Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Radioaktivitas mula-mula ditemukan oleh Becquerel pada tahun 1896.


Pada tahun1898 Pierre Curie dan Marie Curie telah menemukan bahwa
Polonium dan Radium juga memancarkan radiasi-radiasi yang radioaktif.
Radiasi-radiasi radioaktif yang dipancarkan oleh elemen-elemen itu
mengandung partikel-partikel sebagai berikut:

1. Sinar-sinar α atau partikel-partikel α


2. Sinar-sinar β atau partikel-partikel β
3. Sinar-sinar γ atau partikel-partikel γ

Radioaktivitas adalah kemampuan inti atom yang tak-stabil untuk


memancarkan radiasi menjadi inti yang stabil.Materi yang mengandung inti
tak-stabil yang memancarkan radiasi, disebut zat radioaktif.Besarnya
radioaktivitas suatu unsur radioaktif (radionuklida) ditentukan oleh konstanta
peluruhan (l), yang menyatakan laju peluruhan tiap detik, dan waktu paro
(t½).Kedua besaran tersebut bersifat khas untuk setiap
radionuklida.Berdasarkan sumbernya, radioaktivitas dibedakan atas
radioaktivitas alam dan radioaktivitas buatan. Peluruhan ialah perubahan inti
atom yang tak-stabil menjadi inti atom yang lain, atau berubahnya suatu unsur
radioaktif menjadi unsur yang lain. Sebuah inti radioaktif dapat melakukan
sejumlah reaksi peluruhan yang berbeda, seperti peluruhan Alfa, Beta dan
Gamma.ngenai aktivitas, daya tembus dari keterangan sinar β dan sinar γ.

1
1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini yaitu :
1. Bagaimana Sejarah Penemu Radioaktif ?
2. Apa Pengertian Radioaktif ?
3. Apa saja jenis-jenis Nuklida ?
4. Macam – macam Peleburan ?
5. Apa itu Waktu Paruh ?
6. Bagaimana dengan Sifat Sinar Radioaktif ?
7. Bagaimana Kestabilan Inti Radioaktif ?
8. Bagaimana dengan Pita Kestabilan?
9. Bagaimana dengan Energi Pengikat Inti ?
10. Bagaimana dengan Deret Radioaktif ?
11. Bagaimana dengan Reaksi Fisi dan Fusi ?
12. Bagaimana dengan Transmutasi Inti ?
13. Bagaimana dengan Kegunaan Radioaktif?
14. Bagaimana Pengaruh Radioaktif Terhadap Makhluk Hidup ?

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Penemuan Radioaktif Menurut Para Ahli

Sejarah penemuan zat radioaktif diawali dengan ditemukannya sinar X


oleh Wilhelm Conrad Roentgen pada tahun 1895. Setelah itu, para ilmuwan
menyadari bahwa beberapa unsur dapat memancarkan sinar-sinar tertentu,
meskipun pada waktu itu para ilmuwan belum memahami hakikat
sebenarnya dari sinar-sinar tersebut serta mengapa unsur-unsur
memancarkannya.

Pada tahun 1896, Henri Becquerel, fisikawan Perancis berusaha


mendapatkan sinar X dari suatu batuan yang mengandung garam uranium.
Secara tidak sengaja, batuan tersebut dibungkus dengan kertas hitam dan
diletakkan di atas plat film itu, ia sangat terkejut karena bagian film pada
tempat garam uranium diletakkan menjadi gelap. Dari hasil penelitiannya,
diketahui bahwa penyebab gelapnya bagian plat foto adalah radiasi berdaya
tembus kuat, bahkan lebih kuat dari sinar X, yang dipancarkan secara
spontan oleh garam uranium tanpa harus disinari terlebih dahulu.Radiasi
spontan garam uranium terjadi karena mengandung unsur uranium yang

3
bersifat radioaktif.Peristiwa radiasi spontan ini kemudian Disebut
keradioaktifan, sedangkan zat yang bersifat radioaktif disebut dengan zat
radioaktif.

Pada tahun 1898, Marie Sklodowska Curie dan oleh suaminya, Pierre
Curie menemukan unsur radiaktof lainnya dari mineral pitchblende yaitu
polonium dan radium. Nama unsur polonium diambil dari nama negara asal
Marie Sklodowska Curie, yaitu Polandia, sedangkan nama unsur radium
diambil dari bahasa Yunani “radiare” yang artinya bersinar.
Pada tahun 1903, Ernest Rutherford mengemukakan bahwa sinar
radioaktif dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan muatan mereka.
Sinar radioaktif yang bermuatan positif diberi nama sinar alfa, dan tersusun
dari inti-inti helium. Sinar radioaktif yang bermuatan negatif diberi nama
sinar beta, dan tersusun dari elektron-elektron. Sementara itu, Paul Ulrich
Villard menemukan jenis sinar radioaktif yang ketiga, yaitu sinar gama
yang tidak bermuatan. Sinar gama adalah suatu bentuk radiasi
elektromagnetik dengan panjang gelombang yang lebih pendek dari sinar X.

4
B. Pengertian Radioaktif

Zat radioaktif adalah zat yang tidak mempunyai isotop


stabil, sehingga disebut juga radioisotop.zat tersebut dapat
memancarkan sinar radiasi yang disebut sinar radioaktif, berupa
sinar alfa(α), sinar beta(β), sinar gamma(γ).Radioisotop adalah
isotop tidak stabil yang memancarkan radiasi secara spontan dan
terus-menerus. Jika jumlah neutron dalam suatu inti sama dengan
jumlah proton, maka inti akan stabil atau non radioaktif. Tetapi jika
dalam inti jumlah neutron tidak sama dengan jumlah proton, maka
inti menjadi tidak stabil. Semakin banyak perbedaan jumlah neutron
dengan jumlah protonnya, maka semakin tidak stabil dan semakin
cepat pula inti itu melepaskan kelebihan energinya dalam bentuk
sinar radiasinya. Pada tahun 1900 Rutherford menemukan sinar
alfa(α), dan sinar beta(β) dan pada tahun yang sama sinar gamma(γ)
ditemukan oleh P.Villard

C. Nuklida dan Jenisnya


1. Nuklida dan Nukleon
Dalam suatu nuklida tersusun atas nukleon-nukleon, dimana nukleon
tersebut merupakan partikel-partikel penyusun inti atom/nukleus, sedangkan
nuklida itu sendiri adalah isotop atom. Nukleon mengandung dua jenis
partikel dasar yaitu proton (bermuatan positif) dan neutron (tidak bermuatan).
(Retug, 2005).
Suatu inti atom yang mempunyai jumlah nukleon tertentu disebut
nuklida, yaitu atom tanpa elektron pada kulit-kulitnya. Yang dimana setiap
spesi nuklir yang ditandai dengan : bilangan massa (A), nomor atom (Z), dan
bilangan neutron (N).
A

Z N

5
Suatu nuklida dapat dinyatakan dengan lambang unsur yang
dilengkapi nomor massa (jumlah nukleon), sedangkan nomor atom boleh
ditulis atau tidak karena dapat dilihat pada sistem periodik. Sebagai contoh
nuklida sebagai berikut : 20Ca40, 80Hg200 .

Susunan nukleon dan nuklida dibagi menjadi 3, yaitu:


1) Isotop adalah kelompok nuklida dengan Z (nomor atom) sama tetapi
memiliki N (jumlah neutron) yang berbeda. Contoh : 1H1 dengan 2H1.
2) Isobar adalah kelompok nuklida dengan A (nomor massa) sama tetapi
memiliki nomor atom yang berbeda. Contoh : 12C6 dengan 12 C 7.
3) Isoton adalah kelompok nuklida dengan N (jumlah netron) sama, tetapi
memiliki jumlah proton bebeda. Contoh : 31P15 dan 32S16.

Berdasarkan peta kestabilan dalam proses pembentukannya di alam, nuklida


dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok yaitu sebagai berikut :

1. Nuklida stabil adalah nuklida yang secara alamiah tidak mengalami


perubahan A (nomor massa) maupun Z (nomor atom) atau tidak mengalami
peluruhan.
Contoh : 11H , 12 14
6C 7N

2. Radionuklida alam primer adalah nuklida yang terbentuk secara alamiah dan
bersifat radioaktif dan dapat ditemukan di alam
Contoh : 238
92U waktu paro 4,5 x 109 tahun
3. Radionuklida alam sekunder adalah nuklida radioaktif yang secara alamiah
dan dapat ditemukan di alam. Waktu paronya dan dibentuk secara kontinu
dari radionuklida alam primer.
4. Radionuklida alam terinduksi adalah nuklida radioaktif yang terbentuk secara
kontinu dari hasil interaksi sinar kosmik dengan 14N di atmosfer.
5. Radionuklida buatan adalah nuklida yang terbentuk sebagai hasil dari reaksi
transmutasi inti yang dilakukan di laboratorium.

6
D. Peluruhan Radioaktif

a. Peluruhan Partikel Alfa

Partikel alfa (α) didefinisikan sebagai partikel bermuatan positif pada inti
helium.Partikel alfa tersusun atas dua proton dan dua neutron, sehingga
dapat dinyatakan sebagai atom Helium-4 (He-4).Oleh karena partikel alfa
terpecah dari inti atom radioaktif, partikel ini tidak memiliki
elektron.Dengan demikian, partikel alfa memiliki muatan +2.Partikel alfa
(α) merupakan partikel inti Helium yang bermuatan positif (kation dari
unsur Helium, He2+).Akan tetapi, elektron pada dasarnya bebas, mudah
untuk lepas dan mudah pula untuk didapat. Jadi, secara umum, partikel
alfa (α) dapat dituliskan tanpa muatan karena akan dengan cepat
mendapatkan 2 elektron dan menjadi atom Helium netral (bukan sebagai
ion).
Sebagai contoh, isotop Radon-222 (Rn-222), dapat mengalami peluruhan
dan memancarkan partikel alfa. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut :

Dalam hal ini, isotop Radon-222 mengalami peluruhan inti dengan


membebaskan partikel alfa. Isotop baru yang terbentuk pada proses
peluruhan ini adalah isotop baru dengan nomor massa 222 (yang
diperoleh dari 226 – 4) dan nomor atom 84 (yang diperoleh dari 88 – 2).

7
b. Peluruhan Partikel Beta
Peluruhan beta adalah peluruhan radioaktif yang memancarkan partikel
beta (electron atau positron). Pada kasus pemancaran sebuah electron
peluruhan ini disebut sebagai peluruhan beta minus (β-), sementara pada
pemancaran positron disebut sebagai beta plus (β+).

1. Peluruhan beta minus


Sebagai contoh :

228
Ra88 228
Ac89 + 0β-1

2. Peluruhan beta plus


Sebagai contoh :

230
Pa91 230
Th90 + 0β+1

8
3. Penangkapan Elektron
Penangkapan elektron merupakan jenis peluruhan inti yang jarang
terjadi. Dalam peluruhan ini, elektron dari tingkat energi yang lebih
dalam (misalkan subkulit 1s) akan ditangkap oleh inti atom. Elektron
tersebut akan bergabung dengan proton pada inti atom membentuk
neutron. Akibatnya, nomor atom berkurang satu dan nomor massanya
tetap sama.
1p
1
+ -1e
0
→ 0n1
Sebagai contoh, reaksi yang terjadi saat penangkapan elektron pada
Polonium-204 (Po-204) sebagai berikut :
84Po
204
+ -1e
0
→ 83Bi
204
+ sinar-X
Perubahan sebuah proton menjadi sebuah neutron dapat terjadi saat
penangkapan sebuah elektron.Isotop dengan perbandingan n/p rendah
dapat mengalami penangkapan elektron (e-).Hal ini terjadi karena
reaksi ini menyebabkan jumlah proton berkurang satu dan jumlah
neutron bertambah satu, sehingga menaikkan perbandingan n/p.
Penangkapan elektron pada subkulit 1s menyebabkan kekosongan
pada subkulit 1s. Elektron yang berasal dari subkulit lain dengan level
energi yang lebih tinggi akan “turun” untuk mengisi kekosongan ini
disertai pembebasan sejumlah energi dalam bentuk sinar X yang tidak
tampak.

c. Pemancaran Radiasi Gamma


Partikel alfa (α) dan partikel beta (β) mempunyai karakteristik materi.
Keduanya memiliki massa tertentu dan menempati ruang. Namun,
karena tidak ada perubahan massa yang berhubungan dengan
pemancaran sinar gamma (γ), kita dapat menyatakan bahwa
pemancaran sinar gamma (γ) sebagai pemancaran radiasi gamma (γ).
Radiasi gamma (γ) sangat menyerupai sinar X, yaitu radiasi dengan
energi tinggi dan memiliki panjang gelombang pendek (short

9
wavelength).Radiasi sinar gamma umumnya disertai dengan
pemancaran partikel alfa dan partikel beta.Tetapi, biasanya tidak
dinyatakan pada persamaan reaksi inti yang disetarakan.

melepaskan sejumlah besar radiasi sinar gamma.Isotop ini sering


digunakan untuk pengobatan kanker dengan metode radiasi.
Paramedis akan mengarahkan sinar gamma ke tumor, sehingga sinar
tersebut diharapkan dapat merusaknya.

E. Waktu Paruh

Waktu paruh adalah waktu yang diperlukan zat radioaktif agar


jumlahnya menjadi separuh atau setengah dari jumlah semula.
Waktu paruh dapat ditentukan melalui persamaan :

t
Nt 1 t1/2
No
= (2)

Nt = Banyaknya zat sisa


No = Banyaknya zat mula-mula
t = Lama peluruhan
t1/2 = Waktu paruh

Contoh Soal :
Jika waktu zat radioaktif adalah 30 menit, berapakah jumlah zat
radioaktif tersebut jika meluruh selama 2 jam ?
Jawab :

10
Diketahui : t = 2 jam
t ½ = 30 menit → 0.5 jam
Ditanya : Jumlah zat radioaktif ?

t
Nt 1 t1/2
No
= (2)
2
Nt 1 0.5
= (2)
No

Nt 1 4
= ( )
No 2
Nt 1
=
No 16

F. Sifat Sinar Radioaktif

Dapat menembus kertas lempeng logam yang tipis, dapat


menghitamkan plat film meskipun tertutup oleh kertas hitam.
Pada tahun 1903, Ernest Rutherford mengemukakan bahwa
radiasi yang dipancarkan zat radioaktif dapat dibedakan atas dua jenis
berdasarkan muatannya. Radiasi yang bermuatan positif diberi nama
sinar alfa, dan yang bermuatan negatif diberi nama sinar beta .
Selanjutnya Paul U.Viillard menemukan jenis sinar yang ketiga yang
tidak bermuatan dan diberi nama sinar gamma.

11
a) Sinar/Partikel Alfa (α)
 Sinar alfa merupakan radiasi partikelbermuatan positif.
 Terdiri dari 2 proton dan 2 neutron. Dengan ditembus
yang rendah dan dapat menahannya hanya dengan
selembar kertas.
 Karena mempunyai muatan relatif besar, maka dapat
mengionisasi secara kuat atom-atom yang dilewatinya.
 demikian mempunyai muatan 2+ dan massa 4 sma.
 Relatif lambat dan berat.

b) Sinar/Partikel Beta (β)

 Sinar beta merupakan radiasi partikel bermuatan


negatif.
 Mempunyai muatan –1 dan massa sekitar 1/2000
massa proton. Dengan demikian partikel ini sama
dengan elektron.
 Relatif cepat dan ringan
 Mempunyai daya tembus menengah dan dapat
dihentikan dengan lembaran aluminium atau plastik.
 Dapat mengionisasi atom-atom yang dilewatinya,
tetapi tidak sekuat daya ionisasi partikel alfa.

c) Sinar Gamma (γ)


 Sinar gamma adalah suatu gelombang EM bukan
partikel. Dengan demikian tidak mempunyai muatan
maupun massa.
 Mempunyai daya tembus yang sangat besar-diperlukan
lembaran tipis timbal untuk menguranginya.

12
 Tidak mengionisasi atom-atom yang dilewatinya secara
langsung, meskipun dapat menyebabkan atom
memancarkan partikel lain yang selanjutnya dapat
menyebabkan ionisasi.

Radioaktif Muatan Lambang


4
Sinar α Positif 2He atau 42α
Sinar β Negatif 0
−e atau −10β
0
Sinar γ Tidak bermuatan 0γ

No. Nama Simbol


1
1. Proton 1P atau 11H
1
2. Neutron 0n
0
3. Positron 1e atau 01β
2
4. Detron 1D atau 21H
3
5. Triton 1D atau 31H

13
G. Kestabilan Inti

Kestabilan inti tidak dapat diramal dengan suatu aturan. Namun ada
beberapa aturan empiris yang dapat digunakan untuk mengenal inti yang
stabil dan radioaktif
a. Semua inti mengandung 84 proton (Z=84) atau lebih tidak
stabil.
b. Aturan ganjil genap. Diamati bahwa inti yang mengandung
jumlah proton genap dan jumlah neutron genap lebih stabil dari
inti yang mengandung jumlah proton dan neutron yang ganjil.
Jumlah Proton-neutron Inti yang stabil

Genap-genap 157
Genap-ganjil 52
Ganjil-genap 50
Ganjil-ganjil 5
c. Bilangan Sakti
Kestabilan inti ditemukan bahwa inti stabil itu jika dalam inti
tersebut terdapat jumlah proton dan jumlah neutron sama
dengan bilangan sakti.
Contoh bilangan :
 Proton : 2,8,20,28,50 dan 82
 Neutron : 2,8,20,28,50,82 dan 126
 Kestabilan inti dapat dikaitkan dengan perbandingan
neutron-proton (N/Y)
 Isotop yang stabil :
4 16 40
He O Ca
2 8 20

14
H. Pita Kestabilan

Kestabilan inti atom dapat ditinjau dari aspek kinetika dan


energitika.Kestabilan secara energitika ditinjau dari aspek energi
nukleosintesis dihubungkan dengan energi komponen penyusunnya (proton
dan neutron), disebut energi ikat inti. Kestabilan secara kinetika ditinjau
berdasarkan kejadian inti meluruh membentuk inti yang lain, disebut
peluruhan radioaktif.
Untuk mengetahui ciri-ciri inti yang stabil dan inti yang tidak stabil
dapat ditinjau dari perbandingan antarpartikel yang terkandung di dalam inti
atom, yaitu perbandingan neutron terhadap proton (N/Z).Selain nuklida 1H,
semua nuklida atom memiliki proton dan neutron. Suatu nuklida dinyatakan
stabil jika memiliki perbandingan neutron terhadap proton lebih besar atau
sama dengan satu (N/Z ≥ 1).
Untuk nuklida ringan (Z < 20), perbandingan (N/Z) = 1
Untuk nuklida dengan Z > 20, perbandingan (N/Z) >1
Hubungan proton dan neutron dapat diungkapkan dalam bentuk grafik yang
disebut grafik pita kestabilan.

15
Kenaikan angka banding N/Z diyakini akibat meningkatnya
tolakan muatan positif dari proton.Untuk mengurangi tolakan
antarproton diperlukan neutron yang berlebih.Nuklida di luar pita
kestabilan umumnya bersifat radioaktif atau nuklida tidak stabil.

 Inti Ringan
Yaitu inti dengan N/Z diatas pita kestabilan, maka inti tersebut
harus memperkecil N/Z. Hal ini dapat terjadi bila :
1. 10n 1
1p + −10e
Contoh
14
6C
14
7N + −10e
2. Jika inti memancarkan partikel neutron
Contoh
127 126
53I 53I + 10n
Dan inti dengan N/Z dibawah pita kestabilan, maka inti tersebut
harus memperbeasr harga N/Z. Hal ini dapat terjadi bila :
1. 11p 1
0n + +10e
Contoh
11
11
6C 5B + +10e
2. Inti menangkap elektron dari kulit yang terdekat (kulit k)
Contoh
7
4Be + −10e 7
3Li

 Inti Berat
Yaitu untuk unsur radioaktif dengan Z > 83. Dalam usaha
mendapatkan N/Z yang stabil dapat dilakukan dengan beberapa

16
cara diantaranya inti membebaskan 2 proton dan 2 neutron
bersama-sama dalam bentuk pancaran partikel α 42He
Contoh
238 234
92U 90Th + 42He

I. Energi pengikat inti

Inti atom terdiri atas proton dan neutron.Massa suatu inti selalu lebih
kecil dari jumlah massa proton dan neutron.Selisih antara massa inti yang
sebenarnya dan jumah massa proton dan massa neutron penyusunnya
disebut defek massa.Massa yang hilang ini merupakan ukuran energi
pengikat neutron dan proton.
Energi yang diperlukan untuk menguraikan inti (energi yang diperlukan jika
inti terentuk) disebut energi pengikat inti.
56
Atom Fe mengandung 25 neutron,30 proton dan 26 elektron. Massa dari
26
partikel partikel ini,
P = 1,007277µ
n = 1,008665 µ
e = 0,0005486

56
massa Fe menurut perhitungan
26
(26 x 1,0072770 ) + (30 x 1,008665) + (26 x 0,0005486)= 56,4634 µ

56
Massa Fe menurut pengamatan 55,9349 µ
26

Defek Massa : 56,9349 - 55,4634 = 0,5285 µ

56
Energi pengikat inti Fe
26

0,5285 x 931 =492 MeV

17
56
Energi pengikat inti Fe pernukleon
26
492
= = 8,79 MeV/nukleon
56

Jika energi pengikat inti pernukleon dialurkan terhadap bilangan


massa (A) akan diperoleh grafik seperti terlihat pada gambar 2. Pada
56
gambar terlihat bahwa puncak dari grafik mendekati Fe (besi).
26

Gambar 2.2 grafik energi pengikat inti pernukleon terhadap bilangan massa
Puncak grafik menunjukkan bahwa nuklida yang paling stabil. Pada reaksi
nuklida terjadi proses untuk meningkatkan kestabilan yaitu reaksi yang
mempengaruhi besar energi pengikat inti rata rata.

J. Deret Radioaktifan

Deret Radioaktifan adalah suatu kumpulan unsur-unsur yang


dibentuk dari suatu nuklida radioaktif tunggal oleh pancaran berurutan
partikel alfa ataupun beta, karena tiap pancaran menyebabkan
terbentuknya atom dari suatu unsur lain,deret itu dimulai dengan
penyuluhan radioaktif dari unsur induk dan berlanjut dari atom ke atom
sampai akhirnya terbentuk sesuatu atom tak-radioaktif.

18
Ada tiga deret keradioaktifan alam yaitu deret thorium, deret
uranium, dan deret aktinium. Deret thorium dan deret uranium diberi
nama sesuai dengan nama anggota yang mempunyai waktu paro terpanjang
yaitu berturut-turut 1,39 × 1010 dan 4,51 × 109 tahun. Deret aktinium
dimulai dari unsur uranium (U-235) dengan waktu paruh 7,1 × 108 tahun
yang kadang-kadang disebut aktinouranium.
Bilangan massa thorium adalah 232 merupakan kelipatan 4 yaitu 4x58.
Oleh karena pada pancaran alfa bilangan massa berkurang dengan 4 dan
pada pancaran beta tidak terjadi perubahan massa, maka bilangan massa
setiap anggota deret thorium dapat dinyatakan dengan 4n dan n adalah
angka 58 (thorium) sampai 52 (thorium D).
Deret keradioaktifan yang keempat adalah deret keradioaktifan buatan
yang disebut deret neptunium. Unsur induk deret neptunium adalah
neptunium dengan waktu paruh 2,20 × 106 tahun. Deret 4n + 2 diberi
238
nama deret uranium karena inti induknya adalah 92U92 yang mengalami
206
peluruhan sampai inti akhir stabil 82Pb82.

K. Reaksi Fisi dan Fusi


a. Reaksi Fisi
Reaksi Fisi adalah reaksi pembelahan inti atom yang besar menjadi
2 inti atom yang besar menjadi 2 inti atom lain yang lebih kecil.

19
Contoh :
235 139 94
92U + 10n 56Ba + 36Kr + 3 10n

Namun jika jumlah Neutron tidak terkendali dapat menyebabkan


bom atom.
b. Reaksi Fusi
Reaksi Fusi adalah reaksi penggabungan inti atom yang kecil
menjadi inti atom yang besar.
Contoh :

\
Dapat terjadi pada Matahari, dan sering disebut bom hydrogen.

L. Transmutasi Inti
Transmutasi inti dihasilkan dari pemboman inti oleh neutron, proton,
atau inti lain.
Contoh:
238 239
92U + 10N 92U +γ
Nukleon : partikel-partikel penyusun inti, yaitu proton dan neutron
Nuklida : suatu spesies nuklir tertentu, dengan lambang:

Z = nomor atom
A = nomor massa = jumlah proton + neutron
N = neutron, biasanya tidak ditulis karena
N = A-Z (target), proyektil,fluks, penampang lintang dan keaktifan.

20
M. Kegunaan Radioaktif

1. Radiostop Sebagai Perunut

a) Bidang Kedokteran
1) I-131 digunakan untuk menentukan kalenjar gondok.
2) Na-24 digunakan untuk mengetahui penyumbatan darah pada urat.
3) Ca-47 digunakan untuk mengetahui penyakit tulang dan darah.
4) K-12 digunakan untuk menentukan penyakit pada otot.
5) Tc-99 dan TI-201 digunakan untuk untuk mendeteksi kerusakan jantung.
6) Xe-133 digunakan untuk mendeteksi penyakit peru-paru.
7) P-32 digunakan untuk mendeteksi penyakit mata.
8) Sr-85 digunakan untuk mendeteksi penyakit tulang.
9) Se-75 digunakan untuk mendeteksi penyakit prankeas.

b) Bidang Hidrologi
1) Na-24 untuk mempelajari kecepatan aliran air sungai.
2) Radiosotop Na-24 dalam bentuk karbonat untuk menyelidiki kebocoran
pipa air bawah tanah.

c) Bidang Sains
1) I-131 untuk mempelajari kesetimbangan dinamis.
2) O-18 digunakan untuk mepelajari reaksi esterifikasi.
3) C-14 digunakan untuk mempelajari mekanisme reaksi fotosintesisme.

21
2. Radiostop Sebagai Sumber Radiasi

a) Bidang Kedokteran
1) Co-60 untuk penyembuhan penyakit kanker.
2) P-32 untk penyembuhan penyakit leukemia.
3) Co-60 dan Cs-137 digunakan untuk sentralisasi alat-alat kedokteran.
4) I-131 digunakan untuk terapi kanker kelenjar kiloid.

b) Bidang Pertanian
1) Radiasi yang dihasilkan dapat diguankan untuk pemberantasan Hama,
penyimpanan makanan dan pemulihan tanaman.

c) Bidang Industri
1) Untuk bidang radigrafi pada pemotretan bagian dalam sebuah benda
seperti sinar-X, sinar gamma atau neutron.
2) Untuk pengontrol ketebalan pada industri kertas, plastic dan logam.
3) Radiasi gamma yang dihasilkan dapat digunakan untuk memeriksa cacat
pada logam.
4) Radiasi gamma juga dapat digunakan untuk pengawetan kayu, barang-
barang seni.

22
N. Pengaruh Radiasi pada Makhluk Hidup

Akibat radiasi yang melebihi dosis yang diperkenankan dapat menimpa


seluruh tubuh atau hanya lokal.Radiasi tinggi dalam waktu singkat dapat
menimbulkan efek akut atau seketika sedangkan radiasi dalam dosis rendah
dampaknya baru terlihat dalam jangka waktu yang lama atau menimbulkan efek
yang tertunda.Radiasi zat radioaktif dapat memengaruhi kelenjarkelenjar
kelamin, sehingga menyebabkan kemandulan.Berdasarkan dari segi cepat atau
lambatnya penampakan efek biologis akibat radiasi radioaktif ini, efek radiasi
dibagi menjadi seperti berikut.

1. Efek segera

Efek ini muncul kurang dari satu tahun sejak penyinaran.Gejala


yang biasanya muncul adalah mual dan muntah muntah, rasa malas
dan lelah serta terjadi perubahan jumlah butir darah.

2. Efek tertunda

Efek ini muncul setelah lebih dari satu tahun sejak penyinaran.Efek
tertunda ini dapat juga diderita oleh turunan dari orang yang menerima
penyinaran.

23
BAB III

PENUTUP

 Kesimpulan
Radioaktif ditemukan pada tahun 1896 oleh Wilhelm Conrad
Roentgen dengan diawali ditemukannya sinar x sehingga para ilmuwan
menyadari bahwa beberapa unsur memiliki sinar-sinar tertentu.
Zat radioaktif adalah zat yang tidak mempunyai isotop stabil, sehingga
disebut juga radioisotop, radioaktif ini juga bisa mengahasilkan sinar
radiasi yang disebut sinar radioaktif, berupa sinar alfa (α), sinar beta (β),
sinar gamma (γ).
Pada tahun 1903, bahwa radiasi yang dipancarkan zat radioaktif dapat
dibedakan atas dua jenis berdasarkan muatannya. Muatan positif adalah
sinar alfa dan muatan negatif adalah sinar beta, selanjutnya ditemukan
jenis sinar yang ketiga yang tidak bermuatan dan diberi nama sinar
gamma.
Nukleon mengandung dua jenis partikeldasar yaitu proton dan
neutron. Suatu inti atom yang mempunyai jumlah nukleon tertentu
disebut nuklida. Susunan nukleon dan nuklida dibagi menjadi 3, yaitu
isotop, isobar, isoton.
Deret Radioaktif adalah suatu kumpulan unsur-unsur yang dibentuk
dari suatu nuklida radioaktif tunggal oleh pancaran berurutan partikel
alfa ataupun beta.
Radioaktif memiliki banyak kegunaan yaitu sebagi perunut, (bidang
kedokteran, bidang hidrologi, bidang sains) dan sebagai sumber radiasi
(bidang kedokteran , bidang pertanian, dan industri).

24