Anda di halaman 1dari 298

HASIL SIDANG

ORGANISASI

RAPAT KERJA NASIONAL I


IKATAN DOKTER INDONESIA
BANDAR LAMPUNG 24 – 27 OKTOBER 2017
HASIL SIDANG
ORGANISASI

RAPAT KERJA NASIONAL I


IKATAN DOKTER INDONESIA
BANDAR LAMPUNG 24 – 27 OKTOBER 2017
DAFTAR ISI

Daftar Isi 3
Kata Pengantar 4
I. Hasil Sidang Organisasi 5
1. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga & Tata Laksana Organisasi 5
2. Pendidikan Kedokteran dan CPD 11
3. Pelayanan Profesi Kedokteran 31
4. Etik, Disiplin dan Hukum 37
5. Kebijakan Organisasi (Eksternal dan Internal) 42
6. Rekomendasi Organisasi 50
II. Lampiran – lampiran 57
1. Bahan Sidang Organisasi 59
- Komisi A : Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IDI & Tata Laksana 59
Organisasi
- Komisi B : Pendidikan Kedokteran dan CPD 145
- Komisi C : Pelayanan Profesi Kedokteran 175
- Komisi D : Etika, Disiplin dan Hukum 253
- Komisi E : Kebijakan Organisasi Eksternal dan internal 257
- Komisi F : Rekomendasi Organisasi 273
2. Susunan Panitia Rakernas IDI I 281
3. Susunan Panitia Adhoc Rakernas IDI I 289

3
KATA PENGANTAR
Ketua Umum Pengurus Besar
Ikatan Dokter Indonesia

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan perkenanNya rapat Kerja
Nasional (Rakernas) IDI I dapat diselenggarakan dengan lancar dan sukses di Bandar Lampung pada tanggal
24 – 27 Oktober 2017
Rakernas sebagaimana yang tercantum di dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) IDI adalah rapat yang
dihadiri oleh segenap perangkat organisasi dari tingkat pusat dan tingkat wilayah. Rakernas diadakan
sekurang-kurangnya sekali dalam periode kepengurusan. Rakernas berkewenangan menilai pelaksanaan
program kerja nasional PB IDI, menyempurnakan dan memperbaikinya untuk dilaksanakan pada sisa
periode kepengurusan selanjutnya. Selain itu, rakernas mempunyai wewenang mengadakan pembicaraan
pendahuluan tentang bahan muktamar yang akan datang,
Kami telah menyusun hasil Rakernas IDI ini. Semoga apa yang telah dihasilkan dalam Rakernas ini dapat
menjadi pedoman bagi pelaksanaan tindak lanjut program serta menjadi dasar pijakan organisasi untuk
menyiapkan keputusan-keputusan saat Muktamar nanti.
Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta Rakernas yang telah berperan serta menyumbangkan
pokok-pokok pikirannya. kami juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya acara Rakernas IDI ini sehingga acaranya berjalan
dengan sukses dan lancar.
Kami berharap bahan hasil Rakernas IDI ini bisa dipelajari dan dibahas di IDI Cabang/Wilayah/Perhimpunan
sehingga pada Muktamar XXX nanti dapat menghasilkan keputusan organisasi yang sesuai dengan kebutuhan
para anggota IDI.
Demikian kami sampaikan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Ketua Umum

Prof. Dr. Ilhan Oetama Marsis,Sp.OG


NPA. IDI 7.535

4
HASIL SIDANG ORGANISASI
RAKERNAS IDI I

KOMISI A
ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA IDI & TATALAKSANA ORGANISASI
1. Perubahan AD/ART
a. Perubahan Anggaran Dasar
• Pasal 26 ayat (1). Mayoritas sepakat untuk mengusulkan dihilangkan, namun tetap dicatat
peserta yang tidak setuju. (disepakatinya Pasal ini melegitimasi pembahasan AD/ART)
• Pasal 6 : penghilangan kata ‘non profit’. Setuju untuk dirubah di muktamar.
• Pasal 14: menambahkan peran Dewan Pertimbangan sebagai Pengawas Internal. Mayoritas
setuju. Namun ada usulan untuk menambahkan menjadi “Dewan Pertimbangan dan
Pengawas”
• Pasal 18 : Penambahan ayat tentang Hirarki Pengambilan Keputusan. Disepakati perubahan.
DItambahkan hirarki “Rapat Pleno DIperluas”
• Pasal 20 : Penambahan penjelasan tentang bendera. Disepakati penambahannya.
• Pasal 21 : koreksi kalimat. Disepakati perubahannya.
b. Perubahan Anggaran Rumah Tangga
• Pasal 2 : koreksi kalimat tentang anggota. Mayoritas setuju perubahan, namun yang tidak
setuju tetap dicatat argumentasinya.
• Pasal 9 ayat (2): menghilangkan menetapkan tata tertib dan agenda acara muktamar.
Menetapkan Tata tertib (tanpa dibahas). Menghilangkan penetapan agenda muktamar.
• Pasal 11: penghapusan “Dewan Etik”. Disinkronkan dengan hasil pembahasan Komisi D.
Sepakat mendorong menjadi bagian dari MKEK.
• Pasal 13 : koreksi ayat (3). Sepakat perubahan. Ada tambahan koreksi ayat (1)
• Pasal 14 : koreksi ayat (3) mengenai MKEK Cabang. Sepakat ditambahkan.
• Pasal 15: koreksi ayat (2) butir c
• Pasal 17: menambahkan kewenangan Rakernas. Sepakat direkomendasikan di Muktamar.
• Pasal 18 : koreksi ayat (1) butir g. Sepakat perubahan
• Pasal 19 : koreksi ayat (1) butir d. Pengurus majelis diusulkan ditunjuk oleh ketua wilayah.
Sepakat tidak ada perubahan, hanya diusulkan diberi catatan saat Muswil
• Pasal 21 : diusulkan hapus butir b dan j di ayat (1). Koreksi di ayat (2). Sepakat ayat (1) butir
b dipertahankan. Koreksi ayat (2) disepakati.
• Pasal 22: penghapusan ayat (1) huruf b, koreksi ayat (3). Sepakat dihapus ayat (1) huruf b.

5
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

Koreksi ayat 3 d “Pengurus Perhimpunan tingkat wilayah ditetapkan oleh Ketua Perhimpunan
Pusat yang bersangkutan atas rekomendasi IDI WIlayah untuk selanjutnya dilantik oleh IDI
Wilayah.” Mengusulkan Ad Hoc Muktamar membentuk Organogram IDI.
• Pasal 24: penghapusan ayat (2). Sepakat dihapus.
• Pasal 27: ditambahkan BAB V. Sepakat ditambahkan.
• Pasal 31 : koreksi ayat (1). Sepakat dikoreksi.
• Pasal 34 (BADIN) dan 35 (Badan Pekerja) disepekati dilengkapi.
• Pasal 47 : berubah menjadi Pasal 51. Koreksi ayat 1 dan tambahan ayat (3). Sepakat
perubahan. Diusulkan mengenai BESARAN IURAN ANGGOTA kembali ditetapkan di
Muktamar.
• Pasal 48 : berubah menjadi Pasal 52. Tambahan ayat (5) . Sepakat penambahan ayat (5)
• Pasal 54 : diganti menjadi pasal 58. Sepakat perubahan
2. Usulan Tatalaksana
• Peran dan posisi kolegium
• Mekanisme pemilihan ketua majelis di tingkat wilayah & cabang
• Diusulkan pengurus PDSp cabang menjadi bagian dari Tim KRIP di tingkat Wilayah. Surat dari
PDSp Cabang diusulkan menjadi “Surat Pengantar RIPD”
• Menghilangkan rekomendasi pelaksanaan seminar/simposium yang diselenggarakan oleh PDSm
• Aturan resertifikasi bagi anggota yang SKP nya kurang
Tidak Dibahas, Diusulkan dibahas di Muktamar
3. Usulan Tata Tertib Muktamar
• Delegasi di luar Ketua dan Sekretaris ditetapkan berdasarkan E-Vote di tingkat Cabang.
(Direkomendasikan untuk diuji cobakan dalam pemilihan di tingkat Muscab/Muswil)
• Komisi Penyelenggara Muktamar (KPM) membuat daftar calon peserta muktamar.
• Pelunasan iuran IDI Cabang/Perhimpunan dan peserta utusan harus selesai ditetapkan minimal
2 (dua) bulan sebelum Muktamar
• Aturan bicara : dimintakan pendapat gilir per wilayah. Untuk interupsi, dipersilahkan bicara jika
sudah diperkenankan presidium. Ada batasan waktu bicara.
• Pembahasan Draft Muktamar dirangkum untuk hal-hal yang diusulkan/perubahan saja
Poin di atas sudah sejalan dengan AD/ART tahun 2015
• Calon Presidium sidang sudah diusulkan di RPD untuk selanjutnya ditetapkan di pleno Muktamar.
Ada usulan nama-nama calon berdasarkan keterwakilan berdasarkan wilayah (barat-tengah-
timur) dan/atau berdasarkan Korwil.
• Pimpinan sidang komisi harus berasal dari Ad Hoc
• Tidak ada calon yang baru ditetapkan pada saat Muktamar. Bakal calon telah ditetapkan Pansel

6
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

• Pemilihan pimpinan PB IDI diusulkan terdiri dari 5 orang, dengan suara tertinggi menjadi Ketua
Umum, yang lain menjadi Ketua2 Bidang.
KHUSUS POIN INI, KOMISI A MEMINTA WILAYAH YANG MENYETUJUI (JABAR-BANTEN-RIAU-BENGKULU-
JATENG) UNTUK MEMASUKKAN KAJIAN AKADEMIK SEBELUM AGUSTUS 2018
4. Panitia Seleksi Bakal Calon Ketua
Definisi PANSEL:
Panitia Seleksi yang selanjutnya disebut Pansel adalah panitia yang dibentuk pada semua tingkatan IDI
yang bertugas melakukan seleksi bakal calon Ketua IDI Terpilih untuk tingkat Muktamar, bakal calon
Ketua IDI di tingkat Musyawarah Wilayah dan Musyawarah Cabang.
Pansel terdiri dari:
• 2 senior IDI ( Mantan ketua PBIDI, Senior IDI)
• 1 Akademisi non pengurus ( AIPKI )
• 1 organisasi profesi kesehatan lain (PDGI)
• 1 non profesi kesehatan ( Mahkamah konstitusi/DPR RI/KKI )
• 1 lembaga konsumen ( YLKI )
• 1 unsur pemerintah ( KEMENKES )
Untuk Ketua Pansel di tunjuk oleh PB IDI.
KOMISI MENYEPAKATI AGAR PANITIA SELEKSI HANYA BERANGGOTAN UNSUR IDI
PANITIA SELEKSI CALON KETUA
Persyaratan Bakal Calon Ketua IDI
1. Daftar riwayat hidup (format terlampir)
2. Pas foto berwarna 3 x 4 (2 lembar)
3. Foto copy KTA IDI
4. Foto copy KTP
5. Foto copy STR
6. Surat Keterangan sehat dari dokter yang memiliki SIP
7. Surat kelakuan baik dari Kepolisian setempat
8. Surat atau dokumen yang menerangkan bahwa pernah menjalankan praktik kedokteran minmal
10 (sepuluh) tahun.
9. Surat Pernyataan untuk menyediakan waktu dan kesempatan yang cukup untuk melaksanakan
tugas dan tanggung jawab serta kesediaan melepaskan jabatan atau pekerjaan yang memiliki
konflik kepentingan.
10. Membuat makalah ringkas 3 halaman kuarto (spasi 1,5, font time roman 12), dengan tema
“Profesionalisme Ketua IDI dalam upaya meningkatkan peran IDI untuk menjaga profesionalisme
dokter Indonesia dan meningkatkan mutu praktik kedokteran serta kesejahteraan dokter di Era

7
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

JKN dan MEA “ , Makalah dalam bentuk hard copy dan soft copy.
11. bakal calon diusulkan minimal 5 cabang dan atau wilayah dan atau perhimpunan.
12. Bersedia mengikuti proses seleksi di Jakarta dengan biaya sendiri.
• Calon ketua IDI harus sehat jasmani dan rohani ( tes MMPI), dan untuk penentuannya akan
ada cara untuk menyeleksinya.
• 1 cabang mengusulkan 1 calon pada tahapan selanjutnya akan diseleksi
• Persyaratan agar calon pernah menjadi pengurus di cabang, dan wilayah
• Seleksi calon ketua dapat diberi tes dengan beberapa pertanyaan terbuka, sehingga bisa
menilai bagaimana pola fikir orang tersebut.
• Point 11 minimal 5 cabang dari 3 wilayah
KRITERIA BAKAL CALON KETUA IDI
Melalui Keputusan PB IDI No. 00120/PB/A.4/02/2016 telah dibentuk Panitia Seleksi Calon Ketua IDI
TH 2018-2021. Salah satu di antara tugas pansel adalah melakukan uji kepatutan dan kelayakan bakal
calon dengan memperhatikan:
a. kredibilitas dan integritas bakal calon
b. komitmen terhadap tugas
c. kepemimpinan
d. kerjasama
e. pemahaman bakal calon terhadap UU no 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Perkonsil
No 4/2011 tentang Disiplin Profesional Dokter dan Dokter Gigi, serta isue2 di bidang kesehatan,
praktik kedokteran, profesionalisme kedokteran dan Disiplin Profesional Kedokteran.
Sementara itu pasal 59 UUPK no 29/2004 dan pasal 17 Perkonsil no 3/2011 dalam hal perilaku anggota
IDI mempersyaratkan antara lain sbb :
a. Bertaqwa kepadaTuhan YME
b. Berkelakuan baik
c. Cakap, jujur, memiliki moral, etika dan integritas yang tinggi serta memiliki reputasi yang baik.
Kedua Keputusan tersebut menyiratkan bahwa bakal calon anggota perlu memiliki sejumlah aspek
tingkah laku sebagai kriteria menjadi anggota IDI..
Adapun aspek tingkah laku yang dimaksud adalah:
1. Integritas
2. Kredibilitas
3. Kepedulian terhadap sesama (berbuat baik)
4. Kepemimpinan
5. Kemampuan kerjasama
6. Komitmen

8
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

7. Mempunyai wawasan luas (nasional) dan internasional


Untuk menjalankan tugasnya Pansel telah memiliki sejumlah data/fakta/informasi yang berasal dari
Curriculum Vitae dan Makalah dari bakal calon yang sedikit banyak dapat memberikan gambaran
dari sebagian kriteria tersebut di atas. Sebagian besar lainnya masih perlu diperoleh melalui kegiatan
presentasi makalah dan terutama melalui wawancara.
Berikut ini beberapa gambaran aspek tingkah laku yang dapat diperoleh melalui:
a. Curriculum Vitae:
- achievement motivation (hasrat untuk berkembang) dapat dicermati melalui macam bidang yang
diikuti dalam pendidikan, jenjang/tingkatan yang dicapai di bidang profesi, termasuk pencapaian
karir jabatan/pekerjaan. Variasi dari bidang yang ditekuni juga dapat menggambarkan aspek ini
- keluasan wawasan: secara mudah dapat dilihat dari berbagai pengalaman yang dilalui, termasuk
variasi/bidang tugasnya
- sebagian dari kepemimpinan dapat diduga dari pengalaman beberapa kali memimpin kelompok
kerja (besar atau kecil) dalam jangka waktu tertentu. Mengenai efektivitasnya, dalam kegiatan ini
hanya dapat diperoleh melalui wawancara
- Sistem nilai yang dianut yang dapat menjadi dasar dari aspek integritas (digali dalam wawancara
dari latar belakang keluarga)
b. Makalah & Presentasi:
- interpersonal skill dapat secara jelas dinilai dari kegiatan ini melalui sikap dan cara peserta
menyampaikan gagasannya. Perhatian dan kepeduliannya terhadap kepentingan orang lain dapat
tertampil selama presentasi
- keluasan wawasan juga dapat dilihat melalui isi tulisan dalam makalah. Acuan yang digunakan atau
variasi contoh nyata dalam tulisan menunjukkan bahwa penulis memiliki kekayaan pengetahuan/
pengalaman yang kaya.
- komitmen dan kepedulian dapat dinilai dari seberapa dalam atau seberapa serius penulis melibatkan
pemikiran dan perasaannya kedalam masalah yang diungkapkan
- kepemimpinan masih dapat dinilai dari presentasi sebatas kemampuannya mempengaruhi/
meyakinkan audiencenya
c. Wawancara:
- hampir semua aspek tingkah laku dapat dinilai melalui wawancara dengan catatan bahwa macam/
jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara fakta .Yang dimaksud dengan wawancara
fakta adalah cara memperoleh fakta/bukti mengenai aspek yang sedang dinilai berdasarkan
fakta/bukti nyata dari pengalaman peserta. Misalnya aspek ’kepemimpinan’ dapat diperoleh
dengan menanyakan antara lain: - pernahkah ia punya pengalaman memimpin?, dimana?, untuk
kelompok apa?, kapan?, dan bagaimana keberhasilannya? Dalam hal ini mau tidak mau peserta
akan memberikan jawaban yang sesungguhnya (fakta dirinya). Pertanyaan yang bersifat teoritik atau

9
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

normatif cenderung mengarah pada jawaban yang juga bersifat teorik atau normatif
- data/informasi yang digunakan dalam wawancara dapat bersumber pada CV, Makalah, Presentasi
Catatan : Dokumen ini hanya terbatas untuk anggota Pansel .
• Perlu forum membahas mengenai AKTA NOTARIS IDI beserta seluruh sub-strukturnya (perhimpunan
dan kolegium), serta inventarisir ASET dan AUDIT ENTITAS IDI.
• Komisi A sepakat mengusulkan penggunaan jasa Legal Drafter untuk merapikan draft AD/ART IDI yang
akan dibahas di Muktamar mendatang.

10
KOMISI B
Pendidikan Dokter dan CPD
BAB BME

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


PENGANDIL
01 Melemahnya peran pengandil Regulasi yang memusatkan Revitalisasi peran pengandil Konsil Kedokteran
(shareholders pendidikan pendidikan kedokteran hanya pendidikan kedokteran Indonesia, MKKI-IDI,
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

kedokteran) sebagai pendidikan akademik 1.1 Koordinasi antar RS pendidikan Kolegium Dokter-
pendidikan tinggi (AHS) (kualifikasi RS AHS) Dokter Spesialis,
1.2 Memperkuat RS Dirjen Dikti
Pendidikan/AHS Kemristekdikti,
AIPKI, Fakultas
Kedokteran, ARSPI,
AHS

BME (BASIC MEDICAL EDUCATION / KEDOKTERAN DASAR)

11
01. Mutu pendidikan kedokteran  Standar Kompetensi 1. Target dokter apa yang ingin Kemenristekdikti,
dasar yang masih rendah dan Dokter Indonesia (SKDI) dihasilkan harus jelas IDI/Kolegium,
belum merata. dan Standar Pendidikan dimasukkan kembali ke dalam Asosiasi FK, ARSPI,
Profesi Dokter Indonesia SKDI yang akan datang, seperti KKI, LAM-PT.Kes
perlu dievaluasi dalam yang sudah ada pada SKDI 2006.
rangka perubahan SKDI Dalam SKDI 2006 jelas target
2012 ke SKDI 2017 dokter adalah mampu bekerja di
pelayanan primer.
o Pendekatan pendidikan
kedokteran perlu dimulai
adanya pembahasan
keterlibatan determinan
sosial, selain biomedis. Cara
memberikan pendidikan
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
tidak harus melalui
kurikulum formal, namun
dapat membentuk karakter
mahasiswa yang inovatif,
kreatif dan kritis terhadap
kondisi yang dihadapinya.
o Isu kesehatan yang menjadi
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

target nasional dan global,


seperti:
- Infant mortality rate
- Mother mortality rate
Perlu ditekankan kepada
mahasiswa sebagai target
pelayanan kesehatan
o Tema etika, hukum dan
humanity perlu dimasukkan
di setiap modul, terutama

12
pada tahap profesi dan
pendidikan dokter spesialis
o Pendekatan pendidikan
melibatkan determinan
sosial, selain dari biomedis
o Biomedis diperjelas
kompetensinya pada SPPD,
sehingga dosen biomedis
pun menjadi prioritas bagi
institusi pendidikan
o Medical enterpreunership
perlu diperkenalkan
walaupun tidak sebagai
modul khusus
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI

2. Perlu adanya kewenangan


kompetensi dan kewenangan
pelayanan yang tinggi bagi
dokter. Jika pada suatu wilayah
tidak memiliki spesialis sesuai
kebutuhan masyarakat di
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

wilayah tersebut, dokter dapat


diberikan kompetensi tambahan
untuk dilimpahkan kewenangan
berpraktik dari dokter spesialis
terhadap kebutuhan tersebut.
Contoh yang dapat dilatihkan
kepada dokter adalah hiperbarik
pada spesialis Kelautan

Saat ini yang sudah memberikan

13
kewenangan lebih luas terhadap
dokter saat ini adalah Spesialis
Kulit, sampai 70% dengan level
kompetensi 4A.
 Perlu ditingkatkan peranan
dari cabang IDI untuk
masukan pelayanan primer di
setiap daerah, karena dapat
berbeda  pemetaan
kompetensi.
 Pengkajian kompetensi SKDI
2012 dilakukan dengan data
kondisi masalah kesehatan
saat ini (sumber BPJS)
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
3. Perkembangan teknologi
informasi:
- Bagi pelayanan:
Informasi masalah kesehatan
dan pengelolaannya dapat
diberikan dengan lebih
mudah dan lebih cepat,
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

seperti perkembangan
telekonferens, apps
kesehatan, dsb
- Bagi pendidikan:
Peningkatan kualitas FK
dapat diatasi dengan
teknologi.
o Teknologi metode
pembelajaran dapat
memberikan efisiensi bagi

14
kebutuhan SDM dosen,
seperti laboratorium saat
ini berkembang dengan
simulasi  jumlah dosen
tidak perlu banyak dan
tidak dibatasi dengan
waktu.
o Online learning untuk
belajar jarak jauh dan
Dari 83 Fakultas aksesnya sangat banyak.
Kedokteran di Indonesia - IT digunakan sebagai media
yang terdiri dari 35 FK pembelajaran yang inti
negeri dan 48 FK swasta, pendidikan kedokteran tetap
memiliki: pada NURTURING. Teknologi
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
1. Sistem penerimaan digunakan untuk
mahasiswa baru masih mengefektifkan kontak
rentan terhadap dosen dan mahasiswa,
penerimaan yang tidak seperti memberikan bahan
prosedural, sehingga diskusi dan tugas secara
kualitas dapat online sebelum pertemuan
menurun, yang sehingga saat pertemuan
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

mampu pendanaan, digunakan untuk diskusi


namun tidak mampu interaktif. Baik mahasiswa
kognitifnya, memiliki maupun dosennya perlu
peluang lebih besar memperdalam penguasaan
untuk menurunnya materi yang akan dibahas.
kualitas mahasiswa. 4. Perlu diperhitungkan waktu
2. Mekanisme pelaksanaan pendidikan
pengawasan berdasarkan jumlah kompetensi
penerimaan yang diberikan bagi dokter
mahasiswa baru

15
fakultas kedokteran - Perlu direkomendasikan
swasta tidak ada sistem penerimaan dan
3. Penerapan kurikulum administrasi institusi untuk
yang berbeda, saat ini mencegah tindakan yang
ada yang kembali tidak etis
menggunakan metode
pembelajaran kuliah
tatap muka terutama
untuk keilmuan dasar.
4. Tidak ada kejelasan
bagi pembelajaran
keilmuan dasar dan
farmakologi karena
standar yang perlu
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
diajarkan kurang jelas
dalam SKDI.
5. Jumlah dosen pada FK - Metode pendidikan
belum optimal, banyak pelaksanaan Kurikulum
FK baru yang belum Berbasis Kompetensi perlu
meminjam dosen dari ditinjau kembali, sebaiknya
pengampunya. dengan metode hybrid yang
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

6. Kriteria akreditasi mungkin lebih tepat untuk


institusi pendidikan pendidikan di Indonesia.
kedokteran cukup SPICES pada buku SPPD,
dengan terakreditasi disesuaikan implementasinya
dan tidak terakreditasi dengan kondisi Indonesia
 Syarat pendirian prodi
yang ada di KKI berbeda
dengan yang disyaratkan
DIKTI.

16
 Hasil pendidikan:
1) Sertifikat profesi >< Perlu dilakukan pemetaan dan
ijazah (oleh institusi pemenuhan kebutuhan dosen di FK
pendidikan)
Perlu sinkronisasi persyaratan
pendirian prodi dengan
Kemristekdikti

02. Mutu lulusan baru pendidikan  Pembukaan FK tidak  Melakukan pengawasan Kemenristekdikti,
kedokteran dasar yang masih seluruhnya mengikuti terhadap FK baru IDI/Kolegium,
tidak merata dan tidak siap pakai standar dan prosedur yang Asosiasi FK, KKI,
baku yang telah  Akreditasi pendidikan ARSI, LAM-PT.Kes
ditetapkan kedokteran cukup dengan
 Akreditasi A, B dan C terakreditasi dan tidak
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
membuat kualitas terakreditasi, Untuk
pendidikan sulit intervensi pendirian FK baru
karena terlalu besar akreditasinya sesuai dengan
perbedaan nya kategori A, B, C
03. UKMPPD  Masih ada retaker yang  Pertanyaan ujian disesuaikan Kemenristekdikti,
mengikuti exit exam dan dengan materi yang diberikan IDI/Kolegium,
sudah melewati masa dalam pembelajaran Asosiasi FK, KKI,
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

studi namun belum lulus  Dikembangkan buku ajar yang ARSI, LAM-PT.Kes
walaupun telah dilakukan baku untuk acuan ujian
bimbingan khusus.  Perlu ditingkatkan mutu CBT dan
 Dari yang belum lulus ini OSCE
banyak juga yang
melakukan praktik.
04. Kolegium Dokter Indonesia  KDI masih perlu  Sudah ada keputusan saat pleno PB IDI – MKKI –
ditindaklanjuti diperluas tanggal 25 Oktober Kolegium
2017 dan penyelesaian dari MKKI

17
dalam waktu 2 minggu ke depan
05. Program internship dan karir  Internship pengelolaan  Perlu adanya sinkronisasi antara Kemenristekdikti,
lulusan dokter yang belum jelas programnya belum jelas PB IDI, Kemenkes, Kemenkes, KIDI,
standar pelaksanaan Kemenristekdikti, Kemendagri, IDI/Kolegium, KKI,
prosesnya. Pemerintah Daerah dan mungkin PERSI, Adinkes, BPJS
Penyelenggaraannya di juga dengan BPJS terkait Kesehatan
tiap tempat berbeda-beda distribusi dokter dengan
tergantung pada tempat mengedepankan:
pelaksanaannya. - Rasio penyebaran dokter
 Karir dokter setelah lulus berdasarkan kepadatan dan
saat ini lebih tidak jelas jumlah penduduk serta
dibandingkan dulu jumlah kebutuhan dokter.
sehingga jika ditempatkan - Kesiapan tenaga dokter
di tempat terpencil tidak terhadap situasi daerah
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
ada kenyamanan bekerja. penempatan.
 Dokter internsip bekerja - Jaminan pendapatan hidup
dengan standar hidup layak, jaminan kesehatan,
yang belum layak. akses komunikasi, dll
- Tunjangan daerah
berdasarkan tingkat ke-
ekonomian daerah sehingga
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

diberikan tunjangan
tambahan
- Penempatan dokter pasca
internsip di atur dalam
peraturan KIDI.

 Distribusi dokter tidak  Perlu direkomendasikan


merata di setiap provinsi. penyelenggaraan beasiswa
Dokter dapat berpraktik di terutama beasiswa daerah untuk

18
3 tempat sehingga menjadi dokter.
membuat perhitungan
kebutuhan sulit
diidentifikasi dengan jelas.
06. KIDI  Ketua KIDI ditetapkan  IDI menyurat resmi untuk Catatan rapat 12
Kemkes adalah perawat  penyelenggaraan internsip yang Okt 2017:
jenjang pendidikannya baik, maka KIDI perlu dipimpin Kapusrengun = KIDI.
tidak memahami oleh orang yang berlatar Kita tidak masukkan
pendidikan dokter, lalu pendidikan dokter sebagai isu, karena
mengatur internship sebaiknya kita tidak
memperuncing
kontradiksi posisi idi
dan kemenkes.
Posisi ini terkait
dengan anggaran
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
profesi.

Sebaiknya masuk
dalam kegiatan
eksternal
07. Jenjang pendidikan dokter  Jenjang KKNI untuk  Jika melihat bidang lain, seperti
pendidikan dokter Psikologi, pendidikan Master saat
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

berbeda antara perkonsil ini sekaligus diakui sebagai


dan KKNI dari profesi. SKS yang dipenuhi untuk
Kemristekdikti. itu minimal 40 SKS, dan itu dapat
 KKNI dokter masih dipenuhi dan diakui, sedangkan
dianggap level 7 oleh dokter yang memiliki 56 SKS
Kemristekdikti tidak diakui sekaligus sebagai
Master. Jika tesis menjadi syarat
untuk Master, pendidikan ini
hanya tinggal ditambahkan tugas

19
tesis tersebut. Dokter memang
memiliki kewajiban untuk
meneliti. Hal ini akan menjadikan
posisi KKNI dokter naik.
 Mulai melaksanakan Perkonsil no
12 tahun 2013 tentang
Penerapan KKNI dalam
pendidikan kedokteran telah
menyatakan bahwa dokter
setara dengan KKNI 8, namun
pada Perpres RI no 8 tahun 2012,
berbeda dengan Perkonsil,
sehingga saat ini profesi dokter
termasuk dalam KKNI 7 (pasal 5).
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
 Antisipasi ini dapat
meningkatkan motivasi dokter
untuk meneliti, dengan adanya
Master Terapan (KKNI 8) yang
dapat dinamakan sebagai Master
Medik, selanjutnya Doktor
Medik. Sedangkan Master,
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

selanjutnya Doktor berdasarkan


bidang ilmu dengan gelar yang
universal yaitu PhD.
 Masukan terhadap jenjang
pendidikan dimasukkan juga ke
dalam SPPDI yang sudah diakui
BSNP, karena ini akan segera
dikeluarkan oleh DIKTI.
 Jenjang pendidikan ini harus

20
mempertimbangkan kualitas
institusi pelaksana
pendidikannya. Sebaiknya
pelaksanaannya dilaksanakan
bertahap
08. Adaptasi WNI lulusan FK luar  Lulusan FK LN yang di  Perlu ada usulan revisi perkonsil KDI, KKI, AIPKI
negeri bawah standar bagi penyetaraan dan adaptasi
 Peserta adaptasi memilih  Yang ikut program adalah lulusan
FK tertentu yang penuh pendidikan profesi dokter
 Placement test adaptasi
dilakukan oleh panel ahli
 Meningkatkan proses
penyetaraan ijazah di
Kemenristekdikti dengan
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
mengikutsertakan Organisasi
Profesi Dokter
 Persamaan waktu pelaksanaan
adaptasi antar tiap FK pelaksana
program adaptasi
 FK dari Universitas Luar Negeri
tempat pendidikan dokter WNI
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

lulusan luar negeri perlu


dievaluasi
09. Advokasi untuk penulisan dokter  Dokter ditulis oleh Dikti Advokasi penulisan dokter untuk IDI, Kemenristekdikti
dengan dr. ditulis dengan Dr (D besar dan r
kecil)
10. Akreditasi institusi pendidikan  Jenjang akreditasi A, B dan  Akreditasi dibuat hanya IDI, LamPTKes dan
kedokteran C membuat hasil dari terakreditasi dan tidak Kemristekdikti
kualitas siswa berbeda. terakreditasi
Persentase ketidaklulusan

21
UKMPPD akreditasi C
paling tinggi.
BAB PGME

No PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


1. Pendidikan spesialis dan  Belum semua kolegium yang  Perlu dikembangkan Kolegium/MKKI-IDI,
subspesialis belum memenuhi setuju dengan pembentukan pendidikan subspesialis KKI, DitJen Dikti
kebutuhan masyarakat dari jumlah prodi subspesialis. dengan peningkatan mutu
dan distribusi wilayah fellowship (minimal 1 tahun).
 Perlu dikembangkan program
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

RPL (recognition prior


learning) untuk
 Pemetaan jumlah dokter pengembangan program
spesialis-subspesialis yang subspesialistik.
dibutuhkan untuk masing-  Ditingkatkan peranan dari IDI
masing spesialisasi belum jelas, cabang dan Perhimpunan
sehingga karena variasi cabang untuk memetakan
spesialis banyak, jumlah dan kebutuhan dan kondisi yang
sebaran spesialis yang memang ada saat ini untuk spesialis
dibutuhkan masih belum dan subspesialis berdasarkan

22
memenuhi kebutuhan demografi dan geografi
masyarakat.  Untuk pemerataan
penempatan dokter spesialis
dan subspesialis perlu
peranan dari IDI cabang dan
Perhimpunan cabang
pemetaan kebutuhan sesuai
kondisi yang ada saat ini
 Meningkatkan peranan
kementerian kesehatan untuk
penyediaan beasiswa dengan
bekerja sama dengan prodi
spesialis terkait
No PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
Keterbatasan lahan pendidikan Beberapa usulan pemecahan MKKI-IDI, KKI,
spesialis dgn RS utama pendidikan masalah antara lain: Kemenkes,
sebagai rujukan tersier dan RS a. Penetapan RS Pendidikan Kemendikbud
jejaring pendidikan yang belum harus mempertimbangkan
siap mendidik. sarana, rasio kasus dan
jumlah peserta didik,
b. Penetapan RS Pendidikan
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

disertai upaya penyetaraan


tenaga dosen pendidik klinik
dgn hak & kewajibannya
2 Pelaksanaan MRA masih belum  Belum ada standar 1. Empat kolegium yang sudah Kolegium/MKKI-IDI,
selesai pembahasannya kompetensi yang sama mulai melaksanakan MRA, yaitu Ditjen Dikti, IDI, KKI,
dalam bidang spesialis dan bedah (sudah mulai), obgin, Kemenkes
subspesialistik pada penyakit dalam dan anak
pelaksanaan MRA (masih berproses)

23
 Terdapat sistem pelayanan 2. Definisi MRA perlu melihat
kesehatan yang berbeda kompetensi yang sama antar
dalam bidang spesialis dan negara
subspesialis 3. Semua kolegium segera
 Sistem pendidikan berbeda menyusun standar kompetensi
antar negara: university dan standar pendidikan dalam
based dan hospital based Bahasa Inggris
ASEAN 10 negara yang 4. Tiap kolegium bekerja sama
punya kolegium hanya 5 dengan kolegium sejenis di
negara negara lain agar mendapat
pengakuan global
5. Perlu dikembangkan
No PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
pendidikan subspesialis yang
berupa fellowship training
berdasarkan pelayanan
(hospital-based)

3 Kewenangan antar spesialis yang  Adanya tumpang tindih Pendirian kolegium PGME yang MKKI/Kolegium-IDI
menjadi belum jelas kompetensi antar baru harus mengacu pada
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

perhimpunan Kompendium MKKI 2016

24
BAB CPD

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


1. Persepsi kompetensi yang masih 1. Selama ini penilaian 1. Diusulkan penilaian MPPK, BP2KB PB IDI,
belum sama akreditasi penyelenggaraan penyelenggaraan ditambah IDI
P2KB hanya berdasarkan dengan penilaian kesesuaian Wilayah, IDI cabang
durasi, jenis dengan Standar Kompetensi PDSp, PDPP,
penyelenggaraan, isi dan masing – masing, misalnya PDSm
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

kualitas pembicara PDPP dengan SKDI 2012 level


4, 144 diagnosis. Adapun
PDSp sesuai standar
kompetensi masing – masing.
2. Pembahasan konten P2KB
dibicarakan oleh kolegium
dan harus mendapat
rekomendasi oleh kolegium
pengampu ilmunya

25
2. Masih ada lembaga/ 3. Sosialisasi dan bersurat BP2KB PB IDI, MPPK,
perhimpunan yang kepada MKKI dan PDSp dan
mengeluarkan SKP lembaga/perhimpunan PDPP
eksternal sendiri. terkait agar tertib dalam
pelaksanaan CPD/P2KB di
Indonesia

3. Banyaknya pelatihan 4. A.Penyamaan pemahaman BP2KB PB IDI, PDSp,


praktik layanan tertentu mengenai kompetensi PDPP, PDSm dan
tapi belum diakui. masing-masing dokter. Kolegium
Penyelenggara pelatihan Penyelenggaraan pelatihan
tidak jelas legalitasnya. yang legalitasnya tidak jelas
akan dicari solusi yang
terbaik misalnya dengan
menyurati dan menghimbau
agar pelatihan yang
melibatkan dokter harus
sesuai dengan
perhimpunan/kolegium
pengampu ilmu
B. Pemberian informasi MPPK, BP2KB PB IDI,
kepada pihak berwenang KKI, BP2KB Wil,
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

dalam pengawasan pelatihan Lembaga terkait


tersebut

5. A. Meningkatkan kompetensi
1.Apabila pelatihan
peningkatan kompetensi
4. Kewenangan pelatihan untuk Dokter maka harus
untuk mendapatkan melibatkan dua kolegium
kompetensi oleh PDSp yaitu kolegium/Perhimpunan

26
pengampu ilmu dan
kolegium/Perhimpunan
PDPP yang terkait.
2. Apabila pelatihan untuk
peningkatan kompetensi DSp
maka harus melibatkan
kolegium/Perhimpunan
terkait
B. Mempertahankan kompetensi MPPK, MKKI, BP2KB
1. Dry; Cukup rekomendasi PB IDI,
Kolegium/Perhimpunan
2. Wet: Kerjasama dengan
Kolegium/PDSp pengampu
ilmu
Saat ini hanya pelaksanaan
mempertahankan keilmuan, belum
pada peningkatan kompetensi

Perhimpunan seminat bukan untuk


menambah kompetensi

Bila belum ada pengampu BP2KB PB IDI, PDSp,


keilmuannya, seperti stem cell, maka PDSm, PDPP, IDI Wil,
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

diserahkan kepada PB IDI IDI Cab

5. Biaya yang diambil oleh 6. Aturan pembiayaan oleh PDSp:


PDSp dirasakan A. Rekomendasi: Rp. 0,0 -
memberatkan 1.000.000,-
B. Kerjasama: Rp. 1.000.000-
5.000.000
Perlu dibuat standar biaya yang
wajar dan tidak komersil, tanpa

27
melampirkan besaran biaya

6. Perbedaan presepsi 7.Perlunya standarisasi kriteria


pelatihan yang pelatihan yang dianggap
dianggap memenuhi meningkatkan kompetensi
penambahan
kompetensi
2. Belum semua pelatihan modul 1. Belum semua modul sesuai 1. Solusi: BP2KB PB IDI, KDI,
Dokter di Tingkat Pelayanan Primer yang dibutuhkan sesuai A. Mencari stakeholders bagi PDPP, Kolegium
berhasil dilaksanakan level kompetensi 4 SKDI modul yang telah selesai Pengampu Ilmu,
2012 bagi dokter praktik sampai rencana stakeholders yang
primer. pembiayaan. lain.
B. Mohon komitmen para
penanggungjawab untuk
menyelesaikan pembuatan
modul sampai rencana
pembiayaan. Untuk
mempercepat pembuatan
modul SKDI kompetensi 4A-
4B terutama yang sesuai
dengan BPJS diatasi dengan
membuat gelombang kedua,
ketiga dstnya secara paralel
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

C. Modul dibuat dengan


struktur yang baik, dan
pelatihannya diberikan
sesuai kebutuhan dan
terintegrasi

2. Belum tersedianya sarana 1. Pelaksanaan peningkatan PB IDI, BP2KB PB IDI,


dan prasarana, serta kompetensi dan penyegaran ilmu BP2KB Wilayah
pendanaan yang memadai bagi dokter perlu mendapatkan

28
untuk terlaksananya dukungan lebih besar dari
pelatihan pemerintah
2. Mempercepat pembuatan
training centre oleh PB IDI
3. Perlu keterlibatan IDI Wilayah
atau Cabang dalam pembuatan
training centre bekerjasama
dengan stakeholder terkait
4. IDI bekerja sama dengan training
center yang telah ada
5. Mapping training center yang
ada
6. Modul-modul yang telah
tersertifikasi BPPSDM dapat
digunakan

3. Masa Berlaku KTA, Resertifikasi, 1. Masa berlaku KTA dan 1. Dianjurkan agar masa berlaku PB IDI, KDI
Serkom dan STR Resertifikasi KTA dan resertifikasi sama

2. Masa berlaku Serkom dan 2. Paling lama perbedaan (batas KDI, KKI
STR toleransi keterlambatan) 6 bulan
masa berlaku serkom dan STR,
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

yang digunakan adalah yang


terlama

4. Implementasi P2KB 1. Jumlah SKP yang besar A. 1. Sosialisasi bahwa SKP BP2KB PB IDI
dikumpulkan dari 5 ranah yaitu
ranah pembelajaran, profesi,
pengabdian masyarakat dan
profesi, publikasi ilmiah/ilmiah
popular dan pengembangan ilmu
dan pendidikan

29
2. SKP pembelajaran dapat
dicapai tidak hanya dari
seminar/symposium tapi juga
jurnal on line, pembelajaran jarak
jauh dll
Jumlah nilai SKP prasyarat terlalu
besar diserahkan kembali kepada
kolegium untuk meninjaunya

B. Pengembangan pembelajaran
jarak jauh untuk pemenuhan
kekurangan nilai SKP
2. Kegiatan menejerial tidak 2.Ranah utama dokter adalah untuk
mendapatkan SKP yang melakukan pelayanan kesehatan,
memadai akan tetapi kegiatan menejerial
dihargai dengan 10 SKP/tahun

3. Untuk mendapatkan SKP 3. Tidak perlu banyak mengikuti


terlalu mahal seminar atau symposium berbayar,
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

karena alternative lain adalah jurnal


on line, aktivitas pembelajaran
internal dll

4. Perbedaan daerah misalnya 4.Meningkatkan peranan IDI Cabang


daerah terpencil, tertinggal dalam memfasilitasi sejawat yang
dan perbatasan tinggal di daerah tsb misalnya
stakeholder (Dinkes, RS, Organisasi
profesi lain)

30
5. Perbedaan persepsi 5.Sosialisasi Panduan P2KB tentang
tentang penyelenggara kriteria Penyelenggara P2KB
CPD/P2KB

6. Biaya 6.Sebaiknya seminimal mungkin


seminar/symposium/Pelati
han yang tidak seragam

7. Wacana evaluasi P2KB 7.Masih perlu persiapan matang


secara online
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

KOMISI C
PELAYANAN PROFESI KEDOKTERAN

1. Good (best) Clinical Governance

Dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien di era JKN sangat
diperlukan implementasi tatatakelola (clinical governance) dalam rangka kendali mutu
dan kendali biaya

 IDI segera mengadvokasi pemerintah untuk mengimplementasikan clinical


governance dalam bentuk regulasi, dan membentuk komite clinical Governance di
semua level (Kemenkes, Provinsi, Kab/Kota,Kecamatan, Provider)
 IDI menyusun Panduan Clinical Governance sebagai acuan penerapan
implementasi Clinical Goverment bagi Dokter untuk terlibat dalam implementasi
tata kelola klinis di fasyankes

2. Sistem Remunerasi

Di era JKN menganut sistem pembiayaan Prepayment System dengan sistem INA
CBGs dan Kapitasi

Dengan sistem pembiayaan paket maka pembagian jasa medis yang tepat adalah
dengan sistem REMUNERASI

• IDI mensosialisasikan panduan remunerasi kepada semua anggota dan asosiasi


Faskes (PERSI,ASKLIN,PKFI)
• IDI mendorong agar implementasi panduan remunerasi dokter dilaksanakan di
faskes, termasuk bagi dokter umum, dokter residen dan dokter internship

3. Evaluasi Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional

• IDI melakukan advokasi perbaikan tarif INA CBGS dikawal oleh profesi mengacu
kepada standar pelayanaan kedokteran ( Time driven -activity based costing -
integrated care pathway / TD-ABC-ICP) dan standar profesi serta mengedepankan
keselamatan pasien

31
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

• Tarif INA CBGs tidak berdasarkan kelas RS, tapi diusulkan berdasarkan level
kompetensi (based on competency)
• IDI mengusulkan Tim Kendali Mutu Kendali Biaya tidak dibentuk oleh BPJS dan
seharusnya bersifat independen
• IDI menyusun petunjuk teknis TKMKB agar IDI wilayah dan IDI cabang memiliki
acuan dalam menjalankan tugas dan fungsinya (positioning profesi)
• IDI melakukan advokasi kepada pemerintah tentang disharmonisasi peraturan/
regulasi tentang JKN yang tumpang tindih dan banyak kendala di lapangan termasuk
peran dan fungsi BPJS
• Advokasi amandemen UU SJSN dan Perpres tentang JKN
• IDI perlu melakukan Advokasi ttg kenaikan anggaran JKN ,karena defisit dana JKN
akan menimbulkan penurunan mutu pelayanan kepada masyarakat
• IDI menjelaskan ke pihak BPJS mengenai shared competency agar kompetensi
yang sama dari spesialis yang sama diberlakukan SAMA

4. Penataan Sistem Pelayanan Kesehatan Primer

 IDI mengawal dalam pemerataan kesehatan (redistribusi peserta di FKTP)


 IDI berperan dalam keterlibatan proses kredensial dan distribusi peserta di FKTP
 IDI mendorong agar BPJS meninjau ulang penerapan kompetensi berbasis
komitmen pelayanan (KBK) apakah mampu laksana di FKTP swasata dan Dokter
praktek mandiri?
 Advokasi pemerintah kenaikan nilai kapitasi yang rasional dan sesuai nilai
keekonomian disesuaikan di masing masing wilayah
 IDI harus membuat pedoman penentuan kapitasi sebelum membahas MOU FKTP
dengan BPJS
 IDI perlu mengadvokasi mengenai kualifikasi profesi dokter umum lebih tinggi dari
S1 karena menyangkut besaran poin pembagian jasa pelayanan di puskesmas
dengan melibatkan MPPK dan MKKI (di Perpres KKNI 7, di Dikti KKNI 8). IDI
cabang dan IDI wilayah harus proaktif ke pemda utk menaikkan leveling dokter
 IDI perlu mengadvokasi ke pemda mengenai kemudahan perizinan klinik
 IDI mengawal redistribusi dokter dengan public private partnership
 Perlu diperjelas mengenai kenaikan kapitasi yang dilakukan setiap 2 tahun sekali

32
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

5. Reklasifikasi grouping, coding dan Tarif INA CBGs


 IDI terlibat dalam perbaikan reklasifikasi grouping & coding sesuai kompetensi
spesialistik (perhimpunan spesialis)
 IDI Advokasi perubahan sistem pembiayan INA CBGs ke metode Time Driven
Activity Base Costing Integrated Care Pathway (TD-ABC-ICP)

6. Gratifikasi
 IDI melakukan sosialisasi pedoman teknis gratifikasi kepada seluruh anggota melalui
website dan roadshow termasuk format pelaporan penerimaan gratifikasi
 IDI membina dan mengawasi anggota dalam penerimaan dukungan, donasi,
sponsorship dari industri farmasi
 IDI perlu mempertanyakan pemberlakuan pajak progresif bagi dokter

7. Fraud
 Advokasi kepada pemerintah pemahaman persepsi fraud dan KPK yang dapat
terjadi kepada dokter
 Pembinaan anggota terhadap upaya pencegahan fraud
 Pendampingan anggota yang diduga melakukan fraud

8. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)


• IDI mengusulkan penguatan regulasi dari KKI & Kemenkes RI mobilisasi tenaga
dokter di tingkat ASEAN maupun Asia Pasifik, yang akan dimulai 2018

Meliputi : limited practice, expert visit, education and training, huminatarian, research
• IDI mendorong semua organisasi profesi dan kolegium yang berada di lingkungan
IDI untuk segera melakukan kerjasama (kolaborasi terkait khususnya ,tukar menukar
pengalaman (sharing experiences) dalam upaya saling pengakuan kompetensi
(mutual recognized)

9. Sistem kuota Dokter dan Dokter Spesialis dengan Fasilitas Kesehatan


 Perlu diadakan keseragaman perhitungan jumlah dokter umum dan dokter spesialis
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan jumlah faskes di suatu wilayah
 Perhitungan jumlah dokter perlu diseragamkan oleh IDI untuk menjadi acuan agar
tiap perhimpunan profesi tidak menetapkan sendiri sendiri sehingga terjadi tidak ada
keseragaman antar profesi

33
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

 Dasar penyusunan sistem kuota dokter perlu mempetimbangkan faktor-faktor yang


dinilai :
a. Jenis Spesialis /subspesialis , kualifikasi dan jumlah dokter
b. Jumlah dokter /dokter spesialis yang sudah tersedia di satu wilayah
c. Ketersediaan fasyankes
d. Kondisi geografis (daerah terpencil,remote area)
e. Kebutuhan masyarakat
f. Kelangkaan dokter spesialis di wilayah tersebut dan dibutuhkan faskes &
kebutuhan masyarakat
g. Jumlah penduduk

SELANJUTNYA AKAN DIBAHAS MPPK dengan PERHIMPUNAN & KEMKES

10. Peran IDI dalam pendampingan kontrak kerjasama Dokter dengan faskes/BPJSK

 Pembahasan ruang lingkup yang harus tertuang dalam mou dokter dan faskes
dalam menjalankan praktek kedokteran antara lain hak dokter, jasa medis, tunjangan
profesi, perlindungan dokter.
 Draft MoU dengan BPJS harus dikawal oleh organisasi profesi dan asosiasi faskes
(FKTP)

11. HTA
 Para ahli dari organisasi profesi kedokteran bekerjasama dengan Kemenkes untuk
bersama-sama melakukan penilaian sebelum suatu HTA diterapkan.

12. Kompetensi Tambahan dan Tumpang Tindih Kompetensi


 Prinsip MPPK dalam menyelesaikan tumpang tindih kompetensi adalah tidak saling
meniadakan.
 Untuk mengatasi hal tersebut, hal yang bisa diusulkan adalah share kompetensi.
 Apabila ada kompetensi yang tidak ada /tidak tercantum dalam standar kompetensi
seorang dokter sesuai dengan kualifikasi asal yang telah disahkan oleh Konsil
Kedokteran Indonesia (KKI), maka hal tersebut harus diusulkan ke KKI sebagai
kompetensi tambahan.
Kompetensi tambahan :

34
• Disusun oleh Kolegium pengampu ilmu terkait atau kolaborasi beberapa
Kolegium dan disahkan oleh KKI
• Pemberian Kualifikasi tambahan berdasarkan kompetensi tambahan yang
bertujuan untuk melindungi masyarakat dan perlindungan hukum bagi dokter
• Kolegium dan Perhimpunan Profesi disarankan segera melakukan inventarisasi
Kompetensi Tambahan yang akan diusulkan dengan sekaligus menyusun
Modul/Kurikulum dalam pencapaian “level kompetensi” tertentu.
• Adanya keterkaitan antara kompetensi dan pemberi pelayanan, maka modul
Kompetensi Tambahan ini dibahas pula bersama MPPK dan MKKI serta PDSp
dan Kolegium terkait.
• Modul/Kurikulum kompetensi tambahan diserahkan ke KKI disahkan

13. Aturan-aturan Praktek Kedokteran

• Sudah saatnya kualifikasi performance seorang dokter dinilai, termasuk mengenai


syarat sehat fisik dan mental untuk praktik. Perlu ditetapkan kriteria yang objektif
dan profesional serta tidak melanggar HAM.
• Sejak beberapa Muktamar IDI (Palembang, Makasar), sudah mulai dillakukan
pengaturan terkait pemberian pelayanan praktik kedokteran.
Misalnya : batasan usia praktik, tata cara pemberian rekomendasi bila sudah
berusia lebih dari batasan tersebut. Juga batasan konsultasi per hari,dll.
• MPPK perlu melanjutkan pembuatan kebijakan tentang aturan praktik.
• MPPK diharapkan membuat aturan-aturan yang bersifat generik, sementara PDSp
dan PDPP diharapkan membuat aturan yang lebih spesifik. Hingga saat ini,
aturan-aturan tersebut belum ada.
• Aturan menyangkut fit to work akan dibahas lebih lanjut

14. Internal Organisasi


a. Pengajuan Perhimpunan Baru
Pengajuan PDSp baru

• PDKI :
• Saat ini sedang diproses di MKKI
• Kolegium KIKKI sudah disahkan oleh MKKI

35
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

Pengajuan PDSm baru :

• PERALMUNI
• PERPIMKI
• PERHERI – diserahkan ke IKABI
• PKPI – diminta untuk memperbaiki sesuai persyaratan pengajuan PDSm

b. Pembekuan dan Pembubaran Organisasi


PDSm yang diusulkan untuk dibekukan :

• Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Bedah Tangan (HIPITA)

PDSm yang saat ini dibekukan dan direkomendasikan untuk dibubarkan :

• Himpunan Kemoterapi Antimikroba Indonesia (IMKI)


• Perhimpunan Dokter Seminat Neuroimaging Indonesia (PDSNI)
• Perhimpunan Dokter Farmaseutika Indonesia (PEDFI)

Harus disarankan dibubarkan :

• PAPKI – karena sudah menjadi PDSp dengan “berganti nama” menjadi


PDSParki

15. Internal Organisasi


 IDI perlu melakukan advokasi revisi regulasi pajak progresif bagi dokter
 Mengusulkan MKKI untuk meminta masing-masig kolegium segera menyusun
pengaturan “kompetensi tambahan” untuk recognized-competency
 Advokasi IDI mengenai eksistensi Sp.GK ke PERSI dalam kasus-kasus khusus
 IDI membuat panduan Penataan Sistem Rujukan dan Batasan Emergency

36
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

KOMISI D

Etik, Disiplin dan Hukum

NO. ISSUE YANG DIANGKAT DISKUSI/DINAMIKA RAPAT KESIMPULAN/USULAN


1. KEORGANISASIAN
1. SUMPAH DOKTER 1. SUMPAH DOKTER HARUS  SUMPAH DOKTER
- REVISI SUBSTANSI DIRUBAH MENYESUAIKAN - ADAPTED DARI WMA
DAN PP 26/1960 DENGAN WMA DENGAN SCRINNING
- TATA CARA - SUMPAH NO. 13 TENTANG SESUAI DENGAN
SUMPAH SAYA AKAN MEMPERLAKUKAN KEARIFAN LOKAL KITA
- TATA CARA TS SEPERTI INGIN - SUMPAH NO. 13 TETAP
PENGAWASAN DIPERLAKUKAN DIPERTAHANKAN
PERILAKU YANG - PERUBAHAN DISETUJUI - SUMPAH DILAKUKAN 2
MELANGGAR DENGAN MENGADOP WMA KALI:
SUMPAH DENGAN MODIFIKASI - DIHADAPAN DEKAN
2. BHP2A - SEYOGYANYA SUMPAH - DIHADAPAN
- BAGAIMANA BIAR DOKTER DIKUKUHKAN ORGANISASI PROFESI
DINAMIS DAN DENGAN PERATURAN PER-UU, - MENUGASKAN TIM
PROAKTIF AGAR ADA KESERAGAMAN YANG TERDIRI DARI
- PERLU PERLUASAN - HARUS DIBEDAKAN SUMPAH MKEK, BHP2A UNTUK
OTONOMI DAN DAN JANJI, SUMPAH MENGKAJI DAN
RUANG LINGKUP MENGIKUTI FILOSOFI DAN MENGKLIRKAN
3. PELANGGARAN HARUS MENGIKUTI JANJI SUMPAH DOKTER
ANGGOTA DAN YANG TERUKUR UNTUK MENJADI
HUKUM ORGANISASI - INDEFENDENSI DOKTER KEPUTUSAN PB IDI
- UKURAN HARUS DIPERKUAT DENGAN - SELANJUTNYA
KESALAHAN SUMPAH DOKTER (SESUAI MENGAJUKAN REVISI
ANGGOTA PADA KONTEKS SUMPAH DOKTER PP26/1960
ORGANISASI DAN WMA)  IZIN PRAKTIK DOKTER
PADA PUBLIK - SUMPAH DOKTER UNTUK DIOLAH PB IDI
- MEKANISME MERUPAKAN DOMAIN MKEK DALAM MENENTUKAN
SANKSI DAN - UNTUK PENETAPAN ATURAN DAN MEMAJUKAN SIKAP
BENTUK HUKUM HARUS BERKOORDINASI UNTUK BERTANYA KEPADA
4. HARMONISASI DENGAN KEMENKES KEMKES SIAPA YANG
ATURAN YANG SEKALIGUS SIAP YANG HARUS BERHAK MENGELUARKAN
MENYANGKUT IZIN MENGAMBIL SUMPAH IZIN
PRAKTEK - SELAIN SUMPAH DAN JANJI
5. ORGANISASI PERLU TAMBAHAN FAKTA
BERTANGGUNG INTEGRITAS
JAWAB PADA - PENGAMBILAN ISI WMA
KOMUNIKASI PUBLIK DISESUAIKAN DENGA KONDISI
LOKAL KITA
- APAKAH SUMPAH SEBAGAI
SATU-SATUNYA AMANAH
TERTINGGI, KARENA SPESIALIS
JUGA MELAKUKAN SUMPAH

37
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

- SUMPAH DOKTER
DILAPALKAN KEMBALI
SECRA BERSAMA PADA
EVENT-EVENT PROFESI
(P2KB)
2. BHP2A
 BHP2A DAN BP2KB
MERUPAKAN SUBORDINAT PB
IDI, SEHINGGA BILA MENJADI
MAJELIS TIDAK DALAM
CORBISNIS PB IDI
 TIDAK UNTUK DIPERDEBATKAN
 PEMBELAAN OLEH BHP2A,
BAHKAN TELAH BISA
DILAKUKAN PENDAMPINGAN
PADA PROSES PEMERIKSAAN DI
MKDKI
 MEDIASI DIUTAMAKAN PADA
SEMUA KASUS, BILA MENJADI
KASUS HUKUM BHP2A (PB,
WILAYAH,CABANG) WAJIB
MENCARIKAN KUASA HUKUM
YANG MENGETAHUI HUKUM
KEDOKTERAN
 PENGURUS BHP2A TIDAK BOLEH
BERPROFESI JUGA SEBAGAI
LAWYER KARENA SERING
MENAKUT-NAKUTI DOKTER
(BEBAS DARI KEPENTINGAN
PRIBADI)
 UNTUK MEMPERKUAT BHP2A
WILAYAH/CABANG DIPERLUKAN
PELATIHAN/PERTEMUAN RUTIN
DENGAN PUSAT
 BHP2A MEMPUNYAI HAK
SUARA SELAIN PENDAMPINGAN
DI MKDKI SUPAYA DIRASAKAN
ADANYA PEMBELAAN DARI
BHP2A
 NEGOSIASI LEBIH DIUTAMAKAN
DALAM SENGKETA MEDIK
3. PELANGGARAN ANGGOTA
 TATA CARA PERMINTAAN,
PENGADUAN DAN
PEMBELAAN BHP2A TELAH
ADA DI WEBSITE PB IDI

38
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

4. IZIN PRAKTIK
 DIOLAH PB IDI UNTUK
MENENTUKAN DAN
MEMAJUKAN SIKAP UNTUK
BERTANYA KEPADA KEMKES
SIAPA YANG BERHAK
MENGELUARKAN IZIN
 PERATURAN OTODA
MERUPAKAN LEX SPESIALIS
 PERDA-PERDA ADA SYARAT-
SYARAT YANG TIDAK SERAGAM
TIDAK SESUAI DENGAN
PERMENKES, OLEH KARENA
OTODA LEBIH
MENGEDEPANKAN
PERMENDAGRI DARIPADA
PERMENKES

2. PENGUATAN
KEMANDIRIAN PROFESI 1. KEMANDIRIAN PROFESI DOKTER
1. KEMANDIRIAN YANG TERUSIK OLEH FARMASI, IT
PROFESI DAN BPJS DALAM KENDALI BIAYA
2. KEMANDIRIAN DAN KENDALI MUTU
PEMBIAYAAN 2. LOBBIYING DENGAN KPK,
KEMENKES SUDAH DILAKUKAN
3. MoU DENGAN FARMASI ADA DI
WEBSITE PB IDI, DIBAHAS PADA
KOMISI LAIN
4. BAGAIMANA ORGANISASI PROFESI
MELINDUNGI DAN
MENGADVOKASI ANGGOTANYA
BAHWA DOKTER MEMPUNYAI
KEMANDIRIAN PROFESI
5. ADVOKASI KE PERSI TENTANG
KEMANDIRIAN PROFESI

3. ETIKA DAN DISIPLIN


1. KEBIRI KIMIA 1. GRATIFIKASI; MoU DENGAN  FRAUD HARUS MENJADI
2. GRATIFIKASI FARMASI ADA DI WEBSITE PB IDI, PERHATIAN, IDI PERLU
3. FRAUD DIBAHAS PADA KOMISI LAIN KOMUNIKASI DENGAN
4. KESEWENANGAN 2. KEBIRI KIMIA; IDI TIDAK PERSI
PENEGAK HUKUM DAN MEMPERKENANKAN
MKDKI ANGGOTANYA MENJADI
5. ANGGOTA EKSEKUTOR DAN IDI SUDAH
BERHADAPAN MENGAJUKAN USUL (YANG TIDAK
DENGAN RS DALAM DIAMBIL OLEH PEMERINTAH) :
MENGEJAR PROFIT - TAMBAHAN KURUNGAN
- KERJA SOSIAL TAMBAHAN

39
6. KESENJANGAN 3. FRAUD;
KOMUNIKASI - ADA TAPI BAGAIMANA
DOKTER-PASIEN ORGANISASI MEMANDANG
7. ETIKA ATAS DAN BERSIKAP TERHADAP HAL
TELEMEDISINE INI
- MENURUT PERSI FRAUD
MERUPAKAN KEBOBROKAN
DOKTER
- LAKUKAN KOMUNIKASI
DENGAN PERSI
- KITA HARUS SATU BAHASA,
FRAUD TIDAK BOLEH TERJADI
DENGAN MENGERJAKAN
DENGAN BENAR CLINICAL
PATHWAY DAN PENGISIAN
MEDICAL RECORD
- FRAUD HARUS DIBUKTIKAN
- USULAN TARIF BPJS DIPERBAIKI
DENGAN ADVOKASI KE BPJS
- FRAUD TIDAK ADA PAYUNG
PIDANA DI INDONESIA, BELUM
ADA UNSUR PIDANANYA
4. POSISIONING DOKTER
BERHADAPAN DENGAN RS,
PEMILIK RS YANG MEMPUNYAI
KEKUASAAN YANG BESAR;
- MENGADVOKASI ANGGOTA
- MEMBERDAYAKAN KOMITE
MEDIK, MELAKUKAN
KREDENSIASI SAMPAI ADA
CLINICAL APOINMENT
- SOSIALISASI PERMENKES,
CONTOHNYA PERMENKES
11/2017 TENTANG
KESELAMATAN PASIEN
SEHINGGA DAPAT
MENGHINDARI PELANGGARAN
HUKUM
- PENGUATAN KOMITE MEDIK
- PADA SAAT MEMBERIKAN
REKOMENDASI UNTUK SIP,
HENDAKNYA IDI
MENGADVOKASI
ANGGOTANYA
- DOKTER HARUS
MEMPERHATIKAN ISI KONTRAK
KERJA DENGAN CORPORASI

40
- PERLU DITANAMKAN DOKTER
BEKERJA SESUAI TUPOKSI
MASING-MASING
- SOSIALISASI KEBIJAKAN-
KEBIJAKAN IDI (BUKU KODEKI
DLL) SAMPAI KE IDI CABANG
5. KESENJANGAN KOMUNIKASI
DOKTER-PASIEN :
- MERUPAKAN STANDAR YANG
HARUS DITINGKATKAN
KARENA MERUPAKAN HAL
POKOK (KELEMAHAN DOKTER)
- KOMUNIKASI MERUPAKAN
FAKTOR UTAMA DARI
SENGKETA MEDIK
- INFORMED CONCENT
MERUPAKAN PERJANJIAN
YANG BERIMPLIKASI PIDANA
- KOMUNIKASI YANG BAIK,
SEPERTI MEMBERIKAN
KETERANGAN-KETERANGAN
KEPADA PASIEN SAMPAI
PASIEN MENGERTI
- PERLU PELATIHAN-PELATIHAN
KELOMPOK DILAKUKAN IDI
CABANG DENGAN PANDUAN
DARI PB IDI
- MEMBUAT/MENERBITKAN
BUKU SAKU DAN PERLU
SOSIALISASI BUKU SAKU YANG
SUDAH ADA
- PENYAMPAIAN KEGAGALAN
TINDAKAN, BILA DILAKUKAN
KOMUNIKASI EFEKTIF/JUJUR
MAKA TIDAK AKAN ADA
TUNTUTAN
- PERLU ADANYA SERTIFIKAT
KOMUNIKASI
- KOMUNIKASI EFEKTIF : GOOD
NEWS COMUNICATION
- PERBAIKAN KOMUNIKASI
MERUPAKAN TUGAS IDI ATAU
RS
- PERSI MEMBUAT KEBIJAKAN
PATIEN COMUNICATION
CENTRE

41
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

KOMISI E
Kebijakan Organisasi dan Pembahasan GBPP
POKOK BAHASAN :
1. Prinsip Etik Penelitian Kedokteran yang Melibatkan Subjek Manusia
2. Menjaga Kehormatan Organisasi IDI melalui Penyelenggaraan Muktamar yang Bermartabat
Prinsip Etik Penelitian Kedokteran yang Melibatkan Subjek Manusia
Pendahuluan
1. Untuk mengembangkan ilmu kedokteran dalam rangka meningkatkan kemampuan dan mutu
pelayanan kedokteran, perlu dilakukan penelitian kedokteran yang antara lain menggunakan manusia
sebagai subjek penelitian.
Untuk melaksanakan penelitian kedokteran yang melibatkan manusia/bahan berasal dari manusia
sebagai subjek, perlu disusun suatu pedoman tentang prinsip-prinsip penelitian yang melibatkan
subjek manusia untuk menjamin keselamatan/keamanan perlindungan etik dan hukum baik bagi
subjek penelitian maupun dokter sebagai peneliti.
Untuk penyusunan pedoman ini Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merujuk kepada WMA Declaration of
Helsinki-Ethical Principles for Medical Research Involving Human Subjects, Revisi tahun 2013,
2. Konsisten dengan fungsi IDI maka pedoman ini ditujukan terutama untuk para dokter. IDI mendorong
agar pihak lain yang terlibat dalam penelitian kedokteran yang melibatkan subjek manusia untuk
mengadopsi pedoman ini.
Prinsip Umum
3. Deklarasi Geneva dari World Medical Association mengikat para dokter dengan perkataan “Kesehatan
pasien saya menjadi pertimbangan yang utama” dan Kode Etik Kedokteran Internasional menyatakan
bahwa, “seorang dokter akan melakukan tindakan untuk kepentingan terbaik pasien ketika memberikan
asuhan medis”.
4. Dokter wajib meningkatkan dan menjaga kesehatan, kesejahteraan dan hak-hak pasien, termasuk
mereka yang terlibat dalam penelitian kedokteran. Pengetahuan dan hati nurani dokter didedikasikan
untuk memenuhi kewajiban tersebut.
5. Kemajuan pelayanan kedokteran berdasarkan pada penelitian yang pada akhirnya harus melibatkan
subjek manusia.
6. Tujuan utama penelitian kedokteran yang melibatkan subjek manusia adalah untuk mengerti
penyebab, perkembangan, akibat dari penyakit dan memperbaiki pencegahan, diagnosis serta
intervensi terapeutik (metode, prosedur dan pengobatan). Bahkan intervensi yang terbukti paling baik
pun harus dievaluasi secara berkelanjutan melalui penelitian untuk menjamin keamanan, efektivitas,
efisiensi, akses dan kualitas.
7. Penelitian kedokteran tunduk pada standar etik yang meningkatkan dan menjamin penghormatan
kepada semua subjek manusia dan melindungi kesehatan serta hak-haknya.

42
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

8. Walaupun tujuan penelitian kedokteran adalah untuk menghasilkan pengetahuan baru, namun tidak
boleh diabaikan hak dan kepentingan individu yang menjadi subjek penelitian.
9. Bagi dokter yang terlibat dalam penelitian kedokteran wajib melindungi kehidupan, kesehatan,
martabat, integritas dan hak untuk menentukan nasib sendiri, privasi dan kerahasiaan informasi
pribadi subjek penelitian. Tanggung jawab untuk melindungi subjek penelitian terletak pada dokter
atau tenaga profesional kesehatan lainnya yang terlibat dalam penelitian dan bukan pada subjek
penelitian walaupun mereka telah memberikan persetujuan.
10. Dokter harus mempertimbangkan norma dan standar etik, hukum, dan peraturan untuk penelitian
yang melibatkan subjek manusia di Indonesia serta norma dan standar internasional yang dapat
digunakan. Tidak ada persyaratan etik, hukum atau peraturan nasional / internasional yang dapat
mengurangi atau menghapuskan perlindungan untuk subjek penelitian yang ada pada pedoman ini.
11. Penelitian kedokteran seharusnya dilaksanakan dengan meminimalkan kemungkinan yang merugikan
lingkungan.
12. Penelitian kedokteran yang melibatkan subjek manusia harus dilakukan hanya oleh individu yang
mempunyai etika dan kompetensi yang sesuai. Penelitian pada pasien atau relawan sehat memerlukan
supervisi dari dokter atau tenaga profesional kesehatan dengan kompetensi dan kualifikasi yang sesuai.
13. Kelompok yang tidak terwakili dalam penelitian kedokteran seharusnya diberikan akses yang cukup
memadai untuk berpartisipasi dalam penelitian.
14. Dokter yang menggabungkan penelitian kedokteran dengan asuhan medis hanya boleh melibatkan
pasiennya dalam penelitian hanya sejauh hal ini memberi potensi untuk pencegahan, diagnostik
dan hasil terapi serta bila ia yakin bahwa partisipasinya tidak akan memberikan dampak buruk bagi
kesehatan pasiennya.
15 Kompensasi dan pengobatan yang layak harus diberikan kepada subjek penelitian yang mengalami
kerugian sebagai akibat partisipasinya pada penelitian.
Risiko, Beban dan Manfaat
16. Sebagian besar intervensi pada praktek kedokteran dan penelitian kedokteran mengandung risiko dan
beban.
Penelitian kedokteran dengan subjek manusia hanya boleh dilakukan bila manfaatnya melebihi risiko
dan beban pada subjek penelitian.
17. Semua penelitian kedokteran yang menggunakan subjek manusia harus didahului oleh penilaian yang
seksama terhadap perkiraan risiko dan beban bagi individu / kelompok yang terlibat dibandingkan
dengan manfaatnya yang dapat diduga terhadap mereka dan terhadap individu atau kelompok lain
yang dipengaruhi oleh kondisi dalam penelitian. Tindakan untuk meminimalkan risiko harus diterapkan.
Risiko harus secara berkesinambungan dipantau, dinilai dan didokumentasikan oleh peneliti.
18. Dokter hanya boleh terlibat dalam penelitian yang menggunakan subjek manusia bila mereka yakin
bahwa risiko telah dinilai secara memadai dan dapat dikelola dengan baik.
Bila risiko melebihi potensi manfaat atau bila terdapat hasil definitif yang meyakinkan, maka dokter
harus memutuskan apakah akan melanjutkan, memodifikasi atau segera menghentikan penelitian
tersebut.

43
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

Individu dan Kelompok Rentan


19. Beberapa kelompok dan induvidu sangat rentan dan berpotensi untuk terjadi peningkatan risiko.
Semua kelompok dan individu yang rentan harus mendapat perlindungan yang spesifik.
20. Penelitian kedokteran dengan kelompok rentan hanya dibenarkan bila penelitian tersebut merupakan
respon terhadap kebutuhan kesehatan atau prioritas kelompok tersebut karena penelitian tersebut
tidak dapat dilakukan pada kelompok yang tidak rentan. Sebagai tambahan, kelompok ini harus
mendapat manfaat dari pengetahuan, maupun praktik atau intervensi yang dihasilkan penelitian
tersebut.
Persyaratan Ilmiah dan Protokol Penelitian.
21. Penelitian kedokteran pada subjek manusia harus memenuhi prinsip ilmiah yang berlaku umum,
berdasarkan pada suatu pengetahuan yang menyeluruh dari literatur ilmiah, sumber informasi lain
yang relevan, data laboratorium yang memadai, dan percobaan hewan yang sesuai.
22. Desain dan metode penelitian yang melibatkan subjek manusia harus diuraikan dengan jelas dalam
sebuah protokol penelitian. Protokol penelitian harus berisi pernyataan tentang pertimbangan etik dan
harus menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip pada pedoman ini diterapkan. Protokol harus memuat
informasi mengenai pendanaan, sponsor, afiliasi institusional, potensi konflik kepentingan, insentif
untuk subjek, dan kompensasi bagi subjek yang dirugikan sebagai konsekwensi keikutsertaannya pada
penelitian tersebut. Protokol harus juga menguraikan penatalaksanaan subjek pasca uji klinik.
Komite Etik Penelitian
23. Sebelum penelitian dimulai protokol penelitian harus disampaikan kepada Komite Etik Penelitian
untuk mendapat pertimbangan, komentar, arahan dan persetujuan. Komite tersebut harus transparan
dalam menjalankan fungsinya, harus independen terhadap pengaruh peneliti, sponsor. Ia harus
mempertimbangkan peraturan perundangan setempat serta norma dan standar internasional yang
berlaku. Tidak boleh ada pengurangan ketentuan tentang perlindungan bagi subjek penelitian yang
tercantum pada pedoman ini. Komite tersebut berhak memantau penelitian yang sedang berjalan.
Peneliti memberikan informasi kepada komite tersebut, khususnya tentang kejadian tak diharapkan
yang serius. Tidak ada perubahan pada protokol yang boleh dikerjakan tanpa persetujuan komite.
Setelah penelitian berakhir, peneliti harus menyampaikan laporan akhir penelitian kepada komite
penelitian yang berisikan ringkasan hasil penelitian dan kesimpulan.
Privasi dan Kerahasiaan.
24. Setiap tindakan pencegahan harus dilakukan untuk melindungi privasi dan kerahasiaan informasi
pribadi dari subjek penelitian.
Persetujuan (Informed Consent)
25. Partisipasi oleh individu yang mampu memberikan persetujuan sebagai subjek pada penelitian
kedokteran harus dilakukan secara sukarela. Walaupun wajar untuk berkonsultasi dengan anggota
keluarga atau pemimpin kelompok masyarakat,
26. Pada penelitian kedokteran yang melibatkan subjek manusia yang mampu memberikan persetujuan,
setiap calon subjek harus diberikan informasi secara memadai tentang tujuan, metode, sumber
pendanaan, adanya konflik kepentingan, afiliasi institusional dari peneliti, keuntungan dan potensi

44
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

risiko penelitian tersebut dan hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi, persyaratan pasca
penelitian dan berbagai aspek penelitian yang relevan. Calon subjek harus diberi informasi akan haknya
untuk menolak berpartisipasi atau membatalkan persetujuan untuk berpartisipasi dalam penelitian
setiap saat tanpa perlu memberikan alasan. Perhatian khusus harus diberikan pada informasi spesifik
yang dibutuhkan oleh individu calon subjek serta metode yang digunakan untuk menyampaikan
informasi tersebut.
27. Bila meminta persetujuan untuk berpartisipasi dalam penelitian, dokter harus berhati-hati jika calon
subjek tersebut merupakan seorang yang memiliki ketergantungan hubungan dengan dokter atau
dapat menyetujui di bawah tekanan. Dalam situasi seperti itu persetujuan harus diminta oleh individu
yang tepat yang memenuhi syarat dan tidak mempunyai hubungan sama sekali.
28. Untuk calon subjek penelitian yang tidak mampu memberikan persetujuan , dokter harus meminta
persetujuan dari walinya yang sah. Individu ini tidak boleh diikutsertakan dalam penelitian yang
tidak ada kaitan manfaatnya untuk mereka kecuali dimaksudkan untuk meningkatkan kesehatan dari
kelompok yang diwakili oleh calon subjek tersebut, penelitian tidak dapat dilakukan pada orang-orang
yang mampu memberikan persetujuan, dan penelitian hanya memberikan risiko dan beban minimal.
29. Bila calon subjek yang benar-benar tidak mampu memberi persetujuan secara tertulis tetapi mampu
menyetujui dengan cara lain misalnya dengan bahasa isyarat, maka dokter harus menggunakan
persetujuan tersebut sebagai tambahan dari persetujuan tertulis oleh wali yang sah.
Penolakan calon subjek harus dihormati.
30. Penelitian yang melibatkan calon subjek yang secara fisik atau mental tidak mampu memberi
persetujuan, misalnya pasien yang tidak sadar, hanya dapat dilakukan bila kondisi fisik atau mental
yang mencegahnya memberi persetujuan merupakan karakteristik yang dibutuhkan dari kelompok
yang di teliti. Dalam keadaan seperti ini dokter harus mendapatkan persetujuan dari wali yang sah. Bila
tidak tersedia wali yang sah dan bila penelitian tidak bisa ditunda, penelitian dapat dilakukan tanpa
persetujuan dengan melengkapi alasan spesifik untuk mengikut sertakan subjek dengan kondisi yang
membuatnya tidak mampu memberikan persetujuan yang dinyatakan dalam protokol penelitian dan
penelitian tsb telah disetujui oleh Komite Etik Penelitian. Persetujuan untuk tetap dalam penelitian
harus didapat sesegera mungkin dari subjek atau wali yang sah.
31. Dokter harus menjelaskan secara menyeluruh kepada pasien tentang aspek perawatannya yang
berhubungan dengan penelitian. Penolakan pasien untuk berpartisipasi atau keputusan pasien untuk
menarik diri dari penelitian tidak boleh mempengaruhi hubungan dokter-pasien.
32. Untuk penelitian kedokteran menggunakan materi atau data dari manusia, seperti penelitian terhadap
materi atau data yang terdapat di bank jaringan (bio-bank) atau tempat penyimpanan serupa, dokter
harus mencari persetujuan untuk mengumpulkan, menyimpan dan menggunakan kembali. Mungkin
ada situasi khusus dimana persetujuan tidak mungkin atau tidak praktis didapat untuk penelitian
seperti itu. Pada situasi seperti itu penelitian hanya dapat dilakukan setelah ada pertimbangan dan
persetujuan dari Komite Etik Penelitian.

45
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

Penggunaan Plasebo
33. Manfaat, risiko, beban dan efektivitas dari sebuah intervensi baru harus diuji terhadap intervensi yang
sudah terbukti paling baik, kecuali untuk keadaan sebagai berikut :
Bila tidak ada intervensi yang sudah terbukti, penggunaan plasebo atau tanpa intervensi dapat diterima;
atau Bila untuk alasan ilmiah penggunaan intervensi apapun yang kurang efektif penggunaan plasebo,
atau tidak menggunakan intervensi diperlukan untuk menentukan efektivitas atau keamanan sebuah
intervensi. Pasien yang menerima intervensi apapun yang kurang efektif daripada yang terbukti paling
baik, plasebo, atau tanpa intervensi tidak akan menerima risiko tambahan dari bahaya yang serius
atau menetap, sebagai hasil dari tidak menerima intervensi yang terbukti paling baik. Perhatian khusus
harus dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan opsi ini.
Ketentuan/persyaratan pasca penelitian
34. Sebelum uji klinik dilakukan, sponsor, peneliti dan pemerintah harus membuat ketentuan untuk
memberi akses pasca penelitian bagi semua subjek penelitian yang masih memerlukan intervensi yang
diidentifikasi bermanfaat dalam penelitian. Informasi ini harus juga dibuka kepada subjek penelitian
selama proses memperoleh persetujuan .
Registrasi, Publikasi dan Diseminasi Hasil Penelitian
35. Setiap penelitian yang melibatkan subjek manusia harus diregistrasi dalam database yang dapat
diakses publik sebelum merekrut subjek pertama.
36. Peneliti, penulis, sponsor, editor dan penerbit semuanya wajib mentaati etik terhadap publikasi dan
diseminasi hasil penelitian.
Peneliti mempunyai kewajiban untuk menyediakan bagi publik hasil penelitian terhadap subjek
manusia dan bertanggungjawab untuk kelengkapan dan keakuratan dari laporannya. Semua pihak
harus mentaati pedoman etik pelaporan. Hasil yang negatif atau tidak meyakinkan maupun hasil
yang positif harus dipublikasi atau tersedia bagi publik. Sumber dana, hubungan institusional dan
pertentangan kepentingan / minat harus dinyatakan dalam publikasi. Laporan penelitian yang tidak
sesuai dengan prinsip dari Deklarasi ini tidak boleh diterima untuk dipublikasi.
Intervensi yang Tidak Terbukti dalam Praktik Klinis
37. Dalam mengobati individu pasien, bila tidak ada intervensi yang telah terbukti atau intervensi lain tidak
efektif lagi, maka dokter setelah meminta nasehat ahli, dengan persetujuan dari pasien atau walinya
yang sah, dapat menggunakan intervensi yang belum terbukti, bila dalam penilaian dokter pengobatan
tersebut menawarkan harapan menyelamatkan hidup, mengembalikan kesehatan atau mengurangi
penderitaan. Intervensi ini harus dibuat obyek-penelitian yang didesain untuk mengevaluasi keamanan
dan manfaatnya.
Pada semua kasus, informasi baru harus dicatat, dan bilamana sesuai, disediakan untuk publik.
Prosedur untuk pelaksanaan hal tersebut harus di buat oleh institusi pelayanan yang berwenang dan
untuk menghindarkan penyalahgunaan.
KEPPKN (Komisi Etik Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nasional)
CIOMS (Council For International Organization Of Medical Sciences)

46
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

Menjaga Kehormatan Organisasi IDI


Melalui Penyelenggaraan Muktamar yang Bermartabat
Komisi E Rakernas IDI (24 Oktober 2017)
I. PENDAHULUAN
Profesi kedokteran adalah profesi luhur yaitu profesi yang menempatkan kepentingan pasien diatas
kepentingannya sendiri (altruistik) dan melaksanakan tugasnya semata-mata untuk kepentingan
terbaik pasien.
IDI adalah organisasi yang anggotanya berprofesi luhur, dan salah satu tujuannya untuk meningkatkan
harkat, martabat dan kehormatan diri dan profesi kedokteran.
Dalam berkegiatan di organisasi IDI, anggota terutama pengurus, seharusnya dapat menerapkan
perilaku profesional antara lain menghormati pendapat oranglain, mementingkan kepentingan
organisasi diatas kepentingan pribadi atau kelompoknya, berkomunikasi yang efektif dan santun,
beritegritas dan bertanggungjawab.
II. Peristiwa pada Muktamar IDI 2015
• Berita di media masa, berita dan video di medsos.
• Atmosfir yang tegang, tidak kondusif, tiada kesewajaran dan kesantunan
• Terjadi kericuhan memperebutkan mikrofon
• Suasana tidak kondusif pada sidang pertanggungjawaban ketua, komisi AD/ART dan pemilihan
ketua terpilih.
• Suasana kurang kondusif sudah mulai sejak Muktamar di Malang.

1. Perubahan AD/ART
Permasalahan :
• Perubahan AD/ART selalu terjadi pada setiap muktamar, mungkin terkait kemungkinan
kelompok, diusulkan baru pada saat muktamar sehingga tidak terencana dengan baik.
• Mengakibatkan ketidaksinkronan antara pasal yang dirubah dengan pasal-pasal lainnya dan
adanya perdebatan paanjang yang menghabiskan waktu dan menimbulkan kelelahan yang
menimbulkan suasana emosional.
• Perubahan AD/ART sering terjadi walaupun sudah disusun di Rakernas sebelumnya namun
dirubahnya di Muktamar.
Usulan :
• Perlu disusun naskah akademik AD/ART, setiap perubahan AD/ART harus merujuk pada
naskah akademik tersebut.
• Usulan perubahan AD/ART harus diusulkan oleh jajaran organisasi IDI dan dibahas/disusun
pada Rakernas (1 tahun sebelum Muktamar). Draft perubahan AD/ART disosialisasikan
ke seluruh jajaran organisasi. Usulan perubahan terkait penyesuaian adanya peraturan
perundangan yang baru terbit setelah Rakernas sebelum muktamar dapat diajukan paling

47
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

lambat 1 bulan sebelum muktamar. Mengakomodir pandangan-pandangan dari seluruh


jajaran IDI. Mekanisme usulan perubahan dilakukan per regional/wilayah (menampung
berbagai usulan).
• Komisi AD/ART muktamar bertugas membahas usul perubahan AD/ART yang merupakan
kesepakatan di Rakernas atau membahas usul perubahan yang belum dapat diputuskan
dalam Rakernas.
• AD/ART IDI dan perhimpunan dalam IDI harus ditinjau ulang, agar tujuan, tugas, fungsi,
struktur dan mekanisme kerja IDI dan unit-unit organisasi sesuai dengan statusnya sebagai
organisasi profesi dan sesuai dengan peraturan perundangan.
2. Pemilihan Ketua Terpilih
Permasalahan :
• Calon-calon ketua terpilih ada yang sudah disosialisasikan sebelum muktamar, ada yang
baru muncul saat muktamar.
• Suasana tegang terjadi karena upaya merubah AD/ART untuk kepentingan calon yang
didukungnya.
• Upaya mendukung calon, ada yang disertai bentuk kampanye dengan kegiatan yang tidak
terpuji
• Pembayaran pelunasan iuran anggota on site dapat menimbulkan ketidakpercayaan peserta
• Ada iuran yang dibayarkan hanya sesuai hak suara yang dibutuhkan.
Usulan :
• Iuran anggota sesuai dengan jumlah anggota cabang sudah selesai dilunasi paling lambat 6
bulan sebelum muktamar. Tidak ada pembayaran pada saat muktamar.
• Proses pemilihan ketua terpilih melalui 3 tahap :
a. Usulan bakal calon ketua oleh cabang.
b. Seleksi calon ketua melalui panitia seleksi di pusat (pansel). Hasil seleksi disosialisasikan
ke seluruh jajaran organisasi dan anggota IDI
c. Pemilihan ketua terpilih dilakukan langsung oleh anggota IDI pada hari terakhir
muktamar melalui e-vote.
• Seluruh tahapan proses pemilihan dilaksanakan oleh Komite Pemilihan Ketua Terpilih IDI
sebagai bagian dari panitia pengarah muktamar IDI.
• Perlu disusun sistem pemilihan ketua IDI dan perangkat yang diperlukan serta biaya yang
dibutuhkan antara lain :
- Persyaratan dan pembentukan Komite Pemilihan Ketua IDI (KPKI)
- Persyaratan calon dan pemilih (terkait iuran dan sebagainya)
- Aplikasi yang digunakan
- Kampanye
- Bakal calon telah diusulkan 8 bulan sebelum muktamar

48
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

3. Penusunan materi dan Pengambilan Keputusan


Permasalahan :
• Penguasaan peserta terhadap materi yang dibahas di muktamar tidak optimal karena baru
dipresentasikan pada saat muktamar, sehingga pembahasan berlangsung lama, melewati
batas waktu, melelahkan dan menimbulkan suasana emosional.
• Pengambilan keputusan oleh pimpinan sidang sering tidak dapat tegas karena tidak dapat
mengendalikan para peserta yang berebut ingin bicara tanpa mengindahkan tata tertib
sidang.
• Pembahasan tata tertib muktamar menjadi salah satu penyebab terjadinya perdebatan
panjang yang menimbulkan suasana emosional dan ketidaksantunan para peserta.
Kebijakan :
• Materi muktamar sudah disiapkan dan diedarkan ke semua unit organisasi paling lambat 6
bulan sebelum muktamar.
• Para pimpinan setiap jenis sidang, hendaknya disamping menguasai cara persidangan
(rapat), juga menguasai materi yang akan dibahas di persidangan.
• Tata tertib muktamar dimuat dalam ART sehingga tidak perlu dibahas lagi pada sidang pleno
muktamar,
• Untuk kelancaran sidang muktamar dan rapat-rapat organisasi lainnya sebaiknya ditetapkan
penggunaan metode rapat Robert’s Rules of Order yang juga digunakan oleh organisasi
profesional internasional maupun parlemen. Untuk itu perlu dilakukan pelatihan metode
rapat tersebut di seluruh jajaran organisasi IDI segera setelah Rakernas.

49
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

KOMISI F
REKOMENDASI ORGANISASI

Insanity: doing the same thing


over and over again and expecting
different result.
Albert Einstein

Pembagian topik :
1. Pendidikan Kedokteran
2. Pelayanan Kesehatan
3. JKN
Rekap Pendidikan Kedokteran 2017
JUMLAH FK
AKREDITASI TOTAL
PTN PTS
A 16 4 20 (24,1%)
B 7 21 28 (33,7%)
C 10 25 35 (42,2%)
TOTAL 33 50 83
RATA-RATA LULUSAN PER TAHUN (2014-2016) : 11.000
Rekomendasi 1 : Evaluasi Ulang, Pemerintah bantu PTN
JUMLAH FK
AKREDITASI KETERANGAN
PTN PTS
A 20 20 + ? Dana, Tenaga, Sarana/
B 28 ? Fasilitas?
C 35 ? Tutup/Merger
TOTAL 83 83 83
RATA-RATA LULUSAN PER TAHUN (2014-2016) : 11.000
Rekomendasi 2 : Tidak ada Akreditasi C Baru
AKREDITASI PRODI BARU
A BOLEH BUKA
B BOLEH BUKA
C TIDAK DIBUKA
TOTAL
RATA-RATA LULUSAN PER TAHUN (2014-2016) : 11.000
ALTERNATIF : MORATORIUM

50
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

Rekomendasi 3, 4, 6 dan 7 tentang Sistem Pendidikan yang Berjalan

INPUT PROSES OUTPUT

Rekomendasi 3 : Portofolio Calon MHS FK


Akademik : Long term Assessment : Penulusuran Prestasi Akademik, TOEFL
Non Akademik : Test Psikometrik, Penelusuran Bakat Medis

Rekomendasi 4 : Proses Mendidik Dokter Holistik


Metoda Pendidikan
Proses yang Manusiawi
Proses yang Mengembangkan Dokter Holistik
Proses yang Mengakrabkan Dokter dengan kebutuhan Indonesia

Rekomendasi 5 : Transformasi Pendidikan Kedokteran

Basic PG
Ujian Antri UKMPPD Antri Antri Pendidikan
Med Med Internship spesialis
Educ Educ

4 th 2 th
3-6 bulan 1-2 th
160 SKS 40 SKS

Basic Posgrad
Med SKED Dokter
Educ Ahli

5 th
3 th
180 SKS

51
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

Rekomendasi 6 : Meninjau Lulusan UKRK secara Portofolio Utuh


Prinsip : Setiap dokter berhak meneruskan pendidikannya sesuai dengan yang diinginkannya.
• Sesuai dengan kemampuannya
• Portofolionya menunjang
• Sesuai dengan kebutuhan wilayah di Indonesia

Rekomendasi 7 : Internship sebagai Dignified Medical Training


Intern adalah dokter yang telah melakukan Sumpah Dokter
• Perlu mendapat latihan yang “manusiawi”
• Penghargaan yang layak, perlindungan K3, dan
• Perlindungan hukum yang adekuat

Rekomendasi 8 : Pendidikan Spesialis intik wilayah tertentu

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Perlu didiskusikan kembali tentang


Belum terpenuhinya kebutuhan pendidikan spesialis berbasis RS di
pendidikan beberapa spesialis daerah-daerah tertentu, dibawah
pengampuan institusi pendidikan.

PELAYANAN KESEHATAN
Rekomendasi 9 : Memenuhi Pelayanan DTPK

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Perlu ada model seperti inpres


Pelayanan kesehatan yang (instruksi presiden) dengan imbalan
belum merata yang memadai dan karir yang jelas

Perlu regulasi yang fleksibel bagi


daerah tanpa dokter atau dokter
spesialis

52
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

Rekomendasi 10 : Kembalikan Puskesmas sebagai “Puskesmas”

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Kecenderungan Puskesmas Peninjauan kembali peran puskesmas


menitikberatkan pelayanannya pada sebagai penyelenggara promotif
kuratif preventif

Rekomendasi 11 : Modul Kompetensi Masa Depan

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Perlu penyegaran kembali penanganan


Keraguan akan daya saing dokter masalah-masalah prioritas di bidang
Indonesia di era MEA kesehatan

Rekomendasi 12 : PB IDI membuat SOP SIP

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Kesalahan administrasi pemerintah Perlu Surat Edaran dari PB IDI untuk


daerah dalam pengurusan SIP dapat tertib administrasi

Rekomendasi 13 : Perlunya Kajian Insentif/Remunerasi Regional

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Perlu ada kajian terkait Insentif/


Insentif dokter yang tidak layak remunerasi yang layak

53
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Pemerintah Daerah harus memiliki


Tantangan otonomi daerah kemampuan teknis dan administrasi
yang layak

PENDIDIKAN KEDOKTERAN
Rekomendasi 14 : Kajian Ulang Kapitasi Regional

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Kapitasi belum memperhitungkan Penghitungan Ulang model kapitasi


faktor geografis dari BPJS ke FKTP

Rekomendasi 15 : Kajian Ina CBG Regional yang Transparan

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Peninjauan ulang tarif INA-CBG dengan


Transparansi penyusunan melibatkan lebih banyak stake holder
tarif INA-CBG pelayanan kesehatan

54
HASIL SIDANG ORGANISASI RAKERNAS IDI XXI

Rekomendasi 16 : Independensi dokter sebagai Ahli Medis

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Terkesan kerja dokter dibatasi oleh Nilai-nilai independensi sesuai


BPJS dengan diarahkan mendiagnosis kompetensi perlu disampaikan ke
sesuai kode bukan klinis institusi terkait

Rekomendasi 17 : Memperbaharui Pedoman Jasa Medis

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Pembagian Jasmed JKN Prinsip pembagian Jasmed JKN perlu


dirasa kurang adil didiskusikan

Perlu ada pengawasan tentang


pembagian proporsiJasmed JKN

Perlu peninjauan kembali revisi


Permenkes 21 tahun 2016

Rekomendasi 18 : Memfasilitasi Puskesmas/RSUD menjadi BLUD

Isu/Masalah Usulan/Rekomendasi

Kesulitan Puskesmas dan RS Perlu didorong agar Puskesmas dan RS


Pemerintah non BLUD dalam Pemerintah menjadi BLUD
menggunakan dana JKN

55
56
LAMPIRAN - LAMPIRAN
LAMPIRAN 1

BAHAN SIDANG ORGANISASI


KOMISI A
AD/ART DAN TATA LAKSANA ORGANISASI
LAMPIRAN -LAMPIRAN

POKOK BAHASAN
• Perubahan AD/ART
• Usulan Tata Laksana Organisasi
• Usulan Tata Tertib Muktamar
• Mekanisme Panitia Seleksi

PERUBAHAN AD/ART
AD
• Pasal 6 : penghilangan kata “non Profit”
• Pasal 18 : Penambahan ayat tentang Hirarki Pengambilan Keputusan
• Pasal 20 : Penambahan penjelasan tentang Bendera
• Pasal 21 : Koreksi kalimat
• Pasal 26 : Usulan dihilangkan ayat (1)

ART
• Pasal 2 : Koreksi kalimat tentang anggota
• Pasal 9 ayat (2) : menghilangkan menetapkan tata tertib dan agenda acara muktamar
• Pasal 11 : Penghapusan “Dewan Etik”
• Pasal 13 : Koreksi ayat (3)
• Pasal 14 : Koreksi ayat (3) mengenai MKEK Cabang
• Pasal 17 : Menambahkan kewenangan Rakernas
• Pasal 18 : Koreksi ayat (1) butir g
• Pasal 19 : Koreksi ayat (1) butir d. Pengurus majelis diusulkan ditunjuk oleh Ketua Wilayah
• Pasal 21 : Diusulkan hapus butir b dan j di ayat (1). Koreksi di ayat (2)
• Pasal 22 : Penghapusan ayat (1) huruf b, koreksi ayat (3)
• Pasal 27 : Koreksi ayat (1)
• Pasal 31 : Koreksi ayat (1)
• Pasal 47 : Berubah menjadi Pasal 51. Koreksi ayat (1) dan tambahan ayat (3)
• Pasal 48 : Berubah menjadi Pasal 52. Tambahan ayat (5)
• Pasal 54 : Diganti menjadi Pasal 58

USULAN TATA LAKSANA


1. Peran dan posisi Kolegium
2. Mekanisme pemilihan Ketua Majelis di tingkat Wilayah dan Cabang
3. Diusulkan Pengurus PDSp Cabang menjadi bagian dari Tim KRIP di tingkat Wilayah. Surat dari PDSp
Cabang diusulkan mennjadi “Surat Pengantar RIPD”
4. Menghilangkan rekomendasi pelaksanaan seminar/simposium yang diselenggarakan oleh PDSm
5. Aturan resertifikasi bagi anggota yang SKP-nya kurang

61
LAMPIRAN -LAMPIRAN

USULAN TATA TERTIB MUKTAMAR


1. Komisi Penyelenggara Muktamar (KPM) membuat daftar calon peserta muktamar
2. Pelunasan iuran IDI Cabang/Perhimpunan dan peserta utusan harus selesai ditetapkan minimal 2
(dua) bulan sebelum Muktamar
3. Delegasi di luar Ketua dan Sekretaris ditetapkan berdasarkan E-Vote di tingkat Cabang
4. Aturan bicara : dimintakan pendapat gilir per wilayah. Untuk interupsi, dipersilahkan bicara jika
sudah diperkenankan presidium. Ada batasan waktu bicara
5. Pembahasan draft Muktamar dirangkum untuk hal-hal yang diusulkan/perubahan saja
6. Presidium sidang sudah ditetapkan sebelum persidangan
7. Pimpinan Sidang Komisi harus berasal dari Ad Hoc
8. Tidak ada calon yang baru ditetapkan pada saat Muktamar. Bakal calon telah ditetapkan Pansel.
9. Pemilihan Pimpinan PB IDI diusulkan terdiri dari 5 orang, dengan suara tertinggi menjadi Ketua
Umum, yang lain menjadi Ketua-Ketua Bidang

PANITIA SELEKSI BAKAL CALON KETUA


Definisi PANSEL
Panitia Seleksi yang selanjutnya disebut Pansel adalah panitia yang dibentuk pada semua tingkatan IDI
yang bertugas melakukan seleksi bakal calon Ketua IDI Terpilih untuk tingkat Muktamar, bakal calon
Ketua IDI di tingkat Musyawarah Wilayah dan Musyawarah Cabang.
Pansel terdiri dari :
• 2 senior IDI (Mantan Ketua PB IDI, Senior IDI)
• 1 Akademisi non Pengurus (AIPKI)
• 1 Organisasi Profesi Kesehatan Lain (PDGI)
• 1 non Profesi Kesehatan (Mahkamah Konstitusi/DPR RI/KKI)
• 1 Lembaga Konsumen (YLKI)
• 1 ubsur Pemerintah (KEMENKES)
Untuk Ketua Pansel ditunjuk oleh PB IDI

PANITIA SELEKSI CALON KETUA


Persyaratan Bakal Calon Ketua IDI
1. Daftar riwayat hidup (format terlampir)
2. Pas foto berwama, layar merah dan memakai Jas IDI 4 x 6 (2 lembar)
3. Foto copy KTA IDI yang masih berlaku
4. Foto copy KTP
5. Foto copy STR yang masih berlaku
6. Surat Keterangan sehat dari dokter yang memiliki SIP
7. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Kepolisian setempat
8. Surat atau dokumen yang menerangkan bahwa pernah menjalankan praktik kedokteran minmal 10
(sepuluh) tahun (SIP atau Keterangan rekomendasi IDI setempat)
9. Surat Pemyataan untuk menyediakan waktu dan kesempatan yang cukup untuk melaksanakan tugas
dan tanggung jawab.

62
LAMPIRAN -LAMPIRAN

10. Membuat makalah ringkas minimum 3 halaman dan maksimum 5 halaman kuarto (spasi 1,5, font
time roman 12), dengan tema “Profesionalisme IDI dalam upaya meningkatkan peran IDI untuk
menjaga profesionalisme dokter Indonesia dan meningkatkan mutu praktik kedokteran di Era JKN
dan MEA “ , Makalah dalam bentuk hard copy dan soft copy.
11. Bakal calon diusulkan minimal oleh 5 Cabang dan atau Wilayah dan atau perhimpunan
12. Bersedia mengikuti proses seleksi di Jakarta dengan biaya sendiri.

Kriteria Bakal Calon Ketua IDI


Melalui Keputusan PB IDI No.00120/PB/A.4/02/2016 telah dibentuk Panitia Seleksi Calon Ketua IDI tahun
2018-2021. Salah satu diantara tugas Pansel adalah melakukan uji kepatutan dan kelayakan bakal calon
dengan memperhatikan :
a. Kredibilitas dan integritas bakal calon
b. Komitmen terhadap tugas
c. Kepemimpinan
d. Kerjasama
e. Pemahaman bakal calon terhadap UU No.29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, UU No.20 tahun
2013 tentang Pendidikan Kedokteran, Perkonsil No.4/2011 tentang Disiplin Profesional Dokter dan
Doker Gigi, serta isue-isue di bidang kesehatan, praktik kedokteran, profesionalisme kedokteran dan
Disiplin Profesional Kedokteran.
Sementara itu pasal 59 UUPK No.29/2004, Pasal 4 UU Dikdok No.20/2013 dan Pasal 17 Perkonsil No.3/2011
dalam hal perilaku Anggota IDI mempersyaratkan antara lain sebagai berikut :
a. Bertaqwa kepada Tuhan YME
b. Berkelakuan baik
c. Cakap, jujur, memiliki moral, etika dan integritas yang tinggi serta memiliki reputasi yang baik
Kedua keputusan tersebut menyiratkan bahwa bakal calon anggota perlu memiliki sejumlah aspek tingkah
laku sebagai kriteria menjadi anggota IDI.
Adapun aspek tingkah laku yang dimaksud adalah :
1. Integrita
2. Kredibilitas
3. Kepedulian terhadap sesama (berbuat baik)
4. Kepemimpinan
5. Kemampuan kerjasama
6. Komitmen
7. Mempunyai wawasan luas (nasional dan internasional)
Untuk menjalankan tugasnya Pansel telah memiliki sejumlah data fakta/informasi yang berasal dari
Curriculum Vitae dan Makalah dari bakal calon yang sedikit banyak dapat memberikan gambaran dan
sebagian kriteria tersebut diatas. Sebagian besar lainnya masih perlu diperoleh melalui kegiatan presentasi
makalah dan terutama melalui wawancara.
Berikut ini beberapa gaambaran aspek tingkah laku yang dapat diperoleh melalui :
a. Curriculum Vitae
- Acievement motivation (hasrat untuk berkembang) dapat dicermati melalui macam bidang yang
diikuti dalam pendidikan, jenjang/tingkatan yang dicapai dibidang profesi, termasuk pencapaian

63
LAMPIRAN -LAMPIRAN

karir jabatan/pekerjaan. Variaasi dari bidang yang ditekuni juga dapat menggambarkan aspek ini.
- Keluasan wawasan : secara mudah dapat diduga dari pengalamana yang dilalui, termasuk variasi/
bidang tugasnya.
- Sebagian dari kepemimpinan dapat diduga dari pengalaman pernah jadi Ketua IDI Cabang
atau Pengurus Harian IDI Wilayah atau Perhimpunan dalam jangka waktu tertentu. Mengenai
efektivitasnya, dalam kegiatan ini hanya dapat diperoleh melalui wawancara,
- Sistem nilai yang dianut yang dapat menjadi dasar dari aspek integritas (digali dalam wawancara
dari latar belakang keluarga)
b. Makalah & Presentasi
- Interpersonal sklii dapat secara jelas dinilai dari kegiatan ini melalui sikap dan cara peserta
menyampaikan gagasannya. Perhatian dan kepeduliannya terhadap kepentingan orang lain dapat
tertampil selama presentasi.
- Keluasan wawasan juga dapat dilihat melalui isi tulisan dalam makalah. Acuan yang digunakan atau
variasi contoh nyata dalam tulisan menunjukkan bahwa penulis memiliki kekayaan pengetahuan/
pengalaman yang kaya.
- Komitmen dan kepedulian dapat dinilai dari seberapa dalam atau seberapa serius penulis
melibatkan pemikiran dan perasaannya ke dalam makalah yang diungkapkan.
- Kepemimpinan masih dapat dinilai dari presentasi sebatas kemampuannya mempengaruhi/
meyakinkan audience-nya.
c. Wawancara
Hampir semua aspek tingkah laku dapat dinilai melalui wawancara dengan catatan bahwa macam/jenis
wawancara yang digunakan adalah wawancara fakta. Yang dimaksud dengan wawancara fakta adalah
cara memperoleh fakta/bukti mengenai aspek yang sedang dinilai berdasarkan fakta/bukti nyata dari
pengalaman peserta. Misalnya aspek “Kepemimpinan” dapat diperoleh dengan meyakinkan antara
lain : Pernahkah ia punya pengalaman memimpin? dimana? untuk kelompok apa? apa? kapan? dan
bagaimana keberhasilannya? Dalam hal ini mau tidak mau peserta akan memberikan jawaban yang
sesungguhnya (fakta dirinya). Pertanyaan yang bersifat teoritik atau normatif cenderung mengarah
pada jawaban yang juga bersifat teorik atau normatif.
Data wawancara yang digunakan dalam wawancara dapat bersumber pada CV, makalah dan presentasi.

Catatan : Dokumen ini hanya terbatas untuk anggota Pansel.

64
LAMPIRAN -LAMPIRAN

DRAFT AD HOC A RAKERNAS IDI 2017


Usulan Perubahan AD/ART IDI

AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

ANGGARAN DASAR tidak ada perubahan


IKATAN DOKTER INDONESIA

MUKADDIMAH

Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia telah berhasil merebut
kemerdekaan dari kaum penjajah, maka setiap warga negara berkewajiban mengisi kemerdekaan itu
dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju tercapainya kehidupan rakyat yang sehat,
adil dan makmur.
Dokter Indonesia sebagai warga bangsa yang ikut aktif dalam gerakan dan perjuangan
kemerdekaan, sadar akan hak dan kewajibannya serta peran dan tanggung jawabnya kepada umat
manusia dan bangsa, bertekad memberikan darma baktinya untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam kehidupan keprofesian.

65
Sesuai dengan tujuan umum terbentuknya organisasi Profesi yang mengedepankan
pentingnya independensi dan otonomi profesi, serta mengutamakan kepentingan masyarakat, maka
dalam darma baktinya sebagai salah satu pilar pokok pembangunan kesehatan, dokter Indonesia
perlu meningkatkan profesionalisme dan peran sebagai agen pembaharu (agent of change) dan agen
pembangunan (agent of development) terutama dalam advokasi kesehatan dengan berpegang teguh
pada sumpah dokter dan kode etik kedokteran Indonesia, menuju kehidupan masyarakat yang sehat
dan sejahtera, sebagaimana diamanatkan dalam UUD 45 pasal 28 H ayat (1) yang menyatakan bahwa
setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan
hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
Peran dokter Indonesia tersebut di atas dapat terlaksana dengan jiwa dan semangat
gerakan Boedhi Oetomo pada tahun 1908 serta jiwa dan semangat Persaudaraan Dokter Indonesia
(vereniging van inlandische artsen) yang terwujud sejak 1911, dilanjutkan dengan menggalang
seluruh potensi yang dimiliki dalam satu organisasi. Jiwa dan semangat Boedhi Oetomo dan
Persaudaraan Dokter Indonesia ini telah mengilhami Ikatan Dokter Indonesia lahir, tumbuh dan
berkembang menjadi Organisasi yang memiliki nilai – nilai profesionalisme, integritas etik dan moral,
pengabdian, independen dan kesejawatan untuk melakukan upaya - upaya memajukan, menjaga dan
meningkatkan hargat dan martabat Dokter Indonesia serta menjadi bagian dalam memajukan
kesejahteraaan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia sebagai tujuan dan cita – cita
Ikatan Dokter Indonesia.
Meyakini bahwa tujuan dan cita-cita organisasi hanya dapat dicapai atas petunjuk Tuhan
Yang Maha Esa disertai usaha-usaha teratur, terencana dan penuh kebijakan, digerakkan dengan
pedoman yang berbentuk anggaran dasar maka disusunlah Anggaran Dasar Ikatan Dokter Indonesia
sebagai berikut:

1
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB I tidak ada perubahan


LAMPIRAN -LAMPIRAN

NAMA, WAKTU, DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1
Nama
Organisasi ini bernama Ikatan Dokter Indonesia (The Indonesian Medical Association) disingkat IDI.

Pasal 2 tidak ada perubahan


Waktu

IDI didirikan di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 1950 untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.

Pasal 3 tidak ada perubahan


Tempat kedudukan

Ikatan Dokter Indonesia berkedudukan di Jakarta, Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BAB II tidak ada perubahan


DASAR, ASAS DAN SIFAT
Pasal 4
Dasar

66
IDI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945

Pasal 6 Pasal 6 kata "non profit” sama artinya dengan


Sifat Sifat nirlaba.

IDI adalah organisasi profesi dokter yang non profit bersifat nasional, independen dan nirlaba. IDI adalah organisasi profesi dokter yang non
profit bersifat nasional, independen dan
nirlaba.

BAB III tidak ada perubahan


TUJUAN DAN USAHA
Pasal 7
Tujuan
1. Mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Memadukan segenap potensi dokter di Indonesia, meningkatkan harkat, martabat, dan
kehormatan diri dan profesi kedokteran di Indonesia, mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi kedokteran, dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan rakyat Indonesia menuju
masyarakat sehat dan sejahtera.

2
LAMPIRAN -LAMPIRAN

AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 8 tidak ada perubahan


Usaha

Membina dan mengembangkan kemampuan untuk meningkatkan profesionalisme dan peran sebagai
agen pembaharu (agent of change) terutama dalam advokasi kesehatan, melalui :
1. Memelihara dan membina terlaksananya sumpah dokter dan kode etik kedokteran Indonesia;
2. Meningkatkan mutu pendidikan profesi kedokteran, penelitian dan pengembangan ilmu
kedokteran, serta ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kedokteran;
3. Memperjuangkan dan memelihara kepentingan serta kedudukan dokter di Indonesia sesuai
dengan harkat dan martabat profesi kedokteran;
4. Bermitra dengan semua pihak terkait dalam pengembangan kebijakan kesehatan;
5. Memberdayakan masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatannya;
6. Mengadakan hubungan kerjasama dengan badan-badan lain, pemerintah atau swasta, di
dalam negeri atau di luar negeri yang mempunyai tujuan yang sama atau selaras;
7. Melaksanakan usaha-usaha untuk kesejahteraan anggota;
8. Melaksanakan usaha lain yang berguna untuk mencapai tujuan sepanjang tidak bertentangan
dengan sifat dan dasar organisasi.

67
BAB IV tidak ada perubahan Penegasan kembali berdasarkan UU Pradok,
STATUS, FUNGSI DAN PERAN didukung UU Nakes (meski tidak mengatur
Pasal 9 tenaga medis) dimana disebutkan satu
Status profesi satu organisasi profesi.
1. Ikatan Dokter Indonesia merupakan satu-satunya organisasi profesi kedokterandi Indonesia.
2. Ikatan Dokter Indonesia berbadan hukum Perkumpulan.

Pasal 10
Fungsi

Ikatan Dokter Indonesia berfungsi sebagai pemersatu, pembina dan pemberdaya dokter di Indonesia.

Pasal 11
Peran

Ikatan Dokter Indonesia adalah organisasi yang mendorong peningkatan peran dokter yang meliputi
peran profesional medis, agen pembaharu (agent of change), dan pelaku pembangunan di bidang
kesehatan.

3
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB V
LAMPIRAN -LAMPIRAN

KEANGGOTAAN
Pasal 12
Anggota
Anggota terdiri dari :
1. Anggota Biasa
2. Anggota Luar Biasa

BAB VI
STRUKTUR ORGANISASI
Pasal 13
Kekuasaan
Kekuasaan tertinggi organisasi di tingkat nasional berada pada muktamar, di tingkat provinsi berada
pada musyawarah wilayah, dan di tingkat kabupaten/kota berada pada musyawarah cabang.

Pasal 14
Struktur Kepemimpinan

(1)Tingkat Pusat :
a. Terdiri dari Pengurus Besar IDI, Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), Majelis
Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), dan Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian

68
(MPPK),yang masing-masing memiliki wewenang dan tanggung jawab sesuai tugasnya;
b. Dalam melaksanakan tugasnya, Ketua Umum Pengurus Besar IDI mengkoordinasikan secara
terintegrasi dengan Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), Ketua Majelis
Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan
Keprofesian (MPPK) dalam Musyawarah Pimpinan Pusat (MPP);
c. Ketua Umum Pengurus Besar IDI dibantu oleh Majelis - Majelis yang masing-masing memiliki
kewenangan secara internal organisasi dan bertanggung jawab kepada Muktamar;
d. Ketua Umum Pengurus Besar adalah pimpinan Organisasi IDI di tingkat Pusat, yang
melaksanakan kegiatan eksekutif organisasi dan bertanggungjawab untuk dan atas nama
organisasi;
e. Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) adalah salah satu unsur pimpinan di tingkat
Pusat yang berperan dan bertanggungjawab untuk mengatur kegiatan internal organisasi
dalam bidang pendidikan kedokteran;
f. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) adalah salah satu unsur pimpinan di tingkat pusat
bersifat otonom yang berperan dan bertanggungjawab dalam mengatur kegiatan internal
organisasi dalam bidang etika kedokteran;
g. Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK) adalah salah satu unsur pimpinan di
tingkat pusat yang berperan dan bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan kegiatan
internal organisasi dalam bidang pengembangan Pelayanan Keprofesian bermutu;
h. Pengurus Besar membentuk Dewan Pertimbangan dan Dewan Pakar Organisasi.

4
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

(2)Tingkat Wilayah:
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Ketua Pengurus Wilayah adalah Pimpinan Organisasi IDI di tingkat Propinsi berkedudukan di Ibu Kota
Provinsi, yang dibantu oleh MKEK Wilayah dan MPPK Wilayah.

(3) Tingkat Cabang:


KetuaPengurus Cabang adalah Pimpinan Organisasi IDI di tingkat Kabupaten/Kota berkedudukan di
ibu kota Kabupaten/Kota, yang dibantu oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Cabang.

Pasal 15
Badan-Badan
(1) Badan adalah instansi organisasi yang bersifat taktis dan dibentuk untuk menunjang program-
program IDI yang terdiri dari Badan Kelengkapan dan Badan Khusus;
(2) Badan Kelengkapan terdiri dari Biro Hukum, Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A), Badan
Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (BP2KB), Badan Data dan Informasi
(BADIN), Badan Pekerja (BP) dan badan kelengkapan lainnya sesuai dengan kebutuhan
organisasi;

Pasal 16 Kata “otonom” hanya melekat di MKEK.


Majelis - Majelis Apakah perlu ditambahkan juga untuk MKKI
(1) Majelis-majelis : dan MPPK?
a. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) adalah salah satu unsur Pimpinan dalam

69
struktur kepengurusan IDI di setiap tingkatan bersifat otonom yang berperan dan
bertanggung-jawab dalam rangka pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan etika
kedokteran;
b. Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) adalah salah satu unsur Pimpinan dalam
struktur kepengurusan IDI di tingkat pusat yang bertanggung-jawab mengkoordinasi dan
mengatur kolegium-kolegium dalam pelaksanaan pendidikan kedokteran;
c. Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK) adalah salah satu unsur Pimpinan
dalam struktur kepengurusan IDI di tingkat pusat dan wilayah yang bertanggung jawab
untuk pembinaan (pengelolaan) sistem pelayanan kedokteran yang bermutu melalui
berbagai upaya pengembangan keprofesian.

Pasal 17
Keputusan Organisasi

(1) Pengambil Keputusan Organisasi di Tingkat Pusat adalah Pengurus Besar, di Tingkat Wilayah
adalah Pengurus Wilayah, di Tingkat Cabang adalah Pengurus Cabang;
(2) Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang melakukan pengambilan keputusan
melalui suatu mekanisme pengambilan keputusan IDI;
(3) Mekanisme pengambilan keputusan organisasi melalui musyawarah untuk mufakat, bila tidak
tercapai mufakat dapat melalui pemungutan suara;

5
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

(4) Dalam keadaan tertentu Ketua Pengurus IDI sesuai tingkatan dapat mengambil keputusan tanpa
LAMPIRAN -LAMPIRAN

melalui mekanisme pengambilan keputusan IDI sebagaimana pada butir (3), sepanjang tidak
bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta dipertanggung-
jawabkan kepada Muktamar untuk PB IDI, Musyawarah Wilayah untuk IDI Wilayah dan
Musyawarah Cabang untuk IDI Cabang.

Pasal 18 Pasal 18
Hirarki Peraturan dan Keputusan Organisasi Hirarki Pengambilan Keputusan
dan Peraturan
(1)Hirarki Peraturan Organisasi IDI adalah sebagai berikut: (1) Hirarki pengambilan keputusan
a. Anggaran Dasar; organisasi IDI adalah sebagai berikut:
b. Anggaran Rumah Tangga; a. Muktamar IDI
c. Ketetapan Muktamar; b. Rapat Kerja Nasional
d. Peraturan Pengurus Besar; c. Rapat Pleno PB IDI
e. Keputusan Ketua Umum Pengurus Besar; d. Rapat Pleno Majelis
f. Peraturan Majelis; e. Musyawarah Wilayah
g. Keputusan Ketua Majelis; f. Rapat Pleno Wilayah
h. Ketetapan Musyawarah Wilayah; g. Musyawarah Cabang
i. Peraturan Wilayah; h. Rapat Pleno Cabang
j. Keputusan Ketua Wilayah; (2) Hirarki Peraturan Organisasi IDI adalah
k. Ketetapan Musyawarah Cabang; sebagai berikut:

70
l. Peraturan Cabang; a. Ketetapan Muktamar tentang
m. Keputusan Ketua Cabang. Anggaran Dasar;
b. Ketetapan Muktamar tentang
(2)Setiap peraturan organisasi yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Rumah Tangga;
peraturan organisasi yang lebih tinggi; c. Ketetapan Muktamar selain Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga;
(3)Setiap peraturan organisasi yang dibuat oleh instansi dalam lingkungan IDI d. Peraturan Pengurus Besar;
tidak boleh bertentangan dengan peraturan organisasi IDI yang sudah ada. e. Keputusan Ketua Umum Pengurus
Besar;
f. Peraturan Majelis;
g. Keputusan Ketua Majelis;
h. Ketetapan Musyawarah Wilayah;
i. Peraturan Wilayah;
j. Keputusan Ketua Wilayah;
k. Ketetapan Musyawarah Cabang;
l. Peraturan Cabang;
m. Keputusan Ketua Cabang

6
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB VII
LAMPIRAN -LAMPIRAN

LOGO , BENDERA, ATRIBUT, HYMNE DAN MARS


Pasal 19
Logo

(1) Logo IDI terdiri dari dua lingkaran merah diatas dasar putih, di tengah terdapat tulisan IDI,
sebuah tongkat dengan ular melingkar yang kepalanya menghadap ke kanan;
(2) Tulisan IDI, tongkat dan ular berwarna hitam.

Pasal 20 Pasal 20 sebelumnya tidak diatur


Bendera Bendera

(1) Ketentuan Umum Bendera; (1) Bendera IDI yang juga disebut Pataka IDI
(2) Ketentuan Warna Bendera; merupakan perangkat organisasi yang
(3) Keterangan lain Bendera. digunakan pada kegiatan-kegiatan resmi
IDI yang diletakkan mendampingi bendera
Merah Putih;
(2) Warna Bendera/Pataka IDI adalah hijau
berukuran 100 x 150 cm;
(3) Bendera/Pataka IDI terdiri dari tulisan
Sarjana Husada Darma Nirmala berwarna

71
kuning, di bawahnya terdapat 10 buah
berkas sinar berwarna kuning, di
bawahnya terdapat tongkat dengan ular
melingkar yang kepalanya menghadap ke
kanan berwarna kuning, di bawahnya
terdapat lingkaran 13 mata rantai
berwarna kuning, di samping tongkat
terdapat 2 sayap berwarna putih yang
masing-masing terdiri dari 9 lembar bulu
sayap, di bawahnya terdapat pita hitam
dengan tulisan Ikatan Dokter Indonesia,
dan di paling bawah terdapat simbol
bunga teratai berwarna putih dengan
tulisan IDI di atasnya.

7
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 21 Pasal 21
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Atribut Atribut

(1) Atribut adalah merupakan simbol atau ciri-ciri atau tanda-tanda IDI. Dapat berupa badge, (1) Atribut adalah merupakan perlengkapan
pakaian, sticker, pin, jas IDI, rompi, topi, dan lain sebagainya; sebagai identitas organisasi IDI. Dapat
(2) Atribut organisasi harus mencantumkan Logo IDI. berupa badge, pakaian, sticker, pin, jas
IDI, rompi, topi, dan lain sebagainya;
(2) Atribut organisasi harus mencantumkan
Logo IDI.

Pasal 22
Hymne Dan MARS
(1) Hymne organisasi adalah Hymne IDI;
(2) Hymne IDI adalah lagu yang diciptakan oleh Ibu Tuti Nizar;
(3) MARS organisasi adalah MARS IDI;
(4) MARS IDI adalah lagu yang diciptakan oleh Dr.Nazardi Oyong,Sp.A.

BAB VIII
KEUANGAN DAN KEKAYAAN ORGANISASI
Pasal 23
Keuangan Organisasi

72
(1) Keuangan organisasi adalah dana yang dimiliki organisasi dan dimanfaatkan serta dipergunakan
untuk kepentingan kegiatan organisasi;
(2) Keuangan organisasi diperoleh dari :
a. Iuran Anggota;
b. Sumbangan yang sah dan tidak mengikat;
c. Usaha-usaha lain yang sah.
(3) Kepemilikan keuangan organisasi sebagaimana tersebut di atas, atas nama badan hukum Ikatan
Dokter Indonesia.

Pasal 24
Kekayaan Organisasi

(1) Kekayaan Organisasi adalah aset milik organisasi baik yang bergerak maupun tidak bergerak di
semua tingkatan;
(2) Pengurus IDI di setiap tingkatan bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan dan kekayaan
organisasi;
(3) Kepemilikan kekayaan organisasi sebagaimana tersebut diatas, atas nama badan hukum Ikatan
Dokter Indonesia.

8
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB IX
LAMPIRAN -LAMPIRAN

ANGGARAN RUMAH TANGGA


Pasal 25

Hal–hal yang belum diatur di dalam Anggaran Dasar akan diatur di dalam Anggaran Rumah Tangga
yang merupakan pula perincian pelaksanaan Anggaran Dasar.

BAB X BAB X antara ayat (1) dan ayat (2) terdapat


PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PERUBAHAN ANGGARAN DASAR kontradiktif.
Pasal 26 Pasal 26

(1) Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilakukan pada saat sudah dilaksanakannya 3 (tiga) kali (1) Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat
muktamar dari perubahan sebelumnya; dilakukan pada saat sudah
(2) Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilakukan oleh Muktamar atau Muktamar Luar Biasa; dilaksanakannya 3 (tiga) kali muktamar
(3) Rencana perubahan Anggaran Dasar diajukan oleh Pengurus Besar atau Pengurus Cabang; dari perubahan sebelumnya;
(4) Rencana perubahan Anggaran Dasar telah disampaikan kepada Pengurus Besar selambat- (2) Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat
lambatnya tiga bulan sebelum Muktamar atau Muktamar Luar Biasa dan tembusannya dilakukan oleh Muktamar atau Muktamar
disampaikan kepada semua unsur dan badan kelengkapan Ikatan Dokter Indonesia lainnya. Luar Biasa;
(3) Rencana perubahan Anggaran Dasar
diajukan oleh Pengurus Besar atau
Pengurus Cabang;

73
(4) Rencana perubahan Anggaran Dasar telah
disampaikan kepada Pengurus Besar
selambat-lambatnya tiga bulan sebelum
Muktamar atau Muktamar Luar Biasa dan
tembusannya disampaikan kepada semua
unsur dan badan kelengkapan Ikatan
Dokter Indonesia lainnya.

BAB XI
PEMBUBARAN
Pasal 27

Pembubaran organisasi hanya dapat dilakukan oleh Muktamar yang diadakan khusus untuk itu, atas
usulan dari sekurang-kurangnya dua pertiga jumlah cabang.

9
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB XII
LAMPIRAN -LAMPIRAN

ATURAN TAMBAHAN
Pasal 28

(1) Pengurus Besar berwenang menyesuaikan Anggaran Dasar, Ketetapan Muktamar dan Ketentuan
organisasi lainnya yang bertentangan dengan Undang-undang;
(4) Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran Anggaran Dasar, maka penafsiran tersebut diserahkan
ke Pengurus Besar;
(5) Hal–hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini diatur dalam peraturan tersendiri;
(6) Anggaran Dasar Perhimpunan harus menyesuaikan dengan Anggaran Dasar Ikatan Dokter
Indonesia;
(7) Perhimpunan yang belum menyesuaikan Anggaran Dasar Ikatan Dokter Indonesia diberikan
waktu penyesuaian paling lambat sampai kongres perhimpunan yang bersangkutan berikutnya.

BAB XIII Dengan ketentuan ayat (2) seharusnya di hari


PENUTUP akhir Muktamar dihadirkan Notaris untuk
Pasal 29 mengesahkan AD/ART dan Hasil
Muktamar.
(1) Dengan disyahkannya Anggaran Dasar ini, maka Anggaran Dasar sebelumnya dinyatakan tidak
berlaku;
(2) Anggaran Dasar ini disahkan dalam Sidang Pleno Muktamar di MedanPada Tanggal 21 November

74
2015oleh notaris, didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM, dan berlaku sejak tanggal
ditetapkan.

10
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

ANGGARAN RUMAH TANGGA


LAMPIRAN -LAMPIRAN

IKATAN DOKTER INDONESIA

BAB I
DASAR PENYUSUNAN
Pasal 1

Anggaran Rumah Tangga yang selanjutnya disingkat ART disusun berdasarkan Anggaran Dasar Pasal
25.

BAB II BAB II
KEANGGOTAAN KEANGGOTAAN
Pasal 2 Pasal 2
Anggota Anggota

(1) Anggota biasa adalah dokter Warga Negara Indonesia yang teregistrasi sebagai dokter dan (1) Anggota biasa adalah dokter Warga
diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia; Negara Indonesia yang memiliki ijazah
(2) Anggota luar biasa adalah dokter Warga Negara Asing yang teregistrasi sebagai dokter, dan Dokter yang diakui oleh Pemerintah
diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Republik Indonesia serta terdaftar

75
sebagai dokter anggota IDI;
(2) Anggota luar biasa adalah dokter Warga
Negara Asing yang teregistrasi sebagai
dokter, dan diakui oleh pemerintah
Republik Indonesia.

Pasal 3
Tata Cara Penerimaan Anggota

(1) Penerimaan anggota biasa dilakukan oleh pengurus cabang setempat melalui pendaftaran
tertulis dan pernyataan persetujuan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
Ikatan Dokter Indonesia dan Kode Etik Kedokteran Indonesia;
(2) Penerimaan anggota luar biasa dilakukan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia melalui
pendaftaran tertulis dan pernyataan persetujuan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga Ikatan Dokter Indonesia dan Kode Etik Kedokteran Indonesia, setelah memenuhi
persyaratan yang ditetapkan menurut peraturan perundangan tentang tenaga kerja asing
(3) Bila belum ada cabang Ikatan Dokter Indonesia ditempat calon anggota sebagaimana butir (1)
pendaftaran dilakukan melalui pengurus cabang terdekat;
(4) Ketentuan tata cara penerimaan anggota lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana
Organisasi.

11
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 4
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Hak Anggota

(1) Setiap anggota biasa berhak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul atau pertanyaan
dengan lisan, dan atau tertulis kepada pengurus, mengikuti semua kegiatan organisasi dan
memiliki hak memilih dan dipilih;
(2) Setiap anggota luar biasa berhak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul, pertanyaan lisan
atau tertulis kepada pengurus, dan mengikuti semua kegiatan organisasi tetapi tidak
mempunyak hak memilih dan dipilih;
(3) Setiap anggota yang melaksanakan tugas Ikatan Dokter Indonesia dan atau pekerjaan sebagai
dokter berhak mendapat perlindungan dan pembelaan dari organisasi;
(4) Setiap anggota berhak mendapatkan manfaat dari upaya organisasi;
(5) Ketentuan butir (3) dan (4) lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

Pasal 5
Kewajiban Anggota

(1) Anggota biasa dan anggota luar biasa berkewajiban menjunjung tinggi kode etik kedokteran
Indonesia;
(2) Anggota biasa dan anggota luar biasa berkewajiban mematuhi anggaran dasar dan anggaran
rumah tangga, mematuhi peraturan dan keputusan organisasi, serta menjaga dan

76
mempertahankan kehormatan Ikatan Dokter Indonesia;
(3) Anggota biasa dan anggota luar biasa berkewajiban membayariuran anggota.

Pasal 6
Rangkap Anggota dan Rangkap Jabatan

(1) Anggota Ikatan Dokter Indonesia dapat merangkap anggota dan atau merangkap jabatan pada
organisasi di lingkungan Ikatan Dokter Indonesia dan atau organisasi lain sepanjang tidak
mengganggu kinerja organisasi, tidak terdapat konflik kepentingan dan tidak bertentangan
secara fungsional, serta tidak melanggar kehormatan dan atau tradisi luhur kedokteran;
(2) Penilaian terhadap anggota Ikatan Dokter Indonesia yang merangkap anggota dan atau
merangkap jabatan dilakukan oleh Pengurus Ikatan Dokter Indonesia di tiap tingkat masing-
masing;
(3) Hasil Penilaian terhadap anggota berdasarkan Poin 2 dilaporkan/diserahkan kepada Dewan
Pertimbangan untuk Pengurus Besar IDI dan atau unit tertentu yang dibentuksesuai dengan
tingkatan dan diputuskan
(4) Pengaturan rangkap anggota dan rangkap jabatan lebih lanjut diatur dalam Pedoman
Tatalaksana Organisasi.

12
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 7
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Kehilangan Keanggotaan

(1) Anggota dinyatakan kehilangan keanggotaannya karena meninggal dunia, atas permintaan
sendiri, atau diberhentikan;
(2) Pemberhentian atas permintaan sendiri hanya dapat dilakukan dengan pemberitahuan secara
tertulis kepada pengurus cabang sekurang-kurangnya satu bulan sebelumnya.

Pasal 8
Sanksi dan Pembelaan Anggota

(1) Anggota dapat diberikan sanksi berupa teguran tertulis/lisan, pencabutan sementara atau
diberhentikan karena:
a. Bertindak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan
ketentuan-ketentuan lain yang telah ditetapkan Ikatan Dokter Indonesia;
b. Bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik Ikatan Dokter Indonesia.
(2) Anggota yang diberi sanksi berupa berupa teguran tertulis/lisan, pencabutan sementara atau
diberhentikan diberi kesempatan meminta bantuan dalam rangka pembelaan kepada Badan
Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A);
(3) Pemberhentian anggota dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia dilakukan oleh Pengurus
Besar;

77
(4) Anggota yang diskors dan atau diberhentikan dapat melakukan pembelaan dalam forum yang
ditunjuk untuk itu;
(5) Pengaturan sanksi dan pembelaan anggota lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana
Organisasi. .

BAB III
ORGANISASI
A. STRUKTUR KEKUASAAN
Pasal 9
Muktamar

(1)Status :
a. Muktamar merupakan kekuasaan tertinggi organisasi sebagai forum pelaksanaan kedaulatan
seluruh anggota Ikatan Dokter Indonesia;
b. Muktamar adalah musyawarah nasional dokter Indonesia yang diberi nama “Muktamar
Ikatan Dokter Indonesia”;
c. Muktamar diadakan sekali dalam 3 (tiga) tahun;
d. Peserta muktamar adalah peserta utusan cabang, peninjau, dan undangan;
e. Peserta peninjau terdiri dari Pengurus Besar beserta Majelis Kolegium Kedokteran
Indonesia/MKKI, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran/MKEK, Majelis Pengembangan

13
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pelayanan Keprofesian/MPPK serta unsur-unsurnya dan Pengurus Wilayah;


LAMPIRAN -LAMPIRAN

f. Utusan cabang ditunjuk oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia cabang dan diberi mandat
tertulis resmi berdasarkan proses mekanisme rapat pengurus cabang;.
g. Utusan cabang menampung aspirasi dokter-dokter dan aspirasi masyarakat yang
berhubungan dengan bidang kesehatan, untuk disampaikan pada Muktamar Ikatan Dokter
Indonesia;
h. Dalam keadaan luar biasa muktamar dapat diselenggarakan sewaktu-waktu atas inisiatif satu
cabang dan mendapat persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah cabang;
i. Muktamar menyelenggarakan sidang organisasi dan sidang ilmiah;
j. Sidang organisasi muktamar terdiri dari sidang pleno pengesahan muktamar, sidang pleno
muktamar, sidang komisi, dan sidang khusus;
k. Penjelasan butir h lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

(2) Wewenang : Sidang Pleno Pengesahan Muktamar Tata tertib MUktamar telah tercantum di
Sidang Pleno Pengesahan Muktamar a. Menetapkan kuorum; ART PAsal 14, sehingga tidak diperlukan
a. Menetapkan kuorum; b. Menetapkan tata tertib muktamar; dipembahasan di sidang pleno awal
b. Menetapkan tata tertib muktamar; c. Menetapkan agenda acara Muktamar. Jika dirasakan perlu perubahan,
c. Menetapkan agenda acara muktamar; muktamar; dapat dilakukan perubahan pada pasal ART.
d. Menetapkan Presidium Pimpinan Sidang Muktamar d. Menetapkan Presidium Pimpinan Begitupun dengan agenda muktamar,
Sidang Muktamar diusulkan telah ditetapkan saat rakernas.

78
Sidang Pleno Muktamar
a. Menetapkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, pedoman pokok tatalaksana
organisasi, dan kebijakan strategis nasional;
b. Menilai pertanggung-jawaban Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia dan
mendengarkan laporan Ketua MKEK, Ketua MKKI, dan Ketua MPPK;
c. Memilih Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih dan mengukuhkan Ketua Umum Pengurus
Besar terpilih pada muktamar sebelumnya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar;
d. Menerima dan menetapkan hasil-hasil sidang komisi;
e. Menerima hasil-hasil sidang khusus untuk diteruskan kepada Ketua Umum Pengurus Besar;
f. Mengukuhkan Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) yang dipilih oleh sidang
khusus MKKI;
g. Mengukuhkan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK) yang dipilih oleh
sidang khusus MPPK ;
h. Mengukuhkan Ketua Majelis Kehormatan Etika Kedokteran Indonesia (MKEK) yang dipilih
oleh sidang khusus MKEK;
i. Mengukuhkan perubahan nama perhimpunan, perhimpunan baru dan membubarkan
perhimpunan dalam lingkungan Ikatan Dokter Indonesia atas usul sidang komisi;
j. Menetapkan tempat pelaksanaan musyawarah kerja nasional dan muktamar Ikatan Dokter
Indonesia berikutnya yang memenuhi persyaratan;
k. Memberikan tanda kehormatan kepada orang-orang yang berjasa pada organisasi Ikatan

14
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Dokter Indonesia;
LAMPIRAN -LAMPIRAN

l. Dalam hal Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih periode sebelumnya tidak dapat
menjalankan tugas sebagai Ketua Umum Pengurus Besar karena meninggal dunia,
mengundurkan diri, atau dijatuhi pidana yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, maka
muktamar memilih Ketua Umum Pengurus Besar yang baru dan Ketua Umum Pengurus
Besar Terpilih.

Sidang Komisi
a. Membahas materi-materi yang akan ditetapkan dalam sidang pleno;
b. Menyerahkan hasil sidang komisi kepada sidang pleno untuk disahkan sebagai ketetapan
muktamar.

Sidang Khusus
a. Memilih Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), Ketua Majelis Kolegium
Kedokteran Indonesia (MKKI) dan Ketua Majelis Pengembangan Keprofesian (MPPK), untuk
kemudian dikukuhkan sebagai ketua pada Sidang Pleno Muktamar untuk diteruskan dan
dibuat pengesahannya oleh Ketua Umum Pengurus Besar;
b. Menetapkan pedoman-pedoman pokok, kebijakan strategis dan program kerja nasional
majelis-majelis.

Pasal 10

79
Kriteria Ketua IDI

(1) Calon Ketua PB IDI Terpilih, Ketua IDI Wilayah, Ketua IDI Cabang ialah anggota biasa yang
dibuktikan dengan KTA IDI yang masih berlaku;
(2) Menyatakan kesediaannya secara lisan dan terbuka, serta menyampaikan curriculum vitae dan
visi misinya;
(3) Pernah menjadi Pengurus IDI, kecuali cabang yang baru dibentuk;
(4) Tidak sedang dalam permasalahan etika disiplin dan hukum;
(5) Melewati proses penjaringan yang dilakukan oleh tim seleksi Ikatan Dokter Indonesia sesuai
dengan tingkatannya;
(6) Penjelasan butir 5 lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

15
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 11 Pasal 11
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Kriteria Ketua MKEK Kriteria Ketua MKEK

(1) Calon Ketua MKEK Pusat, MKEK Wilayah, dan MKEK Cabang ialah anggota biasa yang dibuktikan (1) Calon Ketua MKEK Pusat, MKEK Wilayah,
dengan KTA IDI yang masih berlaku; dan MKEK Cabang ialah anggota biasa
(2) Menyatakan akan kesediaannya secara lisan dan terbuka, serta menyampaikan curriculum vitae yang dibuktikan dengan KTA IDI yang
dan visi misinya; masih berlaku;
(3) Dipilih dari Pengurus MKEK dan atau Dewan Etika PDSp sesuai tingkatannya; (2) Menyatakan akan kesediaannya secara
(4) Tidak sedang dalam permasalahan etika disiplin dan atau hukum; lisan dan terbuka, serta menyampaikan
(5) Melewati proses penjaringan yang dilakukan oleh tim seleksi Ikatan Dokter Indonesia sesuai curriculum vitae dan visi misinya;
dengan tingkatannya; (3) Dipilih dari Pengurus MKEK dan atau
(6) Penjelasan butir 5 lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi. Dewan Etika PDSp sesuai tingkatannya;
(4) Tidak sedang dalam permasalahan etika
disiplin dan atau hukum;
(5) Melewati proses penjaringan yang
dilakukan oleh tim seleksi Ikatan Dokter
Indonesia sesuai dengan tingkatannya;
(6) Penjelasan butir 5 lebih lanjut diatur
dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

Pasal 12

80
Kriteria Ketua MKKI

(1) Calon Ketua MKKI ialah anggota biasa IDI (yang dibuktikan dengan KTA IDI yang masih berlaku);
(2) Menyatakan akan kesediaannya secara lisan dan terbuka, serta menyampaikan curriculum
vitae dan visi misinya;
(3) Dipilih dari salah satu Ketua atau mantan Ketua Kolegium;
(4) Tidak sedang dalam permasalahan etika disiplin dan hukum;
(5) Penjelasan butir 3 lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

Pasal 13 Koreksi:
Kriteria Ketua MPPK
(3) Dipilih dari anggota IDI yang diusulkan
(1) Calon Ketua MPPK ialah anggota biasa IDI yang dibuktikan dengan KTA IDI yang masih berlaku; Perhimpunan dan MPPK Wilayah untuk
(2) Menyatakan akan kesediaannya secara lisan dan terbuka, serta menyampaikan curriculum di tingkat pusat, sedangkan di tingkat
vitae dan visi misinya; wilayah hanya oleh perhimpunan yang
(3) Dipilih dari anggota IDI yang diusulkan PDSp/PDPP/PDSm/MPPK Wilayah; ada di wilayah tersebut;
(4) Tidak sedang dalam permasalahan etika disiplin dan atau hukum;
(5) Penjelasan butir 3 lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

16
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 14
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Tata Tertib Sidang- Sidang

(1)Sidang Pleno
a. Pengurus Besar adalah penanggung jawab penyelenggaraan muktamar;
b. Muktamar dihadiri oleh utusan, peninjau dan undangan;
c. Jumlah peninjau ditetapkan oleh Pengurus Besar;
d. Utusan cabang memiliki hak bicara dan hak suara;
e. Peninjau hanya memiliki hak bicara;
f. Undangan tidak mempunyai hak bicara dan hak suara;
g. Mekanisme pengambilan keputusan dalam Muktamar dilaksanakan dalam Sidang Pleno;
h. Peserta Muktamar adalah utusan cabang dengan mandat resmi yang mempunyai hak bicara
dan hak suara sedangkan peninjau hanya mempunyai hak bicara;
i. Ketentuan banyaknya suara utusan cabang dalam muktamar menggunakan acuan sebagai
berikut :
1. Sampai dengan 50 anggota biasa : 1 suara
2. Sampai dengan 100 anggota biasa: 2 suara
3. Sampai dengan 300 anggota biasa: 3 suara
4. Sampai dengan 500 anggota biasa: 4 suara
5. Sampai dengan 700 anggota biasa: 5 suara
6. dan seterusnya, setiap tambahan 200 anggota biasa akan memperoleh tambahan 1 suara

81
dengan jumlah maksimal sebanyak 10 suara.
j. Jumlah anggota biasa cabang ditentukan oleh Pengurus Besar berdasarkan iuran anggota yang
dibayarkan oleh Pengurus Cabang;
k. Sidang pengesahan kuorum, pembahasan dan pengesahan agenda acara, tata tertib sidang,
dan pemilihan pimpinan sidang pleno muktamar dipimpin oleh panitia pengarah muktamar;
l. Muktamar dinyatakan sah bila dihadiri oleh 50 ( lima puluh )% tambah 1(satu) jumlah cabang
yang ada.;
m. Apabila butir l tidak terpenuhi maka muktamar diundur paling lama 1x24 jam dan setelah itu
muktamar dianggap sah;.
n. Sidang Pleno dipimpin oleh 3 (tiga) orang presidium yang dipilih dari dan oleh utusan cabang;
o. Setelah selesai laporan pertanggungjawaban Pengurus Besar, maka Pengurus Besar
dinyatakan demisioner.

(2)Sidang Komisi
a. Panitia Adhoc adalah penanggung jawab masing-masing sidang komisi;
b. Sidang komisi dihadiri oleh utusan cabang dan peninjau yang ditetapkan oleh Pimpinan
Sidang Pleno;
c. Utusan cabang memiliki hak bicara dan hak suara;
d. Peninjau hanya memiliki hak bicara;
e. Hasil sidang komisi diajukan dalam sidang pleno untuk ditetapkan;

17
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

f. Sidang Komisi dipimpin oleh 3 (tiga) orang pimpinan yang dipilih 2 dari dan oleh utusan
LAMPIRAN -LAMPIRAN

cabang dan 1 Panitia Adhoc.

(3) Sidang Khusus


a. Presidium Sidang Pleno Muktamar adalah penanggung jawab masing-masing sidang khusus;
b. Sidang khusus terdiri dari Sidang Khusus MKEK, Sidang Khusus MPPK, dan Sidang Khusus
MKKI;
c. Sidang Khusus MKEK dihadiri oleh utusan MKEK Wilayah, peninjau dan undangan yang
ditetapkan oleh Presidium Sidang Pleno.
d. Sidang Khusus MPPK dihadiri oleh Ketua Pengurus Pusat PDPP, PDSp dan PDSm, serta
utusan MPPK Wilayah, peninjau dan undangan yang ditetapkan oleh Presidium Sidang
Pleno.
e. Sidang Khusus MKKI dihadiri oleh utusan Kolegium, peninjau dan undangan yang ditetapkan
oleh Presidium sidang pleno.
f. Masing-masing utusan memiliki hak bicara dan hak suara;
g. Peninjau dan undangan hanya memiliki hak bicara;
h. Hasil sidang khusus diajukan dalam sidang pleno untuk ditetapkan;
i. Sidang Khusus dipimpin oleh 3 (tiga) orang pimpinan yang dipilih dari dan oleh peserta;
j. Hal-hal yang belum diatur dalam tata tertib sidang khusus lebih lanjut diatur dalam
Pedoman Tatalaksana Organisasi.

82
Pasal 15
Musyawarah Wilayah
(1) Status :
a. Musyawarah wilayah yang disingkat dengan Muswil merupakan forum pengambilan
keputusan tertinggi di tingkat wilayah;
b. Muswil adalah musyawarah utusan cabang-cabang dalam satu wilayah;
c. Muswil diadakan sekali dalam 3 (tiga) tahun;
d. Dalam keadaan luar biasa muswil dapat diadakan sewaktu-waktu atas usul atau inisiatif
satu cabang dan mendapat persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga jumlah cabang
yang ada dalam wilayah tersebut;
e. Diantara Muswil pengurus wilayah melaksanakan Rapat kerja Wilayah, yang dimaksudkan
untuk menilai dan kemudian memperbaiki/mengadaptasi pelaksanaan program kerja
Pengurus Wilayah;
f. Penjelasan butir d lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

18
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

(2) Wewenang :
LAMPIRAN -LAMPIRAN

a. Menilai pertanggung-jawaban Ketua Pengurus Wilayah mengenai amanat yang diberikan


oleh Muswil sebelumnya;
b. Menetapkan garis besar program kerja wilayah dengan berpedoman pada hasil-hasil
muktamar;
c. Memilih Ketua Pengurus Wilayah untuk periode berikutnya.

(3) Tata Tertib :


a. Pengurus Wilayah adalah penanggung jawab penyelenggaraan muswil
b. Muswil dihadiri oleh utusan cabang, peninjau, dan undangan;
c. Utusan cabang ditunjuk oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia cabang dan diberi mandat
resmi berdasarkan proses mekanisme rapat pengurus cabang;
d. Peninjau yang terdiri dari utusan cabang dengan mandat resmi sebagai peninjau, Pengurus
Wilayah, majelis-majelis dan unsur-unsurnya, dan Pengurus Besar;
e. Ketentuan banyaknya suara utusan cabang dalam Muswil menggunakan acuan sebagai
berikut :
1. Sampai dengan 50 anggota biasa : 1 suara
2. Sampai dengan 100 anggota biasa: 2 suara
3. Sampai dengan 300 anggota biasa: 3 suara
4. Sampai dengan 500 anggota biasa: 4 suara
5. Sampai dengan 700 anggota biasa: 5 suara

83
6. dan seterusnya, setiap tambahan 200 anggota biasa akan memperoleh tambahan 1
suara dengan jumlah maksimal sebanyak 10 suara.
f. Jumlah anggota biasa cabang ditentukan oleh Pengurus Wilayah berdasarkan iuran anggota
yang dibayarkan ke Pengurus Besar ;
g. Jumlah peninjau dan undangan ditetapkan oleh Pengurus Wilayah;
h. Utusan cabang memiliki hak bicara dan hak suara;
i. Peninjau hanya memiliki hak bicara;
j. Undangan tidak mempunyai hak bicara dan hak suara;
k. Pengambilan keputusan dalam Muswil dilaksanakan dalam Sidang Pleno;
l. Sidang pengesahan kuorum, pembahasan dan pengesahan agenda acara, tata tertib sidang,
dan pemilihan pimpinan sidang pleno muswil dipimpin oleh panitia pengarah muswil;
m. Muswil dinyatakan sah bila dihadiri oleh 50 (lima puluh)% tambah 1(satu) jumlah cabang
yang ada;
n. Butir o tidak terpenuhi maka muswil diundur paling lama 1 x 24 jam dan setelah itu muswil
dianggap sah;
o. Sidang pleno dipimpin oleh tiga orang presidium yang dipilih dari dan oleh utusan cabang;
p. Setelah selesai laporan pertanggungjawaban Pengurus Wilayah, maka Pengurus Wilayah
dinyatakan demisioner;
q. Segera setelah Ketua Pengurus Wilayah terpilih dan Ketua Pengurus Wilayah yang lama
dinyatakan demisioner maka Pengurus Besar menerbitkan Surat Keputusan Pengesahan

19
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Ketua Pengurus Wilayah;


LAMPIRAN -LAMPIRAN

r. Ketua Pengurus Wilayah yang baru segera membentuk kepengurusan selambat-lambatnya


14 hari setelah penerbitan surat keputusan pengesahan ketua pengurus wilayah dan
diajukan ke Pengurus Besar untuk pengesahannya;
s. Butir r telah melewati batas waktu maka Pengurus Besar memberikan peringatan tertulis;
t. 6 (enam) bulan setelah habis masa bakti periode kepengurusan dan telah maksimal 2 (dua)
kali diingatkan secara tertulis dengan selang waktu 1 (satu) bulan untuk segera
mengadakan Muswil tetapi tidak dilaksanakan maka Pengurus Besar segera menunjuk tim
caretaker yang terdiri dari satu orang Pengurus Besar, satu orang dari unsur pengurus
wilayah yang telah kadaluarsa dan satu orang dari unsur pengurus cabang dimana wilayah
tersebut berkedudukan; untuk menyelenggarakan muswil.

Pasal 16
Musyawarah Cabang

(1) Status
a. Musyawarah Cabang yang disingkat dengan Muscab merupakan pengambilan keputusan
tertinggi pada tingkat cabang;
b. Muscab adalah Musyawarah para anggota Ikatan Dokter Indonesia dalam cabang tersebut;
c. Muscab dilaksanakansekali dalam 3 (tiga) tahun;
d. Diantara Muscab, Pengurus Cabang melaksanakan Rapat Kerja Cabang

84
e. Dalam keadaan luar biasa Muscab dapat diadakan sewaktu-waktu atas usul atau inisiatif
tiga orang anggota dan mendapat persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga jumlah
anggota biasa yang ada.

(2) Wewenang :
a. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Cabang mengenai pelaksanaan amanat Muscab;
b. Menetapkan program kerja cabang dengan tetap berpedoman kepada kebijakan
operasional yang telah ditetapkan dalam Muswil dan hasil-hasil Muktamar;
c. Memilih Ketua Pengurus Cabang untuk periode berikutnya.

(3) Tata Tertib :


a. Pengurus Cabang adalah penanggung jawab penyelenggaraan muscab;
b. Muscab dihadiri oleh anggota, peninjau, dan undangan;
c. Anggota adalah semua anggota biasa yang ada di cabang bersangkutan;
d. Peninjau adalah anggota luar biasa, Ikatan Dokter Indonesia;
e. Jumlah peninjau dan undangan ditetapkan oleh Pengurus Cabang;.
f. Anggota memiliki hak bicara dan hak suara;
g. Peninjau memiliki hak bicara;
h. Undangan tidak mempunyai hak bicara dan hak suara;
i. Pengambilan keputusan dalam Muscab dilaksanakan dalam Sidang Pleno;

20
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

j. Banyaknya suara cabang dalam muscab ditentukan jumlah anggota pada cabang yang
LAMPIRAN -LAMPIRAN

bersangkutan;
k. Sidang pengesahan kuorum, pembahasan dan pengesahan agenda acara, tata tertib sidang,
dan pemilihan pimpinan sidang pleno muscab dipimpin oleh panitia pengarah muscab;
l. Sidang muscab dipimpin oleh tiga orang presidium yang dipilih dari anggota dan oleh
anggota;
m. Muscab baru dinyatakan sah bila dihadiri lebih dari 50 (limapuluh) % jumlah anggota dengan
melampirkan bukti pengiriman undangan kepada seluruh anggota;
n. Ayat m tidak terpenuhi maka muscab diundur paling lama 1 x 24 jam dan setelah itu muscab
dianggap sah;
o. Setelah selesai laporan pertanggungjawaban Pengurus Cabang, maka Pengurus Cabang
dinyatakan demisioner;
p. Segera setelah Ketua Pengurus Cabang terpilih, sedangkan Ketua Pengurus Cabang yang
lama dinyatakan demisioner maka Pengurus Wilayah atas nama Pengurus Besar
menerbitkan Surat Keputusan Pengesahan Sementara Ketua Pengurus Cabang Terpilih;
q. Ketua Pengurus Cabang yang baru segera membentuk kepengurusan selambat-lambatnya 14
hari setelah penerbitan surat keputusan pengesahan sementara ketua pengurus cabang dan
diajukan ke Pengurus Besar untuk pengesahannya;
r. Butir q telah melewati batas waktu maka Pengurus Besar memberikan peringatan tertulis
s. 6 (enam) bulan setelah habis masa bakti periode kepengurusan dan telah maksimal 2 (dua)
kali diingatkan secara tertulis dengan selang waktu 1 (satu) bulan untuk segera

85
mengadakan Muscab tetapi tidak dilaksanakan maka Pengurus Besar segera menunjuk tim
caretaker yang terdiri dari satu orang Pengurus Wilayah, satu orang dari unsur pengurus
cabang yang telah kadaluarsa dimana cabang tersebut berkedudukan; untuk
menyelenggarakan muscab.

Pasal 17 (2) Wewenang :


Rapat Kerja Nasional a. Menilai pelaksanaan program kerja
(1) Status : nasional Pengurus Besar Ikatan
a. Rapat Kerja Nasional yang disingkat dengan Rakernas adalah rapat yang dihadiri oleh Dokter Indonesia, menyempurnakan
segenap perangkat organisasi dari tingkat pusat dan tingkat wilayah; dan memperbaikinya untuk
b. Rakernas diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam periode kepengurusan. dilaksanakan pada sisa periode
kepengurusan selanjutnya;
(2) Wewenang : b. Mempersiapkan bahan-bahan
a. Menilai pelaksanaan program kerja nasional Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, muktamar yang akan datang.
menyempurnakan dan memperbaikinya untuk dilaksanakan pada sisa periode kepengurusan c. Menetapkan aturan pemilihan Ketua
selanjutnya; Umum/Ketua Terpilih PB IDI, Panitia
b. Mempersiapkan bahan-bahan muktamar yang akan datang. Seleksi, dan Presidium Sidang
Muktamar.
(3) Tata Tertib : d. Memutuskan beberapa kebijakan
a. Pengurus Besar adalah penanggung-jawab penyelenggaraan Rakernas; organisasi yang dirasakan mendesak

21
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

b. Rakernas dihadiri oleh seluruh perangkat organisasi yang terdiri dari Pengurus Besar serta tidak bertentangan dengan
LAMPIRAN -LAMPIRAN

termasuk Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia beserta ketua-ketua seluruh unsur- peraturan perundang-undangan.
unsurnya, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran beserta ketua-ketua seluruh unsur-unsurnya,
Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian beserta ketua-ketua seluruh unsur-unsurnya,
Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang dimana Rakernas dilaksanakan, dan undangan dari
Pengurus Besar;
c. Sidang-sidang Rakernas terdiri dari Sidang organisasi dan sidang ilmiah;
d. Sidang organisasi terdiri dari sidang pleno dan sidang komisi;
e. Sidang Pleno dipimpin oleh Ketua Umum Pengurus Besar.

B. STRUKTUR KEPEMIMPINAN g. Dalam melaksanakan kebijakan operasional, kata badan data dan badan pekerja dihapus
Pasal 18 Ketua Umum Pengurus Besar dibantu oleh karena sudah termasuk dalam badan
Pengurus Besar Badan-badan kelengkapan; kelengkapan.

(1) Status :
a. Pengurus Besar adalah struktur kepemimpinan tertinggi organisasi yang melaksanakan, dan
mengurus kebijakan-kebijakan strategis dan operasional yang bersifat nasional yang
diputuskan dalam Muktamar;
b. Ketua Umum Pengurus Besar bertanggungjawab untuk dan atas nama organisasi baik ke
dalam maupun ke luar organisasi;
c. Dalam melaksanakan kebijakan strategis yang bersifat nasional, Ketua Umum Pengurus

86
Besar dibantu oleh Majelis-majelis sesuai dengan tanggung jawab masing-masing melalui
Musyawarah Pimpinan Pusat (MPP);
d. Tugas pokok dan fungsi Ketua Terpilih diakomodir dalam Pedoman Tatalaksana organisasi;
e. Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih dalam suatu muktamar duduk sebagai Wakil Ketua
Umum Pengurus Besar dalam periode setelah muktamar tersebut. Pada periode berikutnya
yang bersangkutan akan dikukuhkan menjadi Ketua Umum Pengurus Besar;
f. Ketua Umum Pengurus Besar bersama-sama dengan Ketua Umum Terpilih menyusun dan
menetapkan kebijakan organisasi;
g. Dalam melaksanakan kebijakan operasional, Ketua Umum Pengurus Besar dibantu oleh
Badan-badan kelengkapan, Bada Data dan Informasi serta Badan Pekerja;
h. Dalam mengembangkan dan memformulasikan kebijakan, Pengurus Besar dibantu oleh
Komite-komite tetap dan ad-hoc, yang dibentuk Pengurus Besar untuk tujuan tersebut;
i. Masa jabatan Pengurus Besar adalah 3 (tiga) tahun;
j. Seorang anggota Ikatan Dokter Indonesia hanya diperbolehkan menjadi Ketua Umum
Pengurus Besar maksimal dua kali masa kepengurusan dalam periode yang tidak berurutan;
k. Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih tidak dapat melaksanakan tugasnya maka jabatan
Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih dikosongkan dan muktamar berikutnya memilih Ketua
Umum Pengurus Besar dan Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih yang baru;
l. Ketua Umum Pengurus Besar tidak dapat menjalankan tugas dan berhalangan tetap, maka
Ketua Umum Terpilih langsung menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar, dan

22
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

dikukuhkan kembali sebagai Ketua Umum Pengurus Besar pada saat Muktamar.
LAMPIRAN -LAMPIRAN

m. Tata cara Point c tentang Musyawarah Pimpinan Pusat lebih lanjut diatur dalam Pedoman
Tatalaksana Organisasi

(2) Personalia :
a. Personalia Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua
Umum, Wakil Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, Ketua-Ketua Majelis,
beberapa orang ketua bidang;
b. Yang dapat menjadi Pengurus Besar adalah anggota biasa yang memiliki integritas moral,
etika, disiplin, loyalitas, dedikasi tinggi dan memiliki komitmen terhadap tujuan dan upaya
Ikatan Dokter Indonesia.

(3) Tugas dan Wewenang :


a. Melaksanakan isi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan yang telah
ditetapkan muktamar;
b. Mengumumkan kepada seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang yang menyangkut
pengambilan keputusan organisasi kemudian mempertanggungjawabkan kepada muktamar
berikutnya;
c. Melakukan pembinaan dan pengawasan internal organisasi;
d. Melakukan advokasi kebijakan kesehatan kepada pembuat kebijakan;
e. Membina hubungan yang baik dengan semua aparat yang ada, pemerintah maupun swasta

87
didalam ataupun diluar negeri, khususnya dengan aparat yang berhubungan dengan dunia
kesehatan;
f. Memberikan akreditasi Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan tingkat nasional dan regional.
g. Memberikan akreditasi Lembaga Penyelenggara Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan;
h. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada anggota melalui forum muktamar;
i. Menyelenggarakan muktamar pada akhir periode;
j. Menyiapkan draft materi muktamar melalui forum Rakernas;
k. Mengusulkan perubahan nama perhimpunan, perhimpunan baru dan pembubaran
perhimpunan di muktamar;
l. Mengesahkan Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang serta perangkat organisasi baik tingkat pusat
maupun tingkat cabang.

(3) Tata Cara Pengelolaan :


Tata cara pengelolaan Pengurus Besar lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

23
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 19 Pasal 19 Usulan:


LAMPIRAN -LAMPIRAN

Pengurus Wilayah Pengurus Wilayah Pengurus MKEK dan MPPK Wilayah ditunjuk
oleh Ketua Pengurus Wilayah.
(1) Status : (1) Status :
a. Pengurus Wilayah adalah struktur kepemimpinan tertinggi dalam satu wilayah yang a. Pengurus Wilayah adalah struktur
diketuai oleh Ketua Pengurus Wilayah. kepemimpinan tertinggi dalam satu
b. Dalam satu propinsi hanya boleh ada satu pengurus wilayah; wilayah yang diketuai oleh Ketua
c. Pengurus Wilayah dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh MKEK Wilayah dan MPPK Pengurus Wilayah.
Wilayah; b. Dalam satu propinsi hanya boleh
d. Pengurus Wilayah, MKEK Wilayah, dan MPPK Wilayahdipilih dalam muswil; ada satu pengurus wilayah;
e. Masa jabatan Pengurus Wilayah adalah 3 (tiga) tahun; c. Pengurus Wilayah dalam
f. Pengurus Wilayah adalah kesatuan organisasi yang dibentuk di propinsi yang mempunyai melaksanakan tugasnya dibantu
lebih dari satu cabang atas usul cabang-cabang bersangkutan serta disetujui oleh Pengurus oleh MKEK Wilayah dan MPPK
Besar; Wilayah;
g. Seorang anggota Ikatan Dokter Indonesia hanya diperbolehkan dipilih menjadi Ketua d. Pengurus Wilayah, MKEK Wilayah,
Wilayah maksimal dua kali masa kepengurusan. dan MPPK Wilayah dipilih dalam
muswil;
e. Masa jabatan Pengurus Wilayah
adalah 3 (tiga) tahun;
f. Pengurus Wilayah adalah kesatuan
organisasi yang dibentuk di propinsi

88
yang mempunyai lebih dari satu
cabang atas usul cabang-cabang
bersangkutan serta disetujui oleh
Pengurus Besar;
g. Seorang anggota Ikatan Dokter
Indonesia hanya diperbolehkan
dipilih menjadi Ketua Wilayah
maksimal dua kali masa
kepengurusan.

(2) Personalia :
a. Personalia Pengurus Wilayah sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua, sekretaris,
bendahara, Ketua MKEK wilayah, dan Ketua MPPK Wilayah;
b. Yang dapat menjadi Pengurus Wilayah adalah anggota biasa yang memiliki integritas
moral dan etika yang tinggi serta memiliki komitmen terhadap tujuan dan usaha Ikatan
Dokter Indonesia;
c. Ketua Pengurus Wilayah tidak dapat menjalankan tugas dan atau non aktif maka dapat
diangkat Pejabat Ketua Pengurus Wilayah melalui rapat pleno diperluas pengurus
wilayah dan selanjutnya ditetapkan dan disahkan menjadi Pejabat Ketua Pengurus
Wilayah oleh Pengurus Besar sampai dilaksanakannya Muswil berikutnya.

24
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

(3) Tugas dan Wewenang :


LAMPIRAN -LAMPIRAN

a. Melaksanakan keputusan muktamar, muswil dan ketetapan-ketetapan organisasi;


b. Melaksanakan tugas-tugas operasional organisasi yang didelegasikan oleh Pengurus
Besar, baik yang menyangkut masalah organisasi profesi, etika profesi, pendidikan
profesi dan pelayanan profesi;
c. Melakukan pembinaan dan pengawasan internal organisasi yang berada di
wilayahnya;
d. Melakukan advokasi kebijakan bidang kesehatan di wilayahnya;
e. Memberikan akreditasi Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan tingkat wilayah dan
cabang;
f. Menghadiri setiap Muscab yang berada di wilayahnya;
g. Meneruskan usulan pengurus cabang dari ketua cabang terpilih yang akan disahkan
oleh Pengurus Besar;
h. Atas nama Pengurus Besar melantik Pengurus Cabang;
i. Mewakili Pengurus Besar bila diperlukan dan atau atas permintaan Pengurus Besar;
j. Melaksanakan program kerja yang diputuskan pada muswil dan program kerja yang
merupakan penjabaran program kerja Ikatan Dokter Indonesia yang diputuskan
Muktamar Ikatan Dokter Indonesia.

(4) Tata Cara Pengelolaan :


Tata cara pengelolaan Pengurus Wilayah lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana

89
Organisasi.

Pasal 20
Pengurus Cabang

(1) Status :
a. Cabang merupakan kesatuan organisasi yang dibentuk di Kabupaten/Kota;
b. Dalam satu Kabupaten/Kota hanya boleh ada satu kepengurusan Cabang;
c. Masa jabatan Pengurus Cabang adalah 3 (tiga) tahun;
d. Seorang anggota Ikatan Dokter Indonesia hanya dibolehkan dipilih menjadi Ketua Cabang
maksimal 2 (dua) kali masa kepengurusan.
(2) Personalia :
a. Personalia Pengurus Cabang sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua, Sekretaris dan
Bendahara;
b. Yang dapat menjadi Pengurus Cabang adalah anggota biasa yang memiliki integritas moral
dan etika yang tinggi serta memiliki komitmen terhadap tujuan dan usaha Ikatan Dokter
Indonesia;
c. Ketua Pengurus Cabang tidak dapat menjalankan tugas dan atau non aktif maka dapat
diangkat Pejabat Ketua Pengurus Cabang melalui rapat pleno pengurus cabang dan
selanjutnya ditetapkan dan disahkan menjadi Pejabat Ketua Pengurus Cabang oleh

25
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pengurus Besar sampai dilaksanakannya Muscab berikutnya


LAMPIRAN -LAMPIRAN

d. Tata cara Muscab Luar Biasa lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

(3) Tugas dan Wewenang :


a. Melaksanakan keputusan Muktamar, Muswil dan Muscab serta ketetapan-ketetapan
organisasi;
b. Memberikan laporan kegiatan Cabang kepada Pengurus Wilayah yang dilakukan minimal
sekali 6 (enam) bulan;
c. Membina hubungan baik dengan semua aparat, khususnya yang berhubungan dengan
dunia kesehatan;
d. Melakukan advokasi kebijakan bidang kesehatan di daerahnya;
e. Bertanggung jawab kepada muscab.
(4) Tata Cara Pengelolaan :
Tata cara pengelolaan Pengurus Cabang lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana
Organisasi.

BAB IV
MAJELIS – MAJELIS
Pasal 21 b. MKEK di tingkat Wilayah dibentuk pada
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran muswil dan dipilih oleh MKEK cabang-cabang

90
(1) Status : di wilayahnya;
a. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran yang disingkat dengan MKEK adalah salah satu unsur
Pimpinan dalam struktur kepengurusan Ikatan Dokter Indonesia di setiap tingkatan j. Dewan Etika PDSp/PDPP adalah suatu
kepengurusan yang bertugas untuk pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan penerapan Dewan setingkat Majelis yang dibentuk oleh
etika kedokteran secara otonom dan bertanggung jawab kepada Sidang Khusus Muktamar; PDSP/PDPP dengan keputusan etika yang
b. MKEK di tingkat Wilayah dibentuk pada muswil dan dipilih oleh MKEK cabang-cabang di dihasilkan adalah setingkat MKEK Wilayah.
wilayahnya;
c. MKEK di tingkat Cabang dibentuk atas pertimbangan dan persetujuan dari MKEK Wilayah
dan persetujuan Ketua Pengurus Cabang;
d. Dalam melaksanakan tugasnya MKEK berkoordinasi secara periodik dengan Ketua Pengurus
Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkatannya dan melaporkan pertanggungjawaban kepada
sidang khusus di Muktamar / Muswil / Muscab.;
e. Masa jabatan MKEK sesuai masa jabatan pengurus Ikatan Dokter Indonesia sesuai
tingkatannya;
f. MKEK sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris, dan anggota;
g. Yang dapat menjadi pengurus MKEK adalah anggota yang memiliki kemampuan dalam
memahami etika profesi kedokteran, integritas moral dan etika yang tinggi serta komitmen
terhadap organisasi;
h. Seorang anggota Ikatan Dokter Indonesia hanya diperbolehkan menjadi Ketua MKEK
maksimal 2 (dua) kali masa kepengurusan

26
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

i. Ketua MKEK dipilih oleh sidang khusus di Muktamar/Muswil/Muscab sesuai dengan


LAMPIRAN -LAMPIRAN

tingkatannnya dan bertanggung jawab kepada sidang khusus di


Muktamar/Muswil/Muscab.
j. Dewan Etika PDSp/PDPP adalah suatu Dewan setingkat Majelis yang dibentuk oleh
PDSP/PDPP dengan keputusan etika yang dihasilkan adalah setingkat MKEK Wilayah.

(2) Tugas dan wewenang : c. Keputusan yang dibuat MKEK dan


a. Melakukan tugas pembinaan, pengawasan dan penilaian dalam pelaksanaan etik atau Dewan Etik PDSp/PDPP yang
kedokteran secara otonom, termasuk perbuatan anggota yang melanggar kehormatan dan telah memiliki kekuatan tetap
tradisi luhur kedokteran; bersifat mengikat dan wajib
b. Dalam melaksanakan tugas kemahkamahan menyarankan kepada anggota teradu untuk dilaksanakan oleh Pengurus
didampingi oleh BHP2A atau utusan dari PDSp/PDPP nya; Ikatan Dokter Indonesia dan atau
c. Keputusan yang dibuat MKEK dan atau Dewan Etik PDSp/PDPP yang telah memiliki PDSp / PDPP yang terkait;
kekuatan tetap bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan oleh Pengurus Ikatan Dokter
Indonesia dan atau PDSp / PDPP yang terkait;
d. MKEK Pusat membuat fatwa etik kedokteran terkait perkembangan teknologi kedokteran
terkini, perkembangan sistem kesehatan dan perilaku profesi kedokteran.

(3)Tata cara Pengelolaan :


Tata cara pengelolaan MKEK lebih lanjut diatur dalam Pedoman Organisasi dan Tatalaksana Majelis
Kehormatan Etik Kedokteran.

91
Pasal 22
Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian

(1)Status :
a. Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian yang disingkat dengan MPPK adalah salah
satu unsur Pimpinan dalam struktur kepengurusan Ikatan Dokter Indonesia di tingkat Pusat
dan Wilayah yang bertugas untuk pengelolaan sistem pelayanan kedokteran yang bermutu
dan terjangkau, melalui berbagai upaya pengembangan keprofesian, standarisasi dan
akreditasi pelayanan kedokteran;
b. Dalam melaksanakan tugasnya MPPK bertanggungjawab dan melaporkan secara periodik
kepada Ketua Pengurus Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkatannya;
c. Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian terdiri dari divisi Perhimpunan Dokter
Pelayanan Primer (PDPP), divisi Perhimpunan Dokter Spesialis dan Subspesialis (PDSp), dan
divisi Perhimpunan Dokter Seminat (PDSm);
d. Kepengurusan MPPK terdiri dari perwakilan unsur-unsurnya yang tergabung dalam divisi
masing-masing;
e. Unsur-unsur MPPK terdiri dari Perhimpunan Dokter Pelayanan Primer (PDPP), Perhimpunan
Dokter Spesialis (PDSp), PDSp yang bergabung dalam kelompok keahlian , dan Perhimpunan

27
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Dokter Seminat (PDSm);


LAMPIRAN -LAMPIRAN

f. Ketua MPPK Dipilih dari anggota IDI yang diusulkan PDSp/PDPP/PDSm/MPPK Wilayah;
g. Ketua MPPK hanya menjabat maksimal 2 (dua) kali masa kepengurusan sesuai dengan
tingkatannnya;
h. Masa jabatan kepengurusan MPPK adalah sesuai masa jabatan kepengurusan Pengurus
Besar.

(2) Tugas dan Wewenang :


a. Mengusulkan sistem Pengembangan Keprofesian Bidang Kedokteran yang berkaitan
dengan penjaminan mutu pelayanan kedokteran kepada Ketua Umum Pengurus Besar;
b. Melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sistem
pengembangan keprofesian bidang kedokteran yang berkaitan dengan penjaminan mutu
pelayanan kedokteran;
c. Mengkoordinasikan kegiatan keprofesian unsur-unsurnya (PDPP, PDSp., PDSm.);
d. Mengusulkan dan merekomendasikan perubahan nama perhimpunan, perhimpunan baru,
dan pembubaran perhimpunan kepada Ketua Umum Pengurus Besar;
e. Mengusulkan pedoman akreditasi penyelenggaraan pendidikan keprofesian berkelanjutan
(Continuous Professional Development) kepada Ketua Umum Pengurus Besar.

(3) Unsur-unsur : d. Pengurus Perhimpunan tingkat wilayah


a. Unsur-unsur MPPK terdiri dari perhimpunan-perhimpunan yang ada di lingkungan IDI yaitu ditetapkan oleh Ketua Umum PB IDI IDI

92
Perhimpunan Dokter Pelayanan Primer (PDPP), Perhimpunan Dokter Spesialis (PDSp), dan Wilyah atas usul Ketua Perhimpunan
Perhimpunan Dokter Seminat (PDSm); Pusat yang bersangkutan;
b. Perhimpunan-perhimpunan ada pada IDI tingkat pusat dan wilayah;
c. Pengurus Perhimpunan tingkat pusat ditetapkan oleh Ketua Umum PB IDI;
d. Pengurus Perhimpunan tingkat wilayah ditetapkan oleh Ketua Umum PB IDI atas usul Ketua
Perhimpunan Pusat yang bersangkutan;
e. Pelantikan pengurus perhimpunan pusat dan pengurus perhimpunan wilayah diatur dalam
ketentuan khusus tentang tata cara pelantikan.

Pasal 23
Tata cara pengelolaan

Tata cara pengelolaan MPPK dan unsur-unsur MPPK diatur dalam Pedoman Pokok Tatalaksana
Organisasi Ikatan Dokter Indonesia.

28
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 24
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia


Status
1. Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia yang disingkat dengan MKKI adalah salah satuunsur
dalam struktur kepengurusan Ikatan Dokter Indonesia di tingkat pusat, yang bertugasuntuk
pembinaan dan pengaturan pelaksanaan sistem pendidikan profesi kedokteran.
2. Dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab dan melaporkan secara periodik kepadaKetua
Umum Pengurus Besar.
3. Kepengurusan MKKI terdiri dari ketua-ketua kolegium kedokteran.
4. Ketua MKKI dipilih dari salah satu Ketua atau Mantan Ketua kolegium.
5. Ketua MKKI hanya menjabat maksimal 2 (dua) kali masa kepengurusan.
6. Masa jabatan kepengurusan MKKI adalah sesuai masa jabatan kepengurusan PengurusBesar.

Pasal 25
Tugas dan wewenang
1. Mengusulkan sistem pendidikan profesi bidang kedokteran kepada Ketua Umum PengurusBesar.
2. Membina, mengatur, dan mengevaluasi Kolegium dalam pelaksanaan kegiatanpendidikan
profesikedokteran.
3. Mengkoordinasikan kegiatan kolegium kedokteran.

93
4. Mengusulkan kebijakan dan pengendalian ujian nasional pendidikan profesi kedokterankepada
Ketua Umum Pengurus Besar.
5. Mengusulkan dan merekomendasikan pengakuan keahlian dalam bidang kedokterankepada Ketua
Umum Pengurus Besar.
6. Mengusulkan dan merekomendasikan cabang keilmuan baru dalam bidang kedokterankepada
Ketua Umum Pengurus Besar.

Pasal 26
Tata cara Pengelolaan
Tata cara pengelolaan MKKI dan unsur-unsurnya diatur lebih lanjut dalam Pedoman PokokTata
laksana Organisasi Ikatan Dokter Indonesia.

29
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 27 BAB V DItambahkan BAB V karena sebelumnya


LAMPIRAN -LAMPIRAN

Badan Kelengkapan BADAN KELENGKAPAN masih menjadi bagaian dari BAB IV tentang
Badan Kelengkapan Terdiri dari Biro Hukum, Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) dan Badan Majelis
Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (BP2KB), Badan Data dan Informasi Pasal 27
(BADIN),Badan Pekerja (BP) dan badan kelengkapan lainnya sesuai dengan kebutuhan organisasi. Badan Kelengkapan Terdiri dari Biro Hukum,
Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A)
dan Badan Pengembangan Pendidikan
Keprofesian Berkelanjutan (BP2KB), Badan
Data dan Informasi (BADIN),Badan Pekerja
(BP) dan badan kelengkapan lainnya sesuai
dengan kebutuhan organisasi.

Pasal 28
Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota
Status
1. Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) adalah badan kelengkapan Ikatan
Dokter Indonesia.
2. Ketua BHP2A adalah anggota pleno Pengurus Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkatannya.
3. BHP2A dapat dibentuk pada tingkat Wilayah dan Cabang.

94
Pasal 29
Tugas dan wewenang
1. Melakukan telaah hukum terhadap rancangan peraturan-peraturan dan
ketetapan-ketetapan organisasi.
2. Melakukan telaah hukum terhadap peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
anggota dan organisasi.
3. Melakukan pembinaan dan pembelaan anggota dalam menjalankan profesinya.
4. Dalam menjalankan tugasnya, perlu mendengarkan pendapat dan saran dari unsur-unsur lain
dalam organisasi dan pihak-pihak yang dianggap perlu.

Pasal 30
Tata cara pengelolaan
Tata cara pengelolaan BHP2A diatur lebih lanjut dalam Pedoman Pokok Tata laksana Organisasi
Ikatan Dokter Indonesia.

30
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 31 Koreksi
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Badan Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan


Status (1) Badan Pengembangan Pendidikan
Keprofesian Berkelanjutan/Continuous
1. Badan Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan/Continuous Professional Professional Development (BP2KB) adalah
Development adalah badan kelengkapan Pengurus Besar dan Pengurus Wilayah. badan kelengkapan Pengurus Besar dan
2. Ketua BP2KB adalah anggota pleno pengurus Ikatan Dokter Indonesia yang bertanggungjawab Pengurus Wilayah.
kepada Ketua Pengurus Ikatan Dokter Indonesia masing-masing tingkatannya.
3. Pada tingkat cabang dapat dibentuk tim P2KB Cabang.

Pasal 32
Tugas dan wewenang
1. Membantu Pengurus Besar dalam pelaksanaan kebijakan Pengurus Besar dalam bidang
pendidikan keprofesian berkelanjutan.
2. Membantu Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian dalam menyusun standar
pengembangan keprofesian.
3. Membantu melakukan verifikasi terhadap Dokter Asing yang akan melaksanakan kegiatan
Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan di Indonesia dan merekomendasikan kepada Ketua
Umum Pengurus Besar.
4. Membantu Pengurus Besar melakukan penilaian dan akreditasi lembaga penyelenggara
Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan

95
5. Membantu Pengurus Ikatan Dokter Indonesia pada tiap tingkatannya melaksanakan penilaian
dan akreditasi kegiatan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan
6. Membantu, memfasilitasi dan mengkoordinasikan perhimpunan-perhimpunan dan lembaga
lain yang telah diakreditasi oleh Ikatan Dokter Indonesia dalam melaksanakan kegiatan
Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan.

Pasal 33
Tata cara pengelolaan
Tata cara pengelolaan BP2KB diatur lebih lanjut dalam Pedoman Pokok Tata laksana Organisasi Ikatan
Dokter Indonesia.

31
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 34 Pasal 34
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Badan Data dan Informasi Badan Data dan Informasi

Badan Data dan Informasi (BADIN) disetujui pada Anggaran Dasar namun belum ada (1) Badan Data dan Informasi (BADIN)
pembahasan secara khusus. adalah badan kelengakapan
IDI;
(2) Ketua BADIN anggota pleno
pengurus Ikatan Dokter
Indonesia yang
bertanggungjawab kepada
Ketua Pengurus Ikatan Dokter
Indonesia masing-masing
tingkatannya.
(3) BADIN dapat dibentuk pada tingkat
Wilayah dan Cabang.

Pasal 35
Tugas dan Wewenang

(1) Menyusun dan melaksanakan


pengembangan sistem informasi dan data

96
terintegrasi di lingkungan IDI;
(2) Mengelola perangkat keras (hardware)
dan perangkat lunak (software) yang
menunjang penerapan sistem informasi
dan data terintegrasi di lingkungan IDI;
(3) Melakukan koordinasi dengan seluruh
struktur IDI yang berwenang dalam
pengelolaan data dan informasi;
(4) Menyajikan informasi yang akurat dan
terpercaya yang ditujukan ke internal
maupun eksternal organisasi.

32
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 36
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Tata Cara Pengelolaan

Tata cara pengelolaan BADIN diatur lebih


lanjut dalam Pedoman Pokok Tata laksana
Organisasi Ikatan Dokter Indonesia.

Pasal 35 Pasal 37 Diusulkan untuk dihapus karena tumpang


Badan Pekerja Badan Pekerja tindih dengan tupoksi Bidang-Badan, dan
Badan Pekerja (BP) disetujui pada Anggaran Dasar namun belum ada pembahasan secara khusus. Komite serta POKJA
(1) Badan Pekerja (BP) adalah badan
kelengakapan IDI;
(2) Ketua BP anggota pleno pengurus Ikatan
Dokter Indonesia yang
bertanggungjawab kepada Ketua
Pengurus Ikatan Dokter Indonesia
masing-masing tingkatannya.
(3) BP dapat dibentuk pada tingkat Wilayah
dan Cabang.

97
Pasal 38
Tugas dan Wewenang

(1) Melakukan analisa kondisi dan situasi


organisasi baik internal maupun eksternal
terpenting untuk selanjutnya dipelajari
oleh Ketua Umum;
(2) Merekomendasikan prioritas kebijakan
yang harus diterbitkan oleh Ketua Umum;
(3) Membuat materi paparan dan sambutan
Ketua Umum baik untuk kegiatan internal
maupun eksternal organisasi;

Pasal 39
Tata Cara Pengelolaan

Tata cara pengelolaan BP diatur lebih lanjut


dalam Pedoman Pokok Tata laksana Organisasi
Ikatan Dokter Indonesia.

33
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB V Berubah menjadi BAB VI


LAMPIRAN -LAMPIRAN

PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 36 Berubah menjadi Pasal 40
1. Di Tingkat Pusat, dalam rangka menjalankan tugasnya, Pengurus tingkat pusat melakukan
pengambilan keputusan melalui mekanisme pengambilan keputusan dengan
menyelenggarakan :
1. Rapat Kerja Pengurus Besar
2. Rapat Pleno
3. Rapat Pleno Diperluas
2. Di Tingkat Wilayah, dalam rangka menjalankan tugasnya, Pengurus tingkat wilayah melakukan
pengambilan keputusan melalui mekanisme pengambilan keputusan dengan
menyelenggarakan:
1. Rapat Kerja Pengurus Wilayah
2. Rapat Pleno
3. Rapat Pleno Diperluas
3. Di Tingkat Cabang, dalam rangka menjalankan tugasnya, Pengurus tingkat cabang melakukan
pengambilan keputusan melalui mekanisme pengambilan keputusan dengan
menyelenggarakan:
1. Rapat Kerja Pengurus Cabang
2. Rapat Pleno

98
Pasal 37 Diganti jadi Pasal 41
Rapat Kerja
Status
1. Rapat Kerja merupakan mekanisme pengambilan keputusan yang berfungsi menjabarkan program
kerja pengurus Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkatannya untuk menjalankan amanat
muktamar, Musyawarah Wilayah, dan Musyawarah Cabang.
2. Rapat Kerja Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia disebut Rapat Kerja Pengurus Besar, Rapat
Kerja Pengurus Wilayah disebut Rapat Kerja Wilayah, dan Rapat Kerja Pengurus Cabang disebut
Rapat Kerja Cabang.
3. Rapat Kerja diadakan satu kali dalam masa kepengurusan dan dilaksanakan selambat-lambatnya
30 (tiga puluh) hari setelah pengurus dilantik.

Pasal 38 Diganti jadi Pasal 42


Peserta Rapat Kerja
1. Peserta Rapat Kerja adalah seluruh Pengurus Ikatan Dokter Indonesia termasuk Pengurus Majelis-
Majelis, sesuai tingkatannya.
2. Rapat Kerja dipimpin oleh Ketua Pengurus Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkatannya.

34
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 39 Diganti jadi Pasal 43


LAMPIRAN -LAMPIRAN

Tugas dan Wewenang


1. Rapat Kerja Pengurus Besar memiliki tugas dan wewenang menjabarkan program kerja nasional
Pengurus Besar dari hasil Muktamar.
2. Rapat Kerja Wilayah memiliki tugas dan wewenang menjabarkan program kerja Pengurus Wilayah
dari hasil Musyawarah Wilayah.
3. Rapat Kerja Cabang memiliki tugas dan wewenang menjabarkan program kerja Pengurus Cabang
dari hasil Musyawarah Cabang.

Pasal 40 Diganti jadi Pasal 44


Rapat Pleno
Status
1. Rapat Pleno merupakan mekanisme pengambilan keputusan yang berfungsi menentukan
langkah-langkah konkrit program pengurus Ikatan Dokter Indonesia untuk menjalankan program
kerja Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkat kepemimpinan.
2. Rapat Pleno diadakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali tiap bulan.

Pasal 41 Diganti jadi Pasal 45


Peserta Rapat Pleno

1. Peserta Rapat Pleno terdiri dari seluruh Pengurus Ikatan Dokter Indonesia termasuk Pengurus

99
Majelis-Majelis, sesuai tingkat kepemimpinannya.
2. Rapat Pleno dipimpin oleh Ketua Pengurus Ikatan Dokter Indonesia, sesuai tingkatannya.

Pasal 42 Diganti jadi Pasal 46


Tugas dan Wewenang
1. Rapat Pleno memiliki tugas dan wewenang menentukan langkah-langkah konkrit program
pengurus Ikatan Dokter Indonesia yang akan dilaksanakan.
2. Rapat Pleno memiliki tugas dan wewenang mengevaluasi langkah-langkah konkrit program
pengurus Ikatan Dokter Indonesia yang sedang dan atau telah dilaksanakan.

Pasal 43 Diganti jadi Pasal 47


Rapat Pleno Diperluas
Status
1. Rapat Pleno Diperluas merupakan mekanisme pengambilan keputusan yang berfungsi
mengkoordinasikan program Pengurus Besar dan atau Pengurus Wilayah IDI.
2. Rapat Pleno Diperluas diadakan sekurang-kurangnya dua kali selama masa kepengurusan.

35
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 44 Diganti jadi Pasal 48


LAMPIRAN -LAMPIRAN

Peserta Rapat Pleno Diperluas


1. Peserta Rapat Pleno Diperluas terdiri dari seluruh Pengurus Ikatan Dokter Indonesia termasuk
Pengurus Majelis-Majelis, Pengurus Perhimpunan sesuai tingkat kepemimpinannya, dan seluruh
Pengurus Ikatan Dokter Indonesia yang berada satu tingkat dibawahnya.
2. Rapat Pleno Diperluas dipimpin oleh Ketua Umum Pengurus Besar dan atau Ketua Pengurus
Wilayah Ikatan Dokter Indonesia

Pasal 45 Diganti jadi Pasal 49


Tugas dan Wewenang
1. Rapat Pleno Diperluas memiliki tugas dan wewenang mensosialisasikan dan mengkoordinasikan
program pengurus Ikatan Dokter Indonesia.
2. Rapat Pleno Diperluas memiliki tugas dan wewenang meminta masukan dalam pelaksanaan
program pengurus Ikatan Dokter Indonesia yang akan dan atau sedang dilaksanakan.

BAB VI Berubah menjadi BAB VII


ATRIBUT, LOGO, HYMNE, DAN MARS
Pasal 46 Diganti jadi Pasal 50
(1) Atribut IDI berupa lambang, bendera, seragam, kartu anggota dan simbol-simbol IDI lainnya harus
mencantumkan logo IDI.
(2) Logo IDI terdiri dari dua lingkaran merah diatas dasar putih, di tengah terdapat tulisan IDI, sebuah
tongkat dengan ular melingkar yang kepalanya menghadap ke kiri jika dilihat dari sisi pengamat.

100
Tulisan IDI, tongkat dan ular berwarna hitam.
(3) Semua institusi, lembaga dan kepanitiaan yang berada di lingkungan IDI wajib menggunakan
atribut, logo, hymnedan MARSIDI dalam setiap kegiatannya.
(4) Ukuran atribut IDI berupa lambang, bendera, pataka, vandal, seragam, kartu anggota dan simbol-
simbol IDI lainnya serta cara penggunaannya diatur dalam pedoman tata laksana organisasi.
(5) Semua atribut IDI berupa lambang, bendera, seragam, kartu anggota dan simbol-simbol IDI
lainnya yang dipakai dalam kegiatan kepanitiaan maupun kegiatan lain harus mencerminkan
identitas IDI
(6) Ketentuan selanjutnya mengenai logo, lambang, bendera, seragam, kartu anggota dan simbol-
simbol IDI lainnya akan diatur dalam pedoman tata laksana organisasi.
(7) Ketentuan selanjutnya mengenai hymne dan MARS IDIakan diatur dalam pedoman tata laksana
organisasi.

36
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB VII Diiubah menjadi BAB VIII


LAMPIRAN -LAMPIRAN

KEUANGAN DAN KEKAYAAN ORGANISASI


Pasal 47 Diganti jadi Pasal 51

Dikoreksi kalimat:
1. Keuangan d.Pengurus Cabang diwajibkan
a. Ikatan Dokter Indonesia menjalankan sistem keuangan yang desentralisasi. menyerahkan 5% (lima persen) kepada
b. Kegiatan-kegiatan yang dapat didesentralisasikan antara lain adalah kegiatan dalam rangka Pengurus Besar dan10% (sepuluh
penarikan iuran anggota. persen)kepada Pengurus Wilayah dari
c. Diperoleh dari iuran anggota, sumbangan yang sah dan tidak mengikat dan usaha – usaha lain uang iuran yang diterimanya.
yang sah. g. Besaran iuran anggota ditetapkan oleh
d.Pengurus Cabang diwajibkan menyerahkan 5 (lima) % kepada Pengurus Besar dan10 (sepuluh)% PB IDI, namun IDI Cabang dapat
kepada Pengurus Wilayah dari uang iuran yang diterimanya. menetapkan iuran tambahan
e. Untuk kepentingan masing-masing cabang, Pengurus cabang dapat menetapkan uang iuran berdasarkan keputusan musyawarah
tambahan jika disetujui oleh Musyawarah Cabang. cabang.
f. Keuangan yang dimiliki organisasi tersebut, dimanfaatkan serta dipergunakan untuk
kepentingan kegiatan organisasi ditambahkan :

2. Kekayaan (3) Ketentuan selanjutnya mengenai keuangan


a. Kekayaan Ikatan Dokter Indonesia adalah aset dan harta milik organisasi. dan kekayaan organisasi diatur dalam
b. Harta milik organisasi adalah harta yang dimiliki Ikatan Dokter Indonesia baik yang bergerak pedoman tata laksana organisasi.

101
maupun tidak bergerak di semua tingkatan
c. Pengelolaan keuangan dan kekayaan organisasi menjadi tanggung jawab Pengurus Ikatan
Dokter Indonesia sesuai tingkatan.
d. Kepemilikan keuangan dan kekayaan organisasi sebagaimana tersebut diatas, atas nama badan
hukum Ikatan Dokter Indonesia.

BAB VIII Berubah menjadi BAB IX


ADMINISTRASI
Pasal 48 Diganti jadi Pasal 52

1. Ikatan Dokter Indonesia menjalankan sistem administrasi dan penyelenggaraan kegiatan tambahan :
operasional organisasi yang bersifat desentralisasi
2. Kegiatan-kegiatan operasional yang didesentralisasikan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter (5) Sistem administrasi menggunakan sistem
Indonesia pada pengurus Wilayah Ikatan Dokter Indonesia, ditetapkan bersama oleh Pengurus informasi elektronik ditetapkan oleh Pengurus
Besar Ikatan Dokter Indonesia dan Pengurus Wilayah Ikatan Dokter Indonesia yang Besar IDI dan diatur dalam pedoman tata
bersangkutan laksana organisasi.
3. Kegiatan-kegiatan yang dapat didesentralisasikan antara lain adalah kegiatan dalam rangka
pencatatan dan pelaporan keanggotaan
4. Surat keputusan tentang pengesahan pengurus cabang ditetapkan Pengurus Besar Ikatan
Dokter Indonesiadan tembusan ke pengurus wilayah .

37
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB IX berubah menjadi BAB X


LAMPIRAN -LAMPIRAN

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA


Pasal 49 Diganti jadi Pasal 53

(1) Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga hanya dapat dilakukan oleh
muktamar atau muktamar luar biasa.
(2) Rencana perubahan tersebut diajukan oleh Pengurus Besar atau Pengurus Cabang.
(3) Rencana perubahan telah disampaikan kepada Pengurus Besar selambat-lambatnya tiga bulan
sebelum muktamar atau muktamar luar biasa dan tembusannya disampaikan kepada semua
unsur dan badan kelengkapan Ikatan Dokter Indonesia lainnya.

BAB X berubah menjadi BAB XI


PEMBUBARAN ORGANISASI
Pasal 50 Diganti jadi Pasal 54

(1) Pembubaran organisasi hanya dapat dilakukan oleh muktamar yang diadakan khusus untuk itu.
(2) Keputusan pembubaran organisasi atas usulan dari sekurang–kurangnya dua pertiga jumlah
cabang.
(3) Sesudah pembubaran, maka segala hak milik Ikatan Dokter Indonesia diserahkan kepada
badan-badan sosial atau perkumpulan yang ditetapkan oleh muktamar.
(4) Tata cara pelaksanaan muktamar khusus akan diatur dalam Kompendium Organisasi Ikatan

102
Dokter Indonesia.

BAB XI berubah menjadi BAB XII


ATURAN TAMBAHAN
Pasal 51 Diganti jadi Pasal 55

1. Setiap anggota Ikatan Dokter Indonesia dianggap telah mengetahui Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga Ikatan Dokter Indonesia.
2. Setiap anggota Ikatan Dokter Indonesia harus mentaati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga ini dan bagi yang melanggarnya akan dikenakan sanksi sebagaimana yang diatur dalam
Pedoman Tatalaksana Organisasi Ikatan Dokter Indonesia.
3. Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran anggaran rumah tangga, maka penafsiran tersebut
diserahkan ke Pengurus Besar.
4. Hal-hal yang belum diatur dalam anggaran rumah tangga ini dimuat dalam peraturan tersendiri,
dan tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Dokter
Indonesia.

Pasal 52 Diganti jadi Pasal 56


Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perhimpunan harus menyesuaikan dengan Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Dokter Indonesia

38
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB XII berubah menjadi BAB XIII


LAMPIRAN -LAMPIRAN

ATURAN PERALIHAN
Pasal 53 Diganti jadi Pasal 57
1. Apabila pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dalam sidang pleno
muktamar tidak dapat terselesaikan, maka bagian-bagian yang telah disepakati dinyatakan
berlaku sejak ditetapkan.
2. Panitia pengarah yang mendampingi pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga diberikan wewenang untuk menyelesaikan bagian-bagian yang belum terselesaikan
dalam waktu paling lama 14 ( empat belas ) hari setelah muktamar.
3. Bagi perhimpunan yang belum menyesuaikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
diberikan waktu penyesuaian paling lambat sampai kongres perhimpunan yang bersangkutan
berikutnya.

BAB XIII berubah menjadi BAB XIV


KETENTUAN PENUTUP
Pasal 54 koreksi:
Dengan disyahkannya Anggaran Rumah Tangga ini, maka Anggaran Rumah Tangga sebelumnya
dinyatakan tidak berlaku. Diganti jadi Pasal 58
Anggaran Rumah Tangga ini disahkan dalam sidang Pleno Muktamar di Medan Pada tanggal 21 (1) Dengan disyahkannya Anggaran Rumah
November 2015 dan berlaku sejak tanggal ditetapkan. Tangga ini, maka Anggaran Rumah Tangga
sebelumnya dinyatakan tidak berlaku;
(2) Anggaran Rumah Tangga ini disahkan

103
dalam sidang Pleno Muktamar di ….Pada
tanggal(tanggal)(Bulan)(Tahun)dan
berlaku sejak tanggal ditetapkan.

39
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

ANGGARAN DASAR tidak ada perubahan


LAMPIRAN -LAMPIRAN

IKATAN DOKTER INDONESIA

MUKADDIMAH

Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia telah berhasil merebut
kemerdekaan dari kaum penjajah, maka setiap warga negara berkewajiban mengisi kemerdekaan itu
dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju tercapainya kehidupan rakyat yang sehat,
adil dan makmur.
Dokter Indonesia sebagai warga bangsa yang ikut aktif dalam gerakan dan perjuangan
kemerdekaan, sadar akan hak dan kewajibannya serta peran dan tanggung jawabnya kepada umat
manusia dan bangsa, bertekad memberikan darma baktinya untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam kehidupan keprofesian.
Sesuai dengan tujuan umum terbentuknya organisasi Profesi yang mengedepankan
pentingnya independensi dan otonomi profesi, serta mengutamakan kepentingan masyarakat, maka
dalam darma baktinya sebagai salah satu pilar pokok pembangunan kesehatan, dokter Indonesia
perlu meningkatkan profesionalisme dan peran sebagai agen pembaharu (agent of change) dan agen
pembangunan (agent of development) terutama dalam advokasi kesehatan dengan berpegang teguh
pada sumpah dokter dan kode etik kedokteran Indonesia, menuju kehidupan masyarakat yang sehat
dan sejahtera, sebagaimana diamanatkan dalam UUD 45 pasal 28 H ayat (1) yang menyatakan bahwa
setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan

104
hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
Peran dokter Indonesia tersebut di atas dapat terlaksana dengan jiwa dan semangat
gerakan Boedhi Oetomo pada tahun 1908 serta jiwa dan semangat Persaudaraan Dokter Indonesia
(vereniging van inlandische artsen) yang terwujud sejak 1911, dilanjutkan dengan menggalang
seluruh potensi yang dimiliki dalam satu organisasi. Jiwa dan semangat Boedhi Oetomo dan
Persaudaraan Dokter Indonesia ini telah mengilhami Ikatan Dokter Indonesia lahir, tumbuh dan
berkembang menjadi Organisasi yang memiliki nilai – nilai profesionalisme, integritas etik dan moral,
pengabdian, independen dan kesejawatan untuk melakukan upaya - upaya memajukan, menjaga dan
meningkatkan hargat dan martabat Dokter Indonesia serta menjadi bagian dalam memajukan
kesejahteraaan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia sebagai tujuan dan cita – cita
Ikatan Dokter Indonesia.
Meyakini bahwa tujuan dan cita-cita organisasi hanya dapat dicapai atas petunjuk Tuhan
Yang Maha Esa disertai usaha-usaha teratur, terencana dan penuh kebijakan, digerakkan dengan
pedoman yang berbentuk anggaran dasar maka disusunlah Anggaran Dasar Ikatan Dokter Indonesia
sebagai berikut:

40
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB I tidak ada perubahan


LAMPIRAN -LAMPIRAN

NAMA, WAKTU, DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1
Nama
Organisasi ini bernama Ikatan Dokter Indonesia (The Indonesian Medical Association) disingkat IDI.

Pasal 2 tidak ada perubahan


Waktu

IDI didirikan di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 1950 untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.

Pasal 3 tidak ada perubahan


Tempat kedudukan

Ikatan Dokter Indonesia berkedudukan di Jakarta, Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BAB II tidak ada perubahan


DASAR, ASAS DAN SIFAT
Pasal 4
Dasar

105
IDI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945

Pasal 6 Pasal 6 kata "non profit” sama artinya dengan


Sifat Sifat nirlaba.

IDI adalah organisasi profesi dokter yang non profit bersifat nasional, independen dan nirlaba. IDI adalah organisasi profesi dokter yang non
profitbersifat nasional, independen dan
nirlaba.

BAB III tidak ada perubahan


TUJUAN DAN USAHA
Pasal 7
Tujuan
1. Mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Memadukan segenap potensi dokter di Indonesia, meningkatkan harkat, martabat, dan
kehormatan diri dan profesi kedokteran di Indonesia, mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi kedokteran, dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan rakyat Indonesia menuju
masyarakat sehat dan sejahtera.

41
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 8 tidak ada perubahan


LAMPIRAN -LAMPIRAN

Usaha

Membina dan mengembangkan kemampuan untuk meningkatkan profesionalisme dan peran sebagai
agen pembaharu (agent of change) terutama dalam advokasi kesehatan, melalui :
1. Memelihara dan membina terlaksananya sumpah dokter dan kode etik kedokteran Indonesia;
2. Meningkatkan mutu pendidikan profesi kedokteran, penelitian dan pengembangan ilmu
kedokteran, serta ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kedokteran;
3. Memperjuangkan dan memelihara kepentingan serta kedudukan dokter di Indonesia sesuai
dengan harkat dan martabat profesi kedokteran;
4. Bermitra dengan semua pihak terkait dalam pengembangan kebijakan kesehatan;
5. Memberdayakan masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatannya;
6. Mengadakan hubungan kerjasama dengan badan-badan lain, pemerintah atau swasta, di
dalam negeri atau di luar negeri yang mempunyai tujuan yang sama atau selaras;
7. Melaksanakan usaha-usaha untuk kesejahteraan anggota;
8. Melaksanakan usaha lain yang berguna untuk mencapai tujuan sepanjang tidak bertentangan
dengan sifat dan dasar organisasi.

tidak ada perubahan Penegasan kembali berdasarkan UU Pradok,


BAB IV didukung UU Nakes (meski tidak mengatur
STATUS, FUNGSI DAN PERAN tenaga medis) dimana disebutkan satu
profesi satu organisasi profesi.

106
Pasal 9
Status
1. Ikatan Dokter Indonesia merupakan satu-satunya organisasi profesi kedokterandi Indonesia.
2. Ikatan Dokter Indonesia berbadan hukum Perkumpulan.

Pasal 10
Fungsi

Ikatan Dokter Indonesia berfungsi sebagai pemersatu, pembina dan pemberdaya dokter di Indonesia.

Pasal 11
Peran

Ikatan Dokter Indonesia adalah organisasi yang mendorong peningkatan peran dokter yang
meliputi peran profesional medis, agen pembaharu (agent of change), dan pelaku
pembangunan di bidang kesehatan.

42
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB V
LAMPIRAN -LAMPIRAN

KEANGGOTAAN
Pasal 12
Anggota

Anggota terdiri dari :


1. Anggota Biasa
2. Anggota Luar Biasa

BAB VI
STRUKTUR ORGANISASI
Pasal 13
Kekuasaan

Kekuasaan tertinggi organisasi di tingkat nasional berada pada muktamar, di tingkat


provinsi berada pada musyawarah wilayah, dan di tingkat kabupaten/kota berada pada
musyawarah cabang.

Pasal 14
Struktur Kepemimpinan

(1)Tingkat Pusat :

107
a. Terdiri dari Pengurus Besar IDI, Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), Majelis
Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), dan Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian
(MPPK),yang masing-masing memiliki wewenang dan tanggung jawab sesuai tugasnya;
b. Dalam melaksanakan tugasnya, Ketua Umum Pengurus Besar IDI mengkoordinasikan secara
terintegrasi dengan Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), Ketua Majelis
Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan
Keprofesian (MPPK) dalam Musyawarah Pimpinan Pusat (MPP);
c. Ketua Umum Pengurus Besar IDI dibantu oleh Majelis - Majelis yang masing-masing memiliki
kewenangan secara internal organisasi dan bertanggung jawab kepada Muktamar;
d. Ketua Umum Pengurus Besar adalah pimpinan Organisasi IDI di tingkat Pusat, yang
melaksanakan kegiatan eksekutif organisasi dan bertanggungjawab untuk dan atas nama
organisasi;
e. Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) adalah salah satu unsur pimpinan di tingkat
Pusat yang berperan dan bertanggungjawab untuk mengatur kegiatan internal organisasi
dalam bidang pendidikan kedokteran;
f. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) adalah salah satu unsur pimpinan di tingkat pusat
bersifat otonom yang berperan dan bertanggungjawab dalam mengatur kegiatan internal
organisasi dalam bidang etika kedokteran;
g. Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK) adalah salah satu unsur pimpinan di

43
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

tingkat pusat yang berperan dan bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan kegiatan


LAMPIRAN -LAMPIRAN

internal organisasi dalam bidang pengembangan Pelayanan Keprofesian bermutu;


h. Pengurus Besar membentuk Dewan Pertimbangan dan Dewan Pakar Organisasi.

(2)Tingkat Wilayah:
Ketua Pengurus Wilayah adalah Pimpinan Organisasi IDI di tingkat Propinsi berkedudukan di Ibu Kota
Provinsi, yang dibantu oleh MKEK Wilayah dan MPPK Wilayah.

(3) Tingkat Cabang:


KetuaPengurus Cabang adalah Pimpinan Organisasi IDI di tingkat Kabupaten/Kota berkedudukan di
ibu kota Kabupaten/Kota, yang dibantu oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Cabang.

Pasal 15
Badan-Badan

(1) Badan adalah instansi organisasi yang bersifat taktis dan dibentuk untuk menunjang program-
program IDI yang terdiri dari Badan Kelengkapan dan Badan Khusus;
(2) Badan Kelengkapan terdiri dari Biro Hukum, Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A), Badan
Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (BP2KB), Badan Data dan Informasi (BADIN),
Badan Pekerja (BP) dan badan kelengkapan lainnya sesuai dengan kebutuhan organisasi;

108
Pasal 16 Kata “otonom” hanya melekat di MKEK.
Majelis - Majelis Apakah perlu ditambahkan juga untuk
(1)Majelis-majelis : MKKI dan MPPK?
a. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) adalah salah satu unsur Pimpinan dalam
struktur kepengurusan IDI di setiap tingkatan bersifat otonom yang berperan dan
bertanggung-jawab dalam rangka pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan etika
kedokteran;
b. Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) adalah salah satu unsur Pimpinan dalam
struktur kepengurusan IDI di tingkat pusat yang bertanggung-jawab mengkoordinasi dan
mengatur kolegium-kolegium dalam pelaksanaan pendidikan kedokteran;
c. Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK) adalah salah satu unsur Pimpinan
dalam struktur kepengurusan IDI di tingkat pusat dan wilayah yang bertanggung jawab
untuk pembinaan (pengelolaan) sistem pelayanan kedokteran yang bermutu melalui
berbagai upaya pengembangan keprofesian.

44
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 17
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Keputusan Organisasi

(1) Pengambil Keputusan Organisasi di Tingkat Pusat adalah Pengurus Besar, di Tingkat Wilayah
adalah Pengurus Wilayah, di Tingkat Cabang adalah Pengurus Cabang;
(2) Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang melakukan pengambilan keputusan
melalui suatu mekanisme pengambilan keputusan IDI;
(3) Mekanisme pengambilan keputusan organisasi melalui musyawarah untuk mufakat, bila tidak
tercapai mufakat dapat melalui pemungutan suara;
(4) Dalam keadaan tertentu Ketua Pengurus IDI sesuai tingkatan dapat mengambil keputusan tanpa
melalui mekanisme pengambilan keputusan IDI sebagaimana pada butir (3), sepanjang tidak
bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta dipertanggung-
jawabkan kepada Muktamar untuk PB IDI, Musyawarah Wilayah untuk IDI Wilayah dan
Musyawarah Cabang untuk IDI Cabang.

109
45
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 18 Pasal 18
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Hirarki Peraturan dan Keputusan Organisasi Hirarki Pengambilan Keputusan


dan Peraturan
(1)Hirarki Peraturan Organisasi IDI adalah sebagai berikut: (1) Hirarki pengambilan keputusan
a. Anggaran Dasar; organisasi IDI adalah sebagai
b. Anggaran Rumah Tangga; berikut:
c. Ketetapan Muktamar; a. Muktamar IDI
d. Peraturan Pengurus Besar; b. Rapat Kerja Nasional
e. Keputusan Ketua Umum Pengurus Besar; c. Rapat Pleno PB IDI
f. Peraturan Majelis; d. Rapat Pleno Majelis
g. Keputusan Ketua Majelis; e. Musyawarah Wilayah
h. Ketetapan Musyawarah Wilayah; f. Rapat Pleno Wilayah
i. Peraturan Wilayah; g. Musyawarah Cabang
j. Keputusan Ketua Wilayah; h. Rapat Pleno Cabang
k. Ketetapan Musyawarah Cabang;
l. Peraturan Cabang; (2) Hirarki Peraturan Organisasi IDI adalah
m. Keputusan Ketua Cabang. sebagai berikut:
a. Ketetapan Muktamar tentang Anggaran
(2)Setiap peraturan organisasi yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan Dasar;
peraturan organisasi yang lebih tinggi; b. Ketetapan Muktamar tentang Anggaran
Rumah Tangga;

110
(3)Setiap peraturan organisasi yang dibuat oleh instansi dalam lingkungan IDI c. Ketetapan Muktamar selain Anggaran
tidak boleh bertentangan dengan peraturan organisasi IDI yang sudah ada. Dasar dan Anggaran Rumah Tangga;
d. Peraturan Pengurus Besar;
e. Keputusan Ketua Umum Pengurus
Besar;
f. Peraturan Majelis;
g. Keputusan Ketua Majelis;
h. Ketetapan Musyawarah Wilayah;
i. Peraturan Wilayah;
j. Keputusan Ketua Wilayah;
k. Ketetapan Musyawarah Cabang;
l. Peraturan Cabang;
m. Keputusan Ketua Cabang

46
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB VII
LAMPIRAN -LAMPIRAN

LOGO , BENDERA, ATRIBUT, HYMNE DAN MARS


Pasal 19
Logo

(1) Logo IDI terdiri dari dua lingkaran merah diatas dasar putih, di tengah terdapat tulisan IDI,
sebuah tongkat dengan ular melingkar yang kepalanya menghadap ke kanan;
(2) Tulisan IDI, tongkat dan ular berwarna hitam.

Pasal 20 Pasal 20 sebelumnya tidak diatur


Bendera Bendera

(1) Ketentuan Umum Bendera; (1) Bendera IDI yang juga disebut Pataka IDI
(2) Ketentuan Warna Bendera; merupakan perangkat organisasi yang
(3) Keterangan lain Bendera. digunakan pada kegiatan-kegiatan resmi
IDI yang diletakkan mendampingi bendera
Merah Putih;
(2) Warna Bendera/Pataka IDI adalah hijau
berukuran 100 x 150 cm;
(3) Bendera/Pataka IDI terdiri dari tulisan
Sarjana Husada Darma Nirmala berwarna

111
kuning, di bawahnya terdapat 10 buah
berkas sinar berwarna kuning, di
bawahnya terdapat tongkat dengan ular
melingkar yang kepalanya menghadap ke
kanan berwarna kuning, di bawahnya
terdapat lingkaran 13 mata rantai
berwarna kuning, di samping tongkat
terdapat 2 sayap berwarna putih yang
masing-masing terdiri dari 9 lembar bulu
sayap, di bawahnya terdapat pita hitam
dengan tulisan Ikatan Dokter Indonesia,
dan di paling bawah terdapat simbol
bunga teratai berwarna putih dengan
tulisan IDI di atasnya.

47
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 21 Pasal 21
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Atribut Atribut

(1) Atribut adalah merupakan simbol atau ciri-ciri atau tanda-tanda IDI. Dapat berupa badge, (1) Atribut adalah merupakan perlengkapan
pakaian, sticker, pin, jas IDI, rompi, topi, dan lain sebagainya; sebagai identitas organisasi IDI. Dapat
(2) Atribut organisasi harus mencantumkan Logo IDI. berupa badge, pakaian, sticker, pin, jas
IDI, rompi, topi, dan lain sebagainya;
(2) Atribut organisasi harus mencantumkan
Logo IDI.

Pasal 22
Hymne Dan MARS

(1) Hymne organisasi adalah Hymne IDI;


(2) Hymne IDI adalah lagu yang diciptakan oleh Ibu Tuti Nizar;
(3) MARS organisasi adalah MARS IDI;
(4) MARS IDI adalah lagu yang diciptakan oleh Dr.Nazardi Oyong,Sp.A.

BAB VIII
KEUANGAN DAN KEKAYAAN ORGANISASI
Pasal 23

112
Keuangan Organisasi
(1) Keuangan organisasi adalah dana yang dimiliki organisasi dan dimanfaatkan serta dipergunakan
untuk kepentingan kegiatan organisasi;
(2)Keuangan organisasi diperoleh dari :
a. Iuran Anggota;
b. Sumbangan yang sah dan tidak mengikat;
c. Usaha-usaha lain yang sah.
(3) Kepemilikan keuangan organisasi sebagaimana tersebut di atas, atas nama badan hukum Ikatan
Dokter Indonesia.

Pasal 24
Kekayaan Organisasi

(1) Kekayaan Organisasi adalah aset milik organisasi baik yang bergerak maupun tidak bergerak di
semua tingkatan;
(2) Pengurus IDI di setiap tingkatan bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan dan kekayaan
organisasi;
(3) Kepemilikan kekayaan organisasi sebagaimana tersebut diatas, atas nama badan hukum Ikatan
Dokter Indonesia.

48
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB IX
LAMPIRAN -LAMPIRAN

ANGGARAN RUMAH TANGGA


Pasal 25

Hal–hal yang belum diatur di dalam Anggaran Dasar akan diatur di dalam Anggaran Rumah Tangga
yang merupakan pula perincian pelaksanaan Anggaran Dasar.

BAB X BAB X antara ayat (1) dan ayat (2) terdapat


PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PERUBAHAN ANGGARAN DASAR kontradiktif.
Pasal 26 Pasal 26

(1) Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilakukan pada saat sudah dilaksanakannya 3 (tiga) kali (1) Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat
muktamar dari perubahan sebelumnya; dilakukan pada saat sudah
(2) Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilakukan oleh Muktamar atau Muktamar Luar Biasa; dilaksanakannya 3 (tiga) kali muktamar
(3) Rencana perubahan Anggaran Dasar diajukan oleh Pengurus Besar atau Pengurus Cabang; dari perubahan sebelumnya;
(4) Rencana perubahan Anggaran Dasar telah disampaikan kepada Pengurus Besar selambat- (2) Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat
lambatnya tiga bulan sebelum Muktamar atau Muktamar Luar Biasa dan tembusannya dilakukan oleh Muktamar atau Muktamar
disampaikan kepada semua unsur dan badan kelengkapan Ikatan Dokter Indonesia lainnya. Luar Biasa;
(3) Rencana perubahan Anggaran Dasar
diajukan oleh Pengurus Besar atau
Pengurus Cabang;

113
(4) Rencana perubahan Anggaran Dasar telah
disampaikan kepada Pengurus Besar
selambat-lambatnya tiga bulan sebelum
Muktamar atau Muktamar Luar Biasa dan
tembusannya disampaikan kepada semua
unsur dan badan kelengkapan Ikatan
Dokter Indonesia lainnya.

BAB XI
PEMBUBARAN
Pasal 27

Pembubaran organisasi hanya dapat dilakukan oleh Muktamar yang diadakan khusus untuk itu, atas
usulan dari sekurang-kurangnya dua pertiga jumlah cabang.

49
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB XII
LAMPIRAN -LAMPIRAN

ATURAN TAMBAHAN
Pasal 28

(1) Pengurus Besar berwenang menyesuaikan Anggaran Dasar, Ketetapan Muktamar dan Ketentuan
organisasi lainnya yang bertentangan dengan Undang-undang;
(4) Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran Anggaran Dasar, maka penafsiran tersebut diserahkan
ke Pengurus Besar;
(5) Hal–hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini diatur dalam peraturan tersendiri;
(6) Anggaran Dasar Perhimpunan harus menyesuaikan dengan Anggaran Dasar Ikatan Dokter
Indonesia;
(7) Perhimpunan yang belum menyesuaikan Anggaran Dasar Ikatan Dokter Indonesia diberikan
waktu penyesuaian paling lambat sampai kongres perhimpunan yang bersangkutan berikutnya.

BAB XIII Dengan ketentuan ayat (2) seharusnya di hari


PENUTUP akhir Muktamar dihadirkan Notaris untuk
Pasal 29 mengesahkan AD/ART dan Hasil
Muktamar.
(1) Dengan disyahkannya Anggaran Dasar ini, maka Anggaran Dasar sebelumnya dinyatakan tidak
berlaku;
(2) Anggaran Dasar ini disahkan dalam Sidang Pleno Muktamar di MedanPada Tanggal 21 November
2015oleh notaris, didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM, dan berlaku sejak tanggal

114
ditetapkan.

50
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

ANGGARAN RUMAH TANGGA


LAMPIRAN -LAMPIRAN

IKATAN DOKTER INDONESIA

BAB I
DASAR PENYUSUNAN
Pasal 1

Anggaran Rumah Tangga yang selanjutnya disingkat ART disusun berdasarkan Anggaran Dasar Pasal
25.

BAB II BAB II
KEANGGOTAAN KEANGGOTAAN
Pasal 2 Pasal 2
Anggota Anggota

(1) Anggota biasa adalah dokter Warga Negara Indonesia yang teregistrasi sebagai dokter dan (1) Anggota biasa adalah dokter Warga
diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia; Negara Indonesia yang memiliki ijazah
(2) Anggota luar biasa adalah dokter Warga Negara Asing yang teregistrasi sebagai dokter, dan Dokter yang diakui oleh Pemerintah
diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Republik Indonesia serta terdaftar
sebagai dokter anggota IDI;
(2) Anggota luar biasa adalah dokter Warga

115
Negara Asing yang teregistrasi sebagai
dokter, dan diakui oleh pemerintah
Republik Indonesia.

Pasal 3
Tata Cara Penerimaan Anggota

(1) Penerimaan anggota biasa dilakukan oleh pengurus cabang setempat melalui pendaftaran
tertulis dan pernyataan persetujuan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
Ikatan Dokter Indonesia dan Kode Etik Kedokteran Indonesia;
(2) Penerimaan anggota luar biasa dilakukan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia melalui
pendaftaran tertulis dan pernyataan persetujuan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga Ikatan Dokter Indonesia dan Kode Etik Kedokteran Indonesia, setelah memenuhi
persyaratan yang ditetapkan menurut peraturan perundangan tentang tenaga kerja asing
(3) Bila belum ada cabang Ikatan Dokter Indonesia ditempat calon anggota sebagaimana butir (1)
pendaftaran dilakukan melalui pengurus cabang terdekat;
(4) Ketentuan tata cara penerimaan anggota lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana
Organisasi.

51
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 4
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Hak Anggota

(1) Setiap anggota biasa berhak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul atau pertanyaan
dengan lisan, dan atau tertulis kepada pengurus, mengikuti semua kegiatan organisasi dan
memiliki hak memilih dan dipilih;
(2) Setiap anggota luar biasa berhak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul, pertanyaan lisan
atau tertulis kepada pengurus, dan mengikuti semua kegiatan organisasi tetapi tidak
mempunyak hak memilih dan dipilih;
(3) Setiap anggota yang melaksanakan tugas Ikatan Dokter Indonesia dan atau pekerjaan sebagai
dokter berhak mendapat perlindungan dan pembelaan dari organisasi;
(4) Setiap anggota berhak mendapatkan manfaat dari upaya organisasi;
(5) Ketentuan butir (3) dan (4) lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

Pasal 5
Kewajiban Anggota

(1) Anggota biasa dan anggota luar biasa berkewajiban menjunjung tinggi kode etik kedokteran
Indonesia;
(2) Anggota biasa dan anggota luar biasa berkewajiban mematuhi anggaran dasar dan anggaran
rumah tangga, mematuhi peraturan dan keputusan organisasi, serta menjaga dan

116
mempertahankan kehormatan Ikatan Dokter Indonesia;
(3) Anggota biasa dan anggota luar biasa berkewajiban membayariuran anggota.

Pasal 6
Rangkap Anggota dan Rangkap Jabatan

(1) Anggota Ikatan Dokter Indonesia dapat merangkap anggota dan atau merangkap jabatan pada
organisasi di lingkungan Ikatan Dokter Indonesia dan atau organisasi lain sepanjang tidak
mengganggu kinerja organisasi, tidak terdapat konflik kepentingan dan tidak bertentangan
secara fungsional, serta tidak melanggar kehormatan dan atau tradisi luhur kedokteran;
(2) Penilaian terhadap anggota Ikatan Dokter Indonesia yang merangkap anggota dan atau
merangkap jabatan dilakukan oleh Pengurus Ikatan Dokter Indonesia di tiap tingkat masing-
masing;
(3) Hasil Penilaian terhadap anggota berdasarkan Poin 2 dilaporkan/diserahkan kepada Dewan
Pertimbangan untuk Pengurus Besar IDI dan atau unit tertentu yang dibentuksesuai dengan
tingkatan dan diputuskan
(4) Pengaturan rangkap anggota dan rangkap jabatan lebih lanjut diatur dalam Pedoman
Tatalaksana Organisasi.

52
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 7
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Kehilangan Keanggotaan

(1) Anggota dinyatakan kehilangan keanggotaannya karena meninggal dunia, atas permintaan
sendiri, atau diberhentikan;
(2) Pemberhentian atas permintaan sendiri hanya dapat dilakukan dengan pemberitahuan secara
tertulis kepada pengurus cabang sekurang-kurangnya satu bulan sebelumnya.

Pasal 8
Sanksi dan Pembelaan Anggota

(1) Anggota dapat diberikan sanksi berupa teguran tertulis/lisan, pencabutan sementara atau
diberhentikan karena:
a. Bertindak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan
ketentuan-ketentuan lain yang telah ditetapkan Ikatan Dokter Indonesia;
b. Bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik Ikatan Dokter Indonesia.
(2) Anggota yang diberi sanksi berupa berupa teguran tertulis/lisan, pencabutan sementara atau
diberhentikan diberi kesempatan meminta bantuan dalam rangka pembelaan kepada Badan
Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A);
(3) Pemberhentian anggota dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia dilakukan oleh Pengurus
Besar;

117
(4) Anggota yang diskors dan atau diberhentikan dapat melakukan pembelaan dalam forum yang
ditunjuk untuk itu;
(5) Pengaturan sanksi dan pembelaan anggota lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana
Organisasi. .

53
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB III
LAMPIRAN -LAMPIRAN

ORGANISASI
A. STRUKTUR KEKUASAAN
Pasal 9
Muktamar

(1)Status :
a. Muktamar merupakan kekuasaan tertinggi organisasi sebagai forum pelaksanaan kedaulatan
seluruh anggota Ikatan Dokter Indonesia;
b. Muktamar adalah musyawarah nasional dokter Indonesia yang diberi nama “Muktamar
Ikatan Dokter Indonesia”;
c. Muktamar diadakan sekali dalam 3 (tiga) tahun;
d. Peserta muktamar adalah peserta utusan cabang, peninjau, dan undangan;
e. Peserta peninjau terdiri dari Pengurus Besar beserta Majelis Kolegium Kedokteran
Indonesia/MKKI, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran/MKEK, Majelis Pengembangan
Pelayanan Keprofesian/MPPK serta unsur-unsurnya dan Pengurus Wilayah;
f. Utusan cabang ditunjuk oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia cabang dan diberi mandat
tertulis resmi berdasarkan proses mekanisme rapat pengurus cabang;.
g. Utusan cabang menampung aspirasi dokter-dokter dan aspirasi masyarakat yang
berhubungan dengan bidang kesehatan, untuk disampaikan pada Muktamar Ikatan Dokter
Indonesia;

118
h. Dalam keadaan luar biasa muktamar dapat diselenggarakan sewaktu-waktu atas inisiatif satu
cabang dan mendapat persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah cabang;
i. Muktamar menyelenggarakan sidang organisasi dan sidang ilmiah;
j. Sidang organisasi muktamar terdiri dari sidang pleno pengesahan muktamar, sidang pleno
muktamar, sidang komisi, dan sidang khusus;
k. Penjelasan butir h lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

(2) Wewenang : Sidang Pleno Pengesahan Muktamar Tata tertib MUktamar telah tercantum di
Sidang Pleno Pengesahan Muktamar a. Menetapkan kuorum; ART PAsal 14, sehingga tidak diperlukan
a. Menetapkan kuorum; b. Menetapkan tata tertib muktamar; dipembahasan di sidang pleno awal
b. Menetapkan tata tertib muktamar; c. Menetapkan agenda acara Muktamar. Jika dirasakan perlu perubahan,
c. Menetapkan agenda acara muktamar; muktamar; dapat dilakukan perubahan pada pasal ART.
d. Menetapkan Presidium Pimpinan Sidang Muktamar d. Menetapkan Presidium Pimpinan Begitupun dengan agenda muktamar,
Sidang Pleno Muktamar Sidang Muktamar diusulkan telah ditetapkan saat rakernas.
a. Menetapkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, pedoman pokok tatalaksana
organisasi, dan kebijakan strategis nasional;
b. Menilai pertanggung-jawaban Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia dan
mendengarkan laporan Ketua MKEK, Ketua MKKI, dan Ketua MPPK;
c. Memilih Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih dan mengukuhkan Ketua Umum Pengurus
Besar terpilih pada muktamar sebelumnya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar;

54
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

d. Menerima dan menetapkan hasil-hasil sidang komisi;


LAMPIRAN -LAMPIRAN

e. Menerima hasil-hasil sidang khusus untuk diteruskan kepada Ketua Umum Pengurus Besar;
f. Mengukuhkan Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) yang dipilih oleh sidang
khusus MKKI;
g. Mengukuhkan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK) yang dipilih oleh
sidang khusus MPPK ;
h. Mengukuhkan Ketua Majelis Kehormatan Etika Kedokteran Indonesia (MKEK) yang dipilih
oleh sidang khusus MKEK;
i. Mengukuhkan perubahan nama perhimpunan, perhimpunan baru dan membubarkan
perhimpunan dalam lingkungan Ikatan Dokter Indonesia atas usul sidang komisi;
j. Menetapkan tempat pelaksanaan musyawarah kerja nasional dan muktamar Ikatan Dokter
Indonesia berikutnya yang memenuhi persyaratan;
k. Memberikan tanda kehormatan kepada orang-orang yang berjasa pada organisasi Ikatan
Dokter Indonesia;
l. Dalam hal Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih periode sebelumnya tidak dapat
menjalankan tugas sebagai Ketua Umum Pengurus Besar karena meninggal dunia,
mengundurkan diri, atau dijatuhi pidana yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, maka
muktamar memilih Ketua Umum Pengurus Besar yang baru dan Ketua Umum Pengurus
Besar Terpilih.

Sidang Komisi

119
a. Membahas materi-materi yang akan ditetapkan dalam sidang pleno;
b. Menyerahkan hasil sidang komisi kepada sidang pleno untuk disahkan sebagai ketetapan
muktamar.

Sidang Khusus
a. Memilih Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), Ketua Majelis Kolegium
Kedokteran Indonesia (MKKI) dan Ketua Majelis Pengembangan Keprofesian (MPPK), untuk
kemudian dikukuhkan sebagai ketua pada Sidang Pleno Muktamar untuk diteruskan dan
dibuat pengesahannya oleh Ketua Umum Pengurus Besar;
b. Menetapkan pedoman-pedoman pokok, kebijakan strategis dan program kerja nasional
majelis-majelis.

Pasal 10
Kriteria Ketua IDI

(1) Calon Ketua PB IDI Terpilih, Ketua IDI Wilayah, Ketua IDI Cabang ialah anggota biasa yang
dibuktikan dengan KTA IDI yang masih berlaku;
(2) Menyatakan kesediaannya secara lisan dan terbuka, serta menyampaikan curriculum vitae dan
visi misinya;
(3) Pernah menjadi Pengurus IDI, kecuali cabang yang baru dibentuk;

55
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

(4) Tidak sedang dalam permasalahan etika disiplin dan hukum;


LAMPIRAN -LAMPIRAN

(5) Melewati proses penjaringan yang dilakukan oleh tim seleksi Ikatan Dokter Indonesia sesuai
dengan tingkatannya;
(6) Penjelasan butir 5 lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

Pasal 11 Pasal 11
Kriteria Ketua MKEK Kriteria Ketua MKEK

(1) Calon Ketua MKEK Pusat, MKEK Wilayah, dan MKEK Cabang ialah anggota biasa yang dibuktikan (1) Calon Ketua MKEK Pusat, MKEK Wilayah,
dengan KTA IDI yang masih berlaku; dan MKEK Cabang ialah anggota biasa
(2) Menyatakan akan kesediaannya secara lisan dan terbuka, serta menyampaikan curriculum vitae yang dibuktikan dengan KTA IDI yang
dan visi misinya; masih berlaku;
(3) Dipilih dari Pengurus MKEK dan atau Dewan Etika PDSp sesuai tingkatannya; (2) Menyatakan akan kesediaannya secara
(4) Tidak sedang dalam permasalahan etika disiplin dan atau hukum; lisan dan terbuka, serta menyampaikan
(5) Melewati proses penjaringan yang dilakukan oleh tim seleksi Ikatan Dokter Indonesia sesuai curriculum vitae dan visi misinya;
dengan tingkatannya; (3) Dipilih dari Pengurus MKEK dan atau
(6) Penjelasan butir 5 lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi. Dewan Etika PDSp sesuai tingkatannya;
(4) Tidak sedang dalam permasalahan etika
disiplin dan atau hukum;
(5) Melewati proses penjaringan yang
dilakukan oleh tim seleksi Ikatan Dokter

120
Indonesia sesuai dengan tingkatannya;
(6) Penjelasan butir 5 lebih lanjut diatur
dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

Pasal 12
Kriteria Ketua MKKI

(1) Calon Ketua MKKI ialah anggota biasa IDI (yang dibuktikan dengan KTA IDI yang masih berlaku);
(2) Menyatakan akan kesediaannya secara lisan dan terbuka, serta menyampaikan curriculum
vitae dan visi misinya;
(3) Dipilih dari salah satu Ketua atau mantan Ketua Kolegium;
(4) Tidak sedang dalam permasalahan etika disiplin dan hukum;
(5) Penjelasan butir 3 lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

56
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 13 Koreksi:
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Kriteria Ketua MPPK


(3) Dipilih dari anggota IDI yang diusulkan
(1) Calon Ketua MPPK ialah anggota biasa IDI yang dibuktikan dengan KTA IDI yang masih berlaku; Perhimpunan dan MPPK Wilayah untuk
(2) Menyatakan akan kesediaannya secara lisan dan terbuka, serta menyampaikan curriculum di tingkat pusat, sedangkan di tingkat
vitae dan visi misinya; wilayah hanya oleh perhimpunan yang
(3) Dipilih dari anggota IDI yang diusulkan PDSp/PDPP/PDSm/MPPK Wilayah; ada di wilayah tersebut;
(4) Tidak sedang dalam permasalahan etika disiplin dan atau hukum;
(5) Penjelasan butir 3 lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

Pasal 14
Tata Tertib Sidang- Sidang

(1)Sidang Pleno
a. Pengurus Besar adalah penanggung jawab penyelenggaraan muktamar;
b. Muktamar dihadiri oleh utusan, peninjau dan undangan;
c. Jumlah peninjau ditetapkan oleh Pengurus Besar;
d. Utusan cabang memiliki hak bicara dan hak suara;
e. Peninjau hanya memiliki hak bicara;
f. Undangan tidak mempunyai hak bicara dan hak suara;
g. Mekanisme pengambilan keputusan dalam Muktamar dilaksanakan dalam Sidang Pleno;

121
h. Peserta Muktamar adalah utusan cabang dengan mandat resmi yang mempunyai hak bicara
dan hak suara sedangkan peninjau hanya mempunyai hak bicara;
i. Ketentuan banyaknya suara utusan cabang dalam muktamar menggunakan acuan sebagai
berikut :
1. Sampai dengan 50 anggota biasa : 1 suara
2. Sampai dengan 100 anggota biasa: 2 suara
3. Sampai dengan 300 anggota biasa: 3 suara
4. Sampai dengan 500 anggota biasa: 4 suara
5. Sampai dengan 700 anggota biasa: 5 suara
6. dan seterusnya, setiap tambahan 200 anggota biasa akan memperoleh tambahan 1 suara
dengan jumlah maksimal sebanyak 10 suara.
j. Jumlah anggota biasa cabang ditentukan oleh Pengurus Besar berdasarkan iuran anggota yang
dibayarkan oleh Pengurus Cabang;
k. Sidang pengesahan kuorum, pembahasan dan pengesahan agenda acara, tata tertib sidang,
dan pemilihan pimpinan sidang pleno muktamar dipimpin oleh panitia pengarah muktamar;
l. Muktamar dinyatakan sah bila dihadiri oleh 50 ( lima puluh )% tambah 1(satu) jumlah cabang
yang ada.;
m. Apabila butir l tidak terpenuhi maka muktamar diundur paling lama 1x24 jam dan setelah itu
muktamar dianggap sah;.
n. Sidang Pleno dipimpin oleh 3 (tiga) orang presidium yang dipilih dari dan oleh utusan cabang;

57
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

o. Setelah selesai laporan pertanggungjawaban Pengurus Besar, maka Pengurus Besar


LAMPIRAN -LAMPIRAN

dinyatakan demisioner.

(2)Sidang Komisi
a. Panitia Adhoc adalah penanggung jawab masing-masing sidang komisi;
b. Sidang komisi dihadiri oleh utusan cabang dan peninjau yang ditetapkan oleh Pimpinan
Sidang Pleno;
c. Utusan cabang memiliki hak bicara dan hak suara;
d. Peninjau hanya memiliki hak bicara;
e. Hasil sidang komisi diajukan dalam sidang pleno untuk ditetapkan;
f. Sidang Komisi dipimpin oleh 3 (tiga) orang pimpinan yang dipilih 2 dari dan oleh utusan
cabang dan 1 Panitia Adhoc.

(3)Sidang Khusus
a. Presidium Sidang Pleno Muktamar adalah penanggung jawab masing-masing sidang khusus;
b. Sidang khusus terdiri dari Sidang Khusus MKEK, Sidang Khusus MPPK, dan Sidang Khusus
MKKI;
c. Sidang Khusus MKEK dihadiri oleh utusan MKEK Wilayah, peninjau dan undangan yang
ditetapkan oleh Presidium Sidang Pleno.
d. Sidang Khusus MPPK dihadiri oleh Ketua Pengurus Pusat PDPP, PDSp dan PDSm, serta
utusan MPPK Wilayah, peninjau dan undangan yang ditetapkan oleh Presidium Sidang
Pleno.

122
e. Sidang Khusus MKKI dihadiri oleh utusan Kolegium, peninjau dan undangan yang ditetapkan
oleh Presidium sidang pleno.
f. Masing-masing utusan memiliki hak bicara dan hak suara;
g. Peninjau dan undangan hanya memiliki hak bicara;
h. Hasil sidang khusus diajukan dalam sidang pleno untuk ditetapkan;
i. Sidang Khusus dipimpin oleh 3 (tiga) orang pimpinan yang dipilih dari dan oleh peserta;
j. Hal-hal yang belum diatur dalam tata tertib sidang khusus lebih lanjut diatur dalam
Pedoman Tatalaksana Organisasi.

Pasal 15
Musyawarah Wilayah

(1) Status :
a. Musyawarah wilayah yang disingkat dengan Muswil merupakan forum pengambilan
keputusan tertinggi di tingkat wilayah;
b. Muswil adalah musyawarah utusan cabang-cabang dalam satu wilayah;
c. Muswil diadakan sekali dalam 3 (tiga) tahun;
d. Dalam keadaan luar biasa muswil dapat diadakan sewaktu-waktu atas usul atau inisiatif
satu cabang dan mendapat persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga jumlah cabang

58
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

yang ada dalam wilayah tersebut;


LAMPIRAN -LAMPIRAN

e. Diantara Muswil pengurus wilayah melaksanakan Rapat kerja Wilayah, yang dimaksudkan
untuk menilai dan kemudian memperbaiki/mengadaptasi pelaksanaan program kerja
Pengurus Wilayah;
f. Penjelasan butir d lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

(2) Wewenang :
a. Menilai pertanggung-jawaban Ketua Pengurus Wilayah mengenai amanat yang diberikan
oleh Muswil sebelumnya;
b. Menetapkan garis besar program kerja wilayah dengan berpedoman pada hasil-hasil
muktamar;
c. Memilih Ketua Pengurus Wilayah untuk periode berikutnya.

(3) Tata Tertib :


a. Pengurus Wilayah adalah penanggung jawab penyelenggaraan muswil
b. Muswil dihadiri oleh utusan cabang, peninjau, dan undangan;
c. Utusan cabang ditunjuk oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia cabang dan diberi mandat
resmi berdasarkan proses mekanisme rapat pengurus cabang;
d. Peninjau yang terdiri dari utusan cabang dengan mandat resmi sebagai peninjau, Pengurus
Wilayah, majelis-majelis dan unsur-unsurnya, dan Pengurus Besar;
e. Ketentuan banyaknya suara utusan cabang dalam Muswil menggunakan acuan sebagai
berikut :

123
1. Sampai dengan 50 anggota biasa : 1 suara
2. Sampai dengan 100 anggota biasa: 2 suara
3. Sampai dengan 300 anggota biasa: 3 suara
4. Sampai dengan 500 anggota biasa: 4 suara
5. Sampai dengan 700 anggota biasa: 5 suara
6. dan seterusnya, setiap tambahan 200 anggota biasa akan memperoleh tambahan 1
suara dengan jumlah maksimal sebanyak 10 suara.
f. Jumlah anggota biasa cabang ditentukan oleh Pengurus Wilayah berdasarkan iuran anggota
yang dibayarkan ke Pengurus Besar ;
g. Jumlah peninjau dan undangan ditetapkan oleh Pengurus Wilayah;
h. Utusan cabang memiliki hak bicara dan hak suara;
i. Peninjau hanya memiliki hak bicara;
j. Undangan tidak mempunyai hak bicara dan hak suara;
k. Pengambilan keputusan dalam Muswil dilaksanakan dalam Sidang Pleno;
l. Sidang pengesahan kuorum, pembahasan dan pengesahan agenda acara, tata tertib sidang,
dan pemilihan pimpinan sidang pleno muswil dipimpin oleh panitia pengarah muswil;
m. Muswil dinyatakan sah bila dihadiri oleh 50 (lima puluh)% tambah 1(satu) jumlah cabang
yang ada;
n. Butir o tidak terpenuhi maka muswil diundur paling lama 1 x 24 jam dan setelah itu muswil

59
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

dianggap sah;
LAMPIRAN -LAMPIRAN

o. Sidang pleno dipimpin oleh tiga orang presidium yang dipilih dari dan oleh utusan cabang;
p. Setelah selesai laporan pertanggungjawaban Pengurus Wilayah, maka Pengurus Wilayah
dinyatakan demisioner;
q. Segera setelah Ketua Pengurus Wilayah terpilih dan Ketua Pengurus Wilayah yang lama
dinyatakan demisioner maka Pengurus Besar menerbitkan Surat Keputusan Pengesahan
Ketua Pengurus Wilayah;
r. Ketua Pengurus Wilayah yang baru segera membentuk kepengurusan selambat-lambatnya
14 hari setelah penerbitan surat keputusan pengesahan ketua pengurus wilayah dan
diajukan ke Pengurus Besar untuk pengesahannya;
s. Butir r telah melewati batas waktu maka Pengurus Besar memberikan peringatan tertulis;
t. 6 (enam) bulan setelah habis masa bakti periode kepengurusan dan telah maksimal 2 (dua)
kali diingatkan secara tertulis dengan selang waktu 1 (satu) bulan untuk segera
mengadakan Muswil tetapi tidak dilaksanakan maka Pengurus Besar segera menunjuk tim
caretaker yang terdiri dari satu orang Pengurus Besar, satu orang dari unsur pengurus
wilayah yang telah kadaluarsa dan satu orang dari unsur pengurus cabang dimana wilayah
tersebut berkedudukan; untuk menyelenggarakan muswil.

Pasal 16
Musyawarah Cabang

124
(1) Status
a. Musyawarah Cabang yang disingkat dengan Muscab merupakan pengambilan keputusan
tertinggi pada tingkat cabang;
b. Muscab adalah Musyawarah para anggota Ikatan Dokter Indonesia dalam cabang tersebut;
c. Muscab dilaksanakansekali dalam 3 (tiga) tahun;
d. Diantara Muscab, Pengurus Cabang melaksanakan Rapat Kerja Cabang
e. Dalam keadaan luar biasa Muscab dapat diadakan sewaktu-waktu atas usul atau inisiatif
tiga orang anggota dan mendapat persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga jumlah
anggota biasa yang ada.

(2) Wewenang :
a. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Cabang mengenai pelaksanaan amanat Muscab;
b. Menetapkan program kerja cabang dengan tetap berpedoman kepada kebijakan
operasional yang telah ditetapkan dalam Muswil dan hasil-hasil Muktamar;
c. Memilih Ketua Pengurus Cabang untuk periode berikutnya.

60
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

(3) Tata Tertib :


LAMPIRAN -LAMPIRAN

a. Pengurus Cabang adalah penanggung jawab penyelenggaraan muscab;


b. Muscab dihadiri oleh anggota, peninjau, dan undangan;
c. Anggota adalah semua anggota biasa yang ada di cabang bersangkutan;
d. Peninjau adalah anggota luar biasa, Ikatan Dokter Indonesia;
e. Jumlah peninjau dan undangan ditetapkan oleh Pengurus Cabang;.
f. Anggota memiliki hak bicara dan hak suara;
g. Peninjau memiliki hak bicara;
h. Undangan tidak mempunyai hak bicara dan hak suara;
i. Pengambilan keputusan dalam Muscab dilaksanakan dalam Sidang Pleno;
j. Banyaknya suara cabang dalam muscab ditentukan jumlah anggota pada cabang yang
bersangkutan;
k. Sidang pengesahan kuorum, pembahasan dan pengesahan agenda acara, tata tertib sidang,
dan pemilihan pimpinan sidang pleno muscab dipimpin oleh panitia pengarah muscab;
l. Sidang muscab dipimpin oleh tiga orang presidium yang dipilih dari anggota dan oleh
anggota;
m. Muscab baru dinyatakan sah bila dihadiri lebih dari 50 (limapuluh) % jumlah anggota dengan
melampirkan bukti pengiriman undangan kepada seluruh anggota;
n. Ayat m tidak terpenuhi maka muscab diundur paling lama 1 x 24 jam dan setelah itu muscab
dianggap sah;
o. Setelah selesai laporan pertanggungjawaban Pengurus Cabang, maka Pengurus Cabang

125
dinyatakan demisioner;
p. Segera setelah Ketua Pengurus Cabang terpilih, sedangkan Ketua Pengurus Cabang yang
lama dinyatakan demisioner maka Pengurus Wilayah atas nama Pengurus Besar
menerbitkan Surat Keputusan Pengesahan Sementara Ketua Pengurus Cabang Terpilih;
q. Ketua Pengurus Cabang yang baru segera membentuk kepengurusan selambat-lambatnya 14
hari setelah penerbitan surat keputusan pengesahan sementara ketua pengurus cabang dan
diajukan ke Pengurus Besar untuk pengesahannya;
r. Butir q telah melewati batas waktu maka Pengurus Besar memberikan peringatan tertulis
s. 6 (enam) bulan setelah habis masa bakti periode kepengurusan dan telah maksimal 2 (dua)
kali diingatkan secara tertulis dengan selang waktu 1 (satu) bulan untuk segera
mengadakan Muscab tetapi tidak dilaksanakan maka Pengurus Besar segera menunjuk tim
caretaker yang terdiri dari satu orang Pengurus Wilayah, satu orang dari unsur pengurus
cabang yang telah kadaluarsa dimana cabang tersebut berkedudukan; untuk
menyelenggarakan muscab.

61
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 17 (2) Wewenang :


Rapat Kerja Nasional a. Menilai pelaksanaan program kerja
LAMPIRAN -LAMPIRAN

(1) Status : nasional Pengurus Besar Ikatan


a. Rapat Kerja Nasional yang disingkat dengan Rakernas adalah rapat yang dihadiri oleh Dokter Indonesia, menyempurnakan
segenap perangkat organisasi dari tingkat pusat dan tingkat wilayah; dan memperbaikinya untuk
b. Rakernas diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam periode kepengurusan. dilaksanakan pada sisa periode
kepengurusan selanjutnya;
(2) Wewenang : b. Mempersiapkan bahan-bahan
a. Menilai pelaksanaan program kerja nasional Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, muktamar yang akan datang.
menyempurnakan dan memperbaikinya untuk dilaksanakan pada sisa periode kepengurusan c. Menetapkan aturan pemilihan Ketua
selanjutnya; Umum/Ketua Terpilih PB IDI, Panitia
b. Mempersiapkan bahan-bahan muktamar yang akan datang. Seleksi, dan Presidium Sidang
Muktamar.
(3) Tata Tertib : d. Memutuskan beberapa kebijakan
a. Pengurus Besar adalah penanggung-jawab penyelenggaraan Rakernas; organisasi yang dirasakan mendesak
b. Rakernas dihadiri oleh seluruh perangkat organisasi yang terdiri dari Pengurus Besar serta tidak bertentangan dengan
termasuk Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia beserta ketua-ketua seluruh unsur- peraturan perundang-undangan.
unsurnya, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran beserta ketua-ketua seluruh unsur-unsurnya,
Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian beserta ketua-ketua seluruh unsur-unsurnya,
Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang dimana Rakernas dilaksanakan, dan undangan dari
Pengurus Besar;
c. Sidang-sidang Rakernas terdiri dari Sidang organisasi dan sidang ilmiah;
d. Sidang organisasi terdiri dari sidang pleno dan sidang komisi;

126
e. Sidang Pleno dipimpin oleh Ketua Umum Pengurus Besar.

B. STRUKTUR KEPEMIMPINAN g. Dalam melaksanakan kebijakan operasional, kata badan data dan badan pekerja dihapus
Pasal 18 Ketua Umum Pengurus Besar dibantu oleh karena sudah termasuk dalam badan
Pengurus Besar Badan-badan kelengkapan; kelengkapan.

(1) Status :
a. Pengurus Besar adalah struktur kepemimpinan tertinggi organisasi yang melaksanakan, dan
mengurus kebijakan-kebijakan strategis dan operasional yang bersifat nasional yang
diputuskan dalam Muktamar;
b. Ketua Umum Pengurus Besar bertanggungjawab untuk dan atas nama organisasi baik ke
dalam maupun ke luar organisasi;
c. Dalam melaksanakan kebijakan strategis yang bersifat nasional, Ketua Umum Pengurus
Besar dibantu oleh Majelis-majelis sesuai dengan tanggung jawab masing-masing melalui
Musyawarah Pimpinan Pusat (MPP);
d. Tugas pokok dan fungsi Ketua Terpilih diakomodir dalam Pedoman Tatalaksana organisasi;
e. Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih dalam suatu muktamar duduk sebagai Wakil Ketua
Umum Pengurus Besar dalam periode setelah muktamar tersebut. Pada periode berikutnya

62
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

yang bersangkutan akan dikukuhkan menjadi Ketua Umum Pengurus Besar;


f. Ketua Umum Pengurus Besar bersama-sama dengan Ketua Umum Terpilih menyusun dan
LAMPIRAN -LAMPIRAN

menetapkan kebijakan organisasi;


g. Dalam melaksanakan kebijakan operasional, Ketua Umum Pengurus Besar dibantu oleh
Badan-badan kelengkapan, Bada Data dan Informasi serta Badan Pekerja;
h. Dalam mengembangkan dan memformulasikan kebijakan, Pengurus Besar dibantu oleh
Komite-komite tetap dan ad-hoc, yang dibentuk Pengurus Besar untuk tujuan tersebut;
i. Masa jabatan Pengurus Besar adalah 3 (tiga) tahun;
j. Seorang anggota Ikatan Dokter Indonesia hanya diperbolehkan menjadi Ketua Umum
Pengurus Besar maksimal dua kali masa kepengurusan dalam periode yang tidak berurutan;
k. Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih tidak dapat melaksanakan tugasnya maka jabatan
Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih dikosongkan dan muktamar berikutnya memilih Ketua
Umum Pengurus Besar dan Ketua Umum Pengurus Besar Terpilih yang baru;
l. Ketua Umum Pengurus Besar tidak dapat menjalankan tugas dan berhalangan tetap, maka
Ketua Umum Terpilih langsung menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar, dan
dikukuhkan kembali sebagai Ketua Umum Pengurus Besar pada saat Muktamar.
m. Tata cara Point c tentang Musyawarah Pimpinan Pusat lebih lanjut diatur dalam Pedoman
Tatalaksana Organisasi

(2) Personalia :
a. Personalia Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua
Umum, Wakil Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, Ketua-Ketua Majelis,
beberapa orang ketua bidang;

127
b. Yang dapat menjadi Pengurus Besar adalah anggota biasa yang memiliki integritas moral,
etika, disiplin, loyalitas, dedikasi tinggi dan memiliki komitmen terhadap tujuan dan upaya
Ikatan Dokter Indonesia.

(3) Tugas dan Wewenang :


a. Melaksanakan isi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan yang telah
ditetapkan muktamar;
b. Mengumumkan kepada seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang yang menyangkut
pengambilan keputusan organisasi kemudian mempertanggungjawabkan kepada muktamar
berikutnya;
c. Melakukan pembinaan dan pengawasan internal organisasi;
d. Melakukan advokasi kebijakan kesehatan kepada pembuat kebijakan;
e. Membina hubungan yang baik dengan semua aparat yang ada, pemerintah maupun swasta
didalam ataupun diluar negeri, khususnya dengan aparat yang berhubungan dengan dunia
kesehatan;
f. Memberikan akreditasi Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan tingkat nasional dan regional.
g. Memberikan akreditasi Lembaga Penyelenggara Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan;
h. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada anggota melalui forum muktamar;

63
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

i. Menyelenggarakan muktamar pada akhir periode;


LAMPIRAN -LAMPIRAN

j. Menyiapkan draft materi muktamar melalui forum Rakernas;


k. Mengusulkan perubahan nama perhimpunan, perhimpunan baru dan pembubaran
perhimpunan di muktamar;
l. Mengesahkan Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang serta perangkat organisasi baik tingkat pusat
maupun tingkat cabang.

(3) Tata Cara Pengelolaan :


Tata cara pengelolaan Pengurus Besar lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

Pasal 19 Pasal 19 Usulan:


Pengurus Wilayah Pengurus Wilayah Pengurus MKEK dan MPPK Wilayah ditunjuk
oleh Ketua Pengurus Wilayah.
(1) Status : (1) Status :
a. Pengurus Wilayah adalah struktur kepemimpinan tertinggi dalam satu wilayah yang a. Pengurus Wilayah adalah struktur
diketuai oleh Ketua Pengurus Wilayah. kepemimpinan tertinggi dalam satu
b. Dalam satu propinsi hanya boleh ada satu pengurus wilayah; wilayah yang diketuai oleh Ketua
c. Pengurus Wilayah dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh MKEK Wilayah dan MPPK Pengurus Wilayah.
Wilayah; b. Dalam satu propinsi hanya boleh
d. Pengurus Wilayah, MKEK Wilayah, dan MPPK Wilayahdipilih dalam muswil; ada satu pengurus wilayah;
e. Masa jabatan Pengurus Wilayah adalah 3 (tiga) tahun; c. Pengurus Wilayah dalam

128
f. Pengurus Wilayah adalah kesatuan organisasi yang dibentuk di propinsi yang mempunyai melaksanakan tugasnya dibantu
lebih dari satu cabang atas usul cabang-cabang bersangkutan serta disetujui oleh Pengurus oleh MKEK Wilayah dan MPPK
Besar; Wilayah;
g. Seorang anggota Ikatan Dokter Indonesia hanya diperbolehkan dipilih menjadi Ketua d. Pengurus Wilayah, MKEK Wilayah,
Wilayah maksimal dua kali masa kepengurusan. dan MPPK Wilayah dipilih dalam
muswil;
e. Masa jabatan Pengurus Wilayah
adalah 3 (tiga) tahun;
f. Pengurus Wilayah adalah kesatuan
organisasi yang dibentuk di propinsi
yang mempunyai lebih dari satu
cabang atas usul cabang-cabang
bersangkutan serta disetujui oleh
Pengurus Besar;
g. Seorang anggota Ikatan Dokter
Indonesia hanya diperbolehkan dipilih menjadi
Ketua Wilayah maksimal dua kali masa
kepengurusan.

64
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

(2) Personalia :
LAMPIRAN -LAMPIRAN

a. Personalia Pengurus Wilayah sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua, sekretaris,


bendahara, Ketua MKEK wilayah, dan Ketua MPPK Wilayah;
b. Yang dapat menjadi Pengurus Wilayah adalah anggota biasa yang memiliki integritas
moral dan etika yang tinggi serta memiliki komitmen terhadap tujuan dan usaha Ikatan
Dokter Indonesia;
c. Ketua Pengurus Wilayah tidak dapat menjalankan tugas dan atau non aktif maka dapat
diangkat Pejabat Ketua Pengurus Wilayah melalui rapat pleno diperluas pengurus
wilayah dan selanjutnya ditetapkan dan disahkan menjadi Pejabat Ketua Pengurus
Wilayah oleh Pengurus Besar sampai dilaksanakannya Muswil berikutnya.

(3) Tugas dan Wewenang :


a. Melaksanakan keputusan muktamar, muswil dan ketetapan-ketetapan organisasi;
b. Melaksanakan tugas-tugas operasional organisasi yang didelegasikan oleh Pengurus
Besar, baik yang menyangkut masalah organisasi profesi, etika profesi, pendidikan
profesi dan pelayanan profesi;
c. Melakukan pembinaan dan pengawasan internal organisasi yang berada di
wilayahnya;
d. Melakukan advokasi kebijakan bidang kesehatan di wilayahnya;
e. Memberikan akreditasi Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan tingkat wilayah dan
cabang;

129
f. Menghadiri setiap Muscab yang berada di wilayahnya;
g. Meneruskan usulan pengurus cabang dari ketua cabang terpilih yang akan disahkan
oleh Pengurus Besar;
h. Atas nama Pengurus Besar melantik Pengurus Cabang;
i. Mewakili Pengurus Besar bila diperlukan dan atau atas permintaan Pengurus Besar;
j. Melaksanakan program kerja yang diputuskan pada muswil dan program kerja yang
merupakan penjabaran program kerja Ikatan Dokter Indonesia yang diputuskan
Muktamar Ikatan Dokter Indonesia.

(4)Tata Cara Pengelolaan :


Tata cara pengelolaan Pengurus Wilayah lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana
Organisasi.

65
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 20
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Pengurus Cabang

(1) Status :
a. Cabang merupakan kesatuan organisasi yang dibentuk di Kabupaten/Kota;
b. Dalam satu Kabupaten/Kota hanya boleh ada satu kepengurusan Cabang;
c. Masa jabatan Pengurus Cabang adalah 3 (tiga) tahun;
d. Seorang anggota Ikatan Dokter Indonesia hanya dibolehkan dipilih menjadi Ketua Cabang
maksimal 2 (dua) kali masa kepengurusan.

(2) Personalia :
a. Personalia Pengurus Cabang sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua, Sekretaris dan
Bendahara;
b. Yang dapat menjadi Pengurus Cabang adalah anggota biasa yang memiliki integritas moral
dan etika yang tinggi serta memiliki komitmen terhadap tujuan dan usaha Ikatan Dokter
Indonesia;
c. Ketua Pengurus Cabang tidak dapat menjalankan tugas dan atau non aktif maka dapat
diangkat Pejabat Ketua Pengurus Cabang melalui rapat pleno pengurus cabang dan
selanjutnya ditetapkan dan disahkan menjadi Pejabat Ketua Pengurus Cabang oleh
Pengurus Besar sampai dilaksanakannya Muscab berikutnya

130
d. Tata cara Muscab Luar Biasa lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

(3) Tugas dan Wewenang :


a. Melaksanakan keputusan Muktamar, Muswil dan Muscab serta ketetapan-ketetapan
organisasi;
b. Memberikan laporan kegiatan Cabang kepada Pengurus Wilayah yang dilakukan minimal
sekali 6 (enam) bulan;
c. Membina hubungan baik dengan semua aparat, khususnya yang berhubungan dengan
dunia kesehatan;
d. Melakukan advokasi kebijakan bidang kesehatan di daerahnya;
e. Bertanggung jawab kepada muscab.

(4)Tata Cara Pengelolaan :


Tata cara pengelolaan Pengurus Cabang lebih lanjut diatur dalam Pedoman Tatalaksana Organisasi.

66
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB IV
LAMPIRAN -LAMPIRAN

MAJELIS – MAJELIS
Pasal 21 b. MKEK di tingkat Wilayah dibentuk pada
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran muswil dan dipilih oleh MKEK cabang-cabang
di wilayahnya;
(1) Status :
a. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran yang disingkat dengan MKEK adalah salah satu unsur
Pimpinan dalam struktur kepengurusan Ikatan Dokter Indonesia di setiap tingkatan j. Dewan Etika PDSp/PDPP adalah suatu
kepengurusan yang bertugas untuk pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan penerapan Dewan yang dibentuk oleh PDSP/PDPP yang
etika kedokteran secara otonom dan bertanggung jawab kepada Sidang Khusus Muktamar; memiliki tugas dan tanggung jawab dalam
b. MKEK di tingkat Wilayah dibentuk pada muswil dan dipilih oleh MKEK cabang-cabang di melakukan pembinaan etik anggota
wilayahnya; perhimpunan dan berkoordinasi dengan MKEK
c. MKEK di tingkat Cabang dibentuk atas pertimbangan dan persetujuan dari MKEK Wilayah sesuai tingkatannya.
dan persetujuan Ketua Pengurus Cabang;
d. Dalam melaksanakan tugasnya MKEK berkoordinasi secara periodik dengan Ketua Pengurus
Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkatannya dan melaporkan pertanggungjawaban kepada
sidang khusus di Muktamar / Muswil / Muscab.;
e. Masa jabatan MKEK sesuai masa jabatan pengurus Ikatan Dokter Indonesia sesuai
tingkatannya;
f. MKEK sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris, dan anggota;
g. Yang dapat menjadi pengurus MKEK adalah anggota yang memiliki kemampuan dalam

131
memahami etika profesi kedokteran, integritas moral dan etika yang tinggi serta komitmen
terhadap organisasi;
h. Seorang anggota Ikatan Dokter Indonesia hanya diperbolehkan menjadi Ketua MKEK
maksimal 2 (dua) kali masa kepengurusan
i. Ketua MKEK dipilih oleh sidang khusus di Muktamar/Muswil/Muscab sesuai dengan
tingkatannnya dan bertanggung jawab kepada sidang khusus di
Muktamar/Muswil/Muscab.
j. Dewan Etika PDSp/PDPP adalah suatu Dewan setingkat Majelis yang dibentuk oleh
PDSP/PDPP dengan keputusan etika yang dihasilkan adalah setingkat MKEK Wilayah.

67
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

(2) Tugas dan wewenang : c. Keputusan yang dibuat


LAMPIRAN -LAMPIRAN

a. Melakukan tugas pembinaan, pengawasan dan penilaian dalam pelaksanaan etik MKEK dan atau Dewan Etik
kedokteran secara otonom, termasuk perbuatan anggota yang melanggar kehormatan dan PDSp/PDPP yang telah
tradisi luhur kedokteran; memiliki kekuatan tetap
b. Dalam melaksanakan tugas kemahkamahan menyarankan kepada anggota teradu untuk bersifat mengikat dan
didampingi oleh BHP2A atau utusan dari PDSp/PDPP nya; wajib dilaksanakan oleh
c. Keputusan yang dibuat MKEK dan atau Dewan Etik PDSp/PDPP yang telah memiliki Pengurus Ikatan Dokter
kekuatan tetap bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan oleh Pengurus Ikatan Dokter Indonesia dan atau PDSp /
Indonesia dan atau PDSp / PDPP yang terkait; PDPP yang terkait;
d. MKEK Pusat membuat fatwa etik kedokteran terkait perkembangan teknologi kedokteran
terkini, perkembangan sistem kesehatan dan perilaku profesi kedokteran.

(3)Tata cara Pengelolaan :


Tata cara pengelolaan MKEK lebih lanjut diatur dalam Pedoman Organisasi dan Tatalaksana Majelis
Kehormatan Etik Kedokteran.

Pasal 22
Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian

(1)Status :

132
a. Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian yang disingkat dengan MPPK adalah salah
satu unsur Pimpinan dalam struktur kepengurusan Ikatan Dokter Indonesia di tingkat Pusat
dan Wilayah yang bertugas untuk pengelolaan sistem pelayanan kedokteran yang bermutu
dan terjangkau, melalui berbagai upaya pengembangan keprofesian, standarisasi dan
akreditasi pelayanan kedokteran;
b. Dalam melaksanakan tugasnya MPPK bertanggungjawab dan melaporkan secara periodik
kepada Ketua Pengurus Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkatannya;
c. Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian terdiri dari divisi Perhimpunan Dokter
Pelayanan Primer (PDPP), divisi Perhimpunan Dokter Spesialis dan Subspesialis (PDSp), dan
divisi Perhimpunan Dokter Seminat (PDSm);
d. Kepengurusan MPPK terdiri dari perwakilan unsur-unsurnya yang tergabung dalam divisi
masing-masing;
e. Unsur-unsur MPPK terdiri dari Perhimpunan Dokter Pelayanan Primer (PDPP), Perhimpunan
Dokter Spesialis (PDSp), PDSp yang bergabung dalam kelompok keahlian , dan Perhimpunan
Dokter Seminat (PDSm);
f. Ketua MPPK Dipilih dari anggota IDI yang diusulkan PDSp/PDPP/PDSm/MPPK Wilayah;
g. Ketua MPPK hanya menjabat maksimal 2 (dua) kali masa kepengurusan sesuai dengan
tingkatannnya;
h. Masa jabatan kepengurusan MPPK adalah sesuai masa jabatan kepengurusan Pengurus
Besar.

68
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

(2) Tugas dan Wewenang :


LAMPIRAN -LAMPIRAN

a. Mengusulkan sistem Pengembangan Keprofesian Bidang Kedokteran yang berkaitan


dengan penjaminan mutu pelayanan kedokteran kepada Ketua Umum Pengurus Besar;
b. Melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sistem
pengembangan keprofesian bidang kedokteran yang berkaitan dengan penjaminan mutu
pelayanan kedokteran;
c. Mengkoordinasikan kegiatan keprofesian unsur-unsurnya (PDPP, PDSp., PDSm.);
d. Mengusulkan dan merekomendasikan perubahan nama perhimpunan, perhimpunan baru,
dan pembubaran perhimpunan kepada Ketua Umum Pengurus Besar;
e. Mengusulkan pedoman akreditasi penyelenggaraan pendidikan keprofesian berkelanjutan
(Continuous Professional Development) kepada Ketua Umum Pengurus Besar.

(3) Unsur-unsur : d. Pengurus Perhimpunan


a. Unsur-unsur MPPK terdiri dari perhimpunan-perhimpunan yang ada di lingkungan IDI yaitu tingkat wilayah ditetapkan
Perhimpunan Dokter Pelayanan Primer (PDPP), Perhimpunan Dokter Spesialis (PDSp), dan oleh Ketua Umum PB IDI
Perhimpunan Dokter Seminat (PDSm); IDI Wilyah atas usul Ketua
b. Perhimpunan-perhimpunan ada pada IDI tingkat pusat dan wilayah; Perhimpunan Pusat yang
c. Pengurus Perhimpunan tingkat pusat ditetapkan oleh Ketua Umum PB IDI; bersangkutan;
d. Pengurus Perhimpunan tingkat wilayah ditetapkan oleh Ketua Umum PB IDI atas usul Ketua
Perhimpunan Pusat yang bersangkutan;
e. Pelantikan pengurus perhimpunan pusat dan pengurus perhimpunan wilayah diatur dalam

133
ketentuan khusus tentang tata cara pelantikan.

Pasal 23
Tata cara pengelolaan

Tata cara pengelolaan MPPK dan unsur-unsur MPPK diatur dalam Pedoman Pokok Tatalaksana
Organisasi Ikatan Dokter Indonesia.

Pasal 24
Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia
Status
1. Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia yang disingkat dengan MKKI adalah salah satuunsur
dalam struktur kepengurusan Ikatan Dokter Indonesia di tingkat pusat, yang bertugasuntuk
pembinaan dan pengaturan pelaksanaan sistem pendidikan profesi kedokteran.
2. Dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab dan melaporkan secara periodik kepadaKetua
Umum Pengurus Besar.
3. Kepengurusan MKKI terdiri dari ketua-ketua kolegium kedokteran.

69
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

4. Ketua MKKI dipilih dari salah satu Ketua atau Mantan Ketua kolegium.
LAMPIRAN -LAMPIRAN

5. Ketua MKKI hanya menjabat maksimal 2 (dua) kali masa kepengurusan.


6. Masa jabatan kepengurusan MKKI adalah sesuai masa jabatan kepengurusan PengurusBesar.

Pasal 25
Tugas dan wewenang
1. Mengusulkan sistem pendidikan profesi bidang kedokteran kepada Ketua Umum PengurusBesar.
2. Membina, mengatur, dan mengevaluasi Kolegium dalam pelaksanaan kegiatanpendidikan
profesikedokteran.
3. Mengkoordinasikan kegiatan kolegium kedokteran.
4. Mengusulkan kebijakan dan pengendalian ujian nasional pendidikan profesi kedokterankepada
Ketua Umum Pengurus Besar.
5. Mengusulkan dan merekomendasikan pengakuan keahlian dalam bidang kedokterankepada Ketua
Umum Pengurus Besar.
6. Mengusulkan dan merekomendasikan cabang keilmuan baru dalam bidang kedokterankepada
Ketua Umum Pengurus Besar.

Pasal 26
Tata cara Pengelolaan
Tata cara pengelolaan MKKI dan unsur-unsurnya diatur lebih lanjut dalam Pedoman PokokTata

134
laksana Organisasi Ikatan Dokter Indonesia.

Pasal 27 BAB V DItambahkan BAB V karena sebelumnya


Badan Kelengkapan BADAN KELENGKAPAN masih menjadi bagaian dari BAB IV tentang
Badan Kelengkapan Terdiri dari Biro Hukum, Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) dan Badan Majelis
Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (BP2KB), Badan Data dan Informasi Pasal 27
(BADIN),Badan Pekerja (BP) dan badan kelengkapan lainnya sesuai dengan kebutuhan organisasi. Badan Kelengkapan Terdiri dari Biro Hukum,
Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A)
dan Badan Pengembangan Pendidikan
Keprofesian Berkelanjutan (BP2KB), Badan
Data dan Informasi (BADIN),Badan Pekerja
(BP) dan badan kelengkapan lainnya sesuai
dengan kebutuhan organisasi.

70
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 28
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota


Status
1. Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) adalah badan kelengkapan Ikatan
Dokter Indonesia.
2. Ketua BHP2A adalah anggota pleno Pengurus Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkatannya.
3. BHP2A dapat dibentuk pada tingkat Wilayah dan Cabang.

Pasal 29
Tugas dan wewenang
1. Melakukan telaah hukum terhadap rancangan peraturan-peraturan dan
ketetapan-ketetapan organisasi.
2. Melakukan telaah hukum terhadap peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
anggota dan organisasi.
3. Melakukan pembinaan dan pembelaan anggota dalam menjalankan profesinya.
4. Dalam menjalankan tugasnya, perlu mendengarkan pendapat dan saran dari unsur-unsur lain
dalam organisasi dan pihak-pihak yang dianggap perlu.

Pasal 30
Tata cara pengelolaan
Tata cara pengelolaan BHP2A diatur lebih lanjut dalam Pedoman Pokok Tata laksana Organisasi

135
Ikatan Dokter Indonesia.

Pasal 31 Koreksi
Badan Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan
Status (1) Badan Pengembangan Pendidikan
Keprofesian Berkelanjutan/Continuous
1. Badan Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan/Continuous Professional Professional Development (BP2KB) adalah
Development adalah badan kelengkapan Pengurus Besar dan Pengurus Wilayah. badan kelengkapan Pengurus Besar dan
2. Ketua BP2KB adalah anggota pleno pengurus Ikatan Dokter Indonesia yang bertanggungjawab Pengurus Wilayah.
kepada Ketua Pengurus Ikatan Dokter Indonesia masing-masing tingkatannya.
3. Pada tingkat cabang dapat dibentuk tim P2KB Cabang.

71
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 32
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Tugas dan wewenang


1. Membantu Pengurus Besar dalam pelaksanaan kebijakan Pengurus Besar dalam bidang
pendidikan keprofesian berkelanjutan.
2. Membantu Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian dalam menyusun standar
pengembangan keprofesian.
3. Membantu melakukan verifikasi terhadap Dokter Asing yang akan melaksanakan kegiatan
Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan di Indonesia dan merekomendasikan kepada Ketua
Umum Pengurus Besar.
4. Membantu Pengurus Besar melakukan penilaian dan akreditasi lembaga penyelenggara
Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan
5. Membantu Pengurus Ikatan Dokter Indonesia pada tiap tingkatannya melaksanakan penilaian
dan akreditasi kegiatan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan
6. Membantu, memfasilitasi dan mengkoordinasikan perhimpunan-perhimpunan dan lembaga
lain yang telah diakreditasi oleh Ikatan Dokter Indonesia dalam melaksanakan kegiatan
Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan.

Pasal 33
Tata cara pengelolaan
Tata cara pengelolaan BP2KB diatur lebih lanjut dalam Pedoman Pokok Tata laksana Organisasi Ikatan
Dokter Indonesia.

136
Pasal 34 Pasal 34
Badan Data dan Informasi Badan Data dan Informasi

Badan Data dan Informasi (BADIN) disetujui pada Anggaran Dasar namun belum ada pembahasan (1) Badan Data dan Informasi (BADIN) adalah
secara khusus. badan kelengakapan IDI;
(2) Ketua BADIN anggota pleno pengurus
Ikatan Dokter Indonesia yang
bertanggungjawab kepada Ketua
Pengurus Ikatan Dokter Indonesia
masing-masing tingkatannya.
(3) BADIN dapat dibentuk pada tingkat
Wilayah dan Cabang.

72
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 35
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Tugas dan Wewenang

(1) Menyusun dan melaksanakan


pengembangan sistem informasi dan data
terintegrasi di lingkungan IDI;
(2) Mengelola perangkat keras (hardware)
dan perangkat lunak (software) yang
menunjang penerapan sistem informasi
dan data terintegrasi di lingkungan IDI;
(3) Melakukan koordinasi dengan seluruh
struktur IDI yang berwenang dalam
pengelolaan data dan informasi;
(4) Menyajikan informasi yang akurat dan
terpercaya yang ditujukan ke internal
maupun eksternal organisasi.

Pasal 36
Tata Cara Pengelolaan

Tata cara pengelolaan BADIN diatur lebih

137
lanjut dalam Pedoman Pokok Tata laksana
Organisasi Ikatan Dokter Indonesia.

Pasal 35 Pasal 37 Diusulkan untuk dihapus karena tumpang


Badan Pekerja Badan Pekerja tindih dengan tupoksi Bidang-Badan, dan
Badan Pekerja (BP) disetujui pada Anggaran Dasar namun belum ada pembahasan secara khusus. Komite serta POKJA
(1) Badan Pekerja (BP) adalah badan
kelengakapan IDI;
(2) Ketua BP anggota pleno pengurus Ikatan
Dokter Indonesia yang bertanggungjawab
kepada Ketua Pengurus Ikatan Dokter
Indonesia masing-masing tingkatannya.
(3) BP dapat dibentuk pada tingkat Wilayah
dan Cabang.

73
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 38
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Tugas dan Wewenang

(1) Melakukan analisa kondisi dan situasi


organisasi baik internal maupun eksternal
terpenting untuk selanjutnya dipelajari
oleh Ketua Umum;
(2) Merekomendasikan prioritas kebijakan
yang harus diterbitkan oleh Ketua Umum;
(3) Membuat materi paparan dan sambutan
Ketua Umum baik untuk kegiatan internal
maupun eksternal organisasi;

Pasal 39
Tata Cara Pengelolaan

Tata cara pengelolaan BP diatur lebih lanjut


dalam Pedoman Pokok Tata laksana Organisasi
Ikatan Dokter Indonesia.

BAB V Berubah menjadi BAB VI


PENGAMBILAN KEPUTUSAN

138
Pasal 36 Berubah menjadi Pasal 40
1. Di Tingkat Pusat, dalam rangka menjalankan tugasnya, Pengurus tingkat pusat melakukan
pengambilan keputusan melalui mekanisme pengambilan keputusan dengan
menyelenggarakan :
1. Rapat Kerja Pengurus Besar
2. Rapat Pleno
3. Rapat Pleno Diperluas
2. Di Tingkat Wilayah, dalam rangka menjalankan tugasnya, Pengurus tingkat wilayah melakukan
pengambilan keputusan melalui mekanisme pengambilan keputusan dengan
menyelenggarakan:
1. Rapat Kerja Pengurus Wilayah
2. Rapat Pleno
3. Rapat Pleno Diperluas
3. Di Tingkat Cabang, dalam rangka menjalankan tugasnya, Pengurus tingkat cabang melakukan
pengambilan keputusan melalui mekanisme pengambilan keputusan dengan
menyelenggarakan:
1. Rapat Kerja Pengurus Cabang
2. Rapat Pleno

74
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 37 Diganti jadi Pasal 41


LAMPIRAN -LAMPIRAN

Rapat Kerja
Status
1. Rapat Kerja merupakan mekanisme pengambilan keputusan yang berfungsi menjabarkan program
kerja pengurus Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkatannya untuk menjalankan amanat
muktamar, Musyawarah Wilayah, dan Musyawarah Cabang.
2. Rapat Kerja Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia disebut Rapat Kerja Pengurus Besar, Rapat
Kerja Pengurus Wilayah disebut Rapat Kerja Wilayah, dan Rapat Kerja Pengurus Cabang disebut
Rapat Kerja Cabang.
3. Rapat Kerja diadakan satu kali dalam masa kepengurusan dan dilaksanakan selambat-lambatnya
30 (tiga puluh) hari setelah pengurus dilantik.

Pasal 38 Diganti jadi Pasal 42


Peserta Rapat Kerja
1. Peserta Rapat Kerja adalah seluruh Pengurus Ikatan Dokter Indonesia termasuk Pengurus Majelis-
Majelis, sesuai tingkatannya.
2. Rapat Kerja dipimpin oleh Ketua Pengurus Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkatannya.

Pasal 39 Diganti jadi Pasal 43


Tugas dan Wewenang
1. Rapat Kerja Pengurus Besar memiliki tugas dan wewenang menjabarkan program kerja nasional
Pengurus Besar dari hasil Muktamar.

139
2. Rapat Kerja Wilayah memiliki tugas dan wewenang menjabarkan program kerja Pengurus Wilayah
dari hasil Musyawarah Wilayah.
3. Rapat Kerja Cabang memiliki tugas dan wewenang menjabarkan program kerja Pengurus Cabang
dari hasil Musyawarah Cabang.

Pasal 40 Diganti jadi Pasal 44


Rapat Pleno
Status
1. Rapat Pleno merupakan mekanisme pengambilan keputusan yang berfungsi menentukan
langkah-langkah konkrit program pengurus Ikatan Dokter Indonesia untuk menjalankan program
kerja Ikatan Dokter Indonesia sesuai tingkat kepemimpinan.
2. Rapat Pleno diadakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali tiap bulan.

Pasal 41 Diganti jadi Pasal 45


Peserta Rapat Pleno

1. Peserta Rapat Pleno terdiri dari seluruh Pengurus Ikatan Dokter Indonesia termasuk Pengurus
Majelis-Majelis, sesuai tingkat kepemimpinannya.
2. Rapat Pleno dipimpin oleh Ketua Pengurus Ikatan Dokter Indonesia, sesuai tingkatannya.

75
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

Pasal 42 Diganti jadi Pasal 46


LAMPIRAN -LAMPIRAN

Tugas dan Wewenang


1. Rapat Pleno memiliki tugas dan wewenang menentukan langkah-langkah konkrit program
pengurus Ikatan Dokter Indonesia yang akan dilaksanakan.
2. Rapat Pleno memiliki tugas dan wewenang mengevaluasi langkah-langkah konkrit program
pengurus Ikatan Dokter Indonesia yang sedang dan atau telah dilaksanakan.

Pasal 43 Diganti jadi Pasal 47


Rapat Pleno Diperluas
Status
1. Rapat Pleno Diperluas merupakan mekanisme pengambilan keputusan yang berfungsi
mengkoordinasikan program Pengurus Besar dan atau Pengurus Wilayah IDI.
2. Rapat Pleno Diperluas diadakan sekurang-kurangnya dua kali selama masa kepengurusan.

Pasal 44 Diganti jadi Pasal 48


Peserta Rapat Pleno Diperluas
1. Peserta Rapat Pleno Diperluas terdiri dari seluruh Pengurus Ikatan Dokter Indonesia termasuk
Pengurus Majelis-Majelis, Pengurus Perhimpunan sesuai tingkat kepemimpinannya, dan seluruh
Pengurus Ikatan Dokter Indonesia yang berada satu tingkat dibawahnya.
2. Rapat Pleno Diperluas dipimpin oleh Ketua Umum Pengurus Besar dan atau Ketua Pengurus
Wilayah Ikatan Dokter Indonesia

140
Pasal 45 Diganti jadi Pasal 49
Tugas dan Wewenang
1. Rapat Pleno Diperluas memiliki tugas dan wewenang mensosialisasikan dan mengkoordinasikan
program pengurus Ikatan Dokter Indonesia.
2. Rapat Pleno Diperluas memiliki tugas dan wewenang meminta masukan dalam pelaksanaan
program pengurus Ikatan Dokter Indonesia yang akan dan atau sedang dilaksanakan.

76
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB VI Berubah menjadi BAB VII


LAMPIRAN -LAMPIRAN

ATRIBUT, LOGO, HYMNE, DAN MARS


Pasal 46 Diganti jadi Pasal 50
(1) Atribut IDI berupa lambang, bendera, seragam, kartu anggota dan simbol-simbol IDI lainnya harus
mencantumkan logo IDI.
(2) Logo IDI terdiri dari dua lingkaran merah diatas dasar putih, di tengah terdapat tulisan IDI, sebuah
tongkat dengan ular melingkar yang kepalanya menghadap ke kiri jika dilihat dari sisi pengamat.
Tulisan IDI, tongkat dan ular berwarna hitam.
(3) Semua institusi, lembaga dan kepanitiaan yang berada di lingkungan IDI wajib menggunakan
atribut, logo, hymnedan MARSIDI dalam setiap kegiatannya.
(4) Ukuran atribut IDI berupa lambang, bendera, pataka, vandal, seragam, kartu anggota dan simbol-
simbol IDI lainnya serta cara penggunaannya diatur dalam pedoman tata laksana organisasi.
(5) Semua atribut IDI berupa lambang, bendera, seragam, kartu anggota dan simbol-simbol IDI
lainnya yang dipakai dalam kegiatan kepanitiaan maupun kegiatan lain harus mencerminkan
identitas IDI
(6) Ketentuan selanjutnya mengenai logo, lambang, bendera, seragam, kartu anggota dan simbol-
simbol IDI lainnya akan diatur dalam pedoman tata laksana organisasi.
(7) Ketentuan selanjutnya mengenai hymne dan MARS IDIakan diatur dalam pedoman tata laksana
organisasi.

BAB VII Diiubah menjadi BAB VIII

141
KEUANGAN DAN KEKAYAAN ORGANISASI
Pasal 47 Diganti jadi Pasal 51

Dikoreksi kalimat:
1. Keuangan d.Pengurus Cabang diwajibkan
a. Ikatan Dokter Indonesia menjalankan sistem keuangan yang desentralisasi. menyerahkan 5% (lima persen) kepada
b. Kegiatan-kegiatan yang dapat didesentralisasikan antara lain adalah kegiatan dalam rangka Pengurus Besar dan10% (sepuluh
penarikan iuran anggota. persen)kepada Pengurus Wilayah dari
c. Diperoleh dari iuran anggota, sumbangan yang sah dan tidak mengikat dan usaha – usaha lain uang iuran yang diterimanya.
yang sah. g. Besaran iuran anggota ditetapkan oleh
d.Pengurus Cabang diwajibkan menyerahkan 5 (lima) % kepada Pengurus Besar dan10 (sepuluh)% PB IDI, namun IDI Cabang dapat
kepada Pengurus Wilayah dari uang iuran yang diterimanya. menetapkan iuran tambahan
e. Untuk kepentingan masing-masing cabang, Pengurus cabang dapat menetapkan uang iuran berdasarkan keputusan musyawarah
tambahan jika disetujui oleh Musyawarah Cabang. cabang.
f. Keuangan yang dimiliki organisasi tersebut, dimanfaatkan serta dipergunakan untuk
kepentingan kegiatan organisasi ditambahkan :

2. Kekayaan (3) Ketentuan selanjutnya mengenai keuangan


a. Kekayaan Ikatan Dokter Indonesia adalah aset dan harta milik organisasi. dan kekayaan organisasi diatur dalam
b. Harta milik organisasi adalah harta yang dimiliki Ikatan Dokter Indonesia baik yang bergerak pedoman tata laksana organisasi.

77
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

maupun tidak bergerak di semua tingkatan


LAMPIRAN -LAMPIRAN

c. Pengelolaan keuangan dan kekayaan organisasi menjadi tanggung jawab Pengurus Ikatan
Dokter Indonesia sesuai tingkatan.
d. Kepemilikan keuangan dan kekayaan organisasi sebagaimana tersebut diatas, atas nama badan
hukum Ikatan Dokter Indonesia.

BAB VIII Berubah menjadi BAB IX


ADMINISTRASI
Pasal 48 Diganti jadi Pasal 52

1. Ikatan Dokter Indonesia menjalankan sistem administrasi dan penyelenggaraan kegiatan tambahan :
operasional organisasi yang bersifat desentralisasi
2. Kegiatan-kegiatan operasional yang didesentralisasikan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter (5) Sistem administrasi menggunakan sistem
Indonesia pada pengurus Wilayah Ikatan Dokter Indonesia, ditetapkan bersama oleh Pengurus informasi elektronik ditetapkan oleh Pengurus
Besar Ikatan Dokter Indonesia dan Pengurus Wilayah Ikatan Dokter Indonesia yang Besar IDI dan diatur dalam pedoman tata
bersangkutan laksana organisasi.
3. Kegiatan-kegiatan yang dapat didesentralisasikan antara lain adalah kegiatan dalam rangka
pencatatan dan pelaporan keanggotaan
4. Surat keputusan tentang pengesahan pengurus cabang ditetapkan Pengurus Besar Ikatan
Dokter Indonesiadan tembusan ke pengurus wilayah .

BAB IX berubah menjadi BAB X

142
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA
Pasal 49 Diganti jadi Pasal 53

(1) Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga hanya dapat dilakukan oleh
muktamar atau muktamar luar biasa.
(2) Rencana perubahan tersebut diajukan oleh Pengurus Besar atau Pengurus Cabang.
(3) Rencana perubahan telah disampaikan kepada Pengurus Besar selambat-lambatnya tiga bulan
sebelum muktamar atau muktamar luar biasa dan tembusannya disampaikan kepada semua
unsur dan badan kelengkapan Ikatan Dokter Indonesia lainnya.

78
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB X berubah menjadi BAB XI


LAMPIRAN -LAMPIRAN

PEMBUBARAN ORGANISASI
Pasal 50 Diganti jadi Pasal 54

(1) Pembubaran organisasi hanya dapat dilakukan oleh muktamar yang diadakan khusus untuk itu.
(2) Keputusan pembubaran organisasi atas usulan dari sekurang–kurangnya dua pertiga jumlah
cabang.
(3) Sesudah pembubaran, maka segala hak milik Ikatan Dokter Indonesia diserahkan kepada
badan-badan sosial atau perkumpulan yang ditetapkan oleh muktamar.
(4) Tata cara pelaksanaan muktamar khusus akan diatur dalam Kompendium Organisasi Ikatan
Dokter Indonesia.

BAB XI berubah menjadi BAB XII


ATURAN TAMBAHAN
Pasal 51 Diganti jadi Pasal 55

1. Setiap anggota Ikatan Dokter Indonesia dianggap telah mengetahui Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga Ikatan Dokter Indonesia.
2. Setiap anggota Ikatan Dokter Indonesia harus mentaati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga ini dan bagi yang melanggarnya akan dikenakan sanksi sebagaimana yang diatur dalam
Pedoman Tatalaksana Organisasi Ikatan Dokter Indonesia.

143
3. Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran anggaran rumah tangga, maka penafsiran tersebut
diserahkan ke Pengurus Besar.
4. Hal-hal yang belum diatur dalam anggaran rumah tangga ini dimuat dalam peraturan tersendiri,
dan tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Dokter
Indonesia.

Pasal 52 Diganti jadi Pasal 56


Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perhimpunan harus menyesuaikan dengan Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Dokter Indonesia

79
AD/ART 2015 Usulan Perubahan Keterangan

BAB XII berubah menjadi BAB XIII


LAMPIRAN -LAMPIRAN

ATURAN PERALIHAN
Pasal 53 Diganti jadi Pasal 57
1. Apabila pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dalam sidang pleno
muktamar tidak dapat terselesaikan, maka bagian-bagian yang telah disepakati dinyatakan
berlaku sejak ditetapkan.
2. Panitia pengarah yang mendampingi pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga diberikan wewenang untuk menyelesaikan bagian-bagian yang belum terselesaikan
dalam waktu paling lama 14 ( empat belas ) hari setelah muktamar.
3. Bagi perhimpunan yang belum menyesuaikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
diberikan waktu penyesuaian paling lambat sampai kongres perhimpunan yang bersangkutan
berikutnya.

BAB XIII berubah menjadi BAB XIV


KETENTUAN PENUTUP
Pasal 54 koreksi:
Dengan disyahkannya Anggaran Rumah Tangga ini, maka Anggaran Rumah Tangga sebelumnya
dinyatakan tidak berlaku. Diganti jadi Pasal 58
Anggaran Rumah Tangga ini disahkan dalam sidang Pleno Muktamar di Medan Pada tanggal 21 (1) Dengan disyahkannya Anggaran Rumah
November 2015 dan berlaku sejak tanggal ditetapkan. Tangga ini, maka Anggaran Rumah Tangga
sebelumnya dinyatakan tidak berlaku;
(2) Anggaran Rumah Tangga ini disahkan

144
dalam sidang Pleno Muktamar di ….Pada
tanggal(tanggal)(Bulan)(Tahun)dan
berlaku sejak tanggal ditetapkan.

80
LAMPIRAN 2

BAHAN SIDANG ORGANISASI


KOMISI B
PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN CPD
DRAFT BAHAN RAKERNAS IDI 2017
KOMISI B Bab BME
LAMPIRAN -LAMPIRAN

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


PENGANDIL
01 Melemahnya peran pengandil Regulasi yang memusatkan Revitalisasi peran pengandil pendidikan Konsil Kedokteran
(shareholders pendidikan kedokteran) pendidikan kedokteran hanya kedokteran Indonesia, MKKI-IDI,
sebagai pendidikan akademik 1.1 Penetapan-pengesahan Standar Kolegium Dokter-
pendidikan tinggi Pendidikan & Standar Kompetensi Dokter Spesialis, Dirjen
Dokter-Dokter Spesialis Indonesia, Dikti Kemristekdikti,
Penerbitan Surat tanda Registrasi AIPKI, Fakultas
Dokter-Dokter Spesialis (KKI) Kedokteran, ARSPI,
1.2 Pengaturan tumpang tindih AHS
kompetensi (MKKI-IDI)
1.3 Penetapan Kompetensi Dokter-
Dokter Spesials (Kolegium terkait
cabang ilmu)
1.4 Regulasi pendidikan akademik
(syarat, sarana-prasarana,

147
kelulusan)
1.5 Koordinasi antar FK (pengaturan
jumlah FK, pelaksanaan Standar
Pendidikan)
1.6 Penetapan kurikulum (FK)
1.7 Koordinasi antar RS pendidikan
(AHS) (kualifikasi RS AHS)
1.8 RS Pendidikan/AHS

BME (BASIC MEDICAL EDUCATION / KEDOKTERAN DASAR)


01. Mutu pendidikan kedokteran dasar yang  Standar Kompetensi Dokter 1. Target dokter apa yang ingin dihasilkan Kemenristekdikti,
masih rendah dan belum merata. Indonesia (SKDI) dan Standar harus jelas dimasukkan kembali ke IDI/Kolegium, Asosiasi FK,
Pendidikan Profesi Dokter dalam SKDI yang akan datang, seperti ARSPI, KKI, LAM-PT.Kes
Indonesia perlu dievaluasi dalam yang sudah ada pada SKDI 2006. Dalam
SKDI 2006 jelas target dokter adalah
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
rangka perubahan SKDI 2012 ke mampu bekerja di pelayanan primer dan
SKDI 2017 berbasis kedokteran keluarga.
o Pendekatan pendidikan kedokteran
perlu dimulai adanya pembahasan
LAMPIRAN -LAMPIRAN

keterlibatan determinan sosial,


tidak hanya biomedis. Cara
memberikan pendidikan tidak harus
melalui kurikulum formal, namun
dapat membentuk karakter
mahasiswa yang inovatif, kreatif
dan kritis terhadap kondisi yang
dihadapinya.
o Isu kesehatan yang menjadi target
nasional dan global, seperti:
- Infant mortality rate
- Mother mortality rate
Perlu ditekankan kepada mahasiswa sebagai
target pelayanan kesehatan

2. Perlu adanya kewenangan kompetensi


dan kewenangan pelayanan yang tinggi

148
bagi dokter. Jika pada suatu wilayah
tidak memiliki spesialis sesuai
kebutuhan masyarakat di wilayah
tersebut, dokter dapat diberikan
kompetensi tambahan untuk
dilimpahkan kewenangan berpraktik
dari dokter spesialis terhadap
kebutuhan tersebut.
Saat ini yang sudah memberikan
kewenangan lebih luas terhadap dokter
saat ini adalah Spesialis Kulit, sampai
70% dengan level kompetensi 4A.
 Perlu ditingkatkan peranan dari
cabang IDI untuk masukan
pelayanan primer di setiap daerah,
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
karena dapat berbeda  pemetaan
kompetensi.
 Pengkajian kompetensi SKDI 2012
dilakukan dengan data kondisi
LAMPIRAN -LAMPIRAN

masalah kesehatan saat ini (sumber


BPJS 2016)

3. Perkembangan teknologi informasi:


- Bagi pelayanan:
Informasi masalah kesehatan dan
pengelolaannya dapat diberikan
dengan lebih mudah dan lebih
cepat, seperti perkembangan
telekonferens, apps kesehatan, dsb
- Bagi pendidikan:
Peningkatan kualitas FK dapat
diatasi dengan teknologi.
o Teknologi metode
pembelajaran dapat
memberikan efisiensi bagi
kebutuhan SDM dosen, seperti

149
laboratorium saat ini
berkembang dengan simulasi 
jumlah dosen tidak perlu
banyak dan tidak dibatasi
dengan waktu.
o Online learning untuk belajar
jarak jauh dan aksesnya sangat
banyak.
- IT digunakan sebagai media
pembelajaran yang inti pendidikan
kedokteran tetap pada
NURTURING. Teknologi digunakan
untuk mengefektifkan kontak
dosen dan mahasiswa, seperti
memberikan bahan diskusi dan
tugas secara online sebelum
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
pertemuan sehingga saat
pertemuan digunakan untuk diskusi
interaktif. Baik mahasiswa maupun
Dari 83 Fakultas Kedokteran di dosennya perlu memperdalam
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Indonesia yang terdiri dari 35 FK penguasaan materi yang akan


negeri dan 48 FK swasta, dibahas.
memiliki:
1. Sistem penerimaan
mahasiswa baru masih - Perlu direkomendasikan sistem
rentan terhadap titipan, penerimaan dan administrasi
sehingga kualitas dapat institusi untuk mencegah tindakan
menurun, yang mampu yang tidak etis
pendanaan, namun tidak
mampu kognitifnya,
memiliki peluang lebih besar
untuk menurunnya kualitas
mahasiswa.
2. Mekanisme pengawasan
penerimaan mahasiswa baru
fakultas kedokteran swasta
tidak ada

150
3. Penerapan kurikulum yang
berbeda, saat ini ada yang
kembali menggunakan
metode pembelajaran kuliah
tatap muka terutama untuk
keilmuan dasar.
4. Tidak ada kejelasan bagi
pembelajaran keilmuan
dasar dan farmakologi
karena standar yang perlu
diajarkan kurang jelas dalam
SKDI.
5. Jumlah dosen pada FK
belum optimal, banyak FK Perlu dilakukan pemetaan dan pemenuhan
baru yang belum meminjam kebutuhan dosen di FK
dosen dari pengampunya.
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
6. Kriteria akreditasi institusi
pendidikan kedokteran
cukup dengan terakreditasi
dan tidak terakreditasi
LAMPIRAN -LAMPIRAN

 Syarat pendirian prodi yang ada


di KKI berbeda dengan yang
disyaratkan DIKTI. Perlu sinkronisasi persyaratan pendirian
 Jenjang KKNI untuk pendidikan prodi
dokter berbeda antara perkonsil
dan KKNI dari Kemristekdikti.
 Hasil pendidikan:
1) Sertifikat profesi >< ijazah
(oleh institusi pendidikan)
02. Mutu lulusan baru pendidikan kedokteran  Pembukaan FK tidak seluruhnya  Melakukan pengawasan terhadap Kemenristekdikti,
dasar yang masih tidak merata dan tidak mengikuti standar dan prosedur FK baru IDI/Kolegium, Asosiasi FK,
siap pakai yang baku yang telah ditetapkan  Akreditasi pendidikan kedokteran KKI, ARSI, LAM-PT.Kes
 Akreditasi A, B dan C membuat cukup dengan terakreditasi dan
kualitas pendidikan sulit tidak terakreditasi
intervensi karena terlalu besar
perbedaan nya
03. UKMPPD  Masih ada retaker yang  Pertanyaan ujian disesuaikan dengan Kemenristekdikti,

151
mengikuti exit exam dan sudah materi yang diberikan dalam IDI/Kolegium, Asosiasi FK,
melewati masa studi namun pembelajaran KKI, ARSI, LAM-PT.Kes
belum lulus walaupun telah  Dikembangkan buku ajar yang baku
dilakukan bimbingan khusus. untuk acuan ujian
 Dari yang belum lulus ini banyak  Perlu ditingkatkan mutu CBT dan OSCE
juga yang melakukan praktik.
04. Kolegium Dokter Indonesia  KDI masih perlu ditindaklanjuti  Memperjelas kedudukan PDUI PB IDI – MKKI – Kolegium
05. Program internship dan karir lulusan  Internship pengelolaan  Perlu adanya sinkronisasi antara PB IDI, Kemenristekdikti,
dokter yang belum jelas programnya belum jelas standar Kemenkes, Kemenristekdikti, Kemenkes, KIDI,
pelaksanaan prosesnya. Kemendagri, Pemerintah Daerah dan IDI/Kolegium, KKI, PERSI,
Penyelenggaraannya di tiap mungkin juga dengan BPJS terkait Adinkes, BPJS Kesehatan
tempat berbeda-beda distribusi dokter dengan
tergantung pada tempat mengedepankan:
pelaksanaannya. - Rasio penyebaran dokter
berdasarkan kepadatan dan jumlah
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
 Karir dokter setelah lulus saat ini penduduk serta jumlah kebutuhan
lebih tidak jelas dibandingkan dokter.
dulu sehingga jika ditempatkan - Kesiapan tenaga dokter terhadap
di tempat terpencil tidak ada situasi daerah penempatan.
LAMPIRAN -LAMPIRAN

kenyamanan bekerja. - Jaminan pendapatan hidup layak,


 Dokter intersip bekerja dengan jaminan kesehatan, akses
standar hidup yang belum layak. komunikasi, dll
 Distribusi dokter tidak merata di - Tunjangan daerah berdasarkan
setiap provinsi. Dokter dapat tingkat ke-ekonomian daerah
berpraktik di 3 tempat sehingga sehingga diberikan tunjangan
membuat perhitungan tambahan
kebutuhan sulit diidentifikasi  Perlu direkomendasikan
dengan jelas. penyelenggaraan beasiswa terutama
beasiswa daerah untuk menjadi dokter.
 Penempatan dokter pasca internsip di
atur dalam peraturan KIDI.
06. KIDI  Ketua KIDI ditetapkan Kemkes  IDI menyurat resmi untuk
adalah perawat  jenjang penyelenggaraan internsip yang baik,
pendidikannya tidak memahami maka KIDI perlu dipimpin oleh orang
pendidikan dokter, lalu yang berlatar pendidikan dokter
mengatur internship

152
07. Jenjang pendidikan dokter  KKNI dokter masih dianggap  Jika melihat bidang lain, seperti
level 7 Psikologi, pendidikan Master saat ini
sekaligus diakui sebagai profesi. SKS yang
dipenuhi untuk itu minimal 40 SKS, dan
itu dapat dipenuhi dan diakui, sedangkan
dokter yang memiliki 56 SKS tidak diakui
sekaligus sebagai Master. Jika tesis
menjadi syarat untuk Master, pendidikan
ini hanya tinggal ditambahkan tugas tesis
tersebut. Dokter memang memiliki
kewajiban untuk meneliti. Hal ini akan
menjadikan posisi KKNI dokter naik.
 Mulai melaksanakan Perkonsil no 12
tahun 2013 tentang Penerapan KKNI
dalam pendidikan kedokteran telah
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
menyatakan bahwa dokter setara
dengan KKNI 8, namun pada Perpres RI
no 8 tahun 2012, berbeda dengan
Perkonsil, sehingga saat ini profesi
LAMPIRAN -LAMPIRAN

dokter termasuk dalam KKNI 7 (pasal 5).


 Antisipasi ini dapat meningkatkan
motivasi dokter untuk meneliti, dengan
adanya Master Terapan (KKNI 8) yang
dapat dinamakan sebagai Master Medik,
selanjutnya Doktor Medik. Sedangkan
Master, selanjutnya Doktor berdasarkan
bidang ilmu dengan gelar yang universal
yaitu PhD.
 Masukan terhadap jenjang pendidikan
dimasukkan juga ke dalam SPPDI yang
sudah diakui BSNP, karena ini akan
segera dikeluarkan oleh DIKTI.
 Jenjang pendidikan ini harus
mempertimbangkan kualitas institusi
pelaksana pendidikannya. Sebaiknya
pelaksanaannya dilaksanakan bertahap

153
08. Adaptasi WNI lulusan FK luar negeri  Lulusan FK LN yang di bawah  Perlu ada usulan revisi perkonsil bagi KDI, KKI, AIPKI
standar penyetaraan dan adaptasi
 Peserta adaptasi memilih FK  Yang ikut program adalah lulusan
tertentu yang penuh pendidikan profesi dokter
 Placement test adaptasi dilakukan oleh
panel ahli
 Meningkatkan proses penyetaraan ijazah
di Kemenristekdikti dengan
mengikutsertakan Organisasi Profesi
Dokter
09. Advokasi untuk penulisan dokter  Dokter ditulis oleh Dikti dengan IDI, Kemenristekdikti
dr.
10. Akreditasi institusi pendidikan kedokteran  Jenjang akreditasi A, B dan C  Akreditasi dibuat hanya terakreditasi dan IDI, LamPTKes dan
membuat hasil dari kualitas tidak terakreditasi Kemristekdikti
siswa berbeda. Persentase
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
ketidaklulusan UKMPPD
akreditasi C paling tinggi.
LAMPIRAN -LAMPIRAN

154
1

Draft Bahan Mukernas IDI2017


LAMPIRAN -LAMPIRAN

Komisi B - Bab PGME

No PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


1. Pendidikan spesialis dan subspesialis belum • Belum semua kolegium yang setuju • Perlu dikembangkan pendidikan Kolegium/MKKI-IDI, KKI,
memenuhi kebutuhan masyarakat dari dengan pembentukan prodi subspesialis dengan peningkatan DitJen Dikti
jumlah dan distribusi wilayah subspesialis. mutu fellowship (minimal 1 tahun).
• Perlu dikembangkan program RPL
(recognition prior learning) untuk
pengembangan program
subspesialistik.
• Pemetaan jumlah dokter spesialis- • Ditingkatkan peranan dari IDI
subspesialis yang dibutuhkan untuk cabang dan Perhimpunan cabang
masing-masing spesialisasi belum untuk memetakan kebutuhan dan
jelas, sehingga karena variasi spesialis kondisi yang ada saat ini untuk
banyak, jumlah dan sebaran spesialis spesialis dan subspesialis.
yang memang dibutuhkan masih • Meningkatkan peranan kementerian
belum memenuhi kebutuhan kesehatan untuk penyediaan
masyarakat.

155
beasiswa dengan bekerja sama
dengan prodi spesialis terkait
Keterbatasan lahan pendidikan spesialis Beberapa usulan pemecahan masalah MKKI-IDI, KKI, Kemenkes,
dgn RS utama pendidikan sbg rujukan antara lain: Kemendikbud
tersier dan RS jejaring pendidikan yg a. Penetapan RS Pendidikan harus
belum siap mendidik. mempertimbangkan sarana, rasio
kasus dan jumlah peserta didik,
b. Penetapan RS Pendidikan disertai
upaya penyetaraan tenaga dosen
pendidik klinik dgn hak &
kewajibannya
2 Pelaksanaan MRA masih belum selesai • Belum ada standar kompetensi 1. Semua kolegium segera menyusun Kolegium/MKKI-IDI,
pembahasannya yang sama dalam bidang spesialis standar kompetensi dan standar Ditjen Dikti, IDI, KKI,
dan subspesialistik pada pendidikan dalam Bahasa Inggris Kemenkes
pelaksanaan MRA 2. Tiap kolegium bekerja sama dengan
2

No PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


• Terdapat sistem pelayanan perhimpunan di negara masing-
kesehatan yang berbeda dalam masing
LAMPIRAN -LAMPIRAN

bidang spesialis dan subspesialis 3. Perlu dikembangkan pendidikan


• Sistem pendidikan berbeda antar subspesialis yang berupa fellowship
negara: university based dan training berdasarkan pelayanan
hospital based (hospital-based)
ASEAN 10 negara yang punya
kolegium hanya 5 negara

156
DRAFT BAHAN MUKERNAS PB IDI 2017
KOMISI B-CPD
LAMPIRAN -LAMPIRAN

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


1. Persepsi kompetensi yang masih belum 1. Selama ini penilaian akreditasi 1. Diusulkan penilaian MPPK, BP2KB PB IDI, IDI
sama penyelenggaraan P2KB hanya penyelenggaraan ditambah dengan Wilayah, IDI cabang
berdasarkan durasi, jenis penilaian kesesuaian dengan PDSp, PDPP,
penyelenggaraan, isi dan kualitas Standar Kompetensi masing – PDSm
pembicara masing, misalnya PDPP dengan
SKDI 2012 level 4, 144 diagnosis.
Adapun PDSp sesuai standar
kompetensi masing – masing.

2. Masih ada lembaga/ 2. Sosialisasi dan bersurat kepada BP2KB PB IDI, MPPK,
perhimpunan yang lembaga/perhimpunan terkait agar MKKI dan PDSp dan PDPP
mengeluarkan SKP eksternal tertib dalam pelaksanaan
sendiri. CPD/P2KB di Indonesia

3. Banyaknya pelatihan praktik 3. A.Penyamaan pemahaman BP2KB PB IDI, PDSp,

157
layanan tertentu tapi belum mengenai kompetensi masing- PDPP, PDSm dan
diakui. Penyelenggara pelatihan masing dokter. Penyelenggaraa Kolegium
tidak jelas legalitasnya. pelatihan yang legalitasnya tidak
jelas akan dicari solusi yang terbaik
misalnya dengan menyurati dan
menghimbau agar pelatihan yang
melibatkan dokter harus sesuai
dengan perhimpunan/kolegium
pengampu ilmu
B. Pemberian informasi kepada
pihak berwenang dalam
pengawasan pelatihan tersebut

4. Kewenangan pelatihan untuk 4. A. Meningkatkan kompetensi MPPK, BP2KB PB IDI, KKI,


mendapatkan kompetensi oleh 1. Apabila pelatihan peningkatan BP2KB Wil, Lembaga
PDSp kompetensi untuk Dokter maka terkait
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
harus melibatkan dua kolegium
yaitu kolegium/Perhimpunan
pengampu ilmu dan
kolegium/Perhimpunan PDPP yang
LAMPIRAN -LAMPIRAN

terkait.
2. Apabila pelatihan untuk
peningkatan kompetensi DSp maka
harus melibatkan
kolegium/Perhimpunan terkait

B. Mempertahankan kompetensi
1. Dry; Cukup rekomendasi
Kolegium/Perhimpunan
2. Wet: Kerjasama dengan
Kolegium/PDSp pengampu ilmu

5. Biaya yang diambil oleh 5. Aturan pembiayaan oleh PDSp: MPPK, MKKI, BP2KB PB
PDSp dirasakan A. Rekomendasi: Rp. 0,0 -1.000.000,- IDI,
memberatkan B. Kerjasama: Rp. 1.000.000-5.000.000

158
6. Perbedaan presepsi 6.Perlunya standarisasi kriteria pelatihan BP2KB PB IDI, PDSp,
pelatihan yang dianggap yang dianggap meningkatkan kompetensi PDSm, PDPP, IDI Wil, IDI
memenuhi penambahan Cab
kompetensi

2. Belum semua pelatihan modul Dokter di 1. Belum semua modul sesuai yang 1. Solusi: BP2KB PB IDI, KDI, PDPP,
Tingkat Pelayanan Primer berhasil dibutuhkan sesuai level A. Mencari stakeholders bagi modul Kolegium Pengampu
dilaksanakan kompetensi 4 SKDI 2012 bagi yang telah selesai sampai rencana Ilmu, stakeholders yang
dokter praktik primer. pembiayaan. lain.
B. Mohon komitmen para
penanggungjawab untuk
menyelesaikan pembuatan modul
sampai rencana pembiayaan.
Untuk mempercepat pembuatan
modul SKDI kompetensi 4A-4B
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
terutama yang sesuai dengan BPJS
diatasi dengan membuat
gelombang kedua, ketiga dstnya
secara paralel
LAMPIRAN -LAMPIRAN

C. Modul dibuat dengan struktur


yang baik, dan pelatihannya
diberikan sesuai kebutuhan dan
terintegrasi

2. Belum tersedianya sarana dan 1. Pelaksanaan peningkatan kompetensi PB IDI, BP2KB PB IDI,
prasarana, serta pendanaan dan penyegaran ilmu bagi dokter perlu BP2KB Wilayah
yang memadai untuk mendapatkan dukungan lebih besar
terlaksananya pelatihan dari pemerintah
2. Mempercepat pembuatan training
centre oleh PB IDI
3. Perlu keterlibatan IDI Wilayah atau
Cabang dalam pembuatan training
centre bekerjasama dengan stakeholder
terkait

3. Masa Berlaku KTA, Resertifikasi, Serkom 1. Masa berlaku KTA dan 1. Dianjurkan agar sama PB IDI, KDI

159
dan STR Resertifikasi

2. Masa berlaku Serkom dan STR 2. Paling lama perbedaan (batas toleransi KDI, KKI
keterlambatan) 6 bulan

4. Implementasi P2KB 1. Jumlah SKP yang besar A.1.Sosialisasi bahwa SKP dikumpulkan dari BP2KB PB IDI
5 ranah yaitu ranah pembelajaran,
profesi, pengabdian masyarakat dan
profesi, publikasi ilmiah/ilmiah popular
dan pengembangan ilmu dan pendidikan
2.SKP pembelajaran dapat dicapai tidak
hanya dari seminar/symposium tapi
juga jurnal on line, pembelajaran jarak
jauh dll
B. Pengembangan pembelajaran jarak jauh
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
untuk pemenuhan kekurangan nilai SKP

2.Ranah utama dokter adalah untuk


melakukan pelayanan kesehatan, akan
LAMPIRAN -LAMPIRAN

2. Kegiatan menejerial tidak tetapi kegiatan menejerial dihargai dengan


mendapatkan SKP yang memadai 10 SKP/tahun

3. Tidak perlu banyak mengikuti seminar


atau symposium berbayar, karena
3. Untuk mendapatkan SKP terlalu alternative lain adalah jurnal on line,
mahal aktivitas pembelajaran internal dll

4.Meningkatkan peranan IDI Cabang dalam


memfasilitasi sejawat yang tinggal di daerah
4. Perbedaan daerah misalnya tsb misalnya stakeholder (Dinkes, RS,
daerah terpencil, tertinggal dan Organisasi profesi lain)
perbatasan

5.Sosialisasi Panduan P2KB tentang kriteria

160
Penyelenggara P2KB
5. Perbedaan persepsi tentang
penyelenggara CPD/P2KB

6.Sebaiknya seminimal mungkin

6. Biaya
seminar/symposium/Pelatihan
yang tidak seragam 7.Masih perlu persiapan matang

7. Wacana evaluasi P2KB secara


online
LAMPIRAN -LAMPIRAN

PEMBAHASAN TIM AD HOC

BIDANG PENDIDIKAN
RAKERNAS 2017
PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA

CAKUPAN
BIDANG Pendidikan
dokter
Pendidikan
dokter spesialis
Pendidikan
berkelanjutan
BAHASAN

161
LAMPIRAN -LAMPIRAN

MASALAH

PENDIDIKAN PELAYANAN

DOKTER • Kondisi demografis, geografis,


• Standar pendidikan profesi FIT FOR ekonomi dan sosial budaya
dokter PURPOSE masyarakat
• Institusi penyelenggara FIT FOR • Sektor pelayanan kesehatan
pendidikan PRACTICE dan fasilitas kesehatan
• Input – proses – output
• Input – proses – output
pendidikan profesi
pelayanan kesehatan
• Seleksi dan kuota
• Jumlah dan jenis tenaga
PERAN
siswa IDI
kesehatan
• Kurikulum
• Anggaran pelayanan
• Uji kompetensi, dst
kesehatan, dst

STAKEHOLDERS TERKAIT

Majelis
Kolegium
IDI Perhimpunan Kedokteran
profesi Indonesia dan IDI
Kolegium
profesi

Pihak terkait
Pemerintah:
lainnya: KKI,
Kemristekdikti
AIPKI, ARSPI,
dan Kemkes
dsb

162
LAMPIRAN -LAMPIRAN

BME (Basic Medical Education)


No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
PENGANDIL
01 Melemahnya peran Regulasi yang Revitalisasi peran pengandil pendidikan kedokteran Konsil
pengandil memusatkan pendidikan 1. Penetapan-pengesahan Standar Pendidikan & Kedokteran
(shareholders kedokteran hanya Standar Kompetensi Dokter-Dokter Spesialis Indonesia,
pendidikan sebagai pendidikan Indonesia, Penerbitan Surat tanda Registrasi MKKI-IDI,
kedokteran) akademik pendidikan Dokter-Dokter Spesialis (KKI) Kolegium
tinggi 2. Pengaturan tumpang tindih kompetensi (MKKI- Dokter-Dokter
IDI) Spesialis,
3. Penetapan Kompetensi Dokter-Dokter Spesials Dirjen Dikti
(Kolegium terkait cabang ilmu) Kemristekdikti
4. Regulasi pendidikan akademik (syarat, sarana- , AIPKI,
prasarana, kelulusan) Fakultas
5. Koordinasi antar FK (pengaturan jumlah FK, Kedokteran,
pelaksanaan Standar Pendidikan) ARSPI, AHS
6. Penetapan kurikulum (FK)
7. Koordinasi antar RS pendidikan (AHS)
(kualifikasi RS AHS)
8. RS Pendidikan/AHS

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


BME (BASIC MEDICAL EDUCATION/ KEDOKTERAN DASAR)
01 Mutu pendidikan Standar Kompetensi Target dokter apa yang ingin dihasilkan harus Kemenristek
kedokteran dasar Dokter Indonesia jelas dimasukkan kembali ke dalam SKDI yang dikti,
yang masih (SKDI) dan Standar akan datang, seperti yang sudah ada pada IDI/Kolegium
Pendidikan Profesi SKDI 2006. Dalam SKDI 2006 jelas target
rendah dan belum , Asosiasi FK,
Dokter Indonesia dokter adalah mampu bekerja di pelayanan
merata. perlu dievaluasi primer dan berbasis kedokteran keluarga. ARSPI, KKI,
dalam rangka • Pendekatan pendidikan kedokteran perlu LAM-PT.Kes
perubahan SKDI 2012 dimulai adanya pembahasan keterlibatan
ke SKDI 2017 determinan sosial, tidak hanya biomedis.
Cara memberikan pendidikan tidak harus
melalui kurikulum formal, namun dapat
membentuk karakter mahasiswa yang
inovatif, kreatif dan kritis terhadap kondisi
yang dihadapinya.
• Isu kesehatan yang menjadi target nasional
dan global, seperti:
• Infant mortality rate
• Mother mortality rate
Perlu ditekankan kepada mahasiswa sebagai
target pelayanan kesehatan

163
LAMPIRAN -LAMPIRAN

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


BME (BASIC MEDICAL EDUCATION/ KEDOKTERAN DASAR)
02 Mutu pendidikan Standar Kompetensi Perlu adanya kewenangan kompetensi dan Kemenristek
kedokteran dasar Dokter Indonesia kewenangan pelayanan yang tinggi bagi dikti,
yang masih (SKDI) dan Standar dokter. Jika pada suatu wilayah tidak memiliki IDI/Kolegium
Pendidikan Profesi spesialis sesuai kebutuhan masyarakat di
rendah dan belum , Asosiasi FK,
Dokter Indonesia wilayah tersebut, dokter dapat diberikan
merata. perlu dievaluasi kompetensi tambahan untuk dilimpahkan ARSPI, KKI,
dalam rangka kewenangan berpraktik dari dokter spesialis LAM-PT.Kes
perubahan SKDI 2012 terhadap kebutuhan tersebut.
ke SKDI 2017 Saat ini yang sudah memberikan kewenangan
lebih luas terhadap dokter saat ini adalah
Spesialis Kulit, sampai 70% dengan level
kompetensi 4A.
• Perlu ditingkatkan peranan dari cabang IDI
untuk masukan pelayanan primer di setiap
daerah, karena dapat berbeda  pemetaan
kompetensi.
• Pengkajian kompetensi SKDI 2012 dilakukan
dengan data kondisi masalah kesehatan saat ini
(sumber BPJS 2016)

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


BME (BASIC MEDICAL EDUCATION/ KEDOKTERAN DASAR)
03 Mutu pendidikan Standar Kompetensi Perkembangan teknologi informasi: Kemenristek
kedokteran dasar Dokter Indonesia Bagi pelayanan: dikti,
yang masih (SKDI) dan Standar Informasi masalah kesehatan dan IDI/Kolegium
Pendidikan Profesi pengelolaannya dapat diberikan dengan lebih
rendah dan belum , Asosiasi FK,
Dokter Indonesia mudah dan lebih cepat, seperti
merata. perlu dievaluasi perkembangan telekonferens, apps ARSPI, KKI,
dalam rangka kesehatan, dsb LAM-PT.Kes
perubahan SKDI 2012 Bagi pendidikan:
ke SKDI 2017 Peningkatan kualitas FK dapat diatasi dengan
teknologi.
• Teknologi metode pembelajaran dapat
memberikan efisiensi bagi kebutuhan SDM
dosen, seperti laboratorium saat ini
berkembang dengan simulasi  jumlah
dosen tidak perlu banyak dan tidak dibatasi
dengan waktu.
• Online learning untuk belajar jarak jauh
dan aksesnya sangat banyak.

164
LAMPIRAN -LAMPIRAN

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


BME (BASIC MEDICAL EDUCATION/ KEDOKTERAN DASAR)
04 Mutu pendidikan Standar Kompetensi Perkembangan teknologi informasi: Kemenristek
kedokteran dasar Dokter Indonesia IT digunakan sebagai media pembelajaran dikti,
yang masih (SKDI) dan Standar yang inti pendidikan kedokteran tetap pada IDI/Kolegium
Pendidikan Profesi NURTURING. Teknologi digunakan untuk
rendah dan belum , Asosiasi FK,
Dokter Indonesia mengefektifkan kontak dosen dan mahasiswa,
merata. perlu dievaluasi seperti memberikan bahan diskusi dan tugas ARSPI, KKI,
dalam rangka secara online sebelum pertemuan sehingga LAM-PT.Kes
perubahan SKDI 2012 saat pertemuan digunakan untuk diskusi
ke SKDI 2017 interaktif. Baik mahasiswa maupun dosennya
perlu memperdalam penguasaan materi yang
akan dibahas.

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


BME (BASIC MEDICAL EDUCATION/ KEDOKTERAN DASAR)
05 Mutu pendidikan Dari 83 Fakultas Kedokteran di Indonesia yang Kemenristek
terdiri dari 35 FK negeri dan 48 FK swasta,
kedokteran dasar dikti,
memiliki:
yang masih rendah 1. Sistem penerimaan mahasiswa baru masih Perlu direkomendasikan IDI/Kolegium
dan belum merata. rentan terhadap titipan, sehingga kualitas sistem penerimaan dan , Asosiasi FK,
dapat menurun, yang mampu pendanaan, administrasi institusi untuk ARSPI, KKI,
namun tidak mampu kognitifnya, memiliki mencegah tindakan yang
peluang lebih besar untuk menurunnya tidak etis
LAM-PT.Kes
kualitas mahasiswa.
2. Mekanisme pengawasan penerimaan
mahasiswa baru fakultas kedokteran swasta
tidak ada
3. Penerapan kurikulum yang berbeda, saat ini
ada yang kembali menggunakan metode
pembelajaran kuliah tatap muka terutama
untuk keilmuan dasar.
4. Tidak ada kejelasan bagi pembelajaran
keilmuan dasar dan farmakologi karena Perlu dilakukan pemetaan
standar yang perlu diajarkan kurang jelas dan pemenuhan kebutuhan
dalam SKDI. dosen di FK

165
LAMPIRAN -LAMPIRAN

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


BME (BASIC MEDICAL EDUCATION/ KEDOKTERAN DASAR)
06 Mutu pendidikan Dari 83 Fakultas Kedokteran di Indonesia Kemenristek
kedokteran dasar yang terdiri dari 35 FK negeri dan 48 FK dikti,
yang masih rendah swasta, memiliki: IDI/Kolegium
5. Jumlah dosen pada FK belum optimal, Perlu sinkronisasi
dan belum merata. , Asosiasi FK,
banyak FK baru yang belum meminjam persyaratan pendirian
dosen dari pengampunya. prodi ARSPI, KKI,
6. Kriteria akreditasi institusi pendidikan LAM-PT.Kes
kedokteran cukup dengan terakreditasi
dan tidak terakreditasi
Syarat pendirian prodi yang ada di KKI
berbeda dengan yang disyaratkan DIKTI.

Jenjang KKNI untuk pendidikan dokter


berbeda antara perkonsil dan KKNI dari
Kemristekdikti.

Hasil pendidikan:
No. PERMASALAHAN 1. SertifikatPENYEBAB ijazah (oleh institusi PEMECAHAN MASALAH
profesi >< MASALAH INSTITUSI
pendidikan)
BME (BASIC MEDICAL EDUCATION/ KEDOKTERAN DASAR)
01 Mutu lulusan baru  Pembukaan FK tidak seluruhnya  Melakukan Kemenristek
pendidikan mengikuti standar dan prosedur yang pengawasan dikti,
kedokteran dasar baku yang telah ditetapkan terhadap FK baru IDI/Kolegium
yang masih tidak  Akreditasi A, B dan C membuat kualitas  Akreditasi pendidikan , Asosiasi FK,
merata dan tidak pendidikan sulit intervensi karena terlalu kedokteran cukup KKI, ARSI,
siap pakai besar perbedaan nya dengan terakreditasi LAM-PT.Kes
dan tidak
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH terakreditasi
PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
02 UKMPPD  Masih ada retaker yang  Pertanyaan ujian disesuaikan Kemenristek
mengikuti exit exam dan dengan materi yang diberikan dikti,
sudah melewati masa dalam pembelajaran IDI/Kolegium,
studi namun belum lulus  Dikembangkan buku ajar yang Asosiasi FK, KKI,
walaupun telah dilakukan baku untuk acuan ujian ARSI, LAM-
bimbingan khusus.  Perlu ditingkatkan mutu CBT PT.Kes
 Dari yang belum lulus ini dan OSCE
banyak juga yang
melakukan praktik.
03 Kolegium Dokter  KDI masih perlu  Memperjelas kedudukan PDUI PB IDI – MKKI –
Indonesia ditindaklanjuti Kolegium

166
LAMPIRAN -LAMPIRAN

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


04 Program internship  Internship pengelolaan programnya  Perlu adanya sinkronisasi antara PB IDI, Program
dan karir lulusan belum jelas standar pelaksanaan Kemenkes, Kemenristekdikti, Kemendagri, internship dan
dokter yang belum prosesnya. Penyelenggaraannya di Pemerintah Daerah dan mungkin juga dengan karir lulusan
jelas tiap tempat berbeda-beda BPJS terkait distribusi dokter dengan dokter yang
tergantung pada tempat mengedepankan: belum jelas
pelaksanaannya. - Rasio penyebaran dokter berdasarkan
 Karir dokter setelah lulus saat ini kepadatan dan jumlah penduduk serta jumlah
lebih tidak jelas dibandingkan dulu kebutuhan dokter.
sehingga jika ditempatkan di tempat - Kesiapan tenaga dokter terhadap situasi
terpencil tidak ada kenyamanan daerah penempatan.
bekerja. - Jaminan pendapatan hidup layak, jaminan
 Dokter intersip bekerja dengan kesehatan, akses komunikasi, dll
standar hidup yang belum layak. - Tunjangan daerah berdasarkan tingkat ke-
 Distribusi dokter tidak merata di ekonomian daerah sehingga diberikan
setiap provinsi. Dokter dapat tunjangan tambahan
berpraktik di 3 tempat sehingga  Perlu direkomendasikan penyelenggaraan
membuat perhitungan kebutuhan beasiswa terutama beasiswa daerah untuk
sulit diidentifikasi dengan jelas. menjadi dokter.
 Penempatan dokter pasca internsip di atur
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH dalamPEMECAHAN
peraturan KIDI. MASALAH INSTITUSI
05 KIDI  Ketua KIDI ditetapkan  IDI menyurat resmi untuk Program
Kemkes adalah perawat  penyelenggaraan internsip yang baik, internship
jenjang pendidikannya maka KIDI perlu dipimpin oleh orang dan karir
tidak memahami yang berlatar pendidikan dokter lulusan
No. PERMASAL PENYEBAB pendidikan dokter, lalu PEMECAHAN MASALAH dokter yang
INSTITUSI
AHAN MASALAH mengatur internship belum jelas
06 Jenjang  KKNI  Jika melihat bidang lain, seperti Psikologi, pendidikan Master saat ini Program
pendidikan dokter sekaligus diakui sebagai profesi. SKS yang dipenuhi untuk itu minimal 40 SKS, internship
dokter masih dan itu dapat dipenuhi dan diakui, sedangkan dokter yang memiliki 56 SKS dan karir
diangg tidak diakui sekaligus sebagai Master. Jika tesis menjadi syarat untuk Master, lulusan
ap level pendidikan ini hanya tinggal ditambahkan tugas tesis tersebut. Dokter dokter
7 memang memiliki kewajiban untuk meneliti. Hal ini akan menjadikan posisi yang
KKNI dokter naik. belum
 Mulai melaksanakan Perkonsil no 12 tahun 2013 tentang Penerapan KKNI jelas
dalam pendidikan kedokteran telah menyatakan bahwa dokter setara
dengan KKNI 8, namun pada Perpres RI no 8 tahun 2012, berbeda dengan
Perkonsil, sehingga saat ini profesi dokter termasuk dalam KKNI 7 (pasal 5).
 Antisipasi ini dapat meningkatkan motivasi dokter untuk meneliti, dengan
adanya Master Terapan (KKNI 8) yang dapat dinamakan sebagai Master
Medik, selanjutnya Doktor Medik. Sedangkan Master, selanjutnya Doktor
berdasarkan bidang ilmu dengan gelar yang universal yaitu PhD.
 Masukan terhadap jenjang pendidikan dimasukkan juga ke dalam SPPDI
yang sudah diakui BSNP, karena ini akan segera dikeluarkan oleh DIKTI.
 Jenjang pendidikan ini harus mempertimbangkan kualitas institusi pelaksana
pendidikannya. Sebaiknya pelaksanaannya dilaksanakan bertahap

167
LAMPIRAN -LAMPIRAN

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


07 Adaptasi WNI  Lulusan FK LN yang di bawah  Perlu ada usulan revisi perkonsil bagi KDI, KKI, AIPKI
lulusan FK luar standar penyetaraan dan adaptasi
negeri  Peserta adaptasi memilih FK  Yang ikut program adalah lulusan
tertentu yang penuh pendidikan profesi dokter
 Placement test adaptasi dilakukan oleh
panel ahli
 Meningkatkan proses penyetaraan ijazah
di Kemenristekdikti dengan
mengikutsertakan Organisasi Profesi
Dokter
08 Advokasi untuk  Dokter ditulis oleh Dikti IDI,
penulisan dokter dengan dr. Kemenristek
dikti
09 Akreditasi  Jenjang akreditasi A, B dan  Akreditasi dibuat hanya terakreditasi IDI,
institusi C membuat hasil dari dan tidak terakreditasi LamPTKes
pendidikan kualitas siswa berbeda. dan
kedokteran Persentase ketidaklulusan Kemristekdik
UKMPPD akreditasi C ti
paling tinggi.

168
LAMPIRAN -LAMPIRAN

PGME (Postgraduate Medical


Education)
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
01 Pendidikan  Belum semua kolegium  Perlu dikembangkan pendidikan Kolegium/M
spesialis dan yang setuju dengan subspesialis dengan peningkatan KKI-IDI, KKI,
subspesialis pembentukan prodi mutu fellowship (minimal 1 tahun). DitJen Dikti
belum memenuhi subspesialis.  Perlu dikembangkan program RPL
kebutuhan (recognition prior learning) untuk
masyarakat dari pengembangan program
jumlah dan subspesialistik.
distribusi wilayah  Pemetaan jumlah dokter  Ditingkatkan peranan dari IDI cabang
spesialis-subspesialis yang dan Perhimpunan cabang untuk
dibutuhkan untuk masing- memetakan kebutuhan dan kondisi
masing spesialisasi belum yang ada saat ini untuk spesialis dan
jelas, sehingga karena subspesialis.
variasi spesialis banyak,  Meningkatkan peranan kementerian
jumlah dan sebaran kesehatan untuk penyediaan
spesialis yang memang beasiswa dengan bekerja sama
dibutuhkan masih belum dengan prodi spesialis terkait
memenuhi kebutuhan
No. PERMASALAHAN masyarakat.
PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
02 Pendidikan Keterbatasan lahan Beberapa usulan pemecahan masalah MKKI-IDI,
spesialis dan pendidikan spesialis dgn RS antara lain: KKI,
subspesialis utama pendidikan sbg rujukan a. Penetapan RS Pendidikan harus Kemenkes,
belum memenuhi tersier dan RS jejaring mempertimbangkan sarana, Kemendikbu
kebutuhan pendidikan yg belum siap rasio kasus dan jumlah peserta d
masyarakat dari mendidik. didik,
jumlah dan b. Penetapan RS Pendidikan disertai
distribusi wilayah upaya penyetaraan tenaga dosen
pendidik klinik dgn hak &
kewajibannya

169
LAMPIRAN -LAMPIRAN

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


03 Pelaksanaan MRA  Belum ada standar 1. Semua kolegium segera menyusun Kolegium/M
masih belum kompetensi yang sama standar kompetensi dan standar KKI-IDI,
selesai dalam bidang spesialis dan pendidikan dalam Bahasa Inggris Ditjen Dikti,
pembahasannya subspesialistik pada 2. Tiap kolegium bekerja sama dengan IDI, KKI,
pelaksanaan MRA perhimpunan di negara masing- Kemenkes
 Terdapat sistem pelayanan masing
kesehatan yang berbeda 3. Perlu dikembangkan pendidikan
dalam bidang spesialis dan subspesialis yang berupa fellowship
subspesialis training berdasarkan pelayanan
 Sistem pendidikan (hospital-based)
berbeda antar negara:
university based dan
hospital based
ASEAN 10 negara yang
punya kolegium hanya 5
negara

170
LAMPIRAN -LAMPIRAN

CPD (Continuing Professional


Development)
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI
01 Persepsi 1. Selama ini penilaian 1. Diusulkan penilaian penyelenggaraan ditambah MPPK, BP2KB
kompetensi yang akreditasi dengan penilaian kesesuaian dengan Standar PB IDI, IDI
masih belum penyelenggaraan P2KB Kompetensi masing – masing, misalnya PDPP Wilayah, IDI
sama
hanya berdasarkan dengan SKDI 2012 level 4, 144 diagnosis. Adapun cabang
durasi, jenis PDSp sesuai standar kompetensi masing – PDSp, PDPP,
penyelenggaraan, isi masing. PDSm
dan kualitas pembicara 2. Sosialisasi dan bersurat kepada
lembaga/perhimpunan terkait agar tertib dalam
2. Masih ada lembaga/ pelaksanaan CPD/P2KB di Indonesia BP2KB PB IDI,
perhimpunan yang 3. A. Penyamaan pemahaman mengenai MPPK, MKKI
mengeluarkan SKP kompetensi masing-masing dokter. dan PDSp dan
eksternal sendiri. Penyelenggaraa pelatihan yang legalitasnya tidak PDPP
3. Banyaknya pelatihan jelas akan dicari solusi yang terbaik misalnya BP2KB PB IDI,
praktik layanan dengan menyurati dan menghimbau agar PDSp, PDPP,
tertentu tapi belum pelatihan yang melibatkan dokter harus sesuai PDSm dan
diakui. Penyelenggara dengan perhimpunan/kolegium pengampu ilmu Kolegium
pelatihan tidak jelas B. Pemberian informasi kepada pihak berwenang
No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH
legalitasnya. PEMECAHAN
dalam pengawasan MASALAH
pelatihan tersebut. INSTITUSI
02 Persepsi 4. Kewenangan pelatihan A. Meningkatkan kompetensi MPPK, BP2KB
kompetensi yang untuk mendapatkan 1. Apabila pelatihan peningkatan PB IDI, KKI,
masih belum sama kompetensi oleh PDSp kompetensi untuk Dokter maka harus BP2KB Wil,
melibatkan dua kolegium yaitu
Lembaga
kolegium/Perhimpunan pengampu ilmu dan
kolegium/Perhimpunan PDPP yang terkait. terkait
2. Apabila pelatihan untuk peningkatan
kompetensi DSp maka harus melibatkan
kolegium/Perhimpunan terkait
B. Mempertahankan kompetensi
1. Dry; Cukup rekomendasi
Kolegium/Perhimpunan
2. Wet: Kerjasama dengan Kolegium/PDSp
pengampu ilmu
5. Biaya yang diambil oleh 5. Aturan pembiayaan oleh PDSp: MPPK, MKKI,
PDSp dirasakan A. Rekomendasi: Rp. 0,0 -1.000.000,- BP2KB PB IDI,
memberatkan B. Kerjasama: Rp. 1.000.000-5.000.000
6. Perbedaan presepsi 6. Perlunya standarisasi kriteria pelatihan BP2KB PB IDI,
pelatihan yang dianggap yang dianggap meningkatkan PDSp, PDSm,
memenuhi penambahan kompetensi PDPP, IDI Wil,
kompetensi IDI Cab

171
LAMPIRAN -LAMPIRAN

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


03 Belum semua 1. Belum semua modul 1. Solusi: BP2KB PB IDI,
pelatihan modul sesuai yang dibutuhkan A. Mencari stakeholders bagi modul yang telah selesai KDI, PDPP,
Dokter di Tingkat sesuai level kompetensi sampai rencana pembiayaan. Kolegium
Pelayanan Primer 4 SKDI 2012 bagi dokter B. Mohon komitmen para penanggungjawab untuk Pengampu
berhasil praktik primer. menyelesaikan pembuatan modul sampai rencana Ilmu,
dilaksanakan pembiayaan. Untuk mempercepat pembuatan stakeholders
modul SKDI kompetensi 4A-4B terutama yang sesuai yang lain.
dengan BPJS diatasi dengan membuat gelombang
kedua, ketiga dstnya secara paralel
C. Modul dibuat dengan struktur yang baik, dan
pelatihannya diberikan sesuai kebutuhan dan
terintegrasi
2. Belum tersedianya 1. Pelaksanaan peningkatan kompetensi dan PB IDI, BP2KB
sarana dan prasarana, penyegaran ilmu bagi dokter perlu mendapatkan PB IDI, BP2KB
serta pendanaan yang dukungan lebih besar dari pemerintah Wilayah
memadai untuk 2. Mempercepat pembuatan training centre oleh PB
terlaksananya IDI
pelatihan 3. Perlu keterlibatan IDI Wilayah atau Cabang dalam
pembuatan training centre bekerjasama dengan
stakeholder terkait

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


04 Masa Berlaku 1. Masa berlaku KTA dan Dianjurkan agar sama PB IDI, KDI
KTA, Resertifikasi
Resertifikasi, 2. Masa berlaku Serkom dan STR Paling lama perbedaan (batas KDI, KKI
Serkom dan STR toleransi keterlambatan) 6 bulan

172
LAMPIRAN -LAMPIRAN

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


05 Implementasi 1. Jumlah SKP yang besar A.1.Sosialisasi bahwa SKP BP2KB PB
P2KB dikumpulkan dari 5 ranah yaitu ranah IDI
pembelajaran, profesi, pengabdian
masyarakat dan profesi, publikasi
ilmiah/ilmiah popular dan
pengembangan ilmu dan pendidikan
2.SKP pembelajaran dapat dicapai
tidak hanya dari seminar/symposium
tetapi juga jurnal on line,
pembelajaran jarak jauh dll
B. Pengembangan pembelajaran jarak
jauh untuk pemenuhan kekurangan
nilai SKP

2. Kegiatan menejerial tidak 2.Ranah utama dokter adalah untuk


mendapatkan SKP yang memadai melakukan pelayanan kesehatan,
akan tetapi kegiatan menejerial
dihargai dengan 10 SKP/tahun

No. PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH PEMECAHAN MASALAH INSTITUSI


06 Implementasi 3. Untuk mendapatkan SKP 3. Tidak perlu banyak mengikuti BP2KB PB
P2KB terlalu mahal seminar atau symposium berbayar, IDI
karena alternative lain adalah jurnal
on line, aktivitas pembelajaran
internal dll
4. Perbedaan daerah misalnya 4.Meningkatkan peranan IDI Cabang
daerah terpencil, tertinggal dalam memfasilitasi sejawat yang
dan perbatasan tinggal di daerah tsb misalnya
stakeholder (Dinkes, RS, Organisasi
profesi lain)
5. Perbedaan persepsi tentang 5.Sosialisasi Panduan P2KB tentang
penyelenggara CPD/P2KB kriteria Penyelenggara P2KB
6. Biaya seminar/ simposium/ 6.Sebaiknya seminimal mungkin
pelatihan yang tidak seragam
7. Wacana evaluasi P2KB secara 7.Masih perlu persiapan matang
online

173
174
LAMPIRAN 3

BAHAN SIDANG ORGANISASI


KOMISI C
PELAYANAN PROFESI KEDOKTERAN
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Daftar Isi

I. Good (best) clinical governance

II. Sistem Remunerasi

III. Evaluasi Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional

IV. Penataan Sistem Pelayanan Kesehatan Primer di FKTP

V. Reklasifikasi grouping , coding dan Tarif INA CBGs yang sesuai

VI. Gratifikasi

VII. Fraud

VIII. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

IX. Sistem kuota Dokter

X. Peran IDI dalam pendampingan kontrak kerjasama dokter dengan


fasyankes dan BPJS Kesehatan

XI. Health Technology Assesment

177
LAMPIRAN -LAMPIRAN

I. GOOD (BEST) CLINICAL GOVERNANCE

I.PENDAHULUAN

Dimensi kualitas dan keselamatan dalam implementasi tatakelola di era JKN harus jelas
ditetapkan di awal implementasi tatakelola dengan tujuan agar seluruh kerangka kerja yang
disusun harus menuju kearah dimensi – dimensi tersebut.

DIMENSI PENJELASAN
1.Efisiensi Setiap individu atau system pelayanan dapat memberikan hasil secara “ cost –
effective “ dan bijaksana dalam pemanfaatan sumberdaya
2.Efektifitas Setiap individu atau system pelayanan dapat menghasilkan upaya
penyembuhan sesuai harapan dan berbasis bukti dan praktis ( EBM – EBP )
3.Kapabilitas Setiap individu atau system pelayanan dalam menyelenggarakan pelayanan
harus memenuhi sikap, perilaku pengetahuan dan ketrampilan yang sesuai
kompetensi nya
4.Aksesibilitas Setiap individu atau system pelayanan yang dibangun harus dapat menjangkau
dan dijangkau oleh masyarakat tanpa mempertimbangkan latarbelakang apa
saja ( agama, ras, status, ekonomi budaya, social, geografis )
5.Keselamatan Setiap individu atau system pelayanan yang dibangun harus senantiasa
menghindari dan meminimalisasi terjadinya kemungkinan KTD
6.Kesesuaian Setiap individu atau system pelayanan harus senantiasa sesuai dengan EBM
– EBP, dan harapan pasien ( PNPK, PPK, ICP, PROTOKOL, PROSEDUR,
ALGORITMA, PROTAP )
7.Kontinuitas Setiap individu atau system pelayanan dalam penyelenggaraannya harus tidak
terputus selama 24 jam terus menerus
8.responsif- Setiap individu atau system pelayanan yang diberikan sesuai dengan
proaktif kebutuhan pasien pada saat itu atau melihat kebutuhan pasien yang
diharapkan
9.Ketahanan Setiap individu atau system pelayanan yang diselenggrakan harus didukung
infrastruktur yang memenuhi standar baik untuk pelayanan rutin maupun
emergensi
10.Kepekaan Setiaap individu dan system yang diselenggarakan harus dapat membangun
dan mengembangkan “ sense of urgency “

178
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Program Jaminan Kesehatan Nasional telah diberlakukan sejak 1 Januari 2014. Penyelenggara
dari JKN adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang akan membayar
seluruh proses perawatan dari pasien yang masuk rumah sakit. Kendali mutu dan kendali biaya
menjadi sangat ketat. Pada tahun 2019 akan masuk pada era UNIVERSAL HEALTH
COVERAGE, berarti seluruh penduduk Indonesia sebanyak kurang lebih 250 juta wajib
mengikuti BPJS-K tersebut.

Reformasi total dari pelayanan kesehatan tersebut adalah :


 Sistem penyelenggaraan asuransi social
 Penyelenggara Badan Hukum Publik ( BPJS-K )
 Sistem pelayanan berjenjang
 Sistem pembayaran dari BPJS-K ke PPK ( Kapitasi di FKTP, INA CBG’s DI FKTL )
 Manfaat Komprehensif : Preventif, Promotif, Kuratif dan Rehabilitatif

Akibat lanjut dari reformasi total tersebut diperlukan adanya perubahan paradigma bagi
seluruh pihak yang berkepentingan terhadap pelayanan kesehatan, antara lain :
 pola kuratif ---- promotive / preventive
 fee for service/FFS ---- prospective payment system/PPS ( KAPITASI – INA CBG’S )
 kendali mutu dan kendali biaya yang ketat
 implementasi tatakelola di fktp – fktl ( corporate – clinical governance )
 etis – profesional dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
 system thiniking
 perubahan budaya kerja
 multidisciplinary teamwork – strong collaborative enterprise
 perlunya pengembangan accountable care organisation ( aco )
 perlunya pengembangan clinical integration network ( cin )

Dalam Era JKN pembiayaan merupakan hal penting. Tujuan sistem pembiayaan pelayanan
kesehatan di era JKN:
 Mendorong peningkatan mutu
 Mendorong layanan berorientasi pasien
 Mendorong efisiensi

179
LAMPIRAN -LAMPIRAN

 Tidak memberikan reward terhadap provider yang melakukan, overtreatment,


undertreatment maupun melakukan adverse event
 Mendorong untuk pelayanan tim

Prospective Payment System menjadi pilihan karena :
 dapat mengendalikan biaya kesehatan
 mendorong pelayanan kesehatan tetap bermutu sesuai standar
 Membatasi pelayanan kesehatan yang tidak diperlukan berlebihan atau under
use
 Mempermudah administrasi klaim
 Mendorong provider untuk melakukan cost containment

Perubahan FFS menjadi PPS juga harus diikuti pola praktik dari volume based practice
menjadi value based practice yang sangat di tentukan oleh adanya strongly collaborative
enterprice , dimana kolaborasi antar seluruh pemangku kepentingan dalam pelayanan
kesehatan baik di tingkat makro maupun tingkat meso dam mikro.

180
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Tatakelola rumah sakit terdiri dari : corporate governance, clinical governance dan control
assurance sesuai dengan gambar di bawah ini :

II.LANDASAN HUKUM.

UURI No. 44 Tahun 2009, Pasal 36 mengamanatkan bahwa setiap rumah sakit harus
menyelenggarakan Tatakelola Rumah Sakit dan Tatakelola Klinik yang baik.
Tata kelola rumah sakit yang baik adalah penerapan fungsi-fungsi manajemen rumah sakit
yang berdasarkan prinsip-prinsip tranparansi, akuntabilitas, independensi dan responsibilitas,
kesetaraan dan kewajaran.

Tatakelola klinik yang baik( penjelasanUU RS no. 44/2009/pasal 36 ) adalah penerapan fungsi
manajemen klinis yang meliputi : kepemimpinan klinik, audit klinis, data klinis, risiko klinis
berbasis bukti, peningkatan kinerja, pengelolaan keluhan, mekanisme monitor hasil pelayanan,
pengembangan profesional, akreditasi rumah sakit.
PMK 755/2011, yang menyatakan bahwa KOMITE MEDIK dibentuk agar penyelenggaraan
tatakelola klinik dapat diimplementasikan dengan baik, agar keselamatan pasien dan
manajemen risiko dapat melindungi pasien dan dokter serta rumah sakit dan dapat menjaga
profesionalisme staf medik di rumah sakit, melalui :
 Proses kredensial dan pemberian kewenangan klinik

181
LAMPIRAN -LAMPIRAN

 Menjaga mutu pelayanan profesi


 Menjaga etik, dan disiplin serta perilaku staf medik

IDI sebagai Organisasi Profesi, payung dari seluruh anggotanya berkewajiban untuk :
 Memberi pemahaman terhadap tatakelola klinik bagi seluruh anggotanya dan
 Mengusulkan kepada pemerintah agar implementasi tatakelola klinik di seluruh FKTL –
FKTP baik pemerintah maupun swasta mutlak adanya untuk di implementasikan.
 Mengusulkan adanya komite khusus yaitu KOMITE CLINICAL GOVERNANCE untuk
mengarahkan, mengawsi serta memonitor dan melakukan penilaian terhadap
pengembangan clinical governance di seluruh FKTP – FKTL baik pemerintah maupun
swasta.
 Keseluruhan dari amanah ini demi terlaksananya pelayanan kesehatan yang berkualitas,
keselamatan pasien dan pencegahan fraud di era JKN

Diperlukan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan di bawah koordinasi Pemerintah


dalam hal ini Kementerian Kesehatan sehingga akuntabilitas dalam implementasi tatakelola
dapat terlaksana di seluruh Indonesia sesuai dengan kemampuan sumberdaya yang ada di
tempat masing-masing.

Secara eksplisit peran IDI dalam era JKN adalah dengan memperkuat KOMITE MEDIK AGAR
TATAKELOLA KLINIK DAPAT BERJALAN DENGAN BAIK DENGAN DUKUNGAN
AKUNTABILITAS PEMERINTAH – KEMENTERIAN KESEHATAN dan PEMERINTAH
DAERAH. Dengan demikian proses governance akan selaras dari tingkat pusat sampai
pelaksana pelayanan di FKTP – FKTL.

182
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Dalam tatakelola, akuntabilitas menjadi hal yang utama. Adanya akuntabilitas membuktikan
bahwa proses pelayanan mempunyai keterkaitan dalam system regulasi yang ada dan dapat
dipertanggung jawabkan dengan bentuk laporan sebagai umpan balik dari proses pelayanan
yang telah dilaksanakan

Akuntabilitas bagi dokter adalah :


 Pertanggung jawaban pada kinerja dan kepatuhan pada diri sendiri dalam melaksanakan
profesinya ( individu – disiplin diri )
 Pertanggung jawaban pada saat berprofesi dengan tim kerja nya ( tim kerja )
 Pertanggung jawaban terhadap organisasi dimana dia bernaung dan pada organisasi
rumah sakit ( dalam organisasi profesi – organisasi rumah sakit )

Akuntabilitas juga dibutuhkan dari pemerintah sebagai bukti komitmen dalam penyelenggaraan
pelayanan agar pelayanan dapat diselenggarakan secara berkesinabungan dan tertata baik
dalam regulasinya maupun dalam programnya, seperti terlihat pada bagan di bawah ini : “

“TRIANGLE ACCOUNTABILITY “

Dari bagan di atas jelas terlihat dukungan pemerintah terhadap pelayanan kesehatan
akuntabel. Ada keterkaitan antara policymakers, policy implementaters dan policy
operator sebagai pelaksana pelayanan. Keterkaitan ini saling memperkuat pelaksanaan
program pelayanan terutama di era JKN .

183
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Dengan demikian implementasi clinical governance – tata kelola diharapkan :


 Mendorong peningkatan mutu
 Mendorong layanan berorientasi pasien
 Mendorong efisiensi
 Tidak memberikan reward terhadap provider yang melakukan overtreatment,
undertreatment maupun melakukan adverse event
 Mendorong untuk pelayanan tim

III.CLINICAL GOVERNANCE – TATAKELOLA KLINIK

Governance harus dipahami sebagai :


• Bagaimana melakukan upaya merubah perilaku manusia dalam bekerja
• Upaya mencapai efisiensi, bukan efisiensi itu sendiri
• Upaya atau precursor mencapai kualitas yang maksimal dan keselamatan pasien
• Upaya mengejar excellent of care

Good Governance :
• is the processes for making and implementing decision is accountable it’s not about
making “ correct decision “ but about the best possible process for making those
decision
• good governance is a complex undertaking, and the most successful organizations
see governance as something that is everyone’s responsibility.
• it is not just the responsibility of the executive, or of the ‘governance’ unit, and it is
not just the domain of clinical staff
• Good Corporate Governance
- “ hard’ elements “ ( systems andprocesses )
- “ softer elements “( effectiveleadership and high standardsof behaviour. ) .
It incorporates both strong internal characteristics and the ability to scanand work
effectively in the external environment.

184
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Definition :
• Clinical Governance (CG) in SGH “The framework which integrates a
multidisciplinary approach to evidence based medical practice aimed at maintaining
and continuously improving clinical performance and patient safety”. Is a dedicated
body that coordinates various units of safety and quality of care across the hospital.
E
• CLINICAL GOVERNANCE can be defined as; “A systematic and integrated
approach to assurance and review of clinical responsibility and accountability that
improves quality and safety resulting in optimal patient outcomes.” Western
Australian Clinical Governance Guidelines.
• The evolution of clinical governance : a system which is able to demonstrate, in both
primary and secondary care, that systems are in place guaranteeing clinical quality
improvements at all level of healthcare provision.

• CLINICAL GOVERNANCE IS ABOUT :


o changing the way people work, shift of culture
o demonstrating that leadership,
o teamworkand communicationis as important to high-quality care as
risk management and clinical effectiveness.
o Individual healthcare professionals need to embrace change,
adopting reflective practice, which places patients at the centre of
their thinking.
o Teams need to become true multi-disciplinary groups,
interprofessional healthcare team where understanding
• about roles,
• about sharing information and knowledge and
• aboutsupport for each other becomes part of everyday
practice.
o Leadership at every level

Dalam kaitannya dengan upaya implementasi clinical govrnance di rumah sakit, diperlukan
pemahaman yang sama terhadap clinical governance tersebut, oleh karena itu disepakati
adanya pergeseran dari “ clinical practice dan clinical management menuju clinical
governance. Hal mana dapat di lihat pada bagan di bawah ini :

185
LAMPIRAN -LAMPIRAN

TERM DEFINITION
Clinical Structures, systems, and standards applying to create a culture, and
Governance direct and control clinical activities.
Clinical accountability and responsibility, a sub-set of clinical governance,
involves the monitoring and oversight of clinical activities, including
regulation, audit, assurance and compliance by governors (such as
boards of directors), regulators (such as governments and professional
bodies), internal auditors and external auditors.
Clinical Processes and procedures, including resourcing clinical staff, by MANAGERs
managemen to efficiently, effectively and systematically deliver high quality, safe clinical
t care.
Clinical Delivery by CLINICIANS of high quality, safe clinical care in compliance with
practice clinical policies and performance standards, in the interests of patients

Dengan demikian pemahaman dari clinical governance akan sama bagi seluruh dokter yang
berprofesi di FKTP dan FKTL diera JKN ini.

IDI berkewajiban memberi pemahaman yang sama juga untuk implementasi nya di FKTP
dan FKTL, dalam hal ini mengusulkan ke para pemilik rumah sakit baik pemerintah
maupun swasta.

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa clinical governance – tatakelola merupakan
upaya perbaikan kualitas pelayanan kesehatan secara terus menerus berkesinabungan
melalui implementasi struktur, system dan standar yang dapat mengarahkan dan
mengawasi seluruh aktifitas klinik yang pada akhirnya membentuk budaya dalam
berprofesi bagi seluruh dokter di Indonesia. Akuntabilitas dan responbilitas klinik
merupakan bagian dari clinical governance , termasuk upaya monitor dan melihat
kesalahan atau kekeliruan dalam berprofesi melalui adanya regulasi, audit, kepatuhan,
regulasi mana di susun oleh CEO, BOD, pemerintah dan professional bodies --- ( IDI, KKI,
MKDKI ??? ), auditor internal dan eksternal.KOMITE TATAKELOLA KLINIK dan KOMITE
AUDIT menjadi persyaratan untuk dibentuk di tingkat pusat sampai daerah sebagai bentuk
upaya manejemen risiko dan keselamatan pasien di rumah sakit.

186
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Salah satu elemen terpenting dalam implementasi tatakelola klinik adalah perlunya
pengembangan AKUNTABILITAS.Pengembangan akuntabilitas melalui penerapan clinical
governance akan membangun budaya berprofesi bagi seluruh dokter di Indonesia sehingga
terbangun budaya dimana seluruh dokter pada waktu berprofesi secara rutin dan termotivasi
selalu bertanya dalam dirinya :

AM I DOING IT RIGHT ? HOW CAN I DO BETTER ?

Clinical Governance yang baik :

• Merupakan kerangka kerja yang dapat menjamin terselenggaranya :


– kualitas dan keselamatan pasien,
– pencegahan terjadinya KTD,
– mengurangi adanya variasi dalam pelayanan
• Merupakan aktifitas yang :
– melibatkan seluruh individu di rs dengan adanya kepemimpinan di
seluruh level pelayanan.
• Konsep Kualitas dan keselamatan yang disusun sebelumnya ( quality by design )
agar seluruh risiko dapat dicegah/diminimalisir keterjadiannya
• Adanya akuntabilitas individu, unit kerja dan organisasi secara keseluruhan
dalam bentuk strategi tatakelola
• Merupakan integrasi aktifitas keseharian dari seluruh individu ; CEO, manajer,
klinisi dan karyawan lainnya ( day by day , week by week, month by month )
• Prioritas pada aktifitas klinisi ( dokter – dokter gigi ) sebagai lokomotif pelayanan.

Clinical Governance aims


 To shiftthe performance and conformance of all health organisationscloser to the
standards of the best.
 Toreduce unjustifiable variations in quality of careprovided ( in terms of outcomes,
access andappropriateness).

187
LAMPIRAN -LAMPIRAN

CLINICAL GOVERNANCE is needed toreassure thepublic that the care received is in the
the highest standard. Essence of governance :
 We know what we should do
 We have to plan to do it
 We review the outcomes of the plan
 We see where we can improve
Clinical governance ….. we do this for the people we serve………
The essence of clinical governanceis to ensure that the right things happen to patients more
often (by making it easy to do the right thing) and the wrong things happen to patients less often
(by making it difficult to do the wrong thing ).

CLINICAL GOVERNANCE : ALL INDIVIDUAL IN HOSPITAL@EVERY TIME, ALWAYS


ASK, HOW WE KNOW WE ARE:
1. Doing the RIGHT thing Right at first time and overtime
2. To the RIGHT person
3. At the RIGHT time
4. In the RIGHT place
5. By the RIGHT person and resources
6. With the RIGHT attitude/behavior, knowledge and skill

Prioritas utama pada implementasi clinical governance adalah bagaimana mengupayakan


agar para dokter berlaku sebagai pimpinan dalam pelayanan yang etis dan profesional. Hal
mana dapat dicapai dengan :
Pergeseran peran dokter dari “ physician practitioners menjadi physician leader “ dengan
membangun “ clinical leadership “ , seperti hal di bawah ini :
Clinical leadership in the health and care services is about delivering high quality
services to patients by:
 demonstrating personal qualities
 working with others
 managing services
 improving services, and
 setting direction

188
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Aplikasi Kepemimpinan klinik sehari-hari dalam clinical governance :


o keterlibatan dalam semua sejawat klinis dalam menjaga mutu dan
meningkatkan keselamatan
o berkontribusi dalam diskusi dan pengambilan keputusan terkait peningkatan
mutu dan luaran pelayanan
o mengangkat isu dan bertindak nyatadalam kepedulian terhadap keselamatan
pasien
o mendemonstrasikan kerja sama tim multidisiplin
o mendukung lingkungan kerjayang bebas dari diskriminasi, bullying dan
pelecehan
o menjadi teladan( role model ) dalam arti positip
o memanfaatkan secara bijaksana seluruh sumberdaya sesuai kebutuhan
untuk kebaikan pasien dan masyarakat

Sebagai pimpinan klinik seorang dokter harus berperan :

o SEBAGAI SEORANG KLINISI


 Kompeten dlm ilmu dan teknologi kedokteran
o SEBAGAI SEORANG MANAJER
 Dapat memanfaatkan sumber daya sesuai kebutuhan pasien, manajemen praktis
cost effectiveness,
o SEBAGAI SEORANG PROFESIONAL
 Dapat membangun professional relationship dengan pasien dan keluarganya,
teman sejawatnya, karyawan lainnya, manajemen, patuh pada seluruh
perundang-undangan yang berlaku, seluruh ketentuan rumah sakit.
Dikaitkan dengan pengembangan tatakelola klinik pada operasional nya para dokter harus
menyesuaikan diri untuk terlibat dalam pengembangann “ clinical integrated network “ ,
seperti terlihat pada bagan di bawah ini

189
LAMPIRAN -LAMPIRAN

190
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Gambar di atas menjelaskan betapa penting nya CLINICAL GOVERNANCE sehingga di


akhir 2016 Australian Commission for Quality in Health menganggap perlu
pengembangan KERANGKA KERJA NASIONAL CLINICAL GOVERNANCE.

III.KESIMPULAN :

• CLINICAL GOVERNANCE : bridging the gap between managerial and clinical approaches
to quality of care
• CLINICAL GOVERNANCE aims to bring together managerial, organisational, and
clinical approaches to improving quality of care
• CLINICAL GOVERNANCE, bring clinical decision making to corporate
accountability
• CLINICAL GOVERNANCE IS EVERYBODY JOB n RESPONSIBILITY IN
HOSPITAL

• CLINICAL GOVERNANCE , means :

• PLANNING OF CARE : is the process of making decisions about the


treatment, care and support that the individual will receive and about who
will be involved in providing the appropriate services

191
LAMPIRAN -LAMPIRAN

• DELIVERY OF CARE : is the process of co-ordinating, managing and


providing the care so that the individual receives the “ right “ services at
the “ right “ time and in the “ right “ way to match their assessed needs and
in accordance with the agreed integrated care plan
• CONTINUUM OF CARE :
are structured multi-disciplinary plansof care designed to support the
implementation of clinical guidelines and protocols, such as clinical
management, clinicaland non clinical resources management, clinical
audit and also financial management
• INTEGRATED CARE : it requires good organizationwhat one might
call management– governance and it requires that we perform actions in
ways that are known to deliver good quality care

• Medical staff governance has consequently become a key factor in


hospital governance

IV.REKOMENDASI
A. SARAN UNTUK PENENTU KEBIJAKAN SECARA UMUM :
1. ADANYA REGULASI YANG MELIBATKAN SELURUH INSTITUSI SEBAGAI
PEMANGKU KEPENTINGAN TERHADAP AKUNTABILITAS
2. PERLUNYA STRUKTUR YANG MEMONITOR DAN MENGEVALUASI
PENERAPAN TATAKELOLA DI SELURUH INSTITUSI PEMANGKU
KEPENTINGAN

192
LAMPIRAN -LAMPIRAN

3. ADANYA STANDAR NASIONAL UNTUK IMPLEMENTASI TATAKELOLA


SEBAGAI LANDASAN YANG UTAMA DALAM PERBAIKAN KUALITAS DAN
KESELAMATAN DI ERA JKN
4. POLICY MAKER, POLICY IMPLEMENTERS AND POLICY
OPERATIONAL/PROVIDERS HENDAKNYA BERSAMA-SAMA MENYUSUN
PROSES MONITORING DAN EVALUASI SECARA DAY BY DAY TERHADAP
IMPLEMENTASI TATAKELOLA RUMAH SAKIT ( KORPORAT DAN KLINIK )
5. MENGEMBANGKAN REGULASI YANG SALING MENDUKUNG TERHADAP
SHORT ACCOUNTABILITY DAN LONG ACCOUNTABILITY DALAM
OPERASIONALISASI TATAKELOLA DI SELURUH INSTITUSI PELAYANAN
SECARA BERJENJANG ( FKTP – FKTL ) DALAM BENTUK KERANGKA
KERJA ATAU PEDOMAN TATAKELOLA RUMAH SAKIT ( KORPORAT –
KLINIK )
6. REGULASI YANG MEWAJIBKAN IMPLEMENTASI TATAKELOLA SECARA
NYATA DALAM OPERASIONALISASI RS DENGAN ADANYA STRATEGI,
STRUKTUR, PROSES, SISTEMTATAKELOLA KORPORAT DAN
TATAKELOLA KLINIK ,
7. IMPLEMENTASI TATAKELOLA ( KORPORAT – KLINIK ) MASUK PADA
AKREDITASI

B. SPESIFIK :
• MAKRO :( POLICY MAKERS : REGULATOR -TINGKAT PENENTU
KEBIJAKAN/DPR/PEMERINTAH/PEMDA )
– DUKUNGAN NYATA - KOMITMEN PEMERINTAH UNTUK KEWAJIBAN
IMPLEMENTASI CLINICAL GOVERNANCE DALAM BENTUK REGULASI
UTAMANYA AKUNTABILITAS
– PERLUNYA KOMISI – KOMITE CLINICAL GOVERNANCE DI SEMUA LEVEL
( KEMKES, PROPINSI, KABUPATEN/KOTA, KECAMATAN, PROVIDERS )
– FRAMEWORK / PEDOMAN TATAKELOLA RUMAH SAKIT – TATAKELOLA
KLINIK YANG BAIK
• MIKRO : ( POLICY IMPLEMENTATERS : TINGKAT OPERATOR - OPERASIONAL
PELAYANAN KESEHATAN )

193
LAMPIRAN -LAMPIRAN

– IMPLEMENTASI CLINICAL GOVERNANCE ( RS VERTIKAL, RSUD, RS


KECAMATAN, PUSKESMAS, RS SWASTA, KLINIK, ORGANISASI
PELAYANAN KESEHATAN LAINNYA )
– FRAMEWORK / PEDOMAN TATAKELOLA KLINIK YANG BAIK
– ADA STRUKTUR CLINICAL GOVERNANCE PADA ORGANOGRAM SETIAP
RS
– FRAMEWORK / PEDOMAN CLINICAL GOVERNANCE YANG BAIK
– LAPORAN TAHUNAN TERHADAP IMPLEMENTASI CLINICAL GOVERNANCE
– MEMBANGUN – MENGEMBANGKAN :
• BUDAYA BERPROFESI DENGAN ETIS – PROFESIONAL
• CLINICAL LEADERSHIP
• KERJA TIM MULTIDISIPLIN YANG SOLID
• SYSTEM – ANALYTIC THINKING
• LEARNING ORGANISATION
• ACO ( Accountable Care Organisation ) – CIN ( Clinically Integrated
Network )

II. SISTEM REMUNERASI DOKTER

Remunerasi Dokter di banyak Rumah Sakit di Indonesia akhir-akhir ini seringkali


menjadi issue yang sangat ramai diperbincangkan karena dirasakan tidak
seragam,tidak berkeadilan dan cendrung merugikan dokter yang merupakan sentral
pelaku utama dalam pelayanan kesehatan.
Oleh arena itu IDI mersa perlu untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada
pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan remunerasi dokter agar dirasakan
adil oleh dokter.

Panduan IDI untuk remunerasi profesi dokter di Indonesia,Tim Monev JKN.

REMUNERASI DOKTER PADA ERA PRA-JKN

• Menganut Post Payment Sistem


• Pembayaran Remunerasi Dokter Dalam Bentuk Jasa Medis

194
LAMPIRAN -LAMPIRAN

• Jasa Dokter Dibayar Dengan Sistem Fee For Service


• Pasien Membayar Tarif Pelayanan Secara Out Of Pocket (Penetapan Oleh Rs)
• Sudah Berlangsung Lebih Dari 30 Tahun

JASA MEDIS ERA JKN

• Menganut Pre Payment Sistim


• Pentarifan Dengan Pola Case Mix/Drg
• Pelayanan Mengikuti Pola Managed Care
• Tidak Lagi Menggunakan Pola Fee For Service, Pembayaran Oleh Bpjs
• Jasa Dokter Dibayar Dengan Sistim Remunerasi

PERBEDAAN SISTEM REMUNERASI SEBELUMDAN SESUDAH PENERAPAN JKN

Sebelum JKN

• Pembayaran remunerasi berasal dari kumpulan pembayaran jasa profesi dalam sistem
fee for service.
• Jasa profesi muncul “by name”dalam billing, sehingga profesional merasa memiliki hak utama
• Jasa utilitas penunjang medik dapat dimasukkan sebagai komponen remunerasi
(paradigma utilitas).

Sesudah JKN

• Pembayaran remunerasi diolah dari pendapatan pelayanan sesuai tarif INA-CBG.


• Tidak ada akun “jasa profesi” dalam billing INA-CBG.
• Utilisasi penunjang medik yang berlebihan akan menjadi sumber pemborosan sumber daya,
bukan sumber pendapatan (paradigma efisiensi).
POLA DASAR SISTEM REMUNERASI

1. Ditentukan Oleh Nilai Jabatan (Job Value) Setiap Staf


2. Ditentukan Oleh Nilai Pekerjaan Seorang Staf ( Value Based Payment)
3. Menerapkan Manajemen Kinerja
4. Menganut Pola 3 P (P1, P2 Dan P3).

195
LAMPIRAN -LAMPIRAN

SISTIM REMUNERASI YANG BISA DITERAPKAN DI RS\

I. MENGGUNAKAN METODE REMUNERASI TOTAL

 Menetapkan nilai jabatan setiap staf dalam RS yang menghasilkan corporate grade staf
RS
 Menetapkan Point Indeks Rupiah (PIR).

II. MENGGUNAKAN METODE PROPORSIONAL

 Menetapkan proporsi remunerasi setiap kelompok profesi di RS


 Menetapkan RVU setiap staf berbasis nilai pekerjaan

III. MENGGUNAKAN METODE KONVERSI

 Tarif jasa pelayanan existing dijadikan acuan


Membagi semua revenue sesuai proporsi berdasarkan konversi tarif eksisting terhadap
total dana remunerasi

KONSEP REMUNERASI DOKTER YG DIUSULKAN

• Remunerasi Dokter terdiri dari 3 komponen yaitu :


• P1,P2 dan P3
• P1 adalah pembayaran atas profesionalisme dokter, proporsi 25-30 % dari take home
pay (THP)
• P2 adalah pembayaran atas kinerja dokter, proporsi 50 % dari THP
• P3 adalah pembayaran untuk penghargaan atas dedikasi dan mutu kerja dokter, proporsi
20-25 % dari THP

DUA BENTUK REMUNERASI DOKTER

A. Remunerasi mengacu standar kelayakan profesi ; upaya menjamin kewajaran


remunerasi dokter
a) Menggunakan dasar perhitungan kebutuhan dan harapan dokter, Penetapan P1
sebagai acuan (berdasar UMK)
b) Mengacu pada hasil survei penghasilan dokter IDI th 2007, Penetapan THP
(P1+P2+P3) mengacu hasil survei pendapatan dokter.

196
LAMPIRAN -LAMPIRAN

B. Remunerasi mengacu penghasilan Institusi (RS/Klinik)


Menggunakan dasar revenue dan job value atau nilai pekerjaan

Mengacu pada Permenkes 625 th 2010 tentang remunerasi di RS, ada beberapa model:

a) Model remunerasi total, satu sistem untuk seluruh RS, menggunakan job value,
poin index rupiah dan index kinerja
b) Model proporsional, ditetapkan proporsi jasa setiap kelompok profesi di RS
c) Model konversi, besaran jasa medis yang berlaku di RS dikonversikan menjadi
RVU dari setiap produksi dengan harga Ina-CBG
d) Model Kapitasi, pendapatan ditentukan oleh jumlah populasi dikalikan harga
kapitasi (untuk FKTP)

BENTUK A MENGACU STANDAR KELAYAKAN :

a) Menggunakan penetapan P1, P2 dan P2


Penetapan P1 :

1) Minimal requirement seorang dokter untuk hidup layak sebagai profesional.


2) Mengacu pada standar UMK yang diajust sesuai dengan tingkat kebutuhan dokter yang
lebih tinggi.
3) Diusulkan besaran P1 untuk dokter adalah 3-5 kali UMK, untuk spesialis adalah 6-9
UMK, untuk sub spesialis adalah 9-12 kali UMK.

Simulasi remunerasi P1menggunakan acuan UMK

Dokter ( Umum) 3-5 UMK ;

• Asumsi UMK rata-rata adalah 2.500.000


• P1 = 7.500.000 – 12.500.000
Dokter Spesialis 6-10 UMK ;

• Asumsi UMK rata-rata adalah 2.500.000


• P1 = 15.000.000 – 25.000.000
Dokter Subspesialis 10-12 UMK :

• Asumsi UMK rata-rata adalah 2.500.000


• P1 = 25.000.000 –30.000.000

197
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Penetapan P2 :

1) Pembayaran remunerasi komponen P2 berdasarkan kinerja dokter


2) Penetapan indeks kinerja dokter dengan full time equivalent (FTE) sebagai acuan.
3) Ukuran FTE adalah jam kerja dan jumlah produksi/kontribusi dalam pelayanan.
4) Indeks 1 untuk kinerja 90-120% FTE, indeks 2 untuk 120-150% FTE, dan indeks 3 utk
>150% FTE
5. Besaran untuk setiap indeks kinerja adalah 1 kali P1, 2 kali P1 dan 3 kali P1

Penetapan P3 :

Konsep utama dalam pembayaran Komponen P3 adalah dedikasi dokter terkait dengan :

1. Bekerja pada lokasi yang isolated/terpencil


2. Bekerja pada daerah yang high risk
3. Bekerja dengan kondisi SDM kurang
4. Bekerja dengan mutu standar atau lebih
5. Besarannya berkisar antara 50-100% dari P1

b. Menggunakan standarisasi take home pay (THP)

Mengacu Pendapatan Perkapitasesuai hasil survei pendapatan IDI Th 2007

• Pendapatan rata rata perkapita Indonesia tahun 2016


adalah USD 3.500

• THP Dokter (Umum): 9-14 Kali USD 3.500


USD 31,500 – 49.000 pertahun

USD 2,600 – 4.000 perbulan

Dalam Rupiah ; 34.000.000 – 52.000.000

• Dokter Spesialis : 30- 44 kali USD 3.500


USD 105.000 – 154.000 pertahun

USD 9.000 – 13.000 perbulan

Dalam Rupiah ; 117.000.000 – 169.000.000

198
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Bentuk B mengacu penghasilan institusi (RS/Klinik)

I. MODEL REMUNERASI TOTAL

Terintegrasi pada sistem remunerasi RS

1) Variabel penentu remun adalah Harga jabatan dokter, Indeks kinerja, Poin Indeks
Rupiah (PIR)
2) Hak remun dokter adalah nilai jabatan dokter dikalikan dengan Poin Indeks Rupiah
dan Indeks kinerja.
3) Perlu modifikasi/simulasi untuk mendapatkan THP yang wajar utk dokter.
4) Menggunakan acuan P1 standar atau dilakukan kompensasi pada P3

Penetapan harga jabatan :

CORP GRADE NILAI TERTINGGI JND NILAI TERRENDAH

20 18,950 20% 15,216

19 15,215 20% 12,196

18 12,195 20% 9,717

17 9,716 20% 7,692

16 7,691 20% 6,079

15 6,078 20% 4,832

14 4,831 20% 3,859

13 3,858 20% 3,066

12 3,065 20% 2,474

11 2,473 20% 1,966

10 1,965 20% 1,626

9 1,625 20% 1,293

8 1,292 20% 1,094

199
LAMPIRAN -LAMPIRAN

7 1,093 20% 882

6 881 20% 700

5 699 20% 562

4 561 20% 459

3 458 20% 374

2 373 20% 304

1 303 20% 242

Penetapan Indeks Kinerja Individu :

STANDAR PENILAIAN KINERJA INDIVIDU

KATEGORI NILAI NILAI NILAI IKI TARGET KINERJA

BAIK SEKALI ≥ 15 3 ≥ 150%

11 sd. < 15 2.9 140% sd. < 150%

10 sd. < 11 2.6 130% sd. < 140%


BAIK
9 sd. < 10 2.3 115 % sd. < 130%

8 sd. < 9 2 100% sd. < 115%

7 sd. < 8 1.9 96% sd. < 100 %

6 Sd. < 7 1.6 94 % sd. < 96%


SEDANG
5 sd. < 6 1.3 92 % sd. < 94%

4 sd. < 5 1 90 % sd. < 92%

3 sd. < 4 0.9 80% sd. < 90%

2 sd. < 3 0.8 70% sd. < 80%


KURANG
1 sd. < 2 0.7 60% sd. < 70%

0 sd. < 1 0.5 < 60%

200
LAMPIRAN -LAMPIRAN

II. Remunerasi Dokter Model Proporsional

Menetapkan proporsi pendapatan setiap kelompok profesi di RS

Alokasi proporsi remunerasi kelompok, pengalaman empiris yang bisa dipakai acuan adalah
:

1. Alokasi untuk kelompok medis (dokter, dokter gigi, spesialis) : 15-18 % dari revenue.
2. Alokasi untuk staf klinis (Perawat, Bidan, Farmasi, Gizi, Radiografer, Fisioterapis, Analis
Laboratorium, dll) :12-16 % dari revenue.
3. Alokasi untuk staf non klinis (administrasi, IT, dll) ; 4-5 % dari revenue.
4. Alokasi untuk manajemen (Direktur, Manajer, Kepala Unit dll) : 4-5 % dari revenue.

Total dana remunerasi adalah 35-44 % dari revenue.

Bagaimana pembagian remunerasi dalam kelompok dokter,berdasarkan kontribusi setiap


orang dalam menghasilkan revenue (RVU)

1. Menggunakan Nilai Pekerjaan Sederhana setiap dokter (jumlah kegiatan dikalikan


dengan Harga pekerjaan)
1) Ditetapkan harga pekerjaan setiap profesi dalam bentuk Poin didapat dari daftar
harmonisasi jasa IDI
2) Hitung kinerja setiap dokter (perkalian jumlah pekerjaan dengan harga setiap
pekerjaan) sebagai nilai pekerjaan ybs
3) Hitung total nilai pekerjaan semua dokter
4) Tetapkan Poin Indeks Rupiah (porsi dana remun dokter dibagi total nilai pekerjaan
dokter)
5) Hak remun setiap dokter adalah nilai pekerjaan dokter dikalikan dengan poin
indeks rupiah.

2. Menggunakan Nilai Pekerjaan Komposit setiap dokter (Kualifikasi, Produktifitas, Mutu)


1) Tetapkan nilai poin komposit setiap dokter dalam kelompok, berdasarkan
kualifikasi, produktifitas, dan mutu yang telah ditetapkan terlebih dahulu oleh
manajemen rumah sakit bersama dokter.
2) Jumlahkan nilai poin komposit setiap dokter, dan jumlahkan total semua nilai poin
komposit kelompok dokter

201
LAMPIRAN -LAMPIRAN

3) Tetapkan PIR dengan membagi alokasi remun dokter dengan total poin komposit.
4) Hak remun dokter adalah poin komposit dikalikan PIR.

FAKTOR PEMBEDA UNTUK MENETAPKAN POIN KOMPOSIT

1. Kualifikasi dokter (Umum, Spesialis pisau, Spesialis non pisau, Spesialis penunjang)
2. Pengalaman kerja sejak selesai pendidikan
3. Masa kerja di RS bersangkutan
4. Indeks kinerja individu (FTE, produktifitas)
5. Perilaku mutu dan pencapaian mutu kerja

PENETAPAN INDEKS KINERJA INDIVIDU DAN FTE

Kriteria untuk penetapan Indeks Kinerja Individu dan Full Time Ekivalen, dibahas bersama
bersama didalam kelompok dengan mempertimbangkan kekhususan pekerjaan, tingkat
kesulitan, risiko, pengerahan waktu dlsb.

PERHITUNGAN REMUNERASI DOKTER di FKTP

1. Pay For Position (P1)


Alokasi anggaran untuk P1 adalah 10-40% dari alokasi remunerasi
2. Pay For Performance (P2)
Alokasi anggaran untuk P2 adalah 30-40% dari total alokasi remunerasi
3. Pay For People (P3)
Alokasi anggaran untuk P3 adalah berkisar 10-20% dari total alokasi anggaran remunerasi

202
LAMPIRAN -LAMPIRAN

III.Evaluasi implementasi Jaminan Kesehatan Nasional


(JKN)
1. Latar belakang

Transformasi pelayanan kesehatan terkait erat dengan:

 Undang undang SJSN No 40 tahun 2004Universal Health Coverage melalui JKN


pada tahun 2019.
 Keberhasilan sektor kesehatan adalah tanggung jawab bersama dan Negara
menjamin kesehatan rakyatnya sesuai amanah UUD1945 dan UU kesehatan no 36
tahun 2009
 UU no 29 tahun 2004 ttg praktek kedokteran memiliki peran aktif melalui upaya
mewujudkan profesionalisme dokter dalam rangka menghadirkan pelayanan
kesehatan yang bermutu dan pro rakyat

Menuntut transformasi sistem pelayanan kesehatan yang berkeadilan bagi rakyat dan
seluruh stake holder JKN di Indonesia.

Peningkatan kualitas pelayanan harus didukung dengan kecukupan biaya pelayanan


Peraturan terkait Sistem Jaminan Kesehan Nasional UU No 40 tahun 2004, Peraturan
permenkes dibawahnya, peraturan BPJS terdapat disharmoni yang akan menimbulkan
masalah dalam pencapaian universal health coverage

2. Permasalahan
Masalah terjadi di Fasilitas kesehatan di era JKN
 Meskipun sebagian dokter, klinik, RS Swasta dapat bertahan di era JKN, tetapi tidak akan
mampu mengganti investasi dan perbaikan/penggantian alat medis mengikuti
perkembangan tekhnologi kedokteran dan akan tertinggal dengan negara lain, bahkan
sebagian lagi terpaksa menghentikan pelayanan (bangkrut)
 Banyak puskesmas yang diberikan peserta melebihi ratio maksimum 1 dokter : 5000
peserta, akibatnya banyak peserta yang tidak dilayani dan upaya promotif dan preventif
tidak berjalan maksimal.
 Rumah Sakit melakukan pembatasan pelayanan terutama yang beresiko dan berbiaya tinggi
sehingga terjadi antrian panjang dan ketidakpastian pelayanan.

203
LAMPIRAN -LAMPIRAN

 Biaya pelayanan dibawah biaya operasional menyebabkan RS Swasta tidak terdorong


membangun ICU, NICU, ICCU, PICU yang jumlahnya kurang.
 Upaya pemerataan peserta melalui redistribusi dengan konsep multi private partnership
belum berjalan baik

TRANSFORMASI KESEHATAN BELUM SAMA PERSEPSI DARI SELURUH


STAKEHOLDER
- Belum adanya kesamaan pandang terhadap tujuan pelayanan dan pembiayaan di era
JKN
- Reformasi dari pelayanan Era JKN tidak disertai dengan Hospital Governance (corporate
dan clinical) serta reengenering perubahan radikal dengan melakukan indentifikasi
masalah dan outcome pelayanan berdasarkan masukan dari seluruh stake holder agar
berimbang untuk penyelesaian akar masalah di era JKN.

DISHARMONI PERATURAN PELAYANAN JKN


 Tumpang tindih kebijakan pemerintah dan BPJS Kesehatan baik dalam regulasi di
faskes primer dan fasilitas tingkat rujukan
 Belum ada sinkronisasi Undang Undang dan peraturan presiden dengan peraturan
dibawahnya yang mendukung pelaksanaan JKN
 Dalam peraturan pemerintah belum melibatkan organisasi profesi dalam penyusunan
kebijakan dan pembiayaan yang mengedepankan mutu standart profesi kedokteran.
 Kedudukan BPJS sebagai badan penyelenggara ikut mengatur dan membuat regulasi
sehingga menimbulkan disharmoni kebijakan antar lembaga dan terjadi masalah di
lapangan
 Sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah belum dapat diwujudkan karena terjadi
benturan dengan kebijakan otonomi daerah

PEMENUHAN KEBUTUHAN FASKES DAN DOKTER TIDAK SEIMBANG DENGAN


PENINGKATAN JUMLAH PESERTA

 Distribusi peserta tidak merata di FKTP , distribusi peserta masih dominan di puskesmas,
sehingga pertumbuhan FKTP swasta dan Dokter Praktek Mandiri menjadi terhambat dan
memilih tidak bekerjasama dengan BPJS Kesehatan
 Belum ada keterlibatan organisasi profesi dan asosiasi faskes dalam proses kredensial
dan distribusi peserta

204
LAMPIRAN -LAMPIRAN

1. Akar masalah

PENDANAAN JKN TIDAK MEMADAI


 Iuran 5 % dengan batas upah yang rendah (Rp 8 juta). Tidak terjadi subsidi silang bagi
masyarakat yang mampu untuk membantu masyarakat yang tidak mampu.
 Iuran belum sesuai hitungan aktuaria (prinsip dasar dasar asuransi) untuk cukupan
membayar layanan kesehatan swasta sesuai harapan harga pasar
 Jumlah penduduk ag djamin JKN-KIS Desember 2016 165 juta jiwa atau 68 % penduduk
Jumlah klaim BPJS tahun 2016 Rp 69 Triliun
 Data dari National Health Account (NHA) Kemenkes : Total Belanja kesehatan seluruh
penduduk Indonesia tahun 2015 Rp 318 Triliun hanya 18 %, padahal penduduk yang
dijamin sudah 68 %

2. Dampak

MUTU PELAYANAN AKAN BERPOTENSI MASYARAKAT MENDAPATKAN


PELAYANAN YANG SUB STANDAR

 Untuk memenuhi pelayanan yang bermutu perlu didukung tersedianya jumlah tenaga
medis dan tenaga kesehatan yang cukup dan sesuai dengan kompetensinya dan sesuai
dengan sarana dan prasarana, obat-obatan/alkes dalam jumlah yang cukup.
 Implementasi tata kelola klinis yang baik dan dan didukung kecukupan pembiayaan
pelayanan kesehatan yang memadai.
 Penetapan harga obat terlalu rendah ,akibatnya obat di e -katalog sering tidak tersedia
di lapangan
 Angka kematian untuk kasus gawat darurat meningkat karen keterlambatan pelayanan
karena fasilitas intensive care terbatas

3. Solusi perbaikan :

JANGKA PENDEK UNTUK PERBAIKAN PELAYANAN KESEHATAN YANG BERMUTU

 Menaikkan batas upah iuran pekerja formal,menjadi minimum Rp 30 juta,agar terjadi


subsidi silang ,sesuai prinsip asuransi sosial
 Pemerintah memberi bantuan dana kepada BPJS Kesehatan untuk menutupi kekurangan
dana. Prinsip gotong royong perlu menolong penduduk bukan penerima upah yang sakit

205
LAMPIRAN -LAMPIRAN

kronis melalui dana publik. Sumber dana dapat diambil dari kenaikan cukai rokok,
pengurangan subsidi BBM dan listrikyang tidak mengancam jiwa dan tidak menimbulkan
penderitaan
 Pemerintah mengijinkan peserta yang memilih klinik dan RS Swasta dengan jadwal yang
lebih nyaman membayar sendiri 20-30 % dari Tarif (model korea dan Jepang)
 Perbaikan system pelayanan kesehatan dan pelayanan yang bermutu berdasarkan standar
pelayanan kedokteran dengan melibatkan organisasi profesi

JANGKA PANJANG
 Menaikkan iuran menjadi 6% upah dan batas upah dinaikkan sampai 50 juta.
Idealnya, banyak Negara, tidak ada batas Upah
 Menaikkan cukai konsumsi barang berbahaya untuk kesehatan :rokok, alkohol, fast
food, BBM dan menggunakan dana tersebut untuk hibah kepada peserta JKN
 Mengurangi pendaan langsung ke puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah dan
menaikkan tarif kapitasi dan INA- CBGs
 Fasilitas kesehatan milik pemerintah harus bersaing dengan fasilitas kesehatan
swasta mendapatkan klaim dari BPJS Kesehatan dan meringankan APBN/APBD
 Mengembalikan biaya UKM (Puskemas) ke Anggaran APBD sehingga meringankan
(mengurangi defisit anggaran)

4. Harapan IDI

PEMERINTAH MELIBATKAN IDI DALAM MENYUSUN REGULASI PELAYANAN


KESEHATAN

IDI ikut berperan dalam membantu pemerintah dalam menyusun regulasi dan kebijakan
pelayanan Kesehatan JKN
Melibatkan IDI dalam kredensial dandistribusi peserta JKN –KIS di FKTP
 Melibatkan IDI dalam perbaikan mutu pelayanan sesuai dengan standart profesi
 Melibatkan IDI dalam evaluasi perbaikan biaya pelayanan yang bermutu sesuai
standart prektek kedokteran yang mengedepankan pada keselamatan pasien
 Melibatkan IDI dalam penyusunan obat obatan dan alkes yang harus tersedia dalam
Fornas
 Melibatkan IDI dalam pembuatan regulasi (peraturan & kebijakan) dan bidang
pelayanan kesehatan

206
LAMPIRAN -LAMPIRAN

 Mendorong perbaikan tariff INA CBGs di Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjut
(FKRTL)
 IDI Terlibat dalam implementasi corporate governance dan clinical governance

IV. Penataan Sistem Pelayanan Kesehatan Primer


di Fasilitas Kesehatan Tingkat Primer

I. PENDAHULUAN

Dalam UU Nomor 36 tahun 2009 ditegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak sama
dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan dan memperoleh
layanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau.
Sebaliknya, setiap orang juga mempunyai kewajiban turut serta dalam program jaminan
kesehatan sosial. Untuk mengatasi hal itu pada tahun 2004 di keluarkan UU No. 40
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional ( SJSN ). Dalam UU No.40 tahun 2004 bahwa
jaminan sosial wajib seluruh penduduk termasuk Jaminan Kesehatan Nasional ( JKN )
melalui suatu Badan Penyelenggaraan Jaminal Sosial ( BPJS ).
Negara dengan layanan kesehatan primer yang kuat dan berkualitas akan mampu
menciptakan sistem layanan kesehatan yang bermutu.
Pemerintah Indonesia telah menerapkan Jaminan Kesehatan Nasional ( JKN ) dengan
peran sistem pelayanan primer yang vital dalam memenuhi hajat sehat masyarakat luas.
Sebagai ujung tombak sistem pelayanan kesehatan nasional, kedudukan tenaga
kesehatan di layanan primer yaitu dokter, dokter gigi, perawat, bidan dan tenaga
kesehatan lainnya.
Pelayanan kesehatan primer, penguatan sistem kesehatan juga dilakukan melalui sistem
rujukan yang efektif, layanan yang kuat di Rumah Sakit.
Dalam dua tahun pelaksanaan JKN masih perlu pembenahan dalam penataan sistem
pelayanan kesehatan primer dan masih dihadapkan berbagai masalah di lapangan.

207
LAMPIRAN -LAMPIRAN

II. DEFINISI
Pelayanan Kesehatan Primer
Fungsi utamanya adalah mengatasi masalah kesehatan yang belum jelas batasnya,
mengobati penyakit ringan, mengelola penyakit kronis, mencegah penyakit dan
melakukan promosi kesehatan .
Berbagai masalah kesehatan tersebut merupakan masalah kesehatan sehari – hari yanga
da di masyarakat dan mencakup lebih dari 90% masalah kesehatan individu dan keluarga,
dan probabilitas kejadiannya besar.
Pelayanan kesehatan primer merupakan pondasi dan bagian terbesar dari sistem ini
berfungsi sebagai mitra masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup sehat, memelihara
kesehatan dan sebagian besar masalah kesehatan sehari – hari, oleh sebab itu tempatnya
harus sedekat mungkin dengan masyarakat yang dilayani dokter di fasilitas kesehatan
pelayanan primer sebagai gate keeper untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan
kesehatan masyarakat ( upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif )
Di era Jaminan Kesehatan Nasional termasuk fasilitas kesehatan primer (tingkat pertama)
terdiri dari :
- Puskesmas atau yang setara
- Prakter dokter
- Praktek dokter gigi
- Klinik pratama atau setara

III. PERMASALAHAN
JKN sebagai suatu sistem yang besar dan baru berjalan hampir 4 tahun masih relatif
singkat, implementasi JKN masih jauh dari sempurna dan masih banyak kendala di
lapangan
Berkaitan dengan itu maka dalam sistem pelayanan kesehatan primer terjadi perubahan
fundamental di era JKN antara lain :
1. Pelayanan kesehatan dari komoditas menjadi hak setiap penduduk NKRI
2. Pembiayaan kesehatan dari fee for service, ot of pocket dan multi players menjadi pre
payment dan single payer
3. Sistem pelayanan kesehatan dari tidak terstruktur menjadi terstruktur

208
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Untuk keberhasilan JKN faktor pencetus yang perlu di perbaiki adalah :


1. Ketersediaan fasilitas kesehatan tingkat pertama bermutu dan dokter di pelayanan
primer yang handal dan tersebar merata di seluruh NKRI
2. Biaya kapitasi yang masih rendah
3. Perkuat upaya kesehatan masyarakat ( UKM )
4. Pengaturan FKTP dan dokter belum merata
5. Distribusi peserta JKN dan FKTP tidak seimbang, sebagian besar terdistribusi di
Puskesmas

A. Ketersediaan Fasilitas Kesehatan


- Praktek kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh dokter
terhadap pasien dalam melaksanakan. Praktek kedokteran adalah rangkaian
kegiatan yang dilaksanakan oleh dokter terhadap pasien dalam melaksanakan
upaya kesehatan (UU Praktek Kedokteran 2004, pasal 1).
- Sarana pelayanan kesehatan adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan
kesehatan yang dapat digunakan untuk praktek kedokteran ( UU Praktek
Kedokteran 2004, pasal 2)
Dalam hal ini pemerintah perlu membuat regulasi fasilitas pelayanan kesehatan
primer ( FKTP) antara lain :
1. Regulasi pengaturan tentang klarifikasi, bentuk entitas, standar nakes, standar
pelayanan dan sarana, serta FKTP milik pemerintah.
2. Regulasi mengatur farmasi, status , karir dan penghargaan penempatan dan
penyebarannya dengan melibatkan organisasi profesi

B. Regulasi tentang penjamin mutu pelayanan kesehatan Biaya Kapitasi yang


Masih Rendah
Apapun bentuk FKTP yang akan dipilih oleh dokter dalam menjalankan praktek
kedokteran ada 4 komponen biaya yang selalu harus dipertimbangkan dalam FKTP
yaitu:
1. Biaya operasional praktek ( mayor, personal, material habis pakai, pemasaran,
gedung ( telpon, listrik, air ), rumah tangga kantor, marketing dan lain-lain
2. Biaya untuk memeliharan dan meningkatkan kompetensi fungsi doker dan tim
kerjanya ( asuransi malpraktek, lisensi, sertifikasi, registrasi, seminar / pelatihan)

209
LAMPIRAN -LAMPIRAN

3. Biaya jaminan sosial ( tabungan hari tua / pensiunan asuransi jiwa, asuransi
kesehatan, tabungan pendidikan
4. Biaya hidup untuk dirinya dan keluarga

Berbagai komponen biaya itu mutlak diperlukan sebagai dasar untuk


memperkirakan nilai kapitasi dan hal menjadi bagian penting dalam negosiasi
kontrak dengan BJPS.
Point penting lainnya yang tidak boleh dilaporkan sejak awal masuk adalah
perkiraan pendapatan yang akan diterima dokter di pelayanan pasien dan apakah
pendapatan ini sudah sesuai dengan harapannya. Hal ini perlu dihperbaiki untuk
mencegah dkemungkinan dokter mengurangi hak pasien hanya karena ingin
menambah pendapatannya.

RASIONALISASI BIAYA
Dalam sistem JKN, dokter di pelayanan primer diberi tanggungjawab yang besar
dan strategis yaitu harus mampu menyelesaikan hamper 90% masalah kesehatan
di masyarakat. Untuk dokter di pelayanan primer sebagai gatekeeper dan strata
rujukan berperan sebagai back up untuk menyelesaikan sekitar 10% masalah
kesehatan di masyarakat. Sebagai imbalannya dokter di pelayanan primer dibayar
dengan biaya yang pasti secara kapitasi, sedang strata rujukan harus mengajukan
tagihan yang besarnya tidak pasti. Posisi financial BPJS berisiko tinggi bila
komponen biaya tidak pasti, sangat tinggi dan sangat fluktuatif dan hal ini
menimbulkan ketidakpastian dalam pengelolaan finansial BPJS. Untuk mengurangi
resiko finansial perlu dilakukan rasionalisasi biaya dengan cara meningkatkan
komponen biaya pasti yang artinya meningkatkan alokasi dana untuk membiayai
pelayanan di strata primer .

Pada tahap awal penerapan JKN ini, pemerintah telah mengambil kebijakan yang
tidak tepat dari segi pembiayaan yang dapat disimak dari hal berikut ini.

 Pemerintah menetapkan besaran nilai kapitasi. Padahal kalau melihat


hubungan kontrak antara BPJS dan FKTP jelas terilhat bahwa besaran nilai
kapitasi yang dibayarkan BPJS sifatnya sangat individual dan bergantung pada
ciri demografi peserta JKN dan lingkup pelayanan yang dapat disediakan oleh

210
LAMPIRAN -LAMPIRAN

setiap FKTP. Dengan demikian logisnya money follow function, jadi dapat
dipastikan nilai kapitasi akan berbeda dari satu FKTP ke FKTP lain walaupun
tetap dalam rentang yang terkendali.
Sekarang ini pemerintah menerapkan pendekatan yang sebaliknya yaitu
function follow money nilai kapitasinya tidak pula memenuhi azas keekonomian
sehingga dapat dipastikan pendekatan ini akan berdampak negative pada
pasien dan pemberi layanan.
 Kebijakan yang lebih tepat adalah pemerintah menetapkan berapa proporsi
biaya yang harus dialokasikan BPJS untuk membiayai FKTP. Idealnya BPJS
diperintahkan mengalokasikan 40% dari dananya untuk FKTP. Dengan dana
40% tersebut diharapkan seluruh penduduk telah terlayani dan 90% masalah
kesehatan mereka dapat diatasi.

Rasionalisasi Biaya
- Memperbesar porsi biaya pasti ( pelayanan primer ) yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
90% masalah kesehatan di masyarakat
- Dengan cara memperluas paket manfaat yang dapat diberikan di faskes primer 
meningkatkan kompetensi & kewenangan dokter FKTP
- Makin besar porsi biaya pasti makin terkendali biaya JKN

DATA DAN FAKTA DI LAPANGAN

 Rendahnya porsi biaya FKTP


 Ketidakseimbangan antara kapasitas FKTP dengan jumlah peserta JKN menjadi sumber
masalah dan berdampak pada banyak hal :

 Menghambat pertumbuhan dan persebaran FKTP


 Menghambat akses masyarakat
 Distribusi pendapatan tidak merata
 Menghambat program promotif preventif
 Rujukan tidak terkendali
 Pemborosan biaya
 Dll

211
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Merujuk Peraturan bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia


dan Direktur Utama Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial Kesehtaan Nomor HK
02.05/III/SK/089/2016tentang Penerapan kinerja pelayanaan Berbasis Komitmen (KBK), IDI
bersama PP PKFI dan PP Asklin membuat kesepakatan bersama dalam penerapan KBK
sebagai berikut :

1. Sistem KBK bila diterapkan harus ada keterlibatan data peserta dan data populasi di
masing masing FKTP Povider BPJS Kesehatan sesuai asas transparasi dan harus
disesuaikan tarif kapitasi yang sesuai nilai keekonomian
2. Mereview ulang indikator dan target KBK bersama organisasi profesi dan asosiasi faskes
dan meninjau pemanfaatan Kapitasi dan pemanfaatan diluar kapitasi
3. Sistem KBK diterapkan setelah ada pemerataaan distribusi peserta di
4. Pemerataan distribusi peserta untuk dokter praktek mandiri jumlah peserta di
FKTP/Puskesmas maksimal 17.500 peserta dengan perbandingan dokter dan peserta 1
: 5000
5. Menyempurnakan Sofware yang terkait dengan indikator karena :
a. P-CARE tidak bisa membedakan kasus Spesialis dan non Spesialis
b. Tidak ada report dan rekapitulasi data prevalensi dan insidens sehingga FKTP tidak
dapat mengelola kepesertaan.

PROGRAM PENATAAN DI LAYANAN PRIMER


1. Re registrasi data dokter yang lengkapnya dengan jumlah dan spesifikasi SDM. Jenis
dan tempat praktek spesifikasi geografi di tiap daerah.
2. Pemerataan sebaran dokter yang bekerja di FKTP dan jumlah kepesertaan berdasarkan
rayonisasi
3. Peningkatan pengetahuan, ketrampilan dokter sebagai gate keeper dalam pengelolaan
FKTP pada aspek manajerial dan kemampuan teknis fungsional melalui seminar,
workshop, lokakarya dll.
4. Membuat pedoman evaluasi kinerja FKTP dan penilaian indikator mutu pelayanan
5. Advokasi FKTP berkaitan masalah yang dispute dengan BPJS
6. Menyusun standar pelayanan dan fasilitas sarana dan prasarana di FKTP
7. Mengawal anggota dalam menjalin kontrak dengan BPJS
8. Mengusulkan besaran kapitasi yang sesuai nilai keekonomian dan dievaluasi 2 tahun
berdasarkan UUSJSN

212
LAMPIRAN -LAMPIRAN

213
LAMPIRAN -LAMPIRAN

REKOMENDASI (TOPIK DISKUSI)

A. Mengusulkan agar pemerintah menerapkan kebijakan top down dalam menetapkan porsi
biaya yang harus dialokasikan BPJS untuk membiayai FKTP. Untuk menjamin bahwa 90%
masalah kesehatan di masyarakat terselesaikan, maka BPJS diperintahkan
mengalokasikan 50% dari dananya untuk FKTP.
B. Mengusulkan BPJS untuk menyempurnakan tata cara dan isi kontrak agar ikatan kontrak
antara BPJS dan FKTP serta dokter praktek mandiri dilaksanakan secara transparan,
berbasis data dan dengan hubungan yang setara untuk menjamin isi kontrak tidak
merugikan dokter dan pasiennya.
C. Mengusulkan para pemangku kepentingan yang bekerja sama atau mempekerjakan profesi
dokter untuk menggunakan panduan remunerasi dokter yang diterbitkan organisasi
profesi. Penerapan remunerasi dokter ini diharapkan dapat mempersempit kesenjangan
antara doker di FKTP satu dengan FKTP lainnya.
D. Utamakan pelayanan dengan mengedepankan keselamatan pasien
E. Fokus pada mutu, tercermin di standar pelayanan kedokteran
F. Petakan kebutuhan pelayanan kesehatan dan formasi FKTP dan dokter sampai tingkat
desa dan jadikan informasi transparan
G. Prioritaskan pertumbuhan FKTP nonpuskesmas untuk menciptakan lapangan kerja dengan
pendekatan public private partnership
H. Redistribusi peserta di FKTP yang berlebihan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
I. Fungsi UKM dikembalikan kepada Puskesmas dan dibiayai dengan anggaran dari
Pemerintah
J. Melibatkan organisasi Profesi dan asosiasi faskes dalam pengaturan distribusi peserta dan
proses kredensialing FKTP yang akan bekerjasama dengan BPJS Kesehatan

214
LAMPIRAN -LAMPIRAN

V. Reklasifikasi Grouping , Coding Dan Tarif “INA CBGS”


yang sesuai

Saat ini Kementerian Kesehatan tengah membuat software INA CBG baru. Software INA CBG
yang baru ini direncanakan akan diluncurkan pada tahun 2018-2019. Kementerian Kesehatan
mengajak Perhimpunan spesialis untuk menyusun klasifikasi kode diagnosis dan kode tindakan
yang akan digunakan untuk melakukan grouping. Kegiatan ini dikenal dengan Reklasifikasi INA
CBG.

Seperti kita ketahui bahwa sistem pembayaran yang diterapkan oleh BPJS berdasarkan pada
PERMENKES, yakni PERMENKES 59 th 2014 dan diperbarui dengan PERMENKES 64 th
2016. Akan tetapi plafon tarif yang ditetapkan banyak yang jauh lebih rendah daripada biaya/
cost yang telah dikeluarkan oleh RS untuk menatalaksana pasien. Apabila kita tanyakan kepada
tim tarif P2JK Kemenkes, maka jawabannya adalah tarif ditetapkan sesuai data cost yang
diambil dari RS-RS di seluruh Indonesia. Kalau benar demikian, maka apa yang menyebabkan
tarif yang ditetapkan lebih rendah dari cost yang dikeluarkan?

Mari kita urut dari awal. Ketika seorang pasien selesai dirawat, maka RS akan melakukan klaim
ke BPJS. Langkahnya adalah :

1. Memasukkan kode ICD 10 untuk diagnosis dan ICD 9 CM untuk tindakan


2. Memasukkan data biaya/ cost yang dihabiskan RS untuk merawat pasien tersebut
3. Mengirim data klaim ke BPJS dan P2JK Kemenkes

Data yang terkumpul di tim tarif kemenkes inilah yang akan digunakan untuk evaluasi plafon
tarif.

Dengan adanya proses reklasifikasi, banyak pihak mengharapkan akan terbentuk plafon tarif
yang lebih realistis dan mendekati cost sebenarnya. Tapi bagaimana kalau Tim Reklasifikasi
dari tiap perhimpunan telah menyusun klasifikasi yang lebih baik, namun tarif tetap tidak sesuai
akibat data cost yang dikumpulkan salah?

215
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Untuk itu dibutuhkan beberapa langkah sebagai berikut :

1. Penyusunan standar kode ICD 10 danICD 9 CM untuk masing-masing spesialisasi

Penyusunan standar kode ICD 10 dan ICD 9 CM perlu dilakukan karena tidak semua
diagnosis dan tindakan yang ada saat ini terakomodir dalam ICD 10 dan ICD 9 CM.
Sehingga koder maupun dokter menjadi kesulitan menetapkan kode yang benar. Akibat
dimasukkannya kode yang salah, maka grouping akan salah dan data yang masuk ke
kemenkes pun akan salah. Sehingga pada akhirnya tarif yang baru akan tetap tidak sesuai.
Misalnya kode untuk pemeriksaan BERA belum ada di daftar ICD 9 CM. Sehingga
dimasukkan ke kode 95.46 (other auditory and vestibular function test). Ini harus disepakati
secara nasional agar data kode yang masuk pun sama.

2. Penyusunan standar klasifikasi tindakan operatif masing-masing spesialisasi


Klasifikasi tindakan operatif saat ini seringkali hanya ditetapkan oleh manajemen RS dan
disahkan oleh Pemerintah Daerah. Sehingga untuk tindakan yang sama, dapat terjadi
perbedaan klasifikasi. Misalnya tindakan Tonsilektomi di satu RSUD diklasifikasikan
sebagai tindakan operasi Sedang, sementara di RS swasta dikalsifikasikan sebagai
tindakan operasi Besar. Akibatnya cost biaya yang dikeluarkan menjadi sangat berbeda,
sehingga data yang masuk ke kemenkes menjadi sangat bervariasi untuk satu tindakan
yang sama. Untuk itu diperlukan standar klasifikasi tindakan operatif yang ditetapkan oleh
masing-masing perhimpunan spesialis dan berlaku secara nasional.

Dengan adanya standar kode ICD 10 dan ICD 9 CM dan standar klasifikasi tindakan operatif
diharapkan akan meningkatkan kualitas data yang masuk ke kemenkes sehingga perhitungan
plafon tarif menjadi lebih realistis dan pada akhirnya sistem INA CBG yang baru hasil
reklasifikasi dapat diterapkan dengan baik.

Namun dengan masih banyak kekurangan dari Tarif INA CBGs, IDI mendorong kepada
pemerintah untuk merubah tariff INA CBGs dengan metode tim driven. ABC dengan integrated
iarif INA CBGSs dengan metode tim driven. ABS dengan integrated care pathway (ICP) dengan
memperhatikan mutu pelayanan berdasarkan standar praktek kedokteran.

216
LAMPIRAN -LAMPIRAN

VI.GRATIFIKASI

1. KESEPAKATAN BERSAMAlDl, PDGI, dan GP FARMASI tentang DUKUNGAN


BANTUAN, SPONSORSHIP, dan DONASI

Bahwa dalam menjalankan profesi dan pekerjaannya, tenaga medis diwajibkan mengikuti
Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran Berkelanjutan yang selanjutnya disingkat P2KB dan
Pendidikan Pelatihan Profesionalisme Kedokteran Gigi Berkelanjutan selanjutnya
disingkat P3KGB, sebagaimana diamanahkan oleh peraturan perundang-undangan,
dalam rangka penyerapan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran
guna mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis.
Bahwa pengadaan dan peningkatan mutu tenaga kesehatan diselenggarakan dan
menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah melalui pendidikan dan/atau
pelatihan.

Bahwa pada keadaan dana dari pemerintah belum mencukupi, Organisasi Profesi dapat
memanfaatkan dukungan bantuan dari mitra terkait atau masyarakatsepanjang tidak
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Bahwa telah dilakukan pertemuan yang difasilitasi oleh KPK pada tanggal 2 Februari 2015
antara PB lDl, Kemenkes, KKl, GP Farmasi lndonesia, IPMG yang menghasilkan
kesepakatan pengaturan pendanaan untuk P2KB bagi dokter Pegawai Negeri Sipil akan
diatur oleh pihak Kementerian Kesehatan, sedangkan bagi dokter Praktek Mandiri akan
diatur oleh Organisasi Profesinya.
Bahwa, guna meningkatkan kemampuan inovasi, daya saing dan pertumbuhan ekonomi
industri farmasi dalam mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat, Industri
Farmasi perlu melakukan penyebarluasan informasi/promosi produknya kepada para
pengguna yaitu tenaga medis.

Bahwa hubungan tenaga medis dan industri farmasi merupakan hubungan yang
unik.Industri farmasi adalah pelaku bisnis yang menjalankan usahanya secara komersial,
sementara tenaga medis membutuhkan produk industri farmasi untuk intervensi
pelayanan medis.

217
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Bahwa dalam menjalankan bisnisnya industri farmasi tidak dapat melakukan promosi di
media umum, atau media-media promosi lain seperti produk komersial lainnya. Sesuai
peraturan dan perundangan yang berlaku serta ketentuan global, produk industri farmasi
hanya dapat dipromosikan di majalah-ilmiah Kedokteran dan Farmasi serta pada acara-
acara ilmiah seperti seminar, symposium, workshop dan lain-lain.

Bahwa produk industri farmasi yang umumnya berupa produk obat-obatan membutuhkan
penjelasan saintifik yang spesifik antara lain terkait indikasi, kontra indikasi, efek samping,
komposisi, kandungan kimia aktif, perhatian, interaksi, posologi, bentuk formulasi, bentuk
sediaan, dan lain-lain. Secara umum penjelasan tersebut dikenal dengan istilah “promosi”
produk industri farmasi.Informasi di atas memerlukan penyampaian secara individual.

Bahwa Dukungan bantuan dan donasi yang diberikan kepada tenaga medis untuk P2KB
dan P3KGB, tidak boleh dipandang sebagai kepentingan tenaga medis semata tetapi juga
terkait kepentingan “promosi” produk industri farmasi itu sendiri.

Bahwa sponsorship adalah kegiatan Promosi Industri Farmasi dalam bentuk kegiatan
ilmiah untuk penyebarluasan informasi obat dalam memperkenalkan produk baru, atau
pengembangan produk, yang merupakan kepentingan terkait marketing produknya.
Bahwa untuk mewujudkan kerja sama yang beretika dengan tujuan mengingatkan kembali
pelaksanaan Etika Profesi Kedokteran dan Etika Pemasaran Usaha industri Farmasi
dalam mendukung pelayanan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, IKATAN DOKTER INDONESIA (selanjutnya disingkat:lDI), PERSATUAN
DOKTER GIGI INDONESIA (selanjutnya disingkat:PDGI), bersama-sama dengan
GABUNGAN PERUSAHAAN FARMASI INDONESIA (selanjutnya disingkat: GP Farmasi)
dengan ini meneguhkan kembali tentang "KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA IKATAN
DOKTER INDONESIA, PERSATUAN DOKTER GIGI INDONESIA DENGAN GABUNGAN
PERUSAHAAN FARMASI INDONESIA" sebagai berikut :

1. IDI, PDGI, GP Farmasi, mewajibkan seluruh elemen Pelaku Usaha Farmasi Indonesia
yang tergabung dalam GP Farmasi, dan kalangan profesi kedokteran yang tergabung
dalam IDI, dan PDGI untuk menerapkan secara konsekuen pelaksanaan
kesepakatan bersama ini dengan penuh tanggungjawab.
Butir-butirkesepakatan dimaksud adalah:

218
LAMPIRAN -LAMPIRAN

A. DUKUNGAN BANTUAN
Dukungan Bantuan adalah pendanaan semata-mata untuk P2KB & P3KGB.
Dukungan bantuan yang semata-mata untuk P2KB & P3KGB dan kegiatan ilmiah
lain yg berkaitan dengan profesinya, yang diberikan atau yang diterima tidak
berkaitan dengan kedudukannya sebagai Pejabat Penyelenggara Negara atau
Aparatur Sipil Negara; bukan merupakan gratifikasi yang terindikasi suap.
a. Pemberian dukungan bantuan dilakukan secara sukarela, transparan dan
akuntabel untuk tujuan P2KB dan P3KGB
b. Penerima dukungan bantuan adalah Tenaga Medis, dan Organisasi Profesi;
termasuk Perhimpunan Profesi terkait.
c. Program P2KB dan P3KGB, yang dilaksanakan terencana sesuai kebutuhan
profesi, diselenggarakan oleh Organisasi Profesi dan lembaga lain yang
diakreditasi oleh Organisasi Profesi dalam rangka penyerapan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran dan kedokteran
gigi.
d. Dalam pemberian dukungan bantuan, industri farmasi tidak boleh
menawarkan hadiah/penghargaan, insentif, donasi finansial atau dalam
bentuk lain sejenis, yang dikaitkan dengan penulisan resep atau anjuran
penggunaan obat/produk industri farmasi tertentu.
e. P2KB dan P3KGB wajib senantiasa dilakukan dengan dilandasi Kode Etik
Kedokteran Indonesia (KODEKI), Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia, dan
Kode Etik Pemasaran Usaha Farmasi Indonesia.

B. DONASI
Donasi adalah kegiatan Promosi Industri Farmasi dalam bentuk kegiatan ilmiah
untuk penyebar luasan informasi obat yang diberikan kepada institusi dalam
lingkup IDI dan PDGI.
a. Dalam hal pemberian donasi, industri farmasi tidak boleh menawarkan
hadiah/penghargaan, insentif, donasi finansial atau dalam bentuk lain
sejenis, yang dikaitkan dengan penulisan resep atau anjuran penggunaan
obat/produk perusahaan tertentu.
b. Pemberian donasi dari perusahaan farmasi hanya diperbolehkan untuk
organisasi profesi kedokteran/kedokteran gigi, dan tidak diberikan kepada
dokter secara individual.

219
LAMPIRAN -LAMPIRAN

C. SPONSORSHIP
Sponsorship adalah kegiatan Promosi obat dilakukan oleh Industri Farmasi dan
Pedagang Besar Farmasi, dalam bentuk kegiatan ilmiah untukpenyebar luasan
informasi obat bagi kepentingan pelayanan kesehatan masyarakat dengan
melibatkan tenaga medis.
a. Tenaga medis dalam melakukan pekerjaan nya tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Para pihak dilarang menjuruskan pasien untuk menggunakan produk
tertentu
b. Sponsorship apapun yang diberikan Industri farmasi untuk mempromosikan
suatu produk, tidak boleh disyaratkan/dikaitkan dengan kewajiban untuk
menggunakan atau meresepkan produk dimaksud.
c. Industri farmasi dilarang memberikan honorarium dan atau uang saku
kepada seorang tenaga medis untuk menghadiri pendidikan kedokteran
berkelanjutan/ promosi produk industri farmasi, kecuali tenaga medis
tersebut berkedudukan sebagai, narasumber atau menjadi moderator.

2. IDI, PDGI dan GP Farmasiakan melakukan pengawasan secara aktif, selanjutnya


akan memproses lebih lanjut apabila ditemukan penyimpangan di luar
Kesepakatan Bersama ini.

3. IDI serta PDGI, harus menyusun dan memverifikasi berbagai kegiatan resmi
organisasi, khususnya yang berkaitan dengan dukungan bantuan, donasi, dan
sponsorship dari anggota GP Farmasi serta melakukan koordinasi dengan GP
Farmasi untuk tindak Ianjutnya.

4. Dukungan bantuan, donasi, dan sponsorship sebagaimana dimaksud di atas,


diberikan dalam bentuk biaya kepersertaan (registrasi peserta), tiket perjalanan,
akomodasi, honorarium pembicara /narasumber /moderator.

5. Penerima dukungan bantuan, donasi, dan sponsorship wajib melaporkan


kegiatan dan penerimaannya kepada organisasi profesi dengan tembusan
kepada fasilitas kesehatan/rumah sakit yang bersangkutan segera setelah

220
LAMPIRAN -LAMPIRAN

kegiatan dilaksanakan untuk diteruskan kepada PB IDI/PB PDGI yang akan


melakukan klarifikasi dan tindak lanjut terhadap laporan dimaksud sesuai
peraturan yang berlaku.

6. Industri Farmasi pemberi dukungan bantuan, donasi dan sponsorship


melaporkan pemberian dimaksud kepada asosiasi/organisasinya secara
tersendiri, yang selaras dengan Kesepakatan Bersama ini.

7. Untuk menghindari konsekuensi hukum yang dapat terjadi terkait dengan kerja
sama ini maka IDI, PDGI dan GP Farmasi, mewajibkan seluruh anggotanya
masing-masing mempelajari, menghayati dan melaksanakan secara konsisten
Kode Etik Kedokteran, Kode Etik Kedokteran Gigi, Kode Etik Pemasaran Usaha
Farmasi Indonesia, dan Pedoman Penegakan Disiplin Profesi Kedokteran serta
peraturan terkait lainnya.

8. Petunjuk teknis alur pelaporan dan verifikasi akan dijabarkan dalam Pedoman
Pelaksanaan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari kesepakatan
bersama ini.

Demikianlah Kesepakatan Bersama ini untuk dilaksanakan sebaik-baiknya dan


merupakan landasan dari kegiatan pemberian dukungan bantuan, donasi dan
sponsorship.

Keputusan bersama ini dibuat rangkap 3 (tiga), masing-masing mempunyai kekuatan


hukum yang sama.

221
LAMPIRAN -LAMPIRAN

2. PEDOMAN TEKNIS PELAKSANAAN

BAB I . KETENTUAN UMUM

1. Gratifikasi adalah pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman


tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata,
pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya baik yang diterima di dalam negeri
maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana
elektronik atau tanpa sarana elektronik yang berhubungan dengan jabatan atau
kewenangan; dalam kedudukannya sebagai Pejabat Penyelenggara Negara
atau Aparatur Sipil Negara.

2. Dukungan bantuan adalah bantuan yang semata-mata untuk (kepentingan)


Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran Berkelanjutan dan kegiatan ilmiah
lainnya yg berkaitan dengan profesinya yang diberikan atau yang diterima tidak
berkaitan dengan kedudukannya sebagai Pejabat Penyelenggara Negara atau
Aparatur Sipil Negara; bukan merupakan gratifikasi yang terindikasi suap.

3. Program Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran Berkelanjutan yang seterusnya


disingkat P2KB, adalah program yang dilaksanakan terencana maupun sesuai
kebutuhan profesi, diselenggarakan oleh Organisasi Profesi dan lembaga lain
yang diakreditasi oleh Organisasi Profesi dalam rangka penyerapan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.

4. Program Pendidikan Pelatihan Profesionalisme Kedokteran Gigi Berkelanjutan


selanjutnya disingkat P3KGB adalah program yang dilaksanakan terencana
maupun sesuai kebutuhan profesi, diselenggarakan oleh Organisasi Profesi
dan lembaga lain yang diakreditasi oleh Organisasi Profesi dalam rangka
penyerapan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran Gigi.

5. Promosi Obat adalah semua kegiatan pemberian informasi dan himbauan


mengenai obat jadi yang memiliki izin edar yang dilakukan oleh Industri Farmasi

222
LAMPIRAN -LAMPIRAN

dan Pedagang Besar Farmasi, dengan tujuan meningkatkan peresepan,


distribusi, penjualan dan atau penggunaan obat.

6. Sponsorship adalah kegiatan Promosi obat dilakukan oleh Industri Farmasi dan
Pedagang Besar Farmasi, dalam bentuk kegiatan ilmiah untuk penyebar luasan
informasi obat bagi kepentingan pelayanan kesehatan masyarakat dengan
melibatkan tenaga medis sebagai nara sumbernya.

7. Donasia dalah kegiatan Promosi Industri Farmasi dalam bentuk kegiatan ilmiah
untuk penyebar luasan informasi obat yang diberikan kepada institusi.

8. Institusi adalah Fasilitas pelayanan /pendidikan/ /penelitian Pemerintah atau


Swasta yang bergerak dibidang kesehatan.

9. Organisasi profesi adalah Ikatan Dokter Indonesia dan Ikatan Dokter Gigi
Indonesia beserta Perhimpunan Profesi yang berada didalamnya.

DUKUNGAN BANTUAN

Pasal 1

Pendidikan dan pelatihan Kedokteran Berkelanjutan (P2KB/Program


Pendidikan Pelatihan Profesionalisme Kedokteran Gigi Berkelanjutan
(P3KGB) wajib senantiasa dilakukan dengan dilandasi Kode Etik Kedokteran
Indonesia (KODEKI) dan Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia.

Penerima dukungan bantuan adalah Tenaga Medis dan Organisasi Profesi;


termasuk Perhimpunan Profesi/Ikatan keahlian terkait.

223
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan profesinya seorang dokter/dokter gigi tidak
boleh dipengaruhi oleh sesuatu yg mengakibatkan hilangnya kebebasan dan
kemandirian profesi.

Pasal 4
Dalam kehadirannya pada temu ilmiah, setiap Tenaga Medis dilarang
mengikatkan diri untuk mempromosikan barang/produk dan jasa tertentu,
apapun bentuk dukungan bantuannya.

Pasal 5
Dukungan Bantuan dapat diberikan melalui Institusi atau Organisasi Profesi
termasuk Perhimpunan Profesi /Ikatankeahlian terkait.

Pasal 6
Dalam hal individu Tenaga Medis memerlukan dukungan bantuan untuk
P2KB/P3KGB, yang bersangkutan wajib memberitahukannya kepada Institusi
atau Organisasi Profesi/Perhimpunan Profesi / Ikatan keahlian terkait.

Pasal 7
Individu yang bersangkutan wajib melaporkan kegiatan P2KB/P3KGB
dimaksud selambatnya 1 bulan setelah pelaksanaan kepada Institusi atau
Organisasi Profesi/Perhimpunan Profesi / Ikatan Keahlian terkait di tempat
domisili,yang akan melaporkan kemudian kepada PB IDI/PB PDGI.

Pasal 8
Dukungan bantuan kepada individu Tenaga Medis diberikan dalam bentuk:
a. biaya kepersertaan (registrasipeserta);
b. tiket perjalanan;
c. akomodasi;
d. honorarium pembicara /narasumber / moderator

224
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Pasal 9
Dukunganbantuan diberikan tidak dalam bentuk tunai, kecuali untuk uang
harian/honorarium pembicara / nara sumber / moderator.

Pasal 10
Penerimaan dukungan bantuan tidak diperkenankan terjadi pembiayaan
ganda.

Pasal 11
Karena P2KB/P3KGB merupakan kepentingan individu Tenaga Medis,
pengajuan permintaannya dapat dilakukan oleh individu Tenaga Medis atau
organisasi profesi/Institusi.

Pasal 12
Permintaan narasumber untuk P2KB/P3KGB diajukan oleh
Institusi/organisasi profesi termasuk Perhimpunan Profesi / Ikatan
Keahlianterkait.

Pasal 13
Seorang dokter dilarang menerima pembayaran untuk kompensasi praktek
atau biaya tambahan lainnya sehubungan partisipasinya dalam temu ilmiah.

Pasal 14
Pemberian dukungan bantuan dibatasi sesuai kewajaran (baik secara teknis
maupun ekonomis) dan dinyatakan dengan jelas tujuan, jenis peruntukan,
waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan ilmiah tersebut serta kejelasan
peruntukan dimaksud.

225
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Pasal 15
Batas kewajaran dukungan bantuan disesuaikan dengan peraturan yang
berlaku pada para pihak terkait.

DONASI

Pasal 16
Donasi dapat diberikan juga untuk kepentingan, pelayanan dan penelitian
kedokteran.

Pasal 17
Donasi, untuk maksud P2KB/P3KGB diberikan dalam bentuk:
a. Biaya penyelenggaraan;
b. Honorarium nara sumber / pembicara / moderator

Pasal 18
Donasi untuk kepentingan pelayanan dan penelitian mengikuti ketentuan
dalam KODEKI/Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia, Kode Etik Pemasaran
Industri Farmasi.

SPONSORSHIP

Pasal 19
Sponsorshipdilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan (UU No 36
tahun 2009 tentang Kesehatan, PP 72 th 1998 tentang Pengamanan Sediaan
Farmasi dan Kep Ka BPOM HK.00.05.302706 tahun 2002 tentang Promosi
Obat) serta Kode Etik Pemasaran Industri Farmasi.

226
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Pasal 20
Sponsorship bagi Tenaga Medis mengikuti ketentuan dalam KODEKI/Kode
Etik Kedokteran Gigi Indonesia yg berlaku.

Pasal 21
Undangan untuk kegiatan ilmiah lainnya yg berkaitan promosi obat diajukan
oleh Industri Farmasi kepada individu Tenaga Medis atau Organisasi Profesi
atau Institusi.

Pasal 22
Permintaan narasumber untuk kegiatan ilmiah lainnya /promosi obat diajukan
oleh Industri Farmasi kepada individu dan atau Organisasi Profesi/institusi;
sesuai kompetensi dan substansi acara ilmiah dimaksud.

Pasal 23
Undangan peserta untuk promosi obat/ kegiatan ilmiah lainnya diajukan oleh
industri Farmasi kepada individu, Organisasi Profesi /Institusi.

PENCATATAN PELAPORAN

Pasal 24
Penerima dukungan bantuan, donasi, dan sponsorship wajib melaporkan
kegiatan dan penerimaannya kepada Organisasi Profesi/Perhimpunan
Profesi / Ikatan keahlian dengan tembusan kepada fasilitas
kesehatan/institusi yang bersangkutan segera setelah kegiatan dilaksanakan
untuk diteruskan kepada PB IDI/PB PDGI yang akan melakukan klarifikasi
dan tindak lanjut terhadap laporan dimaksud sesuai peraturan yang berlaku.

Pasal 25
PB IDI/PB PDGI akan menindaklanjuti laporan tersebut pada pasal 24 kepada
Pemerintah/Pihak terkait.

227
LAMPIRAN -LAMPIRAN

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 24
Setiap dokter wajib mendukung program anti korupsi, kolusi dan nepotisme
dari Pemerintah, Organisasi Profesi atau pihak manapun juga.

Pasal 25
Pembinaan dan Pengawasan bagi tenaga medis dilakukan oleh PB IDI/ PB
PDGI termasuk Perhimpunan Profesi / Ikatan keahlian terkait. PB IDI/PB
PDGI dapat mengikut sertakan Institusi terkait untuk pelaksanaannya.

Pasal 26
Pembinaan dan Pengawasan bagi Industri Farmasi dilakukan oleh GPFI dan
Pemerintah selaku regulator.

Pasal 27
Penerima dukungan bantuan, Donasi, Sponsorship harus melaporkan
kegiatan dan penerimaannya kepada Perhimpunan Profesi/Organisasi
Profesi terkait/Institusi yang kemudian diteruskan kepada PB IDI/PB PDGI.

Pasal 28
PB IDI/PB PDGI akan melakukan klarifikasi dan tindak lanjut terhadap laporan
dimaksud sesuai peraturan yang berlaku.

Pasal 29
Pelanggaran terhadap semua ketentuan dalam kesepakatan ini bagi Industri
Farmasi dapat dikenai sanksi olehorganiasi / regulator sesuai peraturan yang
berlaku.

228
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Pasal 30
Pelanggaran oleh tenaga medis terhadap kode etik profesi diserahkan
kepada Organisasi Profesi yang bersangkutan.
Pedoman Teknis pelaksanaan Kesepakatan Bersama ini diberlakukan sejak
tanggal penandatanganannya.

VII. FRAUD
Fraud dalam Jaminan Kesehatan

Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan dalam sistem Jaminan Sosial Nasional


ditemukan berbagai permasalahan termasuk potensi kecurangan (fraud) yang dapat
menimbulkan kerugian bagi dana Jaminan Sosial Nasional.

Fraud dalam Bidang Kesehatan adalah segala bentuk kecurangan dan ketidak wajaran yang
dilakukan berbagai pihak dalam mata-rantai pelayanan kesehatan untuk memperoleh
keuntungan Dalam Permenkes 36 tahun 2015 Pasal 1 ayat (1) mendefinisikan sebagai berikut
: Kecurangan (Fraud) dalam Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan pada Sistem Jaminan
Sosial Nasional yang selanjutnya disebut Kecurangan JKN adalah tindakan yang dilakukan
dengan sengaja oleh peserta, petugas BPJS Kesehatan, pemberi pelayanan kesehatan, serta
penyedia obat dan alat kesehatan untuk mendapatkan keuntungan finansial dari program
jaminan kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui perbuatan curang yang tidak
sesuai dengan ketentuan.

Yang pada intinya dikatakan fraud apabila memenuhi unsur-unsur :

- Adanya perbuatan yang melawan hukum (illegal acts)


- Dilakukan oleh orang-orang dari dalam atau luar organisasi
- Untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok.

Contoh fraud pelayanan kesehatan adalah pemalsuan diagnosa untuk mensahkan pelayanan
yang tidak dibutuhkan dan tarifnya mahal (upcoding), tarif jasa yang tidak pernah dilakukan
(tagihan fiktif), pemberian obat obatan atas indikasi yang tidak jelas manfaatnya, pemeriksaan

229
LAMPIRAN -LAMPIRAN

laboratorium dan dan diagnostik atas indikasi yang tidak tepat, pemondokan pasien rumah sakit
yang tidak perlu dan berbagai hal lainnya.

Dengan berlakunya BPJS maka potensi terjadinya fraud akan makin meningkat.
Ketidaksepahaman antara BPJS dan pemberi pelayanan memungkinkan terjadinya fraud.
Contoh adalah penentuan tarif berdasarkan IN-CBG’s yang mungkin tidak sesuai unit cost
rumah sakit/provider.

Aspek penegakan hukum fraud di Bidang Kesehatan

Resiko kerugian akibat fraud ini sangat besar. Jika estimasi premi BJS 2014 sekitar 38,5 T,
dengan estimasi besaran angka fraud 5% maka jumlahnya mencapai 1,8 T. Ini baru estimasi
5%.

Mengingat angkanya yang sangat besar maka tentu saja ini akan merugikan negara dan rakyat.
Mengingat fraud dapat dikategorikan sebagai kejahatan/kriminal dan pada disempatan lain
dikategorikan sebagai penipuan, tentu saja akan mendapatkan konsekuensi hukum (pidana
maupun perdata)

Bahkan mengingat dampaknya yang begitu menyentuh kehidupan masyarakat banyak maka
fraud yang terjadi dibidang kesehatan mulai ‘dilirik’ oleh lembaga anti rasuah (KPK). Bahkan
KPK sudah memasukan bidang kesehatan sebagai bidang prioritas pengawasan.

Karena itu perlu pemahaman dan pencegahan agar tidak terjadi fraud dalam pelayanan
kesehatan. Salah satunya melalui pengawasan. Pengawasan pada kegiatan yang memiliki
intensitas terjadinya fraud cukup tinggi pada masing-masing aspek fungsi manajemen yaitu
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan kegiatan, dan bahkan pengawasan pelaksanaan
JKN itu sendiri.

Pengendalian Terhadap Potensi Indikasi Fraud dalam Implementasi Tarif INA CBG.

Ketika PPK memasukkan tindakan yang tidak pernah dilakukan untuk mendapatkan keuntungan
illegal adalah tindakan kecurangan. Pada KUHP bisa dimasukkan pada fasal penipuan (pasal
378 KUHP) yang merupakan delik pidana atau kriminal. Saya menyampaikan kepada peserta
FGD; modus ini sangat mudah untuk disidik dan dibuktikan bahwa PPK melakukan Fraud pada
sistem INA CBG! Khusus untuk kasus ini, saya sarankan untuk stop lakukan upcoding untuk
naikkan tarif INA CBG karena ini tindakan kriminal yang bisa dipidanakan. Ke-empat, hampir

230
LAMPIRAN -LAMPIRAN

semua dokter menyatakan tidak ada niat dokter melakukan kecurangan pelayanan kesehatan
dengan alasan dokter disumpah dan punya etika dalam melaksanakan fungsinya. Yang sering
terjadi dokter tidak mengetahui bahwa pelayanan medis dan tindakan menimbulkan kerugian
fihak lain. Sebagai contoh: dokter tidak memberikan pelayanan medis, tindakan dan obat yang
seharus menjadi hak peserta. Ini yang disebut underutilisasi dan menurunkan mutu layanan.
Dipihak lain kalau mereka melayani peserta asuransi komersial atau pasien bayar sendiri, PPK
melakukan overutilisasi pelayanam. Ini juga sebuah kecurangan karena merugikan peserta.
Walaupun demikian, saya masih yakin banyak dokter yang berniat baik, tapi benar2 ignorance,
tapi banyak juga diantara mereka sebenarnya pretending ignorance.

Kelima, BPJS dan Kemenkes sebenarnya juga melakukan kecurangan ketika tidak dapat
memberikan pelayanan sesuai jaminan dan iklan yang mereka janjikan di media cetak dan
elektronik kepada publik. Ini merupakan kecurangan cacat produk yang mereka jual ke publik.
Sebagai contoh; 1. Peserta dijanjikan untuk mendapatkan obat formularium nasional, kenyataan
dilapangan sejumlah jenis obat tidak tersedia di PPK malahan dipasar sekalipun. Bagaimana ini
bisa terjadi Dirjen Yanfar Kemenkes? Terpaksa PPK harus memberikan obat lain yang harus
dibeli pasien. Adakala, PPK sendiri yang tidak mau memberikan obat fornas karena margin profit
rendah, sehingga pasien dipaksa beli obat dari kantung sendiri; 2. Iklan di TV memberikan
informasi bila peserta menggunakan pelayanan sesuai peraturan maka semua akan gratis;
kenyataan banyak peserta diminta bayaran untuk ini-itu oleh PPK; 3. Iklan TV menyampaikan
bahwa kalau pasien menggunakan pelayan secara berjenjang maka rujukan akan berjalan baik.
Malahan pihak PPK menelpon RS untuk rujukan rawat inap untuk mencarikan tempat tidur.
Kenyataan dilapangan, walau pasien telah mempunyai rujukan banyak RS menolak, sampai2
pasien meregang nyawa karena tidak ada RS yang mau melayani. Publik, juga tahu kalau anda
menggunakan asuransi komersial atau bayar sendiri selalu tersedia tempat tidur untuk anda! 4.
Peserta perusahan didatangi sesuai dengan Perpres No: 111/2013 semua perusahaan harus
mendaftarkan pekerja pada tgl 1, Januari, 2015. Ketika perusahaan mendaftar, justru BPJS tidak
bisa memberikan pelayanan elementer kartu peserta, walau sudah mendaftar 3 bulan berjalan.
Tanpa, kartu peserta artinya pekerja tidak dapat menggunakan hak untuk mendapatkan
pelayanan. Artinya, pekerja tidak terlindungi oleh JKN, tapi kalau perusahaan menolak
membayar premi maka diancam sanksi dan denda premi 2 % per bulan. BPJS sudah
mengeluarkan produk cacat, malahan mengancam perusahan. Ini namanya sewenang-wenang!

231
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Ke-enam, kecurangan juga dapat dilakukan oleh peserta, walau relatif jarang karena bukan
sistem reimbursement. Yang pernah dilaporkan kepada penulis, ada peserta yang
menggunakan kartu peserta lain untuk mendapatkan pelayanan PPK. Sebenarnya, hal akan
mudah dicegah kalau dilakukan cek dan re-cek dengan menanyakan kartu pengenal lain (KTP)
untuk memastikan bahwa yang bersangkutan benar-benar pemegang kartu yang sah. Prosedur
ini dilakukan kalau kita naik pesawat terbang walau sudh punya tiket selalu ditanyakan KTP
minimal di dua simpul pemeriksaan.

Terakhir, yang menarik moderator dengan cerdas memimpin diskusi sehingga suasana kondusif
dan tidak terjadi perbedaan pendapat yang tajam antara pihak peserta. Pada akhir diskusi
semua peserta sepakat untuk mencegah fraud pada sistem INA CBG dengan bersama-sama
menandatagani kesepakatan bersama. Penulis mendapat kehormatan untuk memberikan tanda
tangan pertama pada peristiwa langka dan pionir pada matrix kesepakatan yang di-tanda
tangani oleh seluruh peserta! Saya yakin ini peristiwa pertama kaitannya dengan pencegahan
fraud INA CBG di Indonesia. Peristiwa bersejarah!

Apa yang dapat disimpulkan dari FGD ini?

Pertama, sebagai kegiatan pionir untuk menggaungkan pencegahan terhadap fraud pada
program JKN; kegiatan perlu didukung dan perlu dilakukan disetiap provinsi, Indonesia.
Terbatasnya pengetahuan semua pemangku kepentingan, PPK, BPJS dan Peserta, terhadap
Fraud Pelayanan Kesehatan membuat kegiatan sangat penting terus dilakukan secara reguler.

Kedua, hampir semua peserta belum memahami tentang fraud pelayanan kesehatan yang
berkaitan dengan INA CBG. Pengetahuan terhadap fraud pelyanan kesehatan juga tidak
difahami dengan baik oleh penegak hukum kita seperti: Kejaksaan, Kepolisian dan KPK
sekalipun. Dimasa depan, perlu dilakukan pelatihan khusus untuk menagkal fraud pelayanan
kesehatan untuk pihak penegak hukum tersebut.

Terakhir, perlu dibuat Spesial Unit Anti Fraud JKN secara nasional maupun pada level provinsi
yang anggota terdiri BPJS, Kemenkes, POLRI, Kejaksaan Negeri, KPK dan LSM. Spesial Unit
perlu membuat Road Map (kelembagaan, SDM, Pendanaan, Per-undang2an dan program)
untuk mencegah dan memberantas kecurangan kecurangan Pelayanan Kesehatan di
Indonesia.

232
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Dilema yang dihadapi pelayanan kesehatan vs pencegahan fraud, disebabkan beberapa


hal berikut :

1. Beberapa tarif INA CBG belum memungkinkan praktisi klinis untuk memberikan pelayanan
sesuai ‘Evidence Based Medicine’ sehingga kemungkinan bentuk Fraud seperti penurunan
standart of care , fragmentation of care , unnecessary treatment masih bisa dan mungkin
terjadi dalam pelayanan kesehatan.

2. Beberapa Rumah Sakit dengan ‘mindset profit oriented’ yang ikut dalam program JKN-
BPJS akan cenderung melakukan fraud baik disengaja atau tidak.

3. Sistem perundang-undangan kita dalam penindakan fraud belum ada secara khusus dan
spesifik. ( masih dalam proses pembahasan di Kemenkes, dll )

4. Kemampuan atau profesionalisme Coder secara umum di Indonesia sesuai dengan data
WHO dalam hal men’coding’ diagnosa dan tindakan berdasarkan ICD 10 dan ICD-9CM ,
scorenya masih dibawah nilai standar sehingga masih dimungkinkan terjadi fraud seperti
‘upcoding’ baik disengaja ataupun tidak.

5. Beberapa institusi pelayanan kesehatan selama ini menerapkan sistem pembayaran ‘fee
for service’, sehingga penerapan sistem casemix dan pembayaran retrospektif memerlukan
pemahaman dan adaptasi lebih lanjut.

Solusi untuk mengurangi dan mencegah fraud menyikapi dilema yang disebutkan diatas:

1. Rumah Sakit harus mulai mempelajari perhitungan ‘unit cost’ pelayanan kesehatan
masing-masing diagnosis, sehingga tidak selalu berfikir bahwa dengan ikut dalam
program JKN akan merugi.

2. Pihak Kemenkes beserta Regulator lain segera membuat sistem dan pedoman
pencegahan dan deteksi fraud pada pelayanan kesehatan dalam bentuk UU disertai
sanksi.

3. Menumbuhsuburkan kembali rasa cinta tanah air dan nasionalisme di kalangan para
praktisi kesehatan.

4. Menanamkan kembali etika-etika moral yang baik bagi penyelenggara, peserta dan
semua yang terlibat dalam pelayanan kesehatan dalam JKN.

233
LAMPIRAN -LAMPIRAN

5. Meningkatkan profesionalisme Coder secara umum di Indonesia melalui diklat atau


‘workshop’ yang diadakan oleh organisasi profesi nasional / internasional.

6. Melakukan monitoring dan audit untuk Coding oleh pihak internal RS atau pihak
independent untuk meningkatkan kualitas Coding dan Coder.

7. Meningkatkan sosialisasi kepada saryankes mengenai penerapan sistem casemix serta


up-date perubahannya.

Dalam pencegahan Fraud di era JKN, IDI sebagai organisasi profesi harus dilibatkan dalam :
1) Tim Penyusunan Pedoman Fraud dan Tim Penegakan Fraud (saat ini hanya terdiri dari
KPK, Kemenkes, BPJS)
2) Pembinaan anggota dalam etik dan klinis agar terhindar dari fraud
3) Advokasi kepada pemerintah dan KPK bahwa dasar penegakan fraud tidak berdasarkan
PNPK atau clinical pathway karena clinical pathway dibuat tailor-made disesuaikan
dengan kondisi fasilitas
4) Pendampingan kepada anggota yang diduga melakukan fraud

VIII. MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)


PERAN IDI DI ERA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN(MEA)

Indonesia sebagai salah satu dari 10 negara yang tergabung di dalam ASEAN bersepakat pada
KTT ASEAN ke-12, Januai 2007 bersama membentuk komunitas ASEAN yang diformalkan
melalui penanda tanganan Deklarasi Cebu. Seperti diketahui bahwa komunitas ASEAN terdiri
dari 3 pilar utama yakni 1) Komunitas Politik dan Keamanan (ASEAN Political-Security
Community/APSC), 2) Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC),
3) Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASEAN Cultural Community).Pembahasan berikut ini
akan membatasi hal-hal yang terkait dengan ASEAN Economic community atau Mayarakat
ekonomi ASEAN (MEA) khususnya implikasi dalam bidangt enaga kesehatan khusunya dokter
.AEC merupakan realisasi dari Visi ASEAN 2020 yaitu untuk melakukan integrasi terhadap
ekonomi negara-negara ASEAN dengan membentuk pasar tunggal (single market) dan
basis produksi bersama.

234
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Sekilas tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan AFTA

Menjelang akhir tahun 2015 yang lalu Indonesia dihadapkan pada situasi global dengan
tantangan yang cukup kompleks. Tantangan tersebut salah satunya yang ada di depan mata
adalah AFTA (Asean Free Trade Area) dan AEC(Asean Economic Community) yang telah
diberlakukan mulai 31 Desember 2015. AFTA adalah suatu perjanjian kerjasama yang dibuat
oleh negara-negara anggota ASEAN untuk menciptakan sebuah kawasan perdagangan bebas
di Asia Tenggara. Dalam masa ini produk-produk dari negara ASEAN dapat dengan mudah
masuk ke Indonesia, begitu pula sebaliknya. Sedangkan, yang dimaksud dengan AEC atau
MEA adalah kesepakatan antar negara-negara ASEAN di bidang tenaga kerja khususnya
tenaga profesional, termasuk dokter untuk dapat bekerja lintas negara-berbagai kesepakatan
dan aturansemua negara-negara ASEAN.

Setidaknya terdapat 3 dasar hukum kerjasama ASEAN bagi Indonesia yakni 1) Undang-Undang
RI no.38 tahun 2008 tentang Pengesahan Piagam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara
(ASEAN Charter), 2) Instruksi Presiden No.11 tahun 2011 tentang pelaksanaan Komitmen
Cetak Bitu Masyarakat Ekononomi ASEAN, dan 3) Peraturan Presiden RI no.29 tahun 2014
tentang Daftar bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan
persyaratanan untuk PMA (penanaman modal asing).

Masyarakat ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) merupakan salah satu
pilar ASEAN Community yang mempunyai visi terciptanya kawasan ekonomi ASEAN yang
stabil,makmur dan berdaya saing tinggi yang ditandai dengan kemudahan arus lalu lintas
barang, jasa-jasa dan investasi yang bebas, serta lalu lintas modal yang lebih terbuka ;
mendorong pembangunan yang merata, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-
ekonomi serta meningkatkan pergerakan tenaga professional dan jasa lainnya secara bebas di
kawasan.1MEA yang awalnya direncanakan akan dimulai pada tahun 2020, ternyata dipercepat
menjadi akhir tahun 2015, berdasarkan “Cebu declaration on the Acceleration of the
Establishment of an ASEAN by 2015” yang disepakati pada tahun 2007.Pilar ASEAN
Community yang lain adalah ASEAN Security Community (ASC) dan ASEAN Socio-cultural
Community (ASCC) yang pengaturannya dilakukan dengan regulasi tersendiri.

AEC blue print mengamanatkan liberaliasasi perdagangan barang dengan menghapuskan


hambatan tarif dan non-tarif. Dengan peningkatan fasilitas perdagangan yang diharapkan dapat

235
LAMPIRAN -LAMPIRAN

memperlancar arus perdagangan ASEAN. Sedangkan blue-print untuk perdagangan jasa


bertujuan untuk meghilangkan hambatan market access dan national treatment. Liberalisasi
jasa meliputi 4 modes of supply (lihat tabel 1)

Tabel 1. Liberalisasi perdagangan Jasa yang mencakup 4 (empat) Mode of Supply

Mode 1 Cross-border supply Pasokan jasa lintas batas.


Contoh : ketika konsumen WNI membeli jasa
dari luar negeri tanpa harus meninggalkan
negerinya melalui telemedicine
Mode 2 Consumption abroad Jasa yang diberikan oleh penyedia jasa luar
negeri kepada konsumen domestik yang berada
pada negara penyedia jasa .Contoh WNI pergi
berobat ke Malaysia
Mode 3 Commercial presence Jasa yang diberikan oleh penyedia jasa luar
negeri kepada konsumen di negara konsumen.
Contoh: ketika sebuah perusahaan Singapura
mendirikan rumah sakit di Indonesia dan
menyediakan pelayanan kesehatan.
Mode 4 Movement of natural Tenaga kerja asing yang menyediakan jasa
person keahlian tertentu dan datang ke negara
konsumen. Contoh ketika seorang dokter
spesialis dari Malaysia praktek di Indonesia atau
sebaliknya dokter Indonesia berpraktek di
Malaysia.

Mekanisme penjadwalan penghapusan hambatan perdagangan jasa diatur dalam ASEAN


Framework Agreement onService (AFAS) dan sejak disepakatinya AFAS liberalisasi jasa
dilakukan secara bertahap melalui pembuatan paketSchedule on Commitment (SoC). Saat ini
telah disepakati 8 paket komitmen AFAS dan saat ini memasuki perundingan paket komitmen
AFAS 9. Di dalam AFAS 9 ini Indonesia belum memberikan komitmen liberalisasi Mode 4. Untuk
mode 1 dan 2 disepakati tanpa limitasi, sedangkan untuk mode 3 telah disepakati ketentuan
sebagai berikut:

236
LAMPIRAN -LAMPIRAN

 Penyertaan modal asing sampai dengan 70%, kecuali Makassar dan Manado sampai
dengan 51%
 Tenaga kesehatan wajib merupakan warga negara Indonesia
 Pendirian hanya terbatas di ibukota provinsi di wilayah Indonesia Timur

Bagaimana dengan Mutual Recognition Arrangement (MRA)?

Sehubungan dengan pergerakan/mobilisasi tenaga terampil di ASEAN maka salah satu upaya
yang dilakukan adalah dengan menyusun dan menyepakati Mutual Recognition Arrangement
(MRA) yaitu suatu kesepakatan untuk menciptakan prosedur dan mekanisme akreditasi untuk
mendapatkan kesamaan/kesetaraan serta mengakui perbedaan antar negara dalam bidang
pendidikan dan pelatihan, pengalaman dan persyaratan lisensi untuk para profesional yang ingin
berpraktek. Terkait dengan jasa pelayanan kesehatan AMS (ASEAN Member State) telah
sepakat untuk menyusun 3 MRA.

 ASEAN MRA on Nursing Service ( 8th December 2006)


 ASEAN MRA on Medical Practitioners (26th February 2009)
 ASEAN MRA on Dental Practitioners ( 26th February 2009)

Perundingan liberalisasi jasa kesehatan dilakukan dalam forum Health CareServices Sectoral
Working Group (HSSWG) yang terdiri dari ASEAN Joint Coordinating Committee on Medical
Practitioners (AJCCM), ASEAN joint Committee on Dental Practitioners (AJCCD) dan ASEAN
Joint Coordinating Committee on Nursing (AJCCN).Khusus untuk dokter yang tergabung dalam
AJCCM sampai akhir tahun 2015 ada 3 objetif yang akan dicapai (Lihat tabel 2)

237
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Tabel 2. Objektif dan Action Plan MRA.

Objective Action Plan


1 Facilitate mobility medical  Utilize temporary licensing and registration in
practitioners within ASEAN and 5 areas of practiceas focus of mobility of
provide opportunities for capacity medical practitioners.
building and training of medical  Define the mechanism of mobility for medical
practitioners practioners for each AMS
 Constract table of comparations providing
information ragrding Limited Practice, its
application, requirements and conditions,
duration and conditions for renewal
 Constract the table for other four categories
intersessionally and submit them in the next
AJCCM meeting
2 Exchange information and enhance  Continue to update the comparation matrix
cooperation in respect of mutual as appears in annex and share information
recognition of medical practitioners throughtheir respective websites
 Maintain the aggregate data on ASEAN
medical practitioners accorded temporary
lisence/registration under thefive categories
in the concept paper.
 The statistical data will be collected at every
AJCCM meeting
3 Promote adoption of best practices  Continue to share best practices on
on standards and qualifications standards
and qualificationsthrough their respective
website, as well as profesional exchanges
 Pilots 3 issues facing AMS as topics to share
experience, best practices on standards and
qualifications

238
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Dalam hal yang terkait dengan dengan pergerakan/mobilisasi dokter- dokter di negara ASEAN
sampai dengan pertemuan terakhir -masing negara ASEAN telah menyetujui (agree) untuk
memperoleh surat tanda registrasi/licensing untuk 5 kategori kegiatan yakni:

1) Limited practice (praktek sementara dalam waktu tertentu yang terbatas)


2) Expert visit (kedatangan para ahli untuk memberikan alih teknologi/keterampilan/ilmu
pengetahuan}
3) Education and Training (pendidikan dan pelatihan)
4) Humanitarian Missions (kedatangan untuk bakti sosial)
5) Research (penelitian)
Untuk masing-masing kriteria tersebut di atas setiap negara dapat mengajukan keperluan
persyaratan (requirement) sesuai dengan kondisi yang diharapkan oleh masing-masing negara
ASEAN. Misalnya saja untuk Limited Practice, bagi dokter asing, Indomesia mensyaratkan
harus mematuhi semua regulasi domestik termasuk Peraturan Konsil Kedokteran dan Peraturan
Menteri Kesehatan serta Kementerian lain yang terkait. Di samping itu harus dilakukan
pemantauan dan evaluasi serta dokter yang bersangkutan harus melaporkan kegiatannya
setiap tahun.Disamping itu lama praktik yang diizinkan hanya 1 tahun dan dapat diperpanjang
hanya 1(satu) kali. Negara-negara lain memberikan persyaratan yang hampir sama namun
dalam durasi yang berbeda-beda, namun tidak lebih dari 1 tahun.

Sehubungan dengan proses mobilisasi tenaga dokter di era MEA maka ada suatu badan yang
mempunyai peran yang sangat pentinguntuk mengatur dan mengotrol praktek jasa kedokteran
(regulatory body) yaitu Professional Medical Regulatory Autorithy (PMRA) untuk dokter dan
PMRD (Professional Dental Regulatory Authority)untuk dokter gigi. Di banyak negara ASEAN
badan yang bertanggung jawab dalam pengaturan tersebut di atas adalah Konsil Kedokteran
(Medical Council). Di Indonesia badan regulator ini yang telah diakui baik secara nasional
maupun internasional adalah Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan Kementerian
Kesehatan. Ada negara ASEAN yang PMRAnya hanya Konsil Kedokteran dan ada juga yang
hanya Kementerian Kesehatan (lihat Tabel 3)

239
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Tabel 3.Professional Medical Regulatory Authority (PMRA) di ASEAN

NEGARA ANGGOTA Otoritas yang ditunjuk


Brunei Darussalam Brunei Medical Board
Cambodia Cambodian Medical/Dental Council +MoH
Indonesia Indonesia Medical Council + MoH
Lao Ministry of Health (MoH)
Malaysia Malaysia Medical/ Dental Council
Myanmar Myanmar Medical/Dental Council + MoH
Philippines Phillippines Professional Regulation Commission +
Board of Medicine/Dentistry +
Phillippines Medical/Dental Associations
Singapore Singapore Medical/Dental Council and Medical
Specialist Accreditation Board
Thailand Thailand Medical/Dental Council and Ministry of Health
Vietnam Ministry of Health
Keterangan : PMRA = Professional Medical Regulatory Authority
MoH = Minsitry of Health

Apakah sekarang sudah ada Dokter Asing yang bekerja di Indonesia secara resmi?

Sampai saat ini belum ada satupun Dokter WNA yang teregistrasi secara resmi di Konsil
Kedokteran.Bila ada dokter WNA yang berpraktek di wilayah Indonesia, dapat dilaporkan ke
pihak berwenang dan pasti merupakan praktik kedokteran illegal.
Tidak semua kualifikasi dokter WNA dapat melakukan praktik di Indonesia. Dokter Umum (GP)
dari negara asing termasuk negara anggota ASEAN sampai saat ini masih tertutup masuk ke
Indonesia sesuai Peraturan Menkes no 67/2013. Hanya dokter spesialis/subsesialis tertentu
yang dimungkinkan untuk untuk melakukan“limited practice” yakni maksimal 1 tahun atas
permohonan institusi rumah sakit/ pendidikan dan harus mendapat persetujuan Konsil
Kedokteran dan Kementerian Kesehatan sebagai pemegang otoritas meregulasi profesi
kedokteran di Indonesia. Dengan demikian tidak dimungikinkan dokter WNA berpraktik mandiri
di Indonesia.

240
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Bagaimana peran Organisasi Profesi Kedokteran?

Dalam kaitannya dengan mobilisasi dokter-dokter di negara ASEAN diperlukan saling


pengakuan profesi dalam hal : 1) saling pengakuan profesi dalam sistem dan kurikulum
pendidikan, 2) Penyetaraan Corecompetence dan CPD (Continuing Professional Development)
3) Rekognisi proses registrasi/ lisensi dan penerbitaan “letter of good standing” (LOG) dari
negara asal dan 4) aksesibilitas pertukaran informasi melalui AMS (ASEAN Member State)
website
Pengaturan dan persyaratan rekognisi atau saling pengakuan dokter/dokter gigi di ASEAN
sesuai dengan MRA adalah sebagai berikut:

1) Memenuhi kualifikasi dan teregistrasi oleh ”Professional Regulatory Authority” di negara


asal dan negara tujuan
2) Berasal dari Institusi Pendidikan dan Sistem Pendidikan Kedokteran yang direkognisi
Negara tujuan
3) Sertifikat kompetensi diakui Kolegium sejenis di ASEAN
4) Pengalaman berpraktik aktif di negaranya minimal 5 tahun,
Melalui penyetaraan CPD di Negara asal dan Negara tujuan
5) Memiliki“letter of good standing” (LOG) yang menyatakan bahwa dokter yang
bersangkutan tidak sedang terkena sanksi pelanggaran hukum, disiplin, atau etika profesi

Di Indonesia organisasi profesi khususnya Kolegium yang tergabung dalam Ikatan Dokter
Indonesia (IDI) mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan standar kompetensi
dokter dari berbagai disiplin ilmu kedokteran. Oleh karena itu dalam beberapa kali pertemuan di
AJCCM atau AJCCD di tingkat ASEAN kerjasama antara profesi atau kolegium antar negara
ASEAN yang telah terjalin perlu ditingkatkan agar ada penyamaan dalam rangka saling
rekognisi kompetensi tenaga dokter dari masing-masing negara.

Dalam pertemuan AJCCM ke 15 awal Mei 2015 yang lalu di Kuala Lumpur, Malaysia telah
disepakati oleh semua AMS untuk menyusun suatu matriks perbandingan tentang “core”
kurikulum untuk Basic Medical Education. Selain itu disepakati juga pembentukan kelompok
kerja (task forces) yang akan menyusun suatu List tentang prosedur dalam Aesthetic Medicine
yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand yang akan dipimpin
oleh Malaysia. ASEAN Qualification References Framework (AQRF) juga dibahas singkat,

241
LAMPIRAN -LAMPIRAN

namun untuk sementara level kualifikasi ASEAN yang telah diusulkan akan menjadi suatu
perbandingan/komparasi dari level kualifikasi masing-masing negara yang telah ada.

Bagaimana tanggapan dokter Indonesia terhadap pemberlakuan MEA ?

Pemberlakuan MEA sejak akhir tahun 2015 ini menimbulkan berbagai tanggapan dan pendapat,
baik pendapat yang menyokong maupun yang kontra bahkan sangat skeptik khususnya
sehubungan dengan akan terbukanya kesempatan dokter asing masuk ke Indonesia. Tujuan
ASEAN yang pada dasarnya adalah suatu “kolaborasi” bukan tidak mungkin berubah menjadi
suatu bentuk “kompetisi”. Bahkan IDI sebagai organisasi profesi kedokteran resmi di negeri ini
telah dengan tegas menyatakan sikap “menolak” terhadap kehadiran dokter asing di Indonesia
dan menolak sektor kesehatan menjadi “komoditi” yang diperdagangkan dengan beberapa
alasan. Pendapat yang lebih ekstrem menganggap kehadiran dokter asing pada saat ini
dianggap sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan negara dan kedaulatan pelayanan
kesehatan karena Indonesia akan diserbu barang, jasa tenaga terampil termasuk dokter dari
negara-negara ASEAN dan terbukanya kesempatan pendirian rumah-rumah sakit besar dengan
modal asing. Kalau ditinjau dari kelemahan beberapa sektor di Indonesia saat ini memang
pendapat tersebut cukup beralasan. Namun ada juga pihak yang beranggapan bahwa MEA
akan memberikan peluang dan tantangan bagi kalangan kesehatan di Indonesia termasuk
kelompok profesi dokter dan dokter gigi untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan agar
dapat berkompetisi dengan dokter asing.

MEA bisa dianggap peluang bagi dokter maupun tenaga kesehatan lain karena MEA akan
menjadi pemicu bagi kita untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan meningkatkan
keterampilan. Peningkatan kualitas komunikasi dan edukasi dengan pasien merupakan salah
satu upaya untuk memberikan pelayanan kesehatan dan kedokteran yang lebih baik. Khusus
bagi kalangan dokter sebenarnya kualitas dan kompetensi dokter Indonesia sudah banyak yang
diakui secara regional maupun internasional, terutama di tingkat dokter spesialis dan sub-
spesialis. Ada beberapa dokter kita yang sudah dapat berpraktek di beberapa Negara ASEAN
dan beberapa pasien dari luar negeri yang dating ke Indonesia untuk memperoleh layanan
kedokteran tertentu karena dianggap menghasilkan “outcome” yang baik. Sudah sejak lama di
tingkat komunitas profesi kedokteran sebenarnya sudah menjalin hubungan yang sangat baik
melalui pertemuan ilmiah, training dan alih teknologi kedokteran dalam berbagai bidang

242
LAMPIRAN -LAMPIRAN

spesialisasi. Bahkan ada spesialis yang telah melaksanakan ujian kompetensi (Board
Examination) di tingkat ASEAN.

Meskipun demikian harus diakui bahwa masih banyak sektor yang masih memerlukan
pembenahan secara menyeluruh dalamsistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Distribusi
dokter yang tidakmerata ke pelosok tanah air sudah merupakan keadaan kronis yang seakan-
akan dapat dianggap celah atau kesempatan sebagai pintu masuk bagi dokter asing ke
Indonesia. Ada ratusan Puskesmas yang tidak ada dokter dan tidak sedikit RS Kabupaten yang
tidak mempunyai dokter spesialis dapat merupakan suatu justifikasi terbukanya kesempatan
masuknya dokter asing. Menurut perhitungan Kementerian Kesehatan Pada tahun 2014
terdapat kekurangan Dokter Spesialis di Indonesia sebanyak 1.792 dokter. Kualitas pelayanan
di rumah sakit yang masih belum optimal dan beberapa kelemahan dalam sistem pembeayaan
kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang masih memerlukan banyak
perbaikan juga merupakan titik lemah yang memerlukan perhatian dan antisipasi pemerintah
maupun kalangan profesi. Oleh karena itu kekhawatiran banyak pihak terhadap masuknya
pemodal asing dalam bisnis kesehatan di Indonesia memang cukup beralasan. Apabila tidak
diatur dengan peraturan yang ketat oleh pemerintahdan PMRA maka bukan tidak mungkin akan
timbul “gap” pelayanan kesehatan dalam masyarakat baik di tingkat provider maupun di tingkat
consumer. Bagi masyarakat sesungguhnya yang penting adalah mereka mendapat pelayanan
terbaik, aman, terjangkau dan memuaskan, baik dilayani oleh dokter Indonesia maupun
dokter asing. Namun yang menjadi pertanyaan besar: “Apakah dengan masuknya dokter asing
ke Indonesia akan menjamin pelayanan kesehatan akan lebih baik?”

Lantas apakah dokter Indonesia sudah siap menghadapi MEA ?

Secara jujur memang pertanyaan di atas tidak mudah untuk dijawab. Kalau ditanyakan kepada
dokter secara individu maka sebagian besar mengatakan sepenuhnya siap oleh karena semua
dokter dididik dalam suatu sistem pendidikan kedokteran yang universal termasuk dokter
spesialis maupun sub-spesialis. Memang di sana sini ada sedikit perbedaan sistem antar negara
ASEAN, misalnya ada yang mengacu pada sistem Common Wealth (UK) seperti Malaysia,
Singapura dan ada yang mengacu pada sistem Amerika seperti Filipina. Sementara Indonesia
dapat dikatakan mengacu pada keduanya, meskipun terdapat sedikit perbedaan pada tingkat
pendidikan profesi dokter. Upaya membandingkan “core competence” Basic Medical Education
antar negara ASEAN dengan membuat suatu matriks perbandingan dalam pertemuan AJCCM

243
LAMPIRAN -LAMPIRAN

dan AJCCD pada akhir September 2015 yang baru lalu merupakan salah satu upaya bersama
untuk penyetaraan tingkat kompetensi dokter-dokter di negara ASEAN.Namun demikian
kualitas pelayanan kesehatan di suatu negara tidak hanya ditentukan oleh tingkat kompetensi
dokter.

Para Dokter akan bekerja dengan baik bila mereka berada dalam suatu sistem pelayanan
kesehatan suatu negara yang baik pula termasuk sistem pembeayaan. Selama sistem
pembeayaan kesehatan suatu negara tidak baik misalnya hanya mengandalkan pembeayaan
“out of pocket” dan dokter menerima pembayaran “fee for service” secara bebas maka jangan
terlalu banyak berharap kualitas pelayanan kesehatan akan membaik secara menyeluruh .
Selain itu sistem rujukan yang tidak terstandar dalam pembeayaan selama ini juga akan
merupakan suatu titik lemah dalam menghadapi MEA. Namun kita masih berharap tahapan
penyempurnaan “universal coverage” melalui JKN yang dilaksanakan BPJS akan secara
bertahap memperbaiki masalah ini. Sayangnya dalam 1-2 tahun kedepan ketika MEA mulai
diberlakukan sistem pembiayaan melalui JKN Kesehatan belum tentu banyak berubah.
Sehingga masuknya tenaga kesehatan asing belum tentu akan menjamin memperbaiki derajat
kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Apa yang harus dilakukan oleh dokter dan Organisasi Profesi Kedokteran dan beberapa
“stakeholder” lainnya di Indonesia?

Dalam menyongsong pemberlakuan MEA yang tinggal beberapa bulan lagi, kita nampaknya
sampai pada suatu titik yang tidak bisa kembali lagi atau dapat disebut sebagai Point of No
Return. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau MEA pasti diberlakukan. Oleh karena itu
berarti bahwa pada awal tahun 2016 Indonesia telah memasuki suatu suasana baru dalam era
geo-politik dan ekonomi termasuk bidang liberalisasi jasa pelayanan kesehatan. MEA sudah
merupakan suatu keputusan politik yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Hanya saja rancangan
strategi dan evaluasi menyeluruh perlu segera dikerjakan. Dalam bidang mobilisasi tenaga
kesehatan termasuk dokter tetap masih mengacu pada goals dari MRA seperti yang telah
disebut di atas. Dalam bidang jasa kedokteran setidaknya ada 6 pemangku kepentingan (stake
holder) yang harus segera melakukan evaluasi sampai berapa jauh persiapan yang sudah dan
akan dilaksanakan menjelang pemberlakuan MEA yakni:

244
LAMPIRAN -LAMPIRAN

1) Dokter/Dokter Gigi sebagai individu


2) Organisasi Profesi Dokter (IDI)/Dokter gigi (PDGI)
3) PMRA di Indonesia yakni Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan Kementerian
Kesehatan
4) Institusi Pendidikan Kedokteran yakni Fakultas Kedokteran di berbagai Universitas
5) Institusi Rumah Sakit, baik RS pemerintah termasuk RS Pendidikan maupun RS Swasta.
6) Pemerintah Daerah (Propinsi/Kabupaten /Kota)

 Bagi Dokter secara individu apapun keahliannya perlu meningkatkan profesionalisme,


mempertahankan dan meningkatkan kompetensi sesuai bidangnya dan peningkatan kualitas
berkomunikasi dengan pasien yang semuanya harus menjadi perhatian utama. Paradigma
menempatkan posisi pasien sebagai consumer dan provider pada posisi yang sejajar
hendaknya segera dimulai. Demikian juga paradigma reactive medicine yang hanya
mengobati dan bertindak bila seorang pasien datang dalam keadaan sakit haruslah
diubahdengan paradigma preventive melalui edukasi yang memadai pada waktu konsultasi
di ruang praktek. Waktu berkomunikasi antara dokter dan pasien haruslah membangun suatu
komunikasi efektif yang pada akhirnya akan membantu dalam proses penyembuhan pasien.
Memberikan pilihan kepada pasien untuk memilih jenis tindakan dengan melibatkan pasien
secara aktif dengan memperhatikan etika profesi dan disiplin kedokteran merupakan suatu
hal yang menjadi keharusan saat ini. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk
memperoleh second opinion terhadap ahli lain dengan tetap memperhatikan etika kedokteran
bukanlah suatu hal yang luar biasa dan tidak terlarang karena memang itu adalah hak pasien.

 Organisasi profesi kedokteran sesungguhnya adalah “moral enterprise” yang harus


meletakkan kepentingan masyarakat dan kepentingan anggota menjadi prioritas utama di
atas kepentingan lainnya. Di era globalisasi khususnya dalam menghadapi MEA, organisasi
profesi IDI bersama semua Perhimpunan Dokter dan Dokter Spesialis dengan Kolegium
terkait seyogianya sudah mempunyai”mapping” tenaga dokter secara nasional dengan rinci
mulai jenis spesialisasi-subspesialisasi, penempatan di rumah sakit kabupaten/propinsi. Data
“mapping” tersebut dapat diberikan pada pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Tentu saja diperlukan suatu kerjasama yang baik dengan Kementerian Kesehatan, Dinas
Kesehatan dan Pemerintah Daerah. Mempertahankan kompetensi dokter melalui Pendidikan
Kedokteran Berkelanjutan (CPD) secara baik dan benar sudah tentu juga merupakan

245
LAMPIRAN -LAMPIRAN

tanggung jawab organisasi profesi sesuai amanat UU No 24/2009 tentang Praktek


Kedokteran.

 Professional Medical Regulatory Authority (PMRA) yang dalam hal pelaksanaan MRA di
ASEAN dipegang oleh Konsil Kedokteran Indonesia dan Kementerian Kesehatan,
merupakan lembaga yang mempunyai peran penting dan strategis. PMRA inilah di setiap
negara ASEAN melakukan pengawasan dan kontrol terhadap praktek profesi kedokteran
dalam upaya melindungi masyarakat. Representatif dari PMRA ini secara berkala ( 2- 3 kali
setahun) mengadakan pertemuan dalam forum AJCCM (ASEAN Joint Coordinating
Committe on Medical Professional) untuk mendiskusikan kesepakatan dalam MRA (mutual
recognition arrangement). Pada forum inilah masukan-masukan dari organisasi profesi dan
pemerintah dari negara masing-masing anggota ASEAN dibahas secara mendalam yang
ditinjau dari berbagai aspek. Berbagai Peraturan Konsil kedokteran dan Peraturan Menteri
Kesehatan yang telah diterbitkan tetap menjadi acuan utama dalam perundingan tersebut.
Hal-hal yang terkait dengan tenaga kerja WNA menjadi fokus perhatian utama. 7,8

 Institusi Pendidikan Kedokteran yang dalam hal ini Fakultas Kedokteran baik Negeri maupun
Swasta seyogyanya turut berperan aktif dan bertanggung jawab dalam proses pendidikan
dokter dengan memperhatikan standar pendidikan danstandar kompetensi global. Berbagai
kelemahan dan kekurangan yang telah teridentifikasi selama ini hendaknya segera diatasi.
Penyamaan “core”kompetensi di tingkat ASEAN dapat didiskusikan dengan PMRA (KKI dan
Kemkes)

Khusus standar kompetensi dokter spesialis dan sub-spesialis sebaiknya mendapat


perhatian khusus oleh karena terdapat perbedaan sistem pendidikan spesialis di banyak
negara ASEAN jika dibandingkan dengan sistem pendidikan spesialis/sub-spesialis di
Indonesia.

 Institusi Rumah Sakit, merupakan suatu institusi yang cukup penting dalam proses
pendidikan baik pendididikan dokter maupun dokter spesialis. Rumah Sakit Pendidikan
Utama maupun RS Pendidikan Jejaring berperan penting sehingga kualifikasi tenaga
pengajar yang memadai serta fasilitas yang cukup sangat penting dalam upaya
menghasilkan dokter-dokter yang berkualitas. Tanpa pembenahan diberbagai sektor di
Rumah Sakit, pendidikan kita akan tertinggal dalam berkompetisi di tingkat ASEAN.

246
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Hubungan kerja antara Dokter dan Rumah Sakit khususnya di RS Swasta, memerlukan suatu
pengaturan yang bersifat Nasional. Kemitraan dan aturan hubungan kerja antara Dokter dan
Rumah Sakit juga harus sama antara Dokter asing dan Dokter Indonesia dengan tingkat/level
yang sama. Dalam hal kualitas pelayanan di rumah sakit termasuk tata kelola pasien dan
kualitas pelayanan secara keseluruhan yang sering menjadi keluhan masyarakat, tidak
terkecuali pelayanan dokter seyogianya segera ditingkatkan ke arah yang lebih baik.

 Pemerintah Daerah baik timgkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota merupakan pemegang


otoritas yang sangat menentukan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan yang bermutu
disuatu daerah. Kebijakan dalam “policy” tentang kesehatan termasuk pembeayaan
kesehatan berada di tangan Kepala Daerah. Dukungan dari Gubernur/Bupati/Walikota untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui penghargaan terhadap tenaga dokter
mutlak diperlukan. Harus diakui bahwa kenyataannya penghargaan pemerintah terhadap
tenaga kesehatan khususnya dokter masih sangat minimal. Permasalahan yang muncul
tentang kasus “dokter asing”yang berpraktek “ilegal“ di suatu daerah di masa lampau
hendaknya tidak terulang lagi di era MEA.

Selain stakeholder tersebut di atas tentu saja dalm pelaksanaan mobilisasi tenaga kesehatan
termasuk dokter di era MEA nanti masih ada institusi lain yang tidak kalah perannya dalam
pengaturan dan pengawasan seperti Kementerian tenaga Kerja dan Keimigrasian.
Dengan demikian maka apabila ada yang bertanya: “Apakah Dokter Indonesia Siap menghadapi
Masyarakat Ekonomi ASEAN akhir tahun 2015“. Jawabannya adalah HARUS SIAP, tentu
dengan beberapa catatan dab upaya perbaikan seperti yang dikemukakan di atas.

KESIMPULAN

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah diberlakukan di akhir tahun 2015 ini dapat
merupakan peluang maupun tantangan bagi tenaga kesehatan khususnya dokter di Indonesia.
Kerjasama dalam bidang kesehatan ditingkat ASEAN dapat mendukung upaya peningkatan
derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, saling
berbagi informasi, saling tukar menukar pengalaman dan alih teknologi kedokteran, bakti sosial,
pendidikan dan pelatihan serta penelitian sesuai dengan tujuan dari Mutual Recognition
Arrangement (MRA). Indonesia harus siap menghadapi era MEA, namun harus memperbaiki
berbagai kelemahan yang ada dengan mengikut sertakan setidaknya 6 stakeholder yakni :

247
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Organisasi profesi kedokteran (IDI) dengan semua perhimpunan profesi dan kolegium
didalamnya, PMRA (KKI dan Kemkes), Institusi Pendidikan Kedokteran, Institusi Rumah Sakit
dan Pemerintah Daerah. Penghargaan pemerintah terhadap dokter yang masih belum memadai
saat ini memerlukan perhatian khusus di era MEA mendatang. Perundingan dan komitmen
Indonesia di sektor jasa kesehatan secara multilateral di regional ASEAN sudah cukup luas
sehingga diperlukan implementasi MRA secara efektif dengan melakukan peningkatan
kompetensi dan profesionalisme dokter Indonesia serta mengembangkan dan membangun
“networking” di tingkat profesi kedokteran untuk mencapai saling pengakuan dalam rangka
mobilisasi tenaga profesional di kawasan ASEAN.

REKOMENDASI

1) Mendesak pada PMRA (Professional Medical Regulatory Authority) di Indonesia yakni


Konsil Kedokteran Indonesia dan Kementerian Kesehatan RI untuk segera memperkuat
regulasi di samping regulasi yang sudah ada terkait dengan mobilisasi tenaga dokter di
tingkat ASEAN maupun Asia Pacifik, khsususnya untuk perlindungan terhadap
masyarakat di seluruh tanah air.

2) Mendorong semua Organisasi profesi dan Kolegium yang berada di lingkungan IDI untuk
segera melakukan kerja sama (kolaborasi) terkait khususnya dalam bidang pendidikan,
tukar menukar pengalaman (sharing experiences) dalam upaya saling pengakuan (mutual
recognized) kompetensi di sesama negara ASEAN

IX. SISTEM KUOTA DOKTER

Sistem Kuota Dokter dan Dokter Spesialis dalam Distribusi Dokter berdasarkan
kebutuhan fasilitas kesehatan dan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan

Dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan bagi masyarakat perlu diatur sistem kuota
dokter umum dan dokter spesialis berdasarkan fasilitas pelayanan kesehatan

Sebaiknya ada keseragaman ACUAN bagi organisasi profesi dalam menghitung sistem kuota
dokter dan distribusi dokter umum dan dokter spesialis di satu wilayah. Organisasi profesi perlu
berkontribusi dan dilibatkan berapa sebenarnya jumlah kebutuhan dokter umum dan dokter

248
LAMPIRAN -LAMPIRAN

spesialis di suatu daerah agar terjadi pelayanan kesehatan yang lebih merata. Bila dokter
cenderung untuk bekerja dan tinggal di kota-kota besar sebenarnya suatu hal yang sangat
“manusiawi”. Yang dipikirkan adalah dokter yang akan bekerja dan tinggal di daerah terpencil
atau jauh dari kota, tentu kesejahteraan dan fasilitas pelayanan wajib disiapkan dengan baik
oleh pemerintah daerah.

Dasar penyusunan sistem kuota Dokter Umum dan Dokter Spesialis dan distribusi dokter di
suatu wilayah seharusnya memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :

1. Jenis spesialis/sub spesialis, kualifikasi, dan jumlah Jumlah dokter/dokter spesialis yang
sudah tersedia di satu wilayah
2. Ketersediaan Fasyankes (RS, Klinik, RS khusus dsb.)
3. Kondisi geografis (daerah terpencil, remote area dll)
4. Kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
5. Kelangkaan dokter spesialis di wilayah tersebut (dokter spesialis belum ada di fasyankes
yang tersedia).
6. Jumlah penduduk dengan memperhatikan rasio antara dokter dan jumlah penduduk

X. PERAN IDI DALAM PENDAMPINGAN KONTRAK


KERJASAMA DOKTER DENGAN FASILITAS PELAYANAN
KESEHATAN DAN BPJS KESEHATAN

Seorang dokter yang melakukan praktek profesi kedokteran di suatu institusi pelayanan
kesehatan termasuk di rumah sakit seyogianya mendapat perhatian dan diperkuat oleh
organisasi profesi baik IDI ataupun organisasi profesi dokter spesialis. Perlindungan hukum dan
kelayakan bagi kesejahteraan dokter tidak boleh terabaikan. “Dokter dapat melakukan profesi
kedokterannya tanpa Rumah Sakit” TAPI Rumah Sakit tanpa Dokter, tidak akan berarti apa-
apa”

Kontrak kerjasama dokter dengan fasilitas kesehatan termasuk dengan BPJS dalam
menjalankan praktek kedokteran perlu mendapat perhatian khusus agar dokter tidak berada
pada pihak yang dirugikan.

249
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Yang perlu diperhatikan dalam isi draft MOU mencakup :

Dokter Purna waktu

1. Pembagian Jasa Medis (Panduan remunerasi IDI)


2. Perlindungan Hukum Profesi (Advokasi, Asuransi Profesi)
3. Kesejahteraan dokter
- Tunjangan kesehatan (asuransi social JKN)
- Tunjangan kecelakaan kerja (asuransi ketenagakerjaan)

e) Dokter paruh waktu


1. Pembagian Jasa Medis (panduan remunerasi IDI)
2. Perlindungan Hukum Profesi

Peran IDI dalam Pendampingan Dokter Praktek Mandiri dalam Kontrak Kerjasama
dengan BPJS Kesehatan

1. Terlibat dalam proses kredensial


2. Mengawal isi draft MoU Dokter praktek mandiri dengan BPJS Kesehatan
3. Pendampingan IDI bila terjadi permasalahan. Bila terjadi konflik/sengketa dalam
hubungan kerjasama BPJS Kesehatan \

XI. HEALTH TECHNOLOGY ASSESSMENT (HTA)

Health Technology Assessment (HTA) merupakan suatu proses dan mekanisme berdasarkan
“evidence” secara ilmiah untuk menilai kualitas, keamanan (safety), efektivitas dan “cost
effectiveness” dalam bidang pelayanan kesehatan. Di dalam pelayanan kesehatan secara umum
selalu diperlukan suatu penelitian (riset) untuk menentukan apa yang dapat dilakukan. Dengan
HTA dapat ditentukan apa yang terbaik untuk dilakukan terhadap pasien tertentu dengan
mempertimbangkan berbagai hal yang tersebut di atas. Kualitas saja tidak cukup sebagai bahan
pertimbangan. Efektivitas, keamanan dan “cost” juga merupakan faktor penting dalam
menetapkan kebijakan dalam sistem pelayanan kesehatan di suatu negara.

250
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang demikian pesat dalam beberapa
dekade terakhir ini dapat menyebabkan biaya pelayanan kesehatan menjadi mahal bilamana tidak
dilakukan penapisan dan pengkajian secara ilmiah dalam berbagai obat, alat kesehatan dan alat-
alat diagnostik dan terapi. Misalnya saja obat-obat antilekemia, vaksin, pacemaker jantung, alat
CT Scan, devices untuk berbagai penyakit jantung bawaan, stent untuk koroner, PET imaging
untuk kanker dan lain-lain. Pertimbangan dan penilaian dari segi ekonomi, sosio-kultural, etik dan
religious juga tidak kalah pentingnya dalam HTA.

Pada umumnya HTA dilaksanakan untuk hal-hal yang terkait dengan high volume, yang
berhubungan dengan banyak kasus tertentu, high risk baik dari segi medik, sosial dan etik serta,
high cost agar kita terhindar dari pengeluaran biaya kesehatan berlebihan yang seharusnya tidak
perlu. Disinilah peran dari para ahli dari organisasi profesi kedokteran bekerjasama dengan
pemerintah (Kementerian Kesehatan) untuk bersama-sama melakukan penilaian sehingga semua
yang terkait dengan pelayanan kesehatan akan aman dan efektif. Sampai saat ini Tim HTA
Kemkes telah banyak melaksanakan HTA terhadap berbagai obat-obat ataupun devices dan alat-
alat diagnostik mutakhir bekerjasama dengan organisasi profesi terkait.

251
252
LAMPIRAN 4

BAHAN SIDANG ORGANISASI


KOMISI D
ETIKA, DISIPLIN & HUKUM
LAMPIRAN -LAMPIRAN

KOMISI D

Isu Etika, Disiplin dan Hukum

A . Problem Keorganisasian ,
1. Sumpah Dokter dan Kodeki :
a. Substansi dan material Sumpah dan Kodeki, apa perlu disempurnakan?
b. Bagaimana agar sumpah dan Kodeki semakin mengikat perilaku anggota?
c. Perlu ada aktivasi pengawasan perilaku profesi dokter ?
2. Penajaman Badan Pembela Anggota (BHP2A)
a. Banyak yang belum merasa ditangani anggota
b. Bagaimana agar Badan Pembelaan anggota yang lebih aktif dan dinamis?
c. Perluasan otonomi dan ruang lingkup kegiatan
3. Penanganan anggota yang melakukan penyimpangan-penyimpangan prinsip
organisasi dan pelanggaran etik berat yang dilakukan anggota
a. Ukuran kesalahan anggota pada anggota dan organisasi
b. Ukuran kesalahan anggota pada publik
c. Masing2 kriteria hukuman yang adil dan bermartabat untuk dokter
d. Mekanisme sanksi dan penghukuman bagi yang melanggar
4. Wujud hukuman untuk anggota yang melanggar prinsip organisasi ( sumbangan
fikiran untuk MKEK dan MKDKI ) ----- lanjutan point 3C dan 3 D, diatas

B. Problem pelanggaran Etik dan Disiplin Profesi

1. Kebiri kimia
a. Strategi penyampaian isi fikiran dan upaya mencari dukungan publik
b. Bagaimana menyikapi PERPU/UU ?
2. Euthanasia :
a. Euthanasia gimana yang butuh pemikiran dokter?
b. Ada usulan apa untuk RUU KUHP?
3. Fraud dalam BPJS
4. Gratifikasi dalam praktek kedokteran termasuk anggota yang menolak regulasi
5. Psl 67 dan 68 UU Pradok dan kasus overlapping dan kasus borderline
6. Wujud implementasi Perlindungan Dokter
a. Bagaimana melindungi profesi kedokteran, ketika berhadapan dengan RS
yang mengejar profit secara melawan etik?,
b. Pendekatan apa yang dilakukan?

255
LAMPIRAN -LAMPIRAN

7. Advokasi penegakan hak-hak dokter (termasuk hak dokter yang diperiksa


MKDKI, penegak hukum dan ketika menghadapi institusi lain yang berkuasa
dan arogan

C. Problem pelanggaran Hukum

1. Pembelaan dan Pendampingan dokter yang bermasalah hukum disemua tingkat


proses
2. Implementasi Kerjasama dengan Penegak Hukum dan MKDKI
3. PELANGGARAN ETIK BERAT YG DAPAT MENJADI pintu masuk
PELANGGARAN DISIPLIN dan/atau PELANGGARAN HUKUM
4. Penegakkan SANKSI BAGI Anggota PELANGGAR ETIK BERAT

256
LAMPIRAN 5

BAHAN SIDANG ORGANISASI


KOMISI E
KEBIJAKAN ORGANISASI
(EKSTERN DAN INTERN)
LAMPIRAN -LAMPIRAN

POKOK BAHASAN :

1. Prinsip Etik Penelitian Kedokteran yang Melibatkan Subjek Manusia


2. Menjaga Kehormatan Organisasi IDI melalui Penyelenggaraan Muktamar yang
Bermartabat

259
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Prinsip Etik Penelitian Kedokteran yang Melibatkan Subjek Manusia

Pendahuluan

1. Untuk mengembangkan ilmu kedokteran dalam rangka meningkatkan kemampuan dan


mutu pelayanan kedokteran, perlu dilakukan penelitian kedokteran yang antara lain
menggunakan manusia sebagai subjek penelitian.
Untuk melaksanakan penelitian kedokteran yang melibatkan manusia/bahan berasal dari
manusia sebagai subjek, perlu disusun suatu pedoman tentang prinsip-prinsip penelitian
yang melibatkan subjek manusia untuk menjamin keselamatan/keamanan perlindungan
etik dan hukum baik bagi subjek penelitian maupun dokter sebagai peneliti.
Untuk penyusunan pedoman ini Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merujuk kepada WMA
Declaration of Helsinki-Ethical Principles for Medical Research Involving Human
Subjects, Revisi tahun 2013,

2. Konsisten dengan fungsi IDI maka pedoman ini ditujukan terutama untuk para dokter. IDI
mendorong agar pihak lain yang terlibat dalam peneltian kedokteran yang melibatkan
subjek manusia untuk mengadopsi pedoman ini.

Prinsip Umum

3. Deklarasi Geneva dari World Medical Association mengikat para dokter dengan pk dan
meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dan hak-hak pasien, termasuk mereka yang
terlibat dalam penelitian kedokteran. Pengetahuan dokter dan hati nurani dokter
didedikasikan untuk memenuhi kewajiban tersebut.

4. Dokter Wajib meningkatkan dan menjaga kesehatan, kesejahteraan dan hak-hak


pasien, termasuk mereka yang terlibat dalam penelitian kedokteran. Pengetahuan dokter
dan hati nurani dokter didedikasikan untuk memenuhi kewajiban tersebut.

5. Kemajuan pelayanan kedokteran didasarkan pada penelitian dan pada akhirnya harus
mengikutsertakan/melibatkan subjek manusia.

6. Tujuan utama penelitian kedokteran yang melibatkan subjek manusia adalah untuk
mengerti penyebab, perkembangan, akibat dari penyakit dan memperbaiki pencegahan,
diagsnosis dan intervensi terapeutik (metode, prosedur dan pengobatan). Bahkan

4
260
LAMPIRAN -LAMPIRAN

intervensi yang terbukti paling baikpun harus dievaluasi secara berkelanjutan melalui
penelitian untuk keamanan, efektivitas ,efisiensi, akses dan kualitas.

7. Penelitian kedokteran tunduk pada standar etik yang meningkatkan dan menjamin
penghormatan kepada semua subjek manusia dan melindungi kesehatan serta hak-
haknya.

8. Walaupun tujuan penelitian kedokteran adalah untuk menghasilkan pengetahuan baru,


namun tidak boleh diabaikan hak dan kepentingan induvidu yang menjadi subjek
penelitian.

9. Bagi dokter yang terlibat dalam penelitian kedokteran wajib melindungi kehidupan,
kesehatan, martabat, integritas dan hak pribadi untuk menentukan nasib sendiri, privasi
dan kerahasiaan informasi pribadi subjek penelitian. Tanggung jawab untuk melindungi
subjek penelitian terletak pada dokter atau tenaga profesional kesehatan lainnya dan
bukan pada subjek penelitian walaupun mereka telah memberikan persetujuan.

10. Dokter harus mempertimbangkan norma dan standar etik, hukum, dan peraturan untuk
penelitian yang melibatkan subjek manusia di Indonesia serta norma dan standar
internasional yang dapat digunakan. Tidak ada persyaratan etik, hokum atau peraturan
nasional/internasional yang dapat mengurangi atau menghapuskan perlindungan untuk
subjek penelitian yang ada pada pedoman ini.

11. Penelitian kedokteran seharusnya dilaksanakan dengan meminimalkan kemungkinan


yang merugikan pada lingkungan.

12. Penelitian kedokteran yang melibatkan subjek manusia harus dilakukan hanya oleh
induvidu yang mempunyai etika dan kompetensi yang sesuai. Penelitian pada pasien
atau relawan sehat memerlukan supervisi dari dokter atau tenaga profesional kesehatan
dengan kompetensi dan kualifikasi yang sesuai.

13. Kelompok yang tidak terwakili dalam penelitian kedokteran seharusnya diberikan akses
yang cukup memadai untuk berpatisipasi dalam penelitian,

14. Dokter yang menggabungkan penelitian kedokteran dengan asuhan medis hanya boleh
melibatkan pasiennya dalam penelitian hanya sejauh hal ini memberi potensi untuk

5
261
LAMPIRAN -LAMPIRAN

pencegahan, dan bila ia yakin bahwa partisipasinya tidak akan memberikan dampak
buruk bagi kesehatan pasiennya.

15 Subjek yang dirugikan sebagai akibat pertisipasinya pada penelitian harus dijamin
dengan kompesnsai dan pengobatan yang sepantasnya.

Risiko, Beban dan Manfaat

16. Sebagian besar intervensi pada praktek kesokteran dan penelitian kedokteran
mengandung risiko dan beban.

Penelitian kedokteran dengan subjek manusia hanya boleh dilakukan bila manfaatnya
melebihi risiko dan beban pada subjek penelitian.

17. Semua penelitian kedokteran yang menggunakan sebjek manusia harus didahului oleh
penilaian yang seksama terhadap perkiraan risiko dan beban bagi individu/kelompok
yang terlibat dibandingkan dengan manfaatnya yang dapat diduga terhadap mereka dan
terhadap individu atau kelompok lain yang dipengaruhi oleh kondisi dalam penelitian.
Tindakan untuk meminimalisasi risiko harus diimplimentasikan. Risiko harus secara
berkesinambungan dimonitor, dinilaif dan didokumentasikan oleh peneliti.

18. Dokter hanya boleh terlibat dalam penelitian yang menggunakan subjek manusia bila
mereka yakin bahwa risiko telah dinilai secara memadai dan ditanggulangi secara
memuaskan.

Bila risiko melebihi potensi manfaat atau bila terdapat hasil definitif yang meyakinkan,maka
dokter harus memutuskan apakah akan melanjutkan, memodifikasi atau segera
menghentikan penelitian tersebut.

Individu dan Kelompok Rentan

19. Beberapa kelompok dan induvidu sangat rentan dan berpotensi untuk terjadi
peningkatan risiko. Semua kelompok dan individu yang rentan harus mendapat
perlindungan yang spesifik.

20. Penelitian kedokteran dengan kelompok rentan hanya dibenarkan bila penelitian
tersebut merupakan respon terhadap kebutuhan kesehatan atau prioritas kelompok

6
262
LAMPIRAN -LAMPIRAN

tersebut dan penelitian 'tersebut tidak dapat dilakukan pada kelompok yang tidak rentan.
Sebagai tambahan, kelompok ini harus mendapat manfaat dari pengetahuan, praktik
atau intervensi yang dihasilkan penelitian tersebut.

Persyaratan Ilmiah dan Protokol Penelitian.

21. Penelitian kedokteran pada subjek manusia harus memenuhi prinsip ilmiah yang berlaku
umum, berdasarkan pada suatu pengetahuan yang menyeluruh dari literatur ilmiah,
sumber informasi lain yang relevan, data laboratorium yang memadai, dan percobaan
hewan yang sesuai . perikehewanan pada penelitian harus dihormati.

22. Desain dan metode penelitian yang melibatkan subjek manusia harus diuraikan dengan
jelas dalam sebuah protokol penelitian.

Protokol penelitian harus berisi pernyataan tentang pertimbangan etik dan harus
menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip pada pedoman ini diterapkan. Protokol harus
memuat informasi mengenai pendanaan, sponsor, afiliasi institusional, potensi konflik
kepentingan, insentif untuk subjek, dan kompensasi bagi subjek yang dirugikan sebagai
konsekwensi keikutsertaannya pada penelitian tersebut.

Protokol harus juga menguraikan penatalaksanaan subjek pasca uji klinik.

Komite Etik Penelitian

23. Sebelum penelitian dimulai protokol penelitian harus disampaikan kepada Komite Etik
Penelitian untuk memdapat pertimbangan, komentar, arahan dan persetujuan. Komite
tersebut harus transparan dalam menjalankan fungsinya, harus independen terhadap
pengaruh peneliti, sponsor. Ia harus mempertimbangkan peraturan perundangan
setempat serta norma dan standar internasional yang berlaku. Tidak boleh ada
pengurangan ketentuan tentang perlindungan bagi subjek penelitian yang tercantum
pada pedoman ini.

Komite tersebut berhak memantau penelitian yang sedang berjalan. Peneliti memberikan
informasi kepada komite tersebut, khususnya tentang kejadian tak diharapkan yang serius.
Tidak ada perubahan pada protokol yang boleh dikerjakan tanpa persetujuan komite.
Setelah penelitin berakhir, peneliti harus menyampaikan laporan akhir penelitian kepada
komite penelitian yang berisikan ringkasan hasil penelitian dan ringkasan.

7
263
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Privasi dan Kerahasiaan.

24. Setiap tindakan pencegahan harus dilakukan untuk melindungi privasi dan kerahasiaan
informasi pribadi dari subjek penelitian.

Persetujuan

25. Partisipasi oleh individu yang mampu memberikan persetujuan sebagai subjek pada
penelitian kedokteran harus dilakukan secara sukerela. Walaupun wajar untuk
berkonsultasi dengan anggota keluarga atau pemimpin kelompok masyarakat,

26. Pada penelitian kedokteran yang melibatkan subjek manusia yang mampu memberikan
persetujuan, setiap calon subjek harus diberikan informasi secara memadai tentang
tujuan, metode,sumber pendanaan, adanya konflik kepentingan, afiliasi institusional dari
peneliti, keuntungan dan potensi risiko penelitian tersebut dan hal yang tidak
menyenangkan yang mungkin terjadi, persyaratan pasca penelitian dan berbagai aspek
penelitian yang relevan. Calon subjek harus diberi informasi akan haknya untuk menolak
berpartisipasi atau membatalkan persetujuan untuk berpartisipasi dalam penelitian
setiap saat tanpa perlu memberikan alasan Perhatian khusus harus diberikan pada
informasi spesifik yang dibutuhkan oleh individu calon subjek serta metode yang
digunakan untuk menyampaikan informasi tersebut.

27. Bila meminta persetujuan untuk berpartisipasi dalam penelitian, dokter harus berhati-hati
bila calon subjek tersebut merupakan seorang yang memiliki ketergantungan hubungan
dengan dokter atau dapat menyetujui di bawah tekanan. Dalam situasi seperti itu
persetujuan harus diminta oleh individu yang tepat yang memenuhi syarat dan tidak
mempunyai hubungan sama sekali.

28. Untuk calon subjek penelitian yang tidak mampu memberikan persetujuan, dokter harus
meminta persetujuan dari walinya yang sah. Individu ini tidak boleh diikutsertakan dalam
penelitian yang tidak ada kaitan manfaatnya untuk mereka kecuali dimaksudkan untuk
meningkatkan kesehatan dari kelompok yang diwakili oleh calon subjek tersebut,
penelitian malahan tidak dapat dilakukan dengan orang-orang yang mampu memberikan
persetujuan, dan penelitian hanya memberikan risiko dan beban minimal.

8
264
LAMPIRAN -LAMPIRAN

29. Bila calon subjek yang benar-benar tidak mampu memberi persetujuan tetapi mampu
mengiyakan keputusan tentang partisipasinya dalam penelitian, maka dokter harus
menggunakan persetujuan tsb sebagai tambahan dari persetujuan oleh wali yang sah.
Penolakan calon subjek harus dihormati.

30. Penelitian yang melibatkan calon subjek yang secara fisik atau mental tidak mampu
memberi persetujuan, misalnya pasien yang tidak sadar, hanya dapat dilakukan bila
kondisi fisik atau mental yang mencegahnya memberi persetujuan merupakan
karakteristik yang dibutuhkan dari kelompok yang di teliti. Dalam keadaan seperti ini
dokter harus mendapatkan persetujuan dari wali yang sah. Bila tidak tersedia wali yang
sah dan bila penelitian tidak bisa ditunda, penelitian dapat dilakukan tanpa persetujuan
dengan melengkapi alasan spesifik untuk mengikut sertakan subjek dengan kondisi yang
membuatnya tidak mampu memberikan persetujuan yang dinyatakan dalam protokol
penelitian dan penelitian tsb telah disetujui oleh Komite Etik Penelitian. Persetujuan
untuk tetap dalam penelitian harus didapat sesegera mungkin dari subjek atau wali yang
sah.

31. Dokter harus menjelaskan secara menyeluruh kepada pasien tentang aspek
perawatannya yang berhubungan dengan penelitian. Penolakan pasien untuk
berpartisipasi atau keputusan pasien untuk menarik diri dari penelitian tidak boleh
mempengaruhi hubungan dokter-pasien.

32. Untuk penelitian kedokteran menggunakan materi atau data dari manusia, seperti
penelitian terhadap materi atau data yang terdapat di biobank atau tempat penyimpanan
serupa, dokter harus mencari persetujuan untuk mengkoleksi, penyimpanan dan/atau
penggunaan kembali. Mungkin ada situasi khusus dimana persetujuan tidak mungkin
atau tidak praktis didapat untuk penelitian seperti itu Pada situasi seperti itu penelitian
hanya dapat dilakukan setelah ada pertimbangan dan persetujuan dari Komite Etik
Penelitian.

Penggunaan Plasebo

33. Manfaat, risiko, beban dan efektivitas dari sebuah intervensi baru harus diuji terhadap
intervensi yang sudah terbukti paling baik, kecuali untuk keadaan sbb:
Bila tidak ada intervensi yang sudah terbukti, penggunaan plasebo atau tanpa intervensi
dapat diterima; atau

9
265
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Bila untuk alasan ilmiah penggunaan intervensi apapun yang kurang efektif penggunaan
plasebo, atau tidak menggunakan intervensi diperlukan untuk menentukan efektivitas
atau keamanan sebuah intervensi.
Pasien yang menerima intervensi apapun yang kurang efektif daripada yang terbukti
paling baik, plasebo, atau tanpa intervensi tidak akan menerima risiko tambahan dari
bahaya yang serius atau menetap sebagai hasil dari tidak menerima intervensi yang
terbukti paling baik.
Perhatian khusus harus dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan opsi ini.

Ketentuan/persyaratan pasca penelitian

34. Sebelum uji klinik dilakukan, sponsor, peneliti dan pemerintah negara tuan rumah harus
membuat ketentuan untuk memberi akses pasca penelitian bagi semua peserta yang
masih memerlukan intervensi yang diidentifikasi bermanfaat dalam penelitian. Informasi
ini harus juga dibuka kepada peserta selama proses memperoleh persetujuan .

Registrasi, Publikasi dan Diseminasi Hasil Penelitian

35. Setiap penelitian yang melibatkan subjek manusia harus diregistrasi dalam database
yang dapat diakses publik sebelum merekrut subjek pertama.

36. Peneliti, penulis, sponsor, editor dan penerbit semuanya wajib mentaati etik terhadap
publikasi dan diseminasi hasil penelitian. Peneliti mempunyai kewajiban untuk
menyediakan bagi publik hasil penelitian terhadap subjek manusia dan
bertanggungjawab untuk kelengkapan dan keakuratan dari laporannya. Semua pihak
harus mentaati pedoman etik pelaporan. Hasil yang negatif atau tidak meyakinkan
sebagaimana hasil yang positif harus dipublikasi atau tersedia bagi publik. Sumber
dana, hubungan institusional dan pertentangan kepentingan/minat harus dinyatakan
dalam publikasi. Laporan penelitian yang tidak sesuai dengan prinsip dari Deklarasi ini
tidak boleh diterima untuk dipublikasi.

10

266
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Intervensi yang Tidak Terbukti dalam Praktik Klinis

37. Dalam mengobati individu pasien, bila tidak ada intervensi yang telah terbukti atau
intervensi lain tidak efektif lagi, maka dokter setelah meminta nasehat ahli, dengan
persetujuan dari pasien atau walinya yang sah, dapat menggunakan intervensi yang
belum terbukti bila dalam penilaian dokter pengobatan tersebut menawarkan harapan
menyelamatkan hidup, mengembalikan kesehatan atau mengurangi penderitaan.
Intervensi ini harus kemudian harus dibuat obyek penelitian yang didesain untuk
mengevaluasi keamanan dan manfaatnya.
Pada semua kasus, informasi baru harus dicatat, dan bilamana sesuai, disediakan
untuk publik.
Prosedur untuk pelaksanaan hal tersebut harus dibuat oleh institusi pelayanan yang
berwenang dan untuk menghindarkan penyalahgunaan.

KEPPKN (Komisi Etik Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nasional)


CIOMS (Council For International Organization Of Medical Sciences)

11

267
LAMPIRAN -LAMPIRAN

12
268
LAMPIRAN -LAMPIRAN

13
269
LAMPIRAN -LAMPIRAN

14
270
LAMPIRAN -LAMPIRAN

15
271
LAMPIRAN -LAMPIRAN

16
272
LAMPIRAN 6

BAHAN SIDANG ORGANISASI


KOMISI F
REKOMENDASI ORGANISASI
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Rekomendasi - Komisi F
Komisi F dalam proses diskusinya mengidentifikasi beberapa isu atau masalah yang
Panitia Anggota ADOC
saat ini terjadi VI –kedokteran.
di dunia Komisi F Terdapat 3 topik utama yang menjadi fokus
pembahasan komisi F, yaitu:
Ketua : Prof. Purnawan Junadi, MPH, PhD
1. Pendidikan dokter
Wakil Ketua 2.: DR. Dr. Alsen
Pelayanan Arlan, Sp.B, KBD
kesehatan
3. Jaminan kesehatan nasional
Sekretaris : Dr. Ardiansyah Bahar
Anggota : Dr.topik
Setiap Robert
ini Imam
memiliki Sutedja
isu/masalah yang kemudian coba dicarikan
rekomendasinya. Adapun beberapa masalah dan rekomendasinya, antara lain:
Dr. Agung P Sutiyoso, Sp.OT
Pendidikan Dokter
Dr. Beni Satria, MH.Kes
1. Dr. Andievaluasi
Perlunya Khomeini Takdir
ulang FK Haruni,
yang ada Sp.PD
berdasarkan kecukupan dana, fasilitas,
sarana prasarana, dan rasio dosen/mahasiswa. Dari 83 FK yang ada baru 20
Dr.
yangToni Natakarman
berakreditasi A, dan ada 35 yang akreditasi C. Komisi F mengusulkan
agarYadi
Dr. Universitas yang FK
Permana, nya masih
Sp.B(K) Onkberakreditasi C, memprioritaskan
pengembangan FK tersebut agar dalam 5 tahun bisa menjadi akreditasi B
Dr.
atau Jemfy
bahkan Naswil
A. Agar pemerintah membantu FK ybs, mengingat besarnya
resources yang diperlukan, terutama menyangkut peningkatan kualitas dan
Dr. E Sutarto, SKM
kuantitas tenaga pendidik.
Prof. DR. Dr. Agus Purwanto, Sp.F(K), SH, M.Si
2. Dipihak lain, menyayangkan dihentikannya moratorium pendirian prodi baru
DR. Dr. Yul Budiningsih, Sp.F(K)
FK oleh pemerintah. Jika memang pemerintah berkeras membuka prodi baru
Dr. Eddy
dalam Junaedi,
rangka Sp.OG,
pemerataan SH,dokter/
pendidikan M.Kes pelayanan kesehatan, agar
prodi baru itu baru bisa dibuka jika memenuhi persyaratan akreditasi B.
Prof. DR. Dr. Sudarto Ronoatmodjo, MSc
3. Dr. Halik meninjau
Perlunya Malik, MKM
kembali kriteria perekrutan calon mahasiswa
kedokteran/spesialis, apakah mekanisme yang sekarang sudah sesuai,
dikaitkan dengan sikap dan perilaku lulusan, dan penempatan didaerah
terpencil. Kemenkes dan pemerintah daerah perlu dilibatkan dalam hal,
berkaitan dengan memberikan subsidi pendidikan, maupun dengan
pemberian insentif yang memadai dan jenjang karir yang jelas, agar lulusan
FK tersebut bersedia bekerja di daerah terpencil. Selain itu perlu ada MOU

275
LAMPIRAN -LAMPIRAN

antara Kemenkes/pemda dengan IDI setempat dalam pemeliharaan dan


peningkatan kemampuan/ketrampilan profesi dokter yang bekerja di daerah
terpencil.

4. Meninjau kembali sistem pendidikan kedokteran yang sekarang berlaku. Baik


mengenai metodenya (Apakah KBK masih cocok?), masa pendidikannya
(selama 7 atau 8 tahun?), maupun proses pendidikan yang lebih manusiawi
(tanpa bullying, yang masih terjadi di beberapa tempat) dan mempersiapkan
calon dokter yang bersangkutan agar menjadi dokter yang tidak hanya pintar,
tetapi juga berkarakter menjunjung profesi kedokteran yang luhur, dan ikut
serta dalam membangun pelayanan kesehatan yang merata di Indonesia.

5. Perlunya segera dimulai diskusi tentang Transformasi pendidikan kedokteran,


yaitu setelah S.ked, bisa langsung memilih pendidikan profesi dokter
umumkeluarga maupun dokter spesialis, sehingga kastanisasi dokter yang
terjadi selama ini hilang, serta pendidikan bisa menjadi lebih pendek,
mengingat lama pendidikan juga menjadi variabel penentu dalam
pengembangan pelayanan kesehatan di Indonesia. Perlu juga dilakukan studi
banding dengan sistem pendidikan di negara lain.

6. Terjadi permasalahan pada kelanjutan pendidikan dan karir dokter. Beberapa


lulusan yang mengikuti UKRK tidak dapat mengikuti program spesialis di
beberapa center pendidikan. Selain itu, terjadi kastanisasi terhadap Lulusan
FK akreditasi C (Penerimaan bekerja, Penerimaan Calon Mahasiswa PPDS
berdasarkan kriteria terakreditasi A. Perlu keputusan tegas terkait program
UKRK ini. Perlu juga memfasilitasi dokter yang ingin melanjutkan pendidikan
dan karirnya sepanjang dia memiliki kemampuan

7. Kurang jelasnya program Internship sebagai bagian dari sistem pendidikan


ataupun pelayanan (UU Praktik Kedokteran, Permenkes 299/2010, Peraturan
KKI Tahun 2010, Kepmenkes 138/2011, Permenkes 2052/2011 (pasal 3 ayat
2)), termasuk implementasinya di lapangan dimana peserta masih dianggap
koass. Diperlukan studi banding bagaimana pelaksanaan program profesi
3

276
LAMPIRAN -LAMPIRAN

dengan program intensif di negara lain. Perlu juga dipikirkan perlindungan


hukum kepada peserta program profesi kedokteran

8. Meninjau kembali kebutuhan pendidikan beberapa spesialis dalam rangka


pemerataan pelayanan kesehatan, termasuk permasalahan siapa yang layak
untuk menyelenggarakannya. Perlu dipikirkan kembali pendidikan spesialis
berbasis RS untuk daerah-daerah tertentu di bawah pengampuan institusi
pendidikan

Pelayanan Kesehatan

1. Komisi F prihatin dengan Pelayanan Kesehatan belum merata terutama di


wilayah Timur, wilayah perbatasan, dan wilayah terpencil. Perlu ada diskusi
bagaimana pemerataan pelayanan di berbagai wilayah Indonesia. Perlu dicari
model seperti model Inpres ( Instruksi Presiden) yang lalu dengan imbalan
yang memadai dan jenjang karir yang jelas. Diperlukan juga regulasi yang
fleksibel untuk pelaku pelayanan kesehatan di wilayah yang terpencil yang
belum ada dokter spesialis atau dokter umum

2. Komisi F juga prihatin dengan kecenderungan Puskesmas untuk


menitikberatkan pelayanannya pada wilayah kuratif. Perlu kembali ditinjau
peran puskesmas sebagai penyelenggara kesehatan masyarakat yaitu
promotif preventif tanpa mengabaikan kuratif termasuk kebijakan Pemda
terkait penempatan dokter spesialis di puskesmas.

3. Daya saing dokter Indonesia perlu dijaga di era MEA (Masyarakat Ekonomi
ASEAN). Perlu untuk memperhatikan mutu dokter dan spesialis dikaitkan
dengan aktifnya MEA. Sangat dibutuhkan penyegaran kembali penanganan
masalah-masalah prioritas yang akan datang seperti TB, HIV, Hipertensi,
Malaria, Diabetes, dll

4. Administrasi di bidang kesehatan yang tidak sesuai, misalnya SIP dikeluarkan


oleh Dinas Perindustrian dan Perizinan Terpadu, SIP dikeluarkan dinas tanpa

277
LAMPIRAN -LAMPIRAN

Rekomendasi Organisasi Profesi, STR dokter di keluarkan oleh Pemprov


Pelayanan Perizinan Terpadu. Ini semua akibat beragamnya prosedur
administrasi perizinan di daerah. Perlu dikeluarkan surat edaran dari PB IDI
ke IDI Wilayah & cabang agar semua dapat tertib administrasi terkait
perizinan.

5. Belum layaknya insentif peserta didik profesi dokter dan spesialis. Perlu ada
kajian terkait implementasi Undang-Undang Praktek Kedokteran Pasal 31
tentang Remunerasi/Insentif yang layak.
6. Adanya tantangan di era otonomi daerah. Dalam rangka otonomi daerah,
pemimpin daerah diharapkan memiliki kemampuan teknis dan administrasi
yang layak.

Jaminan Kesehatan Nasional

1. Komisi F mengusulkan penghitungan ulang model Kapitasi dari BPJS di


FKTP. Metoda Kapitasi ini perlu diperbaiki oleh karena saat ini kapitasi belum
memperhitungkan faktor geografis dan biaya hidup yang layak.

2. Peninjauan ulang tarif INA CBG. Penyusunan tarif INA-CBG perlu lebih
transparan dan melibatkan lebih banyak stakeholder pelayanan, sehingga
lebih mencerminkan real cost yang berbeda antar wilayah, dan antar RS
pemerintah dengan swasta.

3. Terkesan saat ini kerja dokter dibatasi BPJS, dimana diagnosis "diarahkan"
ke Kode Diagnosis bukan Diagnosa Medis. Nilai-nilai indepedensi sesuai
kompetensi perlu disampaikan ke institusi terkait.

4. Pembagian jasmed JKN dirasa kurang adil, terutama untuk dokter yang
diperkerjakan di FKTP, maupun di RS. Sampai belum ada kebijakan seragam
mengenai jasa medis di Rumah Sakit. IDI perlu mendiskusikan prinsip
pembagian ini. Diharapkan ada pengawasan tentang proporsi pembagian
jasa medik. Perlu juga ditinjau kembali revisi permenkes 21 Tahun 2016.

278
LAMPIRAN -LAMPIRAN

5. Puskesmas dan RS Pemerintah yang belum menjadi BLUD mengalami


Kesulitan dalam menggunakan dana JKN. IDI perlu mendorong agar
puskesmas dan RS pemerintah menjadi BLUD.

6
279
280
LAMPIRAN 7

SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA RAPAT


KERJA NASIONAL XXI
IKATAN DOKTER INDONESIA
282
SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA
RAPAT KERJA NASIONAL XXI
IKATAN DOKTER INDONESIA

Panitia Pengarah

Penasehat

Ketua Umum PB IDI


Ketua MKEK
Ketua MKKI
Ketua MPPK
Ketua Purna PB IDI

Ketua : Dr. Daeng M Faqih,SH,MH


Wakil Ketua 1 (unsur PB IDI) : Dr. Moh. Adib Khumaidi,Sp.OT
Wakil Ketua 2 (unsur MPPK) : Prof. DR. Dr. A. Razak Thaha,MSc,Sp.GK
Wakil Ketua 3 (unsur MKKI) : Prof. Dr. Harmani Kalim,MPH,Sp.JP (K)
Wakil Ketua 4 (unsur MKEK) : Dr. Soetedjo,Sp.S (K)
Sekretaris : Dr. Mahesa Paranadip,MH
Wk. Sekretaris 1 : Dr. Prasetyo Widhi Buwono,Sp.PD-KHOM
Wk. Sekretaris 2 : Dr. Fika Ekayanti,M.Med.Ed
Anggota : Prof. Dr. Errol U Hutagalung,Sp.B,Sp.OT (K)
Prof. DR. Dr. M. Ahmad Djojosugito,Sp.B,SP.OT,MHA
Prof. DR. Dr. Hasbullah Thabrany,MPH,Dr.PH
Prof. Dr. Purnawan Junadi,MPH,Ph.D
Prof. DR. Dr. Sukman T Putra,Sp.A (K)
Prof. DR. Dr. Fachmi Idris,M.Kes
Dr. Merdias Almatsier,Sp.S (K)
Dr. Broto Wasisto,MPH
Dr. Pranawa,Sp.PD-KGH
Dr. Ario Djatmiko,Sp.B-K.Onk
DR. Dr. Wawang W Sukarya,Sp.OG (K),MARS,MH.Kes,MM
Dr. Muhammad Akbar,Sp.S,Ph.D
Dr. Ihsan Oetama, SpOG

283
SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA RAPAT KERJA NASIONAL XXI IKATAN DOKTER INDONESIA

Dr. Mohammad Baharuddin,Sp.OG


Dr. Hj. Noor Arida Sofiana,MBA
Dr. Frizar Irmansyah,Sp.OG (K)
DR. Dr. Dwiana Ocviyanti,Sp.OG (K)
Dr. Ulul Albab,Sp.OG
Dr. Robert Imam Sutedja
Dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib,MS,M.Kes,Sp.FK,Sp.Ak
Dr. HN. Nazar,Sp.B,MH
DR. Dr. Aida S.D. Hoemardani,Sp.KK (K),FINSDV,FAADV
Dr. Masfar Salim, MS, SpFK
DR. Dr. Ari Fachrial Syam,Sp.PD.KGEH
Dr. Dyah A Waluyo

Panitia Pelaksana Nasional

Ketua : Dr. Astronias B Awusi,Sp.PK,M.Kes


Sekretaris : Dr. Rosita Rivai
Anggota : Dr. Efrila,SH,MH
Dr. Asturi Putri,MARS
Dr. Seno Purnomo
Dr. Halik Malik,MKM
Dr. Tofan Tuarita

Panitia Pelaksana Daerah

Pelindung : Gubernur Provinsi Lampung


Penasehat : Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Direktur Utama RSUD Dr. H. Abdul Moeloek
Dr. Ruskandi M, Sp.A
Dr. Taufiqurrahman, Sp.OG
Dr. Muhammad Sudarman
Dr. Hernowo Anggoro Wasono, M.Kes
Penanggung jawab : Ketua IDI Wilayah Lampung
Ketua IDI Cabang Bandar Lampung

284
SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA RAPAT KERJA NASIONAL XXI IKATAN DOKTER INDONESIA

Ketua : Dr. Boy Zaghlul Zaini, M.Kes


Wakil Ketua I : Dr. Edwin Rusli, MKM
Wakil Ketua II : Dr. Fatah Satya Wibawa, Sp.THT-KL

Sekretaris Umum : Dr. Ria Sari


Sekretaris I : DR. Dr. Aila Karyus, M.Kes
Sekretaris II : Dr. Evi Kurniawaty, M.Sc
Bendahara Umum : Dr. Elvira Irianty
Bendahara I : Dr Marisa Anggraini, M.Pd.Ked.

Bidang-Bidang

1. Bidang Acara

Koordinator : Dr. Edwin Rusli, MKM


Wakil Koordinator : Dr. Djohan Luis, M.Kes
Seksi Acara : Dr. Chandra Pandiangan
Dr. Zenobia Devi
Dr. Rika Lisiswati, M.Med.Epid
Dr. Eka Sylvia, M.Kes
Dr. Josi Harnos
Dr. Elyzabeth Laura
Dr. Mutia Sari Wirman
Dr. Muhammad Fikri
Dr. Priska Hani
Dr. Susi Kania, M.Kes
Dr. Intan Kusuma Dewi
Dr. M. Ardi Syahputra
Dr Albert Suharyadi
Dr. Asih Fatwanita
Dr. Andi Seda

285
SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA RAPAT KERJA NASIONAL XXI IKATAN DOKTER INDONESIA

3. Bidang Persidangan / Informasi, Publikasi dan Dokumentasi

Koordinator : Dr. Hilda Fitri


Wk Koordinator : Dr. Eko Nyotohandoko, MM
Seksi Sidang Pleno : Dr. Arief Yulizar, MARS
Dr. Asih Hendrastuti, M.Kes
Dr. Firhat Esfandiari, Sp.PD
Dr. Risti Graharti
Dr. Muhammad Maulana

Seksi Komisi 1 : Dr. Wahyu Wibisana


Dr. Arif Effendi, Sp.KK
Dr. Azelia Nusadewiarti, MPH
Dr. Ronal Nababan, Sp.PD
Dr. George Pestalozi
Dr. Leni Kusumawati

Seksi komisi 2 : Dr. Juspeni Kartika, Sp.PD


Dr. Maya Metissa, Sp.PD
Dr. Anne Fitriana Jayanegara, MKK
Dr. Nengah Darmawan
Dr. Tara Lesianida Putri

Seksi Komisi 3 : Dr. Dwita Oktaria, M.Pd.Ked


Dr. Rogatianus Bagus Pratignyo, Sp.A, M.Kes
Dr. Agus Kelana
Dr. Satya Adi Nugraha
Dr. Komang Indra Setia

Seksi Komisi 4 : Dr. Ade Kurniawan, MH.Kes


Dr. Agung Budi Prasetyo, Sp.PD, M.Kes
Dr. Andreas, MM, Sp.P
Dr. Jose Rizal
Dr. Gina Soma Bintari

286
SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA RAPAT KERJA NASIONAL XXI IKATAN DOKTER INDONESIA

Seksi Komisi 5 : DR. Dr. Syafei Hamzah, Sp.KK


Dr. Surya Puspa Dewi, MARS
Dr. Imelda Meilina
Dr. Didiek Arif Setyadi, Sp.PD
Dr. Hj. Farida Aryani, M.Kes, MM
Dr. Arif Gunarto

Seksi Komisi 6 : Dr. Edi Winarso


Dr. Agus Nurhadi, MMR
Dr. Budi Arifianto
Dr. Anton Sujarwo
Dr. Erwan Yulianto
Dr. Dian Mayasari

Seksi Komisi 7 : Dr. Hj. Sri Haryati,M.Kes


Dr. May Madihah
Dr. Safitri
Dr. Ida Agustina Situmorang
Dr. Milada Aini Barakah
Dr. Melly Kemerdasari

Seksi Informasi & Publikasi & Dokumentasi


Dr. Tito Sunarto, SH
Dr. Isura Febrihartati
Dr. Dirhamsyah Rivai
Dr. Eka Prasetyawati
Dr. Hensen Tovic
Dr. Ferri Mulyadi, Sp.A
Dr. Fahmi Yogi
Dr. Ranti Apriliani Putri

287
SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA RAPAT KERJA NASIONAL XXI IKATAN DOKTER INDONESIA

4. Bidang Akomodasi & Transportasi-Keamanan-Kesehatan-Konsumsi

Koordinator : Dr. Aditya, M. Biomed


Wk. Koordinator : Dr. Gigih Setiawan

Seksi akomodasi & Transportasi


Dr. Arie Irwan
Dr. Fachry Rafiq Iwan M
Dr. Edy Ramdhani
Dr. Fikri Arif Hidayat
Dr. Ricky Ramadhan
Dr. Bobby Setiawan

Seksi Keamanan & Ketertiban :


Mayor CKM dr. Joko Sulistio P, Sp.An
Dr. Andri
Dr. Faisal, Sp.F
Dr. Sabasdin Harahap, Sp.B,FICS
Tim Keamanan Hotel

Seksi Kesehatan : Dr. Indra Sari Aulia, MH


Dr. Lusi Damayanti, MPH
Dr. Media Mardiana, MKM
Dr. Imelda Carolia
Dr. Risa Andriana

Seksi Konsumsi : Dr. Teti Herawati, MH


Dr. Tutik Ernawati, M.Gizi, Sp.OK
Dr. Pritha Prawieta
Dr. Endang Rosanti, M.Kes
Dr. Evi Mutia Afrieti
Dr. Nurfatonah

288
SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA RAPAT KERJA NASIONAL XXI IKATAN DOKTER INDONESIA

5. Bidang Pameran, Ilmiah, Dana & Kesekretariatan

Koordinator : Dr. Fatah Satya Wibawa, Sp.THT-KL


Wk. Koordinator : Dr. Retno Ariza, Sp.P, FCCP

Seksi Pameran : Dr. Khairunnisa, M.Kes, AIFO


Dr. Nila Sanrdawati Tanjung, M.Kes
Dr. Dian Isti Angraini, MPH
Dr. Ilham Asrori Azka
Dr. Edwin Haryadi Maas
Dr. Adityo Wibowo

Seksi Simposium & Ilmiah :


Dr. Novita Fitriati
Dr. Harry Topan, Sp.Rad
Dr. Dwi Indira Anggraini
Dr. Lilianty Fauzi, M.Kes
Dr. Theresia Niken, Sp.KK
Dr. Eva Daniel
Dr. Among Sari
Dr. Bambang Eko S, Sp.An, M.Sc

Seksi Dana : Dr. Antoni Miftah, Sp.KK


Dr. Hendra Tarigan Sibero, Sp.KK
Dr. Arief Yulizar, MARS
Dr. Syahrifil Syahar, Sp.B
Dr. Dika Oriputra, Sp.A
Dr. M. Yunus, Sp.BS
Dr. Mizar, Sp.B
Dr. Tehar Karo Karo, Sp.PD
Dr. Natalia Wahyudi, Sp.KK
Dr. Marzuki Sayuti, Sp.OG

Sekretariat : Radius
Mia

289
290
LAMPIRAN 8

PANITIA ADHOC PENYIAPAN MATERI


RAPAT KERJA NASIONAL
PANITIA ADHOC PENYIAPAN MATERI
RAPAT KERJA NASIONAL

Panitia Adhoc I – Komisi A : AD/ART & Tata laksana Organisasi

Ketua : Prof. DR. Dr. A. Razak Thaha,MSc,Sp.GK


Wakil Ketua : Dr. Pranawa,Sp.PD-KGH
Sekretaris : Dr. Mahesa Paranadipa,MH
Anggota :
1. Dr. Hadi Widjaja,MPH,MH.Kes
2. Dr. Sukwanto Gamalyono,MARS
3. Dr. M. Kurniawan,Sp.S
4. Dr. Slamet Budiarto,SH,MH
5. Dr. Fikri Suadu
6. Dr. Kamarudin Askar
7. Dr. Djoko Widyarto JS,DHM,MH.Kes
8. Dr. Eka Mulyana,Sp.OT,FICS,M.Kes,SH,MH.Kes
9. DR. Dr. Nataniel Tandirogang,Msi
10. Dr. Setyo Widi Nugroho,Sp.BS (K)
11. DR. Dr. Tjut Nurul Alam Jacoeb,Sp.KK (K)
12. DR. Dr. Ari Fachrial Syam,Sp.PD-KGEH
13. Dr. Hendrian,Sp.M
14. Dr. Soetedjo,Sp.S (K)
15. Dr. Soemardoko Tjokrowidagdo
16. Prof. Dr. med Dr. Frans Santosa,Sp.JP
17. Dr. Pukovisa Prawirohardjo,Sp.S

293
PANITIA ADHOC PENYIAPAN MATERI RAPAT KERJA NASIONAL

Panitia Adhoc II - Komisi B : Pendidikan Dokter & CPD

Ketua : Prof. Dr. Harmani Kalim,,MPH,Sp.JP (K)


Wakil Ketua : DR. Dr. Aida SD Suriadiredja,Sp.KK (K)
Sekretaris : Dr. Fika Ekayanti,Mmed Ed
Anggota :
1. Prof. Dr. Errol U Hutagalung,Sp.B,Sp.OT (K)
2. Prof. Dr. Kusmarinah Bramono,Sp.KK (K)
3. Prof. Dr. Sadikin
4. Prof. Dr. Irawan Yusuf,Ph.D
5. Prof. Dr. Menaldi Rasmin,Sp.P
6. DR. Dr. Wawang S Sukarya,Sp.OG,MARS,MH.Kes
7. Dr. Muhammad Akbar,Sp.S (K),Ph.D
8. DR. Dr. Tjahjono D Gondhowiardjo,Sp.M (K)
9. DR. Dr. Henry Salim Siregar,Sp.OG (K)
10. DR. Dr. Andi Alfian Zainudin,MKM
11. DR. Dr. Irfannudin,Sp.KO,MPd.Ked
12. Dr. Slamet Sudi Santoso,M.Pd.Ked
13. Dr. Yan Bani Luza,PW,MKM
14. Dr. Masfar Salim, MS,Sp.FK
15. DR. Dr. Kiki Lukman,M (Med)Sc,Sp.B.KBD,FCSI -
16. DR. Dr. Anwar Santosa,Sp,JP (K)
17. Dr. Bambang Tutuko,Sp.An (K)
18. Dr. Irsyad,Sp.OG (K)
19. Prof. Dr. Yunizaf,Sp.OG (K)
20. Prof. Dr. Muchlis Ramli,Sp.B (K)Onk
21. Prof. DR. Dr. Kusnadi Rusmil,Sp.A (K)
22. DR. Dr. Anna Rozaliani,Sp.P

294
PANITIA ADHOC PENYIAPAN MATERI RAPAT KERJA NASIONAL

Panitia Adhoc III – Komisi C : Pelayanan Profesi Kedokteran

Ketua : Prof. DR. Dr. Sukman T Putra,Sp.A (K)


Wakil Ketua : Dr. Hj. Noor Arida Sofiana,MBA
Sekretaris : Dr. Dyah A Waluyo
Anggota :
1. Prof. Dr. Hasbullah Thabrany,MPH,DR.PH
2. Prof. Dr. Abd. Kadir,Ph.D,Sp.THT-KL
3. Prof. Dr. Idrus Alwi,Sp.PD-KKV
4. Dr. Ario Djatmiko,Sp.B-Onk
5. Dr. Gatot Soetono,MPH
6. DR. Dr. Mahlil Ruby,M.Kes
7. Dr. Djoni Darmadjaja,Sp.B,MARS
8. Dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib,MS,M.Kes,Sp.FK,Sp.Ak
9. Dr. Prasetyo Widhi,Sp.PD-KHOM
10. DR. Dr. Ari Fachrial Syam,Sp.PD-KGEH
11. Dr. Chaerulsjah Sjahruddin,Sp.OG,MARS
12. DR. Dr. Fathema Djan,Sp.B,Sp.BTKV
13. Dr. Didik K Wijayanto,MPH
14. Dr. Leny Pintowari,Sp.KO
15. Prof. Dr. Zubairi Djoerban,Sp.PD-KHOM
16. Dr. Danardi Sosrosumihardjo,Sp.KJ
17. Dr. Soroy lardo,Sp.PD
18. Dr. Dyah A Waluyo
19. Dr. Mohammad Baharuddin,Sp.OG,MARS
20. Dr. Faisal Baraas,Sp.JP (K)
21. Dr. Yadi Permana,Sp.B (K).Onk
22. Dr. Nurfanida Librianty,Sp.P

295
PANITIA ADHOC PENYIAPAN MATERI RAPAT KERJA NASIONAL

Panitia Adhoc IV – Komisi D : Etika, Disiplin & Hukum

Ketua : Dr. M.Nasser,Sp.KK,LLM DLaw


Wakil Ketua : Dr. HN.Nazar,Sp.B,MH
Sekretaris : Dr. Efrila, SH,MH
Anggota ;
1. Dr. Warsito,MM
2. Dr. Broto Wasisto,MPH
3. Dr. Budi Suhendar,Sp.F,DFM
4. DR. Dr. Asep Sukohar,M.Kes
5. Dr. Derry Mulyadi,SH,MH.Kes,M.Kes,Sp.OT
6. Dr. Dewi Puspitorini,Sp.P,MARS
7. Prof. DR. Dr. Rianto Setiabudi,Sp.FK (K)
8. Prof. Dr. Syamsuhidayat,Sp.B (K)
9. Dr. Bachtiar Husin,Sp.P
10. Dr. Putri Dianita Ika Meilia,Sp.F,MCRM
11. Prof. DR.Dr. Herkutanto,SH,Sp.F (K)
12. Dr. Yuyun Grahnawati

Panitia Adhoc V – Komisi E : Kebijakan Organisasi (ekstern dan intern) dan


Pembahasan GBPP (Garis Besar Pokok Program/Renstra)

Ketua : Dr. Merdias Almatsier,Sp.S (K)


Wakil Ketua : Dr. Mukti Rahadian,MARS,MPH
Sekretaris : Dr. Mariya Mubarika
Anggota :
1. Prof. Dr. M. Ahmad Djojosugito,MHA
2. DR. Dr. Hardi Yusa,Sp.OG,MARS
3. Dr. Nusye E Zamsiar,MS,Sp.Ok
4. Dr. Khairani Sukatendel,Sp.OG (K)
5. Dr. Hendrarto,Sp.THT-KL
6. Dr. Moh. Shoifi,Sp.OT
7. Dr. Eka Sakti
8. Dr. Purnomo Boedi Setiawan,Sp.PD-KGEH

296
PANITIA ADHOC PENYIAPAN MATERI RAPAT KERJA NASIONAL

9. Dr. Zul Asdi,Sp.B,M.Kes


10. DR. Dr. Prambudi Rukmono,Sp.A (K)
11. Dr. Ihsan Oetama,Sp.OG
12. DR. Dr. Sutresna Uce Kusuma,Sp.M (K)
13. Dr. Nur Abadi, MM,MSi
14. DR. Dr. Julitasari Sundoro,MPH
15. Dr. R. Koesmedi Priharto,Sp.OT,M.Kes
16. Dr. Amroussy D Teruna Marsis,MKM,MARS

Panitia Adhoc VI – Komisi F : Rekomendasi Organisasi

Ketua : Prof. Purnawan Junadi,MPH,Ph.D


Wakil Ketua : DR. Dr. Alsen Arlan,Sp.B,KBD
Sekretaris : Dr. Ardiansyah Bahar
Anggota :

1. Dr. Robert Imam Sutedja


2. Dr. Agung P Sutiyoso,Sp.OT
3. Dr. Beni Satria,MH.Kes
4. Dr. Andi Khomeini Takdir Haruni,Sp.PD
5. Dr. Toni Natakarman
6. Dr. Yadi Permana,Sp.B (k) Onk
7. Dr. Jemfy Naswil
8. Dr. E. Sutarto,SKM
9. Prof. DR. Dr. Agus Purwadianto,Sp.F (K),SH,MSi
10. DR. Dr. Yul Budiningsih,Sp.F (K)
11. Dr. Eddy Junaedi,Sp.OG,SH,M.Kes
12. Prof.DR. Dr. Sudarto Ronoatmodjo,MSc
13. Dr. Halik Malik, MKM

297
Pengurus Besar
Ikatan Dokter Indonesia
2018

298