Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

“Gaya belajar dan Gaya berpikir”


Dosen Pengampu : Rafael Lisinus Ginting , S.Pd., M.Pd.

Disusun Oleh :
Kelompok 6 :
1. ARYANTO YOSAFAT SITOHANG (4181141028)
2. WILHELMINARI BR SARAGIH (4183341030)
3. FADILAH AMALIA TARIGAN (4183341022)

KELAS : PENDIDIKAN BIOLOGI’ D 2018

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2019
BAB I PENDAHALUAN

A. LATAR BELAKANG
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang kompleks menuntut penanganan untuk
meningkatkan kualitasnya, baik yang bersifat menyeluruh maupun pada beberapa
komponen tertentu saja. Gerakan-gerakan baru dalam pendidikan pada umumnya termasuk
yang kedua yakni upaya peningkatan mutu pendidikan hanya dalam beberapa komponen
saja. Meskipun demikian, sebagai suatu sistem, penanganan satu atau beberapa komponen
itu akan mempengaruhi pula komponen lainnya. Beberapa dari gerakan-gerakan baru
tersebut memusatkan diri pada perbaikan dan peningkatan kualitas kegiatan belajar
mengajar pada sistem persekolahan, seperti cara guru mengajar dan cara murid belajar.
Guru memang suatu profesi yang unik. Pendekatannya harus dipandang secara individual
dan kelembagaan. Secara individual, seorang guru harus mempunyai jiwa pengabdian yang
tinggi. Lalu jiwa pengabdian yang tinggi ini ditunjang oleh keinginan yang kuat untuk selalu
memberikan dan melayani sebaik mungkin kepada anak didik. Maka dari itu, guru juga harus
selalu belajar, baik untuk ilmu pengetahuan dan keterampilan pengajaran, maupun belajar
memahami aspek psikologis kemanusiaan. Seorang guru juga harus mampu memahami
bagaimana cara murid belajar. Jika guru telah mampu menguasai teknik yang dapat
meningkatkan semangat dan keaktifan anak didiknya dalam belajar, maka dunia pendidikan
akan semakin dewasa dan profesional.

A. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja faktor yang mempengaruhi gaya belajar?

2. Apa saja faktor yang mempengaruhi gaya berpikir?

3. Apa saja macam gaya berpikir

C. TUJUAN
a. Untuk mengetahui konsep dasar gaya belajar dan gaya berpikir
b. Untuk mengetahui macam-macam gaya belajar dan gaya berpikir
c. Untuk mengetahui tahapan-tahapan gaya belajar dan gaya berpikir pada siswa.
BAB II KAJIAN TEORI

A. PENGERTIAN GAYA BELAJAR


 Menurut Fleming dan Mills (1992), gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk
mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk
mendapatkan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar di kelas/sekolah
maupun tuntutan dari mata pelajaran.
 Drummond (1998:186) mendefinisikan gaya belajar sebagai, “an individual’s preferred mode
and desired conditions of learning.” Maksudnya, gaya belajar dianggap sebagai cara belajar
atau kondisi belajar yang disukai oleh pembelajar.
 Willing (1988) mendefinisikan gaya belajar sebagai kebiasaan belajar yang disenangi oleh
pembelajar. Keefe (1979) memandang gaya belajar sebagai cara seseorang dalam menerima,
berinteraksi, dan memandang lingkungannya. Dunn dan Griggs (1988) memandang gaya
belajar sebagai karakter biologis bawaan.
 menurut Nasution yang dinamakan gaya belajar adalah cara yang konsisten yang dilakukan
oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berfikir dan
memecahkan soal.
 Ws. Wingkel mendefinisikan belajar adalah “Suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung
dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap perubahan itu bersifat secara relatif
konstan dan berbekas”.

Gaya belajar atau learning style adalah suatu karakteristik kognitif, afektif dan perilaku
psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang relatif stabil untuk pebelajar merasa saling
berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan belajar (NASSP dalam Ardhana dan Willis, 1989 : 4).
Definisi yang lebih menjurus pada gaya belajar bahasa dan yang dijadikan panduan pada penelitian
ini dikemukakan oleh Oxford (2001:359) dimana gaya belajar didefinisikan sebagai pendekatan yang
digunakan peserta didik dalam belajar bahasa baru atau mempelajari berbagai mata pelajaran.
B. MACAM-MACAM GAYA BELAJAR MENURUT PARA AHLI
1. Gaya Belajar Menurut David Kolb
Tanpa disadari dan direncanakan sebelumnya, setiap anak memiliki cara belajarnya
sendiri. Mencoba mengenali "Gaya Belajar" anak, dan tentunya setelah guru mengenali
"Gaya Belajar"nya sendiri, akan membuat proses belajar-mengajar jauh lebih efektif.
Dari sekian banyak teori atau temuan mengenai "Gaya Belajar", dalam kesempatan ini kita
akan membahas sebuah model yang dikemukakan oleh David Kolb (Styles of Learning
Inventory, 1981).
David Kolb mengemukakan adanya empat kutub (a-d) kecenderungan seseorang dalam
proses belajar, kutub-kutub tersebut antara lain:
1. Kutub Perasaan/FEELING (Concrete Experience)
Anak belajar melalui perasaan, dengan menekankan segi-segi pengalaman kongkret, lebih
mementingkan relasi dengan sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain.
Dalam proses belajar, anak cenderung lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap
perubahan yang dihadapinya.
2. Kutub Pemikiran/THINKING (Abstract Conceptualization)
Anak belajar melalui pemikiran dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide,
perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang
dihadapi. Dalam proses belajar, anak akan mengandalkan perencanaan sistematis serta
mengembangkan teori dan ide untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
3. Kutub Pengamatan/WATCHING (Reflective Observation)
Anak belajar melalui pengamatan, penekanannya mengamati sebelum menilai,
menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-
hal yang diamati. Dalam proses belajar, anak akan menggunakan pikiran dan perasaannya
untuk membentuk opini/pendapat.
4. Kutub Tindakan/DOING (Active Experimentation)
Anak belajar melalui tindakan, cenderung kuat dalam segi kemampuan
melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat
perbuatannya. Dalam proses belajar, anak akan menghargai keberhasilannya dalam
menyelesaikan pekerjaan, pengaruhnya pada orang lain, dan prestasinya.
Menurut Kolb, tidak ada individu yang gaya belajarnya secara mutlak didominasi
oleh salah satu saja dari kutub tadi. Yang biasanya terjadi adalah kombinasi dari dua kutub
dan membentuk satu kecenderungan atau orientasi belajar. Empat kutub di atas
membentuk empat kombinasi gaya belajar.
Pada model di atas, empat kombinasi gaya belajar diwakili oleh angka 1 hingga 4,
dengan penjelasan seperti di bawah ini:
1. Gaya Diverger
Kombinasi dari perasaan dan pengamatan (feeling and watching). Anak dengan tipe
Diverger unggul dalam melihat situasi kongkret dari banyak sudut pandang yang berbeda.
Pendekatannya pada setiap situasi adalah "mengamati" dan bukan "bertindak". Anak seperti
ini menyukai tugas belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide (brainstorming),
biasanya juga menyukai isu budaya serta suka sekali mengumpulkan berbagai informasi.
2. Gaya Assimillator
Kombinasi dari berpikir dan mengamati (thinking and watching). Anak dengan tipe
Assimilator memiliki kelebihan dalam memahami berbagai sajian informasi serta
merangkumkannya dalam suatu format yang logis, singkat, dan jelas. Biasanya anak tipe
ini kurang perhatian pada orang lain dan lebih menyukai ide serta konsep yang abstrak,
mereka juga cenderung lebih teoritis.
3. Gaya Converger
Kombinasi dari berfikir dan berbuat (thinking and doing). Anak dengan tipe Converger
unggul dalam menemukan fungsi praktis dari berbagai ide dan teori. Biasanya mereka punya
kemampuan yang baik dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga
cenderung lebih menyukai tugas-tugas teknis (aplikatif) daripada masalah sosial atau
hubungan antar pribadi.
4. Gaya Accomodator.
Kombinasi dari perasaan dan tindakan (feeling and doing). Anak dengan tipe
Accommodator memiliki kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang
dilakukannya sendiri. Mereka suka membuat rencana dan melibatkan dirinya dalam berbagai
pengalaman baru dan menantang. Mereka cenderung untuk bertindak berdasarkan intuisi /
dorongan hati daripada berdasarkan analisa logis. Dalam usaha memecahkan masalah,
mereka biasanya mempertimbangkan faktor manusia (untuk mendapatkan masukan /
informasi) dibanding analisa teknis.
Menyimak berbagai gaya belajar di atas, sebagai guru perlu kiranya kita tetap sensitif
terhadap strategi belajar kita sendiri, yang mungkin sama atau sama sekali berbeda
dengan orientasi belajar peserta didik di kelas. Perbedaan itu dapat menimbulkan
kesulitan dalam kegiatan belajar-mengajar (dalam interaksi, komunikasi, kerjasama, dan
penilaian).
Jika mengajar kita pahami sebagai kesempatan membantu peserta didik untuk
belajar, maka kita harus berusaha membantu mereka memahami "Style of Learning"nya,
dengan tujuan meningkatkan segi-segi yang kuat dan memperbaiki sisi-sisi yang lemah
dari padanya.
2. Gaya menurut Bobbi DePorter bersama Mike Hernacki didalam bukunya ”Quantum
Learning”
Gaya belajar ada 3 dengan Karakteristik sebagai berikut :

1. Visual (belajar dengan cara melihat)


Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya belajar
visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal
ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada
peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut,
atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau
menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus
melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran.
Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka
berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan
menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan
video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk
mendapatkan informasi.
Ciri-ciri gaya belajar visual :
1. Bicara agak cepat
2. Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
3. Tidak mudah terganggu oleh keributan
4. Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
5. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
6. Pembaca cepat dan tekun
7. Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
8. Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
9. Lebih suka musik dari pada seni
10. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan
seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :


1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

2. Auditori (belajar dengan cara mendengar)


Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang2 saja. Siswa yang
bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat
pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga
ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih
cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan.
Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi
rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang
mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi
ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan
mendengarkan kaset.
Ciri-ciri gaya belajar auditori :
1. Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
2. Penampilan rapi
3. Mudah terganggu oleh keributan
4. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang
dilihat
5. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
6. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
7. Biasanya ia pembicara yang fasih
8. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
9. Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
10. Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkanVisual
11. Berbicara dalam irama yang terpola
12. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :


1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam
keluarga.
2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk
mendengarkannya sebelum tidur.

3. Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)


Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya
belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini
sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan
eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan
sentuhan.
Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :
1. Berbicara perlahan
2. Penampilan rapi
3. Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
4. Belajar melalui memanipulasi dan praktek
5. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
6. Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
7. Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
8. Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat
membaca
9. Menyukai permainan yang menyibukkan
10. Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di
tempat itu
11. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata
yang mengandung aksi

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.


2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca
sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.

3. Gaya belajar menurut Dave Meier dalam bukunya The Accelerated Learning
Gaya belajar menurut Dave Meier dikenal dengan sebutan pendekatan SAVI

a. Belajar ”Somatis”
”Somatis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh-soma (seperti dalam
psikosomatis). Jadi belajar somatis berarti belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis-
melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar.
b. Belajar ”Auditori”
Belajar Auditori adalah cara belajar dengan menggunakan pendengaran. Belajar
auditori merupakan cara belajar standar bagi semua masyarakat sejak adanya manusia.
Telinga terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa
disadari seseorang mampu membuat beberapa area penting didalam otak menjadi aktif.
c. Belajar ”Visual”
Ketajaman visual, meskipun lebih menonjol pada sebagian orang, sangat kuat dalam
diri setiap orang. Alasannya adalah bahwa didalam otak terdapat lebih banyak perangkat
untuk memproses informasi visual dari pada semua indra yang lain. Setiap orang
(terutama pembelajar visual) lebih mudah belajar jika dapat ”melihat” apa yang sedang
dibicarakan seseorang penceramah atau sebuah buku atau program komputer dan lain-
lain. Pembelajar visual belajar paling baik jika mereka dapat melihat contoh dari dunia
nyata.
d. Belajar ”Intelektual”
Kata ”Intelektual” menunjukkan apa yang dilakukan pembelajar dalam pikiran mereka
secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenung suatu pengalaman
dan menciptakan hubungan, makna, rencana dan nilai dari pengalaman tersebut.
”Intelektual” adalah bagian dari merenung, mencipta, memecahkan masalah dan
membangun makna.
Intelektual (menurut Dave meier) adalah pencipta makna dalam pikiran, sarana yang
digunakan manusia untuk ”berfikir”, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf
baru dan belajar. Ia menghubungkan pengalaman mental, fisik, emosiaonal dan intuitif tubuh
untuk membuat makana baru bagi dirinya sendiri. Itulah sarana yang digunakan pikiran untuk
mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, dan
pemahaman diharapkan menjadi kearifan.
4. Gaya Belajar menurut Depdiknas
Tujuh Gaya Belajar Efektif
Banyak gaya yang bisa dipilih untuk belajar secara efektif. Berikut adalah tujuh gaya
belajar yang mungkin bisa kita ambil :
a. Bermain dengan kata.
Gaya ini bisa kita mulai dengan mengajak seorang teman yang senang bermain
dengan bahasa, seperti bercerita dan membaca serta menulis. Gaya belajar ini sangat
menyenangkan karena bisa membantu kita mengingat nama, tempat, tanggal, dan hal-hal
lainya dengan cara mendengar kemudian menyebutkannya.
b. Bermain dengan pertanyaan.
Bagi sebagian orang, belajar makin efektif dan bermanfaat bila itu dilakukan dengan
cara bermian dengan pertanyaan. Misalnya, kita memancing keinginan tahuan dengan
berbagai pertanyaan. Setiaop kali muncuil jawaban, kejar dengan pertanyaan, hingga
didapatkan hasil yang paling akhirnya atau kesimpulan.
c. Bermain dengan gambar.
Anda sementar orang yang lebih suka belajar dengan membuat gambar, merancang,
melihat gambar, slide, video atau film. Orang yang memiliki kegemaran ini, biasa memiliki
kepekaan tertentu dalam menangkap gambar atau warna, peka dalam membuat
perubahan, merangkai dan membaca kartu. Jika Anda termasuk kelompok ini, tak salah
bila Anda mencoba mengikutinya.

d. Bermain dengan musik.


Detak irama, nyanyian, dan mungkin memainkan salah satu instrumen musik, atau
selalu mendengarkan musik. Ada banyak orang yang suka mengingat beragam informasi
dengan cara menginat notasi atau melodi musik. Ini yang disebut sebagai ritme hidup.
Mereka berusaha mendapatkan informasi terbaru mengenai beragam hal dengan cara
mengingat musik atau notasinya yang kemudian bisa membuatnya mencari informasi
yang berkaitan dengan itu. Misalnya mendegarkan musik jazz, lalu tergeliik
bagaimanalagu itu dibuat, siapa yang membuat, dimana, dan pada saat seperti apa lagu
itu muncul. Informasi yang mengiringi lagu itu, bisa saja tak sebatas cerita tentang musik,
tapi juga manusia, teknologi, dan situasi sosial politik pada kurun waktu tertentu

e. Bermain dengan bergerak.


Gerak manusia, menyentuh sambil berbicara dan menggunakan tubuh untuk
mengekspresikan gagasan adalah salah satu cara belajar yang menyenangkan. Mereka
yang biasanya mudah memahami atau menyerap informasi dengan cara ini adalah
kalangan penari, olahragawan. Jadi jika Anda termasuk kelompok yang aktif, tak salah
mencoba belajar sambil tetap melakukan beragam aktivitas menyenangkan seperti
menari atau berolahraga.

f. Bermain dengan bersosialisasi.


Bergabung dan membaur dengan orang lain adalah cara terbaik mendapat informasi
dan belajar secara cepat. Dengan berkumpul, kita bisa menyerap berbagai informasi
terbaru secara cepat dan mudah memahaminya. Dan biasanya, informasi yang didapat
dengan cara ini, akan lebih lama terekam dalam ingatan.
g. Bermain dengan Kesendirian.
Ada sebagian orang yang gemar melakukan segala sesuatunya, termasuk belajar dengan
menyepi. Untuk mereka yang seperti ini, biasanya suka tempat yang tenang dan ruang
yang terjaga privasinya. Jika Anda termasuk yang seperti ini, maka memiliki kamar pribadi
akan sangat membantu Anda bisa belajar secara mandiri.

Lima Prinsip Belajar :


a. Mengenali betul apa yang menarik untuk kita
Jika kita mengetahui betul apa sesungguhnya yang menarik bagi kita, tentu akan lebih
mudah mencari ragam informasi penting yang akan kita pelajari. Tak ada seorang pun
yang mampu memberikan informasi tentang apa yang menarik untuk kita pelajari kecuali
kita sendiri.
Ada baiknya, sekali waktu, Anda berhenti dulu belajar, lalu tanyakan pada diri Anda
sendiri, untuk apa Anda belajar? Jika Anda cukup punya alasannya, tak salah bila Anda
mencoba mengujinya dengan mengikuti beberapa tes untuk melihat tingkat pemahaman
kita dan cara untuk meningkatkannya. Hal terpenting yang perlu diingat adalah seberapa
cepat pun kita bisa memahami suatu informasi, maka informasi itu dengan mudah bisa
hilang dari ingatan jika ternyata informasi tersebut bukan seperti sesuatu yang menjadi
inti ketertarikan kita.
b. Kenalilah kepribadian diri sendiri.
Jika kita tahu betul siap kita dan apa yang kita inginkan, maka mempelajari sesuatu
yang sesuai dengan keinginan dan kepribadian kita menjadi lebih mudah dilakukan.
Sebab, apapun yang akan kita pelajari dan pahami, seringkali menjadi sia-sia jika ternyata
tak sesuai dengan kepribadian kita.

c. Rekam semua informasi dalam kata.


Langkah yang paling mudah untuk memahami, mengingat dan mempelajari sesuatu
adalah dengan kata. Jadi, langkah yang paling mudah dan bijaksana adalah bila kita
terbiasa merekam semua informasi itu dengan cara menuliskannya kembali dalam bentuk
apa saja. Gambar, coretan dan yang terbaik adalah catatan tertulis buatan tangan sendiri.
d. Belajar bersama orang lain.
Cara termudah untuk belajar sesungguhnya adalah bila kita melakukannya secara
bersama-sama. Prinsip belajar ini hampir selalu efektif bagi setiap orang, apa pun karakter
belajar yang dimilikinya. Selain itu, belajar juga menjadi terasa lebih menyenangkan dan
ringan, bila dilakukan secara bersama-sama.
e. Hargai diri sendiri.
Belajar memahami dan menyerap informasi akan menjadi lebih terasa bermanfaat
dan berarti bila kita menghargainya. Jadi, rencanakan apa yang Anda akan pelajari dan
pahami. Setelah itu, cobalah membuat jeda di antara waktu belajar yang Anda laklukan.
Setelah itu, lihat seberapa besar tingkat keberhasilan Anda dalam mempelajari suatu
informasi atau fakta tertentu. Bila Anda merasa itu berhasil, maka Anda layak menghargai
jerih-payah Anda belajar dengan cara apa saja. Misalnya, merayakannya dengan makan
enak atau membeli sesuatu yang bisa mengingatkan Anda akan keberhasilan yang Anda
pernah capai.
GAYA BERPIKIR

A. Pengartian Gaya Berfikir


Gaya berpikir merupakan cara yang dipilih seseorang untuk menggunakan kemampuannya
(Sternberg, 1997 dalam Santrock, 2004). Sementara Taylor dkk (1977:55) mendefinisikan berpikir
sebagai proses penarikan kesimpulan (Thinking is an inferring process). Berpikir sebagai proses
penarikan kesimpulan dari persoalan yang dipahami yang kemudian mampu menemukan pemecahan
persoalan itu sehingga menghasilkan kesimpulan dan temuan baru. Tentunya, penarikan kesimpulan
dalam proses berpikir ini dipengaruhi rekayasa dan manipulasi data-data dan atau pengertian-
pengertian yang tersimpan dalam long term memori seseorang.

B . Macam – Macam Gaya Berfikir


Terdapat beberapa jenis gaya berfikir, yaitu:
1. Gaya impulsif ataukah reflektif
Gaya impulsif/reflektif juga disebut sebagai tempo konseptual, yakni siswa cenderung gaya
belajar dan berpikirbertindak cepat dan impulsif ataukah menggunakan lebih banyak waktu untuk
merespons dan merenungkan akurasi dari suatu jawaban (Kagan, 1965 dalam Santrock ,2004:156).
Siswa yang impulsif seringkali lebih banyak melakukan kesalahan daripada siswa bergaya reflektif.
Riset tentang gaya ini telah memberi pengaruh besar terhadap kegiatan pendidikan (Jonassen
dan Grabowski, 1993 dalam Santrock, 2004:156). Dibandingkan siswa yang impulsif, siswa yang
reflektif lebih banyak melakukan hal-hal berikut:
 mengingat informasi yang terstruktur
 membaca dengan memhami dan mengiterpretasi teks
 memecahkan problem dan membuat keputusan
 lebih mungkin menentukan sendiri tujuan belajar
 lebih mungkin berkosentrasi terhadap informasi yang relefan

Standar kinerja siswa reflektif biasanya lebih tinggi daripada standar kinerja siswa impulsif. Walaupun
demikian, ada juga siswa yang bisa cepat belajar secara tepat dan cepat mengambil keputusan sendiri.
Sebenarnya dia reflektif, namun dukungan inteligensi yang tinggi membuatnya cepat bereaksi,
berkesan impulsif.
Bereaksi cepat adalah strategi buruk hanya jika jawaban/kesimpulan yang dihasilkan salah.
Jika benar, malah itu yang lebih baik. Kadang-kadang gaya reflektif terlalu lama berkutat dengan
memikirkan suatu persoalan yang bisa saja tak terpecahkan dan berakibat menambah beban belajar.
Guru tetap mendorong siswa seperti ini untuk tetap reflektif namun harus mencapai jawaban akhir.

Cara mengatasi anak yang impulsif:


i. Identifikasi siswa yang impulsif
ii. Dorong mereka agar meluangkan lebih banyak waktu untuk berpikir sebelum memberikan
jawaban
iii. Dorong mereka untuk menandai informasi baru saat mereka membahasnya
iv. Jadilah guru bergaya reflektif
v. Bantu siswa untuk menentukan standar tinggi bagi kinerjanya
vi. Hargai siswa impulsif yang mau meluangkan banyak waktu untuk berpikir. Beri pujian untuk
peningkatan kinerjanya
vii. Bimbing murid untuk menyusun sendiri rencana guna mengurangi impulsivitas

2. Gaya mendalam ataukah dangkal


Gaya belajar mendalam adalah sejauh mana siswa mempelajari materi pelajaran dengan satu
cara untuk membantu mereka memahami makna materi tersebut (gaya mendalam). Gaya belajar
dangkal adalah sekadar mencari apa-apa yang perlu untuk dipelajari (gaya dangkal).
Gaya dangkal tidak dapat mengaitkan apa-apa yang mereka pelajari dengan kerangka
konseptual yang lebih luas. Seringkali hanya mengingat informasi dan bersikap pasif.
Sedangkan pelajar mendalam (deep learner) lebih mungkin untuk secara aktif memahami apa-apa
yang mereka pelajari dan memberi makna pada apa yang perlu diingat.
Jadi, pelajar mendalam menggunakan pendekatan kostruktivis dalam belajarnya. Deep learner
lebih banyak memotivasi dirinya sendiri, sedangkan pelajar dangal (surface learner) lebih termotivasi
jika ada penghargaan dari luar, misalnya pujian dan tanggapan positif dari guru (Snow, Corno, dan
Jackson, 1996 dalam Santrock, 2004:157)

Strategi pembelajaran untuk gaya belajar dangkal agar belajar mendalam:


 Identifikasi siswa bertype surface learner
 Beritahu mereka bahwa ada yang lebih penting dari sekadar mengingat materi. Rangsang
mereka untuk menghubungkan materi pelajaran sekarang dengan apa yang mereka pelajari
sebelumnya.
 Ajukan pertanyaan/beri tugas yang mensyaratkan untuk menyesuaikan informasi dengan
kerangka materi belajar yang lebih luas
 Jadilah model yang memproses informasi secara mendalam, bukan sekedar memberi
informasi. Bahas topic pelajaran secara mendetail/mendalam
 Jangan menggunakan pertanyaan yang membutuhkan jawaban yaatau tidak
C. Keberagaman Peserta Didik
Keragaman adalah beragam, banyak jenis, rupa-rupa dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud
dengan siswa yaitu peserta didik pada suatu lembaga yang disebut dengan sekolah. Maka dapat
disimpulkan bahwa keragaman siswa merupakan rupa-rupa siswa yang dibentuk oleh pribadi dan
lingkungan. Keragaman budaya dan identitas individu dapat dilihat dari kelas sosial, kebangsaan, ras,
kelompok etnis, kemampuan dan kecerdasan, agama, wilayah geografis, dan
gender.
1. Keberagaman Status Sosial
Yang sering membedakan seorang siswa dengan siswa lainnya adalah kelas sosial yang
didefinisikan sebagai status sosioekonomi berdasar penghasilan, pekerjaan, pendidikan, dan lain
sebagainya. Sekolah merupakan lembaga kelas menengah yang berfungsi sebagai pelebur komunitas
kaya dan miskin sehingga tidak terlihat adanya kesenjangan status sosial. Sebagai seorang pendidik,
guru harus mampu berdiri di tengah, dan memdidik seluruh siswa untuk saling menghargai satu sama
lainnya.
2. Suku dan Ras
Suku dan ras dalam suatu bangsa dapat berpengaruh terhadap pengalaman sekolah siswa. Suku
bangsa adalah sejarah, budaya, dan rasa identitas yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang,
sedangkan yang dimaksud dengan ras itu sendiri adalah karakteristik genetik individu yang terlihat
jelas yang mengakibatkan mereka dipandang sebagai anggota kelompok besar yang sama.
Faktorpenentu utama budaya yang dimana siswa akan dibesarkan adalah asal-usul etnis mereka.
Maka karakter yang terbentuk beragam pula.
3. Kemampuan dan kecerdasan
Manusia diciptakan dan dilengkapi dengan kecerdasan yang memiliki kemampuan luar biasa, yang
tidak dimiliki oleh makhluk lain dan kecerdasan sebagai suatu kemampuan ini pulalah yang
membedakan manusia dengan makhluk lainnya dimuka bumi ini. Intelegensi berasal dari bahasa
Inggris “Intelligence” yang juga berasal dari bahasa Latin yaitu “Intellectus dan Intelligentia atau
Intellegere”. Teori tentang intelegensi pertama kali dikemukakan oleh Spearman dan Wynn Jones Pol
pada tahun 1951. Teori ini bertujuan untuk mentransformasikan sekolah agar kelak sekolah dapat
mengakomodasi setiap siswa dengan berbagai macam pola pikirnya yang unik. Howard Gardner
(1993) menegaskan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai, ternyata memiliki banyak
keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang.
Kecerdasan didefinisikan sebagai bakat umum untuk belajar, yang sering diukur berdasarkan
kemampuan menghadapi abstraksi dan memecahkan masalah. Dalam teori Gardner terdapat
beberapa jenis kecerdasan seseorang, diantaranya :
Bahasa
Kecerdasan bahasa, menunjukkan kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata,
baik secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan
gagasan-gagasannya.
 Logika-Matematika
Kecerdasan matematika-logika, menunjukkan kemampuan seseorang dalam berpikir secara induktif
dan deduktif, berpikir menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta
memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir.
 Music
Kecerdasan musikal, menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara
nonverbal yang berada di sekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama.
 Tubuh-Kinestetika
Kecerdasan kinestetik, menunjukkan kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-
bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah.

 Alam (naturalis)
Kecerdasan naturalis, menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam.
 Antar Pribadi(Interpersonal)
Kecerdasan interpersonal, menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang
lain.
 Intra Pribadi
Kecerdasan intrapersonal, Kecerdasan intrapersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka
terhadap perasaan dirinya sendiri.
Kecerdasan Visual dan Kecerdasan Spasial
kemampuan untuk mengindera dunia secara akurat dan menciptakan kembali atau mengubah aspek-
aspek dunia tersebut.
BAB III PEMBAHASAN
1. Faktor yang mempengaruhi gaya belajar:
Menurut Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos, faktor-faktor yang mempengaruhi
gaya belajar seseorang adalah:
 Lingkungan fisik: suara, cahaya, suhu, tempat duduk, sikap tubuh sangat
berpengaruh pada proses belajar seseorang.
 Kebutuhan emosional: orang juga memiliki berbagai kebutuhan
emosional. Dan emosi berperanan penting dalam proses belajar. Dalam
banyak hal, emosi adalah kunci bagi sistem memori otak. Muatan emosi dari
presentasi dapat berpengaruh besar dalam memudahkan pelajar untuk
menyerap informasi dan ide.
 Kebutuhan sosial: sebagian orang suka belajar sendiri. Yang lain lebih suka
bekerja bersama seorang rekan. Yang lain lagi, bekerja dalam kelompok.
Sebagian anak-anak menginginkan kehadiran orang dewasa atau senang
bekerja dengan orang dewasa saja.
 Kebutuhan Biologis: waktu makan, tingkat energi dalam sehari, dan
kebutuhan movilitas juga dapat mempengaruhi kemampuan belajar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya belajar menurut Joko Susilo yaitu:


1. Faktor alamiah (pembawaan): ada hal-hal tertentu yang tidak dapat
diubah dalam diri seseorang bahkan dengan latihan sekalipun.
2. Faktor lingkungan: ada juga hal-hal yang dapat dilatihkan dan
disesuaikan dengan lingkungan yang terkadang justru tidak dapat diubah.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gaya belajar seseorang


dipengaruhi oleh lima faktoryaitu:
A. lingkungan fisik
B. kebutuhan emosional
C. kebutuhan sosial
D. kebutuhan biologis,
E. serta factor alamiah (pembawaan)
F. lingkungan.

2. Faktor yang mempengaruhi gaya berpikir


a. Lingkungan Keluarga
Keluarga yang mengembangkan kebiasaan makan bersama, membaca buku,
mematikan lampu setelah selesai digunakan, dan kebiasaan positif lainnya, akan
menghasilkan anggota keluarga yang memiliki pola pikir yang terwarnai oleh nilai-
nilai yang dibangun bersama oleh keluarga tadi.
Pola pikir seseorang yang berasal dari keluarga yang sarat dengan sistem nilai positif,
dipastikan akan lebih unggul dari keluarga yang tidak atau kurang membangun
sistem nilainya.

b. Pergaulan dengan Masyarakat


Aparatur yang banyak berteman dengan pengusaha, cenderung
memperlihatkan pola pikir seperti pengusaha. Aparatur yang berteman dengan
politikus, cenderung akan mengikuti gaya berpikir politikus. Aparatur yang
berteman dengan tukang rumpi, dia akan tertular dengan kegatalannya para
perumpi. Dan, bila seorang aparatur berteman dengan orang yang shalih, diapun
cenderung akan mengadopsi sifat-sifat dan cara berpikir orang shalih tersebut.
Konsekuensinya, bila seorang aparatur ingin memiliki pola pikir yang baik, ia akan
berhati-hati dalam memilih teman.

c. Pendidikan
Pendidikan adalah solusi terbaik untuk membentuk pola pikir yang unggul.
Seorang aparatur tidak akan membiarkan waktunya berlalu tanpa membaca buku.
Ia akan rajin men-charge dirinya sendiri melalui seminar-seminar yang bermanfaat.
Ia akan gunakan internet untuk mencari berbagai informasi yang dapat mendukung
karirnya sebagai seorang aparatur. Ia akan berusaha untuk meningkatkan
pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, bukan karena selembar ijazah atau
kebanggaan menyandang sederet gelar akademik, tapi karena kesadaran untuk
terus meningkatkan kompetensi diri. Iapun Ia tidak akan membiarkan dirinya
menonton TV lebih dari satu jam sehari.

d. Sistem Kepercayaan (Belief System)


Faktor yang paling dominan mempengaruhi pola pikir adalah sistem
kepercayaan atau keyakinan seseorang (belief system). Bukti sangat kuat bahwa
sistem keyakinan memberikan pengaruh yang paling dominan terhadap pola pikir
seorang aparatur, adalah ketika ia dihadapkan pada peluang melakukan korupsi.
Satu-satunya yang sanggup mencegah perbuatan tersebut bukanlah sanksi dari
atasan, KPK, Kejaksaan, atau dari Kepolisian.., tetapi rasa takutnya kepada
Tuhannya. Bahwa suatu hari nanti, setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa
yang diperbuatnya. Ia merasa tidak akan sanggup menghadapi murka Tuhan Yang
Maha Keras siksanya atas korupsi yang ia lakukan. Ia juga sadar bahwa azab neraka,
bukanlah akhir kehidupan yang baik.

Belief System, atau sistem kepercayaan, atau sistem keyakinan, juga mampu
mengarahkan seorang Aparatur untuk memberikan pelayanan terbaik kepada
semua orang yang berurusan dengannya, baik itu masyarakat, atasan, bawahan,
atau kolega.

Seorang Aparatur yang mempunyai mental senang, ikhlas, dan antusias


dalam melayani, berkeyakinan bahwa semua itu ia lakukan semata karena ia ingin
bermanfaat bagi manusia lainnya.
Ia meyakini bahwa apa yang ditabur akan dituai, artinya pelayanannya kepada
masyarakat bukan sekedar melaksanakan tugas, tapi juga investasi yang sangat
bernilai untuk akhiratnya kelak.
Bila dalam sebuah lembaga ditemukan aparatur yang selalu disiplin,
berkinerja baik, bertanggungjawab, selalu berusaha meningkatkan kompetensinya,
berusaha melayani pimpinan, kolega, bawahan, dan masyarakatnya dengan
pelayanan yang terbaik, sangat boleh jadi ia adalah aparatur yang memiliki pola pikir
akhirat, belief system yang menurut kami tiada tandingannya.

3. Macam gaya berpikir:


A. Pemikir Sekuensial Konkret (SK)
Seperti yang ditunjukkan istilah ini, pemikir sekuensial konkret berpegang
pada kenyataan dan proses informasi dengan cara yang teratur, linear, dan
sekuensial. Bagi para SK, realitas terdiri dari apa yang dapat mereka ketahui melalui
indra fisik mereka, yaitu indra penglihatan, peraba, pendengaran, perasa, dan
penciuman. Mereka memperhatikan dan mengingat realitas dengan mudah dan
mengingat fakta-fakta, informasi, rumus-rumus, dan aturan-aturan khusus dengan
mudah. Catatan atau makalah adalah cara baik bagi orang –orang ini untuk belajar.
Pelajar SK harus mengatur tugas-tugas menjadi proses tahap demi tahap dan
berusaha keras untuk mendapatkan kesempurnaan pada setiap tahap. Mereka
menyukai pengarahan dan prosedur khusus. Karena kebanyakan dunia bisnis diatur
dengan cara ini, mereka menjadi orang-orang bisnis yang sangat baik.
B. Pemikir Acak Konkret (AK)
Pemikir acak konkret mempunyai sikap eksperimental yang diiringi dengan
perilaku yang kurang terstruktur. Seperti pemikir sekuensial konkret,
mereka berdasarkan pada kenyataan, tetapi ingin melakukan pendekatan
coba-salah (trial and error). Karenanya, mereka sering melakukan
lompatan intuitif yang diperlukan untuk pemikiran kreatif yang
sebenarnya. Mereka mempunyai dorongan kuat untuk menemukan
alternatif dan mengerjakan segala sesuatu dengan cara mereka sendiri.
Waktu bukanlah prioritas bagi orang-orang AK, dan mereka cenderung
tidak memedulikannya, terutama jika sedang terlibat dalam situasi yang
menarik. Mereka lebih terorientasi pada proses daripada hasil; akibatnya,
proyek-proyek sering kali tidak berjalan sesuai dengan yang mereka
rencanakan karena kemungkinan-kemungkinan yang muncul dan yang
mengundang eksporasi selama proses.
BAB IV KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang kompleks menuntut penanganan
untuk meningkatkan kualitasnya, baik yang bersifat menyeluruh maupun pada
beberapa komponen tertentu saja. Beberapa dari gerakan-gerakan baru tersebut
memusatkan diri pada perbaikan dan peningkatan kualitas kegiatan belajar
mengajar pada sistem persekolahan, seperti cara guru mengajar dan cara murid
belajar. Gaya Belajar Siswa ada 3 Jenis, Yaitu : gaya belajar visual (belajar dengan
cara melihat), auditorial (belajar dengan cara mendengar), dan kinestetik (belajar
dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh).
Guru memang suatu profesi yang unik. Pendekatannya harus dipandang secara
individual dan kelembagaan. Secara individual, seorang guru harus mempunyai jiwa
pengabdian yang tinggi. Lalu jiwa pengabdian yang tinggi ini ditunjang oleh
keinginan yang kuat untuk selalu memberikan dan melayani sebaik mungkin kepada
anak didik. Maka dari itu, guru juga harus selalu belajar, baik untuk ilmu
pengetahuan dan keterampilan pengajaran, maupun belajar memahami aspek
psikologis kemanusiaan.
B. Saran
Dalam penyusunan makalah ini banyak sekali kesalahan dan jauh dari
kesempurnaan. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran agar makalah ini
dapat dikatakan sempurna dan lebih baik lagi.