Anda di halaman 1dari 15

Keong Mas

Keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) atau dikenal GAS (golden apple snail) sering
dianggap biang kegagalan panen padi. Keong mas merupakan salah satu jenis moluska.
Selain menjadi hama padi, keong mas sebenarnya juga memiliki potensi ekonomi cukup
tinggi kalau bisa memanfaatkannya.

Keong ini berasal dari rawa-rawa di Amerika Selatan seperti Brazil, Suriname, dan
Guatemala. Pertama kali, keong mas didatangkan dari Taiwan sekitar tahun 1980-an. Tahun
1981, hewan ini diintroduksi ke Yogyakarta sebagai fauna akuarium. Sekitar tahun 1985-
1987, hewan ini menyebar dengan sangat cepat dan populer di Indonesia.

Mengenal dekat

Moluska jenis ini hidup di perairan jernih, bersubstrat lumpur dengan tumbuhan air yang
melimpah. Menyukai tempat-tempat yang aliran airnya lambat, drainase tidak baik dan tidak
cepat kering. Keong mas dapat bertahan hidup sampai 6 bulan di dalam tanah yang
mengalami kekeringan. Hewan ini dapat hidup pada air yang memiliki pH 5-8, serta toleransi
suhu antara 18-28 derajat Celsius. Pada suhu lebih tinggi, keong mas makan lebih cepat,
bergerak lebih cepat, dan tumbuh lebih cepat. Pada suhu yang lebih rendah, keong mas
masuk ke dalam lumpur dan menjadi tidak aktif. Pada suhu di atas 32 derajat Celcius, hewan
ini memiliki tingkat mortalitas yang tinggi.

Keong ini termasuk hewan berjenis kelamin tunggal. Perkawinan keong mas dapat dilakukan
sepanjang musim. Seekor keong mas mampu memproduksi sekitar 1.000-1.200 butir telur
tiap bulan atau 200-300 butir tiap minggu. Stadium paling merusak ketika keong mas
berukuran 10 mm (kira-kira sebesar biji jagung) sampai 40 mm (kira-kira sebesar bola
pingpong).

Di awal siklus hidupnya, induk keong meletakkan telur di tumbuhan, galengan dan barang
lain seperti ranting dan air pada malam hari. Telur menetas setelah 7-14 hari. Menurut
Susanto (1995), keong mas muda yang baru menetas dari telur berukuran 1,7-2,2 mm
langsung meninggalkan cangkang telur dan masuk ke dalam air. Dua hari kemudian,
cangkang keong tersebut menjadi keras.

Keong mas muda berukuran 2-5 mm telah memakan alga dan bagian tanaman yang lunak.
Pertumbuhan awal berlangsung selama 15-25 hari. Pada umur 26-59 hari, keong mas sangat
rakus mengkonsumsi makanan, sedangkan setelah berumur 60 hari, keong mas siap untuk
berkembang biak. Keong mas memerlukan sekitar 3-4 jam pada saat mengadakan perkawinan
di daerah yang senantiasa mendapatkan air sepanjang tahun (Gambar 2).

Keong mas dewasa memiliki cangkang yang berdiameter sekitar 4 sentimeter dan berat 10-20
gram. Pertumbuhan cangkang dipengaruhi oleh ketersediaan kalsium sebagai bahan
pembentuk cangkang. Selain itu, lingkungan yang kaya dengan zat-zat makanan akan
membentuk cangkang yang lebih besar, tebal dan kuat. Hewan ini dapat hidup 2-6 tahun
dengan fertilitas yang tinggi.

Hama unggul padi


Hewan ini dapat menyerang tanaman padi muda, baik di persemaian maupun bibit yang baru
dipindahkan ke sawah. Dengan kepadatan populasi sekitar 10-15 ekor per meter persegi,
keong mas mampu menghabiskan padi muda dalam waktu 3 hari jika air sawah dalam
keadaan tergenang dan menimbulkan kerusakan yang cukup berat bagi daerah persawahan
(Ismon, 2006). Para petani juga kerap kehilangan bibit yang ditanam dan harus menyulamnya
kembali.

Mulanya keong mas disenangi masyarakat, tapi lama-kelamaan akibat dibiarkan lepas tanpa
pengawasan, hewan ini masuk ke sawah dan menjadi hama utama tanaman padi. Tahun 1986,
tercatat sekitar 300 hektar sawah irigasi di wilayah Filipina mengalami rusak berat. Tahun
1987 serangan meningkat, menjadi sekitar 9.000 hektare, dan bulan Januari 1990 sudah
mencapai 350.000 hektare. Dari 3 juta hektare sawah di Filipina, sekitar 1,2 sampai 1,6 juta
hektare terserang keong ini. Pada tahun 1990, sekitar 212 juta Peso diperlukan untuk
mengendalikan hama ini.

Pada tahun 1989, Badan Pangan Dunia (FAO) menduga bahwa kekurangan hasil panen yang
disebabkan hama ini berkisar antara 1-40 persen dari areal sawah di Filipina, sehingga
menyebabkan kehilangan produksi cukup besar. Di negeri kita kasus kegagalan panen hampir
terjadi di seluruh provinsi, mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi sampai Papua.

Di Indonesia khususnya di Kabupaten Lampung Selatan pernah dilaporkan bahwa sampai


bulan Juni 1992, serangan keong mas telah mencapai 4.500 hektare dengan rata-rata
populasinya antara 2-23 ekor per meter persegi. Menurut Susanto (1995), sejak keong mas
dibudidayakan pada tahun 1987 dan diadakan pemantauan sekitar tahun 1990, tercatat 8
provinsi sudah terkontaminasi keong mas. Daerah tersebut adalah Sumatera Utara, Jambi,
Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Akhir-
akhir ini penyebarannya semakin luas, bahkan sampai wilayah Kalimantan, Sulawesi dan
wilayah lainnya. Keong mas sangat mengganggu lahan pertanian sehingga disebut hama
unggul, karena memakan segala tanaman terutama tanaman padi muda dan bibit.

Sumber protein alternatif

Dalam pengelolaan populasi keong mas di alam sedikitnya ada dua hal yang perlu
diperhatikan, yaitu sebagai hama padi yang rakus, dan sebagai suatu potensi sumber protein,
pakan ternak, ikan, kepiting, udang atau diolah menjadi makanan yang lezat dan berprotein
tinggi yang bermanfaat sebagai sumber dana masyarakat. Sudarto (1991) berpendapat bahwa
keong mas mempunyai kandungan protein yang tinggi sehingga tidak heran jika di Filipina
binatang ini dikembangkan sebagai konsumsi untuk manusia dan ternak.

Dharitri (1995), proporsi daging keong mas hanya sekitar 18 persen dari total berat keong
mas hidup. Daging keong mas yang mempunyai kadar protein sekitar 54 persen (bobot
kering) dapat diberikan langsung kepada ikan atau dapat diolah terlebih dahulu menjadi
konsentrat sebagaimana pengolahan produk tepung ikan. Dalam percobaannya terhadap
udang (Penaeus monodon), Bombeo-Turuban (1995) membandingkan asam amino esensial
daging udang dengan asam amino daging keong mas yang mempunyai essential amino acid
index (EAAI) sekitar 0,84. Efisiensi pakan pada budidaya perikanan tergantung dari
kesamaan profil asam amino pakan dengan ikan yang diberi pakan tersebut.

Untuk keperluan sumber pakan ternak, pakan ikan, bahan makanan, obat-obatan dan untuk
kegiatan ekonomi lainnya, pengadaan keong mas dalam jumlah besar dan kontinu sangat
mungkin dilakukan, karena hampir semua persyaratan biologis untuk menjadikannya sebagai
hewan peliharaan telah terpenuhi. Keong mas dapat hidup di berbagai perairan umum,
mempunyai pertumbuhan pesat, reproduksi cepat dan pemeliharaannya relatif mudah
termasuk di kolam budidaya.***

Dr. Ir. Sulistiono


Peneliti dan Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB).

Dalam konsep pengelolaan, kita tidak hanya terbatas pada pemberantasan dan pengendalian
populasi keong tersebut, namun juga pemanfaatan biota terebut sebagai sumber ekonomi bagi
masyarakat. Beberapa jenis pemanfaatan keong mas tersebut disampaikan sebagai berikut:

Pengembangan pakan ternak

Pada pengembangan ternak itik, keong mas (setelah dicincang) merupakan makanan
campuran sebagai sumber protein yang murah. Selain mengandung banyak protein, keong
mas juga kaya akan kalsium. Keong mas dapat juga dijadikan tepung, setelah direbus,
dikeringkan dan digiling terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan dedak padi dan menir
dengan perbandingan masing-masing 3,4 persen, 73,3 persen, dan 23,3 persen (Bagus, 1999).

Penggunaan keong mas sebagai makanan itik sebagai sumber protein hewani telah dilakukan
sejak tahun 1985 (Kompiang dkk., 1985). Akhir-akhir ini banyak wilayah padi dan wilayah
ternak itik seperti halnya di daerah Banten, Jawa Tengah, Riau, dan beberapa daerah di
Sulawesi dan Kalimantan telah memanfaatkan keong mas ini sebagai sumber pakan itik. Di
Sumatra Selatan, pemberian ramuan keong mas 10% memberikan pertumbuhan yang baik
bagi itik pada periode layer (bertelur). Di Pasaman, penggunaan keong mas untuk pakan itik
mampu menaikkan hasil telurnya mencapai 80 persen.

Pemberikan tepung keong mas pada peternakan ayam broiler juga telah dilakukan oleh
Widyatmoko (1996). Tepung tubuh dan cangkang keong mas memberikan nilai pertumbuhan
yang cukup baik bagi peternakan ayam. Hal yang cukup mengejutkan bahwa penggunaan
tepung yang berasal dari cangkang keong mas juga memberikan nilai pertumbuhan yang
bagus. Selain dalam bentuk tepung, silase daging keong mas juga telah terbukti menjadi
sumber pakan ternak bagi ruminansia dan ayam buras (BP2TP Sumatra Utara, 2006). Pakan
yang berbasis protein keong mas pernah diujicobakan pada peternakan burung puyuh
(Coturnix coturnix) dan memberikan pertumbuhan yang baik.

Keong mas sebagai sumber pakan ikan dan organisma perairan lainnya saat ini sudah mulai
banyak dilakukan oleh berbagai kalangan para pembudi daya. Pada pemeliharaan ikan patin
(Pangasius sp.) tepung keong mas sejak tahun 1999 telah diujicobakan. Pada penggantian
kandungan tepung ikan menjadi tepung keong mas sebanyak 25-75 persen memberikan
pengaruh yang cukup baik terhadap laju pertumbuhan harian individu, efisiensi pakan, retensi
protein dan retensi lemak (Sholikhati, 1999). Keong mas yang dipotong-potong kemudian
ditaburkan pada kolam ikan patin juga telah dilakukan oleh para petani di Kabupaten
Bengkalis.
Pemeliharaan ikan patin (Pangasius sp.) di Bengkalis, dengan pakan keong mas memberikan
hasil yang cukup baik bagi pertumbuhan ikan tersebut. Pada budi daya ikan nila (Orochromis
niloticus), komposisi 50% tepung ikan dan 50% telung keong mas memberikan pertumbuhan
yang cukup baik, dengan nilai konversi pakan yang rendah (Abdullah,2000). Di Medan,
pakan ikan mas dibuat ransumnya dari keong mas. Dalam pembuatan pakan ikan mas, dapat
diperoleh sekitar 170 kg tepung keong mas/minggu.Pada pemeliharaan ikan gabus (Chana
striata) yang diberi pakan keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup baik. Selain itu,
pakan yang dibuat dari keong mas juga telah dilakukan pada pemeliharaan ikan sidat
(Anguilla sp.).

Penggunaan keong mas untuk pakan Krustase telah dibuktikan pada udang dan kepiting. Pada
budi daya udang windu, penggunaan pakan keong mas sudah dilakukan dalam uji coba oleh
Bombeo-Tuburan dkk. pada tahun 1995. Pada pematangan gonad kepiting bakau (Scylla spp.)
di Pantai Mayangan (Subang) dapat diketahui bahwa pemberian pakan berupa keong mas
dapat mempersiangkat sampai 1/3 kali masa pemeliharaan dibandingkan dengan pemberian
pakan yang berasal dari ikan. Penggunaan keong mas untuk pakan lobster air tawar telah
diujicobakan di suatu universitas di Yogyakarta dan juga telah dilakukan oleh beberapa
petani yang membudi daya lobster.

Sumber makanan dan obat-obatan

Keong mas mengandung protein yang cukup tinggi. Dari hasil uji proksimat dapat diketahui
bahwa kandungan protein bisa mencapai 16-50 persen. Sebagai sumber protein masyarakat,
keong mas merupakan makanan yang cukup bergizi. Di Kudus dan beberapa daerah di
Indonesia, jenis keong ini merupakan sumber makanan dengan cara direbus atau diberi
bumbu rica-rica. Seperti halnya jenis keong sawah (Bellamnya javanica), jenis keong mas
memiliki rasa yang cukup lezat dengan olahan dalam berbagai hidangan antara lain: sate
keong, pepes keong, sambel keong, dan aneka menu keong mas lainnya.

Selain sebagai makanan, keong mas juga berfungsi sebagai bahan obat. Keong mas di
beberapa daerah juga sudah diolah manjadi dendeng, dengan pemberian berberapa bumbu
atau rempah-rempah yang cukup digemari. Nursanti (2006) telah melakukan penelitian untuk
pendayagunaan keong mas sebagai bahan alternatif pembuatan kecap yang memiliki nilai
protein cukup tinggi. Berbagai bentuk olahan keong mas tersebut selain sumber protein yang
cukup murah dan terjangkau, juga telah lama dipercaya oleh masyarakat bahwa keong mas
dapat digunakan untuk mengobati penyakit kuning ataupun liver (Sihombing, 1999).

Pengontrol inang perantara

Jenis keong mas merupakan hewan yang dapat dipergunakan untuk mengontrol jenis keong
Bulinus sp. dan Biophalaria sp. yang merupakan inang perantara parasit trematoda. Parasit
ini dapat menyebabkan para perenang terkena penyakit gatal dan schistosomiasis, penyakit
yang telah mengenai pada lebih dari 200 juta penduduk tropis. Kehadiran keong mas, pada
sisi ini dapat menghindarkan masyarakat kita akan terkenannya penyakit tersebut.***

Dr. Ir. Sulistiono


Peneliti dan Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB)
DALAM mengendalikan hama keong mas, umumnya para petani memilih menggunakan
moluskisida sintesis yang berharga mahal, berspektrum luas, dan mengganggu organisme
nontarget dan juga manusia untuk mengendalikan hama keong mas. Dalam kaitannya dengan
pengendalian keong mas, cara-cara yang lebih aman, seperti halnya secara fisik (penggunaan
saringan), mekanis (pengambilan langsung) maupun secara biologis (pemberian tanaman
yang tidak disukai di saluran-saluran, penggembalaan itik, penanaman bibit yang cukup
kuat/tua, dll) lebih direkomendasikan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk
mengendalikan keong mas.

1. Pengambilan keong mas secara langsung dengan tangan dari sawah pada pagi dan sore hari
ketika keong dalam keadaan aktif dan mudah diambil. Di Provinsi Gorontalo, kelompok tani
bekerja sama dengan LSM mengadakan lomba pemungutan keong mas antarkelompok tani.
Di Tangerang, keong diambil satu per satu, dimasukkan dalam ember dan dijual dengan
harga Rp 300,00 per kilogram ke peternak bebek. Di Brebes, seorang petani bisa
mengumpulkan sekitar 2 ember keong mas, dan di Kecamatan Margadana (Tegal), seorang
petani dapat mengumpulkan keong mas rata-rata hampir sekitar 20-30 kilogram selama 4
jam.

2. Menggunakan tumbuhan yang mengandung racun bagi keong mas. Misalnya daun
sembung (Blumea balsamifera), daun/akar tuba, daun eceng gondok (Monochoria vaginalis),
daun tembakau (Nicotiana tabacum), daun calamansi atau jeruk (Citrus microcarpa), daun
makabuhay (Tinospora rumphii), dan cabai merah. Selain itu, beberapa tanaman lain yang
juga dapat digunakan untuk memberantas keong mas adalah starflower (Calotropis gigantis),
nimba (Azadirachtha indica), dan asyang (Mikania cordata) yang mengandung bahan yang
dapat membunuh keong mas. Berbagai tumbuhan tersebut dianjurkan diaplikasikan sebelum
penanam padi. Saluran kecil dibuat agar keong mas berada di dalam saluran tersebut dan
selanjutnya di atas saluran tersebut tempatkan tumbuhan yang disebutkan di atas.

3. Menggunakan atraktan seperti daun talas (Cococasia esculenta), daun pisang (Musa
paradisiaca), daun pepaya (Carica papaya), bunga terompet, dan koran bekas, supaya mudah
mengumpulkan keong tersebut. Daun sebagai atraktan diletakkan dalam petakan sawah
secara berjejer, berjarak 1-2 meter antar umpan, yang dilakukan sebelum panen sampai 5
minggu setelah tanam. Jumlah atraktan sebagai umpan yang diperlukan sekitar 40 kilogram
per hektare. Tinggi air di sawah disarankan sekitar 5-10 centimeter (BP2TP NAD, 2004)

4. Selama menggaru terakhir perlu dibuatkan caren yang dalam (sedikitnya lebar 25
centimeter dan dalamnya 5 centimeter). Jarak antara larikan 10-15 meter. Demikian juga,
perlu dibuatkan saluran kecil (sedikitnya lebar 25 centimeter, dan dalamnya 5 centimeter)
sepanjang tepi sawah. Saluran caren juga berfungsi untuk penjebakan terhadap keong mas, di
mana keong mas akan pindah ke dalam saluran tersebut, jika permukaan air berkurang dan
dapat dilakukan pengumpulan.

5. Meletakkan kawat kasa atau anyaman bambu pada pemasukan dan pengeluaran air utama,
untuk mencegah masuknya keong mas kecil dan dewasa. Cara ini juga untuk mengambil
keong mas yang terperangkap.

6. Pagar plastik dapat digunakan untuk mencegah masuknya keong mas ke dalam areal
persawahan.
7. Batu tohor sebanyak 50-100 kg/ha dapat ditebarkan pada lahan persawahan untuk
mengurangi dan mematikan keong mas.

8. Jika keong mas merupakan masalah yang besar, kita menanam padi yang berumur 25-30
hari setelah tanam. Di persawahan yang berada di dataran tinggi digunakan bibit yang
berumur 30 sampai 35 hari setelah tebar yang berumur panjang.

9. Menancapkan ajir bambu sebagai perangkap telur di sawah yang selalu tergenang atau
pada saluran pengairan untuk menarik keong mas dewasa bertelur. Dengan cara ini kelompok
telur muda dapat terkumpul untuk kemudian diambil dan dihancurkan. Panjang kayu
perangkap sekitar 1-1,5 meter, dengan diameter 1-3 centimeter, dan jarak antara tiang
perangkap sekitar 2-3 meter. Dalam 1 hektare diperlukan sekitar 200 batang dan ketinggian
air dalam petak sawah dianjurkan sekitar 5-10 centimeter (BP2TP NAD, 2004).

10. Mempertahankan air agar tidak terlalu tinggi (2-3 centimeter) mulai 3 hari tanam

11. Mengeringkan sawah berkali-kali untuk mengurangi aktivitas perpindahan dan perusakan.
Jika petani menanam dengan sistem tanam pindah, maka 15 hari setelah tanam pindah, sawah
perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian (flash flood intermitten
irrigation). Bila petani menanam dengan sistem tabela (tanam benih secara langsung), selama
21 hari setelah tebar benih, sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara
bergantian (BPTP, 2003).

12. Mempergunakan varietas yang beranak banyak dan kurang disukai keong mas seperti
PSB, Rc36, Rc38, Rc40, dan Rc 68.

13. Beberapa predator keong mas adalah burung dan itik, kura-kura, ikan serta insekta.
Penggembalaan itik di lahan persawahan, merupakan pengendalian yang efektif, dengan
tanpa merusak padi yang telah ditanam. Sistem ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan
ISG (itik sistem gembala). Penebaran jenis ikan tertentu yang dapat memakan keong mas
(dan juga telurnya) akan memberikan keuntungan dalam pengendalian populasi keong
tersebut. Jenis ikan-ikan yang mampu memakan keong mas ataupun juga telur keong mas
tersebut antara lain Botia sp; Tetraodon sp; Bunocephalus sp., dan Leiocassis sp (sejenis lele-
lelean); kelompok Cichlidae, kelompok gurami (gurami, sepat), beta, dan lain-lain. Sistem ini
telah lama dikenal masyarakat Indonesia dengan nama mina-padi. Pada sistem ini,
manajemen air untuk memberi kemungkinan dapat memakan telur juga mesti dilakukan,
sehingga peluang menetas dan berkembang biak keong dapat diputuskan.

14. Penggunaan bahan kimia yang tidak merusak lingkungan dapat juga direkomendasikan.
Asam anakardat yang diekstrak dari minyak kulit jambu mete, telah diuji-cobakan dan dapat
membunuh keong mas (Rudyanto dan Mercellino, 2006). Teaseed meal merupakan obat yang
umum di pasaran, untuk membunuh keong mas, dengan harga sekitar Rp 3.000,00,- per
kilogram. Selain itu, dapat juga digunakan saponin, tembakau, dan bibit pinang sebagai bahan
pengendali (pembunuh) keong mas.***

Dr. Ir. Sulistiono


Peneliti sekaligus Ketua Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB)
Keong mas merupakan hama yang saat ini sering membuat para petani resah , oleh
karena itu untuk mengatasinya diperlukan ketekunan dan kegiatan rutin yang perlu
dilakukan. Para petani memerlukan cara yang tepat untuk mengatasi dan memberantas hama
yang satu ini. Hama keong mas dapat diatasi dengan beberapa cara yang mudah tanpa biaya.
Namun juga ada beberapa penanganan yang memerlukan biaya dalam menangani hama yang
satu ini. Tergantung dengan situasi populasi keong mas yang menyerang tanaman seberapa
banyaknya.

Terdapat beberapa tahap/cara untuk mengatasi hama keong mas ini secara sederhana dan
mudah, yaitu:

 Mengambil keong mas yang menempel pada tanaman pada saat dia masih bergerak
aktif. Biasanya dilakukan pada pagi hari dan sore hari. Hal ini perlu dilakukan secara
rutin.
 Menggunakan tumbuh-tumbuhan yang mengandung zat berupa racun bagi hama
keong mas tersebut. beberapa tanaman yang mengandung racun: Cabai merah, daun
enceng gondok, daun jeruk, daun tembakau, makabuhay, dll.
 Menggunakan atraktan yang menyerupai daun talas, pepaya, pisang, kertas koran
untuk mengumpulkan keong tersebut. Diletakkan berjejer pada petakan sawah dengan
jarak 1-2 meter dari umpan.
 Mempertahankan air agr tidak tinggi melebihi 3 centimeter karena keong mas
menyukai tanaman yang lembab atau dengan cara mengeringkan tanah.
 Menggunakan teknik menanam mundur agar dapat mengawasi tanaman yang telah
ditanam petani.

Cara lain untuk mengatasi hama tanaman yang satu ini adalah dengan membiarkan predator
memangsanya atau memelihara predatornya agar populasi hama keong mas ini berkurang
atau hilang dari lingkungan sawah. Dengan cara tersebut dapat mengimbangi jumlah populasi
keong mas yang begitu banyak , jika para petani lelah mengatasi hama ini. Predator yang
tepat untuk memberantas hama keong mas adalah burung, itik, kura-kura, ikan dan insekta.
Pengendalian ini merupakan salah satu yang paling efektif untuk diterapkan petani serta tidak
menimbulkan kerusakan pada tanaman yang ada.
Bila langkah-langkah diatas tidak berhasil, pergunakan pestisida yang dibeli pada tempat
terpercaya dan diperlukan perhatian dalam penggunaannya. Agar tidak mengenai tumbuhan
yang ditempeli hama tersebut dan tidak menimbulkan kematian pada tanaman yang sedang
bertumbuh. Obat yang dapat digunakan untuk membunuh keong mas tanpa membunuh
tanaman ataupun menimbulkan kerusakan lingkungan adalah tea seed meal yang mudah
untuk ditemukan para petani dipasaran. Selain itu ditemukan bahan kimia yang ramah
lingkungan merupakan gabungan dari asam anakardat dan ekstrak dari kulit buah jambu
mete.

Cara Pengendalian Keong Mas Pada Tanaman Padi (Oryza sativa)

Keong mas (Pomacea canaliculata L) merupakan salah satu hama yang


merusak tanaman padi, hama ini berasal dari Amerika Selatan. Di Indonesia sendiri keong
mas mulai berkembang pada tahun 1980-an, keong mas dijadikan bahan pangan karena
banyak mengandung protein.
Penyebaran hama keong mas saat ini sangat pesat perlu adanya kewaspadaan
terhadap perkembangannya karena hama keong mas ini menyerang tanaman padi pada awal
pertumbuhan. Ada bebera metode untuk pengendalian hama keong mas ini antara lain
sebagai berikut.
1. Pengendalian secara mekanis
Pengendalian secara mekanis diawal sebelum penanaman yaitu pengolahan lahan.
Pengolahan lahan dilakukan dengan cara membajak setelah dibajak kemudian telur-telur
keong mas dipecahkan didalam lumpur, selain itu juga sanitasi gulma. Yang terpenting
adalah saluran air pada irigasi harus dibuat alat penyaringan. Sehingga meminimalkan keong
mas masuk ke dalam sawah.
2. Tanaman inang
Pemberian tanaman inang dapat dilakukan tanpa harus menanam di tengah sawah yaitu cukup
hanya memberi daunnya saja ke dalam petakan sawah. Karena keong mas akan mudah
menempel pada daun yang diberi sehingga memudahkan dalam memungut keong mas.
3. Pengendalian dengan musuh alami
Hama keong mas memiliki musuh alami seperti penyu dan kepiting. Pemberian musuh alami
dilakukan agar populasi hama keong mas tidak terlalu banyak dan menjaga ekosistem tanpa
merusak lingkungan.
4. Beternak bebek disawah
Beternak bebek disawah merupakan alternative selain untuk mengelolah hama keong juga
untuk penyedian bahan pakan pada ternak bebek.
5. Pengendalian dengan pestisida nabati
Ada beberapa jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati antara lain
tanaman widru, tanaman tuba, tanaman tembakau, dan masih banyak tanaman yang lain yang
dapat digunakan sebagai pestisida nabati.

Daging keong mas, selama ini masih belum mendapat perhatian oleh masyarakat
atau cenderung masih diabaikan. Keong mas secara umum berkedudukan sebagai
hama tanaman padi di sawah dan mampu merusak tanaman padi dengan tingkat
kerusakan yang parah. Hal ini mengakibatkan minornya tanggapan masyarakat pada
spesies keong mas ini.

Gambar Daging Keong Emas


Harian Pelita, edisi Jum’at,13/4, memuat penjelasan dari Dr Ir Sulistiono, MSc, Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya
Perairan (MSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), bahwa kandungan gizi daging keong
mas (yang sudah dihilangkan bagian kelenjar racunnya) diketahui mengandung asam omega 3, 6 dan 9.

Omega-3 adalah asam lemak dianggap salah satu asam lemak penting (esensial), karena tubuh kita tidak dapat
membuatnya, sehingga harus di suply dari nutrisi atau makanan yang kita konsumsi. Hal ini terutama terkenal karena
menjadi agen anti-inflamasi, yang dapat meringankan sejumlah kondisi medis. Selain itu, ia melawan sifat pro-
inflamasi omega-6. Dalam hal manfaat rambut manfaatnya :
1. Elastisitas rambut meningkat (Mengurangi kerusakan)
2. Memelihara folikel rambut
3. Dapat membantu pertumbuhan rambut
4. Meningkatkan kekuatan rambut dan ketebalan
5. Mencegah atau membalikkan rambut rontok
6. Meningkatkan terkelupas / dry kulit kepala
7. Meningkatkan sirkulasi kulit kepala
Jika rambut adalah hal penting bagi perempuan, bahkan laki-laki, maka daging keong emas sebagai sumber asam
omega 3 menjadi sangat penting bagi manusia.

Omega 6

Omega-6 adalah asam lemak esensial yang lain, dimana tubuh kita tidak dapat menghasilkan sendiri sehingga harus
diberikan dari nustrisi yang kita makan. Ini mendukung perkembangan otak, sistem kekebalan tubuh, dan membantu
mengatur tekanan darah. Ketika datang ke rambut, omega-6:

1. Kontrol kehilangan air di rambut


2. Merangsang pertumbuhan rambut
3. Kontrol / membantu meningkatkan eksim dan kondisi kulit / kulit kepala yang sama
Pentingnya kecerdasan otak, kekebalan tubuh terhadap kuman, dan keindahan rambut bagi manusia, menjadikan
daging keong mas juga menjadi penting sebagai sumber asam omega 6.

Omega 9

Omega-9 adalah asam lemak non-esensial, karena tubuh kita mampu menghasilkan itu dari lemak tak jenuh. Omega-
9 membantu mengatur kolesterol jahat dan mendukung fungsi kekebalan tubuh. Omega-9 di rambut:

1. Kontrol kehilangan air di rambut


2. Membuat rambut lebih lembut dan lebih lentur

Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa asam omega 3, 6, dan sembilan merupakan nutrisi yang sangat amat penting bagi tubuh
dan kecantikan. Tubuh manusia yang tidak mempu menghasilkan sendiri nutrisi tersebut menuntut kita agar mampu
memberikan tubuh asam omega 3, 6, dan 9 dari nutrisi yang kita makan. Dengan demikian, maka daging keong mas
merupakan salah satu solusi penting sebagai nutrisi yang kita makan untuk mensuplai asam omega 3, 6, dan 9 guna
membangun kecerdasan otak, kekebalan tubuh, dan kecantikan rambut.

Dari hasil uji proksimat, kandungan protein pada daging keong mas berkisar antara 16 hingga 50 persen. Di beberapa
daerah, daging keong mas diolah menjadi berbagai jenis masakan seperti sate, pepes, sambal keong, hingga kecap keong.
Masyarakat juga percaya, keong mas dapat digunakan untuk mengobati penyakit lever meski belum ada pembuktian ilmiah
mengenai khasiat ini (https://de-
de.facebook.com/ilmupengetahuanindonesia/posts/303684919691782).

Keong mas juga mengandung zat gizi makronutrien berupa protein dalam kadar yang cukup tinggi pada dagingnya.
Berat daging keong emas satu ekor keong dewasa dapat mencapai 4-5 gram. Keong emas juga mengandung mikronutrien
berupa mineral yakni kalsium yang berguna untuk tubuh manusia. Bila diolah dengan cara tepat, keong dapat menjadi sumber
protein hewani yang berkualitas tinggi, meski berharga rendah di pasar tradisional. Bahkan daging keong mas jauh lebih
murah dibanding daging ayam, kambing, kerbau dan daging sapi.

Berbagai bentuk olahan keong mas tersebut selain sumber protein yang cukup murah dan terjangkau, juga telah
lama dipercaya oleh masyarakat bahwa keong mas dapat digunakan untuk mengobati penyakit kuning ataupun liver.

PENTING!!

Keong mas sering disebut dengan Keong Racun sehingga bila pengolahannya tidak
mengikuti cara yang benar akan dapat mengakibatkan keracunan tingkat ringan sampai
sedang bagi orang yang memakannya. Cara pengolahan harus dilakukan dengan
menghilangkan bagian sentil racun. Untuk keamannya, anda dapat memesan Daging
Keong Emas untuk meningkatkan gairah sexual dari kami, dimana kami sudah
menghilangkan bagian-bagian beracun pada keong emas sehingga aman untuk dikonsumsi.

Untuk mendapatkan daging keong mas yang sudah aman untuk dikonsumsi, silahkan
memesan pada kami: SMS: 085865245388

Manfaat Daging Keong Mas Dan Kandungan Gizinya – Jangan hanya karena lagu Keong
Racun, lalu serta merta beranggapan negatif terhadap binatang keong. Memang, jenis Keong
Mas atau Pomacea Canaliculata kerap dianggap hama oleh petani karenamemakan tanaman
padi. Binatang bercangkang ini adalah jenis siput sawah dengan warna cangkang keemasan.

Daging keong ternyata memiliki banyak kandungan gizi, dagingnya mengandung protein
hewani sangat tinggi. Sejak dulu keong sering dimanfaatkan untuk pakan ternak. Namun kini
daging keong lazim dikonsumsi masyarakat, malah ada pula yang sudah diolah menjadi
penganan lezat. Daging keong dapat diolah menjadi: keripik, kerupuk, tepung, pepes, kecap,
tongseng, dan juga sate keong. Dokter Tri Hendro, dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara
menyebutkan kandungan gizi keong mas sangat tinggi.

Pendapat tersebut diperkuat oleh Dr Ir Sulistiono.MSc, ketua Departemen Manajemen


Sumberdaya Perairan (MSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor
(IPB). Menurut beliau, unsur gizi keong mas diketahui mengandung asam Omega 3, 6 dan 9.
Dari hasil uji proksimat, kandungan protein pada keong mas berkisar antara 16 hingga 50
persen. Protein berperan penting dalam pembentukan sistem kekebalan (imunitas), sebagai
antibodi, dan sistem kendali dalam bentuk hormon. Setiap orang dewasa sedikitnya wajib
mengonsumsi 1 g protein per kg berat tubuhnya.

Keong juga kaya akan kalsium. Di samping itu juga mengandung zat gizi makronutrien.
Berat daging satu ekor keong dewasa dapat mencapai 4-5 gram. Kabar baiknya adalah daging
keong jauh lebih murah dibanding daging ayam, kambing, kerbau dan daging sapi. Dan bagi
kita yang termasuk umat Muslim, tidak usah khawatir, daging keong ini halal untuk
dikonsumsi. KH. Fatkhutozzi, salah seorang pengurus MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jepara
menyatakan daging keong mas tidak haram. Dari pandangan fiqih, binatang yang tidak
bertulang belakang Ini hidup di satu alam, sehingga tidak masalah jika dimakan.
Topik yang serupa dengan artikel Manfaat Daging Keong Mas Dan Kandungan Gizinya ini,
dapat Anda temukan dalam kategori Manfaat dan Khasiat Hewan.

Siapa yang tak mengenal Keong Mas? Binatang yang satu ini dapat kita temukan di
persawahan, rawa-rawa maupun di dekat sungai hampir di seluruh Indonesia. Binatang ini
kerap diburu para petani karena dianggap sebagai hama yang dapat merusak tanaman padi
muda dalam satu malam. Dalam kondisi lapang, 6 ekor keong mas per meter persegi mampu
mengurangi hasil panen padi sebanyak 15% dan kerusakan yang ditimbulkan berlangsung
hingga 50 hari setelah penanaman.

Akan tetapi tahukah Agan bahwa hama yang satu ini ternyata memiliki kandungan gizi yang
tinggi. Dari hasil uji proksimat, kandungan protein pada keong mas berkisar antara 16 hingga
50 persen dan hampir 40% berat tubuhnya terdiri atas protein yang merupakan zat
pembangun makhluk hidup. Selain itu, Keong mas juga diketahui mengandung asam omega
3, 6 dan 9. Selain itu, dalam setiap 100 gram daging keong mas mengandung energi makanan
83 kalori, protein 12,2 gram, lemak 0,4 gram, karbohidrat 6,6 gram, abu 3,2 gram, fosfor 61
mg, natrium 40 mg, kalium 17 mg, riboflavin 12 mg, niacin 1,8 mg serta kandungan nutrisi
makanan yang lain seperti Vitamin C, Zn, Cu, Mn dan Iodium. Selain banyak mengandung
banyak gizi di atas, hewan dari keluarga moluska ini juga kaya akan kalsium.

Dibalik kesannya yang menjijikkan, Keong mas atau disebut oleh sebagian masyarakat
sebagai siput murbai (Pomacea canaliculata Lamarck) ini dapat ternyata dapat diolah menjadi
santapan yang nikmat. Beberapa mahasiswa FMIPA UNY yang beranggotakan Azza
Kadarwati Nugraini, Januar Fajarningrum, dan Nugrahini Dwi W mencoba mengolah hama
ini agar mudah dikonsumsi yaitu dalam bentuk kerupuk.

kerupuk keong mas

Azza Kadarwati Nugraini mengatakan rendahnya minat masyarakat dalam pengonsumsian


keong mas bisa jadi karena perasaan jijik yang menghinggapi sebagian besar masyarakat kita
terkait dengan hasil olahan keong mas. ”Oleh karena itu, kami mencoba mengolah keong
emas menjadi kerupuk, mengingat selama ini camilan yang ada tidak memenuhi kandungan
gizi yang diperlukan oleh tubuh manusia sehingga dengan adanya kerupuk keong mas
kebutuhan gizi masyarakat dapat terpenuhi” kata Azza. ”Selain itu, pembuatan kerupuk
keong mas ini dapat membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar untuk menunjang
perekonomian dengan membangun home industry.”

pengembang kerupuk keong mas

Menurut Nugrahini Dwi, pembuatan kerupuk keong mas diawali dari memilih keong mas
yang baik, dicuci hingga bersih lalu direbus beberapa saat hingga lunak, didinginkan, baru
dipisahkan antara daging dengan cangkangnya lalu dijemur hingga benar-benar kering di
bawah terik matahari. Selanjutnya, daging keong yang sudah kering digiling hingga menjadi
tepung. Tepung keong mas tersebut dicampur dengan tepung tapioka beserta bumbunya yang
terdiri dari bawang putih, garam, ketumbar, dan merica. Tambahkan air secukupnya pada
adonan sehingga menjadi kalis kemudian adonan tersebut dijadikan lembaran-lembaran tipis
dengan alat pembuat lembaran adonan atau selinder kayu dengan ketebalan antara 1—2 mm,
baru kemudian dipotong-potong. Hasil pemotongan ini masih berupa kerupuk basah yang
harus segera dijemur sampai kadar airnya di bawah 10% hingga menjadi kerupuk mentah.
Sebaiknya, kerupuk mentah dijemur terlebih dahulu sebelum digoreng.

Selain dapat dibuat camilan yang nikmat berupa kerupuk, Keong Mas dapat diolah menjadi
sate, dendeng, pepes, kecap keong dan sambel. Keong mas yang notabene mempunyai
kandungan protein tinggi, murah dan terjangkau, keong mas juga telah lama dipercaya oleh
masyarakat dapat digunakan untuk mengobati penyakit kuning, meningkatkan kecerdasan,
meningkatkan libido dan dapat digunakan sebagai obat liver tutur Dr. Sumitro dalam Sinar
Tani.

Manfaat Lain Keong Mas

Keong mas yang kita ketahui sebagai hama potensial tanaman padi, ternyata jika dikelola
dengan baik, dapat menjadi komoditas prospektif untuk menambah penghasilan petani dan
meningkatkan gizi masyarakat. Bahkan komoditas ini layak untuk menjadi komoditas ekspor,
terutama ke negara-negara Eropa, Jepang dan Hong Kong. Keong mas juga dapat
dimanfaatkan sebagai pakan ternak, ikan, udang, sumber makanan berprotein tinggi bagi
masyarakat, obat-obatan dan pengontrol inang perantara parasit trematoda yang
menyebabkan gatal-gatal. Dengan potensi tersebut, keong mas tidak layak disebut sebagai
biang kegagalan panen padi. Lebih baik keong mas dikelola untuk dimanfaatkan dan
dikembangkan.

Penggunaan keong mas untuk pakan itik terbukti mampu menaikkan hasil telur hingga 80
persen. Pemberian pakan sekitar 4,5 persen tepung keong mas pada peternakan sapi potong
juga memberikan hasil pertumbuhan yang cukup baik dan tingkat keuntungan paling tinggi
dibandingkan pemberian pakan lain.

Sebagai pakan ikan, penggantian kandungan tepung ikan menjadi tepung keong mas
sebanyak 25 hingga 75 persen memberikan pengaruh cukup baik terhadap laju pertumbuhan
harian individu, efisiensi pakan, retensi protein, dan retensi lemak.

Penggunaan keong mas untuk pakan Krustase telah dibuktikan pada udang dan kepiting. Pada
budi daya udang windu, penggunaan pakan keong mas sudah dilakukan dalam uji coba oleh
pada tahun 1995. Pada pematangan gonad kepiting bakau (Scylla spp.) di Pantai Mayangan
(Subang) dapat diketahui bahwa pemberian pakan berupa keong mas dapat mempersiangkat
sampai 1/3 kali masa pemeliharaan dibandingkan dengan pemberian pakan yang berasal dari
ikan. Penggunaan keong mas untuk pakan lobster air tawar telah diujicobakan di suatu
universitas di Yogyakarta dan juga telah dilakukan oleh beberapa petani yang membudi daya
lobster.

Keong mas juga berperan sebagai pengendali keong lain jenis Bulinus sp dan Biophalaria sp
yang merupakan inang perantara parasit trematoda yang menyebabkan penyakit gatal-gatal
dan schistosomiasis yang telah menginfeksi lebih dari 200 juta penduduk tropis.
KRUPUK KEONG EMAS

Keong mas atau disebut oleh sebagian masyarakat sebagai siput murbai (Pomacea
canaliculata Lamarck) merupakan salah satu ancaman bagi petani karena dapat menghabiskan
tanaman padi muda dalam waktu semalam. Fertilitas yang tinggi dipadu siklus hidup yang
pendek mampu membuat hewan ini bereproduksi dengan cepat dan adaptif terhadap
lingkungan sekitarnya. Dalam kondisi lapang, 6 ekor keong mas per meter persegi mampu
mengurangi hasil panen sebanyak 15% dan kerusakan yang ditimbulkan berlangsung hingga
50 hari setelah penanaman. Namun di balik keberingasannya, keong emas menyimpan
kandungan gizi yang tidak dapat disepelekan, bahkan hampir 40% berat tubuhnya terdiri dari
protein yang merupakan zat pembangun makhluk hidup.

Keong mas juga diketahui mengandung asam omega 3, 6, dan 9. Dari hasil uji proksimat,
kandungan protein pada keong mas berkisar antara 16 hingga 50 persen. Bahkan hampir 40%
berat tubuhnya terdiri atas protein yang merupakan zat pembangun bagi makhluk hidup. Dari
fakta inilah, mahasiswa jurusan pendidikan biologi FMIPA UNY, Azza Kadarwati Nugraini,
Januar Fajarningrum, dan Nugrahini Dwi W. (mahasiswa program studi pendidikan IPA
FMIPA UNY) mengolah keong emas agar mudah dikonsumsi yaitu dalam bentuk kerupuk.

Azza Kadarwati Nugraini mengatakan rendahnya minat masyarakat dalam pengonsumsian


keong mas bisa jadi karena perasaan jijik yang menghinggapi sebagian besar masyarakat kita
terkait dengan hasil olahan keong mas. ”Oleh karena itu, kami mencoba mengolah keong
emas menjadi kerupuk, mengingat selama ini camilan yang ada tidak memenuhi kandungan
gizi yang diperlukan oleh tubuh manusia sehingga dengan adanya kerupuk keong mas
kebutuhan gizi masyarakat dapat terpenuhi” kata Azza. ”Selain itu, pembuatan kerupuk
keong mas ini dapat membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar untuk menunjang
perekonomian dengan membangun home industry.”

Januar Fajarningrum menambahkan bahwa kandungan gizi yang ada di dalam keong mas
termasuk tinggi karena setiap 100 gram daging keong mas mengandung energi makanan 83
kalori, protein 12.2 gram, lemak 0.4 gram, karbohidrat 6.6 gram, abu 3.2 gram, fosfor 61 mg,
natrium 40 mg, kalium 17 mg, riboflavin 12 mg, niacin 1.8 mg dan kandungan nutrisi
makanan yang lain seperti vitamin C, Zn, Cu, Mn, dan Iodium. “Pemanfaatan keong dalam
hal makanan saat ini baru berupa sate, dendeng, pepes dan sambel.” Lebih lanjut, Januar
menyatakan, “Selain sumber protein yang cukup murah dan terjangkau, keong mas telah lama
dipercaya oleh masyarakat dapat digunakan untuk mengobati penyakit kuning ataupun liver.”

Menurut Nugrahini Dwi, pembuatan kerupuk keong mas diawali dari memilih keong mas
yang baik, dicuci hingga bersih lalu direbus beberapa saat hingga lunak, didinginkan, baru
dipisahkan antara daging dengan cangkangnya lalu dijemur hingga benar-benar kering di
bawah terik matahari. Selanjutnya, daging keong yang sudah kering digiling hingga menjadi
tepung. Tepung keong mas tersebut dicampur dengan tepung tapioka beserta bumbunya yang
terdiri dari bawang putih, garam, ketumbar, dan merica. Tambahkan air secukupnya pada
adonan sehingga menjadi kalis kemudian adonan tersebut dijadikan lembaran-lembaran tipis
dengan alat pembuat lembaran adonan atau selinder kayu dengan ketebalan antara 1—2 mm,
baru kemudian dipotong-potong. Hasil pemotongan ini masih berupa kerupuk basah yang
harus segera dijemur sampai kadar airnya di bawah 10% hingga menjadi kerupuk mentah.
Sebaiknya, kerupuk mentah dijemur terlebih dahulu sebelum digoreng. (dedi/nd)