Anda di halaman 1dari 4

1.

PERTUMBUHAN WAJAH BAGIAN TENGAH

Pertumbuhan wajah bagian tengah secara horizontal ditentukan dengan

ekspansi dari fossa kranial anterior yang meluas ke arah anterior yang sesuai

dengan perkembangan ke arah sagital sesuai dengan growth equivalent seperti

maksila. Proses reposisi dan deposisi pada permukaan endokranila dan ektocranial

mengarahkan pergeseran dan pembentukan struktur yang membentuk bagian wajah

tengah ( tulang nasal dan tulang etmoid). Dengan demikian pertumbuhan wajah

bagian tengah secara horizontal akan seimbang secara inferior dengan elongasi

anteroposterior dari maksila dan secara superior dengan perluasan horizontal dari

fossa kranial anterior.

Gambar 44 Pertumbuhan Wajah Bagian Tengah secara Sagital Perkembangan


dari lobus frontal menyebabkan elongasi dari basis kranial anterior dan
menggerakkan wajah bagian tengah ke depan. Penambahan panjang dari fossa
kranial anterior sesuai dengan perkembangan sagital dari maksila, yang merupakan
struktur lawannya

Selama pergeseran vertikal dari bagian wajah bagian tengah, rahang atas

akan berpindah ke arah bawah karena resorpsi dari permukaan nasal secara

bersamaan dengan deposisi dari permukaan palatal. Dengan demikian terbentuk

suatu ruangan atau sinus untuk berkembang. Permukaan dalam dari nasal dan

1
palatal sangan resorptif. Tidak seperti primata lainnya, bagian anterior dari manusia

adalah maksila yang resorptif dan premaksila yang tumbuh terus kearah bawah dan

tidah berubah maju ke depan.

Gambar 45 Pelebaran Tulang Tulang-tulang pada wajah bagian tengah akan


melebar dan bergerak secara bersamaan. Deposisi tulang kortikal dari palatum dan
resorpsi tulang kortikal bagian nasal akan membentuk palatum dan premaksila
untuk tumbuh kebawah. Kanan: garis balik pada permukaan labial yang cekung
pada premaksila. Permukaan dibawah puncak mengalami resorpsi (-). Sehingga
bagian anterior dari maksila bergerak secara inferior dengan bagian kubah palatum.

Terlepas dari proses remodelling, pertumbuhan maksila secara vertikal

berhubungan juga dengan pergeseran primer, yang akhirnya akan memicu deposisi

tulang sutura sekunder dengan jumlah yang setara (Gambar 46). Pergerakan ke

bawah dari maksilla biasanya tidak teradi secara paralel, terdapat perbedaan secara

anteroposterior. Hal ini berlaku untuk proses remodelling dan proses pergeseran.

Hasilnya adalah pergerakan rotasi dari maksila, dimana dapat terkompensasi atau

meningkat dengan jumlah variasi pada kedua mekanisme tersebut.

2
Gambar 46 Primary Displacement dari Wajah Bagian Tengah Berdasarkan teori
Enlow, nasomaksila kompleks akan bergerak ke arah inferior akibat dari pelebaran
aringan lunak. Tengah: Efek perubahan tegangan pada sutura fasial menginisiasi
deposisi tulang sutura kedua. Kanan: Sehingga kontak sutural akan terjadi
(Enlow,1982)

Akibat dari aktifnya proses aposisi dan resorpsi pada soket tulang alveolar,

terjadinya pergerakan vertikal pada gigi atas akan bersamaan dengan remodelling

dari maksila. Setelah itu penurunan dari benih gigi atas merupakan hasil dari

pergeseran maksila (Gambar 47).

Gambar 17 Pergeseran Gigi Geligi Pergerakan dari nasomaksila kompleks


menyebabkan gigi atas akan bergerak secara pasif dari posisi 1 ke posisi 2. Kanan:
Secara bersamaan gigi bergerak aktif bergerak dari posisi 2 ke 3 akibat dari
remodeling dari soket tulang alveolar. Proses ini terjadi secara paralel dengan
proses remodeling dari palatum keras dan premaksila.

Pergerakan ke bawah dari lengkung rahang dapat dipengaruhi oleh terapi.

Struktur berlawanan untuk pertumbuhan ke bawah dari nasomaksila kompleks

adalah pelebaran secara vertikal dari ramus dan basis kranial bagian tengah, hal ini

3
menyebabkan mandibula bergeser ke arah inferior (Gambar 48). Setelah gigi geligi

rahang atas dan porosesus alveolaris terbentuk akan membentuk oklusi akhir

(Gambar 49). Dikarenakan pergerakan vertikal gigi di maksila lebih baik dibanding

di mandibula maka kemungkinan keberhasilan terapi orthodontik juga akan lebih

baik di maksila.

Gambar 49 Penyesuaian Oklusi Pergerakan dari gigi mandibula, bersamaan


dengan tulang alveolarnya ke arah atas, sehingga menghasilkan oklusi. Gigi insisif
mandibula dan prosesus alveolar bergerak ke arah lingual akibat dari pertumbuhan
remodeling. Secara bersaman, akan terbentuk tulang baru disekitar dagu

Bersamaan dengan pergerakan pada gigi rahang bawah, terjadi proses

remodelling pada daerah dagu, korpus mandibula, insisif bawah dan tulang alveolar

disekitarnya. Insisif akan berotasi ke arah lingual dan bergerak ke arah posterior

untuk mendapatkan overbite yang baik. Resorpsi dari permukaan luar dari tulang

alveolar bagian anterior dan deposisi tulang pada anterior dan inferior kontur

eksternal dari simfisis mandibula akan menghasilkan dagu menjadi lebih menonjol.