Anda di halaman 1dari 8

Klarifikasi istilah

a) Diare :
Frekuensi dan konsistensi pengeluaran feses yang abnormal. (Sumber: Kamus
Kedokteran Dorland)
b) Sonde lambung :
Kateter yang mempunyai lekukan, atau tajam, mirip paruh bengkok, di dekat ujung
(Sumber: Kamus Kedokteran Dorland)
c) Dokter muda :
Dokter yang telah mendapatkan gelar sarjana kedokteran dan sedang menempuh
pendidikan klinik untuk mendapatkan gelar profesi.
d) Dokter yang bertugas :
Dokter yang telah mendapat gelar ‘dr.’ di bawah sumpah yang bertugas di rumah sakit.
e) Infus :
1) Perendaman bahan di dalam air untuk mendapatkan khasiat obatnya
2) Hasil proses perendaman obat untuk mengekstraksi sari obatnya
3) Pemasukan terapeutik cairan bukan darah, misalnya larutan garam faal, ke dalam
vena
(Sumber: Kamus Kedokteran Dorland)
f) UGD :
Bagian dari rumah sakit yang menampung dan melayani pasien yang sangat gawat
dan/atau darurat keadaannya (Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia)
g) Rawat inap :
Perawatan atau terapi intensif inap di rumah sakit yang harus dijalani pasien agar dokter
udah memantau kondisi kesehatannya.
h) Surat rujukan :
Surat pengalihan pasien ke rumah sakit atau dokter lain karena keterbatasan
kemampuan dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan.
i) Ambulance :
Kendaraan untuk membawa orang sakit atau terluka dan dilengkapi alat untuk
memberikan pertolongan darurat. (Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Analisis masalah

1) Apa tugas dan wewenang seorang dokter muda dalam pelayanan di RS?
2) Bagaimana keadaan seorang pasien kategori gawat darurat?
3) Apa tugas dan wewenang perawat di IGD?
4) Apakah diperbolehkan seorang dokter jaga tanpa memeriksa pasien
memerintahkan untuk pemasangan infus dan sonde lambung?
1) Apa saja hak dan kewajiban pasien?
2) Apa saja hak dan kewajiban dokter?
3) Apa indikasi pemasangan infus dan sonde lambung?
4) Bagaimana kriteria pasien yang dianjurkan untuk menjalani rawat inap?
5) Apa hal-hal yang menyebabkan pasien dirujuk ke RS atau dokter lain?
6) Bagaimana proses perujukan pasien?
7) Bagaimana tanggung jawab RS dalam melakukan perujukan?
8) Landasan hukum yang mengatur perujukan?
9) Apa saja informasi yang terdapat dalam surat rujukan?
10) Adakah pelanggaran etika atau pelanggaran hukum yang dilakukan dr. Z di RS
A?
11) Dapatkah dr. Z dikatakan melakukan malpraktik?

Hipotesis
Dr. Z telah melakukan pelanggaran etika dan hukum sebab kurang memperhatikan SOP serta
mengabaikan kewajibannya sebagai seorang dokter.

Sintesis
Hak dan Kewajiban Dokter
Hak dokter (Jusuf Hanafiah, 2008):

 Melakukan praktik dokter setelah memperoleh Surat Izin Dokter (SID) dan Surat Izin
Praktik (SIP)
 Memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasien tentang penyakitnya
 Bekerja sesuai standar profesi
 Menolak melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan etika, hukum,
agama, dan hati nuraninya
 Mengakhiri hubungan dengan seorang pasien jika menurut penilaiannya kerja sama
pasien dengannya tidak berguna lagi, kecuali dalam keadaan darurat
 Menolak pasien yang bukan bidang spesialisnya, kecuali dalam keadaan darurat atau
tidak ada dokter lain yang mampu menanganinya
 Hak atas kebebasan pribadi (privacy) dokter
 Ketentraman bekerja
 Mengeluarkan surat keterangan dokter
 Menerima imbalan jasa
 Menjadi anggota perhimpunan profesi
 Hak membela diri

Hak Dokter menurut UU no. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran:


Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak:
i. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional;
ii. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur
operasional;
iii. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan
iv. menerima imbalan jasa.

Kewajiban dokter menurut UU no. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, pasal 51:

 Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional serta kebutuhan medis pasien
 Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan
atau pengobatan
 Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah
pasien itu meninggal dunia
 Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin
pada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya
 Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau
kedokteran gigi.

Hak dan Kewajiban Pasien

Hak Pasien menurut KODEKI:


1. Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri, dan hak untuk mati secara wajar.
2. Memperoleh pelayanan kedokteran yang manusiawi sesuai dengan standar profesi
kedokteran.
3. Memperoleh penjelasan tentang diagnosis dan terapi dari dokter yang
mengobatinya.
4. Menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan, bahkan dapat menarik
diri dari kontrak terapeutik.
5. Memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran yang akan diikutinya.
6. Menolak atau menerima keikutsertaannya dalam riset kedokteran.
7. Dirujuk kepada dokter spesialis kalau diperlukan, dan dikembalikan kepada dokter
yang merujuknya setelah selesai konsultasi atau pengobatan untuk memperoleh
perawatan atau tindak lanjut.
8. Kerahasiaan dan rekam mediknya atas hal pribadi.
9. Memperoleh penjelasan tentang peraturan rumah sakit.
10. Berhubungan dengan keluarga, penasihat, atau rohaniawan, lain-lain yang
diperlukan selama perawatan di rumah sakit.
11. Memperoleh penjelasan tentang perincian biaya rawat inap, obat, pemeriksaan
laboratorium, pemeriksaan Rongent, Ultrasonografi (USG), CT-scan, Magnetic
Resonance Imaging, dan sebagainya, (kalau dilakukan) biaya kamar bedah, kamar
bersalin, imbalan jasa dokter, dan lain-lainnya.

Hak Pasien menurut UU no. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran:


Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:
1. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3):
a. diagnosis dan tata cara tindakan medis;
b. tujuan tindakan medis yang dilakukan;
c. alternatif tindakan lain dan risikonya;
d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan;
2. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
3. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
4. Menolak tindakan medis; dan
5. Mendapatkan isi rekam medis.

Kewajiban Pasien (Jusuf Hanafiah, 2008)


1. Memeriksakan diri sedini mungkin pada dokter.
2. Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang penyakitnya.
3. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter.
4. Menandatangani surat-surat PTM, surat jaminan dirawat di rumah sakit, dan lain-
lainnya.
5. Yakin pada dokternya, dan yakin akan sembuh.
6. Melunasi biaya perawatan di rumah sakit, biaya pemeriksaan dan pengobatan serta
honorarium dokter.

Kewajiban Pasien menurut UU no 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran:


Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban :
a. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya;
b. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
c. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan
d. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima

Rujukan Pasien
Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (2008) mendefinisikan sistem rujukan sebagai suatu
sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab
timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang
lebih mampu menangani), atau secara horizontal (antar unit-unit yang setingkat
kemampuannya). Sederhananya, sistem rujukan mengatur darimana dan harus kemana
seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu memeriksakan keadaan sakitnya.

Rujukan pasien/specimen ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi dan atau
lengkap hanya dapat dilakukan apabila :
1. dari hasil pemeriksaan medis, sudah terindikasi bahwa keadaan pasien tidak dapat
diatasi;
2. pasien memerlukan pelayanan medis spesialis dan atau subspesialis yang tidak tersedia
di fasilitas pelayanan semula;
3. pasien memerlukan pelayanan penunjang medis yang lebih lengkap yang tidak tersedia
di fasilitas pelayanan semula;
4. pasien atau keluarganya menyadari bahwa rujukan dilaksanakan karena alasan medis;
5. rujukan dilaksanakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat yang diketahui
mempunyai tenaga dan sarana yang dibutuhkan menurut kebutuhan medis atau
penunjang medis sesuai dengan rujukan kewilayahan;
6. rujukan tanpa alasan medis dapat dilakukan apabila suatu rumah sakit kelebihan pasien
( jumlah tempat tidur tidak mencukupi);
7. rujukan sebagaimana dimaksud huruf f dirujuk ke rumah sakit yang setara atau sesuai
dengan jaringan pelayanannya;
Prosedur standar pengiriman rujukan spesimen dan Penunjang Diagnostik lainnya

a. Prosedur Klinis:
1. Menyiapkan pasien/spesimen untuk pemeriksaan lanjutan.
2. Untuk spesimen, perlu dikemas sesuai dengan kondisi bahan yang akan dikirim dengan
memperhatikan aspek sterilitas, kontaminasi penularan penyakit, keselamatan pasien
dan orang lain sertakelayakan untuk jenis pemeriksaan yang diinginkan.
3. Memastikan bahwa pasien/spesimen yang dikirim tersebut sudah sesuai dengan kondisi
yang diinginkan dan identitas yang jelas.

b. Prosedur Administratif:
1. Mengisi format dan surat rujukan spesimen/penunjang diagnostik lainnya (lihat format
R/3 terlampir) secara cermat dan jelas termasuk nomor surat dan status Gakin / Non-
Gakin / ASKES / JAMSOSTEK, informasi jenis spesimen/penunjang diagnostik lainnya
pemeriksaan yang diinginkan, identitas pasien dan diagnosa sementara serta identitas
pengirim.
2. Mencacat informasi yang diperlukan di buku register yang telah ditentukan masing-
masing intansinya.
3. Mengirim surat rujukan spesimen/penunjang diagnostik lainya ke alamat tujuan dan
lembar kedua disimpan sebagai arsip.
4. Mencari informasi perkiraan balasan hasil rujukan spesimen/ penunjang diagnostik
lainnya tersebut.

Prosedur standar menerima rujukan spesimen dan penunjang diagnostik lainnya

a. Prosedur Klinis
1. Menerima dan memeriksa spesimen/penunjang diagnostik lainnya sesuai dengan
kondisi pasien/bahan yang diterima dengan memperhatikan aspek : sterilisasi,
kontaminasi penularan penyakit, keselamatan pasien, orang lain dan kelayakan untuk
pemeriksaan.
2. Memastikan bahwa spesimen yang diterima tersebut layak untuk diperiksa sesuai
dengan permintaan yang diinginkan.
3. Mengerjakan pemeriksaan laboratoris atau patologis dan penunjang diagnostik lainnya
dengan mutu standar dan sesuai dengan jenis dan cara pemeriksaan yang diminta oleh
pengirim.

b. Prosedur Administratif
1. Meneliti isi surat rujukan spesimen dan penunjang diagnostik lainnya yang diterima
secara cermat dan jelas termasuk nomor surat dan status Gakin / Non-Gakin / ASKES /
JAMSOSTEK, informasi pemeriksaan yang diinginkan, identitas pasien dan diagnosa
sementara serta identitas pengirim.
2. Mencacat informasi yang diperlukan di buku register / arsip yang telah ditentukan
masing-masing instansinya.
3. Memastikan kerahasiaan pasien terjamin.
4. Mengirimkan hasil pemeriksaan tersebut secara tertulis dengan format standar masing-
masing sarana kepada pimpinan institusi pengirim.

Kewajiban Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pengirim Rujukan :

1. memberi penjelasan kepada pasien atau keluarganya bahwa karena alasan medis pasien
harus dirujuk, atau karena ketiadaan tempat tidur pasien harus dirujuk;
2. melaksanakan konfirmasi dan memastikan kesiapan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang
dituju sebelum merujuk;
3. membuat surat rujukan dengan melampirkan hasil diagnosis pasien dan resume catatan
medis;
4. mencatat pada register dan membuat laporan rujukan
5. sebelum dikirim, keadaan umum pasien sudah distabilkan lebih dahulu dan stabilitas
pasien dipertahankan selama dalam perjalanan;
6. pasien harus didampingi oleh tenaga kesehatan yang mengetahui keadaan umum
pasien dan mampu menjaga stabilitas pasien sampai pasien tiba di tempat rujukan;
7. Tenaga Kesehatan yang mendampingi pasien menyerahkan surat rujukan kepada pihak
yang berwenang di fasilitas pelayanan kesehatan (PPK 2 dan PPK 3) tempat rujukan.

Kewajiban sarana pelayanan kesehatan yang menerima rujukan :

1. menerima surat rujukan dan membuat tanda terima pasien;


2. mencatat kasus rujukan dan membuat laporan penerimaan rujukan
3. membuat diagnosis dan melaksanakan tindakan medis yang diperlukan, serta
melaksanakan perawatan;
4. melaksanakan catatan medik sesuai dengan ketentuan;
5. memberikan informasi medis kepada sarana pelayanan pengirim rujukan;
6. membuat surat rujukan ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih tinggi, apabila
kondisi pasien tidak dapat diatasi, dan mengirim tembusannya kepada sarana pelayanan
kesehatan pengirim pertama;

Surat Rujukan
Informasi kegiatan rujukan pasien dibuat oleh petugas kesehatan pengirim dan di catat
dalam surat rujukan pasien yang dikirimkan ke dokter tujuan rujukan, yang berisikan antara lain:
Nomor surat, tanggal dan jam pengiriman, status pasien keluarga miskin (gakin) atau
non gakin termasuk umum, ASKES atau JAMSOSTEK, tujuan rujukan penerima, nama dan
identitas pasien, resume hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnosa, tindakan dan obat yang
telah diberikan, termasuk pemeriksaan penunjang, kemajuan pengobatan dan keterangan
tambahan yang dipandang perlu. (lihat format R/1/a, Surat Rujukan Pasien).

Informasi balasan rujukan dibuat oleh dokter yang telah menerima pasien rujukan dan
setelah selesai merawat pasien tersebut mencatat informasi balasan rujukan di surat balasan
rujukan yang dikirimkan kepada pengirim pasien rujukan, yang berisikan antara lain:
Nomor surat, tanggal, status pasien keluarga miskin (gakin) atau non gakin termasuk
umum, ASKES atau JAMSOSTEK, tujuan rujukan penerima, nama dan identitas pasien, hasil
diagnosa setelah dirawat, kondisi pasien saat keluar dari perawatan

Malpraktik
Dokter melakukan kelalaian berat atau kurang hati-hati, yang dapat mencakup :

a. Tidak melakukan sesuatu tindakan yang seharusnya dilakukan, atau


b. Melakukan sesuatu tindakan yang seharusnya tidak dilakukan

 Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum.


 Dalam praktinya banyak sekali hal yang dapat diajukan sebagai malpraktik,
seperti salah diagnosis atau kurang lengkapnya pemeriksaan, pemberian terapi
yang sudah ketinggalan zaman, kesalahan teknis pada waktu melakukan
pembedahan, salah dosis obat, salah pemantauan pasien, kegagalan komunikasi,
dan kegagalan peralatan.