Anda di halaman 1dari 11

8 Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, Vol. 10. No.

1, Januari 2015

RISET NON POSITIVISTIK AKUNTANSI DALAM TIGA PARADIGMA:


INTERPRETIF, KRITIS DAN POSMODERNISME

Natalia Paranoan
Universitas Kristen Indonesia Paulus Makassar
paranoannatalia@gmail.com

ABSTRAK

Metodologi penelitian non positivistik telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Namun
persepsi sebagian besar orang masih menganggap bahwa penelitian ini sebagai penelitian dengan
prosedur nonmatematik, membuat pemaknaan (bukan sekedar analisis empirik) atas data kualitatif
berdasar hasil telaah menurut grass root. Kini visi baru, paradigma baru dan perspektif baru mulai
berkembang dalam penelitian non positivistik. Karasteristik dominan dari yang baru adalah: kristis
terhadap paradigma yang ada dan berkembang konseptualisasi, pemahaman dan pemberian makna tentang
kebenaran masa depan. Dari yang baru telah muncul dan berkembang setidaknya sikap kritis terhadap
visi lama. Dengan perkembangannya yang mutakhir ini, pamor filsafat positivisme yang merambah
tradisi pengembangan ilmu sosial dan humaniora sejak abad XIX menjadi pudar. Artikel ini membahas
penelitian non positivistik dalam tiga paradigma; interpretif, kritis dan postmodern serta implikasinya
pada penelitian-penelitian akuntansi di masa mendatang.

Kata kunci: positivistik, interpretif, kritis, posmodern

ABSTRACT

Non positivistik research methodology has been progressing very rapidly. However, the perception
of most people still consider that this study as research with nonmatematik procedure, make
meaning (rather than empirical analysis) on qualitative data based on the results of the study
according to the grass root. Now a new vision, a new paradigm and a new perspective began to
flourish in non positivistic research. Charasteristics of the new dominant is: critically on existing
paradigms and evolving conceptualization, understanding and giving the meaning of the truth of
the future. Of which have emerged and grown at least a critical attitude towards the old vision.
With this latest growth, prestige positivism philosophy that permeates the tradition of social science
and humanities development since the nineteenth century to fade. This article discusses the non-
positivistic research in three paradigms; interpretive, critical and postmodern as well as the
implications for accounting research in the future.

Keywords: positivist, interpretive, critical, postmodern

PENDAHULUAN

Ilmu adalah pengetahuan tetapi tidak semua hipotesis–hipotesis untuk memecahkan masalah yang
pengetahuan adalah ilmu. Sutriono (2007), pengetahuan ada dengan melakukan pengamatan dan pengujian.
adalah pembentukan pemikiran asosiasif yang Akhirnya dari hasil tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan
menghubungkan dan menjalin sebuah pemikiran yang disebut teori.
dengan kenyataan atau dengan pikiran lain berdasarkan Teori berkembang karena adanya penelitian. Dari
pengalaman yang berulang-ulang tanpa pemahaman berbagai penelitian tersebut maka muncullah teori-
kausalitas. Sedangkan ilmu adalah akumulasi teori baru baik dari sudut ilmu alam (natural science)
pengetahuan yang menjelaskan kausalitas dari suatu maupun dalam bidang ilmu-ilmu sosial (social science).
objek menurut metode-metode tertentu yang merupakan Ada dua metode penelitian yaitu metode
suatu kesatuan sistematis. penelitian kuantitatif atau positivistik dan metode
Jadi pengetahuan bukan saja ilmu tetapi merupakan penelitian kualitatif atau nonpositivistik atau
bahan utama bagi ilmu. Pengetahuan muncul dari naturalistic atau etnography. Selanjutnya penulis
keingintahuan manusia terhadap fenomena yang terjadi akan menggunakan secara bergantian istilah kualitatif
di sekitarnya. Oleh sebab itu manusia mencoba membuat dan non positivistik
Natalia Paranoan, Riset Non Positivistik Akuntansi dalam Tiga ... 9

Metode dan Metodologi Penelitian Metode penelitian non positivistik atau metode
Istilah metode penelitian dan metodologi penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang
penelitian sering dicampuradukkan. Muhadjir (2000) digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang
menjelaskan bahwa metodologi penelitian membahas alamiah (lawannya adalah eksperimen) di mana
konsep teoritik sebagai metode, kelebihan dan peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik
kelemahannya, yang dalam karya ilmiah dilanjutkan pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi
dengan pemilihan metode yang digunakan. Sedangkan (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil
metode penelitian mengemukakan secara teknis penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada
tentang metode-metode yang digunakan dalam generalisasi.
penelitiannya atau cara bagaimana suatu penelitian Objek dalam penelitian kualitatif adalah objek
dilakukan sehingga yang dikemukakannya adalah teknis yang alamiah atau natural setting; sehingga metode
tentang metode-metode yang digunakan dalam penelitian. penelitian ini sering disebut sebagai metode
Secara filosofis, metodologi penelitian merupakan naturalistik. Objek yang alamiah adalah objek yang
bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti sehingga
bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. kondisi pada saat peneliti memasuki objek, setelah
Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat berada di objek dan setelah keluar dari objek relatif
dikenal dengan filsafat epistemologi. Kualitas tidak berubah. Lawan dari penelitian ini adalah metode
kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan eksperimen di mana peneliti dalam melakukan
terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. penelitian, tempatnya adalah laboratorium yang
Dengan prosedur kerja yang baik kualitas merupakan kondisi buatan dan sering terjadi bias
kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran antara hasil penelitian di laboratorium dengan keadaan
epistimologik dan ilmu pengetahuan hanya mampu di luar laboratorium atau keadaan sesungguhnya.
menjangkau kebenaran epistemologik. Kebenaran Peneliti dalam penelitian kuantitatif menggunakan
epistimologik ini tampil dalam wujud kebenaran tesis instrumen untuk mengumpulkan data atau mengukur
dan lebih jauh berupa kebenaran teori, yang pada status variabel yang diteliti, sedangkan dalam penelitian
akhirnya akan disanggah oleh tesis lain dan teori yang kualitatif, peneliti menjadi instrumen. Oleh karena itu
lain. Gerakan dari tesis dan teori yang satu ke tesis dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang
dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan atau human instrument. Maka untuk dapat menjadi
ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran instrumen, peneliti harus memiliki bekal teori dan
epistimologik dalam upaya menjangkau kebenaran wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya,
absolut. Bagi pandangan religius, kebenaran absolut menganalisis, memotret dan mengkonstruksi objek
itu merupakan milik Allah, namun bagi pandangan yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna.
sekuler, kebenaran adalah objektif universal yang bukti Kriteria data dalam penelitian ini adalah data yang
kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. pasti; yaitu data yang sebenarnya terjadi sebagaimana
adanya, bukan data yang sekedar terlihat, terucap,
Metode Penelitian Kualitatif tetapi data yang mengandung makna dari yang terlihat
Metode penelitian kualitatif muncul karena terjadi dan terucap tersebut. Untuk memperoleh data yang
perubahan paradigma dalam memandang suatu pasti maka diperlukan berbagai sumber data dan
realitas/fenomena/gejala. Dalam paradigma ini realitas berbagai teknik pengumpulan data. Bila data yang
sosial dipandang sebagai suatu yang holistik/utuh, diperoleh masih diragukan, dan belum memperoleh
kompleks, dinamis dan penuh makna. Paradigma ini kepastian, maka penelitian masih harus terus dilanjutkan.
disebut paradigma postpositivism yang mengembangkan Dalam penelitian non positivistik, pengumpulan
penelitian kualitatif, sedangkan paradigma sebelumnya data tidak dipandu oleh teori, tetapi dipandu oleh fakta-
disebut paradigma positivism, di mana dalam fakta yang ditemukan pada saat penelitian di lapangan.
memandang gejala, lebih bersifat tunggal, statis dan Oleh karena itu analisis data yang dilakukan bersifat
konkrit. Paradigma positivisme mengembangkan induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dan
metode kuantitatif. kemudian dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori.
Metode penelitian kualitatif ini sering disebut Jadi dalam penelitian kualitatif melakukan analisis data
metode penelitian naturalistik karena penelitiannya untuk membangun hipotesis, sebaliknya dalam
dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) penelitian kuantitatif melakukan analisis data untuk
dan disebut juga sebagai metode etnography, karena menguji hipotesis. David Kline (1985) dalam Sugiyono
pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan (2009) mengatakan “The main strength of this
untuk penelitian bidang antropologi budaya; dan technique is in hypothesis generation and not
disebut juga metode penelitian kualitatif karena data testing.” Jadi analisis dalam penelitian ini dilakukan
yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. sejak peneliti menyusun proposal, melaksanakan
10 Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, Vol. 10. No. 1, Januari 2015

pengumpulan data di lapangan, sampai peneliti Hasil akhir dari penelitian kualitatif, bukan
memperoleh seluruh data. sekedar menghasilkan data atau informasi yang sulit
Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan dicari melalui metode kuantitatif, tetapi juga harus
data yang mendalam dari suatu data yang mengandung mampu menghasilkan informasi-informasi yang
makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data pasti bermakna, bahkan hipotesis atau ilmu baru yang dapat
yang merupakan nilai di balik data yang tampak. Oleh digunakan untuk membantu mengatasi masalah dan
karena itu dalam penelitian ini tidak menekankan pada meningkatkan taraf hidup manusia.
generalisasi, tetapi lebih menekankan pada makna. Proses memperoleh data dan informasi pada
Dalam penelitian kualitatif, generalisasi disebut juga setiap tahapan; deskripsi, reduksi dan selection
transferability, artinya hasil penelitian tersebut dapat tersebut dilakukan dengan cara sirkuler, yaitu berulang-
digunakan di tempat lain, jika tempat tersebut memiliki ulang dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber.
karasteristik yang tidak jauh berbeda. Setiap pengumpulan data dilakukan melalui lima
tahapan yaitu 1) setelah peneliti memasuki objek
Proses Penelitian Non Posivistik penelitian atau sering disebut konteks sosial (yang
Pada rancangan penelitian ini dapat diibaratkan terdiri atas tempat, aktor/orang/pelaku, dan aktivitas)
seperti orang yang ingin pergi ke suatu tempat, dia peneliti akan berfikir apa yang akan ditanyakan; 2)
tahu tempat yang akan dituju namun belum tahu pasti setelah menemukan apa yang akan ditanyakan,
tempat itu seperti apa. Ia akan tahu setelah memasuki peneliti telah menemukan pertanyaan dan bertanya
objek, dengan cara membaca berbagai informasi pada orang-orang yang dijumpai pada tempat tersebut;
tertulis, gambar-gambar, berfikir dan melihat objek, 3) selanjutnya jawaban dari pertanyaan yang diajukan
dan aktivitas orang yang ada di sekelilingnya serta akan dianalisis apakah jawaban yang diberikan benar
melakukan wawancara. Jadi peneliti akan tahu setelah atau tidak; 4) jika jawaban atas pertanyaan tadi
melihat, mengamati dan menganalisanya dengan serius. dirasakan benar maka dibuatlah simpulan; 5)
Berdasarkan illustrasi tersebut, dapat dikemukakan selanjutnya pada tahap ini, peneliti akan mencandra
bahwa peneliti kualitatif belum memiliki masalah, atau kembali terhadap simpulan yang telah dibuat, apakah
keinginan yang jelas namun dapat langsung memasuki simpulan yang telah dibuat itu kredibel atau tidak.
objek/lapangan. Pada waktu memasuki objek, peneliti Untuk memastikan simpulan yang telah dibuat
masih asing terhadap objek tersebut. Setelah memasuki tersebut, maka peneliti akan masuk lapangan,
objek, peneliti akan melihat segala sesuatu yang ada mengulangi pertanyaan dengan cara dan sumber yang
di tempat itu yang masih bersifat umum. Pada tahap berbeda tetapi dengan tujuan yang sama. Jika
ini disebut tahap orientasi atau deskripsi, dengan simpulan telah diyakini memiliki kredibilitas tinggi,
grand tour question. Pada tahap ini peneliti maka pengumpulan data dinyatakan selesai.
mendeskripsikan apa yang dilihat dan didengar, Menurut Norman Denzim dan Yvonna Lincoln
dirasakan dan ditanyakan. Peneliti baru mengenal (2003) dalam Neuman (2006), tahap-tahap dalam
sepintas terhadap informasi yang diperolehnya. penelitian kualitatif dimulai dengan self-assesment dan
Pada tahap selanjutnya adalah tahap reduksi/ refleksi mengenai situasi dalam konteks sosio
focus. Pada tahap ini peneliti akan mereduksi segala historical. Penelitian kualitatif tidak hanya berfokus
informasi yang telah diperoleh pada tahap pertama. pada pertanyaan spesifik tetapi juga mempertimbangkan
Pada proses ini, peneliti mereduksi data yang paradigma theory-philosophy, juga mengadopsi
ditemukan pada tahap 1 untuk difokuskan pada persfektif, melakukan desain studi mengumpulkan
masalah tertentu. Peneliti akan menyortir data data, analisis data dan menginterpretasikannya. Tahap-
dengan cara memilih mana data yang menarik, tahap dalam proses penelitian kualitatif digambarkan
penting, berguna dan baru. Data yang tidak perlu, sebagai berikut:
disingkirkan. Selanjutnya data akan dikelompokkan
dalam berbagai kategori yang ditetapkan sebagai
fokus penelitian.
Pada proses selanjutnya disebut dengan tahap
selection. Pada tahap ini peneliti menguraikan
fokus yang telah ditetapkan menjadi lebih rinci.
Peneliti melakukan analisis mendalam terhadap data
dan informasi yang diperoleh, maka peneliti dapat
menemukan tema dengan cara mengkonstruksikan
data yang diperoleh menjadi suatu bangunan Gambar 1: Steps in the Qualitative Reseach Process
pengetahuan, hipotesis atau ilmu baru. Sumber: Neuman (2006:15)
Natalia Paranoan, Riset Non Positivistik Akuntansi dalam Tiga ... 11

Lingkup Penelitian Kualitatif (single social situation) sampai masyarakat yang


Lingkup dari metode penelitian kualitatif mulai luas. Spradley (1980) mengemukakan lingkup
dari lingkup yang terkecil yakni satu situasi sosial penelitian kualitatif seperti pada Gambar 2.

Scope of Research Social Units Studies


Macro
 
Complex Society (masyarakat yang kompleks
Multiple communities (beberapa kelompok masyarakat
A Single community study (sekelompok masyarakat)
Multiple social institutions (beberapa lembaga social)
A single social institution (satu lembaga social)
Multiple social situation (beberapa situasi social)
Micro Single social situation (satu situasi sosial)

Gambar 2: Lingkup Penelitian Kualitatif


Sumber: Sugiyono (2009)

Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat bahwa menemukan teori, atau hukum-hukum, dan paling
metode penelitian kualitatif dapat digunakan untuk rendah adalah kalau masih bersifat deskriptif.
meneliti suatu situasi yang sangat mikro yaitu satu
situasional (single social situation), sampai makro Kapan Metode Kualitatif Digunakan
masyarakat luas yang kompleks (complex society). Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif adalah
Satu situasi sosial dapat terdiri atas satu orang, dengan saling melengkapi dan masing-masing memiliki
aktivitas tertentu pada tempat tertentu. Situasi sosial keunggulan maupun kelemahan. Metode penelitian
  kualitatif sesuai digunakan untuk hal-hal berikut ini:
dapat digambarkan sebagai berikut:
1) Bila masalah penelitian belum jelas
Place/ tempat Pada kondisi ini cocok menggunakan metode
penelitian kualitatif karena peneliti akan langsung
masuk ke objek, melakukan penjelajahan dengan grant
tour question, sehingga masalah akan dapat ditemukan
dengan jelas. Melalui penelitian ini, peneliti akan
melakukan eksplorasi terhadap suatu objek.
2) Memahami makna di balik data yang tampak
Actor/orang Activity/aktivitas Gejala sosial sering tidak bias dipahami berdasarkan
apa yang diucapkan dan dilakukan orang. Setiap
Gambar 3: Social situation (situasi social) ucapan dan tindakan orang mempunyai makna
Sumber: Sugiyono (2009) tertentu. Misalnya orang yang menangis atau
Selanjutnya Stainback (2003) menyatakan bahwa tertawa mempunyai makna tersendiri. Sering terjadi
"an investigation might be simple or complex, deal- menurut penelitian kuantitatif benar namun
ing with a single event or multiplre event, might be merupakan tanda tanya bagi penelitian kualitatif.
small or large." Jadi temuan dalam penelitian kualitatif Data untuk mencari makna bagi suatu perbuatan
bisa sederhana maupun kompleks, terjadi pada hanya cocok diteliti dengan metode kualitatif
peristiwa tunggal maupun majemuk, kecil atau besar. melalui teknik wawancara mendalam, observasi
Bila dilihat dari level of explanation, penelitian ini bisa berperan serta, dan dokumentasi.
menghasilkan informasi yang deskriptif yaitu memberikan 3) Untuk memahami interaksi sosial
gambaran yang menyeluruh dan jelas terhadap situasi Interaksi sosial yang kompleks hanya dapat
sosial satu dengan situasi sosial lain atau dari waktu tertentu diuraikan jika peneliti melakukan penelitian dengan
dengan waktu yang lain, atau dapat menemukan pola- metode kualitatif dengan cara ikut berperan serta,
pola hubungan antara aspek tertentu dengan aspek yang wawancara mendalam terhadap interaksi sosial
lain, serta dapat menemukan hipotesis dan teori. Hasil tersebut. Dengan demikian akan ditemukan pola-pola
penelitian kualitatif yang tertinggi kalau sudah dapat hubungan yang jelas.
12 Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, Vol. 10. No. 1, Januari 2015

4) Memahami perasaan orang karena keduanya justru saling melengkapi. Metode


Perasaan orang sulit dimengerti sehingga harus penelitian kuantitatif cocok digunakan untuk penelitian
diteliti dengan metode kualitatif, dengan teknik yang masalahnya sudah jelas, dan umumnya dilakukan
pengumpulan data wawancara mendalam, dan pada populasi yang luas sehingga hasil penelitian
observasi berperan serta untuk ikut merasakan apa kurang mendalam. Sedangkan metode penelitian
yang dirasakan orang tersebut. kualitatif cocok digunakan untuk meneliti di mana
5) Untuk pengembangan teori masalahnya belum jelas, dilakukan pada situasi sosial
Untuk mengembangkan teori yang dibangun yang tidak luas, sehingga hasil penelitian lebih mendalam
melalui data yang diperoleh dari lapangan sangat dan bermakna. Metode kuantitatif cocok untuk menguji
cocok dengan menggunakan metode kualitatif. hipotesis/teori sedangkan metode penelitian kualitatif
Teori tersebut dibangun dengan grounded research. cocok untuk menemukan hipotesis/teori.
Dengan metode kualitatif, peneliti pada tahap awal Sulit untuk menggabungkan kedua metode
melakukan penjelajahan, selanjutnya melakukan tersebut dalam satu proses penelitian secara bersamaan
pengumpulan data yang mendalam sehingga dapat karena perbedaan kedua paradigma penelitian.
ditemukan hipotesis yang merupakan hubungan Menurut Thomas D Cook dan Charles Reichart
antar gejala. Hipotesis tersebut selanjutnya (1978), dalam Sugiyono (2009):
diverifikasi dengan pengumpulan data yang lebih "To the conclusion that qualitative and quanti-
mendalam. Bila hipotesis terbukti, maka akan tative methods themselves can never be used together.
menjadi tesis atau teori. Since the method is linked to different paradigms
6) Untuk memastikan kebenaran data and since one must choose between mutually exclu-
Kadang-kadang data sosial sulit dipastikan sive and antagonistic world views, one must also
kebenarannya. Dengan metode penelitian kualitatif, choose between the methods type".
melalui teknik pengumpulan data secara triangulasi/ Namun menurut Sugiyono (2009), kedua metode
gabungan, maka kepastian data lebih terjamin. tersebut dapat digabung tetapi dengan catatan sebagai
7) Meneliti sejarah perkembangan berikut:
Sejarah perkembangan kehidupan seorang tokoh 1) Dapat digunakan bersama untuk meneliti pada
atau masyarakat akan dapat dilacak melalui metode objek yang sama tetapi dengan tujuan berbeda.
kualitatif. Dengan menggunakan data dokumentasi, Metode kualitatif digunakan untuk menemukan
wawancara mendalam kepada pelaku atau orang hipotesis, sedangkan metode kuantitatif digunakan
yang dipandang tahu, maka sejarah perkembangan untuk menguji hipotesis. “Each methodology can
kehidupan seseorang dapat diketahui. be used to complement the other within the same
area of inquiry, since they have different
Jangka Waktu Penelitian Kualitatif purposae or aims” (Stainback, 1988).
Pada umumnya jangka waktu penelitian kualitatif 2) Digunakan secara bergantian. Pada tahap pertama
cukup lama, karena tujuan penelitian kualitatif adalah menggunakan metode kualitatif untuk menemukan
bersifat penemuan. Bukan sekedar pembuktian hipotesis, selanjutnya hipotesis tersebut diuji dengan
hipotesis seperti dalam penelitian kuantitatif. Namun metode kuantitatif.
demikian kemungkinan jangka penelitian berlangsung 3) Kedua metode dapat digunakan secara bersamaan
dalam waktu yang pendek, bila telah ditemukan asalkan kedua metode tersebut dapat dipahami
sesuatu dan datanya sudah jenuh. Stainback (2003) dengan baik oleh seseorang yang berpengalaman
menyatakan: luas dalam melakukan penelitian.
"There is no way to give easy to how long it
takes to do a qualitative research study. The typical Metode Penelitian Kualitatif Akuntansi
study probably last about a year. But the actual length Creswell (2007) mengajukan lima pendekatan
or duration depends on the resources, interest and dalam melakukan penelitian kualitatif. Kelima
purposes of the investigator. It also depends on the pendekatan tersebut adalah: narrative research,
size of the study and how". phenomenoloical research, grounded theory research,
ethnographic research, dan case study research.
Penggabungan Antara Metode Penelitian Kelima pendekatan tersebut memberikan gambaran
Kualitatif Dan Kuantitatif bahwa penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan
Setiap metode penelitian memiliki keunggulan dan beragam pendekatan, serta berbagai kesempatan dan
kekurangan. Oleh karena itu metode kualitatif dan tantangan yang ada. Efferin et al (2004), menyatakan
kuantitatif keberadaannya tidak perlu dipertentangkan ada dua pendekatan dalam melakukan penelitian
Natalia Paranoan, Riset Non Positivistik Akuntansi dalam Tiga ... 13

kualitatif, yaitu pendekatan interpretif dan pendekatan diturunkan dari teori sosiologi yaitu functionalis para-
kritikal. digm, interpretive paradigm, radical humanist para-
Neuman (2006) menjelaskan bahwa pendekatan digm, dan radical structuralist paradigm. Kemudian
interpretif bertujuan untuk memberikan gambaran apa Chua (1986) menyederhanakan paradigma tersebut
adanya dan selengkap mungkin tentang sebuah menjadi tiga yaitu: mainstream (functionalist atau
fenomena yang terbentuk secara sosial (socially con- positivist) persfective, interpretive persfective, dan
structed), yang menekankan pada keterlibatan critical persfective. Sarantakos (1993) menambah
langsung peneliti pada objek studinya. Sedangkan satu paradigma yang telah dikemukakan Chua (1986)
pendekatan kritikal lebih terfokus pada perjuangan sehingga menjadi empat yaitu postmodernist paradigm.
peneliti untuk membawa perubahan substansial pada Sedangkan Triyuwono (2000) mengklasifikasikan
masyarakat. Penelitian kritikal berfokus pada usaha paradigma ilmu pengetahuan dan metodologi penelitian
untuk mengubah intitusi sosial, cara berpikir dan dalam empat paradigma yaitu: 1) positivisme
perilaku masyarakat ke arah yang diyakini lebih baik. (fungsionalis, modernisme, dan strukturalisme), 2)
Kedua pendekatan tersebut memiliki perbedaan nominalisme (interpretif), 3) kritisisme dan 4)
yang mendalam. Pendekatan interpretif, pemahaman posmodernisme. Paradigma positivisme adalah
suatu fenomena dapat diperoleh melalui pembicaraan, kuantitatif, sedangkan paradigma interpretif, kritis dan
tulisan dan gambar, serta peneliti dengan terlibat secara posmo adalah non positivisme/kuliatatif. Dalam
langsung dapat memperoleh makna yang mendalam. kenyataannya, pada aspek keilmuan akuntansi
Sedangkan pada pendekatan kritikal, nilai-nilai dan memang terdapat empat paradigma ini.
keyakinan pribadi sah untuk melengkapi data Dari paradigma ini ada lima dimensi yaitu: 1)
lapangan. Nilai dan keyakinan pribadi ini digunakan Dimensi ontologisme yaitu bagaimana cara pandang
peneliti untuk menyimpulkan dalam memberikan peneliti terhadap realitas yang diteliti. Dari sudut
keyakinan dan wacana baru bagi pembacanya. Jika pandang non positivistik; realitas adalah subjektif dan
kemudian terjadi perbedaan antara sikap dan berganda sebagaimana yang diperlihatkan oleh
pandangan peneliti dengan fenomena yang ada, maka partisipan dalam studi; 2) Dimensi epistemologis yaitu
hal tersebut dianggap penting, jika ingin membawa cara pandang tentang bagaimana hubungan peneliti
perubahan pada masyarakat. dengan yang diteliti. Dari sudut pandang non
positivistik peneliti berinteraksi dengan yang diteliti
Paradigma sehingga kualitas penelitian ditentukan oleh seberapa
Ada berbagai definisi mengenai paradigma; dalam kita berinteraksi dengan informan; 3) Dimensi
paradigma adalah pandangan dunia (world view) atau aksiologis yaitu cara pandang tentang peranan nilai-
cara pandang seseorang atau sekelompok orang nilai; 4) Dimensi etnodologis yaitu cara pandang atas
terhadap realitas sosial. Menurut Neuman (2000), dilakukannya proses penelitian. Dari sudut pandang
paradigma adalah sekumpulan asumsi, konsep, non positivistik terdiri dari proses induktif, mutual
preposisi yang secara logis dianut oleh seseorang simultan shaping factor, emerging design, dibatasi
(sekelompok orang) dan mengarahkan cara berpikir. konteks, dan pokok-pokok teori dihilangkan.
Sementara Morgan (1980) mengartikan paradigma Penjelasan dari masing-masing paradigma non
dalam konteks ilmu sosial dan teori organisasi sebagai positivisme akan dibahas berikut ini.
"metatheorical or philosophical sense to denote an
implicit or eksplisit view of reality" Paradigma Metode Penelitian Kualitatif Akuntansi Paradigma
melekat pada diri seseorang dan akan memengaruhi Interpretif
sikap dan mengarahkan perilakunya terhadap sesuatu. Paradigma ini lebih menekankan pada makna atau
Jadi pengertian paradigma di sini dapat dipahami interpretasi seseorang terhadap sebuah simbol (dalam
sebagai alat untuk melihat (misalnya: realitas ilmu dan hal ini adalah akuntansi). Tugas dari teori ini adalah
praktik akuntansi) dan sekaligus juga merupakan alat memaknai (to interpret atau to understand) jadi bukan
untuk tidak melihat. Paradigma tetap berkembang dan to explain dan to predict sebagaimana pada paradigma
berproses menuju kesempurnaan. positivisme. Kualitas teori dalam paradigma ini adalah
Berdasarkan klasifikasi paradigma ilmu sosial diukur dari kemampuannya memaknai bukan pada
dalam Neuman (2000), penelitian akuntansi juga kemampuannya untuk menjelaskan dan meramalkan.
diklasifikasikan dalam tiga paradigma yaitu positive Paradigma ini memiliki kesadaran konstektual yang
accounting research, interpretive accounting research, tinggi, di mana paradigma ini tidak untuk
dan critical accounting research. Burrel dan Morgan menggeneralisasikan temuan penelitian atau teori. Teori
(1979) membuat empat paradigma teori organisasi yang ini tidak memiliki perhatian pada hukum yang universal.
14 Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, Vol. 10. No. 1, Januari 2015

Paradigma interpretif memahami bentuk funda- Akuntansi terbentuk dan dipraktikkan melalui proses
mental dari dunia sosial pada level pengalaman konstruksi sosial. Dengan berpijak pada nilai lokal dan
subjektif seseorang. Dengan kata lain paradigma ini subjektivitas, akuntansi dapat menyatu antara praktisi
mencari penjelasan dalam realisme tentang dengan masyarakat bisnis. Dengan kata lain, akuntansi
subjektivitas dan kesadaran individu, dalam kerangka bukan hal yang asing bagi masyarakat di mana
acuan mengenai partisipan berhadapan dengan peneliti akuntansi dipraktikkan. Meskipun paradigma ini timbul
mengenai tindakan. Pendekatan ini, bagi ilmu sosial, sebagai anti-thesis terhadap paradigma positivisme,
cenderung nominalis, anti positivistik, voluntaris, dan namun kelemahan dari paradigma ini adalah terletak
ideografik (Burrell dan Morgan, 1979). Paradigma ini pada kepeduliannya yang hanya terbatas pada
memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang menafsirkan (to interpret).
bersifat subjektif, diciptakan (ditemukan), dan
ditafsirkan. Paradigma tersebut memahami hakikat Metode Penelitian Kualitatif Akuntansi Paradigma
manusia sebagai pencipta dunianya, menciptakan Kritis
sistem makna. Ilmu Pengetahuan yang dibangunnya Pendekatan teori kritis memiliki komitmen tinggi
bersifat common sense, induktif, ideographic, kepada tatanan sosial yang lebih adil. Dua asumsi dasar
menekankan pada makna, tidak bebas nilai. yang melandasinya adalah: 1) ilmu sosial bukan sekedar
Penelitian yang menggunakan paradigma ini memahami ketidakadilan dalam distribusi kekuasaan
bertujuan untuk menafsirkan dunia, memahami dan sumber daya, melainkan berupaya membantu
kehidupan sosial, menekankan pada makna dan menciptakan kesamaan dan emansipasi dalam
pemahaman. Karakternya adalah memahami bentuk kehidupan; 2) pendekatan ini memiliki keterikatan moral
fundamental dari dunia sosial pada tingkat pengalaman untuk mengkritik status quo dan membangun
subjektif seseorang. Untuk analisis sosial, paradigma masyarakat yang lebih adil (Muhadjir, 2000).
ini menggunakan pendekatan subjektif. Inti dari Paradigma ini memandang realitas sosial berada
paradigma interpretif ini adalah memahami bentuk di antara objektivisme dan subjektivisme, kompleks,
fundamental dari dunia sosial pada tingkat pengalaman diciptakan oleh manusia, dalam ketegangan dan
subjektif seseorang. Paradigma ini jika dilihat dari segi kontradiksi, tekanan dan eksploitasi. Paradigma ini
asumsi ontologisme akuntansi, maka akuntansi dan memahami hakikat manusia sebagai sesuatu yang
realitas terkait adalah label, nama atau konsep yang dinamik, pencipta nasibnya; ditekan, dieksploitasi,
digunakan untuk membangun realitas tersebut, juga diasingkan, dibatasi, dicuci otak (brain-washed),
terkait dikonstruksi oleh manusia melalui tindakan dan diarahkan, dikondisikan; tersembunyi dari aktualisasi
interaksi (ideographic). potensi diri. Ilmu pengetahuan yang dibangunnya
Dari segi sifat akuntansi, akuntansi adalah sesuatu berada di antara positivisme dan interpretivisme (dapat
yang subjektif, ada dalam pikiran manusia, dan membentuk hidup, tapi selalu membuka diri terhadap
diciptakan dari hasil pemikiran manusia. Akuntansi perubahan), membebaskan dan memberdayakan, tidak
juga tidak bebas nilai, selalu ada nilai (kepentingan) bebas nilai. Tujuan penelitian dalam paradigma ini
sesuai dengan konteks sosial. Dari segi hakikat dan adalah mengungkap hubungan nyata (real relation)
sifat manusia, manusia (akuntan dan non-akuntan) yang ada di bawah "permukaan," mengungkap mitos
adalah makhluk yang aktif, menciptakan akuntansi dan ilusi, menghilangkan kepercayaan/ide yang salah,
dan realitas terkait melalui pemberian makna-makna membebaskan dan memberdayakan. Pada paradigma
(arti) terhadap segala sesuatu. Dari segi tujuan ini jika dilihat dari asumsi ontologis akuntansi, maka
penelitian, dapat menginterpretasikan dan memahami akuntansi dan realitas diciptakan oleh pihak yang berkuasa
fenomena akuntansi serta proses terjadinya dalam (akuntan), akuntan juga memanipulasi dan mengkondisikan
setting alamiah, serta menjelaskan proses terjadinya agar orang lain memahami/menginterpretasikan sesuatu
fenomena akuntansi berdasarkan konteks sosial. Dari seperti yang diinginkan.
segi metode penelitian, menggunakan pendekatan Dari segi sifat akuntansi, akuntansi berada di antara
induktif. Studi kasus dengan alat-alat kualitatif sifat subjektif dan objektif, atau berada antara determinasi
(wawancara, observasi, analisis dokumen, dan dan humanisme.Akuntansi juga sarat nilai dan kepentingan;
sebagainya) serta tidak terikat pada aturan, prosedur konstruksi akuntansi selalu diawali dengan evaluasi tentang
dan metode yang baku. posisi sesuatu yang benar atau salah. Dari sisi sifat manusia,
Jadi kesadaran konstektual mencerminkan manusia (akuntan atau non akuntan) adalah makhluk yang
pemahaman bahwa pada dasarnya akuntansi kreatif, tetapi mereka ditekan oleh kondisi dan faktor sosial
dipraktikkan tidak dalam kondisi yang vacuum dari serta dieksplotasi pihak lain yang berusaha meyakinkan
kondisi lingkungan di mana akuntansi tadi dipraktikkan. bahwa apa yang dilakukan sudah benar.
Natalia Paranoan, Riset Non Positivistik Akuntansi dalam Tiga ... 15

Dari sisi tujuan penelitian, menjelaskan dan seperti: diri, Tuhan, tujuan, makna, dunia nyata, dan
mengkritik praktik akuntansi dan realitas yang terkait, seterusnya. Awalnya strategi dekonstruksi ini
berdasarkan fakta dan konteks. Juga memberdayakan dimaksudkan untuk mencegah kecenderungan
manusia (akuntan dan non akuntan) untuk mengubah totaliterisme pada segala sistem, namun akhirnya
realitas atau kondisi akuntansi yang dianggap cenderung jatuh ke dalam relativisme dan nihilisme
menindasnya. Dari segi metode penelitian, merupakan (Muhadjir, 2000).
metode induktif yang lebih menekankan pada Triyuwono (2006) disebutkan bahwa paradigma
penggunaan alat-alat kualitatif dan juga alat-alat ini muncul untuk mengatasi kelemahan paradigma
kuantitatif sebagai pelengkap.Serta tidak terikat dengan positivisme dengan mencoba memahami realitas secara
aturan, metode, dan prosedur yang baku. lebih utuh dan lengkap. Untuk memahami realitas yang
Dalam Triyuwono (2006) dikatakan bahwa kompleks ini, paradigma posmodernisme tidak
paradigma ini muncul untuk memperbaiki kelemahan memiliki bentuk pendekatan keilmuan yang baku.
yang ada pada paradigma sebelumnya, yaitu dengan Sebaliknya pendekatannya selalu tidak terstruktur,
cara melakukan pembebasan dan perubahan. Tujuan tidak berbentuk, tidak formal dan tidak mutlak.
sebuah teori dalam paradigma ini adalah membebaskan Semuanya serba relatif.
(to emancipate) dan melakukan perubahan (to trans- Memahami realitas yang kompleks memang tidak
form) (lihat Burrel dan Morgan 1979, Chua 1986, bisa dilakukan dengan pendekatan positivistik yang
Roslender 1992). hanya berorientasi pada dunia fisik. Paradigma ini
Pembebasan dan perubahan yang dilakukan oleh sering melakukan kombinasi dan perkawinan dari
paradigma ini tidak saja pada tingkat teori, tetapi juga berbagai pemikiran yang berbeda atau bahkan
pada tingkat praktik. Pada tingkat teori, pembebasan bertentangan. Jadi paradigma ini menganggap bahwa
dan perubahan dapat dilakukan sejak dari aspek teori (akuntansi) digunakan untuk menstimulasi (to
metodologi sampai pada bentuk teori itu sendiri. Dalam stimulate) kebangkitan kesadaran manusia pada
konteks ini, metodologi akuntansi modern dan tingkat yang lebih tinggi yaitu kesadaran emosi dan
akuntansi modern itu sendiri (yang dibangun kesadaran spiritual. Paradigma ini juga bersifat all in-
berdasarkan paradigma positivisme) saat ini sangat clusive sehingga dapat menerima dan
mendominasi. Untuk membebaskan diri dari bentuk- mengkombinasikan atau mensinergikan pemikiran-
bentuk "penindasan" metodologi akuntansi modern, pemikiran yang berbeda. Misalkan nilai maskulin
paradigma ini melakukan kritik untuk selanjutnya disinergikan dengan nilai feminin. Dengan konsep all
melakukan perubahan. inclusive nya, paradigma ini menjadi paradigma yang
Dalam konteks akuntansi juga demikian. Praktik paling komprehensif sehingga mampu memahami
akuntansi modern selalu digoyang kemapanannya agar realitas lebih lengkap bila dibandingkan dengan tiga
selalu terjadi perubahan. Paradigma ini mempunyai paradigma lainnya.
anggapan bahwa masyarakat yang "normal" adalah Untuk lebih memungkinkan dapat memahami
masyarakat yang selalu berubah. Kekuatan paradigma makna dari posmodernisme, ada baiknya untuk
ini adalah ingin selalu membebaskan (to emancipate) terlebih dahulu memahami modernisme. Modernisme
dan mengubah (to tansform) di mana karakter ini tidak di bidang filsafat adalah gerakan pemikiran dan
dimiliki oleh dua paradigma sebelumnya. Dengan gambaran dunia tertentu yang awalnya diinspirasikan
karakter ini akuntansi menjadi selalu dinamis dan kaya oleh Descartes, dikokohkan oleh gerakan Pencerahan,
baik pada tingkat teori maupun praktik. dan mengabadikan dirinya hingga abad keduapuluh
ini melalui dominasi sains dan kapitalisme. Gambaran
Metode Penelitian Kualitatif Akuntansi Paradigma dunia macam ini, beserta tatanan sosial yang
Posmodernis dihasilkannya, ternyata telah melahirkan berbagai
Posmodernisme merupakan suatu gerakan yang konsekuensi buruk bagi kehidupan manusia dan alam
dipicu oleh berbagai ekses negatif dari modernisme pada umumnya. Pada taraf praksis, untuk menyebut
yang hendak merevisi kemodernan itu. Sebutlah beberapa saja di antaranya, pertama, pandangan
misalnya ajaran yang biasa menyebut dirinya dualistiknya yang membagi seluruh kenyataan menjadi
metafisika New Age. Mungkin bisa pula dimasukkan subjek dan objek, spiritual-material, manusia-dunia,
di sini pemikiran-pemikiran yang mengaitkan diri telah mengakibatkan objektivisasi alam secara
dengan wilayah mistiko-mitis. Mereka ini umumnya berlebihan dan pengurasan alam secara semena-mena.
muncul dari wilayah Fisika Baru, dan bersemboyan Hal ini telah mengakibatkan krisis ekologi. Kedua,
"holisme" yang mendekonstruksi atau membongkar pandangan dunia modern yang bersifat objektivitas
segala unsur penting dalam sebuah gambaran dunia dan positivistis akhirnya cenderung menjadikan
16 Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, Vol. 10. No. 1, Januari 2015

manusia seolah objek juga, dan masyarakat pun mainstream adalah paradigma yang mengkaji
direkayasa bagaikan mesin. Ketiga, dalam modernisme, akuntansi secara empiris, sedangkan paradigma non-
ilmu-ilmu positif-empiris menjadi standar kebenaran mainstream adalah paradigma yang mengkaji
tertinggi. Konsekuensi keempat adalah materialisme. akuntansi pada tataran konseptual (tidak empiris).
Banyak konsekuensi lainnya yang diakibatkan oleh Padahal sebetulnya secara implisit dapat diketahui
standar kebenaran yang ditetapkan oleh paradigma ini. bahwa paradigma non-mainstream melakukan kajian
Dalam memandang realitas, posmodernisme dan pengembangan akuntansi tidak saja pada tataran
cenderung untuk mengatakan bahwa tidak ada sesuatu konsep, tetapi juga pada tataran praktik. Jadi hal ini
yang secara cukup kuat mewakili realitas. Ia juga berarti bahwa penelitian akuntansi dengan paradigma
menolak beberapa pandangan tentang realitas yang non-mainstream tidak membatasi diri pada akuntansi
menganggap alami proses mental individu dan normatif, tetapi juga akuntansi positif.
komunikasi antar subjek. Posmodernisme mengakui Triyuwono (2006) dikatakan pula bahwa
dua pendekatan metodologi, yakni: interpretasi anti- akuntansi non-mainstream memiliki kelebihan
objektif dan dekonstruksi. Interpretasi, untuk dibandingkan dengan akuntansi mainstream terutama
posmodernisme, dipahami sebagai interpretasi tidak pada aspek kontekstual. Akuntansi non-mainstream
terbatas (Triyuwono, 2004). sangat memperhatikan aspek lingkungan, yang terkait
dengan nilai-nilai budaya, sosial dan politik serta sistem
Implikasi pada Riset-Riset Akuntansi di Masa ekonomi yang melingkupinya.
Mendatang Realitas (akuntansi) pada hakikatnya tidak
Dari keempat paradigma tersebut, hanya terbatas pada realitas fisik, tetapi juga pada psikis dan
paradigma positivisme saja yang sangat dominan. Oleh spiritual. Pada paradigma posmodernis yang lahir
karena itu paradigma positivisme disebut juga sebagai antithesis dari modernisme yang positivistik,
paradigma arus utama atau mainstream paradigm. di mana paradigma positivistik yang merupakan pola
Sedangkan paradigma lainnya disebut non-mainstream pikir modernisme hanya memahami realitas pada
paradigm. Metodologi penelitian kuantitatif dengan lapisan materi (fisik) saja. Karena yang dipahami hanya
teknik statistiknya diakui mendominasi analisis realitas fisik, maka konsep teori yang dibangunnya
penelitian sejak abad ke-18 sampai abad ini. Dengan hanya sebatas dunia materi dan sebaliknya tidak mampu
semakin canggihnya teknologi komputer, berkembang masuk pada dunia psikis dan spiritual apalagi masuk pada
pula teknik-teknik analisis statistik yang mendukung atribut Tuhan, dan Tuhan itu sendiri. Jadi untuk penelitian-
pengembangan penelitian kuantitatif. Metotodologi penelitian akuntansi di masa mendatang, masih banyak
penelitian kuantitatif statistik menjadi lebih bergengsi ruang yang tersedia buat peneliti-peneliti akuntansi dengan
daripada metodologi penelitian kualitatif. Terutama menggunakan paradigma non-mainstream.
dengan adanya sejumlah kenyataan bahwa ada sementara
calon ilmuwan yang menggunakan metodologi kualitatif SIMPULAN
dengan alasan dan bukti ketidakmampuannya
menguasai teknik-teknik analisis statistik. Metodologi penelitian non positivistik telah
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa setiap mengalami perkembangan yang sangat pesat. Persepsi
metode penelitian memiliki keunggulan dan sebagian besar orang masih menganggap bahwa
kekurangan masing-masing. Metode penelitian penelitian ini sebagai penelitian dengan prosedur
kualitatif dan metode penelitian kuantitatif adalah saling nonmatematik, membuat pemaknaan. Namun
melengkapi dan masing-masing memiliki keunggulan kemudian berkembang visi baru, paradigma baru dan
dan kelemahan. Oleh karena itu metode kualitatif dan persfektif baru dalam penelitian non positivistik.
kuantitatif keberadaannya tidak perlu dipertentangkan Metode penelitian kualitatif muncul karena terjadi
karena keduanya justru saling melengkapi. Metode perubahan paradigma dalam memandang suatu
penelitian kuantitatif cocok digunakan untuk penelitian realitas/fenomena/gejala. Dalam paradigma ini realitas
yang masalahnya sudah jelas, dan umumnya dilakukan sosial dipandang sebagai suatu yang holistik/utuh,
pada populasi yang luas sehingga hasil penelitian kompleks, dinamis dan penuh makna. Paradigma ini
kurang mendalam. Sedangkan metode penelitian disebut paradigma postpositivisme yang
kualitatif cocok digunakan untuk meneliti di mana mengembangkan penelitian kualitatif. Sedangkan
masalahnya belum jelas, dilakukan pada situasi sosial paradigma sebelumnya disebut paradigma positivisme,
yang tidak luas, sehingga hasil penelitian lebih di mana dalam memandang gejala, lebih bersifat
mendalam dan bermakna. tunggal, statis dan konkrit. Paradigma positivisme
Sebagian orang berpendapat bahwa paradigma mengembangkan metode kuantitatif.
Natalia Paranoan, Riset Non Positivistik Akuntansi dalam Tiga ... 17
.
Metode penelitian kualitatif ini sering disebut Realitas (akuntansi) pada hakikatnya tidak
metode penelitian naturalistik atau metode ethnogra- terbatas pada realitas fisik, tetapi juga pada psikis dan
phy. Dalam Creswell (2007) mengajukan lima spiritual. Pada paradigma posmodernis yang lahir
pendekatan dalam melakukan penelitian kualitatif. sebagai antithesis dari modernisme yang positivistik,
Kelima pendekatan tersebut adalah: narrative re- dimana paradigma positivistik yang merupakan pola
search, phenomenoloical research, grounded theory pikir modernisme hanya memahami realitas pada
research, ethnographic research, dan case study re- lapisan materi (fisik) saja. Jadi untuk penelitian-
search. Kelima pendekatan tersebut memberikan penelitian akuntansi di masa mendatang, masih banyak
gambaran bahwa penelitian kualitatif dapat dilakukan ruang yang tersedia untuk peneliti-peneliti akuntansi
dengan beragam pendekatan, dan berbagai kesempatan dengan menggunakan paradigma non-positivistik.
dan tantangan yang ada. Efferin et al (2004),
menyatakan ada dua pendekatan dalam melakukan REFERENSI
penelitian kualitatif, yaitu pendekatan interpretif dan
pendekatan kritikal. Basrowi, H. M. dan H. Soenyono. 2003. Teori
Kaitannya dengan penelitian non positivisme ada Sosiologi Dalam Tiga Paradigma. Surabaya:
tiga paradigma yang dikemukakan yaitu paradigma Yayasan Kampusina.
interpretif, kritis dan posmodernisme. Paradigma Bryant, C. G. A. 1985. Positivism in Social Theory
interpretif lebih menekankan pada makna atau and Research. New York: St. Martin's.
interpretasi seseorang terhadap sebuah simbol (dalam Burrell, G dan G. Morgan. 1979. Sociological Para-
hal ini adalah akuntansi). Tugas dari teori ini adalah digms and Organisation Analisys: Elements of
memaknai (to interpret atau to understand) jadi bukan The Sociology of Corporate Life. London:
to explain dan to predict sebagaimana pada paradigma Heinemann.
positivisme. Kualitas teori dalam paradigma ini adalah Chua, W. F. 1986. Radical Developments in Account-
diukur dari kemampuannya memaknai bukan pada ing Thought. The Accounting Review.
kemampuannya untuk menjelaskan dan meramalkan. Creswell, J. W. 2007. Qualitative Inquiry and Re-
Paradigma ini memiliki kesadaran konstektual yang tinggi, search Design: Choosing Among Five Approach.
di mana paradigma ini tidak untuk menggeneralisasikan USA: Sage Publication, Inc.
temuan penelitian atau teori. Denzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln. 2010.
Triyuwono (2006) dikatakan bahwa paradigma HandBook of Qualitative Research. Yogyakarta:
kritis muncul untuk memperbaiki kelemahan yang ada Pustaka Pelajar.
pada paradigma sebelumnya, yaitu dengan cara Efferin. S, S. H. Darmadji, Y.Tan. 2004. Metode
melakukan pembebasan dan perubahan. Tujuan Penelitan Untuk Akuntansi. Sebuah Pendekatan
sebuah teori dalam paradigma ini adalah membebaskan Praktis.Malang: Bayumedia Publishing.
(to emancipate) dan melakukan perubahan (to trans- Giddens, A. 2004. The Contitution of Society. Teori
form) (lihat Burrel dan Morgan 1979, Chua 1986, Strukturisasi untuk Analisi Sosial. Malang: Citra
Roslender 1992). Mentari Group.
Pembebasan dan perubahan yang dilakukan oleh Jones, P. 2009. Pengantar Teori-Teori Sosial. Jakarta.:
paradigma ini tidak saja pada tingkat teori, tetapi juga Yayasan Obor Indonesia.
pada tingkat praktik. Pada tingkat teori, pembebasan Lubis, A. Y. 2006. Dekonstruksi Epistemologi Mod-
dan perubahan dapat dilakukan sejak dari aspek ern: dari Postmodernisme, Teori Kritis,
metodologi sampai pada bentuk teori itu sendiri. Dalam Poskolonialisme hingga Cultural Studies. Cetakan
konteks ini, metodologi akuntansi modern dan akuntansi 1. Jakarta: Pustaka Indonesia Baru.
modern itu sendiri (yang dibangun berdasarkan pada Morgan, G. 1980. Paradigms, Methaphors, and Puzzle
paradigma positivisme) saat ini sangat mendominasi. Solving in Organization Theory. Administrative
Pada paradigma posmodernisme muncul untuk Science Quarterly.
mengatasi kelemahan paradigma positivisme dengan Muhajir, N. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif.
mencoba memahami realitas secara lebih utuh dan Yogyakarta: Rake Sarasin.
lengkap. Untuk memahami realitas yang kompleks ini, ………..2007. Metodologi Keilmuan: Paradigma
paradigma posmodernisme tidak memiliki bentuk Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed.Edisi V Revisi.
pendekatan keilmuan yang baku. Sebaliknya Yogyakarta: Rake Sarasin.
pendekatannya selalu tidak terstruktur, tidak Neuman, W. L2 006. Social Research Methods. Quali-
berbentuk, tidak formal dan tidak mutlak. Semuanya tative and Quantitative Approach. Sixth edition.
serba relatif. Person International Edition
18 Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, Vol. 10. No. 1, Januari 2015

Raho, B. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Suriasumantri, J S. 1998. Filsafat Ilmu: Sebuah
Prestasi Pustaka. Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Ritzer, G and D. J. Goodman. 2010. Teori Sosiologi Sutrisno, R. Hanafi. 2007. Filsafat Ilmu dan
Modern. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Penerbit
Roslender, R. 1992. Sociological Persfectives on Andi Offset.
Modern Accountancy. London: Routledge. Suwarjono. 2008. Teori Akuntansi. Yogyakarta:
Sarantakos. S. 1993. Social Research. South Melbourne: BPFE.
Macmillan Education Australia Pty Ltd. Triyuwono, Iwan. 2006. Persfektif, Metodologi, dan
Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Teori Akuntansi Syahriah. Jakarta: PT Raja
Bandung: Alfabeta. Grafindo Persada.
Sturrock, J. 2004. Strukturalisme: Post-Strukturalisme.
Surabaya: Jawa Pos Press.