Anda di halaman 1dari 14

Konsep Dasar Injeksi Intracutan

Injeksi intracutan (IC) adalah pemberian obat kedalam lapisan dermal kulit tepat
dibawah epidermis. Biasanya hanya sejumlah kecil larutan yang digunakan(contoh
0,1 ml).Metode pemberian ini sering kali digunakan untuk uji alergi dan penapisan
tuberkulosis.Lokasi injeksi intracutan biasanya pada lengan bawah bagian
dalam,dadaatas dan punggung dibawah skapula. Lengan kiri umumnya digunakan
untuk penapisan TBC dan lengan kanan digunakan untuk semua pemeriksaan lain.

Injeksi intradermal diberikan ke dalam dermis, tepat di bawah epidermis. Jalur


intradermal memiliki waktu absorpsi terlama dari semua pareteral. Untuk alasan
inilah injeksi intradermal digunakan untuk tes sensitivitas, seperti tes tuberkulin dan
tes alergi, serta anestesi lokal. Keuntungan jalur intradermal untuk tes – tes ini adalah
reaksi tubuh terhadap substansi tersebut mudah diamati, dan derajat reaksi dapat
dibedakan melalui studi perbandingan.

Lokasi yang umum digunakan adalah permukaan dalam lengan bawah dan punggung
bagian atas, di bawah skapula. Peralatan yang digunakan untuk injeksi intradermal
adalah siring tuberkulin yang dikalibrasi dalam puluhan dan ratusan ml dan jarum
berukuran ¼ – ½ inci, 26 atau 27 gauge. Dosis yang diberikan secara intradermal
kecil, biasanya kurang dari 0,5 ml. Sudut pemberian injeksi intradermal adalah 10 –
15 derajat.

PEMBERIAN OBAT MELALUI SUBCUTAN


Merupakan cara memberikan obat dengan memasukkan obat ke dalam jaringan
subcutan dibawah kulit dengan spuit. Injeksi subkutan diberikan dengan menusuk
area dibawah kulit yaitu jaringan konektif atau lemak dibawah dermis. Injeksi tidak
diberikan pada area yang nyeri, merah, pruitis atau edema. Pada pemakaian injeksi
subkutan jangka lama, maka injeksi perlu direncanakan untuk diberikan secara rotasi
pada area yang berbeda. Jenis obat yang lazim diberikan secara subkutan adalah
vaksin, obat-obatan preoperasi, narkotik, insulin, dan heparin.
Pemberian obat melalui subcutan ini pada umumnya dilakukan dalam program
pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah. Pemberian
insulin terdapat dua tipe larutan, yaitu jernih dan keruh. Larutan jernih atau juga
dimaksudkan sebagai insulin tipe reaksi cepat (insulin regular) dan larutan yang keruh
karena adanya penambahan protein sehingga memperlambat absorbsi obat atau juga
termasuk tipe lambat.

Macam Pemberian Obat Secara Parenteral/Injeksi

1. Injeksi Intracutan/Intraderma(IC/ID) Pemberian obat secara intra kutan atau intra


dermal merupakan suntikan pada lapisan dermis atau di bawah epidermis/permukaan
kulit. injeksi ini di lakukan secara terbatas, karena hanya sejumlah kecil obat yang
dapat dimasukkan. cara ini biasannya digunakkan untuk tes tuberkulin atau tes alergi
terhadap obat tertentu dan untuk pemberian vaksinasi. area yang lazim digunakan
adalah lengan bawah bagian dalam,dada bagian atas dan punggung area skapula.

2. Injeksi Intra Muscular(IM) Pemberian obat secara intra muscular ditunjukkan untuk
memberikan obat dalam jumlah yang besar dibandingkan obat yang diberikan secara
sub cutan. absorbsi juga lebih cepat dibanding sub cutan karena lebih banyak suplai
darah diotot tubuh. beberapa lokasi yang lazim digunakan untuk injeksi intra muscular
adalah deltoid,dorso gluteal,vastus lateralis,dan rektus femoralis. area-area tersebut
digunakan karena massa otot yang besar,vaskularisasi baik dan jauh dari saraf. untuk
menghindari obat salah masuk pada jaringan sub cutan maka jarum diatur dalam
posisi tegak lurus 900.

3. Injiksi Intra Vena(IV) Pemberian obat secara intra vena ditujukan untuk
mempercepat reaksi obat, sehingga obat langsung masuk ke sistem sirkulasi darah.
pemberian obat ini dapat dilakukan langsung pada vena atau pada pasien yang
dipasang infus, obat dapat diberikan melalui botol infus atau melalui karet pada
selang infus tempat penyuntikan yaitu pada vena yang dangkal dan dekat dengan
tulang, misalnya : a. Pada lengan(vena mediana cubiti/vena cephalica) b. Pada
tungkai(vena saphenosus) c. Pada leher(vena jugularis) khusus pada anak d. Pada
kepala (vena frontalis,atau vena temporalis) khusus pada anak
Injeksi Sub Cutan(SC) Injeksi sub cutan diberikan dengan menusuk area dibawah kulit
yaitu pada jaringan konektif atau lemak dibawah dermis. daerah yang lazim untuk
injeksi sub cutan adalah lengan atas bagian luar, paha bagian depan, perut, area
skapula,ventrogluteal, dan dorso gluteal. jangan memberikan injeksi pada daerah yang
nyeri,merah,pruritis,atau edema. pada pemberian injeksi sub cutan jangka lama,perlu
direncanakan untuk diberikan secara rotasi pada area yang berbeda. jenis obat yang
lazim diberikan secara sub cutan adalah yaksin, obat-obatan
preoperasi,narkotik,insulin, dan heparin

B. Rute-Rute Pemberian Injeksi

Berdasarkan cara pemberiannya, sediaan injeksi dapat digolongkan dalam


beberapa jenis, yaitu :
a. Parenteral volume kecil
1) Injeksi intraderma atau intrakutan
Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan
"dermis" yang berarti sensitif, lapisan pembuluh darah dalam kulit. Ketika sisi
anatominya mempunyai derajat pembuluh darah tinggi, pembuluh darah betul-betul
kecil. Makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi dengan efek
sistemik yang dapat dibandingkan karena absorpsinya terbatas, maka
penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam kulit untuk obat yang sensitif atau
untuk menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme. Injeksi intrakutan
dimasukkan langsung ke lapisan epidermis tepat dibawah startum korneum.
Umumnya berupa larutan atau suspensi dalam air, volume yang disuntikkan sedikit
(0,1 - 0,2 ml). Digunakan untuk tujuan diagnosa. Digunakan untuk skin test (karena
beberapa klien akan mengalami reaksi anafilaktik jika obat masuk ke dalam tubuh
secara cepat) atau Tuberculin Test. Intra dermal memiliki sirkulasi darah yang
minimal dan obat akan diabsorbsi secara perlahan (sangat lambat). Menggunakan
jarum ukuran kecil (¼-½ inci) atau jarum khusus Tuberculin Test.
Untuk diagnosa atau test penyakit tertentu, seperti diphtheria (shick test),
tuberculosis (Old Tuberculin, Derivat Protein Tuberculin Murni).
2) Injeksi subkutan atau hipoderma
Injeksi subkutan dimasukkan ke dalam jaringan lembut dibawah
permukaan kulit. Jumlah larutan yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. Larutan
harus sedapat mungkin isotonis dan isohidris, dimaksudkan untuk mengurangi
iritasi jaringan dan mencegah terjadinya nekrosis (mengendornya kulit).
Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit. Parenteral
diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan aksi onset lambat dengan
absorpsi sedikit daripada yang diberikan dengan IV atau IM. Obat-obat
vasokontriksi seperti adrenalin dapat ditambahkan untuk efek lokal, seperti
anestesi lokal. Contoh obat yang diberikan secara SC adalah Insulin, Tetanus
Toxoid (TT), Epinephrine, obat-obat alergi dan heparin (dapat diabsorbsi dengan
baik melalui SC dan IM).

3) Injeksi intramuskular
Injeksi intramuskular dimasukkan langsung ke otot, biasanya pada lengan
atau panggul. Sediaannya biasa berupa larutan atau suspensi dalam air atau minyak,
volume tidak lebih dari 4 ml. Penyuntikan volume besar dilakukan dengan
perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit. Rute intramuskular menyiapkan
kecepatan aksi onset sedikit lebih normal daripada rute intravena, tetapi lebih
besar daripada rute subkutan. Rute ini juga digunakan jika obat mengiritasi atau
tidak larut dalam air atau minyak sehingga obat tersebut harus digunakan dalam
bentuk suspensi. Volume injeksi harus tetap kecil, umumnya tidak lebih dari 2 ml.
4) Injeksi intravena
Injeksi intravena langsung disuntikkan ke dalam pembuluh darah, berupa
larutan isotoni atau agak hipertoni, volume 1-10 ml. Larutan injeksi intravena harus
bebas dari endapan atau partikel padat, karena dapat menyumbat kapiler dan
menyebabkan kematian. Injeksi intravena yang diberikan dalam volume besar,
umumnya lebih dari 10 ml, disebut infus yang digunakan untuk mengganti cairan
darah yang hilang akibat shok, luka, operasi pembedahan, atau cairan tubuh
hilang oleh diarrhoeia, seperti pada kolera. Jika volume dosis tunggal lebih dari 15
ml, injeksi intravena tidak boleh mengandung bakterisida dan jika lebih dari 10 ml
harus bebas pirogen. Larutan berair, tetapi kadang-kadang emulsi minyak dalam
air, (seperti Phytomenadion Injection, BP.
5) Rute injeksi lain
Intraarterial
Injeksi intraarterial disuntikkan langsung ke dalam arteri dimasukkan langsung
ke dalam pembuluh darah perifer, digunakan jika efek obat diperlukan segera.
Umumnya berupa larutan, dapat mengandung cairan non iritan yang dapat bercampur
dengan air, volume 1-10 ml. Tidak boleh mengandung bakterisida.
Rute intra-arterial digunakan umumnya untuk tujuan diagnosis seperti
menginjeksikan bahan-bahan radiopak untuk studi roentgenografik dari cadangan
vaskuler pada berbagai organ atau jaringan (seperti koroner, serebral, pulmonari, renal,
enterik, atau arteri perifer). Hampir semua arteri dicapai dengan kateterisasi arterial.
Penggunaan rute intra-arterial untuk tujuan pengobatan adalah jarang dan
terbatas pada umumnya untuk kemoterapi organ tertentu, seperti mengobati kanker
lokal tertentu (seperti melanoma malignant pada ekstremitis bawah), dimana perfusi
regional dengan konsentrasi tinggi dari obat toksis (yang bila diberikan secara i.v dapat
dihubungkan dengan reaksi sistemik serius) yang dapat tercapai. Digunakan ketika aksi
segera diinginkan pada daerah perifer.
Intrakardial
Disuntikkan langsung ke dalam jantung, Dimasukkan langsung ke dalam otot
jantung atau ventrikulus, hanya digunakan untuk keadaan gawat. Tidak boleh
mengandung bakterisida. digunakan ketika kehidupan terancam dalam keadaan
darurat seperti gagal jantung.
Secara langsung ke dalam jantung, merupakan suatu rute yang mana digunakan
untuk menginjeksi ke dalam aliran darah volume besar dari larutan hipertonik atau
larutan teriritasi seperti dekstrosa 70%. Proses ini membutuhkan bantuan kateter.
Kateterisasi meliputi proses pembedahan dan secara umum hanya dilakukan dalam
unit-unit tertentu dari rumah sakit yang lebih besar.
Intraserebral
Diinjeksikan ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal
sebagaimana penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia.
Intraspinal
Diinjeksikan ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat
dalam daerah lokal. Digunakan untuk menginduksi spinal atau lumbal anestesi dengan
menyuntikkan larutan ke ruang subaraknoid, biasanya volume yang diberikan 1-2 ml.
Tidak boleh mengandung bakterisida dan diracik untuk wadah dosis tunggal. Injeksi ke
dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah lokal.
Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia.
Intraperitoneal dan intrapleural
Intraperitoneal merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin
rabies. Rute ini juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal. Disuntikkan
langsung ke dalam rongga perut. Penyerapannya cepat, bahaya infeksi besar sehingga
jarang dipakai.
Intrapleural Biasanya diinjeksikan tunggal ke dalam lubang pleura. Seringkali,
pipa tidak permanent dimasukkan ke dada melalui pembedahan, rute ini dapat
digunakan untuk tujuan irigasi atau untuk injeksi obat berulang.
Seringkali, infeksi atau keganasan meliputi lubang pleura, umumnya bila proses
penyakit adalah kerusakan fungsi pernafasan, maka digunakan rute ini. Enzim (seperti
streptokinase dan streptodornase) dapat diinjeksikan pada empyemas cair tebal yang
todak dapat dihilangkan oleh absorpsi atau repsorpsi secara alamiah. Bila bagian kiri
tidak terobati, empyemas dapat menyebabkan fibrasis, adhesi, penebalan pleura dan
restriksi pernafasan. Juga penyebaran karsinoma atau mesothelomas pleura dapat
diobati dengan injeksi intrapleural lokal dan bahan-bahan antitumor atau sclerosis,
terutama bila infus berulang menjadi masalah.
Injeksi intraartikulus
Injeksi intraartikulus digunakan untuk memasukkan material seperti obat anti
inflamasi langsung ke luka atau jaringan yang teriritasi. Injeksi berupa larutan atau
suspensi dalam air.
Injeksi subkonjungtiva
Larutan atau suspensi dalam air untuk injeksi selaput lendir bawah mata,
umumnya tidak lebih dari 1 ml.
Injeksi intrasisternal dan peridual
Injeksi ini disuntikkan ke intrakarnial sisternal dan lapisan dura dari spinalcord.
Keduanya merupakan prosedur yang sulit dengan peralatan yang rumit
Injeksi intraserebral
Injeksi ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana
penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia (Depkes RI, 1979).

b. Parenteral Volume Besar


Untuk pemberian larutan volume besar, hanya rute intravena dan subkutan
yang secara normal digunakan.

1. Intravena
Keuntungan rute ini adalah (1) jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih
banyak dan bahkan bahan tambahan banyak digunakan IV daripada melalui SC,
(2) cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat; (3) efek sistemik
dapat segera dicapai; (4) level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan, dan
(5) kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin
dan menggunakan dalam situasi darurat disiapkan.
Kerugiannya adalah meliputi : (1) gangguan kardiovaskuler dan pulmonar
dari peningkatan volume cairan dalam sistem sirkulasi mengikuti pemberian cepat
volume cairan dalam jumlah besar; (2) perkembangan potensial trombophlebitis;
(3) kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik
injeksi septik, dan (4) pembatasan cairan berair.
2. Subkutan
Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah alternatif ketika
rute intravena tidak dapat digunakan. Cairan volume besar secara relatif dapat
digunakan tetapi injeksi harus diberikan secara lambat. Dibandingkan dengan rute
intravena, absorpsinya lebih lambat, lebih nyeri dan tidak menyenangkan, jenis
cairan yang digunakan lebih kecil (biasanya dibatasi untuk larutan isotonis) dan
lebih terbatas zat tambahannya.
(DOM Martin :
970)
4.

Tahap Pemberian Suntikan Epidural

11. Cara Kerja Bius Epidural Pada Tubuh


Ketika pemberian bius, Tentu saja klien akan merasakan sakit yang agak menggigit
saat jarum suntik menembus celah ruas tulang belakang. Bahkan ada orang yang
mengalami sedikit pembengkakan pada bekas suntikan, sampai beberapa hari setelah
proses persalinan selesai. Bagi klien yang operasi Caesar, seringkali timbul rasa seperti
ada yang mengganjal di tulang belakang sampai beberapa minggu setelah persalinan.
Rasa sakit ini akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Klien harus
tetap berbaring di tempat tidur sampai saat persalinan tiba. Tapi, selama menunggu,
klien diperbolehkan untuk berbaring menyamping dengan kepala lebih tinggi sekitar 30
derajat dari tubuh.

Umumnya, 3-5 menit setelah obat disuntikkan, sistem saraf dari bagian rahim
hingga jalan lahir akan mati rasa (kebas). Setelah lewat 10 menit, biasanya klien sudah
akan benar-benar mati rasa pada daerah tersebut, atau hingga seluruh bagian bawah
tubuh. Hal ini tidak mempengaruhi kemampuan klien dalam mengejan, klien tetap
dapat mengejan dengan dibimbing dokter dan perawat yang membantu persalinan.
Obat bius itu tidak menghambat proses persalinan. Hanya saja, klien tidak akan
merasakan nyeri luar biasa saat kontraksi semakin keras, di menit-menit terakhir
sebelum si kecil lahir. Namun, bagi klien yang kehilaRngan kemampuan untuk
mengejan, dokter akan membantu menggunakan forcep atau alat vakum. Sekalipun
tindakan tersebut sebenarnya menambah besarnya risiko bagi bayi, tapi bila didukung
oleh keterampilan dokter, maka klien tak perlu merasakan kekhawatiran yang
berlebihan.

Suntikan Epidural
Menjelang akhir persalinan tahap pertama dan saat persalinan tahap kedua, umumnya
bantuan lebih lanjut untuk mengurangi rasa sakit dan tidak nyaman adalah anestesi
atau pembiusan. Pembiusan yang populer di Indonesia adalah epidural atau painless
labour. Pembiusan ini memblok rasa sakit di rahim, leher rahim, dan bagian atas
vagina. Meskipun demikian, otot panggul tetap dapat melakukan gerakan rotasi
kepala bayi untuk keluar melalui jalan lahir. Ibu tetap sadar dan bisa mengejan ketika
diperlukan meskipun dibius.
Mekanisme kerja epidural sebagai berikut. Tulang punggung terdiri dari tulang
belakang yang terpisah-pisah. Tulang belakang melindungi urat saraf tulang belakang
yang membentang dari pinggul hingga ke pangkal leher. Urat saraf tulang belakang
terdiri dari jutaan serabut saraf. Semuanya terhubung ke otak dan ke seluruh bagian
tubuh dengan rute berbeda-beda. Secara fungsi, serabut saraf dibagi dua jenis, yaitu
serabut urat saraf sensoris dan serabut urat saraf motoris. Serabut saraf sensoris
berfungsi menyampaikan pesan, seperti rasa sakit, panas, dan dingin dari tubuh ke
otak. Serabut saraf motoris bekerja sebaliknya, yaitu menyampaikan pesan dari otak
ke bagian tubuh, antara lain “menyuruh” tubuh bergerak atau berkontraksi.
Pada pembiusan epidural, bagian yang dibius atau diberi penawar sakit adalah urat
saraf sensoris sehingga sakit saat kontraksi di rahim tidak sampai ke otak. Akibatnya,
ibu pun tidak merasakan sakit. Namun, pembiusan ini tidak boleh terkena urat saraf
motoris sehingga otak tetap dapat “memerintahkan” otot-otot rahim berkontraksi.
Di punggung, urat saraf dikelilingi selubung berisi air yang disebut dura. Antara dura
dengan tulang terdapat rongga yang dilalui serabut urat saraf menuju dan dari
berbagai bagian tubuh yang disebut epidura. Pembiusan dilakukan dengan
memasukkan jarum kecil berisi tabung (kateter) yang sangat kecil melalui otot
punggung ibu hingga ke epidura, dan dengan sangat hati-hati menarik ujung jarum
hingga tabung polythene tertinggal di dalam rongga epidura. Sekarang, dokter dapat
memberi pembiusan melalui tabung di dalam rongga tersebut.
Pembiusan epidural harus dilakukan dokter spesialis anestesi. Ketika memasukkan
jarum suntik, ibu diminta menekuk seperti posisi bayi dalam perut. Setelah itu, ibu
harus diawasi karena dapat mengalami efek samping, seperti mual, kejang, dingin,
sakit kepala, hingga penurunan tekanan darah sampai titik sangat rendah yang tentu
tidak balk bagi ibu maupun janin. Untuk mengatasi penurunan tekanan darah, kadang
dokter menyertai pembiusan epidural dengan suntikan 500 ml cairan ke pembuluh
darah sebelum pembiusan.
Selain itu, karena tidak merasakan sakit akibat suntikan epidural, mungkin ibu
menjadi sulit untuk membantu kelahiran bayi dengan mengandalkan otot perutnya dan
mendorong ketika terjadi kontraksi rahim. Hal ini menyebabkan persalinan tahap
kedua lebih lama dibanding ibu yang tidak mendapat epidural. Ada kemungkinan,
bayi dikeluarkan dengan bantuan forsep atau vacum.
Dari penelitian yang dilakukan pada bayi baru lahir alami atau per vagina dengan ibu
yang menggunakan metode ini, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada nilai
APGAR pertama dan kelima antara bayi studi dengan bayi kontrol. Selain itu, tidak
didapatkan perbedaan kejadian bayi kuning dan lama perawatan di rumah sakit.
Di negara barat, banyak ibu menggunakan metode epidural. Sepuluh persen dari
mereka menyatakan metode ini tidak efektif dan rasa sakit tetap dialami. Sepuluh
persen lainnya mengeluh epidural menimbulkan kejang dan dingin. Namun, 800/0 ibu
merasakan manfaat metode ini. Kini, teknik epidural disempurnakan dengan
dikembangkannya teknik blok epidural kontinu, yaitu teknik epidural yang
dikendalikan pasien (patient controlled epidural analgesia) dan teknik kombinasi
epidural spinal (combined spinal epidural analgesia).
Di bawah ini keuntungan penggunaan epidural.
• Delapan puluh persen ibu berhasil mengatasi rasa sakit.
• Tidak mengacaukan pikiran.
• Membantu dalam mengontrol tekanan darah tinggi.
• Mengembalikan kemampuan ibu mengontrol persalinan sehingga mengembalikan
rasa percaya diri.
• Kini, epidural lebih canggih. Penggunaannya tidak memberi efek kebas pada kaki
dan tangan.
Berikut ini kerugian penggunaan epidural.
• Mungkin, ibu merasa mati rasa hanya di sebagian tubuh. Sebagian kecil perut tidak
mengalami efek pembiusan.
• Ibu harus tetap di tempat tidur dan merasa sangat menggigil.
• Mungkin, ibu membutuhkan infus di tangan karena epidural membuat tekanan darah
beberapa wanita turun. Efeknya kurang baik bagi suplai oksigen ke bayi. Cara
pencegahannya, tambah segera volume darah untuk membuat tekanan darah normal
kembali.
• Mungkin, kateter terpasang di kandung kemih ibu. Penggunaan epidural
menyebabkan ibu tidak dapat memperkirakan waktu untuk buang air kecil sehingga
ibu buang air kecil secara otomatis.
• Mungkin, ibu merasa tidak sepenuhnya sadar. Dengan terpasangnya tiga tabung di
tubuhnya, ibu harus diberi tahu saatnya mengejan jika efek pembiusan belum hilang
pada tahap melahirkan.
• Epidural dapat memperpanjang waktu persalinan, khususnya fase mengejan dan
melahirkan bayi.
• Denyut jantung bayi harus dimonitor sepanjang waktu.
• Ada kemungkinan penggunaan forsep atau vacum untuk membantu kelahiran bayi
karena seringkali epidural membuat bayi tidak dapat bergerak ke posisi yang pas
untuk dikeluarkan.
• Pada saat jarum epidural dicabut dan tabungnya dilepas, kemungkinan ada
kebocoran cairan rongga epidura. Cairan ini dapat bergesekan dengan serabut saraf
tulang belakang. Padahal, pergesekan sedikit saja dapat menimbulkan sakit kepala
berat. Hal ini dapat diatasi dengan mengambil sedikit darah dari tangan ibu. Biasanya,
sehari setelah kelahiran bayi dan menyuntikkannya ke punggung untuk menutup
lubang akibat jarum epidural.
• Beberapa ibu mendapat masalah berkemih setelah menggunakan epidural.
• Epidural tidak dapat digunakan pada persalinan di rumah.
Dalam menggunakan epidural, perhatikan tip-tip di bawah ini.
• Usahakan diam tidak bergerak saat ahli anestesi memasang epidural di punggung
ibu. Posisi ibu dapat berbaring menyamping atau menekuk seperti posisi bayi dalam
perut. Konsentrasilah pada pernapasan. Tarik napas panjang melalui hidung,
kemudian keluarkan perlahanlahan melalui mulut. Pegang tangan pendamping
persalinan dan pertahankan kontak mata dengannya.
• Diskusikan dengan dokter kemungkinan melepas epidural pada tahap mengejan. Jika
ibu dapat merasakan kontraksi saat itu, ibu lebih efektif mengejan.
Mobile epidural
Mobile epidural adalah epidural dalam dosis lebih sedikit dan diberikan dalam teknik
baru sehingga meskipun dapat menghilangkan rasa sakit, tetapi ibu tetap dapat
merasakan sensasi kakinya karena kaki tidak ikut kebal.
Cara penggunaannya persis epidural biasa. Sebuah tabung dipasangkan melalui jarum
yang ditusukkan di bagian bawah punggung. Obat anestesi yang dicampur obat pereda
sakit, seperti pethidin atau fentanyl dimasukkan ke dalam tubuh melalui selang kecil.
Cara kerjanya juga mirip epidural biasa, hanya ibu tidak merasa kebal di kaki. Mobile
epidural juga diberikan sepanjang tahap persalinan pertama saat ibu tidak sanggup
menahan sakit akibat kontraksi atau di awal persalinan jika ibu sama sekali tidak mau
merasakan sakit kontraksi. Keuntungannya, ini merupakan cara sangat baik untuk
menghilangkan rasa sakit dan selama penggunaannya ibu tetap dapat bergerak.
Kerugiannya, kualitas bergerak masih dibatasi. Mungkin, ibu hanya dapat bergerak
dari tempat tidur ke kursi atau berjalan dengan bantuan. Kerugian lain, epidural ini
sama dengan penggunaan epidural biasa.
Contoh Obat yang diberikan secara Intravena :

Aminofusin L 600

Macam-macam Obat dan Cara Pemberian

MATOLAC

 Untuk penggunaan jangka pendek untuk nyeri akut sedang sampai


dengan berat.
 DOSIS : 10-30 mg tiap 4-6 jam . maks: sehari 90 mg, lama terapi
maksimal (pemberian IM/IV) tidak boleh dari 5 hari . km : 5 amp 10
mg

FENTANYL

 Untuk depresi pernafasan,cedera kepala,alkhoholisme akut, serangan


asma akut, intolerensihamil,laktasi.
 DOSIS: pramedikasi, 100 mcg scr IM 30-60 sblm op.
DOLGESIK

 Untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat ,nyeri paska op
(oprasi).
 DOSIS: dosis tunggal untuk dewasa dan anak-anak >12 thn : 1 amp
(100mg) IM di suntikkan perlahan-lahan. Maksimal 4 amp . anak- anak :,
1 thn: 1-2 mg/kg.
DURALGIN.

 Untuk analgesik seperti : nyeri setelah op,neuralgia.


 DOSIS
 Dws 25-100 mg ,maksimal sehari 300 mg dalam dosis.
 Bagi, anak ,6 thn: sehari maks 100 mg i.m
 Dosis bagi anak-anak 6-12 thn : sehari maksimal 20000 mg.
DOLANA

 Untuk nyeri akut atau kronik setelah operasi.


 DOSIS: IM 1-2 amp 50 mg/ml atau 1 amp 100 mg/2ml : SK ,1-2 amp
50 mg/ml atau 1 amp 100mg/ 2ml, apabila masih nyeri dapat
ditambahkan 1 ml setelah selang waktu 30-60 menit ,dosis sehari tidak
melebihi 400 mg.
MATOLAC

 Untuk penggunaan jangka pendek untuk nyeri akut sedang sampai


dengan berat.
 DOSIS : 10-30 mg tiap 4-6 jam . maks: sehari 90 mg, lama terapi
maksimal (pemberian IM/IV) tidak boleh dari 5 hari . km : 5 amp 10
mg.

Contoh Obat Injeksi Intracutan

Contoh obat yang diberikan melalui injeksi intracutan adalah :

1. Vaksin Bacillus Calmette Guerrin (BCG) 0,05 ml


2. 0,1 ATS atau ADS + 0,9 NaCl untuk menetralisir endotoksin dari kuman tetanus atau difteri.
3. Adrenalin 1%.
4. 0,1 ml vaksin sel diploid manusia (pasteur mariex) untuk vaksin rabies.
5. Ekstrak allergen.

SUMBER

Johnson Ruth, Taylor Wendy. 2002. ,Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta : EGC

Kasim,Fauzi. 2012. ISO (Informasi Spesialite Obat) Indonesia. Jakarta : PT. ISFI
Penerbitan

Hidayat,Aziz. 2008. Keterampilan Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan. Jakarta:


Salemba Medika
DAFTAR PUSTAKA

Ceklist Akbid Brawijaya Husada (2011). Injeksi intramuscular

Potter, Perry. Ganiswara (2005). Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Famakologi, FKUI

Ratna Ambarwati, Eni (2009). KDPK Kebidanan Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT.
Kawan Pustaka

Saifudin, Abdul Bani (2006). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Tjay, T.H (2009). Faktor Patofisiologi Tubuh. Http://liew.267.wordpress.com/


pengaruh cara pemberian terhadap absorbs obat/ diakses tanggal 26 Agustus 2011

Uliyah, Musrifatul dkk (2008). Ketrampilan聽Dasar Praktik Klinik. Jakarta: Salemba


Medika