Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS

“Strategi Pelayanan Kebidanan di Komunitas, SDG’s,


dan Pelayanan Kontrasepsi di Masyarakat“

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kesehatan Masyarakat


Oleh :
Fepy Sisiliay (16.14.02.011)

AKADEMI KEBIDANAN PAMENANG


JL. SOEKARNO HATTA NO. 15 BENDO-PARE-KEDIRI
TELEPON (0354) 393102-FAX (0354) 395480
TAHUN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat

menyelesaikan Makalah Kesehatan Masyarakat yang berjudul “Strategi

Pelayanan Kebidanan di Komunitas, SDG’s, dan Pelayanan Kontrasepsi di

Masyarakat”

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah

wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di

dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami

harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi

perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna

tanpa sarana yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang

membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami

sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila

terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami.

Pare, 3 Maret 2019

Penyusun

Akademi Kebidanan Pamenang Pare ii


DAFTAR ISI

JUDUL .................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Stretegi Pelayanan Kebidanan di Komunitas ................................................. 3
2.2 Program SDG’s .............................................................................................. 9
2.3 Pelayanan Kontrasepsi di Masyarakat ........................................................... 11

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan .................................................................................................... 19
3.2 Saran............................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA. ........................................................................................... 21

Akademi Kebidanan Pamenang Pare iii


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bidan komunitas adalah bidan yang bekerja melayani keluarga dan

masyarakat di wilayah tertentu. Kebidanan komunitas adalah bagian dari kebidanan

yang berupa serangkaian ilmu dan keterampilan untuk memberikan pelayanan

kebidanan pada ibu dan anak yang berada dalam masyarakat di wilayah tertentu.

Sasaran kebidanan komunitas adalah ibu dan anak balita yang berada di dalam

keluarga dan masyarakat. Bidan memandang pasiennya sebagai makhluk sosial

yang memiliki budaya tertentu dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi ,politik,

sosial, budaya dan lingkungan sekitarnya

Setiap petugas kesehatan yang bekerja dimasyarakat perlu memahami

masyarakat yang dilayaninya, baik keadaan budaya maupun tradisi setempat sangat

menentukan pendekatan yang di tempuh. Pendekatan yang akan digunakan oleh

bidan harus memperhatikan strategi pelayanan kebidanan dan tugas dan tanggung

jawab bidan agar masyarakat mau membuka hatinya untuk bekerja sama dengan

bidan sehingga tercipta pelayanan kesehatan yang bermutu di masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana strategi pelayanan kebidanan di komunitas?

2. Apakah yang dimaksud dengan program SDG’s?

3. Bagaimana pelayanan kontrasepsi di masyarakat?

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 1


1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui strategi pelayanan kebidanan di komunitas.

2. Untuk mengetahui program SDG’s.

3. Untuk mengetahui pelayanan kontrasepsi di masyarakat.

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 2


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Strategi Pelayanan Kebidanan di Komunitas.

1. Pendekatan edukatif dalam peran serta masyarakat

Pendekatan edukatif adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilaksanakan

secara sistematis, terencana, dan terarah dengan parsitipasi aktif dari indivisu,

kelompok, maupun masyarakat umum, untuk memecahkan faktor sosial,

ekonomi, dan budaya (Syafrudin dan Hamidah, 2009: 49-50). Pendekatan

edukatif secara khusus adalah satu bentuk atau model pelaksanaan organisasi

sosial masyarakat dalam memecahkan masalah yang dirasakan oleh mayarakat

dengan pokok penekanan pada hal-hal berikut.

a. Pemecahan masalah dan proses pemecahan masalah.

b. Pengembangan provider merupakan bagian dari proses pengembangan

masyarakat secara keseluruhan.

Tujuan pendekatan edukatif

a. Memecahakan masalah yang dihadapi masyarakat.

b. Mengembangkan kemampuan masyarakat untuk dapat memecahkan

masalahnya sendiri secara swadaya dan gotong royong.

Dasar pemikiran pendekatan edukatif menurut Lisnawati (2013: 42) yaitu :

a. Pelayanan kesehatan harus dikembangkan dan bertolak dan pola hidup

dibidang kesehatan.

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 3


b. Pelayanan kesehatan merupakan bagian integral dan system kesehatan

nasional dan pola pelayanan di masing-masing tingkat administrasi harus

serasi dan saling menunjang.

c. Pelayanan kesehatan terintegrasi dengan kegiatan sektor lain dan

merupakan pelayanan terpadu dan terkoordinir.

d. Masyarakat setempat harus dîlibatkan secara aktif dengan perencanaan,

pelaksanaan, dan evaluasi program sesuai dengan masalah dan kebutuhan

prioritas setempat, oleh karena itu perlu interaksi yang dinamis, timbal balik

dan berkesinambungan antara masyarakat dan prosedur.

e. Pelayanan yang diberikan harus mampu memacu, menggali dan

memanfaatkn potensi yang ada.

f. Pelayanan yang diberikan hendaklah dilaksanakan oleh petugas yang bisa

diterima oleh masyarakat dengan pengetahuan, sikap, dan keterarnpjlan

yang sudah disiapkan.

Provider adalah sektor yang bertanggung jawab secara teknis terhadap

program-program yang dikembangkan dalam pengembangan emampuan

masyarakat untuk dapat memevahkan masalahnya sendiri secara swadaya dan

gotong royong (Syafrudin dan Hamidah, 2009: 50).

Langkah-langkah pendekatan edukatif menurut Syafrudin dan Hamidah

(2009: 50) yaitu sebagai berikut :

a. Pendekatan pada tokoh masyarakat

1) Nonformal untuk penjagaan edukatif

2) Formal dengan surat resmi

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 4


3) Tatap muka antara provider dan tokoh masyarakat.

4) Kunjungan rumah untuk menjelaskan maksud dan tujuan pengumpulan

data.

5) Pertemuan provider dan tokoh masyarakat untuk menetapkan suatu

kebijakan alternatif pemecahan niasalah dalam rangka perencanaan,

pelaksanaan, dan evaluasi.

6) Menjalin hubungan sosial yang baik dengan menghadiri upacara agama,

perkawinan, kematian, dsb.

b. Pendekatan kepada provider. Diadakan pada waktu pertemuan tingkat

kecamatan, tingkat desa/kelurahan, tingkat dusun/lingkungan.

c. Pengumpulan data primer dan sekunder. Data umum, data teknis sesuai

dengan kepentingan masing-masing sektor, data perilaku sesuai dengan

masalah yang ada, data khusus hasil pengamatan, data orang lain.

Pengembangan masyarakat perlu dilakukan baik sumber daya alam/potensi

desa, dan sumber daya manusia/kader kesehatan agar mau tahu dan mampu

mengatasi masalahnya sendiri secara swadaya dan gotong royong dengan

menggunakan metode berikut (Syafrudin dan Hamidah, 2009: 50).

1) Pendekatan tingkat desa dilakukan dengan pertemuan tersendiri dengan

tokoh masyarakat; menumpang pada pertemuan lain seperti

Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) maupun pertemuan tingkat

dusun/lingkungan.

2) Pengumpulan data untuk mencari kebutuhan yang real dan kebutuhan

yang diinginkan masyarakat dalam rangka Survei Mawas Din (SMD).

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 5


3) Penyajian data pada waktu MMD yang berisi analisis situasi secara

singkat, analisis data, permasalahan, penyebab terjadinya masalah.

4) Komitmen bersama dan hasil kesepakatan MMD dalam suatu kebijakan

alternatif pemecahan untuk perencanaan kegiatan, perencanaan

pelaksanaan, perencanaan, dan evaluasi.

5) Tindak lanjut program dan pembinaannya dapat dilakukan dengan

pertemuan berkala, provider dan kader mengadakan studi banding ke

desa lain, provider mengadakan pembinaan ke desa agar mengubah

sikap diri. Pada peringatan han besar, sebaiknya diadakan lomba

penampilan antar-dusun atau desa.

(Syafrudin dan Hamidah, 2009: 51-52)

2. Pelayanan berorientasi kebutuhan masyarakat

Bekerja sebagai bidan di masyarakat berarti melayani masyarakat dengan

memberi pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan. Di samping itu,

masyarakat dapat diajak bekerja sama agar mampu berperilaku hidup sehat dan

menyebarkannya ke orang lain di lingkungan sekitar. Mereka juga dapat

membeni masukan tentang bagaimana bentuk pelayanan yang diharapkan.

Dengan demikian, keberhasilan bidan yang bekerja di masyarakat sangat

ditentukan oleh kemampuannya untuk mendengarkan dan memenuhi harapan

masyarakat serta melibatkan masyarakat dalam upaya memperbaiki tingkat

kesehatan masyarakat (Syafrudin dan Hamidah, 2009: 51).

Prinsip pelayanan kebidanan di komunitas menurut Syafrudin dan

Hamidah (2009: 53-54) yaitu sebagai berikut :

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 6


a. Pelayanan kebidanan adalah pelayanan yang didasarkan pada perhatian

terhadap kehamilan sebagai suatu bagian penting dan kesehatan, untuk bayi

baru lahir sebagai suatu proses yang normal dan proses yang dltunggu-

tunggu dalam kehidupan semua wanita.

b. Informed consent, sebelum melakukan tindakan apapun beri informasi

kepada klien dan minta persetujuan kiien untuk tindakan medis yang akan

dilakukan terhadap dirinya.

c. Informed choice, wanita yang mau melahirkan diberi pilihan dalam

mengambil keputusan tentang proses melahirkan.

d. Bina hubungan baik dengan ¡bu, yaitu dengan melakukan berbagai

pendekatan sisi kehidupan.

e. Beri asuhan yang berkelanjutan.

3. Pemanfaatan fasilitas dan potensi masyarakat

Fasilitas dan potensi yang ada di masyarakat, yaitu sumber daya alam atau

potensi desa, dan sumber daya manusia kader kesehatan. Bidan dalam memberi

pelayanan kepada ibu dan anak di komunitas perlu memperhatikan faktor

Iingkungan berikut.

a. Lingkungan sosial. Masyarakat yang berada di dalam komunitas memiliki

ikatan sosial dan budaya. Dukun penolong persalinan sangat dekat dengan

masyarakat, terutama di kalangan keluarga di desa karena mereka

menggunakan pendekatan sosial-budaya sewaktu memberi pelayanan.

Bidan dalam memberi pelayanan kepada ibu hamil dan bersalin diupayakan

tidak bertentangan dengan kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan, dan agama

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 7


di masyarakat. Oleh karena itu, peran masyarakat penting dalam upaya

peningkatan kesehatan ibu, anak balita, keluarga, serta keluarga berencana.

Peran serta masyarakat ini selalu digerakkan dan ditingkatkan melalui

kegiatan penyuluhan kesehatan (Syafrudin dan Hamidah, 2009: 53-54).

Kondisi tingkat pendidikan dan ekonomi menentukan tingkat partisipasinya

dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Semakin tinggi tingkat

pendidikan masyarakat, semakin meningkat perhatian tersebut,

menimbulkan peningkatan tuntutan masyarakat. Kebijakan yang ditetapkan

oleh pemerintah bersama masyarakat menentukan arah upaya kesehatan

masyarakat. Pelayanan kebidanan komunitas perlu mendapat dukungan

politik dan organisasi swasta atau pemerintah terutama mendukung adanya

undang-undang dan pelaksanaannya (Syafrudin dan Hamidah, 2009: 54).

b. Lingkungan flora fauna. Kebutuhan gizi manusia bergantung pada

keberadaan flora dan fauna. Masyarakat dianjurkan melakukan

penghijauan. Pemanfaatan pekarangan dengan tanaman bergizi dan

berkhasiat akan mendukung terwujudnya kesehatan keluarga. Peternakan

juga mendukung kondisi gizi manusia. Bidan yang bekerja di komunitas

memerhatikan pengaruh flora dan fauna ini. Pemanfaatan tumbuh-

tumbuhan dan hewan ternak disampaikan melalui penyuluhan kesehatan

merupakan bantuan bidan kepada masyarakat terutama pada kauin ibu.

Kerja sama dengan petugas gizi dan pertanian diperlukan di dalam

peningkatan gizi masyarakat (Syafrudin dan Hamidah, 2009: 54).

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 8


Memanfaatkan fasilitas dan potensi yang ada di masyarakat menurut

Lisnawati (2013: 44), yaitu :

a. Mengembangkan strategi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat

khususnya kesehatan ibu dan anak serta Keluarga Berencana (KB) termasuk

sumber-sumber yang ada pada progra dan sektor terkait.

b. Menggerakan, mengembangkan kemampuan masyarakat dalam

memelihara kesehatannya daengan memanfaatkan potensi-potensi yang

ada.

2.2 Program SDG’s

SDGs merupakan visi terhadap keadaan menyeluruh dunia pada tahun 2030

(ODI, 2015; Sachs, 2015; UN, 2015). Seperti yang dapat dilihat pada gambar 1,

SDGs berisikan 17 tujuan dengan total 169 indikator capaian. Kelahiran SDGs

tidak lepas dari kritik tajam, mengingat targettarget capaiannya yang lebih

kompleks dan banyak dari MDGs. Dengan hanya memiliki 8 sasaran saja, tidak

sedikit hal yang masih tersisa dari MDGs. Sehingga, tidak heran jika SDGs dinilai

sebagai visi global yang terlalu ambisius. Namun, perspektif lain beranggapan

bahwa justru, sisi ambisius ini lah yang dibutuhkan untuk dapat “memaksa” semua

pihak untuk turut menyelesaikan tantangan pembangunan dunia yang besar, seperti

ketimpangan dan kerusakan lingkungan (ODI 2015 dalam Alisjahbana et al, 2018).

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 9


Ada 16 indikator dalam SDG’s menurut Alisjahbana (2018), yaitu sebagai

berikut:

1. Indikator tanpa kemiskinan

2. Indikator tanpa kelaparan

3. Indikator kehidupan sehat dan sejahtera

4. Indikator Pendidikan berkualitas

5. Indikator kesetaraan gender

6. Indikator air bersih dan sanitasi layak

7. Indikator energi bersih dan terjangkau

8. Indikator pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi

9. Indikator industri, inovasi, dan insfrastruktur

10. Indikator berkurangnya kesenjangan

11. Indikator kota dan permukiman yang berkelanjutan

12. Indikator konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab

13. Indikator penanganan perubahan iklim

14. Indikator ekosistem laut

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 10


15. Indikator ekosistem daratan

16. Indikator perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh

2.3 Pelayanan Kontrasepsi di Masyarakat

1. Metode kontrasepsi

Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti “mencegah‟ atau “melawan‟

dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel

sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah

menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan

antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Ada dua pembagian

cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi

moderen (metode efektif). Macam-macam metode kontrasepsi sebagai berikut:

a. Cara kontrasepsi sederhana

Kontrasepsi sederhana terbagi lagi atas kontrasepsi tanpa alat dan

kontrasepsi dengan alat/obat. Kontrasepsi sederhana tanpa alat dapat

dilakukan dengan senggama terputus dan pantang berkala. Sedangkan

kontarsepsi dengan alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan

kondom, diafragma atau cup, cream, jelly, atau tablet berbusa (vaginal

tablet) (Pinem, 2017: 157).

b. Cara kontrasepsi modern/metode efektif

Cara kontrasepsi ini dibedakan atas kontrasepsi tidak permanen dan

kontrasepsi permanen. Kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan pil,

AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntikan, dan norplant.

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 11


Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan metode

mantap, yaitu dengan operasi tubektomi (sterilisasi pada wanita) vasektomi

(sterilisasi pada pria) (Pinem, 2017: 157).

c. Senggama terputus

Merupakan cara kontrasepsi yang paling tua. Senggama dilakukan

sebagaimana biasa, tetapi pada puncak senggama, alat kemaluan pria

dikeluarkan dari liang vagina dan sperma dikeluarkan di luar. Cara ini tidak

dianjurkan karena sering gagal, karena suami belum tentu tahu kapan

spermanya keluar (Pinem, 2017: 157).

d. Pil

1) Kontraindikasi pemakaian pil

Kontrasepsi pil tidak boleh diberikan pada wanita yang menderita

hepatitis, radang pembuluh darah, kanker payudara atau kanker

kandungan, hipertensi, gangguan jantung, varises, perdarahan abnormal

melalui vagina, kencing manis, pembesaran kelenjar gondok (struma),

penderita sesak napas, eksim, dan migraine (sakit kepala yang berat

pada sebelah kepala) (Pinem, 2017: 158).

2) Indikasi pemakaian pil

Pemakaian pil dapat menimbulkan efek samping berupa

perdarahan di luar haid, rasa mual, bercak hitam dipipi

(hiperpigmentasi), jerawat, penyakit jamur pada liang vagina

(candidiasis), nyeri kepala, dan penambahan berat badan (Pinem, 2017:

158).

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 12


e. AKDR

Macam-macam kontrasepsi AKDR yaitu sebagai berikut :

1) Copper-T

AKDR berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen di mana pada

bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat

tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang

cukup baik (Pinem, 2017: 158).

2) Copper-7

AKDR ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan

pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32

mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai

luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga

halus pada jenis Coper-T (Pinem, 2017: 158).

3) Multi Load

AKDR ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua

tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari

ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga

dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah

efektivitas. Ada 3 ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan

mini (Pinem, 2017: 158).

4) Lippes Loop

AKDR ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti

spiral atau huruf S bersambung. Untuk meudahkan kontrol, dipasang

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 13


benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda

menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm

(benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30

mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D.

Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan

lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang

menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan

plastik (Pinem, 2017: 158).

f. Norplant

Norplant sama artinya dengan implant. Norplant adalah satu-satunya

merek implant yang saat ini beredar di Indonesia. Oleh karena itu, sering

juga digunakan untuk menyebut implant. Di beberapa daerah, implant biasa

disebut dengan susuk (Pinem, 2017: 159).

g. Tubektomi

Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita

yang mengakibatkan wanita tersebut tidak akan mendapatkan keturunan

lagi. Sterilisasi bisa dilakukan juga pada pria, yaitu vasektomi. Dengan

demikian, jika salah satu pasangan telah mengalami sterilisasi, maka tidak

diperlukan lagi alat-alat kontrasepsi yang konvensional. Cara kontrasepsi

ini baik sekali, karena kemungkinan untuk menjadi hamil kecil sekali.

Faktor yang paling penting dalam pelaksanaan sterilisasi adalah

kesukarelaan dari akseptor (Pinem, 2017: 159).

2. Sistem Rujukan

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 14


a. Rujukan kasus

Fasilitas pelayanan yang merujuk fasilitas pelayanan kontrasepsi di

komunitas dapat merujuk kasus ke fasilitas pelayanan yang lebih mampu.

Setelah melakukan proses pemeriksaan dengan hasil sebagai berikut:

1) Berdasarkan pemeriksaan penunjang diagnostik kasus tersebut tidak

dapat diatasi.

2) Perlu pemeriksaan penunjang diagnostik yang lebih lengkap dengan

memerlukan kedatangan penderita yang bersangkutan.

3) Setelah dirawat dan diobati ternyata penderita masih memerlukan

perawatan dan pengobatanke fasilitas pelayanan yang lebih mampu.

Fasilitas pelayanan yang menerima rujukan :

1) Setelah melakukan perneriksaan penunjang diagnostik, dapat

mengirirnkan kembali penderita ke fasilitas pelayanan yang merujuk

untuk pembinaan lebih lanjut.

2) Setelah melakukan perawatan dan pengobatan, dapat mengirimkan

kembali penderita ke failitas pelayanan yang merujuk untuk pembinaan

lebìh lanjut.

(Meilani dkk, 2009: 74-75)

b. Rujukan kemampuan dan keterampilan

1) Fasilitas pelayanan yang merujuk

a) Melakukan konsultasi.

b) Mengirim tenaga-tenaga untuk meningkatkan kemampuan dan

keterampilan.

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 15


c) Mengusahakan adanya kunjungan tenaga dan fasilitas pelayanan.

2) Fasilitas pelayanan yang menerima rujukan

a) Memberikan informasi.

b) Memberikan latihan-latihan pada tenaga yang dikirimkan.

c) Memberikan kunjungan tenaga-tenaga yang diperlukan oleh

fasilitas pelayanan yang merujuk.

(Meilani dkk, 2009: 75)

c. Pencatatan dan pelaporan rujukan

1) Fasilitas pelayanan yang merujuk

a) Mencatat penderita yang dirujuk dalam register klinik.

b) Membuat surat pengiriman penderita

c) Melaporkan jumlah penderita yang dirujuk dalam laporan bulanan

klinik.

2) Fasilitas pelayanan yang menerima rujukan

a) Mernbuat tanda terima penderita.

b) Mencatat penderita dalam register.

c) Memberikan informasi kepada fasilitas pelayanan yang merujuk

jika penderita yang dirujuk tidak perlu perawatan, pengobatan atau

pembinaan lanjutan dan fasilitas pelayanan yang merujuk.

d) Membuat surat pengiriman kembali serta mernberikan informasi

jika penderita yang dirujuk perlu perawatan, pengobatan atau

pernbinaan lanjutan dan fasilitas pelayanan yang merujuk.

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 16


e) Membuat surat pengiriman kembali dan memberikan informasi

tentang perawatan dan pengobatan yang diberikan kepada penderita

yang dirujuk, jika penderita memerlukan pernbinaan lanjutan di

fasilitas pelayanan yang merujuk.

(Meilani dkk, 2009: 75-76)

d. Pengelolaan bantuan biaya penanggulangan komplikasi, kegagalan dan

biaya rujukan

Diberikan kepada peserta KB yang mengalami efek samping, kornplikasi

maupun kegagalan.

1) Efek samping dengan memberikan obat-obatan efek samping secara

gratis.

2) Kasus kegagalan IUD, implant dan kontap dengan persalinan normal

mendapat bantuan biaya yang disesuaikan dengan peraturan daerah

setempat dengan ketentuan tarif rumah sakit pemerintah kelas 3.

3) Komplikasi/kasus kegagalan IUD, implant, dan kontap, yang dimaksud,

misalnya:

a) Infeksi berat yang memerlukan perawatan.

b) Perdarahan berat yang memerlukan perawatan

c) Tirdakan pmeriksaan rontgen dan laboratorium untuk membantu

membuat diagnosis.

d) Komplikasi yang memerlukan tindakan operasi.

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 17


e) Besarnya biaya penanggulangan komplikasi disesuaikan dengan

peraturan daerah dengan ketentuan tarif RS pemerintah kelas 3

termasuk biaya obat-obatan yang terpakai.

4) Kasus komplikasi/kegagalan yang memerlukan rujukan.

Apabila peserta KB yang mengalami komplikasi/kegagalan harus

dirujuk dan fasilitas pelayanan yang lebih rendah ke fasilitas pelayanan

KB yang lebih tinggi, bantuan biaya transport penderita ditanggung

sesuai dengan peraturan yang ada. Semua kasus efek samping

komplikasi serta kegagalan tersebut di atas dapat dilayani disemua

fasilitas pelayanan tidak dibatasi pada domisili/tempat tinggal peserta

KB yang bersangkutan.

5) Peserta KB yang mengalami kegagalan/komplikasi dan mencari jasa

pelayanan/perawatan ke instansi atau fasilitas pelayanan swasta yang

tidak ditunjuk (seperti dokter swasta, RB/RS swasta) dianggap cukup

mampu untuk menanggulangnya dengan kemampuannya sendiri. Bagi

mereka yang dipandang tidak perlu diberikan bantuan biaya atau

rnaksimal hanya diberikan bantuan minimum, kecuali untuk kasus-

kasus gawat darurat seperti rnisalnya pemakaian IUD dengan kehamilan

ektopik terganggu dengan perdarahan dan pre syok.

(Meilani dkk, 2009: 76-77)

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 18


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Strategi pelayanan kebidanan di komunitas menggunakan pendekatan

edukatif dalam peran serta masyarakat. Pendekatan edukatif dalamperan serta

masyarakat adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis,

terencana, dan terarah dengan parsitipasi aktif dari indivisu, kelompok, maupun

masyarakat umum, untuk memecahkan faktor sosial, ekonomi, dan budaya

(Syafrudin dan Hamidah, 2009: 49-50).

SDGs merupakan visi terhadap keadaan menyeluruh dunia pada tahun 2030

(ODI, 2015; Sachs, 2015; UN, 2015). Kelahiran SDGs tidak lepas dari kritik tajam,

mengingat targettarget capaiannya yang lebih kompleks dan banyak dari MDGs.

Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti “mencegah‟ atau “melawan‟ dan

konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang

mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari atau

mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang

matang dengan sel sperma tersebut.

3.2 Saran

Bidan komunitas adalah bidan yang bekerja melayani keluarga dan masyarakat di

wilayah tertentu. Setiap petugas kesehatan yang bekerja dimasyarakat perlu

memahami masyarakat yang dilayaninya, baik keadaan budaya maupun tradisi

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 19


setempat sangat menentukan pendekatan yang di tempuh. Oleh karena itu, sebagai

bidan sudah seharusnya dapat melakukan pendekatan kepada masyarakat yang

merupakan tugas dan tanggung jawab di masyarakat.

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 20


DAFTAR PUSTAKA

Alisjahbana et al. 2018. Menyongsong SDGS : Kesiapan Daerah-Daerah di Indonesia.

Bandung: Unpad Press.

Lisnawati, Lilis. 2013. Buku Praktis: Kebidanan Komunitas. Jakarta: TIM.

Meilani, dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Fitramaya.

Pinem, Srilina. 2017. Modul Askeb Komunitas. Medan: Akademi Kebidanan Mitra

Husada Medan.

Syafrudin dan Hamidah. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC.

Akademi Kebidanan Pamenang Pare 21