Anda di halaman 1dari 12

KATA-KATA ANAK GIZI

Ketika sakit, hal yang paling mendebarkan adalah saat kamu mengonsumsi obat yang berlebihan.
Namun bersama Ahli gizi, mereka tidak akan memaksa kamu untuk mengonsumsi obat (bahkan
bagi mereka kalau bisa jangan). Sebaliknya, mereka akan memilih makanan bergizi untuk mengobati
sakitmu itu.

Untuk nutrisi saja mereka peduli, apalagi sama kamu ya

Permasalahan dalam suatu hubungan memang merupakan sesuatu yang wajar. Tetapi pada
kenyataannya ada banyak pasangan yang tidak dapat menyelesaikan masalah dengan baik-baik,
malahan berujung putus hubungan. Kamu akan beruntung jika mendapatkan cewek ilmu gizi karena
dijamin mereka bisa tenang menghadapi masalah apapun

Jika ditanya apakah masuk gizi adalah cita-cita semenjak kecil, saya akan menjawabnya
TIDAK. Waktu kecil profesi yang paling sering didengar dan di ucapkan adalah guru, polisi,
pilot, dokter, penyanyi, artis dan profesi yang familiar lainnya. Menjadi ahli gizi tak
terpikirkan. Baru ngeeh pun saat SMA jika ada profesi yang satu ini.

Nah pada tulisan kali ini, saya akan membagi informasi spesifik. Tentang jurusan yang saya
sedang jalani, ilmu gizi. Kenapa sih? Karena akhir-akhir ini banyak saya temui pesan-pesan
yang masuk pada inbox yang isinya hampir sama , apa kalian pada nyontek yah . Begini :
“Ka, kuliah di gizi itu gimana sih?”, “Apa yang dipelajari?” “Kenapa banyak yang cantik-
cantik”.Barangkali ada yang tertarik juga untuk memilih jurusan ini menjadi pilihannya dan
saya akan mencoba mengupas apa saja yang akan kalian temui jika mengambil jurusan
seperti saya, ilmu gizi.

Bicara Gizi , Bicara Pangan dan Pokok Bahasan yang Tak Habis Dibahas

Apa yang terpikirkan ketika mendengar gizi? Makanan? Ya, benar sekali. Di jurusan ilmu
gizi, banyak hal-hal yang berkaitan dengan pangan yang akan di pelajari. Kita akan
dikenalkan dengan zat gizi makro (karbohidrat, protein dan lemak) dan mikro (mineral,
vitamin) dan bahan pangan apa saja yang mengandung zat tersebut.

Seperti kita tahu, manusia tidak akan bisa lepas dari produk pangan. Jadilah ilmu gizi ini
adalah sebuah ilmu yang akan selalu dibutuhkan bagi semua manusia dan jika kalian adalah
mahasiswa gizi, maka bersiaplah untuk memperbarui informasi tentang pangan dan gizi.
Karena ilmu ini memang tidak akan ada habis-habisnya untuk dibahas. Terlebih penyakit
yang bermunculan saat ini cenderung karena pola makan yang salah.

Mengetahui Apa yang Tubuh Butuhkan

Ilmu gizi tidak melulu soal pangan saja, lho. Di jurusan ini pun kalian akan diajarkan cara
mengetahui apa yang tubuh butuhkan. Kalian akan mengetahui berbagai rumus seperti berat
badan ideal, kebutuhan kalori harian, menghitung indek massa tubuh, kebutuhan ketika
mendapati keadaan tertentu seperti ketika sakit, terkena luka bakar , saat menyusui, saat
hamil dan kondisi lainnya. Rumus-rumus tersebut pastinya akan berguna buat kalian
memantau keadaan tubuh sendiri maupun orang lain. Seruuu!
Oya, selain itu di ilmu gizi kalian pun akan tahu tentang gizi daur kehidupan yang bisa di
terapkan sepanjang perjalanan kehidupan. Kalian akan mendapatkan ilmu terkait gizi dari
semenjak bayi sampai lansia. Ilmu ini tentunya akan berguna bagi kalian dan orang lain.
Lagi-lagi bicara gizi memang tidak ada batasnya. Saya dan teman-teman gizi di kuliah pun
sempat mendapatkan tugas untuk mewawancarai dan menganalisis gizi bayi, balita, anak
sekolah, dewasa sampai lansia. Tugas-tugas yang saya dapati di ilmu gizi memang cukup
menantang dan banyak terjun ke tengah masyarakat langsung.

Bukan Soal Makanan Saja, Tapi Hubungan dengan Kesehatan dan Lainnya

Memang jika di telaah dari kata “gizi” , pemikiran akan langsung memfokuskan pada pangan.
Namun di jurusan ilmu gizi tidak hanya sebatas itu saja. Di sini kalian akan mendapatkan
ilmu kedokteran seperti tentang patofisiologis berbagai penyakit dan istilah-istilah medis
yang harus diketahui. Selain itu ada juga mata kuliah manajemen, kewirusahaan, gizi
olahraga dan kerja, sampai psikologi.

Intinya, ilmu gizi tidak hanya membahas tentang zat gizi pada pangan saja. Namun banyak
hal-hal yang akan kalian dapat di jurusan ini. Apakah bermanfaat? Ya bermanfaat banget-
lah.hehe

Lulusannya Bisa Kerja Dimana?

S.Gz, lulusan strata satu ilmu gizi akan mendapatkan gelar tersebut. Memang rasanya masih
belum banyak terdengar yah. Tapi itulah yang kelak akan saya dapatkan ketika bertoga nanti.

Sepengetahuan saya, lulusan ilmu gizi bisa bekerja di rumah sakit sebagai konsultan gizi , di
puskesmas pun boleh, jadi pegawai BPOM, mau jadi pengajar (dosen), bisa juga di
perusahan-perusahan (manager quality control), selain itu kalau mau buka jasa catering pun
bisa. Membuka usaha makanan sehat menjadi salah satu prospek yang menjanjikan karena
hal yang berkaitan dengan makanan tidak ada matinya selama manusia ada. Apalagi
masyarakat kekinian yang makin cerdas pun akan lebih selektif dalam memilih makanan
yang mereka makan. Sebagai lulusan ilmu gizi yang sudah dibekali berbagai macam tentang
gizi dan manfaatnya tentu ini menjadi poin lebih tersendiri.

Pernah dengar Registered Dietitian (RD)? RD merupakan gelar profesi bagi lulusan gizi,
seperti gelar dr untuk dokter. Ringkasnya, ketika seseorang lulusan gizi telah berhasil
mendapatkan gelar RD akan diperbolehkan membuka praktik di lokasi yang ia inginkan.
Namun mendapatkan gelar ini masih menjadi bahan perbincangan di Indonesia dan masih
belum ada kepastiannya. Menurut laman ilmagiindonesia.org , Bapak Andri (Ketua Persagi
Jatim), di Indonesia ditargetkan memiliki tenaga gizi RD sebanyak 4000 orang, lhoh.

Menciptakan Calon Pendamping Idaman

Kok narsis sih kak?

Saat kalian memilih jurusan gizi, kalian pun sedang membentuk diri sebagai calon
pendamping idaman para mertua. Yap, di jurusan gizi akan ada praktik kuliner, yang artinya
saatnya kalian mengasah kemampuan memasak. Praktik kuliner di jurusan ini pun tidak cuma
masakan rumah sakit saja, tetapi makanan dari indonesia sampai eropa. Siapa sih yang gak
seneng punya mantu pinter masak? Tapi bukan hanya masaknya saja, melainkan kelak kalian
pun akan di tuntut untuk bisa mengimplementasikan apa yang didapat dikuliah dalam
kehidupan.
Kebutuhan pasien aja diperhatiin, apalagi kamu!

Banyak yang “Cantik-cantik”

Tidak bisa dipungkiri lagi, mahasiswa di jurusan ini memang cantik-cantik karena
kebanyakan memang perempuan. Tetapi untuk yang laki-laki, jangan minder dan malu masuk
jurusan ini. Justru merasalah beruntung karena dikelilingi yang cantik-cantik. Untuk itu, pas
bangetlah jika jurusan ilmu gizi melakukan studi banding ke fakultas teknik. haha

Untuk Ilmu gizi di Undip masuk di fakultas kedokteran, seperti halnya di UGM dan UB. Di
UI dan Unair masuk di FKM, sedangkan di IPB masuk ke Fakultas Ekologi Manusia. Selain
itu jurusan gizi ada juga di poltekes dan universitas lainnya (sila cari sendiri ya).

Jadi, mau masuk jurusan Gizi? Sila bergabung bersama kami, pejuang-pejuang ahli gizi masa
depan Indonesia. Gizi adalah kebutuhan mendasar manusia yang akan selalu dibutuhkan.
Eh, Masih penasaran apalagi? Baiklah, dua bulan dari september sampai oktober saya akan
praktik di Rumah Sakit . Saya akan membagikan apa yang saya dapatkan pada kalian,
terutama yang tiba-tiba jadi penasaran , “gizi itu ngapain aja sih kak kalau di rumah sakit? “

Salam cinta,

Mengapa Pilih Gizi ?

Mengapa Pilih Gizi ? Itu pertanyaan yang terlintas ketika penulis harus memilih spesifik
jurusan yang akan dilanjutkan untuk masa depan dan cita-citanya. Setelah berkonsultasi
kepada beberapa kerabat dekat, teman, dosen, dan melihat permasalahan yang ada sekarang,
serta peluang di masa depan, akhirnya penulis memilih untuk mengambil spesifik Ilmu Gizi.

Penulis yang kini berstatus sebagai mahasiswi angkatan 2009 di Gizi, Ilmu Kesehatan
Masyarakat Universitas Andalas, Padang - Sumatera Barat sangat tertarik dengan segala
bentuk ilmu gizi. Ketertarikan itu semakin bertambah ketika sudah menjadi mahasiswi gizi,
ternyata banyak sekali pelajaran yang sebelumnya terlihat simple sebenarnya sangatlah rumit
dan berdampak luas untuk kehidupan manusia, hingga peradaban bangsa.

Belajar di dalam kelas gizi yang hanya terdiri dari tujuh mahasiswi saja, membuat penulis
banyak mengetahui lebih lanjut tentang gizi dan kehidupan. Diantaranya penulis mempelajari
Gizi Daur Hidup, Tumbuh Kembang Anak, Penilaian Status Gizi, Diet Gizi Masyarakat, Gizi
Kesehatan & Penyakit, Promosi Gizi, Epidemiologi Gizi, Gizi Ibu Hamil & Ibu Menyusui,
dan masih banyak lagi.
Sedikit gambaran mengapa harus ilmu gizi ? Ilmu gizi dikenal di Indonesia pada tahun 1950-
an, sebagai terjemahan dari kata Inggris "Nutrition" yang diterjemahkan menjadi "nutrisi".
Sedangkan "ghidza" dalam bahasa Arab, yang berarti makanan. Definisi Ilmu Gizi yang
paling sederhana adalah ilmu yang menganalisis pengaruh pangan yang dikonsumsi terhadap
organisme hidup, atau hubungan antara manusia dan pangan yang dikonsumsinya, serta
pengaruhnya terhadap aspek kejiwaan (psikis) dan kehidupan sosialnya, yang meliputi juga
aspek fisiologis dan biokimiawi (Pengantar Ilmu Gizi, Prof.Dr.Ir. Deddy Muchtadi, MS).

Ilmu gizi juga sangat berpengaruh bagi kualitas suatu bangsa. Mengapa? Kemajuan suatu
bangsa diukur dari Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) berupa pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan
standar hidup. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara
maju, negara berkembang, atau negera terbelakang, dan juga untuk mengukur pengaruh dari
kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Gizi yang tercukupi pada ibu hamil akan
melahirkan anak yang cerdas dan menjadi generasi penerus yang berkualitas dan sehat.
Berdasarkan hasil penelitian, 90% otak janin itu disempurnakan dalam kehamilan, sisanya
disempurnakan pada usia 0-5tahun atau biasa dikenal dengan masa emas (Gold Age). Apabila
generasi penerus cerdas dan berkualitas, maka HDI akan meningkat dan status suatu negara
pun dapat menjadi negara maju.

Disamping itu, ilmu gizi juga mempelajari mengenai gizi kesehatan dan penyakit yang sangat
penting bagi kesehatan manusia. Ilmu gizi dapat digunakan dalam situasi promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif. Saat ini, permasalah kesehatan gizi ada dua atau dikenal dengan
permasalahan gizi ganda, yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Kedua permasalahan tersebut,
masing-masing dapat mengakibatkan permasalahan kesehatan yang serius bagi manusia. Gizi
kurang apabila tidak ditanggulangi dengan cepat dan baik, maka akan berdampak pada
kematian. Begitu pula dengan gizi lebih, yang pada saat ini terus meningkat mengakibatkan
timbulnya penyakit degeneratif, seperti Diabetes Melitus, Panyakit Jantung Koroner,
Hipertensi, Kolesterol, Cancer, dsb. Penyakit-penyakit tersebut dalam masa penyembuhan
dan pemulihannya membutuhkan diet gizi tertentu yang sesuai dengan jenis penyakit yang
dialami. Sama hal nya dengan penyakit non-degeneratif, seperti Diare, Malaria, DBD,
anemia, dsb yang juga membutuhkan perlakuan khusus dari segi gizi dan nutrisi dalam masa
penyembuhan dan pemulihannya.

Penulis ingin mendalami Ilmu gizi dan bercita-cita ingin menjadi Ahli Gizi yang dapat
mengaplikasikan ilmu yang sudah diperoleh baik dalam keluarga mau pun masyarakat untuk
membantu terbentuknya generasi penerus yang berkualitas. Itulah yang menjadi jawaban
Mengapa Pilih Gizi ?

Harapannya, semoga blog ini akan menjadi sarana pembelajaran penulis maupun pembaca
tentang ilmu gizi, sehingga masyarakat siap untuk membentuk generasi yang sehat, cerdas,
dan berkualitas.
Silakan tunggu postingan selanjutnya.

PENDIDIKAN GIZI (MOTIVASI PERUBAHAN PERILAKU)


November 13, 2014 SUCITRA Leave a comment
MOTIVASI PERUBAHAN PERILAKU
(sucitra/201332255)

Tujuan akhir dari proses pendidikan gizi dan kesehatan yaitu berupa perubahan perilaku sadar
gizi dan kaidah-kaidah kesehatan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan
kesehatan, baik melalui proses pengalaman maupun melalui proses pendidikan nonformal,
penekanannya adalah untuk merubah perilaku seseorang atau masyarakat kearah perubahan
yang mendorong tercapainya kaidah-kaidah atau norma hidup sehat. Perubahan meliputi
Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan. Sehingga kaidah-kaidah atau norma kesehatan yang
dianut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Secara Umum Pendidikan Gizi adalah Bagian dari pendidikan kesehatan. Pendidikan gizi
pada masyarakat dikenal sebagai usaha perbaikan gizi, atau suatu usaha untuk meningkatkan
status gizi masyarakat khususnya golongan rawan (Bumil, Busui, balita). Sebagaimana pada
pendidikan kesehatan tujuan akhirnya adalah perubahan perilaku, pada pendidikan gizi juga
diarahkan pada perubahan perilaku masyarakat ke arah yang baik sesuai dengan prinsip-
prinsip ilmu gizi yaitu perubahan pengetahuan gizi, sikap dan perilaku makan, serta
keterampilan dalam mengelola makanan.
Salah satu strategi pendekatan yang biasa digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan gizi
dan kesehatan adalah strategi pendekatan A (Advokasi), B (Bina Suasana). G (Gerakan atau
Penggerakan Masyarakat) yang selanjutnya disingkat dengan Strategi pendekatan ABG. Ada
tiga unsur untuk dapat menetapkan strategi ABG ini yaitu Segmentasi , Komunikasi
Informasi Edukasi, Menetapkan target sasaran utama dan Memposisikan pesan. Tiga unsur
yang sudah terbentuk ini kemudian di Advokasi (A) yaitu dapat dilakukan melalui lobi,
pendekatan dan lain-lain bentuk yang disertai dengan penyerbaluasan informasi, sasarannya
adalah adanya kepedulian dan tanggung jawab para pengambil keputusan dan penetapan
kebijakan. Sedangkan Bina Suasana (B) dapat dilakukan melalui forum komunikasi sebagai
wahana yang mendukung terlaksananya kegiatan KIE di berbagai sector terkait. Selanjutnya
Gerakan atau Penggerakan Masyarakat (G) dilakukan dalam bentuk pendidikan gizi guna
membentuk perilaku sadar gizi.
Individu mempunyai kondisi internal dimana kondisi internal tersebut sangat berperan dalam
aktivitas dirinya sehari-hari. Salah satu kondisi internal tersebut adalah motivasi. Motivasi
adalah dorongan dasar yang menggerakkan seorang bertingkah laku. Dorongan ini berada
pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan
dorongan dalam dirinya. Perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi tertentu
mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya. Motivasi juga dapat dikatakan
sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan dan mau melaksanakan. Motivasi lebih dekat
pada mau melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan. Motivasi merupakan kekuatan baik
dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang
telah ditetapkan sebelumnya.
Banyak cara seorang pendidik gizi dapat membangkitkan sesorang atau masyarakat untuk
melakukan perubahan perilaku terkait gizi, karena pendidik gizi dapat merancang program
untuk membantu individu berfikir dan bertindak. Keyakinan psikologis, sosial budaya
menjadi penting di sini. Masyarakat mempunyai keyakinan, nilai-nilai, perasaan, sikap, dan
persepsi sosial dan norma budaya yang mempengaruhi perilaku kesehatan mereka.
Pendidik gizi juga membantu klien untuk merenungkan keputusan mereka dan
mengembangkan niat yang kuat untuk perilaku atau tindakan yang ditargetkan.Langkah
penting pertama dalam membuat perubahan spesifik bagi individu untuk menyadari
kebutuhan untuk berubah dan untuk melihat apa yang akan mereka lakukan. Ketika sadar,
tertarik,dan termotivasi, orang lebih siap untuk memanfaatkan informasi dan keterampilan
yang mungkin membantu mereka untuk bertindakan. Beberapa keyakinan budaya
diinternalisasikan, norma, dan nilai dapat dianggap sebagai faktor penentu perilaku dan dapat
dimasukkan sebagai konstruksi dalam teori dan model diuraikan yang kemudian dapat
digunakan dalam penelitian pendidikan gizi dan kegiatan yang diarahkan pada perubahan
perilaku individu.
Beberapa teori dikembangkan karena peneliti sedang belajar, berhubungan dengan kesehatan
perilaku khusus, sedangkan yang lain sedang menyelidiki perilaku sosial lainnya (seperti
perilaku konsumen, termasuk memilih makanan) tidak selalu berhubungan dengan kesehatan.
Dengan demikian, model kesehatan keyakinan (Health Believe Model) dikembangkan secara
khusus untuk memahami dan memprediksi perilaku kesehatan.itu ancaman utama konstruksi
yang dirasakan, manfaat yang dirasakan, dan hambatan yang dirasakan telah terbukti menjadi
sangat penting dan secara luas digunakan dalam intervensi. Namun,model tidak membantu
pendidik gizimemahami pilihan makanan dan diet perilaku yang dilakukan untuk berbagai
alasan lain dari pada kesehatan. Untuk pemahaman tersebut, sosial, psikologis lainnya yang
terkait teori terbukti sangat membantu. Teori-teori psikologi sosial fokus pada keyakinan,
sikap, dan motivasi dan sangat berguna untuk merancang kegiatan pendidikan gizi untuk
meningkatkan minat dan membantu orang untuk memperoleh motivasi agar berpindah dari
non action ke niat untuk mengambil tindakan pada isu-isu terkait makanan-dan gizi.
Kajian teori dan hasil penelitian perilaku gizi menunjukkan bagaimana individu menjadi
sadar, tertarik, dan termotivasi. Dengan pengetahuan itu, pendidik gizi dapat merancang
program untuk membantu individu berfikir dan bertindak. Keyakinan psikologis, sosial
budaya menjadi penting di sini. Masyarakat mempunyai keyakinan, nilai-nilai, perasaan,
sikap, dan persepsi sosial dan norma budaya yang mempengaruhi perilaku kesehatan mereka.
Motivasi kognitif berasal dari sumber budaya, sosial, keluarga, atau pribadi.
Sebelumnyapengalaman hidup, tahap kehidupan, kepribadian, struktur keluarga, dan
sosiodemografidan faktor bersejarah ini juga mempengaruhi perilaku individu. Namun, ada
berbagai faktor yang mempengaruhi keyakinan, sikap, atau self-identitas yang dapat merubah
perilaku, dan ini menjadi bagian penting dalam menyusun rencana program pendidikan gizi.
Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengembangkan keinginan yang kuat dan stabil
lebih cenderung termotivasi untuk mengambil tindakan terhadap niat mereka. orang memiliki
niat untuk banyak berhubungan dengan kesehatan perilaku, tetapi keinginan tidak selalu
sangat kuat-seperti yang tampaknya menjadi kasus untuk orang-orang tertentu.Tapi, untuk
setiap tindakan yang diberikan, adalah keyakinan dan emosi yang dapat bersaing dengan
maksud atau keinginan untuk makan lebih sehat(kue lezat tapi penggemukan, berjalan sehat,
tetapi membutuhkan waktu dan usaha). Dengan demikian, hal ini tidak selalu mudah bagi
orang untuk mengembangkan yang kuat dan stabil motivasi atau niat.
Bertindak atas niat kesehatan yang lemah dapat menjadi lebih sulit dalam menghadapi
kekuatan lingkungan yang kuat untuk bertindak sebaliknya, dari televisi, iklan atau lokasi
tempat makanan sehat di tempat kerja terutama untuk mereka yang memiliki kebutuhan lain
dan selera berbeda. Dengan demikian, sebuah komponen motivasi dalam pendidikan gizi
penting bagi:
1. Mereka yang tidak menyadari pentingnya tindakan spesifik terkait makanan yang dapat
merek lakukan untuk melindungi kesehatan mereka;
2. Mereka yang sadar tetapi tidak berniat untuk mengambil tindakan;
3. Mereka yang memiliki niat yang lemah, pendidik gizi dapat merangsang untuk menguji
kembali niat mereka dan membantu untuk mengembangkan keinginan yang kuat;
4. Mereka yang mengambil tindakan, tetapi motivasi belum mereka dikelola untuk bertindak
atau berperilaku.
Dalam istilah sederhana, model kepercayaan kesehatan menyatakan bahwa masyarakat
keyakinan mempengaruhi kesehatan mereka yang berhubungan dengan tindakan atau
perilaku. Model adalah kerangka untuk pemahaman psikologis individu, kesiapan atau niat
untuk mengambil tindakan kesehatan yang diberikan. Itu adalah salah satu awal konseptual
model untuk mengatasi perilaku kesehatan khusus dan merupakan teori yang paling terkenal
di bidang kesehatan masyarakat. Sekarang digunakan secara luas di seluruh dunia. Model ini
mengusulkan bahwa orang kemungkinan bertindak terkait kesehatan yang didorong oleh
persepsi, pertimbangan dan keyakinan. Karena model kepercayaan kesehatan berkaitan
dengan keyakinan dan keprihatinanyang dapat diubah melalui sarana komunikasi atau
pendidikan,model ini telah digunakan sebagai kerangka untuk memandu berbagai
kesehatanperilaku dan penyelidikan pendidikan gizi
Keparahan: ‘Sadar akan keseriusan dan ber keyakinan tentang kemungkinan tertular penyakit
atau lainnya berhubungan dengan kondisi kesehatan kondisi. Ini mungkin termasuk evaluasi
pribadi konsekuensi medis (seperti nyeri, kecacatan, atau kematian) atau akibat sosial akibat
(dampak pada pekerjaan, kehidupan keluarga, dan sebagainya)
Kerentanan ‘Sadar tentang kerentanan yang dirasakan adalah keyakinan akan kemungkinan
tertular penyakit atau yang berhubungan dengan kesehatan kondisi.
Ancaman ‘Sadar akan risiko adalah kombinasi dari keseriusan kerentanan dan pribadi.
Persepsi bersama-sama menghasilkan keadaan psikologis terkait kesiapan untuk mengambil
tindakan.
Manfaat ‘Sadar akan manfaat apakah tindakan tertentu atau perilaku berguna atau efektif
dalam mengurangi risiko atau ancaman mendapatkan kondisi sehat. Perilaku makan buah-
buahan dan sayuran untuk mengurangi risiko kanker atau makanan yang aman penanganan
praktek untuk mengurangi penyakit akibat makanan.
Hambatan ‘Sadar ada faktor penghambat adalah persepsi kita tentang kesulitan melakukan
perilaku, yang dapat bersifat psikologis serta fisik. Ini mungkin termasuk persepsi dari biaya
dan ketidaknyamanan makan buah-buahan dan sayuran atau persepsi bahwa beberapa buah-
buahan dan sayuran mungkin tidak menyenangkan. Hambatan mungkin juga lingkungan,
seperti kurangnya ketersediaan dan aksesibilitas dari makanan sehat atau pilihan untuk
melakukan aktivitas fisik.
Manusia lebih cenderung untuk menimbang biaya dibanding manfaat melakukan tindakan.
Mengubah keyakinan melalui pendidikan gizi, misalnya dengan meningkatkan manfaat yang
dirasakan dan mengurangi hambatan yang dirasakan, harus meningkatkan kemungkinan dari
kami mengambil tindakan kesehatan yang diberikan.
Efektifitas: Model kepercayaan kesehatan pada awalnya dikembangkan untuk menjelaskan
perilaku kesehatan sederhana seperti vaksinasi, dan karenanya tidak termasuk pengaruh dari
orang lain di lingkungan atau peran keterampilan dirasakan atau kemampuan untuk
melakukanperilaku (disebut self-efficacy).
Dalam kasus menyusui, meskipun harapan budaya dan keluarga sangat penting, individu
masih berbeda pendapat tentang harapan-harapan yang ada dalam pikirannya. Semua
pertimbangan inisangat penting bagipendidik gizi dan mengakui bahwa internalisai individu
tentang keyakinan, norma, dan nilai-nilai budaya mereka, dan inilah interpretasi pribadi yang
kuat dalam kehidupan masyarakat. Beberapa keyakinan budaya di internalisasikan, norma,
dan nilai dapat dianggap sebagai faktor penentu perilaku dan dapat dimasukkan sebagai
konstruksi dalam teori dan model diuraikan yang kemudian dapat digunakan dalam penelitian
pendidikan gizi dan kegiatan yang diarahkan pada perubahan perilaku individu.
Pendidik gizi dapat menggunakan penilaian risiko dan penilaian diri untuk menjelaskan
informasi risiko pribadi. Seperti counter umpan balik pribadi masyarakat kecenderungan
untuk optimis bias dan mendorong mereka untuk membuat perubahan dalam perilaku makan
mereka berdasarkan risiko sejati mereka. Areview studi menemukan bahwa mengetahui
risiko pribadi memang dapat memacu perubahan gaya hidup(McClure 2002).
teori tidak menunjukkan bahwa sikap dan keyakinan yang mendasariperilaku dapat dibawa
ke kesadaran dan karenanya berubah. Dengan demikian penting bagi pendidik gizi untuk
memahami sifat sikapdan keyakinan, bagaimana mereka terbentuk, dan bagaimana mereka
mungkin berubah.Pertanyaan tentang sangat spesifikperilaku yang “Berapa kali Anda makan
buah sebagai bagian dari siang Anda ” (Conner & Norman 1995)? Seberapa seringAnda
makan sayuran setiap minggu?”Namun, banyak studi perilaku, mencerminkan pertimbangan
praktis, seperti “makan diet rendah lemak “atau” makan makanan yang sehat.
Penilaian tentang bagaimana diinginkan (misalnya, dari “tidak diinginkan” sampai “sangat
diinginkan”) hasil dari perilaku juga mempengaruhiapakah kita mengambil tindakan.
Motivasi merupakan keyakinan tentang harapan . Motivasi untuk memulai perilaku
tergantung pada keyakinan kita tentang hasil yang diharapkan dan penilaian pribadi mengenai
masa depandari perilaku. Peristiwa masa depan tidak bisa dijadikan penentu perilakudi masa
sekarang. Namun, mereka representasi dalam pikiran kita disaat ini dapat memiliki dampak
kausal yang kuat pada tindakan saat ini. Bahwa, kami ingin memaksimalkan hasil positif
seperti kesehatan, rasa, atau tidakmembuang-buang makanan dan meminimalkan dampak
negatif dari makanan atau terlibat dalamperilaku gizi, seperti biaya atau ketidaknyamanan.
Sikap terhadap perilaku dapat dianggap ringkasan proses pengambilan keputusan tentang
perilaku. Kami datang untuk menilai apakahkita cenderung kearah perilaki positif atau
negatif atau cenderung ke arah perilaku tertentu, sepertimakan di restoran cepat saji atau
menyusui, yang didasarkan pada keyakinan berlandaskan hasil dari perilaku dan penghargaan
terhadap nilai-nilai perilaku. Dengan demikian, keyakinan tentang hasil yang diharapkan dari
perilaku merupakan mediator utama dari keinginan. Dalam merancang intervensi pendidikan
gizi, pendidik gizikemudian dapat merancang kegiatan untuk mengatasi secara langsung
harapan masyarakat tertentutentang hasil dari perilaku, seperti rasa, biaya, atau kenyamanan.
Meskipun komponen kognitif dari sikap didasarkan keyakinan tentang hasil dari perilaku
adalah motivator utama dari keinginan perilaku, yang merupakan komponen afektif dan sikap
yang mencerminkan mencerminkan perasaan orang atau emosi tentang melakukan perilaku,
juga bagi sebagian orang komponen ini merupakan motivator perilaku gizi yang sangat kuat
(Salovey & Birnbaum1989). Emosi telah digambarkan sebagai keadaan terangsang
melibatkan pikiran sadar dan perubahan fisiologis.Hasil dari proses internal emosi adalah
perasaan terhadap makanan,perilaku, objek, atau situasi.
Perasaan dan emosi tentang keterlibatan sikap dalam perilaku juga berkontribusi cukup besar.
Misalnya, sikap kita terhadap kehilangan berat badan mungkin termotivasi tidak hanya oleh
keyakinan bahwa hal itu akan membuat kita sehat atau terlihat tubuh dalam keadaanbaik
(aspek kognitif dari sikap), tetapi juga bahwa hal itu akan membuat kita merasa baik tentang
diri kita sendiri karena kita mampu mengendalikan hidup kita. Membantu anak-anak
menikmati makan lebih banyak sayuran dapat membuat orang tua merasa baik tentang diri
mereka sendiri.
Motivasi untuk memenuhi: Keinginan kuat untuk mematuhipendapat orang-orang (“Berapa
banyak yang Anda ingin lakukan sesuai dengan yang pikiran teman usulkan”)?. Kekuatan ini
bisa berkisar dari “tidaksama sekali “untuk” sangat banyak. “Karena motivasi individu
mungkinterkait dengan persetujuan dari berbagai orang lain yang spesifik, berbagaiorang
(misalnya, teman sebaya, keluarga) yang disetujui adalah penting untukkhususnya perilaku
(misalnya, makan buah-buahan dan sayuran atau minumsoda) dan populasi tertentu
(misalnya, remaja) harus dikaji untuk merancang pendidikan gizi yang efektif. Sikap terhadap
perilaku dapat dianggap ringkasan proses pengambilan keputusan tentang perilaku. Dimana
keuntungan pendidikan gizi adalah setelah orang dapat membentuk sikap yang kuat dan stabil
ke arah praktek yang lebih sehat melalui pendidikan gizi.
Motivasi dan Inspirasi dalam Melakukan Pengabdian Gizi Dalam
Masyarakat

Motivasi Melakukan Pengabdian Gizi Dalam Masyarakat

Gizi merupakan salah satu hal yang sangat penting di dalam pemenuhan dalam tubuh. Masalah gizi
berkaitan yang erat bagi status kesehatan masyarakat dan indeks pembangunan manusia. Menurut
Badan Pusat Statistik (2017), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting
untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/
penduduk). Indonesia memiliki IPM pada tahun 2014 sebesar 68.31%, tahun 2015 sebesar 68.90%,
dan tahun 2016 sebesar 69.55 %. Peningkatan secara signikan disetiap ditahun disebabkan karena
adanya dukungan dari program-program pemerintah dari berbagai sektor maupun dari pihak-pihak
lainnya Sektor tersebut akan saling berkaitan atau saling berhubungan antar satu dengan yang
lainnya untuk mewujudkan kualitas sumberdaya manusia maupun alam yang unggul.

Pada awalnya, saya sebagai seorang anak yang memiliki wawasan tentang dunia kesehatan yang
terlalu minim, tetapi dengan rasa keingin tahu hal itu, saya pun berusaha. Seiring dengan hal itu,
ditunjangnya pula orang tua saya (ibu) sebagai ahli gizi di puskesmas, maka saya pun mulai
memahami dunia kesehatan terutama di gizi masyarakat secara bertahap.

Ketika pertama kali saya diajak oleh ibu saya melihat warga masyarakat yang memiliki kesehatan
yang buruk meliputi status gizi buruk, kurang, atau masalah gizi lainnya. Saya termotivasi dengan ibu
saya dengan kerja keras memberikan edukasi, intervensi bagi masyarakat terutama bayi balita yang
mengalami masalah gizi yang tidak pernah terselesaikan. Salah satu contoh kasus yaitu salah
seorang ibu yang memiliki anak yang telah diagnose gizi buruk, dan stunting maka dari itu ahli gizi
dari puskesmas setempat memberikan intervensi gizi buruk meliputi memberikan bantuan seperti
susu, pembuatan formula 100, maupun pemberian uang dengan tujuan dapat memberikan asupan
makanan bagi si anak dengan baik, tetapi hal ini si orang tua anak tersebut justru memanfaatkan
kondisi fisiologis anaknya. Dan hal ini yang membuat saya merasakan hal yang kecewa tetapi disisi
lain agar dapat tercukupi kebutuhan rumah tangga.

Dengan kejadian tersebut, ketika saya lulus SMA termotivasi untuk mendaftarkan diri sebgaai calon
penerima beasiswa utusan daerah dengan prodi Gizi Masyarakat dengan tujuan setelah saya
menjadi seorang sarjana Ahli Gizi. Saya ingin melihat daerah yang memiliki status kesehatan yang
baik dan gizi dengan melihat beberapa sisi yang mendukung hal tesebut seperti akses pangan,
keamanan pangan, dan keterjangkauan masyarakat dalam membeli bahan pangan.

Maka dihadapan bupati,saya dinyatakan LULUS dengan melewati beberapa tahap seleksi. Saat ini
saya berada di tingkat 2 semester 4, saya mengikuti beberapa rangkaian pengabdi masyarakat yaitu
Bina Cinta Lingkungan (BCL) di Desa Petir pada tahun 2015 dengan rangkaian kegiatan pembersihan
gorong-gorong desa, fasilitas desa, dan faslitas pendidikan desa.

Hal ini sangat bermanfaat dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan edukasi secara tidak
langsung kepada masyarakar desa sekitar. Selain itu saya mengikuti program pengabdian gizi
masyarakat yaitu Nutriaction yang dikoordinasikan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Gizi (HIMAGIZI)
IPB yang memberikan edukasi pola hidup sehat dan penyuluhan gizi dengan sasaran Ibu hamil, ibu
menyusui, anak usia sekolah dasar seperti pembuatan makanan pendamping asi ibu berbasis pangan
lokal, penyuluhan program perbaikan gizi masyaraka yang telah direncanakan oleh pemerintah agar
program tersebut dapat berjalan seiring dengan partisipasi masyarakat, edukasi pengenalan
konsumsi sayur, buah, gizi seimbang, dan cuci tangan yang benar bagi anak usia sekolah dasar
dengan adanya pembinaan dari sejak dini dapat menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan
unggul dimasa depan.

Dengan hal itu, maka sangat dibutuhkan relawan dalam membantu tenaga kesehatan dalam
mendukung program-program yang telah direncanakan oleh pemerintaha. Para relawan untuk turut
membantu mengubah pola pikir masyarakat, kebiasaan hidup masyarakat yang dilakukan secara
bertahap akan lebih dapat terealisasi. Selain itu Peningkatan IPM sangat dibutuhkan tenaga –tenaga
yang dapat mendongkrak IPM Indonesia menjadi lebih unggul khususnya dibidang gizi
masyarakat.Jangan menganggap dirimu hebat dan berhasil ketika dirimu belum bermanfaat bagi
masyarakat.

Demikianlah tulisan dengan judul Pengabdian Gizi Masyarakat yang ditulis Oleh Muh Guntur
Sunarjono Putra dari Institut Pertanian Bogor. Semoga bisa memberikan manfaat kepada setiap
pembaca website lomba. Trimakasih