Anda di halaman 1dari 25

PENGENDALIAN HAMA TERPADU MENGGUNAKAN PERANGKAP

HIJAU PADA TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.)

LAPORAN

OLEH:

KELOMPOK II

ASRIL PRAYOGA DAMANIK / 160301194


MHD FADIL DWI A HARAHAP / 160301203
ASITA BESTARI MANIK / 160301206
MUHAMAD IRFAN HAMID / 160301212

AGROTEKNOLOGI IV-B

LABORATORIUM PENGENDALIAN HAMA TERPADU


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
F A K U L T A S P E R T A N I A N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017
PENGENDALIAN HAMA TERPADU MENGGUNAKAN PERANGKAP
HIJAU PADA TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.)

LAPORAN

OLEH:

KELOMPOK II

ASRIL PRAYOGA DAMANIK / 160301194


MHD FADIL DWI A HARAHAP / 160301203
ASITA BESTARI MANIK / 160301206
MUHAMAD IRFAN HAMID / 160301212

AGROTEKNOLOGI IV-B

Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memenuhi Komponen Penilaian
di Laboratorium Pengendalian Hama Terpadu , Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Diketahui oleh
Dosen Penanggung jawab

(Ir. Lahmuddin Lubis, MP )


NIP. 195511211981031002

Diperiksa oleh Diperiksa oleh


Asisten Koordinator Asisten Korektor

( Faisal Azhari ) ( Santa Margaret Sipayung )


NIM. 130301021 NIM. 130301234

LABORATORIUM PENGENDALIAN HAMA TERPADU


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
F A K U L T A S P E R T A N I A N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Karena

atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada

waktunya.

Adapun judul laporan ini adalah “Pengendalian Hama Terpadu

Menggunakan Perangkap Hijau pada Tanaman

Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.)” yang merupakan salah satu syarat

untuk dapat memenuhi komponen penilaian

di Laboratorium Pengendalian Hama Terpadu, Program Studi Agroteknologi,

Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen

penanggung jawab praktikum juga selaku dosen penanggung jawab mata kuliah

Pengendalian Hama Terpadu Dr. Ir. Marheni, MP dan Ir. Lahmuddin Lubis, MP

serta kepada Abang dan Kakak Asisten yang telah membantu dalam penulisan

laporan ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan paper ini belum sempurna, oleh

karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membantu serta

menyempurnakan laporan ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Oktober 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………...…..i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………ii

PENDAHULUAH
Latar Belakang………………..…………………………………………..1
Tujuan Penulisan………………………………………………………….3
Kegunaan Penulisan………………………………………………………3

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman…………………………………………………………..4
Syarat Tumbuh…………………………………………………………....5
Iklim………………………………………………………………………5
Tanah……………………………………………………………………...6

KEANEKARAGAMAN SERANGGA PADA KOMODITI


KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.)
Hama Pada Tanaman Kacang Tanah ....................................................... 8
Efektivitas Perangkap Warna ................................................................. 10

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Percobaan ............................................................... 14
Bahan Dan Alat ...................................................................................... 14
Prosedur Percobaan ................................................................................ 14

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Lahan .................................................................................... 16
Pembentukan Plot ................................................................................. 16
Penanaman ............................................................................................ 16
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman................................................................................... 17
Penyiangan ................................................................................... 17
Pembubunan ................................................................................. 17
Parameter Pengamatan
Data Jumlah Serangga .................................................................. 17
Panen ..................................................................................................... 18

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil ........................................................................................................ 23
Pembahasan............................................................................................. 24

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

ii
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman kacang tanah termasuk dalam golongan tanaman leguminosa

yang mampu memfiksasi nitrogen dari udara melalui bintil akarnya. Kebutuhan

hara nitrogen sebagian dipasok melalui fiksasi N dari udara menyebabkan

penurunan kebutuhan hara N yang dipasok dari pupuk, atau bahkan tidak

merespon lagi apabila dilakukan pemupukan N (Kasno, 2005).

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) termasuk kedalam suku

(family)Papiolionaceae dan genus Arachis yang berasal dari benua Amerika

(Brazilia). Tanaman kacang tanah mempunyai banyak nama daerah seperti kacang

jebrol, kacang bandung, kacang koli, kacang tuban, dan kacang bangkala

(Poespadarsono, 2014).

Kacang tanah pada umumnya melakukan penyerbukan sendiri sewaktu

bunga masih kuncup (kleistogami). Bunga tanaman kacang tanah yang terbentuk

menjadi polong adalah bunga yang terbentuk pada sepuluh hari pertama dan

bunga yang muncul berikutnya akan gugur sebelum menjadi ginofor. Ginofor

tumbuh mengarah ke bawah dan masuk kedalam tanah sedalam 1-5 cm. Ginofor

yang terbentuk cabang bagian atas dan tidak masuk ke dalam tanah akan gagal

terbentuk polong. Polong yang terbentuk sangat bervariasi ada yang berisi hingga

4 biji tergantung pada varietas yang digunakan ( Pitojo, 2005 )

Tanaman kacang tanah mempunyai dua fase pada pertumbuhannya yaitu

fase pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan generatif. Fase vegetatif dihitung

sejak tanaman kacang tanah muncul dari dalam tanah atau sejak biji berkecambah

hingga tajuk mencapai maksimum. Kacang tanah termasuk tanaman hari pendek

dengan lama penyinaran ± 12 jam per hari. Fase generatif atau reprodukif
2

dinyatakan sejak waktu tanam berbunga hingga perkembangan polong,

perkembangan biji, dan pada saat matang (Kurniawan, 2013).

Hama dalam artian luas adalah semua bentuk gangguan baik pada

manusia, ternak dan tanaman. Pengertian hama dalam arti sempit yang berkaitan

dengan kegiatan budidaya tanaman adalah semua hewan yang merusak

tanaman, dimana aktivitas hidupnya ini dapat menimbulkan kerugian secara

ekonomis. Adanya suatu hewan dalam suatu pertanaman sebelum menimbulkan

kerugian secara ekonomis maka dalam pengertian ini belum termasuk hama.

Namun demikian potensi mereka sebagai hama nantinya perlu dimonitor dalam

suatu kegiatan yang disebut pemantauan (monitoring). Secara garis besar hewan

yang dapat menjadi hama dapat dari jenis serangga, tungau, tikus, burung, atau

mamalia besar. Mungkin di suatu daerah hewan tersebut menjadi hama,

namun di daerah lain belum tentu menjadi hama (Harahap, 2000).

Serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) merupakan salah

satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi pertanian. Untuk

pengendalian OPT, jalan pintas yang sering dilakukan adalah menggunakan

pestisida kimia. Padahal penggunaan pestisida yang tidak bijaksana banyak

menimbulkan dampak negatif, antara lain terhadap kesehatan manusia dan

kelestarian lingkungan hidup. Memperhatikan pengaruh negatif pestisida tersebut,

perlu dicari cara-cara pengendalian yang lebih aman dan akrab lingkungan. Hal

ini sesuai konsepsi pengendalian hama terpadu (PHT), bahwa pengendalian OPT

dilaksanakan dengan mempertahankan kelestarian lingkungan, aman bagi

produsen dan konsumen serta menguntungkan petani. Pengendalian Hama

Terpadu (PHT) merupakan gabungan beberapa metode pengendalian

baik secara biologi, fisik mekanis, teknis budidaya dan


penggunaan pestisida sebagai alternatif pengendalian terakhir

(Badan Penyuluhan Dan Pengembangan SDM Pertanian, 2015).

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui efektifitas

dan perbandingan konsep pengedalian hama terpadu menggunakan perangkap warna

hijau pada tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.).

Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan dari penulisan paper ini adalah sebagai salah

satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian di

Laboratorium Pengendalian Hama Terpadu, Program Studi Agroteknologi,

Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai sumber

informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.)

Tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman yang

berasal dari benua Amerika, khususnya dari daerah Brizilia (Amerika Selatan).

Awalnya kacang tanah dibawa dan disebarkan ke Benua Eropa, kemudian

menyebar ke Benua Asia sampai ke Indonesia (Karyono, 2007).

Klasifikasi tanaman kacang tanah menurut Rukmana (2010) yaitu

:Kingdom : Plantae, Divisi : Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae,

Kelas : Dicotyledone, Ordo : Leguminales, Family : Papilionnaceae,

Genus : Arachis, Spesies : Arachis hypogaea L.

Tanaman kacang tanah termasuk dalam golongan tanaman leguminosa

yang mampu memfiksasi nitrogen dari udara melalui bintil akarnya. Kebutuhan

hara nitrogen sebagian dipasok melalui fiksasi N dari udara menyebabkan

penurunan 12 kebutuhan hara N yang dipasok dari pupuk, atau bahkan tidak

merespon lagi apabila dilakukan pemupukan N (Kasno, 2005).

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) termasuk kedalam suku (family)

Papiolionaceae dan genus Arachis yang berasal dari benua Amerika (Brazilia).

Tanaman kacang tanah mempunyai banyak nama daerah seperti kacang una,

kacang jebrol, kacang bandung, kacang koli, kacang tuban, dan kacang bangkala

(Poespadarsono, 1988).

Kacang tanah pada umumnya melakukan penyerbukan sendiri sewaktu

bunga masih kuncup (kleistogami). Bunga tanaman kacang tanah yang terbentuk

menjadi polong adalah bunga yang terbentuk pada sepuluh hari pertama dan

bunga yang muncul berikutnya akan gugur sebelum menjadi ginofor. Ginofor

tumbuh mengarah ke bawah dan masuk kedalam tanah sedalam 1-5 cm. Ginofor
5

yang terbentuk cabang bagian atas dan tidak masuk ke dalam tanah akan gagal

terbentuk polong. Polong yang terbentuk sangat bervariasi ada yang berisi hingga

4 biji tergantung pada varietas yang digunakan (Pitojo, 2005).

Tanaman kacang tanah mempunyai dua fase pada pertumbuhannya yaitu

fase pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan generatif. Fase vegetatif dihitung

sejak tanaman kacang tanah muncul dari dalam tanah atau sejak biji berkecambah

hingga tajuk mencapai maksimum. Kacang tanah termasuk tanaman hari pendek

dengan lama penyinaran ± 12 jam per hari. Fase generatif atau reprodukif

dinyatakan sejak waktu tanam berbunga hingga perkembangan polong,

perkembangan biji, dan pada saat matang (Kurniawan, 2013).

Syarat Tumbuh

Iklim
Faktor iklim memiliki pengaruh besar terhadap pertanaman kacang tanah.

Faktor iklim terdiri atas suhu, cahaya, dan curah hujan. Secara umum, tanaman ini

tumbuh paling baik dalam kisaran suhu udara 25-35°C dan tidak tahan terhadap

embun dingin. Suhu tanah merupakan faktor penentu dalam perkecambahan biji

dan pertumbuhan awal tanaman. Suhu tanah yang ideal untuk perkembangan

ginofor adalah 30-34°C, sementara suhu optimal untuk perkecambahan benih

berkisar antara 20-30°C (Pitojo, 2005).

Suhu dan panjang hari (fotoperiode) mempunyai peranan yang sangat

penting bagi pertumbuhan kacang tanah. Tanaman kacang tanah yang mengalami

fotoperiode yang panjang (16 jam) lebih meningkatkan pertumbuhan vegetatif

daripada pertumbuhan reproduktif. Kacang tanah dapat tumbuh baik pada suhu

28-30°C. Suhu dibawah 10°C akan menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit


6

terhambat, bahkan tanaman menjadi kerdil yang disebabkan oleh pertumbuhan

bunga yang kurang sempurna ( Menegristek, 2011).

Kacang tanah termasuk tanaman yang memerlukan sinar matahari penuh.

Adanya keterbatasan cahaya matahari akibat adanya naungan atau terhalang oleh

tanaman dan atau awan lebih dari 30% akan menurunkan hasil kacang tanah,

karena cahaya mempengaruhi fotosintesis dan respirasi (Pitojo, 2005).

Keragaman dalam jumlah dan distribusi curah hujan sangat berpengaruh

pada pertumbuhan dan pencapaian hasil kacang tanah. Curah hujan yang sesuai

untuk tanaman kacang tanah antara 800-1.300 mm per tahun. Hujan yang terlalu

keras akan mengakibatkanrontok dan bunga tida terserbuki oleh lebah. Selain itu,

hujan yang terus-menerus akan mengakibatkan kelembaban disekitar pertanaman

kacang tanah ( Manegristek, 2011).

Tanah

Penyebaran tanaman kacang tanah di seluruh dunia meliputi wilayah

berlintang 40 derajat LU-40 derajat LS yang diyakini sebagai wilayah tropik,

subtropik, atau suhu hangat. Wilayah ini memiliki tanah yang ringan, netral atau

alkalin, dan curah hujannya atau pengairan menyediakan paling sedikit 450 mm

air per musim tumbuh. Secara spesifik, tanaman ini sangat cocok ditanam pada

jenis tanah lempung berpasir, liat berpasir, atau lempung liat

(Goldsworthy, et al., 1983).

Kemasaman (pH) tanah yang cocok untuk kacang tanah adalah 6.5 - 7.0.

Tanah yang baik sistem drainasenya akan menciptakan aerase yang lebih baik,

sehingga akar tanaman akan lebih mudah menyerap air, hara nitrogen, dan O2.

Drainase yang kurang baik akan berpengaruh buruk terhadap respirasi akar

tanaman, karena persediaan O2 dalam tanah rendah (Kasno, et al., 1993).


7

Jenis tanah yang sesuai untuk pertumbuhan kacang tanah adalah lempung

berpasir, liat berpasir, atau lempung liat berpasir. Keasaman (pH) tanah yang

optimal untuk pertumbuhan kacang tanah adalah 6,5-7,0. Apabila pH tanah lebih

dari 7,0, maka daun akan berwarna kuning akibat kekurangan suatu unsur hara

(N,S, Fe, Mn) dan sering meninmbulkan bercak hitam pada polong

(Adisarwanto, 2001).

Pada jenis tanah berstruktur berat seperti Vertisol, kacang tanah masih

dapat tumbuh dengan baik. Kendala yang masih sering dialami pada tanah jenis

ini adalah masih banyak polong yang tertinggal didalam tanah sehingga

menurunkan hasil. Kacang tanah memberikan hasil terbaik apabila ditanam pada

tanah remah dan berdrainase baik, terutama ditanah berpasir. Tanah berstruktur

ringan memudahkan penembusan ginofor kedalam tanah dan perkembangan

polong (Rubatzky, et al.,1998).

Pada tanah Alfisol kendala yang serig dihadapi adalah tingginya pH tanah.

Rendahnya kadar unsur Fe dan tingginya pH menjadi pembatas (penyebab

rendahnya) produktivitas kacang tanah pada tanah Alfisol. Keseimbangan unsur

Fe dengan unsur mikro lainnya dan rendahnya unsur Ca, juga menjadi penyebab

rendahnya produktivitas kacang tanah. Kahat unsur P pada tanah ini terjadi pada

tanah ber-pH tinggi dan kaya unsur Ca. Upaya yang dapat dilakukan untuk

meningkatkan produktivitas kacang tanah pada sebagian besar tanah Alfisol

adalah melalui pemupukan N dan P (Taufiq, 1999).


KEANEKARAGAMAN SERANGGA PADA KOMODITI
KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.)

Hama Pada Tanaman Kacang Tanah

Ulat buah Helicoverpa (Heliothis)

Telur diletakkan secara terpencar satu per satu pada daun, pucuk atau

bunga pada malam hari. Telur biasanya diletakkan pada tanaman berumur 2

minggu setelah tanam. Telur berwarna kuning muda. Setelah 2–5 hari, telur

menetas menjadi ulat. Ulat yang baru keluar kemudian makan kulit telur. Ulat

muda makan jaringan daun, sedangkan ulat instar yang lebih tua makan bunga,

polong muda dan biji. Warna ulat tua bervariasi, hijau kekuning-kuningan, hijau,

coklat atau agak hitam kecoklatan. Tubuh ulat sedikit berbulu. Panjang tubuh ulat

pada pertumbuhan penuh sekitar 3 cm dengan lebar kepala 3 mm. Kepompong

terbentuk di dalam tanah. Setelah 12 hari, ngengat akan keluar. Warna tubuh

ngengat kuning kecoklatan. Ciri khusus cara makan ulat Helicoverpa adalah

kepala dan sebagian tubuhnya masuk ke dalam polong. Selain makan polong, ulat

juga menyerang daun dan bunga. Serangga hama ini mempunyai banyak tanaman

inang: kacang hijau, kacang buncis, kacang tanah, gude, kentang, tomat, kapas,

jagung, kentang, kubis, bawang merah, apel, jarak, tembakau, sorgum, jeruk dan

bunga matahari.

Aphis craccivora Koch.

Homoptera: Aphididae. Tubuh Aphis craccivora berukuran kecil, lunak,

dan berwarna hitam. Sebagian besar jenis serangga ini tidak bersayap, tetapi bila

populasi meningkat, sebagian serangga dewasanya membentuk sayap bening.

Aphis dewasa yang bersayap ini kemudian pindah ke tanaman lain untuk

membentuk koloni baru. Serangga ini menyukai bagian-bagian muda dari


9

tanaman inangnya. Panjang tubuh Aphis dewasa berkisar 1–1,6 mm. Nimfa Aphis

dapat dibedakan dengan imagonya dari jumlah ruas antena yang lebih sedikit pada

nimfa yang lebih muda. Jumlah antena nimfa instar satu umumnya 4 atau 5 ruas,

instar kedua 5 ruas, instar tiga 5 atau 6 ruas dan instar empat atau imago 6 ruas.

Serangga muda (nimfa) dan imago (dewasa) mengisap cairan tanaman. Serangan

pada pucuk tanaman muda menyebabkan pertumbuhan tanaman kerdil. Hama ini

juga bertindak sebagai vektor (serangga penular) berbagai penyakit virus kacang-

kacangan (Soybean Mosaic Ynts, Soybean Yellow Mosaic Virus, Bean Yellow

Mosaic Virus, Soybean Dwarf Yrus, Peanut Stripe Virus, dll). Hama ini

menyerang tanaman kacang tanah muda sampai tua. Cuaca panas pada musim

kemarau sering menyebabkan populasi hama kutu daun ini tinggi. Sampai saat ini,

kutu daun ini hanya diketahui menyerang tanaman kacang tanah.

Kutu Kebul

Serangga dewasa kutu kebul berwarna putih dengan sayap jernih, ditutupi

lapisan lilin yang bertepung. Ukuran tubuhnya berkisar 1–1,5 mm . Serangga

dewasa meletakkan telur di permukaan bawah daun muda. Telur berwarna kuning

terang dan bertangkai seperti kerucut. Stadia telur berlangsung selama 6 hari.

Serangga muda (nimfa) yang baru keluar dari telur berwarna putih pucat,

tubuhnya berbentuk bulat telur dan pipih. Hanya instar satu kaki berfungsi, sedang

instar dua dan tiga melekat pada daun selama masa pertumbuhannya. Panjang

tubuh nimfa 0,7 mm. Stadia pupa terbentuk pada permukaan daun bagian bawah.

Ada jenis lain yang lebih besar disebut Aleurodicus dispersus atau kutu putih.

Tungau Merah

Tubuh tungau berwarna merah dengan tungkai putih. Panjang tubuhnya

sekitar 0,5 mm. Perkembangan dari telur hingga menjadi tungau dewasa
10

berlangsung selama lebih kurang 15 hari. Telur diletakkan di permukaan bawah

daun kacang tanah. Warna telur kuning pucat dan berbentuk bulat dengan ukuran

0,15 mm. Pada musim kering, perkembangbiakkan populasi tungau sangat cepat.

Tungau menyerang tanaman dengan mengisap cairan daun sehingga daun

berwarna kekuning-kuningan. Pada daun yang terserang akan dijumpai jaringan

benang halus yang digunakan oleh tungau dewasa untuk berpindah ke daun lain

yang masih segar dengan cara bergantung pada benang. Selain kacang tanah,

tungau merah juga menyerang, kacang hijau, kacang tunggak, kacang panjang,

ubikayu, pepaya dan karet.

Wereng Empoasca spp.

Hama ini juga dikenal dengan nama sikada, menyerang kacang tanah

pada musim kemarau, kehilangan hasil dapat mencapai 40%. Sikada pada kacang

tanah berwarna hijau kekuningan, berukuran 3 mm, serangga jantan lebih kecil

daripada serangga betina. Telur diletakkan di dalam jaringan daun, dekat tulang

daun di permukaan bawah. Bentuk telur seperti buah alpukat. Seekor sikada betina

dapat meletakkan 40 butir telur, telur menetas dalam 7–10 hari. Lama periode

nimfa 7–14 hari. Nimfa dan serangga dewasa mengisap cairan daun muda dari

permukaan bawah daun. Kerusakan pada daun muda, urat daun menjadi putih.

Serangan pada tanaman muda menjadikan tanaman layu. Pada tanaman yang lebih

tua, ujung daun muda yang terserang berwarna kuning membentuk huruf V.

Kacang tanah yang terserang sikada tampak lebih kuning daripada tanaman sehat.

Efektivitas Perangkap Warna

Tanaman tetap mendapat gangguan dari mulai makhluk hidup mulai

makhluk hidup mikroorganisme sampai makhluk hidup makroorganisme,

umumnya gangguan tersebut dari golongan hewan. Untuk mengatasi gangguan


11

tersebut biasanya petani menggunakan pestisida dalam penggunaan pestisida

harus efektif dan efisien dan digunakan sebagai pengendalian terakhir agar tidak

menimbulkan resistensi pada serangga hama tersebut (Darwis, 2001).

Warna adalah sebuah sensasi yang dihasilkan ketika suatu energi cahaya

mengenai suatu benda. Panjang gelombang yang ditangkap oleh mata manusia

sebagai berikut violet 400 – 450 nm, blue 400 – 480 nm, green 480 – 560 nm,

Yellow 560 – 590 nm, orange 590 – 630 nm, red 630 – 700 nm (Infotech, 2005).

Serangga memiliki mata tunggal dan mata majemuk yang mana

merupakan alat penerimaan rangsangan cahaya untuk membedakan warna. Mata

tunggal berfungsi untuk membedakan intensitas cahaya yang diterima sedangkan

mata majemuk berfungsi pembentuk bayangan yang berupa mozaik. Gerakan

makhluk hidup yang bereaksi terhadap cahaya atau warna disebut phototaksis

(Liptan, 2000).

Serangga hama memiliki kemampuan inang. Kesesuaian isyarat visual

maupun isyarat kimia akan menyebabkan serangga lebih tertarik menemukan

inang. Respon dapat berupa gerak mendekat menjauh maupun mematikan

serangga secara perlahan (Kenzie, 2006).

Salah satu cara mengendalikan serangga hama adalah dengan

menggunakan perangkap warna. Perangkap ini memanfatkan ketertarikan

serangga pada warna tertentu. Perangkap ini cukup banyak digunakan karena

praktis, mudah dan murah (Kurniawati, 2017).

Dibuktikan bahwa dari 5 warna diperoleh pengaruh yang nyata antara

panjang gelombang terhadap jenis serangga dan intensitas tidak berpengaruh

terhadap jumlah serangga warna yang mempengaruhi kepekaan penglihatan

serangga antara 254 – 600 nm (Pathak, 2001).


12

Serangga menyukai warna-warna yang kontras. Cara serangga melihat

suatu warna tidak seperti cara kita melihat. Seperti halnya warna hijau daun bagi

serangga itu adalah warna kuning dan biru secara terpisah, mengingat hijau adalah

gabungan warna biru dan kuning. (Sosromarsono, 1977).

Serangga yang tertarik dengan warna ini biasanya hama yang menyerang

pada daun. Dan serangga juga menyukai warna-warna yang berbias ultraviolet,

serangga yang tertarik dengan warna seperti merah atau biru biasanya lebah.

Maka dari itu perangkap warna yang digunakan untuk menangkap serangga hama

kebanyakan berwarna kuning. .Karena serangga hama biasanya paling banyak

menyerang daun (Pathak, 2001).

Warna biru juga bisa di gunakan untuk menarik trips yang menyerang

bunga dan daun yang sudah tua. Hama daun lebih suka daun yang masih muda.

Bagi mereka kertas/apapun yang berwarna kuning terlihat seperti kumpulan daun-

daun muda (Dinas pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul. 2001).

Warna kuning juga bagi serangga menandakan buah-buahan itu sudah

masak, maka dari itu warna kuning menarik serangga untuk hinggap paling

banyak. Perangkap warna dapat dimaksimalkan untuk focus menangkap serangga

tertentu, misalnya lalat buah, bisa menggunakan buah tiruan yang berwarna

kuning kemudian di beri pelekat, atau bisa juga papan/mika kuning ditambahkan

meti eugenol sebagai zat penarik melalui aroma untuk memperkuat daya tarik

(Pathak, 2001).

Dari karakteristik warna bahwa warna kuning mampu menangkap lebih

banyak serangga, kemudian disusul warna hijau dan merah hal ini membuktikan

warna yang paling baik untuk perangkap warna kuning. Hal ini sesuai dengan

hipotesa bahwa panjang gelombang yang dapat diterima makhluk hidup untuk
13

green 480 – 560 nm ; Yellow 560 – 590 nm ; red 630 – 700 nm dan panjang

gelombang yang disenangi oleh serangga Serangga dapat melihat panjang

gelombang cahaya yang lebih pananjang dibandingkan dengan manusia panjang

gelombang yang dapat dilihat 300 – 400 nm (mendekati ultraviolet) sampai 600 –

650 nm (orange) serangga menyukai warna ultra violet disebabkan cahaya

diabsorbsi oleh alam terutama oleh daun. Jadi jelas bahwa warna kuning dan hijau

sangat disenangi serangga sebagai menjalankan aktivitas hidup seperti sumber

makanan, peletakan telur dan perkawinan (Pathak, 2001).


BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Praktikum

Adapun praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu

tanggal 7 Oktober 2017 pada pukul 17.00 sampai dengan selesai di

Lahan Praktikum Pengedalian Hama Terpadu, Program Studi Agroteknologi,

Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan pada ketinggian 25 meter

diatas permukaan laut.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih kacang

tanah (Arachis hypogaea L.) sebagai objek praktikum, topsoil dan kompos

sebagai campuran media tanam yang berfungsi untuk menambah unsur hara dan

bahan organik tanah, pacak sebagai penanda dalam pembuatan lubang serta jarak

tanam kacang tanah, kertas hijau sebagai perangkap warna serangga, plastik

bening sebagai lapisan kertas hijau dan tempat direkatkannya lem, lem tikus cap

gajah sebagai bahan jebakan serangga.

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul sebagai

alat dalam pengolahan tanah, parang untuk memotong pacak, gunting untuk

menggunting plastik dan kertas kuning, alat tulis untuk menulis data, buku data

untuk menulis data pengamatan, logbook sebagai bukti laporan kegitan rutin

praktikum, kamera handpone sebagai alat dokumentasi.

Prosedur Kerja

 Dilakukan pengolahan tanah dan penggemburan di lahan praktikum

 Dilakukan pemasangan pacak sekaligus penentuan jarak tanam dan lubang

tanaman padi
15

 Dilakukan penanaman benih kacang tanah

 Dilaksanakan tinjauan lahan dan dibersihkan gulma yang ada di lahan

 Dilakukan pemeliharaan (pembersihan gulma dan penyiraman)

 Dilakukan pengambilan data setiap minggu


PELAKSANAAN PERCOBAAN

Persiapan Lahan

Pada areal penanaman kacang tanah dilakukan persiapan lahan terlebih

dahulu. Tanah dicangkul sedalam 10 cm - 15 cm, disekeliling lahan dibuat parit

selebar 40 cm dengan kedalam 30 cm. Dibuat plot/petakan sebanyak 5 dengan

ukuran 2 m x 2 m. Antara petakan satu dengan petakan yang lain dibuat parit

selebar 30 cm dengan kedalaman 25 cm. Setelah itu tanah digemburkan dan

dibersihkan dari gulma. Sebelum dilakukan kegiatan penanaman sebaiknya diberi

kompos terlebih dahulu.

Pembentukan Plot

Dibuat plot/petakan sebanyak 5 dengan ukuran 2 m x 2 m. Antara petakan

satu dengan petakan yang lain dibuat parit selebar 30 cm dengan kedalaman 25

cm. Setelah itu tanah digemburkan dan dibersihkan dari gulma. Sebelum

dilakukan kegiatan penanaman sebaiknya diberi kompos terlebih dahulu. Benih

yang digunakan pada praktikum ini adalah benih kacang tanah. Benih kacang

tanah yang dibutuhkan adalah secukupnya dengan perlakuan 3 batang benih

kacang tanah tiap lubang tanam.

Penanaman

Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang tanam dengan

kedalaman 2 cm. Setiap lubang tanam diisi sebanyak 3 batang benih kacang tanah.

Kemudian setelah tumbuh diambil satu tanaman untuk ditumbuhkan. Penanaman

ini dilakukan dengan jarak tanam kacang tanah 20 x 20 cm.


17

Pemeliharaan Tanaman

Penyiraman

Setelah bibit kecambah ditanam, dilakukan penyiraman sesuai dengan

kondisi tanaman. Penyiraman sangat penting untuk pertumbuhan tanaman,

terutama pada saat musim kemarau membutuhkan air dan tanah yang lembab

untuk membantu proses perkecambahan. Penyiraman diperlukan saat tanam

(untuk perkecambahan benih), awal pertumbuhan vegetatif (umur 2 minggu),

menjelang berbunga (umur 5-6 minggu), dan menjelang pengisian benih

(umur 8-9 minggu).

Penyiangan

Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman

pengganggu (gulma). Penyiangan dimulai 2 minggu setelah tanam, waktu interval

penyiangan dilakukan 1 minggu sekali. Cara penyiangan dilakukan dengan

mencabut gulma dan mencangkul. Pada waktu tanaman berbunga tidak dilakukan

penyiangan setelah selesai pembungaan atau mulai pembentukan buah dilakukan

penyiangan kembali sesuai dengan kebutuhan.

Pembumbunan

Tujuan pembumbunan untuk mencegah rebahnya tanaman kacang tanah.

Waktu pembumbunan dilakukan setelah pengendalian kedua dan pemupukan

susulan atau pada tanaman berumur 4-5 minggu setelah tanam. Cara

pembumbunan dilakukan dengan meninggikan tanah di sekeliling deretan kacang

tanah membentuk suatu gundukan, tinggi gundukan dibuat antara 6-16 cm.

Parameter Pengamatan

Data Jumlah Serangga


18

Dilakukan pengambilan data jumlah serangga setiap minggu. Dibuat apa

saja jenis serangga yang terperangkap. Kemudian dihitung jumlah serangga yang

terperangkap dan dibuat nama latinnya. Selain itu di lampirkan juga hasil

pengamatan berupa lampiran foto jumlah serangga yang terperangkap.

Panen
KESIMPULAN

1. Kacang tanah (Arachis hypogaeal L.) merupakan tanaman tropis yang


berasal dari kawasan Meksiko selatan dan Amerika Tengah. Kemudian
menyebar sampai di Indonesia.
2. Ulat buah merupakan salah satu hama yang sangat berbahaya, pada
tanaman holtikultura. Pada populasi yang tinggi, intensitas serangannya
dapat mencapai 100%.
3. Siklus hidup ulat buah ini terdiri dari telur, larva, pupa dan imago.
4. Ciri-ciri penting dalam identifikasi ulat buah Hellcoverpa untuk
membedakan spesies Bactrocera spp yaitu dengan melihat sayap, abdomen
dan pada thoraksnya.
5. Suhu berpengaruh terhadap lama hidup dan mortalitas ulat buah. Pada
suhu 10-300C ulat buah dapat hidup dan dapat berkembang. Pada
kelembapan yang rendah dapat meningkatkan mortalitas imago, sedangkan
pada kelembapan yang tinggi dapat mengurangi laju peletakkan telur.
6. Gejala serangan ulat buah ini bisa dilihat dari struktur buah yang diserang
oleh ulat ini. Ulat buah ini biasanya menyerang pada buah yang berkulit
tipis, mempunyai daging yang lunak. Gejala serangan tersebut pada daging
buah membusuk dan terdapat ratusan larva.
7. Pemanfaatan musuh alami dari Ulat buah Hellcoverpa merupakan
alternatif pengendalian yang banyak diteliti dan dikembangkan saat ini.
Musuh alami yangumumnya digunakan misalnya parasitoid.
DAFTAR PUSTAKA

Adisarwanto, Boonrotpong S, Thaochan N, Permkam S, Satasook C. 2001.


Biodiversity of the Genus Bactrocera (Diptera: Tephritidae) in Guava
Psidium guava L. Orchards in Different Argo-Forested Locations of
Shorthren Thailand. Journal of Chemical, Environmental & Biological
Sciences (IJCEBS) (1).
Baliadi, Singh R, Naresh JS, Sharma HC. 2008. The Melon Fruit Fly
Bactroceracucurbitae: A Review of Biologi and Management. J.Insect Sci
5: 1-16
Direktorat Jenderal Bina Produksi Holtikultura. 2006. Pedoman Pengendalian
Ualat Buah. Jakarta : Direktorat Perlindungan Holtikultura.
Endah. 2003. Petunjuk Teknis Surveilans Lalat Buah. Pusat Teknik dan
Metode Karantina Hewan dan Tumbuhan. Jakarta : Badan Karantina
Pertanian.
Gzepak. 2013. Keanekaragaman Lalat Buah (Diptera: Tephritidae) di
Jakarta,Depok, dan Bogor sebagai Bahan Kajian Penyusunan Resiko
Hama (Tesis). Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Herlinda S, Reka M, Triani A & Yulia P. 2007. Populasi dan Serangan Lalat Buah
Bactrocera dorsalis (HENDEL) (Diptera : Tephritidae) serta Potensi
Parasitoidnya Pada Pertamanan Cabai (Capsicum annuum L.). Seminar
Nasional dan Kongres Ilmu Pengetahuan Wilayah Barat. Palembang.
Hill. 1975. Taksonomi dan Bioekologi Bactrocera spp (Diptera: Tephritidae)di
Indonesia. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi
dan Sumberdaya Genetik Pertanian.
Jack, Zuroaidah, Yulia P, Sunar S & Triani A. 1990. Spesies Lalat Buah Yang
Menyerang Sayuran Solanaceae Dan Cucurbitaceae Di Sumatera
Selatan. Jurnal Holtikultura 18 (2): 212 – 220.
Kasno. 1993. Identifikasi Spesies Ualat Buah pada Buah yang diperdagangkan
di Pasar Bertais Kecamatan Sandubaya Kota Mataram dan Upaya
Pembuatan Bahan Ajar pada Mata Kuliah Ekologi Hewan Tahun 2011
(skripsi). Mataram: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram.
Kasno . 2005. Ekologi Hewan. Bandung: ITB.
21

Kurniawan. 2003. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida. Penebar Swadaya.


Jakarta.
Marwoto, Hasyim A, Kogel de WJ. 1991. Distribusi Spesies Lalat Buah di
Sumatera Barat dan Riau. Jurnal Holtikultura 17(1): 61-68.
Menegristek. 2011. Land Use History, Land Use Intensity and Sosioeconomic
background of Lampung Benchmark Area, Sumberjaya Window,
Indonesia. CSM BGBD Project Report, Bandar Lampung.
Pitojo.2008.Keanekaragaman dan Kelimpahan Lalat Buah (Diptera: Tephritidae)
pada Beberapa Sistem Penggunaan Lahan di Bukit Rigis, Sumberjaya,
Lampung Barat. J.HPT Tropika 8 (2): 82 – 89.
Poespadarsono NS. 2004. Hama Ualat Buah dan Pengendaliannya. Yogyakarta :
Kanisius.
Ranganath HR & Veenakumari K. 1999. Notes on the dacine fruits flies (diptera :
Tephritidae) of Andaman and Nicobar island. Journal Raflles Bulletin of
Zoologi (1): 221-224.
Rahardjo B T, Himawan Toto & Utomo W B. 2009. Penyebaran Jenis Lalat Buah
(Diptera: Tephritidae) dan Parasitoidnya di Kabupaten Magetan. Argitek
17(2): 205 – 212.
Sarjan M, Hendro Y & Hery H. 2010. Kelimpahan dan Komposisi Spesies Lalat
Buah pada Lahan Kering di Kabupaten Lombok Barat.Crop Argo 3(2).
Setiawan. 2014. Eko-Biologi Hama Lalat Buah. Bogor : BB-Biogen.
Setiawati, Jermy T & Van Loon JJA. 1991. Insect Plant Biology from
Physiolology to Evolution. Chapman & Hall. London.
Taufiq. 1999. Ekologi Kuantitatif Metode Analisis Populasi dan Komunitas.
Surabaya : Usaha Nasional.
Wharton. 2007. The Bactrocera Dorsalis Complex of Fruit Flies
(Diptera:Tepritidae:Dacinae) in Asia. Bul of Entomol Res Supp (2) : 68.