Anda di halaman 1dari 3

Kondisi Geologi , Geomorfologi dan Stratigrafi

2.4.1. Kondisi Geologi dan Geomorfologi


Geologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bumi dan gejala-gejala yang
terdapat di atas muka bumi dan di dalam permukaan bumi serta menyelidiki tentang lapisan
batuan yang ada di dalam kerak bumi. Secara umum sifat-sifat kenampakan yang di cirikan
oleh batugamping menyerupai bentuk kerucut dengan ketinggian berkisar antara 65 – 500
meter, di atas permukaan air laut, kompak, keras, berfosil berwarna abu-abu dan putih,
ketebalan batugamping diperkirakan 135 meter. Sedangkan kenampakan topografi yang
tersusun oleh tanah liat (clay) relative mendatar di antara perbukitan batugamping yang
merupakan endapan alluvial, ketebalan kira-kira antara 3 - 7 meter. Endapan ini berwarna
kemerah-merahan dan sifat lunak, plastis dan lembab. Daerah ini di jadikan sebagai daerah
perkampungan bagi penduduk setempat untuk areal pertanian.
Kondisi morfologi di PT. Semen Tonasa II, III, IV ditunjukkan oleh keadaan morfologi yang
terdiri atas dua satuan morfologi, yaitu :
a. Satuan Morfologi Dataran Rendah
Satuan morfologi ini merupakan satuan dataran rendah yang relatif
bergelombang. Batuan pembentukan dataran ini berupa endapan sungai dan lempung.
Sungai yang mengalir adalah sungai Pangkajene dengan satu anak sungainya. Pada sisi
sungai terdapat tebing dengan ketinggian 2 sampai 4 meter dan pada sisi yang lain relatif
landai.
b. Satuan Morfologi Perbukitan Karst
Satuan Morfologi ini terdiri atas Batugamping dengan ciri-ciri morfologi karst
seperti gua, lubang, rekahan, sungai bawah tanah. Ketinggian satuan ini berkisar antara
65 – 500 meter dari permukaan laut. Umumnya batugamping daerah ini bersifat keras
dan kompak, sehingga satuan ini terdiri atas dinding perbukitan curam dan tegak.
2.4.2. Keadaan Stratigrafi

Berdasarkan ciri lithologi dibagi dalam 3 Formasi, yaitu : Formasi Mallawa, Formasi Tonasa
Dan Formasi Alluvium, dari hasil pemetaan geologi regional Lembar Pangkajene dan
Watampone Bagian Barat Sulawesi oleh Rab Sukamto (1982) ( Gambar 2.2 ).

1. Formasi Mallawa
Formasi Mallawa terdiri dari Batupasir dan Batulempung, mengandung sisipan Batubara dan
Batulempung serta Gamping Fosil Foraminifera dan Fosil Mollusca yang menunjukkan umur
Eosen, diendapkan dalam lingkungan transisi.
2. Formasi Tonasa
Formasi Tonasa tersusun dari Batugamping Terumbu dan Batugamping Klastik, sebagian besar
sudah mengalami perubahan (Batumarmeran), disebabkan karena proses metamorfisme tingkat
rendah sampai tingkat menengah sehingga berbentuk batupualam (marmer). Perubahan ini
disebabkan karena adanya pengaruh. Intrusi dari batuan beku trakit. Apabila diteliti secara
megaskopis batuan ini terdiri dari mineral karbonat berwarna kuning gading, putih serta abu-
abu terkekarkan dan intensif rendah, kristalin juga dapat dijumpai Fosil Foraminifera dan
Mollusca pada batuan gamping. Pada formasi ini juga terdapat batuan Terobosan Trakit,
berwarna abu-abu terang dan apabila lapuk berwarna abu-abu terkekarkan dan intensif rendah,
tersusun dari minral Ortoklas, Plagioklas, Biotit dan Hornblende. Batuan ini menerobos satuan
formasi tonasa dan malawa.
3. Endapan Alluvial
Endapan Alluvial tersusun dari mineral lepas berukuran lempung hingga bongkahan
menyebar. Di bagian Barat dengan ketebalan antara (0,5 – 10) meter.
Umur Formasi Deskripsi
Tanah penutup

Kwarter Alluvium Kaya humus

Ketidak selarasan
Miosen
Tengah
Batugamping terumbu dan
klastik

EosenAtas Telah mengalami ubahan


Tonasa
(marmeran)

Terobosan trakit (dyke dan sill)


Eosen Tengah Mallawa Batupasir
Batulempung

Sisipan Batubara
EosenBawah

Batugamping

Sumber :Rab. Sukamto, 1982


Gambar 2.2

Kolom Stratigrafi Daerah Pangkep