Anda di halaman 1dari 412

PROSIDING

Seminar Nasional dan Call For Papers


ROUNDTABLE for INDONESIAN
ENTREPRENEURSHIP EDUCATORS (RIEE-2016)

STRATEGI PEMBELAJARAN KEWIRAUSAHAAN


UNTUK MEMBENTUK WIRAUSAHA TANGGUH DAN
BERDAYA SAING

VOL. 1

i
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers
ROUNDTABLE for INDONESIAN ENTREPRENEURSHIP EDUCATORS (RIEE-2016)

STRATEGI PEMBELAJARAN KEWIRAUSAHAAN UNTUK MEMBENTUK WIRAUSAHA


TANGGUH DAN BERDAYA SAING

Editor
Heri Pratikto
Sudarmiatin
Sutrisno
F.X. Danardana Murwani
Nurika Restuningdyah

Editor Pelaksana
Madziatul Churiyah
Afwan Hariri A.P
Ely Siswanto
Lulu Nurul Istanti

Cover Design
Danny Ajar Baskoro
Andik Setiawan

Layout
Yuli Agustina
Danny Ajar Baskoro

Penerbit
CV AMPUH MULTI REJEKI
Anggota IKAPI Jatim
Perum Bumi Mondoroko Blok AG 73
Malang
Email : ampuh_books@yahoo.com

Jumlah : VII+630 hlm.


Ukuran : 20 x 28 Cm

Mei 2016

ISBN : 978-602-73722-7-6

Hak cipta dilindungi undang-undang


KATA PENGANTAR
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi
buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
ii
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
KATA PENGANTAR

Seminar Nasional dan Call for Papers dengan tema “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi” ini merupakan acara yang diselenggarakan
oleh Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang bekerja sama dengan Universitas Airlangga
Surabaya dan Universitas Prasetya Mulya Jakarta. Acara ini merupakan forum pertemuan pengajar atau
pendidik dalam bidang kewirausahaan yang diwujudkan dalam ROUNDTABLE for INDONESIAN
ENTREPRENEURSHIP EDUCATORS (RIEE-2016).
Seminar Nasional dan Call for Papers ini terkumpul 61 makalah yang terbagi menjadi 2 Jilid, baik
telaah toeritis maupun penelitian empiris yang dilakukan peneliti maupun praktisi. Melalui seminar
nasional ini diharapkan terhimpun berbagai pemikiran dan gagasan dari para peserta dengan sub-sub tema:
1. Pengembangan Kurikulum Kewirausahaan di Perguruan Tinggi
2. Strategi pembelajaran Kewirausahaan di Perguruan Tinggi
3. Strategi Assesment Mata kuliah Kewirausahaan
4. Pengembangan laboratorium Kewirausahaan
5. Pembelajaran Kewirausahaan berbasis Karakter
6. Membentuk WirausahaPancasila melalui jalur Pendidikan

Ucapan terima kasih kami haturkan kepada pemakalah yang telah hadir untuk mempresentasikan
makalahnya di Fakultas Ekonomi di Universitas Negeri Malang. Ucapan terima kasih juga kami haturkan
kepada semua panitia yang telah bekerja keras dalam mensukseskan penyelenggaraan Seminar Nasional
dan Call for Papers ini. Kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan atau keterbatasan
selama penyelenggaraan Seminar Nasional dan call for papers ini, oleh karena itu ijinkan kami
mengucapkan mohon maaf jika hal tersebut kurang berkenan di hati bapak ibu sekalian.

Malang, 3 Mei 2016


Ketua Panitia

Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si


NIP. 196111081986012001

iii
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................................................ iii


Daftar Isi .................................................................................................................................................... iv

Kajian Peran Perguruan Tinggi Terhadap Komitmen Pengembangan Usaha Mikro Studi Kasus
Program Pemberdayaan Kepada Masyarakat (PPKM) Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, Indonesia
Ambara Purusottama1 ,Agus W. Soehadi2 , Muliadi Palesangi3 .............................................. 1

Entrepreneur Laboratory SEC-USU (From Lab To Market) Sebagai Model Sistem Pemasaran
Produk Wirausaha Mahasiswa
Buchari1, Ismayadi2 , Rosdanelli3 , Arif Qaedi Hutagalung4 ..................................................... 18

Membangun Kewirausahaan Lokal Madura Dalam Menghadapi GlobalisasI


Mohammad Tambrin1, Pribanus Wantara2 ................................................................................. 29

Analisis Dampak Program Kemitraan Usaha bagi Pengembangan Kemampuan Pembuatan


Rencana Bisnis oleh Mahasiswa .
Muhammad Setiawan Kusmulyono ............................................................................................ 39

Model Creative Intelligence Pemenang PMW Student Entrepreneurship Center Universitas


Sumatera Utara 2014-2015
Syafrizal Helmi Situmorang1, Doli Muhammad Jafar Dalimunthe2,
Alby Ridha Saputra3 ...................................................................................................................... 47

"ENTREPRENEURSHIP AWARD” Sebagai Strategi Perguruan Tinggi Dalam Meningkatkan


Minat Wirausaha Mahasiswa
Tatas Ridho Nugroho1, Roni Wiranata, 2 ................................................................................... 60

Analisis manfaat mentoring Pada start up business (studi pada proyek bisnis mahasiswa
universitas ciputra)
Uki Yonda Asepta1, Krismi Budi Sienatra2 ............................................................................... 72

Pendidikan Kewirausahaan Di Perguruan Tinggi Antara Harapan Dan Kenyataan


Wardoyo1, Liana Mangifera2 ........................................................................................................ 81

Peran Guru dalam Menanamkan Sikap Kewirausahaan Peserta Didik


Bakti Widyaningrum ..................................................................................................................... 94

Dampak Strategi Pembelajaran pada Karakteristik Kewirausahaan Studi Kasus pada Mahasiswa
Manajemen di Universitas Kristen Maranatha
Boedi Hartadi Kuslina ................................................................................................................... 104

Pengembangan model pembelajaran kewirausahaan Dengan pendekatan experiential learning di


perguruan tinggi
Dumiyati .......................................................................................................................................... 118

Pembelajaran Kewirausahaan Berbasis Karakter


Henny Sri astuty ............................................................................................................................. 128
iv
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Inovasi Pembelajaran Interaktif Kewirausahaan Dengan Model Patriot Di Universitas Nusantara
PGRI Kediri
Rr.Forijati ........................................................................................................................................ 141
Pembelajaran pada Mata Kuliah Kewirausahaan di Perguruan Tinggi dalam Perspektif Teori
Rekonstruksi Sosial
Sukardi ............................................................................................................................................. 151

The Implementation of Student Center Learning on the Subject of Entrepreneurship for


Developing Student Business Owner at Management Department
Titiek Ambarwati1 , Uci Yuliati2 , Triningsih S3 ......................................................................... 160

Prestasi Belajar Dan Praktik Kewirausahaan Di Sekolah Mempengaruhi Minat Berwirausaha


Siswa Setelah Lulus Smk
Suwarni ............................................................................................................................................ 173

Antara Karakter Dan Kewirausahaan Sosial (Menggali Hubungan Kewirausahaan Sosial Berbasis
Karakter)
Diah Ayu Septi Fauji1, Ema Nurzainul Hakimah2 .................................................................... 180

Pentingnya Diklat Laboratorium Inovasi Kepemimpinan Untuk Meneguhkan Entrepreuner Agen


Perubahan Pada Instansi Pemerintah
Hary Wahyudi................................................................................................................................. 189

Dukungan Sosial Peer Group, Kontrol Diri Dan Komitmen Mahasiswa Pada Tugas Perkuliahan
Kewirausahaan
Tri Siwi Agustina ........................................................................................................................... 208

Peran Locus Of Control, Kebutuhan Berprestasi Dan Entrepreneurship Dalam Mencapai


Keunggulan Kompetitf Usaha Kecil Dan Menengah(UKM) Kabupaten Bangkalan
S Anugrahini Irawati ..................................................................................................................... 217

Penerapan Siklus Akuntansi Pada Usaha Kecil Dan Menengah Di Kelurahan Karangbesuki
Kecamatan Sukun Kota Malang
Lulu Nurul Istanti ........................................................................................................................... 229

Pendekatan Experiential Learning Pada Pembelajaran Kewirausahaan Di STIE Surakarta


Ginanjar Rahmawan1, Elia Ardyan2 ............................................................................................ 235

Model Kewirausahaan Berbasis Karakter Bagi Guru Sekolah Binaan Persit Kartika Candra Kirana
Di Wilayah Malang
Heny Kusdiyanti............................................................................................................................. 244

Peranan Pendidikan Kewirausahaan Di Perguruan Tinggi Guna Pengembangan Kreativitas Siswa


Susiana1, Vita Dhameria2 .............................................................................................................. 258

Pengaruh Efikasi Diri, Locus Of Control, Dan Motivasi Terhadap Minat Berwirausaha
Mahasiswa Akuntansi
Esti Patria2 , Nugraheni Rintasari2 ............................................................................................... 265
v
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Experential learning untuk pendidikan Entrepreneurship di Universitas Ciputra
Cliff Kohardinata ........................................................................................................................... 280

Adaptasi Implementasi Lean Startup untuk Meningkatkan Kesuksesan Kewirauhaan Akdemik


Studi kasus : Telkom University dan Bandung Techno Park
Iwan Iwut Tritoasmoro .................................................................................................................. 290

Pengembangan Aspek Belajar Sebagai Isi Kurikulum Pendidikan Kewirausahaan Dan


Pembelajarannya
Wahidmurni .................................................................................................................................... 298

Pengembangan Kurikulum Kewirausahaan Di Perguruan Tinggi


Y. Lilik Rudianto ........................................................................................................................... 309

The Use Of Carousel Feedback In Order To Improve Student Personal Relationships Taking Part
A Village Vocational Programme Concerned With Starfruit Farming In Depok (A District Of
West Java)
Saiful Anwar1, Soffi Soffiatun2 .................................................................................................... 322

Peran Strategi Pembelajaran Kewirausahan Dalam Membentuk Jiwa Kewirausahan Mahasiswa-


Studi pada Universitas Widyatama Bandung
Yenny Maya Dora .......................................................................................................................... 330

Pengembangan kurikulum kewirausahaan kampus melalui inkubator bisnis berbasis sinergi


akademisi, pemerintah dan dunia usaha
Faidal................................................................................................................................................ 340

Analisis Dampak Program Community Development Universitas Prasetiya Mulya bagi


Pengembangan Kemampuan Pembuatan Rencana Bisnis oleh Mahasiswa: Pendekatan Kualitatif
Muhammad Setiawan Kusmulyono1, Faizal Ahmad2 .............................................................. 348

Persepsi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako Tentang Perkuliahan Kewirausahaan


Terhadap Niat Berwirausaha
Lina Mhardiana1, Andi Indriani Ibrahim2 ................................................................................... 359

Pengalaman Pengajar Terhadap Model Pendidikan Kewirausahaan


Peni Zulandari Suroto1 , Agus W. Soehadi2, Ambara Purusottama3 ....................................... 370

Implementasi Pembelajaran Mata Kuliah Kewirausahaan di Fakultas Teknik Universitas Surabaya


(UBAYA)"
Rudy Agustriyanto1 , Esti Dwi Rinawiyanti2 .............................................................................. 381

Penguatan Pendidikan Kewirausahaan Melalui Pendekatan Manajemen Proyek


Tri Hendro Sigit Prakosa .............................................................................................................. 388

SEC USU sebagai Model Pusat Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa di Perguruan Tinggi
Zurni Zahara1 , Frida Ramadhini2,Imam Bagus Sumantri3 ....................................................... 401

vi
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Kajian Peran Perguruan Tinggi Terhadap Komitmen
Pengembangan Usaha Mikro
(Studi Kasus Program Pemberdayaan Masyarakat
Desa Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, Indonesia)

Ambara Purusottama
Agus W. Soehadi
Muliadi Palesangi
Peni Zulandari Suroto
Sekolah Bisnis dan Ekonomi – Universitas Prasetya Mulya
Email : ambara.purusottama@pmbs.ac.id

Abstrak : Pemerintah saat ini aktif menumbuh kembangkan perekonomian berbasis ekonomi
kerakyatan dalam rangka memperkuat perekonomian nasional. Program unggulan pemerintah tersebut
akhirnya terwujud melalui program dana desa. Guna mewujudkan penyaluran dan penyerapan
anggaran dana desa yang efektif dan efisien dibutuhkan pendekatan yang sesuai. Program
pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu pemecah masalah yang mengemuka. Universitas
Prasetiya Mulya sebagai bagian dari institusi akademik di Indonesia menggunakan PPKM (Program
Pemberdayaan Kepada Masyarakat) dalam menjalankan amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Penelitian ini ditujukan pada seluruh mitra komunitas usaha mikro yang pernah dan sedang terlibat
PPKM Universitas Prasetiya Mulya. Mitra yang dimaksud merupakan usaha mikro yang telah
diseleksi dan berkomitmen untuk menjalani program bersama. Penelitian menunjukkan bahwa PPKM
memberikan pengaruh positif bagi mitra untuk berkomitmen mengembangkan usaha mikro yang
sedang berjalan. Hampir seluruh varibel mempunyai keterkaitan yang kuat namun hanya terkendala
pada keterkaitan variabel norma terhadap niat. Keterkaitan hubungan antara variabel niat dan perilaku
dan juga sikap dan niat memiliki hubungan paling kuat dibandingkan lainnya. Penelitian ini akan
memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Model PPKM dapat dijadikan model program serupa
karena hasilnya dinilai cukup baik dalam kontribusinya terhadap pengembangan usaha mikro.
Meskipun hasilnya cukup baik namun namun perbaikan model PPKM harus tetap dilakukan untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. Model ini dapat dijadikan acuan untuk merealisasikan dana
desa yang sedianya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat desa agar lebih efektif dan efisien.
Hasil penelitian ini masih bersifat sementara karena proses pendampingan mahasiswa dengan mitra
belum selesai. Kedepan, penelitian ini akan dikembangkan pada penelitian serupa dengan variasi
daerah tujuan program, responden yang lebih banyak, dan proses pendampingan mitra yang sudah
selesai. Harapannya akan didapatkan hasil yang lebih baik.

Kata Kunci : PPKM, Pengembagan Usaha, Usaha Mikro, Komitmen

Pemerintah saat ini aktif menumbuh hingga saat ini masih terpusat di ibu kota saja.
kembangkan perekonomian berbasis ekonomi Ketimpangan pembangunan menjadi
kerakyatan dalam rangka memperkuat permasalahan Indonesia saat ini dimana
perekonomian nasional. Program unggulan ketimpangan pendapatan antar daerah yang
pemerintah tersebut akhirnya terwujud melalui stagnan pada angka 0,41 dalam kurun waktu 4
program dana desa. Hal ini dilakukan karena tahun (Haryanto, 2014). Padahal potensi
adanya permasalahan pembangunan yang pedesaan sangat menjanjikan. Program tersebut
1
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
diatur pemerintah melalui UU. No. 6 Tahun Dalam mengembangkan bisnis, pebisnis
2014 yang bersumber dari APBN (BPN, 2014). membutuhkan perencanaan dan pertimbangan
Namun permasalahan yang harus dihadapi yang matang dan bukan sesuatu yang tiba-tiba.
pemerintah adalah penyaluran dan penyerapan Artinya, perilaku pebisnis bukan atas tindakan
dana yang ada mengingat keterbatasan sumber spontan. Perilaku pebisnis menjadi sangat
daya yang dimiliki. relevan dikaitkan dengan theory of planned
Guna mewujudkan penyaluran dan behavior, yang dikembangkan oleh Ajzen
penyerapan anggaran dana desa yang efektif (Krueger & Carsrud, 1993). Ajzen (1991)
dan efisien dibutuhkan pendekatan yang sesuai. mengungkapkan bahwa untuk menjelaskan
Program pemberdayaan masyarakat menjadi perilaku manusia termasuk perilaku berbisnis
salah satu pemecah masalah yang mengemuka. dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu sikap, norma
Pratama (2012) menyebutkan pemberdayaan subjektif, dan kontrol perilaku. Theory of
masyarakat berbasis empowerment adalah lanned behavior digunakan untuk memoderasi
pendekatan bekerja bersama masyarakat program pemberdayaan masyarakat terhadap
sehingga mereka dapat mendefinisikan dan keinginan dan perilaku berbisnis mitra dari
menangani masalah, serta terbuka untuk Universitas Prasetiya Mulya.
menyatakan kepentingan-kepentingannya Dalam perilaku mengembangkan bisnis
sendiri dalam proses pengambilan keputusan. dibutuhkan adanya komitmen dari seorang
Pada dasarnya kegiatan tersebut sudah pebisnis. (Meyer & Herscovitch, 2001)
terangkum dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengungkapkan bahwa komitmen merupakan
yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan kekuatan yang mengikat individu dalam suatu
dari perguruan tinggi. KKN dapat mendukung tindakan yang relevan sesuai dengan target
penyelesaian masalah bangsa, yaitu kemiskinan yang ingin dicapai. Komitmen pebisnis juga
dan pengangguran, pembangunan daerah 3T menjadi sangat relevan untuk dibahas dalam
(tertinggal, terdepan, terluar), daerah rawan kaitannya dalam proses dan perilaku
bencana dan konflik, serta meminimalisir masyarakat desa dalam mengembangkan
kesenjangan kemajuan wilayah (UGM, 2015). bisnis.
Universitas Prasetiya Mulya sebagai Pembahasan di atas merumuskan secara
bagian dari institusi akademik di Indonesia khusus tujuan penelitian, antara lain:
menggunakan program community 1. Menentukan seberapa jauh peran
development dalam menjalankan amanat Tri program pemberdayaan masyarakat
Dharma Perguruan Tinggi. Program tersebut terhadap komitmen pebisnis.
tentunya disesuaikan dengan kompetensi 2. Mengetahui efektivitas program
Prasetiya Mulya yang dikombinasikan dengan permberdayaan masyarakat terhadap
kebutuhan masyarakat desa. Prasetiya Mulya perilaku pebisnis.
terus berinovasi mengembangkan model yang 3. Mengetahui faktor-faktor yang
dimiliki demi mencapai tujuannya yaitu menentukan perilaku pebisnis dalam
meningkatkan kesejaheraan masyarakat desa konteks theory of planned behavior.
melalui pembinaan usaha mikro. Tidak hanya Selain itu, peneliti menggunakan latar
itu, Universitas Prasetiya Mulya juga belakang pendidikan dan keluarga untuk
mengharapkan terciptanya kesejahteraan memperkuat penelitian yang dilakukan. Faktor-
masyarakat desa yang berkelanjutan. faktor tersebut diharapkan akan dapat
Mengembangkan bisnis yang memberikan gambaran yang lebih spesifik
berkelanjutan merupakan salah satu tujuan terhadap komitmen mengembangkan bisnis.
utama dalam berbisnis (Damodaran, 2000). Lebih lanjut, faktor-faktor tersebut dapat
2
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
berfungsi sebagai variabel pengendali dalam Harapannya akan didapatkan hasil yang lebih
penelitan ini. baik.
Kontribusi penelitian yang kami Model Program Pengembangan
lakukan secara umum adalah untuk Pemberdayaan Masyarakat
menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi Universitas Prasetiya Mulya menyadari
perilaku pebisnis dalam kaitannya dengan bahwa untuk Program Pemberdayaan Kepada
komitmen mengembangkan bisnis dari sudut Masyarakat (PPKM) sangat penting dalam
pandang theory of planned behavior. Hasilnya mendukung perkembangan pihak yang
diharapkan dapat menjadi model rujukan berkepentingan. Bagi pihak akademik, akan
program pemberdayaan masyarakat bagi membantu terutama bagi mahasiswa untuk bisa
perguruan tinggi lainnya dan pemerintah. menerapkan ilmu-ilmu yang telah didapatkan
Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi untuk diimplementasi kepada mitra bisnisnya,
gambaran perilaku pebisnis masyarakat dalam hal ini masyarakat desa yang berminat
pedesaan dalam rangka peningkatan peran bergabung bersama Universitas Prasetiya
program pemberdayaan masyarakat serupa Mulya.
untuk meningkatkan perekonomian nasional. Program pemberdayaan masyarakat
Penelitian ini masih bersifat sementara yang mengerucutkan pada revitalisasi KKN
karena proses pendampingan mahasiswa yang saat ini dianggap kurang efektif.
dengan mitra belum selesai. Kedepan, Revitalisasi KKN mengerucutkan pada
penelitian ini akan dikembangkan pada pengambangan tiga dimensi utama yaitu
penelitian serupa dengan variasi daerah tujuan kelembagaan, ekonomi, dan kapasitas.
program, responden yang lebih banyak, dan Ketiganya dapat berjalan selaras sehingga
proses pendampingan mitra yang sudah selesai. program ini mampu dirasakan dampak
positifnya bagi mitra.

Gambar 1. Dimensi PPKM Universitas Prasetiya Mulya

Pengembangan ekonomi yang tentunya dengan sepengetahuan mitra yang


dimaksud adalah intervensi perguruan tinggi bertujuan untuk mengembangkan bisnisnya.
dalam permodalan yang berbentuk modal kerja, Modal kerja bisa dalam bentuk peningkatan
baik materi dan non-materi. Jumlah dan bentk produksi dan investasi alat atau bisa keduanya.
modal kerja yang dibutuhkan mengacu pada Diharapkan sepeninggal mahasiswa, para mitra
analisis bisnis dan sumber daya yang dimiliki. akan dapat meningkatkan bisnisnya melalui
Kebutuhan ini akan dianalisis oleh mahasiswa injeksi modal dari perguruan tinggi.

3
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Gambar 2. Tahapan PPKM Universitas Prasetiya Mulya

Dalam proses pemberdayaan dan pendampingan menjadi instrumen untuk


masyarakat sangat dibutuhkan peningkatan melihat perkembangan bisnis mitra selama
kapasitas mitra. Modal yang dimaksud yang beberapa bulan ke depan. Selama masa
bersifat intangible atau kemampuan mitra pendampingan ini mahasiswa diwajibkan tetap
dalam mengembangkan bisnis. Konsep hidup memberikan penyuluhan kepada mitra dengan
berdampingan antara mitra sebagai pemilik sasaran peningkatan kapasitas dan
bisnis dengan mahasiswa sebagai konsultan kesejahteraan mitra. Selain itu, dalam masa
yang memiliki pengetahuan dalam bidang pendampingan ini mitra dituntut untuk bisa
bisnis diyakini akan mampu mengisi mengembangkan kemampuan jejaringnya
kekurangan yang dimiliki mitra. Intensitas sehingga ketika program selesai
pertemuan antara mitra dengan mahasiwa keberlangsungan bisnis mitra dapat berjalan
diharapkan mampu menjembatani dalam proses lebih baik.
peningkatan kapasitas mitra. Pada praktiknya keterlibatan mahasiswa
Para mahasiswa diminta untuk tinggal kami dikelompokkan agar dapat memenuhi
bersama mitra agar mendapatkan gambaran unsur revitalisasi program yang berjalan, yaitu
penuh bisnis proses mitra yang akan builder dan energizer. Builder merupakan
dijalankan. Pola orang tua asuh yang dianut sekelompok mahasiswa dari berbagai latar
juga diharapkan terjalin komunikasi dua arah. belakang yang akan mendapat tugas
Mahasiswa mendapatkan pembelajaran membangun bisnis mitra sesuai dengan minat
mengenal karakter keluarga orang lain yang dan motivasi mitra. Sedangkan energizer
berbeda latar belakang. Sebaliknya, mahasiswa bertugas membangun sinergi antara builder
diharapkan mendapatkan pelajaran berupa dalam pemasaran produk, mengembangkan
sikap, toleransi dan juga tanggung jawab baik produk-produk, rencana unggulan, dan
perilaku selama tinggal bersama dan mengelola aktivitas mahasiswa skala desa dan
seterusnya. kecamatan.
Pendampingan menjadi kegiatan setelah
program tinggal bersama selesai. Pengawasan

4
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Gambar 2. Model PPKM Universitas Prasetiya Mulya

Model Konseptual kemungkinan konsekuensi dari perilaku


Kami menggunakan theory of planned (keyakinan perilaku), keyakinan tentang
behavior sebagai landasan utama penelitian harapan dari lingkungan sekitar (keyakinan
kami. Theory of planned behavior pertama kali normatif), dan keyakinan keberadaan faktor
dikembangkan oleh Ajzen (1991) dimana pada yang dapat mendorong atau menghambat
awalnya bertujuan untuk mengamati perilaku sebuah perilaku (keyakinan pengendalian).
manusia dan organisasi. Teori ini merupakan Dalam keyakinan perilaku
pengembangan dari theory of reasoned action menghasilkan sikap yang didasarkan pada
yang dikemukakan oleh Ajzen dan Fishbein keuntungan dan kerugian dalam suatu tindakan.
(1980) sebelumnya. Sedangkan keyakinan normatif terjadi karena
Teori tersebut mengasumsikan bahwa adanya tekanan sosial yang dirasakan atau
semua tindakan manusia itu hampir seluruhnya norma subjektif. Keyakinan kontrol merupakan
mempunyai tujuan, terkendali dan terencana bentuk kontrol perilaku yang dirasakan oleh
sehingga akan menimbulkan konsekuensi setiap individu. Ketiga kombinasi tersebut akan
dalam setiap tindakan yang dilakukannya membentuk keinginan atau niatan dalam
(Ajzen dan Fishbein, 2000). Berdasarkan teori berperilaku. Aturan umumnya adalah semakin
tersebut maka menjadi relevan digunakan menguntungkan sikap, besarnya tekanan norma
dalam mengukur perilaku pebisnis. Theory of subjektif, dan semakin besarnya kontrol yang
planned behavior menggambarkan bahwa dirasakan terhadap sesuatu maka akan semakin
dalam berperilaku, manusia dipengaruhi oleh kuat keinginan seseorang untuk melakukan
tiga macam pertimbangan: keyakinan tentang suatu tindakan, begitu juga sebaliknya.

5
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Sumber: Ajzen (2006)
Gambar 4. Perkembangan Model Theory of Planned Behavior
Banyak kasus seringkali muncul Norma subjektif (Subjective norm)
ketidaksesuaian antara keinginan dan perilaku. Norma subjektif merupakan persepsi
Dengan kata lain, adanya hambatan seseorang individu atau opini dari individu lain yang
dalam mengeksekusi keinginannya. Peran dianggap penting ketika melakukan tindakan
kontrol perilaku tidak lagi hanya yang diinginkan (Ajzen, 1991). Opini tersebut
mempengaruhi keinginan seseorang saja namun dapat menjadi merubah pandangan sehingga
juga mampu mempengaruhi perilaku yang mampu memotivasi individu tersebut. Dengan
selanjutnya disebut actual behavioral control. kata lain, norma subjektif merupakan tekanan
Teori ini dikembangkan pada sosial dari orang yang dianggap penting dalam
dasarnya untuk mengamati perilaku manusia berperilaku. Pendapat orang yang dianggap
dan organisasi. Namun dalam penting akan mempengaruhi individu dalam
perkembangannya, teori ini mempunyai fungsi berbisnis.
memahami dan memprediksi pengaruh
motivasi pada perilaku yang bukan dibawah Kontrol perilaku (Perceived behavioral
kendali kehendak individu. Teori ini juga control)
mampu mengidentifikasi latar belakang Kontrol perilaku merupakan persepsi
seseorang dalam merancang strategi untuk mengenai kemudahan atau kesulitan dalam
mengubah perilaku. Secara umum teori ini melakukan perilaku dan diasumsikan
mampu menjelaskan hampir semua perilaku merefleksian pengalaman di masa lalu dan
dalam kehidupan manusia antisipasi mengenai halangan. Fungsi dari
kontrol perilaku adalah fungsi dari control
Sikap (Attitude toward behavior) beliefs, yaitu kepercayaan mengenai adanya
Sikap merupakan suatu faktor dalam faktor-faktor yang yang mempermudah atau
diri seseorang yang dipelajari untuk mempersulit dalam melakukan suatu tindakan.
mendapatkan respon positif atau negatif Dalam konteks aktivitas berbisnis, berkaitan
terhadap sesuatu yang diberikan. Perasaan dengan ketersediaan dukungan dan sumber
tersebut ditentukan oleh kepercayaan seseorang daya atau hambatan memulai atau
berdasarkan konsekuensi yang timbul sebagai mengembangkan bisnis. Semakin banyaknya
akibat dari suatu tindakannya. Dalam konteks dukungan sumber daya dan minimnya
berbisnis, apabila pebisnis menganggap hambatan akan lebih meningkatkan keinginan
aktivitas mengembangkan bisnis memberikan individu untuk berbisnis.
manfaat bagi dirinya maka individu tersebut
akan memberikan respon positif dan begitu Relevansi Theory of Planned Behavior dalam
juga sebaliknya. Kewirausahaan
6
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Teori yang dikembangkan Ajzen rasional dan sudah direncanakan sebelumnya.
mampu menembus batas antar bidang studi. Lerchundi et al (2014); Rasli et al (2013); dan
Awalnya pengembangan teori tersebut memang Ghazali et al (2013) menggunakan latar
hanya pada perilaku individu dari sudut belakang personal dalam mengkaji keinginan
pandang psikologi saja. Namun sejalan dengan berwirausaha. Faktor lamanya studi juga
waktu teori ini mampu digunakan dan menarik untuk dibahas seperti pada penelitian
berkembang ke segala bidang. Krueger & Njeje (2015) yang menyebutkan lamanya studi
Carsrud (1993) menuturkan bahwa penciptaan pendidikan kewirausahaan, dalam hal ini
usaha merupakan suatu tindakan yang intervensi program pendidikan kepada
direncanakan sebelumnya. Hal senada masyarakat, akan meningkatkan keinginan
diungkapkan Fayolle et al (2006) dalam yang memulai berwirausaha. Latar belakang
melakukan kajian teori tersebut terhadap personal dan lamanya durasi intervensi PPKM
program pendidikan kewirausahaan. Selain itu, menjadi faktor yang menarik untuk dikaji lebih
teori tersebut juga berperan penting dalam lanjut.
pengambilan keputusan untuk memulai atau Perilaku dan Komitmen Pebisnis
mengembangkan bisnis ( (Bird, 1988); (Katz & Delmar (1996) dalam modelnya
Gartner, 1988)). terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kierja
Keputusan berwirausaha tidak hanya bisnis, yaitu individu, lingkungan, dan kinerja
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat pebisnisnya.

Individual

Entrepreneurial Business
Behavior Performance

Environment

Sumber: Delmar (1996)


Gambar 5. Model general of entrepreneurial and business performance

Performa Bisnis pengaruhnya dibandingkan dengan faktor


Untuk mencapai performa bisnis yang eksternal. Semakin baik kualitas individu yang
optimal diperlukan kondisi lingkungan dan dimiliki memungkinkan untuk memitigasi
kinerja pebisnis yang mendukung. Performa dinamika eksternal yang mungkin terjadi.
bisnis dapat membaik ketika ada peningkatan
permintaan dari pasar. Selain itu, performa Perilaku Organisasi
bisnis juga sangat tergantung bagaimana Perilaku organisasi merupakan langkah
perilaku organisasi bekerja. Perilaku organisasi atau tindakan yang diambil seorang pebisnis
selain dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti untuk mencapai tujuannya. Perilaku organisasi
lingkungan namun juga dipengaruhi faktor yang dimaksud antara lain peran individu,
internal. Kecenderungan faktor internal seperti organisasi, pengambilan keputusan, tujuan, dan
individu biasanya akan lebih besar strategi. Perilaku organisasi akan sangat

7
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
tergantung dari individu yang menjalankan. kemampuan sosial dan persepsi. Kesuksesan
Perilaku organisasi turut dipengaruhi oleh akan didapatkan ketika kombinasi tersebut
keadaan lingkungan dan kapasitas individu berjalan selaras.
yang dimiliki. Kapasitas individu yang besar
dan keadaan lingkungan yang mendukung Motivasi dan Kinerja
biasanya akan mampu mendorong kinerja Teori motivasi berfokus pada proses
bisnis ke arah yang lebih baik. penentuan memilih ketika dihadapkan pada
sebuah pilihan, aktivitas berkehendak, dan
Kondisi Lingkungan keinginan. Sedangkan teori prestasi mengacu
Organisasi internal dan pendukungnya pada evaluasi individu dalam dari berperilaku.
merupakan perangkat pendukung kondisi Menurut (Kanfer, 1991) yang membedakan
lingkungan. Organisasi menjadi sangat penting antara teori motivasi dan prestasi bahwa teori
kontribusinya dalam meningkatkan performa prestasi lebih banyak faktor yang
bisnis perusahaan. Selain itu, perancangan mempengaruhi seperti hambatan yang dihadapi
sistem organisasi yang dibangun juga sangat dan jumlah pekerjaan.
menentukan.
Kebutuhan
Kemampuan Individu Dasar dari konsep motivasi datang dari
Kemampuan individu yang dimaksud kebutuhan. Hal ini mengasumsikan bahwa
adalah keahlian dan motivasi yang dimiliki kebutuhan merupakan proses awal terjadinya
seorang pebisnis. Langkah dalam berbisnis atau yang mempengaruhi individu dalam
dipengaruhi oleh kondisi individu dan melakukan tindakan. Dengan kata lain,
lingkungan. Kemampuan individu terdiri dari kebutuhan merupakan pemicu dari perilaku
kemampuan berpikir dan kemampuan individu. Teori kebutuhan Maslow merupakan
manajerial. Kemampuan berpikir (kognitif) teori kebutuhan yang paling dikenal saat ini.
yang dimaksud meliputi fakta-fakta, nilai-nilai, Ketika individu telah terpenuhi kebutuhan
tujuan, dan kemampuan diri. Sedangkan dasarnya maka akan bergerak ke kebutuhan
kemampuan manajerial dan keahlian meliputi yang lebih tinggi atau ekspansi kebutuhan.

Sumber: Locke and Henne


8
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Gambar 6. Model Motivasi

Nilai dan Sikap Tujuan dan keinginan


Nilai merupakan penilaian, evaluasi Tujuan merupakan hasil yang
yang terbentuk secara abstrak dan merupakan diinginkan dari nilai dan sikap yang dimiliki,
sebuah tindakan akhir seseorang. Nilai juga dimana adanya proses dari sikap menjadi
merupakan kiteria yang digunakan manusia sebuah tujuan. Perbedaan utama antara tujuan
untuk memilih dan membenarkan tindakan dan keinginan bahwa tujuan merupakan
yang diambil, termasuk menilai orang lain dan keadaan akhir yang ingin dituju sedangkan
peristiwa yang sedang terjadi. Nilai dan sikap keinginan hanya menjelaskan tekad untuk
sangat berbeda meskipun memiliki kedekatan bergerak ke arah tertentu.
yang cukup kuat. Sikap merupakan penilaian
baik positif maupun negatif dari sebuah objek Hipotesis Penelitian
yang diamati (Delmar, 1996). Untuk Hipotesis nol (Ho) adalah asumsi yang
menyimpulkan, nilai dan sikap merupakan jenis akan diuji. Hipotesis nol dinyatakan dalam
yang sama dari sebuah konsep namun berbeda hubungan sama dengan. Dengan kata lain,
dalam abstraksi penilaian sebuah objek dan hipotesis nol menyatakan suatu parameter
kestabilan dari penilaian objek tersebut. bernilai sama dengan nilai tertentu. Sedangkan
hipotesis alternatif (H1) adalah segala hipotesis
yang berkebalikan dari hipotesis nol. Hipotesis
alternatif merupakan kumpulan hipotesis yang
diterima dengan meolak hipotesis nol.

Gambar 7. Diagram Hipotesis Penelitian

Berdasarakan model penelitian maka dapat


ditentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif Hipotesis Moderasi Peran PPKM dalam
sesuai dengan variabel independen dengan pengembangan usaha mikro((two-tailed)
variabel dependennya. Sikap
9
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Ho = PPKM tidak memoderatori peranan faktor Ho = Durasi PPKM tidak memoderatori
sikap terhadap keingingan mengembangkan peranan faktor kontrol perilaku terhadap
usaha keingingan mengembangkan usaha
H1 = PPKM memoderatori peranan faktor H3 = Durasi PPKM memoderatori peranan
sikap terhadap keingingan mengembangkan faktor kontrol perilaku terhadap keingingan
usaha mengembangkan usaha
Norma Subjektif
Ho = PPKM tidak memoderatori peranan faktor Keinginan
sikap terhadap keingingan mengembangkan Ho = Durasi PPKM tidak memoderatori
usaha peranan keinginan mengembangkan usaha
H2 = PPKM memoderatori peranan faktor terhadap keputusan mengembangkan usaha
sikap terhadap keingingan mengembangkan H4 = Durasi PPKM memoderatori peranan
usaha keinginan mengembangkan usaha terhadap
Kontrol Perilaku keputusan mengembangkan usaha
Ho = PPKM tidak memoderatori peranan faktor Hipotesis Moderasi Latar Belakang Mitra
kontrol perilaku terhadap keingingan Sikap
mengembangkan usaha Ho = Latar belakang mitra tidak memoderatori
H3 = PPKM memoderatori peranan faktor peranan faktor sikap terhadap keingingan
kontrol perilaku terhadap keingingan mengembangkan usaha
mengembangkan usaha H1 = Latar belakang mitra memoderatori
peranan faktor sikap terhadap keingingan
Keinginan mengembangkan usaha
Ho = PPKM tidak memoderatori peranan Norma Subjektif
keinginan mengembangkan usaha terhadap Ho = Latar belakang mitra tidak memoderatori
keputusan mengembangkan usaha peranan faktor norma subjektif terhadap
H4 = PPKM memoderatori peranan keinginan keingingan mengembangkan usaha
mengembangkan usaha terhadap keputusan H2 = Latar belakang mitra memoderatori
mengembangkan usaha peranan faktor norma subjektif terhadap
Hipotesis Moderasi Durasi PPKM (two-tailed) keingingan mengembangkan usaha
Sikap Kontrol Perilaku
Ho = Durasi PPKM tidak memoderatori Ho = Latar belakang mitra tidak memoderatori
peranan faktor sikap terhadap keingingan peranan faktor kontrol perilaku terhadap
mengembangkan usaha keingingan mengembangkan usaha
H1 = Durasi PPKM memoderatori peranan H3 = Latar belakang mitra memoderatori
faktor sikap terhadap keingingan peranan faktor kontrol perilaku terhadap
mengembangkan usaha keingingan mengembangkan usaha
Norma Subjektif
Ho = Durasi PPKM tidak memoderatori Keinginan
peranan faktor norma subjektif terhadap Ho = Latar belakang mitra tidak memoderatori
keingingan mengembangkan usaha peranan keinginan mengembangkan usaha
H2 = Durasi PPKM memoderatori peranan terhadap keputusan mengembangkan usaha
faktor norma subjektif terhadap keingingan H4 = Latar belakang mitra memoderatori
mengembangkan usaha peranan keinginan mengembangkan usaha
Kontrol Perilaku terhadap keputusan mengembangkan usaha

10
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
METODE skala likert. Dengan rentang 1 – 5 dari sangat
tidak setuju hingga sangat setuju.
Penelitian ini secara umum menggunakan Target responden merupakan
pendekatan kuantitatif. Pengolahan data hasil masyarakat yang menjadi mitra di Kecamatan
penelitian menggunakan statistik dengan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa
pendekatan statistik inferensial sesuai dengan Barat dengan jumlah responden 87 mitra.
tujuan, rancangan, dan sifat penelitian yang Penelitian akan fokus pada desa-desa yang
akan dilakukan. Peneliti menggunakan menjadi tempat tinggal para mitra. Secara
kuesioner untuk mendukung penelitian ini. umum kriteria responden adalah sebagai
Kuesioner tersebut akan didesain berdasarkan berikut.

Tabel 1. Variabel dan Kriteria Responden


Variabel Kriteria Utama
Usia Usia produktif
Jenis Kelamin Pria dan Wanita
Pendidikan Semua tingkat pendidikan
Jenis usaha Semua jenis usaha
Skala usaha Mikro dan usaha kecil
Lokasi Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat

Kajian penelitian ini menggunakan alat bantu


Partial Least Square (PLS). PLS sangat
membantu ketika jumlah sampel atau
responden yang relatif terbatas. Selain itu,
beberapa keunggulan lain dari PLS menjadi
dasar kami menggunakan alat bantu ini, yaitu
dapat digunakan untuk semua skala
pengukuran, tidak memerlukan persyaratan
HASIL & PEMBAHASAN distribusi tertentu, dapat dipergunakan pada
model pengukuran reflektif dan formatif, dan
digunakan pada model yang kompleks.

11
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Gambar 8. Diagram Analisis Keluaran PLS

Hasil kajian menunjukkan bahwa values dimana syarat mempunyai hubungan


hampir semua indikator menunjukkan validitas signifikan adalah p-values < 0,05. Dengan kata
yang tinggi. Syarat validitas yang tinggi dengan lain, PPKM Universitas Prasetiya Mulya
kriteria signifikasi 5% adalah 1,96. Hanya mampu berkontribusi positif terhadap
variabel norma terhadap niat memiliki kendala. komitmen pengembangan usaha mikro di
Selain itu, untuk menyatakan adanya hubungan Kecamatan Cibeber.
signifikan antar variable dapat menggunakan p-

Tabel 2. Tabel Analisis Keluaran PLS – Path Coefficient


Koefisien Sample Koefisien Sample t-statistics
p-values
(O) (M) (IO/STERRI)
sikap -> niat 0.485 0.486 6.567 0.000
norma -> niat 0.300 0.235 1.622 0.105
niat -> perilaku 0.598 0.621 9.976 0.000
kontrol -> niat 0.274 0.291 3.087 0.002

Dari Tabel 2 juga dapat diketahui adanya memberikan penekanan pada aspek sikap dan
perbandingan tarik menarik antar satu variabel kontrol perilaku secara positif. PPKM
dengan variabel lainnya. Hubungan antara niat membantu memperkaya wawasan kepada mitra
dengan perilaku menjadi hubungan yang paling bahwa menjadi mengembangkan usaha yang
kuat dibandingkan dengan keterkaitan antar ada saat ini akan memberikan manfaat baik saat
variable lainnya. Artinya, PPKM yang ini dan masa yang akan datang. Lebih jauh,
dikembangkan mampu menjadi penggerak para program tersebut juga mampu mereduksi
pengusaha mikro untuk merealisasikan persepsi kesulitan dalam mengembangkan
pengembangan usaha tidak hanya sebatas usaha dan mengembangkan tindakan antisipatif
keinginan. Selain itu, PPKM mampu halangan yang muncul.
12
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Tabel 3. Tabel Analisis Keluaran PLS – Total Effect
Koefisien Sample Koefisien Sample t-statistics
p-values
(O) (M) (IO/STERRI)
sikap -> perilaku 0.290 0.057 5.056 0.000
sikap -> niat 0.485 0.074 6.567 0.000
norma -> perilaku 0.180 0.117 1.538 0.125
norma -> niat 0.300 0.185 1.622 0.105
niat -> perilaku 0.598 0.060 9.976 0.000
kontrol -> perilaku 0.164 0.056 2.909 0.004
kontrol -> niat 0.274 0.089 3.087 0.002

Tabel 3 menggambarkan gabungan antara Hasil Kajian Berdasarkan Latar Belakang


variabel yang tidak memiliki keterkaitan Mitra
langsung dengan varibel lainnya. Variabel Usia
sikap mampu berkontribusi positif terhadap PPKM memberikan dampak yang
keputusan mengembangkan usaha. Hal ini bervariasi jika dilihat dari variabel umur.
ditunjukkan oleh nilai t-statistik dan nilai PPKM berpengaruh signifikan pada hubungan
koefisien yang muncul meskipun nilai antara niat terhadap perilaku dan kontrol
koefisien < 0,5. Sama halnya dengan kontrol terhadap niat. Sedangkan PPKM tidak
perilaku yang juga mampu memberikan berpengaruh signifikan terhadap hubungan
dampak positif terhadap keputusan antara norma terhadap niat dan sikap terhadap
mengembangkan mengembangkan usaha. niat khususnya pada usia lebih dari ≥ 40.
Namun bagi norma subjektif justru Dengan kata lain pengaruh PPKM terhadap
berkebalikan, kontribusi dan keterkaitan para mitra cukup bervariasi tergantung dari usia
hubungan dengan keputusan mengembangkan mitra. Namun terjadi hubungan paling kuat
usaha tidak signifikan. pada variabel niat terhadap perilaku dan kontrol
terhadap niat.

Tabel 4. Tabel Analisis Keluaran PLS – Variabel Usia


koefisien t-statistic p-values
Usia
< 40 ≥ 40 < 40 ≥ 40 < 40 ≥ 40
kontrol --> niat 0.298 0.366 2.750 1.055 0.006 0.292
niat --> perilaku 0.582 0.640 6.585 8.821 0.000 0.000
norma --> niat 0.474 0.242 1.051 1.588 0.294 0.113
sikap --> niat 0.290 0.527 2.567 3.800 0.011 0.000

13
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
.

Pendidikan menggunakan latar belakang umur, PPKM


Hasil uji dengan menggunakan variabel justru tidak berpengaruh signifikan terhadap
pendidikan konsisten dengan hasil uji variabel hubungan antara norma terhadap niat dan sikap
umur. Adanya PPKM mampu memberikan terhadap niat khususnya pada mitra dengan
pengaruh signifikan pada hubungan variabel pendidikan sekolah dasar. Hubungan paling
niat terhadap perilaku dan sikap terhadap niat. kuat tetap terjadi pada variabel niat terhadap
Sama halnya degan kajian dengan perilaku dan sikap terhadap niat.

Tabel 5. Tabel Analisis Keluaran PLS – Variabel Pendidikan


koefisien t-statistic p-values
Pendidikan
SD > SD SD > SD SD > SD
kontrol --> niat 0.314 0.233 1.247 2.320 0.213 0.021
niat --> perilaku 0.651 0.592 4.472 7.743 0.000 0.000
norma --> niat 0.338 0.293 1.801 1.039 0.072 0.299
sikap --> niat 0.416 0.542 2.806 5.144 0.005 0.000

Jenis Kelamin dan sikap terhadap niat. Disisi lain, PPKM


Variabel jenis kelamin juga justru tidak berpengaruh signifikan terhadap
memberikan hasil uji yang juga konsisten hubungan antara norma terhadap niat dan sikap
dengan hasil uji berdasarkan latar belakang terhadap niat khususnya pada mitra yang
mitra sebelumnya, usia dan tingkat pendidikan. berjenis kelamin pria. Secara konsisten,
PPKM memberikan pengaruh yang signifikan hubungan paling kuat terjadi pada variabel niat
pada hubungan variabel niat terhadap perilaku terhadap perilaku dan sikap terhadap niat.

Tabel 6. Tabel Analisis Keluaran PLS – Jenis Kelamin

14
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
koefisien t-statistic p-values
Jenis Kelamin
Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita
kontrol --> niat 0.250 0.270 0.900 2.440 0.370 0.010
niat --> perilaku 0.610 0.620 5.450 8.310 0.000 0.000
norma --> niat 0.260 0.270 1.080 1.200 0.280 0.230
sikap --> niat 0.500 0.470 3.340 4.520 0.000 0.000

Hasil penelitan yang kemukakan latar belakang mitra menghasilkan keluaran


penelitian masih bersifat sementara karena yang relatif sama dengan hasil kajian
beberapa keterbatasan. Keterbatasan yang umumnya. PPKM mampu berkontribusi positif
dialami oleh peneliti adalah proses PPKM terhadap variabel sikap terhadap niat dan juga
masih belum selesai atau sedang berjalan niat terhadap perilaku. Kondisi ini cenderung
sehingga kajian yang dilakukan juga masih konsisten dengan kajian sebelumnya yang juga
sementara. menyatakan adanya hubungan yang signifikan
dari kedua variabel yang saling berhubungan
SIMPULAN tersebut. Perbedaannya hanya pada hubungan
pada variabel kontrol perilaku terhadap niat
PPKM secara umum memberikan dampak dimana menghasilkan keluaran yang cenderung
positif bagi pengembangan usaha mikro. Hal bervariasi.
ini sejalan dengan kajian-kajian yang dilakukan Pada aspek sikap (attitude toward
sebelumnya (Bird, 1988); (Katz & Gartner, behavior), PPKM membantu memperkaya
1988)). Hubungan antara variabel niat dengan wawasan mitra bahwa mengembangkan usaha
perilaku memiliki hubungan yang paling kuat akan memberikan manfaat baik saat ini
dibandingkan dengan hubungan antar variabel maupun pada masa yang akan datang.
lainnya. Namun sebaliknya variabel norma Sementara itu, pada aspek kontrol perilaku
terhadap niat merupakan variabel dengan (perceived behavioral control), PPKM mampu
hubungan paling lemah. Kondisi ini dijelaskan mereduksi persepsi kesulitan berbisnis dan
dengan nilai t-statistic yang terletak diantara - sekaligus meningkatkan keinginan mitra untuk
1,96 < t < 1,96 dan juga memiliki p-values > mengembangkan usaha. Namun pada aspek
0,05. Selain itu, PPKM lebih mampu norma subjektif (subjective norm), perilaku
memberikan gambaran positif terhadap faktor- mitra untuk mengembangkan usaha cenderung
faktor yang berpengaruh terhadap keinginan tidak dipengaruhi oleh pihak luar (misalnya
mengembangkan usaha dari sisi internal atau keluarga).
diri mitra. Penelitian ini dapat memberikan banyak
Kajian PPKM terhadap komitmen manfaat bagi institusi dan peneliti. Bagi
pengembangan usaha mikro jika ditelaah dari institusi, penelitian ini dapat memberikan
15
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
gambaran bahwa model PPKM yang berjalan yang didapatkan berpotensi bias sehingga tidak
saat ini dinilai cukup efektif dalam membantu dapat disimpulkan secara langsung bahwa
mengembangkan usaha mikro. Sedangkan bagi model ini akan dapat berlaku efektif dimana
peneliti, model PPKM harus terus menerus saja. Kedua, sampel yang digunakan masih
melakukan perbaikan guna mendapatkan hasil sangat terbatas sehingga cenderung menekan
yang lebih efektif dibandingkan sebelumnya. konsistensi dan validitas data yang dimiliki.
Bagi pemerintah model ini dapat dijadikan Ketiga, hasil penelitian ini masih bersifat
acuan untuk mengembangkan program serupa. sementara karena proses pendampingan
Disamping itu, model ini juga dapat dijadikan mahasiswa dengan mitra belum selesai.
alat bantu untuk merealisasikan dana desa yang Kedepan, penelitian ini akan dikembangkan
sedianya ditujuan untuk menggerakkan pada penelitian serupa dengan variasi daerah
ekonomi masyarakat desa seperti kajian yang tujuan program, responden yang lebih banyak,
dilakukan oleh Pratama (2012). dan proses pendampingan mitra yang sudah
Penelitian ini masih memiliki selesai. Harapannya akan didapatkan hasil yang
keterbatasan. Pertama, penelitian ini hanya lebih baik.
dilakukan pada satu daerah saja sehingga hasil

an-Perundangan/Undang-
DAFTAR RUJUKAN Undang/undang-undang-nomor-6-
tahun-2014-4723.
Ajzen, I. (1991). The theory of planned
behavior. Organizational Behavior and
Damodaran, A. (2000). The Objective in
Human Decision Processes, 179-211.
Corporate Finance. New York: Stern
School of Business.
Ajzen, I., & Fishbein, M. (1980).
Understanding attitude and predicting
Delmar, F. (1996). Entrepreneurial Behavior
social behavior. Englewood Cliffs, NJ:
and Business Performance. Stockholm:
Prentice-Hall.
Stockholm School of Economics.

Ajzen, I., & Fishbein, M. (2000). Attitudes and


Fayolle, A., Gailly, B., & Lassas-Clerc, N.
the attitude-behavior relation: Reasoned
(2006). Assesing the Impact of
and automatic processes. In W. Stroebe
Entrepreneurship Education
& M. Hewstone (Eds.). European
Programmes: A New Methodology.
Review of Social Psychology , 1-33.
Journal of European Industrial
Training, 710-720.
Bird, B. (1988). Implementing Entrepreneurial
Ideas: The Case for Intention. Academy
Ghazali, Z., Ibrahim, N. A., & Zainol, F. A.
of Management Review, 13, 442–453.
(2013). Factors Affecting
Entrepreneurial Intention among
BPN. (2014). Undang-Undang Nomor 6 Tahun UniSZA Students. Asian Social Science
2014. Dipetik March 30, 2016, dari Vol 9, No 1.
www.bpn.go.id:
http://www.bpn.go.id/Publikasi/Peratur
16
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Harinaldi. (2005). Prinsip-prinsip statistik Meyer, J. P., & Herscovitch, L. (2001).
untuk teknik dan sains. Jakarta: Commitment in the workplace: Toward
Erlangga. a general model. Human Resources
Management Review, 299-326.
Haryanto, J. T. (2014). Manfaat Bijak Dana
Desa. Artikel Kementerian Keuangan Njeje, D. (2015). factors affecting
Republik Indonesia. entrepreneurship education and its
effect on entrepreneurial intentions in
public universities in kenya. Meru:
Kanfer, J. (1991). Motivation theory and
Kenya Methodist University.
industrial and organisational
psychology. Dalam M. D. Hough,
Handbook of industrial and Pratama, A. (2012, Juli 13). Community
organisational psychology (hal. 75- Development Berbasis Empowerment
170). Palo Alto: Consulting Sebagai Strategi Penanggulangan
Psychologists Press In. Kemiskinan Dalam Rangka Percepatan
Pencapaian MDGs 2015. Seminar
Nasional Demokrasi dan Masyarakat
Katz, J., & Gartner, W. (1988). Properties of
Madani .
emerging organizations. Academy of
Management, 13, 429–441.
Rasli, A., Khan, S. R., Malekifar, S., & Jabeen,
S. (2013). Factors Affecting
Krueger, N. F., & Carsrud, A. (1993).
Entrepreneurial Inclination Among
Entrepreneurial Intentions: Applying
Graduate Students of Universiti
the Theory of Planned Behavior.
Teknologi Malaysia. International
Entrepreneurship and Regional
Journal of Business and Social
Development, 315-330.
Science,Vol. 4, (2), 182-188.

Lerchundi, I. P., Alonso, G. M., & Vargas, A.


M. (2014). Does family matter? A study
of parents’ influence on the UGM. (2015, Desember 10). Kuliah Kerja
entrepreneurial intention of technical Nyata Pembelajaran Pemberdayaan
degrees students in Spain. Madrid: Masyarakat Universitas Gadjah Mada
Instituto de Ciencias de la Educación (KKN-PPM UGM) sebagai Kegiatan
(ICE) Universidad Politécnica de Unggulan Bidang Pengabdian kepada
Madrid. Masyarakat. Artikel Universitas Gadjah
Mada.

17
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Entrepreneur Laboratory SEC USU (From Lab To Market)
Sebagai Model Sistem Pemasaran Produk
Wirausaha Mahasiswa

Buchari
Ismayadi
Rosdanelli Hasibuan
Arif Qaedi Hutagalung
Universitas Sumatra Utara
Email :ibossanti@yahoo.com, ismay75@yahoo.com, rosdanelli@yahoo.com,
Arifqd24@yahoo.com

Abstrak : Entrepreneur Laboratory (E-Lab) merupakan sarana pengembangan dari


Student Entrepreneurship Center Universitas Sumatera Utara (SEC USU) sebagai
tempat mahasiswa binaan SEC USU melakukan uji pemasaran produk dan lokasi
promosi produk usaha. Konsep pengembangan pemasaran mahasiswa binaan SEC-
USU dilakukan dengan berbasiskan keilmuan yang dapat dikembangkan menjadi
produk wirausaha (Knowledge base Entrepreneur) atau dari laboratorium ke pasar
(from lab to market). E-Lab SEC-USU dikembangkan sebagai Laboratorium Uji
Pemasaran Produk Mahasiswa (Market Test), Laboratorium Uji Pemasaran Produk
hasil laboratorium (from lab to market), Tempat interaksi dan pengembangan sistem
pemasaran produk, dan Tempat sharing informasi produk. Produk mahasiswa yang
dihasilkan lalu dilakukan uji pemasaran di E-Lab, selanjutnya produk tersebut
dilakukan pengujian sistem pemasaran yang sesuai dengan konsep produk dan akhirnya
dilakukan sharing informasi produk yang dapat menjadi konsep pengembangan produk
menjadi lebih baik dan diterima pasar.Konsep pemasaran dengan memanfaatkan
Entrepreneur Laboratory ini dapat menjadi pilihan suatu model pemasaran untuk
produk-produk yang masih baru dan menjadi sarana penelitian produk-produk kecil
khususnya yang dihasilkan mahasiswa sebelum memasuki pasar produk yang lebih
luas.

Kata Kunci: E-Lab SEC USU, from lab to market, produk mahasiswa

Negara Republik Indonesia merupakan Indonesia pada Agustus 2015 sebanyak


Negara berkembang dengan memiliki 122,4 juta orang, jumlah tersebut berkurang
jumlah populasi penduduk mencapai lebih sebanyak 5,9 juta orang dibanding bulan
dari 260 juta jiwa. Jumlah penduduk ini Februari 2015 namun bertambah sebanyak
menyebabkan Persaingan dunia tenaga 510 ribu orang dibanding Agustus 2014.
kerja, berbanding terbalik dengan Jumlah Penduduk bekerja pada Agustus
ketersediaan lapangan pekerjaan yang 2015 sebanyak 114,8 juta orang, berkurang
jumlahnya semakin berkurang akibat sebanyak 6,0 juta orang dibandingkan bulan
moderenisasi sektor industri. Akibat Februari 2015 dan meningkat 190 ribu
moderenisasi ini membuat tingkat orang dibandingkan bulan Agustus 2014.
pengangguran di Indonesia masih Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
meningkat. Menurut data dari Badan Pusat Agustus 2015 sebesar 6,18 persen
Statistik (BPS) jumlah angkatan kerja meningkat dibanding TPT Februari 2015
18
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
(5,81 persen) dan TPT Agustus 2014 (5,94 berdiri sejak tahun 2013 dan di bangun
persen). bekerjasama dengan PT. Bank Mandiri
Selama setahun terakhir (Agustus 2014– (Persero) Tbk dan PT. Medco Energy.
Agustus 2015) kenaikan penyerapan tenaga Mahasiswa yang terlibat dalam program di
kerja terjadi terutama di Sektor Konstruksi Entrepreneur LaboratoryStudent
sebanyak 930 ribu orang (12,77 persen), Entrepreneurship Center Universitas
Sektor Perdagangan sebanyak 850 ribu Sumatera Utara (E-Lab SEC-USU) adalah
orang (3,42 persen), dan Sektor Keuangan mahasiswa binaan Student
sebanyak 240 ribu orang (7,92 persen). Entrepreneurship Center Universitas
Pada Agustus 2015, penduduk bekerja Sumatera Utara (SEC-USU) yang berasal
masih didominasi oleh mereka yang dari berbagai Fakultas yang ada di
berpendidikan SD ke bawah sebesar 44,27 Universitas Sumatera Utara dan masuk
persen, sementara penduduk bekerja dengan dalam Program Mahasiswa Wirausaha
pendidikan Sarjana ke atas hanya sebesar (PMW) Dikti dan USU.
8,33 persen (BPS, 2015). Jumlah usaha mahasiswa binaan SEC-
Data tersebut terlihat bahwa sektor USU dalam Program Mahasiswa Wirausaha
perdagangan penyerapannya naik sangat (PMW) Dikti dari tahun 2009-2015
sedikit (hanya 3,42%) dan penduduk mencapai 292 usaha. Dari jumlah tersebut
bekerja dengan pendidikan sarjaba hanya diharapkan sekitar 50% dapat terus
sebesar 8,33%. Dua data ini menunjukkan berkembang dan menjadi wirausaha handal.
bahwa minat dan jiwa wirausaha di Tahun 2009-2013, mahasiswa binaan masih
kalangan akademisi terutama mahasiswa melakukan pemasaran langsung ke
masih cukup rendah. Jumlah pengusaha masyarakat dengan membuat stand atau
Indonesia masih 1,3% dan dari jumlah tempat berusaha di sekitar tempat tinggal
tersebut masih didominasi dari kalangan atau di area tertentu. Perkembangan usaha
non-sarjana. Hal ini diakibatkan 80-90% mahasiswa tersebut ada yang baik dan ada
sarjana masih mengharapkan menjadi PNS yang menurun. Oleh karena itu, untuk
atau bekerja di perusahaan. meningkatkan omset pemasaran dari
Universitas Sumatera Utara melalui produk-produk mahasiswa tersebut, maka
Biro Kemahasiswaan dan Kealumnian pada tahun 2014 didirikan Entrepreneur
(BKK) memiliki unit kegiatan di bidang LaboratoryStudent Entrepreneurship
wirausaha yaitu Student Entrepreneurship Center Universitas Sumatera Utara (E-Lab
Center Universitas Sumatera Utara (SEC- SEC-USU). Fasilitas ini dapat me
USU). SEC-USU memiliki berbagai memperoleh omset dan dapat melakukan uji
program untuk meningkatkan minat coba pemasaran sebelum bersaing di
wirausaha mahasiswa sehingga setelah masyarakat. Hal ini dikarenakan lokasi
lulus sarjana dapat menjadi wirasuaha yang pemasaran yang di dalam areal kampus
handal. Salah satu program wirausaha yang memiliki konsumen relative tinggi
mahasiswa tersebut melalui uji pemasaran (jumlah mahasiwa USU sebanyak lebih
(market test) yang dilakukan di kurang 60.000 orang. Selain dari jumlah
Entrepreneur Laboratory Student konsumen, para pendamping bisnis dan
Entrepreneurship Center Universitas pelatih (coach) wirausaha yang tergabung
Sumatera Utara (E-Lab SEC-USU). dalam Tim Student Entrepreneurship
Entrepreneur LaboratoryStudent Center Universitas Sumatera Utara (SEC-
Entrepreneurship Center Universitas USU) dapat untuk mendampingi mahasiswa
Sumatera Utara (E-Lab SEC-USU) ini binaan secara langsung dan mahasiswa

19
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
dapat juga mengembangkan konsep-konsep kemampuan untuk membawa sesuatu yang
pemarasan ataupun inovasi wirausaha baru ke dalam kehidupan yang merupakan
lainnya. sumber yang penting dari kekuatan
Wirausaha persaingan, karena lingkungan cepat sekali
Menurut Hisrich & Peter (1998), berubah. Sementara itu Edward De Bono
kewirausahaan merupakan proses (dalam Mutis, 1995 dalam Muladi Wibowo,
menciptakan sesuatu yang baru dan 2011), antara lain mengatakan bahwa salah
mengambil segala risiko dan imbalannya satu faktor yang menentukan suksesnya
sedangkan wirausaha adalah seorang perusahaan adalah kemampuannya
innovator yaitu seseorang yang mengelola asset utamanya. Asset utama
mengembangkan sesuatu yang unik dan tersebut dapat berupa posisi pasar, orang-
berbeda. orang yang berkualitas, sistem distribusi,
Salim Siagian (1999) mendefinisikan kemampuan teknis (hak paten), merk, dan
kewirausahaan adalah semangat, perilaku, sebagainya (Siswadi Y, 2013).
dan kemampuan untuk memberikan Pemasaran
tanggapan yang positif terhadap peluang Marketing mix biasa disebut juga sebagai
memperoleh keuntungan untuk diri sendiri creation tactic dari perusahaan. Karena
dan atau pelayanan yang lebih baik pada marketing mix merupakan perwujudan
pelanggan/masyarakat; dengan selalu langsung dari differensiasi konten-konteks
berusaha mencari dan melayani langganan infrastruktur.Menurut Kartajaya (2006) ada
lebih banyak dan lebih baik, serta tiga macam penerapan marketing mix,
menciptakan dan menyediakan produk yang pertama, marketing mix yang bukannya
lebih bermanfaat dan menerapkan cara mendukung strategi pemasaran lain,tetapi
kerja yang lebih efisien, melalui keberanian malah merusaknya. Marketing mix jenis ini
mengambil resiko, kreativitas dan inovasi atau destructivemarketing mix selain tidak
serta kemampuan manajemen. membangun value, juga tidak
Jorillo-Mosi (dalam Mutis, 1995 dalam meningkatkan merk perusahaan sama
Muladi Wibowo, 2011) mendefinisikan sekali. Kedua, marketing mix yang
kewirausahaan sebagai seorang yang cenderung meniru taktik yang sudah
merasakan adanya peluang, mengejar digunakan oleh pesaing anda, marketing
peluang-peluang yang sesuai dengan situasi mix ini biasa disebut sebagai mee-too
dirinya, dan yang percaya bahwa marketing mix. Dan yang ketiga, marketing
kesuksesan merupakan suatu hal yang bisa mix yang mendukung strategi pemasaran
dicapai. Sedangkan Geoffrey G. Meredith lainnya. Marketing mix ini atau creative
et. Al (1992) mengatakan bahwa para marketing mix dapat menguatkan nilai
wirausaha adalah orang-orang yang perusahaan anda. Tentu marketing mix
mempunyai kemampuan melihat dan ketigalah yang harus diterapkan. Jika yang
menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan diterapkan adalah marketing mix kedua atau
sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna malah marketing mix pertama value yang
mengambil keuntungan daripadanya dan ada pada produk atau jasa anda bisa tidak
mengambil tindakan yang tepat guna sustainable. Jadi, marketing mix dapat
memastikan sukses. mengintegrasikan kekuatan produk,
Kesuksesan dari seorang wirausaha keunggulan harga, kemampuan saluran
selalu tidak terpisahkan dari kreativitas dan distribusi, dan dapat mengimplementasikan
inovasi. Inovasi tercipta karena adanya daya strategi promosi dalam memenangi
kreativitas yang tinggi. Kreativitas adalah persaingan.

20
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Strategi marketing mix dipakai oleh dari berbagai aspek seperti bidang produksi
semua orang/perusahaan maka perusahaan dan pengolahan, pemasaran,
harus creative dalam membuat taktik agar SDM,teknologi dan lain-lain (Anoraga,
produk/pesan yang ingin disampaikan oleh 2007).
perusahaan sampai dibenak konsumen, Pengembangan Pemasaran
tanpa adanya diferensiasi yang jelas, atau Pengembangan pasar adalah
jika hanya memikirkan 4P, produk anda memperkenalkan produk atau jasa saat ini
akan dianggap sama dengan produk ke wilayah geografis baru (David, 2009).
pesaing. Kalau hal itu terjadi, satu-satunya Strategipengembangan pasar dipilih untuk
senjata yang bisa dipakai bersaing adalah dijalankan denganpertimbangan dapat
harga (situmorang, 2015) dilakukannyapengkoordinasian, sehingga
Kim dan Mouborgne (2005) dalam akan dapat dicapai biaya pengorbanan yang
bukunya Blue Ocean Strategi menjelaskan lebih rendah dan resiko yang dihadapi lebih
untuk menghindari persaingan (kompetisi) kecil. Penekanan dari strategi ini adalah
yang akan berakibat merugikan dibutuhkan pada pemasaran produk yang sekarang
strategi samudra biru (blue ocean strategy) dijalankan, dengan pertimbangan telah
samudra biru ditandai oleh ruang pasar dimilikinya keahlian dan keterampilan
yang belum terjelajahi, penciptaan dalam pengoperasian baik untuk pelanggan
permintaan, dan peluang pertumbuhan yang yang ada, maupun untukpelanggan baru.
sangat menguntungkan. ketimbang dengan Dalam hal ini kegiatan yang ditingkatkan
cara memperluas batasan-batasan pasar adalah penambahan saluran distribusi dan
yang sudah ada, Dalam samudra biru, cabang perusahaan, serta mengubah dan
kompetisi tidak relevan karena aturan- meningkatkan program advertensi dan
aturan baru akan dibentuk. promosi. Pengembangan pasar adalah suatu
Pengembangan usaha keputusan stratejik dari suatu perusahaan
Pengembangan suatu usaha adalah atau korporasi ( Assauri, 2013). Keputusan
tanggung jawab darisetiap pengusaha atau stratejik itu diarahkan untuk dapat
wirausaha yang membutuhkan pandangan memanfaatkan peluang pasar bagi
kedepan,motivasi dan kreativitas. Jika hal pertumbuhan perusahaan secara
ini dapat dilakukan oleh setiap wirausaha, berkelanjutan.
maka besarlah harapan untuk dapat Konsep Retail Modern
menjadikan usaha yang semula kecil Menurut Ahyani, Andriawan, Ari (2010)
menjadi skala menengah bahkan menjadi menyatakan bahwa toko modern adalah
sebuah usaha besar. sebuah toko yang menjual macam-macam
Kegiatan bisnis dapat dimulai dari barang kebutuhan pokok yang lengkap.
merintis usaha (starting), membangun Toko modern ini menawarkan berbagai
kerjasama ataupun dengan membeli usaha produk yang terjamin kualitas dan
orang lain atau yang lebih dikenal dengan kuantitasnya. Tidak hanya itu, toko
franchising. modern ini juga menawarkan promosi-
Namun yang perlu diperhatikan adalah promosi harga barang baru dan diskon-
kemana arah bisnis tersebut akan dibawa. diskon yang menarik minat konsumen
Maka dari itu, dibutuhkan suatu untuk berbelanja di toko tersebut. Suasana
pengembangan dalam memperluaskan dan penataan toko modern ini tergolong sangat
mempertahankan bisnis tersebut agar dapat baik yang tersusun rapi dan bersih. Toko
berjalan dengan baik. Untuk melaksanakan modern ini memiliki tingkat pelayanan
pengembangan bisnis dibutuhkan dukungan lebih baik dari pada toko-toko lainnya.

21
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Disamping itu toko modern inimempunyai berhasil dikembangkan Student
fasilitas-fasilitas yang membuat nyaman Entrepreneurship Center (SEC) yang
konsumen seperti AC dan Musik yang mulai dirintis sejak April 2008.
membuat konsumen betah berbelanja di Pembentukan unit dan pengangkatan TIM
toko tersebut. SEC pada Universitas Sumatera Utara
sesuai dengan Keputusan Rektor USU
HASIL & PEMBAHASAN Nomor:1196/H5.1.R/SK/KMS/SDM/2009.
Entrepreneur Laboratory Student
Student Entrepreneurship Center Entrepreneurship Centre Universitas
Universitas Sumatera Utara (SEC-USU) Sumatera Utara ( E-Lab SEC USU)
Beberapa hal yang menjadi dasar pemikiran Entrepreneur Laboratory (E-Lab)
dikembangkannya Student merupakan sarana pengembangan dari
Entrepreneurship Center (SEC) adalah Student Entrepreneur Center Universitas
bahwa Universitas Sumatera Utara (USU) Sumatera Utara (SEC-USU) sebagai tempat
secara nyata ingin mewujudkan bahwa mahasiswa binaan melakukan uji
lulusan yang dihasilkannya dengan pemasaran produk dan lokasi promosi
keilmuan yang dimiliki dapat mampu produk usaha. Konsep pengembangan
berwirausaha, sehingga dapat membuat pemasaran mahasiswa binaan SEC-USU
dirinya mandiri dan membantu membuka dilakukan dengan berbasiskan keilmuan
lapangan pekerjaan pada masyarakat di yang dapat dikembangkan menjadi produk
sekitarnya. USU sebagai Perguruan Tinggi wirausaha (Knowledge base Entrepreneur)
yang memiliki 14 (empat belas) Fakultas atau dari laboratorium ke pasar (from lab to
dengan berbagai disiplin kelimuan dan market). E-Lab SEC-USU dikembangkan
berbagai kompetensi yang dimilikinya sebagai Laboratorium Uji Pemasaran
sudah tentu ingin menghasilkan lulusan Produk Mahasiswa (Market Test),
dengan jiwa Entrepreneurship, maka SEC Laboratorium Uji Pemasaran Produk hasil
sudah mulai mengembangkan kerjasama laboratorium (from lab to market), tempat
antara multi disiplin keilmuan tersebut. interaksi dan pengembangan sistem
Universitas Sumatera Utara (USU), pemasaran produk, dan tempat sharing
dengan semangat Tri Dharma Perguruan informasi produk.
Tinggi dengan visi University for Industry Kegiatan E-Lab SEC USU
untuk mewujudkan lulusan sarjana yang Entrepreneur Laboratory Student
berwawasan wirausaha dan memiliki Entrepreneurship Center Universitas
keselarasan dengan dunia kerja. Bentuk Sumatera Utara (E-Lab SEC-USU)
kesungguhan ini dapat dilihat pada awal memiliki berbagai program yaitu:
tahun 2008, Pembantu Rektor Bidang 1. Program Pendampingan Bisnis,
Kemahasiswaan dan Kealumnian dan BKK Mentoring dan Pelatihan di Training
USU telah mengirim 5 (lima) orang staf Center yang terintegrasi dengan E-
pengajar yang bernaung di Unit Bina Lab.
Kokurikuler saHIVa (UBK saHIVa) USU 2. Laboratorium Uji Pemasaran
untuk melakukan studi banding ke 5 Produk Mahasiswa (Market Test)
universitas di Malaysia. Secara khusus, Binaan SEC-USU
penekanan studi banding/benchmarking 3. Laboratorium Uji Pemasaran
tersebut adalah dalam hal pembinaan Produk hasil laboratorium (from lab
kewirausahaan pada mahasiswa. to market)
Berdasarkan hasil kunjungan tersebut maka

22
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
4. Tempat interaksi dan
pengembangan sistem pemasaran
produk
5. Tempat sharing informasi produk

Gambar 4. Bagan Alur Proses Coaching

Gambar 1. Konsep E-Lab SEC USU

Gambar 5. Bagan Alur Proses Training


Center

Gambar 2. E-Lab SEC-USU

Gambar 6. Training Center SEC USU


diresmikan oleh Direktur Risk Management
PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk

Gambar 3. Bagan Alur Proses E-Lab

23
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Gambar 8. Perkembangan Usaha di E-Lab
SEC USU

Pengembangan E-Lab SEC USU


Gedung Entrepreneur LaboratoryStudent
Entrepreneurship Center Universitas
Sumatera Utara (E-Lab SEC-USU)
sebelumnya bernama Galeri Wirausaha
yang hanya terdiri dari ruangan kosong dan
diisi oleh kegiatan expo wirausaha
mahasiswa secara insidentil dan beum
terorganisir dengan baik. Pada tahun 2014,
Gambar 7. Ruangan Training Center SEC Student Entrepreneurship Center
USU Universitas Sumatera Utara (SEC-USU)
mengembangkan konsep Entrepreneur
Peserta E-Lab SEC USU Laboratory Student Entrepreneurship
Peserta kegiatan Entrepreneur Laboratory Center Universitas Sumatera Utara (E-Lab
Student Entrepreneurship Center SEC-USU) yang didesain dengan
Universitas Sumatera Utara (E-Lab SEC-
menggunakan stand yang seragam dan
USU) ini berasal dari mahasiswa binaan memiliki booth-booth yang lebih baik dan
SEC-USU dari berbagai fakultas di memiliki daya tarik bagi pembeli serta
Universitas Sumatera Utara. Dari tabel memiliki 2 (dua) pintu akses yang luas
1 dibawah dapat dilihat wirausaha sehingga memudahkan pengunjung untuk
mahasiswa yang telah mengikuti proses di masuk dan keluar E-Lab dengan lancar.
Entrepreneur Laboratory Student Entrepreneur Laboratory Student
Entrepreneurship Center Universitas Entrepreneurship Center Universitas
Sumatera Utara (E-Lab SEC-USU). Sumatera Utara (E-Lab SEC-USU)
dilengkapi dengan sarana prasarana yang
Tabel 1. Jumlah Peserta Usaha Mahasiswa mendukung konsumen merasa lebih
nyaman. Fasilitas yang dimiliki
Entrepreneur Laboratory Student
No Tahun Jumlah Entrepreneurship Center Universitas
1 2013 6 Sumatera Utara (E-Lab SEC-USU) antara
2 2014 9 lain:
3 2015 13

1. Booth Stand menarik dengan jumlah


6 (enam) stand
2. Mini Bar yang terintegrasi lengkap
dengan meja dan kursi bagi
konsumen.
3. Televisi dan Sarana Audio lengkap
dengan speakernya.
4. Konsep pembayaran dengan sistem
mesin kasir.
5. Kipas Angin.

24
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
6. Genset.
7. Kamar mandi/wc yang berada di
samping E-Lab.

Gambar 13. Desain Booth E-Lab SEC USU


(3)

Gambar 9. Denah E-Lab SEC USU

Gambar 14. Desain Mini Bar E-Lab SEC


USU

Gambar 10. Layout E-Lab SEC-USU

Gambar 15. Booth Stand E-Lab SEC USU

Gambar 11. Desain Booth E-Lab SEC USU


(1)

Gambar 16. Sarana Prasarana E-Lab SEC


USU (Mini Bar)

Gambar 12. Desain Booth E-Lab SEC USU


(2)
25
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Gambar 17. Pengunjung Mini Bar E-Lab
SEC USU
Gambar 19 Pengunjung Teras Food E-Lab
SEC USU Tahun 2016
Pada tahun 2016, Entrepreneur
Laboratory Student Entrepreneurship
Center Universitas Sumatera Utara (E-Lab
SEC-USU) dilakukan pengembangan
dengan menambah teras yang terintegrasi.
Hal ini dilakukan dengan mengadopsi
konsep ritel modern dimana produk produk
Food dan Non Food harus di bedakan
letak/posisi di dalam konsep E-Lab SEC
USU. Teras wirausaha ini digunakan
dengan konsep pengenalan produk
mahasiswa lebih terbuka sehingga kesan Gambar 20. Stand Teras Food E-Lab SEC
dalam ruangan atau sempit menjadi hilang. USU Tahun 2016
Konsep ini dikembangkan terutama untuk
mahasiswa yang memiliki usaha di bidang
Boga seperti makanan ( Ayam Goreng,
Bakso Jamur, Vy Noodle,Roti bakar,
Origamie) dan minuman (susu sapi aneka
rasa, minuman botol, teh tarik dan lainnya).

Gambar 21 Kegiatan E-Lab SEC USU


Tahun 2016

Gambar 18. Denah baru E-Lab SEC USU


2016

Gambar 22 E-Lab SEC USU Tahun 2016

Hasil E-Lab SEC USU

26
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Dari E-Lab SEC-USU sejak tahun 2013- Bank Mandiri (Persero) Tbk di tahun
2015 telah menghasilkan beberapa 2015.
entrepreneur muda mahasiswa dan alumni 2. Juara Pertama Lomba Kewirausahaan
yang telah sukses dan berhasil di Indonesia Tingkat Nasional Dikti 2015.
masyarakat. Beberapa jenis usaha yang ada 3. Juara Pertama Pemuda Pelopor
di E-Lab SEC-USU: Nasional kategori Mahasiswa.
1. Produk Kreatif Selain meraih prestasi, produk-produk
2. Produk Inovasi hasil Penelitian inovasi hasil dari Entrepreneur Laboratory
3. Produk Boga ini juga telah di pamerkan pada Asean
4. Produk Industri Student Entrepreneurship Net work
Produk-produk tersebut sebelum (ASENet) di University Sains Malaysia
dilakukan pemasaran langsung ke (USM) Penang yang diikuti oleh
masyarakat dilakukan di Entrepreneur mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi se
LaboratoryStudent Entrepreneurship Asean dimana Student Entreprenurship
Center Universitas Sumatera Utara (E-Lab Center (SEC) USU adalah sebagai salah
SEC-USU) selama lebih kurang 1 tahun. satu Deklarator berdirinya ASENet
Setelah memiliki mental usaha yang baik, mewakili Indonesia.
para wirasuaha tersebut langsung dapat Inovasi dari produk kreatif yang masih
bersaing di masyarakat. terus berkembang adalah Usaha Mahasiswa
Dari keseluruhan produk yang telah DIGIPRO yang memiliki usaha digital
dibentuk dan dikembangkan dengan system printing dan desain kreatif. PT. Evindo
Entrepreneur Laboratory Student yang memproduksi Alat penghemat BBM
Entrepreneurship Center Universitas untuk sepeda motor dan mobil. Produk
Sumatera Utara (E-Lab SEC-USU) usaha makanan yang masih eksis seperti
ditambah dengan Program Training, Dorayaki Chan, Molen Arab, Raja Risol,
Mentoring, Coaching (Pendampingan dan lain lain.
Bisnis) yang efektif di Training Centre
SEC USU, saat ini sudah ada
wirausahawan mahaiswa yang telah SIMPULAN & SARAN
memiliki omset puluhan juta rupiah sampai
ratusan juta rupiah per tahun dan bahkan Konsep pemasaran dengan memanfaatkan
ada yang sudah mencapai omset milyaran Entrepreneur Laboratory ini dapat menjadi
rupiah dan memiliki Badan Hukum dan salah satu pilihan model pemasaran untuk
Pabrik/Industri. Salah satu produk inovasi produk-produk yang masih baru dan
laboratorium unggulan yang terbaru dari menjadi sarana penelitian produk-produk
proses Entrepreneur Laboratory Student inovasi, khususnya yang dihasilkan oleh
Entrepreneurship Center Universitas mahasiswa di Perguruan Tinggi sebelum
Sumatera Utara (E-Lab SEC-USU) ini memasuki pasar produk yang lebih luas.
adalah Kopi Gula Gita (KOLAGIT) yang Untuk itu disarankan agar pihak
telah menjadi suplemen pasien diabetes dan Perguruan TInggi untuk lebih proaktif dan
sudah melakukan uji pre klinis (saat ini mensuport kegiatan-kegiatan
sedang dalam proses perizinan dari kewirausahaan di kalangan mahasiswa
BPOM), telah memperoleh 3 (tiga) prestasi dengan memberikan sarana dan prasarana
nasional pada tahun 2015 yaitu: untuk pengembangan Program
1. Juara Pertama Kategori Industri Kewirausahaan Mahasiswa.
Program Wirausaha Muda Mandiri PT.

27
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
DAFTAR RUJUKAN Fred R. David, 2009,Manajemen Strategis.
Salemba Empat Jakarta .
Anoraga, Pandji, 2007. Pengantar bisnis.
Pengelolaan Bisnis Dalam Era Kotler dan Keller, 2007.
Globalisasi.Jakarta: Rieneka Cipta. ManajemenPemasaran,Edisi 12, Jilid 1,
PT.Indeks, Jakarta.
Assauri, Sofjan. 2013. Manajemen
Pemasaran. Jakarta:Rajawali Pers. Siswadi Yudi (2013), Analisis Faktor
Badan Pusat Statistik (2015), Agustus 2015: Internal, Faktor Eksternal Dan
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pembelajaran Kewirausahaan Yang
Sebesar 6,18 Persen, diupload tahun Mempengaruhi Minat Mahasiswa Dalam
2015. Berwirausaha, Jurnal Manajemen &
https://www.bps.go.id/Brs/view/id/1196 Bisnis Vol 13 No. 01 April 2013 ISSN
1693-7619.

28
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Membangun Kewirausahaan Lokal Madura Dalam Menghadapi Globalisasi

Muhammad Tambrin
Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Universitas Trunojoyo Madura
Email : pribanus@gmail.com

Abstrak : Kewirausahaan merupakan salah satu indikator untuk mendongkrak pertumbuhan


ekonomi di Madura, baik sektor mikro maupun makro. Membangun kewirausahaan mutlak harus
dilakukan pasca Jembatan Suramadu dioperasikan supaya masyarakat Madura tidak hanya menjadi
penonton, namun ikut menjadi pelaku perekonomian dalam konteks industrialisasi.
Tulisan ini mencoba menyoroti persoalan bagaimana membangun kewirausahaan lokal di Madura,
dengan struktur pembahasan, meliputi:pendahuluan, definisi dan hakekat kewirausahaan, keterkaitan
UKM dan kewirausahaan, profil Madura, membangun kewirausahaan lokal di Madura, kendala dan
upaya pemberdayaan, agenda membangun kewirausahaan di Madura dan penutup.

Kata Kunci : Kewirausahaan Lokal, Madura, Globalisasi

Ahli manajemen, Peter Drucker dalam bukunya ada di Indonesia sudah mencapai 48,258 juta,
Innovation and Entrepreneurship (1985), atau 99,99% unit usaha dengan menyerap
menyatakan bahwa berdasar pengamatannya di tenaga kerja lebih kurang 96,3% dari jumlah
Amerika, disimpulkan bahwa telah terjadi tenaga kerja produktif yang tersedia.
pergeseran yang tidak dapat dielakkan dari Sedangkan sumbangannya terhadap PDB
masa ekonomi berbasis manajemen kepada mencapai 53,4%. Data tersebut
ekonomi kewirausahaan. Misalnya, dalam hal mengindikasikan bahwa pada dasarnya UKM
penyediaan lapangan kerja pencipta lapangan merupakan kelompok usaha yang memiliki
kerja yang lama, yaitu organisasi besar bahkan potensi besar untuk mengatasi masalah
mengurangi tenaga kerjanya. Sebaliknya, kemiskinan dan pengangguran.
organisasi baru berskala kecil dan menengah Sementara itu, pasca realisasi pembangunan
yang diwarnai oleh kewirausahaan ini menjadi Jembatan Suramadu (JS) maka diharapkan
penyedia lapangan kerja baru. tidak hanya sekadar menjadi jembatan manusia,
Jika bicara mengenai topik kewirausahaan pasti tetapi juga merupakan jembatan ekonomi.
tidak akan terlepas dengan peran sektor usaha Nantinya, eksistensi JS harus bisa berdampak
kecil dan mikro (UKM). Dalam kaitannya positif bagi pembangunan ekonomi Madura,
dengan UKM, sejarah telah menunjukkan termasuk bagi sektor UKM. Hal ini cukup
bahwa UKM di Indonesia tetap eksis dan justru beralasan karena sektor UKM telah menjadi
berkembang dengan adanya krisis ekonomi salah satu pilar penting dalam perekonomian
yang telah melanda negeri ini sejak tahun 1997, regional Madura dalam konteks industrialisasi.
bahkan telah menjadi katup penyelamat bagi Seyogyanya, gelombang industrialiasi yang
pemulihan ekonomi bangsa karena akan terjadi di Madura harus dijadikan sebagai
kemampuannya memberikan sumbangan yang peluang strategis sekaligus tantangan positif
cukup signifikan pada PDB maupun untuk meningkatkan kualitas dan
penyerapan tenaga kerja. Data BPS tahun 2006 pemberdayaan diri agar mampu memainkan
menginformasikan bahwa jumlah UKM yang peranan yang strategis di dalamnya. Akan
29
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
tetapi, tentu saja industrialisi menurut HAR Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi
Tilaar (1998) dalam Winarningsih (2006) wirausaha, dan entrepreneurship diterjemahkan
menuntut adanya masyarakat yang mempunyai menjadi kewirausahaan. (Kamus Manajemen).
keunggulan kompetitif dengan SDM mumpuni, Wirausaha (entepreneur) adalah mereka yang
dan kekuatan investasi modal intelektual serta mendirikan, mengelola, mengembangkan, dan
penguasaan masyarakat terhadap sarana melembagakan perusahaan miliknya sendiri.
informasi yang serba superhigh technology. Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap
Industrialisasi di Madura akan ditandai dengan orang yang mempunyai kemampuan normal,
maraknya kehidupan bisnis yang menjanjikan bisa menjadi wirausaha asal mau dan
di masa depan, sehingga dituntut adanya mempunyai kesempatan untuk belajar dan
kemampuan entrepreneurship yang baik. berusaha.
Untuk itu, masyarakat Madura harus menyadari Istilah kewirausahaan juga dipahami sebagai
kemampuannya untuk bersaing karena aktivitas proses mengerjakan sesuatu yang baru
dan pekerjaan dalam industrialiasi menuntut (creative), dan sesuatu yang berbeda
kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi (innovative) dan bermanfaat untuk memberikan
serta keterampilan (skill) khusus yang nilai lebih. Dari beberapa konsep yang ada
didukung jiwa kewirausahaan yang baik. terdapat 6 hakekat penting kewirausahaan
Tentunya, hal itu hanya dapat diraih dengan (Suryana, 2003 : 13), yaitu : Kewirausahaan
belajar keras dan menuntut ilmu pengetahuan adalah nilai yang diwujudkan dalam perilaku
(berpendidikan) setinggi mungkin. (Ustman, yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga
2009) penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil
Kewirausahaan merupakan salah satu indikator bisnis. (Ahmad Sanusi,1994), Kewirausahaan
dalam mendongkrak suatu pertumbuhan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang
ekonomi pada masyarakat Madura, baik sektor baru dan berbeda (ability to create the new and
mikro maupun makro. Membangun budaya different) (Drucker, 1959), Kewirausahaan
kewirausahaan harus terus dilakukan karena JS adalah proses penerapan kreativitas dan
sudah dioperasikan supaya masyarakat Madura keinovasian dalam memecahkan persoalan dan
tidak hanya menjadi penonton, namun ikut menemukan peluang untuk memperbaiki
menjadi pelaku sektor kewirausahaan. kehidupan usaha (Zimmerer 1996),
Terkait dengan upaya membangun Kewirausahaan adalah nilai yang diperlukan
kewirausahaan lokal maka eksistensi JS untuk memulai usaha (start up phase) dan
diharapkan juga bisa memberikan kontribusi perkembangan usaha (venture growth)
positif bagi sektor UKM di Madura. Untuk itu, (Soeharto Prawiro,1997), Kewirausahaan
kewirausahaan lokal harus diidentifikasi adalah proses dalam mengerjakan sesuatu yang
potensi dan kecenderungannya sebagai aset baru (creative), dan sesuatu yang berbeda
pembangun ekonomi Madura. Melalui kegiatan (inovative) yang bermanfaat memberi nilai
identifikasi diharapkan dapat dipetakan lebih, Kewirausahaan adalah usaha
keragaan potensi kewirausahaan dan kesiapan menciptakan nilai tambah dengan jalan
masyarakat sebagai pelaku dalam merespon mengkombinasikan sumber-sumber melalui
pengembangan industrialisasi di Madura. cara-cara baru dan berbeda untuk
Wirausaha diterjemahkan dari kata memenangkan persaingan.
entrepreneur. Dalam Bahasa Indonesia , pada Berdasarkan keenam konsep tersebut, secara
awalnya dikenal istilah wiraswasta yang ringkas kewirausahaan dapat didefinisikan
mempunyai arti berdiri di atas kekuatan sendiri. sebagai sesuatu kemampuan kreatif dan
30
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
inovatif (create new and different) yang berinovasi tanpa berhenti, karena dengan
dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses dan berkreasi dan berinovasi lah semua peluang
perjuangan untuk menciptakan nilai tambah dapat diperolehnya. Wirausaha adalah orang
barang dan jasa yang dilakukan dengan yang terampil memanfaatkan peluang dalam
keberanian untuk menghadapi risiko. mengembangkan usahanya untuk
Hakekat kewirausahaan menurut Peter F meningkatkan taraf kehidupannya.
Drucker (1994) adalah bahwa terminologi Pada hakekatnya semua orang adalah
kewirausahaan yang sama tentang wirausaha dalam arti mampu berdiri sendiri
kewirausahaan sampai sekarang belum ada. dalam menjalankan usahanya dan pekerjaannya
Umumnya memiliki hakikat yang hampir sama, guna mencapai tujuan pribadinya, keluarganya,
yaitu merujuk sifat, watak dan ciri-ciri yang masyarakat , bangsa dan negaranya, akan tetapi
melekat pada seseorang. Ciri yang melekat banyak diantara kita yang tidak berkarya dan
adalah : (a) Mempunyai kemauan keras; (b) berkarsa untuk mencapai prestasi yang lebih
Memiliki keinginan mewujudkan gagasan baik untuk masa depannya, dan seseorang
inovasi dalam usaha nyata; dan (c) Dapat menjadi tergantung pada orang lain, kelompok
mengembangkan usaha dengan jiwa tangguh. lain atau bahkan negara lain.
Pengertian kewirausahaan sebenarnya telah Prinsip dalam kewirausahaan adalah tangguh,
melekat pada ciri-cirinya di atas, dengan kreatif, inovatif, cerdas, mandiri, produktif,
contoh lainnya adalah setiap orang yang pandai berani menerima resiko, mampu memanfaatkan
meraih dan menciptakan peluang. Peluang- peluang, disiplin, mudah beradaptasi dengan
peluang tersebut diciptakan melalui penciptaan teknologi baru, terbuka, dan lainnya. Pada
nilai tambah barang atau jasa (usaha untuk prinsipnya seorang Wirausaha ialah seorang
hidup) dengan cara menerapkan ciri-ciri yang yang memiliki pribadi hebat, produktif, kreatif
melekat padanya. Wirausaha adalah seseorang dan melaksanakan kegiatan memiliki
yang bebas dan memiliki kemampuan untuk perencanaan dan dimulai dengan ide sendiri
hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan kemudian mengembangkan kegiatannya
usahanya atau bisnisnya atau hidupnya. Ia dengan menggunakan tenaga orang lain serta
bebas merancang, menentukan mengelola, selalu berpegang pada nilai-nilai disiplin dan
mengendalikan semua usahanya. kejujuran tinggi.
Kewirausahaan mengandung suatu sikap, jiwa
dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu Keterkaitan UKM dan Kewirausahaan
yang baru yang sangat bernilai dan berguna
bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan Sejak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia
merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu pada pertengahan tahun 1997, sektor UKM
aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarsa telah menunjukkan peran yang sangat penting
dan bersahaja dalam berusaha dalam rangka dalam menggerakkan ekonomi baik dalam
meningkatkan pendapatan dalam kegiatan lingkup nasional maupun daerah. Sejalan
usahanya atau kiprahnya. dengan itu, perhatian pemerintah baik
Seorang yang memiliki jiwa dan sikap pemerintah pusat maupun daerah terhadap
wirausaha selalu tidak puas dengan apa yang sektor UKM pun dari waktu ke waktu semakin
telah dicapainya. Dari waktu ke waktu, hari besar.
demi hari, minggu demi minggu selalu mencari Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari
peluang untuk meningkatkan usaha dan negara berkembang belakangan ini memandang
kehidupannya. Ia selalu berkreasi dan penting keberadaan UKM (Berry, dkk, 2001).
31
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Alasan pertama adalah karena kinerja UKM besar memanfaatkan sumber daya lokal,
cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan Sumber pendanaan kegiatan UKM tidak hanya
tenaga kerja yang produktif. Kedua, sebagai mengandalkan pendanaan dari perbankan.
bagian dari dinamikanya, UKM sering
mencapai peningkatan produktivitasnya HASIL & PEMBAHASAN
melalui investasi dan perubahan teknologi.
Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa Profil Madura
UKM memiliki keunggulan dalam hal
fleksibilitas ketimbang usaha besar. Kuncoro Keadaan ekonomi menunjukkan bahwa kendati
(2000) juga menyebutkan bahwa usaha kecil tanah tak subur, penduduk Madura paling
dan usaha rumah tangga di Indonesia telah banyak bekerja di sektor pertanian (63,60%).
memainkan peran penting dalam menyerap Setelah itu disusul sektor perdagangan
tenaga kerja, meningkatkan jumlah unit usaha (11,10%), industri (9,40%), dan jasa
dan mendukung pendapatan rumah tangga. kemasyarakatan (7,60%). Rendahnya
UKM memiliki peran penting lainnya bagi partisipasi angkatan kerja di sektor industri
masyarakat di tengah krisis ekonomi. Dengan adalah akibat terbatasnya industri di Madura.
memupuk UKM diyakini pula akan dapat Untuk pertanian, sebagian besar adalah
dicapai pemulihan ekonomi (Kompas. pertanian lahan kering yang sangat bergantung
14/12/2001). Hal serupa juga berlaku bagi musim. Berhubung tidak ada alternatif lain,
sektor informal. Usaha kecil sendiri pada mereka yang ingin bekerja terpaksa memilih
dasarnya sebagian besar bersifat informal dan sektor ini.
karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh Pembangunan fisik di Madura masih sangat
pelaku-pelaku usaha yang baru. Pendapat terbatas. Sedangkan sektor pengangkutan dan
mengenai peran UKM atau sektor informal perhubungan, hanya sekitar 2,60% yang
tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan bekerja di sektor ini. Karena faktor
dengan perannya dalam meminimalkan keterbatasan alam dan kesempatan tersebut
dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya tenaga kerja yang tidak tertampung di Madura
persoalan pengangguran dan hilangnya bermigrasi ke luar pulau. Itulah sebabnya
penghasilan masyarakat. tingkat mobilitas orang-orang Madura cukup
Pengembangan UKM merupakan upaya yang tinggi.
sangat penting dan strategis dalam upaya Sedangkan, kondisi sosial menunjukkan bahwa
pemulihan ekonomi, mengingat jumlah UKM masyarakat Madura yang bermigrasi umumnya
yang mencapai 40 juta serta penyerapan tenaga tidak punya ketrampilan untuk berkompetisi di
kerja yang mencapai 88 % dari jumlah tenaga perkotaan. Mereka memilih sektor informal
kerja di Indonesia. Terlebih lagi dalam kondisi yang tidak memerlukan persyaratan, seperti
krisis bangsa Indonesia yang masih berjualan sebagai pedagang kaki lima (PKL).
berkepanjangan sampai saat ini, justru UKM Untungnya, orang Madura mempnyai etos kerja
lebih resisten. yang bagus. Asal mendapat pekerjaan yang
Keandalan UKM dalam menghadapi krisis cocok maka orang Madura akan memanfaatkan
ekonomi saat ini disebabkan oleh beberapa tiap peluangnya. Sayangnya, mereka tidak
faktor antara lain : Karakteristik usaha UKM punya pengetahuan dan ketrampilan yang
cenderung pada spesialisasi produk (hal ini cukup melakukan aktivitas ekonomi. Jadi,
merupakan kebalikan dari prinsip dalam memilih kegiatan, masih belum banyak
konglomerasi), Faktor produksi UKM sebagian dibekali pertimbangan-pertimbangan
32
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
ekonomis. Pilihan wirausaha yang seperti ini akses mendapatkan proyek dan bahan-baku
berpendirian bahwa asal bisa mendapatkan untuk dibisniskan.
uang halal dengan usaha tanpa tergantung Campur tangan pemerintah memang signifikan
kepada siapa pun maka hal tersebut sudah dibutuhkan oleh UKM. Hasil penelitian
bagus. Karena itu, mereka tidak mau terikat Rachmat Hidayat,dkk (2009) terkait dengan
dengan aturan-aturan kepegawaian. Mereka kinerja tata kelola pembinaan industri kecil
lebih suka bekerja sendiri tanpa bekerja dengan menengah (IKM) yang dilakukan melalui
upah mingguan. bantuan BUMN dan pemberian kredit kepada
Solidaritas di kalangan orang Madura sangat IKM menunjukkan bahwa Bantuan BUMN
tinggi. Mereka yang berhasil di Jawa atau berpengaruh terhadap kinerja IKM sehingga
tempat lainnya selalu mengajak saudara dan peran BUMN sebagai salah satu agent of
teman-temannya melakukan aktivitas bersama- development yang ditugaskan pemerintah pada
sama. Mereka yang dibesarkan di pulau hakekatnya mempunyai peran strategis.
Madura sebagian besar pernah mendapatkan Bantuan BUMN yang telah diberikan kepada
sentuhan kyai, baik di pondok-pondok IKM benar-benar telah dimanfaatkan dan
pesantren ataupun di tempat pengajian. Karena digunakan untuk meningkatkan kemampuan
itu, umumnya mereka tidak dapat dipisahkan usaha.
dengan kewajiban-kewajiban ritual dalam Bantuan BUMN sangat bermanfaat dalam
hidupnya. Sosok kyai dianggap penting karena rangka peningkatan kewirausahaan guna
Kyai telah memberikan bekal untuk kehidupan menunjang kinerja IKM di Madura. Kredit
mereka saat ini dan kelak di kemudian hari, perbankan yang telah diberikan atau disalurkan
bukan hanya semasa hidup di dunia, tetapi juga oleh perbankan dan telah diterima oleh IKM
kehidupan akhirat. kurang membawa perubahan kinerja yang lebih
Terkait dengan pendidikan kewirausahaan baik dan signifikan bagi IKM atau bahkan
belum ditangani secara serius, mengingat memperburuk kinerja IKM. Bantuan kredit
mayoritas rakyat Madura masih lemah dalam perbankan yang selama ini disalurkan hanya
berbisnis. Petani tak ditempatkan sebagai mampu memberikan pembelajaran bisnis
pengusaha, tapi ditempatkan sebagai buruh kepada IKM dalam meningkatkan kemampuan
yang berbuat sesuatu untuk pengusaha. kewirausahaan. Pelatihan dan pendidikan
Paradigma inilah yang harus segera diubah. kewirausahaan yang diberikan dan dilakukan
Petani harus menjadi pengusaha pertanian, oleh pemerintah melalui beberapa instansi
sehingga dapat duduk sejajar dengan para pemerintah tidak berhasil atau mengalami
tengkulak dan calon pembeli.Lingkupnya kegagalan. Pendidikan formal dan
adalah melakukan bisnis dengan petani, tersentralistik dalam pendidikan kewirausahaan
menyediakan kebutuhan pertanian dan membeli terbukti tidak dapat meningkatkan kinerja IKM
hasilnya secara proporsional. di Madura.
Bagi kalangan pedagang, pengusaha kecil dan Skenario pengembangan IKM di Madura
pengrajin disediakan informasi perdagangan dilakukan secara terintegrasi dan sinergi
dan kerangka penjaminan dengan pihak dengan pengembangan industri berskala
perbankan. Sehingga para pengusaha dengan menengah dan besar, karena kebijakan
mudah dapat berhubungan dengan perbankan. pengembangan sektoral tidak bisa mengkotak-
Hal itu dimaksudkan sebagai akses permodalan kotakkan kebijakan menurut skala usaha.
maupun fasilitas transaksi perdagangan Perumusan tentang beberapa kebijakan
antarpulau serta informasi lintas daerah sebagai operasional yang perlu mendapatkan perhatian
33
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
pihak pemerintah daerah terhadap IKM potensi lokal berdaya saing global. Sasaran
terutama dalam penguatan di bidang usaha pengembangan meliputi: (1) peningkatan
spesifik dan keberlangsungan operasional PDRB; (2) penurunan tingkat pengangguran;
usaha IKM sesuai dengan karakteristik (3) penurunan tingkat kemiskinan; (4)
kekhasan budaya lokal. Pola kerja sama dengan peningkatan ketaqwaan, dan lainnya. Prinsip
BUMN dengan pola bisnis murni mungkin bisa pengembangan kewirausahaan adalah : (1)
menjadi alternatif pembinaan pemerintah membangun wirausaha dengan karakteristik
kepada IKM di Madura dengan berpegang pribadi yang tangguh, kreatif, inovatif, cerdas,
teguh pada budaya masyarakat Madura. mandiri, produktif, mampu memanfaatkan
Tentunya, perekonomian di Madura akan peluang, disiplin, teknologi, terbuka, dan
meningkat kalau pemerintah bisa menarik lainnya; (2) nilai atau etika sesuai Al-Quran
investor untuk membuka lahan usaha yang dan Hadist; (3) Nilai sesuai dengan Jati diri dan
sesuai karakteristik masyarakat lokal. Untuk Budaya Masyarakat Madura. Sedangkan, target
jangka pendek, yang paling cocok adalah akhir pencapaian adalah kesuksesan dunia dan
menggarap sektor pertanian, peternakan dan akhirat.
perikanan.
Membangun Kewirausahaan Lokal di Kendala dan Upaya Pemberdayaan
Madura
Kendala yang dihadapi dalam membangun
Membangun kewirausahaan lokal di Madura budaya kewirausahaan juga terjadi di
sangat dipengaruhi oleh adanya faktor lingkungan kampus. Keengganan lulusan
pendukung dan penghambat. Faktor pendukung perguruan tinggi memilih menjadi entrepreneur
dalam membangun kewirausahaan lokal di salah satunya karena terjebak dalam mitos.
Madura, meliputi : (1). Kebijakan Pemerintah Misalnya, mahasiswa teknik hanya dibekali
yang Pro Kewirausahaan, (2) dengan kemampuan kognisi, tetapi tidak
Pendidik/ilmuwan/profesional yang konsen dibangkitkan daya afeksinya sehingga tidak
pada masalah kewirausahaan; (3) Wirausaha terbangun orientasi sikap yang menjurus ke
yang semakin banyak; (4) Masyarakat yang opportunity oriented. Lulusan pendidikan
berbudaya wirausaha. Sedangkan, faktor teknik lebih banyak ingin bekerja pada
penghambat, meliputi : (1) Rendahnya perusahaan ketimbang membangun usaha
persepsi masyarakat tentang kewirausahaan; (2) sendiri. Inilah tantangan ke depan yang harus
rendahnya produktivitas, SDM, dan lainnya; dihadapi. Para lulusan perguruan tinggi sampai
(3) Minimnya akses dan aset (Gambar 1) saat ini masih gamang memasuki dunia
Selanjutnya, arah kerangka pengembangan kewirausahaan karena adanya mitos yang
adalah mengelola kewirausahaan berbasis seolah tidak terbantahkan.

34
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Mitos 2: Entrepreneur itu dilahirkan, bukan
Faktor KENDALA : SASARAN : diciptakan
- Rendahnya 1. Peningkatan
PDRB Mitos 3: Entrepreneur selalu merupakan
persepsi
masyarakat 2. Penurunan penemu (Inventors)
Pengangguran
tentang
3. Penurunan
Mitos 4: Entrepreneur adalah orang yang
kewirausahaan canggung baik di dunia akademis atau di
- Rendahnya angka miskin,
produktivitas, SDM, 4. Peningkatan masyarakat.
ketaqwaan, dll
dll Mitos 5: Entrepreneur harus sesuai dengan
- Minim akses dan profil
aset
Mitos 6: Untuk menjadi entrepreneur anda
perlu memiliki uang
Mitos 7: Anda perlu nasib baik untuk menjadi
ARAH : entrepreneur
Kewirausaha SUKS
Membangun ES
Mitos 8: Entrepreneur mengabaikan
an Berbasis
Kewirausahaa Potensi DUNI kesenangan
n Lokal di Lokal A- Mitos 9: Entrepreneur mencari sukses tapi
Madura Berdaya AKHI
RAT
pengalaman menunjukkan tingginya tingkat
Saing Global
kegagalan.
Mitos 10: Entrepreneur adalah risk taker yang
ekstrim.

Faktor PENDUKUNG : Terkait dengan faktor pendukung, yakni


- Kebijakan Pemerintah terdapat wirausahawan dalam jumlah banyak,
yang Pro PRINSIP :
1. Membangun sesungguhnya semangat dan budaya
kewirausahaan
- Pendidik/Ilmuwan/Pro
karakteristik pribadi : kewirausahaan itu bisa dipelajari. Untuk itu,
fesional yang konsen tangguh, kreatif, perlu cara pembelajaran wirausaha yang
pada bidang inovatif, cerdas,
mandiri, produktif, berbasis pada ilmu, dan amal sholeh. Jika
kewirausahaan
- Wirausaha yang
mampu mengamati perkembangan jumlah
memanfaatkan wirausahawan di Indonesia bisa dikatakan
semakin banyak
peluang, disiplin,
- Masyarakat yang
teknologi, terbuka, dll lambat. Alasannya belum berkembangnya
berbudaya wirausaha
2. Nilai sesuai Al- budaya entrepreneurship dalam masyarakat
Quran dan Hadist kita.
3. Jati diri dan Budaya
Masy Madura Mayoritas masyarakat kita berada dalam
struktur dan alam pikiran agraris. Nilai agraris
umumnya didominasi oleh nilai-nilai yang
Gambar 1. Kerangka Pengembangan
lebih bergantung pada alam daripada bertumpu
Kewirausahaan di Madura pada kemampuan sendiri seperti kemampuan
inovasi dan kepandaian adopsi. Wirausaha juga
belum dianggap sebagai suatu yang bernilai.
Sedikitnya ada 10 mitos yang membelenggu Menjadi pedagang dianggap bukan pekerjaan
pikiran para pemula yang akan memasuki dunia terhormat. Lebih terhormat jika menjadi PNS
kewirausahaan. ataupun pegawai swasta.
Mitos 1: Entrepreneur adalah pelaku, bukan Alasan lain ialah konsep pendidikan yang
pemikir menghasilkan pekerja dan bukan pencipta
35
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
lapangan kerja masih merupakan arus utama meningkatnya perhatian Pemerintah yang
dalam pendidikan nasional kita. Menjadi menawarkan banyak program terkait
karyawan adalah alasan utama mengapa kewirausahaan. Sesuai dengan
seseorang melanjutkan kuliah. Pasar kerja perkembangannya maka perhatian pemerintah
identik dengan kompetisi menjadi karyawan diwujudkan dengan mengeluarkan Instruksi
BUMN ataupun perusahaan swasta. Sedikit Presiden No. 4 tahun 1995 tentang Gerakan
yang memikirkan dan mau mengembangkan Nasional Memasyarakatkan dan
kemampuannya untuk menciptakan pekerjaan Membudayakan Kewirausahaan; Instruksi
bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Presiden No. 10 tahun 1999 tentang
Selain itu, upaya pemberdayaan UKM yang Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah.
selama ini dijalankan belum sesuai dengan apa Presiden SBY juga sudah mengeluarkan Inpres
yang diharapkan, yaitu adanya peningkatan No 6 Tahun 2007 tentang Kebijakan
kemampuan daya saing produk UKM. Hal ini Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : Pemberdayaan UKM.
- kurangnya kemampuan SDM UKM dalam Membangun kewirausahaan memang tidaklah
bidang sain dan teknologi ; mudah. Berdasarkan hasil studi Kamar Dagang
- kurangnya aspek manajemen, utamanya dan Industri (Kadin) Indonesia pada 2005
manajemen produksi dan pemasaran; mengungkapkan bahwa keberhasilan
- kurangnya dukungan permodalan; pembangunan kewirausahaan yang berdaya
- kurangnya aspek teknologi dalam kegiatan saing global tidak lepas dari peran serta
operasional UKM yang mencakup proses swadaya masyarakat. Namun, masih banyak
penyediaan bahan baku, proses produksi yang harus dibenahi dalam menciptakan
maupun pemasaran. swadaya pembangunan kewirausahaan.
Pemberdayaan UKM nampaknya memang Pembangunan nilai budaya dan perbaikan
masih bergelut pada masalah klasik, antara pendidikan kewirausahaan merupakan kunci
lain: rendahnya produktivitas, kesulitan akses dari swadaya pembangunan kewirausahaan.
terhadap sumberdaya produktif. Sehubungan Budaya bekerja masyarakat kita cenderung
dengan hal tersebut diperlukan pemanfaatan, mencari aman. Ini berseberangan dengan
limbah, polutan, kreativitas, inovasi, semangat wirausaha, yakni: pantang menyerah,
kewirausahaan, nilai tambah, sukses, replikasi berani mengambil risiko, serta kreatif dan
adanya pioner-pioner yang dapat menjadi inovatif.
stimulator pembangunan dalam kelompok Keberhasilan UKM ternyata tidak hanya karena
tersebut. Salah satu unsur yang diharapkan keahlian yang dimiliki, tetapi juga dipengaruhi
dapat mendorong pembangunan usaha baru oleh banyak faktor antara lain: a) Jiwa
dari kalangan masyarakat sendiri adalah UKM kewirausahaan dan kreatifitas individual yang
sukses. Kelompok ini memang jumlahnya melahirkan inovasi; b) ketersedian bahan baku,
relatif sangat sedikit tetapi kemampuannya baik iklim usaha, dukungan finansial, ketersediaan
dalam memanfaatkan sumberdaya lokal informasi baik pengetahuan dan teknologi,
maupun dalam menemukan potensi-potensi ketersediaan pasar dan dukungan infrastruktur.
baru yang dapat dikembangkan menjadi usaha
produktif sangat dapat diandalkan. Agenda Membangun Kewirausahaan di
Perhatian dan upaya untuk mengembangkan Madura
kewirausahaan telah banyak dilakukan
Pemerintah Indonesia. Hal ini ditandai dengan
36
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Kewirausahaan jangan dipahami hanya sekedar Namun, beberapa aspek yang perlu
kemampuan membuka usaha sendiri. Namun diperhatikan dalam membangun kewirausahaan
lebih dari itu, kewirausahaan dipahami sebagai di Madura hendaknya harus Madurawi dan
momentum untuk mengubah pola pikir, Islami. Madurawi karena sesuai dengan nilai-
mentalitas dan sosial budaya. Lebih dari itu, nilai jati diri dan budaya masyarakat, serta
membangun kewirausahaan diarahkan pada menjunjung harkat dan martabat. Islami karena
proses transformasi kultur budaya masyarakat substansi pemikirannya diperkuat dengan
kepada generasi berikutnya. Dengan kata lain, prinsip-prinsip yang sesuai Al-Quran dan Al-
perlu dipersiapkan masyarakat Madura untuk Hadist.
berlaga di arena modernisasi dengan modal Target akhir dalam membangun kewirausahaan
utama pelestarian dan pengapresiasian budaya lokal yang cocok untuk dikembangkan di
lokal. Madura adalah sukses dunia-akhirat dengan
Persiapan yang perlu dilakukan, meliputi pencapaian prestasi tanpa mengorbankan
aspek: pendidikan, regulasi, sumber daya silaturahmi dan harmoni sosial. Alasannya,
manusia, permodalan, pembiayaan, dan target ini sesuai dengan jati diri dan budaya
lainnya. Terlebih, proses untuk melahirkan masyarakat Madura. Selain itu, terkadang kita
wirausaha baru tidaklah sederhana, sehingga terjebak dengan pemikiran konteks
perlu waktu yang cukup untuk mengkadernya. kewirausahaan yang digulirkan ilmuwan barat
Memang wirausaha baru bisa lahir secara alami penganut kapitalisme. Keberhasilan hanya
dengan sendirinya, namun jumlahnya kecil. diukur dari pencapaian nilai nominal, indikator
Perlu ada penangangan terpadu untuk materi atau akumulasi yang didapatkan semata.
menghasilkan wirausaha yang berkualitas dan Misalnya, konsep David Mc Cleland
jumlahnya signifikan. menyebutkan bahwa untuk mencapai prestasi,
Mestinya keinginan untuk mandiri, itikad untuk terkadang harus mengoptimalkan kadar need of
mencari solusi atas problematika yang ada achievement setinggi mungkin dan
adalah bagian dari perjuangan hidup yang mengorbankan kadar silaturahmi atau
bernilai sebagai ibadah. Jika motifnya ibadah keinginan membangun harmoni sosial (need of
maka apapun yang kita lakukan menuju affiliation).
keberhasilan haruslah mengikuti nilai-nilai
syariat, etika dan moralitas. Pembangunan SIMPULAN
kualitas diri ini agar dilakukan tiap pribadi
sehingga mampu berbuat sesuatu yang Benang merah dalam tulisan ini adalah
bermanfaat bagi orang banyak. bagaimana membangun kewirausahaan lokal
Karena itu, agenda membangun kewirausahaan di Madura. Intinya bagaimana potensi
di Madura yang dimanifestasikan melalui kewirausahaan bisa dikembangkan sesuai
program pengembangan budaya kewirausahaan dengan jati diri masyarakat dan budaya
mestinya mampu membangun transformasi atas Madura, sehingga mampu berdaya saing
wacana ilmu yang berkembang. Memang tidak global. Cita-cita besar ini bisa dicapai apabila
semua gagasan yang dikembangkan dari barat ada 4 unsur yang bekerja sinergis dan saling
selalu buruk. Ada beberapa prinsip yang layak mengisi. Keempat unsur syarat itu ialah
dikembangkan, misalnya profesionalisme, pemerintah yang bersih dan berwibawa, banyak
mobilitas, keterbukaan, kedisiplinan, dan ilmuwan pendidik profesional atau intelektual
pencapaian kemajuan teknologi. yang rela melakukan penelitian yang hasilnya
dipersembahkan bagi masyarakat, terdapat
37
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
wirausahawan dalam jumlah banyak, serta Perhatian dan upaya untuk mengembangkan
masyarakat yang berbudaya disiplin dan kewirausahaan telah banyak dilakukan
berkinerja baik. Pemerintah, swasta dan pihak perbankan. Hal
Membangun kewirausahaan di Madura tersebut ditandai dengan meningkatnya
memang tidaklah mudah. Lebih mudah perhatian tiga pihak tersebut dengan
dipikirkan dan diucapkan tapi sulit untuk menawarkan banyak program terkait
dilaksanakan. Setidaknya, hal tersebut kewirausahaan. Agenda membangun
tercermin dari adanya kendala dalam kewirausahaan yang dilakukan, meliputi aspek:
membangun budaya kewirausahaan. Prinsip- pendidikan, regulasi, sumber daya manusia,
prinsip dalam kewirausahaan adalah bagaimana permodalan, pembiayaan, dan lainnya. Target
membangun karakteristik yang tangguh, akhirnya adalah pencapaian kesuksesan
kreatif, inovatif, cerdas, mandiri, dan mampu kehidupan dunia akhirat, yang Madurawi
memanfaatkan peluang yang ada. Karena itu, disesuaikan dengan jati diri dan budaya
pengembangan budaya kewirausahaan harus masyarakat Madura, serta Islami dengan
lintas bidang dan tidak sekedar berpikir bisnis. merujuk pada Al-Quran dan Hadist.

DAFTAR RUJUKAN Setdaprov Jatim, 2009, Kesadaran Pengusaha


Madura Mulai Tergugah, 02 November
Kuncoro, M. (2002). Analisis Spasial dan 2009.
Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster
Industri Indonesia. Yogyakarta: UPP- Suryana,2004, Memahami Karakteristik
AMP YKPN. Kewirausahaan, Direktorat Pendidikan
Menengah Kejuruan- Direktorat Jenderal
Gitosardjono, Sukamdani S. Entrepreneurship : Pendidikan Dasar Dan Menengah-
Budaya Kewirausahaan Bisa Dipelajari, Departemen Pendidikan Nasional.
Jumat, 03/07/2009.
Winarningsih,S. 2006. Menyikapi Globalisasi
Meredith, Geoffrest et.al. 1996. dan Meningkatkan Budaya
Kewirausahaan Teori dan Praktek. Kewirausahaan. Makalah Seminar.
Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta. Jurusan Akuntansi FE Unpad.

Rachmad Hidayat1, Yudha Herlambang, Yudiastuti, Ani. 2008. Membangun Budaya


Pengembangan Tata Kelola Industri Dan Semangat Wirausaha Melalui
Kecil Menengah di Madura, Jurnal Pendidikan. Dosen Fakultas Ekonomi
Teknik Industri Vol 11 No 1 Juni 2009 Universitas Katolik Widya Karya Malang
Universitas Trunojoyo Artikel di Koran Pendidikan Online.

38
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Analisis Kemampuan Mengidentifikasi Peluang oleh Mahasiswa
dalam Pengembangan Usaha Mikro di Pedesaan

Muhammad Setiawan Kusmulyono


Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya
Email : setiawan@pmbs.ac.id

Abstrak : Kemampuan identifikasi peluang menjadi salah satu determinan penting dalam
menentukan keberhasilan sebuah usaha. Kemampuan identifikasi peluang yang baik dapat menjadi
kunci keunggulan sebuah usaha dalam memanfaatkan celah di pasar. Melalui sebuah penelitian
dalam program pengembangan usaha mikro pedesaan di program pengembangan masyarakat yang
dilaksanakan di Universitas Prasetiya Mulya, peneliti mencoba menganalisis pengaruh pengetahuan
pendahulu dan kepekaan terhadap kemampuan mengidentifikasi peluang yang dimiliki oleh
mahasiswa

Kata Kunci : peluang usaha, mahasiswa, kepekaan, pengetahuan pendahulu

Identifikasi peluang merupakan salah satu keputusan mahasiswa dalam merumuskan ide bisnis
determinan penting untuk memulai sebuah langkah yang dikembangkan bersama mitra usaha dalam
usaha (Chang, 2014 dan Hsieh, dkk, 2009). Ketika sebuah program pengembangan usaha mikro
orang lain menganggap suatu fenomena adalah masyarakat di pedesaan. Program ini merupakan
sebuah masalah, maka seorang wirausaha akan program yang digagas oleh Universitas Prasetiya
menangkap hal terssebut sebagai sebuah peluang. Mulya untuk meningkatkan kapasitas berwirausaha
Namun, tidak semua wirausaha memiliki cara yang masyarakat desa melalui aktivitas kewirausahaan.
sama dalam mengidentifikasi dan mengelola Program ini bernama Community Development dan
peluang tersebut. Shane (2000) dalam penelitiannya dijalankan secara rutin setiap tahun oleh Universitas
menyatakan bahwa orang-orang cenderung akan Prasetiya Mulya.
lebih mudah mengenali adanya peluang usaha pada
sektor yang dipahaminya, dibandingkan sektor- Peluang Usaha dan Kemunculannya
sektor yang sedang mengalami popularitas.
Tidak hanya pemahaman atas sektor usaha, Awal mula hadirnya sebuah usaha ditentukan dari
pemahaman dan penguasaan atas pengetahuan kemampuan mengidentifikasi adanya peluang untuk
pendahulu meningkatkan kemungkinan usaha tersebut. Peluang usaha merupakan sebuah
teridentifikasinya suatu peluang usaha, sekaligus situasi dimana barang-barang, layanan, bahan baku,
dapat menentukan tingkat inovasi yang dapat dan metode pengelolaannya diperkenalkan dan
dihasilkan dari peluang tersebut (Shepherd dan dijual dengan nilai yang lebih tinggi dari biaya
DeTienne, 2005). Dalam perumusan yang lebih untuk memproduksinya (Shane S dan
mendalam, faktor-faktor yang menentukan dalam Venkataraman, 2000). Peluang dapat juga dianggap
proses identifikasi peluang antara lain kepekaan sebagai ide atau mimpi yang ditemukan atau
(alertness), kognisi, kreativitas, motivasi ekstrinsik dikreasikan oleh sebuah entitas wirausaha yang
dan insentif finansial, modal manusia, diungkapkan melalui analisis sepanjang waktu
pembelajaran, jejaring, pengetahuan pendahulu hingga memperoleh potensi hasil yang
(Shepherd dan DeTienne, 2005). menguntungkan (Short, dkk 2010).
Merujuk kepada elemen-elemen penyusun Kata kunci berikutnya yang penting dikaji adalah
identifikasi peluang tersebut, peneliti ingin melihat sumber-sumber yang dapat memicu kehadiran
faktor-faktor apa saja yang berkontribusi terhadap sebuah peluang dalam pemikiran seorang calon

39
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
wirausaha. Salah satu kajian muncul didasarkan Ketersembunyian peluang usaha tersebut
pada heterogenitas definisi dari munculnya sebuah membutuhkan suatu pemikiran mendalam untuk
peluang usaha. Kajian tersebut adalah sudut dapat mengeksploitasi peluang usaha tersebut
pandang temuan (discovery view) dan sudut (Smith dkk, 2009). Kemampuan pemikiran sangat
pandang kreasi (creation view) (Alvarez dan dibutuhkan untuk menganalisisi dan
Barney, 2007). Munculnya peluang usaha pada menginterpretasikan perubahan di lingkungan luar
sudut pandang temuan didasarkan pada asumsi dengan tujuan mengidentifikasi peluang baru yang
bahwa peluang adalah objek realitas yang nyata dan terabaikan dan belum ditemukan oleh orang lain
eksis secara independen, namun menunggu (Chang, 2014). Chang (2004), menegaskan bahwa
kepekaan, keterampilan, dan keberuntungan orang-orang dengan pemikiran yang terasah akan
seorang calon wirausaha untuk menemukannya lebih sensitif terhadap informasi pasar dan
(Alvarez dan Barney, 2007). Pada sudut pandang mendeterminasikan dimana peluang usaha tersebut
kreasi, peluang usaha terbentuk dari suatu tekanan ada dan kemudian secara cepat mengkonversinya.
luar yang disebabkan ketidaksempurnaan pasar atau
industri (Alvarez dan Barney, 2007). Sudut Pengetahuan Pendahulu
pandang kreasi menuntut aktivitas nyata wirausaha
untuk mengeksploitasi harta tersembunyi ini untuk Salah satu cara untuk memiliki pemikiran yang
menjadi sebuah usaha yang bernilai (Guo dan sensitif dan terasah adalah adanya pengetahuan
Bielefeld, 2014). pendahulu (prior knowledge). Berikut adalah
definisi dari pengetahuan pendahulu.

Tabel 1
Aspek Pengetahuan Pendahulu
Aspek Pengetahuan Pengertian Sumber
Pendahulu
Pengetahuan tentang cara Pengetahuan tentang bagaimana Shane (2000)
melayani pasar teknologi baru dipergunakan
untuk menciptakan produk atau
layanan
Pengetahuan tentang masalah Individu mengetahui bagaimana Shane (2000), Marvel &
pelanggan cara untuk memenuhi kebutuhan Lumpkin (2007)
pelanggan
Pengetahuan tentang pasar Individu memiliki pengalaman Shane (2000), Marvel &
sebagai pekerja profesional Lumpkin (2007)
dalam sebuah industri
Pengetahuan tentang teknologi Individual memahmi teknologi Shane (2000), Ardichvili dkk
yang dipergunakan untuk (2003)
industri tertentu

Kepekaan tinggi akan menjadi sadar terhadap sesuatu yang


terjadi di linkungan pasar dan mampu
Istilah kepekaan pertama kali diperkenalkan oleh mengidentifikasi kekuatan penggerak dan elemen
Kirzner (1979, p.48) sebagai sebuah kemampuan kunci di dalam hubungan tersebut. Chang (2014)
untuk memerhatikan peluang yang selama ini juga memperkuat bahwa adanya persepsi akan
diabaikan tanpa perlu melihatnya terlebih dahulu. mempengaruhi perhatian dan cara mengolah
Gaglio dan Katz (2001) menegaskan bahwa setiap informasi, yang kemudian menjadi lebih nyata
orang yang memiliki kemampuan kepekaan yang

40
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
dengan sinyal yang muncul dari informasi diluar yang dilaksanakan di perguruan tinggi lain.
lingkungan. Program Comdev sendiri wajib diambil oleh
Orang dengan kepekaan tinggi membuat orang- mahasiswa tingkat 3 yang telah menempuh 5
orang tersebut lebih peka terhadap level ekonomi semester dan menjadi mata kuliah wajib di dalam
yang tidak seimbang (Chang, 2014). Gaglio dan Program Studi S1 Manajemen.
Katz (2001) memiliki argumen bahwa kepekaan Program Comdev dijalankan dengan sistem
berwirausaha terdiri dari 2 jenis keterampila, yaitu kemitraan dimana kelompok mahasiswa akan terjun
persepsi (upaya untuk mempersepsikan lingkungan langsung ke desa untuk membina mitra usaha yang
dengan baik) dan interpretasi (mengidentifikasi telah diseleksi sebelumnya oleh manajemen
dorongan yang paling benar dan faktor paling program studi. 1 kelompok mahasiswa terdiri dari 7
kritikal serta menyimpulkan dinamika relasi yang – 8 mahasiswa dengan latar belakan jurusan yang
paling nyata). berbeda-beda. Hal ini tentunya akan menciptakan
dinamika positif dalam diskusi maupun aktivasi
Kemampuan Mengidentifikasi Peluang Usaha kegiatan.
Program Comdev menekankan pendekatan berbeda
Kemampuan mengidentifikasi peluang merupakan sehingga mahasiswa dapat belajar langsung
salah satu keterampilan penting untuk dapat mengenai penciptaan dan pengembangan bisnis
mewujudkan suatu usaha yang sukses. Park (2005) mikro dan kecil di tingkat desa. Tentunya,
melakukan observasi yang menunjukkan adanya pengalaman ini dapat memberikan kontribusi positif
hubungan erat antar kesuksesan sebuah usaha bagi kemampuan mereka untuk pengembangan
dengan kemampuan wirausaha tersebut untuk dirinya di masa depan.
mengidentifikasi peluang usaha di tahap awal Tantangan yang dihadapi oleh Program Comdev
perjalanan bisnisnya. Hal ini juga menunjukkan tentunya cukup beragam. Salah satunya mengenai
hubungan antara kapabilitas berwirausaha untuk kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi
mengidentifikasi peluang dengan memproduksi peluang usaha di desa. Hal ini tentunya memberi
produk inovatif. tantangan tersendiri bagi mahasiswa yang terbiasa
Pentingnya kemampuan identifikasi usaha untuk hidup di kota, kemudian diminta untuk membangun
wirausaha menjadi fokus penting, terutama sebuah bisnis bersama mitra di desa. Oleh karena
bagaimana untuk dapat fokus mengembangkan itu, di dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat
kemampuan tersebut untuk jangka yag lebih faktor-faktor apa saja yang memberi kontribusi
panjang (Chang, 2014). Menurut Chang (2014), terhadap kemampuan identifikasi peluang usaha
sebagai bagian dari hasil penelitiannya, oleh mahasiswa ketika mengembangkan bisnis di
menunjukkan bahwa intensi seseorang untuk desa.
mengikuti suatu pelatihan merupakan salah satu
cara orang tersebut untuk mengenali kelemahannya METODE
dalam pengetahuan dan keterampilan berwirausaha.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan Studi ini menerapkan metode kuantitatif untuk
mengidentifikasi peluang usaha dapat muncul memperoleh temuan dan kesimpulan secara
setelah seseoranng mengikuti suatu kegiatan keseluruhan. Penelitian ini dirancang untuk sebagai
pengembangan kapasitas kewirausahaan. sebuah penelitian kuantitatif terhadap mahasiswa
Program Community Development Semester VI seluruh jurusan, mulai dari S1
Program Community Development (selanjutnya Accounting, S1 Business, S1 Finance, dan S1
disebut Program Comdev) adalah sebuah program Marketing di Sekolah Bisnis dan Ekonomi
pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh Universitas Prasetiya Mulya.
mahasiswa Program Studi S1 Manajemen Sekolah Penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik
Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya. survey dengan kuesioner yang mengacu pada
Program Comdev ini memiliki karakteristik yang kuesioner yang telah dikembangkan oleh Chang,
hampir sama dengan program kuliah kerja nyata Wen-Long., Liu, Wen Guu Huang., dan Chiang,

41
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Shio-Mei. (2014) untuk menguji hubungan antara Sebelum menuju kesimpulan dan analisis terhadap
identifikasi peluang usaha dengan proses variabel yang diuji, setiap pertanyaan di dalam
pembelajaran kewirausahaan. Penelitian dilakukan variabel kuesioner yang diujikan terlebih dahulu
untuk mengetahui variabel apa yang paling diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil dari uji
mendominasi kemampuan mahasiswa dalam validitas dan reliabilitas menghasilkan variabel
mengidentifikasi peluang usaha di saat melakukan yang relevan untuk diuji dengan menggunakan
Program Community Development yang analisis regresi. Desain kuesioner dilampirkan di
diselenggarakan di Universitas Prasetiya Mulya. bagian akhir penelitian ini.

Tabel 2
Profil Responden
Jurusan Jumlah Jumlah Persentase terhadap Persentase dalam
Mahasiswa Responden jumlah mahasiswa di Perhitungan
angkatannya Penelitian
S1 Accounting 58 51 87,93 % 23,60 %
S1 Business 395 108 27,34 % 50,00 %
S1 Finance 68 27 39,70 % 12,50 %
S1 Marketing 112 30 26,78 % 13,90 %
JUMLAH 633 216 100,00 % 100,00 %

HASIL & PEMBAHASAN masalah bobot yang setara tidak diperhatikan. Hal
ini menjadi salah satu indikasi kelemahan riset yang
Hasil dilakukan.
Argumentasi dilibatkannya seluruh jurusan sebagai
Profil Responden sampel adalah karena dalam pelaksanaan Program
Comdev di Prasetiya Mulya, kelompok yang
Angka antar jurusan yang dijadikan sebagai objek dibentuk untuk mengembangkan usaha mitra terdiri
penelitian tidak merata karena pendekatan yang dari multi jurusan sehingga aktivitas identifikasi
dilakukan dalam mengambil sampel adalah peluang usaha dapat muncul dari setiap mahasiswa
pendekatan kenyamanan (convenience sampling), di dalam kelompok tanpa mempedulikan
sehingga hal yang tetap dijaga adalah adanya mahasiswa tersebut harus berasal dari jurusan
keterwakilan dari setiap jurusan, namun untuk tertentu.
Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Tabel 3
Hasil Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
No Variabel Muatan Cronbach
Faktor Alpha
Pengetahuan Pendahulu 0,680
PP 1 Sebelum memulai Comdev, saya telah memiliki kedekatan 0,502
(engaged) dengan produk dan pengalaman mengelola layanan
PP 6 Sebelum memulai Comdev, saya mengetahui cara membuat 0,606
pelanggan ingin menggunakan produk yang saya buat.
PP 9 Sebelum memulai Comdev, saya mengetahui peran penting 0,672
teknologi dalam industri ini
PP 10 Sebelum memulai Comdev, saya memiliki akses kepada 0,796
teknologi utama yang akan digunakan dalam industri ini.
PP 11 Sebelum memulai Comdev, saya memiliki akses terhadap 0,725
42
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
No Variabel Muatan Cronbach
Faktor Alpha
teknologi yang belum diketahui oleh publik.

Kepekaan 0,867
KP 1 Bahkan dalam waktu luang saya, saya masih sering memikirkan 0,744
tentang bisnis baru
KP 3 Saya membaca publikasi terkait perdagangan setiap pekan 0,512
KP 5 Saya menaruh perhatian yang serius terhadap pembicaraan 0,729
dengan orang lain yang menyangkut tentang pengembangan
peluang usaha baru
KP 6 Jika saya dapat merencanakan waktu luang, saya akan 0,763
mempergunakan waktu tersebut untuk mengeksplorasi ide bisnis
baru
KP 7 Saya mempergunakan waktu luang saya untuk memikirkan 0,721
segala masalah yang dapat terjadi di kemudian hari jika saya
menjadi wirausaha
KP 8 Saya sering berpikir tentang ide bisnis baru 0,823
KP 9 Saya selalu membayangkan diri saya adalah seorang manajer 0,650
bisnis dan mencoba berpikir tentang hal-hal yang berkaitan
dengan manajemen.
KP 10 Saya akan mempergunakan waktu luang saya memikirkan 0,813
tentang peningkatan bisnis.

Kemampuan Mengidentifikasi Peluang Usaha 0,858


KM 1 Saya akan mempergunakan cara inovatif terbaru untuk 0,731
mendesain produk saya
KM 2 Saya akan menggunakan teknologi terbaru untuk mendesain 0,702
produk saya
KM 3 Saya terbiasa untuk mencari informasi mengenai teknologi baru, 0,712
proses baru, keterampilan baru dan produk baru
KM 4 Saya sering melakukan terobosan untuk mengimprovisasi 0,706
produk dan layanan
KM 5 Saya akan mempergunakan metode berbeda untuk meluncurkan 0,689
produk baru, berbeda dengan peluncuran yang telah ada
sebelumnya
KM 7 Saya mampu untuk mengembangkan cara agar dapat memenuhi 0,695
kebutuhan pelanggan yang belum terpenuhi
KM 11 Saya memiliki rencana bisnis yang formal sebelum memulai 0,562
usaha
KM 13 Saya mampu untuk mengelola peluang usaha berkualitas tinggi 0,674
KM 14 Saya mampu untuk menemukan produk yang menguntungkan 0,706

Mengacu kepada tabel uji validitas dan reliabilitas pertanyaan kuesioner. Namun, setelah melalui uji
di atas terdapat beberapa informasi yang juga validitas, pertanyaan yang valid untuk diuji hanya
menjadi salah satu kelemahan dalam penelitian sebanyak 5 pertanyaan. Pada variabel kepekaan,
yang dilakukan ini. Pada awalnya, untuk variabel setelah melalui uji validitas, jumlah pertanyaan
pengetahuan pendahulu, disiapkan sebanyak 11 valid hanya sebanyak 8 dari 10 pertanyaan yang
43
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
ditanyakan dalam kuesioner. Kemudian, pada kelas, sehingga ada kemungkinan faktor terburu-
variabel kemampuan identifikasi peluang usaha, buru maupun ketidaknyamanan pada saat mengisi
jumlah pertanyaan valid adalah sebanyak 9 kuesioner yang diberikan.
pertanyaan dari 14 pertanyaan yang ditanyakan Pada sisi uji reliabilitas, ketiga variabel yang diuji
kepada responden. Adapun, daftar pertanyaan memenuhi syarat dasar reliabilitas yaitu nilai
lengkap terdapat pada bagian paling akhir Cronbach Alpha berada di atas 0,6, dimana variabel
penelitian ini. pengetahuan pendahulu memiliki nilai Cronbach
Tidak validnya beberapa pertanyaan yang diajukan Alpha sebesar 0,680, kepekaan memiliki nilai
dalam penelitian ini dapat disebabkan oleh 0,867, dan kemampuan mengidentifikasi peluang
beberapa kesalahan mendasar yang dilakukan oleh usaha memiliki nilai 0,858.
peneliti, antara lain tidak melakukan pengecekan Analisis Data
silang dan berbalik terhadap hasil terjemahan dari Analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini
pedoman kuesioner yang diambil. Hal ini dapat adalah analisis regresi. Dalam analisis ini, variabel
dimungkinkan menjadi salah satu sumber tidak pengetahuan pendahulu dan kepekaan dianggap
validnya beberapa pertanyaan yang diajukan oleh sebagai sebagai variabel independen dengan
peneliti. Selain itu, kenyamanan dalam mengisi penamaan Xi dan X2, sedangkan variabel
kuesioner menjadi hal yang cukup berperan karena kemampuan mengidentifikasi usaha merupakan
dalam proses pengambilan data ini, kondisi yang variabel dependen dengan penamaan Y1.
ditemui adalah setelah mahasiswa menyelesaikan

Tabel 4
Hasil Analisis Regresi
Hubungan Antar Variabel Beta t-value Tolerance VIF
Pengetahuan Pendahulu  0,117 2,076 0,917 1,090
Kemampuan Mengidentifikasi
Peluang Usaha
Kepekaan  Kemampuan 0,569 10,058 0,917 1,090
Mengidentifikasi Peluang Usaha
R 0,613
R2 0,375
Sig 0,000
Adjusted R2 0,370
keyakinan 95%. Hal ini dapat dibuktikan karena
Tabel model regresi diatas menunjukkan hasil nilai signifikansi (0,000) lebih kecil daripada nilai
analisis regresi variabel pengetahuan pendahulu dan alpha (0,005).
kepekaan terhadap variabel kemampuan Nilai t di dalam hasil analisis, baik dari nilai
mengidentifikasi peluang usaha. Mengacu pada variabel pengetahun pendahulu (2,076) dan variabel
nilai koefisien determinasi ganda (R2) sebesar kepekaan (10,058) menunjukkan bahwa hasil
0,375, hal ini menunjukkan bahwa variabel analisis dapat diterima karena area hasil lebih besar
kemampuan mengidentifikasi peluang usaha yang daripada nilai statistik, yaitu sebesar 1,96 (dengan
dapat dijelaskan oleh variabel pengetahuan tingkat signifikansi 95%). Hasil analisis regresi ini
pendahulu dan kepekaan hanya sebesar 37,5%, juga memberikan bukti bahwa variabel pengetahuan
sedangkan sisanya sebesar 62,5% dijelaskan oleh pendahulu berkontribusi sekitar 0,117 kali dan
variabel lain. variabel kepekaan berkontribusi sebesar 0,569 kali
Nilai signifikansi sebesar 0,000 menunjukkan terhadap kemampuan mengidentifikasi peluang
bahwa pengetahuan pendahulu dan atau kepekaan usaha.
secara bersama-sama mempengaruhi kemampuan
mengidentifikasi peluang usaha dengan tingkat
44
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Pembahasan Salah satu hal yang menjadi limitasi dalam
penelitian ini adalah bahwa dalam kelompok
Penelitian ini dirancang untuk melihat kemampuan mahasiswa yang menjalankan Program Comdev,
mengidentifikasi peluang usaha oleh mahasiswa kelompok tersebut terdiri dari multi jurusan,
saat melaksanakan Program Comdev. Penelitian ini sehingga makna pembelajaran yang diterima oleh
bermanfaat untuk mengetahui faktor apa yang masing-masing jurusan terhadap konsep
paling mempengaruhi kemampuan mahasiswa kewirausahaan masih berbeda. Namun, dalam
tersebut ketika mengidentifikasi peluang usaha kenyataan lapangan, perbedaan disiplin ini juga
yang berada di wilayah pedesaan, dimana wilayah banyak memberi kontribusi dalam peneluran ide-ide
pedesaan merupakan wilayah asing bagi para kreatif mahasiswa untuk mengembangkan usaha
mahasiswa. Oleh karena itu, dalam hal upaya yang dirintis bersama mitra usaha.
pengembangan pendidikan kewirausahaan, maka
peneliti mengambil dua variabel, yaitu pengetahuan SIMPULAN
pendahulu dan kepekaan sebagai variabel yang
memiliki kemungkinan untuk berpengaruh terhadap Berdasarkan penelitian dan hasil analisis yang telah
kemampuan mengidentifikasi peluang usaha dilakukan, maka beberapa hal yang dapat
mahasiswa. disimpulkan antara lain:
Hasil dari analisis ternyata menunjukkan bahwa 1. Pengetahuan pendahulu dan kepekaan
kedua variabel ini memiliki pengaruh terhadap memiliki pengaruh terhadap kemampuan
kemampuan mengidentifikasi peluang usaha oleh mahasiswa dalam mengidentifikasi peluang
mahasiswa, namun persentasenya belum mencapai usaha di Program Comdev.
50%, baru pada angka 37,5%. Hal ini tentunya 2. Kepekaan memiliki kontribusi lebih besar
mengindikasikan bahwa masih terdapat beberapa dalam mendukung kemampuan
variabel lain yang perlu diidentifikasi yang mengidentifikasi peluang usaha mahasiswa di
memiliki pengaruh terhadap kemampuan Program Comdev.
mengidentifikasi peluang usaha di desa oleh 3. Program Comdev perlu mempertimbangkan
mahasiswa. memberikan pembekalan yang lebih bersifat
Tidak hanya itu, jika berfokus kepada dua variabel pengetahuan umum kepada mahasiswa
ini saja, maka hal yang diluar dugaan peneliti sekaligus mewajibkan mahasiswa untuk rajin
adalah kontribusi yang cukup signifikan dari dan aktif membaca informasi yang tersedia di
variabel kepekaan dibandingkan dengan variabel berbagai media.
pengetahuan pendahulu. Secara sederhana, hal ini 4. Pihak pengelola program studi perlu
mengindikasikan bahwa pengalaman pembelajaran mempertimbangkan untuk mengidentifikasi
dalam sistem studi belum memberikan dampak kepekaan sebagai bagian dari tugas yang
signifikan terhadap kemampuan mengidentifikasi diberikan kepada mahasiswa diluar
peluang mahasiswa ketika terjun ke lapangan untuk pembelajaran interaktif di dalam kelas dengan
melakukan Program Comdev. tujuan memperkaya kemampuan identifikasi
peluang usaha bagi mahasiswa.

DAFTAR RUJUKAN Ardichvili, A., Cardozo, R., Ray, S. 2003. A theory


of entrepreneurial opportunity identification
Alvarez, S.A dan Barney, J.B. 2007. Discovery and and development. Journal of Business
Creation: Alternative Theories of Venturing. 18. 105-123
Entrepreneurial Action. Strategic
Entrepreneurship Journal. 1 (1-2). 11-26 Chang, W.L., Liu, W.G.H., dan Chiang, S.M. 2014.
A Study of the Relationship between
Entrepreneurship Courses and Opportunity

45
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Identification: An Empirical Survey. Asia Park, J.S. 2005. Opportunity recognition and
Pacific Management Review. 19 (1). 1-24. product innovation in entrepreneurial hi-tech
startups: A new perspective and supporting
Gaglio, C.M., Katz, J.A. 2001. The psychological case study. Technovation. 25(7). 739-752.
basis of opportunity identification:
Entrepreneurial alertness. Small Business Shane, S. 2000. Prior Knowledge and The
Economics. 16(2). 95-111. Discovery of Entrepreneurial Opportunities.
Organizations Science. 11 (4). 448-469.
Guo, C. dan Bielefeld, W. 2014. Social
Entrepreneurship : An Evidence-Based Shane, S. dan Venkataraman, S. 2000. The Promise
Approach to Creating Social Value. Edisi. of Entrepreneurship as a Field of Research.
Jossey-Bass Wiley Board. California-USA Academy of Management Review. 25. 217-
226.
Hsieh, Ru-Mei; Kelley, Donna J.; And Liu, Chang-
Yung. 2009. "The Roles Of Entrepreneurial Shepherd, D.A dan DeTienne, D.R. 2005. Prior
Alertness, Prior Knowledge And Social Knowledge, Potential Financial Reward, and
Networks In The Process Of Opportunity Opportunity Identification. Entrepreneurship
Recognition (Summary)," Frontiers Of Theory and Practice. 29 (1), 91-112.
Entrepreneurship Research: Vol. 29: Iss. 6,
Article 12. Short,J.C., Ketchen, D.J., Jr., Shook, C.L., dan
Ireland, R.D. 2010. The Concept of
Kirzner, I.M. 1979. Perception, opportunity and Opportunity in Entrepreneurship Research:
profit: Studies in the theory of Past Accomplishment and Future Challenges.
entrepreneurship. University of Chicago Journal of Management. 36 (1). 40-65.
Press, Chicago, IL.
Smith, B.R., Matthers, C.H., Schenkel, M.T. 2009.
Marvel, M.R., Lumpkin, G.T. 2007. Technology Differences in entreprenerial opportunities:
entrepreneur’s human capital and its effects The Role of Tacitness and Codification in
on innovation radicalness. Entrepreneurship Opportunity Identification. Journal of Small
Theory and Practice. 31(6). 807-828. Business Management. 47 (1). 38-57.

46
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Model Creative Intelligence Studi Kasus PMW SEC USU
Tahun 2014-2015
Syafrizal Helmi Situmorang
Doli Muhammad Jafar Dalimunthe
Alby Ridha Saputra
Universitas Sumatra Utara
Email : shelmi09@gmail.com, dolidalimunthe@yahoo.com, albyridha07@gmail.com.

Abstrak : Perkembangan dunia global saat ini menuntut sumber daya manusia harus memiliki kompetensi yang
baik untuk bersaing. Banyaknya pengangguran menjadi suatu masalah yang serius bagi negara, sehingga
perguruan tinggi harus memiliki sikap untuk menghadapi masalah tersebut dengan menciptakan SDM yang
mampu berkompetensi . Agar mampu berkompetensi dengan baik seseorang harus memiliki Creative Intelligence
agar mampu memaksimalkan potensi diri yang dimiliki. Creative intelligence merupakan kecerdasan yang
menjelaskan aspek-aspek kepribadian berdasarkan sifat keterbukaan, inovatif, imajinatif, revolusioner dan
berjiwa bebas. Penelitian ini dilakukan kepada member Program Mahasiswa Wirausaha SEC USU tahun 2014
dan 2015 yang berjumlah 104 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kreatifitas dan
inteligensi mahasiswa pemenang. Pengukuran menggunakan empat dimensi yaitu intuitif, inovatif, imajinatif, dan
inspiratif. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode Profil Potensi Kreatif yang
digunakan Alan J.Rowe. Untuk mendapatkan data yang akurat, peneliti menggunakan kuesioner. Hasil dari
penelitian ini adalah karakter yang paling banyak mendominasi peserta adalah karakter intuitif dan inovatif.

Kata Kunci : Creative Intelligence

Perekonomian memang memiliki peranan penting baru dalam perekonomian.. (2) Kedua, menyediakan
dalam pembangunan suatu Negara. Joseph lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja. Ketika
Schumpeter menekankan pentingnya peranan entrepreneur membuka usaha, berarti membuka
wirausahawan dalam kegiatan ekonomi suatu negara, langkah untuk mengurangi proporsi pengangguran
sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. dan pelamar kerja. (3) Ketiga, meningkatkan output
semakin banyak jumlah entrepreneur dalam suatu perkapita nasional. Dengan kata
negara akan membawa banyak manfaat bagi negara lain Entrepreneur memiliki peran vital dalam
tersebut Entrepreneur adalah orang yang berani pembangunan ekonomi suatu negara karena
mengambil resiko untuk membuka usaha dalam entrepreneur merupakan motor penggerak roda
berbagai kesempatan. Berjiwa berani mengambil perekonomian. Penciptaan jiwa berwirausaha
resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai tentunya harus didukung dengan kreatifitas dan
usaha. Peter F. Drucker mengatakan bahwa intelektual yang baik sehingga memiliki kompetensi
Entrepreneur merupakan kemampuan dalam yang baik untuk dapat bersaing dalam memenuhi
menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. kebutuhan konsumen.
Entrepreneur akan membawa banyak manfaat
misalnya (1) Entrepreneur membuka jenis usaha

47
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Tabel 1
Data Angkatan Kerja, Bekerja, dan Pengangguran
Angkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Tingkat Pengangguran Terbuka
Bekerja Pengangguran
Kerja - TPAK - TPT
Tahun
(Juta
(Juta Orang) (Juta Orang) (%) (%)
Orang)

Februari 116 107,41 8,59 67,83 7,41


2010
Agustus 116,53 108,21 8,32 67,72 7,14

Februari 119,4 111,28 8,12 69,96 6,8


2011
Agustus 117,37 109,67 7,7 68,34 6,56

Februari 120,41 112,8 7,61 69,66 6,32


2012
Agustus 118,05 110,81 7,24 67,88 6,14

Februari 121,19 114,02 7,17 69,21 5,92


2013
Agustus 118,19 110,8 7,39 66,9 6,25

Februari 125,32 118,17 7,15 69,17 5,76


2014
Agustus 121,87 114,63 7,24 66,6 5,94

Februari 128,3 120,85 7,45 69,5 5,81


2015
Agustus 122,38 114,82 7,56 65,75 6,18
Sumber: Badan Pusat Statistik, Data Diolah (2016)

Banyak pengangguran di Indonesia semangat berwirausaha menciptakan lapangan


memunculkan semangat meningkatkan program pekerjaan baru. Ini bertujuan agar mahasiswa tidak
berwirausaha yang dilakukan baik oleh pemerintah, memunculkan kembali paradigma ketika setelah
universitas, bahkan juga dikalangan organisasi menyelesaikan studi, mahasiswa hanya memikirkan
kemasyarakatan. Menghadapi kenyataan bagaimana bisa bekerja di perusahaan yang
permasalahan diatas, Perguruan Tinggi sebagai salah diinginkan, tetapi mahasiswa harus mampu
satu bagian dari sistem pendidikan menjadi salah satu membentuk lapangan kerja sendiri melalui wirausaha.
solusi dalam mencetak SDM berkualitas yang dapat Disisi lain pentingnya peranan perguruan tinggi dalam
berkompetensi. Hal ini sesuai dengan Tridharma menciptakan lulusan yang baik telah menjadikan
Perguruan Tinggi yang menjadi landasan visi misi kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib bagi setiap
setiap perguruan tinggi di Indonesia dalam fakultas untuk memunculkan semangat berwirausaha
menciptakan lulusan-lulusan yang bermutu dan di kalangan mahasiswa sehingga diharapkan mampu
berkompetensi. mengeluarkan ide-ide kreatif dalam diri mahasiswa.
Perguruan tinggi diharapkan mampu Munculnya semangat berwirausaha pada
membimbing mahasiswa untuk dapat melakukan mahasiswa sebaiknya juga didasarkan kepada karakter
eksplorasi pemikiran, menggagasnya, dan yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Hal ini
mengkomunikasikan atau memperdebatkannya secara bertujuan agar usaha yang dijalani sesuai dengan
terbuka sehingga mahasiswa dapat belajar untuk passion yang mereka miliki.
saling mengkritik dan menciptakan serta Universitas Sumatera Utara sebagai perguruan
mempertajam ide-ide kreatif dengan berbagai ruang tinggi yang memiliki tanggung jawab terhadap
pemaknaan. pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi memiliki unit
Berdasarkan dari eksplorasi yang dilakukan, yang mewujudkan lulusan untuk mampu berwirausaha
mahasiswa diharapkan juga mampu untuk yaitu Student Entrepreneurship Centre. SEC menjadi
memunculkan ide dalam berwirausaha sehingga angka sarana untuk mengimplementasikan antara teori
pengangguran dapat ditekan dengan memunculkan dibangku perkuliahan dengan praktek nyata di
48
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
masyarakat dengan menyiapkan program-program kemampuan memecahkan masalah dan mengatasi
dalam membentuk dan mengembangkan para masalah dalam diri manusia dan lingkungannya serta
wirausahaan mahasiswa dan diharapkan dapat mampu untuk menciptakan strategi atau menyusun
menjadi wirausahawan yang jujur, tangguh, perangkat yang efektif dan berguna demi meraih
berkeadilan dan peduli masalah sosial. tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Berdasarkan dari
Berdasarkan dari karakter tersebut, tulisan ini pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan
akan membahas mengenai karakter yang dimiliki intelektual merupakan kemampuan mental seseorang
seseorang agar mampu bereksporasi berdasarkan dalam mengatasi dan memecahkan suatu masalah
karakter yang mereka miliki dan karakter ini akan dengan menggunakan keterampilan berfikir yang
dilihat berdasarkan creative intelligence yang ditulis efektif yang didapat dari pengalaman dan kemampuan
oleh Alan J Rowe. Creative intelligence akan melihat beradaptasi.
karakter mahasiswa berdasarkan empat karakter yaitu Buzan (2002) menyebutkan Kecerdasan kreatif
: Intuitive (fokus ke result berdasarkan fakta masa adalah kekemampuan untuk memunculkan ide-ide
lalu), Imaginative (fokus ke visualisasi peluang, baru, menyelesaikan masalah dengan cara yang khas
artistik dsb), Inspirational (fokus ke perubahan sosial), dan meningkatkan imajinasi, perilaku, dan
Innovative (fokus ke problem solving dengan dasar produktivitas. jadi asumsi yang mengatakan bahwa
sistematik dan data) kejeniusan akademik merupakan modal terpenting
Creative Intelligence dalam meraih kesuksesan tidaklah tepat. setiap orang
Persaingan saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata. punya sisi kreatif, setiap orang dapat menggali elemen
Manusia harus cerdas dalam menggunakan setiap penting ini dalam diri sekaligus membuktikan bahwa
potensi yang ada dalam dirinya sendiri. Tapi kecerdasan dan kreativitas adalah dua sisi mata uang
permasalahannya terkadang banyak dari manusia saat yang tak dapat terpisahkan.
ini tidak bisa menggunakan potensi yang ada didalam Setiap orang bisa menjadi cerdas. Potensi ini
dirinya. Ini dikarenakan pengetahuan mereka yang sudah disiapkan sejak kecil dengan diaktifkannya
kurang akan dirinya sendiri, bahkan tidak mempunyai fungsi otak untuk mengembangkan berbagai
pengalaman untuk bisa dijadikan modal untuk bisa kecerdasan yang dapat digunakan dalam proses
menghadapi setiap tantangan yang ada saat ini dan di belajar. Kemampuan otak sangatlah luar biasa jika
masa depan. dimanfaatkan dengan maksimal. Bahkan, jika
Intelligence merupakan suatu hal yang seseorang dalam situasi yang sulit dengan tekanan
mendeskripsikan suatu perilaku manusia yang yang besar otak dapat mengeluarkan kekuatan yang
berkaitan dengan kemampuan intelektual. Hal ini besar. Setiap orang memiliki kesempatan untuk
berkaitan dengan apakah individu tersebut cerdas, menjadi pintar dan tidak ada yang bodoh. Tetapi yang
kurang cerdas, atau tidak cerdas sama sekali dalam jadi permasalahannya adalah bagaimana cara
memanfaatkan kesempatan secara cepat dan tepat seseorang untuk dapat memacu kinerja otak untuk
dalam menangani suatu masalah ataupun dalam dapat menjadi cerdas.
mengambil suatu keputusan. Manusia mempunyai dua bagian otak yang jika
Menurut Gardner (2013) pengertian intelligence digunakan secara maksimal akan menimbulkan
mencakup tiga faktor yaitu: kekuatan otak yang luar biasa. Bagian itu adalah otak
1. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang kanan dan otak kiri. Otak kanan mengendalikan tubuh
terjadi dalam kehidupan manusia. bagian kiri sedangkan otak kiri mengendalikan tubuh
2. Kemampuan untuk mengembangkan suatu bagian kanan. Setiap bagian otak memiliki
masalah baru untuk diselesaikan. keunggulannya masing-masing. Otak kanan bekerja
3. Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang pada ritme yang lebih santai dengan penuh imajinasi
akan memunculkan penghargaan dalam budaya dan tidak terikat dengan logika ilmiah dan matematis.
seorang individu. Otak kanan lebih merangsang musik, irama, gambar,
Gardner juga mengungkapkan intelligence juga ritme dan lain hal yang memerlukan kreativitas.
merupakan kemampuan untuk memecahkan suatu Sedangkan pada otak kiri digunakan untuk berpikir
masalah dan menghasilkan produk dalam suatu setting hal-hal yang bersifat matematis dan ilmiah. Otak kiri
yang bermacam-macam dalam situasi yang nyata. akan merangsang kerja untuk angka, susunan, logika,
Menurut Rezi (2013), intelektual adalah suatu organisasi dan hal lain yang bersifat rasional yang
49
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
berhubungan dengan analitis. Keunggulan merupakan Dari hal diatas dapat disimpulkan bahwasanya
suatu andalan untuk bersaing. Hal ini bukanlah karena kreatifitas dan inteligensi merupakan dua hal yang
kekuatan otot, tetapi kekuatan otaklah yang penting dalam membantu manusia untuk
menentukan. Seiring dengan perkembangan zaman, menyelesaikan masalah yang dikenal dengan
manusia harus selalu meningkatkan kemampuan otak kecerdasan kreatif (Creative Intelligence). kecerdasan
untuk dapat menyesuaikan diri dengan dunia agar kreatif menjelaskan aspek-aspek kepribadian yang
tantangan dan masalah dapat diselesaikan dan akan membawa seseorang pada hasil yang baik dan
dipecahkan dengan baik. akan membantu mengungkapkan bagaimana
Pada zaman ini, pengetahuan atau kecerdasan memandang dan memahami lingkungan sekitar.
bukanlah hal yang bisa selalu bertahan tanpa adanya Menurut Rowe (2004), orang yang memiliki
kreativitas. Disaat pengetahuan tersendat, maka kecerdasan kreatif memiliki sifat terbuka, inovatif,
kreativitaslah yang akan bekerja (Sugiarto,2011). inventif, tak terbatas, berani, spontan, fantastis
Kreatif akan membawa keseimbangan , kedalaman, imajinatif, tak terduga, revolusioner dan berjiwa
dan kepekaan dalam pencarian intelektual. kreativitas bebas.
berkaitan dengan tiga hal yaitu kemampuan untuk Menurut Rowe (2004) creative intelligence
mengkombinasikan, memecahkan masalah, dan dapat diklasifikasikan berdasarkan empat dimensi
cerminan kemampuan operasional. Artinya, otak1. Intuitif
kanan dan otak kiri haruslah berjalan seimbang, Dimensi ini menggambarkan tipe-tipe individu yang
dengan kata lain manusia harus secara kreatif banyak akal dan merupakan tipikal manager, aktor,
menggunakan otak kiri dalam menyelesaikan masalah dan politikus. Dimensi ini menekankan pada
Kreatifitas berasal dari bahasa latin yaitu creare memanfaatkan dan mengandalkan pengalaman
yang berarti membuat sesuatu dari yang tidak ada masalah di masa lalu untuk dijadikan pedoman dalam
menjadi ada. Kreatifitas merupakan pengembangan menyelesaikan masalah, mencapai hasil dan bekerja
dan kemajuan pikiran yang menumpahkan cara keras.
berpikir yang tidak konfensional sehingga2. Inovatif
menciptakan lompatan besar dalam pengetahuan dan Dimensi ini menggambarkan individu yang selalu
aplikasinya. Menurut Sayogya (2008), kreatifitas ingin tahu dan merupakan tipikal ilmuan, penemu, dan
merupakan pengembangan, pertumbuhan manusia, insinyur. Dimensi ini menekan pada daya cipta,
pemahaman diri dan perubahan atau rehabilitasi pola eksperimen dan sistematika informasi yang
pikir seseorang untuk membuat sesuatu yang baru dan berkonsentrasi kepada masalah dan data serta
unik yang bermula dari imajinasi dan didasarkan pada mengatasi kompleksitas dengan mudah.
kualitas yang muncul sebagai spontanitas, ekspresi3. Imajinatif
dan intuisi. Dimensi ini menggambarkan individu yang penuh
Menurut Sugiarto (2011), kreatifitas merupakan: pemahaman. dimensi ini merupakan tipikal seniman,
1. Kemampuan melihat masalah ketika orang lain musikus, penulis, dan pemimpin. Dimensi ini mampu
tidak melihat. mendeteksi peluang potensial yang dapat
2. Kemampuan melihat suatu masalah dengan sudut dimanfaatkan dengan baik.
pandang yang berbeda 4. Inspirasional
3. Kemampuan berkreasi untuk membuat hal lama Dimensi ini menggambarkan individu yang
menjadi hal baru. pengkhayal dan merupakan tipikal pendidik,
4. Penggabungan antara otak kiri dan otak kanan pemimpin, dan penulis. Dimensi ini mampu melihat
5. Suatu hal yang bisa dikembangkan dengan dari sudut pandang yang positif dan berorientasi pada
latihan aksi yang dibutuhkan masyarakat dan rela berkorban
6. Suatu hal yang tidak terikat dengan aturan-aturan
logika seperti halnya anak kecil berpikir.

50
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Tabel 2
Potensi Kreatif

Pertimbangkan Peluang-peluang Inovatif Imajinatif


masa depan
(ingin Tahu) (penuh Pemahaman)
Kognitif Menggunakan pendekatan yang Besedia menghadapi resiko
berdaya cipta Memiliki daya imajinasi
Mau bereksperimen Pemikiran yang independen
Berdasarkan penelitian yang
sistematis.
Kompleksitas Intuitif Inspirasional
Fokus pada kebutuhan saat ini Mencapai tujuan Besedia menghadapi resiko
Mengunakan akal sehat Memiliki daya imajenasi
Menyelesaikan masalah Pemikir yang Independen
Langsung Luas
Perspektif Nilai
( Apa yang diyakini benar atau salah, baik atau buruk )
kemampuan untuk mengatasi kompleksitas, dan
Pada Table 2 seseorang focus pada peluang-peluang kebutuhan dasar kita, jika dikombinasikan dengan apa
dimasa depan. Di kiri bawah, penekanan ada pada yang dianggap bernilai, dibutuhkan, atau
kebutuhan saat ini. kategori ini sangat luas dan menyenangkan, akan menggambarkan keempat tipe
dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana kecerdasan kreatif dasar.
pikiran kita merespon peluang-peluang kreatif. Pada Menurut Cambell (dalam Rowe, 2004) ciri-ciri
bagian bawah table menunjukkan bagaimana kreativitas ada tiga kategori
seseorang menafsirkan gagasan-gagasan, bagaimana 1. Ciri-ciri pokok: melahirkan ide, gagasan, ilham,
menilai atau perasaan terhadap gagasan tersebut dan pemecahan masalah, cara baru, penemuan.
apa yang dirasakan sangat penting. Ini dideskripsikan 2. Ciri-ciri yang memungkinkan : mampu
sebagai nilai langsung yang berlawanan dengan nilai- mempertahankan ide kreatif
nilai yang lebih luas. Suatu faktor dominan yang 3. Ciri-ciri sampingan : tidak langsung
melebihi kognisi dan nilai adalah kekuatan pendorong berhubungan penciptaan dan menjaga agar ide
dari kepribadian. Hal ini merupakan faktor kunci yang kreatif tetap hidup tetapi akan mempengaruhi
mendasari kreatifitas. Dorongan, orang-orang kreatif.

Tabel 3
Model Ciri Kreativitas
Ciri-Ciri Pokok Ciri-ciri yang Memungkinkan Ciri-Ciri Sampingan
1. Berpikir dari segala arah. 1. Kemampuan untuk bekerja 1. Tidak ambil pusing terhadap
2. Berpikir ke segala arah. keras. apa yang dipikirkan orang
3. Fleksibilitas konseptual 2. Berpikir mandiri. lain.
(kemampuan secara spontan 3. Pantang menyerah. 2. Kekacauan psikologis.
mengganti cara memandang, 4. Mampu berkomunikasi
pendekatan, kerja yang tak dengan baik.
jalan). 5. Lebih tertarik pada konsep
4. Orisinalitas (kemampuan dari pada detail.
memberikan ide asli dan 6. Keinginan tahu intelektual.
mengejutkan). 7. Kaya humor dan fantasi.
5. Lebih menyukai kompleksitas. 8. Tidak segera menolak ide
6. Latar belakang yang atau gagasan.
merangsang (dapat menjadi 9. Arah hidup yang mantap
contoh).
7. Multiple skils.
Sumber : Rowe (2004)

51
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Kecerdasan kreatif selalu memberikan dorongan diperoleh secara langsung berdasarkan apa yang ada
dalam diri seseorang untuk mempengaruhi dalam diri responden tersebut. Data sekunder
kemampuan dalam mencapai hasil yang diinginkan. merupakan data yang berisikan informasi dan teori-
Nilai dari kecerdasan kreatif adalah bahwasanya itu teori yang digunakan untuk mendukung penelitian
akan bisa membantu seseorang dalam mengatasi yang dilakukan. Data ini didapat dari buku, majalah,
perubahan dunia tempat orang tersebut hidup. Proses journal, hasil lapangan, dan internet. Teknik
kreatif akan bergantung pada pengetahuan dan pengumpulan data yang akan dilakukan adalah
pengalaman yang akan membawa pada pengetahuan dengan kuesioner yaitu menilai karakter berdasarkan
baru. Meski demikian, pengetahuan hanyalah sebuah inovasi, intuisi, inspirasi, dan imajinasi mahasiswa.
sarana untuk mencapai tujuan akhir. Tetapi ada Kuesioner yang diberikan memiliki 25
saatnya pengetahuan akan menjadi pembatas dalam pertanyaan dengan setiap pertanyaan memiliki 4
menemukan suatu hal yang baru sehingga tidak jawaban yang masing-masing jawabannya mewakili
memungkinkan kebebasan untuk melampaui suatu hal setiap karakter dari creative intelligence. Dari
yang telah diketahui. Kecerdasan kreatif jawaban yang dimiliki setiap pertanyaan, responden
mendeskripsikan bagaimana pikiran seseorang diminta untuk memberikan rangking dari setiap
menggunakan kode-kode mental yang tidak dapat jawaban tersebut yang dimulai dari nilai 1 sebagai
dikontrol. Dalam artian setiap orang memiliki caranya jawaban yang jauh dari karakter yang responden
masing-masing dalam meilihat dan memahami suatu miliki sampai dengan nilai 4 sebagai jawaban yang
hal yang sama. yang sangat dekat dengan karakter responden. Pada
akhirnya semua nilai dari setiap karakter ditambahkan
Profil Potensi Kreatif sehingga dapat diketahui karakter yang memiliki nilai
Kreatifitas tidak dapat dilihat dan diamati sebelum yang tertinggi merupakan karakter dominan yang
adanya hasil yang dapat menyimpulkan apakah dimiliki responden. Dalam penelitian ini tidak
seseorang kreatif atau tidak. Namun ada satu cara menutup kemungkinan seorang responden memiliki 1
yang dapat membuktikan apakah seseorang bisa sampai 3 karakter yang dominan dalam dirinya.
dikatakan kreatif atau tidak sebelum adanya hasil Penelitian ini dilakukan kepada pemenang Program
dengan menggunakan model instrumen profil potensi Mahasiswa Wirausaha Student Entrepreneurship
kreatif. Model ini dapat membantu menilai kreatifitas Center Universitas Sumatera Utara tahun 2014 dan
seseorang. Namun mengetahui potensi saja tidaklah 2015 yang berjumlah 103 orang.
cukup untuk menilai kreatifitas. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan yang
Untuk meyakinkan penilaian kreatifitas itu akurat telah dilakukan pada mahasiswa peserta Program
desainnya dibuat berdasarkan pendekatan yang sama Mahasiswa Wirausaha SEC USU (2010) angkatan
dengan instrumen yang dibuat oleh Alan J. Rowe atau pertama dengan jumlah responden sebanyak 61 orang.
dari penelitian pendahulu. Instrumen ini disebut Hasil dari penelitian tersebut adalah peserta yang
dengan Decision Style Inventory yang digunakan memiliki karakter inovatif berjumlah 28 orang
untuk menilai kepribadian seseorang dan memprediksi (45,90%), peserta yang memiliki karakter intuitif
jenis pekerjaan yang cocok untuk orang tersebut. berjumlah 8 orang (13,11%), peserta yang memiliki
Menurut Rowe (2004), tes ini memiliki validitas karakter imajinatif berjumlah 11 orang (18,03%), dan
prediksi sebesar 95%. Model ini instrumen tes yang peserta yang memiliki karakter inspiratif berjumlah 12
digunakan untuk mengidentifikasi keempat tipe dasar orang (19,67%). Penelitian ini juga pernah juga
creative intelligence. Model ini dapat mengukur dilakukan kepada mahasiswa di Fakultas Ekonomi
kreatifitas lebih realitas dibanding menilai apakah USU (2014) yang berjumlah 100 orang responden
seseorang tersebut kreatif atau tidak. dengan tujuan untuk memberikan masukan kepada
mahasiswa tingkat akhir dalam memilih pekerjaan
METODE yang sesuai dengan karakter mereka. Hasil dari
penelitian tersebut adalah, mahasiswa yang memiliki
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah karakter inovatif berjumlah 64 orang, mahasiswa yang
penelitian deskriptif kuantitatif. Data yang digunakan memiliki karakter intuitif berjumlah 17 orang,
dalam penelitian ini adalah data primer dan data mahasiswa yang memiliki karakter imajinatif
sekunder. Data primer merupakan data yang berjumlah 10 orang, dan mahasiswa yang memiliki
54
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
karakter inspiratif berjumlah 15 orang. Berdasarkan peserta dari Fakultas Matematika dan Ilmu
tabel 4 dapat dilihat, yang menjadi responden pada Pengetahuan Alam berjumlah 4 orang, peserta dari
penilitian ini adalah mahasiswa peserta Program Fakultas Hukum berjumlah 2 orang, peserta dari
Mahasiswa Wirausaha yang dilakukan oleh SEC USU Fakultas Kedokteran berjumlah 1 orang, peserta dari
yang berjumlah 104 orang. Berdasarkan fakultas, Fakultas Keperawatan berjumlah 1 orang, peserta dari
peserta dari Fakultas Ilmu Komputer berjumlah 16 Fakultas Pertanian berjumlah 25 orang, dan peserta
orang, peserta dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Fakultas Teknik berjumlah 2 orang. Sedangkan
berjumlah 39 orang, peserta dari Fakultas Ilmu berdasarkan jenis kelamin, peserta yang berjenis
Budaya berjumlah 3 orang, peserta dari Fakultas Ilmu kelamin laki-laki berjumlah 46 orang dan yang
Sosial dan Politik berjumlah 8 orang, peserta dari berjenins kelamin perempuan berjumlah 58 orang.
Fakultas Kesehatan Masyarakat berjumlah 3 orang,

Tabel 4
Data Karakteristik Responden
Count
Jenis_Kelamin
Laki-Laki Perempuan Total
Fakultas Fakultas Ilmu Komputer 11 5 16
Fakultas Ekonomi dan Bisnis 15 24 39
Fakultas Ilmu Budaya 1 2 3
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik 0 8 8
Fakultas Kesehatan Masyarakat 1 2 3
Fakultas Matematika dan Ilmu 1 3 4
Pengetahuan Alam
Fakultas Hukum 2 0 2
Fakultas Kedokteran 0 1 1
Fakultas Keperawatan 0 1 1
Fakultas Pertanian 14 11 25
Fakultas Teknik 1 1 2
Total 46 58 104

55
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Gambar 1 Hasil Pengukuran Creative Intelligence

HASIL & PEMBAHASAN mengasahnya, padahal perkembangan usia yang


makin matang akan sejalan dengan perkembangan
Berdasarkan gambar 1 dapat dilihat hasil dari cognitive abilities sebagai bahan baku dan potensi
pengujian dengan metode Profil Potensi Kreatif yang berkembangnya creative intelligence.
dikembangkan oleh Alan J Rowe yang dilakukan Inovatif
kepada peserta Program Mahasiswa Wirausaha dapat Rowe (2004) mengatakan inovatif merupakan
disimpulkan peserta yang memiliki karakter inovatif karakter yang menekankan pada daya cipta,
ada sebanyak 36 orang. Peserta yang memiliki eksperimen, dan sistemtika informasi yang dapat
karakter intuitif ada sebanyak 45 orang, peserta yang mengatasi kompleksitas dengan mudah. Schumpeter
memiliki karakter imajinatif berjumlah 14 orang, dan seorang pakar strategi melihat entrepreneur adalah
peserta yang memiliki karakter yang intuitif sebuah proses “destruktif yang kreatif”, dimana
berjumlah 9 orang. Pada penelitian ini ada beberapa produk-produk atau metode produksi yang Fungsi
peserta yang memiliki karakter yang ganda, yaitu spesifik dari entreprenur adalah inovasi. Inovasi
peserta yang memiliki karakter inovatif dan imajinati berarti penciptaan nilai sebagai sumber keunggulan
ada sebanyak 2 orang, peserta yang memiliki karakter kompetitif. sudah ada dihancurkan dan diganti dengan
inovatif dan intuitif ada sebanyak 2 orang, peserta yang baru. Oleh karena itu entrepreneuship berkaitan
yang memiliki karakter imajinatif dan inspirational dengan penemuan, pendayagunaan peluang-peluang
ada sebanyak 3 orang yang memiliki karakter yang menguntungkan. Inovasi berarti penciptaan nilai
inspirational dan intuitif ada sebanyak 1 orang. sebagai sumber keunggulan kompetitif. Tanpa inovasi
Penelitian lain menunjukkan bahwa pada cara/metode baru tidak akan pernah ditemukan.
dasarnya setiap orang memiliki kemampuan kreatif Melalui inovasi, para entrepreneur akan terus
lebih dari satu, tapi mungkin sulit menemukan dan melakukan ekspansi memperluas daerah pemasaran,
56
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
menambah jumlah pelanggan meningkatkan penjualan secara sistematis. Hal ini dapat disimpulkan kalau
dan laba (Situmorang , 2015), intuisi sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang
Hampir setiap seorang pebisnis selalu kreatif, karena terkadang ide-ide kreatif datang tanpa
berhadapan dengan sesuatu yang baru. Dalam dunia disadari oleh orang-orang kreatif. Ketika seseorang
bisnis hal seperti ini membuat para pebisnis harus harus mengambil keputusan dengan cepat, dalam
berhadapan dengan ketidakpastian, ketidakberaturan, beberapa situasi intuisi sangat dibutuhkan dan
tekanan dari pasar sampai kompetensi yang semakin membantu memeras pikiran tak sadar yang
ketat. Inovasi juga merupakan kemampuan untuk memproses kekuatan otak. Jadi, pengambilan
menerapkan kreatifitas dalam rangka memecahkan keputusan yang intuitif adalah pengambilan keputusan
persoalan-persoalan dan peluang untuk meningkatkan yang mengakses pengetahuan dimasa lalu untuk masa
dan memperkaya kehidupan. Kreativitas yang dimiliki depan. Karakter intuitif pada peserta dapat dilihat dari
seseorang dapat menimbulkan penemuan-penemuan bisnis yang di lakukan seperti bisnis kuliner dimana
baru (Invention) yang belum ada sebelumnya. Dari kuliner biasanya melihat dari apa yang sudah
sebuah penemuan baru kemudian berkembang dilakukan dimasa lalu untuk dijadikan sesuatu yang
kembali menjadi penemuan baru yang lainnya. Hal ini baru saat ini.
didorong oleh inovasi-inovasi baru yang dilakukan Imajinatif
oleh seseorang untuk dapat memenuhi kebutuhan pada Menurut Rowe (2004) imajinatif merupakan
masanya. Jadi, suatu kreativitas dapat mendorong karakter yang mampu mengidentifikasi peluang
suatu inovasi baru. Dilihat dari gambar 1, karakter potensial dan bersedia mengambil resiko dengan
inovartif adalah salah satu karakter yang mendominasi melanggar tradisi dengan membuka pikiran untuk
dari peserta PMW SEC USU. Bisnis – bisnis yang mendapatkan gagasan yang baru. Albert Einsten
inovatif dari peserta seperti Buquet Hijab, Tas Kecil mengatakan “Imagination is more important than
Hand Made, Garuda Creative, Facebag, Dreishop. knowledge. For knowlwdge is limited to all we now
Intuitif know and understand, while imagination embraces
Menurut Rowe (2004) intuitif merupakan the entire world, and all there ever will be to know
karakter yang menekankan pada pencapaian, kerja and understand”. Imajinasi adalah proses kognitif
keras, dan kemempuan dalam menyelesaikan masalah yang merupakan kompleks kegiatan mental dimana
dengan mengandalkan masa lalu sebagai pedoman unsur-unsur dalam kegiatan mental tersebut lepas
penyelesaian masalah di masa depan. Menurut dari sensasi indrawi. Imajinasi melibatkan sintetis
Rimbowati (2010) intuisi dapat diartikan sebagai yang memadukan aspek-aspek dari ingatan, kenangan
pengamatan, pengenalan atau pemahaman secara atau pengalaman menjadi sebuah konstruksi mental
langsung tanpa langkah-langkah pertimbangan mental yang berbeda dari masa lalu atau menjadi realitas baru
secara sadar sampai pada suatu kesimpulan tidak dimasa sekarang, atau bahkan antisipasi realitas di
berdasarkan analisa dan penalaran. Intuisi merupakan masa yang akan datang. Imajinasi umumnya dianggap
kemampuan untuk memahami sesuatu tanpa melalui sebagai salah satu dari "fungsi mental yang lebih
penalaran rasional dan intelektualitas. Artinya intuisi tinggi," yang sering disebut juga dengan fantasi,
bekerja tanpa diketahui bagaimana dan mengapa angan, atau bentuk pemecahan masalah secara orisinal
solusi bisa datang. Contohnya jika seseorang yang berbeda dari biasanya. Orang yang sering
memikirkan sebuah objek, tiba-tiba muncul sebuah menggunakan imajinasinya dalam berkreatifitas
ide, inilah yang disebut dengan intuisi. Tentunya adalah orang yang mampu mengambil resiko dengan
Intuisi semakin tajam jika mampu meningkatkan menyebrangi batas kebiasaan untuk menemukan
pengembangan diri berdasarkan pengetahuan dan terobosan-terobosan baru.
pengalaman-pengalaman yang akan digunakan untuk Imajinasi sangat dibutuhkan dalam setiap
masa depan. Tetapi intuisi tidak akan tajam jika aktifitas manusia yang sering dihubungkan dengan
seseorang menyibukkan diri dengan rutinitas yang kegiatan seni dan bidang penelitian ilmiah baik dalam
sama setiap harinya, ini disebabkan karena orang bidang teknik atau social. Imajinasi membantu
tersebut selalu mengikuti prosedur yang sudah ada. menemukan solusi-solusi kreatif selain menggunakan
orang-orang kreatif percaya pada perasaan- logika, dengan kata lain imajinasi membantu
perasaannya, pikiran-pikiran pra sadar disamping menemukan ide-ide yang baru tanpa logika atau non
pikiran sadar, sengaja, selangkah demi selangkah konvensional sehingga memunculkan solusi kreatif.
57
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Suatu imajinasi menghasilkan entitas baru yang tersebut. Orang yang inspiratif pada dasarnya adalah
tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Salah satu cara orang yang melakukan perubahan social dan rela
yang mengarah pada solusi kreatif adalah dengan cara berkorban. Menjadi insparatif merupakan bagian dari
berfikir metaforis , yakni menghubungkan berbagai orang yang pantang menyerah dan selalu berusaha
elemen imajinatif dan situasi dengan cara yang tidak keras demi tercapainya tujuan yang diinginkan.
terduga dan tidak logik, yang mengarah kepada Dimensi ini bergantung pada insting dan perasaan dan
pemahaman baru terhadap suatu fenomena. Imajinasi selalu memikirkan lingkungan disekitarnya. Peserta
juga memiliki sifat yang dinamis. yang melakukan bisnis sesuai dengan karakter
Pada dasarnya imajinasi terbagi menjadi dua inspiratif seperti obat diabetes “Kolagit” dimana obat
bagian yaitu imajinasi reproduksi dan imajinasi yang melawan penyakit dengan sumber penyakit itu
kreatif. Imajinasi reproduksi terdiri dari reproduksi sendiri, dan bisnis lainnya adalah “Evindo”,
benda, peristiwa dan situasi yang pernah terlihat menciptakan alat penghemat BBM dan ramah
sebelumnya yang sangat berhubungan dengan memori lingkungan.
dan daya ingat. Dengan kata lain imajinasi ini
berfungsi untuk merangsang indra terhadap SIMPULAN
pengalaman masa lalu. Imajinasi kreatif terhubung
dengan tranformasi, cara baru, kreatifitas orisinal yang Mayoritas responden penelitian berdasarkan profile
secara social diakui menghasilkan entitas yang creative inteligence berada pada profil intuitif dimana
berharga yang sering terkait kedalam bidang ilmiah tipe creatif intuitif menekankan pada pencapaian,
dan seni serta bidang-bidang kegiatan kreatif kerja keras, dan kemempuan menyelesaikan masalah.
individual. Tipe ini berfokus pada hasil menggunakan akal sehat
Dalam dunia bisnis orang yang imajinatif mampu dan mengandalkan pengalaman masa lalu. Hal ini
mengembangkan pikiran-pikirannya untuk melihat terlihat dari bisnis yang dipilih dan dikembangkan
peluang bisnis yang dapat diraihnya. Orang yang oleh peserta PMW SEC USU masih fokus pada
imajinatif melihat sudut pandang bisnis dari hal yang kebutuhan saat ini. Kedepannya SEC diharapkan
berbeda dari biasanya, dengan kata lain orang-orang untuk terus melatih dan mengembangkan serta
yang imajinatif dapat melihat suatu kesempatan yang memberikan ide-ide kreatif kepada peserta PMW SEC
orang lain tidak dapat melihatnya. Itu sebabnya orang USU agar lebih fokus pada pengembangan bisnis
yang imajinatif mampu untuk mengambil resiko dan yang sifatnya inovatif, imajinatif dan insipiratif. Fokus
berfikir out of the box. Dalam suatu masyarakat ada utama yang akan dikembangkan adalah inovatif.
individu-individu yang memiliki keahlian khusus, Dimana bisnis yang dikembangkan lebih
tetapi keahlian khusus tanpa penggunaan yang kreatif mempertimbangkan peluang-peluang masa depan dan
tidak akan berharga. Dilihat dari bisnis yang menggunakan pada pendekatan yang berdaya cipta
dilakukan oleh peserta yang termasuk dalam karakter sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing peserta.
imajinasi adalah peserta yang memiliki bisnis berupa Hal ini sesuai dengan visi Student Entrepreneurship
kreatif desain, seperti sablon, dan fotografi. Center (SEC) USU bertekad menjadi pusat
Menurut Rowe (2004) inspiratif berfokus pada pengembangan kewirausahaan mahasiswa yang
upaya memperkenalkan perubahan social dan bersedia unggul di Indonesia, serta tagline SEC USU “from lab
menyerahkan diri sendiri demi tercapainya tujuan to the market”.

58
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
DAFTAR RUJUKAN
Sayoga, Tut. 2011. Sukses Berbasis Talenta Alami.
Buzan, Tony 2002, The Power Of Creative Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.
Intelligence, Perfect Bound Harpercollins
Publisher, New York. --------------. 2008. Creative Mind. Jakarta : PT. Elex
Media Komputindo.
Dahlan, Dedy. 2011. Passion! Ubah Hoby jadi Duit.
Jakarta. PT. Elex Media Komputindo. Soripada, R. A. 2013. Kecerdasan Menjual. Jakarta :
PT. Elex Media Komputindo.
Gardner, Howard. 2013. Mutiple Intelligence
Memaksimalkan Potensi dan Kecerdasan Sugiarto, Iwan. 2011. Mengoptimalkan Daya Kerja
Individu dari Masa Kanak-Kanak hingga Otak dengan Berpikir Holistik dan Kreatif.
Dewasa. Jakarta: Daras Books. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Rowe, A.J. 2004. Creative Intelligence: Situmorang, Syafrizal Helmi, 2015, Bisnis : Konsep
Membangkitkan Inovasi Dalam Diri dan dan Kasus, USU Pers, Medan.
Organisasi Anda. Bandung: Kaifa.

59
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
“Entrepreneurship Award” Sebagai Strategi Perguruan Tinggi
Dalam Meningkatkan Minat Wirausaha Mahasiswa

Tatas Ridho Nugroho


Roni Wiranata
Program Studi Pendidikan Ekonomi – STKIP PGRI LUMAJANG
Email: tatasridho14@gmail.com; roniwiranata@yahoo.com

Abstrak: Peran entrepreneur dalam menentukan kemajuan suatu negara telah dibuktikan oleh
beberapa negara maju seperti Amerika, Jepang, plus tetangga terdekat kita yaitu singapura dan
malaysia. Di amerika sampai saat ini sudah lebih dari 12 persen penduduknya menjadi entrepreneur,
dalam setiap 11 detik lahir entrepreneur baru dan data menunjukkan 1 dari 12 orang Amerika terlibat
langsung dalam kegiatan entrepreneur. Itulah yang menjadikan amerika sebagai negara adi kuasa
dan super power. Berkaca pada kesuksesan negara maju seperti amerika dan eropa yang hampir
seluruh perguruan tingginya menyisipkan materi entrepreneurship dihampir setiap mata kuliahnya,
negara-negara di asia seperti jepang, singapura dan malaysia juga menerapkan materi
materi entrepreneurship minimal di dua semester. Itulah yang menjadikan negara-negara tetangga kita
tersebut menjadi negara maju dan melakukan lompatan panjang dalam meningkatkan pembangunan
negaranya. Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menyebutkan jumlah
wirausahawan Indonesia hanya 1,9 persen dari 250 juta penduduk. Fenomena di negara Indonesia
Orang lebih bangga bekerja di swasta dari pada menjadi pegawai negeri. Orang lebih suka pensiun
dini dari pada menunggu sampai tua renta. Orang lebih bangga menjadi pengusaha daripada menjadi
orang pekerja kantoran atau buruh pabrikan. Fenomena itu semua sekarang mulai terjadi di sebagian
warga negara berkembang. Di negara kita menjadi wirausaha (pengusaha) menjadi suatu alternatif
yang mulai dilirik oleh sebagian sarjana lulusan perguruan tinggi. Di Indonesia, usaha-usaha untuk
menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan diperguruan tinggi terus digalakan dan ditingkatkan,
tentunya dengan berbagai metode dan strategi yang membuat mahasiswa tertarik untuk berwirausaha.
Salah satu strateginya adalah “Entreprenuership Award” Salah satu pemicu meningkatnya semangat
kewirusahaan dari mahasiswa adalah dilaksanakannya secara rutin perlombaan/kejuaraan
kewirausahaan. Perlombaan kewirausahaan mahasiswa dengan memberikan award bagi mahasiswa
juga dapat menjadi salah satu langkah perguruan tinggi dalam meningkatkan minat wirausaha
mahasiswa. Perlombaan ini dapat berupa bussiness plan atau entrepreneurship expo.

Kata Kunci: Entrepreneurship Award, Strategi Perguruan Tinggi dan Minat Wirausaha.

Entrepreneur (Wirausaha) diartikan sebagai kekayaan melalui inovasi, pusat pertumbuhan


seorang inovator dan penggerak pembangunan. pekerjaan dan ekonomi, dan pembagian kekayaan
Bahkan, seorang wirausaha merupakan katalis yang bergantung pada kerja keras dan
yang agresif untuk mempercepat pertumbuhan pengambilan resiko (Bygrave, 2004). Ini berarti
ekonomi. Wirausaha adalah individu yang bahwa kewirausahaan (entrepeneurship) sangat
memiliki pengendalian tertentu terhadap alat-alat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi.
produksi dan menghasilkan lebih banyak Pemberian bekal kemampuan berwirausaha
daripada yang dapat dikonsumsinya atau dijual kepada anak didik menjadi kewajiban bagi
atau ditukarkan agar memperoleh pendapatan institusi/lembaga penyelenggara pendidikan di
(McClelland, 1961). Wirausaha adalah pencipta tingkat SMK dan perguruan tinggi. Pendidikan
60
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
kewirausahaan juga mulai menjadi mata kuliah power. Selanjutnya Jepang lebih dari 10 persen
wajib bagi mahasiswa. Pembekalan penduduknya sebagai wirausaha dan lebih dari
kewirausahaan diharapkan dapat menjadikan 240 perusahaan jepang skala kecil, menengah dan
peserta didik siap bekerja, baik mengisi lowongan besar bercokol dibumi kita ini. Padahal jepang
pekerjaan yang ada maupun bekerja mandiri mempunyai luas wilayah yang sangat kecil dan
(wiraswasta). Dengan demikian permasalahan sumber daya alam yang kurang mendukung
sosial ekonomi (kemiskinan, pengangguran, akses (kurang subur) namun dengan semangat dan
pekerjaan/pendidikan yang terbatas, dll) dapat jiwa entrepreneurshipnya menjadikan jepang
direduksi. Menimbang pentingnya sebagai negara terkaya di Asia.
kewirausahaan, beberapa organisasi skala Mengintip sedikit jumlah pengusaha tetangga
nasional bahkan internasional memberikan terdekat yang satu rumpun dengan kita yaitu
penghargaan kepada pelaku wirausaha yang singapura dan malaysia, fakta menyebutkan lebih
berhasil, sebagai contoh ITB Entrepreneur dari 7.2 persen pengusaha singapura dan lebih
Award, Program Wirausaha Mandiri, terpilihnya dari 3 persen pengusaha malaysia yang
Mohammad Yunus, pionir sistem kredit mikro menjadikan pertumbuhan berbagai bidang
yang ditujukan kepada para wanita pengusaha terutama pertumbuhan ekonomi semakin jauh
skala mikro, sebagai penerima hadiah Nobel meninggalkan kita. Tahukah rekan-rekan ? kita
perdamaian tahun 2006 lalu, Ashoka Fellows, dan hanya memiliki 0.18 persen pengusaha alias
masih banyak lagi. kurang dari 1 persen dari jumlah penduduk saat
Di sisi lain ternyata tantangan yang dihadapi ini. Padahal untuk membangun ekonomi bangsa,
lembaga penyelenggara pendidikan dalam menjadi bangsa yang maju, menurut sosiolog
pengembangan kewirausahaan tidak sedikit yaitu David McCleiland, sedikitnya dibutuhkan
antara lain: 1) Pembelajaran masih kurang minimal 2 persen wirausaha dari populasi
mendukung dalam pencetak wirausahawan baru, penduduknya, atau dibutuhkan sekitar 4,8 juta
2) pembelajaran kewirausahaan masih wirausaha di Indonesia saat ini. Begitupun
konvensional, 3) Banyak lembaga pendidikan menurut Ciputra setidaknya dibutuhkan minimal
yang sama sekali belum memiliki wadah 2 persen pengusaha untuk menjadikan bangsa ini
pengembangan kewirausahaan, 4) Keberadaan bangkit dari keterpurukan.
wadah pelatihan kewirausahaan belum optimal Bank Indonesia (BI) menilai bahwa
memberikan bekal kemampuan berwirausaha perkembangan wirausaha di Indonesia masih
kepada para siswa/mahasiswa dan lulusannya, 5) terbilang minim. Hal ini tercermin dari populasi
Belum ada model yang baku yang dapat wirausaha baru mencapai angka 1,65 persen dari
diterapkan di seluruh lembaga pendidikan yang jumlah penduduk Indonesia. “Perkembangan
kondisinya sangat variatif dan heterogen. wirausaha Indonesia masih terbatas. Hal ini
Peran entrepreneur dalam menentukan tercermin dari tiga hal. Pertama, Populasi
kemajuan suatu bangsa/negara telah dibuktikan wirausaha baru mencapai angka 1,65 persen dari
oleh beberapa negara maju seperti amerika, jumlah penduduk, jauh tertinggal dibandingkan
jepang, plus tetangga terdekat kita yaitu dengan negara tetangga seperti Malaysia,
singapura dan malaysia. Di amerika sampai saat Thailand, dan Singapura yang sudah mencapai di
ini sudah lebih dari 12 persen penduduknya atas 4 persen," ungkap Deputi Gubernur Bank
menjadi entrepreneur, dalam setiap 11 detik Indonesia, Halim Alamsyah saat membuka acara
lahir entrepreneurbaru dan Data menunjukkan 1 Entrepreneurship Strategic Policy Forum dengan
dari 12 orang Amerika terlibat langsung dalam tema “Policy Recommendation on
kegiatan entrepreneur. Itulah yang menjadikan Entrepreneurship Ecosystem Development in
amerika sebagai negara adi kuasa dan super Indonesia”, Jumat (21/11/2014).
61
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Penting sepertinya kita mencontoh salah satu dalam meningkatkan minat wirausaha
perguruan tinggi di amerika yaitu MIT mahasiswa. Upaya tersebut memerlukan langkah
(Massachusette Institute Technology) dimana yang sistematis dan dukungan berbagai pihak.
dalam kurun waktu tahun 1980-1996 ditengah Dengan adanya Enterprenuership Award ini,
pengangguran terdidik yang semakin meluas dan institusi/lembaga pendidikan mampu melahirkan
kondisi ekonomi, sosial politik yang kurang lulusan yang memiliki perilaku wirausaha dan
stabil, MIT merubah arah kebijakan perguruan minat wirausaha yang tinggi.
tingginya darihigh Learning Institute and
Research University menjadi Entrepreneurial Perkembangan Kewirausahaan
University. Meskipun banyak pro kontra terhadap Kewirausahaan di Amerika mengalami
kebijakan tersebut namun selama kurun waktu perkembangan pesat, terutama dikarenakan
diatas (16 tahun) MIT mampu membuktikan sistem perekonomian negara yang tersebut yang
lahirnya 4 ribu perusahaan dari tangan alumni- mendukung tumbuhnya lapisan ini. Di negara
alumninya dengan menyedot 1.1 juta tenaga kerja maju ada fenomena bahwa orang sekolah di
dan omset sebesar 232 miliar dolar pertahun. swasta lebih bergengsi dari pada sekolah di
Sungguh prestasi yang amat sangat spektakuler negeri. Orang lebih bangga bekerja di swasta dari
sehingga merubah kondisi amerika menjadi pada menjadi pegawai negeri. Orang lebih suka
negara super power. Kebijakan inilah yang pensiun dini dari pada menunggu sampai tua
selanjutnya ditiru dan diikuti oleh banyak renta. Orang lebih bangga menjadi pengusaha
perguruan tinggi sukses didunia ini. daripada menjadi orang pekerja kantoran atau
Pengetahuan kewirausahaan mendukung buruh pabrikan. Fenomena itu semua sekarang
nilai-nilai wirausaha terutama bagi mahasiswa, mulai terjadi di sebagian warga negara
sehingga diharapkan menumbuhkan jiwa usaha berkembang. Menjadi wirausaha (pengusaha)
untuk berwira-usaha. Sikap, motivasi dan minat menjadi suatu alternatif yang mulai dilirik oleh
mahasiswa sangat dibutuhkan bagi mahasiswa sebagian sarjana lulusan perguruan tinggi.
yang berwirausaha agar mampu mengidentifikasi Mereka dengan sadarnya sejak lulus tidak mau
peluang usaha, kemudian mendayagunakan menjadi pegawai pada level apapun, Bayangkan
peluang usaha untuk menciptakan peluang kerja andai saja sebagian kita punya tekat yang seperti
baru. Minat mahasiswa dan pengetahuan mereka itu mungkin negri ini tidak akan tergantung
tentang kewirausahaan diharapkan akan hidupnya dari hutang luar negri. Cukup 2 % saja
membentuk kecenderungan mereka untuk rakyat ini menjadi pengusaha maka Negeri ini
membuka usaha baru di masa mendatang. menjadi negri yang merdeka dalam arti yang
Berdasarkan beberapa permasalahan sesungguhnya. Tetapi pada kenyataannya
kewirausahaan tersebut di atas, maka sebagai sebagian besar orang yang mau menjadi
langkah awal perlu dikaji bagaimana wirausaha diawali dari suatu keterpaksaan
menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan terlebih dahulu. Terpaksa memulai suatu usaha
mengembangkan jiwa kewirausahaan tersebut, karena semua lamaran pekerjaan ditolak dimana-
menimbang upaya dan strategi menumbuhkan mana, ada juga yg memang mempunyai skill
dan mengembangkan jiwa kewirausahaan dengan untuk menjadi pengusaha muda.
menerapkan Enterprenuership Award Bedasarkan TEMPO.CO, Jakarta
dilaksanakannya secara rutin Kementerian Perekonomian mendorong agar
perlombaan/kejuaraan kewirausahaan. pelajar dan mahasiswa menjadi bibit wirausaha.
Perlombaan kewirausahaan mahasiswa dengan Sebab, para generasi muda ini memiliki nilai dan
memberikan award bagi mahasiswa juga dapat posisi yang strategis untuk membangun
menjadi salah satu langkah perguruan tinggi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
62
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
“Pengembangan kewirausahaan di generasi pendidikan kewirausahaan,hanya sekolah
muda merupakan keharusan untuk membuat yang mempunyai basis dibidang ekonomi
Indonesia lebih maju dan mandiri,” kata yang memberikannya, Sehingga hal ini
Deputi Menteri Perekonomian bidang menyebabkan orang yang berada di luar
Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawadi, bidang pendidikan ekonomi kurang
seusai membuka Kompetisi Ekonomi di bahkan tidak mengetahui sama sekali.
kantor Kementerian Perekonomian, Senin, 18 2. Pola pikir dan budaya masyarakat yang
Februari 2013. Edy menyebutkan, syarat dari mayoritas cenderung ingin menjadi
negara maju salah satunya adalah memiliki pegawai atau karyawan. Terutama
jumlah wirausaha minimal 2 persen dari total menjadi seorang pegawai negeri. Sebab
populasi. “Saat ini, jumlah wirausaha dengan menjadi seorang pegawai negeri
Indonesia masih kurang dari 2 persen atau seseorang akan lebih terpandang dan lebih
sebanyak 700 ribu orang, masih dibutuhkan dihormati dalam lingkungan sosialnya.
sedikitnya 4 juta wirausaha baru,” ujarnya. Memang dengan hanya menjadi karyawan
Dibandingkan dengan negara-negara lain, ataupun pegawai negeri akan terbebas dari
perkembangan kewirausahaan di Indonesia masih resiko dan beban pikiran usaha. Akan
sangat kurang. Sebagai pembanding, tetapi bila menjadi seorang karyawan
kewirausahaan di Amerika Serikat tercatat akan mengalami masalah besar saat
mencapai 11 persen dari total penduduknya, perusahaan tempatnya bekerja kolaps dan
Singapura sebanyak 7 persen, dan Malaysia ancaman PHK di depan mata. Sedangkan
sebanyak 5 persen. “Jadi, pengembangan SDM dengan menjadi pegawai negeri akan
dengan kompetisi semacam ini dari para generasi terbebas dari maslah di atas sebab selama
muda tepat dan relevan untuk membibitkan para negara ini masih berdiri, pegawai negeri
pelajar agar menjadi wirausaha dan menciptakan akan selalu dipakai. Mereka hanya akan
lapangan kerja,” ujarnya. terdepak dari pekerjaannya bila
Pemerintah melihat upaya-upaya melakukan pelanggaran aturan yang berat.
pengembangan SDM ini mampu menekan jumlah Hal inilah yang mendorong ramainya
pengangguran dan kemiskinan. Bibit-bibit pelamar saat seleksi CPNS digelar.
wirausaha ini mendorong terciptanya sumber- 3. Mental yang rendah dalam memulai dan
sumber pekerjaan baru. “Target tahun ini, menanggung resiko usaha. Mayoritas
pengangguran terbuka berkurang menjadi 5 akan berkelit dengan beribu alasan bila
hingga 6 persen dari total penduduk Indonesia,” didorong untuk berwirausaha. Mulai dari
ujar Edy. Tiap tahun masih kita temui alasan tidak memiliki modal sampai
berbondong-bondong anteri puluhan meter alasan tidak memiliki bakat dan jiwa
dipintu loket dibursa kerja. Seandainya setiap seorang wirausaha. Mental jenis inilah
pemuda yang baru saja menamatkat yang memblock keinginan untuk
pendidikannya memiliki jiwa wirausaha yang berwirausaha. Maka tak heran meskipun
tinggi maka pastilah Negara ini semakin berdaya banyak orang yang berminat untuk
saing dengan Negara lain terutama dalam sector memulai berwirausaha akan tetapi niatnya
ekonomi . hanya sebatas dalam pikiran saja dan
Banyak faktor yang menyebabkan jiwa mandeg pada perwujudan menjadi
kewirausahaan di Indonesia rendah diantaranya kenyataan
sebagai berikut 4. Faktor birokrasi yang rumit dalam
1. Pola pendidikan diindonesia yang kurang mengurus segala surat-surat penting,
memberikan porsi yang cukup akan perijinan, dan pajak sehingga menjadikan
63
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
keengganan dalam memulai sebuah usaha ungkit yang terus mengangkat kemajuan
mandiri. Seorang pengusaha harus bolak- kewirausahaan di Indonesia. (AA).
balik kesana kemari .
Sedikit paparan di atas mungkin bisa Usaha-Usaha Perguruan Tinggi Untuk
menggambarkan faktor-faktor mengapa mental Menanamkan Jiwa dan Semangat
berwirausaha di negara kita masih lemah. Kewirausahaan
Membudidayakan perilaku berwirausaha mulai Dalam rangka mendorong tumbuhnya jiwa
sejak dini mulai dari anak-anak yang di bangku kewirausahaan bagi para mahasiswa dan
sekolah. Jadi di bangku pendidikan inilah mulai menciptakan lulusan yang mampu menjadi
ditanamkan mental-mental seorang pencipta lapangan kerja (job creator), maka perlu
wirausahawan. Bagaimana seorang wirausaha diadakan pembinaan bagi mahasiswa agar
bersikap, menyelesaikan masalah, kepemimpinan, mampu melaksanakan wirausaha (entrepreneur).
dan soft skill lain yang berkaitan. Misalnya mahasiswa diarahkan berbagai program
Kewirausahaan makin marak terutama dalam rangka menumbuhkan aktivitas wirausaha
karena banyak wirausaha-wirausaha sukses ikut dalam lingkungan mahasiswa, seperti Kuliah
berusaha untuk berpartisipasi dalam bentuk Kewirausahaan (KWU), Magang Kewirausahaan
pendidikan maupun mentoring langsung ke calon (MKU), Kuliah Kerja Usaha (KKU), dan
wirausaha. Bisa diperhatikan kiprah dari Ciputra, Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) yang
Bob Sadino, Sandiaga Uno, dan lainnya yang akan menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa
memang sudah terkenal dalam keberhasilannya kelak lulus nanti dalam Rosmiati ( jurnal ISSN
membangun bisnis. 1411-1438. Vol 17, N0 1)
Kemajuan Internet dan terbentuknya Tugas perguruan tinggi yang terumus dalam
komunitas-komunitas wirausaha juga turut “Tridarma” perguruan tinggi, yaitu pendidikan,
memberikan dampak pada perkembangan penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat
kewirausahaan di Indonesia. Komunitas seperti merupakan jalur paling strategik dalam
Tangan di Atas (TDA), Indonesia Young pembinaan dan pengembangan nilai-nilai
Entrepreneur (IYE), atau komunitas yang kewirausahaan yang dapat menjangkau seluruh
terbentuk dari Forum Internet seperti Kaskus lapisan masyarakat. Melalui jalur pendidikan
Entrepreneur Corner (EC) serta komunitas sasaran utamanya adalah menanamkan nilai-nilai
wirausaha dengan industri spesifik misalkan kepribadian dan wawasan kewirausahaan kepada
Forum Web Anak Bandung (FOWAB) yang peserta didik melalui proses pembelajaran. Jalur
merupakan wadah kumpul-kumpul pelaku IT. penelitian merupakan jalur pengembangan
Peran media dan lembaga-lembaga terkait inovasi kewirausahaan yang bermanfaat dalam
pun tak kalah penting. Kerjasama media dalam peningkatan kualitas dan perluasan wilayah
kegiatan-kegiatan penghargaan, ekspo, pameran jangkauan kewirausahaan. Inovasi dalam
bagi wirausaha membuat topik ini menjadi selalu kewirausahaan merupakan jiwa dari keberhasilan
hangat sepanjang tahun. Perusahaan Konsultan berwirausaha, karena inovasi merupakan proses
Manajemen sekelas Earns & Young (EY) nilai tambah dari waktu ke waktu sehingga
misalnya setiap tahun selalu memberikan memungkinkan suatu usaha akan selalu tampil
penghargaan EY Entrepreneurs of The Year berbeda baik dalam bentuk maupun kualitas
kepada wirausaha yang dinilai berhasil dalam dengan usaha lainnya. Pengabdian kepada
bidangnya. Ditambah lagi dengan beragam masyarakat sebagai jalur pembinaan dan
penghargaan lain yang diberikan baik oleh pengembangan kewirausahaan berimplikasi pada
pemerintah secara langsung memberikan daya partisipasi langsung pihak perguruan tinggi
melalui berbagai bentuk program pembinaan dan
64
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
pengembangan kewirausahaan yang menyentuh kemungkinan setelah lulus akan melanjutkan
langsung kebutuhan masyarakat. usaha yang sudah dirintisnya. Sehingga semakin
Perguruan tinggi bertanggung jawab dalam berkurangnya jumlah pengangguran di negara
mendidik dan memberikan kemampuan dalam kita, akan tetapi sebaliknya semakin
melihat peluang bisnis serta mengelola bisnis bertambahnya jumlah lapangan pekerjaan yang
tersebut sertacmemberikan motivasi untuk dibuka. Selain motivasi mahasiswa juga perlu
mempunyai keberanian menghadapi resiko bisnis. dibekali keterampilan agar mampu bersaing
Peranan perguruan tinggi dalam memotivasi para sehingga mampu bertahan dan tidak mudah putus
sarjananya menjadi young entrepreneurs asa apabila terjadi kegagalan.
merupakan bagian dari salah satu faktor Berkaca dari kesuksesan negara maju, seperti
pendorong pertumbuhan kewirausahaan. Amerika Serikat dan Eropa, yang hampir seluruh
Peranan perguruan tinggi dalam perguruan tingginya menyisipkan materi
menyediakan suatu wadah yang memberikan entrepreneurship di setiap mata kuliahnya,
kesempatan memulai usaha sejak masa kuliah negara-negara di Asia, seperti Jepang, Singapura,
sangatlah penting, bisa pada saat masa kuliah dan Malaysia juga menerapkan materi-materi
berjalan, akan tetapi yang lebih penting adalah entrepreneurship minimal di dua semester. Itulah
bagaimana peranan perguruang tinggi dalam hal yang menjadikan negara-negara tetangga kita
memotivasi mahasiswanya untuk tergabung tersebut menjadi negara maju dan melakukan
dalam wadah tersebut. Karena tanpa memberikan lompatan panjang dalam meningkatkan
gambaran secara jelas apa saja manfaat pembangunan negaranya (Darwanto, 2012).
berwirausaha, maka besar kemungkinan para Di Indonesia, usaha-usaha untuk
mahasiswa tidak ada yang termotivasi untuk menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan
memperdalam keterampilan berbisnisnya. di perguruan tinggi terus digalakkan dan
Oleh karena itu, pihak perguruan tinggi juga ditingkatkan, tentunya dengan berbagai metode
perlu mengetahui faktor yang paling dominan dan strategi yang membuat mahasiswa tertarik
memotivasi mahasiswa dalam berwirausaha. untuk berwirausaha. Menurut Heri Kuswara
Hasil penelitian mengatakan bahwa ada 3 faktor (2012), sedikitnya ada enam usaha atau cara
paling dominan dalam memotivasi sarjana dalam meningkatkan gema kewirausahaan bagi
menjadi wirausahawan yaitu faktor kesempatan, mahasiswa, antara lain: (1) Pendirian Pusat
faktor kebebasan, faktor kepuasan hidup. Ketiga Kewirausahaan Kampus; (2) Entrepreneurship
faktor itulah yang membuat mereka menjadi Priority; (3) Pengembangan Program Mahasiswa
wirausahawan. Wirausaha; (4) Program Wirausaha Mandiri
Proses penyampaian ini harus sering untuk Mahasiswa; (5) Program Peningkatan
dilakukan sehingga mahasiswa semakin Kompetensi Tenaga Kerja dan Produktivitas bagi
termotivasi untuk memulai berwirausaha. Sebab Mahasiswa; serta (6) Program Pemberian Modal
banyak mahasiswa merasa takut menghadapi Usaha untuk Mahasiswa.
resiko bisnis yang mungkin muncul yang Selanjutnya David McClelland (1998:25- 28)
membuat mereka membatalkan rencana bisnis menyatakan bahwa ada tiga sifat baku yang ada
sejak dini. Motivasi yang semakin besar, ada dalam setiap diri manusia, yaitu: need of power,
pada mahasiswa menyebabkan wadah yang need of affi liation, dan need of achievement.
disiapkan oleh pihak perguruan tinggi tidak sia- Ketiga sifat baku tersebut merefl eksikan
sia, melainkan akan melahirkan wirausahawan karakteristik kewirausahaan, sebagai berikut: (1)
muda yang handal. Adanya keinginan untuk berprestasi; (2) Adanya
Dengan semakin banyaknya mahasiswa keinginan untuk bertanggung jawab; (3)
memulai usaha sejak masa kuliah, maka besar Mempunyai preferensi kepada resiko-resiko
65
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
menengah; (4) Mempunyai persepsi pada pengembangan kewirausahaan yang menyentuh
kemungkinan berhasil; (5) Memperhitungkan langsung kebutuhan masyarakat.
umpan balik dan apa yang mereka kerjakan; (6) Menurut B. Hopson & M. Scaly (1990:56-
Mempunyai aktivitas enerjik; (7) Berorientasi 61) dalam Endang Komara (2014) , ada empat
masa depan; (8) Mempunyai keterampilan dalam macam keterampilan pemberdayaan diri sebagai
pengorganisasian; serta (9) Sikap keterampilan hidup (life skills), yaitu:
menomorduakan uang. 1. keterampilan untuk hidup dan
Salah satu sasarannya adalah memajukan berkembang secara umum.
kewirausahaan. Sebagai implementasi dari ketiga 2. keterampilan membangun relasi Aku-
lembaga tersebut, secara fungsional mempunyai Engkau.
peranan yang bersifat komplementer dalam 3. keterampilan membangun relasi Aku-
pembinaan dan pengembangan kewirausahaan Orang Lain.
masyarakat kampus; dalam hal ini peranan 4. keterampilan membangun relasi dalam
Perguruan Tinggi dalam memotivasi lulusan situasi tertentu
sarjananya menjadi seorang wirausahawan muda Strategi yang dapat diimplementasikan oleh
sangat penting dalam menumbuhkan jumlah Perguruan Tinggi dalam menumbuhkan geliat
wirausahawan. Dengan meningkatnya entrepreneurship adalah sebagai berikut:
wirausahawan dari kalangan sarjana akan 1. Menyusun Kurikulum.
mengurangi pertambahan jumlah pengangguran, 2. Peningkatan SDM (Sumber Daya
bahkan menambah jumlah lapangan pekerjaan. Manusia) Dosen.
Tugas Perguruan Tinggi yang termaktub 3. Membentuk Entrepreneurship Center.
dalam “Tridharma’’ Perguruan Tinggi, yaitu 4. Kerjasama dengan Dunia Usaha.
pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada 5. Membentuk Unit Usaha untuk
masyarakat, merupakan jalur paling strategik Mahasiswa.
dalam pembinaan dan pengembangan nilai-nilai 6. Kerjasama dengan Institusi Keuangan.
kewirausahaan yang dapat menjangkau seluruh 7. Entrepreneurship Award.
lapisan masyarakat. Melalui jalur pendidikan,
sasaran utamanya adalah menanamkan nilainilai Implementasi Business Plan dalam
kepribadian dan wawasan kewirausahaan kepada Membentuk Unit Usaha Mahasiswa
para mahasiswa melalui proses pembelajaran. Business Plan merupakan konsep dasar yang
Jalur penelitian merupakan jalur pengembangan tertulis dalam menyatakan keyakinan akan
inovasi kewirausahaan yang bermanfaat dalam kemampuan sebuah bisnis untuk memanfaatkan
peningkatan kualitas dan perluasan wilayah peluang-peluang usaha (business opportunities)
jangkauan kewirausahaan. Inovasi dalam yang terdapat di lingkungan sekitar atau global
kewirausahaan merupakan jiwa dari keberhasilan serta mampu bersaing (competitive) menjual
berwirausaha, karena inovasi merupakan proses barang atau jasa dengan menghasilkan profit yang
nilai tambah dari waktu ke waktu, sehingga memuaskan dan menarik bagi konsumen.
memungkinkan suatu usaha akan selalu tampil Untuk mewujudkan ide usaha menjadi
berbeda, baik dalam bentuk maupun kualitas kenyataan maka ide usaha yang muncul di benak
dengan usaha lainnya. Pengabdian kepada pengusaha harus dirumuskan menjadi konsep
masyarakat, sebagai jalur pembinaan dan usaha. Ada beberapa indicator yang perlu
pengembangan kewirausahaan, berimplikasi pada diperhatikan dalam merencanakan bisnis:
partisipasi langsung pihak Perguruan Tinggi 1. Konsep Usaha
melalui berbagai bentuk program pembinaan dan  penjabaran ide usaha ke dalam
dimensi-dimensi bisnis yang relevan.
66
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
2. Kelayakan Produk  Design organisasi
 Kebutuhan dan keinginan konsumen  Kebutuhan staf
 Ramah lingkungan 7. Finansial
3. Pasar  Kebutuhan modal dan sumber
 Potensi pasar dan market share. pendanaan
 Produk, Harga, distribusi, dan promosi  Proyeksi arus kas, laba rugi
 Segmenting, Targeting, Positioning  Analisis kelayakan berdasarkan kriteria
(STP) Dalam studi kelayakan usaha analisis lebih
4. Strategi Penjualan diarahkan pada melihat layak tidaknya usaha .
 Pemilihan lokasi (plant location) Dalam menyusun business plan pimpinan puncak
 Rencana Tata letak perusahaan sebagai ahli strategi akan meletakkan
5. Operasi produksi usaha baru yang akan dijalankan tersebut di
 Pasokan bahan dalam susunan portofolio usaha yang disesuaikan
 Proses produksi dengan visi,misi dan tujuan yang ingin
 Mesin dan peralatan dicapai.perusahaan dalam jangka panjang.
 Kebutuhan tenaga skill /unskill
6. Management

Gambar 1 : rencana bisnis menuju penghargaan


Sumber : Ilustrasi Penulis dari berbagai sumber

67
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
STRATEGI dan UPAYA PT MISI
INPUT

Menyusun Kurikulum. entrepreneurial campus

Peningkatan SDM Dosen


SMK

Entrepreneurship Center.
SMU
Membentuk
Membentuk Unit Usaha

Kerjasama dengan Institusi

Entrepreneurship Award. entrepreneurship expo

OUTPUT entrepreneur muda sukses

Sumber : Ilustrasi Penulis dari berbagai sumber

Gambar 1. Skema perjalanan terlahirnya entrepreneur muda

Strategi bisnis yang diarahkan untuk meraih dan dicirikan oleh kualitas yang tinggi, pelayanan
mempertahankan pasar pada segmen sempit dari yang prima, maupun rancangan produk yang
seluruh pasar potensial yang ada. Strategi bisnis inovatif, Fokus, strategi bisnis yang diarahkan
yang diarahkan secara agresif untuk meraih pasar dalam segmen pasar yang sempit yang dijalankan
seluas-luasnya melalui inovasi produkproduk melalui fokus dalam kepemimpinan biaya atau
baru., Strategi bisnis yang dijalankan melalui fokus dalam diferensiasi.
imitasi, yaitu meniru apa yang dilakukan
prospektor. Strategi bisnis seperti ini bertujuan “Enterpreunership Award” untuk
meraih keuntungan dengan meminimalkan resiko, Meninggkatkan Minat Wirausaha Mahasiswa
Kepemimpinan dalam biaya, strategi bisnis yang Salah satu tantangan yang dihadapi dunia
diarahkan untuk meraih pasar seluas-luasnya pendidikan di Indonesia pada masa yang akan
melalui harga produk yang semurah-murahnya, datang adalah banyaknya lulusan perguruan
Diferensiasi, strategi bisnis yang diarahkan untuk tinggi (PT) yang tidak mampu menerapkan
meraih pasar seluas-luasnya melalui keunikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.
produk yang dihasilkan. Keunikan tersebut bisa Sementara dengan adanya globalisasi, tenaga
68
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
kerja asing akan segera masuk ke Indonesia. muda, yang pada akhirnya mampu menjadi
Untuk itu, bangsa Indonesia harus mampu bangsa mandiri, yang tidak banyak tergantung
bersaing. Bangsa Indonesia harus mempersiapkan pada negara asing.
dunia pendidikan yang mampu mempersiapkan Adapu indikator yang perlu diperhatikan
sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dalam mentargetkan entrepreneurship award di
yang memiliki kemandirian, kemampuan kerja, lingkup mahasiswa dan global:
mampu beradaptasi, berkompetisi, memiliki a. Quality of product
kecakapan hidup (life skill) dan mampu membuka b. Social Network
usaha/lapangan kerja sendiri. Permasalahan yang c. Selling well/in good demand
dihadapi adalah bagaimana mempersiapkan agar d. Advertising
dunia pendidikan mampu menghasilkan lulusan
yang mampu beradaptasi, berkompetisi, dan Dari skema perjalanan terlahirnya
memiliki kecakapan hidup (life skill) sehingga entrepreneur muda dan sukses mahasiswa dari
mampu membuka usaha sendiri dan mampu input berbagai lembaga pendidikan SMU
menghadapi kompetisi global. Untuk menghadapi sederajat. Strategi yang paling dihandalkan dalam
kompetisi global, pendidikan harus melakukan skema ini lebih menekankan dalam
pembenahan agar mampu mengikuti kemajuan entrepreneurship award yang lebih mudah dalam
dan perkembangan transformasi yang semakin membentuk dan menumbuhkan semangat
canggih. Dengan demikian upaya pembenahan kewirausahaan dalam jiwa mahasiswa agar bisa
dalam bidang pendidikan perlu dilakukan. terlahir entrepreneur muda dan sukses.
Pembenahan atau perubahan ini dimulai dengan Dari sedikit usulan yang cukup sederhana
inovasi dunia pendidikan, yaitu pendidikan dan gagasan yang mungkin tidak baru ini, jika
kewirausahaan. Untuk meningkatkan semangat diimplementasikan oleh perguruan tinggi dengan
dan jiwa kewirausahaan perlu penanaman dan serius dan sungguh-sungguh maka tidak mustahil
pengembangan di dunia pendidikan agar akan banyak lahir entrepreneur-
perguruan tinggi mampu memberikan kontribusi entrepreneur sukses negeri ini yang mampu
lulusan pencipta lapangan pekerjaan. meningkatkan ekonomi kerakyatan dan
Salah satu pemicu meningkatnya semangat pergerakan pasar lokal sehingga tercipta peluang
kewirausahaan dari mahasiswa adalah pekerjaan bagi generasi bangsa ini yang pada
dilaksanakannya secara rutin perlombaan/ akhirnya mampu menjadi bangsa mandiri yang
kejuaraan kewirausahaan. Perlombaan tidak banyak tergantung pada negara asing.
kewirausahaan mahasiswa, dengan memberikan Untuk meningkatkan minat wirausaha muda
award bagi mahasiswa, juga dapat menjadi salah dari kalangan mahasiswa dengan mengadakan
satu langkah Perguruan Tinggi dalam entrepreneur expo dan memberikan penghargaan
meningkatkan minat wirausaha mahasiswa. bagi mahasiswa yang mampu bersaing di dunia
Perlombaan ini dapat berupa bussines plan atau usaha. Selain itu perlu mengadakan berbagai
entrepreneurship expo. kompetisi-kompetisi dibidang kewirausahaan
Beberapa strategi Perguruan Tinggi dalam untuk meningkatkan semangat bagi calon
mewujudkan entrepreneurial kampus di atas, entrepreneur-entrepreneur muda. Hal itu sangat
apabila diimplementasikan dengan serius dan perlu dilakukan bagi lembaga pendidikan demi
sungguh-sungguh, maka akan banyak lahir terciptanya lulusan yang bisa bersaing dan dalam
entrepreneur-entrepreneur sukses di negara jangka panjang mampu menumbuhkan
Indonesia ini, yang mampu meningkatkan perekonomian negara Indonesia kedepan.
ekonomi kerakyatan dan pergerakan pasar lokal,
sehingga tercipta peluang pekerjaan bagi generasi
69
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
SIMPULAN Untuk melahirkan entrepreneur-entrepreneur
muda sukses tersebut diperlukan kesungguhan
Perguruan Tinggi, sebagai salah satu mediator dan keseriusan dari Perguruan Tinggi dalam
dan fasilitator terdepan dalam membangun mengemban misi entrepreneurial campus.
generasi muda bangsa, mempunyai kewajiban Program-program kewirausahaan perlu
dalam mengajarkan, mendidik, melatih, dan dijalankan oleh berbagai Perguruan Tinggi,
memotivasi mahasiswanya sehingga lahir khususnya di Indonesia, dan patut kiranya
generasi cerdas yang mandiri, kreatif, inovatif, dijadikan sebagai teladan dalam memulai
dan mampu menciptakan berbagai peluang memfokuskan Perguruan Tinggi dalam
pekerjaan (usaha). Untuk itu, sebuah keharusan melahirkan entrepreneur-entrepreneur muda
bagi setiap Perguruan Tinggi untuk segera sukses. Pembinaan dan pengembangan sikap
mengubah arah kebijakannya dari High Learning mental kewirausahaan di lingkungan masyarakat
University and Research University menjadi kampus dapat melalui program pengembangan
Entrepreneurial University atau kewirausahaan untuk menumbuh-kembangkan
menyeimbangkan kedua arah kebijakan tersebut jiwa kewirausahaan pada para mahasiswa dan
sehingga arah kebijakan keduanya tercapai, baik juga staf pengajar, yang diharapkan menjadi
yang bersifat High Learning University and wahana pengintegrasian secara sinergi antara
Research University maupun yang bersifat penguasaan sains dan teknologi dengan jiwa
Entreprineurial University. Dengan paradigm kewirausahaan. Selain itu, diharapkan pula hasil-
change tersebut, pada akhirnya, akan melahirkan hasil penelitian dan pengembangan tidak hanya
entrepreneur-entrepreneur muda sukses, bernilai akademis saja, namun mempunyai nilai
layaknya “pahlawan-pahlawan muda” yang tambah bagi kemandirian perekonomian bangsa.
mampu membangkitkan bangsa Indonesia ini dari
berbagai keterpurukan.

DAFTAR RUJUKAN Kuswara, Heri. 2012. Strategi Perguruan Tinggi


Mewujudkan Entrepreneurial Campus.
Darwanto. (2012). “Peran Entrepreneurship http://www.dikti.go.id/strategi-
dalam Mendorong Pertumbuhan perguruan-tinggi-mewujudkan-
Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan entrepreneurial-campus/ ( di akses 22
Masyarakat”. Pebruari 2016).

Hopson, B. & M. Scaly. (1990). Life-Skills McClelland, David. (1998). The Achievement
Teaching. New York: McGraw-Hill. Motive. New York, McGraw-Hill
Publishing House.
Komara, Endang. 2014. Strategi Perguruan
Tinggi dalam Mewujudkan Nirmala. 2013. Perkembangan Kewirausahaan
Entrepreneurial Campus. Minda Masagi Di Indonesia Dengan Negara Lain.
Press Bandung, UNSUR Cianjur, and https://nirmalla.wordpress.com/2013/10/
UPI Bandung, Indonesia. ISSN 2088- 07/perkembangan-kewirausahaan-di-
1290 and website: www.atikan- indonesia-dengan-negara-lain/ ( di akses
jurnal.com 22 Pebruari 2016)

70
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Pratama. 2013. Jumlah Wirausahawan Hanya 1,9
Persen di Indonesia. Suryana, 2003. Kewirausahaan: Pedoman
http://www.tribunnews.com. ( di akses Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses.
22 Pebruari 2016) Jakarta : Saleba IV.

Rosmiati, dkk. 2015. Sikap, Motivasi, Dan Minat Wahyono, Budi. 2013. Niat Berwirausaha.
Berwirausaha Mahasiswa. Akuntansi http://www.pkwu.web.id. Dan
Politeknik Negeri Kupang : Penfui – http://www.pendidikanekonomi.com/201
Kupang, Nusa Tenggara Timur. ISSN 3/08/negara-maju-vs-negara-
1411-1438 print / ISSN 2338-8234 berkembang.html ( di akses 22 Pebruari
online 2016).
Setyorini. M.Si., Ak, Dhyah. Peningkatan
Kualitas Sumber Daya Manusia melalui Yuliana, Lia. (2012). “Peranan Perguruan Tinggi
Pengembangan Model Pembelajaran dalam Mengembangkan Sikap Mental
Kewirausahaan. Jurnal pdf online. Kewirausahaan Mahasiswa”. Tersedia
[online] juga di: www.uny.ac.id ( di
Siswoyo, H. Bambang Banu. 2009. akses 22 Pebruari 2016).
Pengembangan Jiwa Kewirausahaan di https://suzieitaco.wordpress.com/2013/09/17/pera
Kalangan Dosen dan Mahasiswa. n-wirausaha-dalam-suatu-negara/ ( di
Fakultas Ekonomi: Uni1versitas Negeri akses 22 Pebruari 2016).
Malang. Jurnal Ekonomi Bisnis Tahun
14 Nomor 2. ISSN: 0853-7283.
http://www.tempo.co/read/news/2013/02/18/0904
62035/Minim-Jiwa-Kewirausahaan-di-
Indonesia. ( di akses 22 Pebruari 2016).

71
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Analisis Manfaat Mentoring Pada Start Up Business
(Studi Pada Proyek Bisnis Mahasiswa Universitas Ciputra)

Uki Yonda Asepta


Krismi Budi Sienatra
Universitas Ciputra
Email : uki.yonda@ciputra.ac.id, krismi.budi@ciputra.ac.id

Abstrak : Ketidak sesuaian pencari kerja dengan lowongan pekerjaan yang tersedia
mengakibatkan banyaknya angkatan kerja yang tidak memperoleh pekerjaan. Salah satu
alternatif mengatasi peningkatan angkatan kerja adalah bagaimana dapat menciptakan
lapangan kerja baru dengan menumbuhkan jiwa entrepreneurship. Sebagai negara
berkembang pelaku bisnis di Indonesia didominasi oleh usaha kecil dan usaha mikro.
Universitas Ciputra sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi mengedepankan
pendidikan entrepreneurship. Program pendidikan entrepreneurship mewajibkan
mahasiswanya untuk menjalankan proyek bisnis yang mereka buat dalam tahapan-
tahapan pencapaian tertentu pada setiap semesternya. Mentoring kewirausahaan
dilakukan dalam membimbing proyek bisnis mahasiswa dalam menjalankan bisnisnya.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dimana obyek
penelitian adalah proyek bisnis mahasiswa Universitas Ciputra yang mengikuti mata
kuliah entrepreneurship dan menerima tahapan mentoring. Tujuan penelitian ini adalah
melihat efektifitas penerapan mentoring pada start up business mahasiswa Universitas
Ciputra. Hasil penelitian menunjukkan mentoring berdampak positif dalam
perkembangan proyek bisnis mahasiswa.

Kata kunci: start up business, entrepreneurship, mentoring

Tingkat pengangguran yang terjadi di mengembangkan entrepreneurship. Salah


Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh satu kompetensi yang dimiliki Universitas
kurangnya jumlah lapangan pekerjaan yang Ciputra khususnya Fakultas Manajemen
tersedia dibandingkan dengan jumlah dan Bisnis yang tertuang dalam visi
pencari kerja. Kualifikasi pencari kerja Universitas Ciputra yaitu: Untuk menjadi
yang tidak sesuai dengan lowongan sebuah Universitas yang
pekerjaan yang tersedia juga menciptakan Entrepreneur kelas dunia
mengakibatkan tidak terserapnya angkatan yang berkarakter dan memberi sumbangsih
kerja. Dari jumlah lowongan pekerjaan bagi nusa dan bangsa. Dalam perkuliahan
yang tersedia hanya sekitar 70% yang yang dilakukan setiap semesternya
mampu menyerap angkatan kerja. Sebagian mahasiswa Universitas Ciputra menempuh
saja dari jumlah angkatan kerja yang mata kuliah entrepreneurship project.
memperoleh perkerjaan. Mentoring adalah salah satu teknik dalam
Masalah kesempatan kerja yang sulit pelatihan kewirausahaan. Teknik ini
didapatkan oleh pencari kerja di Indonesia dikembangkan pada pembelajaran
menjadikan salah satu alasan Universitas entrepreneurship pada mahasiswa Fakultas
Ciputra untuk turut berperan aktif Manajemen dan Bisnis dimana, mentoring

72
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
ini melibatkan dosen dan praktisi pengembangan start-up business pada
profesional pelaku bisnis mulai dari start- proyek bisnis mahasiswa Universitas
up sampai bisnis dengan sekala besar. Ciputra. Mentoring diberikan dalam waktu
Pembelajaran dengan sistem mentoring tujuh semester kepada mahasiswa
bertujuan untuk: Universitas Ciputra. Teknik mentoring
1. Memberikan pembelajaran tentang menggunakan kolaborasi diantara kegiatan
pengetahuan dan pengalaman tentang pengajaran.
bisnis.
2. Mendampingi mahasiswa membangun Start Up Business
sebuah start-up business. Start up business merupakan istilah
yang digunakan untuk perusahan yang baru
Tabel 1. Keadaan Angkatan Kerja di memulai usahanya. Definisi untuk start up
Indonesia business belum didefinisikan secara formal.
Ries (2011) mendefinisikan start up
Jumlah Angkatan Kerja (juta orang) sebagai institusi memproduksi barang atau
Feb Feb Feb jasa baru yang dibentuk dalam
2013 2014 ketidakpastian yang tinggi. Start-up bisnis
2015 merupakan tahapan awal dari
perkembangan sebuah bisnis dimana ada
Angkatan Kerja 123,6 125,3 128,3 beberapa komponen yang memiliki
Bekerja 116,4 118,2 120,8 keterkaitan dengan start-up bisnis
Tidak bekerja 7,2 7,2 7,5 diantaranya: entrepreneur dan
entrepreneurship.
Sumber: BPS (2015)
Karakteristik dari small business/ start-
Tabel 2. Rasio Pekerjaan up berdasarkan pendapat Susanto et al.
(2008) adalah perusahaan yang memenuhi
Prosentase Indikator Tenaga Kerja kriteria diantara lain: umur/ masa
Feb Feb Feb oprasional perusahaan selama 0 – 5 tahun,
2013 2014 karakter organisasinya kecil dan dinamis/
2015 berubah-ubah, tujuannya membuat bisnis
awal ini sukses. Selain dari sisi usia modal
Rasio Jumlah Pekerjaan 65,2 65,2 65,5 awal oprasional dari start-up business juga
relatif kecil tanpa ada batasan minimum
Tingkat Partisipasi 69,2 69,2 69,5 tergantung jenis start-up yang dijalankan.
Ketidakaktifan AK 30,8 30,8 30,5 Kriteria start-up bisnis berdasarkan studi
literatur dinilai sesuai dengan fakta start-up
Sumber: BPS (2015)
business yang dijalankan oleh mahasiswa
Universitas Ciputra.
Mahasiswa Fakultas Manajemen dan
Bisnis Universitas Ciputra Entrepreneurship
mengembangkan start-up business dengan
berbagai bisnis sesuai dengan minat Franky Slamet dkk. (2014) mengutip
mereka. Pembelajaran entrepreneurship pendapat Hisrich et al. (2008)
yang diberikan dalam bentuk perkuliahan mendefinisikan entrepreneur sebagai
dan mentoring entrepreneurship dan bidang ilmu yang telah berkembang selama

73
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
bertahun-tahun dimana memiliki keinginan akan tujuan yang ingin dicapainya.
tiga atau empat kali lebih besar dalam Sebaiknya seorang fasilitator mengawali
memulai usahanya sendiri. Franky Slamet kegiatan mentoring dengan menanyakan
(2014) menyatakan empat fase
potensi yang dimiliki bukan menetapkan
entrepreneurial yaitu:
- Identivikasi dan evaluasi peluang target yang harus dicapai. Mentor
- Pengembangan rencana bisnis merupakan orang yang melakukan kegiatan
- Penentuan sumber daya yang mentoring kepada mentee, dalam hal ini
diperlukan mentor adalah dosen. Mentee adalah pihak
- Pengelolaan usaha yang telah yang menerima nasihat dan target
terbentuk. mentoring.
Beberapa definisi entrepreneur
diutarakan oleh Nugroho (2009) dalam Menurut Flaherty (2011) mentoring
Christian (2013) yang menyatakan adalah sebuah kegiatan untuk mendukung
pendapat seseorang dalam mencapai tujuan atau
a. Peter F. Drucker dimana mengubah seseorang untuk melakukan
entrepreneur adalah kemampuan tindakan tertentu. Kegiatan mentoring
untuk menciptakan sesuatu yang dilakukan untuk menjaga motivasi
baru dan berbeda.
seseorang yang dimentor. Menurut
b. Ciputra mendefinisikan
entrepreneur sebagai mereka yang Sumpeno (2009) motivasi adalah sebuah
mengubah sampah menjadi emas. kondisi yang menggerakkan manusia untuk
c. Zimmerer mendefinisikan mencapai tujuan. Menurut Thompson dan
entrepreneur sebagai penerapan Vance (2001), terdapat dua tipe mentoring,
kreativitas dan keinovasian untuk yaitu mentoring yang natural dan
memecahkan permasalah dan upaya
mentoring yang direncanakan. Mentoring
memanfaatkan peluang-peluang
yang dihadapi orang setiap hari. yang natural disebut pula mentoring
d. Robbin dan Coulter informa) biasanya terjadi melalui proses
entrepreneurship is the process pertemanan, pengajaran, dan konseling.
whereby an individual or a group of Thompson dan Vance (2001) menyatakan
individuals uses organized efforts interaksi secara informal sangat penting
and means to pursue opportunities untuk mempengaruhi etika mahasiswa
to create value and grow by fulfiling
dalam berperilaku, meningkatkan motivasi,
wants and need through innovation
and uniqueness, no matter what mengikat, dan menularkan nilai fakultas.
resources are curently controlled Mentoring yang direncanakan biasanya
lebih sistematis karena secara sengaja
Mentoring
dibuat untuk tujuan tertentu dalam proses
Sumpeno (2009) berpendapat formal (Thompson dan Vance, 2001).
mengenai mentoring dilakukan untuk
membuka potensi yang tersembunyi, Karakteristik mentor yang baik
menelisuri kemampuan dasar seseorang, menurut Cook dan Poole (2011) adalah
dan mengingatkan sesorang untuk sadar positive, enthusiastic, trusting, focused,

74
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
sees the big picture, observant, respectful, kepercayaan mahasiswa berkaitan dengan
patient, clear, curious, dan objective. akademik mereka.
Seorang mentor dapat menjadi mentor yang “Mentoring was described by several
efektif bila mampu mengelola waktu, of the respondents as a series of
energi, tujuan, informasi yang akurat dan focused or “strategic” interactions
perhatian. with various individuals about specific
professional issues, rather than a
Thompson dan Vance (2001) formal, longitudinal relationship. We
propose the term “strategic
menyatakan Evaluasi program mentoring
mentorship” for this new variant”
sangat penting untuk menentukan (Taylor, et al, 2009).
efektivitas dari solusi yang ditawarkan. Crips dan Cruz (2009) juga menyatakan
Mentoring yang efektif dapat diukur pula dukungan untuk pengetahuan akademik
melalui laporan individu pihak yang mahasiswa identik dengan hubungan
dimentor (mentee). Menurut Crips dan Cruz mahasiswa dalam kelas secara formal untuk
(2009) evaluasi mentoring dapat dilihat dari peningkatan pengetahuan dan ketrampilan.
tiga perspektif yaitu bisnis, psikologis, dan
pendidikan. Fungsi mentoring menurut Fungsi role model ini dirasakan mentee
Crips dan Cruz (2009) yaitu dukungan untuk belajar pengalaman mentor dalam
mencapai keberhasilan dan kegagalan
psikologi dan emosional, bantuan untuk
secara personal untuk memotivasi mentee
perencanaan tujuan, dukungan pengetahuan sehingga mentor dijadikan panutan/ role
akademik mahasiswa dan role model. Yang model oleh mentee (Crips dan Cruz, 2009).
tergambarkan dalam fungsi mentoring Role model adalah metode yang efektif
psikologis dan emosional adalah seni untuk menginspirasi seseorang membangun
mendengarkan, memberikan dukungan ketrampilan dan kemampuan mentee
moral, identifikasi masalah dan (Taylor, et al, 2009).
“A “role model” has been defined as a
memberikan dorongan, dan memberikan
“person whose behavior in a
hubungan yang suportif (Crips dan Cruz, particular role is imitated by others”.
2009). Role models can have a powerful effect
on students and residents in training”
Menurut Crips dan Cruz (2009) selama (Taylor, et al, 2009).
memberikan dukungan untuk pilihan
akademik mahasiswa, mentor mampu Menurut St-Jean (2011) fungsi dari
mentor terdiri dari tiga kategori, yaitu
mempresentasikan pada mahasiswa
fungsi psikologis, fungsi keterkaitan
mengenai kekuatan, kelemahan, dengan karir, dan fungsi teladan Beberapa
kemampuan mereka serta mendukung peran mentor yang termasuk dari fungsi
pembuatan perencanaan tujuan pencapaian psikologis:
akademik masing-masing mahasiswa. • Reflektor: Mentee bercerita tentang
Mentor melakukan fungsi ini dengan dirinya, ide, kemajuan proyeknya dan
eksplorasi ketertarikan, kemampuan, dan mentor memberinya umpan balik sebagai
kaca yang bisa mengidentifikasi kekuatan
dan kelemahan.
75
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
• Penghibur: ketika mentee mengalami METODE
masa yang sulit, mentor siap membantu
Penelitian ini menggunakan metode
untuk menghilangkan stress dan
deskriptif kualitatif dimana penelitian ini
memberikan perspektif positif untuk
tidak akan menetapkan penelitiannya hanya
menghadapi permasalahan.
berdasarkan variable penelitian tetapi
• Motivasi: Setelah masalah terselesaikan,
berdasarkan situasi sosial yang diteliti
mentor memotivasi mentee untuk lebih
meliputi aspek tempat, pelaku dan
percaya diri dan lebih persisten.
aktivitasyang berinteraksi secara sinergis
• Percaya diri: seiring berjalannya waktu,
(Sugiono, 2007). Penelitian ini
kepercayaan akan tumbuh, hubungan antara
menggunakan analisis deskriptif kuantitatif
mentor dan mentee menjadi lebih erat,
karena objek penelitian harus dijabarkan
layaknya teman.
secara detail dan membutuhkan waktu yang
Beberapa peran mentor yang berkaitan relatif lama sehingga dapat menemukan
dengan karir: solusi untuk mengatasi masalah penelitian.
• Integrasi: Mentor membuka peluang bagi Pemahan tentang pengertian kualitatif
mentee untuk memperluas jaringan, deskriptif lebih banyak dipengaruhi oleh
komunitas dan para ahli. Dengan pandangan deduktif-deskriptif (Bungin,
meningkatkan hubungan itu, mentor 2013). Validasi hasil penelitian
membantu mentee untuk mempersiapkan menggunakan teknik trianggulasi dimana,
masa depan ketika hubungan tersebut bisa pengumpulan data yang bersifat
sangat membantu. menggabungkan dari berbagai teknik
• Dukungan informasi: Peran ini dapat penggumpulan data dan sumber data yang
didefinisikan sebagai peralihan ilmu ada (Sugiyono, 2007). Teknik trianggulasi
pengetahuan dari mentor kepada mentee, menggunkan observasi partisipatif,
seperti hukum bisnis, bagaimana cara wawancara dengan teknik mentoring dan
mengatasi stress, bagaimana cara dokumentasi. Populasi penelitian adalah
mendapatkan sumber informasi, dan proyek bisnis mahasiswa Universitas
sebagainya. Ciputra dimana setiap proyek bisnis yang
• Konfrontasi: Mentor dapat menghadapi terpilih sebagai sudah mendapatkan
keyakinan, nilai, dan ide mentee yang mentoring dari fasilitator. Sampel yang
menghalangi untuk menemukan solusi. digunakan adala proyek bisnis mahasiswa
• Pemandu: Memberikan saran dan Fakultas Manajemen dan Bisnis Universitas
masukan untuk membantu mentee Ciputra angkatan 2013.
menemukan solusi. Konteks pembelajaran dan pembahasan
Mentor dapat juga menjadi role model adalah menciptakan sebuah start-up bisnis
ketika mentor membagikan pengalaman dengan tujuan mengarahkan mahasiswa
pribadinya sebagai sumber inspirasi dan menwujudkan bisnis secara mandiri
perbandingan bagi para mentee. Dengan sehingga mahasiswa memperoleh
menteladani mentor, mentee dapat belajar pendapatan sendiri dan menciptakan
untuk mengembangkan perilaku, sikap dan peluang usaha dengan metode mentoring.
kebiasaan mereka. Melalui peran dari Teknis pelaksanaan pembelajaran dan
mentor di atas, mentoring dapat membantu mentoring dilakukan secara lisan,
pengusaha potensial untuk melalui menggunakan tatap muka, media
perjalanan menuju kewirausahaan yang komunikasi berupa email, telephone, dan
sukses. sosial media. Topik yang berkaitan dengan
76
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
start-up bisnis (kendala dan mereka. Tahapan kedua adalah mahasiswa
perkemabangan bisnis) yang sedang diharapkan membentuk kelompok bisnis
dijalankan. yang dikelola secara profesional dan
Mahasiswa membentuk kelompok – menggunakan modal mandiri untuk
kelompok bisnis atau proyek bisnis dan memulai sebuah start up business.
mendapatkan mentoring dari fasilitator. Pembentukan kelompok ini juga memiliki
Durasi mentoring dilakukan minimal satu harapan mahasiswa dapat saling
kali dalam seminggu. dan ketika fasilitator berinteraksi dan melatih kerjasama dalam
melakukan mentoring mahasiswa membuat tim. Tahapan ketiga adalah tahapan
laporan perkembangan dari start-up eksekusi ide yang telah dirancang.
bisnisnya yang berisi tentang: Diharapkan mahasiswa memiliki proyek
perkembangan bisnis/ laba, perkembangan bisnis yang mampu sustain. Mulai
akan di rekap sehingga dapat dijadikan pengurusan legalitas dan mulai tahap
evaluasi keberhasilan pelaksaan bisnis dan memasarkan proyek bisnis mereka. Tahap
juga mentoring. keempat diharapkan setiap proyek bisnis
melakukan inovasi pada bisnisnya. Inovasi
yang dilakukan tidak hanya pada
HASIL & PEMBAHASAN
produknya melainkan pada jalannya bisnis
secara umum bisa pada aktifitas
pemasarannya atau produksinya. Tahapan
Pembelajaran entrepreneurship yang
kelima diharapkan bisnis mahasiswa
dilakukan pada Universitas Ciputra
mampu menembus pasar internasional.
dilakukan pada tujuh tahapan. Setiap
Pameran-pameran di luar negeri dan
tahapan dilakukan dalam waktu satu
penjualan diharapkan mampu menembus
semester. Setiap semester yang dilalui
pasar luar negeri. Tahap keenam dan
mahasiswa yang menempuh mata kuliah
ketujuh diharapkan proyek bisnis
entrepreneurship memiliki target capaian
mahasiswa lebih merencanakan rencana ke
tertentu. Setiap pergantian semester
depan. Evaluasi akan pencapaian-
memungkinkan business project mahasiswa
pencapaian yang telah dilalui dan apa yang
mendapatkan fasilitator yang berbeda.
harus diperbaiki guna mencapai apa yang
Fasilitator yang memberikan mentoring
menjadi tujuan perusahaan. Semua
kepada proyek bisnis mahasiswa adalah
tahapan-tahapan ini diharapkan dilalui
dosen dan beberapa entrepreneurial
mahasiswa dengan baik dan mampu
residence yang merupakan pelaku bisnis
memberikan pengalaman bisnis dan bahkan
yang membantu memberikan
melanjutkan bisnisnya.
bimbingannya terhadap mahasiswa.
Pendidikan entrepreneurship ini
Selama menjalankan proses-proses
dilakukan mulai semester satu sampai
yang harus dijalani mahasiswa menerima
semester tujuh. Pada semester satu
pembelajaran dalam bentuk perkuliahan
merupakan tahapan ground breaking
dan bimbingan dari fasilitator. Beberapa
dimana mahasiswa diberiikan wadah untuk
peran fasilitator diantaranya fungsi
membuat event dan melakukan penjualan.
psikologis yaitu sebagai:
Pada tahapan ini diharapkan mahasiswa
• Reflektor: mahasiswa bercerita tentang
mencoba mengenal karakter lingkungan
karakter dirinya dan mulai menyampaikan
sehingga mereka dapat menentukan siapa-
ide bisnis yang akan dilakukan. Pada fungsi
siapa yang kan menjadi partner bisnis
ini mahasiswa juga menyampaikan
77
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
kemajuan proyeknya. Fasilitator mengalami hambatan dalam jalannya
memberikan umpan balik dan berusaha bisnis.
membantu mahasiswa mengidentifikasi “...beberapa kali perkuliahan tamu yang
kekuatan dan kelemahan baik dari internal menghadirkan pelaku bisnis memberikan
maupun eksternal. inspirasi dalam kita menjalankan bisnis..”
• Dukungan informasi: Fasilitator
“...selama proses mentoring kita memberikan transformasi ilmu
melakukan diskusi dengan fasilitator dan pengetahuan baik dalam perkuliahan
menentukan faktor-faktor apa yang harus maupun diskusi yang dilakukan.
diperhatikan serta apa yang harus kita Penyampaian informasi mengenai legalitas,
lakukan...” isu-isu bisnis cara mengahadapi
permasalahan dapat terjadi melalui fungsi
• Penghibur: ketika mahasiswa mengalami ini.
permasalahan dalam menjalankan bisnisnya • Konfrontasi dan pemandu: fasilitator
fasilitator berusaha untuk memberikan dapat memberikan interupsi pada
semangat dan menunjukkan perspektif yang mahasiswa ketika mahasiswa mulai
positif dengan harapan dapat memberikan menghadapi masalah dan berhenti pada
bantuan kepada mahasiswa ketika pertimbangan saja. Fasilitator terkaddang
menghadapi permasalahan. memerankan fungsi mengarahkan pada
• Motivasi: Fasilitator berusahan eksekusi dan berpikir ke arah solusi.
mendorong mahasiswa untuk persisten. Fasilitator dapat juga menjadi role
model ketika membagikan pengalaman
“...kita pernah mengalami penurunan
pribadi dan pengetahuan yang dimiliki
penjualan, ada masukan dari fasilitator
sebagai sumber inspirasi dan perbandingan
untuk melakukan strategi penjualan yang
bagi para mahasiswa. Pembelajaran yang
berbeda bisa meningkatkan penjualan
dilakukan juga beberapa kali menghadirkan
lagi..”
pembicara dari para praktisi bisnis yang
• Percaya diri: komunikasi yang sering menyampaikan pengalaman mereka
dijalankan menjadikan hubungan antara menjalankan bisnis sebagai referensi dan
fasilitator dan mahasiswa menjadi lebih motivasi mahasiswa dalam menjalankan
dekat. Diskusi yang terjadi mengenai bisnisnya. Memberikan teladan dari
permasalahan dan perkembangan proyek fasilitator dan para pelaku bisnis
bisnis menjadi semakin leluasa dan detil. diharapkan mahasiswa mampu menteladani
dan mengembangkan perilaku, sikap dan
“...fasilitator memberikan informasi kebiasaan mereka. Fasilitator diharapkan
dan bantuan relasi ketika kita mencoba membantu mahasiswa menjadi pengusaha
mengurus perijinan...” potensial untuk melalui perjalanan menuju
kewirausahaan yang sukses.
Beberapa peran fasilitator yang
berkaitan dengan karir:
• Integrasi: jalinan relasi dimiliki oleh
fasilitator, baik dari sesama start up
business para ahli, legal dan profesional.
Semakin banyaknya networking yang
terjadi mampu membantu mahasiswa ketika

78
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Tabel 3. Jumlah Proyek Bisnis Peran fasilitator juga membimbing
Mahasiswa mahasiswa untuk dapat menghadapi konflik
saat proses start up business yang
Semester Jumlah Bertahan dilakukan mahasiswa. Tingkat bisnis yang
bertahan untuk melanjutkan bisnis dilihat
Ganjil 2014 117 96 juga dari faktor perkembangan bisnis, baik
Genap 2015 136 136 dari perkembangan omset dan bagaimana
Ganjil 2015 136 136 mengatasi permasalah yang terjadi antar
personil dalam proyek bisnisnya.
Sumber: Data Primer diolah (2016)
Setiap proyek bisnis menjalani
Jumlah proyek bisnis mahasiswa mentoring dan bisnis yang mereka jalankan
Fakultas Manajemen angkatan 2013 semakin berkembang seiring perubahan
Fakultas Manajemen dan Bisnis Universitas pola pikir, motivasi, dan pemahaman
Ciputra pada semester ganjil 2014 adalah mahasiswa seputar bisnis. Pengaruh positip
sejumlah 117 business project. Bisnis ini ini memberikan pengalaman bagi
bergerak pada berbagai bidang mulai dari mahasiswa dalam menghadapi tangtangan
food and beverage, jasa dan fashion. bisnis.
Jumlah bisnis yang bertahan setelah
melalui tahap mentoring pada fase start up
business lebih dari 80% yakni sebesar 96 SIMPULAN
proyek bisnis. Sebanyak 20% dari proyek
bisnis ini mampu meberikan keuntungan Mentoring sangat bermanfaat dalam
sebesar UMR Kota Surabaya bagi setiap mensukseskan program pembelajaran
anggotanya. Pada Semester genap 2015 bisnis dan pengembangan start-up bisnis
jumlah bisnis bertambah dikarenakan bagi mahasiswa Universitas Ciputra
anggota bisnis yang tidak melanjutkan Surabaya. Mahasiswa yang pada awalnya
bisnisnya membentuk bisnis baru dan mengalami kesulitan dalam menjalankan
beberapa juga menjalankan family bisnis. start-up business, setelah mendapatkan
Tidak lanjutnya beberapa proyek bisnis mentoring dari fasilitator menjadi memiliki
dikarenakan berbagai hal seperti arah menjalankan bisnisnya. Implikasi
permasalahan dengan anggota tim, merasa positipnya mahasiswa semakin memahami
bisnisnya tidak memberikan keuntungan permasalahan dalam menjalankan bisnis
untuk dijalankan, ketidak cocokan dengan dan memiliki pengalaman memanfaatkan
bidang bisnis yang dijalani, dan juga ada peluang bisnis.
yang ingin melanjutkan bisnis keluarganya.

DAFTAR RUJUKAN Perekonomian Indonesia. Jurnal


Entrepreneur dan
Entrepreneurship.Vol 2. No 1. Hal 29-
Bungin, B. 2013. Penelitian Kualitatif . 42.
Jakarta: Prenada Media Group.
Cook, M.J. dan Poole,L. 2011. Effective
Christian, S. 2013. Penggalaan Coaching. United States: mc.Graw
Entrepreneurship sebagai Langkah Hill Companies.
Awal untuk Peningkatan Kemandirian
79
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Crisp, G. dan Cruz, I. 2009. Mentoring
College Students: A Critical Review of Sugiyono. 2007. Metodologi Penelitian
the Literature Between 1990 and 2007. Bisnis. Bandung: Alfabeta.
Research in Higher Education. pp
525-545. Sumpeno, W. 2009. Menjadi Fasilitator
Genius. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Flaherty, J. 2010. Coaching: Evoking
Excellence in Others. USA: Routledge. Susanto, A.B. 2008. The Jakarta
Consulting Group on Family Business.
Nugroho, R. 2009. Memahami Latar Jakarta: The Jakarta Consulting Group.
Belakang Pemikiran Entrpreneurship
Ciputra: Membangun Keunggulan Taylor, C., Jay, C.T., dan Stoller,J.K. 2009.
Bangsa dengan Membangun The Influence of Mentorship and Role
Entrepreneur. Jakarta : Elex Media Modelling on Developing Physician–
Komputindo. Leaders: Views of Aspiring and
Established Physician–Leaders.
Ries, E. 2011. The Lean Startup: How .pp.1130-1134.
Today's Entrepreneurs Use Continuous
Innovation to Create Radically Thompson, L.A. dan Vance, L.K. 2001.
Successful Businesses. Crown The Impact of Mentoring on Academic
Publishing Group. Achievement of Risk Youth. Children
and Youth Services Review. Vol 23.
Slamet, F., Tunjungsari, H.K., dan Le, M. No 3 pp 227-242.
2014. Dasar-Dasar Kewirausahaan
Teori & Praktek, Jakarta : PT Indeks. Yuliawati, l. 2013. Quo Vadis: Mentoring
in Entrepreneurship Education. Jurnal
St-Jean, E. 2011. Mentor Functions for Entrepreneur dan
Novice Entrepreneurs. Academy of Entrepreneurship.Vol 2. No 1. Hal 23-
Entrepreneurship Journal. Vol 17. No 28.
1. Hal 37-48.

80
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk
Membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Pendidikan Kewirausahaan Di Perguruan Tinggi
Antara Harapan Dan Kenyataan

Wardoyo
Universitas Gunadarma, Jakarta
Liana Mangifera
2 Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta

Email : wardoyo@staff.gunadarma.ac.id; liana.mangifera@ums.ac.id

Abstrak : Perguruan Tinggi sebagai agen perubahan diharapkan dapat melahirkan


banyak wirausahawan.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis antara harapan
dan kenyataan pada pendidikan kewirausahaan yang diselenggarakan Perguruan
Tinggi.Obyek penelitian adalah mahasiswa Perguruan Tinggi yang berada di Jakarta,
Bogor, Bandung, dan Surakarta. Data yang digunakan adalah data primer yang
dikumpulkan melalui kuesioner dari 300 responden. Alat analisis yang digunakan
adalah statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensi atau minat
mahasiswa menjadi wirausaha besar, namun kenyataannya tidak didukung dengan
kurikulum dan model pengajaran yang baik sehingga baru sebagian kecil mahasiswa
yang sudah memulai berwirausaha.

Kata Kunci: pendidikan kewirausahaan, wirausaha, mahasiswa

Setiap lulusan Perguruan Tinggi sudah pasti Krueger dan Brazeal (1994)
mempunyai harapan dapat mengamalkan merekomendasikan bahwa pendidikan
ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kewirausahaan dapat meningkatkan persepsi
telah didapat selama studi sebagai salah satu kelayakan untuk bisnis kewirausahaan
pilihan untuk berprofesi. Secara realistis ada melalui peningkatan pengetahuan dasar
tiga pilihan yang kemungkinan akan dialami mahasiswa, membangun rasa percaya diri
lulusan Perguruan Tinggi setelah dan mempromosikan efikasi diri.Program
menyelesaikan studinya. Pertama, menjadi pendidikan kewirausahaan merupakan
sebagai pegawai atau karyawan swasta, sumber sikap kewirausahaan dan intensi
Badan Usaha Milik Negara atau Pegawai keseluruhan untuk menjadi wirausaha masa
negeri. Kedua, kemungkinan akan menjadi depan (Souitaris et al., 2007).
pengangguran karena sulitnya mendapatkan Tantangan terbesar bagi dunia
pekerjaan dan lapangan pekerjaan pun yang akademisi dalam hubungannya dengan
semakin sedikit, karena banyak perusahaan pendidikan kewirausahaan adalah kelayakan
yang bangkrut akibat krisis moneter yang kurikulum dan program pelatihan (Garavan
pernah melanda Negara Indonesia. Ketiga, dan O’Cinneide, 1994). Menurut Scharg,
menjadi wirausaha yaitu membuka usaha Adele, dan Poland (1987) wirausahawan
sendiri sesuai dengan bidang usaha ilmu merupakan hasil belajar. Menurut jiwa
pengetahuan dan teknologi yang dipelajari wirausahawan mungkin juga diperoleh sejak
selama di Perguruan Tinggi.Atau membuka lahir sebagai bakat , namun juka tidak diasah
usaha sesuai kemampuan dan keinginan melalui belajar dan dimotivasi dalam proses
berwirausaha. pembelajaran, mungkin laksana pisau yang
Pentingnya pendidikan dikemukakan tumpul.
oleh Holt (Rahmawati, 2000) yang Pendidikan kewirausahaan dapat
mengatakan bahwa paket pendidikan membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku
kewirausahaan akan membentuk siswa pada mahasiswa menjadi seorang
untuk mengejar karir kewirausahaan. wirausahawan (entrepreneur) sejati sehingga
Pendidikan formal memberikan pemahaman mengarahkan mereka untuk memilih
yang lebih baik tentang proses berwirausaha sebagai pilihan karir.
kewirausahaan, tentang yang dihadapi para Pendidikan kewirausahaan pada umumnya
pendiri usaha baru dan masalah-masalah mengacu pada program-program yang
yang harus diatasi agar berhasil.Kurangnya mempromosikan kesadaran kewirausahaan
pendidikan kewirausahaan menyebabkan untuk tujuan karir dan memberikan
rendahnya tingkat intensi berwirausaha pelatihan keterampilan untuk penciptaan dan
mahasiswa (Franke dan Luthje, 2004). pengembangan bisnis (Vesper,1990;Bechard
dan Toulouse,1998). Hal ini dibedakan dari
81
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
bentuk-bentuk lain dari pendidikan bisnis berbeda yang selalu termasuk kegiatan pada
yang tujuannya menciptakan produk atau sistem pendidikan secara
jasa baru yang menghasilkan nilai ekonomi keseluruhan.Kesepakatan mereka,
yang lebih tinggi (Hansemark, 1998). pendidikan kewirausahaan harus
Menurut penelitian Ahmad (2003) pada dipertimbangkan sebagai sebuah model
lulusan manajemen sebuah Perguruan pembelajaran sepanjang hidup.
Tinggi Swasta (PTS) di Jakarta Selatan Alberti, Sciascia, dan Poli (2004)
terdapat 19 persen responden yang mendefinisikan pendidikan kewirausahaan
menyatakan berminat untuk menjadi sebagai struktur formal dari kompetensi
wirausahawan. Penelitian yang dilakukan kewirausahaan, yangmana dalam gilirannya
Wardoyo (2012) terhadap 500 mahasiswa di menghubungkan konsep, keterampilan dan
Jakarta yang berminat menjadi wirausaha kesadaran mental yang digunakan oleh
setelah lulus sebesar 40 persen. Berdasarkan individu selama proses memulai dan
penelitian Paulina dan Wardoyo (2012) membangun usaha yang berorientasi
terhadap 200 mahasiswa tingkat akhir pertumbuhan yang digunakan. Referensi
Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma untuk membuat usaha yang berorientasi
diperoleh hasil 30 persen mahasiswa pertumbuhan pada definisi ini adalah
berminat menjadi wirausaha. penting untuk diperhatikan bagi manfaat
Tujuan penelitian ini adalah untuk pendidikan dan pelatihan sebagai perbedaan
menganalisis antara harapan dan kenyataan dari bekerja sendiri dari kewirausahaan.
pada pendidikan kewirausahaan yang Seperti yang dimaksud oleh Garavan dan
diselenggarakan Perguruan Tinggi. O’Cinneide (1994) semua wirausahawan
adalah bekerja sendiri, namun tidak semua
Pendidikan Kewirausahaan yang bekerja sendiri adalah wirausahawan.
Komponen kritis dari pendidikan
Ketertarikan pada kewirausahaan telah kewirausahaan menurut Alberti et al. (2004)
berkembang sejak tahun 1970an, baik pada dapat dilihat pada Gambar 1.
putaran akademik maupun politik,
pendidikan kewirausahaan juga telah Tujuan Peserta
berpengalaman mengalami peningkatan
yang cepat di seluruh dunia (Loucks, 1988).
Teori-teori terbaru pada pembangunan
ekonomi dan penyesuaian struktural dari
perekonomian termasuk promosi
kewirausahaan merupakan instrumen krusial
mereka (Liñán dan Rodríguez, 2004). Pada
Penilaian Materi/Isi Pedagogi
pengertian ini, pendidikan kewirausahaan
dapat dimaksudkan sebagai sebuah strategi
yang secara potensial sangat efektif. Akan
tetapi ini akan menjadi penting untuk
memperkenalkan sebuah batas tertentu dari
keberadaan jenis-jenis yang berbeda dari
pendidikan kewirausahaan.
Bentuk pendidikan kewirausahaan yang
paling sederhana adalah dengan pelatihan
bagi penciptaan perusahaan. Sebagai contoh,
McIntyre dan Roche (1999) menegaskan Gambar 1 Hubungan diantara lima isu dalam
bahwa proses dari konsep dan keterampilan pendidikan kewirausahaan (Alberti et al.,
yang menyediakan individu-individu untuk 2004).
mengenal peluang-peluang sedangkan yang
lain mengabaikan, dan untuk mempunyai Konsep berikut ini akan menjadi cukup
wawasan dan penghargaan diri untuk luas untuk cakupan yang dimaksud diatas:
melakukan sementara yang lain ragu-ragu. seperangkat kegiatan pendidikan dan
Ini meliputi instruksi-instruksi dalam pelatihan yang mencoba untuk membangun
pengenalan peluang, penyusunan sumber- intensi peserta untuk melakukan perilaku-
sumber dalam keberanian menanggung perilaku kewirausahaan, atau beberapa
risiko, dan memulai sebuah usaha elemen yang memengaruhi intensi tersebut,
bisnis.Konsepsi yang lebih luas meliputi seperti pengetahuan kewirausahaan,
sejumlah tujuan dan langkah-langkah yang
82
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
kesenangan akan aktivitas kewirausahaan, aktivitas khusus bagi peserta untuk memulai
atau kelayakannya. Ini termasuk usaha mereka.
pengembangan pengetahuan, kapasitas, Alberti et al. (2004) menegaskan bahwa
sikap dan kualitas pribadi yang diidentifikasi tujuan pendidikan tergantung pada peserta
sebagai kewirausahaan. Khususnya untuk belajar (1); penilaian dapat dikerjakan hanya
usia kerja, pendidikan kewirausahaan akan jika tujuan ditetapkan (2); isi dapat
mencari ciptaan yang mengesankan dari didefinisikan hanya setelah tujuan
perusahaan dan tenaga dinamis mereka yang ditetapkan (3); dan tergantung pada peserta
berikut. (4); pedagogi dapat dipilih tergatung pada isi
Definisi ini memperkenalkan sejumlah (5) dan peserta (6); penilaian tergantung
ciri-ciri karakteristik yang membuat ini pada isi (7); dan pedagogi (8). Alberti et al.
berguna sebagai sebuah kerangka kerja (2004) mengakhiri lima inti dasar isu
untuk analisis dan klasifikasi dari penelitiannya pada pendidikan
keberadaan inisiatif yang berbeda.Pada kewirausahaan dan hubungan mereka
tempat pertama, definisi ini mencoba untuk mempunyai implikasi penting bagi
memasukkan semua aktivitas-aktivitas pengembangan sebuah proses pembelajaran
pendidikan dan tidak hanya pengembangan yang efektif.
dalam sistem pendidikan.Kedua, meliputi Rerangka kerja penelitian pendidikan
tujuan yang besar daripada penyebaran dari kewirausahaan ini meminjam dari isu utama
sebuah iklim kewirausahaan atau dari Niyonkuru(2004) pada pendidikan
pembentukan perusahaan.Ini juga mencoba kewirausahaan yang meliputi isu-isu yang
untuk meningkatkan derajat kedinamisan berhubungan dengan tujuan, isi atau materi
para wirausahawan; yang dikatakan sebagai dari pengajaran kewirausahaan, dan metode
kualitas kewirausahaan (Guzmán dan pengajaran.
Santos, 2001).Ketiga, peran pendidik akan
menjadi diperkenalkan secara jelas. Para Tujuan Pendidikan Kewirausahaan
instruktur harus berkonsentrasi pada Kepustakaan kewirausahaan
penciptaan dan penguatan intensi memberikan bukti kebingungan yang ada
kewirausahaan para peserta (Fayolle, antara kursus-kursus kewirausahaan dan
2003).Apakah intensi ini berubah menjadi kursus-kursus manajemen tradisional (Hills,
aksi atau tidak tergantung pada banyak 1998). Kemudian, banyak orang sebagai
faktor (lingkungan, kesempatan, pemula telah menerima pendidikan
sumberdaya, dan sebagainya) yang manajemen bisnis dengan nama pendidikan
merupakan faktor-faktor diluar jangkauan kewirausahaan. Melalui identifikasi dari
pendidik. tujuan yang beragam dari kursus-kursus
Disamping itu, definisi ini menjelaskan kewirausahaan, kebingungan ini mungkin
sebuah perbedaan yang jelas antara dihindari.Garavan dan O’Cinneide (1994)
pendidikan kewirausahaan dan pelatihan menyarankan hal umum dalam menyebutkan
manajemen.Pelatihan manajemen biasanya pendidikan kewirauasahaan adalah sebagai
tidak berhubungan dengan karakteristik, berikut.
keterampilan, sikap atau intensi dari peserta, a. Memperoleh pengetahuan yang
tetapi sebagian besar dengan pengetahuan berhubungan dengan kewirausahaan;
teknik yang diperlukan untuk adminsistrasi b. Memperoleh keterampilan dalam
bisnis. Pelatihan manajemen tidak akan teknik, dalam menganalisis situasi
tertarik pada proses pembuatan sebuah bisnis dan dalam sintesis rencana
proyek kewirausahaan independen, atau aksi;
secara dinamis tetapi sebagian besar pada c. Mengenali dan menstimulasi
operasi organisasi perusahaan. pendorong kewirausahaan, bakat dan
Pada prisipnya, inisiatif pendidikan keterampilan
kewirausahaan harus sesuai dengan definisi d. Membuka bias risiko antagonis dari
ini, jadi ini menjadi diperlukan untuk beberapa teknik analisis;
membuat beberapa jenis klasifikasi. e. Mengembangkan empati dan
McMullan dan Gillin (1998), menetapkan dukungan untuk aspek-aspek khusus
enam elemen yang berbeda dari proyek dari kewirausahaan;
pendidikan kewirausahaan: a) tujuan yang f. Merancang perubahan sikap ke
diikuti; b) fakultas atau tim guru yang akan depan;
menanamkan pendidikan kewirausahaan; c) g. Mendorong terbentuknya usaha baru;
mahasiswa peserta; d) isi dari kursus; e) dan
metode pengajaran; dan f) dukungan
83
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
h. Menstimulasi elemen sosialisasi penting untuk memahami arti melampirkan
afektif (Alberti et al ., 2004). setiap komponen.
Brown (2000) menegaskan bahwa
Materi Pengajaran Kewirausahaan pengenalan peluang meliputi identifikasi
Menurut Brown (2000) pendidikan dari keinginan yang tidak ditepati dari pasar
kewirausahaan harus “ditinjau pada dan kreasi dari ide untuk jasa atau produk
terminologi keterampilan yang dapat yang sesuai antara kebutuhan dengan harga
ditimbulkan oleh mahasiswa” agar supaya yang dapat diterima. Pengenalan peluang
membantu mereka membangun rencana- mensyaratkan observasi pasar, mengerti
rencana baru dan inovatif. Dalam hal ini keinginan dan kebutuhan konsumen, dan
Brown menyebut bahwa kurikulum harus hasil penemuan dan adaptasi.
fokus pada ciri-ciri yang dibutuhkan untuk
memikirkan dan memulai bisnis baru. Metode Pengajaran Kewirausahaan
Alberti et al. (2004) menyebut empat jenis Berbagai peneliti telah menekankan isu-
pengetahuan yang bermanfat bagi isu yang berhubungan dengan pedagogi
wirausaha: (1) pengetahuan umum tentang untuk pendidikan kewirausahaan. Sexton
bisnis, (2) pengetahuan umum tentang dan Upton (1988) menyarankan agar
usaha, (3) pengetahuan khusus tentang program-program kewirausahaan dirancang
peluang, dan (4) pengetahuan khusus seperti sebuah cara untuk membuat
tentang usaha. wirausahawan potensial menyadari tentang
Mereka mengklaim bahwa pengetahuan hambatan masuk pada aktivitas
khusus tentang peluang dan usaha kewirausahaan dan juga pada kenyataan
merupakan hal paling penting untuk hidup mereka dapat mampu untuk
keberhasilan wirausaha.Oleh karena itu, merencanakan strategi-strategi untuk
program-program pada kewirausahaan harus menguasainya. Intinya adalah bahwa
membantu perkembangan dua kategori pendidik tidak hanya harus menaikkan
pengetahuan terakhir. kesadaran mahasiswa tentang
Kourilsky (1995) mendiskusikan isi apa kewirausahaan tetapi mereka juga harus
yang harus menjadi inti dari pendidikan melibatkan pemula untuk mengalami
kewirausahaan dan dia menyebut tiga atribut frustasi yang dihubungkan dengan aktivitas
yang harus merupakan isi dari apa yang ia kewirausahaan. Untuk menyempurnakan ini,
sebut sebagai pendidikan kewirausahaan Sexton dan Upton (1984) mengajukan
yaitu: sebuah struktur, dalam mana kursus-kursus
a. persepsi dan evaluasi peluang; menekankan aktivitas individu diatas tugas
b. menyusun dan tanggungjawab dari kelompok, secara relatif tidak terstruktur,
sumber-sumber untuk mengejar dan menampilkan masalah-masalah yang
peluang; mensyaratkan sebuah solusi cerita dibawah
c. menciptakan dan mengoperasikan kondisi ambiguitas dan risiko.
bisnis untuk mengimplementasikan Garavan dan O’Cinneide (1994)
motivasi peluang ide bisnis. mendiskusikan proses pengajaran yang
Gorman et al. (1997) mendukung tiga paling tepat dan pedagogi untuk mentransfer
komponen dari pendidikan kewirausahaan keterampilan dan pengetahuan
yang efektif dengan ditunjukkan oleh: kewirausahaan. Mereka maksudkan bahwa
a. kemampuan untuk mendeteksi dan wirausaha, adalah orang yang baru mulai
mengekploitasi peluang bisnis lebih usaha yang membutuhkan gaya pengajaran
cepat; yang berbeda – pengalaman kongkrit,
b. kemampuan untuk merencanakan merefleksikan observasi, konseptualisasi
lebih rinci; dan abstrak dan eksperimen aktif.
c. proyek lebih jauh pada masa depan
dengan membedakan program METODE
kewirausahaan dari program
manajemen tradisional. Sampel dan Data Penelitian
Implikasinya adalah isi dari pendidikan Teknik pengambilan sampel yang digunakan
kewirausahaan harus menekankan dalam penelitian ini adalah simple random
kemampuan mengidentikasi peluang, sampling. Jumlah sampel untuk penelitian
mengejar peluang dan ini diperkirakan sebesar kurang lebih 300
mentransformsikannya ke dalam bisnis yang responden dengan alasan penentuan jumlah
berorientasi pertumbuhan. Oleh karena itu berdasarkan pendapat Sugiyono (2009),
bahwa dalam pengambilan sampel untuk
84
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
populasi yang tidak terhingga dan tidak Untuk menumbuhkembangkan jiwa
diketahui dapat diambil sampel sebanyak kewirausahaan dan meningkatkan aktivitas
100 orang dengan asumsi populasi tersebut kewirausahaan agar para lulusan perguruan
berdistribusi normal. Jumlah sampel 300 tinggi lebih menjadi pencipta lapangan kerja
diperkuat oleh pendapat Roscoe dari pada pencari kerja, maka diperlukan
(Sekaran,2006) yang menyatakan bahwa suatu usaha nyata.Departemen Pendidikan
jumlah sampel lebih besar dari 30 dan Nasional telah mengembangkan berbagai
kurang dari 500 pada kebanyakan penelitian kebijakan dan program untuk mendukung
sudah terwakili. terciptanya lulusan perguruan tinggi yang
Sumber data dalam penelitian ini adalah lebih siap bekerja dan menciptakan
data primer yang diperoleh dari jawaban pekerjaan.Program Kreativitas Mahasiswa
atau tanggapan atas pertanyaan yang (PKM) dan Cooperative Education (Co-op)
diajukan dalam kuesioner,sehingga peneliti telah banyak menghasilkan alumni yang
tidak mempengaruhi jawaban responden terbukti lebih kompetitif di dunia kerja, dan
terhadap kuesioner tersebut. Penelitian hasil-hasil karya invosi mahasiswa melalui
difokuskan pada penyelenggaraan PKM potensial untuk ditindaklanjuti secara
Pendidikan Kewirausahaan. Penelitian ini komersial menjadi sebuah embrio bisnis
tidak menggunakan benchmarking agar berbasis Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan
tidak memperluas permasalahan yang Seni (Ipteks).Kebijakan dan program
sedang diteliti, sehingga penelitian lebih penguatan kelembagaan yang mendorong
terfokus kepada intern obyek yang diteliti peningkatan aktivitas berwirausaha dan
yaitu penyelenggaraan Pendidikan percepatan pertumbuhan wirausaha–
Kewirausahaan. wirausaha baru dengan basis IPTEKS sangat
Pengambilan sampel dilakukan diperlukan.
menggunakan kuesioner yang disebarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
kepada 300 responden yang terdiri dari mengembangkan sebuah Program
mahasiswa yang sedang menempuh kuliah Mahasiswa Wirausaha yang merupakan
di wilayah Jakarta, Bandung, Bogor, kelanjutan dari program-program
Depokdan Surakarta. Dari 300 kuesioner sebelumnya untuk menjembatani para
yang disebarkan yang kembali semua, mahasiswa memasuki dunia bisnis riil
sedangkan data yang lengkap dan diolah ada melalui fasilitasi start-up bussines.Program
293. Mahasiswa Wirausaha (PMW), sebagai
Alat analisis yang digunakan dalam bagian dari strategi pendidikan di Perguruan
penelitian ini adalah metode deskriptif Tinggi, dimaksudkan untuk memfasilitasi
kualitatif, yaitu metode penelitian yang para mahasiswa yang mempunyai minat dan
berusaha menggambarkan obyek atau bakat kewirausahaan untuk memulai
subyek yang diteliti sesuai dengan apa berwirausaha dengan basis ilmu
adanya, dengan tujuan menggambarkan pengetahuan, teknologi dan seni yang
secara sistematis, fakta dan karakteristik sedang dipelajarinya.Fasilitas yang
obyek yang diteliti secara tepat. Metode diberikan meliputi pendidikan dan pelatihan
deskriptif menurut Sugiyono (2009) adalah kewirausahaan, magang, penyusunan
metode yang digunakan untuk rencana bisnis, dukungan permodalan dan
menggambarkan atau menganalisis suatu pendampingan usaha.Program ini
hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk diharapkan mampu mendukung visi-misi
membuat kesimpulan yang lebih luas. pemerintah dalam mewujudkan kemandirian
Menurut Nasir (2003), metode deskriptif bangsa melalui penciptaan lapangan kerja
adalah suatu metode dalam meneliti status dan pemberdayaan UKM.
kelompok manusia, suatu obyek, suatu set Pada penelitian ini responden terdiri
kondisi, suatu system pemikiran, ataupun atas laki-laki dan perempuan yang
suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. kesemuanya adalah mahasiswa yang sudah
Jadi metode penelitian deskriptif adalah mendapatkan matakuliah Kewirausahaan.
suatu penelitian yang menggunakan satu Responden berasal dari mahasiswa yang
variable tanpa menggunakan variabel lain sedang menempuh kuliah di Jakarta,
sebagai pembanding. Bandung, Bogor, dan Surakarta. Tempat
tinggal responden ada di Jakarta, Bandung,
HASIL & PEMBAHASAN Bogor, Depok, Tangerang, dan Surakarta.
Mahasiswa yang menjadi responden
Kewirausahaan Sebagai Sebuah Harapan adalah mahasiswa jurusan atau program
studi Manajemen, Akuntansi, dan
85
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Administrasi Keuangan. Etnografi Gambar 3 menunjukkan jumlah
responden terdiri dari Padang, Jawa, responden yang memilih pekerjaan sebagai
Tionghoa, Sunda, Betawi, dan lainnya. wirausaha adalah 124 (42%) responden yang
Pekerjaan orangtua responden terdiri dari terdiri dari 71 orang jurusan Manajemen, 51
wirausaha atau pengusaha, Pengawai Negeri orang jurusan Akuntansi, dan 2 orang
Sipil, pegawai swasta, dan lainnya. jurusan Administrasi Keuangan. Responden
Pekerjaan yang akan dipilih setelah lulus yang memilih bekerja sebagai PNS
dan dalam jangka panjang meliputi sebanyak 99 (34%) yang terdiri dari 46
wirausaha atau pengusaha, Pengawai Negeri orang jurusan Manajemen, 44 orang jurusan
Sipil (PNS), pegawai swasta, dan pekerjaan Akuntansi, dan 9 orang jurusan Administrasi
lainnya. Keuangan. Reponden yang memilih menjadi
pegawai swasta sebanyak 59 (20%) terdiri
dari 29 orang jurusan Manajemen, 23 orang
Pegawai Lainnya
Swasta 4% Wi rausa jurusan Akuntansi, dan 7 orang jurusan
20% ha Administrasi Keuangan. Sisanya 11 (4%)
42% responden memilih pekerjaan lainnya terdiri
dari 5 orang jurusan Manajemen, 5 orang
PNS jurusan Akuntansi, dan 1 orang jurusan
34% Administrasi Keuangan.
Perbandingan responden yang memilih
pekerjaan sebagai wirausaha atau pengusaha
setelah lulus kuliah berdasarkan jurusan atau
program studi lebih banyak jurusan
Manajemen, yaitu 20 responden atau 28
Gambar 2 Pilihan Pekerjaan Responden
persen. Perbedaan ini dapat dijelaskan
Setelah Lulus
karena jurusan atau program studi
Manajemen lebih banyak mendapatkan
Gambar 2 menunjukkan pekerjaan yang
matakuliah yang mendukung kompetensi
dipilih oleh responden setelah lulus kuliah.
kewirausahaan dibandingkan jurusan
Pekerjaan yang paling banyak dipilih oleh
Akuntansi. Matakuliah pendukung
responden adalah wirausaha sebanyak 124
kompetensi kewirausahaan yang ditawarkan
(42%), disusul Pegawai Negeri Sipil (PNS)
pada jurusan Manajemen tetapi tidak
99 (34%), pegawai swasta 59 (20%), dan
ditawarkan pada jurusan Akuntansi antara
sisanya 11 (4%) memilih pekerjaan lainnya.
lain: Perilaku Konsumen, Riset Pasar, dan
Berdasarkan pekerjaan yang dipilih
Komunikasi Pemasaran.
mahasiswa setelah lulus paling banyak
Gambar 4 menunjukkan jumlah
adalah wirausaha atau pengusaha. Hal ini
responden yang memilih pekerjaan sebagai
berarti ada harapan bagi bangsa Indonesia ke
wirausaha adalah 124 (42%) responden yang
depan untuk menjadi negara maju karena
terdiri dari 77 orang laki-laki dan 57 orang
generasi mudanya paling banyak memilih
perempuan. Responden memilih menjadi
bekerja mandiri sebagai wirausaha daripada
PNS sebanyak 99 (34%) terdiri dari 37
pekerjaan yang lain.
orang laki-laki dan 62 orang perempuan.
Responden yang memilih bekerja sebagai
pegawai swasta sebanyak 59 (20%) terdiri
dari 17 orang laki-laki dan 42 orang
perempuan. Sisanya 11 (4%) responden
memilih pekerjaan lainnya.

Gambar 3 Pilihan Pekerjaan Responden


Berdasarkan Jurusan

86
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
diantaranya berintensi menjadi wirausaha.
Sebanyak 19 (6%) responden tinggal di
Bekasi 6 (42%) diantaranya memilih
menjadi wirausaha. Sisanya 90 (31%)
responden tinggal di Surakarta 49 (54%)
diantaranya memilih menjadi wirausaha.
Berdasarkan pilihan pekerjaan sebagai
wirausaha responden yang berdomisili di
Surakarta menempati peringkat pertama.
Surakarta sebagai kota menengah yang
merupakan pusat bisnis dan budaya menarik
Gambar 4 Pilihan Pekerjaan Responden
Berdasarkan Jenis Kelamin minat reponden untuk berwirausaha.
Kondisi seperti ini merupakan pasar
potensial untuk berbagai macam produk
Pilihan pekerjaan sebagai wirausaha
atau pengusaha lebih banyak dipilih oleh mulai dari makanan atau kuliner sampai
dengan produk-produk yang mencerminkan
laki-laki daripada perempuan. Laki-laki
gaya hidup seperti butik, aksesoris, barang-
lebih suka mengambil risiko dibandingkan
dengan perempuan. Pengalaman peneliti barang elektronik dan lain-lain. Bagi orang-
orang yang mempunyai intensi berwirausaha
dalam mengampu matakuliah
maka orang tersebut akan menangkap
Kewirausahaan laki-laki lebih memiliki
intensi berwirausaha. Hal ini dibuktikan peluang untuk dijadikan bisnis.
laki-laki lebih banyak yang sudah memiliki
usaha kecil disamping kegiatan perkuliahan.
Perempuan lebih banyak memilih pekerjaan
sebagai PNS. Perempuan lebih senang
kenyamanan dan kepastian dalam pekerjaan
karena menjadi PNS mendapatkan
penghasilan tetap dan relatif aman dari
pemutusan hubungan kerja.

Gambar 6 Pilihan Pekerjaan Responden


Berdasarkan Etnis
Gambar 6 menunjukkan dari 293
responden yang merupakan etnis Padang
sebanyak 17 (6%) responden. Dari jumlah
tersebut 10 (59%) responden memilih
pekerjaan sebagai wirausaha atau pengusaha
setelah lulus kuliah. Etnis Jawa sebanyak
139 (47%) responden, 62 (45%) diantaranya
memilih menjadi wirausaha. Sebanyak 10
Gambar 5 Pilihan Pekerjaan Responden
(3%) responden merupakan etnis Tionghoa
Berdasarkan Tempat Tinggal
3 (30%) responden diantaranya memilih
Gambar 5 menunjukkan responden yang
menjadi wirausaha. Responden beretnis
bertempat tinggal di Jakarta sebanyak 41
Sunda 88 (30%), 38 (43%) diantaranya
(14%) responden. Dari jumlah tersebut 13
memilih menjadi wirausaha. Sebanyak 19
(32%) responden memilih pekerjaan sebagai
(6%) responden merupakan etnis Betawi 5
wirausaha atau pengusaha setelah lulus
(26%) responden diantaranya memilih
kuliah. Sebanyak 80 (27%) responden
menjadi wirausaha. Sisanya 20 (7%)
tinggal di Bandung 29 (36%) diantaranya
responden merupakan etnis lainnya 6 (33%)
berintensi menjadi wirausaha. Sebanyak 37
diantaranya memilih menjadi wirausaha.
(13%) responden tinggal di Bogor 16 (43%)
Budaya kewirausahaan mengandung
diantaranya berintensi menjadi wirausaha.
nilai-nilai seperti pantang menyerah, berani
Sebanyak 11 (4%) responden tinggal di
mengambil risiko, kreatif dan inovatif.
Depok 4 (36%) diantaranya berintensi
Karakter inilah yang dimiliki oleh etnis
menjadi wirausaha. Responden yang tinggal
Padang sehingga lebih dari 50% dari mereka
di Tangerang sebanyak 15 (5%), 5 (33%)
yang menjadi responden memilih pekerjaan
87
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
sebagai wirausaha atau pegusaha setelah atau 32% responden memilih menjadi
lulus kuliah. Besarnya persentase etnis wirausaha setelah lulus kuliah. Peringkat
Padang yang memilih pekerjaan sebagai terakhir 41 orang atau 14% responden
wirausaha secara umum belum bisa mempunyai pekerjaan lainnya, dimana 15
mewakili mengingat responden etnis Padang atau 37% responden memilih menjadi
hanya 6%. wirausaha setelah lulus kuliah. Tabel 1
Hasil penelitian Mariska (2008) menunjukkan pekerjaan yang dipilih oleh
menyimpulkan bahwa sifat paling dominan responden setelah lima tahun mereka lulus
pada wirausaha etnis Padang adalah kuliah. Pekerjaan yang paling banyak dipilih
keluwesan bergaul, keyakinan diri, kerja oleh responden adalah wirausaha sebanyak
keras, dan instrumental.Keluwesan bergaul 197 (67%), disusul Pegawai Negeri Sipil
etnis Padang dapat dilihat pada pepatah (PNS) 60 (20%), pegawai swasta 26 (9%),
‘dimana bumi dipijak, disitu langit dan sisanya 10 (3%) memilih pekerjaan
dijunjung’.Artinya kita harus bisa lainnya. Berdasarkan pekerjaan yang dipilih
menyesuaikan diri dimanapun kita mahasiswa setelah lima tahun lulus paling
berada.Berbisnis memerlukan kelenturan banyak adalah wirausaha atau pengusaha.
untuk dapat memahami peraturan yang ada, Hal ini berarti ada harapan bagi bangsa
kebutuhan dan keinginan konsumen, dan Indonesia untuk menjadi negara maju karena
lingkungan sekitar. Sebagai bukti, beberapa generasi mudanya paling banyak memilih
pedagang batik di sepanjang jalan bekerja mandiri sebagai wirausaha daripada
Malioboro dan pasar Beringharjo kota pekerjaan yang lain.
Jogjakarta, dan pedagang batik di pasar
Klewer Surakarta menggunakan bahasa
Jawa adalah etnis Padang.
Gambar 7 menunjukkan pekerjaan atau
profesi orangtua responden sebagai
wirausaha atau pengusaha merupakan
profesi terbanyak dengan jumlah 105 orang
atau 36% dimana 63 atau 60% responden
memilih menjadi wirausaha setelah lulus
kuliah. Disusul kemudian oleh PNS yang
berjumlah 75 orang atau 26% dimana 23
orang atau 31% responden memilih menjadi Gambar 7 Pilihan Pekerjaan Responden
wirausaha setelah lulus kuliah. Peringkat
Berdasarkan Pekerjaan Orangtua
berikutnya adalah pegawai swasta yang
berjumlah 72 orang atau 25% dimana 23

Tabel 1 Pekerjaan Yang Dipilih Responden Masa Yang Akan Datang


Setelah Setelah 5 Perubahan
Piilhan Lulus tahun
Pekerjaan Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Wirausaha 124 42 197 67 73 25
-39 -
PNS 99 34 60 20 13
Pegawai -33 -
Swasta 59 20 26 9 11
Lainnya 11 4 10 3 -1 0
beberapa alumni perguruan tinggi yang
Perubahan pilihan pekerjaan dari PNS sebelumnya bekerja sebagai pegawai swasta
dan pegawai swasta banyak jumlahnya. berpindah menjadi wirausahawan.
Menurut beberapa responden bahwa mereka Tingginya perubahan pilihan pekerjaan
akan bekerja untuk mencari pengalaman, dari PNS ke wirausaha tidak sesuai dengan
mengumpulkan modal, dan membuat penelitian yang dilakukan oleh Mazzarol,
jejaring. Setelah mereka merasa punya Volery, Doss dan Thein, (1999) bahwa
pengalaman, modal, dan jejaring serta seseorang yang pernah bekerja di sektor
kemampuan mengelola usaha maka mereka pemerintahan cenderung kurang sukses
akan mendirikan usaha sendiri. Penjelasan untuk memulai usaha. Namun, Mazzarol et
ini didukung oleh hasil wawancara dengan al., (1999) tidak menganalisis hubungan
88
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
antara pengalaman kerja di sektor swasta 4. Manajemen Universitas Jendral Ahmad
terhadap intensi kewirausahaan. Yani, Bandung dengan visi “Diakui
Berdasarkan hasil wawancara dan sebagai institusi yang memiliki reputasi
pengisian kuesioner dari beberapa responden yang unggul dalam pendidikan
yang sudah bekerja, ada beberapa dari manajemen berbasis kewirausahaan
mereka yang beralih pekerjaan dari PNS dan yang bertaraf internasional, berjiwa
pegawai swasta ke wirausaha. Perpindahan kebangsaan dan berwawasan
pekerjaan dari pegawai swasta menjadi lingkungan.”
wirausahawan dengan alasan: (1) merasa 5. Manajemen Universitas Pakuan, Bogor
ada dorongan dari dalam diri untuk dengan visi “Menjadikan Program Studi
memperoleh kebebasan dalam pekerjaan, (2) Manajemen Fakultas Ekonomi
ingin mengatur sendiri waktu untuk keluarga Universitas Pakuan sebagai Pusat
dan pekerjaan dengan lebih baik, (3) ingin Pendidikan dan Pengembangan Ilmu
membantu orang lain, dengan menciptakan Manajemen yang mengutamakan kepada
lapangan pekerjaan, (4) merupakan cita-cita profesionalisme, mampu berwirausaha,
sejak kecil untuk menjadi seorang jujur dan berakhlak.”
wirausahawan, (5) awalnya sebagai
sambilan akhirnya menjadi pekerjaan utama, Dari kelima program studi tersebut
(6) meneruskan usaha orangtua, dan (7) bahwa matakuliah Kewirausahaan
bekerja untuk mencari pengalaman dan merupakan matakuliah wajib dengan bobot
modal. 3 SKS. Namun dari 10 program studi lain
yang tidak mencantumkan Kewirausahaan
Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan atau wirausaha pada visinya, matakuliah
Tinggi Kewirausahaan juga merupakan matakuliah
Kurikulum Kewirausahaan pada wajib dengan bobot 3 SKS. Beberapa
Perguruan Tinggi ditelusuri melalui situs program studi menambahkan laboratorium
resmi program studi perguruan tinggi yang Kewirausahaan sebagai penunjang
bersangkutan.Penelusuran dimulai dengan perkuliahan matakuliah Kewirausahaan.
melihat visi dari program studi pada Berdasarkan hasil penelusuran dan
Perguruan Tinggi yang mahasiswanya wawancara dapat dijelaskan bahwa
responden.Berdasarkan hasil penelusuri kewirausahaan selama ini hanya sebagai
diperoleh bahwa hanya ada 5 dari 15 matakuliah biasa, dan satuan acara perkuliah
program studi yang mencantumkan kata atau silabus matakuliah tersebut belum
Kewirausahaan atau Wirausaha pada secara tegas meyatakan untuk meningkatkan
visinya. Kelima program studi tersebut intensi berwirausaha.Untuk menumbuhkan
adalah : intesi berwirausaha mahasiswa pendidikan
1. Akuntansi Universitas Negri Jakarta kewirausahaan tidak cukup hanya diadakan
dengan visi “Menjadi program studi di dalam kelas dalam bentuk perkuliahan
yang memiliki kualitas ilmu akuntansi biasa, melainkan harus memberikan
yang dikenalpada level nasional maupun kesempatan kepada peserta didik untuk
Internasional serta menghasilkan lulusan merasakan langsung bagaimana sulitnya
yang memiliki daya saing di pasar memulai suatu usaha, menjalankannya, dan
tenaga kerja dan berwawasan juga memperoleh kesempatan untuk
wirausaha.” mengamati seorang role model. Dalam hal
2. Akuntansi Universitas Langlang Buana, ini Farzier dan Niehm (2008) memberikan
Bandung dengan visi “Mejadi program contoh dengan mengundang praktisi
studi akuntansi yang berdaya saing dan wirausaha sebagai pembicara tamu dalam
menghasilkan SDM profesional di perkuliahan atau menjadi mentor dalam
bidang akuntansi di Jabar dengan pemagangan.
menerapkan semangat kewirausahaan Hal lain yang mungkin dapat mendorong
pada tahun 2020.” mahasiswa untuk berintensi pada
3. Manajemen Universitas Pasundan, kewirausahaan adalah memunculkana figur-
Bogor dengan visi “Menjadi program figur yang bisa menjadi role model bagi
studi yang unggul dalam menghasilkan mereka selama mendapatkan pendidikan
lulusan pada bidang manajemen dan kewirausahaan. Role model ini dapat
kewirausahaan, berwawasan global, terbentuk live model yaitu seseorang yang
islami serta berbudaya sunda di tahun secara langsung menampilkan perilaku, atau
2021.” symbolic model yaitu seseorang atau
perilaku yang muncul secara tidak langsung
89
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
atau melalui suatu media (Ormrod, 1999). kemampuan kewirausahaan dan intensi
Selain melalui proses “modelling” ini, berwirausaha.
seharusnya mahasiswa juga dapat Pendidikan kewirausahaan yang
mempelajari tentang berwirausaha melalui diberikan juga perlu menekankan pada
pengalaman secara langsung melalui transfer of knowledge, sehingga mahasiswa
praktek-praktek yang diadakan pada saat akan terbuka terhadap informasi-informasi
mengikuti mata kuliah kewirausahaan baru di luar pemahaman mereka sebelumnya
tersebut. Pemagangan dan role model mengenai wirausaha. Informasi ini tentu
memiliki pengaruh yang sangat kuat untuk beragam, mulai dari pengetahuan mengenai
mendorong peserta didik untuk kemudian kewirausahaan secara keseluruhan hingga
menjadi wirausaha. Karena menurut Fazio & strategi berwirausaha.Metode untuk
Zanna (dalam Franzoi, 1996) bahwa sikap mencapai transfer of knowledge secara
yang terbentuk melalui pengalaman maksimal dapat dilakukan dengan
langsung akan lebih kuat daripada yang memberikan tugas kepada mahasiswa untuk
terbentuk tanpa pengalaman. wawancara pada wirausahawan tentang
Hasil wawancara dengan beberapa sejarah terbentuknya usaha, bagaimana ide
responden di Perguruan Tinggi sampel usaha itu bermula, bagaimana usaha tersebut
diperoleh gambaran tentang metode bisa berhasil, berapa modal awal usahanya,
pengajaran yang masih tradisional.Sebagian berapa keuntungannya, dan
besar dosen masih menerapkan perkuliahan sebagainya.Mahasiswa wajib menjelaskan
secara tutorial, diskusi, presntasi, dan hasil wawancara tersebut di kelas baik
memberikan tugas seperlunya. dalam kelompok kecil maupun dalam
Mandatangkan dosen tamu dari kalangan kelompok besar.
wirausahawan sukses yang diharapkan dapat Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa
membangkitkan intensi berwirausaha jumlah mahasiswa yang sudah berwirausaha
mahasiswa juga masih jarang dilakukan oleh ada 61 orang dengan jenis usaha terbesar
Perguruan Tinggi. Tugas mencari cerita adalah pakaian sebanya 11 orang, kemudian
sukses wirausahawan yang diberikan dosen Online Shop sebanyak 10 orang,
belum mampu memberikan inspirasi bagi perdagangan sebanyak 9 orang, kuliner dan
mahasiswa untuk berintensi pada makanan masing-masing 6 orang.
kewirausahaan. Selebihnya ada jenis usaha Handphone,
Kondisi ini perlu diperhatikan dan konveksi, percetakan, agrobisnis, bengkel
diperbaiki oleh Perguruan Tinggi untuk motor, game online, grosir snack, jersey,
meningkatkan strategi dan metode jual-beli motor, kerudung, koperasi, laundry,
pengajaran yang tepat dalam rangka les, mebel, modiste, dan salon. Jika
meningkatkan intensi berwirausaha pada dibandingkan dengan banyaknya responden
mahasiswa.Menurut Kuratko (2005) bahwa maka jumlah mahasiswa yang sudah
partisipasi semua pihak diperlukan dalam memulai hanya sebesar 21%.Namun jika
program pelatihan atau pendidikan dibandingkan dengan yang mempunyai
kewirausahaan untuk melakukan perubahan intensi terhadap berwirausaha makan
sikap dalam meningkatkan intensi besarnya 49%.
berwirausaha.Mereka membutuhkan strategi Penelusuran lebih lanjut bahwa dari 61
mengajar yang tepat dengan pendekatan mahasiswa yang sudah memulai
yang berpusat pada siswa.Pihie (2009), berwirausaha 54 mahasiswa memulai usaha
menyarankan bahwa untuk meningkatkan sebelum mengambil matakuliah
intensi berwirausaha mahasiswa, strategi Kewirausahaan, sisanya 7 memulai
mengajar tertentu perlu dilakukan di berwirausaha setelah mengambil matakuliah
samping yang tradisional.Hal ini terkait Kewirausahaan.Artinya bahwa perkuliahan
dengan argumen sebelumnya yang ada Kewirausahaan yang diselenggarakan 15
dalam literatur bahwa pengalaman program studi sampel belum mampu
kewirausahaan dikaitkan dengan meniciptakan instensi berwirausaha pada
mahasiswa.

Tabel 2 Jenis Usaha Mahasiswa


Jenis
No. Jenis Usaha Jumlah No. Jumlah
Usaha
1 Pakaian 11 12 Grosir 1

90
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Snack
2 Online Shop 10 13 Jersey 1
Jual Beli
3 Perdagangan 9 14 1
Motor
4 Kuliner 6 15 Kerudung 1
5 Makanan 6 16 Koperasi 1
6 Handphone 2 17 Laundry 1
7 Konveksi 2 18 Les 1
8 Percetakan 2 19 Mebel 1
9 Agrobisnis 1 20 Modiste 1
Bengkel
10 1 21 Salon 1
Motor
Game
11 1 Total 61
Online

SIMPULAN & SARAN merasakan langsung bagaimana sulitnya


memulai suatu usaha, dan mengelola
Simpulan usaha.Mahasiswa dapat memperoleh
kesempatan untuk berperan aktif dalam
Berdasarkan hasil penelitian dan menjalankan usaha melalui pemagangan.
pembahasandapat disimpulkan bahwa Perguruan tinggi juga dapat mengundang
intensi atau minat mahasiswa menjadi praktisi wirausaha sebagai pembicara tamu
wirausaha besar, namun kenyataannya tidak dalam perkuliahan atau menjadi mentor
didukung dengan kurikulum dan model dalam pemagangan. Wirausahawan sukses
pengajaran yang baik sehingga baru atau dosen tamu dapat dijadikan role model
sebagian kecil mahasiswa yang sudah oleh mahasiswa apabila karakter dan
memulai berwirausaha. pembawaan orang tersebut memberikan
teladan yang sesuai dengan harapan
mahasiswa.Mendirikan inkubator bisnis juga
Saran perlu untuk mewadahi dan mematangkan
jiwa wirausaha mahasiswa.Perbaikan
Berdasarkan hal tersebut, maka sudah kurikulum, materi pengajaran, dan metode
saatnya bagi perguruan tinggi untuk pengajaran juga harus dilakukan guna
meningkatkan metode meningkatkan intensi berwirausaha
pengajaran.Pendidikan kewirausahaan tidak mahasiswa.Perguruan Tinggi mungkin perlu
cukup hanya diadakan didalam kelas dalam membuka bidang peminatan kewirausahaan
bentuk perkuliahan tutorial, presentasi, dan dengan kurikulum dan dukungan sumber
diskusi saja, melainkan harus memberikan daya untuk menciptakan wirausahawan
kesempatan kepada peserta didik untuk baru.

DAFTAR RUJUKAN Entrepreneurship. Journal of Business


Venturing. 134, 317-332.
Ahmad, Basrie,. 2003. Survei Sikap
Mahasiswa Serta Bagaimana Cara Brown, C. 2000. Curriculum for
Memotivasi Mahasiswa Untuk Menjadi Entrepreneurship Education : A Review.
Wirausahawan. Jurnal Manajemen dan Digest number 00-8.
Akuntansi.7-14. http://www.celcee.edu/publications/diges
t/Dig00-8.html Juni, 2009.
Alberti, F., Sciascia, S., dan Poli, A. 2004.
Entrepreneurship Education: Notes on an Farzier Barbara and Linda S Niehm,(2008).
Ongoing debate. Proceedings of the 14th FCS Students' Attitudes And Intentions
Annual IntEnt Conference. University of Toward Entrepreneurial Careers. Journal
Napoli Federico II, Italy. 4-7 July. of Family and Consumer Sciences. April
2008: 100,2, Academic Research Library
Bechard, J.P. & Toulouse, J.M. 1998. pg 17.
Validation of a Didactic Model for The
Analysis of Training Objectives in Fayolle, A., Gailly, B., Kickul, J.,
LassasClerc, N. and Whitcanack. 2005.
91
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Capturing Variations in Attitudes and Entrepreneurship Theory and Practice.
Intentions: a Longitudinal Study to 295: 577-597.
Assess The Pedagogical Effectiveness of
Entrepreneurship Teaching Programs”, Liñán, F. dan Rodríguez, J.C. 2004.
Proceedings of the 50th Annual Entrepreneurial attitudes of Andalusian
Conference of the International Council university students. 44thERSA
for Small Business, Washington D.C. Conference. Porto Portugal, 25-29
June 1520. August.

Franke, N. dan Luthje, C. 2003. The making Loucks, K.E., (1988).Training


of an entrepreneur: Testing a model of Entrepreneurs For Small Business
entrepreneurial intent among Creation. I.L.O., Ginebra.
engineering. Students at MIT, R&D
Management. Vol. 33, No. 2, hal. 135- Mazzarol, T., Volery, T., Doss, N & Thein,
147. V. 1999. Factors Influencing Small
Garavan, T.N. dan O’Cinneide, B., (1994). Business Start up. International Journal
Entrepreneurship Education and of Entrepreneurial Behaviour and
Training Programmes: a Review and Research. Vol. 5, No. 2, pp 48-63.
Evaluation. Journal of European
Industrial Training. vol. 18 8, pp. 3-12. McIntyre, J.R. dan Roche, M., 1999.
University Education For Entrepreneurs
Gorman, G., Hanlon, D., dan King, W. In The United States: A Critical And
1997. Some Research Perspectives on Retrospective Analysis Of Trends In The
Entrepreneurship Education, Enterprise 1990s. Center for International Business
Education and Education for Small Education dan Research, Working Paper
Business Management: A Ten-Year Series 99/00-021. Georgia Institute of
Literature Review. International Small Technology, Atlanta.
Business Journal.153: 56 -77.
McMullan, W.E. dan Gillin, L.M., 1998.
Guzmán, J. dan Santos, F.J., 2001. The Developing technological start-up
Booster Function and The entrepreneurs: a case study of a graduate
Entrepreneurial Quality: an Application entrepreneurship programme at
to The Province of Seville, Swinburne University. Technovation.
Entrepreneurship and Regional vol. 18 4, pp. 275-286.
Development. vol. 133, pp. 211-228.
Niyonkuru, R., 2005. Entrepreneurship
Hansemark, O. C. 1998. The Effects of An Education at Tertiary Institutions in
Entrepreneurship Programme on Need Rwanda: A Situation Analysis. Tesis.
for Achievement and Locus of Control University of the Western Cape, tidak
of Reinforcement. International Journal dipublikasi.
of Entrepreneurial Behaviour and
Research. 41., pp. 28-50. Ormrod, J. E. (1999). Human Learning (3rd
ed). Upper Saddle River, New Jersey:
Hills, G.E. (1988). Variations in University Prentice-Hall.
Entrepreneurship Education: An
Empirical Study of an Evolving Field. Paulina, Irene dan Wardoyo. 2012. Pengaruh
Journal of Business Venturing. 3, 109- Kecerdasan Emosi, Sikap Mandiri, Dan
122. Lingkungan Terhadap Intensi
Berwirausaha Pada Mahasiswa. Jurnal
Krueger, N. & Brazeal, D. Dinamika Manajemen . Volume 3.
1994.Entrepreneurial Potential and Nomor 1. Maret, hal 1-10.
Potential Entrepreneurs.
Entrepreneurship Theory & Practice. Rahmawati. 2000. Pendidikan Wirausaha
192, 91-104. Dalam Globalisasi. Liberty: Yogyakarta.

Kuratko, D. F. 2005. The emergence of Scharg, Adele F dan Robert P. Poland,.


entrepreneurship education: 1987. A System for Teaching Business
development, trends, and challenges. Education. McGraw-Hill Book
Company. New York.
92
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Sexton, D.L., dan Upton, N.B. 1988. Vesper, K.H. 1990. New Venture Strategies.
Validation Of An Innovative Teaching Prentice-Hall. Englewood Cliffs, N.J.
Approach For Entrepreneurship Courses.
American Journal of small business. Wardoyo. 2012. Pengaruh Pendidikan Dan
123: 11-22. Karakteristik Kewirausahaan Terhadap
Intensi Berwirausaha Mahasiswa Pada
Souitaris, V., Zerbinati, S., & Al-Laham, A. Perguruan Tinggi Swasta Di Jakarta.
2007. Do entrepreneurship programmes Paper dipresentasikan pada Seminar
raise entrepreneurial intention of science Nasional Kewirausahaan dan Inovasi
and engineering students? The effect of Bisnis. II 2012 Universitas
learning, inspiration and resources. Tarumanagara, Jakarta.
Journal of Business Venturin. 22(4):
566-591.

93
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Peran Guru Dalam Menanamkan Sikap Kewirausahaan
Peserta Didik

Bakti Widyaningrum
Universitas Nusantara PGRI Kediri
Email : baktiwidyaningrum@gmail.com

Abstrak : Pengangguran saat ini masih dijadikan isu Nasional oleh pemegang polizy di Indonesia.
Pengangguran terjadi karena jumlah angkatan kerja yang tidak mampu terserap seluruhnya dalam
dunia kerja. Tingginya tingkat pengangguran bukan disebabkan oleh penduduk yang tidak
menamatkan pendidikan, karena faktanya sebagian besar pengangguran justru telah menyelesaikan
minimal pendidikan dasarnya. Hal ini menjadi masalah yang harus segera mungkin diatasi oleh
pemerintah maupun lembaga pendidikan apabila tidak ingin jumlah pengangguran semakin
bertambah. Salah satu alternatif untuk mengurangi jumlah pengangguran adalah menciptakan
wirausahawan baru sebanyak mungkin. Negara maju di Eropa bahkan telah lama menjadikan
pendidikan kewirausahaan sebagai mata pelajaran wajib bagi seluruh jenjang pendidikan. Di
Indonesia dengan adanya kebijakan baru tentang standar proses kurikulum 2013 juga memungkinkan
guru menanamkan sikap kewirausahaan pada peserta didik melalui pengintegrasian sikap wirausaha di
seluruh mata pelajaran. Pendidikan erat kaitannya dengan sosok guru, guru dalam pendidikan
merupakan figur utama karena dengan kompetensi yang dimilikinya diharapkan mampu membentuk
dan menanamkan sikap kewirausahaan pada peserta didik. Penanaman sikap kewirausahaan dapat
dilakukan dengan cara pengembangan materi atau teori tentang kewirausahaan oleh guru dan
diajarkan kepada peserta didik melalui pendekatan leaarning by doing. Teori dalam pendidikan
kewirausahaan masih relevan untuk diajarkan, karena pemahaman peserta didik yang bersumber dari
teori dapat dikonstruksikan sehingga mampu membentuk dan merubah sikap peserta didik. Apabila
dikaitkan dengan pembelajaran kewirausahaan, teori kewirausahaan yang di kembangkan dengan baik
oleh guru mampu membentuk sikap dan karakter kewirausahaan peserta didik.

Kata Kunci : Sikap Kewirausahaan

Pengangguran sampai saat ini masih dijadikan isu Pendidikan merupakan sebuah standar dasar
Nasional oleh pemangku kebijakan di Indonesia. dalam menciptakan human capital unggul bagi
Pada bulan Agustus tahun 2013 BPS (Badan sebuah Bangsa. Hal ini terdapat dalam undang-
Pusat Statistik) mencatat presentase tingkat undang No 20 Tahun 2003 yang menyebutkan
pengangguran di Indonesia sebesar 6,25% dari beberapa tujuan akhir dari pendidikan diantaranya
total angkatan kerja, atau lebih dari tujuh juta adalah membentuk individu yang cakap, kreatif
penduduk di Indonesia belum memiliki lapangan dan mandiri. Apabila proses pendidikan berjalan
pekerjaan. Jumlah pengangguran di atas dengan baik maka tujuan pendidikan di atas bisa
menunjukkan nominal yang cukup besar, dan tercapai dengan maksimal. Output pendidikan
mungkin masih akan bertambah apabila tidak yang cakap, kreatif dan mandiri diharapkan
segara ditangani dengan baik. Pengangguran mampu menolong dirinya sendiri apabila
hampir selalu dikaitkan dengan dunia pendidikan, dihadapkan pada sebuah relita yaitu sulitnya
karena pada faktanya banyak pengagguran yang memperoleh pekerjaan yang layak.
justru telah menamatkan pendidikan dasar Dalam dunia pendidikan, guru merupakan
sembilan tahunnya. figur sentral yang tidak dapat tergantikan. Guru
sendiri merupakan sosok yang digugu dan ditiru
94
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
sehingga seorang guru sangat berperan dalam itu, artikel ini dibatasi pada peran guru dalam
membentuk karakter dan sikap peserta didik menanamkan karakter dan sikap kewirausahaan
menjadi individu yang cakap, kreatif dan mandiri. peserta didik.
Hal ini dijelaskan dalam UUGD nomor 14 pasal 1
desebutkan bahwa guru adalah pendidik Pengertian Kewirausahaan
profesional dengan tugas utama mendidik, Kewirausahaan memiliki arti khusus dalam
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan industri
menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada di sebuah Negara. Kewirausahaan juga mampu
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan merubah iklim sosial ekonomi dan budaya di
formal, pendidikan dasar dan pendidikan sebuah Negara dengan cepat. Bahkan telah
menengah. banyak Negara maju yang menyebutkan bahwa
Entrepreneur mempunyai peran yang kewirausahaan merupakan faktor utama
dominan dalam mengentaskan pengangguraan di terciptanya kemajuan di bidang Ekonomi.
banyak Negara. Banyak Negara maju di Eropa (Hannon, 2006; Murphy, 2006; Leino, 2010;
telah menanamkan kewirausahaan kepada peserta Hosseini, 2011; O’Connor, 2015). Kewirausahaan
didik bahkan sejak di bangku sekolah dasar. sendiri merupakan “Proses penciptaan sesuatu
Mereka menanamkan sikap dan karakter yang baru pada nilai menggunakan waktu dan
kewirausahaan melalui entrepreneur education upaya yang diperlukan, menanggung resiko
atau pendidikan kewirausahaan. Pelaksanaan keuangan, fisik serta resiko sosial yang
pendidikan kewirausahaan bukan diajarkan secara mengiringi, menerima imbalan moneter yang
parsial menjadi sebuah mata pelajaran melainkan dihasilkan serta kepuasan pribadi” (Hisrich,
diintegrasikan pada seluruh mata pelajaran, Peters, dan Shepherd, 2008:10). Mamman (2009)
pendidikan kewirausahaan juga ditanamkan menjelaskan bahwa “ Kewirausahaan sebagai
melalui school’s operational culture atau pendekatan organisasi dan manajemen yang
pembudayaan pendidikan kewirausahaan dalam memungkinkan seseorang merespon suatu
kegiatan di sekolah (Leino, 2010: 118). masalah dan memecahkannya dengan inisiatif
Berdasarkan latar belakang di atas jelas sendiri dalam situasi apa pun” (Ememe,
bahwa kewirausahaan merupakan salah satu 2013:242). Lebih lanjut Kasmir (2006)
kunci dalam menekan presentase pengangguran menjelaskan bahwa kewirausahaan merupakan
sebuah Negara. Pembentukan karakter dan sikap sebuah kemampuan dalam menciptakan suatu
kewirausahaan dapat dilakukan pada jenjang usaha. Dalam penciptaan usaha ini terdapat
pendidikan, hal ini dikarenakan tujuan pendidikan sebuah proses kreativitas dan inovasi agar suatu
di Indonesia sejalan dengan pembentukan yang dihasilkan berbeda dengan yang sudah ada
karakter dan sikap kewirausahaan, yaitu sebelumnya.
membentuk pribadi yang cakap, kreatif dan Berdasarkan pengertian kewirausahaan di
mandiri. Dalam proses pendidikan Guru atas dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan
mempunyai peran strategis dalam upaya merupakan sebuah proses penciptaan sesuatu
menanamkan sikap kewirausahaan peserta didik, yang baru, menggunakan inovasi dan kreatifitas
karena dengan kompetensi dan kualifikasi yang untuk memecahkan dan merespon suatu masalah
dimiliki guru seperti tercantum dalam UUGD dengan berbagai resiko yang amengiringi agar
guru mampu menjadikan pembelajaran yang memperoleh imbalan, baik keuntungan moneter
berlangsung memiliki makna bagi siswa dalam maupun kepuasan pribadi.
mengkonstruksi dan mempraktekkan
pengetahuan yang telah di dapatkan. Oleh karena Pengertian Pendidikan Kewirausahaan

95
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
UNESCO (2008) secara garis mendefinisikan memanfaatkan peluang beserta resiko yang
tiga konsep pendidikan kewirausahaan yaitu: mengiringi sehingga peserta didik dapat dengan
1. Pendidikan kewirausahaan memberikan cepat mengatasi masalah sosial yang ada.
pengalaman, kemampuan dan pandangan Masalah sosial di sini dapat diasumsikan dengan
ke depan kepada peserta didik tentang tingginya tingkat pengangguran.
bagaimana mengakses dan mengubah
sebuah peluang, hal ini tidak hanya Pengertian Sikap Kewirausahaan
sebatas menghasilkan ide bisnis tetapi Karakter dan sikap sering disandingkan
yang lebih penting membuat peserta didik dalam pembahasan tentang kewirausahaan
mampu mengatasi dan merespon maupun pendidikan kewirausahaan. Pada
perubahan sosial. kenyataannya karakter memiliki kaitan erat
2. Pendidikan kewirausahaan merupakan dengan sikap. Sikap merupakan output yang
pendidikan dan pelatihan yang terbentuk dari berkembangnya karakter peserta
memungkinkan peserta didik didik melalui proses learning experience,
mengembangkan kreativitas, berinisiatif, knowledge reproduction, skills dan peran dari
serta bertanggungjawab pada resiko yang guru (teachers competence dan teachers
ada. performance) (Westera, 2010 dan Cheng, 1996).
3. It should be called entrepreneurship Ada tiga dimensi yang harus dimiliki oleh
education (not enterprise education) so seorang wirausaha yaitu attitudes, skills dan
that it does not sound as if it is focusing creativity (Hosseini, 2011). Indikator sikap
on business. seorang wirausahawan menurut Stimpson,
Sejalan dengan konsep pendidikan Robinson dan Hunt (1991) terdiri dari 4 dimensi
kewirausahaan dari UNESCO, Ememe (2013) utama yang disebut dengan Entrepreneurial
menjelaskan bahwa pendidikan kewirausahaan Attitude Orientation (EAO) yaitu need for
fokus pada pembentukan karakter peserta didik achievement, personal control over behavior,
agar mereka lebih bertanggungjawab pada diri innovation, dan self esteem. (Tamizharasi, 2010;
sendiri, fokus tujuan hidup, menjadi lebih kreatif Pihie, 2011; Gibson, 2010). Need for achievement
dalam menemukan peluang serta dapat mengatasi (keinginan untuk berprestasi) dapat direfleksikan
masalah yang kompleks dalam kehidupan sosial. dari merasa mampu untuk menghasilkan hal yang
Buchari (2010) menjelaskan bahwa keberanian baru walaupun keinginan untuk mencoba tersebut
membentuk kewirausahaan didorong oleh guru di belum tentu akan memberikan hasil yang
sekolah, guru harus memberikan tema pendidikan maksimal (berspekulasi). Personal control over
kewirausahaan yang praktis dan menarik, behavior (mengontrol diri) merasa bahwa dirinya
sehingga peserta didik dapat tertarik untuk mampu mengontrol dari hal baru yang telah
menjadi seorang wirausaha. dihasilkan. Innovation (inovasi) yaitu berfikir
Sampai di sini dapat ditarik kesimpulan tentang ide, produk dan metode yang baru serta
tentang pendidikan kewirausahaan, bahwa mengembangkannya agar lebih efektif ketika
pendidikan kewirausahaan dilakukan oleh guru sudah berjalan, dan Self esteem (penghargaan
melalui pembelajaran di kelas maupun luar kelas terhadap diri sendiri) diindikasikan dari merasa
yang bertujuan untuk membentuk karakter percaya diri terhadap kompetensi kewirausahaan
peserta didik agar mereka lebih yang dimilikinya.
bertanggungjawab, fokus, memiliki daya Buchari (2011) menjelaskan enam sikap yang
kreatifitas, inovasi dan inisiatif yang tinggi serta harus dimiliki oleh seorang wirausaha yaitu
mampu mengambil, menciptakan dan percaya diri, mempunyai inisiatif, memiliki motif

96
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
untuk berprestasi, memiliki jiwa kepemimpinan, Fiet (2000) mengungkapkan bahwa masih banyak
berani dalam mengambil resiko, penuh ahli yang mempuyai pendapat bahwa peserta
perhitungan dan yang terakhir orisinalitas. Pihie didik tidak perlu diajari banyak tentang teori
(2011) membagi Sikap wirausaha kewirausahaan, mereka akan lebih memahami
(entrepreneurial attitude) menjadi tiga dimensi esensi kewirausahaan dengan praktek secara
atau komponen untama, yakni dimensi afektif langsung serta belajar dari mengamati
yang menyangkut perasaan dan emosi, dimensi autobiografi pengusaha sukses. Namun demikian
kognitif yang mencakup pikiran dan keyakinan menurut Fiet (2000:1) “Theory is an essential
dan yang terakhir adalah dimensi conation yang part of what we teach because we do not know
mencakup tindakan dan perilaku. Dan kombinasi any other way to help students anticipate the
dari ketiga dimensi di atas, dapat membentuk future, which is a key to entrepreneurial success.
sebuah bangunan sikap kewirausahaan yang Despite the current limitations of our theorizing,
sangat kuat. theory still offers the most promise as course
Berdasarkan pengertian di atas, dapat content for students”.
disimpulkan bahwa sikap kewirausahaan Meskipun masih banyak keterbatasan pada
seseorang dapat terbentuk dengan memproses teori kewirausahaan saat ini, teori kewirausahaan
learning experience, knowledge reproduction, masih menjanjikan sebagai isi dari materi
serta skills yang telah diperoleh selama proses kewirausahaan yang akan diajarkan kepada
pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ini peserta didik. Dengan kata lain pembelajaran
seorang guru berperan dengan kompetensi dan akan efektif apabila peserta didik dapat
kinerja yang dimiliki. menggabungkan pengetahuan dan ketrampilan
yang diperoleh selama proses pembelajaran
Hubungan Antara Pendidikan Kewirausahaan menjadi sebuah struktur kognitif yang dapat
dengan Sikap Kewirausahaan. merubah frame berfikir peserta didik. (Fiet, 2000;
Proses pendidikan di Indonesia tidak dapat Mclnerney, 2006).
dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar di Kesimpulan yang dapat di tarik dari pendapat
dalam sebuah institusi yang disebut dengan diatas yaitu materi kewirausahaan yang telah di
sekolah. Faktor penting dalam kegiatan kembangkan oleh guru dari teori yang telah ada
pembelajaran adalah materi pelajaran serta tetap memiliki peran yang penting, karena dengan
pengalaman yang diperoleh melalui proses menyampaikan dan mengembangkan materi
tersebut. Fiet (2000) menjelaskan bahwa dalam kewirausahaan dapat membuat pembelajaran
proses pembelajaran seorang guru harus menjadi lebih bermakna atau effective learning.
mengembangkan teori tentang kewirausahaan, Substansi materi pembelajaran kewirausahaan
teori yang disampaikan kepada peserta didik yang telah di kembangkan, akan memacu
bukan sembarang teori, melainkan teori yang perkembangan struktur kognitif peserta didik,
sarat akan kegiatan learning by doing. perkembangan kognitif dapat terjadi apabila
Pembelajaran yang menekankan pada learning by peserta didik menggabungkan semua
doing dapat mempercepat pemahaman dan pengetahuan yang telah diperoleh, pengetahuan di
penguasaan materi kewirausahaan oleh peserta peroleh dari materi yang telah disampaikan oleh
didik. guru dan dari pengalaman pribadi peserta didik
Seorang guru dituntut mampu (learning by doing).
mengembangkan standar isi dalam teori Perkembangan struktur kognitif dalam
kewirausahaan jika menginginkan perkembangan pembelajaran kewirausahaan erat kaitannya
pengetahuan peserta didik menjadi lebih baik. dengan penanaman sikap kewirausahaan peserta

97
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
didik. Hanson (1999:6) mengemukakan bahwa tinggi tentang peran profesinya dan menjadi
proses pembelajaran merupakan pengembangan warga Negara yang baik.
pengetahuan baru, ketrampilan dan sikap yang Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor
disebabkan interaksi individu dengan informasi 74 tahun 2008 dijelaskan bahwa kompetensi
yang telah didapat oleh peserta didik. Dengan pedagogik merupakan kemampuan guru dalam
kata lain, sikap peserta didik dapat tumbuh dan pengelolaan pembelajaran sekurang-kurangnya
terbentuk karena mendapatkan pengetahuan baru meliputi pemahaman wawasan atau landasan
yang berasal dari informasi (baik yang kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik,
disampaikan oleh guru maupun yang diperoleh pengembangan kurikulum atau silabus,
sendiri). perancangan pembelajaran, pelaksanaan
Pembelajaran yang efektif (effective pembelajaran yang mendidik dan dialogis,
learning) yang dikembangkan dan pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi
diselenggarakan oleh guru dalam proses hasil belajar, pengembangan peserta didik untuk
pembelajaran dapat membentuk sikap mengaktualisasikan berbagai potensi yang
kewirausahaan dan ketrampilan peserta didik. dimilikinya.
Menurut Calvin (2011) kompetensi
Peran Guru dalam Membentuk Sikap pedagogik merupakan kemampuan dan sikap
Kewirausahaan Peserta Didik guru dalam mengatur dan menghidupkan situasi
Guru erat kaitannya dengan proses pembelajaran, melibatkan siswa dalam proses
pembelajaran, selama proses pembelajaran pembelajaran dan mampu mengatur kelompok
banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang dalam belajar kompetensi pedagogik guru dapat
guru. Guru dalam hal ini dipandang mampu dan ditingkatkan apabila serta secara periodik dan
berkompetensi untuk menanamkan karakter dan berkesinambungan mengikuti kepelatihan
sikap kewirausahaan kepada peserta didik. Dalam pengajaran (teacher pedagogical training).
Undang-undang Guru dan Dosen jelas Berdasarkan pengertian di atas bisa
dicantumkan bahwa guru dapat menjalankan disimpulkan bahwa kompetensi pedagogik
perannya dengan baik apabila memiliki empat merupakan kompetensi yanng mencakup
kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, ketrampilan guru dalam mengajar (teaching
kompetensi profesional, kompetensi sosial dan skills) dari persiapan, pembelajaran sampai
kompetensi kepribadian. dengan eveluasi (assesment).
Alnoor (2011:587) menjelaskan bahwa Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 74
kompetensi guru mempunyai empat indikator tahun 2008 tentang guru, yang dimaksud dengan
utama, yakni Knowledge yang mencakup content kompetensi kepribadian yang harus dimiliki oleh
knowledge, professional knowledge, emerging guru adalah kemampuan kepribadian yang
dan contemporary knowledge; Teaching skills mantap, stabil, dewasa, arif, dan wibawa menjadi
yang mencakup proses pembelajaran, strategi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.
pembelajara dan (tehnik mengatur kelas; Kepribadian guru ini penting mengingat dalam
Assessment and evaluation mencakup proses masyarakat Indonesia melekat budaya yang
pengambilan nilai, menganalisis, menafsirkan menempatkan guru sebagai tokoh sentral dalam
hasil analisis nilai, dan mengkomunikasikan masyarakat. Hal ini tercermin dalam pemahaman
informasi tentang nilai peserta didik dengan baik; masyarakat Indonesia yang melihat guru sebagai
dan yang terakhir adalah Professional value and sosok yang “digugu” dan ditiru.
behavior mencakup menjunjung tinggi kode etik Sementara Nanang (2009:105) menjelaskan
guru, memiliki etika, memiliki komitmen yang kompetensi kepribadian yang harus dimiliki guru

98
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
adalah bertindak sesuai dengan norma agama, utama guru harus mampu menyelesaikan konflik
hukum, sosial, dan kebudayaann nasional yang seringkali terjadi di dalam kelas selama
Indonesia; menampilkann diri sebagai pribadi proses pembelajaran. Lebih lanjut diungkapkan
yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi bahwa kompetensi sosial guru juga tercermin
peserta didik dan masyarakat; menampilkan diri dalam tingkah lakunya sehari-hari (Jennings dan
sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif Greenberg, 2009)
dan berwibawa; menunjukkan etos kerja, Kompetensi sosial guru penting untuk
tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi mengembangkan dan mendukung hubungan
guru, dan rasa percaya diri; menjunjung tinggi antara guru dan murid selama proses belajar
kode etik profesi guru. mengajar berlangsung. Dengan adanya
Berdasarkan pernyatan diatas, maka dapat kompetensi sosial, guru dapat proaktif dalam
disimpulkan kompetensi kepribadian merupakan menunjukkan skill mengajarnya, sehingga siswa
kompetensi guru dalam berperilaku dan bertindak akan antusias dan menikmati proses belajar
serta bertutur sesuai dengan aturan dan noma- mengajar. Selain itu guru dengan kompetensi
norma yang berlaku guru harus mencerminkan sosial yang tinggi, akan dijadikan role model oleh
kepribadian yang baik agar dapat menjadi siswanya sehingga guru dan siswa dapat
panutan bagi peserta didik. menjalankan proses belajar mengajar dengan
Kompetensi sosial Menurut Eccless dan sangat nyaman dan alami. Hal ini sejalan dengan
Roeser (1999) tidak hanya diaplikasikan guru saat pendapat yang dikemukakan oleh Goddard
berada pada lingkungan sosial saja. Dalam proses (2004) “When teachers experience mastery over
belajar mengajarpun seorang guru harus these social challenges, teaching becomes more
mempunyai kompetensi sosial, kompetensi sosial enjoyable, and they feel more efficacious”.
digunakan guru untuk menjaga dan memberikan Dengan kata lain kompetensi sosial guru akan
tempo selama proses belajar. Selain itu selama membuat iklim belajar menjadi lebih sehat,
proses pembelajaran guru juga harus menjaga sedangkan iklim belajar yang sehat akan
hubungan baik dengan peserta didik, memberikan kontribusi pada keadaan sosial siswa
mengembangkan kemampuan siswapun dan pada akhirnya akan berpengaruh pada
memerlukan kemampuan sosial, dan yang paling academic outcomes.

Sumber: Ikavalko (2014)

Gambar 1 Teacher Executing the Aims of Entrepreneurship Education

99
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Kompetensi professional yang tercantum dalam berpengaruh terhadap pembentukan sikap siswa
PP RI Nomor 74 tahun 2008 merupakan melalui proses belajar mengajar sehingga
kemampuan guru dalam menguasai terciptalah student learning outcomes yang sesuai
pengetahuan yaitu bidang ilmu pengetahuan, dengan tujuan pendidikan yang telah ditentukan
teknologi, dan atau seni dan budaya yang sebelumnya.
diampunya. Berdasarkan pengertian diatas, guru Ikavalko (2014) dalam gambar 1
yang mengajar kewirausahaan harus mampu menjelaskan bahwa outcomes dari
menguasai bidang ilmu kewirausahaan dengan penyelenggaraan pendidikan kewirausahaan
baik. Guru yang profesional tidak hanya adalah terbentuknya sikap kewirausahaan peserta
mngetahui, tetapi juga melaksanakan apa yang didik, sedangkan proses pembelajaran
menjadi tugas dan perannya. Guru profesional diselenggarakan oleh seorang guru
diharapkan memiliki kompetensi sesuai dengan kewirausahaan yang berkompetensi di bidangnya.
mata pelajaran yang diajarkannya. Guru yang berkualitas disebut sebagai
Kompetensi yang dimiliki oleh guru ini effective teacher atau successful teacher
sering diidentikkan juga dengan keefektifan guru (Westera, 2001; Cheng, 1996; Zuzovsky, 2003).
dalam proses belajar mengajar, seperti yang Dijelaskan lebih lanjut oleh Zuzovsky (2003)
dikemukakan oleh Westera (2001: 81)“When bahwa guru yang berkualitas bukan sekedar
thinking about competences, concepts such as menjadi “a good teacher” dengan menjunjung
performance and effectiveness are involved tinggi standar dan norma guru saja, tetapi juga
because competence is directly linked with harus berkualitas dalam pembelajaran di kelas
effective performance ” saat membahas tentang bersama peserta didik sehingga terciptalah
kompetensi, konsep tentang kinerja dan meaningfull learning.
keefektivan selalu dikaitkan karena kompetensi Dalam gambar 2 Zheng (1996)
berhubungan langsung dengan efektifitas kinerja menggambarkan konsep teacher effectiveness
guru. yang menjelaskan bahwa student learning
Berdasarkan pendapat di atas dapat outcomes yang sesuai dengan tujuan didapat dari
disimpulkan bahwa seorang guru dikatakan hubungan yang erat antara pengalaman belajar
berkualitas apabila memenuhi tiga kriteria, yaitu dan karakter individual peserta didik. Student
guru yang berkompetensi, guru yang berprestasi learning experience merupakan efek dari
dan guru yang efektif. Sedangkan menurut Cheng perpaduan antara kinerja guru dan faktor internal
dan Tsui (1996) kompetensi guru sangat dalam pembelajaran.

Sumber: Yin Cheong Cheng (1996)

Gambar 2 Konsep Teacher Effectiveness

100
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Teacher performance ditentukan oleh interaksi menekankan pada learning by doing bukan
antara kompetensi guru dan faktor eksternal berarti mengesampingkan pemahaman tentang
dalam pembelajaran. Teacher training and pre- materi dan teori kewirausahaan itu sendiri, oleh
existing teacher characteristics atau disebut juga karena itu dalam mengajarkan kewirausahaan
sebagai kualifikasi guru, dapat menentukan agar tercipta pembelajaran yang bermakna,
bagaimana kompetensi guru. Teacher evaluation seorang guru dalam Undang undang Guru dan
dapat dijadikan sebagai informasi bahkan Dosen di Indonesia wajib memiliki setidaknya
parameter kinerja guru dan hasil belajar siswa kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai kompetensi sosial serta kompetensi profesional.
fasilitas mengembangkan kompetensi. Kompetensi pedagogik berkaitan dengan
kemampuan guru dalam mempersiapkan
SIMPULAN pembelajaran, mengatur dan menyelenggarakan
proses belajar, serta melakukan evaluasi untuk
Berdasarkan kajian teori yang telah dipaparkan di menganalisis kemampuan peserta didik dan
atas, dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan keberhasilan dalam pembelajaran. Kompetensi
merupakan salah satu cara untuk memecahkan kepribadian berkaitan dengan sejauh mana
masalah pengangguran di suatu Negara. seorang guru mampu menjadi contoh dan sauri
Pendidikan kewirauahaan dapat dipergunakan tauladan yang baik untuk peserta didik sehingga
sebagai sarana dalam membentuk karakter serta representasi sikap guru yang baik dalam perilaku
sikap kewirausahaan individu. Pembentukan sehari-hari dapat memberi motivasi dan dorongan
sikap kewirausahaan melalui pendidikan peserta didik untuk mecontoh apa yang dilakukan
kewirausahaan dapat ditanamkan kepada peserta oleh gurunya.
didik jenjang dasar melalui pengintegrasian nilai Kompetensi sosial berkaitan dengan
dasar, konsep, serta teori tentang kewirausahaan kemampuan guru dalam berkomunikasi,
yang telah dikembangkan oleh guru sesuai bersosialisasi dan menyampaikan pembelajaran
dengan tingkat perkembangan siswa. Sedangkan yang baik sehingga dapat diterima oleh seluruh
kewirausahaan pada jenjang pendidikan peserta didik. Sedangkan kompetensi profesional
menengah dapat diajarkan menjadi mata pelajaran berkaitan dengan kemampuan guru dalam
kewirausahaan yang di ajarkan oleh guru yang memahami dan menyampaikan materi pelajaran
berkompetensi di bidang kewirausahaan. yang sedang diampu.
Pendidikan erat kaitannya dengan proses kompetensi guru melalui proses belajar
belajar mengajar yang diselenggarakan oleh guru mengajar dan berbagai faktor yang mendukung
dalam sebuah institusi sekolah. Guru pembelajaran akan menghasilkan peahaman
kewirausahaan berperan membentuk sikap
terhadap materi pemebelajaran, dan secara
kewirausahaan peserta didik melalui proses
tersebut. Proses belajar mengajar merupakan cara berkesinambungan, learning experiences dan
guru dalam mentransfer ilmu kepada peserta student learning outcomes ini akan membentuk
didik dengan menekankan pada proses learning individual student characteristic yang tercermin
by doing. Walaupun proses belajar tersebut dalam student attitude.

101
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
DAFTAR RUJUKAN Fiet, James. O. 2000. The Pedagogical Side Of
Entrepreneurship Theory. Journal of
Alnoor, Abdulghani. M. & Hongyu, Ma. 2011. Business Venturing. 16: 101 –117
Instrument of Primary School Teacher
Competency. Journal of Social Sciences 7 Goddard, R. D., Hoy, W. K., Woolfolk Hoy, A.
(4): 586-589 (2004). Collective Efficacy Beliefs:
Theoretical Developments, Empirical
Buchari Alma. 2011. Kewirausahaan untuk Evidence, and Future Directions.
Mahasiswa dan Umum. Bandung: Alfabeta. Educational Researcher. 33: 3-13

Calvin, J. B dan Chumba, E. N. 2011. Teacher’s Hannon, P. D. 2006 . Teaching pigeons to dance:
Pedagogic Competence And Pupils’ sense and meaning in entrepreneurship
Academic Performance In English In Education. Education + Training. 48 (5):
Francophone Schools. International 296-308.
Research Journals Educational Research 2
(4): 1094-1105. Henson, K. T., dan Ben, F. E. 1999. Educational
Psychology for Effective Teaching.
Cheng , Yin C. and Tsui , Kwok T. (1996). Belmont, CA: Wadsworth Publishing
Total teacher effectiveness: new Company
conception and improvement. International
Journal of Educational Management 10(6): Hisrich, R. D., Peters, M. P, Sheperd, A. D. 2008.
7-17. Entrepreneurship. Jakarta: Salemba Empat.

Ememe, O. N., Ezeh, S. C., Ekemezia, C. A. Hosseini, S. J. F,. Ahmadi, Heidar. 2011.
2013. The Role of Head Teacher in the Affective Factors Contributing to
Development of Entrepreneurship Entrepreneurial Attitudes of University
Education in Primari School. Journal of Students in Iran. Annals of Biological
Social Sciences and Humanities. 2 (01): Research. 2 (2): 366-371.
242 – 249
Ikävalko, M., Ruskovaara, E., Leino, J.S. 2014.
Fiet, James. O. 2000. The Theoritical Side of Rediscovering Teacher’s Role In
Teaching Entrepreneurship. Journal of Entrepreneurship Education. Academy of
Business Venturing. 16: 1 –24 Management Review. 25 (1): 217-226.
Jennings, P. A dan Greenberg, M. T. 1996. The
Prosocial Classroom: Teacher Social and of Educational Research Spring. 79 (1):
Emotional Competence in Relation to 491-525.
Student and Classroom Outcomes. Review
Kasmir. 2006. Kewirausahaan. Edisi 1. Jakarta: teacher?. Education + Training. 52 (2):
Raja Grafindo Persada. 117-127

Leino, J.S., Ruskovaara, E., Ikavalko, M., Mclnerney, D.M., dan Valentina Mclnerney.
Mattila, J., Rytkola, T. 2010. Promoting 2006. Educational Psychology
entrepreneurship education: the role of the (Constructing Learning). New South
Walles: Pearson Educatian Australia.

102
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Motivation, Attitude, Learning Styles, and
Murphy, P. J., Liao, J., Welsch, H. P. 2006. A Achivement. Journal of Agricultural
Conceptual History of Entrepreneurial Education. 42 (04): 12-20
Thought. Journal of Management History.
12 (01): 12-35. Tamizharasi, G., Panchanatham, N. 2010.
Entrepreneurial Attitudes among
Nanang Hanafiah. 2009. Konsep Strategi Entrepreneurs in Small and Medium
Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama. Enterprises. International Journal of
Innovation, Management and Technology.
O’Connor, A., Stam, A., Acs, Z. J., Audretsch, D. 1(4): 354-356.
B. 2015. Entrepreneurial Ecosystems.
Proceeding on Special Issue of Small Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Business Economics: An Entrepreneurship Guru dan Dosen
Journal30 September 2015.
UNESCO (2008). Inter-Regional Seminar on
Pihie, Z. A. L., Bagheri, A. 2011. Are Teachers Promoting Entrepreneurship Education in
Qualified to Teach Entrepreneurship? Secondary School. Bangkok: UNESCO.
Analysis of Entrepreneurial Attitude and
Self Eficacy. Journal of Aplied Sciences. 11 Westera, Wim. 2001. Competences in Education:
(18): 3308-3314 A Confusion of Tongues. Journal of
Curriculum Studies. 33 (1): 75-88.
Ruskovaara, E., Pihkala, T. 2013. Teachers
Implementing Entrepreneurship Education:
Classroom Practices. Education + Training. Zuzovsky, Ruth. 2003. Teacher’s Qualifications
55 (02): 204 -216 and Their Impact on Student Achievement.
IERI Monograph Series: Issues and
Shih, C. C., Gamon, J. 2001. Web-Based Methodology in Large-scales assessment. 2
Learning: Relationships Among Student (02): 37-62.

103
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Dampak Strategi Pembelajaran pada Spiritualitas Kewirausahaan
Studi Kasus pada Mahasiswa Manajemen di Universitas Kristen Maranatha

Boedi Hartadi Kuslina


Jurusan Manajemen-Universitas Kristen Maranatha
Email: bhkuslina@hotmail.com

Abstrak : Program Studi Manajemen-Universitas Kristen Maranatha dalam visinya ingin


mengembangkan kompetensi dan karakter wirausaha pada peserta didiknya. Dalam pengembangan
kurikulumnya, sejak tahun 2012 telah dibentuk konsentrasi Kewirausahaan untuk para mahasiswa
yang dapat diambil pada semester 6 hingga semester 8. Sejak saat itu dikembangkan suatu strategi
pembelajaran pada konsenterasi tersebut untuk dapat membekali mahasiswa dengan kompetensi dan
karakter wirausaha. Tulisan ini bertujuan untuk mengukur tingkat keberhasilan strategi pembelajaran
yang telah diterapkan dengan melihat dampaknya terhadap jiwa kewirausahaan mahasiswa pada dua
kelompok mahasiswa yaitu mahasiswa semester akhir yang mengambil konsentrasi Kewirausahaan
dengan mahasiswa pada semester lima. Diharapkan terdapat perbedaan yang signifikan dari variabel
spiritualitas kewirausahaan dan hasil dari proses pembelajaran pada kedua kelompok mahasiswa
tersebut. Data diambil dengan menyebarkan kuesioner dan pengolahan data dilakukan dengan uji
beda rata-rata t dengan sampel bebas (independent sample t-test compare means). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pada variabel proses pembelajaran menghasilkan perbedaan yang signifikan
secara umum. Namun, pada variabel jiwa kewirausahaan secara umum tidak menghasilkan perbedaan
yang signikan. Hanya pada sub-variabel penanganan pada tekanan (stress) yang memberikan
perbedaan yang signifikan.

Kata Kunci: Spiritual Kewirausahaan, Pembelajaran, Strategi, Proses

Kemampuan wirausaha tersebut tidak dapat


Kewirausahaan dipercaya berbagai pihak dapat terlepas dari karakteristik kewirausahaan. Dana
memberikan dampak untuk pembangunan, (2001) dan Henry et.al (2005) menyebutkan
persentase jumlah wirausaha dalam masyarakat bahwa karakter kewirausahaan
yang tinggi akan memberikan dampak postiif (entrepreneurial characteristics) dapat
dengan semakin tingginya tingkat kemakmuran diajarkan bukan hanya dilahirkan. Mengingat
suatu negara. Kuratko dan Hodgetts (2004) hal tersebut, maka peran pendidikan
memandang bahwa kewirausahaan merupakan kewirausahaan saat ini menjadi suatu hal yang
sebuah proses mengidentifikasi peluang dalam penting dan mendesak (Kuratko, 2005).
berbagai situasi (krisis maupun masa Jones dan English (2004; dalam
kemakmuran/booming) dan memberikan Mwasalwiba, 2010) memandang pendidikan
penyelesaian melalui kemampuan dan kewirausahaan sebagai proses untuk
kapabilitas dalam mengelola sumber-sumber menyiapkan peserta didik dengan kemampuan
secara kreatif dan inovatif pada berbagai mengidentifikasi peluang yang dapat
masalah bisnis dan sosial yang dihadapi. dikomersialkan, kepercayaan diri, pengetahuan,
Kemampuan wirausaha dalam menangkap dan keterampilan dalam mengimplementasikan
peluang dan memberikan penyelesaian yang peluang tersebut. Dalam pengertian tersebut,
bernilai tersebut menjadikan pentingnya Mwasalwiba (2010) menyebutkan bahwa
kewirausahaan untuk pembangunan. pendidkan kewirausahaan berusaha untuk
104
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
memperlengkapi seseorang dengan antara mahasiswa yang mengambil
kemampuan kewirausahaan, baik hardskill konsenterasi Kewirausahaan pada semester
maupun softskill, untuk membangun sebuah delapan dengan mahasiswa yang belum
bisnis dan juga dengan meningkatkan mengambil konsentrasi pada semester lima
kesadaran akan peluang, motivasi, sikap, nilai- yang mengambil mata kuliah Perencanaan
nilai, dan perilaku sebagai seorang wirausaha. Bisnis.
Banyak universitas melakukan dengan
kurikulum yang terpadu dan berbagai metoda Spiritualitas Kewirausahaan
pengajaran. Hills (1998) menyebutkan dalam (Entrepreneurship Spirituality)
risetnya banyak universitas menawarkan mata Pengertian kewirausahaan berkembang dari
kuliah yang didalamnya mendiskusikan masa ke masa, perkembangan awal dari definisi
perencanaan bisnis (business plan), fungsi kewirausahaan menganggap pembentukan
bisnis, dan siklus hidup bisnis, dan dengan perusahaan adalah sebagai hal utama dari
berbagai metoda pengajaran seperti kewirausahaan baru (Chandler, 1990; Gartner,
membangun bisnis melalui perencanaan bisnis, 1990, 1989, 1985; Low and MacMillan, 1988;
mengundang dosen tamu, analisis kasus, McCLelland, 1961; Schumpeter, 1934; Vesper,
diskusi dan pengajaran secara tradisional, dan 1980 dalam Verheul et al., 2005). Dalam
lain sebagainya. Hal yang penting yang perkembangan selanjutnya, pendekatan
dikemukakan adalah pentingnya psikologis, sosiologis dan ekonomi menjadi
melakukan/membangun bisnis baru melalui pendekatan yang paling popular dilakukan
perencanaan bisnis. Sehingga menghasilkan untuk menerangkan pengertian kewirausahaan
pengalaman bagai para peserta didik. (Douglas & Shepherd, 1999). Pendekatan
Program Studi Manajemen-Universitas psikologis mengeksplorasi kewirausahaan dari
Kristen Maranatha menyadari pentingnya konteks kepribadian, sikap dan motivasi para
kewirausahaan dalam pendidikan peserta wirausahawan sehingga muncul karakteristik
didiknya. Dalam pernyataan visinya, salah satu dari wirausaha yang menerangkan
visi yang hendak dicapai adalah kewirausahaan. Terdapat berbagai karakteristik
mengembangkan kompetensi dan karakter kewirausahaan antara lain kemampuan
kewirausahaan. Mata kuliah Kewirausahaan mengidentifikasi peluang dan inovatif
sendiri sudah ada sejak lama, namun untuk (Schumpeter, 1934), kebutuhan untuk
mencapai visinya, sejak tahun 2009 dibentuk berprestasi (McClelland, 1961), toleran
suatu kurikulum yang mengakomodasi adanya terhadap risiko (calculated risk) (Knight,
Konsentrasi Kewirausahaan, sehingga pada 1921), otonom dan butuh kebebasan (Hornday
tahun 2011 terdapat satu Kelompok Bidang & Aboud, 1971), mampu melihat (alert)
Keahlian Kewirausahaan yang terdiri dari para terhadap peluang (Kizner,1973), motivasi yang
dosen yang mengembangkan pengetahuan dan tinggi terhadap insentif ekonomi (profit)
pengajaran bidang Kewirausahaan. Tahun (Boumol, 1990) dan masih banyak karakter lain
2012, terbentuk satu kelas mahasiswa dengan yang diteliti.
Konsentrasi Kewirausahaan dan terus berlanjut Pada pendekatan psikologi, karakter
hingga saat ini. Tulisan ini bertujuan untuk kewirausahaan sering dipergunakan untuk
mengukur tingkat keberhasilan dari strategi mengukur kompetensi, kualifikasi dari seorang
pembelajaran yang telah diterapkan sejak tahun wirausaha. Hal ini dilakukan dalam Proyek
2012 hingga saat ini (penelitian dilakukan Leonardo da Vinci di tahun 2005 yang
tahun 2015) dengan melihat adanya perbedaan mengukur dampak dari pendidikan pada
spiritualitas kewirausahaan dan pengetahuan spiritualitas kewirausahaan (entrepreneurship
105
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
spirituality). Sebenarnya belum ada definisi Definisi kondisi lingkungan adalah
formal mengenai spiritualitas kewirausahaan, keadaan eksternal yang dimiliki oleh seseorang
namun pendekatan psikologi yang untuk mendorong dirinya menjadi seorang
menunjukkan karakater kewirausahaan sering wirausaha. Kondisi lingkungan sering
kali dipergunakan untuk menggantikan definisi disamakan dengan norma sosial seseorang,
spiritualitas kewirausahaan (Kao, 1989). Dalam orang tua, keluarga, teman dan lingkungan
Proyek Leonardo da Vinci (2005), spiritualitas secara umum merupakan faktor yang
kewirausahaan dibagi dalam enam kategori mempengaruhi seseorang untuk memiliki jiwa
yaitu karakteristik pribadi (personal traits), kewirausahaan. Bila semakin tinggi dorongan
motivasi terhadap kesuksean (achievement tersebut maka semakin tinggi jiwa
motivation), orientasi pada inovasi (innovation kewirausahaan seseorang.
orientation), kondisi lingkungan (framework Definisi pengetahuan dan kemampuan
condition), pengetahuan dan kemampuan (skills adalah kemampuan dan pengetahuan yang
and knowledge) dan pengalaman kerja (work dimililiki oleh seseorang untuk dapat
experience). mengadaptasi dirinya dengan lingkungan dan
Definisi dari karakteristik pribadi adalah mengubah lingkungannya. Varibel ini dalam
satu set sifat seseorang yang membentuk Proyek Leonardo da Vinci dibagi dalam
perilaku seseorang. Dalam Proyek Leonardo da kesiapan untuk berubah, kemampuan
Vinci, karakteristik pribadi ini dibagi dalam mempengaruhi, kemampuan belajar, dan
keterbukaan, stabilitas emosional, kesadaran, toleransi terhadap tekanan (stress). Semakin
kesukaan terhadap sesuatu, dan ekstroversi. baik pengtahuan dan kemampuan seseorang
Semakin tinggi karakteristik pribadi dari maka semakin tinggi jiwa kewirausahaan
seseorang, maka akan semakin tinggi pula jiwa seseorang.
kewirausahaan yang dimiliki. Definisi pengalaman kerja adalah
Definisi motivasi terhadap kesuksesan pengalaman seseorang dalam pekerjaan baik
adalah tendensi seseorang untuk menghasilkan sebagai pekerja atau sebagai wirausaha baik
sesuatu dengan sebaik mungkin dan melihat secara penuh waktu ataupun paruh waktu pada
kesuksesan adalah sebuah tantangan. Bagi perusahaan ataupun organisasi non-laba.
seorang wirausaha kesuksesan adalah penting Semakin lama pengalaman kerja seseorang
untuk menjadi orientasi (McClelland, 1961) maka akan semakin tinggi jiwa kewirausahaan
bukan menjadi seorang penghindar seseorang.
kegagalan.Semakin tinggi motivasi maka
semakin tinggi pula jiwa kewirausahaan Pendidikan Kewirausahaan
seseorang. Kewirausahaan berkembang pesat dalam
Definisi orietasi pada inovasi adalah beberapa dekade ini, penelitian dari Kuratko
kemauan dan kemampuan untuk berpikir (2005) menunjukkan bahwa terjadi
dengan secara berbeda dalam menyelesaikan peningkatan yang pesat pada generasi muda
sebuah masalah. Inovasi dipercaya sebagai hal untuk menjadi seorang wirausaha. Begitu pula
yang sangat penting dalam kewirausahaan dan dengan pendidikan kewirausahaan, Salomon
merupakan pendorong keberhasilan dalam (2007) mencatat tumbuhnya institusi yang
melakukan aktivitas kewirausahaan untuk menawarkan pendidikan kewirausahaan hingga
mengeksplorasi peluang (Shumpeter, 1934). 1.500 institusi pendidikan yang tersebar di
Semakin tinggi orientasi pada inovasi maka seluruh dunia. Dalam perkembangannya,
akan semakin tinggi pula jiwa kewirausahaan pendidikan kewirausahaan menawarkan
seseorang. berbagai cara dengan tujuan untuk dapat
106
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
mendidik seoerang peserta didik menjadi pemasaran, keuangan dan lainnya, inovasi, dan
seorang wirausaha dengan berhasil. Salomon team building. Mwasalwiba (2010) dalam
(2007) secara spesifik mengungkapkan bahwa penelitiannya pada berbagai universitas
tujuan dari pendidikan kewirausahaan adalah terkemuka di dunia menyarankan mata kuliah
untuk menanamkan dan meningkatkan mengenai manajemen sumber daya, pemasaran,
kemampuan seorang peserta didik untuk keuangan, penjualan, mata kuliah terkait
memproyeksikan/membayangkan arah untuk penemuan dan eksplorasi peluang, perencanaan
membangun bisnis yang baru dengan melalui bisnis dan pengembangan bisnis, manajemen
pengkombinasian informasi dari pengetahuan- risiko, kepemimpinan dan team building, dan
pengetahuan fungsional dalam konteks manajemen usaha kecil. Bisa juga ditambahkan
lingkungan yang tidak pasti dan tidak jelas. sebagai pengetahuan mata kuliah hukum bisnis,
Esensi dari pendidikan kewirausahaan adalah franchise, bisnis keluarga, manajemen inovasi,
untuk menghasilkan dan meningkatkan dan kemampuan komunikasi. Dari sekian
kemampuan tersebut. Sehingga ukuran banyak kurikulum dan mata kuliah yang
keberhasilan dari pendidikan kewirausahaan disarankan, tema dan tujuan pendidikan
adalah bagaimana meningkatkan kemampuan kewirausahaan harus menjadi fokus dari
tersebut. kurikulum tersebut.
Pendekatan institusi pendidikan dalam Metoda pengajaran Kewirausahaan
melaksanakan pendidikan kewirausahaan memiliki berbagai strategi dan pendekatan.
tercermin dalam tema-tema pengembangan Kuratko (2005) menyebutkan salah satu hal
kemampuan yang diharapkan diperoleh peserta yang menjadi permasalahan dalam metoda
didik. Satu institusi mungkin sekali memiliki pengajaran Kewirausahaan adalah tidak adanya
perbedaan dengan institusi lain dalam basis teori yang kuat untuk membangun model
pengembangan tema tersebut, namun diantara dan pendekatan pengajaran Kewirausahaan.
perbedaan tersebut terdapat kesamaan tema Salomon (2007) menyerankan pendekatan yang
yaitu penciptaan bisnis baru, pengembangan lebih bersifat bebas dan mencerminkan situasi
bisnis, inovasi, penciptaan nilai dan bentuk- dari karakter kewirausahaan sehingga peserta
bentuk kepemilikan (Vesper & Gartner, 1997). didik memiliki pengalaman pada hal tersebut.
Biasanya tema tersebut kemudian dibentuk Pengalaman merupakan penekanan dan fokus
dalam kurikulum, mata kuliah, dan cara/metoda dari metoda pengajaran Kewirausahaan.
pengajaran. Namun pendekatan pengajaran yang bersifat
Pendekatan kurikulum untuk tradisional seperti penulisan rencana bisnis,
Kewirausahaan disarankan untuk berbeda diskusi kasus dan lainnya masih merupakan
dengan pendidikan manajemen secara metoda yang populer. Mwasalwiba (2010)
tradisional, maka itu disarankan untuk membagi metoda pengajaran ini dalam dua
menambahkan mata kuliah yang meningkatkan pendekatan yaitu aktif dan pasif. Metoda aktif
kemampuan (skill building) seperti negosiasi, lebih menekankan penemuan sendiri (self
kepemimpinan, berpikir kreatif, dan discovery) dari peserta didik sedangkan fungsi
pengalaman pada inovasi dan pengembangan dari pengajar adalah sebagai pendamping dan
produk (Gorman et.al. 1997). Sedangkan Hills fasilitator seperti interview, kunjungan
(1998) menyarankan dua hal yang harus perusahaan, games, dan lainnya. Sedangkan
dikembangkan yaitu konseptual dan dan metoda pasif menekankan pada pengajaran
praktik, dalam tataran konseptual disarankan secara tradisional berupa lecturing based
untuk memasukkan perencanaan bisnis, seperti pengajaran dalam kelas, pengajan
pengembangan bisnis, fungsional bisnis seperti dengan kasus, dosen tamu dan lainnya. Bennet
107
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
(2006; dalam Mwasalwiba, 2010) menyebutkan kewirausahaan sehingga variabel tersebut
bahwa pendekatan aktif memberikan hasil yang dibagi dalam pengetahuan yang diberikan dan
lebih baik dibandingkan dengan pendekatan pemberian insight sebagai dasar bagi perserta
pasif. didik untuk memiliki cara berpikir seorang
Pengukuran keberhasilan pendidikan wirausaha.
menurut Mwasalwiba (2010) dapat dilakukan Penelitian dilakukan pada dua kelompok
dengan melakukan evaluasi dari dampak mahasiswa yaitu 77 mahasiswa semester lima
pendidikan. Beberapa cara antara lain, melihat yang menempuh mata kuliah Perencanaan
berapa banyak bisnis baru yang dihasilkan oleh Bisnis yang belum/tidak mengambil
para alumni, nilai ujian yang baik, sikap dan konsentrasi Kewirausahaan dan 28 mahasiswa
perilaku sebagai seorang wirausaha, yang mengambil konsentrasi Kewirausahaan
peningkatan kepercayaan diri, motivasi untuk pada semester tujuh sehingga total terdiri dari
berprestasi yang tinggi, dan peningkatan skill 105 orang mahasiswa.
sebagai seorang wirausaha. Karakter Para mahasiswa diminta untuk mengisi 2
kewirausahaan secara implisit juga merupakan set kuesioner yaitu kuesioner yaitu spiritualitas
alat untuk melakukan pengukuran kewirausahaan dan pendidikan kewirausahaan.
keberahasilan dari pendidikan Kewirausahaan, Data yang diperoleh diolah reliabilitas dan
dan termasuk didalamnya jiwa/spiritualitas validitasnya dengan program SPSS versi 20,
kewirausahaan. untuk variabel spiritualitas kewirausahaan
variabel karakteristik pribadi, dan sub-variabel
METODE kemampuan mempengaruhi tidak masuk dalam
kriteria reliabilitas dan validitas. Sedangkan
Penelitian ini dilakukan dengan mengadopsi untuk variabel pengalaman kerja tidak
variabel penelitian yang dilakukan dalam diikutsertakan karena diasumsikan bahwa para
Proyek Leonardo da Vinci (2005) yang mahasiswa belum bekerja. Hasil validitas dan
mengukur spiritualitas kewirausahaan, reliabilitas data dapat dilihat pada tabel 1 di
sedangkan untuk variabel pendidikan bawah:
disesuaikan dengan tujuan pendidikan
kewirausahaan di Jurusan Manajemen –
Universitas Kristen Maranatha yaitu
memberikan kompetensi dan karakter

Tabel 1. Validitas dan Reliabilitas Variable Penelitian

Variabel Item Pertanyaan Loading Cronbach


Factor alpha
Motivasi Kegagalan merupakan bagian dari 0,840 0,647
kesuksesan
Kesuksesan adalah fokus utama, 0,732
sehingga kegagalan harus dihadapi
Orientasi Berpikir diluar logika dan aturan yang 0,735 0,598
terhadap jelas dalam memecahkan masalah
inovasi Ada banyak jawaban untuk suatu 0,561
108
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Variabel Item Pertanyaan Loading Cronbach
Factor alpha
masalah, termasuk di dalamnya
berpikir secara bebas
Masalah dapat didekati dengan 0,759
berbagai cara
Dukungan Lingkungan saya mendukung untuk 0,740 0,814
Lingkungan menjadi wirausaha
Dukungan orang tua 0,868
Dukungan keluarga 0,860
Dukungan masyarakat, menjadi 0,647
wirausaha adalah sebuah tren
Kesiapan Dalam banyak situasi, mudah untuk 0,740 0,753
berubah menarik perhatian audiens
Berhadapan dengan situasi baru 0,609
membuat saya bersemangat
Hal baru bukan merupakan sesuatu 0,835
yang sulit
Memotivasi bukan hal yang sulit 0,607
Kemampuan Suka terhadap hal baru untuk dikuasai 0,684 0,606
belajar Suka dengan keterampilan yang baru 0,727
Suka dengan teknologi yang baru 0,624
Penanganan Ketika stress, masih mampu 0,653 rata0,737
stress mengendalikan diri dan tenang
Tidak masalah bekerja dalam tekanan 0,715
Mampu mengatasi stress dan 0.787
memanfaatkannya
Pengetahuan Memulai sebuah bisnis (start-up 0,765 0,848
business)
Merencanakan bisnis dan 0,765
mengembangkannya
Pengembangan ide bisnis 0,815
Inovasi bisnis dan produk 0,708
Proses pengembangan ide dan 0,671
realisasinya
Menulis perencanaan bisnis 0,617
Insight Belajar gaya hidup seorang 0,713 0,790
entrepreneur
Cara berpikir seorang entrepreneur 0,692
Kepemimpinan 0,640
Penyelesaian masalah secara inovatif 0,657
Sumber: Data kuesioner yang telah diolah, 2016

109
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Data yang telah diuji validitas dan Manajemen Usaha Kecil dan Menengah, dan
reliabilitasnya kemudian diolah dengan uji Bisnis Keluarga; dan terakhir pada semester
beda rata-rata t dengan sampel bebas akhir mahasiswa mengambil mata kuliah
(independent sample t-test compare means), Seminar Kewirausahaan.
sesuai dengan tujuan dari peneitian untuk Metoda pembelajaran untuk mata kuliah
mengetahui adanya perbedaan yang signifikan dalam koordinasi KBK Kewirausahaan yaitu
antara kelompok mahasiswa yang mengambil mata kuliah Kewirausahaan dan Inovasi,
konsentrasi Kewirausahaan dengan mahasiswa Perencanaan Bisnis dan mata kuliah-mata
yang tidak/belum mengambil konsentrasi kuliah konsentrasi Kewirausahaan diarahkan
Kewirausahaan. untuk mencapai tujuan pembelajaran
Kewirausahaan di Jurusan Manajemen yaitu
HASIL & PEMBAHASAN fokus pada pembangunan cara berpikir,
karakter kewirausahaan, dan memberikan
Jurusan Manajemen – Fakultas Ekonomi pengetahuan dan keterampilan dalam berbisnis
Universitas Kristen Maranatha dalam visinya dalam skala kecil dan menengah. Sehingga
ingin mengembangkan kompetensi dan dalam metoda pembelajaran dilakukan dengan
karakteristik kewirausahaan pada peserta metoda yang bervariasi. Konten pembelajaran
didiknya. Untuk mencapai visi tersebut memiliki tidak kurang dari lima puluh persen
dibentuk Kelompok Bidang Keahlian (KBK) berupa tugas dalam bentuk proyek aplikatif
Kewirausahaan yang terdiri dari para dosen dalam kelompok yang tujuannya memberikan
yang mengembangkan kurikulum, silabus dan pengalaman pada penerapan pengetahuan
metoda pengajaran untuk konsentrasi kewirausahaan yang diajarkan dalam kelas.
Kewirausahaan. KBK Kewirausahaan Aspek ini diharapkan dapat memberikan
menetapkan fokus dari tujuan pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan cara berpikir
pada pembangunan cara berpikir dan karakter yang lebih efektif dibandingkan hanya dengan
kewirausahaan, selain menambahkan pembelajaran secara tradisional dalam tatap
keterampilan dalam berbisnis terutama dalam muka. Misalkan dalam mata kuliah
bisnis skala kecil menengah. Kewirausahaan dan Inovasi, tugas proyek
Kurikulum Jurusan Manajemen secara kelompok adalah menghasilkan sebuah inovasi
umum memasukkan beberapa mata kuliah yang produk yang harus dijual dalam waktu 1 bulan
terkait dengan konsentrasi Kewirausahaan yaitu yang kemudian akan dipresentasikan.
Kewirausahaan dan Inovasi dan Perencanaan Kemudian unutk mata kuliah Tantangan Utama
Bisnis pada semester empat dan lima. Dalam Kewirausahaan dibuat tugas kelompok untuk
kurikulum juga diajarkan berbagai softskill menjual barang-barang yang umum seperti
seperti mata kuliah Kepemimpinan, Negosiasi, beras, kosmetik, sikat gigi, tiket seminar, buku
dan Keterampilan Komunikasi dan Teknik dan lain sebagainya dalam waktu tertentu
Presentasi dan mata kuliah fungsional dengan mencari cara yang inovatif untuk
manajemen seperti Manajemen Pemasaran, menjual produk-produk tersebut dan
Keuangan, Operasional, dan Sumber Daya menginterview seorang wirausaha yang
Insani untuk semua mahasiswa. Khsus untuk berhasil kemudian diakhiri dengan out-bond
mahasiswa yang mengambil konsentrasi untuk menantang karakter pribadi dan karakter
Kewirausahaan (konsentrasi dapat diambil pada kelompok. Contoh lain untuk mata kuliah
semester lima) terdapat mata kuliah wajib Manajemen Usaha Kecil dan Menengah, tugas
yaitu Pengembangan Bisnis, Tantangan Utama kelompok diarahkan untuk mencari usaha kecil
Kewirausahaan, dan Bisnis Terpadu, dan melakukan pemecahan masalah yang
110
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
dihadapi oleh usaha kecil yang menjadi obyek Kewirausahaan. Tujuan dari pembelajaran
mereka. Selain tugas kelompok dalam bentuk diharapkan mahasiswa memiliki pengalaman
proyek aplikatif, mahasiswa juga diberikan (experience) yang dirasa lebih memiliki
berbagai pengetahuan dalam bentuk tatap muka penyerapan dan tersimpan lebih lama dalam
secara tradisionil, diskusi kasus, memanggil ingatan para mahasiswa.
dosen tamu, mendiskusikan film, games dan Hasil pengolahan data pada dua kelompok
lain sebagainya. Strategi pembelajaran yang mahasiswa yaitu mahasiwa tingkat akhir
diterapkan oleh KBK Kewirausahaan untuk dengan konsentrasi kewirausahaan dan
konsentrasi Kewirausahaan memang dibedakan mahasiswa pada semester lima (non
dengan pembelajaran yang diterima oleh konsentrasi kewirausahaan) diperoleh nilai
mahasiswa untuk konsentrasi non- mean dan standar deviasi sebagai berikut:

Tabel 2. Nilai Mean dan Deviasi Standar Dua Kelompok Mahasiswa

Variabel Item Pertanyaan Konsentrasi Non-konsentrasi


Kewirausahaan Kewirausahaan
Mean Deviasi Mean Deviasi
standar standar
Motivasi Kegagalan merupakan bagian 4,45 0,51 4,35 0,78
dari kesuksesan
Kesuksesan adalah fokus utama, 4,27 0,63 4,19 0,87
sehingga kegagalan harus
dihadapi
Orientasi Berpikir diluar logika dan 3,50 1,26 2,68 1,15
terhadap aturan yang jelas dalam
inovasi memecahkan masalah
Ada banyak jawaban untuk 4,23 0,92 3,88 1,06
suatu masalah, termasuk di
dalamnya berpikir secara bebas
Masalah dapat didekati dengan 3,45 1,41 2,94 1,13
berbagai cara
Dukungan Lingkungan saya mendukung 4,27 0,83 3,98 1,06
Lingkungan untuk menjadi wirausaha
Dukungan orang tua 4,18 0,73 3,94 1,08
Dukungan keluarga 4,32 0,72 4,02 0,95
Dukungan masyarakat, menjadi 3,95 0,99 3,94 0,82
wirausaha adalah sebuah tren
Kesiapan Dalam banyak situasi, mudah 3,50 1,26 3,466 1,02
berubah untuk menarik perhatian
audiens
Berhadapan dengan situasi baru 3,50 1,26 3,40 1,09
membuat saya bersemangat
Hal baru bukan merupakan 3,43 1,25 3,32 1,18
sesuatu yang sulit
111
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Variabel Item Pertanyaan Konsentrasi Non-konsentrasi
Kewirausahaan Kewirausahaan
Mean Deviasi Mean Deviasi
standar standar
Memotivasi bukan hal yang 3,73 0,98 3,61 1,18
sulit
Kemampuan Suka terhadap hal baru untuk 4,18 0,79 3,98 0,78
belajar dikuasai
Suka dengan keterampilan yang 4,09 0,87 3,98 0,72
baru
Suka dengan teknologi yang 4,09 0,81 4,26 0,73
baru
Penanganan Ketika stress, masih mampu 3,54 1,18 2,86 1,10
stress mengendalikan diri dan tenang
Tidak masalah bekerja dalam 3,68 1,25 3,06 1,19
tekanan
Mampu mengatasi stress dan 3,50 1,50 2,87 1,26
memanfaatkannya
Pengetahuan Memulai sebuah bisnis (start-up 4,41 0,59 3,91 0,87
business)
Merencanakan bisnis dan 4,50 0,59 4,01 0,85
mengembangkannya
Pengembangan ide bisnis 4,14 0,56 3,84 0,92
Inovasi bisnis dan produk 4,32 0,72 3,61 1,02
Proses pengembangan ide dan 4,32 0,48 3,88 0,81
realisasinya
Menulis perencanaan bisnis 4,23 0,69 3,81 0,94
Insight Belajar gaya hidup seorang 4,00 0,76 3,56 0,82
entrepreneur
Cara berpikir seorang 4,45 0,59 3,87 0,98
entrepreneur
Kepemimpinan 4,05 0,72 3,93 0,84
Penyelesaian masalah secara 4,23 0,53 3,60 0,88
inovatif
Sumber: Data kuesioner yang studah diolah, 2016

Dari tabel 2 terlihat bahwa pada kemampuan belajar. Hal ini memperlihatkan
mahasiswa yang mengambil konsentrasi bahwa strategi pembelajaran kewirausahaan
Kewirausahaan memiliki nilai mean yang lebih yang diterapkan memberikan dampak yang
besar secara umum pada setiap variabel lebih besar pada kelompok mahasiswa yang
dibandingkan dengan mahasiswa yang mengambil konsentrasi kewirausahaan pada
tidak/belum mengambil konsentrasi semester akhir dibandingkan dengan kelompok
Kewirausahaan terkecuali pada pertanyaan rasa non-konsenterasi Kewirausahaan yang berada
suka pada teknologi yang baru dalam variabel pada semester lima.
112
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Untuk mengetahui tingkat signifikansi pengujian beda rata-rata pada dua sisi (two
perbedaan dampak yang dihasilkan pada dua tail), tabel 3 menunjukkan hasil pengujian dari
kelompok mahasiswa tersebut dilakukan dua kelompok tersebut:

Tabel 3. Hasil Pengujian Beda Rata-rata

Variabel Item Pertanyaan Nilai t- p value


test
Motivasi Kegagalan merupakan bagian dari 0,577 0,565
kesuksesan
Kesuksesan adalah fokus utama, 0,415 0,679
sehingga kegagalan harus dihadapi
Orientasi Berpikir diluar logika dan aturan yang 2,920 0,004*
terhadap jelas dalam memecahkan masalah
inovasi Ada banyak jawaban untuk suatu 1,392 0,167
masalah, termasuk di dalamnya
berpikir secara bebas
Masalah dapat didekati dengan 1,807 0,074
berbagai cara
Dukungan Lingkungan saya mendukung untuk 1,219 0,225
Lingkungan menjadi wirausaha
Dukungan orang tua 0,989 0,325
Dukungan keluarga 1,355 0,178
Dukungan masyarakat, menjadi 0,065 0,948
wirausaha adalah sebuah tren
Kesiapan Dalam banyak situasi, mudah untuk 0,161 0,873
berubah menarik perhatian audiens
Berhadapan dengan situasi baru 0,370 0,712
membuat saya bersemangat
Hal baru bukan merupakan sesuatu 0,382 0,703
yang sulit
Memotivasi bukan hal yang sulit 0,462 0,645
Kemampuan Suka terhadap hal baru untuk dikuasai 1,089 0,279
belajar Suka dengan keterampilan yang baru 0,683 0,527
Suka dengan teknologi yang baru -0,943 0,348
Penanganan Ketika stress, masih mampu 2,562 0,012*
stress mengendalikan diri dan tenang
Tidak masalah bekerja dalam tekanan 2,168 0,032*
Mampu mengatasi stress dan 2,004 0,048*
memanfaatkannya
Pengetahuan Memulai sebuah bisnis (start-up 2,566 0,012*
business)
Merencanakan bisnis dan 2,527 0,013*
mengembangkannya
113
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Variabel Item Pertanyaan Nilai t- p value
test
Pengembangan ide bisnis 1,458 0,148
Inovasi bisnis dan produk 3,077 0,003*
Proses pengembangan ide dan 2,418 0,017*
realisasinya
Menulis perencanaan bisnis 1,932 0,056
Insight Belajar gaya hidup seorang 2,247 0,027*
entrepreneur
Cara berpikir seorang entrepreneur 2,651 0,009*
Kepemimpinan 0,592 0,555
Penyelesaian masalah secara inovatif 3,206 0,002*
Sumber: Data kuesioner yang telah diolah, 2016

Dari hasil pengujian terlihat bahwa menentukan tinggi rendahnya spiritualitas dari
perbedaan dari dua kelompok mahasiswa masing-masing individu; (3) masih belum
tersebut secara umum tidak memperlihatkan efektifnya strategi pembelajaran yang
perbedaan pada variabel spiritualitas dilakukan selama ini.
kewirausahaan, hanya pada kemampuan Namun terdapat satu hasil yang menarik
penanganan stress memiliki perbedaan yang yaitu bahwa kemampuan dalam penanganan
signifikan pada tingkat kepercayaan 5%. stress para mahasiswa menunjukkan perbedaan
Sedangkan pada variabel pendidikan, hasil yang signifikan.Hal ini memberikan
secara umum menunjukkan adanya perbedaan kemungkinan bahwa komposisi tugas yang
dari mahasiswa dari konsentrasi cukup tinggi dalam waktu pembelajaran
Kewirausahaan dibandingkan dengan non- menghasilkan cara berpikir ataupun manajemen
konsentrasi Kewirausahaan, hanya pada item stress yang cukup baik ataupun memberikan
pertanyaan pengetahuan pengembangan ide satu kebiasaan menghadapi tekanan.
bisnis, menulis perencanaan bisnis, dan Dalam sisi pengetahuan dan insight
kepemimpinan yang tidak memiliki perbedaan menunjukkan perbedaaan yang signifikan,
yang signifikan. namun hal ini dapat dikatakan wajar karena
Tidak adanya perbedaan yang signifikan perbedaan mata kuliah yang diajarkan pada
dalam variabel spiritualitas kewirausahaan mahasiswa non-konsentrasi Kewirausahaan
menunjukkan bahwa strategi pembelajaran memiliki perbedaan. Namun, di sini
yang dilakukan belum memberikan pengaruh memperlihatkan bahwa strategi pembelajaran
yang cukup untuk membuat mahasiwa dengan komposisi lima puluh persen bobot
konsentrasi Kewirausahaan memiliki waktu perkuliahan dalam tugas yang harus
karakteristik kewirausahaan yang lebih superior dipraktikkan memberikan tingkat penyerapan
dibandingkan dengan mahasiswa lainnya. Hal pengetahuan yang cukup efektif yang terlihat
ini terjadi karena berbagai kemungkinan, antara dari nilai mean yang cenderung tinggi dan
lain: (1) lingkungan mahasiswa di Jurusan standar deviasi yang rendah yang menunjukkan
Manajemen secara umum berasal dari keluarga tingkat kepercayaan mahasiswa yang cukup
yang berwirausaha sehingga spriritualiats tinggi dengan pengetahuan yang diperolehnya.
kewirausahaan sudah ada karena didikan dari Diharapkan efek dari pemberian porsi
keluarga; (2) faktor internal mahasiswa pengalaman (experience) dalam pembelajaran
114
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
memberikan pengetahuan yang lebih baik Evaluasi pada strategi pembelajaran
penyerapannya dan memberikan wawasan Kewirausahaan sebaiknya dilakukan dengan
mengenai kewirausahaan pada mahasiswa. melihat kembali sasaran yang ingin dicapai
Walaupun untuk menguji pengetahuan tersebut dalam pembelajaran. Kendala kurikulum yang
harus dibuktikan dengan pengujian materi- ada pada program studi Manajemen yaitu
materi yang diperoleh dengan melihat nilai hanya terdapatnya kurang lebih tujuh mata
hasil ujian yang diperoleh seperti yang kuliah yang terkait dengan pembelajaran
diungkapkan oleh Mwasalwiba (2010). Kewirausahaan harus dipikirkan. Selain pilihan
mata kuliah yang tepat, dibutuhkan juga
metoda pembelajaran yang lebih aktif dan
SIMPULAN penyusunan materi kuliah yang tepat yang
mendorong pada tingginya spiritualitas
Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan kewirausahaan pada mahasiswa, sehingga
dari strategi pembelajaran yang diterapkan muncul model pembelajaran yang paling tepat.
empat tahun terakhir secara umum masih Keterbatasan penelitian adalah terdapat
belum menunjukkan hasil yang signifikan pada perbedaan semester antara dua kelompok
tingginya spiritualitas kewirausahaan dari mahasiswa yang menjadi sampel. Walaupun
konsentrasi Kewirausahaan dibandingkan metoda pembelajaran yang diterapkan memiliki
dengan mahasiswa yang belum/tidak perbedaan dengan metoda pembelajaran pada
mengambil konsentrasi tersebut, hanya pada semester awal, kedewasaan dari mahasiswa
kemampuan penanganan terhadap stress terjadi dapat mempengaruhi hasil dari penelitian.
perbedaan yang signifikan, walaupun Sehingga, penelitian pada mahasiswa dengan
pengetahuan dan insight/wawasan yang semester yang sama yaitu pada tingkat akhir
diberikan secara signifikan menunjukkan dari beberapa konsentrasi akan mencerminkan
perbedaan di antara kedua kelompok tingkat keberhasilan dari metoda pembelajaran
mahasiswa tersebut. Beberapa hal yang yang dilakukan selama ini. Hal lain yang dapat
mungkin menjadi penyebab adalah faktor dilakukan juga dengan melakukan riset pada
lingkungan keluarga dari mahasiswa secara alumni apakah pembelajaran yang dilakukan
umum yang berlatar belakang wirausaha, faktor telah cukup dapat diterapkan dalam pekerjaan
internal mahasiswa, atau pun memang belum ataupun bisnis yang dikelola oleh para alumni.
efektifnya strategi pembelajaran yang
dilakukan.
DAFTAR RUJUKAN failures. Journal of Business Venturing. 9:
179 – 187.
Douglas, E.J. & Shepherd, D.A. 1999.
Entrepreneurship as a utility maximizing Henry, C, Hill, F & Leitch, C. 2005.
response, Journal of Business Venturing. Entrepreneurship education and training -
15: 231 -251. can entrepreneurship be taught?
Education and Training. 47 (2):98-111.
ECENT. 2005. Leonardo da Vinci pilot Project:
Your future your profit- user guide, Graz. Hills, G. 1998. Variations in university
entrepreneurship education: an empirical
Gartner, W.B. and Vesper, K.H. 1994. study of an
Executive fórum: Experiments in evolving field. Journal of Business
entrepreneurship education: success and Venturing .3:109-22.
116
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
OH; South-Western Publishers.
Karali, S. 2013. The impact of entrepreneurship
education programs on entrepreneurial McClelland, D.C. 1961. The Achieving Society.
intentions: An application of the theory of Princeton, NJ: D. Van Nostrand
planned behaviour.Thesis. Erasmus School Company,Inc.
of Economics. Rotterdam.
Mwasalwiba, E.S. 2010. Entrepreneurship
Kuratko, D. F. 2005. The emergence of education: A reivew of its objectives,
entrepreneurship education: teaching methods, and impact indicators.
Development, trends, and challenges. Education+Training. 52 (1): 20 – 47.
Entrepreneurship Theory and Practice.
29: 577–598. Solomon, G. 2007. An examination of
entrepreneurship education in the United
Kuratko, D.F. & Hodgetts, R.M. 2004. States. Journal of Small Business and
Entrepreneurship: Theory, Process, Enterprise Development. 14 (2): 168 - 182
Practice Mason,

117
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Pengembangan Perangkat Model Pembelajaran Kewirausahaan Dengan
Pendekatan Experiential Learning Di Perguruan Tinggi

Dumiyati
Program Studi Pendidikan Ekonomi-FKIP Unirow Tuban
Email : dumiyatis@yahoo.co.id

Abstrak : Tujuan penelitian adalah mengembangkan perangkat model pembelajaran kewirausahaan


dengan pendekatan experiential learning yang terdiri atas silabus, RPP, dan bahan ajar serta
mengembangkan seperangkat instrumen yang diperlukan untuk menilai validitas, praktikabilitas, dan
efektivitas model pembelajaran kewirausahaan yang telah dikembangkan. Tahap-tahap pengembangan
model pembelajaran kewirausahaan dengan pendekatan experiential learning ini mengacu kepada
tahap-tahap pengembangan model Plomp yang hanya sampai 4 tahap, yakni: (a) tahap pengkajian
awal, (b) tahap perancangan, dan (c) tahap realisasi (konstruksi), dan (d) tahap pengujian, evaluasi, dan
revisi. Subjek penelitian adalah mahasiswa yang menempuh mata kuliah kewirausahaan di Prodi
Pendidikan Ekonomi Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban. Pengumpulan data dilakukan
dengan angket, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan teknik deskriptif. Hasil penelitian
tahun pertama dari dua tahun yang direncanakan menunjukkan bahwa 1) perangkat pembelajaran
(silabus, RPP, dan bahan ajar) hasil pengembangan termasuk ke dalam kategori baik dan dapat
digunakan dengan sedikit revisi; 2) perangkat instrumen penilaian model pendidikan kewirausahaan
hasil pengembangan (instrumen penilaian silabus, RPP, bahan ajar, penilaian kegiatan mahasiswa, dan
penilaian keterlaksanaan model) termasuk dalam kategori baik dengan sedikit revisi.

Kata Kunci: pengembangan, model pembelajaran kewirausahaan, experiential learning

Dengan diberlakukannya MEA (Masyarakat akan dialami lulusan Perguruan Tinggi setelah
ekonomi Asean) maka persaingan mencari menyelesaikan studinya antara lain menjadi:
kerja semakin kompetitif, harus mampu pegawai, pengangguran intelektual, atau
bersaing dengan tenaga kerja dari luar negeri. berwirausaha.
Sementara itu jumlah lulusan perguruan tinggi Berdasarkan alternatif pilihan diatas,
terus bertambah, sedangkan lapangan pekerjaan alternatif ketiga yaitu berwirausaha merupakan
yang ditawarkan terbatas. Dalam menghadapi pilihan yang memungkinkan dan terbuka bagi
tantangan tersebut pendidikan wirausaha secara lulusan Perguruan Tinggi khususnya. Profesi
formal maupun non formal memiliki peranan wirausaha memiliki peluang yang tidak terbatas
yang signifikan. Pendidikan wirausaha siapapun, kapanpun, dan berapapun manusia
mempersiapkan sumberdaya manusia untuk yang membutuhkan pekerjaan dapat memilih
mandiri, melatih keberanian bersaing, dan profesi wirausaha.
mempersiapkan keunggulan-keunggulan diri Hal ini disebabkan menjadi pegawai
dan produk. Semangat entrepreneurship ini pemerintah atau perusahaan swasta semakin
sudah menjadi tuntutan zaman. Pekerjaan sulit dan kecil peluangnya karena lapangan
wirausaha dapat dijadikan alternatif pilihan kerja tidak sebanding dengan jumlah pencari
profesi saat ini. Hal ini sejalan dengan kerja. Berdasarkan data BPS (2011), jumlah
penelitian Indarti dan Rostiani (2008), secara penduduk Indonesia mencapai 175 juta jiwa.
realitas ada tiga pilihan yang kemungkinan Dari jumlah tersebut yang bekerja pada
118
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Februari 2011 mencapai 111,3 juta orang, wirausaha, kurangnya sarana dan prasarana
bertambah sekitar 3,1 juta orang dibanding untuk melatih keterampilan wirausaha seperti
keadaan pada Agustus 2010 sebesar 108,2 juta inkubator bisnis. Di sisi lain minat
orang atau bertambah 3,9 juta orang dibanding berwirausana lulusan masih rendah. Oleh
dengan keadaan pada bulan Februari 2010 karena pihak perguruan tinggi perlu
sebesar 107,4 jura orang. Hingga Februari 2011 menerapkan pola pembelajaran kewirausahaan
jumlah pengangguran di Indonesia mencapai yang kongkrit berdasarkan masukan empiris
8,12 juta orang. Jumlah ini menurun 470 ribu untuk membekali mahasiswa dengan
orang dibandingkan Februari 2010 yang pengetahuan yang bermakna agar dapat
sebanyak 8,59 juta orang. Berdasarkan data mendorong semangat mahasiswa untuk
tersebut jelas bahwa jumlah pengangguran di berwirausaha (Yohnson 2003, Wu & Wu,
negeri ini masih sangat besar. Dampak yang 2008). Diperlukan model pembelajaran yang
terjadi akibat tingginya jumlah pengangguran menekankan pada aktivitas dan pengalaman
salah satunya adalah tingginya angka belajar mahasiswa secara kontekstual,
kriminalitas. Solusi yang paling tepat untuk menekankan pada keaktifan mahasiswa
keluar dari masalah tersebut adalah dengan (student center) dengan mengurangi dominasi
berwirausaha. Oleh karena itu, pilihan untuk peran dosen.
berwirausaha merupakan pilihan yang tepat dan Permasalahannya adalah bagaimana
logis. Pilihan profesi berwirausaha juga sesuai mendesain model pembelajaran bersifat student
dengan program pemerintah dalam percepatan centered, proses pembelajaran yang lebih
penciptaan pengusaha kecil dan menengah menekankan pada kemampuan penalaran,
yang kuat dan bertumpu pada ilmu memberikan mengalaman langsung pada
pengetahuan dan teknologi sedang digalakkan mahasiswa yang bersifat experiential learning.
(Indarti dan Rostiani, 2008). Experiential Learning adalah suatu model
Perguruan tinggi memegang peranan pembelajaran yang mengaktifkan mahasiswa
penting dalam mencetak lulusan yang memiliki dalam proses belajar mengajar untuk
kemampuan bersaing dan memiliki jiwa membangun pengetahuan dan ketrampilan
wirausaha. Hal ini ditegaskan oleh Zimmerer berwirausaha melalui pengalamannya secara
(2009:12), bahwa faktor pendorong langsung. Dalam model ini menggunakan
pertumbuhan kewirausahaan di suatu negara pengalaman katalisator untuk menolong
terletak pada peranan universitas melalui mahasiswa mengembangkan kapasitas dan
penyelenggaraan pendidikan kewirausahaan. kemampuannya dalam proses pembelajaran.
Pihak universitas bertanggung jawab dalam Tujuan utama penelitian adalah
mendidik dan memberikan kemampuan mengembangkan model pembelajaran
wirausaha kepada para lulusannya dan kewirausahaan dengan pendekatan experiential
memberikan motivasi untuk berani memilih learning untuk meningkatkan pemahaman
berwirausaha sebagai karir mereka. materi dan keterampilan bewirausaha, yang
Pada kenyataannya masih banyak kritik berkualitas (valid, praktis, dan efektif) yang
yang diberikan pada perkuliahan diselesaikan selama dua tahun.
kewirausahaan di perguruan tinggi, antara lain:
penyajian materi yang cenderung teoritis dan
menekankan pada aspek kognitif, belum
kontekstual, kurangnya kegiatan praktek
119
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
METODE pembelajaran kewirausahaan, (2) silabus,
rencana pembelajaran (RP) sebagai
Rancangan penelitian yang digunakan adalah pedoman dalam mengajarkan materi dan
rancangan pengembangan menurut Plomp pelatihan praktek wirausaha, dan (3)
(1997). Kegiatan penelitian yang akan lembar kerja mahasiswa (LKM) untuk
dilakukan adalah metode penelitian dan memantapkan pemahaman mahasiswa
pengembangan (Research and development) terhadap bahan ajar dan sekaligus melatih
atau R&D. Langkah-langkah umum metode aplikasinya dalam praktek wirausaha, dan
R&D disajikan pada gambar 1 (4) lembar penilaian.
c)TahapRealisasi/Konstruksi
Pada tahap ini disusun Prototipe I1
perangkat pembelajaran yang meliputi: (a)
Silabus, (b) rencana pembelajaran (RPP),
(c) bahan ajar dan (d) instrument/ Lembar
Penilaian. Prototipe I1 meliputi,
perangkat pembelajaran untuk Prodi Pend.
Ekonomi. Prototipe I ini selanjutnya diuji,
dievaluasi, dan direvisi pada tahap
Gambar 1. Langkah-langkah umum
pengembangan selanjutnya.
metode R&D
Pada tahap ini dilakukan uji pakar
Pada tahun pertama dilakukan
terhadap draf perangkat pembelajaran
pengembangan perangkat pembelajaran
kewirausahaan dengan pendekatan experiential
pendukung model pembelajaran dengan
learning. Analisis hasil uji pakar dan revisi draf
pendekatan experiential learning mengacu
terus dilakukan sampat menghasilkan
pada tahap-tahap pengembangan “model
perangkat pembelajaran dengan pendekatan
Plomp”sebagai berikut:
experiential learning yang baik/valid dan dapat
a)Tahap Pengkajian Awal
diimplementasikan. Uji kevalidan dilakukan
Pada tahap ini dilakukan kajian
dengan menentukan kategori validitas setiap
tentang: (1) format perangkat pembelajaran
kriteria atau aspek atau keseluruhan aspek
yang akan dikembangkan, yakni: Rencana
Pembelajaran (RP), Lembar Kegiatan dengan mencocokan rerata kriteria ( K i ) atau
Mahasiswa (LKM), BukuMahasiswa/Dosen, rerata aspek ( A i ) atau rerata total ( X ) dengan
menggunakan kategori sebagai berikut:
3,5  M ≤ 4
dan Lembar Penilaian, (2) sintaks model
sangat valid
2,5  M < 3,5
pembelajaran dengan pendekatan experiential
valid
1,5  M< 2,5
learning sebagai acuan mengembangkan
RP, LKM, Buku Mahasiswa/Dosen, dan cukup valid
Lembar Penilaian, (3) teori-teori M 0,5 tidak valid
pembelajaran kewirausahaan dengan Keterangan:
pendekatan experiential learning. M = X untuk mencari validitas keseluruhan
b)Tahap Perancangan aspek.
Perincian kegiatan pokok pada Pengembangan perangkat Model
tahap ini merancang: (1) buku mahasiswa pembelajaran kewirausahaan dengan
dan buku Dosen tentang pelaksanaan pendekatan experiential learning memiliki
120
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
derajat validitas yang memadai jika (i) nilai X langsung. Alasan inilah yang memperkuat
untuk keseluruhan aspek minimal berada dalam pentingnya model experiential learning dalam
kategori “cukup valid”, dan (ii) nilai A i untuk perkuliahan kewirausahaan. Hal ini diperkuat
setiap aspek minimal berada dalam kategori dengan hasil penelitian Riyanti (2007)
“valid”. Jika nilainya kurang, maka perlu menunjukan bahwa pemberian praktek
dilakukan revisi berdasarkan saran para langsung yang disesuaikan dengan bidang
validator atau dengan melihat kembali aspek- keahlian mahasiswa memudahkan mahasiswa
aspek yang nilainya kurang. Selanjutnya melakukan transferof knowledge, oleh
dilakukan validasi ulang lalu dianalisis kembali karenanya praktek langsung perlu diberikan
sampai memenuhi nilai M minimal berada di porsi yang lebih banyak dalam proses
dalam kategori valid. pendidikan kewirausahaan. Transfer of
3. Pengembangan Instrumen knowledge, menurut Kellet (2006) adalah
Instrumen-instrumen yang pengembangan latihan-latihan intuitif yang
dikembangkan adalah sebagai berikut: a) dapat berlangsung dalam situasi yang
Lembar Penilaian Silabus b) Lembar ditetapkan, yang dapat memberikan
Penilaian RPP, c) Lembar penilaian bahan ketrampilan-ketrampilan dan dapat digunakan
ajar, d) Lembar Pengamatan keterlaksanaan berkreasi dalam usahanya sendiri.
model, e) Angket Respons Mahasiswa Berdasarkan pendapat-pendapat di atas,
tentang Penerapan Model, LKM Buku ajar, f) menunjukkan bahwa penekanan-penekanan
Tes Penguasaan Bahan Ajar, dan g) pada pentingnya fasilitasi dalam proses
Instrumen penilaian praktek keterampilan pendidikan kewirausahaan yang melibatkan
wirausaha. kegiatan praktek langsung yang realistis,
Subjek penelitian ini adalah mahasiswa direkomendasikan oleh beberapa peneliti. Di
program studi Pendidikan Ekonomi angkatan Universitas PGRI Ronggolawe Tuban mata
2011 yang menempuh mata Kuliah kuliah kewirausahaan telah menjadi mata
Kewirausahaan. Teknik pengumpulan data kuliah wajib pada seluruh program studi.
dilakukan dengan menggunakan angket, Dalam penelitian ini penerapan model
observasi, dan dokumentasi. Data di analisis pembelajaran kewirausahaan dengan
secara diskriptif dengan menggunakan analisis pendekatan experiential learning dilakukan
distribusi frekuensi, rerata, dan presentase. pada mahasiswa program Studi pendidikan
Ekonomi angkatan 2011 yang menempuh mata
HASIL & PEMBAHASAN kuliah Kewirausahaan. Mata kuliah ini
disajikan pada semester 8, dimana sebelumnya
Materi kuliah kewirausahaan menekankan pada mahasiswa telah menempuh beberapa mata
Knowledge (pengetahuan), Skills (ketrampilan), kuliah pendukung keterampilan berwirausaha
dan Attitude (sikap). Peningkatan minat dan antara lain manajemen sumberdaya manusia,
keterampilan berwirausaha dapat tercapai manajemen pemasaran, manajemen keuangan,
apabila ke tiga aspek tersebut dapat dikuasi manajemen produksi, manajemen
oleh mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi. pembelanjaan dan pengantar bisnis.
Menurut Albornoz (2008) keterampilan Pada tahun pertama penelitian Ada tiga
wirausaha dapat diajarkan pelalui proses komponen yang dikembangkan, yakni: (a)
pendidikan melalui teori-teori dan pengalaman Model pembelajaran kewirausahaan dengan
pendekatan experiential learning, (b)
121
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
perangkat pembelajaran untuk mendukung pertama penelitian telah berhasil dikembangkan
model pembelajaran dan (c) instrumen hingga tahap uji coba pakar.
yang akan dipergunakan untuk menilai Untuk mengetahui kevalidan perangkat
kualitas model pembelajaran. pembelajaran, kemudian perangkat
Konsep pengembangan perangkat pembelajaran yang telah dirancang
model pembelajaran kewirausahaan dengan divalidasikan kepada 2 orang dosen/pakar
pendekatan experiential learning pembelajaran, yaitu Dr. Yudi Supiyanto, M.Pd,
diimplementasikan kedalam seperangkat model dan Drs. Suwarno, M.Pd. Hasil validasi
yakni terdiri dari silabus, RPP, materi yang kemudian dianalisis, dan selanjutnya direvisi
berbentuk buku ajar, dan instrument penilaian sesuai masukan dari validator sebagai berikut:
model. Beberapa perangkat tersebut pada tahun Hasil validasi instrumen disajikan dalam tabel
1.

Tabel 1. Analisis Hasil Validasi instrumen


Rataan Penilaian Keterangan
No. Aspek Yang Dinilai
Validator
1. Lembar penilaian silabus 3,0 Valid
2. Lembar penilaian RPP 3,1 Valid
3. Lembar penilaian bahan ajar 3,3 Valid
4. Lembar penilaian kegiatan 3,3 Valid
mahasiswa
5. Lembar penilaian 3,0 Valid
keterlaksanaan model
6. Angket Respon siswa 3,6 Sangat Valid
7. Tes penguasaan bahan ajar 3,7 Sangat Valid
8. Lembar penilaian kegiatan 3,4 Valid
praktek wirausaha
Sumber: data penelitian yang diolah

Silabus
Silabus yang dikembangkan dalam learning. Hasil penilaian silabus nampak pada
penelitian ini adalah mata kuliah Tabel 2.
kewirausahaan dengan pendekatan experiential

Tabel 2. Hasil Analisis Uji pakar Pengembangan Silabus Matakuliah Kewirausahaan

No Uraian Penilaian Rata- Rata/ Ket


Validator Aspek
1 2
1 Perumusan Indikator Keberhasilan 3 3 3 Baik/valid
Belajar
2 Pemilihan dan pengorganisasian 3 3 3 Baik/valid
pembelajaran
122
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
3 Pemilihan metode pembelajaran 3 4 3,5 Sangat baik/valid
4 Pemilihan sumber belajar/media 4 3 3,5 Sangat baik/valid
pembelajaran
5 Skenario pembelajaran 3 3 3 Baik/valid
6 Alokasi waktu 3 3 3 Baik/valid
7 Penilaian hasil belajar 3 3 3 Baik/valid
8 Penggunaan bahasa 3 3 3 Baik/valid
9 Penilaian secara umum Baik Dapat digunakan
dengan sedikit
revisi
Sumber: data penelitian yang diolah

Dari hasil penilaian pakar tentang revisi, maka silabus ini dapat digunakan
silabus pada tabel di atas, secara umum dapat sebagai dasar untuk menyusun RPP.
dikatakan termasuk dalam kategori baik dengan RPP
sedikit revisi. Revisi terletak pada aspek Hasil Analisis Uji Pakar RPP yang
perumusan indikator keberhasilan dan penilaian dikembangkan dalam penelitian ini adalah RPP
hasil belajar. Revisi perumusan indikator matakuliah kewirausahaan dengan pendekatan
keberhasilan belajar lebih diperluas bukan experiential learning yang diarahkan
hanya mengedepankan aspek diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan,
pengetahuan/kognitif saja tetapi juga kreativitas dan keterampilan berwirausaha
pengembangan pada ranah afektif dan mahasiswa melalui pengalaman-pengalaman
psikomotor yang mengarah pada peningkatan yang dialami dalam perkuliahan.
minat dan keterampilan berwirausaha. Revisi RPP ini divalidasi oleh dua orang
terkait dengan penilaian bahan ajar, yakni validator. Hasil penilaian RPP nampak pada
dengan menambahkan rubrik penilaian tentang Tabel 3 sebagai berikut.
nilai sikap. Setelah divalidasi dan dilakukan

Tabel 3. Hasil Analisis Uji pakar Pengembangan RPP Matakuliah Kewirausahaan

No Uraian Penilaian Rata- Ket


Validator Rata/
1 2 Aspek
1 Perumusan Indikator 3 3 3 Baik/valid
Keberhasilan Belajar
2 Pemilihan dan pengorganisasian 3 3 3 Baik/valid
pembelajaran
3 Pemilihan metode pembelajaran 3 3 3 Baik/valid
4 Pemilihan sumber belajar/media 3 3 3 Baik/valid
pembelajaran
5 Skenario pembelajaran 4 3 3,5 Sangat baik/valid
6 Alokasi waktu 4 3 3,5 Sangat baik/valid
7 Penilaian hasil belajar 3 3 3 Baik/valid
123
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
8 Penggunaan bahasa 3 3 3 Baik/valid
9 Penilaian secara umum Baik Dapat digunakan
dengan sedikit
revisi
Sumber: data penelitian yang diolah

Dari hasil penilaian pakar tentang RPP Bahan Ajar


pada tabel di atas, secara umum dapat Bahan ajar yang dikembangkan berupa buku
dikatakan termasuk dalam kategori baik dengan ajar kewirausahaan dengan pendekatan
sedikit revisi. Revisi terletak pada penilaian experiential learning. Dalam proses
hasil belajar, belum memuat penilaian rubrik pengembangan modul divalidasi oleh pakar
terkait kegiatan praktek wirausaha. Setelah disajikan dalam tabel 4 berikut.
divalidasi dan dilakukan revisi, maka RPP ini
dapat digunakan sebagai dasar untuk
pelaksanaan pembelajaran.

Tabel 4. Rata-Rata Hasil Penilaian Buku Ajar oleh Pakar


No Aspek Yang Dinilai Skor Rerata Prosentase Kategori
Maksimal
1 Aspek Isi/materi 70 61,6 88 Sangat
baik/valid
2 Aspek Penyajian/ 70 52,5 75 Baik/valid
pengorganisasian
materi
3 Aspek Tampilan 50 37,5 75 Baik/valid
4 Aspek Bahasa 50 37,5 75 Baik/valid
Sumber: data penelitian yang diolah

Selanjutnya diuji cobakan pada skala Pendidikan Ekonomi angkatan 2011 A


terbatas yakni kepada mahasiswa Prodi sebanyak 35 mahasiswa.

Tabel 5. Rata-Rata Hasil Penilaian Buku Ajar oleh Mahasiswa


No Aspek Yang Dinilai Skor Rerata Prosentase Kategori
Maksimal
1 Aspek Isi/materi 70 52,4 75 Baik/valid
2 Aspek Penyajian/ 80 68 85 Sangat Baik/
pengorganisasian valid
materi
3 Aspek Tampilan 80 68 85 Sangat Baik
4 Aspek Bahasa 70 52,5 75 Baik/valid
Sumber: data penelitian yang diolah

124
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Berdasarkan tabel 4 dan tabel 5 Sedangkan penilaian dari mahasiswa
menunjukan tidak ada perbedaan signifikan pada aspek penyajian materi dan aspek
antara penilaian pakar dan mahasiswa. tampilan memperoleh skor paling tinggi yaitu
Penilaian setiap aspek bahan ajar meliputi sebesar 85% dari skor ideal termasuk kategori
aspek isi/materi, aspek Sangat Baik. Sedangkan aspek materi dan
penyajian/pengorganisasian materi, aspek aspek penggunaan bahasa sebesar 75%
tampilan dan aspek penggunaan bahasa layak tergolong baik.
digunakan karena lebih dari kategori Baik. Setelah Silabus dan RPP dinilai pakar
Untuk analisis lebih lanjut maka dapat dan bahan ajar dan instrumen dinyatakan dapat
dilakukan perbandingan rerata skor penilaian digunakan, selanjutnya perangkat tersebut
antara ke empat aspek tersebut. Berdasarkan digunakan untuk mengumpulkan data tentang
tabel di atas, menunjukan bahwa penilaian dari keterlaksanaan model perkuliahan
pakar pada aspek materi/isi memperoleh skor kewirausahaan dengan pendekatan experiential
paling tinggi sebesar 88% sangat baik/sangat learning oleh dua orang observer. Observer
valid, ketiga aspek lainnya dalam kategori adalah dosen mata kuliah kewirausahaan. Data
baik. hasil uji coba pada tabel 6 berikut.

Tabel 6. Keterlaksanaan Model Pembelajaran Kewirausahaan Dengan pendekatan Experiential


Learning pada Uji Coba terbatas di Prodi Pendidikan Ekonomi 2011 A
No Pengamatan Rerata/aspek Rerata keterangan
kerterlaksanaan model observer
Observer Observer
1 2
1 Pengamatan pertama 3 2,5 2,75 Cukup baik
2 Pengamatan ke dua 3 3 3 baik
3 Pengamatan ke tiga 3,5 4 3,75 Sangat baik
4 Penilaian secara umum Dapat digunakan
dengan sedikt
revisi
Sumber: data penelitian yang diolah

Uji coba terbatas telah dilakukan lembar penilaian RPP (3,1/valid), lembar
sebanyak tiga kali pertemuan di kelas A penilaian bahan ajar (3,3/valid), lembar
angkatan 2011, program studi Pendidikan penilaian kegiatan mahasiswa (3,3/valid),
Ekonomi. Berdasarkan Tabel 6, dapat dilihat lembar penilaian keterlaksanaan model
bahwa nilai rata-rata keterlaksanaan model (3,0/valid), angket respon siswa (3,6/sangat
diperoleh skor 3,2, berarti termasuk dalam valid), tes penguasaan bahan ajar (3,7/valid),
kategori baik (dapat dilaksanakan). lembar penilaian kegiatan praktek wirausaha
Berdasarkan hasil analsis validasi (3,4/valid) Artinya perangkat pembelajaran
perangkat pembelajaran yang telah dirancang di yang telah dirancang memiliki validasi adalah
peroleh sebagai berikut: silabus (baik), RPP yang baik. Merujuk pada hasil analisis
(baik), bahan ajar kategori baik. Intrumen yang keterlaksanaan model serta analisis validasi
terdiri dari: lembar penilaian silabus (3,0/valid), perangkat pembelajaran dapat disimpulkan
125
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
bahwa pengembangan perangkat model lain silabus, RPP, dan Bahan ajar
pembelajaran kewirausahaan dengan kewirausahaan dengan pendekatan experiential
pendekatan experiential learning sudah learning. Berdasarkan uji pakar, seperangkat
memenuhi kevalidan model. model yang telah dikembangkan tersebut
termasuk dalam kategori baik dan dapat
SIMPULAN digunakan dengan sedikit revisi.
Seperangkat instrumen penilaian yang
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan dikembangkan meliputi instrumen lembar
bahwa pengembangan model pembelajaran penilaian: silabus, RPP, Bahan Ajar, kegiatan
kewirausahaan dengan pendekatan experiential mahasiswa, tes penguasaan bahan ajar, kegiatan
learning dilakukan dengan terlebih dahulu praktek wirausaha. Berdasarkan hasil penilaian
mengembangkan model secara konseptual, dan pakar, instrumen penilaian model sebagian
kemudian model tersebut digunakan sebagai besar berkategori Baik/valid sehingga dapat
kerangka acuan dalam mengembangkan disimpulkan bahwa perangkat instrument dapat
perangkat untuk mengimplementasikan model dimplementasikan pada uji coba berikutnya di
dan instrumen untuk menilai model. Perangkat tahun ke dua penelitian untuk menguji
model pembelajaran yang dikembangkan antara kepraktisan dan keefektifan model.

DAFTAR RUJUKAN
Kellet, S. 2006. A Picture of Creative
Albornoz, C. A. 2008. Toward A Set of Entrepreneurship: Visual Narrative in
Trainable Content on Entrepreneurship Creative Entreprise Education. (online)
Education: A Review of (http://www.ncge.com/files/biblio
Entrepreneurship Research From 1002.pdf), diakses tanggal 4 April 2013.
Educational Prespective. J. Technol.
Manag. Innov. 2008. Volume 3, Special Plomp, Tjeerd., 1997. Educational and
Issue 1: 86-98. Training System Design. Enschede,
(online)(www.jotmi.org/index.php/GT/a The Netherlands:Univercity of
rticle/viewFile/rev5/131-),diakses Twente.
tanggal 6 April 2014.
Riyanti, BPD. (2007).Metode Experiential
BPS. 2011. Keadaan Ketenagakerjaan Learning Dengan pendekatan Pada
Februari 2011 dalam Berita Resmi Peningkatan Rasa Diri Mampu, Kreatif
Statistik, Badan Pusat Statistik No. & Berani Beresiko dalam
33/05/Th. XIV, 5 Mei 2011. pembelajaranan Kewirausahaan untuk
SMK (Online)
Indriati, N & Rostiani. 2008. Intensi (www.unesco.or.id/images/pub/89_listo
Kewirausahaan Mahasiswa, Studi funescointhenewsoneducation.doc),
Perbandingan antara Indonesia, diakses 16 maret 2012.
Jepang dan Norwegia dalam Jurnal
Ekonomika dan Bisnis Indonesia Wu, S. & Wu, L. 2008. The Impact of Higher
Volume 23 no 4 Oktober 2008. Education on Entrepreneurial Intentions
126
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
of University Students in China. Entrepreneurs. Jurnal Manajemen dan
Journal of Small Business and Kewirausahaan, 5(2): 97-111.
Enterprise Development, 15(4): 752–
774. Zimmerer, T.W., & Scarborough, N.M., 2008.
Essential of Entrepreneurship and
Yohnson. 2003. Peranan Universitas dalam Small Business Management, Edition 5.
Memo-tivasi Sarjana Menjadi Young New Jersey: Pearson Prentice Hall.

127
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Pembelajaran Kewirausahaan Berbasis Karakter

Henny Sri Astuty


PE Unirow Tuban
Email : hennysriastuty@gmail.com

Abstrak : Pengaruh budaya konsumtif pada kebanyakan masyarakat Indonesia harus mendorong
tumbuh dan berkembangnya kegiatan wirausaha pada berbagai jenjang pendidikan. Hal ini tidak
menutup kemungkinan untuk meningkatkan model, strategi, metode dalam pembelajaran, khususnya
pembelajaran kewirausahaan. Wirausaha dalam kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa kebanyakan
hanya berprinsip asal jual dan yang penting laku, dan sering dilakukan tanpa menggunakan etika dan
pelayanan yang baik. Oleh sebab itu perlu adanya pembenahan etika maupun pelayanan yang akan
dilakukan dan hal ini dimulai dalam proses pembelajaran. Terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembelajaran karakter, yaitu mulai dari proses pembuatan, pengemasan, hingga
proses pelayanan terhadap produk yang terjual.
Kata Kunci : Pembelajaran, Karakter, Kewirausahaan, Pelayanan

Pengaruh budaya konsumtif pada kebanyakan Sehingga proses pembelajaran dalam mata
masyarakat Indonesia harus mendorong kuliah ataupun mata pelajaran kewirausahaan
tumbuh dan berkembangnya kegiatan akan memiliki keterpaduan dan kesatuan, dan
wirausaha pada berbagai jenjang pendidikan. nilai-nilai pokok kewirausahaan yang
Hal ini tidak menutup kemungkinan untuk diharapkan dapat diinternaslisasi dalam diri
meningkatkan model, strategi, metode dalam peserta didik. Adapun nilai-nilai pokok yang
pembelajaran, khususnya pembelajaran dapat ditemukan ada 6 (enam) yaitu:
kewirausahaan. Permasalahan dalam mandiri, kreatif pengambil resiko,
pembelajaran kewirausahaan baik model, kepemimpinan, orientasi pada tindakan, dan
strategi, maupun metode yang akan digunakan kerja keras (Akhmad Sudrajat, 2011).
apakah dapat merubah sikap, pribadi yang akan Untuk mencapai 6 (enam) nilai pokok
mencerminkan ciri-ciri sebenarnya pada pribadi tersebut tentunya tidaklah mudah yang
wirausaha. tentunya diharapkan adanya langkah-langkah
Pembelajaran wirausaha harus proses pembelajaran yang tepat dan benar
mewujudkan semua kegiatan wirausaha dimana dalam semua kegiatan operasional
ciri-ciri wirausaha tersebut dicontohkan, kewirausahaan sehingga membutuhkan adanya
dengan demikian wirausaha baik secara teoritis pemahaman terhadap (1) ciri-ciri wirausaha, (2)
maupun praktik harus menjadi satu kesatuan. pembelajaran kewirausahaan, (3) penerapan
Untuk itu bagaimana pembelajaran karakter dalam kewirausahaan, (3) manfaat
kewirausahaan yang berbasis karakter dapat nilai karakter dalam kewirausahaan,
terlaksana, hal ini mungkin dapat dilakukan
oleh wirausaha tersebut sejak proses
pembuatan, pengemasan, hingga proses
pelayanan terhadap produk yang terjual.

128
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
HASIL & PEMBAHASAN bukan wirausaha. Adapun menurut Soeparman
Soemahamidjaja (dalam Ahmad
Arti Pentingnya Kewirausahaan Dan Ciri- Sudrajad,2011) bahwa kegiatan wirausaha
Ciri Wirausaha mencakup semua aspek pekerjaan, baik
Seseorang yang memiliki karakter wirausaha karyawan swasta maupun pemerintahan.
selalu tidak puas dengan apa yang telah Demikian pula menurut Prawirokusumo (dalam
dicapainya. Wirausaha adalah orang yang Ahmad Sudrajad,2011) bahwa wirausaha
terampil memanfaatkan peluang dalam adalah mereka yang melakukan upaya-upaya
mengembangkan usahanya dengan tujuan kreatif dan inovatif dengan jalan
untuk meningkatkan kehidupannya. Menurut mengembangkan ide, dan meramu sumber daya
Norman M. Scarborough dan Thomas W. untuk menemukan peluang (opportunity) dan
Zimmerer (dalam Ahmad Sudrajad, 2011) perbaikan (preparation) hidup.
kewirausahaan adalah, “An entrepreneur is one Kewirausahaan (entrepreneurship)
who creates a new business in the face of risk muncul apabila seseorang individu berani
and uncertainty for the purpose of achieving mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide
profit and growth by identifying opportunities barunya. Suryana (dalam Ahmad
and asembling the necessary resources to Sudrajad,2011) bahwa proses kewirausahaan
capitalze on those opportunities”. meliputi semua fungsi, aktivitas dan tindakan
Wirausahawan adalah orang-orang yang yang berhubungan dengan perolehan peluang
memiliki kemampuan melihat dan menilai dan penciptaan organisasi usaha. Esensi dari
kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan kewirausahaan adalah menciptakan nilai
sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan tambah di pasar melalui proses
untuk mengambil tindakan yang tepat, pengkombinasian sumber daya dengan cara-
mengambil keuntungan serta memiliki sifat, cara baru dan berbeda agar dapat bersaing.
watak dan kemauan untuk mewujudkan Menurut Zimmerer (dalam Ahmad
gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara Sudrajad,2011), nilai tambah tersebut dapat
kreatif dalam rangka meraih diciptakan melalui cara-cara sebagai berikut:
sukses/meningkatkan pendapatan. Intinya, 1. Pengembangan teknologi baru
seorang wirausaha adalah orang-orang yang (developing new technology),
memiliki karakter wirausaha dan 2. Penemuan pengetahuan baru
mengaplikasikan hakikat kewirausahaan dalam (discovering new knowledge),
hidupnya. Dengan kata lain, wirausaha adalah 3. Perbaikan produk (barang dan jasa)
orang-orang yang memiliki jiwa kreativitas dan yang sudah ada (improving existing
inovatif yang tinggi dalam hidupnya. products or services),
Dari beberapa konsep di atas 4. Penemuan cara-cara yang berbeda
menunjukkan seolah-olah kewirausahaan untuk menghasilkan barang dan jasa
identik dengan kemampuan para wirausaha yang lebih banyak dengan sumber daya
dalam dunia usaha (business). Padahal, dalam yang lebih sedikit (finding different
kenyataannya, kewirausahaan tidak ways of providing more goods and
selalu identik dengan karakter wirausaha services with fewer resources).
semata, karena karakter wirausaha Walaupun di antara para ahli ada yang
kemungkinan juga dimiliki oleh seorang yang lebih menekankan kewirausahaan pada peran
129
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
pengusaha kecil, namun sebenarnya pendapatan dalam kegiatan usahanya.
karakter wirausaha juga dimiliki oleh orang- Sedangkan Meredith (dalam Ahmad
orang yang berprofesi di luar wirausaha. Sudrajad,2011), memberikan ciri-ciri
Karakter kewirausahaan ada pada setiap orang seseorang yang memiliki karakter wirausaha
yang menyukai perubahan, pembaharuan, sebagai orang yang (1) percaya diri, (2)
kemajuan dan tantangan, apapun profesinya. berorientasi tugas dan hasil, (3) berani
Dengan demikian, ada enam hakikat mengambil risiko, (4) berjiwa kepemimpinan,
pentingnya kewirausahaan, yaitu: (5) berorientasi ke depan, dan (6) keorisinalan.
1. Menurut Ahmad Sanusi (dalam Ahmad Jadi, untuk menjadi wirausaha yang
Sudrajad,2011), kewirausahaan adalah suatu berhasil, persyaratan utama yang harus dimiliki
nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang adalah memiliki jiwa dan watak
dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, kewirausahaan. Jiwa dan watak kewirausahaan
tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis. tersebut dipengaruhi oleh keterampilan,
2. Menurut Soeharto Prawiro (dalam Ahmad kemampuan, atau kompetensi. Kompetensi itu
Sudrajad,2011), Kewirausahaan adalah sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan
suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai pengalaman usaha. Dan seperti telah
sebuah usaha dan mengembangkan usaha. dikemukakan di atas, bahwa seseorang
3. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam wirausaha adalah seseorang yang memiliki jiwa
mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan dan kemampuan tertentu dalam berkreasi dan
berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam berinovasi. Ia adalah seseorang yang memiliki
memberikan nilai lebih. kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang
4. Menurut Drucker (dalam Ahmad baru dan berbeda (ability to create the new and
Sudrajad,2011), kewirausahaan adalah different) atau kemampuan kreatif dan inovatif.
kemampuan untuk menciptakan sesuatu Kemampuan kreatif dan inovatif tersebut
yang baru dan berbeda. secara riil tercermin dalam kemampuan dan
5. Menurut Zimmerer (dalam Ahmad kemauan untuk memulai usaha (start up),
Sudrajad,2011), kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang
proses penerapan kreatifitas dan keinovasian baru (creative), kemauan dan kemampuan
dalam memecahkan persoalan dan untuk mencari peluang (opportunity),
menemukan peluang untuk memperbaiki kemampuan dan keberanian untuk menanggung
kehidupan usaha risiko (risk bearing) dan kemampuan untuk
6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan mengembangkan ide dan meramu sumber daya.
nilai tambah dengan jalan
mengkombinasikan sumber-sumber melalui Pembelajaran kewirausahaan
cara-cara baru dan berbeda untuk Seperti penjelasan sebelumnya bahwa
memenangkan persaingan. jiwa dan watak kewirausahaan tersebut
Berdasarkan keenam pendapat di atas, dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan,
dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan atau kompetensi. Sedang kompetensi itu sendiri
adalah nilai-nilai yang membentuk karakter ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman,
dan perilaku seseorang yang selalu kreatif dan untuk memperoleh pengetahuan dapat
berdaya, bercipta, berkarya dan bersahaja dan dilakukan dalam proses pembelajaran.
berusaha dalam rangka meningkatkan
130
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Adapun proses pembelajaran dalam baik dan bukan pula teori yang tidak bisa apa-
tahapan operasional secara formal, menurut apa, akan tetapi teori dan praktik harus selalu
Piaget (dalam Kemendiknas, 2010) memiliki dipadukan agar terjadi keseimbangan dan
ciri-ciri: mencapai titik temu yang ideal (Edy Zaqeus,
a. Kemampuan berpikir secara abstrak, 2009)
menalar secara logis, dan menarik Penerapan karakter dalam proses
kesimpulan dari informasi yang tersedia. pembelajaran dimulai dari pengetahuan tentang
b. Memahami hal-hal seperti bukti logis, dan nilai-nilai yang akan dikembangkan, dan
nilai. menurut Badan Pengembangan dan Pusat
c. Tidak melihat segala sesuatu hanya dalam Kurikulum dalam Bahan Pelatihan
bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi Pengembangan Pendidikan Budaya dan
abu-abu" di antaranya. Karakter Bangsa diidentifikasi dari sumber-
d. Penalaran moral, dan perkembangan sosial. sumber berikut ini (Kemendiknas, 2010: 7-10):
Dengan demikian sesuai dalam tahapan a. Agama: masyarakat Indonesia adalah
ini sebenarnya pembelajaran kewirausahaan masyarakat beragama. Oleh karena itu,
telah memiliki tahapan operasional secara kehidupan individu, masyarakat, dan
formal dan telah memiliki karakter. bangsa selalu didasari pada ajaran agama
dan kepercayaannya. Secara politis,
Penerapan karakter dalam proses kehidupan kenegaraan pun didasari pada
pembelajaran nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas
Menurut Wynne dalam Darmiyati dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai
Zuchdi (2009), istilah karakter diambil dari pendidikan budaya dan karakter bangsa
bahasa Yunani yang berarti ‘to mark” harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah
(menandai). Istilah ini lebih difokuskan pada yang berasal dari agama.
bagaimana upaya pengaplikasikan nilai b. Pancasila: negara kesatuan Republik
kebaikan dalam bentuk tindakan atau Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip
tingkah laku. Berbagai langkah mulai kehidupan kebangsaan dan kenegaraan
dilakukan untuk membangun nilai karakter, yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat
salah satunya dengan pengembangan karakter pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan
yang terintegrasi dengan mata kuliah ataupun lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat
mata pelajaran misalnya pada kewirausahaan. dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang
Kewirausahaan (entrepreneurship) pada terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-
hakikatnya adalah sifat, ciri, dan watak nilai yang mengatur kehidupan politik,
seseorang yang memiliki kemauan dalam hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya,
mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia dan seni. Pendidikan budaya dan karakter
nyata secara kreatif (Suryana, 2006). bangsa bertujuan mempersiapkan peserta
Pembelajaran kewirausahaan bertujuan untuk didik menjadi warga negara yang lebih
membentuk manusia secara utuh (holistik), baik, yaitu warga negara yang memiliki
sebagai insan yang memiliki karakter, kemampuan, kemauan, dan menerapkan
pemahaman dan ketrampilan sebagai nilai- nilai Pancasila dalam kehidupannya
wirausaha. Sedangkan menurut pandangan Bob sebagai warga negara.
Sadino, praktik bukanlah sesuatu yang paling c. Budaya: sebagai suatu kebenaran
131
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
bahwa tidak ada manusia yang hidup warga negara Indonesia, dikembangkan
bermasyarakat yang tidak didasari oleh oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai
nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan
itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar nasional memuat berbagai nilai
dalam pemberian makna terhadap suatu kemanusiaan yang harus dimiliki warga
konsep dan arti dalam komunikasi negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan
antaranggota masyarakat itu. Posisi pendidikan nasional adalah sumber yang
budaya yang demikian penting dalam paling operasional dalam pengembangan
kehidupan masyarakat mengharuskan pendidikan budaya dan karakter bangsa.
budaya menjadi sumber nilai dalam Berdasarkan keempat sumber nilai itu,
pendidikan budaya dan karakter bangsa. teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan
d. Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini:
rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap

Tabel 1 Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

No Nilai Deskripsi
1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang
dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup
rukun dengan pemeluk agama lain
2 Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang
yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis,
pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai
ketentuan dan peraturan.
5 Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi
berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan
sebaik-baiknya.
6 Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil
baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7 Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam
menyelesaikan tugas-tugas.
8 Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan
kewajiban dirinya dan orang lain.
9 Rasa Ingin Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih
Tahu mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan
didengar.
10 Semangat Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan
Kebangsaan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
11 Cinta Tanah Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan,
132
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
No Nilai Deskripsi
Air kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan
fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12 Menghargai Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan
Prestasi sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta
menghormati keberhasilan orang lain.
13 Bersahabat/ Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan
komunikatif bekerja sama dengan orang lain.
14 Cinta Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa
Damai senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15 Gemar Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang
membaca memberikan kebajikan bagi dirinya.
16 Peduli Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada
Lingkungan lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya
untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17 Peduli Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain
Sosial dan masyarakat yang membutuhkan.
18 Tanggung Sikap dan prilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan
jawab kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri,
masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan
Yang Maha esa.
Sumber: Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas. 2010.

Hasil yang diharapkan dari pendidikan b. Terwujudnya rancangan dan contoh


karakter, budaya bangsa dan kewirausahaan pengintegrasian pendidikan karakter dan
yang terdiri dari 18 karakter antara lain: kewirausahaan pada semua jenjang.
a. Terwujudnya seperangkat pemetaan yang c. Terwujudnya contoh silabus dan perangkat
memuat nilai-nilai pendidikan karakter, pembelajaran lainnya yang memuat
kewirausahaan dan indikator pada semua integrasi pendidikan karakter dan
jenjang persekolahan. kewirausahaan.

Tabel 2 Nilai-nilai Kewirausahaan

No Nilai Deskripsi
1 Sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam
Mandiri
menyelesaikan tugas
2 Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil berbeda
Kreatif
dari produk/jasa yang telah ada
3 Berani
Kemampuan seseorang untuk menyukai pekerjaan yang menantang berani
mengambil
dan mampu mengambil resiko kerja
resiko

133
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
4 Berorientasi Mengambil inisiatif untuk bertindak ,dan bukan menunggu ,sebelum sebuah
pada tindakan kejadian yang tidak dikehendaki terjadi
5 Kepemimpina Sikap dan perilaku seseorang yang selalu terbuka terhadap saran dan
n kritik,mudah bergaul,bekerjasama dan mengarahkan oranglain
6 Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam menyelesaikan
Kerja keras
tugas dan mengatasi berbagai hambatan
7 Perilaku yang didasarkan upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang
Jujur
selalu dapat dip[ercaya dalam perkataan dan tindakan.
8 Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai
Disiplin
ketentuan dan peraturan
9 Kemampuan untuk menerapkan kreatifitas dalam rangka memecahkan
Inovatif persoalan-persoalan dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya
kehidupan
10 Tanggung Sikap dan perilaku seseorang yang mau dan mampu melaksanakan tugas
jawab dan kewajibannya
11 Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya mampiu menjalin
Kerjasama
hubungan dengan orang lain dalam melaksanakan tindakan dan pekerjaan
12 Pantang
Sikap dan perilaku seseorang yang tidak mudah menyerah untuk mencapai
menyerah
suatu tujuan dengan berbagai alternatif
(ulet)
13 Kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat seseorang ,baik terhadap
Komitmen
dirinya maupun orang lain
14 Kemampuan menggunakan fakta/realita sebagai landasan berpikir yang
Realistis
rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/perbuatan
15 Rasa ingin Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui secara
tahu mendalam dan luas dari apa yang dipelajari,dilihat,dan didengar
16 Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara,bergaul,dan
Komunikatif
bekerjasama dengan orang lain
17 Motivasi kuat
Sikap dan tindakan selalu mencari solusi terbaik
untuk sukses
Sumber: Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas. 2010

Jika disesajarkan antara nilai karakter dan nilai mengayomi semua karakter yang ada dalam
yang terjadi dalam kegiatan kewirausahaan kewirausahaan dan akan tumbuh dan
akan terlihat sebagai berikut dalam tabel berkembang dalam pribadi wirausaha.
berikunya. Sedangkan nilai karakter Religius

134
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Tabel 3 Nilai Karakter dan Kewirausahaan

No Nilai karakter Nilai kewirausahaan


1 Religius
2 Jujur Jujur
3 Toleransi Kerjasama
4 Disiplin Disiplin
5 Kerja keras Kerja keras
6 Kreatif Kreatif
7 Mandiri Mandiri
8 Demokratis Kepemimpinan
9 Rasa ingin tahu Rasa ingin tahu
10 Semangat Kebangsaan Pantang menyerah (ulet)
11 Cinta Tanah Air Berani mengambil resiko
12 Cinta Damai Komitmen
13 Menghargai Prestasi Motivasi kuat untuk sukses
14 Bersahabat/ komunikatif Komunikatif
15 Gemar membaca Inovatif
16 Peduli Lingkungan Berorientasi pada tindakan
17 Peduli Sosial Realistis
18 Tanggung jawab Tanggung jawab

Kemudian penerapan karakter dalam proses barang, proses pengolahan/ pengemasan,


pembelajaran kewirausahaan yang dimulai dari pelayanan penjualan terhadap produk jadi dapat
proses persiapan, pembelian: bahan atau digambarkan sebagai berikut

Tabel 4 Penerapan Karakter dalam Proses Pembelajaran Kewirausahaan

Bentuk Proses Yang dimunculkan


kegiatan kewirausahaan Karakter Tindakan Dokumen
Teori Persiapan Religius
Jujur
Proses
Gemar membaca pembuatan Perangkat
Disiplin perangkat pembelajaran
pembelajaran
Kerja keras
Peduli Lingkungan
135
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Bentuk Proses Yang dimunculkan
kegiatan kewirausahaan Karakter Tindakan Dokumen
Peduli Sosial
Tanggung jawab
Praktik Persiapan Religius
Jujur
Toleransi
Disiplin
Kerja keras Proses
pembuatan
Kreatif Proposal
proposal
Mandiri kewirausahaa
kewirausahaa
n, Instrumen
Demokratis n dan
penilaian
Rasa ingin tahu instrumen
penilaian
Menghargai Prestasi
Bersahabat/ komunikatif
Peduli Lingkungan
Peduli Sosial
Tanggung jawab
Pembelian Religius
Jujur
Proses
Disiplin
pembuatan Kartu
Kerja keras dokumen persediaan,
Kreatif pembelian surat
Mandiri yang diikuti permintaan
dengan sapa pembelian
Bersahabat/ komunikatif dan salam
Tanggung jawab
Proses Religius
pengolahan/ Jujur
pengemasan Disiplin
Kerjasama Proses
pembuatan SOP
Kerja keras SOP
Mandiri
Bersahabat/ komunikatif

136
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Bentuk Proses Yang dimunculkan
kegiatan kewirausahaan Karakter Tindakan Dokumen
Gemar membaca
Tanggung jawab
Pelayanan Religius
penjualan Jujur
Toleransi
Disiplin
Kerja keras
Kreatif
Pelayanan
Mandiri
prima yang
Demokratis diawali
Rasa ingin tahu dengan Produk sesuai
Pantang menyerah (ulet) senyum, dengan
sapa, dan proposal,
salam dan Instrumen
Berani mengambil resiko proses penilaian
Komitmen pembuatan
instrumen
Menghargai Prestasi penilaian
Bersahabat/ komunikatif

Inovatif
Peduli Lingkungan
Peduli Sosial
Tanggung jawab

Manfaat nilai karakter dalam b. Mengembangkan, menghayati, dan


kewirausahaan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan
Manfaat pembelajaran kewirausahaan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
berbasisi karakter baik secara teori yang c. Mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan
dipadukan dengan paraktik dapat diperoleh dan teknologi khususnya sekarang sudah
sebagai berikut : berada pada Masyarakat Ekonomi Asean
a. Mengembangkan, menghayati, dan d. Melatih dan mengembangkan kepekaan dan
mengamalkan nilai-nilai keimanan, akhlak kemampuan mengapresiasi serta
mulia, dan kepribadian luhur yang telah mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan
dikenalinya; harmoni terhadap lingkungan dan tanah air.
e. Mengembangkan bakat, kemampuan,
prestasi, dan mengembangkan kesiapan fisik
137
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
dan mental untuk hidup mandiri di harus dilakukan secara praktik agar dapat
masyarakat. dilihat hasil keterpaduannya, disamping akan
dapat dilihat kesatuan yang utuh nilai-nilai dari
SIMPULAN karakter tersebut dengan nilai yang ada dalam
kewirausahaan. Berikut ini kesimpulan
Kewirausahaan berbasis karakter yang penggabungan nilai karakter dan nilai
dilakukan dalam proses pembelajaran tidak kewirausahaan yang akan tercermin dalam
hanya dilakukan secara teoritis tetapi juga proses pembelajaran kewirausahaan:

Tabel 5 Uraian Nilai KArakter dan Kewirausahaan

No Nilai karakter Nilai kewirausahaan Uraian


Tercermin dalam proses pembelajaran
1 Religius dan proses kewirausaahaan melalui
kegiatan berdo’a dan ucapan salam.
Tercermin pada perkataan, tindakan, dan
2 Jujur Jujur pekerjaan hingga hasil dari pekerjaan
tersebut.
Terjalinnya sebuah pekerjaan yang
3 Toleransi Kerjasama
didasarkan dari perbedaan kemampuan
Terciptanya keteriban dan kepatuhan
4 Disiplin Disiplin terhadap ketentuan/ peraturan yang telah
dibuat.
Terciptanya upaya untuk mengatasi
5 Kerja keras Kerja keras permasalahan baik dalam pembelajaran
maupun pekerjaan
Terwujudnya hasil media pembelajaran
6 Kreatif Kreatif
ataupun produk yang baru.
Terciptanya perilaku dan sikap ketidak
7 Mandiri Mandiri tergantungan pada teman belajar ataupun
rekan kerja.
Terciptanya sikap dan perilaku untuk
menerima saran dan kritik sebagai
8 Demokratis Kepemimpinan
bentuk jiwa kepemimpinan yang
demokratis dalam menghargai pihak lain
Terciptanya sikap dan perilaku untuk
mengetahui segala sesuatu yang baru
9 Rasa ingin tahu Rasa ingin tahu
dan menggali sesuatu yang baru tersebut
secara lebih detail.
Terciptanya pola pikir yang tidak
Semangat Pantang menyerah
10 gampang menyerah untuk mendapatkan
Kebangsaan (ulet)
sesuatu yang lebih baik
138
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
No Nilai karakter Nilai kewirausahaan Uraian
Munculnya pola pikir yang tinggi
Berani mengambil terhadap kemanfaatan lingkungan dan
11 Cinta Tanah Air
resiko tertantang untuk menjadikannya lebih
baik.
Munculnya rasa aman dan nyaman
karena selalu menepati ucapan dan
12 Cinta Damai Komitmen
tindakan baik yang dilakukan untuk
dirinya maupun orang lain.
Munculnya sikap dan perilaku untuk
Motivasi kuat untuk menghasilkan yang lebih baik dan
13 Menghargai Prestasi
sukses bermanfaat bagi masyarakat ataupun
dirinya.
Bersahabat/ Terciptanya suasana komunikasi dalam
14 Komunikatif
komunikatif lingkungan.
Kemampuan menyelesaikan masalah
dan mengolah yang tidak bermanfaat
15 Gemar membaca Inovatif
menjadi bermanfaat karena tambahnya
ilmu yang diperoleh
Munculnya rasa empati terhadap
Berorientasi pada
16 Peduli Lingkungan lingkungan yang dibuktikan melalui
tindakan
tindakan
Munculnya rasa empati terhadap orang
17 Peduli Sosial Realistis lain dimana keputusan yang diambil
sesuai kenyataan yang sebenarnya.
Tercermin melalui sikap dan perilaku
18 Tanggung jawab Tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban yang
dilakukan dapat dilaksanakan.

DAFTAR RUJUKAN Pembelajaran Berdasarkan Nilai-


Nilai Budaya untuk Membentuk
Akhmad Sudrajat. 2011. Konsep Daya Saing dan Karakter Bangsa.
kewirausahaan dan pendidikan Jakarta.
kewirausahaan di sekolah.
http://akhmadsudrajat.wordpress.c Chelsy Yessicha. 2012. Opini publik.
om Diunduh pada tanggal 02 http://chelsyyesicha.staff.unri.ac.id
Januari 2016 pk. 11.00 wib. / diunduh pada 02 Januari 2016
pk. 11.00 wib
Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas.
2010. Pengenbangan Pendidikan Darmiyati Zuchdi. 2009. Pendidikan
Kewirausahaan; Bahan karakter. Yogyakarta: UNY Press.
Pelatihan Penguatan Metodologi
139
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Edy Zaqeus.2009. Bob Sadino: Mereka
bilang saya gila. Seni berpikir,
bersikap dan bertindak dari
wiraswastawan sejati. Bekasi:
Kintamani Publishing

Suryana. 2006. Kewirausahaan. Pedoman


praktis: kiat dan proses menuju
sukses. Jakarta: SalembaEmpat

140
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk
Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Inovasi Pembelajaran Interaktif Kewirausahaan
Dengan Model Patriot di Universitas Nusantara Pgri Kediri

Rr.FORIJATI
Universitas Nusantara Pgri Kediri
Email: rr.fori@gmail.com

Abstrak : Pendidikan kewirausahaan yang diberikan di perguruan tinggi diharapkan akan mampu
mencetak jiwa wirausaha. Dalam pembelajaran Kewirausahaan di perguruan tinggi sebagian besar
yang didominasi dengan preaching method diduga merupakan salah satu faktor ketidak tertarikan
mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Penggunaan Model Pembelajaran PATRIOT yang
digunakan dengan membekali mahasiswa dengan aspek pengetahuan dan teoritik (PAT) dan
pengenalan pada lingkungan usaha nyata (RIO) diperlukan agar mahasiswa mampu memahami dan
dapat memecahkan permasalahan dalam dunia usaha. Kompetensi akhir yang diharapkan adalah
terbentuknya kompetensi kewirausahaan mahasiswa (T Usaha) yang sesuai dengan bidang ilmu yang
dipelajari. Ujicoba dilakukan pada 36 mahasiswa yang terbagi menjadi 6 kelompok dan diberikan
kasus usaha. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa dengan Model Pembelajaran PATRIOT dan
pelaksanaan pembelajaran interaktif dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mahasiswa
akan pengelolaan usaha.

Kata Kunci: Pembelajaran interaktif, model PATRIOT, kewirausahaan

Pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi Disitulah pentingnya jiwa kewirausahaan dan


dimaksudkan untuk memberikan bekal kepada kemandirian.
mahasiswa agar mahasiswa memiliki pola pikir, Untuk menumbuhkembangkan jiwa
pola sikap dan pola tindak yang mengutamakan kewirausahaan agar para lulusan perguruan
inovasi, kreativitas dan kemandirian. Peran tinggi lebih menciptakan lapangan kerja
Perguruan Tinggi harus mampu memberikan daripada menjadi pencari kerja, maka diperlukan
bekal bagi lulusannya bukan hanya hardskills, suatu usaha nyata. Hasil survey menyebutkan
tetapi juga softskills yang cukup kepada bahwa tingkat pengangguran terbuka di
mahasiswa. Hardskills antara lain terdiri dari Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 7,56 juta
ilmu pengetahuan sesuai dengan bidang studi orang, bertambah 320 ribu orang dibandingkan
yang ditekuni (knowledge of field) dan dengan periode yang sama tahun 2014 sebanyak
pengetahuan tentang teknologi (knowledge of 7,24 orang. (BPS, 2015). Perkembangan yang
technology). Sementara itu, softskills antara lain terjadi di dunia pendidikan tinggi, ditandai
terdiri dari kemampuan berkomunikasi baik dengan meningkatnya jumlah lulusan sarjana
lisan. Potensi diri mahasiswa itulah yang harus (S1) setiap tahun, apabila peningkatan jumlah
terus menerus diasah dan dikembangkan agar lulusan tersebut tidak diimbangi dengan kualitas
terbentuk jiwa kewirausahaan dan mempunyai serta relevansi pendidikan di perguruan tinggi,
wawasan mandiri sebagai bekal kesuksesannya maka jumlah lulusan yang tidak terserap di pasar
kelak setelah menjadi alumni Perguruan Tinggi. kerja akan meningkat, terutama apabila lulusan

141
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
perguruan tinggi tidak siap untuk menciptakan tentang ide ide usaha. 4) menempatkan
lapangan kerja. pembelajaran berpusat pada diri mahasiswa dan
Perguruan tinggi dapat mengembangkan penilaian yang mampu mencerminkan berfikir
strategi yang paling sesuai dengan kondisinya divergen mahasiswa. Terkait dengan desain
agar program kewirausahaan dapat dilaksanakan pembelajaran, peran dosen adalah mengkreasi
dan memiliki dampak positif terhadap dan memahami model model pembelajaran
peningkatan daya saing lulusannya yang inovatif dan kreatif
diindikasikan dengan kemampuan lulusan sebagai Keberhasilan penanaman jiwa kewirausahaan
job creator dan bukan sebagai job seeker. Atau dalam menciptakan mahasiswa dan lulusan
jika lulusan sebagai job seeker, maka diharapkan perguruan tinggi yang memiliki jiwa wirausaha
mereka memiliki sikap intrapreneur yang tinggi yang mandiri, kreatif dan inovatif salah satunya
sehingga mereka akan menjadi karyawan yang dengan menggunakan model pembelajaran yang
invatif dan kompetitif. (Wiratno, 2012) Semua mengadopsi dari model PATRIOT. Model
mahasiswa harus membuat program bagaimana tersebut di formulasikan dengan struktur
menjadi mahasiswa yang sukses bila selesai matematis untuk menjelaskan bahwa penguasaan
kuliah, dan sejumlah peluang dapat diraih bila suatu pengetahuan didapat dengan teoritis dan
mahasiswa tersebut menjadi seorang pengusaha. dikenalkan dengan kenyataan di lapangan
Pemerintah mendorong mahasiswa untuk menjadi (Suharso, 2004), sehingga timbul pertanyaan
wirausaha pemula atau strat up, jumlah wirausaha bagaimana inovasi pembelajaran interaktif
Indonesia melonjak tajam dari 0,24% menjadi dengan model PATRIOT pada mata kuliah
1,56% (Kompasiana, 2012). Keberhasilan dalam kewirausahaan?
menanamkan jiwa kewirausahaan akan Pembelajaran Kewirausahaan yang di
menciptakan mahasiswa dan lulusan perguruan berikan di perguruan tinggi memberikan
tinggi yang memiliki spirit entrepreneurical pengalaman langsung pada mahasiswa tentang
tampaknya memerlukan strategi pembelajaran seluk beluk pengembangan usaha, yang
dengan menggunakan suatu model pembelajaran diharapkan menjadi stimulus dalam upaya
yang inovatif dan interaktif, sehingga mahasiswa mengembangkan prilaku kemandirian mahasiswa
tertarik untuk lebih mempelajari secara mendalam yang mengarah pada jiwa kewirausahaan.
bagaimana menjadi seorang entrepreneur. Disamping itu untuk menjembatani dan juga
Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran mengintegrasikan perguruan tinggi dengan dunia
yang bersifat student centered dan mendasarkan kerja sehingga menumbuhkan dan meningkatkan
diri pada paradigma konstruktivistik yaitu jiwa wirausaha yang mandiri, tangguh, kreatif
membantu mahasiswa menginternalisasi, serta inovatif. Dalam pendidikan Kewirausahaan
membentuk kembali atau mentransformasi di perguruan tinggi, permasalahan yang utama
informasi baru (Gradner, 1991). Dalam adalah bagaima mahasiswa mempunyai
pembelajaran kewirausahaan, setting dari kompetensi berwirausaha setelah mereka
pengajaran konstruktuvistik adalah 1) mengikuti dan menempuh mata kuliah
menyediakan peluang bagi mahasiswa untuk kewirausahaan. Hal tersebut diasumsikan ada
mengembangkan ide bisnis 2) mendukung beberapa faktor yang mempengaruhinya antara
kemandirian mahasiswa dalam berdiskusi, lain kompetensi keahlian dari lulusan mahasiswa
merumuskan kembali ide ide dan menarik yang sesuai dengan pangsa pasar (Hendraman,
kesimpulan sendiri setelah mereka praktek 2011)
kewirausahaan 3) sharing antar mahasiswa
sehingga diperoleh pemahaman mendalam

142
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Karakteristik Kewirausahaan di Perguruan proses penerapan kreatifitas dan keinovasian
Tinggi dalam memecahkan persoalan dan menemuakan
Pendidikan kewirausahaan di perguruan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha 6)
tinggi mempunyai relevansi dengan bidang ilmu kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai
yang dipelajari mahasiswa, dengan demikian tambah adengan jalan mengkombinasikan
dalam perspektif ini yang menjadi fokus sumber-sumber melalui cara-cara baru dan
kewirausahaan adalah upaya menemukan berbeda untuk memenangkan persaingan.
peluang, melakukan kajian dan Pendidikan menyiapkan generasi yang
mengimplementasikan dalam usaha. Hal inilah mampu beradaptasi dengan lingkungan dan
yang dikenal sebagai inovasi. Kewirausahaan mampu mengatasi permasalahan permasalahan
muncul apabila seseorang individu berani yang baru. Pengembangan pendidikan
mengembangkan usaha usaha dan ide ide kewirausahaan menjadi alternatif yang sesuai
barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua dengan hal tersebut. Selama ini pendidikan di
fungsi, aktivitas dan tindakan yang berhubungan Indonesia mencetak mindset generasi pencari
dengan perolehan peluang dan penciptaan kerja, bahkan semua lulusan dari beberapa
organisasi usaha (Suryana, 2001). Menurut jenjang pendidikan berlomba lomba untuk
Zimmerer penciptaan inovasi dapat melalui: mencari kerja, sedangkan lapangan kerja terbatas.
1)pengembangan teknologi baru (developing new Mindset atau pola pikir itu sangat penting. Data
technology), 2) penemuan pengetahuan baru Young Biz Indonesia menyebutkan hampir 10%
(discovering new knowledge), 3) perbaikan dari 110 juta tenaga kerja (angkatan kerja) di
produk (barang dan jasa) yang sudah ada Indonesia adalah pengangguran ( Hendro, 2011).
(improving existing productd or services), 4) Lebih lanjut setiap tahun lulusan perguruan tinggi
penemuan cara cara yang berbeda untuk yang berjumlah jutaan, hampir sebagian besar
menghasilan barang dan jasa yang lebih banyak dari lulusan itu berpotensi mencari kerja dan
dengan sumber daya yang lebih sedikit ( finding itupun belum ditambah dengan lulusan
different ways of providing more goods and sebelumnya. Oleh sebab itu, pendidikan
services with fewer resources). kewirausahaan mempunyai peran yang penting
Jiwa kewirausahaan ada pada setiap orang untuk mendorong generasi mandiri di bidang
yang menyukai perubahan, pembaharuan, ekonomi dan merupakan pilihan yang dianggap
kemajuan dan tantangan apapun profesinya. potensial untuk dikembangkan.
Dengan demikian ada enam hakekat pentingnya Entrepreneurship mempunyai spirit dan jiwa
pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi yang terus berkembang dan ingin maju, karena
yaitu : 1) kewirausahaan adalah suatu nilai yang banyak hal yang akan dipelajari dari karakter dan
diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan skill seorang entrepreneur seperti strategi
sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, mengatasi masalah, keberanian mengambil
kiat, proses dan hasil bisnis. 2) kewirausahaan resiko, kemampuan berkomunikasi dan
merupakan suatu nilai yang dibutuhkan untuk menciptakan ide ide usaha yang kreatif dan
memulai sebuah usaha dan mengembangkan inovatif. Karakter dan skill seperti itu sangat
usaha 3) kewirausahaan merupakan suatu proses penting untuk dipelajari dan diaplikasikan dalam
dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) semua bidang. Awal dari penumbuhan jiwa
dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam entrepreneur tidak bisa dibangun dalam waktu
memberikan nilai lebih. 4) kewirausahaan adalah yang singkat, tapi melalui sebuat proses. Dan
kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan proses pembelajaran di perguruan tinggi
berbeda 5) kewirausahaan merupakan suatu diharapkan mampu untuk melahirkan lulusan

143
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
yang memiliki perilaku wirausaha, oleh sebab itu Perguruan Tinggi di Singapura, Malaysia,
pembelajaran yang inovatif dan interaktif dengan Australia, Amerika dan Inggris memiliki
model PATRIOT diharapkan mampu kecenderungan yang cukup signifikan untuk
menumbuhkan sikap dan perilaku wirausaha. menuju era baru, yaitu menjadikan
entrepreneurship sebagai mata kuliah wajib. Hal
Kewirausahaan dan Pendidikan inilah yang menyebabkan pertumbuhan sektor
Permasalahan yang di hadapi oleh bangsa usaha kecil menengah berkembang pesat,
Indonesia di dunia pendidikan, salah satunya sehingga tingkat pengangguran dapat di tekan.
adalah banyaknya lulusan dari perguruan tinggi Pertumbuhan UKM tersebut mencapai 100 -20%
yang tidak mampu menerapkan pengetahuan dari para lulusan dari perguruan tinggi.
dalam kehidupan sehari hari, oleh sebab itu perlu Kenyataaan ini tentu saja sangat membantu
kesiapan sumberdaya manusia yng berkualitas, program pemerintah dalam rangka menciptakan
mandiri, memiliki kemampuan kerja, mampu lapangan kerja di sector swasta ( Hendro, 2011).
beradaptasi dan berkompetisi juga memiliki Pertumbuhan semangat berwirausaha yang
kecapakapan hidup (life skill) dan mampu cukup tinggi di negara maju berbanding terbalik
menciptakan kerja. Pengetahuan kewirausahaan dengan di Indonesia. Oleh sebab itu, bila
bertransformasi baik di Indonesia maupun di perguruan tinggi di Indonesia ingin maju harus
negara negara lain, di Indonesia, pengetahuan mengubah visinya yang konvensional menjadi
kewirausahaan diajarkan di sekolah dasar, lebih antisipatif. Artinya perguruan tinggi itu
sekolah menengah, sampai perguruan tinggi. tidak sekedar mengantar para lulusanannya
Wirausaha dapat diajarkan, dengan menanankan mendapatkan nilai yang tinggi untuk mata kuliah
sikap sikap perilaku entrepreneur untuk membuka yang ditempuhnya (parameter keberhasilan studi
bisnis, sehingga akan membuat mereka menjadi pada perguruan tinggi di Indonesia). Akan tetapi
wirausaha yang berbakat (Buchari Alma 2010) yang lebih penting adalah menyiapkan para
Kewirausahaan diakui sebagai elemen kunci lulusan untuk mandiri dan mampu menghadapi
dalam pertumbuhan ekonomi dan penciptaan perubahan perubahan globalisasi ekonomi dunia.
lapangan kerja. Selain itu, sebagai satu set yang Namun, iklim di Indonesia yang saat ini sedang
lebih luas dari sikap dan pendekatan untuk mengalami krisis moneter berkepanjangan telah
mengatasi masalah. dan hal itu dianggap penting memaksa perguruan tinggi untuk berubah arah,
untuk inovasi di luar bisnis dan dalam mau tidak mau para pengelola perguruan tinggi
pemerintahan, sektor sosial, juga seluruh harus mencari solusi dan strategi yang tepat untuk
masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah semakin mereposisi merek dan posisinya di pasar. Mereka
rajin mencari cara untuk mempromosikan mulai mencetak lulusan yang tidak sekedar
kewirausahaan, termasuk melalui sistem menjadi job seeker, tetapi mencetak para
pendidikan. Hubungan antara pendidikan dan entrepreneur muda yang berbekal skill,
kewirausahaan bagaimanapun juga adalah jauh knowledge, concept dan strategy yang baik untuk
lebih kompleks. Di satu sisi, pendidikan dapat membuat mereka sukses dikemudian hari.
membantu para pengusaha untuk tidak menyerah
dalam menghadapi tantangan masa depan yang Model Patriot dalam pembelajaran
selalu berubah. Dan disisi lain kewirausahaan kewirausahaan yang inovatif
yang di ajarkan di perguruan tinggi belum Pemberian materi perkuliahan pada
menyentuh akar permasalahan yaitu perubahan mahasiswa dengan menggunakan berbagai model
mindset dari pencari kerja menjadi pencipta kerja. pembelajaran, sehingga tujuan perkuliahan dapat
tercapai secara optimal. Model Pembelajaran

144
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
merupakan cara/teknik penyajian yang digunakan manajemen keuangan, manajemen pemasaran,
pengajar dalam proses belajar mengajar. Model manajemen produksi. Teori, konsep dan strategi,
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara, contoh pengembangan materi materi kewirausahaan
maupun pola yang mempunyai tujuan menyajikan tersebut dilaksanakan dengan diimplementasikan
pesan kepada mahasiswa apa yang harus di luar kelas (lapangan) sehingga realitas,
diketahui, dimengerti dan dipahami. Menurut informasi bisnis dan obyek yang akan di pelajari
Suprijono (2009: 45) “Model adalah bentuk oleh mahasiswa dapat terlihat nyata. Dengan
representasi akurat sebagai proses aktual yang demikian, pada akhirnya belajar lebih
memungkinkan seseorang atau sekelompok orang difokuskan pada pengembangan kompetensi dan
mencoba bertindak berdasarkan model itu”. latihan latihan studi kasus. RIO (Realitas,
Model merupakan interpretasi terhadap hasil Informasi Bisnis dan Obyek kewirausahaan)
observasi dan pengukuran yang diperoleh dari yang dipelajari mahasiswa dilapangan (luar
beberapa sistem. kelas) dipadukan dengan pembelajaran yang
Dalam Penelitian terdahulu, model teoretik inovatif, sehingga mahasiswa mempunyai
yang sudah diimplementasikan dalam kegiatan kompetensi yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran Ekonomi adalah model pembelajaran. Pembelajaran inovatif adalah
pembelajaran PATRIOT yang digunakan sebagai pembelajaran yang bersifat student centerd dan
dasar penstrukturan kegiatan belajar dan mendasarkan diri pada paradigma
pengorganisasian materi kuliah secara terpadu. konstruktivistik yaitu membantu mahasiswa
Model PATRIOT merupakan model menginternalisasi, membentuk kembali atau
pembelajaran yang menggabungkan kegiatan mentransformasi informasi baru (Gradner,
belajar mahasiswa di ruang kuliah dan 1991).
diimplementasikan dengan pembelajaran yang Setting pengajaran kewirausahaan adalah 1)
dilaksanakan di luar kelas (Suharsono, 2004). menyediakan peluang bagi mahasiswa untuk
Pengembangan model pembelajaran PATRIOT mengembangkan ide bisnis 2) mendukuing
untuk mata kuliah kewirausahaan mensyaratkan kemandirian mahasiswa dalam berdiskusi,
mahasiswa harus menguasai seperangkat Prinsip merumuskan kembali ide ide dan menarik
(P), Aturan (A) dan Teori (T) dalam materi- kesimpulan sendiri setelah mereka praktek
materi kewirausahaan dan nantinya akan kewirausahaan 3) sharing antar mahasiswa
dikembangkan dan diimplementasikan di luar sehingga diperoleh pemahaman mendalam
kelas dengan memperhatikan Realitas (R), tentang ide ide usaha. 4) menempatkan
Informasi bisnis yang berkenaan dengan bidang pembelajaran berpusat pada diri mahasiswa dan
yang dipelajari di lapangan (I) dan Obyek (O) penilaian yang mampu mencerminkan berfikir
sehingga kombinasi antara kuliah di ruang kuliah divergen mahasiswa. Terkait dengan desain
dan dilapangan (luar kelas) menghasilkan pembelajaran, peran dosen adalah mengkreasi
kemampuan akademik (kompetensi) mahasiswa dan memahami model model pembelajaran
akan materi perkuliahan tersebut (T). inovatif dan kreatif. Gunter et al (1990:67)
Materi yang dipelajari dalam kewirausahaan mendefinisikan an instructional model is a step-
berupa bahan ajar yang dikembangkan, dan by-step procedure that leads to specific learning
dapat meningkatkan kompetensi dasar tentang outcomes. Joyce & Weil (2011) mendefinisikan
prinsip-prinsip kewirausahaan, kaidah dan model pembelajaran sebagai kerangka
aturan bagaimana seorang wirausaha dapat konseptual yang digunakan sebagai pedoman
mempunyai kompetensi dalam mengelola dalam melakukan pembelajaran. Dengan
usahanya dan teori teori baik mengenai demikian, model pembelajaran merupakan

145
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
kerangka konseptual yang melukiskan prosedur ke 6 mahasiswa mempelajari berbagai macam
yang sistematis dalam mengorganisasikan Prinsip, Aturan dan Teori (PAT) kewirausahaan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan dan pertemuan selanjutnya menerapkan di luar
belajar. Jadi model pembelajaran cenderung kelas dengan mengaplikasikan (RIO).
preskriptif, yang relatif sulit dibedakan dengan Teknis analisis data yang digunakan adalah
strategi pembelajaran. 1) Pengembangan skenario pembelajaran
interaktif mata kuliah Kewirausahaan 2) Uji
Perbedaan yang dilakukan dengan pre test dan
post tes. Data pre test (tes awal) yaitu ketika
METODE mahasiswa selesai dalam mempelajari
kewirausahaan (PAT) yang dilakukan di dalam
Dalam penelitian ini menggunakan metode kelas. Dan data skor test akhir (post test) setelah
pengembangan. Penelitian pengembangan adalah mereka melaksanakan pembelajaran yang
suatu usaha untuk mengembangkan suatu produk interaktif dengan membentuk kelompok
yang efektif untuk digunakan sekolah, dan bukan kelompok untuk melakukan pengelolaan bisnis
untuk menguji teori (Gay, 1991). Subyek kecil. Uji statistik dengan menggunakan Paired
penelitian ini adalah mahasiswa pendidikan sample t-test (uji t-test) untuk uji beda, Sebelum
ekonomi akuntansi yang menempuh mata kuliah menggunakan uji t-test terlebih dahulu di analisis
kewirausahaan sebanyak 36 mahasiswa, kenormalan distribusi dan bentuk data dengan
penelitian ini berlangsung selama 1 (satu) menggunakan Kolmogorov-Smirnov sehingga
semester. Dalam 1 (satu) semester terdapat 16 syarat statistik parametik terpenuhi.
pertemuan, dimana pertemuan 1 Sampai dengan

PAT RIO T
 Prinsip +  Realitas
 Aturan  Informasi
= Hasil
Usaha/Tindakan
 Teori Bisnis
 Objek

HASIL & PEMBAHASAN f. Lesson objective (tujuan pembelajaran)


Pada tahap PAT (Prinsip, Aturan dan Teori) yang g. Time Requered (waktu yang dibutuhkan)
dipelajari sebelum mahasiswa melaksanakan h. Bahan dan alat bantu peraga
praktek mikro bisnis secara berkelompok terdiri i. Special Preparation
dari materi : ide bisnis, memulai usaha, j. Procedures (Prosedur dan step step
pengembangan usaha, manajemen pemasaran, pembelajaran)
manajemen keuangan dan pengelolaan usaha k. Kesimpulan
berkesinambungan, dimana tiap tiap materi
dikembangkan dalam skenario pembelajaran yang 1) Skenario pembelajaran ini berupa
terdiri dari : pembelajaran yang interaktif dan inovatif yang
a. Lesson description (latar belakang) melibatkan mahasiswa secara aktif dalam
b. Brief lesson plan (rencana pembelajaran) proses belajar mengajar. Materi yang disajikan
c. Essensial question (pertanyaan penting) dalam outline pembelajaran berupa: 1) Materi
d. Learning concept (Konsep pembelajaran) 2) Skenario Pembelajaran 3) Media dan
e. Content standart (standar conten)

146
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Metode 4) alat bantu pembelajaran 5) Soal di uji kenormalan distribusi dan bentuk data
soal Essay. dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov
sehingga syarat statistik parametik terpenuhi.
2) Analisis Data Hasil Skor Tes Awal Dan Tes Dan hasil dari uji normalitas adalah sebagai
Akhir Pada Uji Coba Lapangan berikut :
Sebelum di uji dengan menggunakan
Paired sample t-test (uji t-test), terlebih dahulu
Tabel 1. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
PAT RIO
(SEBELU (SETELA
M) H)
N 36 36
Normal Parametersa,,b Mean 57.08 77.64
Std. Deviation 12.973 7.255
Most Extreme Absolute .092 .114
Differences Positive .056 .114
Negative -.092 -.108
Kolmogorov-Smirnov Z .552 .685
Asymp. Sig. (2-tailed) .921 .736
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.

Berdasarkan uji normalitas dengan Asymp.sig sebesar 0,921 (sebelum) dan 0,736
Kolmogorov-Smirnov test diperoleh bahwa KSZ (setelah) lebih besar daripada 0,05, maka dapat
sebesar 0,552 (sebelum) dan 0,685 (setelah) dan disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.

Tabel 2 Paired Samples Test

Paired Differences
95% Confidence
Std. Std. Interval of the
Deviatio Error Difference Sig. (2-
Mean n Mean Lower Upper t df tailed)
Pair PAT - - 13.405 2.234 -25.091 -16.020 - 35 .000
1 RIO 20.55 9.201
6

Tabel 3 Paired Samples Statistics


147
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Std. Error
Mean N Std. Deviation Mean
Pair 1 PAT 57.08 36 12.973 2.162
RIO 77.64 36 7.255 1.209

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa sehingga mahasiswa lebih memahami materi
hasil tes awal dan akhir uji lapangan materi pengelolaan usaha. Tahap selanjutnya
menunjukkan rerata nilai tes awal 57,08 dan nilai adalah Tahap pengenalan terhadap realitas, tahap
rerata tes akhir sebesar 77,64. Hal ini menunjukan ini dinamakan dengan (RIO) Realitas, Informasi
bahwa hasil tes akhir setelah mahasiswa bisnis dan Obyek. Mahasiswa secara
melakukan pembelajaran dengan PAT (Prinsip, berkelompok mendiskusikan ide bisnis dengan
Aturan, Teori) dalam mata kuliah Kewirausahaan mempelajari realitas dan informasi bisnis
dan dilanjutkan dengan implementasi dilapangan baikmelalui majalah, web ataupun buku buku
(RIO) Realitas, Informasi Bisnis dan Obyek mini bisnis. Ide bisnis tersebut dituangkan dalam
usaha yang dilakukan secara berkelompok, tindakan nyata yaitu dengan mempelajari
terdapat pemahaman yang lebih baik bagaimana pengelolaan bisnis kecil secara nyata. Dan tahap
mengelola bisnis dengan mengeksploitasi selanjutnya adalah (T) Tindakan atau hasil.
kemampuan, kemandirian, kerjasama dan ide Ketiga tahapan tersebut merupakan suatu
bisnis yang dibangun dengan kelompok. rangkaian proses sistematis yang tingkat
Mahasiswa tidak hanya mempelajarai materi keberhasilan implementasinya diukur dari
materi kewirausahaan di dalam kelas, tetapi juga seberapa banyak kompetensi yang dikuasai dan
mempraktekan ide bisnis yang mereka bangun sebarapa tinggi kualitas tindakan yang berhasil
dengan tindakan nyata. ditampilkan oleh setiap subyek belajar
Dan dari analisis diatas dapat disimpulkan (Suharsono, 2005). Dan dari sig = 0,00 (sig <
sebagai berikut : a) Dari Tabel paired samples 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
correlations didapatkan bahwa nilai selisih rata- perbedaan peningkataan pengetahuan dan
rata dari pre test dan post test adalah : 57,08 - pemahaman materi materi kewirausahaan dengan
77,64 = - 20,56, sehingga dapat disimpulkan menggunakan model PATRIOT.
bahwa terdapat peningkatan hasil pembelajaran
sebelum dan sesudah mengikuti perkuliahan
dengan menerapkan model PATRIOT b)Dari SIMPULAN
Tabel Paired Samples Test, didapatkan nilai t-
value diatas nilai kritis 1,96 dan didapatkan nilai t Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa
= -9,201 lebih besar dari 1,96 maka dapat sebuah realitas sosial yang harus diakui, bangsa
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara Indonesia dipenuhi oleh banyak pengangguran
sebelum dan setelah mengiktui perkuliahan terdidik, oleh sebab itu pembelajaran
dengan model PATRIOT, karena dengan model kewirausahaan sebagai solusi praktis yang
PATRIOT mahasiswa mempelajari materi materi dibutuhkan oleh Indonesia saat ini. Pendidikan
kewirausahaan dengan tahap tahap: Tahap Kewirausahaan yang dikemas dengan pemberian
pengenalan secara teoritis PAT (Prinsip, Aturan perkuliahan dengan model PATRIOT yang
dan Teori) yang dikemas dengan pembelajaran inovatif dan interaktif akan meningkatkan
yang inovatif dan interaktif dengan menerapkan pemahaman mahasiswa akan pentingnya
skenario pembelajaran tiap tiap pertemuan, kewirausahaan setelah mereka lulus dari
148
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
peguruan tinggi. Kewirausahaan bisa diterapkan pengenalan aspek teoritis (PAT), tahap
di semua bidang pekerjaan dan kehidupan, pengenalan terahadap realitas bisnis yang
dengan demikian kewirausahaan sangat berguna didukung dengan informasi bisnis dan obyek
sebagai bekal mahasiswa dalam berkarir di yang akan ditekuni/ aspek realisitis (RIO), tahap
bidang manapun. Dari analsis data dikembangkan terakhir adalah (T) tindakan atau hasil, yaitu
skenario pembelajaran kewirausahaan tiap materi kompetensi yang dimiliki oleh mahasiswa setelah
sehingga terdapat peningkatan pengetahuan, mengikuti tahapan PAT dan RIO. Dari hasil
ketrampilan dan pemahaman mahasiswa tentang analisis data disimpulkan bahwa terdapat
bagaimana mengelola Usaha. Model PATRIOT perbedaan peningkataan pengetahuan dan
merupakan model pembelajaran yang dapat pemahaman materi materi kewirausahaan dengan
diterapkan pada matakuliah kewirausahaan menggunakan model PATRIOT.
dengan menggunakan tiga tahap yaitu tahap

DAFTAR RUJUKAN Joyce, Bruce, Masha Weil, Emily Calhoun, 2011,


Model of Teaching, Model-Model
Alma Buchari, 2010, Kewirausahaan, Alfabeta, Pengajaran Edisi Kedelapan, Pustaka
Bandung. Pelajar, Yogyakart.

Gardner, H, 1991, The Unschooled Mind: How Kompasiana, 2012, Pelatihan Wirausaha Industri
Children Think And How School Shoulds Inovatif, di unduh 10 April 2016.
Teach, Basic Books, New York.
Marnoko, 2011, Perbedaan Model Pembelajaran
Gay, L.R., 1991, Educational Evaluation and Kooperatif Tipe TEAMS Games
Measurement: Competencies for Analysis Tournament dan Model Pembelajaran
and Aplplication, Second Edition, New Konvensional pada Hasil Belajar Ekonomi
York: Macmillan Publishing Company. Mahasiswa FE UNPAB, Jurnal Ilmiah Abdi
Ilmu Vol 4 No.2 Desember 2011, ISSN
Gunter, M. A., T. H Estes, J. H Schwab, 1990. 1979-5408.
Instruction: A Models Approach, Allyn and
Bacon, Boston. Suharsono, 2005, Model Pembelajaran PATRIOT
dan implementasinya dalam proses
Hendraman, 2011, Kajian Kebijakan PMW pengembangan kompetensi guru ekonomi
(Program Mahasiswa Wirausaha), Jurnal di sekolah, Jurnal Pendidikan dan
Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17 No. 8 Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi
Edisi November 2011, Balitbang, khusus th XXXVIII Desember 2005.
Kemendiknas, Jakarta. Suprijono, Agus, 2009, Cooperative Learning
Teori dan Aplikasi Paikem, Pustaka Pelajar,
Hendro, 2011, Dasar-Dasar Kewirausahaan Surabaya.
Panduan bagi Mahasiswa Mengenal,
Memahami dan Memasuki Dunia Bisnis, Suryana, 2003, Kewirausahaan: Pedoman
Penerbit Erlangga, Jakarta. Praktis, Kitat dan Proses Menuju sukses,
edisi revisi, Salemba Empat, Jakarta

149
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Wiratno Siswo, 2012, Pelaksanaan Pendidikan Zimmeree Thomas w, Scarborough , 2005,
Kewirausahaan di Perguruan tinggi, Jurnal Pengantar Kewirausahaan Dan
Pendidikan dan Kebudayaan Vol 18 No. 4, Manajemen Bisnis Kecil, Second Edition,
Desember 2012. Prenhalindo, Jakarta.

150
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Pembelajaran pada Mata Kuliah Kewirausahaan di Perguruan Tinggi
dalam Perspektif Teori Rekonstruksi Sosial

Sukardi
Program Studi Pend. IPS FKIP Universitas Mataram
Email: kardi_unram@yahoo.co.id

Abstrak : Salah satu learning outcame pendidikan kewirausahaan adalah terbentuknya


manusia yang memiliki kemampuan berfikir inovatif dan bertindak kreatif. Tuntutan ini
sejalan dengan tuntutan peradaban ekonomi kreatif yang menempatkan kreatifitas sebagai
faktor produksi. Implikasinya adalah perlunya dilakukan pembaharuan pembelajaran
Pendidikan Kewirausahaan di Pendidikan Tinggi. Hasil tilikan teoritis dan bukti empiris
berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berorientasi rekonstruksi
sosial relevan dengan tuntutan tersebut. Rekonstruksi sosial menempatkan pembelajaran
sebagai kegiatan bersama, interaksi, kerjasama, dan praktik langsung sehingga kompetensi
inovasi dan kreativitas dapat diaktualisasikan/dicapai oleh pebelajar. Tulisan ini
memberikan pencerahan tentang pembelajaran kewirausahaan dalam perspektif teori
rekonstruksi sosial.

Kata Kunci: Pembelajaran, Kewirausahaan, Rekonstruksi Sosial

Badan Pusat Statistik (BPS, 2016) mencatat adanya kewirausahaan untuk mengembangkan peluang
kecenderungan peningkatan jumlah pengangguran usaha yang ada (Sukidjo, 2002) tidak terkecuali
terbuka dikalangan lulusan Pendidikan Tinggi (PT). untuk lulusan SMA/Sederajat (Sukardi dkk., 2012;
Dalam tiga tahun terakhir misalnya telah Sukardi, 2014). Lulusan yang dihasilkan kurang
mengalami peningkatan yang signifikan. Jika pada memiliki keterampilan untuk menciptakan
periode Agustus 2013 mencapai 619.288 orang pekerjaan sendiri dalam mengelola sumber daya di
(8.35%), maka pada periode Agustus 2015 sudah sekitarnya. Kurangnya keterampilan ini menjadi
meningkat menjadi 905.127 orang (11.97%). salah satu penyebab kesenjangan antara kebutuhan
Membengkaknya lulusan PT yang menganggur dengan ketersediaan lapangan kerja.
mencerminkan semakin terbatasnya lapangan kerja Mencermati kondisi tersebut, maka menjadi
(Rosana dkk., 2012). Fakta ini belum termasuk tugas PT untuk meningkatkan mutu dan relevansi
lulusan yang setengah menganggur. Kondisi inilah pendidikan sehingga menghasilkan lulusan yang
disinyalir menjadi pemicu munculnya permasalahan berdaya saing. Salah satunya melalui
sosial yang mengikutinya, seperti kemiskinan, pengembangan pendidikan kewirausahaan di PT.
konflik sosial, menjadi Tenaga Kerja Indonesia Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan
(TKI) yang terkadang sering merendahkan martabat (termasuk pendidikan kewirausahaan) merupakan
bangsa. faktor penting dalam menguak kemajuan bangsa.
Menjadi pertanyaan adalah mengapa Pendidikan (kewirausahaan) sebagai suatu sistem
lulusan PT menganggur atau lebih banyak memberikan pengaruh dalam membentuk sikap
tergantung pada pada kesempatan kerja yang ada? karena pendidikan meletakkan dasar pengertian dan
Mengapa belum semua lulusan mau dan mampu konsep moral dalam diri individu (Azwar, 2009).
menciptakan lapangan kerja sendiri? Kondisi ini Banyak ahli bidang kewirausahaan
disinyalir disebabkan oleh lemahnya kompetensi berdasarkan hasil penelitian juga sepakat bahwa
151
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
wirausahawan dapat dibentuk melalui pendidikan kewirausahaan di PT, rekonstruksi sosial dalam
(Birdthistle dkk., 2007; Packham dkk., 2010; Frank perspektif teoritis, dan aktualisasi teori rekonstruksi
dkk., 2005; Taatila, 2010; Jones dkk., 2008; sosial dalam pembelajaran kewirausahaan di PT.
Sowmya dkk., 2010). Seperti halnya dengan hasil
penelitian, banyak ahli juga sepakat bahwa HASIL & PEMBAHASAN
wirausahawan dapat dibentuk melalui pendidikan
(Hisrich & Peters, 2000; Drucker, 1996; Zimmerer Refleksi Pembelajaran Kewirausahaan
dkk., 2008; Ciputra, 2009). Drucker (1996) Pendidikan Tinggi
misalnya secara eksplisit menyatakan “the Undang-undang No 12 Tahun 2012 tentang
entrepreneurial mystique? It’s not magic, it’s not Pendidikan Tinggi (Pasal 4) menyebutkan fungsi
mysterious, and it has nothing to do with the genes. Pendidikan Tinggi, yaitu: a) mengembangkan
It’s adiscipline. And, like any discipline, it can be kemampuan dan membentuk watak serta
learned”. peradaban bangsa yang bermartabat dalam
Meskipun demikian, tidak semua hasil rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; b)
penelitian mendukung terhadap pembentukan mengembangkan Sivitas Akademika yang
kompetensi wirausaha (Cheng dkk., 2009). Oleh inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya
Cheng dkk. (2009), disebabkan karena adanya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan
perbedaan konten, strategi, media, dan lainnya. Tridharma; dan c) mengembangkan Ilmu
Temuan hasil penelitian jenjang SMA/sederajat Pengetahuan dan Teknologi dengan
juga menemukan hal yang sama bahwa memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora.
pembelajaran kewirausahaan yang dilakukan Mencermati fungsi tersebut, maka sesungguhnya
cenderung teoritis dengan menggunakan ceramah sangat relevan dengan sifat atau watak wirausaha.
sebagai metode utama (Sukardi dkk., 2012). Meredith (Suryana, 2003) memberikan ciri-ciri
Hampir semua sekolah belum mampu seseorang yang memiliki karakter wirausaha
mengembangkan program pendidikan sebagai orang yang percaya diri, berorientasi tugas
kewirausahaan baik melalui mata pelajaran muatan dan hasil, berani mengambil risiko, berjiwa
lokal maupun program lainnya, seperti integrasi kepemimpinan, berorientasi ke depan, dan
pada mata pelajaran, pengembangan diri, keorisinalan. Lebih lengkap David (Dirjen
ekstrakurikuler, terintegrasi pada buku ajar (Sukardi Belmawa Dikti Kemdikbud, 2013) mengidentifiksi
dkk., 2012). beberapa watak wirausahaan, antara lain: inovatif,
Berangkat dari permasalahan tersebut, kreatif, adaptif, dinamik, kemampuan
maka menjadi sangat penting dilakukan berintegrasi, kemampuan mengambil risiko atas
rekonstruksi mata kuliah pendidikan kewirausahaan keputusan yang dibuat, integritas, daya juang, dan
di PT untuk menyiapkan lulusan berjiwa wirausaha. kode etik. Dari pemikiran-pemikiran di atas,
Dalam konteks tersebut, maka pemikiran teori nampaknya kemampuan berfikir kreatif dan
rekonstruksi sosial relevan diaplikasikan dalam bertindak inovatif menjadi karakter utama
pendidikan kewirausahaan di PT. Teori ini wirausahawan. Muara ini juga sejalan dengan
menempatkan kompetensi sebagai hasil konstruksi gelombang peradaban ekonomi kreatif, yang
sosial terhadap permasalahan sosial. Dalam proses menempatkan kreativitas manusia sebagai faktor
pembelajaran juga ditempatkan sebagai kegiatan produksi utama dalam kegiatan ekonomi (Howkins,
bersama, interaksi, dan kerjasama (McNeil, 2006), 2001). Untuk mencapai karakteristik tersebut, maka
disamping dipadukan dengan kegiatan praktik calon wirausahawan setidaknya harus memiliki
langsung di luar kelas (Sukardi, 2014; Sukardi dkk., kompetensi kewirausahaan, mencakup kemampuan
2014). strategic, conceptual, opportunity, relationship,
Tulisan ini memberikan pencerahaan learning, personal, ethical, and familism (Ahmad
tentang aktualisasi teori rekonstruksi sosial dalam dkk., 2010).
pendidikan kewirausahaan di PT. Tulisan ini Pertanyaannya adalah apakah fungsi
diawali dengan refleksi pembelajaran Pendidikan Tinggi (watak wirausaha) tersebut
152
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
sudah mampu diwujudkan? Terhadap pertanyaan pembelajaran yang digunakan tergantung pada
ini, Sukidjo (2002) sudah mensinyalir bahwa keinginan dari setiap dosen pengampu.
sebagian besar PT belum mampu mencapai atau Mengacu pada temuan-temuan tersebut,
membentuk karakter tersebut. Lebih lanjut maka dalam upaya pembentukan karakter seorang
disebutkan bahwa Pendidikan Tinggi lebih banyak wirausaha/enterpreneur, PT sudah seharusnya
mengutamakan peningkatan intelektual dan menciptakan atmosfer yang dapat mendorong
penguasaan ilmu pengetahuan yang umumnya sikap mandiri bagi sivitas akademika. Dirjen
merupakan hasil pemikiran dan aplikasi dari Barat Belmawa Dikti Kemdikbud (2013) menyarankan
yang kondisinya berbeda dengan Indonesia. beberapa strategi berikut, yaitu: a) mengembangkan
Pendidikan semacam ini kurang memperhatikan dan membiasakan unjuk kerja yang mengedepakan
pengembangan kreativitas melainkan hanya ide kreatif dalam berpikir dan sikap mandiri
menyiapkan lulusan menjadai pegawai (Sukidjo, bagi mahasiswa dalam proses pembelajaran
2002). (menekankan model latihan, tugas mandiri,
Ciputra dalam harian Kompas (2012) problem solving, cara mengambil keputusan,
menyatakan "sekolah (PT) di Indonesia itu menemukan peluang); b) menanamkan sikap dan
kebanyakan teori, kebanyakan menghafal, padahal perilaku jujur dalam komunikasi dan bertindak
Indonesia butuh orang kreatif sehingga tidak dalam setiap kegiatan pengembangan,
diperlukan kebanyakan teori, tapi langsung pendidikan, dan pembelajaran sebagai modal
praktik". Godsell (Dirjen Belmawa Dikti dasar dalam membangun mental entrepreneur
Kemdikbud, 2013) jauh sebelumnya mengingatkan pada diri mahasiswa; dan c) para praktisi
bahwa salah satu orientasi pendidikan adalah pendidikan juga perlu sharing dan memberi
menjadikan peserta didik (mahasiswa) mandiri support atas komitmen pendidikan mental
dalam arti memiliki mental yang kuat untuk entrepreneurship ini kepada lembaga-lembaga
melakukan usaha sendiri, tidak lebih sebagai terkait dengan pelayanan bidang usaha yang
pencari kerja (job seeker) akan tetapi sebagai muncul di masyarakat agar benar-benar berfungsi
pencipta lapangan pekerjaan (job creator). dan benar-benar menyiapkan kebijakan untuk
Kajian yang dilakukan oleh Wahyuningsing mempermudah dan melayani masyarakat.
dan Qamari (2011) menemukan kondisi Praktisi pendidikan penting juga menjalin
pembelajaran kewirausahaan PT dalam perspektif hubungan erat dengan dunia usaha agar benar-
responden. Hasil surveinya menemukan bahwa benar terjadi proses learning by doing.
4,76% responden menyampaikan pendidikan
kewirausahaan bermuatan soft skills (motivasi, Rekonstruksi Sosial dalam Perspektif Teoritis
pengembangan diri, pengembangan kepribadian) Teori rekonstruksi sosial ini menjadi
dan hard skills (rencana bisnis, analisis resiko sandaran sekaligus pisau analisis hasil kajian
bisnis), dan sisanya lebih mengarah pada aspek tentang pendidikan kewirausahaan yang pernah
kognitif. Hasil survei menunjukkan bahwa penulis lakukan sebelumnya (Sukardi, 2014;
kurikulum yang saat ini diberlakukan di program Sukardi dkk., 2014; & Sukardi, 2016). Teori
studi masih lebih berorientasi pada kemampuan pedagogis sosial reconstructionism bersandar pada
kognisi, yang belum memberikan bekal gagasan bahwa sekolah (PT) harus membentuk atau
keterampilan, soft skills, dan penguatan jiwa merekonstruksi masyarakat. Rekonstruksi sosial
kewirausahaan kepada mahasiswa. Hasil kajian merupakan filosofi yang sangat menekankan
lain (Murtini dkk., 2014) menunjukkan bahwa pertanyaan sosial tentang masyarakat itu sendiri
pelaksanaan pembelajaran mata kuliah dalam upaya yang lebih baik untuk menciptakan
kewirausahaan pada Prodi pendidikan ekonomi masyarakat yang lebih sukses di masa depan
belum terintegrasi dalam satu program (Wright, 2012).
pembelajaran praktik. Silabus, strategi Sebagaimana tulisan-tulisan sebelumnya,
pembelajaran, model, media, dan perangkat maka mengupas teori rekonstruksi sosial tidak
lepas dari pemikir utamanya, yaitu Berger dan
153
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Luckmann (1966). Teori ini menempatkan realitas kurikulum di sekolah/PT (pengetahuan dan konsep-
sebagai konstruksi sosial yang diciptakan oleh konsep baru yang diperolehnya) harus dapat
individu terhadap dunia sosial di sekelilingnya mengidentifikasi dan memecahkan masalah-
(Berger & Luckmann, 1996). “Pengetahuan dalam masalah sosial. Selain itu, isi pembelajaran
pandangan rekonstruksi sosial merupakan hasil (kurikulum) adalah ke arah peningkatan kualitas
penemuan sosial dan sekaligus juga merupakan hidup, pelestarian sumber daya alam, pemahaman
faktor dalam perubahan sosial” (Berger & terhadap isu-isu sosial, dan lainnya (Wright, 2012).
Luckmann, 1966). “Konstruksi sosial merupakan Hal ini yang ditegaskan oleh Theodore Brameld
suatu proses pemaknaan yang dilakukan oleh (Oliva, 1992; McNeil, 2006) bahwa pendidikan
setiap individu terhadap lingkungan dan aspek diarahkan untuk meningkatkan kondisi kehidupan
diluar dirinya, yaitu makna subjektif dari mahasiswa. Sesuai dengan potensi yang ada dalam
realitas objektif di dalam kesadaran orang yang masyarakat, sekolah (PT) mempelajari potensi
menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari” tersebut dan kemudian mengembangkannya
(Muta’afi & Handoyo, 2015). Dalam karyanya menjadi konten pembelajaran. Sekolah (PT) harus
bersama Luckmann, Berger (Muta’afi & Handoyo, dapat membantu peserta didik untuk mengenali dan
2015) memaparkan bahwa “bagi analisis sosiolog memecahkan permasalahan sosialnya. Tujuannya
hal yang terpenting adalah realitas kehidupan adalah “to teach students and the public not to
sehari-hari, yakni realitas yang dialami atau settle for "what is" but rather to dream about what
dihadapi oleh individu dalam kehidupannya sehari- might be and prepare students to become agents
hari”. Teori konstruksi sosial Berger dan for change” (Wright, 2012).
Luckmann (Muta’afi & Handoyo, 2015) menaruh Pemikiran teori rekonstruksi sosial sangat
perhatian pada kajian mengenai hubungan antara relevan dengan terjadinya permasalahan dan
pemikiran manusia dan konteks sosial tempat perubahan yang sangat cepat dalam masyarakat
pemikiran itu timbul dan berkembang. dewasa ini, seperti terjadinya pengangguran
Proses konstruksinya menurut Berger dan terdidik. Perubahan dalam masyarakat,
Luckman (1966) berlangsung melalui tiga bentuk mengharuskan sekolah (PT) untuk meninjau mata
realitas, yakni subjective reality, symbolic reality kuliahnya agar lebih relevan dengan permasalahan
dan objective reality. a) objective reality, sebagai sosial, perkembangan, dan kebutuhan masyarakat
pemaknaan terhadap realitas tindakan/tingkah laku termasuk melalui pendidikan kewirausahaan. Oleh
yang telah mapan yang dihayati secara umum karenanya, teori rekonstruksi sosial sangat relevan
sebagai fakta; b) symblolic reality, sebagai ekspresi diterapkan pada mata kuliah pendidikan
simbolik dari apa yang dihayati pada objective kewirausahaan.
reality; dan c) subjective reality, sebagai konstruksi Aplikasi pada aspek materi misalnya,
definisi realitas manusia yang dikonstruksi melalui pendidikan kewirausahaan diarahkan pada
proses internalisasi yang kemudian melibatkan kemampuan berfikir inovatif dan kreatif mahasiswa
proses eksternalisasi. (Wennekers & Thurik, 1999), khususnya dalam
Pemikiran Berger dan Luckmann (1966) memanfaatkan dan mengembangkan potensi
menjalar dibidang pendidikan. Rekonstruksi sosial sumber daya ada. Dalam pelaksanaannya, setiap
bidang pendidikan lahir karena berangkat dari PT mempunyai kebebasan untuk menentukan isi
kondisi dimana kewirausahaan yang akan diberikan kepada
sekolah (PT) dan masyarakat terjebak dalam mahasiswa. Substansi pendidikan kewirausahaan
hubungan dualistik yang memisahkan sekolah (PT) seperti ini didasarkan atas karakteristik, kebutuhan,
dari masyarakat (Wright, 2012). Para pemikir perkembangan daerah, serta kemampuan PT.
rekonstruksi sosial ini percaya bahwa apa yang
terjadi di bawah naungan sekolah (PT) tidak
merefleksikan permasalahan sosial di masyarakat,
seperti pengangguran. Oleh karenanya, dalam
pandangan Harold Rugg (McNeil, 2006) bahwa
154
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Aktualisasi Rekonstruksi Sosial dalam dari solusi sosial dalam masyarakat (McNeil, 2006;
Pembelajaran Kewirausahaan Sukardi, 2014).
Berbicara pembelajaran, maka akan terkait Hasil belajar kewirausahaan diarahkan
dengan tiga hal utama, yaitu apa yang mau untuk membangun kesadaran mahasiswa akan
diajarkan, bagaimana mengajarkan, dan bagaimana problematika sosial dan mendorong mereka secara
mengetahui bahwa apa yang diajarkan sudah aktif menjadi bagian dalam solusi permasalahannya
sampai pada mahasiswa? Oleh karenanya, (Sukardi, 2014). Kesadaran sosial (social
aktualisasi pemikiran rekonstruksi sosial dalam consciousness) dapat ditumbuhkan dengan
pendidikan kewirausahaan di PT juga dapat menanamkan keterampilan, sikap, dan daya kritis
ditelusuri dari tiga pertanyaan tersebut. terhadap isu sosial tersebut. Dengan demikian, hasil
belajar ini relevan dengan pandangan rekonstruksi
Kompetensi Pembelajaran Kewirausahaan PT sosial, karena diarahkan pada upaya bagaimana
Jika mencermati pemikiran rekonstruksi mahasiswa belajar mengenali permasalahan sosial
sosial, maka tampak jelas bahwa kompetensi (isi) dan melakukan praktik kewirausahaan sebagai alat
pendidikan rekonstruksi sosial merupakan hasil menjawab permasalahan tersebut. Hasil kajian
rekonstruksi manusia terhadap realitas sosial. penulis sebelumnya (Sukardi, 2014; Sukardi dkk.,
Berger dan Luckmann (1966) menyebutkan bahwa 2014; Sukardi dkk., 2016) meneguhkan pemikiran
“lingkungan, masyarakat, dan dinamika sosial ini, disamping melakukan pembaharuan dengan
adalah pembentuk pengetahuan”. Dengan demikian, menempatkan kompetensi kewirausahaan sebagai
permasalahan sosial, seperti pengangguran terdidik, hasil konstruksi sosial dan sekaligus hasil
kemiskinan, krisis moral, dan lainnya menjadi konstruksi individu.
pembentuk pengetahuan melalui interaksi manusia Implikasinya utamanya dalam pendidikan
dengan realitas tersebut. Harold Rugg dalam kajian kewirausahaan di PT adalah materi kewirausahaan
yang dilakukan Bagenstos (1977) juga bersumber dari sekitar mahasiswa (masyarakat) dan
menyarankan pentingnya kurikulum rekonstruksi kontekstual untuk mengatasi permasalahan sosial
sosial yang menempatkan mahasiswa belajar yang dihadapi, seperti rendahnya skill yang
berfikir dan berinteraksi dengan realitas sosial berdampak pada terjadinya pengangguran. Jha
untuk membangun masyarakat baru. (2012) juga pernah menyebutkan bahwa
Dalam konteks pendidikan kewirausahaan kompetensi diciptakan oleh interaksi dengan
di PT, maka kompetensi kewirausahaan yang individu lain dan lingkungan dalam komunitas
dibentuk adalah dalam rangka membantu sosialnya.
mahasiswa mengenali permasalahan sosialnya dan
selanjutnya menjadi solusi di dalamnya. Proses Pembelajaran Kewirausahaan PT
Penyadaran akan permasalahan sosial seperti Aplikasi teori rekonstruksi sosial dalam
pencari kerja, pengangguran terdidik, rentan putus proses pembelajaran adalah menempatkan
sekolah, dan lainnya harus menjadi bagian tidak pembelajaran sebagai kegiatan bersama, interaksi,
terpisah dalam pembelajaran termasuk solusi dan kerjasama (McNeil, 2006). Dengan demikian,
pemecahannya, seperti pembentukan kemampuan teori ini menekankan pada pembelajaran yang
berfikir kreatif dan bertindak inovatif dalam terfokus pada keaktifan belajar mahasiswa dan di
mengelola potensi sumber daya yang ada di lakukan di luar kampus/kelas. Hal itu dilakukan
sekitarnya. Dengan demikian, belajar dengan tujuan agar mahasiswa dapat mengkaji,
kewirausahaan bukan berbicara teori, sekedar memahami, dan menempatkan permasalahan sosial
pengenalan karakter wirausaha, dan sejenisnya, dalam konteks masyarakat yang lebih luas (Wright,
melainkan dalam rangka melatih mahasiswa 2012). Dari pemahaman tersebut, maka mahasiswa
mengenali dan menyelesaikan masalah sosialnya. dapat mengambil tindakan atau tanggung jawab
Oleh karenanya, kompetensi kewirausahaan untuk menyelesaikan permasalahannya. Beberapa
berdasarkan pemikiran teori rekonstruksi sosial ini model pembelajaran yang disarankan, antara lain:
ditempatkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan cooperative learning, problem solving, critical
155
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
thinking, project based learning, dan sejenisnya selalu melakukan perubahan dan inovasi
(Wright, 2012). Dalam implementasinya, tercermin pembelajaran, tidak status quo dalam proses
dari pembelajaran kewirausahaan yang di setting pembelajaran, dan terlibat membentuk aliansi
secara kooperatif, sehingga mahasiswa saling dengan masyarakat dan orang tua untuk membantu
berinteraksi dengan sesama, pengajar, dan lainnya. pemecahan permasalahan sosial.
Hasil penelitian Breithorde dan Swiniarski (1999)
menegaskan bahwa “pembelajaran kooperatif atau Evaluasi Pembelajaran Kewirausahaan PT
berkelompok memungkinkan mahasiswa untuk Dalam rekonstruksi sosial, kemampuan
saling berbagi, berinteraksi, dan bekerjasama peserta didik (mahasiswa) dicerminkan dari
sehingga berdampak terhadap perolehan hasil kemampuan berpikir kritis dan dan kemampuan
belajar”. Hal ini terjadi karena dalam pembelajaran dalam praktik (memproduksi barang atau jasa
berorientasi rekonstruksi sosial, mahasiswa saling tertentu). Implikasinya adalah rekonstruksi sosial
berinteraksi dan bekerjasama, baik dengan sesama menentang evaluasi menggunakan tes standar/tes
maupun dengan lingkungan sekitarnya. tertulis (Wright, 2012). Dengan demikian, penilaian
Kajian yang dilakukan Sukardi (2014) dan otentik menjadi relevan digunakan dalam
Sukardi dkk. (2014) juga telah mempertegas bahwa pembelajaran kewirausahaan berorientasi
pembelajaran kewirausahaan yang dilakukan rekonstruksi sosial. Puskur Balitbang Depdiknas
melalui proses kegiatan bersama, interaksi, dan (2006) menegaskan bahwa penilaian otentik
kerjasama teruji efektif mempengaruhi hasil belajar merupakan “proses yang dilakukan melalui langkah-
kewirausahaan (khususnya kecakapan vokasional). langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian,
Lebih lanjut, hasil kajian Sukardi (2014) dan pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang
Sukardi dkk. (2014) menemukan pembaharuan menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik,
dengan menempatkan praktik langsung sebagai pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil
penciri pembelajaran berorientasi rekonstruksi belajar peserta didik”.
sosial. Temuan ini mendukung kajian Hung (2002) Mengutip pendapat Mardapi (2005),
yang menyebutkan bahwa hasil belajar bukan hanya penilaian otentik bertujuan, antara lain: menuntut
karena pembelajaran dibangun melalui interaksi peserta didik mengembangkan tanggapan (respon);
melainkan kemampuan anak dalam memaknai mendatangkan pemikiran tingkat tinggi; menilai
realita tersebut dalam bentuk praktik sosial. Praktik kemampuan proyek secara langsung dan
di luar kelas dalam pembelajaran kewirausahaan menyeluruh; memadukan penilaian dengan kegiatan
dapat menjadi alat atau solusi terhadap pembelajaran; menggunakan sampel hasil pekerjaan
permasalahan sosial, seperti lemahnya skill yang peserta didik; menggunakan kriteria penilaian yang
berdampak pada pengangguran. Proses ini terbukti diketahui oleh peserta didik; memberikan peluang
dengan perolehan hasil belajar berupa kecakapan mengakomodasikan pemikiran yang berbeda;
vokasional yang tinggi, di samping mendapatkan mengaitkan dengan kegiatan kelas; dan
respon yang positif (Sukardi, 2014; Sukardi dkk., membelajarkan peserta didik untuk dapat menilai
2014). Kontruksi awal berdasarkan tulisan Sukardi pekerjaannya sendiri. Dalam implementasinya,
(2016) juga memperkuat temuan-temuan penilaian otentik memiliki empat strategi utama
sebelumnya yang menempatkan pembelajaran yang dikenal dengan “Empat P” (Four P’s) yaitu:
kewirausahaan pada jenjang SMA dilakukan secara Performasi, Proses, Produk, dan Portofolio (Puckett
interaktif dan praktik dengan melibatkan peserta & Black, 1994). Strategi performasi ialah menilai
didik secara aktif. peserta didik dari segi kemampuannya melakukan
Dengan demikian, praktik menjadi penting sesuatu, misalnya kemampuan presentasi, praktik
untuk memastikan tercapainya kompetensi membuat produk kerajinan, dan lainnya. Strategi
kewirausahaan mahasiswa. Implikasinya bagi proses ialah menilai selama proses belajar,
pengajar (dosen), yaitu mengkritik dan misalnya ketekunannya, rasa ingintahunya,
mengevaluasi kondisi kerja dan memperluas peran antusiasme belajarnya. Strategi produk ialah menilai
pendidikan kewirausahaan di luar kelas, harus dari produk belajar, misalnya produk kerajinan,
156
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
produk ekonomi kreatif, karya ilmiah, desain SIMPULAN
teknologi, dan lainnya. Strategi portofolio ialah
menggunakan portofolio untuk menilai , terutama Berdasarkan pemaparan di atas, beberapa simpulan
dari karya atau prestasi terseleksi yang yang dapat dijadikan bahan refleksi dalam
menggambarkan kemampuannya. Sebagian dari penguatan pembelajaran kewirausahaan PT, yaitu:
tugas penilaian di atas dapat disusun dalam bentuk (1) pembelajaran kewirausahaan PT bagi
portofolio untuk penilaian. pembentukan kompetensi kewirausahaan (termasuk
Hasil kajian yang dilakukan sebelumnya jiwa wirausaha) belum konsisten dan cenderung
juga membuktikan bahwa penggunaan penilaian belum membuahkan hasil yang optimal; (2) kondisi
berbasis otentik efektif dalam mengukur kompetensi tersebut disinyalir akibat beragamnya pemahaman
wirausaha peserta didik (Sukardi, 2014; Sukardi dan perbedaan, baik menyangkut isi, proses
dkk., 2014; & Sukardi, 2016). Penilaian otentik maupun evaluasi pembelajarannya; (3) karena
dapat mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran pembelajaran kewirausahaan menempatkan
dan penilaian proses untuk mengetahui ketercapaian kemampuan kretifitas dan inovatif sebagai muara
efisiensi dan daya tarik pembelajaran. Penilaian utama, maka aktualisasi teori rekonstruksi sosial
otentik menuntut respons berupa keterampilan menjadi relevan (keharusan), karena dalam
melakukan suatu aktivitas atau perilaku sesuai perspektif teoritis maupun empiris menunjukkan
dengan tuntutan kompetensi. Pada penilaian bahwa rekonstruksi sosial membantu maha
berorientasi otentik menuntut peserta didik untuk mengenali sekaligus memberikan solusi terhadap
melakukan suatu tugas pada situasi yang permasalahan sosialnya; (4) aktualisasinya dapat
sesungguhnya yang mengaplikasikan pengetahuan diwujudkan dalam bentuk pembaharuan kompetensi
dan keterampilan yang dibutuhkan. (isi) pembelajaran kewirausahaan sebagai
konstruksi sosial dan individu, proses
pembelajarannya menekankan pada kegiatan
bersama, interaksi, kerjasama, dan praktik luar
kelas; dan penggunaan evaluasi berbasis otentik.

DAFTAR RUJUKAN linkTabelStatis/view/id/972). Diakses, 2


April 2016.
Ahmad, N.H., Ramayah, T., Wilson, C., &
Kummerow, L. 2010. ”Is Entrepreneurial Bagenstos, N.T. 1977. “Social Reconstruction: The
Competency And Business Success Controversy Over The Texbooks of Harold
Relationship Contingent Upon Business Rugg”. Theory and Research in Social
Environment? A Study of Malaysian Education, 5 (3): 22-38.
SMEs”. International Journal of
Entrepreneurial Behaviour & Research. 16 Berger, P.L. & Luckman, T. 1966. The Social
(3): 182-203. Construction of Reality A Treatise in The
Sociology of Knowledge. Garden City, NY:
Azwar, S. 2009. Sikap Manusia: Teori dan Anchor Books.
Pengukurannya (3th ed). Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. Breithorde, M.L. & Swiniarski, L. 1999.
“Constructivisme and Reconstructionism:
Badan Pusat Statistik/BPS. 2016. “Pengangguran Educating Teachers for World Citizenship”.
Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi Australian Journal of Teacher Education,
yang Ditamatkan 1986 - 2015”. (Online). 24 (1): 1-16.
(https://www.bps.go.id/

157
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Cheng, M.Y., Chan, W.S. & Mahmood, A. 2009. Impact”. Education+Training, 50 (7): 597-
“The Effectiveness of Entrepreneurship 614.
Education in Malaysia”. Education +
Training, 51 (7): 555-566. Mardapi, D. 2005. “Pengembangan sistem penilaian
Ciputra. 2009. Entrepreneurship: Mengubah Masa berbasis kompetensi” dalam Rekayasa
Depan Bangsa dan Masa Depan Anda. Sistem Penilaian dalam Rangka
Jakarta: PT Gramedia. Meningkatkan Kualitas Pendidika.
Yogyakarta: HEPI.
Ciputra. 2012. Ciputra: Indonesia Butuh Orang
Kreatif. (Online). McNeil, J.D. 2006. Contemporary Curriculum: In
(http://bisniskeuangan.kompas.com/read/20 Thought and Action. NJ: John Wiley and
12/09/03/11580773/ciputra.indonesia.butuh Sons, Inc.
.orang.kreatif). Diakses 2 April 2016.
Murtini, W., Sumaryati, S. & Noviani, L. 2014.
Direktorat Jenderal Pembelajaran dan “Pengembangan Laboratorium
Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi Kewirausahaan Terpadu Prodi Pendidikan
Kementerian Pendidikan dan Ekonomi”. Cakrawala Pendidikan, 33 (2):
Kebudayaan/Dirjen Belmawa Dikti 296-306.
Kemdikbud. 2013. Modul Pembelajaran
Kewirausahaan. Jakarta: Dirjen Belmawa Muta’afi, F. & Handoyo, P. 2015. “Konstruksi
Dikti Kemdikbud. Sosial Masyarakat Terhadap Penderita
Kusta”. Paradigma, 3 (3): 1-7.
Drucker, P.F. Inovasi dan Kewiraswastaan:
Praktek dan Dasar-dasar. Terjemahan Oliva, P.F. 1992. Developing the Curriculum (3rd
Rusjdi Naib. 1996. Jakarta: Erlangga. ed.). New York: Harper Collins Publishers
Inc.
Frank, H, Korunka, C., Lueger, M. & Mugler, J.
2005. “Entrepreneurial Orientation and Packham, G., Jones, P., Miller, C., Pickernell, D. &
Education in Austrian Secondary Schools: Thomas, B. 2010. “Attitudes Towards
Status Quo and Recommendations”. Entrepreneurship Education: a Comparative
Journal of Small Business and Enterprise Analysis”. Education +Training, 52 (8):
Development, 12 (2): 259-273. 568-586.

Hisrich, R & Peters, M. 2000. Entrepreneurship (4th Puckett, M.B. & Black, J.K. 1994. Authentic
ed.). Singapore: McGraw-Hill Companies, Assessment of The Young Childc &
Inc. Celebrating Development and Learning.
New York: Macmillan Publishing College
Howkins, J. 2001. The Creative Economy: How Company.
People Make Money from Ideas. New
York: Penguin. Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan
Pengembangan Departemen Pendidikan
Jha, A. K. 2012. “Epistemological and Pedagogical Nasional/Puskur Balitbang Depdiknas.
Concerns of Constructionism: Relating to 2006. Model Penilaian Kelas. Jakarta;
the Educational Practices”. Creative Puskur Balitbang Depdiknas.
Education, 3 (2): 171-178.
Jones, P., Jones, A., Packham, G. & Miller, C. Rosana, D., Suwarna, & Tiarani, V.A. 2012. “Five
2008. “Student Attitudes Towards Strategies of Entrepreuneurship Learning
Enterprise Education in Poland: a Positive untuk Menghasilkan Real Entrepeuneur
158
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
(Model Pendidikan Entrepreuneurship)”.
Cakrawala Pendidikan, 31 (1): 82-96. Suryana. 2003. Kewirausahaan: Pedoman Praktis,
Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta:
Sowmya, D.V., Majumdar, S. & Gallant, M. 2010. Salemba Empat
“Relevance of Education for Potential
Entrepreneurs: an International Taatila, V.P. 2010. “Learning Entrepreneurship in
Investigation”. Journal of Small Business Higher Education”. Education + Training,
and Enterprise Development, 17 (4): 626- 52 (1): 48-61.
640.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12
Sukardi, Ismail, M., & Suryanti, N.M. 2014. Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.
“Model Pendidikan Kewirausahaan Wahyuningsih, S.H & Qamari, I.N. 2011.
Berbasis Keterampilan Lokal Bagi Anak “Eksplorasi Urgensi Pembelajaran
Putus Sekolah pada Masyarakat Marginal”. Kewirausahaan di Perguruan Tinggi.
Cakrawala Pendidikan, 33 (3): 402-412. Prosiding dalam Seminar Internasional
dan Call for Papers “Towards Excellent
Sukardi, Syafruddin, & Burhanuddin. 2012. Small Business” tanggal 27 April.
“Penelusuran Permasalahan dan Potensi Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah
Pendidikan Menengah Umum untuk Yogyakarta.
Mengukur Peluang Pengembangan
Pendidikan Kewirausahaan Berbasis Wennekers & Thurik, R. 1999. “Linking
Keterampilan Daerah di Kota Mataram Entrepreneurship and Economic Growth”.
NTB”. Jurnal Penelitian Kependidikan, 22 Journal Small Business Economics, 13 (2),
(1): 74-89. hml 27-55.

Sukardi. 2014. Pengembangan Model Mulok Wright, L. (2012). Theories of Education:


Kewirausahaan Berbasis Keunggulan Social Reconstructionism. (Online)
Lokal untuk Meningkatkan Kecakapan (http://education101intrototeaching.pbwork
Vokasional SMA di Kota Mataram s.com/w/page/10077173/Theories%20of%2
(Disertasi). Malang: Pascasarjana UM. 0Education%3A%20%20Social%20Recons
tructionism). Diakses tanggal 2 April 2016.
Sukardi. 2016. “Design Model Prakarya dan
Kewirausahaan Berbasis Ekonomi Kreatif Zimmerer, T.W., Scarborough, N.M. & Widson, D.
Berdimensi Industri Keunggulan Lokal”. 2008. Essentials of Entrepreneurship and
Cakrawala Pendidikan, 35 (1): 11-124. Small Business Management (5th ed). Upper
Saddle rever, NJ: Pearson Education, Inc.
Sukidjo. 2002. “Peran Perguruan Tinggi dalam
Membudayakan Kewirausahaan”.
Cakrawala Pendidikan, 21 (1): 1-16.

159
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
The Implementation of Student Center Learning on the Subject of
Entrepreneurship for Developing Student Business Owner at Management
Department

Titiek Ambarwati
Uci Yuliati
Triningsih S.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Muhammadiyah Malang
Email : Ambarwati.titiek@gmail.com; uci.yuliati@yahoo.cpm; triningsih57@gmail.com

Abstract : The aim of this research is to implement one of the teaching and learning
model, that is “student Center Learning Model-Project Based Learning”. This model
will be carried out in the class of Management Department, at the subject of
Entrepreneurship. This model is very important to be implement because the program
of Economics and Business Faculty want to motivated all the students more creative.
By using SCL-PBL model at the subject of Entrepreneurship, the student should follow
and do all the process of teaching and learning. First, all student follow their class
meeting, second making business plan, third doing/ practice their business, forth
presentation, fifth making business report. This mechanism is explained at silaby and
in detail is explained at the entrepreneurship subject planning program (RPPS).
Finally, after joining the class as whole in one semester all the students are expected
to continue their business individually or collectively as long as their study or after
graduating from their study. They can be business owner or business-man.

Keywords: student, entrepreneurship, business plan, business practice, student


business owners/ business-man.

Matakuliah kewirausahaan merupakan salah demikian kenyataan menunjukkan bahwa


satu matakuliah yang ada pada Prodi mahasiswa yang sudah lulus mengikuti
Manajemen pada semester genap 2015/2016. matakuliah kewirausahaan hanya sedikit (satu
Matakuliah ini bertujuan untuk memberikan atau dua mahasiswa dari satu kelas) yang
wawasan kewirausahaan dan peningkatan jiwa mampu melanjutkan usaha yang dirintisnya
kewirausahaan sekaligus dapat menciptakan bahkan ada dari satu kelas mahasiswa tidak
mahasiswa yang mampu menjalankan suatu satupun yang mampu. Apabila dilihat dari
usaha atau bisnis sesuai dengan ketrampilan dan produk yang dibuat mahasiswa sebagian besar
keahliannya. Apabila mahasisiiwa sudah mahasiswa hanya mampu memodifikasi produk
menguasai konsep kewirausahaan diharapkan lama yang sudah ada, walaupun mereka
mampu mengembangkan ide kreatif dan mengatakan sebagai produk baru (Triningsih,
menangkap peluang usaha kemudian 2015:29). Dengan demikian dapat dikatakan
menerapkan konsep teori kewirausahaan bahwa tujuan pembelajaran matakuliah
tersebut dan mempraktekkannya. Namun
160
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
kewirausahaan belum mampu menciptakan abstrak) kepada mereka. Dengan model
mahasiswa menjadi mahasisiwia wirausaha. pembelajaran ini, mahasiswa akan bekerja
Oleh karena itu penting dilakukan secara tim (berkelompok) kooperatif dan
perbaikan model pembelajaran baru yang dapat mengubah pemikiran faktual semata menjadi
merubah sikap dan perilaku mahasiswa ke arah pemikiran yang lebih kritis dan analitis.
yang lebih banyak praktek. Dengan demikian Saat ini model pembelajaran masih lebih
penerapan penelitian tindakan kelas penting terfokus pada hasil belajar berupa pengetahuan
dilakukan. Penelitian Tindakan Kelas dilakukan (knowledge) semata. Itupun sangat dangkal,
dengan diawali oleh suatu kajian terhadap hanya sampai pada tingkatan ingatan dan
masalah secara sistematis. Dalam proses pemahaman dan belum banyak menyentuh
pelaksanaan rencana yang telah disusun aspek aplikasi. Ini berarti pada umumnya,
kemudian dilakukan suatu observasi dan pembelajaran belum mengajak mahasiswa
evaluasi yang dipakai sebagai masukan untuk untuk menerapkan, mengolah setiap unsur-
melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada unsur konsep yang dipelajari dan belum
tahap pelaksanaan. Hasil dari proses refeksi ini mengajak mahasiswa berpikir kritis terhadap
kemudian melandasi upaya perbaikan dan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang telah
peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. dipelajarinya. Sementara itu, aspek
Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang- keterampilan (psikomotor) dan sikap (attitude)
ulang dan berkesinambungan sampai suatu juga banyak terabaikan. Pendekatan ini kurang
kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai. efektif dalam mendorong mahasiswa untuk
Penelitian Tindakan Kelas sangat terlibat aktif dalam membangun pengetahuan,
bermanfaat bagi dosen untuk meningkatkan sikap dan perilaku (Afiatin,2007) atau menurut
mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Widjanarko, dkk, 2012) sulit untuk memenuhi
Dengan melaksanakan tahap-tahap Penelitian kompetensi softskill mahasiswa.
Tindakan Kelas, dosen dapat menemukan solusi Model pembelajaran berbasis proyek
dari masalah yang timbul di kelas, dengan (Project Based Learning) merupakan salah satu
menerapkan berbagai ragam teori dan teknik model pembelajaran yang dapat digunakan oleh
pembelajaran yang relevan secara kreatif. pendidik sehingga secara otomatis juga
Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu menggunakan pendekatan saintifik (scientific
penelitian yang mengangkat masalah-masalah approach) dalam pembelajarannya. Pendekatan
aktual yang dihadapi oleh dosen di lapangan. saintifik adalah pendekatan pembelajaran
Dengan melaksanakan Penelitian Tindakan dimana mahasiswa memperoleh pengetahuan
Kelas, dosen mempunyai peran ganda : praktisi berdasarkan cara kerja ilmiah. Melalui
dan peneliti. pendekatan saintifik ini mahasiswa akan diajak
Berbagai model pembelajaran student meniti jembatan emas sehingga ia tidak hanya
center learning dapat diterapkan salah stunya mendapatkan ilmu pengetahuan (knowledge)
Model pembelajaran berbasis proyek (project semata tetapi juga akan mendapatkan
based learning) yang merupakan model keterampilan dan sikap-sikap yang dibutuhkan
pembelajaran yang mampu mengakomodasi dalam kehidupannya kelak. Saat belajar
alasan tersebut di atas. Selain itu pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis
harus diubah dari kecenderungan lama (satu proyek ini, mahasiswa dapat berlatih menalar
arah) agar menjadi lebih interaktif (multi-arah). secara induktif (inductive reasoning). Sebagai
Melalui model pembelajaran ini, mahasiswa salah satu model pembelajaran dalam
juga diharapkan menjadi aktif menyelidiki pendekatan saintifik, project based
(belajar) dengan menyajikan dunia nyata (bukan learning (model pembelajaran berbasis proyek)

161
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
sangat sesuai dengan Permendikbud Nomor 81 lebih mendalam kepada mahasiswa,
A Tahun 2013 yang memuat 5M, yaitu: (1) Menciptakan mahaiswa wirausaha yang
mengamati; (2) menanya; (3) mengumpulkan berkompetensi kewirausahaan.
informasi; (4) mengasosiasi; dan (5)
mengkomunikasikan. 1. Project Based Learning
Implikasi pendekatan pembelajaran Model pembelajaran berbasis proyek (project
Project Based Learning dengan melibatkan based learning) adalah sebuah model
mahasiswa peserta mata kuliah kewirausahaan pembelajaran yang menggunakan proyek
secara maksimal diharapkan dapat menciptakan (kegiatan) sebagai inti pembelajaran. Dalam
pembelajaran yang efektif serta dapat kegiatan ini, mahasiswa melakukan eksplorasi,
meningkatkan kompetensi kognitif, kompetensi penilaian, interpretasi, dan sintesis informasi
afektif dan kompetensi psikomotorik Apakah untuk memperoleh berbagai hasil belajar
Penerapan Metode Project Based Learning akan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap). Model
meningkatkan kompetensi kewirausahaanp pada pembelajaran berbasis proyek selalu dimulai
mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dengan menemukan apa sebenarnya pertanyaan
dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang. mendasar, yang nantinya akan menjadi dasar
Apakah Peningkatan Kompetensi untuk memberikan tugas proyek bagi
Kewirausahaan Berbasis Project BaseLearning mahasiswa untuk melakukan aktivitas.
pada Mahasiswa akan mampu menciptakan Selanjutnya dengan dibantu dosen, kelompok-
mahasiswa wirausaha pada mahasiswia Prodi kelompok mahasiswa akan merancang aktivitas
Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang akan dilakukan pada proyek mereka
Universitas Muhammadiyah Malang. masing-masing. Semakin besar keterlibatan dan
Sedangkan tujuan penelitian ini Untuk ide-ide kelompok mahasiswa yang digunakan
menerapkan model pembelajaran student center dalam proyek itu, akan semakin besar pula rasa
learning-Project Based Learning dalam upaya memiliki mereka terhadap proyek tersebut.
meningkatkan kompetensi kewirausahaan pada Selanjutnya, dosen dan mahasiswa menentukan
mahasiswa Prodi manajemen Fakultas Ekonomi batasan waktu yang diberikan dalam
dan Bisnis Universitas Muhammadiyah penyelesaian tugas (aktivitas) proyek mereka.
Malang, Untuk mempelajari hubungan Dalam berjalannya waktu, mahasiswa
peningkatan kompetensi kewirausahaan melaksanakan seluruh aktivitas mulai dari
BerbasisProject Based Learning pada persiapan pelaksanaan proyek mereka hingga
mahasiswa dengan jumlah mahasiswa melaporkannya sementara dosen memoni-tor
wirausaha pada Prodi Manajemen Fakultas dan memantau perkembangan proyek
Ekonomi dan Bisnis Universitas kelompok-kelompok mahasiswa dan memberi-
Muhammadiyah Malang. Adapun manfaat yang kan pembimbingan yang dibutuhkan. Pada
dapat diraih melalui penelitian penerapan model tahap berikutnya, setelah mahasiswa
pembelajaran berbasis proyek (Project Based melaporkan hasil proyek yang mereka lakukan,
Learning) adalah : Mahasiswa menjadi dosen menilai pencapaian yang mahasiswa
pembelajar aktif, Pembelajaran menjadi lebih peroleh baik dari segi pengetahuan (knowledge
interaktif dan student centred, Dosen berperan terkait konsep yang relevan dengan topik),
sebagai fasilitator, emberikan kesempatan hingga keterampilan dan sikap yang
mahasiswa mengelolasendiri kegiatan atau mengiringinya. Terkahir, dosen memberikan
aktivitaspenyelesaian tugas sehingga melatih kesempatan kepada mahasiswa untuk
mereka menjadi lebih mandiri, Memberikan merefleksi semua kegiatan (aktivitas) dalam
pemahaman konsep atau pengetahuan secara pembelajaran berbasis proyek yang telah

162
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
mereka lakukan agar di lain kesempatan dan kerja sama antar anggota kelompok.
pembelajaran dan aktivitas penyelesaian proyek Penyusunan jadwal pelaksanaan proyek Peserta
menjadi lebih baik lagi. didik di bawah pendampingan guru melakukan
penjadwalan semua kegiatan yang telah
2. Penilaian Dalam Model dirancangnya. Berapa lama proyek itu harus
Pembelajaran Project Based Learning diselesaikan tahap demi tahap. Penyelesaian
Pembelajaran berbasis proyek dapat proyek dengan fasilitasi dan monitoring guru
memberikan hasil belajar dalam bentuk Langkah ini merupakan langkah
pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill pengimplementasian rancangan proyek yang
atau psikomotor), dan sikap (attitude atau telah dibuat. Aktivitas yang dapat dilakukan
afektif), maka penilaiannyapun dilakukan untuk dalam kegiatan proyek di antaranya adalah
ketiga ranah ini. Bentuk penilaian dapat berupa dengan a) membaca, b) meneliti, c) observasi, d)
tes atau nontes. Sebaiknya penilaian yang interview, e) merekam, f) berkarya seni, g)
dilakukan untuk model pembelajaran berbasis mengunjungi objek proyek, atau h) akses
proyek ini lebih mengutamakan aspek internet. Guru bertanggung jawab memonitor
kemampuan mahasiswa dalam mengelola aktivitas peserta didik dalam melakukan tugas
aktivitas-aktivitas mereka dalam penyelesaian proyek mulai proses hingga penyelesaian
proyek yang dipilih dan dirancangnya, relevansi proyek. Pada kegiatan monitoring, guru
atau kesesuaian proyek dengan topik membuat rubrik yang akan dapat merekam
pembelajaran yang sedang dipelajari hingga aktivitas peserta didik dalam menyelesaikan
keaslian (orisinalitas) proyek yang mereka tugas proyek.
garap. Penyusunan laporan dan presentasi/publikasi
hasil proyek Hasil proyek dalam bentuk produk,
2. Langkah Langkah Pembelajaran baik itu berupa produk karya tulis, karya seni,
Berbasis Proyek atau karya teknologi/prakarya dipresentasikan
Adapun langkah-langkah Pembelajaran
berbasis proyek (PBP) dapat dijelaskan sebagai dan/atau dipublikasikan kepada peserta didik
berikut : Penentuan proyek Pada langkah ini, yang lain dan guru atau masyarakat dalam
peserta didik menentukan tema/topik proyek bentuk pameran produk pembelajaran. Evaluasi
berdasarkan tugas proyek yang diberikan oleh proses dan hasil proyek Guru dan peserta didik
guru. Peserta didik diberi kesempatan untuk pada akhir proses pembelajaran melakukan
memilih/menentukan proyek yang akan refleksi terhadap aktivitas dan hasil tugas
dikerjakannya baik secara kelompok ataupun
proyek. Proses refleksi pada tugas proyek dapat
mandiri dengan catatan tidak menyimpang dari
tugas yang diberikan guru. Perancangan dilakukan secara individu maupun kelompok.
langkah-langkah penyelesaian proyek Peserta Pada tahap evaluasi, peserta didik diberi
didik merancang langkah-langkah kegiatan kesempatan mengemukakan pengalamannya
penyelesaian proyek dari awal sampai akhir selama menyelesaikan tugas proyek yang
beserta pengelolaannya. Kegiatan perancangan berkembang dengan diskusi untuk memperbaiki
proyek ini berisi aturan main dalam pelaksanaan kinerja selama menyelesaikan tugas proyek.
tugas proyek, pemilihan aktivitas yang dapat
Pada tahap ini juga dilakukan umpan balik
mendukung tugas proyek, pengintegrasian
berbagai kemungkinan penyelesaian tugas terhadap proses dan produk yang telah
proyek, perencanaan sumber/bahan/alat yang dihasilkan.
dapat mendukung penyelesaian tugas proyek,

163
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
3. Kompetensi bagaimana peserta didik mampu
mengaplikasikan pemahamannya dalam
Kompetensi yang akan dicapai meliputi tiga kehidupan sehari-hari melalui perbuatan atau
aspek yaitu Aspek Kognitif, Afektif dan tindakan.Ketiga domain di atas yang lebih
Psikomotorik. Domain kognitif, afektif dan dikenal dengan istilah domain head,
psikomotorik merupakan pengklasifikasian heart, dan hand merupakan kriteria yang dapat
hasil belajar yang berupa perubahan perilaku digunakan oleh pendidik untuk mengetahui serta
individu. Kawasan kognitif merupakan kawasan mengevaluasi tingkat keberhasilan proses
yang berkaitan dengan aspek-aspek intelektual pembelajaran.
atau berpikir/nalar. Di dalamnya mencakup
pengetahuan (knowledge), pemahaman 4. Pengukuran Aspek Kognitif, Afektif, dan
(comprehension), penerapan (application), Psikomotorik
penguraian (analyze), pemaduan (synthesis),
dan penilaian (evaluation). Dalam aspek 1) Pengukuran Aspek Kognitif
kognitif, sejauh mana peserta didik mampu Menurut Taksonomi Bloom (Sax 1980)
memahami materi yang telah diajarkan oleh sebagaimana dikutip Mimin Haryati,
pendidik, dan pada level yang lebih atas seorang kemampuan kognitif adalah kemampuan
peserta didik mampu menguraikan kembali berfikir secara hirarkis yang terdiri dari
kemudian memadukannya dengan pemahaman pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis,
yang sudah ia peroleh untuk kemudian diberi sintesis dan evaluasi. Pada tingkat pengetahuan,
penilaian/pertimbangan. peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan
Sedangkan kawasan afektif yaitu hapalan saja. Pada tingkat pemahaman peserta
kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek didik dituntut untuk menyatakan masalah
emosional seperti perasaan, minat, sikap, dengan kata-katanya sendiri, memberi contoh
kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Di suatu konsep atau prinsip. Pada tingkat
dalamnya mencakup penerimaan aplikasi, peserta didik dituntut untuk
(receiving/attending), sambutan (responding), menerapkan prinsip dan konsep dalam situasi
tata nilai (valuing), pengorganisasian yang baru. Pada tingkat analisis, peserta didik
(organization), dan karakterisasi diminta untuk menguraikan informasi ke dalam
(characterization). Dalam aspek ini peserta didik beberapa bagian, menemukan asumsi,
dinilai sejauh mana ia mampu membedakan fakta dan pendapat serta
menginternalisasikan nilai-nilai pembelajaran menemukan hubungan sebab akibat. Pada
ke dalam dirinya. Aspek afektif ini erat tingkat sintesis, peserta didik dituntut untuk
kaitannya dengan tata nilai dan konsep diri. menghasilkan suatu cerita, komposisi, hipotesis
Kawasan psikomotorik yaitu kawasan atau teorinya sendiri dan mensintesiskan
yang berkaitan dengan aspek-aspek pengetahuannya. Pada tingkat evaluasi, peserta
keterampilan yang melibatkann fungsi sistem didik mengevaluasi informasi seperti bukti,
syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan sejarah, editorial, teori yang termasuk di
berfungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari dalamnya judgement terhadap hasil analisis
kesiapan (set), peniruan (imitation), untuk membuat kebijakan.
membiasakan (habitual), menyesuaikan Untuk mengukur keberhasilan aspek
(adaptation), dan menciptakan (origination). kognitif ini, maka pengajar harus membuat alat
Ketika peserta didik telah memahami dan penilaian (soal) dengan formulasi perbandingan
menginternalisasikan nilai-nilai mata pelajaran sebagai berikut:
dalam dirinya, maka tahap selanjutnya ialah
164
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
 40% untuk soal yang menguji tingkat Dengan menggunakan formulasi perbandingan
pengetahuan peserta didik. soal di atas, mempermudah seorang
 20% untuk soal yang menguji tingkat pengajar/guru untuk memperjelas cara
pemahaman peserta didik. berfikirnya dan untuk memilih soal-soal yang
 20% untuk soal yang menguji tingkat akan diujikan, selain itu juga dapat membantu
kemampuan dalam penerapan seorang guru agar terhindar dari kekeliruan
pengetahuan. dalam membuat soal. Adapun bentuk tes
 10% untuk soal yang menguji tingkat kognitif diantaranya; tes lisan di kelas, pilihan
kemampuan dalam analisis peserta ganda, uraian obyektif, uraian non obyektif atau
didik. uraian bebas, jawaban atau isian singkat,
 5% untuk soal yang menguji tingkat menjodohkan, portopolio, dan performans.
kemampuan sintesis peserta didik.
 5% untuk soal yang menguji tingkat
kemampuan petatar dalam mengevaluasi

2) Pengukuran Aspek Afektif


Penilaian afektif (sikap) sangat pembelajaran, sehingga pencapaian hasil
menentukan keberhasilan peserta didik untuk belajar bisa maksimal. Hal ini kembali
mencapai ketuntasan dan keberhasilan dalam kepada guru untuk pandai-pandai
pembelajaran. Seorang peserta didik yang tidak mencari metode yang kira-kira dapat
memiliki minat terhadap mata pelajaran merangsang peserta didik untuk belajar
tertentu, maka akan kesulitan untuk mencapai serta tidak merasa jenuh.
ketuntasan belajar secara maksimal. Sedangkan  Penilaian sikap yang berkaitan dengan
peserta didik yang memiliki minat terhadap nilai atau norma yang berhubungan
mata pelajaran, maka akan sangat membantu dengan suatu materi pelajaran.
untuk mencapai ketuntasan pembelajaran secara Untuk mengukur sikap dari beberapa aspek
maksimal.Secara umum aspek afektif yang yang perlu dinilai, dapat dilakukan dengan
perlu dinilai dalam proses pembelajaran beberapa cara, antara lain: observasi perilaku,
terhadap berbagai mata pelajaran mencakup pertanyaan langsung, laporan pribadi, dan
beberapa hal, sebagai berikut: penggunaan skala sikap. Pertanyaan langsung
 Penilaian sikap terhadap materi dapat dilakukan dengan menanyakan secara
pelajaran. Berawal dari sikap positif langsung tentang sikap seseorang berkaitan
terhadap mata pelajaran akan dengan suatu hal, Sedangkan penggunaan skala
melahirkan minat belajar, kemudian sikap, baik menggunakan Skala Diferensiasi
mudah diberi motivasi serta lebih mudah Semantik. Kemudian hasil penilain sikap dapat
dalam menyerap materi pelajaran digunakan sebagai umpan balik untuk
 Penilaian sikap terhadap guru. Peserta melakukan pembinaan terhadap peserta didik.
didik perlu memilki sikap positif Guru dapat memantau setiap perubahan perilaku
terhadap guru, sehingga ia mudah yang dimunculkan peserta didik dengan
menyerap materi yang diajarkan oleh melakukan pengamatan.
guru. 3) Pengukuran Aspek Psikomotorik
 Penilaian sikap terhadap proses Menurut singer (1972) sebagaimana
pembelajaran. Peserta didik perlu dikutip oleh Mimin Haryati, bahwa mata ajar
memiliki sikap positif terhadap proses yang termasuk kelompok mata ajar psikomotor
165
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
adalah mata ajar yang lebih berorientasi pada setelah proses belajar selesai dan kelak dalam
gerakan dan menekankan pada reaksi-reaksi lingkungan kerjanya. Dengan demikian,
fisik. Menurut Ryan (1980) sebagaimana penilaian hasil belajar psikomotor atau
dikutip oleh Mimin Haryati, penilaian hasil keterampilan harus mencakup persiapan, proses,
belajar psikomotor dapat dilakukan dengan tiga dan produk.
cara yaitu, pertama melalui pengamatan
langsung serta penilaian tingkah laku siswa 5. Kompetensi Kewirausahaan
selama proses belajar mengajar. Kedua, setelah Mantyneva (1996) menyarankan kompetensi –
proses belajar yaitu dengan cara memberikan tes kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi
kepada siswa untuk mengukur pengetahuan, wirausaha, yaitu sebagaimana tersaji pada Tabel
keterampilan dan sikap. Ketiga, beberapa waktu 1.

Tabel 1. Kompetensi Wirausaha


Level of Abilities The Context
Learning
Know – why Internal strength Self confidence; Working under pressure;
Flexibility; Courage to take risks; Commitment
Know – how Ability to perform Energy; Initiative; Innovativeness; Persistency
Planning and Analytical thinking; Systematical approach;
organizing Ability in organizing
Know – who Ability to cooperate Networking abilities; Cooperativenss; Ability to
communicate and listen; Customer focus;
Supporting others
Know – Understanding the Instinct for business; Intuitiveness; Anticipation
when core issues
Know – what Managerial abilities Understanding people; Mentoring leadership;
Information Guiding people’ Expertise; Wide – coverage;’
management Learning dan managing; information;
Understanding organizational aspects

Variabel – variabel pengukur penumbuhan  Know – who, merupakan kemampuan


kompetensi kewirausahaan yang disarankan mahasiswa untuk bekerjasama.
oleh Mantyneva (1996), pada tingkat  Know – when, merupakan kemampuan
Pembelajaran sebagai berikut: untuk memahami masalah (isu) utama.
 Know - why, merupakan pemahaman akan  Know-what,merupakan kemampuan
kekuatan internal yang dimiliki oleh manajerial mahasaiswa dan pengelolaan
mahasiswa informasi.
 Know – how, merupakan kemampuan
mahasiswa untuk menghasilkan kinerja,
perencanan dan pengorganisasian.

Kondisi Prosespembelajarant Suasanabelajarkurangk


166
Awal erpusatdidosen ondusif
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Pelaksanaan Metodepembelaja
Perlumetodepembela
-Mengorientasi ranprojectbasedle
jaranyangmelibatka
mahasiswa nperansertamahasis
arning
- Membentuk wa
Jumlah mahasiswa wirausaha

Bagan 1 : Kerangka Pikir

METODE dianalisis secara deskriptif kualitatif. Prosedur


Pada penelitian ini, teknik pengumpul data yang penelitian ini dilakukan dengan prosedur yang
digunakan adalah: teknik tes dan teknik non tes. mengacu pada langkah-langkah sebagai berikut,
Teknik tes digunakan ketika pengumpulan data yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan
tentang tingkat pemahaman kognitif peserta (acting), observasi (observing), dan refleksi
mata kuliah kewirausahaan. Sedangkan teknik (reflecting).
non tes digunakan sebagai sarana pengumpulan Planning menentukan arah dan tujuan
data tentang perubahan sikap/ perilaku yang pembelajaran dan tahap-tahap pelaksanaan serta
terjadi seperti, ketepatan waktu dalam jadwal. Pelaksanaan melakukan apayang sudah
pengumpulan tugas, presentasi makalah dan direncanakan dan observasi adalah melakukan
tingkat partisipasi pada saat diskusi. pengamatan terhadap pelaksanaan kegiatan
Pengumpulan data dengan teknik tes, alat yang pembelajaran dan menilai serta mengukur hasil-
digunakan adalah soal tes, sedangkan hasilnya. Sedangkan reflecting adalah
pengumpulan data dengan teknik non tes, alat melakukan evaluasi atas hasil yang dicapai
yang digunakan adalah lembar/pemandu dibandingkan dengan perencanaannya serta
observasi. melakukan upaya perbaikan guna mencapai
Adapun analisis data dengan standar kompetensi yang diharapkan. Kemudian
menggunakan deskriptif komparatif, yaitu menghitung jumlah mahasiswa yang berhasil
membandingkan nilai tes pada kondisi awal, menjadi wirausaha dengan kompetensi
nilai tes setelah siklus 1, dan nilai tes setelah kewirausahaan yang sudah dimilikinya.
siklus 2. Sedangkan data hasil observasi

Pelaksanaan
Perencanaan Pengamatan

Siklus 1

Refleksi 167
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Pelaksanaan
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”

Perencanaan Siklus 2 Pengamatan


Bagan 2 : Siklus Pembelajaran

HASIL & PEMBAHASAN Tahap berikutnya setelah mahasiswa


diberi perlakuan dengan metode pembelajdaran
Untuk mengetahui ada atau tidaknya yang berbasis pada keaktifan mahasiswa adalah
peningkatan kompetensi mahasiswa terhadap mahasiswia mengikuti ujian tengah semester
mata kuliah Kewirausahaan terlebih dahulu (UTS) untuk dievaluasi tingkat pemahaman
dilakukan pre-test pada mahasisiwa peserta yang pertama. Setelah ujian tengah semester
matakuliah kewirausahaan. Kemudian kepada mahasiswa diberikan pembelajaran SCL lagi
mahasiswa diberikan pembelajaran matakuliah dimana mahasiswa mempresentasikan proposal
Kewirausahaan yang berbasis pada student bisnisnya secara kelompok sebelum akhornya
learning center. Mahasiswa diminta merancang mempraktekkan melaksanakan ide bisnisnya
suatu usaha secara kelompok dengan terlebih dengan membuat produk, menjual dan
dahulu pelakukan pengamatan terhadap melaporkan hasilnya (berapa keuntungannya)
lingkungan usaha khususnya di sekitar kampus. serta melakukan evaluasi diri. Setelah tahap
Setelah diberikan perkuliahan dengan tersebut selesai mahasiswa diarahkan untuk
model pembelajaran student center learning memperbaiki proposal bisnisnya dan mengikuti
dimana mahasiswa diarahkan untuk ujian akhir semester untuk melihat kembali
mengerjakan proyek bisnis per kelompok. kompetensi kewirausahaannya setelah praktek
Mahasiswa mulai merancang suatu usaha bisnisnya.
dengan membuat proposal bisnis yang meliputi Adapun hasil pre-test dan ujian tengah
analisis situasi, merancang proses produksi, semester pada mahasiswia yang aktif sejumlah
menetapkan bahan baku dan menghitung harga 317 mahasiswa meliputi 3 aspek yaitu aspek
pokok produksi, merancang rencana penjualan, kognifif, aspek afektif dan aspek motoric.
dan memprediksi keuntungan. Secara terperinci hasil ketiga aspek tersebut
dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2. Hasil Pre-Test pada Matakuliah Kewirausahaan – Aspek Kognitif (X11 s/d X16)
No Jawaban
Sangat Tidak Setuju Sangat
Item Pertanyaan/ Pernyataan Tidak Setuju Setuju
Setuju
1 Pada awal perkuliahan saya sudah mengetahui 4 (1,3%) 47 245 21
tentang kewirausahaan (14,8%) (77,3%) (6.6%)
168
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
2 Pada awal perkuliahan saya sudah memahami 4 (1,3%) 159 148 6
tentang kewirausahaan (50,2%) (46,7%) (1,9%)
3 Pada awal perkuliahan saya sudah mampu 2 (0,6%) 85 216 14
menyebutkan contoh tentang kewirausahaan (26,8%) (68,1%) (4,4%)
4 Pada awal perkuliahan saya sduah mampu 12 229 73 3
menguraikan pengetahuan tentang (3,8%) (72,2%) (23,0%) (0,9%)
kewirausahaan
5 Pada awal perkuliahan saya sudah mampu 29 240 48 0
memadukan materi-materi kewirausahaan (9,1%) (75,7%) (15,1%)
6 Pada awal perkuliahan saya sudah mampu 28 243 44 1
menerangkan konsep-konsep kewirausahaan (8,8%) (76,7%) (13,9%) (0,3%)

Hasil pre-test terhadap mahasiswa yang mahasiswa dalam memadukan pemahaman


berkaitan dengan aspek kognitif antara lain materi yang satu dengan yang lainnya. Namu
tentang pengetahuan kewirausahaan, demikian di awal perkuliahan ternyata 84,9%
pemahaman kewirausahaan dapat dilihat pada mahasiswa belum memiliki kemampuan
tebel 2 di atas. Dari 317 mahasiswa yang memadukan materi yang satu dengan yang
menjawab tentang pengetahuan kewirausahaan lainnya. Hal ini juga dilihat dari kemampuan
di awal perkuliahan menunjukkan 83,9% menerangkan konsep kewirausahaan yang
(77,3% + 6,6%) sudah mengetahui dan hanya belum dimiliki oleh banyak mahasiswa.
sedikit yang belum mengetahui 16,1%. Dilihat Ternyata hanya 14,2% saja yang memiliki
dari pemahaman kewirausahaan ternyata 51,5% kemampuan menerangkan konsep
(50,2% + 1,3%) belum memahami kewirausahaan dan sisanya yang 85,8%
kewirausahaan dan sisanya 48,5% (46,7% + mahasiswa belum memiliki kemampuan
1,9%) sudah memahami kewirausahaan. menerangkan konsep kewirausahaan di awal
Apabila dilihat dari kemampuan perkuliahannya.
menyebutkan contoh tentang kewirausahaan Tabel 3 menunjukkan hasil pre-test
ternyata 72,5% sudah mampu menyebutkan tentang aspek afektif. Aspek afektif meliputi
contoh dan sisanya 27, 55 belum memiliki bahwa mahasiswa pada awal perkuliahan
kemampuan menyebutkan contoh memilih matakuliah Kewirausahaan, memiliki
kewirausahaan. DIlihat dari kemampuan minat terhadap materi kewirausahaan,
menguraikan kewirausahaan ternyata 76% termotivasi materi kewirausahaan, senang
mahasiswa di awal perkuliahan belum memiliki terhadap dosen kewirausahaan, mendukung
kemampuan menguraikan kewirausahaan dan proses pembelajaran kewirausahaan dan
sisanya 24% sudah memiliki kemampuan menyetujui aturan yang berlaku pada
menguraikan kewirausahaan. perkuliahan kewirausahaan.
Materi kewirausahaan yang banyak
diharapkan dapat meningkatkan kemampuan

Tabel 3. Hasil Pre-Test pada Matakuliah Kewirausahaan – Aspek Afektif (X21 s/d X26)
No Jawaban
Sangat Tidak Setuju Sangat
Item Pertanyaan/ Pernyataan Tidak Setuju Setuju
Setuju

169
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
1 Pada awal perkuliahan saya memilih materi 3 55 227 32
kuliah kewirausahaan (0,9%) (17,4%) (71,6%) (10,1%)
2 Pada awal perkuliahan saya memiliki minat 4 39 226 48
terhadap materi kewirausahaan (1,3%) (12,3%) (71,3%) (15,1%)
3 Pada awal perkuliahan saya termotivasi 3 56 213 45
terhadap materi kuliah kewirausahaan (0,9%) (17,7%) (67,2%) (14,2%)
4 Pada awal perkuliahan saya senang terhadap 1 35 214 67
dosen matakuliah kewirausahaan (0,3%) (11,0%) (67,5%) (21,1%)
5 Pada awal perkuliahan saya mendukung proses 2 35 229 51
pembelajaran mata kuliah kewirausahaan (0,6%) (11,0%) (72,2%) (16,1%)
6 Pada awal perkuliahan saya menyetujui aturan/ 2 37 226 52
norma yang berlaku pada mata kuliah (0,6%) (11,7%) (71,3) (16,4%)
kewirausahaan

Hasil pre-test tentang aspek afektif dosen yang mengajar matekuliah


menunjukkan bahwa mahasiswa pada awall Kewirausahaan (88,6%) dan sisanya (11,4%)
perkuliahan memilih mata kuliah menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju
kewirausahaan karena ditawarkan pada kalau mereka senang dengan dosennya.
semester genap ini. Sebagian besar (81,7%) Pada awal perkuliahan sebagian besar
memilih mata kuliah ini dan hanya sedikit yang mahasiswa mendukung proses pembelajaran
menyatakan tidak memilih (18,3%). Dari 317 matakuliah Kewirausahaan ((88,3%) dan
mahasiswa peserta matakuliah Kewirausahaan menyetujui aturan perkuliahan matakuliah
ternyata sebanyak 274 atau 86,4% menyatakan Kewirausahaan (87,7%). Namun demikian
memiliki minat pada materi kewirausahaan masih ada mahasiswa yang tidak setuju dan
namun sisanya 43 mahasiswa atau 13,6% tidak sangat tidak setuju mendukung prose
memiliki minat terhadap materi matakuliah pembelajaran matakuliah ini (11,7%) dan tidak
Kewirausahaan. setuju dan sangat tidak setuju dengan aturan
Seiring dengan berjalannya waktu perkuliahan ini (11,7%).
perkuliahan ternyata masih ada mahasiswa yang
tidak setuju dan sangat tidak setuju (18,6%) Tabel 4 berikut merupakan hasil pre-test
kalau mereka termotivasi materi matakuliah terhadap aspek motoric yang meliputi
Kewirausahaan pada awal perkuliahannya. merancang proposal, mulai menyusun desain
Sebagian besar mahasiswa (81,4%) menyatakan proposal bisnis, memilah jadwal membuat
setuju dan sangat setuju kalau mereka proposal bisnis, memperbaiki penyusunan
termotivasi materi kewirausahaan. Sebagian proposal bisnia, membuat draf proposal bisnis
besar mahasiswa menyatakan senang dengan dan mendiskusikan draf proposal bisnis.

Tabel 4. Hasil Pre-Test pada Matakuliah Kewirausahaan – Aspek Motorik (X31 s/d X36)
No Jawaban
Sangat Tidak Setuju Sangat
Item Pertanyaan/ Pernyataan Tidak Setuju Setuju
Setuju
1 Pada awal perkuliahan saya mulai merancang 34 210 70 3 (0,9%)
proposal bisnis (10,7% (66,2% (22,1%
) ) )
170
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
2 Pada awal perkuliahan saya mulai menyusun 29 218 66 4 (1,3%)
kerangka/ desain proposal bisnis (9,1%) (68,8% (20,8%
) )
3 Pada awal perkuliahan saya sudah memilah 34 217 62 4 (1,3%)
jadwal pembuatan proposal bisnis (10,7% (68,5% (19,6%
) ) )
4 Pada awal perkuliahan saya sudah melengkapi/ 39 248 27 3 (0,9%)
memperbaiki penyusunan proposal bisnis (12,3% (78,2% (8,5%)
) )
5 Pada awal perkuliahan saya mebuat draft 36 238 39 4 (1,3%)
proposal bisnis (11,4% (75,1% (12,3%
) ) )
6 Pada awal perkuliahan saya mendiskusikan 35 204 74 4 (1,.3)
draft proposal bisnis (11,0% (64,4% (23,3%
) ) )

Ternyata pada awal perkuliahan sebagian besar banyak mahasiswa yang belum memperbaiki
mahasiswa peserta matakuliah Kewirausahaan penyusunan proposal bisnis (90,5%), dan belum
masih banyak yang belum merancang proposal membuat draf proposal bisnis (86,4%) sehingga
bianis 244 orang (77,0%) dan sisanya 73 mereka juga belum bendiskusikan draf proposal
mahasiswa (23%) menyatakan setuju (22,1%) bisnis (75,4%). Namun demikian sudah ada
dan sangat setuju (0,9%) merancang proposal mahasiswa yang sudah memiliki jadwal
bisnis. Seiring dengan merancang proposal membuat proposal bisnis sehingga mereka juga
bisnis ternyata pada awal perkuliahan masih mulai memperbaiki penyusunan proposal
banyak mahasisiwa (77,9%) yang belum bisnisnya (9,5%) dan mulai membuat draft
memulai menyusun desain proposal bisnis. proposalbisnis (13,6%) dan mendiskusikannya
Namun sebanyak 70 mahasiswa (21,9%) dengan teman kelompok (24,6%).
menyatakan sudah mulai menyusun desain Setelah mahasila diberi perlakuan pre-
proposal bisnis. Hal ini nampak dari adanya test kemudian dinilai hasil ujiannya. Setelah
beberapa mahasisiwa yang sudah berjualan ujian pertama (Ujian Tengah Semester)
seiring dengan perkuliahannya. mahasiswa diminta mempertanggungjawabkan
Pada awal perkuliahan juga masih tugasnya dengan melaporkan sejauh mana
banyak mahasiswa yang belum memiliki jadwal proposal yang sudah dirancang sampai
membuat proposal bisnis (79,2%) dan sisanya didiskusikan dengan anggota kelompok untuk
20,8% sudah mulai memiliki jadwal membuat disepakati dijalankan bersama.
proposal bisnis. Dengan demikian juga masih Hasil ujiann tengah semester sebagai berikut :

Tabel 5. Hasil Ujian Tengah Semester Mahasiswa Kewirausahaan Smester genap 2015/2016
Nilai Ujian Tengah Semester Jumlah Mahasiswa Persentase
Lebih Rendah dari 40 (E)
Nilai 40,9 s/d 50,9 ( D )
Nilai 51 s/d 60,9 ( C )
Nilai 61 s/d 70,9 ( C+ )
Nilai 71 s/d 74,9 ( B )
Nilai 75 s/d 79,9 ( B+ )
171
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Nilai 80 s/d 100 ( A )

SIMPULAN Demikian juga pada aspek afektif dan motorik.


Setelah perlakuan tahap pertama, hasil evaluasi
Penerapan metode SCL pada matakuliah menunjukkan terdapat peningkatan kompetensi
Kewirausahaan sudah dilaksanakan namun pada mahasiswa pada tahap kognitif dan afektif.
sampai bulan April 2016 belum tuntas karena Penerapan metode pembelajaran SCL berbasis
mahasiswa masih perlu dievaluasi lagi (UAS). proyek ini masih perlu evaluasi sampai hasil
Hasilnya sudah mampu meningkatkan akhir semester ini sehingga nanti dapat
kompetensi kewirausahaan pada aspek kognitif diketahui kompetensi kewirausahaan
dan afektif, namun aspek motorik belum mahasiswa secara menyeluruh (aspek kognitif,
optimal. Tingkat pemahaman mahasiswa prodi afektif dan motorik). Sampai hasil UTS masih
Manajemen pada matakuliah Kewirausahaan sedikit mahasiswa yang tergerak untuk
pada awal semester masih tergolong rendah. melakukan bisnis.

DAFTAR RUJUKAN
Masmur Muslich, 2011 : Melaksanakan PTK itu
Daryanto, 2011 : Penelitian Tindakan Kelas dan Mudah (Classroom Action Research)
Penelitian Tindakan Sekolah Jakarta, Bumi Aksara.
Yogyakarta,Gava Media.
Triningsih, 2015: Model Wirausaha Mahasiswa
M. Hosnan,2013: Pendekatan Saintifik Dan dalam Membangun Budaya
Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad Enterpreneur.
21, Ghalia Indonesia

172
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Prestasi Belajar Dan Praktik Kewirausahaan
Di Sekolah Mempengaruhi Minat Berwirausaha Siswa Setelah Lulus SMK

Suwarni
Program Studi Manajemen – Universitas Negeri Malang
Jalan Semarang No 5. Hp. 085855987775

Abstrak Untuk membentuk siswa yang memiliki semangat wirausaha, terlebih dahulu perlu
ditanamkan minat berwirausaha dalam diri mereka. Minat juga memegang peranan penting dalam
menentukan arah dan pemikiran seseorang dalam segala tindakannya termasuk juga dalam belajar dan
berprestasi. Siswa SMK diharapkan meningkatkan belajar dan meningkatkan prestasi pada mata
pelajaran kewirausahaan dan bersungguh-sungguh melaksanakan praktik kewirausahaan, bagi guru
SMK senantiasa lebih berinovasi dalam melakukan pengajaran kewirausahaan untuk merangsang
minat berwirausaha siswa. Tujuan dibelajarkannya pendidikan kewirausahaan untuk meningkatkan
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan
mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya,.sedangkan tujuan pendidikan
kewirausahaan melalui beberapa mata pelajaran di SMK. Prestasi belajar dan praktik kewirausahaan
berpengaruh yang signifikan terhadap minat berwirausaha. Sehingga siswa harus (a). Meningkatkan
belajar dan prestasi pada mata pelajaran kewirausahaan dengan cara memperhatikan penjelasan guru
di kelas, mengerjakan tugas , dan rajin belajar serta disiplin sesuai tata tertib yang ada. (b)
Mengikuti praktik kewirausahaan dan membawa alat-alat praktik kewirausahaan sesuai yang
diperintahkan guru untuk memudahkan siswa dalam melaksanakan praktik kewirausahaan agar dapat
pengalaman yang maksimal. (c) Lebih aktif mengikuti seminar dan pelatihan kewirausahaan, praktik-
praktik kewirausahaan untuk memacu semangat berwirausaha agar termotivasi untuk menjadi
wirausaha.

Kata Kunci: Prestasi Belajar, Praktik Kewirausahaan, dan Minat Berwirausaha.

Belajar merupakan suatu proses usaha yang di kecakapan/ketrampilan yang di nyatakan


lakukan seseorang untuk memperoleh suatu sesudah hasil penilaian (Djamarah, 2012:24).
perubahan tingkah laku yang baru secara Prestasi belajar merupakan hasil penilaian dari
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya proses belajar, usaha untuk belajar yang
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. meliputi pemahaman pengetahuan,
Sedangkan menurut (Djamarah, 2011:13) pengaplikasian keterampilan, dan sikap yang di
belajar merupakan suatu proses sesorang untuk kuasai peserta didik dalam memahami mata
melakukan perubahan tingkah laku sebagai pelajaran yang di ujikan melalui tes dan
hasil pengalamannya yang menyangkut hasilnya dapat di lihat di buku rapor.
kognitif, afektif, dan psikomotor. Jadi belajar Menurut Arifin (2012: 12) prestasi
merupakan suatu proses perubahan tingkah belajar merupakan suatu masalah yang bersifat
laku seseorang baik secara kognitif, afektif, dan perenial dalam sejarah kehidupan manusia,
psikomotor untuk melakukan perubahan karena sepanjang rentang kehidupannya
tingkah laku menjadi lebih baik di masa yang manusia selalu mengejar prestasi menurut
akan datang. bidang dan kemampuan masing-masing.
Prestasi belajar merupakan penilaian Prestasi belajar semakin terasa penting untuk di
pendidikan tentang kemajuan siswa dalam bahas, karena mempunyai beberapa fungsi
segala hal yang di pelajari di sekolah yang utama, antara lain: (a). Prestasi belajar sebagai
menyangkut pengetahuan atau indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan

173
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
yang telah di kuasai peserta didik. (b). Prestasi menyuruh. Lebih lanjut Djaali menambahkan
belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin bahwa minat pada dasarnya merupakan
tahu para ahli psikologi biasanya menyebut hal penerimaan akan suatu hubungan antara diri
ini sebagai “tendensi keingin tahuan dan sendiri dengan sesuatu yang di luar diri,
merupakan kebutuhan umum manusia. (c). semakin kuat atau dekat hubungan tersebut
Prestasi belajar sebagai indikator intern dan maka semakin besar minatnya. Dari pendapat
ekstern dari suatu intuisi pendidikan. (d). para ahli di atas dapat di tarik kesimpulan
Prestasi belajar sebagai indikator intern dan bahwa minat merupakan rasa suka dan
ekstern dari suatu institusi pendidikan. (e). ketertarikan yang tumbuh dalam diri seseorang
Presrasi belajar dapat di jadikan indikator daya untuk melakukan suatu kegiatan atau aktivitas
serap (kecerdasan) peserta didik. tanpa ada yang menyuruh. Semakin besar rasa
Pembelajaran praktik merupakan suatu suka atau ketertarikan individu terhadap
proses untuk meningkatkan ketrampilan peserta sesuatu semakin besar pula minat yang akan di
didik dengan menggunakan berbagai metode timbulkan.
yang sesuai dengan keterampilan yang di Wirausaha menurut kamus besar bahasa
berikan dan peralatan yang di gunakan. Selain Indonesia, merupakan orang yang pandai atau
itu pembelajaran praktik merupakan suatu berbakat mengenali produk baru, menentukan
proses pendidikan yang berfungsi membimbing cara produksi baru mengatur permodalan
peserta didik secara sistematis dan terarah operasinya serta memasarkannya.
untuk dapat melakukan suatu ketrampilan. Sedangkan Suryana (2003:3)
Praktik merupakan praktik-praktik yang di mengemukakan bahwa Secara umum,
lakukan di luar lingkungan sekolah (Fuad dan wirausaha memiliki dua peran, yaitu sebagai
Ahmad, 2009:153). Kewirausahaan merupakan penemu (inovator) yaitu menciptakan produk
sebuah ilmu, seni dan keterampilan untuk baru, teknologi dan cara-cara baru, serta
mengelola semua keterbatasan sumber daya, sebagai perencanaan (planner) yaitu berperan
informasi, dan dana yang ada guna merancang usaha baru, merencanakan strategi
mempertahankan hidup, mencari nafkah, atau perusahaan baru, merencanakan ide-ide dan
meraih posisi puncak dalam karir (Hendro peluang dalam perusahaan, dan menciptakan
2011:5). Jadi kesimpulan dari pendapat tentang organisasi perusahaan baru.
praktik kewirausahaan merupakan penerapan Dari paparan pendapat para ahli di atas
ilmu atau kegiatan menjual barang atau produk dapat di simpulkan bahwa wirausaha
dengan menggunakan seni, keterampilan, merupakan seorang yang membuat atau
pengetahuan, sikap, serta mengelola sumber menciptakan sebuah produk yang menarik
daya yang telah di pelajari sebelumnya secara minat konsumen, selain itu seorang wirausaha
bersamaan dalam rangka proses berwirausaha merupakan seorang pembuat keputusan yang
untuk mencari peluang menuju sukses berani mengambil resiko atas ide-ide baru atau
mencapai karir. inovasi yang ia ciptakan.
Pengertian minat menurut Slameto Menurut Hendro (2011:4)
(2010: 180) “minat adalah suatu rasa lebih suka kewirausahaan merupakan kemampuan untuk
dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau merangkai dan memberdayakan semua yang di
aktifitas, tanpa ada yang menyuruh.” miliki. Sedangkan menurut Kasmir (2006: 18)
,sedangkan menurut Djaali (2009: 121) minat mengemukakan bahwa “kewirausahaan
adalah “rasa lebih suka dan rasa ketertarikan merupakan suatu kemampuan dalam hal
pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menciptakan kegiatan usaha”. Lebih lanjut

174
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
kasmir mengemukakan bahwa kemampuan kesediaan untuk kerja keras atau berkemauan
menciptakan memerlukan adanya kreativitas keras untuk berdikari atau berusaha memenuhi
dan inovasi yang terus menerus untuk kebutuhan hidupnya tanpa merasa takut dengan
menemukan sesuatu yang berbeda dari yang resiko yang akan terjadi, serta senantiasa
sudah ada sebelumnya. Menurut Hendro belajar dari kegagalan yang di alami, Haris
(2011:165-166), sikap seorang wirausaha (2013:01) yang dapat di ukur melalui: (a).
adalah: (1) Sikap selalu berpikir positif dalam Memiliki rasa percaya diri (b). Dapat
menghadapi segal hal (positive thinking) (2) mengambil resiko (c). Kreatif dan inovatif (d).
Respon yang positif dari individu terhadap Disiplin dan bekerja keras (e). Berorientasi ke
informasi, kejadia, kritikan, cercaan, tekanan, masa depan (f) Jujur dan mandiri
tantangan, cobaan dan kesulitan (3) Sikap yang
berorientasi jauh ke depan, berpikiran maju, HASIL & PEMBAHASAN
bersifat prestatif dan tidak mudah terlena oleh
hal-hal yang usdah berlalu .(4) Sikap tidak Menurut Alma (2013:7) keberanian
gentar saat melihat pesaing(competitor).(5) membentuk kewirausahaan di dorong oleh guru
Sikap yang selalu ingin tahu, selalu mencari sekolah, sekolah yang memberikan mata
jalan keluar bila ingin maju (6) Sikap yang pelajaran kewirausahaan yang praktis dan
selalu ingin memberi yang terbaik buat orang menarik dapat membangkitkan minat siswa
lain .(7) Sikap yang penuh semangat dan untuk berwirausaha. Sedangkan menurut
berjuang keras (pantang menyerah) sehingga Suryana (2003:32) seseorang memiliki minat
menimbulkan dampak yang baik untuk dunia berwirausaha karena adanya suatu motif
sekelilingnya (8) Punya komitmen yang kuat, tertentu, yaitu motif berprestasi (achievement
integritas yang tinggi dan semangat yang kuat motive).
untuk meraih impian. Pada pendidikan kejuruan di SMK telah
di masukkan mata pelajaran kewirausahaan.
Minat berwirausaha merupakan Fungsi dari mata pelajaran kewirausahaan
kesediaan untuk bekerja keras tekun untuk adalah memberikan pengetahuan terhadap
mencapai kemajuan usahanya, kesediaan untuk peserta didik untuk dapat memiliki
menanggung macam-macam resiko berkaitan keterampilan dalam mengelola produk yang
dengan tindakan berusaha yang di lakukannya, layak jual, selain itu dalam pembelajaran
bersedia menempuh jalur dan cara baru, kewiraushaan di sekolah secara langsung
kesediaan untuk hidup hemat, kesediaan belajar menumbuhkan minat siswa dalam minat
dari yang dialaminya (Fu’adi, 2009:92). Jadi berwirausaha karena pembelajaran
yang di maksud dengan minat berwirausaha kewirausahaan secara langsung menuntut
merupakan ketertarikan, keinginan, serta kecakapan kognitif, afektif, dan psikomotor.
kesediaan untuk bekerja keras atau berkemauan Dengan demikian mata pelajaran
keras untuk menciptakan sebuah peluang kewirausahaan yang telah dipelajari pada waktu
usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dan di sekolah merupakan titik awal untuk
kesejahteraan hidupnya tanpa merasa takut merangsang minat berwirausaha. Secara umum
akan resiko yang terjadi dan yang akan di mata pelajaran ini membekali siswa untuk
hadapi, serta berkemauan keras untuk belajar menggali pengetahuan tentang produk baru ,
dari kesalahan. menentukan bagaimana cara memproduksi
Mengukur minat berwirausaha produk baru, menyusun strategi untuk
merupakan keinginan, ketertarikan serta mengadakan produk baru dan memasarkan

175
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
serta mengatur pemodalan. Hal ini di harapkan sesuai dengan kemampuan dan keahliannya.
agar lulusan SMK yang tidak terserap dalam Kegiatan praktik kewirausahaan di sekolah
lapangan kerja dapat menciptakan suatu secara langsung memberikan bekal untuk
lapangan kerja atau membuka usaha sendiri menjadi wirausahawan yang tangguh dan
untuk mengurangi pengangguran. berbakat dalam melakukan pemasaran barang
Keberanian untuk membentuk mindset dan jasa, menerapkan prinsip profesional
berwirausaha merupakan tugas dari seorang bekerja, melaksanakan komunikasi bisnis,
pendidik atau guru, sekolah yang memberikan mengolah produk dan menciptakan ketrampilan
mata pelajaran praktis dan menarik dapat yang layak jual. Berdasarkan hal di atas,
membangkitkan minat siswa berwirausaha. diharapkan agar lulusan SMK nantinya dapat
Prestasi belajar kewirausahaan dapat menciptakan suatu lapangan pekerjaan baru
diharapkan berakibat pada perubahan tingkah untuk mengurangi pengangguran
laku siswa untuk mulai mengenali dan Pentingnya prestasi kewirausahaan
mempraktekkan kewirausahaan dalam dan praktek kewirausahaan dapat membantu di
kehidupan sehari-hari. Semakin berani siswa dalam menghadapi kenyataan hidup yang
untuk mencoba berwirausaha maka akan penuh dengan permasalahan, sehingga dapat
semakin banyak ide-ide yang di dapat sehingga mencapai kehidupan yang lebih maju dan lebih
akan mempengaruhi minatnya untuk berhasil. Untuk mencapai kemajuan hidup
mengembangkan ide-idenya ke dalam inisiatif manusia harus belajar, dan agar kehidupan
dan kreativitas untuk menghadapi persaingan di manusia mencapai keberhasilan seseorang
dunia usaha. Minat berwirausaha merupakan harus bekerja dan bekreasi. Hal bekerja dan
suatu rasa ketertarikan seseorang atau siswa berkreasi siswa perlu ditunjang dengan
yang di ikuti usaha aktif untuk mempelajari dan pendididikan dan pembelajaran kewirausahaan
mendapatkan pengalaman berwirausaha. yang mantap.
Menurut Hendro (2011), setiap Konsep berpikir untuk mrncari kerja
wirausaha yang sukses memiliki empat unsur setelah lulus sekolah perlu diubah menjadi
pokok seperti kemampuan (yang berhubungan menciptakan pekerjaan. Di sinilah pentingnya
dengan IQ dan keterampilan), keberanian (yang prestasi kewirausahaan dan praktek
berhubungan deengan EQ dan mental), kewirausahaan yang diharapkan dapat
keteguhan hati (hubungannya dengan motivasi memberikan bekal pengetahuan kewirausahaan
diri) dan kreativitas yang menelurkan sebuah di kalangan siswa. Prestasi kewirausahaan dan
inspirasi sebagai cikal bakal ide untuk praktek kewirausahaan diharapkan memberikan
menemukan peluang berdasarkan intuisi landasan teoritis tentang konsep
(hubungan dengan pengalaman). Dari pendapat kewirausahaaan, membentuk pola pikir, sikap,
tersebut dapat disimpulkan siswa yang dan perilaku seorang wirausahawan.
memiliki motif berprestasi dalam dirinya akan Prestasi kewirausahaan dan praktek
mendorong minat berwirausaha dalam diri kewirausahaan sangat diperhiungkan dalam
siswa tersebut untuk memulai berwirausaha. minat berwirausaha. Dua faktor tersebut di atas
Pengalaman yang diperoleh di sekolah dipercaya mempengaruhi minat berwirasusaha
seperti praktik kewirausahaan akan yaitu akses mereka kepada modal, informasi,
menentukan minat siswa untuk berwirausaha, dan kualiatas kewirausahaan yang dimiikinya..
karena didalam dunia industri dan praktik Prestasi kewirausahaan dan praktek
kewirausahaan di sekolah siswa diajarkan kewirausahaan dapat dipercaya bisa
bagaimana bekerja dan memulai berusaha mengembangkan berbagai potensi yang

176
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
dimiliki oleh manusia. Dengan prestasi memperhatikan penjelasan guru di kelas,
kewirausahaan dan praktek kewirausahaan mengerjakan tugas , dan rajin belajar serta
kekuatan intelektual, daya sosial dapat disiplin sesuai tata tertib yang ada. (b)
dikembangkan. Selain itu melalui prestasi Mengikuti praktik kewirausahaan dan
kewirausahaan dan praktek kewirausahaan membawa alat-alat praktik kewirausahaan
pengetahuan, sikap dan ketrampilan dapat sesuai yang diperintahkan guru untuk
ditingkatkan. Prestasi kewirausahaan dan memudahkan siswa dalam melaksanakan
praktek kewirausahaan merupakan pelajaran praktik kewirausahaan agar dapat pengalaman
yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku yang maksimal. (c) Lebih aktif mengikuti
seseorang, sehingga pembelajaran seminar dan pelatihan kewirausahaan, praktik-
kewirausahaan perlu dirancang, diatur, praktik kewirausahaan untuk memacu
dimonitor, sedemikian rupa dan dievaluasi agar semangat berwirausaha agar termotivasi untuk
mampu mencapai tujuan yang telah ditentukan. menjadi wirausaha.
Prestasi kewirausahaan dan praktek Sebagai sumbangan pemikiran bagi guru
kewirausahaan memiliki peran penting bagi SMK untuk meningkatkan prestasi belajar
timbulnya minat berwirausaha. Pembelajaran siswa dengan mengetahui minat berwirausaha
kewirausahaan juga memiliki tujuan untuk siswa secara dini , serta sering mengadakan
meningkatkan hasil belajar yang memadai praktik kewirausahaan dengan di fasilitasi
tentang kewirausahaan. Pembelajaran dengan peralatan yang mendukung untuk
kewirausahaan juga mengarahkan ke satu kebutuhan praktik kewirausahaan agar siswa
elemen yang menentukan minat kewirausahaan bersemangat dalam melaksanakan praktik
misalnya, pengetahuan, keinginan maupun berwirausaha. Selain itu guru lebih berinovasi
kemungkinan untuk melakukan kegiatan dalam program pengajaran, seperti lebih
kewirausahaan. banyak media pembelajaran untuk
menampilkan profil wirausaha sukses dan
SIMPULAN memberikan serta mengadakan seminar –
seminar kewirausahaan kepada siswa sehingga
Prestasi belajar dan praktik kewirausahaan dapat merangsang siswa agar giat belajar agar
berpengaruh yang signifikan terhadap minat prestasi belajar dan praktik kewirausahaan yang
berwirausaha. Sehingga siswa harus (a). diadakan mendapatkan hasil yang lebih baik
Meningkatkan belajar dan prestasi pada mata lagi.
pelajaran kewirausahaan dengan cara

DAFTAR RUJUKAN
Djamarah, S.B. 2012. Prestasi Belajar Dan
Alma, B.2013. kewirausahaan. Bandung: Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha
Alfabeta. Nasional.

Arifin, Z.2012. Evaluasi pembelajaran. Djaali. 2009. psikologi pendidikan. Jakarta:


Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Bumi Aksara.

Djamarah, S.B. 2011. Psikologi Belajar.


Jakarta: PT Rineka Cipta.

177
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Direktorat PSMK.2008. Pelaksanaan Minat Berwirausaha Siswa Kelas XII
Prakerin. Jakarta: Dinas Pendidikan Teknik Audio Video SMK
Nasional. Muhammadiyah 1 Sukoharjo Tahun
Pelajaran 2011/2012. Skripsi tidak
Fuadi, Isky F, dkk. 2009. Hubungan Minat diterbitkan. Skripsi tidak diterbitkan.
Berwirausaha Dengan Perstasi Praktik Ogyakarta: UNY.
Kerja Industri Siswa Kelas XII Teknik
Otomotif SMK Negeri 1 Adiwerna Lestari, D.I & Harmanik, S.H. 2012. Pengaruh
Kabupaten Tegal Tahun Ajaran Prakerin, Prestasi Belajar,
2008/2009, jurnal PTM, (online), 9(2): Lingkungan Keluarga Terhadap Minat
92-98, Berwirausaha Siswa, Economic
(journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JP Education Analysis Journal EEAJ,
TM/article/ (Online), 1(2): 1-6 (2012),
download/205/213), diakses 23 (http://journal.unnes.ac.id/sju/index.p
januari 2012. hp/eeaj), diakses 9 Oktober 2013.

Fuad, N & Ahmad, G. 2009. Integrade Human Nugroho,S.E.A. 2013 Kontribusu Prestasi
Resource Development Jakarta: Praktik Kewirausahaan Terhadap
Kompas Gramedia. Minat Berwirausaha Kelas XII Busana
Butik SMK Negeri 1 Wonosari,
Haris Nst. 2013 angket minat (Online),
berwirausaha.(online),(http://harisnst3 (eprints.uny.ac.id/10370/1/JURNAL%
3.blogspot. com/2013/01/angket- 202.pdf) diakses tahun 2013.
minatberwirausaha5447.html), diakses
04 maret 2014. Putra, A.I 2009. Pengaruh Pengalaman
Prakerin Terhadap Minat
Hendro. 2011. Dasar-dasar Kewirausahaan. Berwirausaha Pada Siswa Kelas XII
Jakarta: Erlangga. Program Keahlian Teknik Mekanik
Otomotif SMK Texmaco Pemalang.
Hurlock, E. 1990. Perkembangan Anak. Jurnal PTM, (Online), 9 (1): 1-5,
Jakarta: Erlangga. (http://journal.unnes.ac.id),diakses2
Desember 2013.
Kasmir.2006. Kewirausahaan.jakarta: PT Raja
Grafindo Persada. Rahmi, A.2013. Pengaruh Latar Belakang
Ekonomi Keluarga dan Pengalaman
Kuncoro, M. 2004. Metode Kuantitatif: Teori Praktik Kerja Industri Terhadap
Dan Aplikasi Untuk Bisnis Dan Minat Berwirausaha Siswa Program
Ekonomi. Edisi Kedua. Yogyakarta: Studi Bisnis Manajemen SMKN 2
Unit Penerbit Dan Percetakan AMP Bukittinggi, (Online),
YKPN. (ejournal.unp.ac.id/students/index.php
/pek/article/download/421/243),
Kusumawardani, M.S 2012. Pengaruh Prestasi diakses tahun 2013.
Praktik Kerja Industri Dan Praktik
Belajar Kewirausahaan Terhadap

178
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Sari, A. S. 2012. Kesiapan Berwirausaha Pada (http://www.sciencedirect
Siswa SMK Kompetensi Keaqhlian .com/science/article/pii/S01664972020
Jasa Boga. Jurnal Pendidikan Vokasi. 00160), diakses 12 maret 2007.
(online), 2 (2): 154-168,
(http://journal.uny.ac.id/index.php/jpv/ Wibowo, 2011. Pembelajaran Kewirausahaan
article/view/1025), diakses 22 agustus dan Minat Berwirausaha Lulus SMK,
2014. Jurnal Eksplanasi (online).6(2): 109-
122, (http://www.muladi-
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor wibowo.blogspot.com), diakses
yang Mempengaruhinya. Jakarta: september 2011.
PT Rineka Cipta.
Wingkel. W.S. 1999. Psikologi Pengajaran.
Suryana. 2003. Kewirausahaan: Pedoman Jakarta. PT Grasindo.
Praktis, Kiat, dan Proses Menuju Winarno, A 2011. Pendidikan Kewirausahaan
Sukses jakarta:Salemba Berbasis Nilai:Dilengkapi Pedoman
Empat. Pembelajaran Model Internalisasi.
Malang. CV. Putra Media Nusantara.
Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D. Bandung: Wiyono, G. 2011. Merancang Penilaian Bisnis:
Alfabeta. Dengan Alat Analisis SPSS 17.0 &
Smart PLS 2.0. Yogyakarta: Unit
Soemanto, W.2002. Sekuncup Ide Operasional Penerbit Dan Percetakan STIM
Pendidikan Wiraswasta. Jakarta: PT Yogyakarta.
Bumi Aksara.
Yanti, P. E. D., Nuridja, i made, & dunia, i
Sudira, P.2006. kurikulum Tingkat Satuan ketut . 2014. Pengaruh lingkungan
Pendidikan SMK, Jakarta: Direktorat keluarga terhadap minat berwirausaha
Pembinaan Sekolah Menengah siswa kelas XI SMK negeri 1
Kejuruan. singaraja, (online), (4): 1-11,
(http://ejournal.undiksha.ac.id /index.
Universitas Negeri Malang. 2010. Pedoman php/JJPE/article/view1902), diakses
Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, 22 agustus 2014.
Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah,
Laporan Penelitian: Edisi Kelima. Yulianto, A. 2013, pengaruh prestasi kerja
Malang: Universitas Negeri Malang. industri terhadap minat berwirausaha
siswa gardan, (Online), 4 (1): 1-11,
Wang, K. C. & Wong, P. K. 2004. (http://ejournal.undiksha.ac.id/index.
Entrepreneurial interest of university php/JJPE/article/view/1902, diakses
students in Singapore, (Online), 24 22 agustus 2014.
(2): 163 – 172,

179
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
ANTARA KARAKTER DAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL
(Menggali Hubungan Kewirausahaan Sosial Berbasis Karakter)

Diah Ayu Septi Fauji


Ema Nurzainul Hakimah
Universitas Nusantara PGRI Kediri1
Email : dseptifauzi@gmail.com, Ema_hakimah@gmail.com

Abstrak : Artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan karakter dalam pembelajaran
kewirausahaan khususnya kewirausahaan sosial, melalui nilai – nilai karakter yaitu ketaatan
beribadah, kejujuran baik dibidang akademik maupun non akademik, disiplin, tanggung jawab,
hormat, peduli dan kemampuan bekerjasama. Metode penelitian menggunakan pendekatan penelitian
tindakan kelas dengan mendasarkan pada pembelajaran berdasarkan proyek(Project Based
Learning)dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Subyek pada penelitian ini adalah mahasiswa
jurusan Manajemen FE UNPGRI yang menempuh mata kuliah kewirausahaan sebanyak 45 orang.
Sedangkan obyek penelitian yaitu ketaatan beribadah, kejujuran, kedisiplinan,tanggung jawab,
hormat, peduli dan kemampuan bekerjasama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa
dengan ciri ciri yang sesuai obyek penelitian memiliki orientasi untuk berwirausaha khususnya dalam
bidang sosial. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pihak fakultas
untuk mengembangkan model pembelajaran kewirausahaan berbasis karakter.

Kata Kunci : Kewirausahaan Sosial, Karakter

Berwirausaha menjadi trendsetter pekerjaan professional, menguasai pengembangan ilmu


akhir – akhir ini. Mengingat lapangan pengetahuan dan teknologi dibidang ekonomi,
pekerjaan yang ada tidak mampu menampung akuntansi,manajemen dengan berbasis etika,
lulusan –lulusan dari perguruan tinggi, kesadaran ketuhanan,kemanusiaan, lingkungan,
SMK,SMA dan lain – lainnya. Materi – materi dan berjiwa wirausaha serta berdaya saing
tentang kewirausahaan sudah diajarkan pula memiliki kepedulian terhadap pembentukan
sejak dibangku sekolah menengah maupun karakter bangsa. Artinya, lulusan FE UNPGRI
perguruan tinggi. Berwirausaha sampai dengan dituntut tidak hanya cerdas secara intelektual
saat ini memang masih menjadi pioner bagi tetapi juga memiliki akhlak mulia dan
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Para pelaku berkarakter yang baik.
usaha baik kecil, menengah maupun besar Pembelajaran dalam mata kuliah
menjadi pahlawan bagi negara di era kewirausahaan pada umumnya masih
Masyarakat Ekonomi ASEAN saat ini. menggunakan metode lama yaitu perkuliahan
Namun saat ini berwirausaha masih klasikal/konvensional sehingga mahasiswa
dipahami sebagai usaha yang berorientasi pada kurang memiliki daya tanggap (respon)
profit semata dan belum sampai pada tahap terhadap permasalahan – permasalahan yang
wirausaha sosial. Universitas Nusantara PGRI ada didunia bisnis secara nyata terutama terkait
Kediri (UNPGRI)sebagai salah satu perguruan dengan kewirausahaan
tinggi melalui visinya Menjadi fakultas yang sosial(Sociopreneurship). Sehingga dalam
menghasilkan sumber daya manusia kesempatan ini, penulis tertarik mengangkat
180
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
masalah karakter dan hubungannya dengan diinginkan. Kewirausahaan sosial adalah
kewirausahaan sosial. kewirausahaan yang ditujukan untuk
Kewirausahaan sosial adalah kepentingan masyarakat bukan sekadar
kewirausahaan yang ditujukan untuk memaksimalkan keuntungan pribadi.
kepentingan masyarakat bukan sekedar Kewirausahaan sosial biasa disebut
memaksimalkan keuntungan pribadi. 'pengembangan masyarakat' atau “organisasi
Kewirausahaan sosial biasa disebut dengan bertujuan sosial' (Tan, 2005).
“pengembangan masyarakat” atau”organisasi Bentuk Wirausaha Sosial
bertujuan sosial”(Tan,2005). Oleh karenanya Ada beberapa bentuk wirausaha sosial (Tan,
dirasa penting mengetahui hubungan karakter 2005)
dengan kewirausahaan sosial untuk nantinya
dapat dibuat sebuah model pembelajaran yang
lebih inovatif yang memadukan antara a. Organisasi berbasis komunitas
penanaman nilai – nilai moral yang Organisasi semacam ini biasanya dibuat
menyangkut baik dan buruk dan pemahaman untuk mengatasi masalah tertentu dalam
kewirausahaan sosial. komunitas (kelompok masyarakat), misalnya
Dari latar belakang tersebut ,maka menyediakan fasilitas pendidikan untuk anak-
rumusan masalah yang akan dibahas pada anak miskin, panti sosial untuk anak terlantar
penelitian ini adalah : Bagaimana hubungan dsb. Biasanya dukungan finansial didapatkan
karakter dengan pembelajaran kewirausahaan dari sedekah, amal jariyah, sumbangan donatur.
khususnya kewirausahaan sosial. Untuk menjalankan organisasi, tenaga
Sedangkan untuk tujuan pada penelitian sukarelawan (tenaga profesional, remaja,
ini adalah untuk mengetahui hubungan karakter masyarakat umum) direkrut untuk memberikan
dengan pembelajaran kewirausahaan dan tujuan pelayanan. Terkadang organisasi keagamaan
khususnya adalah untuk mendapatkan model melakukan wirausaha sosial semacam ini.
pembelajaran yang lebih inovatif yang Organisasi ini sangat tergantung pada
memadukan antara penanaman nilai – nilai dukungan masyarakat lokal. Contoh: Panti
moral yang menyangkut baik atau buruk dan Asuhan Sayap Ibu (Yogyakarta), Sekolah
pemahaman kewirausahaan sehingga dapat Darurat Kartini (Jakarta) dan sebagainya.
memberikan kontribusi kepada pihak fakultas b. Socially responsible enterprises
untuk mengembangkan model pembelajaran Wirausaha sosial ini berbentuk
kewirausahaan berbasis karakter. perusahaan yang melakukan usaha komersial
Kewirausahan Sosial untuk mendukung/membiayai usaha sosialnya.
Germak & Singh (2010:80) menyatakan Wirausaha mendirikan dua organisasi sekaligus.
bahwa kewirausahaan sosial Satu organisasi berwatak profit sedangkan satu
memgkombinasikan ide-ide inovatif untuk lagi berwatak non-profit. Sebagian keuntungan
perubahan sosial, yang dilakukan dengan yang didapatkan dari organisasi profit
mengaplikasikan strategi dan keterampilan ditujukan untuk mendukung/membiayai usaha
bisnis. Lebih dalam dari pemahaman tersebut, sosialnya. Contoh: Kedai Kebun dan Kedai
Dhewanto (2013:47) menjelaskan bahwa Kebun Forum (Yogyakarta), Banyan Tree
kewirausahaan sosial bekerja dengan Holiday Resorts dan Banyan Tree Gallery
mendefinisikan masalah sosial tertentu dan (Singapura)
kemudian mengatur, membuat dan mengelola c. Socio-economic atau dualistic enterprises.
usaha sosial untuk mencapai perubahan yang
181
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Wirausaha sosial ini berbentuk pada pemegang saham. Sedangkan hasil sosial
perusahaan komersial yang menjalankan yang diharapkan adalah masalah sosial teratasi
usahanya berdasarkan prinsip-prinsip sosial. atau setidaknya berkurang.
Misalnya perusahaan yang melakukan daur Karakteristik yang dimiliki social
ulang sampah rumah tangga, organisasi yang entrepreneur (Borstein, 2006,)
mempekerjakan orang cacat, kredit mikro a. Orang-orang yang mempunyai visi untuk
untuk masyarakat pedesaaan. Contoh: Lunar memecahkan masalah - masalah
Media Kreasi (Yogyakarta), Grameen Bank kemasyarakatan sebagai pembaharu
(Bangladesh). masyarakat dengan gagasan - gagasan yang
sangat kuat untuk memperbaiki taraf hidup
Perbedaan wirausaha sosial dan wirausaha masyarakat.
bisnis. b. Umumnya bukan orang terkenal, misal :
Selama ini istilah wirausaha dokter, pengacara, insinyur, konsultan
diidentikkan dengan wirausaha bisnis yang manajemen, pekerja sosial, guru dan wartawan.
tujuannya melakukan inovasi untuk kekayaan c. Orang-orang yang memiliki daya
individu. Oleh karena itu perlu membedakan transformatif, yakni orang-orang dengan
wirausaha bisnis dengan wirausaha sosial: gagasan baru dalam menghadapi masalah
a. Biasanya wirausaha bisnis juga melakukan besar, yang tak kenal lelah dalam mewujudkan
tindakan tanggungjawab sosial seperti: misinya, menyukai tantangan, punya daya
menyumbangkan uang untuk organisasi nirlaba, tahan tinggi, orang-orang yang sungguh-
menolak untuk terlibat dalam jenis usaha sungguh tidak mengenal kata menyerah hingga
tertentu; menggunakan bahan yang ramah mereka berhasil menyebarkan gagasannya
lingkungan dan praktek; mereka sejauh mereka mampu.
memperlakukan karyawannya baik dan layak. d. Orang yang mampu mengubah daya kinerja
Wirausaha sosial bekerja lebih dari itu, masyarakat dengan cara terus memperbaiki,
berusaha mengatasi akar masalah sosial, memperkuat, dan memperluas cita-cita.
pengahasilannya didapatkan dari menjalankan e. Orang yang memajukan perubahan sistemik :
misinya tersebut misalnya: mempekerjakan bagaimana mereka mengubah pola perilaku dan
orang cacat fisik atau mental, miskin atau pemahaman.
penyandang masalah sosial tertentu (PSK, anak f. Pemecah masalah paling kreatif.
jalanan, tuna wisma); menjual produk atau jasa g. Mampu menjangkau jauh lebih banyak orang
untuk mengatasi masalah sosial (memproduksi dengan uang atau sumber daya yang jauh lebih
alat bantu untuk orang cacat, bank masyarakat sedikit, dengan keberanian mengambil resiko
miskin, panti sosial, balai latihan kerja, sehingga mereka harus sangat inovatif dalam
pendidikan untuk kelompok marjinal). mengajukan pemecahan masalah.
b. Ukuran keberhasilan wirausaha bisnis adalah h. Orang-orang yang tidak bisa diam, yang
kinerja keuangan (nilai perusahaan, keuntungan ingin memecahkan masalah masalah yang telah
bagi pemegang saham/pemilik). Ukuran gagal ditangani oleh pranata (negara dan
keberhasilan wirausaha sosial adalah hasil mekanisme pasar) yang ada.
keuangan dan sosial. Ukuran keuangannya i. Mereka melampaui format-format lama
adalah pendanaan yang terus menerus sehingga (struktur mapan) dan terdorong untuk
menjamin keberlangsungan organisasi. menemukan bentuk-bentuk baru organisasi.
Keuntungan finansial diarahkan untuk
meningkatkan skala kegiatan bukan dibagikan
182
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
j. Mereka lebih bebas dan independen, lebih mahasiswa dalam melakukan insvestigasi dan
efektif dan memilih keterlibatan yang lebih memahaminya.
produktif. Model pembelajaran proyek adalah
Karakter langkah-langkah pembelajaran untuk mencapai
Karakter merupakan sikap moral tujuan pembelajaran tertentu, yang dilakukan
seseorang. Sedangkan Pendidikan karakter melalui suatu proyek dalam jangka waktu
secara psikologis mencakup dimensi moral tertentu dengan melalui langkah-langkah
reasoning, moral feeling, dan moral behavior. sebagai berikut: (1) persiapan/perencanaan; (2)
Secara praktis, pendidikan karakter adalah pelaksanaan; (3) pembuatan laporan; dan (4)
suatu sistem penanaman nilai-nilai perilaku mengkomunikasikan hasil kegiatan serta
(karakter) kepada warga sekolah atau kampus evaluasi. Proyek membantu mahasiswa untuk
yang meliputi komponen pengetahuan, melibatkan keseluruhan mental dan fisik,
kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk syaraf, indera termasuk kecakapan sosial
melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap dengan melakukan banyak hal sekaligus.
Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, Pembelajaran proyek ini merupakan salah satu
lingkungan, maupun kebangsaan sehingga bentuk pendekatan Contextual Teaching and
menjadi manusia paripurna (insan kamil). Learning/CTL). Kontekstual dalam proyek ini
Karakter dibentuk dari pembiasaan- adalah menghubungkan antara materi teori
pembiasaan (habituation). Pembiasan dengan kenyataan di lapangan serta dapat
dimaksud dapat dilakukan di kampus dengan mempraktikkan hal-hal yang terkait dengan
berbagai cara dan menyangkut banyak hal teori kewirausahaan sosial dalam kehidupan
seperti disiplin waktu, etika berpakaian, etika sehari-hari, sehingga mahasiswa tidak hanya
pergaulan, perlakuan mahasiswa kepada sekedar tahu teori kewirausahaan sosial tetapi
karyawan, dosen, dan pimpinan fakultas, dan juga melihat dari dekat bagaimana usaha yang
sebaliknya. Untuk pembentukan karakter dijalankan dengan prinsip sosial tersebut.
diperlukan pula lingkungan yang sehat dan Sedangkan Penelitian terdahulu yang menjadi
kondusif. inspirasi bagi penulis berjudul “Pengembangan
Nilai-nilai karakter utama yang akan Metode Pembelajaran Pendidikan Karakter
dibahas kali ini adalah: (1) ketaatan beribadah; Melalui Kewirausahaan Sosial
(2) kejujuran; (3) disiplin dan tanggung jawab, (Sociopreneurship) karya Penny Rahmawaty,
(4) rasa hormat dan peduli serta (5) kerjasama. Dyna Herlina Suwarto, M.Lies Endarwati.
Pembelajaran Berbasis Proyek
Project based Learning (Pembelajaran METODE
Berbasis Proyek) merupakan metoda belajar
yang menggunakan masalah sebagai langkah Penelitian mengenai hubungan karakter dengan
awal dalam mengumpulkan dan kewirausahaan sosial ini dirancang dalam
mengintegrasikan pengetahuan baru bentuk Penelitian Tindakan kelas (Classroom
berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas Action Research) dengan mengadaptasi model
secara nyata. PBL dirancang untuk digunakan Kemmis & Taggart. Metode penelitian ini
pada permasalahan komplek yang diperlukan terdiri dari beberapa siklus seperti yang
digambarkan pada gambar berikut ini:

183
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Gambar 1
Model pembelajaran yang dijadikan Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan
sebagai bahan penelitian tindakan kelas adalah pada mata kuliah Kewirausahaan dengan
model pembelajaran berbasis proyek (Project mengambil topik bahasan Kewirausahaan
Based Learning). Mahasiswa diberi tugas untuk Sosial. Nilai – nilai karakter yang
mengamati beberapa bisnis yang berwawasan dikembangkan adalah ketaatan beribadah,
sosial di sekitar mereka dan membandingkan kejujuran, disiplin dan tanggung jawab, hormat
dengan bisnis yang berorientasi keuntungan dan peduli serta kerjasama. Pelaksanaannya
(profit). Setelah melalui pembelajaran di kelas dilakukan dalam dua siklus yaitu siklus I
untuk memberikan pemahaman mengenai dilaksanakan dalam dua kali pertemuan yang
kewirausahaan sosial maka mahasiswa yang meliputi pengertian kewirausahaan dan
dibagi kedalam kelompok-kelompok kewirausahaan sosial dan pembagian kelompok
tugas/proyek diajak untuk melakukan studi tugas dalam bentuk proyek kegiatan
lapangan melihat dari dekat usaha yang kewirausahaan sosial. Siklus II dilaksanakan
berbentuk social entrepreneurship. Setelah dalam tiga kali pertemuan meliputi kajian
kunjungan lapangan tersebut kelompok diberi secara teoritis dan studi lapangan dengan
waktu untuk membuat laporan dan mengunjungi sebuah usaha yang melakukan
mempresentasikan di depan kelas hasil prinsip kewirausahaan sosial
kunjungan lapangan dan dikaitkan dengan teori (sociopreneurship) yaitu Desa Wisata Temas
yang telah mereka peroleh. yang berlokasi di desa Temas Batu Malang.
Penelitian ini dilaksanakan di semester Penjabaran nilai – nilai karakter yang diamati
gasal tahun akademik 2015/2016. Subjek adalah selama melakukan kunjungan lapangan
penelitian adalah mahasiswa semester tiga dan presentasi kelompok dikelas. Metode
Program Studi Manajemen yang mengambil pembelajaran dalam topik kewirausahaan sosial
mata kuliah Kewirausahaan kelas regular ini menggunakan pendekatan/metode Project
(bersubsidi) yang berjumlah 45 orang Based Learning dimana masing – masing
mahasiswa. Analisis data dilakukan dengan kelompok membuat suatu proyek yang
menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dikembangkan berdasarkan kebutuhan sosial
yaitu analisis yang didasarkan pada hasil masyarakat.
pengolahan data. 1. Data Responden
Dari jumlah mahasiswa yang mengikuti
HASIL & PEMBAHASAN perkuliahan kewirausahaan yang
mengintegrasikan pendidikan karakter dalam
184
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
topik kewirausahaan sosial sebanyak 45 orang M s/d M + 1,5 SD = Sedang
dengan rincian laki – laki sebanyak 15 orang M – 1,5 SD s/d M = Cukup
(33%) dan perempuan 30 orang (67%). M – 1,5 SD kebawah = Kurang
2. Analisis Deskriptif M Ideal (Mi) dan standar Deviasi Idel (Sdi)
Penelitian ini menggunakan lima data diperoleh berdasarkan norma sebagai berikut :
yang digunakan untuk mengukur indikator nilai M = ½ (skor tertinggi – skor terendah)
– nilai karakter yang dikembangkan yaitu SD = ¹/6 (skor tertinggi – skor terendah)
ketaatan beribadah, kejujuran, disiplin dan a. Nilai Karakter Ketaatan Beribadah
tanggung jawab, hormat dan peduli serta Data nilai karakter ketaatan beribadah
kerjasama. Selain itu juga digunakan data menunjukkan skor tertinggi yang
mengenai kesiapan mahasiswa menerima dicapai adalah 25 dan skor terendah
pelajaran/ materi dan proses belajar mengajar. yang dicapai adalah 3. Hasil analisis
Deskripsi data yang disajikan meliputi Mean yang diperoleh adalah nilai mean
(M),Median (Me), Modus (Mo), dan Standar sebesar 24 dan standar deviasi 5,33.
Deviasi (SD). Perhitungan kelas mengacu pada Pengkategorian penilaian nilai ketaatan
rumus Sturgess yaitu nilai k = 1 +3,332 Log n, beribadah terhadap minat
kemudian dilanjutkan dengan kewirausahaan sosial dapat dilihat pada
pengidentifikasian kecenderungan variabel dan tabel :
memperhitungkan empat kategori berikut :
M + 1,5 SD keatas = Tinggi

Tabel 1 Pengkategorian Nilai Ketaatan Beribadah


Interval Keterangan Jumlah Prosentase
≥ 32 Tinggi 1 2,22
24 - 31 Sedang 29 64,44
16 - 23 Cukup 15 33,34
≤ 15 Kurang 0 0
Jumlah 45 100
pembiasaan (habit) bagi pembentukan
Nilai karakter ketaatan beribadah karakter mahasiswa dan menghasilkan
berdasarkan pengkategorian yang mahasiswa memiliki kepekaan terhadap
dibuat menunjukkan skor sedang hal – hal sosial.
sebesar 64,44% dan cukup taat b. Nilai Karakter Disiplin Dan Tanggung
beribadah sebesar 33,34%. Ketaatan Jawab
beribadah ini diwujudkan dalam Nilai karakter disiplin dan tanggung
kebiasaan mahasiswa berdoa ketika jawab terhadap minat kewirausahaan
memulai suatu kegiatan dan selesai sosial menunjukkan skor tertinggi yang
melakukan kegiatan. Mahasiswa sudah dicapai adalah 24 dan skor terendah
terbiasa dengan melakukan kegiatan yang dicapai adalah 11. Hasil analisis
tersebut. Hal ini menjadikan yang diperoleh adalah nilai mean
185
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
sebesar 15 dan standar deviasi sebesar disiplin dan tanggung jawab dapat
3,67. Pengkategorian penilaian terhadap dilihat pada tabel :

Tabel 2 Pengkategorian penilaian terhadap disiplin dan tanggung jawab


Interval Keterangan Jumlah Prosentase
≥ 20 Tinggi 29 64,45
15 – 19 Sedang 14 31,11
10 – 14 Cukup 2 4,44
≤9 Kurang 0 0
Jumlah 45 100

Nilai karakter disiplin dan tanggung tertinggi yang dicapai adalah 24 dan
jawab terhadap kewirausahaan sosial skor terendah yang dicapai adalah 14.
berdasarkan pengkategorian Hasil analisis yang diperoleh adalah
menunjukkan skor tinggi sebesar nilai mean sebesar 18 dan standar
64,45%. deviasi sebesar 4. Pengkategorian
c. Nilai Karakter Kejujuran penilaian kejujuran terhadap
Nilai karakter kejujuran terhadap kewirausahaan sosial dapat dilihat pada
kewirausahaan sosial menunjukkan skor tabel berikut :

Tabel 3 Pengkategorian penilaian kejujuran terhadap kewirausahaan sosial

Interval Keterangan Jumlah Prosentase


≥ 24 Tinggi 22 4,44
18 – 23 Sedang 31 68,89
12 – 17 Cukup 12 26,67
≤ 11 Kurang 0 0
Jumlah 45 100

Nilai karakter kejujuran terhadap menunjukkan skor tertinggi yang


kewirausahaan sosial berdasarkan dicapai adalah 33 dan skor terendah
pengkategorian menunjukkan skor yang yang dicapai adalah 17. Hasil analisis
sedang sebesar 68,89% dan cukup yang diperoleh adalah nilai mean
sebesar 26,67%. sebesar 21 dan standar deviasi sebesar
d. Nilai Karakter Hormat dan Peduli 4,67. Pengkategorian penilaian terhadap
Data nilai karakter hormat dan peduli hormat dan peduli dapat dilihat pada
terhadap kewirausahaan sosial tabel :

Tabel 4 Pengkategorian penilaian terhadap hormat dan peduli


Interval Keterangan Jumlah Prosentase
≥ 28 Tinggi 22 48,89
21 – 27 Sedang 21 46,67
14 – 20 Cukup 2 4,44
186
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
≤ 13 Kurang 0 0
Jumlah 45 100

Nilai karakter hormat dan peduli tertinggi yang dicapai adalah 34 dan
terhadap kewirausahaan sosial skor terendah yang dicapai adalah 16.
berdasarkan pengkategorian Hasil analisis yang diperoleh adalah
menunjukkan skor tinggi sebesar nilai mean sebesar 21 dan standar
48,89% dan sedang sebesar 46,67%. deviasi sebesar 4,67. Pengkategorian
e. Nilai Karakter Kerjasama penilaian terhadap kerjasama dapat
Data nilai kerjasama terhadap dilihat pada tabel :
kewirausahaan sosial menunjukkan skor

Tabel 5 Pengkategorian penilaian terhadap kerjasama


Interval Keterangan Jumlah Prosentase
≥ 28 Tinggi 31 68
21 – 27 Sedang 12 68,89
14 – 20 Cukup 2 26,67
≤ 13 Kurang 0 0
Jumlah 45 100

Nilai karakter kerjasama terhadap kuat antara karakter dan kewirausahaan sosial
kewirausahaan sosial berdasarkan dilingkungan FE UNPGRI Kediri diharapkan
pengkategorian menunjukkan skor tinggi dapat menjadi masukan dalam pengembangan
sebesar 68,89 %. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran praktik kewirausahaan khususnya
mahasiswa yang memiliki karakter kerjasama kewirausahaan sosial. Praktik kewirausahaan
yang tinggi memiliki ketertarikan terhadap yang berkarakter dan sehat seyogyanya akan
kewirausahaan sosial. mampu mengakselerasi program pembangunan,
menambal lubang – lubang permasalahan sosial
SIMPULAN yang belum mampu diselesaikan oleh
pemerintah.
Kewirausahaan sosial merupakan salah satu Penanaman nilai – nilai karakter yang
bentuk kewirausahaan yang bertujuan untuk baik menjadi sangat penting ketika
membantu masyarakat. Wirausaha sosial perkembangan dan dinamika masyarakat yang
adalah inisiatif yang inovatif. Penanaman nilai berkembang. Pelaksanaan implementasi
– nilai karakter yang baik menjadi sangat pendidikan karakter dalam bentuk
penting ketika perkembangan dan dinamika pengembangan metode pembelajaran yang
masyarakat yang berkembang akhir – akhir ini terintegrasi sebaiknya direncanakan secara
cenderung berdampak pada hal – hal yang matang dan mendalam sehingga hasil yang
kurang positif. Jika dahulu orang berfikir upaya dicapai dapat sesuai dengan tujuan yang
untuk menyelesaikan masalah sosial adalah diharapkan. Pengukuran nilai – nilai karakter
dengan meminta sumbangan,maka sekarang yang diintegrasikan dalam model pembelajaran
upaya penyelesaian masalah dapat dilakukan belum memilii bentuk standar sehingga
dengan kreatif. Dengan adanya hubungan yang dimungkinkan memperoleh hasil yang berbeda
187
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
jika dilakukan oleh orang yang berbeda. Oleh implementasi pendidikan karakter di
karenanya diharapkan penelitian ini dapat universitas.
diperoleh suatu bentuk standar mengenai

DAFTAR RUJUKAN Mengembangkan Habits of Mind Studi


Kasus Di SMP KPS Nasional
Appanah, S. Dev., dan Estin, Brooke. (2009). Balikpapan, Jurnal Pendidikan Inovatif,
‘Social Entreprenuership Definition Volume 1, Nomor 2.
Matrix’. Artikel diunduh dari
www.changefusion.com, 17-08-2015. Rahmawaty,Penny dkk . Pengembangan
Metode Pembelajaran Pendidikan
Borstein, David.2006. Mengubah Karakter Melalui Kewiirausahaan
Dunia:Kewirausahaan Sosial dan Sosial (Sociopreneurship).Fakultas
Kekuatan Gagasan Baru.InsistPress- Ekonomi Universitas Negeri
Nurani Dunia. Yogyakarta. Diunduh pada tanggal
9/2/2015.
Boschee,Jerr., dan McClurg, Jim.
(2003).‘Toward a Better Understanding Tan, Wee-Ling., Williams, John., dan Tan,
of Social Entreprenuership’.Artikel Teck-Meng. (2005). ‘Defining the
diunduh dari http://www.se- ‘Sosial’ in ‘Sosial Entrepreneurship’:
lliance.org/better_understanding.pdf, Altruism and Entrepreneurship’.
17-08-2015. International Entrepreneurship and
Management Journal 1, pp 353-365.
Purworini, Stevani Endah (2006) Pembelajaran
Berbasis Proyek Sebagai Upaya

188
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Pentingnya Diklat Laboratorium Inovasi Kepemimpinan
Untuk Meneguhkan Entrepreuner Agen Perubahan Pada Instansi Pemerintah

Hary Wahyudi
Widyaiswara Madya Badan Diklat Jatim
Email : hary_wahyudi2003@yahoo.com

Abstrak : Salah satu kompenen dalam penilaian akreditasi A adalah peran tenaga pengajar
kediklatan (widyaiswara) yang mampu menunjukan pengalaman yang mendukung penguasaan
substansi, yang berperan sebagai konsultan, riset dan praktisi diluar lembaga diklat. Serta kapasitas
widyaiswara dalam pengembangan profesi melalui penerbitan karya tulis ilmiah dalam bentuk buku,
proceeding maupun jurnal ilmiah.Serta hasil penyelenggaraan diklat berupa produk yang dihasilkan
oleh penyelenggara diklat, yakni yang dinilai dari kualitas produk yang dihasilkan oleh seluruh
peserta diklat kepemimpinan dan diklat prajabatan dalam mengimplementasikan proyek perubahan
maupun aktualisasi nilai-nilai diinstansinya.Widyaiswara sebagai agen perubahan adalah
individu/kelompok terpilih yang menjadi pelopor perubahan dan sekaligus dapat menjadi contoh dan
panutan dalam berperilaku yang mencerminkan integritas dan kinerja yang tinggi di lingkungan
organisasinya. Widyaiswara agen perubahan bertanggung jawab untuk selalu mempromosikan dan
menjalankan keteladanan mengenai peran tertentu yang berhubungan dengan pelaksanaan peran,
tugas dan fungsi yang menjadi tanggung jawabnya.

Keywords: Inovasi, Kepemimpinan, Widyaiswara, Agen Perubahan

Pada awal tahun 2016 Lembaga Administrasi Serta hasil penyelenggaraan diklat berupa
Negara memberikan Akreditasi kepada seluruh produk yang dihasilkan oleh penyelenggara
lembaga diklat instansi pemerintah dan Badan diklat, yakni yang dinilai dari kualitas produk
Diklat Jatim mendapatkan nilai akreditasi A yang dihasilkan oleh seluruh peserta diklat
(sangat baik). Akreditasi merupakan penilaian kepemimpinan dan diklat prajabatan dalam
dan kelayakan lembaga dalam mengimplementasikan proyek perubahan
menyelenggarakan diklat kepemiminan II, III, maupun aktualisasi nilai-nilai diinstansinya.
IV dan diklat prajabatan III , II dan I. Tujuan Output (hasil) produk pembelajaran
akreditasi adalah untuk meningkatkan mutu, peserta diklat juga dilakukan diseminasi
efisiensi, akuntabilitas penyelenggaraan kepada user (instansi peserta) dan kepada
pendidikan dan pelatihan. stakeholder yang lebih luas, diseminasi
Salah satu kompenen dalam penilaian dilakukan dengan cara display, koleksi dan
akreditasi A adalah peran tenaga pengajar dokumentasi pada perpustakaan, upload
kediklatan (widyaiswara) yang mampu website, pameran dan alumni gathering.
menunjukan pengalaman yang mendukung Penelitian/pengkajian karya tulis ini
penguasaan substansi, yang berperan sebagai didasarkan pada agumentasi tentang pentingya
konsultan, riset dan praktisi diluar lembaga meneliti/mengkaji promosi dan inovasi yang
diklat. Serta kapasitas widyaiswara dalam dilakukan oleh peserta Diklat Kepemimpinan
pengembangan profesi melalui penerbitan Tingkat III dan Tingkat IV sebagai peneguhan
karya tulis ilmiah dalam bentuk buku, Badan Diklat Jawa Timur sebagai pencetak
proceeding maupun jurnal ilmiah agen perubahan.
189
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Dewasa ini, tidak dapat dipungkiri kepemimpinan, tetapi juga mampu
bahwa kemauan berinovasi (willingness to menunjukkan kinerjanya dalam memimpin
innovate) dan kemampuan berinovasi (ability perubahan dan menyebar semangat kebaruan
to innovate) di lingkungan birokrasi dirasakan melalui promosi hasil inovasi yang telah
masih rendah. Inovasi masih merupakan hal dirancang dan diimplementasikan selama
yang aneh, tidak disukai, bahkan cenderung diklat. Seorang pemimpin perubahan dituntut
dihindari karena pandangan yang keliru bahwa untuk mampu menyebar semangat kebaruan
inovasi merupakan sesuatu yang tidak sejalan dalam berinovasi di sektor publik yaitu
dengan kebijakan. willingnes to inovate dan ability to innovate.
Kondisi ini tentu tidak dapat dibiarkan Sebagaimana acuan/pedoman Lembaga
berjalan terus namun harus dihentikan dan Administrasi Negara perihal pengelolaan
bahkan perlu dibalik. Kalangan birokrasi laboratorium inovasi, ditegaskan bahwa
pemerintah perlu diyakinkan bahwa berinovasi pengelolaan laboratorium inovasi ditempuh
di sektor publik itu menyenangkan dan mudah melalui lima tahap yaitu tahap drum up,
dilakukan oleh pemimpin (pejabat) diagnose, design, deliver dan display
pemerintahan. (promosi).
Dalam sistem manajemen kepegawaian, Dalam kajian/penelitian ini yang hendak diteliti
pejabat struktural memainkan peranan yang dibatasi pada tahap akhir, yakni display
sangat menentukan dalam membuat (promosi) dengan menyodorkan permasalah
perencanaan pelaksanaan kegiatan instansi dan “Bagaimana Diseminasi Inovasi Hasil
memimpin bawahan dan seluruh pemangku Produk Peserta Diklat Kepemimpinan dalam
kepentingan stratejik untuk melaksanakan upaya meneguhkan Badan Diklat Jatim
kegiatan tersebut secara efektif dan efisien. Sebagai Agen Perubahan?”
Tugas ini menuntutnya memiliki kompetensi
kepemimpinan,yaitu kemampuan dalam METODE
mempengaruhi serta memobilisasi bawahan
dan pemangku kepentingan strategisnya dalam Metodologi penelitian yang digunakan
melaksanakan kegiatan yang telah merupakan pilihan strategi dalam rangka
direncanakan. pengumpulan dan proses analisis terhadap
Untuk dapat membentuk sosok pejabat bukti empiris. Oleh sebab itu, metode
struktural seperti tersebut di atas, penelitian yang digunakan dapat berupa metode
penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan kualitatif atau kuantitatif dengan teknik
Kepemimpinan (Diklatpim) bertujuan pengumpulan data, baik melalui eksperimen,
membekali peserta dengan kompetensi yang studi lapangan, maupun studi pustaka.
dibutuhkan menjadi pemimpin yang inovatif, Namun dari dua piilihan metodologi
yaitu penyelenggaraan Diklat yang tersebut, dipilih metodologi penelitian kualitatif
memungkinkan peserta mampu menerapkan dalam melakukan penelitian/kajian, fakta
kompetensi yang telah dimilikinya. diungkap secara obyektif, tidak bias pada suatu
Dalam penyelenggaraan Diklatpim seperti kepentingan tertentu. Setelah itu hasil
ini, peserta dituntut untuk menunjukkan penelitian/kajian tersebut diklasifikasikan
kinerjanya dalam merancang suatu perubahan secara sistematis.
di unit kerjanya dan memimpin perubahan Metode pendekatan dalam penulisan
tersebut sehingga memberikan hasil yang naskah ini merupakan totalitas cara kerja yang
signifikan. dipakai dalam mendeskripsikan permasalahan
Dengan demikian, pembaharuan sebagaimana yang telah ditetapkan diatas.
diharapkan dapat menghasilkan alumni yang Metodologi dalam kajian/penelitian karya tulis
tidak hanya memiliki kompetensi ilmiah ini adalah metode penelitian kualitif
193
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
yang didasarkan pertanyaan penelitian yang dibentuk untuk pemahaman, Akurasi dan
telah dirumuskan. reliabilitasdibentuk melalui verifikasi (Sumber:
Metodologi penelitian/kajian tentang John W. Creswell, Research Design:
promosi dan inovasi proyek perubahan peserta Qualitative and Quantitative Approaches,
diklat dilakukan dengan pendekatan kajian (California: Sage Publications, Inc, 1994), hlm.
kualitatif, yakni cara sistematik yang digunakan 5.
peneliti dalam pengumpulan data yang
diperlukan dalam proses analisa deskriptif. HASIL & PEMBAHASAN
Setidaknya, ada enam jenis metode penelitian
kualitatif yang dipergunakan dalam menyusun Analisa Fokus Hasil Inovasi
karya tulis ilmiah ini, yaitu: Analisa karya tulis ini difokuskan untuk
1.Observasi terlibat diskusi secara langsung menjawab permasalahan, yakni
dengan peserta diklat; mendeskripsikan tentang bagaimana promosi
2.Deskripsi dan analisa percakapan dalam hasil inovasi perubahan peserta diklat
coaching, konseling dengan peserta diklat; kepemimpinan tingkat III dan tingkat IV,
3.Deskripsi dan analisa penggalian ide dan sebagaimana yang telah dilakukan dilakukan
pilihan gagasan rancangan inovasi dengan oleh peserta, penyelenggara dan coach.
peserta; Fokus yang hendak dikaji adalah dipilih
4.Deskripsi dan analisa isi implementasi sebanyak 83 buah kertas kerja yang disusun
inovasi dengan peserta dan mentor; oleh 83 peserta diklat kepemimpinan tingkat III
5.Pengambilan data pembuktian hasil-hasil dan tingkat IV yang dilaksanakan pada tahun
inovasi yang telah dipromosikan, dan 2015, baik yang diselenggarakan di kampus
6.Analisa penyusunan rekomendasi dan Badan Diklat Surabaya dan kampus Badan
komitmen tindak lanjut yang hendak Diklat Malang yang diikuti peserta dari
dilanjutkan secara berkelanjutan. berbagai SKPD pemerintah provinsi jawa timur
“Gaya” penelitian kualitatif dalam karya dan SKPD dari kabupaten/kota provinsi jawa
tulis ini mengkonstruksikan realitas dan makna, timur serta peserta dari berbagai
menjalin fokus pada proses dan peristiwa pemerintah/kota luar provinsi jawa timur.
secara interaktif, otentisitas/orisinalitas adalah Analisa datan penelitian/kajian karya tulis
kunci, hadirnya nilai secara eksplisit, Dibatasi ilmiah ditujukan untuk mendapatkan deskripsi
situasi, Sedikit kasus dan subjek, Analisis penyebaran semangat kebaruan melalui
tematik, Peneliti terlibat, Sumber: W. Lawrence promosi hasil inovasi diklat kepemimpinan,
Neuman, Social Research Methods: Qualitative sebagai berikut :
and Quantitative Approaches,(Needham 1. Jenis-jenis hasil inovasi yang telah
Heights, MA: Allyn& Bacon, 1997), hlm. 14 dihasilkan 83 peserta, yang terdiri dari
Asumsi Paradigmatik Penelitian peserta diklat kepemimpian tingkat III dan
Kualitatif dalam karya tulis ini dengan tingkat IV tahun 2015;
mendasarkan pada realitas bersifat subjektif 2.Hasil inovasi peserta diklat yang telah
dan ganda sebagaimana terlihat oleh partisipan dipromosikan, baik yang dilakukan oleh
dalam studi, Peneliti berinteraksi dengan yang peserta, penyelenggara dan coach.
diteliti, Sarat nilai dan bias, Informal, 3. Media media massa cetak, elektronik dan
Mengembangkan keputusan-keputusan alat publikasi hasil inovasi yang telah
Personal, Menggunakan bahasa kualitatif, digunakan untuk menyebarkan semangat
Proses induktif, Faktor-faktor dibentuk,secara kebaruan;
simultan, Desain 4. Deskripsi tentang hambatan dan dukungan
berkembangkategori,diidentifikasiselama yang dihadapi dan upaya mengatasinya
proses penelitian, Ikatan konteks, Pola dan teori dalam menyebar semangat kebaruan melalui
194
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
promosi hasil inovasi diklat kepemimpian. mencapai efektivitas dengan beralih dari satu
alat promosi ke alat promosi yang lain karena
Analisa Teoritik nilai capaiannya lebih baik, atau mungkin saja
Diseminasi (Bahasa Inggris: suatu perusahaan ingin mencapai tingkat
Dissemination) adalah suatu kegiatan yang penjualan tertentu dengan beragam bauran
ditujukan kepada kelompok target atau individu promosi.
agar mereka memperoleh informasi, timbul Dalam berpromosi ada beberapa hal yang
kesadaran, menerima, dan akhirnya diutamakan. Hal-haltersebut mencakup
memanfaatkan informasi tersebut. Diseminasi informasi mengenai apa yang dipromosikan
adalah proses penyebaran inovasi yang dengan meyakinkan atas kelebihan dari sebuah
direncanakan, diarahkan, dan produk, juga memiliki sifat mempengaruhi,
dikelola.Diseminasi merupakan tindak inovasi sehingga mendorong sasaran untuk mengenal
yang disusun menurut perencanaan yang atas produk yang dipromosikan adalah hal
matang, melalui diskusi atau forum lainnnya utamadalam melakukan kegiatan promosi.
yang sengaja diprogramkan, sehingga terdapat Promosi merupakan kegiatan promosi
kesepakatan untuk melaksanakan inovasi. dilakukan dalam rangka mempromosikan
Kata diseminasi memang jarang sebuah produk yang bersifat
digunakan dalam percakapan atau penulisan informatif,persuasif dan komersial.
sehari-hari. Kata diseminasi lebih banyak Dilihat dari deskripsi mengenai promosi yang
digunakan atau menjadi "jargon" di kalangan telah diuraikan, maka maksud dari promosi ini
akademis (perguruan tinggi), misalnya adalah suatu kegiatan dengan
"diseminasi hasil penelitian", atau di kalangan menginformasikan kepada khalayak mengenai
instansi pemerintah (birokrasi), misalnya produk yang disampaikan.
"diseminasi hasil pelatihan", yakni Kegiatan promosi memiliki tujuan tertentu
menyebarkan hasil atau materi pelatihan yang pada akhirnya dapat menyelesaikan
kepada pegawai/karyawan lain. permasalahan yang ada pada hal yang
Diseminasi secara khusus diartikan dipromosikan.
sebagai penyebarluasan informasi, pemikiran, Dalam buku Strategi Promosi Yang Kreatif
kebijakan, dan hasil penelitian. (Rangkuti,2009:51),ada empat tujuan dasar
Ada juga yang mendefinikan diseminasi dalam sebuah kegiatan promosi yakni;
sebagai "suatu kegiatan yang ditujukan kepada 1.Modifikasi Tingkah laku
kelompok target atau individu agar mereka Tujuan dari promosi ini merupakan usaha
memperoleh informasi, timbul kesadaran, mengubah tingkah laku dan isu-isu
menerima, dan akhirnya memanfaatkan didalam masyarakat tertentu, dari tidak
informasi tersebut. menerima produk menjadi setia terhadap
produk.
Teori Promosi 2.Memberitahu
Penjelasan mengenai arti promosi diantaranya Kegiatan ini memiliki sifat yang
adalah Philip Kotler (2002) mengemukakan informative kepada pasar mengenai produk
lima jenis promosi yang biasa disebut sebagai tersebut berkaitan dengan harga,kualitas,
bauran promosi adalah iklan (advertising), syarat pembeli, kegunaan, keistimewaan
penjualan tatap muka (personal selling), dan sebagainya.
Promosi penjualan (sales promotion), 3.Mempengaruhi
hubungan masyarakat (sosialization relation) Promosi ini dimaksudkan untuk memberi
dan publikasi (publlicity). Semua alat promosi pengaruh atau dorongan kepada pasar agar
ini bekerja sama untuk mencapai sasaran membeli produk yang dipromosikan.
komunikas, juga selalu mencari cara untuk bisa 4.Mengingatkan
195
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
Hal ini ditujukan untuk mempertahankan Kemampuan administratif : persyaratan
suatu merk produk dihati masyarakat, agar administratif dasar dan elementary, Hubungan
produk bertahan dipasar secara terus antar pribadi : empati ; kemampuan
menerus. mengidentifikasi diri dengan orang lain,
berbagi perspektif dan perasaan.
Teori Inovasi Fungsi Agen Perubahan adalah sebagai mata
Hand Book Inovasi Administrasi Negara yang rantai komunikasi antar dua atau lebih sistem
diterbitkan Lembaga Administrasi Negara yang mempelopori dengan sistem sosial yang
(2014), inovasi bukan lagi alternatif tetapi menjadi klien dalam usaha perubahan.
menjadi jalan utama yang harus ditempuh Peranan Utama Widyaiswara sebagai
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Agen Perubahan yakni Katalisator :
daya saing nasional, dan meningkatkan menggerakkan masyarakat untuk melakukan
kesejahteraan bangsa. Inovasi merupakan kunci perubahan, Pemberi Pemecahan Persoalan :
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kreatif dan inovatif dalam mencari solusi,
daya saing nasional, dan meningkatkan Pembantu Proses Perubahan : Membantu
kesejahteraan bangsa. Pemecahan masalah, penyebaran inovasi,
Teori inovasi dikemukakan oleh Djamaludin memberikan petunjuk dalam hal :Merumuskan
Ancok dalam bukunya Psikologi kebutuhan, Mendioagnosa, Mendapatkan
Kepemimpinan & Inovasi (2007) sebagaimana sumber yang relevan, Menciptakan pemecahan
dikutib dalam Hand Book Inovasi Administrasi masalah, Merencanakan pentahapan
Negara (LAN,2014). Menurutnya, inovasi penyelesaian,Penghubung (linker) dengan
terdiri atas 8 jenis inovasi yakni proses, sumber-sumber yang berkaitan untuk
metode, teknologi, produk, konsep, struktur, pemecahan masalah
hubungan, pengembangan SDM dan jenis Dalam menjalankan peranannya
inovasi lainnya. kelompok Agen Perubahan berupa :Laten :
Peran yang tidak di nampakkan, Sebagai
Widyaiswara sebagai Agen Perubahan Pengembang Kepemimpinan, Penganalisa,
Menurut Rogers dan Shoemaker dalam Pemberi Informasi, Penhubung, Organizer dan
Nasution (2014), agen perubahan dalam pemantap hasil. Manifest : Peran yang
orang/lembaga yang melaksanakan tugasnya kelihatan “ Dipermukaan” dilakukan secara
mewujudkan perubahan pada lingkungannya. sadar dan dipersiapkan sebelumnya yang
Mereka mempelopori, mengerakkan dan meliputi perannya sebagai pengerak (fungsi
menyebarluaskan proses perubahan. fasilitator, penganalisa, pengembang
Agen Perubahan berkewajiban untuk kepemimpinan), perantara ( Pemberi Informasi
mempromosikan agar yang lain paham dan dan Penhubung) dan penyelesai (Pengoranisir,
tahu atas rancanan perubahan yang telah evaluator dan penetap hasil).
disiapkan, selanjutnya menjelaskan agar yang Widyaiswara sebagai agen perubahan
lain berminat, mencari Informasi, memiliki tugas utama, yakni : Menumbuhkan
mendemonstrasikan dan melatih agar yang lain keinginan untuk melakukan perubahan,
mau mencoba. Sekaligus mambantu, melayani, Membina hubungan dalam rangka perubahan,
mendampingi agar yang lain bisa menerima Mendiagnosa permasalahan, Menciptakan
dan menjadi bagiannya. Kemudian secara keinginan perubahan, Menerjemahkan
perlahan menarik diri agar dilanjutkan yang keinginan perubahan menjadi tindakan nyata,
lain secara mandiri dan berkelanjutan. Menjaga kestabilan perubahan, Mencapai
Kualifikasi agen perubahan memiliki terminal target yang telah ditetapkan.
beberapa kualifikasi, antara lain : Kualifikasi Secara normatif yang mengatur tentang
teknis : tugas spesifik dari proyek perubahan, agen perubahan dapat mempedomani
196
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
PermenPAN dan RB No 27 Tahun 2014 contoh dan panutan dalam berperilaku yang
tentang Pedoman Pembangunan Agen mencerminkan integritas dan kinerja yang
Perubahan di Instansi Pemerintah, tinggi di lingkungan organisasinya.
bahwasannya diperlukan individu atau Individu yang ditunjuk sebagai Agen
kelompok anggota organisasi dari tingkat Perubahan bertanggung jawab untuk selalu
pimpinan sampai dengan pegawai untuk dapat mempromosikan dan menjalankan keteladanan
menggerakkan perubahan pada lingkungan mengenai peran tertentu yang berhubungan
kerjanya dan sekaligus dapat berperan sebagai dengan pelaksanaan peran, tugas dan fungsi
teladan (role model) bagi setiap individu yang menjadi tanggung jawabnya.
organisasi yang lain dalam berperilaku sesuai
dengan nilai-nilai yang dianut organisasi. Hasil Analisa Subjek Kajian/Penelitian
Individu atau kelompok anggota ini disebut Praktik Implementasi Teori Promosi dan
dengan Agen Perubahan. Inovasi Peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat
Agen Perubahan adalah III dan Tingkat IV Tahun 2015, dapat disajikan
individu/kelompok terpilih yang menjadi (sebagian) sebagai berikut :
pelopor perubahan dan sekaligus dapat menjadi

Tabel 1 Diklat Kepemimpian Tingkat Iii Angkatan Xxxv (Apbd Prov Jatim),
Seminar 17 Nopember 2015

No Nama Jabatan/ Judul Proper Jenis Jenis Promosi


Instansi Inovasi
1 2 3 4 5 6
1. R. Biro Percepatan Teknologi Sosialisasi Indoor,
Henggar Administrasi Pelaksanaan Aplikasi Bimbingan Teknis
Sulistiarto, Pembangunan Pengadaan Sofware
SH, MM Setda Jatim Barang/Jasa melalui Lelang
Aplikasi Elektronik
Pengadaan
Langsung (E-PL)

2. Kartono UPT Pelabuhan Peningkatan Metode Sosialisasi Indoor,


Umar, Tamperan Pelayanan di UPT Perbaikan door to door
S.Pi, MAP Pacitan Pelabuhan Perikanan Kapal
Dinas Perikanan Tamperan Pacitan Nelayan
dan Kelautan melalui
Prov Jatim Pembangunan
Docking Kapal

3. Riyama Dinas Perikanan Program Sertifikasi Proses Sosialisasi indoor,


Budiawati dan Kelautan Cara Budidaya Ikan Layanan door to door
Prov Jatim Yang Baik (CBIB) Jemput bimbingan teknis,
melalui Layanan Bola spanduk, benner,
Jemput Bola leafet, media massa
cetak/koran

197
PROSIDING
Seminar Nasional dan Call For Papers RIEE 2016 “Strategi Pembelajaran Kewirausahaan Untuk Membentuk Wirausaha
Tangguh dan Berdaya Saing Tinggi”
No Nama Jabatan/ Judul Proper Jenis Jenis Promosi
Instansi Inovasi
4. Endah UPT Peningkatan Kaji Teknologi Sosialisasi indoor,
Kristiarni Pengembangan Terap dan Aplikasi door to door
Budidata Laut Desiminasi Campuran bimbingan teknis,
Situbondo Teknologi Perikanan Pakan spanduk, benner,
Dinas Perikanan Budidaya Laut leafet,
dan Kelautan melalui Aplikasi
Prov Jatim Imunostimulan pada
Pakan Pembenihan
Ikan Kerapu Macan
5. Hari UPT Pembibitan Percepatan Metodolog Sosialisasi indoor,
Susilo, SP, Hortikultura Penjuangan Bibit i Bauran door to door
MP Dinas Pertanian Hortikultura melalui Pemasaran bimbingan teknis,
Prov Jatim Marketing Mix Produk spanduk, benner,
leafet, media massa
cetak/koran, radio,
pameran, web site
6 Fachrudin Dinas PU Program Penguatan Metode Sosialisasi indoor,
Pengairan Prov Tebing Tanggul Ramah door to door
Jatim Saluran Induk Lingkunga bimbingan teknis,
UPT Sungai Bondoyudo n
Pengelolaan Melalui Metode
Sumber Daya Vegetatif
Air di Lumajang (Penanaman Rumput
Vetiver)

7 Moch.Jusr Biro Program Revitalisasi Teknologi Sosialisasi in door


on, S.Sos, Administrasi Perpustakaan Aplikasi dan bimbingan
Msi Kesmas Setda