Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN “ THYPOID ”

DI RUANG ZAENAB RS AISYIYAH KUDUS

Disusun Oleh:
Nama : Fifi Rofiatun Ni’mah
NIM : 6143011

PROGRAM S-1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
KUDUS 2018/2019
A. PENGERTIAN
Demam thypoid (Thypoid Fever) merupakan suatu penyakit infeksi
sistemik yang disebabkan oleh Salmonella thypi yang masih dijumpai
secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama terletak di
daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat
dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber
air dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri pengolahan
makanan yang masih rendah (Simanjuntak, C.H, 2009).
Thypoid abdominalis adalah penyakit infeksi akut usus halus yang
disebabkan oleh kuman Salmonella Thypi yang mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam selama satu minggu atau lebih disertai
gangguan saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan
kesadaran (Arief,M.2009). Thypoid adalah penyakit infeksi pada usus
halus, thypoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan
para typhus abdominalis (Seoparman, 2007). Demam tifoid adalah infeksi
sistemik akut yang disebabkan oleh Salmonella typhii yang menurunkan
sistem pertahanan tubuh dan dapat menular pada orang lain melalui
makanan dan minuman yang terkontaminasi (Elsevier, 2013).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa demam
tifoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh
salmonella type A, B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal,
makanan dan minuman yang terkontaminasi.

B. ETIOLOGI
Etiologi demam thypoid adalah salmonella thypi (S.thypi) 90 % dan
salmonella parathypi (S. Parathypi A dan B serta C). Bakteri ini berbentuk
batang, gram negatif, mempunyai flagela, dapat hidup dalam air, sampah
dan debu. Bakteri ini masuk melalui air dan makanan yang terkontaminasi
dari urin dan feses yang terinfeksi dengan masa inkubasi 3-25 hari.
Pemulihan mulai terjadi pada minggu ke-4 dalam perjalanan penyakit.
Orang yang pernah menderita demam tifoid akan memperoleh kekebalan
darinya, sekaligus sebagai karier bakteri. Jadi, orang yang pernah
menderita demam tifoid atau tifus akan menjadi orang yang menularkan
tifus pada yang belum pernah menderita tifus (Aru W. Sudoyo, 2009).

C. TANDA DAN GEJALA


Tanda dan gejala dari demam thypoid sebagai berikut (Nanda NIC-
NOC, 2013) :
1. Gejala pada anak : Inkubasi anatara 5-40 hari dengan rata-rata 10-14
hari atau 1-3 minggu.
2. Demam > 7 hari
Selama minggu pertama suhu berangsur-angsur meningkat,
biasanya turun saat pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan
malam hari. Pada minggu kedua penderita terus demam dan dalam
minggu ke-3 suhu badan berangsur-angsur turun dan normal kembali
pada akhir minggu ke-3.
3. Gangguan saluran pencernaan
Nyeri perut, kembung, mual muntah, diare, bibir kering dan
pecah-pecah, nafas tidak sedap.
4. Ruam muncul pada hari ke 7-10 dan bertahan selam 2-3 hari.
5. Nyeri kepala
6. Pusing
7. Nyeri otot
8. Batuk
9. Epistaksis (mimisan)
10. Bradikardi
11. Lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepid an ujung merah serta
tremor)
12. Hepatomegali
13. Meteroismus
14. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaan penderita menurun, walaupun tidak
seberapa dalam, yaitu apatis sampai somnolen.
D. PATOFISIOLOGI
Kuman Salmonella Thypi ditularkan melalui berbagai cara yang dikenal
dengan 5F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan, kuku), fomitus
(muntah), fly (lalat) dan feses. Kuman Salmonella Thypi masuk lewat
mulut ke dalam saluran pencernaan bersama makanan dan minuman.
Sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung oleh asam lambung
dan sebagian lagi masuk ke usus halus, ke jaringan limfoid. Setelah
berada dalam usus halus kemudian mengadakan invasi ke jaringan limfoid
usus halus (terutama Plak Peyer) dan jaringan limfoid mesenterika.
Setelah menyebabkan peradangan dan nekrose setempat, kuman lewat
pembuluh limfe masuk ke aliran darah (terjadi bakteremi primer) menuju
ke organ-organ terutama hati dan limfa.
Kuman yang tidak difagosit akan berkembang biak dalam hati dan
limfa sehingga organ tersebut membesar disertai nyeri pada perabaan.
Pada akhir masa inkubasi (5-9 hari) kuman kembali masuk dalam darah
(bakteremi sekunder) dan menyebar keseluruh tubuh terutama kedalam
kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan tukak berbentuk lonjong di atas
Plak Peyer. Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan
perforasi usus. Pada masa bakteremi ini, kuman mengeluarkan endotoksin
yang mempunyai peran membantu proses peradangan lokal dimana
kuman ini berkembang. Demam tifoid disebabkan karena Salmonella
Typhosa dan endotoksinnya merangsang sintesa dan pelepasan zat
pirogen oleh lekosit pada jaringan yang meradang. Zat pirogen ini akan
beredar dalam darah dan mempengaruhi pusat termoregulator di
hipotalamus yang menimbulkan gejala demam. Gejala demam disebabkan
oleh endotoksit, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan
oleh kelainan pada usus halus (PPNI Klaten, 2009).
E. PATHWAY

Salmonella Typhi

Basil masuk bersama makanan/minuman yang terkontaminasi

Lolos dari asam lambung

Bakteri masuk ke usus halus

Pembuluh darah limfe

Peredaran darah (bakterimia primer)

Masuk retikulo endothelial (RES) terutama hati dan limfa

Berkembang biak di hati dan limfa Masuk ke aliran darah

Pembesaran hati dan limfa (bakterimia sekunder)

Hepatomegali, Splenomegali Endotoksin

Penurunan atau peningkatan mobilitas usus Terjadi kerusakan sel

Peningkatan asam lambung Melepas zat epirogen oleh leukosit

Anoreksia, mual muntah Mempengaruhi pusat

Nafsu makan menurun thermoregulator dihipotalamus

Ketidakseimbangan nutrisi Ketidakefektifan


kurang dari kebutuhan tubuh termoregulasi
(Nanda Nic-Noc, 2013)
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah
pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :
1. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid
terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya
leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam
typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-
batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak
ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu, pemeriksaan
jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi
dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
3. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid,
tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan
terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah
tergantung dari beberapa faktor :
a. Teknik pemeriksaan laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan
laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik
dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah
yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat
bakteremia berlangsung.
b. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit biakan darah
terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama
dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu
kambuh biakan darah dapat positif kembali.
c. Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat
menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat
menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.
4. Uji widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat
dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang
pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah
suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium.
Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin
dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi
oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
a. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal
dari tubuh kuman).
b. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal
dari flagel kuman).
c. Aglutinin VI, yang dibuat karena rangsangan antigen VI (berasal
dari simpai kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang
ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar
klien menderita typhoid.

G. PENATALAKSANAAN
1. Perawatan
a. Klien diistirahatkan 7 hari sampai bebas demam atau 14 hari untuk
mencegah komplikasi perdarahan usus.
b. Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya
tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.
2. Diet
a. Memberikan diet bebas yang rendah serat pada penderita tanpa
gejala meteorismus, dan diet bubur saring pada penderita dengan
meteorismus. Hal ini dilakukan untuk menghindari
komplikasi perdarahan saluran cerna dan perforasi usus. Gizi
penderita juga diperhatikan agar meningkatkan keadaan umum
dan mempercepat proses penyembuhan.
b. Cairan yang adekuat untuk mencegah dehidrasi akibat muntah
dan diare.
c. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari
demam selama 7 hari.
3. Obat-obatan
Antibiotika umum digunakan untuk mengatasi penyakit thypoid.
Waktu penyembuhan bisa makan waktu 2 minggu hingga satu bulan.
Antibiotika, seperti ampicillin, kloramfenikol, trimethoprim
sulfamethoxazole, dan ciproloxacin sering digunakan untuk merawat
demam tipoid di negara-negara barat. Obat-obat antibiotik adalah :
a. Kloramfenikol diberikan dengan dosis 50 mg/kg BB/hari, terbagi
dalam 3-4 kali pemberian, oral atau intravena, selama 14 hari.
b. Bilamana terdapat indikasi kontra pemberian kloramfenikol, diberi
ampisilin dengan dosis 200 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali.
Pemberian intravena saat belum dapat minum obat, selama 21
hari.
c. Amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4
kali. Pemberian oral/intravena selama 21 hari.
d. Kotrimoksasol dengan dosis (tmp) 8 mg/kbBB/hari terbagi dalam
2-3 kali pemberian, oral, selama 14 hari.
e. Ceftriaxon, pada kasus berat, dapat diberi ceftriakson dengan
dosis 50 mg/kg BB/kali dan diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kg
BB/hari, sekali sehari, intravena, selama 5-7 hari.
Bila tak terawat, demam thypoid dapat berlangsung selama tiga
minggu sampai sebulan. Kematian terjadi antara 10% dan 30% dari
kasus yang tidak terawat. Vaksin untuk demam thypoid tersedia dan
dianjurkan untuk orang yang melakukan perjalanan ke wilayah
penyakit ini biasanya berjangkit (terutama di Asia, Afrika, dan Amerika
Latin).
Pengobatan penyulit tergantung macamnya. Untuk kasus berat
dan dengan manifestasi nerologik menonjol, diberi Deksametason
dosis tinggi dengan dosis awal 3 mg/kg BB, intravena perlahan
(selama 30 menit). Kemudian disusul pemberian dengan dosis 1 mg/kg
BB dengan tenggang waktu 6 jam sampai 7 kali pemberian.
Tatalaksana bedah dilakukan pada kasus-kasus dengan penyulit
perforasi usus.
H. PENGKAJIAN (POLA FUNGSI KESEHATAN)
1. Pengkajian
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan,
suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah
sakit, nomor register dan diagnosa medik.
b. Keluhan utama
Keluhan utama demam thypoid adalah panas atau demam
yang tidak turun-turun, nyeri perut, pusing kepala, mual, muntah,
anoreksia, diare serta penurunan kesadaran.
c. Riwayat penyakit sekarang
d. Riwayat penyakit dahulu
e. Riwayat penyakit keluarga
f. Pola-pola fungsi kesehatan (Virginia Henderson)
1) Pola pernafasan
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Klien akan mengalami penurunan nafsu makan karena mual
dan muntah saat makan sehingga makan hanya sedikit bahkan
tidak makan sama sekali.
3) Pola eliminasi
Klien dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring
lama. Sedangkan eliminasi urine tidak mengalami gangguan,
hanya warna urine menjadi kuning kecoklatan. Klien dengan
demam thypoid terjadi peningkatan suhu tubuh yang berakibat
keringat banyak keluar dan merasa haus, sehingga dapat
meningkatkan kebutuhan cairan tubuh.
4) Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan
suhu tubuh.
5) Kebutuhan rasa aman dan nyaman
6) Kebutuhan berpakaian
7) Kebutuhan mempertahankan suhu tubuh dan sirkulasi
Klien dengan demam thypoid terjadi peningkatan suhu tubuh.
8) Kebutuhan personal hygiene
9) Kebutuhan gerak dan keseimbangan tubuh
Gerak dan aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah
baring total, agar tidak terjadi komplikasi maka segala
kebutuhan klien dibantu.
10) Kebutuhan berkomunikasi dengan orang lain
11) Kebutuhan spiritual
12) Kebutuhan bekerja
13) bermain dan rekreasi
14) Kebutuhan belajar
h. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
2) Tingkat kesadaran
3) Kulit : ada tidaknya perubahan warna, integritas dan kulit
4) Kepala : bentuk kebersihan kulit kepala, dan warna rambut
5) Mata : ada tidaknya konjungtivitis dan ikterik pada sclera
6) Telinga : ada tidaknya gangguan pendengaran, kebersihan,
kesimetrisan
7) Hidung : kebersihan, atau kelainan lain
8) Mulut : kebersihan, ada tidaknya caries, dan infeksi mulut
lainnya
9) Leher : JVP meningkat atau tidak, ada tidaknya pergerakan
yang terganggu
10) Dada : kesimetrisan ekspansi dada normal, tidak ada nyeri
tekan
11) Paru-paru : ekspansi paru terlihat jelas
12) Abdomen : datar, simetris, tidak teraba massa, tidak terdapat
nyeri saat dipalpasi, tidak terdapat rasa mual maupun muntah
13) Genetalia : ada tidaknya kelalinan pada daerah genitalia
14) Anus dan rectum : ada tidaknya kelainan seperti terdapat
hemoroid
15) Ektrimitas : kelengkapan ekstermitas atas dan bawah, ada
tidaknya oedema, akral, dan ada tidaknya penurunan fungsi
pergerakan.
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan termoregulasi berhubungan dengan proses
peradangan usus halus atau proses penyakit
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat (mual muntah)

J. INTERVENSI KEPERAWATAN

DX Tujuan dan KH Intervensi Rasional


DX 1 Tujuan : suhu tubuh 1. Monitor tanda- 1. Mengetahui
kembali normal tanda vital keadaan umum
Kriteria hasil : pasien
1. Suhu stabil dan 2. Monitor suhu 2. Mengetahui suhu
tidak demam (36,5- tubuh tiap 2-4 tubuh pasien.
37,5 derajat celcius) jam.
2. Tidak ada 3. Berikan kompres 3. Mengurangi
perubahan wara hangat peningkatan suhu
kulit tubuh
3. Tanda-tanda vital 4. Anjurkan untuk 4. Peningkatan suhu
dalam batas normal banyak minum air tubuh
(TD : 120/80, S : putih mengakibatkan
36,5-37,5, RR : 12- penguapan
20 x/menit, N : 60- sehingga perlu
100 x/menit) diimbangi dengan
asupan cairan
yang banyak.
5. Kolaborasi 5. Mempercepat
pemberian proses
antipiretik, penyembuhan,
antibiotik. menurunkan
demam.
Pemberian
antibiotik
menghambat
pertumbuhan dan
proses infeksi dari
bakteri

2. Tujuan: 1. Kaji adanya alergi 1. Mengetahui


Kebutuhan nutrisi terpenuhi makanan makanan tertentu
Kriteria Hasil: yang tidak boleh
1. Tidak mual muntah dikonsumsi pasien
2. Adanya peningkatan 2. Monitor mual 2. Mual muntah yang
BB muntah berarti intake
3. Tidak ada tanda- nutrisi tubuh
tanda malnutrisi kurang terpenuhi
4. Nafsu makan
bertambah
3. Monitor kalori dan 3. Mengetahui kalori
intake nutrisi dan intake nutrisi
pasien
4. Timbang berat 4. Mengetahui ada
badan pasien tidaknya
penurunan berat
badan
5. Berikan informasi 5. Memberikan
mengenai pengetahuan
kebutuhan nutrisi untuk nutrisi yang
(tinggi serat) perlu dipenuhi
6. Kolaborasi 6. Membantu intake
dengan ahli gizi yang adekuat
untuk
menentukan
jumlah kalori dan
nutrisi yang
dibutuhkan
pasien
DAFTAR PUSTAKA

Herdman t. Heather. 2010. Diagnosis keperawatan. Jakarta : egc


https://www.scribd.com/doc/231511530/Laporan-Pendahuluan-
Thypoid-Revisi.
Huda Amin. 2013. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
& NANDA NIC-NOC Jilid 1. Yogyakarta : Media Action Publishing.
Huda Amin. 2013. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
&NANDA NIC-NOC Jilid 2. Yogyakarta : Media Action Publishing