Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kegiatan pembelajaran merupakan sebuah kegiatan yang sangat diperlukan oleh setiap
individu. Karena dengan melakukan sebuah kegiatan pembelajaran ini maka individu tersebut
akan dapat berkembang dengan baik.

Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang


Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan
proses berkembangnya kualitas pribadi pesertadidik sebagai generasi penerus bangsa di masa
depan, yang diyakini akanmenjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan
negaraIndonesia sepanjang jaman.

Pendidikan vokasi/kejuruan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional memainkan


peran yang sangat strategis bagi terwujudnya tenaga kerja yang terampil. Dari berbagai kajian
bahwa peluang untuk memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan dari
suatu negara akan semakin besar jika didukung oleh SDM yang memiliki: (1) pengetahuan
dan kemampuan dasar untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dan dinamika perkembangan
yang tengah berlangsung; (2) jenjang pendidikan yang semakin tinggi; (3) keterampilan
keahlian yang berlatar belakang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek); dan (4) kemampuan
untuk menghasilkan produk-produk baik dari kualitas maupun harga, mampu bersaing
dengan produk-produk lainnya di pasar global. Oleh karena itu kompetensi yang akan
dikembangkan melalui proses pembelajaran harus merujuk pada kompetensi yang dibutuhkan
oleh dunia teknik. Salah satu mata kuliah di perguruan tinggi yang sangat penting dan
strategis untuk pembentukan kompetensi adalah mata kuliah praktik yaitu Kajian Teknologi
dan Vokasi.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi Kajian?
2. Apa definisi Teknologi?
3. Apa definisi Vokasi?
4. Apa yang dimaksud Taksonomi Bloom?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi Kajian.
2. Untuk mengetahui definisi Teknologi.
3. Untuk mengetahui definisi Vokasi.
4. Untuk mengetahui Taksonomi Bloom.

1.4 MANFAAT
1. Mengetahui definisi Kajian.
2. Mengetahui definisi Teknologi.
3. Mengetahui definisi Vokasi.
4. Mengetahui Taksonomi Bloom.

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN

BAB 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat
1.5 Sistematika penulisan

Bab 2 Isi

2
2.1 Definisi Kajian
2.2 Definisi Teknologi
2.3 Definisi Vokasi
2.4 Taksonomi Bloom

Bab 3 Penutup
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

Daftar Pustaka

3
BAB 2
ISI

2.1 DEFINISI KAJIAN


Kata “kajian” berasal dari kata “kaji” yang berarti (1) “pelajaran”; (2) penyilidikan
(tentang sesuatu). Bermula dari pengertian kata dasar yang demikian, kata “kajian” menjadi
berarti “proses, cara, perbuatan mengkaji; penyelidikan (pelajaran yang mendalam);
penelaahan (KBBI 1999: 431).

Istilah kajian atau pengkajian, yang digunakan dalam penulisan ini menyaran pada
pengertian penelaahan, penyelidikan. Pengkajian terhadap prosa atau karya fiksi berarti
penyalidikan, atau mengkaji, menelaah, menyelidiki karya fiksi tersebut. Pada umumnya
kegiatan itu disertai oleh kerja analisis. Istilah analisis, menyaran pada pengertian mengurai
karya itu atas unsur- unsur pembentuknya tersebut yaitu unsur- unsur intrinsiknya ( Burhan
Nurgiyantoro 2007: 30).

2.2 DEFINISI TEKNOLOGI

Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI juga memberkan definisi dan juga
pengertian lainnya mengenai teknologi. Disebutkan oleh KBBI, bahwa teknologi merupakan
suatu metode ilmiah yang digunakan untuk mencapai tujuan praktis, dan merupakan salah
satu ilmu pngetahuan terapan. Lebih lanjut juga dikatakan bahwa teknologi merupakan suatu
keseluruhan sarana untuk menyediakan barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan juga
kenyamanan hidup manusia. Dari pernyataan Kamus besar bahasa Indonesia tersebut, maka
dapat disimpulkan bahwa teknologi merupakan suatu metode ilmiah untuk kepentingna
praktis yang dapat bermanfaat bagi kebutuhan dan juga kenyamanan hidup manusia.

4
Teknologi menurut Miarso (2007) merupakan suatu bentuk proses yang
meningkatkan nilai tambah. Proses yang berjalan tersebut dapat menggunakan atau
menghasilkan produk tertentu, dimana produk yang dihasilkan tidak terpisah dari produk lain
yang telah ada. Lebih lanjut disebutkan pula bahwa teknologi merupakan suatu bagian dari
sebuah integral yang terdapat di dalam suatu sistem tertentu.

Gambar 1.
Dr. Yusufhadi Miarso, M. Sc

Ursula Franklin (1989) mengatakan pendapatnya mengenai teknologi sebagai suatu


cara praktis yang menjelaskan mengenai cara kita semua sebagai manusia membuat segala
sesuatu yang berada di sekita sini. Pengertian ini merujuk pada penggunaan teknologi yang
merupakan seluruh benda yang dibuat oleh manusia, dimana setiap orang bisa saja membuat
dan juga mengembangkannya apabila mempelajarinya dengan baik dan dapat menerapkannya
secara praktis.

Gambar 2.
Ursula Franklin

5
Teknologi menurut Poerbahawadja Harahap, Harahap menjelaskan bahwa
penggunaan kata teknologi pada dasarnya mengacu pada sebuah ilmu pengetahuan yang
menyelidiki tentang cara kerja di dalam bidang teknik, serta mengacu pula pada ilmu
pengetahuan yang digunakan dalam pabrik atau industry tertentu. Definisi ini tentu saja
sangat mengacu pada definisi praktis dari teknologi, yang banyak ditemukan pada pabrik-
pabrik dan juga industry tertentu.

Naisbit (2002) mengutip pengertian dari teknologi dari Random House Dictionary,
yang mengatakan bahwa teknologi merupakan sebuah benda dan juga objek, serta bahan dan
juga wujud yang berbeda dibandingkan dengan manusia biasa.

Read Bain (1937) mengatakan bahwa teknologi pada dasarnya meliputi semua alat,
mesin, perkakas, aparat, senjata, perumahan, pakaian, peranti pengangkut dan komunikasi,
dan juga keterampilan, dimana hal ini memungkinkan kita sebagai seorang manusia dapat
menghasilkan semua itu. Berdasarkan pendapat Bain tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa teknologi merupakan segala sesuatunya yang bisa diciptakan dan juga dibuat oleh
seorang atau sekelompok manusia yang kemudian bisa memberikan nilai dan manfaat bagi
sesama.

Sardar (1987) Pada Tahun 1987, Sardar mengungkapkan bahwa teknologi merupakan
sebuah sarana dalam memeceahkan masalah yang mendasar dari setiap peradaban manusia.
Tanpa adanya penggunaan teknologi, maka hal ini akan menyebabkan banyak masalah tidak
bisa terpecahkan dengan baik dan sempurna.

Capra (2004) mengatakan bahwa teknologi merupakan salah satu pembahasan


sistematis atas seni terapan atau pertukangan. Hal ini mengacu pada literature dari Yunani
yang menyinggung mengenai Technologia yang berasal dari kata techne yang berarti wacana
seni.
Manuel Castells (2004) Selanjutnya ada seorang ahli sosiologi lainnya yang
memberikan definisi mengenai teknologi. Castells (2004) menyebutkan bahwa teknologi
merupakan suatu kumpulan alat, aturan dan juga prosedur yang merupakan penerapan dari
sebuah pengetahuan ilmiah terhadap sebuah pekerjaan tertentu dalam suatu kondisi yang
dapat memungkinkan terjadinya pengulangan. Berdasarkan definisi ini maka bisa
disimpulkan bahwa penggunaan teknologi dapat diulang-ulang apabila memiliki fungsi dan

6
juga tujuan yang sama, sehingga satu teknologi yang saudah berhasil diciptakan akan dapat
digunakan berkali-kali.

Gambar 3.
Manuel Castells

Toynbee (2004) mengatakan bahwa teknologi merupakan ciri dari adanya sebuah
kemuliaan manusia, dimana hal ini membuktikan bahwa manusia tidak bisa hidup hanya
untuk makan semata, namun membutuhkan lebih dari itu. Lebih lanjut dikemukakan oleh
Toynbee, bahwa teknologi dapat memungkinkan konstituen non material dari sebuah
kehidupan yang dimiliki manusia yaitu perasaan, ide, pemikiran, intuisi, dan juga ideal. Dan
teknologi juga membuktikan sebuah manifestasi dari kecerdasan pikiran seorang manusia.

Rogers (1994) Rogers yang dikutip dari buku yang dikeluarkan oleh Seels dan Richey
pada tahun 1994 mengatakan bahwa teknologi merupakan suatu rancangan dari langkah
instrumental untuk memperkecil keraguan mengenai hubungan sebab akibat dalam mencapai
hasil yang diharapkan.

Saliman dan Sudarsono (1993) mengatakan bahwa Teknologi merupakan suaut ilmu
pengetahuan yang mempelajari mengenai pembangunan dan juga industry.

Elul (dalam Miarso, 2007) mengatakan bahwa teknologi adalah keseluruhan dari
metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri – ciri efisiensi dalam setiap bidang
kegiatan manusia.

7
Merriam Webster merupakan sebuah kamus yang banyak digunakan sebagai referensi
ilmu, menyatakan bahwa teknologi merupakan suatu aplikasi atau penerapan dari sebuah
ilmu pengetahuan secara praktis. Penerapan praktis ini terkadang dikhususkan juga pada
ruang lingkup tertentu.

Perkembangan teknologi menurut para ahli. Nana Syaodih (1997: 67) menyatakan
bahwa sebenarnya sejak dahulu teknologi sudah ada ataumanusia sudah menggunakan
teknologi. Kalau manusia pada zaman dahulu memacahkan kemiri denganbatu atau memetik
buah dengan galah, sesungguhnya mereka sudah menggunakan teknologi, yaitu teknologi
sederhana. Terkait dengn teknologi, Anglin mendefinisikan teknologi sebagai penerapan ilmu
- ilmu perilaku danalam serta pengetahuan lain secara bersistem dan menyistem untuk
memecahkan masalah.

Sedangkan Iskandar Alisyahbana (1980: 1) merumuskan lebih jelas dan


lengkap tentang definisi teknologi yaitucara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan
manusia dengan bantuan alat dan akal sehinggaseakan - akan memperpanjang, memperkuat,
atau membuat lebih ampuh anggota tubuh , panca inderadan otak manusia.Menurut Iskandar
Alisyahbana ( 1980 ) Teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalukarena
dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi
sejak awalperadaban sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah “teknologi” belum
digunakan. Istilah “teknologi” berasal dari “techne” atau cara dan “logos” atau pengetahuan.
Jadi secara harfiah teknologidapat diartikan pengetahuan tentang cara. Pengertian teknologi
sendiri menurutnya adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhanmanusia
dengan bantuan akal dan alat, sehingga seakan - akan memperpanjang, memperkuat
ataumembuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera dan otak manusia.

8
Gambar 4.
Iskandar Alisyahbana

Sedangkan menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv) member arti teknologi sebagai
keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki cirri efisiensi dalam
setiap bidang kegiatan manusia.

Menurut artikel Research in Technology Education - Some Areas of Need. Journal


of Technology Education. Teknologi pada intinya merupakan manifestasi kreativitas
manusia. Dengan demikian, cara penting di mana siswa dapat memahami hal itu adalah
dengan terlibat dalam tindakan penciptaan teknologi. Teknologi sebagai konteks kreativitas
merupakan bidang penelitian yang penting. Sebagian besar teori dan penelitian di sini
berfokus pada pemecahan masalah. Model pemecahan masalah standar yang disebut "metode
teknologi" diajukan oleh Savage & Sterry (1990).

2.3 DEFINISI VOKASI

Menurut Evans (dalam Muliaty, 2007: 7) pendidikan kejuruan merupakan bagian dari
sistem pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada satu
kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lain.

Hamalik (2001:24) menyatakan bahwa pendidikan kejuruan adalah suatu bentuk


pengembangan bakat, pendidikan dasar keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan yang
mengarah pada dunia kerja yang dipandang sebagai latihan keterampilan.

9
Djohar (2007:1285) mengemukakan bahwa pendidikan kejuruan adalah suatu
program pendidikan yang menyiapkan individu peserta didik menjadi tenaga kerja
profesional dan siap untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Menurut Pavlova (2009) tradisi dari pendidikan kejuruan/vokasi adalah menyiapkan


peserta didik untuk bekerja. Pendidikan dan pelatihan kejuruan/vokasi menyiapkan
terbentuknya prilaku, sikap, kebiasaan kerja, dan apreasi terhadap pekerjaan-pekerjaan yang
dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri (DU-DI), diawasi oleh masyarakat dan pemerintah
atau dalam kontrak dengan lembaga atau badan usaha serta berbasis produktif. Perilaku, sikap
dan kebiasaan kerja yang aktif, kreatif dan produktif menyenangkan dalam pendidikan
kejuruan/vokasi memerlukan penyesuaian pengembangan bakat dengan program keahlian.
Pendidikan kejuruan/vokasi merupakan pendidikan pengembaangan bakat untuk bekerja
dalam bidang –bidang tertentu.

Menurut Djojonegoro (dalam Muliaty, 2007:9) pendidikan sistem ganda merupakan


bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang secara sistematik
dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dengan program penguasaan keahlian yang
diperoleh.

Menurut artikel Learning as becoming in vocational education and training: class,


gender and the role of vocational habitus. Journal of Vocational Education & Training.
Tiga dekade yang lalu, transisi berlangsung dari wajib belajar menjadi bekerja adalah norma
bagi banyak anak muda di Inggris. Sejak jatuhnya pasar tenaga kerja muda ini pada akhir
1970-an, transisi antar sekolah telah diperpanjang (Rikowski, 2001).

Pada awal 1990an, dan pendukung model ini berpendapat bahwa, sebagai hasilnya,
para dosen harus menghadapi tantangan peran baru: '[mereka] harus lebih dari sekadar
spesialis subjek dan lebih memikirkan proses belajar' (Jessup, 1991, hal. 106).

Tantangan untuk memahami proses pembelajaran yang lebih baik di Further


Education (FE) adalah inti dari pekerjaan kita di proyek nasional Transforming Learning
Cultures in Further Education (TLC), di dalam Economic and Social Research Council’s
(ESRC) Teaching and Learning Research Programme. Hodkinson and James (2003)
memberikan gambaran rinci tentang TLC, namun di sini kami mengulangi beberapa premis

10
utamanya: bahwa pengajaran dan pembelajaran terutama bersifat sosial dan budaya daripada
kegiatan individu dan teknis; Oleh karena itu mereka harus dipelajari di setting otentik; Hal
ini pada gilirannya berarti mengatasi kompleksitas mereka, melalui perspektif budaya
mengenai keterkaitan antara disposisi dan agensi individual, dan konteks kelembagaan dan
struktural. Ini mengisyaratkan ambiguitas penting dan disengaja dalam judul proyek kami. Di
satu sisi, kita sedang menyelidiki potensi untuk mengubah budaya pembelajaran dengan cara
yang meningkatkan pengajaran dan pembelajaran. Di sisi lain, kita juga tertarik pada efek
transformasi budaya belajar: bagaimana dampaknya terhadap guru dan peserta didik yang
masuk?

The Further Education National Training Organisation (FENTO) adalah badan


nasional yang bertugas menulis standar kinerja pekerjaan yang diharapkan guru FE di
Inggris. Mereka membangun pembelajaran sebagai proses yang didominasi individu - bahkan
yang berkaitan dengan pengajaran melalui kegiatan kelompok masih fokus pada perolehan
individu keterampilan khusus seperti kerja kolaboratif. Domain sosial, budaya dan emosional
hanya diwakili sebagai seperangkat faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pembelajaran
(FENTO, 2003, hal 18), bukan sebagai aspek pembelajaran itu sendiri. Isu identitas tidak
dipertimbangkan sama sekali.

Karya Lave & Wenger (1991) telah berpengaruh dalam memajukan konsep
pembelajaran bukan sebagai akuisisi, namun sebagai partisipasi. Mereka menawarkan
pemahaman yang kompleks tentang bagaimana belajar untuk pekerjaan tertentu terjadi di
tempat kerja itu sendiri, dan mengkonseptualisasikan proses tersebut sebagai salah satu
partisipasi periferal yang sah dalam komunitas praktik. Mereka berpendapat bahwa ini adalah
partisipasi sosial, bukan akuisisi kognitif, yang memungkinkan pendatang baru untuk belajar
dari praktisi yang lebih berpengalaman, dan ini terkait erat dengan konteks sosial di mana ia
berada. Di sini, perendaman dalam aspek sosial, budaya dan emosional kerja tidak hanya
faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran, namun sangat penting untuk itu. Menjadi
bagian penting dari proses ini:

Komunitas masyarakat berada dalam sistem hubungan antara orang-orang.


Orang tersebut didefinisikan sebagai dan juga mendefinisikan hubungan ini. Belajar
demikian menyiratkan menjadi orang yang berbeda sehubungan dengan kemungkinan

11
yang dimungkinkan oleh sistem hubungan ini. Mengabaikan aspek pembelajaran ini
adalah dengan mengabaikan fakta bahwa pembelajaran melibatkan pembangunan
identitas ... identitas, pengetahuan dan keanggotaan sosial saling terkait satu sama lain
... (Lave & Wenger, 1991, hal 53)

Gambar 5.
Jean Lave & Etienne Wenger

Frykholm & Nitzler (1993) juga mempertimbangkan untuk belajar sebagai proses
aktif untuk menjadi, namun dalam konteks kursus formal. Studi mereka tentang pendidikan
kejuruan dan karir di sebuah sekolah menengah Swedia, dengan menggunakan teori Bourdieu
dan Bernstein, memperlakukan isu identitas sebagai pusat. Analisis mereka secara langsung
menantang asumsi kurikulum VET dan standar FENTO, karena mereka menyarankan bahwa:

Pengajaran kejuruan lebih ditandai dengan sosialisasi daripada dengan


kualifikasi, yaitu ... ini lebih merupakan pertanyaan tentang transmisi disposisi dan
sikap daripada memberi pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk tugas
tertentu. (Frykholm & Nitzler, 1993, hal. 434)

Kunci dari pandangan ini adalah konsep 'pengertian' kejuruan mereka. Gagasan lebih abstrak
daripada sikap dan nilai, dan mungkin umum atau mungkin berhubungan dengan sektor
pekerjaan tertentu. Mereka terdiri dari aspek subjektif dan terstruktur dari cara di mana orang
mengatur dan membawa makna ke dunia sekitar mereka, termasuk pekerjaan dan pekerjaan
(hal 436). Di kelas, pembelajaran kejuruan secara aktif dikoordinasikan oleh para guru dan
siswa, sebagian ditentukan oleh struktur pemikiran dominan yang berlaku di sektor pekerjaan

12
tertentu dan tingkat pekerjaan tertentu di dalam sektor tersebut. Guru menyesuaikan pedagogi
mereka dengan habitus (bukan tingkat kemampuan umum) siswa mereka, namun pada saat
bersamaan habitus siswa diberi tahu oleh pengertian kejuruan yang juga mempengaruhi
wacana guru. Gagasan dapat memberi pengaruh kuat pada identitas, bahkan di kelas:

Siswa dengan habitus dan pengertian yang berbeda, melalui kekuatan pasar
linguistik, dikenai sanksi dan pengaruh struktural terhadap homogenisasi mental.
Pengaruh struktural ini juga berlaku bagi guru yang, sampai batas tertentu, 'dipaksa'
untuk menyesuaikan pengajarannya dengan struktur pemikiran yang mendominasi.
(Frykholm & Nitzler, 1993, hal 442)

Namun, ada beberapa keterbatasan dalam penelitian Frykholm & Nitzler. Ini
menyelidiki setting sekolah, bukan sektor FE yang menjadi perhatian kami, dan berfokus
pada kursus yang berbasis kelas secara eksklusif, bukan kombinasi antara pengalaman kuliah
dan pengalaman di tempat kerja yang disediakan oleh situs kami. Data diambil dari lima studi
kasus, tiga di antaranya merupakan kursus akademis dan tidak ada penelitian lanjutan yang
dilakukan. Selain itu, ini hanyalah sebuah sub-studi proses belajar dalam evaluasi skala kecil
mengenai aspek lain dari pendidikan kejuruan dan karir. Oleh karena itu, disarankan untuk
data data kasus yang lebih kaya, untuk studi dalam konteks FE, dan untuk pengembangan
teoritis gagasan mereka sehingga data semacam itu memungkinkan.

2.4 TAKSONOMI BLOOM

Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan.
Taksonomi ini pertama kali disoleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini,
tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain
tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hierarkinya.

13
Gambar 6.
Benjamin Samuel Bloom

Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:


 Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan
aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
Dalam Taksonomi Bloom yang direvisi oleh David R. Krathwohl di jurnal Theory
into Practice, aspek kognitif dibedakan atas enam jenjang yang diurutkan seperti pada
gambar berikut ini.

 Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek


perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.

 Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan


aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan
mengoperasikan mesin.

Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain
tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa,
dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

14
Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang
berurutan secara hierarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai
tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan
menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah
kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan
“pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.

 Domain Kognitif
Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua
bagian: Bagian pertama berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa
Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6)
o Pengetahuan (Knowledge) Berisikan kemampuan untuk mengenali dan
mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi,
prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen
kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi
dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum
untuk produk.
o Pemahaman (Comprehension)Berisikan kemampuan mendemonstrasikan fakta
dan gagasan mengelompokkan dengan mengorganisir, membandingkan,
menerjemahkan, memaknai, memberi deskripsi, dan menyatakan gagasan
utama. Terjemahan, Pemaknaan, dan Ekstrapolasi. Pertanyaan seperti:
Membandingkan manfaat mengkonsumsi apel dan jeruk terhadap kesehatan.
o Aplikasi (Application) Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk
menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi
kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya
reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu
merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk
fish bone diagram.
o Analisis (Analysis) Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis
informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke
dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan
mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah
skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu
15
memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan
tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab
ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.
o Sintesis (Synthesis) Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesis
akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang
sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang
harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di
tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk
menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap
semua penyebab turunnya kualitas produk.
o Evaluasi (Evaluation) Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian
terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang
cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.
Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai
alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi,
nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.

Gambar 7.
Hieraki Ranah Kognitif Menurut Revisi Taksonomi Bloom

 Domain Afektif

16
Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.
o Penerimaan (Receiving/Attending) Kesediaan untuk menyadari adanya suatu
fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa
mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
o Tanggapan (Responding) Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di
lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam
memberikan tanggapan.
o Penghargaan (Valuing) Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan
pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada
internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam
tingkah laku.
o Pengorganisasian (Organization) Memadukan nilai-nilai yang berbeda,
menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang
konsisten.
o Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value
Complex) Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya
sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.

 Domain Psikomotor
Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh Dave pada tahun 1970
berdasarkan domain yang dibuat Bloom.
o Persepsi (Perception) Penggunaan alat indra untuk menjadi pegangan dalam
membantu gerakan.
o Kesiapan (Set) Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan
gerakan.
o Respon Terpimpin (Guided Response) Tahap awal dalam mempelajari
keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-
coba.
o Mekanisme (Mechanism) Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari
sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.

o Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response) Gerakan motoris


yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.
17
o Penyesuaian (Adaptation) Keterampilan yang sudah berkembang sehingga
dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
o Penciptaan (Origination) Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan
dengan situasi, kondisi atau permasalahan tertentu.

18
BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari Paparan atau penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan defini kajian adalah upaya
untuk mempelajari suatu fenomena / gejala dilapangan sedemikian rupa sehingga diketahui
karakteristik fenomena tersebut.

Definisi teknologi adalah produk / barang konkrit ataupun abstrak / jasa yang mampu
mempermudah, mempercepat, membuat lebih akurat dan persis dan mengefisienkan suatu
sistem kerja.

Definisi vokasi adalah suatu sistem yang melakukan cara suatu pekerjaan pada (domain)
ranah psikomotor tahapam implementasi.

3.2 SARAN
Para mahasiswa seharusnya lebih mengetahui dan memahami definisi kajian
Teknologi dan Vokasi dan tujuan dari pendidikan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Bloom, B. S. ed. et al. (1956). Taxonomy of Educational Objectives: Handbook 1, Cognitive


Domain. New York: David McKay.

Colley, Helen, et al. (2007, September). Learning as becoming in vocational education and
training: class, gender and the role of vocational habitus. Journal of Vocational
Education & Training. 55. 471- 498. Retrieved November 7, 2017, from:
http://www.tandfonline.com/doi/pdf/10.1080/13636820300200240

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kaji. Retrieved November 7, 2017, from:
https://kbbi.Web.id/kaji

Lewis, Theodore. (1999). Research in Technology Education - Some Areas of Need. Journal
of Technology Education. 10. Retrieved November 7, 2017, from:
http://scholar.lib.vt.edu/ejournals/JTE/v10n2/lewis

Patra, Angga. (2014). Pengertian Kejuruan, Teknologi, Vokasi Beserta Persamaan dan
Perbedaannya. Retrieved November 7, 2017, from: http://anggapatra.blogspot.co.id/

20

Anda mungkin juga menyukai