan pasien di rumah-rumah sakit, usaha bimbingan dan
penyuluhan narapidana di Lembaga Permasyarakatan banyak dilakukan dengan
menggunakan psikologi agama ini. Demikian pula dalam lapangan pendidikan
psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan
peserta didik. (Jalaludin:2004. Hal 18)

Sumber:

Ahyadi, Aziz. Psikologi Agama. Bandung: Mertiana.

Jalaludin. (2004). Psikologi Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Ramayulis. (2004). Psikologi Agama , Kalam Mulia.


RESUME BUKU PSIKOLOGI AGAMA

Karangan Prof. Dr. H. Jalaluddin

Penerbit PT RajaGrafindo Persada Jakarta Edisi Revisi 2004 dengan 321 Halaman

BAB I

PENDAHULUAN

A. Deskripsi Umum Buku

Prof. Dr. H. Jalaluddin pada kali ini menulis tentang psikologi agama yang di
dalamnya membahas tentang bagaimana psikologi agama sebagai satu ilmu yang baru yang
layak untuk dipelajari oleh semua khalayak. Dan ilmu ini tidak kalah pentingnya dengan
ilmu – ilmu lainnya seperti ilmu alam, sosial, bahasa, bahkan ilmu filsafat. Di sini Prof. Dr.
H. Jalaluddin menulis dengan sistematika pembahasan sebanyak 14 bab, mulai dari bab
pendahuluan, psikologi agama sebagai disiplin ilmu, perkembangan psikologi agama,
perkembangan jiwa keagamaan pada anak remaja, perkembangan jiwa keagamaan jiwa
keagamaan pada orang dewasa dan usia lanjut, kriteria orang yang matang beragama,
agama dan kesehatan mental, kepribadian dan sikap keagamaan, pengaruh kebudayaan
terhadap jiwa keagamaan, problema dan jiwa keagamaan, pengaruh pendidikan terhadap
jiwa keagamaan, gangguan dalam perkembangan jiwa keagamaan, agama dan pengaruh
dalam kehidupan dan tingkah laku keagamaan yang menyimpang. Keempat belas bab
tersebut dirinci dengan sub bab di dalamnya hingga sangat jelas dan dapat memberi kita
wawasan akan psikologi agama.

Pada buku ini Prof. Dr. H. Jalaluddin mempunyai referensi yang cukup banyak
selama menulis buku ini sebanyak delapan revisi sejak tahun 1996 hingga 2004 dengan
sebanyak 96 buku referensi sehingga cukup untuk mengisi dan menyelesaikan
permasalahan yang ada dalam ilmu psikologi agama. Bila dibandingkan dengan buku yang
lain dengan pembahasan tentang ilmu psikologi agama buku ini lebih mempunyai
pembahasan yang lebih terperinci dan apabila dilihat dari ukuran bukunya tidak terlalu
besar dan tebal.

Adapun kekurangan dari buku ini terletak dari ukuran yang relative kecil, sehingga
sulit untuk meyakinkan pembaca akan pentingnya bacaan tentang psikologi agama.
Alangkah lebih baiknya jika buku ini dicetak dengan ukuran yang agak lebih besar dan
menggunakan kertas yang lebih tebal agar tidak mudah robek dan rusak sehingga dapat
membawa keutamaan dari ilmu psikologi agama, dan merupakan satu materi yang penting
dalam bidang keakademisan.
BAB II

PEMBAHASAN BUKU

A. Bab I Pendahuluan

Seperti dalam pada buku lainnya pada bab pertama ini yaitu bab pedahuluan, yang
mana penulis menulis perihal bagaimana hubungan antara manusia dengan tuhannya
sebagai hal yang adi kodrati sebagai hal yang berkebudayaan dan yang berkeberadaban dan
dengan pendekatan ilmu lain yaitu ilmu psikologi, ilmu sosiologi, ilmu antropologi, ilmu
pendidikan dan ilmu kebudayaan dapat mempelajari tentang agama. Bahwa hubungan
tersebut adalah berbentuk satu keyakinan di dalam diri manusia dengan alasan bahwa
agama mempunyai permasalahan mengenai tidak mungkin atau malah terlarangnya untuk
dikaji secara empiris sehingga apabila dapat dikaji secara empiris maka dapat terjangkau
rasa yakin manusia akan eksistensi tuhan di alam ini di mana manusia mempunyai
keterbatasan untuk mengkajinya.

Dalam usianya yang menjelang seabad, peran psikologi agama tidaklah kecil dalam
memberikan kontribusi pemikirannya bagi kehidupan manusia. Padahal sebelumnya
banyak kalangan yang menggugat keabsahannya sebagai disiplin ilmu yang otonom.
Namun sejak para ahli psikologi menemukan sisi kehidupan batin manusia yang paling
mendalam, yaitu agama dan tingkah laku agama.

Dalam konteks saat ini psikologi agama semakin praktis dan banyak dibutuhkan
dalam berbagai lapangan kehidupan seperti dalam bidang pendidikan, psikoterapi industri,
usaha bimbingan, penyuluhan narapidana di lembaga pemasyarakatan, pembinaan moral
dan mental keagamaan seseorang, dan pengobatan pasien-pasien di rumah sakit. Di
Amerika Serikat misalnya psikologi pastoral digunakan untuk membantu menyembuhkan
penyakit dan perawatan pasien di rumah sakit.

B. Bab II Psikologi Agama Sebagai Disiplin Ilmu

Dalam bab dua ini penulis menulis dengan beberapa sup bab untuk menjelaskan
kajian psikologi agama sebagai satu disiplin ilmu. Di antaranya adalah: psikologi agama
dan cabang psikologi, Pengertian psikologi agama, ruang lingkup dan kegunaannya,
psikologi agama dan pendidikan islam.

Pada bab kedua penulis menulis tentang pengertian tentang psikologi agama,
pengertian tersebut dibagi menurut kata pembentuknya yaitu psikologi dan agama.
Pengertian psikologi agama bahwa psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi
dan agama dimana kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda bahwa psikologi
secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal,
dewasa, beradab dan mempunyai rasa kemanusiaan ( Jalaluddin , et al, 1979:1977 ). Dan
selanjutnya adalah agama menurut Harun Nasution bila berdasarkan asal kata Al-Din,
religi, dan agama, al-din (semit) berarti undang-undang atau hukum, (arab) menguasai,
menundukkan , patuh, utang, balasan , kebiasaan. Sedangkan religi berarti mengumpulkan
dan membaca kemudian religare berarti mengikat. Sedangkan agama berarti a=tidak dan
gam=pergi maka secara definitif , menurut harun nasution agama adalah:

1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang


harus dipatuhi.
2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.
3. Mengikat diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada
suatu sumber yang berada diluar diri manusia dan yang mempengaruhi
perbuatan manusia.
4. Kepercayaan terhadap pada suatu yang ghaib yang menimbulkan cara hidup
tertentu.
5. Suatu system tigkah laku (code of conduct) yang berasal dari sesuatu kekuatan
ghaib.
6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu
kekuatan ghaib .
7. Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan
perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dialam sekitar
manusia.
8. Ajaran –ajaran yang diwahyukan tuhan kepada manusia melalui seorang rasul.
yang akhirnya diperoleh pengertian secara definitif yaitu: meneliti dan menelaah
kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan
agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Di samping
itu psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada
seseorang, serta faktor faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.(Zakiyah Daradjat,
1970:11). Psikologi agama dengan demikian ini merupakan cabang psikologi yang
meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh
keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan
usia masing-masing.

Ruang lingkup kajian psikologi dalam buku ini diutarakan terdapat lima buah Item
lapangan kajian yaitu:

a. Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai


kehidupan beragama orang biasa umum, seperti rasa lega dan tenteram sehabis
sembahyang, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-
ayat suci, perasaan tenang, pasrah, dan menyerah setelah berdzikir dan ingat kepada
Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan.
b. Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap
Tuhannya, misalnya rasa tenteram dan kelegaan batin.
c. Mempelajari, meneliti, dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup
setelah mati (akhirat ) pada tiap-tiap orang.
d. Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan terhadap kepercayaan yang
berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi
pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
e. Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap
ayat-ayat suci kelegaanya batinnya.

Selanjutanya dalam subbab di bab kedua ini pada buku ini penulis menulis
psikologi agama dan pendidikan islam di mana setelah ilmu psikologi agama diterima di
dunia keilmuan maka selanjutnya adalah bagaimana tanggung jawab ilmu psikologi agama
ini terhadap pembinaan dan bimbingan juga pengembangan serta pengarahan potensi yang
dimiliki salah satu unsur pendidikan yaitu peserta didik agar mereka mempunyai
kemampuan dalam psikologi agama dalam menyelesaikan segala permasalahan agama.

C. Bab III Perkembangan psikologi agama

Dalam bab tiga ini hanya ada tiga sub bab, di antaranya: Sejarah perkembangan
psikologi agama, Beberapa metode dalam psikologi agama, dan psikologi agama dalam
islam. Pada subbab pertama yaitu sejarah perkembangannya psikologi islam mengalami
masa perkembangan sejak perintisan kajian permasalahan agama hingga menjadi satu ilmu
tersendiri yaitu psikologi agama dan dari situ terjadi sejarah perkembangan psikologi
agama. Pada masa lalu belum diketahui secara pasti kapan mulai ditulis tentang psikologi
agama akan tetapi banyak kisah dari tokoh keagamaan masa lalu yang mencerminkan
tentang perilaku beragama seperti Sidharta Gautama, nabi Ibrahim, para kaisar-kaisar
Jepang yang yakin sebagai keturunan dari dewa matahari, namun kasus-kasus tersebut
belum dipelajari secara ilmiah. Berdasarkan sumber barat, para ahli psikologi agama
menilai bahwa kajian psikologi agama mulai populer sekitar akhir abad ke 19. Sekitar masa
itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian
semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berpikir, dan
mengemukakan perasaan keagamaan (Robert H Thouless, 1992:2). Menurut Thouless,
sejak terbitnya buku The variety of religious experience tahun 1903, sebagai kumpulan
dari materi kuliah William James di empat universitas di Skotlandia, maka langkah awal
dari kajian psikologi agama mulai diakui para ahli psikologi dan dalam jangka waktu tiga
puluh tahun kemudian, banyak buku-buku lain diterbitkan sejalan dengan konsep-konsep
yang serupa.

Metode dalam psikologi agama dibahas dalam buku ini dan tidak hanya sebuah
metode yang digunakan tetapi dua buah metode yaitu : Dokumen pribadi ( teknik
idiography, teknik nomotatik, teknik analisis nilai, teknik penilaian terhadap sikap),
Kuesioner dan Wawancara. Penggunaan metode-metode dalam penelitian psikologi agama
sebenarnya dapat dilakukan dengan beragam, tergantung kepada kepentingan dan jenis
data yang dikumpulkan. Adakalanya seseorang lebih memilih dokumen pribadi untuk
meneliti pengalaman Agama. Demikian pula ada yang memilih dokumen pribadi, baik
berupa riwayat hidup, buku harian, catatan, pernyataan, juga menggunakan angket, dan
wawancara sebagai pelengkap. Dengan banyaknya metode yang mungkin digunakan,
terlihat bahwa metode yang dipakai dalam metode penelitian psikologi agama tidak
berbeda dengan metode yang dipakai dalam penelitian ilmiah dalam cabang disiplin ilmu
pengetahuan lain.

Psikologi agama dalam islam tidak luput dari pembahasan di dalam buku ini,
psikologi dalam islam tidak begitu terdahulu riwayatnya oleh karena secara terminologi
psikologi agama tidak dijumpai dalam kepustakaan klasik karena latar belakang sejarah
perkembangannya bersumber dari literatur barat. Psikologi agama dalam islam dimulai
dari teresbutkan pada Al Quran tentang manusia ( Al Basyar ) QS 2:30, 23: 12-14 96:4-
5,29:8, kemudian dari situlah muncul jiwa ( Al Nafs ) yang terbagi menjadi tiga yaitu: 1.
Nafs Al Mutmainnah yang memberi ketenangan batin 2. Nafs Al Ammarah yang
mendorong tindakan negatif 3. Nafs Al Lawwamah yaitu yang menyadarkan dari manusia
hingga timbul penyesalan.

D. Bab IV Perkembangan jiwa pada anak dan remaja

Subbab yang paling banyak di bahas adalah pada bab ini, diantara subbabnya
adalah: teori tentang sumber kejiwaan agama, timbulnya jiwa keagamaan pada anak,
perkembangan agama pada anak, sifat-sifat agama pada anak, perkembangan jiwa
keagamaan pada remaja,serta konflik dan keraguan. Pada subbab pertama di bab ini di
mana membahas tentang teori sumber kejiwaan agama yaitu teori Monistik adalah yang
menjadi sumber kejiwaan agama adalah satu sumber kejiwaan saja dengan tokoh-tokohnya
antara lain : Thomas ban Aquino, Fredick Hegel, Frederick Schleimacher, Rudolf Otto,
Sigmund Freud, William Mac Doughall dan teori Fakulti adalah kebalikan dari teori
monistik yang adalah yang menjadi sumber kejiwaan Agama terdiri atas beberapa unsur
antara lain fungsi cipta(reason), rasa(emotion) dan karsa (will) seperti timbulnya satu
budaya dari manusia di mana tokoh-tokohnya yang berada pada teori ini yaitu : G.M.
Straton, Zakiyah Darajat W.H. Thomas.

Kemudian pada buku ini membahas timbulnya jiwa keagamaan pada anak sebagai
subbab yang kedua. Sebelum anak berada pada keagamaan anak memperoleh bimbingan
pada prinsipnya yaitu : prinsip biologis, prinsip tanpa daya, dan prinsip eksplorasi. Maka
setelah itu bila anak telah mempunyai kemampuan pada dirinya selanjutanya adalah naluri
keagamaan yang akan menuntun ke arah keadaan yang beragama, sehingga menjadi
beragamalah anak tersebut.

Untuk perkembangan agama pada anak dibahas kemudian untuk melanjutkan dari
subbab sebelumnya. Di mana perkembangan ini melalui beberapa fase yaitu : The fairy
taile stage (tingkatan dongeng), The realistis stage (tingkat kenyataan ), The individual
stage (tingkat individu). Kemudian berlanjut pada sifat-sifat agama pada anak yaitu
terdapat enam sifat di antaranya adalah : unreflektif (tidak mendalam), egosentris,
anthromorphis, verbal dan ritualis, imitatif, rasa heran.

Setelah membahas perkembangan jiwa keagamaan pada anak maka kemudian


dilanjutkan membahas perkembangan jiwa pada remaja di mana perkembangan itu ditandai
dengan perkembangan jasmani dan rohani dan perkembangan itu menurut W. Starbuck
antara lain : pertumbuhan pikiran dan mental, perkembangan perasaan, petrimbangan
Social, perkembangan moral, sikap dan minat, ibadah. Dan yang terakhir dari subbab ini
yaitu konflik dan keraguan yang dialami pada masa anak dan remaja. Menurut W Starbuck
penyebab timbulnya konflik dan keraguan tersebut yaitu: kepribadian yang menyangkut
salah tafsir dan kepribadian, kesalahan organisasi dan pemuka agama, pernyataan
kebutuhan manusia, kebiasaan, pendidikan, percampuran antara agama dan mistik.

E. Bab V perkembangan kejiwaan keagamaan pada usia pada orang dewasa dan usia lanjut.

Dalam bab ini terdapat empat subbab dimana pada bab ini ada kaitannya dengan
kebutuhan manusia dan periode perkembangannya , maka dalam kaitannya tersebut dengan
perkembangan jiwa keagamaan akan dilihat bagaimana pengaruh timbal balik antara
keduanya. Manusia mempunyai kebutuhan yang dapat mempengaruhi mereka dalam
berperilaku beragama, kebutuhan itu diantaranya: kebutuhan individu ( homeostasis,
regulasi temperatur, tidur, lapar, seks ), kebutuhan sosial ( pujian dan binaan, kekuasaan
dan mengalah, pergaulan, imitasi dan simpati, perhatian ), kebutuhan manusia akan agama
( Prof. Dr. Hasan langgulung mengatakan : “ salah satu ciri fitrah ini adalah, bahwa manusia
menerima Allah SWT sebagai Tuhan, dengan kata lain manusia itu adalah dari hasil asal
mempunyai kecenderungan beragama, sebab agama itu sebagaian dari fitrahnya ).
Subbab yang selanjutnya pada sikap keberagaman pada orang dewasa bahwa sikap
keberagaman tersebut mempunyai ciri-ciri yaitu : Menerima kebenaran agama secara
berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang bukan sekedar ikut – ikutan, cenderung
bersifat realis sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan
tingkah laku, bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk
mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan, tingkat ketaatan beragama
didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagaman
merupakan realisasi dari sikap hidup, bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas,
bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain
didasarkan atas pertimbangan pikiran juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani, sikap
keberagaman cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing , sehingga
terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima , memahami serta melaksanakan
ajaran agama yang diyakininya, terlihat adanya hubungan sikap keberagaman dengan
kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan
sudah berkembang.

lalu selanjutnya membahas mengenai manusia usia lanjut dan agama di mana
diceriterakan dalam buku ini semakin orang bertambah umur maka sikap dan perilaku
beragamanya semakin lebih teratur dan lebih sempurna dan digambarkan seperti bangun
trapesium semenjak bayi hingga berusia lanjut keadaan beragamanya semakin menanjak.
Kemudian setelah itu timbul perlakuan terhadap usia lanjut menurut islam dalam Al Quran
17:23 , 17: 24 , 36:68 bahwa kita diperintahkan untuk selalu berbaik kepada orang tua dan
tidak diperbolehkan untuk bersikap kasar terhadap mereka sedikitpun.

F. Bab VI Kriteria Orang yang Matang dalam Beragama

Pada bab ini disebutkan orang yang matang dalam beragama yaitu orang yang
mempunyai sehat jiwa dan yang tidak berada sakit jiwa sedikitpun. Tipe orang yang sakit
jiwa yaitu : pesimis, introvet, menyenangi paham yang orthodok, mengalami proses
keagamaan ayan secara nun gradasi. Tipe orang yang sehat jiwa yaitu : optimis dan
gembira, ekstrovet dan tak mendalam, menyenangi ajaran tauhid yang liberal. Dalam buku
ini selain membahas tentang kriteria orang yang matang dalam beragama juga membahas
tentang mistis ( ilmu gaib, magis, kebatinan, para psikologi, schizoprenia, tasawuf – tarekat
) dan aliran kepercayaan.

G. Bab VII Agama dan Kesehatan Mental

Dalam bab ini menjelaskan mengenai hubungan antara agama dan kesehatan
mental bahwa kemungkinan ada pengaruh di antara keduanya. Apabila seseorang
mempunyai perilaku keagamaan yang benar maka tentulah kesehatan mentalnya baik pula
begitu pula sebaliknya.

H. Bab VIII Kepribadian dan Sikap keagamaan.

Dalam membahas bab ini perlu diketahui istilah dalam kepribadian yaitu mental,
personalitas, individualitas, identity. Serta tidak luput pula aspek dari tipe-tipe kepribadian
yaitu : aspek biologis, aspek sosiologis, aspek psikologis. Terdapat pula schema pribadi
berdasarkan 4 fungsi pokok yang mempengaruhi kehidupan mental seseorang seperti:
Pikiran - Pikiran Intuisi - Pikiran Pengindraan – Intuisi – Pengindraan - Perasaan
Pengindraan - Perasaan intuisi - Perasaan.

Maka selanjutnya penulis mencoba menghubungkan antara kepribadian dan sikap


keagamaan yaitu adanya struktur kepribadian yang termasuk didalamnya keadaan
keagamaan. Dan selanjutnya tentang dinamika kepribadian sebelum adanya agama
kepribadian seseorang tergantung pada peradaban yang ada maka setelah adanya agama
maka kepribadian ,manusia menjadi terpengaruh pada agama yang mendominasi terhadap
peradaban manusia.

I. Bab IX Pengaruh Kebudayaan Terhadap Jiwa Keagamaan

Kebudayaan yang merupakan cetak biru bagi kehidupan atau pedoman bagi
kehidupan masyarakat, adalah perangkat-perangkat acuan yang berlaku umum dan
menyeluruh dalam menghadapi lingkungan untuk memenuhi kebutuhan warga masyarakat
pendukung kebudayaan tersebut. Maka pengaruh kebudayaan terhadap jiwa keagamaan
adalah timbul tradisi keagamaan di dalam kebudayaan itu sendiri, dan apabila tradisi
keagamaan tersebut secara lama kelamaan meluas maka akan menjadi ke skala global dan
dapat menghindari kegersangan spiritual. Akan tetapi bukan sebagai agama budaya atau
mengagamakan budaya akan tetapi malahan harus menghasilkan budaya agama yaitu
agama sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan manusia dan itulah
yang terbaik untuk manusia itu sendiri.

J. Bab X Problema dan Jiwa Keagamaan

Dalam bab ini penulis menulis problema dalam keagamaan adalah segala gejala
dan perilaku penyimpangan yang mencerminkan pola tingkah laku. Banyak penyimpangan
– penyimpangan yang terjadi dalam kehidupan beragama yang sebagai problem kehidupan
beragama tersebut. Dan keadaan tersebut di atas dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu
faktor internal (persepsi sosial, posisi sosial, proses belajar sosial ) dan faktor berikutnya
yaitu faktor eksternal ( penguatan atau reinforcement, komunikasi persuasif, harapan yang
didinginkan ). Terdapat empat fase dalam perubahan sikap keagamaan pada arah yang
menyimpang yaitu :

a. Munculnya persoalan yang dihadapi


b. Munculnya pengertian yang harus dipilih
c. Mengambil keputusan berdasarkan salah satu yang harus dipilih
d. terjadi keseimbangan
K. Bab XI Pengaruh Pendidikan terhadap jiwa Keagamaan

Dalam membentuk keadaan jiwa yang beragama yang sebelumnya didasari oleh
keadaan fitrah manusia sejak dilahirkan yang mempunyai potensi akan ketuhanan maka
masih perlu adanya pendidikan baik pendidikan keluarga, lembaga pendidikan resmi, dan
pendidikan masyarakat. Ketiga wadah pendidikan tersebut dapat mempengaruhi kejiwaan
dalam keagamaan maka akan semakin kuat kondisi jiwa keagamaan tersebut. Dengan
adanya pendidikan selain menguatkan jiwa keagamaan maka dapat pula nantinya untuk
menyelesaikan permasalahan yang ada pada lingkup sosial serta pada lingkup pendidikan
maka akan adanya kompetensi yang dimiliki oleh seseorang dan mempunyai kriteria
tertentu dalam keagamaan. Pastilah akan berbeda jiwa keagamaan seseorang yang
dipengaruhi dengan pendidikan dan seseorang yang tidak dipengaruhi oleh pendidikan.

L. Bab XII Gangguan dalam Perkembangan Kejiwaan Keagamaan


Sikap dan sumber jiwa keagamaan diperoleh dari faktor ekstern dan intern di mana
selama menalami masa perkembangan yang dipengaruhi faktor intern
(hereditas,usia,kepribadian, kondisi kejiwaan ) dan berikutnya faktor ekstern ( lingkungan
keluarga, lingkungan masyarakat ) serta faktor fanatisme dan ketaatan. Apabila faktor –
faktor perkembangan jiwa seseorang memperoleh gangguan maka perkembangan jiwa
akan tidak diperoleh dengan baik pasti ada kekurangan dan permasalahan. Akan tetapi hal
tersebut akan menjadi satu pengalaman kejiwaan yang akan diantisipasi di masa yang akan
datang. Kemudian langkah yang harus diambil supaya tidak mengalami gangguan
kejiwaan keagamaan adalah menghindarinya dan mengantisipainya supaya tidak
berdampak pada seseorang tersebut apabila tidak bisa dihindari dan di antisipasi maka
seharusnyalah dihadapi secara akal dan budi pekerti yang ada.

M. Bab XIII Agama dan Pengaruhnya dalam Kehidupan

Pada bab ini penulis menulis agama mempengaruhi kehadapan pribadi individu,
kehidupan masyarakat, kehidupan pembangunan, kehidupan spiritualisme, kehidupan doa.
Sebelumnya kehidupan manusia hanya berorientasi kepada hal yang mistik terhadap
kepercayaan mereka dalam kehidupan sehari-harinya maka dengan hadirnya agama maka
kehidupan mereka akan dipengaruhi oleh agama yang tidak lagi berorientasi kepercayaan
mistis dan menjadi sesuatu yang lebih baik kepercayaannya di mana kepercayaan tersebut
sebagai agama adalah sangat universal dan dalam mencerminkan keyakinan mereka maka
mereka merubah kehidupan mereka sesuai dengan nafas keagamaan yang mungkin
sangatlah dominan dalam kehidupan mereka.

N. Bab XIV Tingkah Laku Keagamaan yang Menyimpang

Dalam bab ini disebutkan beberapa hal mengenai perilaku keagamaan yang
menyimpang yaitu :

1. Aliran klenik

Klenik dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan


kepercayaan akan hal-hal yang mengandung rahasia dan tidak masuk akal
(KBRI,1989:409). Dalam kehidupan masyarakat, umumnya klenik ini erat kaitannya
dengan praktisi perdukunan, hingga sering dikatakan dukun klenik. Dalam kegiatannya
dukun ini melakukan pengobatan dengan bantuan guna-guna atau kekuatan gaib
lainnya.

2. Konversi Agama

Konversi agama (religious convertion) secara umum dapat diartikan dengan


berubah agama ataupun masuk agama yang lain. Untuk memberikan gambaran yang
lebih mengena tentang maksud kata-kata tersebut perlu dijelaskan melalui urain yang
dilatarbelakangi oleh pengertian secara etimologis. Dengan pengertian berdasarkan
asal kata tergambar ungkapan kata secara jelas.

a. Pengertian konversi agama


1) Pengertian agama menurut etimologi yaitu konversi ( berasal dari kata
“conversio “ yang berarti tobat, pindah, dan berubah serta bisa juga penyesuaian
). Selanjutnya kata tersebut dipakai dalam kata Inggris Conversion yang
mengandung pengertian : Berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama
atau keyakinan ke agama lain atau keyakinan lain ( change from one state, or
from one religion, to another ). Berdasarkan arti kata tersebut dapat
disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian : Bertobat ,
berubah agama , berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam
agama (menjadi paderi ).
2) Pengertian konversi agama menurut terminology, Henrich mengatakan bahwa
konversi agama adalah suatu tindakan dimana seorang atau kelompok orang
masukatau berpindah ke suatu system kepercayaan atau perilaku yang
berlawanan denagn kepercayaan sebelumnya.

b. Faktor yang menyebabkan terjadinya konversi agama

1) Para ahli agama menyatakan , bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya
konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh supernatural berperan secara
dominan dalam proses terjadinya konversiagaam paad diri seseorang atau
kelompok.
2) Para ahli sosiologi berpendapat , bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi
agama adalah pengaruh sosial.
3) Para ahli psikologi berpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya
proses konversi agama adalah faktor psikologis yang timbul oleh faktor intern
atau ekstern. Faktor-faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau
kelompok hingga menimbulkan semacam tekanan batin, maka akan terdorong
untuk untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin. Dalam kondisi jiwa
yang seperti demikian itu secara psikologis kehidupan batin seseorang
tersebut menjadi kosong dan tak berdaya sehingga mencari perlindungan
kekuatan yang lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang terang dan
tenteram. Dalam uraian William James yang berhasil meneliti pengalaman
berbagai tokoh yang mengalami konversi agama menyimpulkan sebagai
berikut:
a) Konversi agama terjadi karena adanya suatu tenaga jiwa yang mengasai
pusat kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul persepsi baru ,
dalam bentuk suatu ide yang bersemi secara mantap .
b) Konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara
mendadak ( tanpa suatu proses ) .
Berdasarkan gejala tersebut maka dengan meminjam istilah yang digunakan
starbuck ia membagi konversi agama menjadi dua tipe yaitu:

1) Tipe Volitional ( perubahan bertahap)


Konversi agama ini terjadi secara berproses sedikit demi sedikit , sehingga
menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohaniah yang baru. Konversi
yang demikian itu sebagaian besar terajdi sebagai suatu proses perjuangan
batin yang ingin menjauhkan diri dari dosa karean ingin mendatangkan
suatu kebenaran.
2) Tipe self-surrender (perubahan drastis )
Konversi agama tipe ini adalah konversi yang terjadi secara mendadak .
seseorang yang mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba berubah
pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya. Perubahan ini pun
dapat terjadi dari kondisi yang tidak taat menjadi lebih taat, dari tidak
percaya kepada suatu agama kemudian menjadi percaya , dan sebagainya .
pada konversi tipe kedua ini William James mengakui adanya pengaruh
petunjuk dari yang maha kuasa terhadap seseorang , karena gejala konversi
ini terjadi dengan sendirinya pada diri seseorang sehingga menerima
kondisi yang baru dengan penyerahan jiwa sepenuhnya. Jadi ada semacam
petunjuk ( hidayah) dari tuhan.
3) Masalah – masalah yang menyangkut terjadinya konversi agama tersebut
berdasarkan tinjauan para psikolog adalah berupa pembebasan diri dari
tekanan batin.

c. Proses Konversi Agama


Konversi agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar.
Proses konversi agama ini dapat diumpamakan seperti proses pemugaran sebuah
gedung, bangunan lama dibongkar dan pada tempat yang sama didirikan bangunan
baru yang lain sama sekali dari bangunan sebelumnya.

Demikian pula seseorang atau kelompok yang mengalami proses konversi


agama ini. Segala bentuk kehidupan batinnya yang semula mempunyai pola
tersendiri berdasarkan pandangan yang dianutnya (agama) , maka setelah terjadi
konversi agama pada dirinya secara spontan pula yang lama ditinggalkan sama
sekali. Segala bentuk perasaan batin terhadap kepercayaan lama, seperti: harapan,
rasa bahagia , keselamatan, dan kemantapan berubah menjadi berlawanan arah.
Timbullah gejala-gejala baru berupa, perasaan tidak lengkap dan tidak sempurna.
Gejala ini menunjukkan adanya hal yang timbul berupa proses kejiwaan dalam
bentuk merenung, timbulnya tekanan batin, penyesalan diri, rasa berdosa, cemas
terhadap masa depan, dan perasaan susah yang ditimbulkan oleh kebimbangan.

3. Konflik Agama

Pada penyimpangan agama kali ini konflik agama kerap dikaitkan dengan SARA
dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia dewasa ini hal ini terkenal pada masa tahun
era 80-90an. Banyak gejolak keagamaan saat itu sehingga sangat miris bagi masyarakat
yang lain mendengar atau melihat pemberitaannya. Hal ini disebabkan antara lain:
pengetahuan yang dangkal, fanatisme, agama sebagai doktrin, simbol-simbol, tokoh
agama, sejarah berebut surga, dan lain sebagainya.
4. Terorisme dan Agama

Buku psikologi agama ini juga membahas tentang penyimpangan keagamaan


tentang terorisme yang sedang beraksi di seluruh dunia dan yang mendominasi perilaku ini
dalam umat islam. Kita tidak lupa akan tragedi terorisme umat islam pada peristiwa aksi
pembajakan pesawat yang menghantamkan diri pada gedung WTC di negara Amerika
Serikat pada 11 September 2001 di mana aksi tersebut sangat menggemparkan penduduk
dunia. Hal ini di latar belakangi oleh keadaan fundamentalisme, radikalisme, mitos-mitos
keagamaan.

5. Fatalisme

Perilaku penyimpangan yang terakhir ini tidaklah begitu mewabah bila


dibandingkan perilaku penyimpangan sebelumnya bahwa perilaku fatalisme ini disebabkan
oleh karena pemahaman yang keliru dan otorisasi pemimpin agama. Dan hal ini banyak
menimpa penganut agama di negara Indonesia yang masih dangkal dan awam akan hal
ketheologisan mereka hanya berserah kepada nasib (nrimo) dan hal itu adalah sangatlah
fatal sekali dalam kehidupan beragama dan mereka harus di bimbing ke jalan yang sesuai
dengan perilaku beragama yang benar.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari keseluruhan bab dan subbab yang sudah dibahas oleh penulis dapat
memberikan pengetahuan atau wawasan baru yang tidak kalah pentingnya dengan
ilmu-ilmu lainnya, dimana ilmu ini bisa membantu dalam menyelesaiakan
permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam kehidupan, karena ilmu ini mengkaji
masalah kejiwaan atau kehidupan batin manusia yang paling mendalam, yaitu perihal
agama sesorang.