Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

Pajak Penghasilan

Mata Kuliah Pajak Penghasilan

Disusun Oleh :
Halimah Tun Sakdiah : 1702122480
Nurlita : 1702110177
Sri Muliyanti : 1702110251
Sinta Aditia Indriyani : 1702110230

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2019
1. METODE PENILAIAN PERSEDIAAN DAN PEMAKAIAN
PERSEDIAAN - FISKAL
Pada umumnya terdapat 3 ( tiga) golongan persediaan barang, pertama barang
jadi atau barang dagangan, kedua barang dalam proses produksi, ketiga bahan baku dan
bahan pembantu. Dalam penilaian persediaan persediaan barang hanya diperbolehkan
menggunakan harga perolehan. Metode yanga dapat digunakan untuk melakukan
penilaian persediaan dan pemakaian persediaan dalam rangka perhitungan harga
pokok menurut pajak adalah:

1. Metode rata-rata
2. Metode first in first out (FIFO)
Penggunaan metode penilaian pemakaian persediaan tersebut harus dilakukan
secara taat asas, artinya apabila wajib pajak memilih salah satu cara penilaian
pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok tersebut, maka untuk
tahun-tahun selanjutnya harus digunakan cara yang sama sesuai dengan
kelaziman, cara penilaian tersebut juga diberlakukan terhadap sekuritas.

PENILAIAN PERSEDIAAN BAGI WAJIB PAJAK PEDAGANG VALUTA


ASING .

Dengan makin banyaknya pedagang valuta asing maka diperlukan pemberian


Batasan dan bagaimana penilaian tehadapp persediaan bagi wajib pajak pedagang
valuta asing untuk itu surat edaran Direktur Jendral Pajak Nomor SE 52/Pj.42/1999
Tanggal 17 November 1999 telah memberikan penegasan yaitu sebagai berikut.

1. Sesuai surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 31/171/Kep/Dir


Tanggal 17 Desember 1998 yang memuat Hal-hal sebagai berikut.
a. Pedagang valuta asing (PVA) adalah bukan bank devisa atau perusahaan
yang telah mendapat izin untuk melakukan jual beli uang kertas asing
(UKA) dan pembelian traveller’s cheque (TC)
b. Penetapna kurs jual beli UKA diserahkan kepada PVA sesuai dengan
perkembangan pasar.
c. Pedagang valuta asing diwajibkan menyampaikan laporan bulanan, laporan
tahunan dan laporan khusus kepada bank Indonesia.
2. Wajib Pada Badan bergerak di bidang usaha perdagangan valuta asing wajib
menyelenggarakan pembukuan (pasal 28 UU KUP)
3. Penilaian persediaan dan pemakaian persediaan untuk perhitungan harga pokok
valuta asing sebagai barang dagangan bagi wajib pajak yang bergerak dibidang
usaha perdagangan valuta asing adalah berdasarkan harga perolehan valuta
asing tersebut yang dihitung secara rata-rat atau FIFO dan harus dilakukan
secara taat asas.

Contoh perhitungan Persediaan

1. Metode First In First Out (FIFO)

Data persediaan :
- Persediaan awal 100 unit, perunit Rp1.000.000
- Pembelian 5 Januari 200 unit, perunit Rp2.000.000
- Pembelian 10 Januari 300 unit, perunit Rp3.000.000
- Penjualan 15 Januari 400 unit, perunit Rp4.000.000

Penghitungan HPP
Penjualan Rp1.600.000.000
HPP adalah :
- Persediaan awal 100 unit x Rp100.000.000
Rp1.000.000
- Pembelian 5 Januari 200 unit x Rp400.000.000
Rp2.000.000
- Pembelian 10 100 unit x Rp300.000.000
Januari Rp3.000.000
- Total terjual 400 unit (Rp800.000.000)
Laba Kotor Rp800.000.000
Persediaan akhir :
- 200 unit, perunit Rp3.000.000 = Rp600.000.000
2. Metode rata-rata tertimbang (weighted average)

- Persediaan awal 100 unit, perunit Rp1.000.000


- Pembelian 5 Januari 200 unit, perunit Rp2.000.000
- Pembelian 10 Januari 300 unit, perunit Rp3.000.000
- Penjualan 15 Januari 400 unit, perunit Rp4.000.000
Persediaan barang sampai dengan 15 Januari:
- 100 unit x Rp1.000.000 Rp100.000.000
=
- 200 unit x Rp2.000.000 Rp400.000.000
=
- 300 unit x Rp3.000.000 Rp900.000.000
=
600 unit Rp1.400.000.000

Maka harga rata-rata per- Rp1.400.000.000 = Rp2.333.333


unit =
600
Penghitungan HPP :
Penjualan Rp1.600.000.000
HPP adalah :
- Unit terjual 400 unit x Rp2.333.333 (Rp933.333.333)
Laba Kotor Rp666.666.6667
Persediaan akhir :
- 200 unit, perunit Rp2.333.333 = Rp466.666.667

2. METODE PENYUSUTAN - FISKAL

ASET TETAP BERWUJUD


Pengertian Penyusutan
Pengertian penyusutan menurut PSAK Nomor 17 adalah alokasi jumlah suatu
asset yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Besarnya
penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara
langsung maupun tidak langsung . asset yang dapat disusutkan adalah asset yang:
1. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi
2. Memiliki suatu masa manfaat yang terbatas
3. Ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok
barang dan jasa untuk disewakan atau tujuan administrasi.

Jumlah yang dapat disusutkan (depreciable amount) adalah biaya perolehan


suatu asset atau jumlah lain yang disubsitusikan untuk biaya dalam laporan
keuangan, dikurangi nilai sisanya. Pengaturan penyusutan menurut ketentuan
perundang-undangan perpajakan diatur dalam pasal 11 undang-undang pajak
penghasilanyang menegaskan bahwa penyusutan atas pengeluaran untuk
pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan,atau perubahan harta berwujud,
kecuali tanah yang berstatus Hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan
hak pakai yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun
dilakukan dalam bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah
ditentukan bagi harta tersebut. Persyaratan asset tetap yang dapat disusutkan
menurut ketentuan perpajakan meliputi:
1. Harta yang dapat disusutkan adalah harta berwujud
2. Harta tersebut mempunyai masa manfaat lebih dari satu thaun
3. Harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan
Metode penyusutan
1. Berdasarkan kriteria waktu, yaitu:
a. Metode garis lurus
b. Metode pembebanan angka menurun
1). Metode jumlah angka tahun
2). Metode saldo menrurun/ saldo menurun ganda
2. Berdasarkan kriteria pengguanaan, yaitu:
a. metode jam jasa
b. metode jumlah unit produksi
3. berdasarkan kriteria lainny, yaitu:
a. metode berdasarkan jenis dan kelompok
b. metode anuitas

Metode penyusutan menurut ketentuan perundang—undangan perpajakan


sebagaimana telah diatur dalam pasal 11 undang-undang pajak penghasilan
adalah:
1. Metode garis lurus atau metode saldo menurun untuk asset tetap berwujud
bukan bangunan
2. Metode garis lurus untuk asset tetap berwujud berupa bangunan.
Kelompok Harta Berwujud dan tarif penyusutan
Kelompok harta Masa manfaat Tarif penyusutan Tarif penyusutan
berwujud berdasarkan berdasarkan
metode garis metode saldo
lurus menurun.
I. Bukan
bangunan
Kelompok 1 4 tahun 25% 50%
Kelompok 2 8 tahun 12.50% 25%
Kelompok 3 16 tahun 6.25% 12.5%
Kelompok 4 20 tahun 5% 10%
II. Bangunan
Permanen 20 tahun 5% -
Tidak permanen 10 tahun 10% -
Untuk lebih memudahkan wajib pajak dan memberikan keseragaman dalam
pengelompokan harta tetap berwujud, terakhir keluarlah keputusan Menteri keuangan
Nomor 96/PMK.03/2009 yang berlaku sejak 1 januari 2009 mengatur tentang
pengelompokan jenis-jenis harta berwujud, secara rinci sebagai berikut:
Nomor Jenis Usaha Jenis Harta
Urut
1 Semua jenis a. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan
usaha termasuk meja, bangku, kursi,lemari dan
sejenisnya yang bukan bagian dari
bangunan
b. Mesin kantor seperti mesin ketik, mesin
hitung duplicator, mesin fotokopi, mesin
akunting/ pembukuan, computer, printer,
scanner, dan sejenisnnya.
c. Perlengkapan lainnya seperti amplifier,
tape/cassete, video recorder, televisi, dan
sejenisnya
d. Sepeda motor, sepeda,dan becak
e. Alat perlengkapan khusus (tools) bagi
industry / jasa yang bersangkutan.
f. Dies,jigs, dan mould
g. Alat-alat komunikasi, seperti pesawat
telepon, facsimile, telephone seluler, dan
sejenisnya.
2. Pertanian, Alat yang digerakkan bukan dengan mesin seperti
perkebunan, cangkul, peternakan, perikanan, garu, dan lain-
kehutanan, lain.
perikanan
3. Industry makanan Mesin ringan yang dapat dipindah-pindahkan
dan minuman seperti huller, pemecah kulit, penyosoh,
pengering, pullet dan sejenisnya.
4. Transportasi dan Mobil taksi, bus, dan truk yang digunakan sebagai
pergudangan angkutan umum.
5. Industry semi Falsh memory tester, write machine, biporar test
konduktor system, climibatio (PE8-1) pose checker
6. Jasa persewaan Anchor, anchor chains, polyester rope, steel
peralatan tambat buays, steel wire ropes, mooring accesories
dalam
7. Jasa Base station controller.
telekomunikasi
seluler

Jenis – Jenis Harta Berwujud yang Termasuk Kelompok 2


Nomor Jenis Usaha Jenis Harta
Urut
1 Semua jenis a. Mebel dan peralatan dari logam termasuk
usaha meja,bangku,kursi,lemari,dan sejenisnya yang
bukan bagian dari pembangunan. Alat pengatur
udara seperti AC,kipas angina,dan sejenisnya
b. Mobil,bus,truk,speed boat,dan sejenisnya
c. container dan sejenisnya
2 Pertanian, a.Mesin pertanian/perkebunan seperti traktor dan
perkebunan, mesin bajak, penggaruk, penanaman, penebar
kehutanan, benih, dan sejenisnya
periknan b. Mesin yang
mengolah/menghasilkan/memproduksi bahan
atau barang pertanian, kehutatnan, perkebunan,
dan perikanan
3 Industry makanan a.Mesin yang mengolah produk asal binatang,
dan minuman ungags dan perikanan. Misalnya pabrik susu,
pengalengan ikan
b. mesin yang mengolah produk nabati, misalnya
mesin minyak kelapa, margarin, penggilingan
kopi, kembang gula, mesin pengolah biji bijian
seperti penggilingan beras, gandum dan tapioca
c. Mesin yang menghasilkan /memproduksi
minuman dan bahan bahan mijuman segala jenis
d. Mesin yang menghasilkan/memproduksi
bahan bahan makanan dan makanan segala jenis
4 Industry mesin Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin
ringan misalnya mesin jahit, pompa air
5 Perkayuan, a.Mesin dan peralatan penerbangan raya
kehutanan
. Mesin yang
mengolah/menghasilkan/memproduksi
bahan/barang kehutanan
6 konstruksi Peralatan yang dipergunakannya seperti truk
berat, dump, truck, crane buildozer, dan
sejenisnya
7 Transportasi dan a.Truk kerja untuk pengangkutan dan bongkar
pergudangan muat, truk peron, truk ngangkan, dan sejenisnya
b. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus
ysng dibuat untuk pengangkutan barang tertentu (
missal gandum, batubatuan, biji tambang, dan
sebagainya ) termasuk kapal pendingin dan kapal
tangka, kapal penangkap ikan, dan sejenisnya
yang mempunyai berat sampai dengan 100 dwt
c. Kapal yang dibuat khusus untuk menghela atau
mendorong kapal-kapal suar, kapal pemadam
kebakaran, kapal keruk, keran terapung, dan
sejenisnya, yang mempunyai berat sampai
dengan 100 DWT
d. Perahu layar pakai atau tanpa motor yang
memuat berat sampai dengan 250 DWT
e. Kapala balon
8 Telekomunikasi a.Perangkat-pesawat telepon
b. Pesawat telegraf, termasuk pesawat
pengiriman, dan penerimaan radio telegraf dan
radio telepon
9 Industry semi Auto frame leader, automatic logic handler,
konduktor baking over, ball shear tester, bipolar test
handler, cleaning machine, coating machine,
cutting oven, cutting press, dombar cut machine,
dicer, die bamder, die shear test, dynamic burn
die shear test, dynamic burn in system oven,
dynamic test handler elimination, full automatic
handler, full automatic mark, hand maker,
individual mark inseter, remover machine, laser
maker, logic test system, maker, memory test
system, moulding, mountir, MPS manual, pass
oven, pose checker, reform machine, SMD
stocker, taping machine, wire bender, wire pull
tester.

10 Jasa persewaan Spoaling machine, metocean, data collector


peralatan tambat
air dalam
11 Jasa . mobile switching center, home loction register,
telekomunikasi visitor, location register, authentication center,
seluler equipment identity register, intelligient network
service, kontrol point, radio base station,
transceiver unit, terminal SDH/mini link, antena

Jenis – jenis harta berwujud yang termasuk kelompok 3


Nomor Jenis usaha Jenis harta
urut
1 Pertambangan Mesin yang dipakai dalam bidang pertambangan,
selain minyak dan termasuk mesin mesin yang mengolah produk
gas pelikan
2 Pemintalan, a.mesin yang mengolah/menghasilkan produk
penenunan, dan tekstil, misalnya kain katun, sutra, serat serat
pencelupan buatan, wol dan bulu hewan lainnya, permadani,
kain kain bulu, dan lain lain
b. Mesin untuk preparation, bleaching, dyeing,
printing, finishing, texturing, packaging, dan
sejenisnya
3 Perkayuan a.Mesin yang mengolah/menghasilkan produk
kayu, barang barang dari jerami, rumput, dan
bahan anyaman lainnya
b. Mesin dan oeralatan penggergajian kayu
4 Ibdustri kimia a.Mesin dan peralatan yang
mengolah/menghasilkan produk industri kimia
dan industri yang ada hubungan nya degan
industri kimia , misalnya bahan kimia organis,
penyawaan organis dan anorgonis dari logam
mulia, elemen radioaktif, isotop, bahan kimia
organis, obat kecantikan, obat rias, deterjen,
sabun, dan bahan organis zat pembersih lainnya,
zat albumina, prekat, bahan peledak, produk
peroteknik, korek api, barang fotogrofis dan
sinematografi
b. Mesin yang mengolah/memproduksi produk
industri lainnya, misal dammar tiruan, bahan
plastik, ester dan eter dari selulosa, karet karet
sintetis, karet tiruan, kulit samak, jangat, dan
kulit mentah
5 Industri mesin Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin
menengah dan berat, misalnya mesin mobil,
mesin kapal
6 Transportasi dan a. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus
pergudangan dibuat untuk pengangkutan barang tertentu,
misalnya gandum, batu batuan, biji tambang dan
sejenisnya. Termasuk kapal pendingin dan kapal
tengki, kapal penangkap ikan dan sejenisnya
yang mempunya berat diatas 100 DWT sampai
dengan 1000 DWT
b. Kapal dibuat khusus untuk menghela
/mendorong kapal, kapl suar, kapal pemadam
kebakaran, kapal keruk, keran terapung, dan
sejenisnya, yang mempunya berat diatas 100
DWT samapai dengan 1000 DWT
c. Dok terapung
d. Perahu layar pakai atau tanpa motor yang
mempunyai berat diatas 250 DWT
e. Pesawat terbang dan helikopter helikopter
segala jenis
7 Telekomunikasi Perangkat radio navigasi, radar, dan kendali jarak
jauh

Jenis jenis harta berwujud yang termasuk kelompok 4


Nomor urut Jenis usaha Jenis harta
1 Konstruksi Mesin berta untuk
konstruksi
2 Transportasi dan a.Lokomotif uap dan
perdagangan tender atas rel
b. Lokomotif listrik atas
rel, dujalankan dengan
baterai atau dengan tenaga
listrik dari sumber luar
c. Lokomotif atas rel
lainnya
d. Kereta, gerbong
penumpang, dan barang
termasuk kontainer khusus
dibuat dengan dan
dilengkapi untk ditarik
dengan satu alat atau
beberapa alat
pengangkutan
e. Kapal penumpang,
kapal barang, kapal
khusus untk mengangkut
barang tertentu, misalnya
gandum, batu btuan, biji
tambang, dan sejenisnya,
termasuk kapal pendingin
da kapal tangki, kapal
penangkap ikan, dan
sebagainya yang
mempunyai berta diatas
1000 DWT
f. . Kapal dibuat khusus
untuk menghela
/mendorong kapal, kapl
suar, kapal pemadam
kebakaran, kapal keruk,
keran terapung, dan
sejenisnya, yang
mempunya berat diatas
100 DWT samapai dengan
1000 DWT
c. Dok terapung

Contoh Perhitungan Penyusutan


PT Agri Jaya pada bulan Juli 2014 membeli sebuah alat pertanian yang mempunyai
masa manfaat 4 tahun seharga Rp. 1.000.000.000,00. Penghitungan penyusutan atas
harta tersebut adalah sebagai berikut:
Alternatif I : Metode Garis Lurus
Penyusutan tahun 2014:
6/12 x 25% x Rp. 1.000.000.000,00 = Rp. 125.000,00
Penyusutan tahun 2015:
25% x Rp. 1.000.000.000,00 = Rp. 250.000,00
Penyusutan tahun 2016:
25% x Rp. 1.000.000.000,00 = Rp. 250.000,00
Penyusutan tahun 2017:
25% x Rp. 1.000.000.000,00 = Rp. 250.000,00

Penyusutan tahun 2018:

Sisanya disusutkan sekaligus = Rp. 125.000,00


PPPPPP
Alternatif II : Metode Saldo Menurun
Penyusutan tahun 2014:
6/12 x 50% x Rp. 1.000.000.000,00 = Rp. 250.000,00
Penyusutan tahun 2015:
50% x (Rp. 1.000.000.000,00 – Rp. 250.000,00) =
50% x Rp. 750.000,00 = Rp. 375.000,00
Penyusutan tahun 2016:
50% x (Rp. 750.000,00 – Rp. 375.000,00) =
50% x Rp. 375.000,00 = Rp. 187.500,00
Penyusutan tahun 2017:
50% × (Rp. 375.000,00 – Rp.187.500,00) =
50% × Rp. 187.500,00 = Rp. 93.750,00
Penyusutan tahun 2018:
Sisanya disusutkan sekaligus = Rp. 93.750,00

3. Metode Amortisasi - Fiskal


Amortisasi merupakan pengalokasian biaya perolehan harta tak berwujud yang
memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun selama masa manfaat harta tak berwujud.
Menurut ketentuan Pasal 11A ayat (1) Undang-undang Pajak Penghasilan, metode
amortisasi yang diperkenankan adalah:
 dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat (metode
garis lurus/straight line method)

 dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat (metode saldo


menurun/declining balance method)

Wajib Pajak dapat memilih salah satu metode amortisasi di atas dan dilakukan secara
konsisten atau taat asas. Perubahan metode amortisasi harus mendapat persetujuan dari
Direktur Jenderal Pajak.

Contoh Perhitungan Amortisasi


PT Asti Jaya pada tanggal 4 Januari 2015 mengeluarkan uang sebanyak Rp.
100.000.000,00 untuk memperoleh hak lisensi dari Phoenixcyle Ltd. selama 4 tahun
untuk memproduksi Sepeda Phoenix. Perhitungan amortisasi hak lisensi tersebut
adalah sebagai berikut:

Alternatif I : Metode Garis Lurus


Amortisasi tahun 2015:
25% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 25.000.000,00
Amortisasi tahun 2016:
25% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 25.000.000,00
Amortisasi tahun 2017:
25% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 25.000.000,00
Amortisasi tahun 2018:
25% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 25.000.000,00
Alternatif II : Metode Saldo Menurun
Amortisasi tahun 2015:
50% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 50.000.000,00
Amortisasi tahun 2016:
50% x (Rp. 100.000.000,00 – Rp. 50.000.000,00)
50% x Rp. 50.000.000,00 = Rp. 25.000.000,00
Amortisasi tahun 2017:
50% x (Rp. 50.000.000,00 – Rp. 25.000.000,00)
50% x Rp. 25.000.000,00 = Rp. 12.500.000,00
Amortisasi tahun 2018:
Karena tahun 2018 merupakan akhir masa manfaat, maka pada tahun 2018 seluruh
sisa nilai buku diamortisasikan sekaligus sehingga amortisasi tahun 2018 adalah:
(Rp. 25.000.000,00 – Rp. 12.500.000,00) = Rp. 12.500.000,00
Beberapa ketentuan lain tentang amortisasi adalah sebagai berikut:

1. Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan
dapat dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran atau diamortisasi.

2. Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun di bidang penambangan
minyak dan gas bumi dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi.

Contoh Amortisasi Berdasar Metode Satuan Produksi


Pada tahun 2016 PT Dira Oil mengeluarkan uangnya sebesar Rp.
1.000.000.000,00 untuk memperoleh hak penambangan minyak bumi.
Kandungan minyak bumi ditaksir sebesar 5.000.000 barel. Produksi bumi tahun
2016 mencapai 1.500.000 barel. Besarnya amortisasi untuk tahun 2016 adalah:
Tarif amortisasi = (realisasi penambangan : taksiran kandungan) x 100%
= (1.500.000 : 5.000.000) x 100%
= 30%
Amortisasi 2016 = 30% x Rp 1.000.000.000,00
= Rp. 300.000.000,00
3. Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain yang
dimaksud pada ayat (4), hak pengusahaan hutan, dan hak pengusahaan sumber
alam serta hasil alam lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu)
tahun, dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi paling tinggi
20% (dua puluh persen) setahun.

Contoh:
PT DiraWood pada tahun 2017 mengeluarkan uang sebesar Rp.
1.000.000.000,00 untuk memperoleh hak pengusahaan hutan. Potensi hak
pengusahaan hutan adalah 200.000 ton. Jumlah produksi pada tahun 2017 adalah
sebesar 80.000 ton.
Jumlah yang diamortisasi dengan persentase satuan produksi yang direalisasikan
dalam tahun 2017 adalah sebesar:
(80.000: 200.000) ton x Rp. 1.000.000.000,00 =
40% x Rp. 1.000.000.000,00 = Rp. 400.000.000,00
Jumlah yang telah diamortisasi maksimum adalah 20% dari pengeluaran, maka
amortisasi yang diperkenankan hanyalah sebesar 20% x Rp 1.000.000.000,00 =
Rp. 200.000.000,00

4. Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial yang mempunyai masa


manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dikapitalisasi dan kemudian diamortisasi.

4. Metode Alokasi Biaya - Fiskal

Terkait dengan Wajib Pajak Badan atau Orang Pribadi yang menjalankan usaha
sesuai kondisi di atas, maka Wajib Pajak tersebut wajib melakukan pembukuan secara
terpisah serta melakukan alokasi proporsi biaya dalam rangka menghitung Penghasilan
Kena Pajak. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 27 Peraturan Pemerintah (PP) 94 Taun
2010 bahwa “(1) Wajib Pajak harus menyelenggarakan pembukuan secara terpisah
dalam hal:

a. memiliki usaha yang penghasilannya dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat


final dan tidak final;
b. menerima atau memperoleh penghasilan yang merupakan objek pajak dan bukan
objek pajak; atau
c. mendapatkan dan tidak mendapatkan fasilitas perpajakan sebagaimana diatur
dalam Pasal 31A Undang-Undang Pajak Penghasilan.
(2) Biaya bersama bagi Wajib Pajak yang memiliki usaha yang penghasilannya
dikenai PPh Final dan PPh Tidak Final yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka
penghitungan besarnya Penghasilan Kena Pajak, pembebanannya dialokasikan
secaraproporsional.”
Pembukuan secara terpisah merupakan proses pencatatan yang dilakukan
secara teratur dengan melakukan pemisahan pencatatan untuk setiap transaksi,
penghasilan, dan biaya-biaya antara kegiatan usaha yang dikenai Pajak Penghasilan
dengan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 Undang-Undang Pajak
Penghasilan dengan kegiatan usaha yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat
final maupun atas penerimaan penghasilan bruto yang merupakan objek pajak dan
yang bukan merupakan objek pajak, serta penghasilan dan biaya-biaya dari usaha
yang tidak mendapatkan fasilitas perpajakan dan yang mendapatkan fasilitas
perpajakan sebagaimana diatur dalam Pasal 31A Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Contoh Kasus :
PT ABC bergerak di bidang industri pengalengan ikan yang berkedudukan di
Surabaya mempunyai aset berupa gudang dan mesin pengolahan di Papua dalam
rangka pengembangan kegiatan dan produksi perusahaan.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas
Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu
dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 62 Tahun 2008, atas industri pengalengan ikan dan biota perairan
lainnya di daerah Papua dapat diberikan fasilitas Pajak Penghasilan.
Salah satu bentuk fasilitas Pajak Penghasilan yang dimaksud adalah
penyusutan dan amortisasi yang dipercepat. Dalam hal ini, pencatatan secara terpisah
harus dilakukan untuk biaya penyusutan atas aset dalam rangka usaha yang
mendapatkan fasilitas perpajakan (di Papua) dan yang tidak mendapatkan fasilitas
perpajakan (di Surabaya).
Biaya Bersama (Join Cost)
Biaya bersama adalah pengeluaran atau biaya yang berhubungan langsung
dengan kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara suatu penghasilan
dan sekaligus berhubungan langsung dengan kegiatan untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan lainnya.
Biaya-biaya bersama yang menjadi dasar alokasi pembebanan dalam rangka
menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak adalah biaya bersama setelah
dilakukan penyesuaian/koreksi fiskal sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2008 dan peraturan pelaksanaannya.
Contoh Kasus :
PT XYZ bergerak dalam bidang usaha yang penghasilannya dikenakan Pajak
Penghasilan yang bersifat final. Dalam suatu tahun pajak, PT XYZ memperoleh
penghasilan bruto yang terdiri dari:

Keterangan Jumlah
Penghasilan dari usaha yang telah dikenakan PPh yang Rp 100.000.000.000
bersifat final
Penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan yang Rp 500.000.000.000
bersifat tidak final
Total Penghasilan Rp 600.000.000.000

Apabila biaya-biaya bersama yang tidak dapat dipisahkan setelah dilakukan


penyesuaian fiskal adalah sebesar Rp 450.000.000.000 (empat ratus lima puluh milyar
rupiah), maka biaya yang boleh dikurangkan untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan adalah sebesar:
Rp500.000.000 x Rp450.000.000.000 = Rp375.000.0000
Rp600.000.000

Alokasi pembebanan pengeluaran atau biaya yang merupakan joint cost kepada
masing- masing penghasilan, apabila tidak dapat dipisahkan secara jelas sesuai
pengeluaran atau biaya yang sebenarnya terjadi untuk masing-masing penghasilan
tersebut, dapat dilakukan secara proporsional berdasarkan perbandingan jumlah
penghasilan bruto, jam kerja atau jam pakai, atau cara perbandingan lainnya yang
relevan dan lazim. Beban dari penghasilan yang dikenakan PPh final tidak dapat
diperhitungkan.
Apabila besarnya suatu pengeluaran atau biaya untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara suatu penghasilan tidak terpengaruh oleh ada-tidaknya kegiatan untuk
mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan lainnya, atau dengan perkataan
lain jumlahnya tetap sama, maka dalam hal demikian pengeluaran atau biaya tersebut
bukan merupakan joint cost, sehingga pembebanannya tidak dialokasikan melainkan
merupakan beban sepenuhnya dari penghasilan yang terkait saja.