Anda di halaman 1dari 49

Kebijakan Kota Cerdas di Indonesia:

Studi Kasus Jakarta Smart City Dalam Dua Kepemimpinan

Rofi Uddarojat

R T
A
M
S IT Y
C

1
KEBIJAKAN KOTA CERDAS DI INDONESIA:
Studi Kasus Jakarta Smart City Dalam
Dua Kepemimpinan

Rofi Uddarojat

2019
2
i
i RINGKASAN EKSEKUTIF

1 1. Pengantar
3 Big Data dan Internet Things
8 Apa Pengertian Kota Cerdas

10 2. Kebijakan Kota Cerdas Di Jakarta


11 Latar Belakang Kebijakan
15 Pembentukan Jakarta Smart City
18 Implikasi Kebijakan Kota Cerdas
di Jakarta (2014-2017)
26 Jakarta Smart City Pada Kepemimpinan
Baru (2017-2018)

31 3. Rekomendasi
32 Strategi Kebijakan Kota Cerdas
34 Rekomendasi Untuk Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta

36 DAFTAR PUSTAKA
ii
RINGKASAN EKSEKUTIF
i
Ringkasan Eksekutif

Daerah Khusus Ibukota Jakarta memiliki wilayah 662 kilometer persegi dengan

total penduduk 9,6 juta orang. Fakta ini membuat Jakarta membutuhkan pendekatan yang

“cerdas” dalam mengelola sumber daya kota agar menghasilkan solusi perkotaan yang

akurat dan efisien. Konsep kota cerdas (smart city) – yaitu konsep yang mengedepankan

instrumen teknologi informasi dan internet dalam mengatur perkotaan dianggap sebagai

salah satu cara paling efektif dalam mengatur kota.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2014 telah memulai program

kota cerdas dengan meluncurkan sistem pengaduan berbasis aplikasi smartphone

yang dinamakan Qlue dan Cepat Respon Opini Publik (CROP). Pemprov DKI Jakarta

berkolaborasi dengan perusahaan aplikasi Qlue dalam mengelola kanal aduan masyarakat

tersebut.

Inisiatif ini kemudian disusul dengan membentuk Jakarta Smart City yang

digunakan sebagai pusat komando dan operasional kegiatan kota pintar di Jakarta.

Program pengaduan berbasis aplikasi tersebut cukup sukses menggalang partisipasi

publik. Di tahun tersibuknya, jumlah total laporan dan aduan masyarakat yang diterima

Qlue berkisar antara 20.000-55.000 per bulan yang datang dari 4.000-12.000 akun.

Pergantian kepemimpinan di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, menurunkan

tingkat partisipasi publik dalam pengaduan masalah kota. Penurunan jumlah laporan

diketahui sebanyak 57,94% sejak April 2017 hingga Desember 2017. Beberapa faktor
ii | Ringkasan Eksekutif

yang melatarbelakangi penurunan tersebut diantaranya adalah tingkat penyelesaian

masalah yang semakin lama. Di tahun 2016 hanya membutuhkan waktu rata-rata 9 jam

untuk menyelesaikan satu masalah, di tahun 2017 menurun hingga 72 jam atau 6 hari per

masalah. Gubernur Anies Baswedan perlu menindaklanjuti penurunan partisipasi publik

ini dengan mengembalikan kepercayaan publik kepada program pengaduan berbasis

aplikasi yang kini sedang menurun.


Gubernur dan Wakil Gubernur perlu mengembalikan sistem insentif dan hukuman

bagi SKPD yang tidak berkomitmen menindaklanjuti keluhan warga yang sudah melapor,

memperkuat instrumen kota cerdas ke dalam isu-isu kebijakan strategis yang menjadi

prioritas seperti kewirausahaan dan pendidikan, serta memperluas cakupan beberapa

karakteristik kota cerdas yang belum cukup kuat seperti sektor kewargaan (smart people),

sektor ekonomi (smart economy), sektor lingkungan (smart environment).

iii | Ringkasan Eksekutif


iv
1
PENGANTAR
1
1. Pengantar

Tingginya tingkat urbanisasi – proses perpindahan penduduk dari desa ke

kota, memicu pertumbuhan populasi perkotaan secara signifikan. Data di tahun 2015

menyebutkan bahwa tingkat pertumbuhan penduduk di perkotaan di Indonesia jauh lebih

tinggi (2,75%) dibandingkan tingkat pertumbuhan nasional (1,17%).1 Fakta ini membuat

kebutuhan untuk memiliki pelayanan publik yang lebih efektif dan efisien semakin penting,

utamanya dalam menciptakan kesempatan kerja, mengatur kepadatan pemukiman dan

transportasi, menanggulangi kriminalitas, dan menjaga kualitas lingkungan kota. 2

Di masa depan kebutuhan mengatur perkotaan secara efisien dan berkelanjutan

semakin mendesak. Diprediksi di tahun 2045 jumlah penduduk perkotaan akan mencapai

82,37% dari total penduduk Indonesia.3 Di tahun 2015, jumlah proporsi penduduk

kota di Indonesia sudah melampaui penduduk desa, yang mencapai angka 59,35%.

Data ini sejalan dengan tren urbanisasi dunia yang menyatakan bahwa kini sebanyak

54% penduduk dunia sejak tahun 2014 menghuni kawasan perkotaan. Di tahun 2050

mendatang, diprediksi bahwa jumlah penduduk perkotaan akan mencapai 66% dari total

penduduk dunia.4

Konsep “Kota Cerdas” (Smart City) diakui sebagai salah satu cara efektif untuk

menanggulangi kompleksitas masalah perkotaan. Dengan semakin berkembangnya

teknologi digital dan informasi (ICT), termasuk pemanfaatan big data dan internet, Kota

Cerdas dianggap mampu menanggulangi permasahan sosial, ekonomi, dan lingkungan

secara lebih akurat dan efisien. Kota cerdas memungkinkan menghasilkan informasi yang

berguna – utamanya agar sumber daya bisa diatur secara akurat dan efisien sehingga

menghasilkan kualitas hidup yang lebih baik.5 Kota Cerdas juga dianggap sebagai cara
2 | Pengantar

1 Badan Pusat Statistik, 2015


2 Ibid.
3 United Nations: Department of Economic and Social Affairs, “World Urbanization Prospects 2014” https://esa.
un.org/unpd/wup/publications/files/wup2014-highlights.pdf diakses pada 08/04/2018 pukul 23:33
4 Ibid.
5 Michael Tomordy, “Smart City: Transforming the 21st Century City via the Creative Use of Technology”,
Presentation in Asia Practice Leader https://www.cisco.com/c/dam/global/en_vn/assets/sccconference2011/pdfs/
baru yang kreatif dan inovatif untuk menanggulangi isu-isu kebijakan publik, serta mampu

keluar dari cara-cara lama yang seringkali terhambat oleh institusi birokratis atau sumber

daya manusia yang tidak mumpuni.

“Big Data” dan “Internet of Things”

Secara sederhana “big data“ diartikan sebagai kumpulan data yang

masif dan kompleks, yang menjelaskan segala urusan aktivitas manusia

dalam skala hari per hari. “Internet of Things“ (IoT) adalah istilah yang

mendorong penggunaan konektivitas internet yang luas dan tak terbatas,

membuat teknologi sensor, frekuensi radio, maupun implementasi

bluetooth dalam layanan koneksi internet. Big data dan IoT memainkan

peran krusial dalam mewujudkan kota cerdas, berkat adanya big data dan

IoT pengelola atau pemerintah kota mampu mendapatkan sekumpulan

data berkaitan dengan kotanya yang kemudian digunakan dalam analisis

dan pembuatan kebijakan yang akurat.

Penggunaan big data dan IoT memiliki peran yang beragam dalam

mendorong terwujudnya kota cerdas. Misalnya, dalam mendukung sektor

kesehatan, peran big data mampu membantu para pakar kesehatan

untuk menganalisa pola penyakit dan pasien di suatu daerah berdasarkan

data yang tecatat. Dalam urusan transportasi, data yang dikumpulkan

dalam big data mampu menganalisis data lalu lintas dan merekayasa

jalur lalu lintas, agar menghindrasi kemacetan di titik-titik tertentu. Di

urusan perekonomian, data yang dikumpulan dalam big data mampu

menghasilkan analisis yang berguna menghubungkan pencari kerja dan


3 | Pengantar

penyedia lapangan kerja.6

michael_tomordy-presentationeng.pdf
6 Ibrahim Abaker Targio Hashema, Victor Chang, Nor Badrul Anuar, Kayode Adewolea, Ibrar Yaqooba, Abdullah
Gani, Ejaz Ahmeda, Haruna Chiroma, “The Role of Big Data in Smart City” International Journal of Data Manage-
ment, Oktober 2016, hal. 2
Oleh karena itu, pemerintah pusat telah menjadikan Kota Cerdas sebagai salah

satu prioritas kebijakan perkotaan di Indonesia. Kementerian Perencanaan Pembangunan

Nasional/Badan Perencanaan Nasional juga mencanangkan Kota Cerdas sebagai salah

satu tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs)7 yang dicantumkan dalam Peraturan

Presiden No. 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan

Berkelanjutan.8

SDGs merupakan inisiatif Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menentukan arah

tujuan pembangunan berkelanjutan dunia. SDGs mencanangkan 17 tujuan besar yang

melingkupi area-area sosial, kesehatan, dan ekonomi. Di dalam salah satu tujuan SDGs,

juga disebutkan kebutuhan pembangunan untuk membentuk kota dan hunian yang aman,

berkelanjutan, berketahanan, dan inklusif. Dalam hal ini, Kota Cerdas dianggap menjadi

salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan SDGs yang tercantum dalam tujuan

nomor 11.

Walaupun begitu, selain kota cerdas diakui sebagai salah satu tujuan pembangunan

yang penting, kota cerdas juga mampu berperan sebagai pendorong (enabler) dan

pendekatan alternatif pemerintah dalam mencapai tujuan-tujuan dalam SDGs. Gagasan

Kota Cerdas bukan hanya dilakukan untuk membantu mengatasi permasalahan perkotaan

– yang seringkali diidentikkan seperti pengaduan publik, kemacetan, ataupun pengelolan

sampah. Dengan menggunakan teknologi digital dan koneksi internet, masalah-masalah

lain yang sifatnya tradisional seperti pendidikan, kesehatan, dan perekonomian bisa

ditanggulangi secara lebih efektif. Oleh karena itu, implementasi kota cerdas secara

langsung akan membantu penyelesaian target tujuan pembangunan SDGs.


4 | Pengantar

7 Konsep Kota Cerdas menjadi salah satu acuan dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam
poin 11 di dalam agenda SDGs disebutkan “make cities and human settlements inclusive, resilient, safe, and
sustainable.” Sedangkan di poin 16 juga disebutkan “promote peaceful and inclusive societies for sustainable
development, provide justice for all, and build effective, accountable, and inclusive institutions at all levels.” Lihat
https://sustainabledevelopment.un.org/sdgs diakses pada 01/03/2018
8 Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.hukumonline.com/pusatdata/downloadfile/lt5974be95cd4a6/parent/lt5974be3586d3e diakses pada
01/03/2018 pukul 22:40
Gambar 1

Butiran Kebijakan dan Aktor dalam

Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 59 TAHUN 2017

TENTANG

PELAKSANAAN PENCAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa Negara Indonesia merupakan salah satu negara


anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berperan aktif
dalam penentuan sasaran Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan sebagaimana tertuang dalam dokumen
Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable
Development;

b. bahwa untuk memenuhi komitmen pemerintah dalam


pelaksanaan pencapaian Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan/Sustainable Development Goals, perlu
adanya penyelerasan dengan Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional dan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud


dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan
Presiden tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan;

Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

Kebijakan Kota Cerdas kemudian disebut secara lebih terinci dalam roadmap

Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2025-2045.

Kebijakan kota pintar dalam RPJPN diatur dalam tiga tahap:


5 | Pengantar

1. Tahap pertama, pemenuhan 100% indikator Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) yang

mencakup Kota Layak Huni, Aman, dan Nyaman. Kebijakan ini diharapkan terpenuhi

secara penuh pada tahun 2025.


2. Tahap kedua, pemenuhan 100% indikator Kota Hijau, berketahanan iklim dan

berketahanan bencana. Kebijakan ini diharapkan terpenuhi secara penuh pada tahun

2035.

3. Tahap ketiga, pemenuhan 100% indikator Kota Cerdas yang berdaya saing dan berbasis

teknologi terwujud di seluruh kota. Kebijakan ini direncanakan terpenuhi secara penuh

pada tahun 2045.

Dalam konteks keterbukaan data (Open Data), Indonesia menjadi salah satu negara

yang mendukung keterbukaan data. Di tahun 2011, Indonesia menjadi salah satu pendiri

forum multilateral negara-negara pendukung kebijakan keterbukaan data atau “Open

Government Partnership” bersama Mexico, Norwegia, Afrika Selatan, Filipina, Amerika

Serikat, dan Britania Raya.9 Hasil dari pertemuan multilateral tersebut adalah dibentuknya

salah satu badan di bawah Presiden yang bertugas untuk mendorong keterbukaan data,

Open Government Indonesia (OGI). Badan ini membidangi beberapa instrumen kebijakan

dalam transparansi dan keterbukaan data pemerintah seperti LAPOR!, Portal Satu Data,

dan Inisiatif Satu Peta.10

Dalam skala yang lebih luas, kementerian dan lembaga negara di level nasional

juga dituntut untuk menunjang rencana pemerintah tentang kota cerdas. Pemerintah pusat

mencanangkan beberapa program untuk mendorong penggunaan konsep kota cerdas

di Indonesia. Di tahun 2017, Kementerian Komunikasi dan Informatika mencanangkan

“Gerakan Menuju 100 Smart City” yang bertujuan untuk mendorong pemerintah kabupaten/

kota untuk memulai program Kota Cerdas di wilayahnya. 11

Kemenkominfo menjalin kerjasama dalam bentuk Memorandum of Understanding

(MoU) agar pemerintah kabupaten/kota mau mengimplementasikan program Kota

9 The Guardian, “Indonesia Takes on Lead on Open Government Partnership” https://www.theguardian.com/public-


leaders-network/2013/oct/30/indonesia-chair-open-government diakses pada 08/04/2018 pukul 22:40
6 | Pengantar

10 Open Government Indonesia, “About Open Government Indonesia” http://www.opengovindonesia.org/about/1/


open-government-indonesia diakses pada 08/04/2018 pukul 22:41
11 Kemenkominfo menggunakan beberapa Indikator untuk memilih 24 pemerintah kabupaten/kota yang dianggap
telah menyelesaikan master plan kota cerdas, di antaranya adalah Kemampuan Keuangan Daerah (KKD),
Daftar Kabupaten/Kota Berkinerja Tinggi, Indeks Kota Berkelanjutan, dan Indeks Kota Hijau. Lihat “Siaran
Pers No. 223/HM/KOMINFO/11/2017” https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/11489/siaran-pers-no-
223hmkominfo112017-tentang-tahap-pertama-gerakan-menuju-100-smart-city-2017-24-kotakabupaten-berhasil-
menyelesaikan-smart-city-masterplan/0/siaran_pers diakses pada 03/03/2018 pukul 22:10
Cerdas. Dalam deklarasi program tersebut, Kemenkominfo juga menyeleksi dan memilih

24 pemerintah kabupaten/kota yang dianggap telah melengkapi master plan kota cerdas

sebagai tahap awal gerakan pembentukan 100 kota cerdas hingga tahun 2018.12

Kebijakan untuk mengadopsi konsep kota cerdas telah dimulai oleh beberapa

pemerintah daerah di tingkat kabupaten/kota ataupun provinsi. Kebijakan ini diinisiasi

langsung oleh pemerintah daerah dan menjadi program daerah tersebut tanpa ada

instruksi maupun koordinasi kebijakan dari pemerintah pusat. Beberapa usaha tersebut

sebagian besar diinisiasi langsung dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah (APBD), walaupun tidak menutup kerjasama dan keterlibatan pihak

swasta.

Beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya misalnya membangun

infrastruktur yang menopang program kota cerdas di kotanya. Ketiga kota tersebut

membangun pusat komando (command center) – yang digunakan untuk memantau situasi

permasalahan seperti kemacetan, banjir, dan lain-lain. langsung dari tempat kejadian

melalui kamera Closed Circuit Television (CCTV), perangkat teknologi informasi berbasis

situs internet ataupun aplikasi smartphone untuk membantu transparansi dan efisiensi

kinerja pemerintah daerah seperti e-Government, dan perangkat-perangkat lainnya yang

ditujukan untuk pelayanan publik.

7 | Pengantar

12 Sejumlah 24 Kabupaten/Kota yang dipilih tersebut adalah Kota Semarang, Kabupaten Sleman, Kota Singkawang,
Kota Makassar, Kota Bogor, Kota Tomohon, Kabupaten Badung, Kabupaten Siak, Kabupaten Gresik, Kota Jambi,
Kabupaten Sidoarjo, Kota Bandung, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kabupaten Purwakarta, Kota Sukabumi, Kota
Samarinda, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota Tangerang, Kabupaten Banyuasin,
Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Banyuwangi.
Apa Pengertian Kota Cerdas?

Sumber: Jakarta Smart City Interaktif 13

Kota Cerdas (Smart City) secara sederhana didefinisikan sebagai

penggunaan teknologi digital informasi dan internet untuk mengatasi isu-

isu kebijakan publik. Menurut Boyd Cohen kota cerdas diartikan sebagai

sebuah inisiatif teknologi berupa open data atau Integrated-ICT untuk

meningkatkan area yang selama ini dianggap “tradisional” seperti sektor

pendidikan dan lingkungan.

Menurut Giffinger (2007), kota cerdas juga memiliki 6 karakteristik yang

meliputi sektor ekonomi (smart economy), sektor kewargaan (smart

people), sektor pemerintahan (smart governance), sektor transportasi/


8 | Pengantar

mobilitas (smart mobility), sektor lingkungan (smart environment), dan

sektor perumahan (smart living).

13 Interactive Jakarta Smart City http://interactive.smartcity.jakarta.go.id/ diakses pada 05/04/2018 pukul 11:15
Dalam pelaksanannya, konsep Kota Cerdas memerlukan keterlibatan

dan koneksi antara komponen teknologi, warga negara, dan institusi

lainnya termasuk negara dan swasta. Penggunaan kata “cerdas” diartikan

sebagai inovasi dan transformasi yang didukung oleh teknologi terbaru. 14

Walaupun begitu, terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan

dalam mendefinisikan kota cerdas. Tan Kok Yam, Kepala Smart National

Programme Office di Kantor Perdana Menteri Singapura menegaskan

bahwa aspek-aspek dalam kota cerdas meliputi;

1) peran kota sebagai pengguna pintar dari teknologi digital untuk

meningkatkan pelayanan publik seperti transportasi publik dan jaminan

kesehatan,

2) kota cerdas berperan sebagai pendorong bagi inovasi yang dilakukan

oleh dunia bisnis dan individual dengan menyediakan konektivitas, open

data, platform untuk percobaan,

3) kota cerdas berperan sebagai sumber dari gagasan dan solusi yang

berguna tidak hanya bagi kota tersebut, tetapi juga bagi perkembangan

kota-kota lain di seluruh dunia.15

9 | Pengantar

14 Marta Peris-Ortiz, Dag R. Bennett, Diana Pérez-Bustamante Yábar, “Sustainable Smart Cities: Creating Spaces
for Technological, Social and Business Development”, Springer, 2017, 2010
15 Economist Intelligence Unit (EIU), “Start-up My City: Smart and Sustainable Cities in Asia” http://startupmycity.
economist.com/startup-my-city-smart-sustainable-cities-asia/ diakses pada 05/04/2018 pukul 3:15
2
KEBIJAKAN KOTA
CERDAS DI JAKARTA
10
2. Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta

2.1 Latar Belakang Kebijakan

Daerah Khusus Ibukota Jakarta memiliki wilayah 662 kilometer persegi dengan

total penduduk 9,6 juta orang.16 Menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2014 kurang

lebih sebanyak 2,49 juta penghuninya pulang-pergi (commuting) masuk dan keluar

dari Jakarta akibat menetap di kawasan penyangga.17 Pertumbuhan penduduk rata-rata

per tahun mencapai 1,39 persen dalam rentang waktu 2000-2010, di mana kepadatan

mencapai lebih dari 1300 penduduk per kilometer di tahun 2010, menjadikannya salah

satu kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia.

Sementara itu, kemacetan di Jakarta menggunakan indeks kemacetan Tomtom

termasuk peringkat kemacetan nomor tiga di dunia. Jakarta hanya tersisih dari kota

Meksiko (peringkat 1) dan Beijing (peringkat 2). Tingkat kemacetan di Meksiko mencapai

66%, kemacetan di Beijing sebesar 61% sedangkan Jakarta adalah 58%. Di bawah

Jakarta terdapat Chongqing (China), Bucharest (Rumania), Istanbul (Turki), dan Chengdu

(China).18 Fakta tersebut juga menyebutkan puncak kemacetan di pagi hari serta di

sore hari, juga hari kamis sebagai hari paling macet serta waktu tambahan yang bagi

11 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta


warga kota Jakarta. Angka 58 persen merupakan tingkat waktu tambahan yang perlu

dihabiskan warga.19

Menilik dari segi perubahan iklim berdasarkan studi Yusuf dan Fransisco

(2009) menempatkan kota Jakarta sebagai salah satu kota berpantai yang memiliki

kerentanan terhadap perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara.20 Jakarta juga menjadi

16 Kata Data, “Berapa Jumlah Penduduk DKI Jakarta?” https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/01/24/


berapa-jumlah-penduduk-jakarta diakses pada 18/04/2018 pukul 5:20
17 Badan Pusat Statistik, “Statistik Komuter Jabodetabek” https://media.neliti.com/media/publications/48476-ID-
statistik-komuter-jabodetabek-2014.pdf diakses pada 18/04/2018 pukul 5:20
18 Diovio Alfath, “Smart Mobility dan Kemacetan di Jakarta” Friedrich Naumann Stiftung, http://indonesia.fnst.org/
content/smart-mobiliy-dan-kemacetan-jakarta
19 Ibid
20 Arief Anshory Yusuf dan Herminia Fransisco, “Climate Change Vulnerability Mapping for Southeast Asia”, IDRC-
CRDI, https://www.idrc.ca/sites/default/files/sp/Documents%20EN/climate-change-vulnerability-mapping-sa.pdf
diakses pada 04/03/2018 pukul 19:01
salah satu kota yang memiliki tingkat pencemaran udara yang tinggi di dunia. Hal ini

disebabkan oleh penggunaan kendaraan pribadi yang masif untuk pulang-pergi bekerja,

sehingga tidak hanya menyebabkan kemacetan yang menghambat kegiatan ekonomi,

tapi juga menghasilkan pencemaran udara yang cukup mengkhawatirkan.

Hasil pengamatan tingkat polusi udara yang dilakukan oleh Greenpeace dan

Kedutaan Besar Amerika Serikat selama tahun 2017 hingga saat ini menyatakan tingkat

polusi kota Jakarta telah melewati batas “tidak sehat” yang berisiko menghasilkan

dampak kesehatan yang serius bagi warga Jakarta. Angka particulate matters (PM)

2.521 yang digunakan untuk mengukur tingkat polusi udara harian di Jakarta menyentuh

angka 150 µg/m3, telah melebihi standar yang ditoleransi oleh Organisasi Kesehatan

Dunia (WHO) 25 µg/m3 atau standar pemerintah pusat 65 µg/m3.22 Angka

tersebut tidak hanya melebihi standar kesehatan suatu kota, tetapi juga telah memberikan

risiko penyakit bagi warga yang hidup di kota tersebut.

Pencemaran udara menjadi ancaman serius dan menjadi risiko terbesar

di dunia yang mengancam kesehatan manusia. Berdasarkan studi WHO (2012),

diperkirakan seperdelapan kematian manusia di seluruh dunia (sekitar tujuh juta per

tahun) meninggal akibat udara yang dihirup telah tercemar.23 Untuk Kota Jakarta

berdasarkan estimasi beberapa lembaga diantaranya Kementerian Lingkungan Hidup


12 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta

(KLH) yang dikutip Koalisi Penghapusan Bahan Bakar Timbal (KPBB), sekitar 58 persen

warganya menderita sakit akibat terpapar pencemaran udara dengan biaya berobat

mencapai 51,2 Trilyun Rupiah.24

21 PM 2.5 adalah satuan yang terkecil partikel polutan yang digunakan untuk mengukur ketercemaran udara. PM
2.5 digunakan oleh beberapa lembaga dunia seperti WHO sebagai ukuran paling akurat untuk mengukur tingkat
polusi. Pemerintah Indonesia hingga saat ini masih menggunakan ukuran PM 10 – satuan partiker polutan yang
lebih besar seperti yang diatur pada Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Lihat http://www.cets-uii.org/BML/
Udara/ISPU/ISPU%20(Indeks%20Standar%20Pencemar%20Udara).htm diakses pada 04/03/2018 pukul 20:45
22 Manik Sukoco, “Seberapa Buruk Kualitas Udara di Jakarta?” https://kumparan.com/manik-sukoco/seberapa-
buruk-kualitas-udara-di-jakarta diakses pada 04/03/2018 pukul 19:45
23 Arshiya Khullar, “WHO: Air Pollution Caused 1 in 8 Deaths” https://edition.cnn.com/2014/03/25/health/who-air-
pollution-deaths/index.html diakses pada 04/03/2018 pukul 18:45
24 Desi Anggraini, “58% Warga Jakarta Menderita Penyakit Akibat Polusi Udara” http://news.metrotvnews.com/
metro/9K5j9mRN-58-warga-jakarta-menderita-penyakit-akibat-polusi-udara diakses pada 04/03/2018 pukul 18:45
Tabel 1

Tingkat Polusi Udara Berdasarkan Angka PM 2.5

Sumber: Kedutaan Besar Amerika Serikat25

Tingkat ketercemaran polusi udara Jakarta yang mencapai status

“tidak sehat” memiliki dampak yang cukup serius. Seperti yang dijelaskan

oleh tabel di atas, status polusi udara yang “tidak sehat” memiliki dampak

kesehatan yang berbahaya dalam jangka panjang bagi warga yang

13 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta


tinggal di kota tersebut. Udara berpolusi tinggi tidak hanya berbahaya

bagi orang yang memiliki sensitivitas terhadap udara seperti ibu hamil dan

anak-anak, tapi juga mengancam bagi setiap orang yang menghirupnya.

Oleh karena itu, polusi udara yang tidak sehat berpotensi menyebabkan

beberapa penyakit pernafasan seperti infeksi saluran pernapasan akut

(ISPA) bagi anak-anak hingga kanker. Udara dengan polusi yang tinggi

juga dapat meningkatkan kadar racun dalam pembuluh darah yang bisa

menyebabkan stroke, penyakit kardiovaskular, dan penyakit jantung.

Udara berpolusi tinggi juga bisa mengancam ibu hamil karena berpotensi

25 US Embassy Jakarta Air Quality Monitor https://id.usembassy.gov/embassy-consulates/airqualitymonitor/


menyerang janin. 26
Hal ini sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat

di Jakarta, apalagi mobilitas yang tinggi dalam menopang perputaran

ekonomi nasional membuat seseorang yang beraktivitas di Jakarta akan

semakin rentan terpapar penyakit-penyakit pernafasan yang diakibatkan

oleh buruknya polusi udara.

Berbagai permasalahan kota yang serius dan kompleks tersebut

menjadi sulit dipecahkan karena birokrasi pemerintah yang cenderung

mempersulit keadaan. Pemerintah DKI Jakarta pada tahun 2014 –

sebelum adanya kepemimpinan baru dan terbentuknya Jakarta Smart

City – termasuk birokrasi yang mempersulit kegiatan ekonomi dan

kewirausahaan, dalam hal ini adalah membuka bisnis dan usaha baru.

Menurut data Bank Dunia, pada tahun 2014 diperkirakan dibutuhkan waktu

52 hari untuk mengurus perizinan apabila ingin membuka perusahaan di

Jakarta.27 Hal ini sangat berbeda jauh dengan kondisi saat ini, di tahun

2018 ketika reformasi birokrasi yang digulirkan kepemimpinan Gubernur

Joko Widodo dan Gubernur Basuki Tjahaya Purnama – yang di dalamnya

meliputi pembentukan Jakarta Smart City. Kini waktu yang dibutuhkan


untuk memulai bisnis di Jakarta 22 hari.28 Oleh karena sistem birokrasi
14 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta

yang buruk tersebut, maka partisipasi warga pun tidak terlaksana dengan

baik. Warga Jakarta tidak memiliki akses langsung kepada pemerintah

daerah untuk menyampaikan keluh kesah dan pengaduan terkait masalah

perkotaan.

26 Greenpeace “Polusi Udara Ancam Kesehatan masyarakat” http://m.greenpeace.org/seasia/id/mid/press/releases/


Polusi-Udara-Ancam-Kesehatan-Masyarakat/ diakses pada 10/05/2018 pukul 5:37
27 World Bank, “Doing Business 2014: Indonesia” http://documents.worldbank.org/curated/en/278071468039055776/
pdf/828630Indonesia0IDN0Box0382099B00PUBLIC0.pdf
28 World Bank, “Doing Business 2018: Indonesia” http://www.doingbusiness.org/data/exploreeconomies/indonesia
diakses pada 10/05/2018
2.2 Pembentukan Jakarta Smart City

Dengan risiko-risiko permasalahan kota yang begitu tinggi, Pemerintah Provinsi DKI

Jakarta menyadari untuk mengatasi masalah perkotaan dengan memanfaatkan teknologi

informasi demi mendapatkan situasi dan solusi yang akurat. Walaupun begitu, ide untuk

membangun konsep Kota Cerdas datang dari semangat untuk mendekatkan aspirasi dan

keluhan warga terhadap pembangunan di Kota Jakarta (Lihat kotak penjelasan tentang

pembentukan Jakarta Smart City).

Oleh karena itu, fase pertama program kota cerdas yang dilakukan di tahun 2014

yaitu meluncurkan dua aplikasi smartphone yang membantu warga dalam menyampaikan

keluhan terkait permasalahan kota. Dua aplikasi tersebut – yang bernama aplikasi Qlue

dan Cepat Respon Opini Publik (CROP) merupakan hasil kolaborasi dengan pihak swasta,

yaitu perusahaan aplikasi Qlue. 29

Fungsi utama dari kedua aplikasi tersebut adalah;

1) Aplikasi Qlue digunakan untuk menampung keluhan terkait permasalahan kota

yang berhubungan dengan fasilitas infrastuktur, pelayanan birokrasi, lalu lintas, dan

masalah-masalah perkotaan lainnya. Warga bisa melaporkan permasalah seperti

sampah, kemacetan, parkir liar, dan sebagainya yang kemudian akan masuk ke

dalam daftar masalah yang harus diselesaikan oleh pejabat dinas terkait.

15 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta


2) Aplikasi CROP bertujuan untuk menindaklanjuti keluhan masyarakat oleh pejabat

kelurahan dan kecamatan di Jakarta yang sudah diterima melalui aplikasi Qlue.

Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Basuki Tjahaja Purnama menggunakan

indikator keterselesaian laporan warga dalam menilai performa dan kinerja aparatur

pemerintah Jakarta, sehingga pelayanan Qlue dan CROP berjalan efektif dalam

menjaring kepercayaan publik.

29 Tertiazani ZB Simanjuntak, “Making A Jakarta Smart City” The Jakarta Post http://www.thejakartapost.com/
news/2015/07/05/making-jakarta-a-smart-city.html diakses 10/03/2018
Gambar 2

Ilustrasi aplikasi Qlue

Sumber: Aplikasi Qlue (2018)

Di tahun berikutnya, program kota cerdas Jakarta diperluas dengan membangun

pusat komando (command center) dan Jakarta Smart City Lounge yang berfungsi untuk

memantau titik lokasi secara langsung serta menjadi pusat operasional kegiatan kota

cerdas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di Tahun 2016, tercatat jumlah kamera CCTV

di Jakarta telah mencapai 3.517, yang di antaranya sebanyak 2.832 kamera CCTV
16 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta

terhubung dengan sistem Jakarta Smart City.30

Di tahun 2016, Jakarta Smart City secara resmi ditetapkan sebagai organisasi

Unit Pengelola Teknis di bawah Dinas Komunikasi, Informatika, dan Kehumasan Provinsi

DKI Jakarta dengan diterbitkannya Peraturan Gubernur No. 306 tahun 2016 tentang

“Pembentukan dan Tata Kerja Unit Pengelola Jakarta Smart City” yang memberi kepastian

hukum atas posisi dan kinerja Jakarta Smart City dalam mengelola aduan dan pelayanan

masyarakat Jakarta.31

30 “Ahok Klaim Sudah Pasang 5.000 CCTV Terintegrasi Jakarta Smart City, ini Faktanya” Banjarmasin Post http://
banjarmasin.tribunnews.com/2017/02/11/ahok-klaim-sudah-pasang-5000-cctv-terintegrasi-jakarta-smart-city-ini-
faktanya
31 Peraturan Gubernur No. 306 Tahun 2016 tentang “Pembentukan dan Tata Kerja Unit Pengelola Jakarta Smart
City” http://jdih.jakarta.go.id/uploads/default/produkhukum/PERGUB_NO.306_TAHUN_.2016_.pdf
Tabel 2

Daftar Inisiatif Jakarta Smart City 32

Smart Living 1. GPS tracking pada mobil-mobil ambulance


2. Monitoring tingkat ketinggian air sungai
untuk mencegah banjir
Smart Mobility 3. GPS tracking pada bus-bus Transjakarta
4. API, tracking kedatangan transportasi
umum bekerja sama dengan Trafi dan
Google
Smart Economy 5. Pendataan Pedagang Kaki Lima, bekerja
sama dengan Zomato & Go-Food
6. “Jakarta goes online”, bekerja sama dengan
Tokopedia
Smart People 7. Penyediaan Co-Working Space
Smart Environment 8. Air Quality Control
9. GPS tracking pada truk-truk pengangkut
sampah
10. Manajemen lampu jalan berbasis daring
Smart Governance 11. e-government
12. Aplikasi aduan masyarakat Qlue
13. Aplikasi Cepat Respon Opini Publik (CROP)
14. Open Data
15. GPS tracking pada alat-alat berat milik
Pemprov DKI Jakarta

Sumber: Jakarta Smart City, 2017

17 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta


Dalam perjalanannya, Jakarta Smart City juga membangun kolaborasi dengan

perusahaan-perusahaan start-up dalam bidang teknologi informasi untuk menunjang

program-program kota cerdas. Bahkan beberapa program diinisiasi berdasarkan kolaborasi

lebih dari 2 lembaga sekaligus. Di dalam situs resmi-nya, tercantum 11 perusahaan yang

menjadi mitra tetap Jakarta Smart City yang membidangi elemen-elemen dalam Jakarta

Smart City. Selain Qlue, Di dalam situs resmi Jakarta Smart City disebutkan 11 mitra

resmi lainnya, yaitu Tokopedia, IndoRelawan, Nodeflux, Zomato, Ragunan Zoo, Trafi, Go-

food, InfoPanganJakarta, dan Waze, dan IJakarta.33

32 Setiaji, “Digital Cities and Innovation Cities for a Smarter City”, https://www.itu.int/en/ITU-D/Regional-Presence/
AsiaPacific/Documents/Events/2017/Sep-SCEG2017/SESSION-4_Indonesia_Mr_Setiaji.pdf diakses pada
01/04/2018 pukul 12:08
33 Jakarta Smart City, http://smartcity.jakarta.go.id/ diakses pada 09/04/2018 pukul 2:15
Tabel 3

Mitra dan Produk Kolaborasi Jakarta Smart City

No. Mitra Lembaga Produk Kolaborasi.


Jakarta Goes Online, platform toko
1 Tokopedia
online bagi UMKM Kota Jakarta.
Kerja sama dalam memfasilitasi
2 IndoRelawan relawan ikut serta dalam program-
program JSC.
Kerja sama dalam pengelolaan dan
3 Nodeflux
analisa big data.
Program #Kaki5Jakarta, Kerja sama
4 Zomato dalam mempromosikan kuliner dan
UKM penjual makanan di Jakarta.
Kerja sama dalam data-sharing
5 Trafi transportasi yang digunakan dalam
menyusun perencanaan perkotaan.
Kerja sama dalam penggunaan aplikasi
6 Ragunan Zoo dan pembayaran non-tunai di kebun
binatang Ragunan.
Pembuatan sistem aduan masyarakat
7 Qlue
berbasis aplikasi.
Promosi kuliner Jakarta di aplikasi
8 Go-food
pemesanan daring Go-Jek.
Memberikan info harga pangan,
kenaikan harga, maupun perbandingan
9 InfoPanganJakarta
harga antar pasar di Jakarta melalui
platform internet.
18 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta

Kerja sama dalam data-sharing yang


10 Waze digunakan dalam pemantauan lalu
lintas dan kemacetan.
Kerja sama dalam mendorong literasi
11 IJakartas
digital.

Sumber: Website Jakarta Smart City

2.3 Implikasi Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta (2014-2017)

Penerapan sistem aduan masyarakat berbasis aplikasi Qlue bertujuan untuk

mendekatkan pemerintah dengan warganya. Dengan tren penggunaan aplikasi Qlue yang

tinggi, sistem pengaduan Qlue dianggap cukup mampu diandalkan dalam menjembatani
kepentingan warga dengan pembuat kebijakan. Dengan bantuan komunitas masyarakat

seperti Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW), Qlue mampu menjadi fasilitas

aduan berbasis aplikasi yang efektif dalam mengatasi permasalahan masyarakat. “Qlue

sangat membantu kami di Kelurahan Kuningan Timur untuk menangani permasalahan

terutama di wilayah kami. Kami juga dibantu oleh rekan-rekan dari Rukun Tetangga (RT)

dan Rukun Warga (RW) di wilayah kami yang sangat partisipatif dalam melaporkan kondisi

sekitar mereka melalui aplikasi Qlue,” ujar salah satu Lurah di Jakarta.34

Di tahun 2016, jumlah total laporan dan aduan masyarakat yang diterima Qlue

berkisar antara 20.000-55.000 per bulan yang sebagian besar mencakup keluhan tentang

pengelolaan sampah, parkir ilegal, pelanggaran umum, iklan illegal, dan keluhan tentang

fasilitas umum (lihat gambar 3). Laporan tersebut datang dari sekitar 4.000-12.000 akun

per bulan. Data di tahun yang sama menyebutkan hanya diperlukan waktu 8-9,5 jam untuk

menyelesaikan aduan yang masuk ke SKPD Pemerintah Provinsi Jakarta. 35


Di dalam

analisis laporan tersebut, kemudian dibagi menjadi beberapa hasil yang menggabungkan

antara laporan warga dan respon dari pejabat terkait: 1) menentukan siapa pejabat dan

institusi kelurahan yang paling responsif, 2) menentukan siapa lurah yang paling berkinerja

baik, 3) menentukan siapa lurah yang tidak berkinerja baik, 4) catatan penyelesaian

masalah tercepat.

19 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta

34 Amal Nur Ngazis, “Berkat Aplikasi Qlue Publik Makin Percayai Pemda DKI” https://www.viva.co.id/digital/
digilife/779290-berkat-aplikasi-qlue-publik-makin-percaya-pada-pemda-dki diakses pada 09/04/2018 pukul 2:15
35 Setiaji, “Digital Cities and Innovation Cities for a Smarter City”, https://www.itu.int/en/ITU-D/Regional-Presence/
AsiaPacific/Documents/Events/2017/Sep-SCEG2017/SESSION-4_Indonesia_Mr_Setiaji.pdf diakses pada
01/04/2018 pukul 12:08
Gambar 3

Label Aduan di dalam Aplikasi Qlue

Sumber: Aplikasi Qlue

Klaim ini diperkuat dengan temuan studi yang menyatakan keberhasilan program ini

dalam membangun jembatan antara warga dan pembuat kebijakan. Riset yang dilakukan

oleh Putri (2017) menjelaskan tentang bagaimana sistem pengaduan berbasis aplikasi

Qlue menjembatani antara warga dan pemerintah.


20 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta

Pertama, aplikasi Qlue memberikan fasilitas interaksi antara pemerintah dengan

warganya. Dalam survei yang diadakan dengan sekitar 400 responden tersebut, dikatakan

bahwa warga cenderung ragu-ragu untuk berinteraksi dengan pemerintah disebabkan

oleh rasa frustasi atas preseden buruk yang pernah dialami dahulu. Dengan adanya

teknologi berbasis aplikasi, batasan (barrier) yang ada antara pemerintah dan warganya

diminimalisasi, sehingga membuat kepercayaan publik terhadap pemerintah meningkat.

Kedua, dengan adanya partisipasi warga pada sistem pengaduan berbasis

aplikasi Qlue, maka warga terdorong untuk mempunyai rasa memiliki atas kotanya.

Dengan adanya aplikasi, tanpa mengeluarkan biaya dan tenaga warga bisa melaporkan,

mengadu, bahkan memberikan saran untuk perbaikan kota.


Ketiga, sistem aduan berbasis aplikasi juga membantu warga untuk menjaga

hak-haknya terhadap kota yang mereka tinggali. Hal ini mampu menimbulkan rasa

bertanggung jawab dan memunculkan kepedulian dengan memberikan aduan tentang

kotanya.36

Walaupun begitu, penelitian ini juga menegaskan tentang faktor utama

keberhasilan program sistem aduan berbasis aplikasi ini, yaitu kepercayaan warga

terhadap pemerintahnya dan keuntungan yang didapatkan oleh warga. Hambatan besar

dalam sosialisasi program-program pemerintah didasari pada ketidakpercayaan warga

kepada pemerintah itu sendiri. Faktor penting dalam membangun kepercayaan warga

adalah dengan memastikan bahwa aduan yang dikirimkan kepada pemerintah benar-

benar ditindaklanjuti. Keterbukaan dan transparansi dalam proses aduan serta tindak

lanjutnya memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan tersebut. Dalam hal ini,

sistem aduan berbasik aplikasi Qlue memiliki kelebihan dalam memantau perkembangan

masalah yang dilaporkan.37

Manfaat Qlue juga dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Litbang KOMPAS

di tahun 2018. Dalam riset yang melibatkan 443 sampel tersebut menjelaskan tentang

apresiasi sebagian besar warga DKI Jakarta atas kinerja Qlue yang mampu menyampaikan

keluhan dan aspirasi warga kepada pemerintah. 6 dari 10 responden yang diwawancarai

21 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta


menyatakan merasa terbantu dengan adanya aplikasi dalam mengatasi permasalah di

lingkungan tempat tinggal mereka. Sebanyak 47% responden menyatakan bahwa kinerja

pejabat kelurahan menjadi semakin baik berkat adanya sistem aduan berbasis aplikasi

Qlue. Beberapa kelurahan juga mencatatkan poin penyelesaian laporan tertinggi, yaitu

Kelurahan Rawa Barat (85 poin), Tugu Utara (83 poin), dan Cijantung (82 poin) pada

periode 1 Oktober-31 Desember 2016.

Responden juga menyatakan sistem pengaduan berbasis aplikasi Qlue juga

cukup efektif dalam mengatasi masalah, yang dinyatakan oleh 61,4% responden. Hal

36 Dinitia Adriana Putri, Maharani Karlina, Jimmy Tanaya, dan Michael Canares “How Do Citizen Benefit from A
Smart City: A Case Study of Jakarta, Indonesia” World Web Foundation http://webfoundation.org/docs/2017/08/
RP-Citizens-and-smart-city-Jakarta-082017.pdf
37 Ibid.
ini berkesesuaian dengan prestasi Qlue dan Pemprov DKI yang berhasil menyelesaikan

keluhan warga dalam waktu rata-rata 8-9,5 jam di tahun 2016. Kepuasan masyarakat

terhadap aplikasi Qlue juga mendorong ketidaksetujuan responden dalam penelitian

ini apabila aplikasi Qlue dihapus dari sistem aduan Pemprov DKI Jakarta. Sebanyak

65,5% responden menolak apabila pemerintah DKI Jakarta dengan kepemimpinan baru

menghapus sistem aduan berbasis aplikasi Qlue.

Tantangan terbesar untuk implementasi sistem aduan berbasis aplikasi Qlue

dan CROP adalah menyesuaikan kebiasaan institusi birokrasi. Selain perlu pelatihan

dan sosialisasi yang cukup kepada SKPD di dalam pemerintahan, juga diperlukan

sistem insentif (reward and punishment) demi mendorong integrasi sistem yang lebih

kuat. Berdasarkan pengalaman dalam penerapan sistem aduan berbasis aplikasi Qlue

dan CROP di Jakarta, kebijakan ini membutuhkan ketegasan yang serius agar bisa

diimplementasikan secara cepat oleh birokrasi Jakarta. SKPD yang tidak melaksanakan

instruksi untuk menindaklanjuti laporan yang diterima dari sistem pengaduan berbasis

aplikasi, bisa terancam mendapatkan pengurangan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD)

atau bahkan penurunan pangkat.

Staf Gubernur Basuki, Nurul Alfiani menyampaikan:


“Beberapa SKPD mengabaikan instruksi tentang pelaporan Qlue ini, walaupun
22 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta

dalam pertemuan sudah jelas disosialisasikan. Maka perlu ada tekanan dari
pimpinan, dalam hal ini berupa ancaman pengurangan TKD atau bahkan penurunan
pangkat seperti distafkan (demosi). Ketika sudah ada beberapa yang mendapatkan
hukuman, maka SKPD lain terdorong untuk mengikuti kebijakan yang baru ini,” 38

Aturan sanksi yang popular pada kepemimpinan Gubernur Basuki adalah penurunan

jabatan/demosi atau yang dikenal “distafkan.” Penurunan jabatan ini sesuai dengan

Undang-Undang No. 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Melalui pernyataan pers-

nya, pemerintah provinsi DKI Jakarta mengungkapkan beberapa alasan yang digunakan

pemprov untuk memberikan sanksi penurunan jabatan: pegawai ingin mundur dari

38 Wawancara dengan Nurul Alfiani, 02/03/2018


jabatannya, mengalami sakit, memiliki masalah moral (KDRT ataupun perselingkuhan),

tidak disiplin dalam isu kehadiran, terlibat dalam penyuapan yang sedang diinvestigasi

Inspektorat, memiliki masalah keaktifan menyelesaikan pekerjaan dalam Satuan Kerja

Perangkat Daerah (SKPD).39

Dengan aplikasi CROP ini pula, pusat komando bisa mengontrol kesiap-siagaan

para SKPD maupun Pekerja Harian Lepas (PHL) di titik-titik krusial seperti penjaga pintu air,

melalui pelacakan Global Positioning System (GPS) yang terpasang di smartphone yang

ter-install di aplikasi CROP. Oleh karena itu, para pegawai bisa diketahui keberadaannya

melalui GPS yang terpasang di aplikasi CROP. Ini juga digunakan untuk mengetahui

keberadaan para SKPD di jam kerja.40

Ciri kepemimpinan yang dibangun oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama selama

masa periode kepemimpinannya di tahun 2014-2017 bertumpu pada kuatnya pembenahan

di sektor pemerintahan (Governance). Dengan beberapa reformasi yang dibuat dalam

sektor anggaran dan perbaikan kinerja Satuan Kerja Pejabat Daerah (SKPD), maka tidak

mengherankan apabila karakteristik kota cerdas yang kuat pada rezim kepemimpinan ini

adalah karakter pemerintahan yang cerdas (Smart Governance).

Sistem aduan berbasis aplikasi Qlue dilandasi pada keinginan untuk mengubah

pola pelayanan publik berdasarkan pola pelayanan penjual-konsumen; pemerintah

23 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta


mampu mendengar lebih dekat terhadap masalah-masalah yang beredar menyangkut

“konsumennya”. Latar belakang dan agenda politik kepemimpinan daerah menjadi sangat

vital menentukan agenda dan karakteristik seperti apa yang diambil dalam menjalankan

program kota cerdas. Rekam jejak pemimpin daerah yang memiliki keinginan kuat dalam

mendorong aspirasi dan partisipasi masyarakat, membuat Pemerintah Provinsi DKI

Jakarta di masa kepemimpinan Basuki, dalam hal ini aplikasi Qlue dan CROP berjalan

sebagai penggerak (enabler) terhadap keinginan reformasi teknologi informasi dan

komunikasi tersebut.

39 Lalu Rahadian “Tujuh Alasan Ahok Turunkan Pangkat Pejabat Ibu Kota” https://www.cnnindonesia.com/
nasional/20150518114400-20-53854/tujuh-alasan-ahok-turunkan-pangkat-pejabat-ibu-kota 02/04/2018 diakses
pada 09/04/2018 pukul 22:15
40 Wawancara dengan Nurul Alfiani, 02/03/2018
Bagaimana Awal Jakarta Smart City dibentuk?

Sumber Ilustrasi: Detik.com

Nurul Alfiani merupakan salah satu anggota dari 100 orang tim Respon

Opini Publik (ROP) yang dibentuk di tahun 2012 dan awal masa jabatan

Gubernur Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.

Tim ini bertugas mengumpulkan keluhan dan aduan warga melalui sms
24 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta

yang masuk ke nomor telepon pribadi Ahok, yang kemudian disampaikan

ke SKPD masing-masing yang untuk ditindaklanjuti. Pada saat itu laporan

yang masuk masih belum tersusun dengan baik. “Laporan yang masuk

belum jelas, apakah sudah terselesaikan atau seberapa lama timeline

penyelesaian berjalan karena masih dilakukan secara manual oleh tim

ROP.” 41

Seiring berjalannya waktu, ketika Indonesia sedang ramai dengan wacana

Open Data dan Smart City di tahun 2014, Gubernur Basuki berinisiatif

untuk mengikuti tren keterbukaan data dan partisipasi publik pada saat

41 Wawancara dengan Nurul Alfiani 02/03/2018


itu. “Keyakinan bapak Gubernur bahwa pemerintahan yang efektif adalah

ketika warga ikut berpartisipasi dalam proses pemerintahan,” ujar Nurul.

Contoh SMS Pengaduan (Sumber: Ahok.org)42

Pada saat itu, Basuki yang sudah menjadi Gubernur menginginkan

“blusukan” yang bisa dilakukan tanpa turun ke lapangan tapi bisa

mengetahui situasi dan kondisi yang nyata di masyarakat. “Bapak pada

saat itu menginginkan agar bisa mengetahui bagaimana pekerjaan

lurahnya, di mana truk sampah berada, secara real-time dan saat itu juga.

Sistem pengawasan pada saat itu dilakukan secara manual misalnya

melalui whatsapp atau pengecekan langsung. Tidak real-time.”


Ketika Jakarta Smart City secara organisasi telah terbentuk, Gubernur

25 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta


Basuki melanjutkan program ROP ini sebagai salah satu program dan

divisi di Jakarta Smart City. Divisi ini bertugas mengecek secara real-time

pengaduan masyarakat melalui Qlue dan CROP, serta ditambah divisi

lapangan yang melakukan pengecekan ganda.

Ide untuk membuat program Smart City bersambut dengan ajakan untuk

berkolaborasi dengan salah satu start-up penyedia data pelayanan publik,

Qlue. Marketing Strategist Qlue, Sarah Ramadhania mengungkapkan

tentang pesan Gubernur Basuki ketika pertama kali berkolaborasi dengan

42 Website Resmi Basuki Tjahaja Purnama, “Proses Pengolahan Aduan Anda di Tim Respons Cepat SMS Ahok”
http://ahok.org/berita/news/proses-pengolahan-aduan-anda-di-tim-respons-cepat-sms-ahok/ diakses pada
09/04/2018
Qlue, “(seandainya) saya hanya punya waktu 5 menit, bagaimana caranya

setiap hari saya bisa mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi di

kota saya dalam waktu 5 menit.”

2.4 Jakarta Smart City Pada Kepemimpinan Baru (2017-2018)

Di tahun 2017, warga Jakarta menetapkan pilihan pada kepemimpinan baru. Anies

Baswedan dan Sandiaga Uno ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur baru

untuk lima tahun ke depan. Dengan perbedaan agenda politik dalam kampanye maupun

pada awal menjabat, pasangan Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga

Uno memiliki pendekatan kebijakan yang berbeda dengan pasangan gubernur dan wakil

gubernur sebelumnya. Adakah implikasi pergantian kepemimpinan terhadap kebijakan

kota cerdas di Jakarta?

Menurut pemberitaan media, terdapat beberapa jawaban atas pertanyaan di atas.

Secara resmi Kepala Unit Jakarta Smart City, Setiaji mengungkapkan bahwa tidak ada

perubahan kebijakan terkait Jakarta Smart City karena pergantian kepemimpinan di

DKI Jakarta. Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru memiliki komitmen yang sama

untuk meneruskan kerja Jakarta Smart City.43 Pernyataan yang sama juga disuarakan
26 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta

oleh Qlue, salah satu mitra terdekat Jakarta Smart City dalam menampung aspirasi dan

keluhan warga, yang menyatakan bahwa kerjasama antara Qlue dan Jakarta Smart City

akan tetap berlanjut terlepas dari pergantian kepemimpinan. 44

Jakarta Smart City, sebagai unit pelaksana teknis memiliki beberapa fungsi dasar

seperti membangun infrastruktur teknologi digital, melakukan bimbingan teknis yang

berkaitan kepada instansi pemprov lainnya, dan melakukan monitoring kebijakan dan

partisipasi publik. Beberapa aplikasi dan situs web yang dibangun oleh Jakarta Smart

43 Rachmatunnisa, “Melanjutkan Mimpi Jakarta Smart City di Tangan Anies-Sandi” https://inet.detik.com/


cyberlife/d-3686203/melanjutkan-mimpi-jakarta-smart-city-di-tangan-anies-sandi diakses pada 09/03/2018 pukul
21:29
44 Alsadad Rudi, “Qlue akan diperkuat di Era Anies Sandi” https://megapolitan.kompas.com/
read/2017/10/25/20374651/qlue-akan-diperkuat-di-era-anies-sandi diakses pada 09/03/2018 pukul 21:29
City dilakukan untuk memonitoring keadaan kota secara real-time, melalui jaringan CCTV

dan pantauan langsung di lapangan. Apabila kepemimpinan baru akan mempertahankan

UPT Jakarta Smart City, maka setidaknya tiga peran dasar JSC sebagai penyedia

platform teknologi digital di Kota Jakarta, bimbingan teknis, dan analisis partisipasi publik

seharusnya tetap dijalankan dan menjadi program prioritas Pemda DKI Jakarta.

Kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan juga telah menaruh perhatian kepada

gagasan kota cerdas sejak memulai program kampanye pada Pemilihan Umum Daerah

di Jakarta pada tahun 2016. Dalam 23 program kerja yang disusun untuk kampanye,

Anies Baswedan memasukkan janji “Membangun pemerintahan yang bersih, modern dan

melayani berbasis transparansi, akuntabilitas dan keteladanan dengan mengoptimalkan

pelibatan publik dan pemanfaatan teknologi (Smart City).”45

Tetapi, Wawancara yang penulis lakukan dengan Tim Gubernur Untuk Percepatan

Pembangunan (TGUPP), Izzul Waro menyatakan bahwa isu kota cerdas belum menjadi

prioritas dalam kebijakan tahun pertama Anies Sandi. Adapun tiga isu yang menjadi

prioritas adalah program kewirausahaan (OKE-OCE), program pendidikan (KJP plus), dan

program penurunan biaya hidup (DP 0%). Sedangkan kota cerdas sendiri – penggunaan

teknologi informasi dan komunikasi – akan menjadi pendukung dalam terlaksananya

kebijakan prioritas. Walaupun begitu, belum ada rencana lebih jelas tentang bagaimana

27 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta


konsep kota cerdas akan mendukung kebijakan-kebijakan prioritas di era Anies Sandi.46

Walaupun Unit Jakarta Smart City sebagai organisasi di bawah Dinas Komunikasi,

Informatika, dan Kehumasan masih akan tetap berdiri, tetapi beberapa program inti yang

merujuk pada program pemerintahan cerdas (smart governance) sendiri mengalami

beberapa perubahan. Perubahan yang paling terlihat adalah penurunan jumlah laporan

Qlue sejak pertengahan hingga akhir tahun 2017. Penurunan jumlah laporan diketahui

sebanyak 57,94% sejak April 2017 hingga Desember 2017. (Lihat Bagan 1).

45 Erwin Dariyanto, “Janji Anies Badwedan-Sandiaga Uno” https://news.detik.com/berita/d-3341915/23-janji-anies-


baswedan-sandiaga-uno-kjp-plus-sampai-setop-reklamasi diakses pada 09/03/2018 pukul 21:29
46 Wawancara dengan Izzul Waro, 05/03/2018
Bagan 1

Jumlah Laporan Qlue April-Desember 2017

30.000
30.000
25.000
25.000
20.000
20.000
15.000
15.000
10.000
10.000
5.000
5.000
00

2017
2017

Sumber: Qlue, 2017

Laporan Qlue di Tahun 2017 secara keseluruhan juga menurun drastis apabila

dibandingkan dengan jumlah laporan yang diterima di tahun 2016. Rentang jumlah laporan

perbulan di tahun 2016 berkisar pada angka paling rendah 28.000 hingga paling tinggi

55.000 laporan per hari ke aplikasi Qlue. Di tahun 2017, jumlah tersebut turun sangat

tajam menjadi paling rendah sekitar 10.000 hingga paling tinggi 25.000 laporan per bulan.

(Lihat Bagan 2).

Bagan 2
Jakarta
Jakarta
diJakarta

Jumlah Laporan Qlue April-Desember 2016

60.000
60.000
di
Cerdasdi

50.000
50.000
Cerdas

40.000
KotaCerdas

40.000
30.000
30.000
20.000
20.000
10.000
10.000
00
Kebijakan
28 || | Kebijakan Kota
KebijakanKota

2016
2016

Sumber: Qlue, 2016


28
28
Walaupun belum ada alasan yang akurat yang bisa menjelaskan mengapa terjadi

penurunan tajam dalam penggunaan sistem aduan berbasis aplikasi Qlue, namun

beberapa fakta ini bisa memberikan sedikit gambaran atas pertanyaan-pertanyaan

tersebut.

Pertama, kepemimpinan DKI Jakarta yang baru secara signifikan mengurangi

relevansi sistem aduan berbasis aplikasi tersebut dalam indikator kinerja SKPD Pemprov

DKI Jakarta, walaupun secara peraturan tidak banyak berubah. Salah satu perubahan

signifikan dalam sistem aduan berbasis aplikasi adalah dihapuskannya insentif atau

reward/punishment dalam tindak lanjut laporan permasalahan warga. Jakarta Smart City

mengungkapkan bahwa tingkat rata-rata waktu penyelesaian masalah yang diterima

oleh Qlue pada bulan November 2017 sebanyak 72 jam atau 6 hari per masalah. Ini

menurun jauh dari catatan rata-rata setahun sebelumnya yang hanya memerlukan 9 jam

per masalah.47

Kedua, dengan tingkat penyelesaian laporan yang rendah, Qlue tidak lagi bisa

dipercaya oleh warga dalam menangani permasalahan masyarakat secara efektif. Hal

ini menimbulkan ketidakpercayaan yang dulu pernah ditimbulkan oleh rasa frustasi

pelayanan publik konvensional gaya lama. Metode digital dan berbasis aplikasi yang kini

digunakan justru mengulang rasa frustasi warga karena gagal menindaklanjuti masalah

29 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta


yang telah dilaporkan.

Ketiga, pemerintah justru seakan-akan dengan sengaja mengembalikan pelayanan

publik menjadi gaya lama, dengan membentuk 44 posko aduan publik di kantor-

kantor kecamatan. Hal ini awalnya dimaksudkan untuk mengalihkan warga yang ingin

menyampaikan keluhan secara langsung ke Balaikota, agar berpindah ke kantor-kantor

Kecamatan yang disediakan. Namun inisiatif ini tidak sejalan dengan semangat kota

cerdas yang ingin mengurangi waktu dan tenaga dalam mendapatkan layanan publik. 48

47 Ivany Atina Arbi, “Anies Sideliness Smart City”, Jakarta Post, http://www.thejakartapost.com/news/2018/02/13/
anies-sidelines-smart-city.html diakses pada 10/03/2018 pukul 0:05
48 Gloria Safira, “Anies Resmikan 44 Posko Pengaduan untuk Warga Jakarta” CNN Indonesia https://www.
cnnindonesia.com/nasional/20171118121351-20-256510/anies-resmikan-44-posko-pengaduan-untuk-warga-
jakarta diakses pada 10/03/2018 pukul 4:45
Penghilangan kewajiban pelaporan RT/RW dengan dicabutnya Keputusan

Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 903 Tahun 2016 oleh Gubernur Basuki Tjahaja

Purnama pada Januari 2017 juga memungkinkan berkontribusi terhadap penurunan

laporan Qlue.49 Hal lain yang perlu diperhatikan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur baru

juga adalah rendahnya partisipasi warga diakibatkan ketidakpercayaan non-pemilih

gubernur baru. Hal ini belum sepenuhnya terbukti, tetapi gubernur dan wakil gubernur

terpilih harus tetap merangkul semua kelompok masyarakat agar mau berpartisipasi

dalam program pemerintah.


30 | Kebijakan Kota Cerdas di Jakarta

49 Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 903 Tahun 2016 http://jdih.jakarta.go.id/uploads/default/
produkhukum/Kepgub_No_903_Tahun_2016.pdf
3
REKOMENDASI
31
3. Rekomendasi Kebijakan

3.1 Strategi Kebijakan Kota Cerdas

Kota Cerdas memerlukan tiga unsur (negara, swasta, dan warga) agar mampu

memainkan peran dalam memenuhi 6 karakteristik kota cerdas yang disebutkan oleh

Tim Jakarta Smart City. Dalam strategi kebijakan kota cerdas yang ditujukan untuk

institusi negara atau pemerintah kota, maka terdapat beberapa tahapan yang digunakan

sebagai panduan mengintegrasikan pengadaan, penyusunan, dan pengoperasian servis

dan infrastruktur dari teknologi informasi dan komunikasi. Integrasi dilaksanakan melalui

pembentukan, penggambaran, dan penyusunan pemerintah kota, sehingga pendekatan

strategis top-down dalam mengalokasikan sumber daya pada aktivitas kota yang

diuntungkan melalui sistem kota cerdas.

Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3


Fokus Internal Fokus Eksternal Mengatasi
Masalah Strategis

Sumber: ARUP Consulting50

Tahapan pertama, menuntut pemerintah kota untuk memiliki infrastruktur dan

layanan teknologi informasi dan komunikasi untuk pegawai dan aparatur di lingkungan

pemerintah kabupaten/kota sebagai fungsi pendukungnya. Dalam konteks Pemerintah


32 | Rekomendasi

Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama membentuk

layanan e-government dalam bentuk e-budgeting untuk mengontrol keuangan daerah.

50 ARUP Consulting, “Arup Urban Life: The Smart Solution for Cities”, https://www.
arup.com/-/media/arup/files/pdf-downloads/urbanlife_smartsolutionforcities_july111.
pdf?la=en&hash=1E1E5C004F3D946EB4BBF1786A06EE6312EF7BDC, diakses pada 03/12/2018 pukul 16.54
Dalam soal layanan publik, Pemprov juga membentuk Cepat Respon Opini Publik (CROP)

yang dibentuk untuk mengontrol kinerja Satuan Kerja Pejabat Daerah (SKPD), termasuk

merespon laporan dan aduan masyarakat yang diterima melalui Qlue.

Tahapan kedua, di sini pemerintah kota perlu untuk mengumpulkan dan membuka

data tentang perkotaan ke publik. Selain itu, fokus pemerintah kota adalah menyediakan

layanan daring kepada masyarakat sehingga pada pelaksanaanya, sistem teknologi dan

informasi kota cerdas dapat menghadirkan pengalaman dan keterlibatan urban baru untuk

warga kota. Dalam konteks kebijakan kota cerdas Pemprov DKI Jakarta, menyediakan

waktu estimasi bagi kedatangan bus-bus Transjakarta yang sekarang dilengkapi GPS

merupakan salah satu contoh penyediaan informasi publik.

Fase ketiga merupakan penggunaan instrumen kota cerdas untuk menanggulangi

isu-isu strategis masyarakat kota. Ketersediaan real-time data dalam sistem kota cerdas

memberikan peluang administrasi kota untuk menentukan proyek dan membuat keputusan

pada bidang-bidang yang dipantau pada sistem kota cerdas. Dalam konteks masyarakat

kota di Jakarta isu-isu seperti kemacetan, banjir, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.

menjadi salah satu fokus permasalahan yang ditanggulangi melalui teknologi informasi.

Masalah seperti ketersediaan kamar rumah sakit milik Pemerintah Provinsi misalnya,

bisa diakses melalui salah satu kanal yang disediakan secara daring. Dalam konteks DKI

Jakarta, kebijakan kota cerdas telah menolong pemerintah provinsi dalam pencegahan

banjir, seperti memantau tingkat permukaan air sungai yang memberikan tanda potensi

bencana banjir di Jakarta.

Salah satu contoh sukses yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

adalah melakukan pendekatan kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan swasta

demi memenuhi 6 karakteristik kota cerdas. Dalam hal ini, kabupaten/kota yang belum
33 | Rekomendasi

memiliki sumber daya untuk membangun infrastruktur kota cerdas secara lengkap perlu

mengikuti langkah DKI Jakarta dalam menggandeng mitra. Mitra-mitra tersebut bisa

termasuk perusahaan teknologi informasi, universitas, lembaga kajian, lembaga swadaya

masyarakat, dan lain-lain.


3.2 Rekomendasi untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

Berdasarkan penjabaran tahapan integrasi ICT, secara garis besar maka langkah-

langkah yang harus ditempuh dalam mengatur dan menjalankan proyek kota pintar adalah

sebagai berikut;

1. Pembangunan kapasitas melalui kepemimpinan yang kuat dalam tata kelola

pemerintahan lokal;

2. Mengintegrasikan strategi kota pintar ke dalam perencanaan pembangunan kota

dan menyesuaikan strategi tersebut sesuai undang-undang yang berlaku;

3. Melaksanakan pendekatan kolaboratif dengan dukungan politik yang memadai;

4. Mendapatkan pendanaan secara konsisten dari anggaran pemerintah kota;

5. Memiliki strategi untuk meningkatkan keterlibatan sektor swasta secara jangka

panjang dalam mengimplementasikan program kota pintar

Di tahun 2018 ini, Jakarta Smart City (JSC) direncanakan untuk sepenuhnya

menggunakan sistem aduan berbasis aplikasi yang dibuat secara mandiri

tanpa kerjasama dengan pihak swasta. Selama ini aplikasi yang digunakan oleh JSC –

baik Qlue maupun CROP, merupakan hasil kerjasama dengan perusahaan aplikasi Qlue.

Kini direncanakan SKPD Pemprov DKI Jakarta akan menggunakan secara penuh aplikasi

yang akan dikelola secara mandiri oleh JSC, yaitu Citizen Relations Management (CRM).

CRM akan mengakomodasi seluruh kanal sistem pengaduan dalam berbagai perangkat

seperti email, sms, telepon, dan seterusnya.51

Untuk menyukseskan program partisipasi publik berbasis aplikasi, kami

merekomendasikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menjalankan rekomendasi

berikut ini,

1. Mengembalikan kepercayaan publik terhadap program aduan berbasis


34 | Rekomendasi

aplikasi yang kini sedang menurun. Gubernur dan Wakil Gubernur perlu

mengembalikan sistem insentif dan hukuman bagi SKPD yang tidak berkomitmen

51 Berita ini juga dikonfirmasi oleh Qlue yang menyatakan akan fokus untuk membantu pelayanan publik di daer-
ah lain, walaupun masih akan bermitra dengan Jakarta Smart City. Wawancara dengan Sarah Ramadhania,
02/03/2018
menindaklanjuti keluhan warga yang sudah melapor. Cara ini perlu dilakukan demi

memperluas penetrasi sistem pengaduan berbasis aplikasi yang selama ini hanya

digunakan oleh 3% dari total populasi Jakarta.

2. Memperkuat instrumen kota cerdas ke dalam isu-isu kebijakan strategis yang

menjadi prioritas, seperti kewirausahaan dan pendidikan. Teknologi informasi bisa

digunakan untuk mengatur distribusi penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah

negeri yang dibawahi Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

3. Memperluas cakupan beberapa karakteristik kota cerdas yang belum cukup

kuat seperti sektor kewargaan (smart people), sektor ekonomi (smart economy),

sektor lingkungan (smart environment). Dalam hal ini, penulis secara spesifik

merekomendasikan pendekatan kolaboratif dengan pemangku kepentingan,

terutama perusahaan-perusahaan di bidang teknologi informasi.

4. Secara spesifik dalam sektor lingkungan atau smart environment, dengan risiko

lingkungan yang cukup tinggi seperti pencemaran udara dan polusi, pemerintah

provinsi DKI Jakarta perlu meluncurkan program yang signfikan dalam mengurangi

polusi udara di Jakarta. Dalam hal ini, pendekatan kota cerdas perlu digunakan

secara paralel dengan pendekatan lain – dalam hal ini mengurangi populasi

kendaraan pribadi dan membangun transportasi masal. Misalnya dengan

membangun pusat informasi digital (informatics service) tentang tingkat polusi di

semua titik di Kota Jakarta.

35 | Rekomendasi
DAFTAR PUSTAKA
Buku

Marta Peris-Ortiz, Dag R. Bennett, Diana Pérez-Bustamante Yábar, “Sustainable

Smart Cities: Creating Spaces for Technological, Social and Business

Development”, Springer, 2017, 2010

Jurnal

Ibrahim Abaker Targio Hashema, Victor Chang, Nor Badrul Anuar, Kayode

Adewolea, Ibrar Yaqooba, Abdullah Gani, Ejaz Ahmeda, Haruna Chiroma,

“The Role of Big Data in Smart City” International Journal of Data

Management, Oktober 2016

Wawancara

Wawancara dengan Izzul Waro, 05/03/201

Wawancara dengan Nurul Alfiani, 02/03/2018

Wawancara dengan Sarah Ramadhania, 02/03/2018

Aturan Perundangan

Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 903 Tahun 2016

Peraturan Gubernur No. 306 Tahun 2016 tentang “Pembentukan dan Tata Kerja

Unit Pengelola Jakarta Smart City”

Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan

Pembangunan Berkelanjutan
36 | Daftar Pustaka

Internet

Alfath, Diovio “Smart Mobility dan Kemacetan di Jakarta” Friedrich Naumann

Stiftung, http://indonesia.fnst.org/content/smart-mobiliy-dan-kemacetan-

jakarta
Anggraini, Desi “58% Warga Jakarta Menderita Penyakit Akibat Polusi Udara”

http://news.metrotvnews.com/metro/9K5j9mRN-58-warga-jakarta-

menderita-penyakit-akibat-polusi-udara

Arbi, Ivany Atina “Anies Sideliness Smart City”, Jakarta Post, http://www.

thejakartapost.com/news/2018/02/13/anies-sidelines-smart-city.html

ARUP Consulting, “Smart City Strategies: A Global Review 2017” https://www.arup.

com/publications/research/section/smart-city-strategies-a-global-review

Badan Pusat Statistik, “Statistik Komuter Jabodetabek” https://media.neliti.com/

media/publications/48476-ID-statistik-komuter-jabodetabek-2014.pdf

Banjarmasin Post “Ahok Klaim Sudah Pasang 5.000 CCTV Terintegrasi Jakarta

Smart City, ini Faktanya” http://banjarmasin.tribunnews.com/2017/02/11/

ahok-klaim-sudah-pasang-5000-cctv-terintegrasi-jakarta-smart-city-ini-

faktanya

Dariyanto, Erwin “Janji Anies Badwedan-Sandiaga Uno” https://news.detik.com/

berita/d-3341915/23-janji-anies-baswedan-sandiaga-uno-kjp-plus-sampai-

setop-reklamasi

Economist Intelligence Unit (EIU), “Start-up My City: Smart and Sustainable

Cities in Asia” http://startupmycity.economist.com/startup-my-city-smart-

sustainable-cities-asia/

Greenpeace “Polusi Udara Ancam Kesehatan masyarakat” http://m.greenpeace.

org/seasia/id/mid/press/releases/Polusi-Udara-Ancam-Kesehatan-

Masyarakat/

Interactive Jakarta Smart City http://interactive.smartcity.jakarta.go.id/

Jakarta Smart City, http://smartcity.jakarta.go.id/


37 | Daftar Pustaka

Kata Data, “Berapa Jumlah Penduduk DKI Jakarta?” https://databoks.katadata.

co.id/datapublish/2018/01/24/berapa-jumlah-penduduk-jakarta

Kementerian Komunikasi dan Informatika, Siaran Pers No. 223/HM/

KOMINFO/11/2017” https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/11489/
siaran-pers-no-223hmkominfo112017-tentang-tahap-pertama-gerakan-

menuju-100-smart-city-2017-24-kotakabupaten-berhasil-menyelesaikan-

smart-city-masterplan/0/siaran_pers

Khullar, Arshiya “WHO: Air Pollution Caused 1 in 8 Deaths” https://edition.cnn.

com/2014/03/25/health/who-air-pollution-deaths/index.html

Ngazis, Amal Nur, “Berkat Aplikasi Qlue Publik Makin Percayai Pemda DKI” https://

www.viva.co.id/digital/digilife/779290-berkat-aplikasi-qlue-publik-makin-

percaya-pada-pemda-dki

Open Government Indonesia, “About Open Government Indonesia” http://www.

opengovindonesia.org/about/1/open-government-indonesia

Putri, Dinitia Adriana, dan Maharani Karlina, Jimmy Tanaya, dan Michael Canares

“How Do Citizen Benefit from A Smart City: A Case Study of Jakarta,

Indonesia” World Web Foundation http://webfoundation.org/docs/2017/08/

RP-Citizens-and-smart-city-Jakarta-082017.pdf

Rachmatunnisa, “Melanjutkan Mimpi Jakarta Smart City di Tangan Anies-Sandi”

https://inet.detik.com/cyberlife/d-3686203/melanjutkan-mimpi-jakarta-

smart-city-di-tangan-anies-sandi

Rahadian, Lalu “Tujuh Alasan Ahok Turunkan Pangkat Pejabat Ibu Kota” https://

www.cnnindonesia.com/nasional/20150518114400-20-53854/tujuh-alasan-

ahok-turunkan-pangkat-pejabat-ibu-kota 02/04/2018 22:15

Rudi, Alsadad “Qlue akan diperkuat di Era Anies Sandi” https://megapolitan.

kompas.com/read/2017/10/25/20374651/qlue-akan-diperkuat-di-era-anies-

sandi
38 | Daftar Pustaka

Safira, Gloria “Anies Resmikan 44 Posko Pengaduan untuk Warga

Jakarta” CNN Indonesia https://www.cnnindonesia.com/

nasional/20171118121351-20-256510/anies-resmikan-44-posko-

pengaduan-untuk-warga-jakarta

Setiaji, “Digital Cities and Innovation Cities for a Smarter City” https://www.itu.int/
en/ITU-D/Regional-Presence/AsiaPacific/Documents/Events/2017/Sep-

SCEG2017/SESSION-4_Indonesia_Mr_Setiaji.pdf

Sukoco, Manik “Seberapa Buruk Kualitas Udara di Jakarta?” https://kumparan.

com/manik-sukoco/seberapa-buruk-kualitas-udara-di-jakarta

The Guardian, “Indonesia Takes on Lead on Open Government Partnership”

https://www.theguardian.com/public-leaders-network/2013/oct/30/

indonesia-chair-open-government

Tomordy, Michael “Smart City: Transforming the 21st Century City via the Creative

Use of Technology”, Presentation in Asia Practice Leader https://www.

cisco.com/c/dam/global/en_vn/assets/sccconference2011/pdfs/michael_

tomordy-presentationeng.pdf

United Nations: Department of Economic and Social Affairs, “World Urbanization

Prospects 2014” https://esa.un.org/unpd/wup/publications/files/wup2014-

highlights.pdf

US Embassy Jakarta Air Quality Monitor https://id.usembassy.gov/embassy-

consulates/airqualitymonitor/

Website Resmi Basuki Tjahaja Purnama, “Proses Pengolahan Aduan Anda di

Tim Respons Cepat SMS Ahok” http://ahok.org/berita/news/proses-

pengolahan-aduan-anda-di-tim-respons-cepat-sms-ahok/

World Bank, “Doing Business 2014: Indonesia” http://documents.

worldbank.org/curated/en/278071468039055776/

pdf/828630Indonesia0IDN0Box0382099B00PUBLIC0.pdf

World Bank, “Doing Business 2018: Indonesia” http://www.doingbusiness.org/data/


39 | Daftar Pustaka

exploreeconomies/indonesia

Yusuf, Arief Anshory dan Herminia Fransisco, “Climate Change Vulnerability

Mapping for Southeast Asia”, IDRC-CRDI, https://www.idrc.ca/sites/default/

files/sp/Documents%20EN/climate-change-vulnerability-mapping-sa.pdf
40
TENTANG FNF
F
RIEDRICH NAUMAN STIFTUNG untuk Kebebasan (FNF)
adalah sebuah Yayasan Politik Jerman. Di Jerman dan 60
negara di seluruh dunia, FNF dengan seluruh mitra-mitra
kerjanya mempromosikan kebebasan, liberalisme, demokrasi, hak
asasi manusia, pluralisme, toleransi, ekonomi pasar dan negara
hukum.

FNF memiliki hubungan dekat dengan partai politik Jerman, Partai


Demokrat Bebas (FDP). FNF didirikan pada 1958 oleh presiden
pertama Jerman, Theodor Heus, dan telah bekerja di Asia sejak 1979,
dan di Indonesia sejak 1969. FNF beroperasi dengan dana publik dan
berkantor pusat di Postdam, Jerman.

FNF memberikan konsultasi kepada para pembuat keputusan di


Berlin dan menerbitkan berbagai laporan. FNF memfasilitasi dialog,
menyelenggarakan konferensi dan mengundang orang-orang muda
Asia dan berbagai wilayah lain untuk mengikuti seminar di Jerman.
Dalam kerjasama dengan mitra-mitra lokal, FNF fokus pada
nilai-nilai berikut:
• Demokrasi
• Rule of Law & Hak Asasi Manusia
• Kebebasan Ekonomi
• Perubahan Iklim

Friedrich Nauman Stiftung für die Freiheit


Jl. Kertanegara 51, Kebayoran Baru
Jakarta 12110, Indonesia
Tel : (+6221) 7256012/13
Fax : (+6221) 72799539
E-mail : jakarta@fnst.org
41

Website : http://indonesia.fnst.org/