Anda di halaman 1dari 46

MODUL PRAKTIKUM

SISTEM PENGUKURAN DAN KALIBRASI


TAHUN AJARAN 2018/2019

Dosen Pengajar :
Dr. Ir. Totok Soehartanto, DEA NIP. 19650309 199002 1 001
Dr. Ir. Ali Musyafa, M.Sc. NIP. 19600901 198701 1 001
Hendra Cordova, ST. MT NIP. 19690530 199412 1 001
Dr. Katherin Indirawati, ST, MT NIP. 19760523 200012 2 001
Dr. Ir. Imam Abadi, MT NIP. 19761006 199903 1 002
Ir. Ya'umar, MT NIP. 19540406 198103 1 003

LABORATORIUM PENGUKURAN FISIS


DEPARTEMEN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2019
MODUL III
PENGUKURAN KARAKTERISTIK STATIK DARI pH METER DENGAN VARIASI
MOLARITAS NaOH

A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Menentukan nilai-nilai karakteristik statik pengukuran, yaitu: range, span,
sensitivitas, histerisis, dan non-linearitas.
2. Menganalisis pengaruh efek lingkungan terhadap karakteristik statik sistem
pengukuran.

B. DASAR TEORI
1. Karakteristik Statik
Karakteristik statik adalah sifat sebuah instrumen yang tidak bergantung pada waktu.
Beberapa karakteristik statik instrumen yang sering digunakan adalah :
● Range (span)
Range menyatakan jangkauan pengukuran sebuah instrumen. Sedangkan span adalah
selisih nilai maksimum dan minimum yang dapat diukur oleh alat. Contoh:
termometer memiliki range -0,5 sampai +40,5 oC, subdivision 0,1°C, artinya kisaran
pengukuran –0,5 sampai 40,5 °C, skala interval 0,1 °C.
● Linieritas
Pengukuran yang ideal adalah jika hubungan antara input pengukuran (nilai
sesungguhnya) dengan output pengukuran (nilai yang ditunjukkan alat ukur) adalah
berbanding lurus, dan dinyatakan dalam persamaan garis sebagai berikut:
Oideal = KI + a
OmaxOmin
dengan K adalah kemiringan garis = ImaxImin
a adalah pembuat nol (zero bias) = Omin - KImin
Jika sebuah instrumen memiliki hubungan input-output tidak berupa garis lurus,
penyimpangan dari garis lurus tersebut dikenal sebagai nonlinieritas. Seringkali
nonlinieritas dinyatakan dalam nonlinieritas maksimum dalam bentuk prosentase
skala penuh, yaitu:

ˆ
N
O
KI
amax
100
%
O O
maxmin
Sebuah alat ukur mempunyai nonlinieritas 1 % jika kurva hubungan input dan output
berkelok menyimpang 1%. Bentuk nonlinieritas dapat berupa parabola, berkelok,
lengkung dan sebagainya. Control valve linier pada 40 – 75 % bukaan, artinya
hubungan sinyal input dengan aliran (flow) yang melalui control valve linier pada 40 –
75 %.

Gambar 1. Linieritas dan Nonlinieritas


● Sensitivitas menunjukan seberapa jauh kepekaan sensor terhadap kuantitas yang
diukur. Sensitivitas sering juga dinyatakan dengan bilangan yang menunjukan
“perubahan keluaran dibandingkan unit perubahan masukan” yaitu O/I. Untuk
elemen linear dO/dI sama dengan slope atau gradien K dari garis linear. Sedangkan
untuk elemen non-linear dO/d I= K+ dO/dI. Dapat dilihat pada Gambar 2, beberapa
sensor panas dapat memiliki kepekaan yang dinyatakan dengan “satu volt per
derajat”, yang berarti perubahan satu derajat pada masukan akan menghasilkan
perubahan satu volt pada keluarannya. Sensor panas lainnya dapat saja memiliki
kepekaan “dua volt per derajat”, yang berarti memiliki kepakaan dua kali dari sensor
yang pertama. Linieritas sensor juga mempengaruhi sensitivitas dari sensor. Apabila
tanggapannya linier, maka sensitivitasnya juga akan sama (konstan) untuk jangkauan
pengukuran keseluruhan, yaitu sama dengan kemiringan garis.

Gambar 2. Sensitivitas Termocouple.


● Histerisis
Histeresis menunjukkan perbedaan nilai output pembacaan saat menggunakan nilai
input naik (dari rendah ke tinggi), dengan nilai output pembacaan saat menggunakan
nilai input turun (dari tinggi ke rendah). Histeresis biasanya dinyatakan dalam
histeresis maksimum dalam bentuk prosentase skala penuh, yaitu:

ˆOI
O
I
H 100
%
O
maxO
min

Contoh : Suatu termometer digunakan untuk mengukur 60°C, akan menunjukkan


angka yang berbeda jika sebelumnya digunakan untuk mengukur fluida 20°C dengan
jika sebelumnya digunakan untuk mengukur fluida 100°C.

Gambar 3. Histeresis
● Efek Lingkungan
Secara umum, output (O) tidak bergantung hanya pada sinyal input (I) tetapi
juga bergantung pada input dari lingkungan seperti suhu, tekanan atmosfer,
kelembaban, tegangan suplai, dan sebagainya. Ada dua tipe input dari lingkungan,
yaitu modifying input dan interfering input.
Modifying input IM menyebabkan sensitivitas linear sistem berubah. K adalah
sensitivitas pada kondisi standar ketika IM = 0. Jika input diubah dari nilai standar,
maka IM mengalami penyimpangan dari kondisi standar. Sensitivitas berubah dari K
menjadi K+ KM IM, dimana KM adalah perubahan kepekaan terhadap perubahan unit
IM. Gambar 4 (a) menunjukkan efek dari modifikasi suhu sekitar pada elemen linier.
Interfering input II menyebabkan zero bias berubah. a adalah zero bias pada
kondisi standar ketika II = 0. Jika input diubah dari nilai standar, maka II mengalami
penyimpangan dari kondisi standar. Zero bias berubah dari a menjadi a+ KIII ,
dimana KI adalah perubahan zero bias untuk unit perubahan di II. Gambar 4 (b)
menunjukkan efek dari gangguan suhu sekitar pada elemen linier.
Dengan demikian
Gambar 4. (a) Modifying dan (b) Interfering Input

2. pH
pH merupakan sebuah ukuran yang digunakan dalam menentukan apakah larutan
tersebut bersifat asam, basa, dan netral. Asam dan basa tersebut merupakan dua
golongan zat kimia yang sangat penting. Pada larutan yang bersifat asam memiliki
nilai pH lebih kecil dari 7, sedangkan basa memiliki nilai pH lebih besar dari 7
dan untuk sifat netral memiliki pH sama dengan 7. Penentuan pH bisa bermacam-
macam cara, diantaranya dengan menggunakan alat ukur pH meter, atau indikator
universal seperti kertas lakmus dan PP.
Sorasen merupakan seorang ahli kimia menyusun konsep model matematis
untuk menghitung konsentrasi berdasarkan pH dengan persamaan berikut :

pH   log[ H  ].......................................................................(1.1)
pH  14  log[ OH  ]..................................................................(1.2)
Dimana [H+] = Molaritas Ion H+
3. pH Meter
Besaran pH suatu larutan bisa diketahui melalui beberapa indikator universal yang
telah dijelaskan sebelumnya. Namun dengan adanya sensor pH atau lebih dikenal
dengan pH meter dapat mempermudah pembacaan nilai suatu larutan pH. Oleh
karena itu didalam pH meter biasanya menggunakan prinsip potensiometri dengan
pemanfaatan beda potensial antara elektroda sebagai bahan referensi dan elektroda
kerja seperti pada gambar

Gambar pH Meter secara lengkap


Sebuah pH meter secara umum memiliki satuan potensial (mV) yang
berbanding lurus dengan konsentrasi ion hidrogen dalam larutan. Pada elektroda
referensi berfungsi untuk mempertahankan potensial secara konstan terlepas dari
adanya perubahan pH atau aktivitas ionik lainnya dalam larutan. Sedangkan
jembatan garam pada sel referensi berguna untuk mempertahankan kontak listrik
antara 2 elektroda selama proses pengukuran dalam pH berlangsung. Sebenarnya
proses penentuan pH terjadi pada lapisan gelas elektroda yang sensitif terhadap
pH sebagai pembawa arus. Ion Hidrogen (H+) yang ada dalam larutan asam akan
menghasilkan potesial positif (+mV) relatif terhadap buffer yang ada didalam
elektroda tersebut.
4. Teori Larutan
Kemolaran (M) adalah jumlah mol zat terlarut dalam tiap litaer larutan, kemolaran
didefinisikan denga rumus sebagai berikut:
1000 gram
M x ..............................................................(1.3)
ml Mr

Dimana : ml = Volume larutan


Gram = gram zat terlarut
Mr = Mr Zat terlarut
pH larutan dapat dihitung menggunakan Molaritas dari Larutan tersebut , berikut
persamaannya:

Kw  [ H  ][OH  ] 10 14..................................................(1.4)


pH  14  pOH .................................................................(1.5)
Untuk Asam Kuat, seperti HCl, berikut persamaannya:

[ H  ]  a . Ma............................................................(1.6)
Dimana : a = jumlah H+ , dan Ma = Kemolaran Asam
Untuk Basa Kuat seperti NaOH, berikut persamaannya :

[OH  ]  b . Mb..............................................................(1.7)
Dimana : b = jumlah H+ , dan Mb = Kemolaran Asam
C. PERALATAN DAN KOMPONEN PERCOBAAN
1. Serbuk NaOH
2. Aquades
3. Ethanol
4. Timbangan Digital
5. Gelas Beker
6. Spatula
7. pH meter
D. LANGKAH PERCOBAAN
➢ Percobaan I
1. Bersihkan alat yang akan digunakan (gelas beker, spatula) dengan ethanol dan
siapkan bahan yang diperlukan.
2. Buatlah 100 ml larutan NaOH dengan variasi konsentrasi 0,01 M; 0,02 M; 0,04
M; 0,06 M; 0,08 M; 0,1 M; 0,2 M; 0,4 M; 0,6 M; 0,8 M; dan 1 M.
3. Lakukan kalibrasi pH meter pada point pH = 10.
4. Lakukan pengukuran pH larutan dari konsentrasi 0,01 M sampai 1 M.
5. Lihat dan catat pembacaan pada pH meter
6. Ulangi langkah (4) s.d (5) dengan pergeseran turun (dari 1M sampai 0,01 M)
7. Isi Tabel 3.1 dengan data yang telah diperoleh,
Tabel 3.1. Data hasil percobaan

Pergeseran Naik Pergeseran turun


No. [NaOH] pH Larutan No. [NaOH] pH Larutan
1. 1.
2. 2.
3. 3.
… …
11. 11.

➢ Percobaan II
1. Lakukan langkah-langkah percobaan I dari (a) s.d (e), dengan mengganti volume
larutan menjadi 50 ml.
2. Isi Tabel 3.2 dengan data yang telah diperoleh dari percobaan II.
Tabel 3.2. Data hasil percobaan efek lingkungan
No [NaOH] pH Larutan
.
1.
2.
3.

11.

E. ANALISIS PERCOBAAN
1. Lakukan perhitungan dan jelaskan mengenai karakteristik statik sistem
pengukuran pH (range input dan output, span, linieritas, nonlinieritas dan
histeresis) dari data percobaan yang telah diperoleh (Percobaan 1).
2. Jelaskan pengaruh lingkungan (berupa perubahan volume larutan) terhadap
karakteristik statik sistem pengukuran, dengan menghitung nilai KM dan KI
(Percobaan 2).
3. Buat Laporan Resmi Praktikum
MODUL IV
PENGUKURAN KARAKTERISTIK DINAMIK TERMOMETER

A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Memahami karakteristik dinamik dari suatu alat ukur.
2. Menentukan hubungan input dan output sebagai fungsi waktu.

B. DASAR TEORI
Karakteristik dinamik dari sebuah alat ukur menggambarkan perilakunya
antara waktu yang terukur dengan perubahan nilai dan waktu ketika instrumen output
mencapai nilai stabil. Seperti dengan karakteristik statis, nilai-nilai untuk karakteristik
dinamis dikutip dalam lembaran instrumen data hanya berlaku pada saat instrumen
yang digunakan dalam kondisi lingkungan tertentu. Dalam setiap sistem, pengukuran
linier invarian waktu, persamaan umum yang dapat ditulis antara input dan output
untuk waktu t> 0:

dimana qi adalah jumlah yang diukur, q0 adalah output dan a0, a1, an, an-1,b0, bm
adalah konstanta. Jika kita membatasi pertimbangan bahwa perubahan dalam
kuantitas saja yang diukur , maka persamaan (2.1) tereduksi menjadi:

penyederhanaan lebih lanjut dapat dilakukan dengan mengambil kasus-kasus khusus


tertentu dari persamaan (2.2), yang secara kolektif berlaku untuk hampir semua sistem
pengukuran.
Instrumen Orde Nol
Jika semua koefisien kecuali a0 dan b0 dalam persamaan (2.2) diasumsikan nol, maka:

Di mana K adalah sebuah konstanta yang dikenal sebagai sensitivitas instrumen


sebagaimana didefinisikan sebelumnya. Setiap instrumen yang berperilaku sesuai
dengan persamaan (2.3) dikatakan jenis dari orde nol. Setelah perubahan langkah
dalam kuantitas diukur pada waktu t, output segera bergerak ke nilai baru pada saat
yang sama dengan t. Sebagai contoh, sebuah potensiometer yang mengendalikan
gerak, di mana perubahan tegangan output bergantung pada slider tersebut
dipindahkan sepanjang jalur potensiometer.

Instrumen Orde Satu


Jika semua koefisien kecuali a1 a0 dan b0 dan diasumsikan nol dalam persamaan (2.2)
maka:
Setiap instrumen yang berperilaku sesuai dengan persamaan (2.4) dikenal sebagai
instrumen orde pertama. Jika d / dt digantikan oleh operator D dalam persamaan
(2.4), kita mendapatkan:

Gambar 2.1 Respon output orde 0


Mendefinisikan KD b0/a0 sebagai sensitivitas statis dan D a1/a0 sebagai waktu
konstan sistem, maka didapat fungsi transfer berikut:

……………………………………………………………………………………………2.6

Jika persamaan (2.6) diselesaikan secara analitik, kuantitas output q0 dalam


menanggapi setiap perubahan q1 pada waktu t bervariasi dengan waktu dengan cara
yang ditunjukkan pada gambar 2.1.
Berdasarkan gambar 2.2, konstanta waktu adalah waktu yang dibutuhkan ketika
respon dinamik output bernilai 63% dari perubahan output saat kondisi mantap.

Gambar 2.2 Respon output orde 1


Instrumen Orde Dua
Jika semua koefisien kecuali a0, a1 dan a2 dan b0 dalam persamaan (2.2) diasumsikan
nol, maka kita mendapatkan:

Dengan menggunakan operator D, maka akan didapatkan :

Hal ini mudah untuk kembali mengungkapkan variabel a0, a1, a2 dan B0 dalam
persamaan (2.8) dalam hal tiga parameter K (sensitivitas statis), ‰ (undamped
frekuensi natural) dan (redaman rasio), di mana:

Ini adalah persamaan standar untuk sistem orde dua dan instrumen yang responnya
dapat dijelaskan dengan persamaan tersebut dikenal sebagai instrumen orde 2. Jika
persamaan (2,9) diselesaikan secara analitis, bentuk dari respon yang diperoleh
tergantung pada nilai rasio redaman. Respon output dari alat orde dua untuk berbagai
nilai dan perubahan nilai dari jumlah yang diukur pada waktu t diperlihatkan pada
Gambar 2.3.
Untuk kasus (A) di mana D=0, tidak ada redaman dan output instrumen amplitudo
berosilasi konstan jika terganggu oleh perubahan dalam besaran fisis yang diukur.
Untuk D=0,2, diwakili dengan kasus (B), respon terhadap perubahan input masih
berosilasi namun osilasi berangsur-angsur mereda.
Untuk kurva (C) dan (D) overshoot masih lebih, dan akhirnya respon menjadi sangat
overdamped seperti yang ditunjukkan oleh kurva (E) di mana output perlahan-lahan
menuju bacaan yang benar. Jelas, kurva respons ekstrem (A) dan (E) adalah sangat
tidak cocok untuk setiap alat ukur. Jika instrumen itu mengalami perubahan input
maka strategi desain akan menuju ke arah rasio redaman 0,707, yang memberikan
respon kritis teredam (C).

Gambar 2.3 Respon output orde 2


C. PERALATAN DAN KOMPONEN PERCOBAAN
1. Termometer raksa
2. Termometer Digital
3. Heater/pemanas air
4. Air
5. Stopwatch

D. LANGKAH PERCOBAAN
1. Ukurlah suhu ruang saat percobaan
2. Panaskan air dalam wadah dengan heater hingga mencapai suhu yang ditentukan
yaitu T 0C (sesuai ketentuan asisten).
3. Lakukan pembagian tugas pada setiap anggota kelompok praktikum sebagai
berikut:
● Pengamat temperatur
● Pemegang stopwatch
● Pencatat data
● Pengendali temperatur dengan heater
Lakukan simulasi dengan dibantu oleh asisten.
4. Gunakan termometer digital untuk menjaga temperatur air tetap pada T0C dengan
menggunakan heater secara manual
5. Pada saat temperatur air telah mencapai T0C, celupkan segera termometer raksa
ke dalam wadah air dan catat penunjukan temperatur pada termometer raksa
setiap 20 detik hingga penunjukan mantap di nilai T0C
6. Setelah kondisi mantap tercapai, cabut termometer raksa segera dan catat
penunjukan temperatur pada termometer raksa setiap 20 detik hingga penunjukan
mantap di nilai suhu ruang
7. Isi tabel percobaan seperti yang tercantum pada tabel 1.
8. Perhitungan eror dinamik pada saat termometer raksa berada di air adalah :
9. error = T – T terukur
10. Perhitungan eror dinamik pada saat termometer raksa berada di udara adalah :
11. error = T ruang – T terukur
12. Buat grafik berdasarkan data tersebut.

Tabel Data Pengukuran Suhu


Time
No Temperatur (0C) Eror dinamik
(detik)
1 0 Suhu ruang 0
2 20
3 40
4 60
5 …….. (jika sudah steady, cabut
termometer dan ukur
suhunya di udara)
6
7
8
9 Dst. Sampai kembali pada
suhu ruang

E. ANALISIS PERCOBAAN
1. Buatlah analisis tentang karakteristik dinamis instrumen berdasarkan data yang
anda peroleh.
2. Tentukan konstanta waktu dari sensor termometer raksa berdasarkan data yang
anda peroleh.
3. Simpulkan percobaan ini.
4. Buat laporan resmi percobaan.
KALIBRASI

A. LATAR BELAKANG

Dalam perkembangan dunia industri yang semakin maju seperti sekarang ini,
persaingan usaha dan pasar merupakan perhatian utama apabila kita ingin tetap bertahan.
Salah satu jalan yang harus ditempuh ialah dengan cara menjaga dan meningkatkan
mutu (quality) dari produk atau jasa yang kita tawarkan. Industri yang tetap eksis adalah
industri yang memiliki kemampuan menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul,
menjaga kualitas produk dan selalu mengupayakan inovasi teknologi baru. Agar industri
dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul di industri perlu ketersediaan
peralatan pendukung (instrumen) yang sekaligus ditunjang oleh SDM yang mampu
mengoperasikan instrumen dengan baik dan tepat. Sehingga penggunaan instrumen dan
peralatan lainnya dapat berfungsi secara efektif dan efisien.
Jurusan Teknik Fisika FTI – ITS , sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi
terkemuka ingin menjawab tantangan masa depan terkait dengan teknologi instrumentasi
di industri, yakni dengan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi teknis
dalam penguasaan berbagai macam instrumentasi yang ada di industri, baik dalam hal
operasional, pemeliharaan dan perbaikan. terkait dengan pemeliharaan, salah satu faktor
penting yang harus dipahami adalah tentang keandalan sebuah instrumen, yang mana
kehandalan ini sangat erat hubungannya dengan tingkat akurasi atau ketelitian instrumen
tersebut. salah satu teknik yang digunakan untuk mengetahui dan memperbaiki akurasi
dari sebuah instrumen adalah dengan melakukan kalibrasi secara teratur. Kalibrasi yang
benar dan memenuhi standar sangat diperlukan untuk bisa menjamin bahwa sebuah
peralatan layak untuk dipakai. Oleh karena itu, pengetahuan akan kalibrasi ini sangat
dibutuhkan terutama untuk menunjang keahlian para mahasiswa dalam proses
pemeliharaan sebuah peralatan/instrumen.

B. TUJUAN
Tujuan dari praktikum sistem pengukuran dan kalibrasi ini adalah agar para
mahasiswa menguasai prosedur dan metode pengukuran serta kalibrasi yang sesuai
dengan standar nasional (SNI 19-17025 ).
C. KOMPETENSI
Setelah mengikuti praktikum ini, diharapkan mahasiswa:
● Mengetahui prosedur pengukuran dan kalibrasi yang benar
● Mampu melakukan kalibrasi internal
● Membuat membuat sertifikat kalibrasi

D. MATERI PRAKTIKUM
TEORI KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN DAN KALIBRASI

STUDI KASUS

Seorang perawat Sebuah RS sedang mengukur suhu badan salah seorang pasiennya
dengan menggunakan sebuah termometer gelas yang cukup teliti dan hasilnya 39,4 oC. Ia
tidak segera mencatatnya pada buku laporan kerja karena merasa sedikit ragu dengan
hasil pengukurannya, sebab suhu tersebut relatif tinggi bagi pasien tersebut. Ia
memutuskan untuk melakukan pengukuran lagi dan hasilnya malah menunjukkan nilai
berbeda, yaitu 39,6 oC. Karena bingung dan penasaran, ia melakukan sekali lagi
pengukuran dengan maksud memastikan apakah hasil pengukuran yang pertama atau
kedua yang akan diambil. Ternyata pengukuran ke-3 menunjukkan 39,5 oC. Akhirnya ia
memutuskan untuk mencoba dan mencoba lagi pengukurannya hingga 10 kali dengan
harapan akan mendapatkan hasil terbanyak pada nilai tertentu dan nilai itulah yang akan
diambil. Karena dia yakin bahwa nilai yang didapat tidak akan jauh dari sekitar nilai 39
o
C, dan nilai terbanyak yang keluar tersebut bagi dia cukup beralasan untuk diambil
karena sudah mewakili dari serangkaian proses pengukurannya.Ia tetap yakin seyakin-
yakinnya bahwa ia tidak bisa memastikan di antara ke 10 hasil pengukuran tersebut mana
yang menunjukkan nilai sebenarnya. Dia hanya mendapatkan nilai terbaiknya saja.
Hasil pengukuran dia selengkapnya adalah sbb:

39,4 oC
39,6 oC
39,5 oC
39,4 oC
39, 4 oC
39,5 oC
39,4 oC
39,4 oC
39,5 oC
39,4 oC
Rata –rata : 39,45 oC

DEFINISI DAN GAMBARAN UMUM


Dari gambaran kasus di atas jelas terlihat bahwa untuk mendapatkan atau
menentukan nilai sebenarnya dari suatu hasil pengukuran adalah tidak mungkin, yang
memungkinkan dari hasil pengukuran dan yang dapat kita laporkan adalah nilai
terbaiknya saja yaitu yang diwakili oleh nilai rata-ratanya.
Jadi pada kasus di atas pasien yang bersangkutan mempunyai suhu badan 39,45 oC,
hasil tersebut sudah sangat mewakili dan sudah mendapatkan hasil yang terbaik untuk
menyatakan suhu sang pasien tersebut. Walaupun suhu sebenarnya dari sang pasien
tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti, yang jelas ada di sekitar nilai 39,45 oC dan di
sekitar kurang / lebih berapa? Itulah yang disebut dengan ketidakpastian. Misalnya kurang
lebih + X oC, maka nilai sebenarnya dari suhu pasien tersebut akan berada (jatuh) pada
daerah nilai suhu (39,45 – X) oC hingga (39,45 + X ) oC. Jika datanya tunggal, hanya
data tersebut di atas, maka nilai ketidakpastiannya dapat diwakili nilai standar deviasinya.
Jadi, pada data di atas ketidakpastiannya adalah: + 0.07071 oC
Diyakini bahwa nilai sebenarnya suhu pasien tersebut berada pada daerah 39,379 oC
hingga 39,521 oC (39,45 + 0.07071 ) oC.
Selanjutnya, seberapa yakin kita terhadap hasil di atas, yaitu bahwa nilai sebenarnya
betul–betul akan berada pada rentang daerah tersebut, hal inilah yang disebut dengan
tingkat kepercayaan (confidence level). Misalnya kita menentukan tingkat kepercayaan
95%, ini berarti bahwa kemungkinan nilai sebenarnya akan berada (jatuh) pada lingkup
daerah tersebut adalah 95%. Sedangkan sisanya mungkin akan jatuh di luar daerah
tersebut.
Jadi, ketidakpastian adalah: rentang nilai di sekitar hasil pengukuran yang di
dalamnya diharapkan terletak nilai sebenarnya dari besaran ukur.
U
U

 -U X r
 +U
Dimana: r = Nilai rata-rata dari hasil pengukuran
σ = Penyimpangan hasil pengukuran
U = Ketidakpastian hasil pengukuran
X = Nilai sebenarnya dari besaran ukur

ANALISA SUMBER – SUMBER KETIDAKPASTIAN


Timbulnya ketidakpastian dalam pengukuran menunjukkan
ketidaksempurnaan manusia secara keseluruhan. Karenanya tidak ada kebenaran
mutlak di dunia ini, karena yang benar mutlak hanyalah milik Allah SWT, manusia
hanyalah dapat memprediksi sesuatu pada tingkat terbaiknya saja.
Sumber-sumber ketidakpastian yang turut memberikan kontribusi selain ada
pada diri manusia sendiri sebagai pelaku pengukuran/kalibrasi juga pada alat-alat bantu
(kalibrator) yang digunakan untuk mengukur suhu pasien tersebut, resolusi alatnya,
juga pengaruh suhu lingkungan. Secara rinci dari sumber-sumber ketidakpastian dapat
digambarkan sebagai berikut:

Untuk mengevaluasi masing-masing sumber ketidakpastian tersebut


diperlukan analisa dengan menggunakan metode statistik, yang disebut analisa tipe
A, dan menggunakan selain metode statistik yang disebut dengan analisa tipe B.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut:

➢ Analisa Tipe A, ( Ua )
Pada tipe ini biasanya ditandai dengan adanya data pengukuran, misalnya n kali
pengukuran, yang selanjutnya dari data tersebut, akan ditemukan nilai rata-ratanya,
standar deviasinya, dan atau repeatability-nya. Bentuk kurva dari tipe ini adalah
sebaran Gauss. Rumus umum ketidakpastian untuk tipe A ini adalah:

Ua = n , dimana σ = Standar Deviasi

Pada contoh sebelumnya dapat dihitung :

Untuk 10 kali pengambilan data ( n = 10)

Rata–rata = 39,45 oC
Standar Deviasi = 0.07071 oC

Ketidakpastian, Ua = 0.07071 / √ 10 = 0.0224 oC


Derajat Kebebasan, v = n-1 = 9 ( Rumus v = n-1)

➢ Analisa tipe B, UB
Pada analisa tipe ini akan digunakan selain metode statistik, sehingga dari
contoh di atas:
Sertifikat kalibrasi dari termometer gelas: misalnya 0,1 oC.
Nilai ini sudah merupakan hasil dari ketidakpastian diperluas U95 , karenanya
harus dicari terlebih dahulu ketidakpastian kombinasinya, Uc(sebagai ketidakpastian
individual) yaitu dengan membagi ketidakpastian tersebut dengan faktor cakupan k.
Jika tidak ada pernyataan apapun maka dalam setiap laporan kalibrasi dianggap k =
2, untuk tingkat kepercayaan 95%.
Namun, jika kita menginginkan nilai k yang lebih tepat maka harus dicari
terlebih dahulu nilai derajat kebebasannya (v) yang selanjutnya akan ditemukan nilai
k. Dalam pencarian nilai v, terlebih dahulu harus ditemukan nilai reliability-nya (R)
dari laboratorium pemberi sertifikat termometer gelas tersebut, misalnya kita
perkirakan dengan nilai R = 10 %.
Maka didapat:
V = ½ (100 / 10 )2
= 50 , ( Rumus, v = ½ ( 100 / R) 2 )
pada tabel T-distribution didapat k = 2,01
maka nilai yang tepat untuk ketidakpastian kombinasi termometer gelas tersebut
adalah :
UB1 = 0,1 / 2,01 = 0,0498 oC
Untuk resolusi alat dibedakan atas alat digital dan analog.
Jika Alat digital : Ketidakpastian (u)
u = (1/2 resolusi ) / √3
Untuk Alat analog, ketidakpastian (u)
u = Readability / 2
Jika pada ilustrasi tersebut alat yang digunakan adalah termometer digital dengan
resolusi 0,1 oC, maka:
UB2 = (1/2 .0,1 ) / √3 = 0,0298 oC

KETIDAKPASTIAN KOMBINASI , UC

Selanjutnya, dari semua sumber ketidakpastian tersebut di atas harus


dikombinasikan/digabungkan untuk memberikan gambaran menyeluruh
ketidakpastian dari hasil kalibrasi tersebut. Rumus umum ketidakpastian kombinasi
adalah:

Uc =  (U )   (U
a
2
B )2

Atau secara umum :


Uc2 = (Ci.Ui)2
Di mana Ci = koefisien sensitivitas dari ketidakpastian ke-I
Pada contoh di atas, karena pengukuran suhu hanya merupakan hasil
pembacaan dari suhu yang terlihat dari termometer gelas kemudian hasilnya dikoreksi
dengan nilai yang tercantum dalam sertifikat kalibrasinya, maka bila koefisien
sensitivitas masing–masing adalah 1
Uc = [(1.(0,0224))2 +(1.(0,0498))2 + (1.(0,0289))2 + (1.(0,058))2]1/2
= 0,085 oC
Koefisien Sensitivitas ( Cn )

Koefisien sensitivitas dalam sistem pengukuran tidak terlepas dari masalah


korelasi pengukuran, maksudnya bahwa setiap hasil pengukuran merupakan hasil
korelasi antara besaran masukan satu dengan yang lainnya, yang besarnya ditentukan
secara derivatif. Turunan (derivatif) hasil pengukuran tersebut dengan masing-masing
masukan pada bentuk/model pengukuran yang dilakukan. Atau dengan kata lain,
apabila di dalam melakukan pengukuran sebuah besaran ukur tidak dilakukan
pengukuran secara langsung terhadap besaran tersebut (misal untuk mengukur Arus,
dilakukan pengukuran tegangan, jadi pengukuran tidak langsung), maka sensitivitas
diperlukan dalam menghitung ketidakpastian kombinasinya, akan tetapi bila di dalam
melakukan pengukuran tersebut besaran yang kita inginkan dapat diukur langsung
maka sensitivitasnya dinyatakan dengan
Rumus umum mencari koefisien sensitivitas adalah:

❖ Pada pengukuran suhu di atas, adalah merupakan pembacaan (hasil pengukuran) +


koreksi :

Pengukuran suhu (T) = hasil + Koreksi (S)

Jadi koefisien sensitivitas hasil adalah derivatif T terhadap H;

CH = dT / dH = 1

❖ Misal :
pada pengukuran luas (A), yang merupakan hasil perkalian antara panjang (P ) dan
lebar (L), maka koefisien sensitivitas masing-masing adalah:

A=PxL

CP = dA / dP = L

CL = dA / dL = P

KETIDAKPASTIAN DIPERLUAS
Dalam pelaporan ketidakpastian hasil pengukuran/kalibrasi, yang dilaporkan
adalah ketidakpastian yang sudah dalam bentuk perluasan (expanded), sehingga hasil
tersebut sangat logis dalam kenyataan, selain itu dengan menggunakan tingkat
kepercayaan 95%, seperti lazimnya dipakai dalam pelaporan–pelaporan saat ini. Lain
halnya jika ada pengecualian dengan mengambil tingkat kepercayaan tertentu. Rumus
ketidakpastian diperluas (expanded uncertainty) adalah:

U95 = k Uc

Di mana:
U95 = Ketidakpastian diperluas (expanded Uncertainty)
K = Faktor cakupan (caverage factor)
Uc = Ketidakpastian kombinasi (combined uncertainty)
Untuk mendapatkan komponen–komponen di atas yaitu k dan Uc, diperlukan
pemahaman dan pencarian faktor lainnya, yaitu:
Derajat Kebebasan, v

Derajat kebebasan efektif dicari dengan dua cara, yaitu:

➢ Jika data diperoleh dari pengukuran berulang sebanyak n kali, maka derajat kebebasan
adalah:
V = n-1

Pada contoh di atas didapat 10 kali pengulangan pengukuran.

Maka :

v = 10 – 1= 9

➢ Jika data merupakan hasil perkiraan atau estimasi dengan reliability ( R ), maka:
V = ½ ( 100 / R)2

Di mana R dalam satuan persen (%)

Pada contoh di atas, resolusi alat adalah 0,1 oC, dalam hal ini batas kesalahan mutlak adalah
½ x Resolusi , yaitu 0,05 oC, di mana dalam hal ini bentuk kurvanya adalah rectangular,
maka nilai ketidakpastiannya adalah 0,05 / √3 = 0,0289 oC
Dengan estimasi reliability-nya adalah 10%, maka:
V = ½ ( 100 / 10 )2
= 50
Derajat Kebebasan Efektif, V eff

Nilai faktor cakupan (k) untuk perkalian ketidakpastian diperluas di atas didapat dari derajat
kebebasan efektif, V eff, dengan rumus:

𝑈𝐶 4 (𝑦)
Veff = 𝐶𝑖 4 𝑈4 (𝑋𝐼 )
,
∑𝑛
𝑖=1 𝑉𝐼

Di mana Ci = koefisien sensitivitas pada ketidakpastian ke-I

Uc = Ketidakpastian kombinasi/gabungan

Ui = ketidakpastian individual ke-I


Vi = Derajat Kebebasan pada ketidakpastian individual ke-I
Pada contoh di atas , telah didapat ketidakpastian kombinasi,
o
UC = 0,085 C
UA = 0,0224 oC, v = 9
UB1 = 0.0498 oC, v = 50
UB2 = 0,0289 oC, v = 50
UB3 = 0,058 oC, v=∞

(0,085) 4
(0,0224) 4 (0,0498) 4 (0,0289) 4
  0
Veff = 9 50 50 = 316,5

Pada tabel T-Student’s Distribution, didapatkan k = 1,96


Jadi ketidakpastian diperluas, U95= k. Uc

= 1,96 x 0,085 = 0,1666

= + 0,16 oC

Jadi hasil lengkap pengukuran adalah (39,45 + 0,16) oC

Tingkat kepercayaan, U95

Tingkat kepercayaan merupakan tingkatan keyakinan akan keberadaan nilai


sebenarnya pada suatu tindak pengukuran dengan menggunakan alat tertentu. Penjelasan
lengkap telah diberikan pada ilustrasi kasus di atas.

Faktor Cakupan, k

Faktor cakupan merupakan faktor pengali pada ketidakpastian, sehingga membentuk


cakupan logis pada penggunaan keseharian. Faktor cakupan dicari menggunakan tabel T-
Student Distribution, yang diberikan pada halaman akhir dari materi ini.

RINGKASAN CARA PENENTUAN KETIDAKPASTIAN


Secara umum dalam menentukan nilai ketidakpastian suatu hasil pengukuran dapat
melalui tahap-tahap sebagai berikut:

1. Tentukan model matematis pengukurannya.


2. Tentukan koefisien sensitivitas , Ci.
3. Tentukan derajat kebebasan.
4. Tentukan ketidakpastian standar pada masing-masing kontributor u.
5. Tentukan ketidakpastian kombinasi , Uc.
6. Tentukan derajat kebebasan efektif, V eff.
7. Tentukan tingkat kepercayaan yang dipilih, misal 95%.
8. Tentukan faktor cakupan, k.
9. Tentukan ketidakpastian diperluas, Uexp.
Membuat model

Matematik

Daftar sumber –
sumber U

Hitung U untuk
Tipe A dan B

Hitung Ci

Hitung derajat Hitung Uc (gabungan)


kebebasan efektif

Hitung U diperluas

Uexp = k. Uc

Selesai
Sedangkan untuk mendapatkan faktor cakupan yang nantinya digunakan untuk
mendapatkan ketidakpastian diperluas, maka salah satu pemecahannya adalah dengan
menyajikan tabel T-Student Distribution, di mana probabilitasnya dinyatakan sbb:

Degree of Probabilitas/Tingkat kepercayaan (%)


freedom V
68,27 % 90 % 95% 99%

1 1,84 6,31 12,71 63,66

2 1,32 2,92 4,30 9,92

3 1,20 2,35 3,18 5,84

4 1,14 2,13 2,78 4,60

5 1,11 2,02 2,57 4,03

6 1.09 1,94 2,45 3,71

7 1,08 1,89 2,36 3,50

8 1,07 1,86 2,31 3,36

9 1,06 1,83 2,26 3,25

10 1,05 1,81 2,23 3,17

11 1,05 1,80 2,20 3,11

12 1,04 1,78 2,18 3,05

13 1,04 1,77 2,16 3,01

14 1.04 1,76 2,14 2,98

15 1,03 1,75 2,13 2,95

16 1,03 1,75 2,12 2,92

17 1,03 1,74 2,11 2,90

18 1,03 1,73 2,10 2,88

19 1,03 1,73 2,09 2,86

20 1,03 1,72 2,09 2,85

25 1,02 1,71 2,06 2,79

30 1,02 1,70 2,04 2,75


35 1,02 1,70 2,03 2,72

40 1,02 1,68 2,02 2,70

45 1,02 1,68 2,01 2,69

50 1,01 1,68 2,01 2,68

100 1,005 1,660 1,984 2,626

∞ 1 1,645 1.960 2,576


MODUL V
TIMBANGAN DIGITAL

METODE PENGUKURAN DAN KALIBRASI TIMBANGAN DIGITAL


1. Ruang Lingkup

Metode ini digunakan untuk melaksanakan kalibrasi timbangan analitis elektronik dengan
rentang ukur/kapasitas sampai dengan 200 gram. Metode ini juga digunakan untuk
pemeriksaan bulanan dan enam bulanan sesuai butir 5.1 dan 5.2.

2. Standar Metode

❖ The Calibration of Balances, David B. Prowse, CSIRO, Australia, 1995, butir 6


❖ Technical Note 13 NATA, Australia, Agustus, 1994.
3. Peralatan
❖ Massa (anak timbangan), yang sudah dikalibrasi beserta sertifikat.
❖ Pinset yang ujungnya plastik.
❖ Termometer dengan resolusi 1˚C
❖ Tissue halus
4. Persiapan

❖ Catat semua spesifikasi timbangan pada lembar kerja


❖ Periksa bahwa timbangan bekerja baik
❖ Letakkan timbangan pada tempat yang kokoh dan rata (level)
❖ Bersihkan dudukan timbangan dari debu
❖ Hidupkan timbangan selama ± 30 menit untuk pemanasan
❖ Buat beberapa percobaan pengukuran

5. Prosedur

5.1. Pemeriksaan Skala


5.1.1. Pilih massa yang mendekati “Calibration Mode”

5.1.2. Nol-kan timbangan, catat pembacaan pada kolom 3 sebagai z1.

5.1.3. Timbang massa standar (M) dan catat pada kolom 3 sebagai m1.

5.1.4. Sentuh “pan” diamkan ± 30 detik dan catat pada kolom 3 sebagai m2.

5.1.5. Ambil massa dan tunggu sampai nol, lalu catat pada kolom 3 sebagai z2

5.1.6. Hitung rata-rata dari z’ dan m’ lalu catat hasilnya pada kolom 4

5.1.7. Hitung koreksi C dengan rumus:

C = M – (m’ – z’) dan catat pada kolom 5


5.1.8. Hitung standar deviasi.

5.1.9 Jika koreksi lebih besar dari 3σ, di mana σ adalah standar deviasi dari kemampuan
baca sebelumnya diketahui maka timbangan perlu disetel.
Untuk timbangan baru, standar deviasinya tidak mungkin 3 kali. Maka dari itu, tidak
perlu melakukan penyetelan timbangan.

5.1.10. Setelah timbangan disetel maka ulangi butir 1 sampai 8

5.1.11. Hitung ketidakpastian dari kemampuan baca timbangan yang didapat dari resolusi
timbangan

UR = Resolusi/2

√3

5.2. Kemampuan Baca Kembali


Lakukan untuk dua posisi yaitu setengah kapasitas dan kapasitas penuh dari

Timbangan.

5.2.1. Nol-kan timbangan catat pada kolom 1 sebagai z1

5.2.2. Timbang massa standar (M) yang mendekati setengah kapasitas dan catat

pembacaan pada kolom 2 sebagai m1.

5.2.3. Ambil massa, tunggu sampai stabil dan catat kolom 1 berikutnya z1.

5.2.4. Ulangi butir 1 sampai dengan 3 sampai 10 kali pembacaan

5.2.5. Hitung perbedaan (r1) dengan rumus

ri = mi – zi,

kapasitas setengah/penuh dan catat pada kolom 3

5.2.6. Hitung standar deviasi dari perbedaan dengan rumus :

σ =√Σ(ri – r’)

n–1

Dimana :
ri = perbedaan ke-1…..,n
r’ = rata-rata perbedaan
n = jumlah pembacaan = 10

Catat pada baris 11


5.2.7. Tentukan dan catat perbedaan maksimum berturut-turut dan catat pada baris 12 dengan
cara mengurangkan dari pembacaan satu terhadap berikutnya.

5.2.8. Ulangi butir 1 sampai dengan 7 untuk kapasitas penuh

5.2.9. Catat standar deviasi maksimum pada baris 13. Catatan: Gunakan standar deviasi
terbesar untuk perhitungan ketidakpastian.

5.2.10. Hitung ketidakpastian standar, Ut ;

Ut = σ maks/√n

Di mana : σ maks = standar deviasi maksimum Pada butir 9

n = jumlah pembacaan = 10

Catat hasilnya pada baris 14

5.3. Penyimpangan Nilai Nominal


5.3.1. Pilih 10 titik pada daerah kapasitas timbangan dengan pembagian teratur.

5.3.2. Nol-kan timbangan dan catat pada kolom 5 sebagai z1.

5.3.3. Timbang Massa Standar yang sesuai pada penimbangan pertama dan catat pada kolom
5 sebagai m1.

5.3.4. Sentuh Pan, tunggu ±30 detik kemudian catat pada skala 5 sebagai m1’.

5.3.5. Ambil Massa Standar, tunggu sampai stabil dan catat pada kolom 5 sebagai z 2. Jangan
nol-kan timbangan.

5.3.6. Hitung rata-rata pembacaan nol dan catat pada kolom 6 sebagai z1’.

5.3.7. Hitung rata-rata pembacaan massa pada timbangan dan catat pada kolom 6 sebagai
m1’.

5.3.8. Hitung perbedaan ri = mi’ – zi’ dan catat pada kolom 7 sebagai ri.

5.3.9. Hitung koreksi dgn rumus C = M – ri dan catat pada kolom 8 sebagai C1.

5.3.10. Ulangi butir 2 sampai dengan 9 untuk titik lainnya sampai 100% kapasitas timbangan

5.3.11. Pilih nilai koreksi maksimum sebagai Q.

5.3.12. Jumlahkan ketidakpastian dari Massa Standar yang digunakan, catat pada kolom 3

5.3.13. Hitung ketidakpastian Massa Standar

UMc = √Σ(UMi)²

2
5.4. Pengaruh Pembebanan Di Tengah
5.4.1. Lakukan pada penimbangan kira-kira 1/3 dari kapasitas maksimum timbangan, jika
dispesifikasikan pabrik pembuat maka lakukan sesuai dengan pabrik pembuat.

5.4.2. Catat ukuran dan bentuk “Pan”.

5.4.3. Letakkan massa standar di tengah-tengah “pan”, timbangan di “tare” dan catat
pembacaan pada kolom 2.

5.4.4. Pindahkan massa ke depan, belakang, kiri, dan kanan pada daerah garis Pan dan catat
pembacaannya pada kolom 2.

5.4.5. Hitung perbedaan maksimum dengan cara mengurangkan hasil terbesar dengan hasil
terkecil. Jika massa lebih dari 500 g maka gunakan piringan non-magnetik dengan
diameter yang sesuai dengan besarnya diameter massa.

6. Batas Unjuk Kerja Timbangan

Hitung dengan rumus sbb:

F = 2σ maks + Q

Di mana :

σ maks = Standar deviasi maksimum pada kemampuan baca kembali,

Q = Nilai koreksi maksimum dari penyimpangan nilai nominal

7. Ketidakpastian Penimbangan
Hitung dengan rumus sbb :

U95 = ± k . Uc

= ± 2.√(UR)² + (Ut)² + (UM)²

Di mana :

UR =Ketidakpastian standar dari kemampuan baca (resolusi) timbangan

Ut = Ketidakpastian standar dari kemampuan baca kembali timbangan

UM = Ketidakpastian dari massa standar

8. Formulir

❖ Lembar kerja yg digunakan No. QF.FKT


❖ Sertifikat kalibrasi yg digunakan No. QF.SKT
NB : Calibration Mode adalah mode yang digunakan untuk mengalibrasi timbangan digital
dengan massa yang telah ditetapkan berdasarkan data sheet. Berdasarkan timbangan
elektronik yang digunakan pada praktikum kali ini memiliki mass calibration sebesar 200
gram.
MODUL VI
VOLTMETER

METODE PENGUKURAN DAN KALIBRASI MULTIMETER DIGITAL


1. Ruang Lingkup
Metode ini digunakan untuk melaksanakan kalibrasi multimeter digital dengan rentang
ukur antara 200 mV sampai dengan 1000 Volt.
2. Standar Metode
❖ MIL Standar
3. Peralatan
❖ Multimeter digital standar beserta sertifikat.
❖ Regulator Tegangan
❖ Multimeter Uji
4. Persiapan
❖ Catat semua spesifikasi multimeter uji pada lembar kerja
❖ Periksa bahwa multimeter bekerja baik
❖ Siapkan Regulator tegangan
❖ Nyalakan multimeter uji dan standar, dan gunakan beberapa percobaan untuk
pemanasan.
5. Prosedur
5. 1. PEMERIKSAAN SKALA

1. Pilih salah satu dari skala multimeter untuk dilakukan pengukuran (200 mV, 2 Volt,
20 Volt, 200 Volt, 1000 Volt)
2. Lakukan pengukuran tegangan menggunakan multimeter uji dan multimeter standar
secara bersamaan dan catat pembacaan multimeter uji pada kolom 2 dan multimeter
standar pada kolom 3.
3. Ulangi langkah 2 sebanyak 5 kali dengan skala yang sama.
4. Hitung koreksi dengan rumus:
Q = Pstandar – P alat
Di mana :
Pstandar = pembacaan Multimeter digital standar
P alat = Pembacaan Multimeter digital uji

5. Catat error of specification


6. Catat Koreksi minimum
7. Catat koreksi maksimum
8. Tentukan nilai koreksi maksimum
9. Bila nilai koreksi maksimum lebih besar dari 3σ, maka Multimeter digital uji perlu di
adjust ulang atau di repair.

5.2. PEMBACAAN BERULANG

1. Tentukan 5 titik pada range ukur multimeter uji , 200 mV, 2 Volt, 20 Volt, 200 Volt,
1000 Volt (5, 10, 15, 20, 25 Volt karena regulator terbatas hanya kapasitas 30volt)
2. Lakukan pengukuran tegangan pada titik pertama menggunakan multimeter yang akan
dikalibrasi dan multimeter standar secara bersamaan
3. Catat pembacaan multimeter uji pada kolom 1 pembacaan alat (kondisi naik) dan catat
pembacaan multimeter standar pada kolom pembacaan standar.
4. Ulangi langkah 2 dan 3 untuk 4 titik berikutnya.
5. Lakukan pengukuran titik ke-5 dan catat pembacaan alat pada kolom 1 pembacaan
alatkondisi turun.
6. Lakukan pengukuran titik ke 5, 4, 3, 2, 1 dan tetap catat pembacaan alat pada kolom 1
pembacaan alat kondisi turun.
7. Ulangi langkah 2-6 sebanyak 4 kali untuk mengisi kolom 2, 3, 4, 5 pembacaan alat,
kondisi NAIK dan TURUN.
8. Hitung rata-rata pembacaan naik dan turun.
8. Hitung Koreksi : Pstandar - P Rata2 pembacaan , dan catat pada kolom koreksi.

9. Hitung rata–rata koreksi.

10. Hitung standar deviasi dari koreksi maksimum dengan rumus :

σ =√Σ(Di – D )
n–1
Di mana;
Di = koreksi ke- i
D = rata – rata koreksi
N = Jumlah koreksi
5.3 KETIDAKPASTIAN KALIBRASI MULTIMETER

1. Hitunglah besarnya ketidakpastian hasil pengukuran (UA1 =  / n )


2. Hitunglah ketidakpastian pendekatan regresi (UA2)
Rumus :

SSR
UA2 = n2

𝑆𝑆𝑅 = ∑𝑛𝑖=1 [𝑦𝑖 − (𝑏𝑥𝑖 + 𝑎)]2

𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛

𝑛 ∑ (𝑥𝑖 𝑦𝑖 )−∑ 𝑥𝑖 ∑ 𝑦𝑖
𝑏= 𝑛 ∑ 𝑥𝑖 2 −(∑ 𝑥𝑖 )2

Sedangkan a didapat dari persamaan regresi

𝑦 = 𝑎 + 𝑏𝑥

Di mana :

𝑥𝑖 = pembacaan standar ke-i

𝑦𝑖 = koreksi ke-i

𝑛 = jumlah i

x = rata – rata pembacaan

y = rata – rata koreksi

3. Hitung Ketidakpastian Alat Standar Multimeter (UB1)

UB1 = a / 3

4. Hitung Ketidakpastian Resolusi ( UB2)


1 / 2resolusi
UB2 = 3

5. Hitung Ketidakpastian Catu Daya (UB3 )


(maks = ½ . ketidakpastian resolusi )
6. Hitung Ketidakpastian Gabungan

U AI  U A2  U B1  U B 2  U B3
2 2 2 2 2
Uc =

7. Tentukan besarnya Veff dengan formulasi sebagai berikut:


(U c ) 4
 (U i ) 4
Veff = vi

8. Dengan tingkat kepercayaan CL = 95 %, hitung faktor cakupan k


9. Hitung ketidakpastian diperluas dengan rumus:
Uexp = k. Uc
Dimana :
k = faktor cakupan
Uc = ketidakpastian kombinasi

5.2. Formulir
5.4.1. Lembar kerja yang digunakan No. QF. FKS
5.4.2. Lembar sertifikat yang digunakan No. QF. SKS

LAMPIRAN

LEMBAR KERJA KALIBRASI

I. LEMBAR KERJA KALIBRASI TIMBANGAN

(selengkapnya disajikan pada lembar berikutnya )

II. LEMBAR KERJA KALIBRASI MULTIMETER DIGITAL

(selengkapnya disajikan pada lembar berikutnya )


LEMBAR KERJA KALIBRASI REGULATOR TEGANGAN

No. Sertifikat : 01 / lab.rin/kal/IV/2008


Tgl Diterima :
Nama Alat : Regulator tegangan Nama Standard :
Kapasitas : 100 V (ac)
No. Sertifikat : Sk - 0123
Resolusi : 0.1 V
Ketelusuran : KIM - LIPI
Type / Model : Fluke - 200 Lokasi
Kalibrasi : lab. Kal –JTF ITS
Nomor Seri : 12345 Kondisi
Lingkungan :
Merk / butan : Germany Nama Standard
:-
Kelas : IV (industri ) No. Sertifikat : -
Metode kalibrasi : Komparasi Ketelusuran
:-
Acuan : MIL - STD

HASIL KALIBRASI

1. PEMERIKSAAN SKALA
Rentang Frekuensi Pembacaan Pembacaan Alat Koreksi Standard
(Volt ) (Hz) Standard (Volt) (Volt ) (Volt ) Deviasi

Standar Deviasi Sebelumnya :-


Koreksi Minimum : Harga Mutlak Koreksi minimum :-
Koreksi mkasimum :
Nilai Koreksi maksimum :
Error of Spec [ EOS ] :

Disetujui : Diperiksa : Dikalibrasi :


Tanggal : Tanggal : Tanggal :
FKL-02 hal : 1 dari 3

2. PEMBACAAN BERULANG

Rentang Frek. Pemb. Pembacaan Alat Rata2 koreksi


(Volt ) (Hz) Standard pembacaan
Naik Turun Rata – rata
( Volt )
Naik Turun

Catatan : Nilai rata-rata telah dibulatkan ke:………..

3. KETIDAKPASTIAN KALIBRASI

Simpangan Baku ( Standar Deviasi )


Ketidakpastian Hasil Pengukuran ( UA1) = n
Ketidakpastian pendekatan regresi ( UA2)

a
Ketidakpastian Alat Standar (U2) = 3
a = U expand dari kalibrator = 0.5 V
1 / 2resolusi
Ketidakpastian Resolusi (U3) = 3
Disetujui : Diperiksa : Dikalibrasi :

Tanggal : Tanggal : Tanggal :

FKL-02 hal : 2 dari 3

Ketidakpastian Catu Daya ( U 4)


( Asumsi : maksimum setengah dari ketidakpastian resolusi )
Untuk  f < 0.5 maka U4 = ¼ U3
Ketidakpastian Gabungan ( Uc )=

Derajat Kebebasan Efektif ( Veff ) =

Faktor Cakupan ( K )

Ketidakpastian Diperluas ( U exp )

Catatan :

1. Faktor Cakupan dihitung dengan menggunakan tabel T student, dimana tingkat kepercayaan/
confidence level yang diambil adalah 95 %
2. Sertifikat yang digunakan adalah hasil kalibrasi dengan acuan yang sama
3. Ketidakpastian hasil pengukuran, didapatkan dengan mengambil standar diviasi maksimum
4. Bila tanda koreksi adalah positif (+), maka jumlahnya harus ditambahkan untuk mendapatkan
hasil yang benar, demikian pula untuk koreksi negatif

Disetujui : Diperiksa : Dikalibrasi :

Tanggal : Tanggal : Tanggal :

FKL-02 hal : 3 dari 3


SERTIFIKAT KALIBRASI
CALIBRATION CERTIFICATE

Nomor :…………………………..
Number……………………………

ALAT
Equipment
1. Nama : 4. Nomor Seri :
Name Serial Number
2. Kapasitas : 5. Merek / buatan :
Capacity Manufacture
3. Tipe / model : 6. Lain-lain :
Type / model Others
Pemilik
Owner
1. Nama _ :
Name
2. Alamat :
Address
Standar
Standard
1. Nama _ :
Name
2. Ketelusuran :
Traceability
TANGGAL DITERIMA :
Date of acceptance
TANGGAL DI KALIBRASI :
Date of Calibration
LOKASI KALIBRASI :
Location of calibration
KONDISI LINGKUNGAN KALIBRASI :
Environment Condition of calibration
METODE KALIBRASI :
Calibration Method
ACUAN :
Reference
HASIL KALIBRASI DAN KETIDAKPASTIAN KALIBRASI: (Terlampir )
Result of calibration & uncertainty of calibration
DITERBITKAN :
Disahkan oleh /Approved by
Kepala laboratorium
Head of Laboratory

(…………………………)
NIP.

SERTIFIKAT KALIBRASI
CALIBRATION CERTIFICATE

Nomor :.........................................
Number…………………………

1. HASIL KALIBRASI
Result of calibration

1. KEMAMPUAN BACA ULANG

Nilai Aktual Koreksi


(…………………) (…………….)

2. KETIDAKPASTIAN ALAT UKUR = + ………….. Volt

2.EVALUASI
Evaluation

Alat Tersebut memenuhi / tidak memenuhi Persyaratan Acuan………………………….

The Instrument According To Requirement of …………….. reference

Catatan :

➢ Faktor Cakupan (k = ) dihitung dengan menggunakan tabel T student, dimana tingkat


kepercayaan/ confidence level yang diambil adalah 95 %
➢ Sertifikat yang digunakan adalah hasil kalibrasi dengan acuan yang sama
➢ Ketidakpastian hasil pengukuran, didapatkan dengan mengambil standar diviasi maksimum
➢ Bila tanda koreksi adalah positif (+), maka jumlahnya harus ditambahkan untuk mendapatkan
hasil yang benar, demikian pula untuk koreksi negatif
LABORATORIUM KALIBRASI

DEPARTEMEN TEKNIK FISIKA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

GEDUNG E-104, Telp. 031-5994252 ext. 1281 Fax : 031- 5923626

DAFTAR PUSTAKA

1. TC , ISO/ IEC 17025, SNI 19-17025, ” persyaratan Laboratorium kalibrasi, BSN, 2005
2. Musyafa’.Ali, abadi,Imam,” modul kalibrasi istrumentasi dan metrologi, Jurusan teknik
Fisika, 2002
3. David B Prowse, uncertainty for mass and balance, Australia , 2000
4. TIM KIM LIPI, kalibrasi dan metrology, LIPI, serpong, 2000