Anda di halaman 1dari 7

PENDIDIKAN ALTERNATIF UNTUK ANAK-ANAK NELAYAN

(Proposal Pengabdian Kepada Masyarakat)

A. Isu dan Fokus Pengabdian

Desa Citemu adalah sebuah desa nelayan yang terletak di bibir pantai utara, tepatnya Kecamatan
Mundu Kabupaten Cirebon. Sebagai kawasan pesisir, Citemu merupakan salah satu desa nelayan
yang cukup terbelakang. Pemandangan khas nelayan sangat mencolok dan melekat pada warga
masyarakatnya, seperti lingkungan yang kumuh dan pemukiman yang tidak tertata. Kondisi
demikian sepadan dengan situasi sosial ekonomi masyarakat yang tidak menentu. Ciri demikian
mengindentikkan masyarakat nelayan sebagai kelompok masyarakat yang miskin. Ciri
keterbelakangan masyarakat nelayan tidak hanya dapat dilihat secara fisik. Sumber daya manusia
juga salah satu faktor pendukung kemajuan sebuah masyarakat, dilihat dari sisi ini, Sumber Daya
Manusia (SDM) masyarakat juga terbilang sangat rendah. Hal ini ditandai dengan minimnya
jenjang pendidikan masyarakat nelayan.

Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat nelayan ditandai dengan banyaknya anak-anak remaja
nelayan yang tidak menuntaskan jenjang pendidikan 9 tahun. Dari hasil assessment yang dilakukan
oleh sekolompok mahasiswa di tahun 2014, sedikitnya ada 20 orang anak di RT. 02 RW. 02 yang
tidak menuntaskan jenjang pendidikan 9 tahun. Rata-rata dari jumlah anak yang tidak menuntaskan
jenjang pendidikan 9 tahun tersebut hanya lulus Sekolah Dasar, bahkan 2 di antaranya tidak lulus
pada jenjang pendidikan dasar. Sementara jumlah anak yang tidak menuntaskan jenjang
pendidikan 9 tahun di RT. 01 RW. 02 jumlahnya sedikit lebih banyak dengan berkisar 25 orang
anak. Pada RT. 01 juga terdapat anak yang tidak menuntaskan jenjang pendidikan tingkat dasar
atau putus sekolah. Rata-rata usia anak remaja yang tidak menuntaskan jenjang pendidikan sekolah
dasar maupun wajib belajar 9 tahun yaitu berkisar antara 10 hingga 18 tahun. Dari hasil Assessment
tersebut juga rata-rata keluarga anak remaja yang tidak menuntaskan jenjang pendidikannya juga
memiliki tingkat pendidikan yang sama. Bahkan orang tua dan keluarga anak remaja itu rata-rata
tidak menuntaskan jenjang pendidikan mereka.
Banyak faktor yang mengakibatkan rendahnya tingkat pendidikan anak-anak remaja nelayan desa
Citemu. Faktor makro yang memunculkan persoalan tingkat pendidikan anak remaja nelayan itu
antara lain kemiskinan, pembangunan yang tidak merata, pertumbuhan ekonomi yang tidak
merata, minimnya akses terhadap sarana dan prasarana pendidikan, dan masalah kultur. Sedangkan
faktor mikro yang mencakup di dalamnya adalah kehidupan ekonomi nelayan yang tidak menentu,
keluarga yang tidak harmonis, remaja dengan single parent, paksaan orang tua untuk membantu
pekerjaan mereka, faktor lingkungan.

Persoalan kultur dan minimnya kesadaran keluarga terhadap pendidikan menjadi faktor utama
anak-anak remaja nelayan tidak menuntaskan jenjang pendidikannya. Persoalan situasi ekonomi
nelayan yang tidak menentu menjadi alasan utama bagi nelayan untuk tidak mendorong anak-
anaknya untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Di samping itu mahalnya pendidikan dinilai
tidak mampu untuk dijangkau dengan penghasilan nelayan yang tidak menentu, belum lagi harga
kebutuhan hidup semakin hari semakin meningkat. Dorongan-dorongan persoalan demikian
mengakibatkan anak-anak remaja nelayan rentan tidak mendapatkan hak pendidikan mereka
sebagaimana mestinya. Justru sebaliknya kondisi demikian memaksa anak-anak remaja nelayan
untuk berperan serta dalam situasi sosial ekonomi nelayan. Rata-rata dari anak remaja yang putus
sekolah terjadi karena kebiasaan mereka membantu pekerjaan orang tua. Di antara mereka ada
turut bersama orang tunya menjadi nelayan, dan menjadi buruh pengupas rajungan serta pengrajin
bubu.

Di usia yang masih belia, anak-anak remaja nelayan sudah terbiasa dengan berbagai pekerjaan
berat dan menantang bahaya. Hal demikian tentu akan membentuk karakter dan psikologi remaja
yang lain dari biasanya. Selain merampas hak intelektualnya, persoalan putus sekolah yang dialami
remaja nelayan memosisikan remaja rentan terhadap persoalan sosial. Perkembangan karakter dan
mental remaja yang dipupuk oleh pekerjaan berat cenderung mengarahkan mereka pada situasi
pergaulan yang negatif. Anak-anak yang putus sekolah selalu rentan terjerumus pad pergaulan
bebas karena mereka tidak memiliki pengetahuan dan aktivitas lain yang berhubungan dengan
ilmu pengetahuan yang dapat menunjang pertumbuhan mentalnya. Selain itu, kebiasaan anak
remaja yang selalu berhadapan dengan pekerjaan berat turut mengembangkan mental mereka
seperti orang dewasa namun belum maksimal pada tingkat pemikirannya. Akhirnya, mereka
cenderung meniru gaya-gaya dan berbagai tingkah pola yang dilakukan oleh orang dewasa baik
dalam bergaul dengan sesama remaja maupun orang yang lebih tua. Karakter dan minimnya
pengetahuan yang demikian memicu mereka terjebak dalam pergaulan bebas. Perilaku-perilaku
penyimpangan rentan dilakukan oleh mereka seperti penyalah gunaan minuman keras dan obat-
obatan terlarang, tindakan kekerasan, bahkan sampai pada perilaku penyimpangan seksual.
Persoalan-persoalan sosial remaja yang diakibatkan oleh pergaulan bebas ini turut menyumbang
persoalan hamil di luar nikah. Jika sudah demikian, pergaulan bebas tidak hanya menjadikan
remaja sebagai korban melainkan rentan terhadap rusaknya generasi penerus bangsa.

Pemberdayaan masyarakat dapat didefinisikan sebagai tindakan sosial dimana penduduk sebuah
komunitas mengorganisasikan diri dalam membuat perencanaan dan tindakan kolektif untuk
memecahkan masalah sosial atau memenuhi kebutuhan sosial sesuai dengan kemampuan dan
sumberdaya yang dimilikinya. Dalam kenyataannya sering kali proses ini tidak muncul secara
otomatis, melainkan tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksi masyarakat setempat dengan
pihak luar atau para pekerja sosial baik yang bekerja berdasarkan dorongan karitatif maupun
perspektif profesional. Para pekerja sosial ini berperan sebagai pendamping sosial. Salah satu hal
penting terkait pemberdayaan anak-anak remaja dan pemuda nelayan desa Citemu adalah masalah
pendidikan mereka. Situasi dan kondisi kehidupan mereka yang rawan paparan pergaulan negatif
didukung dengan kesadaran dan pengetahuan keluarga yang minim memastikan mereka tidak
terkontrol. Karenanya, model pendidikan yang sesuai dengan pola hidup mereka perlu
dikembangkan untuk mengawal terjaminnya hak anak-anak remaja, yang memang sudah menjadi
hak mereka.

B. Alasan Memilih Subyek Dampingan


Dalam stigma masyarakat pada umumnya, nelayan dikenal sebagai masyarakat yang marjinal dan
terbelakang. Pandangan ini ditandai dengan ciri-ciri yang melekat pada masyarakat nelayan,
seperti pemukiman kumuh, berwatak keras, gemar terhadap hiburan dan mabuk-mabukan. Ciri-
ciri demikian memosisikan masyarakat nelayan sebagai salah satu komunitas yang memiliki
tingkat pendidikan formal dan keagamaan yang rendah. Corak kebiasaan nelayan yang gemar
dengan hiburan dengan konsumsi minuman keras menjadi ciri lemahnya pendidikan masyarakat.
kultur sosial masyarakat yang keras dan serba tak menentu juga dapat melibatkan seluruh lapisan
masyarakat baik orang dewasa maupun anak-anak remaja. Situasi demikian rentan mendorong
remaja pada pergaulan bebas.
Situasi sosial ekonomi yang tidak menentu turut mendorong anak-anak remaja mengambil peran
di dalamnya. Kondisi pekerjaan disektor nelayan menjebak remaja pada situasi sulit untuk memilih
meneruskan jenjang pendidikannya. Berdasarkan waktu aktivitas pendidikan dan pekerjaan
nelayan selalu berjalan bersamaan, dengan demikian jika anak-anak sedang turut serta dalam
berbagai aktivitas pekerjaan nelayan maka secara otomatis ia meninggalkan kegiatan belajarnya.
Situasi sulit ini juga didukung dengan minimnya prasana pendidikan yang dapat diakses oleh anak-
anak remaja. Selain itu, tidak adanya kegiatan kepemudaan yang dapat menunjang pendidikan
anak-anak remaja. Lemahnya kontrol sosial dan persoalan kultur mengakibatkan remaja
terjerumus pada pergaulan bebas dan persoalan sosial lainnya.
C. Kondisi Subyek Dampingan Saat Ini
Saat ini, remaja desa Citemu sedang didampingi oleh sebuah komunitas bernama “Sekolah Bahari
Citemu”. Komunitas pendampingan anak remaja ini digagas dan didirikan pada tanggal 2 Oktober
2014. Berlokasi di RT. 02 RW. 02, tepatnya disebuah musholah yang berdekatan dengan rumah
seorang tokoh agama desa Citemu. Sekolah Bahari Citemu mendampingi sekitar 15 orang anak
remaja, mulai dari usia 10 hingga 18 tahun, laki-laki dan perempuan. Di antara mereka ada masih
duduk di bangku Sekolah Dasar, telah lulus sekolah dasar namun tidak melanjutkan jenjang
pendidikannya, dan putus sekolah. Sehari-hari, sebagian dari mereka ada yang bekerja sebagai
buruh pengupas rajungan dan bubu, khususnya perempuan. Sedangkan laki-laki, membantu
pekerjaan orang tuanya sebagai nelayan dengan turut berlayar. Selain itu, mereka juga selalu
membantu pekerjaan-pekerjaan orang tua mereka yang masih berhubungan dengan nelayan disela-
sela waktu istirahat mereka, sepeti membuat jaring, merapihkan jaring, dan membersihkan perahu.
Bahkan pada saat kondisi paceklik sebagian dari mereka ikut merantau bersama dengan orang tua
mereka untuk bekerja sebagai nelayan. Sementara remaja perempuan yang biasa beraktivitas
sebagai buruh pengupas rajungan juga turut merantau menjadi buruh pengupas atau bekerja
dipabrik.

Sukarelawan dampingan terdiri dari pegiat sosial dan pemuda setempat yang memiliki tugas
bersama dalam memberikan fasilitas kegiatan pendidikan alternatif untuk anak-anak remaja
nelayan. Kegiatan pendidikan alternatif untuk peserta dampingan di antaranya adalah calistung,
pelatihan management keuangan, pelatihan life skill dan kewirausahaan, pelatihan Komputer, dan
diskusi-diskusi sosial keagamaan beserta kegiatan-kegiatan keagamaan. dalam beberapa
pertemuan peserta dampingan mulai menyukai kegiatan-kegiatan pembelajaran yang terhimpun
dalam komunitas Sekolah Bahari Citemu. Beberapa di antara mereka mulai merasa membutuhkan
buku-buku yang dapat menunjang pengetahuan mereka, akhirnya mereka meminjam buku-buku
yang terdapat dikomunitas Sekolah Bahari Citemu. Saat ini belum ada hambatan yang berarti,
kecuali tempat kegiatan belajar mengajar yang masih berpindah-pindah dan dilakukan disarana
peribadatan. Buku-buku dan sarana lain yang menunjang proses belajar dan pelatihan. Sementara,
buku-buku dan sarana penunjang kegiatan pendampingan diperoleh dari sukarelawan yang
mendonasikan buku-buku bekas, serta pemuda setempat yang secara sukarela meminjamkan
berbagai alat-alat untuk kegaiatan. Selain dari itu, pola hidup remaja dampingan masih menjadi
hambatan utama dalam kegiatan dampingan. Kegiatan belajar mengajar untuk remaja selalu harus
berhadapan dengan pola hidup anak-anak remaja nelayan. Sebagian besar dari peserta dampingan
masih bekerja sebagai nelayan dan buruh pengupas rajungan, sehingga kegiatan pendidikan
alternatif ini bersifat sangat fleksibel dan menyesuaikan dengan pola kehidupan mereka. Maka
tidak heran jika kegiatan pembelajaran selalu dilakukan pada malam hari.
D. Kondisi Dampingan yang Diharapkan
Melalui program dampingan tahap awal berupa pembentukan komunitas Sekolah Bahari Citemu,
dalam beberapa bulan peserta dampingan sudah mulai terpetakan dari sisi klasifikasi pendidikan.
Di antara mereka ada yang putus sekolah sehingga belum bisa membaca, menulis, dan berhitung.
Ada juga yang masih duduk di bangku sekolah dasar, telah lulus Sekolah Dasar namun tidak
melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya, dan tamatan Sekolah Menengah Pertama. Setiap
tahap dalam proses kegiatan pembelajaran, peserta selalu menunjukkan semangat dengan fokus
mengikuti setiap rangkaian pembelajaran. Belum lagi, perkumpulan komunitas yang tergabung
dalam Sekolah Bahari Citemu ini selalu mengundang pertanyaan bagi warga setempat bahkan
memunculkan ketertarikan bagi anak-anak remaja yang belum tergabung untuk turut serta.

Dalam tahap demi tahap kegiatan Sekolah Bahari Citemu diharapkan peserta dampingan memiliki
soft skill yang memadai terutama pengetahuan dalam hal mengatur keuangan. Sehingga
diharapkan peserta dapat survive keuangan disaat kondisi kelautan yang sedang paceklik.
Kesadaran penuh terhadap pengaturan pola konsumsi dan keuangan ini diharapkan mampu
menghindarkan anak-anak remaja nelayan keluar dari kebiasaan berhutang kepada rentenir atau
lainnya. Kegiatan dampingan yabg dilakukan melalui komunitas Sekolah Bahri Citemu juga
diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran remaja terhadap pengetahuan umum dan sosial
keagamaan. Pendidikan berbasis soft skill ini juga diharapkan mampu menjadi sistem imun bagi
peserta dampingan untuk dapat mengontrol pergaulannya dalam pola hidup yang sudah terbentuk
dengan kultur yang kuat, serta menumbuhkan inovasi peserta dampingan untuk berkarya.

E. Strategi Yang Dilakukan


Strategi yang dilakukan dalam pendampingan anak-anak remaja nelayan ialah dengan
menggunakan metode community organizing. Metode ini memiliki makna sebagai suatu cara
pendekatan bersengaja dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka
memecahkan berbagai masalah masyarakat tersebut. (Jo Hann Tan dan Roem Topatimasang, 2003:
5). Selain itu community organizing juga diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh
sekelompok warga masyarakat yang didorong oleh kesadarannya tentang berbagai persoalan
dimasyarakatnya, kemudian berupaya melakukan perubahan bersama-sama masyarakatnya
dengan menggunakan segala potensi yang dimiliki oleh masyarakat tersebut. dalam hal ini
pendamping memosisikan diri sebagai masyarakat setempat dan belajar bersama masyarakat
setempat, khusunya pemuda dan remaja untuk menumbuhkan kesadaran terhadap persoalan serta
mengupayakan solusi atas persoalan yang sedang mereka hadapi datang dari diri mereka sendiri.
Mengingat persoalan yang sedang dihadapi oleh remaja adalah pergaulan bebas, maka melalui
strategi dilakukan dengan membentuk pendidikan berbasis soft skill.

Pendidikan berbasis soft skill yang diperuntukkan bagi remaja nelayan desa Citemu yang
terselenggara antara lain: pembentukan komunitas Sekolah Bahari Citemu, sebagai wadah bagi
pemuda Citemu yang memiliki perhatian penuh terhadap persoalan pemuda dan remaja akibat
pergaulan bebas. Kegiatan diskusi ilmu pengetahuan umum, calistung, serta kegiatan diskusi sosial
keagamaan yang berfungsi menguatkan sisi pengetahuan remaja sebagai imunitas dalam
pergaulan. Selain itu kegiatan pembelajaran dalam Sekolah Bahari Citemu ini juga dilakukan
dengan pelatihan management keuangan dan life skill seperti pelatihan service handphone dan
kewirausahaan.
F. Pihak-pihak yang Terlibat dan Bentuk Kegiatan
1. SDA (Saung Daulat Amparjati): Terdiri dari mahasiswa yang tergabung dalam organisasi
Saung Daulat Amparjati yang melakukan assessment dan pemetaan terkait persoalan dan
kondisi yang sedang dihadapi oleh anak-anak remaja nelayan, beserta supporting system
kegiatan seperti penyediaan sarana dan prasana kegiatan diskusi keagamaan.
2. Komunitas Sekolah Bahari Citemu: yakni terdiri dari pemuda dan sukarelawan yang
memiliki kepedulian dan secara suka rela mengupayakan berbagai kegiatan pendidikan
alternatif untuk remaja nelayan. Upaya penuh pemuda setempat dimulai dari penyuluhan
atau pendekatan kepada orang tua dan remaja-remaja dampingan hingga pelaksanaan
kegiatan pendidikan dengan mengupayakan berbagai kebutuhan kegiatan.
3. Masyarakat: Yakni masyarakat setepat yang telah memberikan izin tempat untuk kegiatan
pembelajaran dan orang tua peserta yang telah mengizinkan anak-anaknya utuk turut
terlibat dalam kegiatan.