Anda di halaman 1dari 20

MICROTEACHING

MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN

OLEH :

DITA LINDA YANI

F1072161022

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2019
A. PENGERTIAN PENDEKATAN, STRATEGI, METODE, TEKNIK DAN MODEL

PEMBELAJARAN

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita

terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses

yang sifatnya masih sangat umum, didalamnya mewadai, menginspirasi, menguatkan, dan

melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Istilah pendekatan merujuk

kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh

karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung

dari pendekatan tertentu.

Kemp (dalam Sanjaya:2006:126) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu

kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat

dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat diatas, Dick and Carey juga

menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran

yang digunakan secara bersama – sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.

Sedangkan metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru, yang

dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode

pembelajaran lebih bersifat prosedural, yaitu berisi tahapan tertentu, sedangkan teknik adalah

cara yang digunakan, yang bersifat implementasi. Dengan perkataan lain, metode yang dipilih

oleh masing – masing guru adalah sama, tetapi mereka menggunakan teknik yang berbeda.

Sedangkan menurut beberapa ahli yang telah diuraikan terdahulu bahwa strategi pembelajaran
harus mengandung penjelasan arti yang lebih luas dari metode dan teknik. Artinya,

metode/prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran.

Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang

dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode

ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri,

yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang

jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan

teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya

tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor

metode yang sama.

Gerlach dan Ely dalam (Hamzah, 2007:2) menyatakan bahwa teknik pembelajaran

seringkali disamakan artinya dengan metode pembelajaran. Teknik adalah jalan, alat, atau media

yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan peserta didik ke arah tujuan yang ingin

dicapai.

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai

pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk

menentukan perangkat – perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku- buku, film,

komputer, kurikulum, dan lain – lain (Joyce dalam Ahmadi, dkk, 2011:8). Selanjutnya Joyce

menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain

pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran

tercapai.
Adapun Soekamto, dkk (dalam Ahmadi, dkk, 2011: 8) mengemukakan bahwa model

pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam

mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi

sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan

aktivitas belajar mengajar.

B. MACAM-MACAM PENDEKATAN BESERTA MODEL PEMBELAJARAN

Terdapat lima pendekatan pembelajaran yang perlu dipahami guru untuk dapat mengajar

dengan baik yaitu : Pendekatan kompetensi, pendekatan keterampilan proses, pendekatan

lingkungan, pendekatan kontekstual, dan pendekatan tematik. (Mulyasa 2008:95-96).

A. Pendekatan Kompetensi

Mulyasa (2008:96) mengatakan bahwa ”Kompetensi menunjuk kepada kemampuan

melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pembelajaran dan latihan, kompetensi menunjuk

kepada perbuatan (performance) yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam

proses belajar”.

Terdapat tiga landasan teoritis yang mendasari pendidikan berdasarkan pendekatan

kompetensi. Pertama, adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran

individual. Kedua, pengembangan konsep belajar tuntas (master learning) atau belajar sebagai

penguasaan (learning for mastery) adalah suatu falsafah tentang pembelajaran yang mengatakan

bahwa dengan sistem pembelajaran yang tepat semua peserta didik akan dapat belajar dengan
hasil yang baik dari seluruh bahan yang diberikan. Landasan teoritis ketiga bagi perkembangan

pendidikan berdasarkan kompetensi adalah usaha penyusunan kembali definisi bakat.

Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan kompetensi yaitu :

a. Model Pembelajaran Mandiri

 Konsep Belajar dan Pembelajaran Mandiri

Kemandirian dalam belajar ini menurut Wedemeyer (dalam Rusman 2011:353) perlu

diberikan kepada peserta didik supaya mereka mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dan

mendisiplinkan dirinya dan dalam mengembangkan kemampuan belajar atas kemampuan sendiri.

 Kemandirian Peserta Didik dan Keberhasilan

Tingkat kemandirian peserta didik berkaitan erat dengan pemilihan program:

1. Apakah memilih program yang kesempatannya untuk berdialog tinggi dan kurang terstruktur

2. Program yang kurang memberikan kesempatan berdialog dan sangat terstruktur.

 Bahan Belajar Mandiri

Jenis-jenis bahan belajar mandiri di antaranya adalah :

1. Modul, yaitu suatu paket progam yang disusun dalam bentuk satuan tertentu dan didesain

semakin rupa guna kepentingan belajar siswa.

2. Bahan Pembelajaran Berprogam, yaitu paket progam pembelajaran individual,hampir sama

dengan modul.

3. Digital Content berbasis web, yaitu bahan pembelajaran online dalam bentuk pembelajaran

individual yang dapat diakses oleh siswa,baik dalam bentuk tugas pembelajaran mandiri

maupun sumber-sumber belajar lainya yang dikemas dalam bentuk digital content

 Kesimpulan
Model pembelajaran mandiri yang diterapkan secara penuh memberi kesempatan kepada

peserta didik untuk ikut berperan dalam menentukan tujuan,memilih isi pelajaran,dan cara

mempelajarinya.

B. Pendekatan Keterampilan Proses

Mulyasa (2008:99) mengemukakan bahwa ”Pendekatan keterampilan proses merupakan

pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktivitas dan kreativitas peserta

ddik dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap, serta menerapkannya dalam

kehidupan sehari – hari. Dalam pengertian tersebut, termasuk di antaranya keterlibatan fisik,

mental, dan sosial peserta didik dalam proses pembelajaran, untuk mencapai suatu tujuan”.

Kemampuan – kemampuan yang menunjukkan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan

pembelajaran tersebut dapat dilihat melalui partisipasi dalam kegiatan pembelajaran berikut :

a. Kemampuan bertanya

b. Kemampuan melakukan pengamatan

c. Kemampuan mengidentifikasi dan mengklasifikasi hasil pengamatan

d. Kemampuan menafsirkan hasil identifikasi dan klasifikasi

e. Kemampuan menggunakan alat dan bahan untuk memperoleh pengalaman secara langsung

f. Kemampuan merencanakan suatu kegiatan penelitian

g. Kemampuan menggunakan dan menerapkan konsep yang telah dikuasai dalam suatu situasi

baru

h. Kemampuan menyajikan suatu hasil pengamatan dan atau hasil penelitian

Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan keterampilan proses yaitu

1. Model pembelajaran menggunakan Metode Eksperimen


Sagala ( 2010: 220) mengemukakan bahwa Eksperimen adalah percobaan untuk

membuktikan suatu pertanyaan atau hipotesis tertentu. Eksperimen dapat dilakukan pada

laboratorium atau diluar laboratorium. Dalam proses pembelajaran siswa diberi kesempatan

untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti proses, mengamati suatu objek,

menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek, keadaan atau

proses tertentu.

C. Pendekatan Lingkungan

Menurut Mulyasa (2008:101) Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan

pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui

pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan

pembelajaran akan menarik perhatian peserta didik jika apa yang dipelajari berhubungan dengan

kehidupan dan berfaidah bagi lingkungannya.

Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan lingkungan yaitu:

1. Model Pembelajaran Alam Sekitar

Dalam model pembelajaran ini alam sekitar sebagai fundamental pendidikan dan pengajaran

memberikan dasar emosional, sehingga anak menaruh perhatian yang spontan terhadap segala

sesuatu yang dibebrikan kepadanya asal itu didasarkan atas dan diambil dari alam sekitar.

Mengacu pada konsep pendidikan alam sekitar Tirtarahardja dan Sula (dalam Sagala, 2010:180)

berpendapat bahwa beberapa tahun terakhir telah ditetapkan adanya materi pelajaran muatan

lokal dalam kurikulum, termasuk penggunaan alam sekitar. Dengan kurikulum muatan lokal

tersebut diharapkan anak semakin dekat dengan alam sekitar dan masyarakat, sehingga
dimungkinkan anak akan lebih menghargai, mencintai dan melestarikan lingkungan alam sekitar

sebagai sumber kehidupannya.

D. Pendekatan Tematik (Thematic Approach)

Pendekatan tematik merupakan pendekatan pembelajaran untuk mengadakan hubungan

yang erat dan serasi antara berbagai aspek yang mempengaruhi peserta didik dalam proses

belajar. Oleh karena itu pendekatan tematik sering juga disebut pendekatan terpadu (integrated).

Perlunya pendekatan tematik pada pembelajaran yang mempunyai korelasi tinggi ialah

kenyataan bahwa ”Dunia nyata” itu menujukkan adanya keterpaduan dan bahwa peserta didik

ternyata lebih baik bila belajar menghubung – huungkan berbagai faktor yang ada.

Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan Tematik sama dengan judulnya yaitu

1. Model Pembelajaran Tematik

Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) model pembelajaran untuk anak

tingkat Sekolah dasar kelas rendah, yaitu kelas 1, 2, dan 3 adalah pembelajaran yang dikemas

dalam bentuk tema-tema (Rusman, 2011: 249). Tema meupakan wadah atau wahana untuk

mengenal konsep materi kepada anak didik secara menyeluruh.

2. Latar Belakang Pembelajaran Tematik

Berdasarkan paduan KTSP, pengelolaan kegiatan pembelajaran pada kelas awal Sekolah Dasar

dalam mata pelajaran dan kegiatan belajar pembiasaan dilakukan dengan menggunakan model

pembelajaran tematik dan diorganbisasikan sepenuhnya oleh sekolah / madrasah.


E. Pendekatan Sains, Tekhnologi dan Masyarakat

Pembelajaran dengan pendekatan STM haruslah diselenggarakan dengan cara

mengintegrasikan berbagai disiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yang

terjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap

hubungan antara sistem politik, tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi

terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalam pengembangan

pembelajaran di era sekarang ini.

F. Pendekatan Konstektual

Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk mengembangkan

ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk mengembangkan sikap, nilai, serta

kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari

melalui interaksi dengan sesama teman, misalnya melalui pembelajaran kooperatif, sehingga

juga mengembangkan ketrampilan sosial (social skills) (Dirjen Dikmenum, 2002:6).

G. Pendekatan Kontruktivisme

Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa

pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks

yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba (Suwarna,2005).

Model pembelajaran yang digunakan dalam pendekatan Kontruktivisme yaitu

1. Model kontruktivis
Model kontruktivisme yang dikemukankan Piaget memberi arahan pada guru untuk

membangkitkan kemampuan berpikir anak dalam belajar, adapun hal-hal yang perlu diperhatikan

adalah:

a. Menyiapkan benda-benda nyata untuk digunakan siswa.

Dengan maksud:

1) adanya pengetahuan fisik diperoleh dengan berbuat pada benda-benda, dan melihat

bagaiman benda-benda itu bereaksi. Misal: untuk mengetahui apakah sebuah bola yang

dibuat dari tanah liat dapat terapung ditanah, anak harus berbuat sesuai pada benda-benda

itu.

2). siswa harus bekerja dengan benda-benda , bahwa inilah satu-satunya cara mereka

belajar logika, matematika kenyataan. Bukan dengan cara belajar kata-kata namun para

siswa menjadi lebih berpikir mengenai alam nyata.

b. Memperhatikan empat cara berbuat terhadap benda-benda.

1. Melihat bagaimana benda-benda bereaksi

2. Berbuat terhadap benda-benda untuk menghasilkan suatu efek yang diinginkan

3. Menjadi sadar bagaimana seorang menghasilkan efek.

4. Menjelaskan.

c. Memperkenalkan kegiatan

Kegiatan-kegiatan itu mungkin menarik bagi siswa tetapi jangan dipaksakan pada

mereka, para siswa hendaknya mempunyai kebebasan untuk mengikuti perhatian mereka

sendiri, oleh karena itu hanya akan dapat berkembang bila siiwa itu terlibat langsung

dalam pembelajaran.

d. Menciptakan pertanyaan, masalah dan pemecahannya


Dewasa ini para pendiidk dianjurkan menciptakan masalah-masalah dan pengajuan

pertanyaan-pertanyaan, dan siswa mencoba menajwab pertanyaan-pertanyaan atau

memecahkan masalah-masalah mereka. Hal tersebut akan menjadikan siswa termotivasi

dalam berfikir.

e. Saling berinteraksi

Menurut piaget, pertukaran gagasan-gasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan

penalaran. Walupun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung, tetapi

perkembanganya dapat distimulasi oleh teman-teman setingkatnya.

f. Hindari istilah teknis dan tekankan berpikir

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa bahasa dapat memperjelas dan memperkaya

gagasan-gagasan bila para siswa sudah tingkat perkembangan yang tinggi. Tetapi, kerap

kali kata-kata dan istilah teknis merintangi berpikir, oleh karena itu guru hendaknya dapat

membangkitkan gagasan untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berpikr siswa.

g. Memperkenalkan kembali materi kegiatan.

Alasanya anak-anak memperoleh pengetahuan dengan cara-cara yang berbeda dari cara

orang dewasa.

H. PENDEKATAN EKSPOSITORI

Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan ekspositori yaitu :

1. Direct instruction ( pengajaran langsung)

Suatu model pengajaran yang sebenarnya bersifat teacher center. Dalam menerapkan model

pengajaran langsung guru harus mendemontrasikan pengetahuan atau keterampilan yang akan

dilatihkan kepada sisswa secara langkah demi langkah. Karena dalam pembelajaran peran guru
sangat dominan, maka guru dituntut agar dapat menjadi seorang model yang menarik bagi siswa.

Langkah –langkah pengajaran langsung

1. Guru menyampaikan tujuan, informasi latar belakang pelajaran pentingnya pelajaran ini,

mempersiapkan siswa untuk belajar.

2. Guru mendemonstrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi

tahap.

3. Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal.

4. Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan

balik.

5. Guru mmempersiapakan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian

khusus padqa penerapan kepada situasi lebih kompleks dak kehidupan sehari-hari.

I. PENDEKATAN KOOPERATIF

Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstruktivisme. Pada dasarnya

pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan dimana siswa harus

secara individual menemukan dan menstraformasikan informasi yang kompleks. Menurut Slavin

(dalam Rusman, 2010:201), pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara

aktif dan positif dalam kelompok. Ini membolehkan pertukaran ide dan pemeriksaan ide sendiri

dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan falsafah konstruktivisme.

Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa

dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati dalam Rusman, 2010:203).

Tom V. Savage (1987:217) mengemukakan bahwa cooperatif learning adalah suatu

pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok.


Cooperatif Learning adalah teknik pengelompokkan yang didalamnya siswa bekerja

terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri dari 4 – 5

orang. Belajar Cooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pembelajaran yang

memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan anggota

lainnya dalam kelompok tersebut (Johnson dalam Rusman, 2010:204)

Strategi pembelajaran kooperatif merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang

dilakukan oleh siswa di dalam kelompok, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah

ditetapkan. Terdapat 4 hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yakni : (1) adanya

peserta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main dalam kelompok, (3) adanya upaya

belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.

Model-model pembelajaran kooperatif, yaitu :

1. Model Pembelajaran Jigsaw

Menurut Lie (dalam Rusman (2011:218) “Pembelajaran Kooperatif model Jigsaw ini

merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang

terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama ketergantungan

positif dan bertanggung jawab secara mandiri”

Menurut Arends (1997), langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw dalam

matematika, yaitu:

1. Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6 orang

2. Masing-masing kelompok mengirimkan satu orang wakil mereka untuk membahas topik,

wakil ini disebut dengan kelompok ahli

3. Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling membantu

untuk menguasai topik tersebut


4. Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-

masing, kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya

5. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah

didiskusikan

6. Kunci pembelajaran ini adalah interpedensi setiap siswa terhadap anggota kelompok untuk

memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan

baik.

2. Investigasi kelompok (Group investigation)

Belajar kooperatif dengan teknik Group Investigation sangat cocok untuk bidang kajian yang

memerlukan kegiatan studi proyek terintegrasi (Slavin, 1995a, dalam Rusman, 2011:221) yang

mengarah pada kegiatan penelitian, analisis, dan sintesis informasi dalam upaya untuk

memecahkan suatau masalah.

Implementasi stategi belajar Group Investigation meliputi:

1. Mengidentifikasi topik dan mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok.

2. Guru bersama siswa merencanakan tugas-tugas belajar.

3. Melaksanakan investigasi ( siswa mencari informasi, menganalisis data, dan membuat

kesimpulan).

4. Menyiapkan laporan akhir.

5. Mempresentasikan laporan.

6. Evaluasi, para sisiwa berbagi informasi terhadap topik yang dikerjakan, kerja yang telah

dilakukan, pengalaman-pengalaman siswa.


3. Model student team achieventment division (STAD)

Menurut Slavin (dalam Rusman: 2007) Dalam Student Teams Achievement Division (STAD),

siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis

kelamin dan sukunya. Guru memberikan suatu pelajaran dan sisiwa-siswa didalam kelompok

memastikan bahwa semua anggota kelompok itu bias menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya

semua sisiwa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut, dan pada saat itu mereka

tidak boleh saling membnatu satu sma lain.

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Secara garis besar tahap-tahap kooperatif tipe STAD

dapat dijelaskan sebagai berikut:

 Tahap persiapan

Pada tahap ini, Guru mempersiapkan materi berikut perangkat pengajaran termasuk lembar

kerja peserta didik dan soal quiz serta menentukan metode pembelajaran dan penyajian materi

pada awal pembelajaran.Pembagian kelompok diatur berdasarkan skor awal, masing-masing

kelompok terdiri dari 4–6 orang dengan prestasi yang bervariasi, jenis kelamin dan ras yang

berbeda. Guru menjelaskan bahwa tugas utama kelompok adalah membantu anggota untuk

menguasai materi dan mempersiapkan quiz serta setiap anggota hendaknya berusaha untuk

memperoleh nilai yang baik karena prestasi individu akan berpengaruh besar terhadap kelompok.

 Tahap Penyajian Materi

Sebelum pembelajaran, Guru menginformasikan kepada peserta didik tujuan yang hendak

dicapai dan prasyarat yang harus dimiliki. Penyajian materi dilakukan secara klasikal. Dalam

menyajikan materi pelajaran, Guru memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

 mengembangkan materi pelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari peserta didik

dalam kelompok.
 menekankan kepada peserta didik bahwa belajar adalah memahami makna bukan hafalan

 mengontrol pemahaman peserta didik sesering mungkin

 memberikan penjelasan tentang benar atau salahnya jawaban dari suatu pertanyaan.

Setelah peserta didik memahami permasalahan, selanjutnya beralih pada materi berikutnya.

 Tahap kegiatan kelompok

Dalam tahap ini peserta didik mempelajari materi dan mengerjakan tugas-tugas yang

diberikan Guru dalam LKS. Dalam kegiatan kelompok peserta didik saling membantu dan

berbagi tugas. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas kelompoknya. Peran Guru

dalam tahap ini sebagai fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok

 Tahap pelaksanaan tes individu

Setelah materi dipelajari dan dibahas secara berkelompok, peserta didik diberi tes dengan

tujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapainya. Hasil tes digunakan

sebagai nilai perkembangan individu dan untuk perolehan skor kelompok

 Tahap perhitungan skor perkembangan individu

Skor perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih perolehan tes sebelumnya (skor

awal) dengan tes akhir. Berdasarkan skor awal, setiap peserta didik memiliki kesempatan yang

sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya berdasarkan skor tes

yang diperolehnya.

4. Model Make A Match (membuat pasangan)

Metode Make a Match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode dalam

pembelajaran kooperatif. Metode ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu

keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai konsep atau

topik, dalam suasana menyenangkan (Rusman, 2011:223).


Langkah-langkah:

1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi bebrapa konsep/topik yang cocok untuk sesi

review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sis sebaliknya berupa kartu jawabnnya)

2. Setiap siswa mendapat kartu dan mimikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang.

3. Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu

soal/kartu jawaban).

4. Siswa yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu diberi point.

5. Setelah babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat karu yang berbeda dari

sebelumnya, demikian seterusnya.

6. Kesimpulan.

5. Model TGT (Teams Games Tournaments)

Menurut Saco (dalam Rusman, 2011:224), dalam TGT siswa memainkan permainan

dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing.

Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang

berkaitan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan

yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka).

Menurut Slavin (dalam Rusman, 2011:225) pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari

lima langkah tahapan yaitu: tahap penyajian kelas (class precentation), belajar dalam

kelompok (teams), permainan (games), pertandingan (tournament), dan penghargaan

kelompok (team recognition).Adapun cirri-ciri TGT sebagai berikut:

a. Siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil.

b. Games tournament.
c. Penghargaan kelompok.

6. Model Role Playing

Model Role Playing disebut juga sosio drama, dalam proses pembelajaran diharapkan para

guru dan siswa memperoleh penghayatan nilai-nilai dan perasaan-perasaan, dengan bermain

peran diharapkan siswa terampil atau menghayati dalam berbagai figur khayalan atau figure

sesungguhnya dalam berbagai situasi, dalam metode ini dapat melibatkan aspek-aspek kognitif

dan aspek afektif atas tokoh yang mereka perankan, role playing termasuk permainan pendidikan

yang dapat dipakai untuk menjelaskan peranan,sikap, tingkah laku dan nilai-nilai dengan tujuan

menghayati perasaan, sudut pandang dan cara berfikir orang lain.

Langkah-langkah metode Role Playing

1. Guru menyusun atau menyiapkan sekenario yang akan ditampilkan.

2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kegiatan belajar

mengajar.

3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotannya 5 orang.

4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.

5. Memanggil para siswa yang sudah di tunjuk untuk melakukan skenario yang sudah

dipersiapkan.

6. Masing-masing siswa duduk di kelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan

mengamati skenario yang sedang di peragakan.

7. Setelah selesai di pentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja

untuk membahas.

8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.

9. Guru memberikan kesimpulan secara umum.


10. Evaluasi.

11. Penutup.

7. Model Think Pair and Share

Metode Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa untuk berpikir dan merespons serta

saling bantu satu sama lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian

pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya, guru meminta kepada

para siswa untuk menyadari secara lebih serius mengenai apa yang telah dijelaskan oleh guru

atau apa yang telah dibaca.

langkah-langkah nya sebagai berikut:

1. Langah 1 – Berpikir (Thinking): Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan

pelajaran dan siswa diberi waktu satu menit untuk berpikir sendiri mengenai jawaban atau isu

tersebut.

2. Langkah 2 – Bepasangan (Pairing): Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk

berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama

periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah diajukan atau

penyampaian ide bersama jika suatu soal khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru

mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.

3. Langkah 3 – Berbagi (Sharing): Pada akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut

untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah

mereka bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari

pasangan yang satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separo dari pasangan-

pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor. Model ini dirancang untuk
menggabungkan insentif motivasional dari penghargaan kelompok dengan program

pembelajaran individual yang cocok dengan tingkatan yang dimiliki oleh siswa.