Anda di halaman 1dari 15

PERAWAT MANAJER

23 Desember 2008
A. Latar Belakang

Jenjang karir merupakan suatu sistem untuk meningkatkan kinerja


dan profesionalisme perawat sesuai bidang pekerjaannya melalui
peningkatan kompetensi. Perawat profesional yang saat ini diakui di
Indonesia dimulaui dari lulusan D-3 Keperawatan dan akan terus
meningkat. Sehingga pada tahun 2010 diharapkan yang dikategorikan
sebagai perawat profesional adalah lulusan S-1 keperawatan dan
jenjang lebih tinggi.

Dasar pemikiran penyusunan jenjang karir profesi keperawatan RS


beranjak dari kepentingan profesi untuk bertanggung jawab dan
bertanggung gugat dalam memberikan asuhan keperawatan. Pada
tiap jenjang karir, perawat mempunyai kompetensi tertentu dalam
memberikan asuhan keperawatan sehingga dapat
dipertanggungjawabkan.

Jenjang karir diperlukan untuk terwujudnya asuhan keperawatan


yang bemutu mengingat perawat mempunyai tenaga terbanyak dan
terlama mendampingi pasien. Dengan dijaminnya kualitas asuhan
keperawatan yang diberikan oleh perawat sesuai dengan kompetensi
yang dimiliki, maka akan berkontribusi terhadap kualitas pelayanan
rumah sakit. Dengan ditetapkannya kompetensi perawat pada tiap
jenjang, akan memudahkan dalam rekruitmen, seleksi, orientasi,
pembinaan dan pengembangan SDM keperawatan.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

a. Penetapan dan penyelenggaraan jenjang karir perawat untuk


menjamin pemberian asuhankeperawatan yang profesional;
b. Menumbuh kembangkan motivasi para profesional keperawatan
untuk selalu menempuh dan menambah pengetahuan serta
kompetensi dengan laju pertumbuhan IPTEK;

c. Sebagai alat pembinaan dan pengembangan jangka panjang


bagi para profesional keperawatan, guna memanfaatkan
kompetensi penyelenggaraan asuhan keperawatan;

2. Tujuan Khusus

a. Ditetapkannya pedoman penyelenggaraan jenjang karir perawat


di RS

b. Dilaksanakannya pengelompokan perawat

c. sesuai dengan jenjang karir

d. Dilaksanakannya pembinaan perawat

sesuai dengan jenjang karir

e. Dilaksanakannya pengembangan perawat

sesuai dengan jenjang karir

C. Sasaran

Seluruh praktisi keperawatan meliputi; perawat klinik, perawat manajer,


perawat pendidik dan perawat peneliti

D. Dasar Hukum

Dasar hukum yang mendasari penyusunan jenjang karir profesi


keperawatan di RS adalah :

1. UU No. 8b Tahun 1974, tentang Pokok-Pokok Kepegawaian,


sebagaimana dirubah dengan UU No. 49 tahun 1999;

2. UU RI No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan

3. UU RI No. 22 tahun 2000, tentang Otonomi Daerah

4. Kep. Men. Kes. No 1239 tahun 2001, tentang Registrasi dan Praktik
Perawat
5. PP No. 32 tahun 1996, tentang Tenaga Kesehatan

6. Kep. Men. PAN No 94 tahun 2001, tentang Jabatan Fungsional


Perawat Dan Angka Kreditnya

Dengan ditetapkannya dan dilaksanakannya jenjang karir perawat,


maka tiap perawat dapat fokus memenuhi kebutuhan pelanggan
sesuai dengan kompetensinya, hubungan kerja disesuaikan dengan
jenjang karirnya, pengembangan dan peningkatan karir serta sistem
penghargaan sesuai kinerja berdasakan jenjang karir.

E. Model Jenjang Karir


Ketentuan jenjang karir Profesional keperawatan yang diajukan ke RS mengacu pada
ketentuan Direktorat Keperawatan Depkes RI dan Program Pengembangan Profesi
oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). RS selaku RS yang digunakan
sebagai tempat pendidikan perawat dipandang perlu memiliki keterkaitan
kompetensi praktisi perawat dalam lingkup manajerial, pendidikan dan penelitian.

Bagan I.

Integrasi Penjenjangan antara Perawat Klinik, Manajer, Pendidik dan Riset

L. V PK. V PM. IV PP. III PR. II


L. IV PK. IV PM. III PP. II PR. I
L. III PK. III PM. II PP. I
L. II PK. II PM. I
L. I PK I

Keterangan ;

L = Level PP = Perawat Pendidik

PK = Perawat Klinik PR = Perawat Riset

PM = Perawat Manajerial

Untuk Level I masih termasuk perawat generalis dengan kompetensi perawatan


dasar. Sedangkan Level II termasuk perawatan dasar dengan kompetensi lanjutan
yang merupakan dasar spesialistik sesuai lingkup area. Mulai Level III termasuk
perawat spesialistik dengan kompetensi meliputi :

1. Perawat Medikal

2. Perawat Bedah
3. Perawat Anak

4. Perawat Maternitas

5. Perawat ICU/CCU

6. Perawat Gawat Darurat

7. Perawat Gerontik

8. Perawat Kesehatan

F. Prinsip-Prinsip Sistem Pengembangan


Karir
1. Saat ini kualifikasi tenaga keperawatan dimulai dari D.III
Keperawatan sampai dengan tahun 2010. Tahun 2010
kualifikasi tenaga perawat profesional dimulai dari S 1
Keperawatan;
2. Jenjang mempunyai makna kompetensi untuk melakukan asuhan keperawatan
sesuai lingkup dan bertingkat sesuai dengan kompleksitas masalah klien dalam
uapaya pemenuhan kebutuhan dasar;

3. Fungsi utama yang menjadi pegangan adalah fungsi pemberian asuhan


keperawatan

4. Setiap perawat pelaksana mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan


karirnya sampai jenjang yang paling atas;

5. Jenjang karir mempunyai dampak terhadap tanggung jawab dan akontabel terhadap
tugas serta terkait dengan sistem penghargaan;

6. Pimpinan tertinggi RS Bhakti Yudha harus mempunyai komitmen yang tinggi


terhadap sistem pengembangan karir tenaga perawat pelaksana sehingga dapat
dijamin kepuasan klien terhadap pelayanan keperawatan;

7. Bidang pengembangan karir mencakup spesialisasi : Keperawatan Medikal, Bedah,


Maternitas, Anak, ICU/CCU, Gawat Darurat, Gerontik dan Jiwa.

G. Standar Kompetensi Perawat


Penetapan kompetensi perawat Indonesia mengacu pada ketentuan Standar
Kompetensi Perawat Indonesia dari PPNI dan Direktorat Keperawatan dan
Keteknisan Medis.

Kompetensi jenjang terbagi dalam lima macam kompetensi :

1. Kompetensi Keperawatan Dasar Umum

2. Kompetensi Keperawatan Lanjutan atau Kompetensi Keperawatan Dasar


Spesialistik

3. Kompetensi Keperawatan Spesialistik Umum

4. Kompetensi Keperawatan Spesialistik Khusus

5. Kompetensi Keperawatan Konsultan Spesialistik

Standar Kompetensi Perawat tiap jenjang :

1. Perawat Klinik I (Dasar Umum)

2. Perawat Klinik II (Dasar Khusus)

3. Perawat Klinik III (Lanjutan Khusus)

4. Perawat Klinik IV (Lanjutan Khusus)

5. Perawat Klinik V (Konsultan Spesialistik)

1. Kompetensi Perawat Klinik I

a. Melaksanakan asuhan keperawatan pada klien tanpa risiko (Klien


minimal/partial care)

b. Pendokumentasian asuhan keperawatan

c. Memahami teknik isolasi dan teknik desinfeksi

d. Mampu mempersiapkan pasien pulang

e. Mampu melakukan penyuluhan kesehatan pada klien tanpa risiko

f. Mampu memberikan keperawatan dasar untuk memenuhi kebutuhan personal


hygiene pada klien tanpa risiko, meliputi :

1) Memandikan

2) Kebersihan mulut
3) Perawatan kuku

4) Merapikan tempat tidur pada klien tirah baring

5) Membantu eliminasi

6) Mengatur posisi tidur

7) Membantu mobilisasi (membantu latihan fisik sederhana)

8) Monitoring TTV, intake-output

9) Terampil memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan

2. Kompetensi Perawat Klinik II

a. Kompetensi Keperawatan Lanjutan Umum adalah kompetensi yang harus


dimulai oleh semua Perawat Klinik II disemua area ;

1) Identifikasi klien yang memerlukan pemasangan gastrointestinal tube

2) Mampu/terampil memasang gastrointestinal intubation pada klien tanpa


risiko

3) Mampu memberi makan/minum melalui internal tube feeding

4) Identifikasi klien yang memerlukan kateterisasi urine

5) Mampu/terampil memasang kateter urine pada klien tanpa risiko

6) Identifikasi klien dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

7) Mampu/terampil memasang infus (limpah wewenang)

8) Monitoring IVFD (intra vena fluid doix)

9) Mampu melakukan injeksi sc/ic/im/iv (limpah wewenang)

10) Analisa nyeri dan pengelolaan nyeri

11) Mampu memberikan teknik relaksasi

12) Perawatan pre operatif

13) Perawatan post operatif

14) Perawatan luka operasi tanpa kontaminasi


15) Terampil BHD

16) Terampila melakukan EKG dasar

17) Terampil identifikasi tanda-tanda syok hypovolemik, cardiogenik,


hemoragik dan neurologik

18) Mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien partial care

19) Mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan teknik


isolasi

20) Mampu melakukan pendidikan kesehatan pada klien dengan risiko

21) Mampu membimbing PK I

22) Identifikasi tanda-tanda kegawat daruratan semua area

b. Keperawatan Lanjutan Khusus adalah keperawatan lanjutan sesuai area atau


disebut juga Keperawatan Dasar Spesialistik ;

1) Keperawatan Dasar Spesialistik Area Pediatrik

a. Asuhan keperawatan bayi segera setelah lahir pada persalinan normal


dan aterm

b. Perawatan tali pusat

c. Perawatan mata

d. Perawatan telinga

e. Memandikan bayi

f. Perawatan bayi premature

g. Perawatan bayi dengan foto therapy

h. Perawatan bayi dan anak dengan combustio 10%-20%

2) Keperawatan Dasar Spesialistik Area Maternitas

a. Mampu melakukan pemeriksaan kehamilan (inspeksi, palpasi,


auskultasi, perkusi)

b. Mengidentifikasi dan monitoringpersalinan normal


c. Mampu memberikan asuhan keperawatan masa nifas pada klien tanpa
risiko, meliputi ;

1. Vulva hygiene

2. Perawatan payudara

3. Monitoring pendarahan

d. Identifikasi tanda-tanda persalinan normal

e. Kolaborasi dengan cepat dan tepat sesuai hasil identifikasi

3) Keperawatan Dasar Spesialistik Area Medical/Surgical

a. Mampu melakukan kateterisasi urine pada klien dengan risiko

b. Mampu melakukan pemasangan infus pada klien dengan risiko

c. Mampu melakukan perawatan WSD

d. Mampu menguidentifikasi tanda-tanda gangguan metabolisme

e. Mobilisasi klien dengan risiko

f. Identifikasi kasus kardiogenik dan neurogenik

g. Kolaborasi dengan cepat dan tepat sesuai hasil identifikasi dan


monitoring

3. Kompetensi Perawat Klinik III

a. Keperawatan Dasar Spesialistik Area Pediatrik

1) Mahir perawatan perinatal risiko tinggi

2) Mahir perawatan bayi dan anak dengan total care

3) Mahir perawatan bayi dan anak dengan ostomi

4) Mahir perawatan bayi dan anak dengan combustio grade 30% – 50%

5) Mahir melakukan asuhan keperawatan pada bayi dan anak dengan


kegawatdaruratan

6) Mampu membimbing PK I dan PK II


7) Mampu memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga
dengan total care

b. Keperawatan Dasar Spesialistik Area Maternitas

1) Mampu memberikan pertolongan persalinan normal

2) Semua kompetensi keperawatan dasar spesialistik area pediatric

3) Monitoring dan identifikasi persalianan risiko tinggi

4) Kolaborasi dengan cepat dan tepat sesuai hasil monitoring

5) Mahir melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan total care


(perawatan PEB, eklamsi)

6) Mampu membimbing PK I dan PK II

c. Keperawatan Dasar Spesialistik Area Medikal/Surgikal

1) Mampu mengidentifikasi EKG emergensi

2) Mampu melakukan pertolongan pertama klien dengan kegawat daruratan

3) Mampu memasang NGT dengan risiko

4) Mampu memberikan asuhan keperawatan dengan total care

5) Mampu membimbing PK I dan PK II

6) Mampu ACLS

H. Mekanisme Kenaikan Jenjang Karir Perawat di RS

Uji kompetensi jenjang karir SDM Keperawatan dilakukan pada saat


rekruitmen dan pengembangan SDM Keperawatan yang sedang bekerja
di RS . Pada tahap awal, uji kompetensi difokuskan untuk perawat klinik.
Proses pelaksanaannya dibagi dalam empat tahap, sebagai berikut :

1. Tahap 1 : Pendaftaran

Setiap perawat yang mengikuti proses jenjang karir harus mendaftar


pada pusat pengembangan SDM Keperawatan RS .

Persyaratan pendaftaran :

a. Surat keterangan lulus masa orientasi


b. Pas foto 3 x 4 sebanyak 2 lembar

c. Mengisi formulir pendaftaran

Setelah mendaftar akan menerima kartu pengenal peserta jenjang


karir dan penetapan pembimbing klinik. Kemudian pembimbing
klinik akan memberikan berkas yang berisi kegiatan yang harus
diikuti dan penilaian-penilaian yang harus dicapai

2. Tahap 2 : Proses Pemenuhan Kompetensi

Perawat peserta jenjang karir harus memenuhi hal-hal berikut :

a. Pendidikan Formal Keperawatan

Pendidikan formal keperawatan yangdiakui sebagai perawat profesional


minimal Ners-Sarjana Keperawatan (Ns-Skep) pada tahun 2010. Perawat
lulusan D III Keperawatan dapat mencapai jenjang PK III. Perawat lulusan
Sarjana Keperawatan dapat mencapai jenjang PK IV. Perawat lulusan
magister/S2/Sp. Keperawatan dapat mencapai jenjang PK V.

b. Lama Bekerja di klinik

Perawat lulusan D III Keperawatan dapat ditetapkan sebagai PK I setelah


lulus masa orientasi 1 tahun. Setelah 4 tahun sebagai PK I dapat mengikuti
uji kenaikan jenjang ke PK II, jika memenuhi persyaratan lain yang
ditetapkan. Setelah 4 tahun sebagai PK II, jika memenuhi persyaratan lain
yang ditetapkan dapat naik menjadi PK III. Selanjutnya untuk naik ke PK IV
tidak cukup hanya memenuhi lama kerja, tetapi juga harus memenuhi
pendidikan formal Ners-Sarjana Keperawatan (Ns Skep)

Perawat lulusan Ners Sarjana Keperawatan dan Sarjana Keperawatan dapat


ditetapkan sebagai PK I setelah lulus masa orientasi selama 6 bulan. Setelah
2 tahun sebagai PK I dapat mengikuti uji kenaikan jenjang karir ke PK II, jika
memenuhi persyaratan lain yang ditetapkan. Setelah 2 tahu sebagai PK II
dapat mengikuti uji kenaikan jenjang karir ke PK III, dan demikian pula ke
PK IV, jika memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Selanjutnya untuk naik
ke PK V, tidak cukup hanya memenuhi lama kerja, tetapi juga harus
memenuhi pendidikan formal Magister/S2/Sp. Keperawatan.

Perawat lulusan magister/S2/Sp. Keperawatan yang belum memiliki


pengalaman klinik maka dapat menjadi PK I setelah lulus masa orientasi
selama 3 bulan. Setelah 1 tahun menjadiPK I dapat mengikuti uji kenaikan
jenjang karir ke PK II dan seterusnya sampai ke PK V, jika memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan.
Perawat lulusan magister/S2/Sp. Keperawatan yang telah memiliki
pengalaman klinik, maka pengalaman klinik dan kemampuan kompetensi
yang dimiliki akan diperhitungkan untuk menetapkan jenjang karirnya.

c. Rekomendasi

Untuk mengikuti uji kenaikan jenjng karir, setiap perawat harus mendapatkan
rekomendasi dari :

1) atasan langsung tentang penilaian kinerja. Penilaian kinerja yang


memenuhi syarat untuk uji kenaikan jenjang karir minimal B

2) teman sejawat. Isi rekomendasi adalah hubungan kerja perawat dengan tim
kerja dalam penyelenggaraan asuhan keperawatan (sesuai dengan
formulir yang ditetapkan)

3) pembimbing klinik. Pembimbing klinik memberikan rekomendasi tentang


aktifitas yang harus dipenuhi sebagai syarat uji kenaikan jenjang karir

4) klien dan keluarga (Pelanggan Eksternal). Perawat yanga akan diuji


kompetensinya diharapakan tidak ada komplain dari klien atau keluarga.

d. Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan

Untuk dapat mengikuti uji jenjang karir, maka tiap perawat harus memenuhi
sejumlah SKP (Satuan Kredit Partisipan) yang ditetapkan dalam PKB. PKB
akan dirancang oleh Bagian Bidang Keperawatan bekerja sama dengan Diklat
RS sesuai dengan pedoman dari PPNI.

3. Tahap 3 :

Uji kompetensi dilakukan terhadap dokumen, ujian tertulis dan ujian praktik.

a. Dokumen

Bidang keperawatan dan Diklat RS menelaah dan menilai keabsahan dan


kelegkapan dokumen. Kemudian menetapkan jenjang karir yang akan diuji

b. Ujian tertulis

ujian tertulis diselenggarakan untuk semua jenjang. Materi yang akan diuji
sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai

c. Ujian praktek

Ujian praktik diselenggarakan jika telah terpenuhi kelengkapan dokumen dan


lulus ujian tertulis.
langkah-langkah ujian praktik adalah sebagai berikut :

1) Persiapan uji kompetensi

2) Pelaksanaan uji kompetensi

3) Penetapan hasil uji kompetensi

4. Tahap 4 : Penetapan Jenjang Karir Yang Baru

Bidang keperawatan dan Diklat RS mengirimkan berkas-berkas ke bagian


personalia. Selanjutnya disiapkan surat keputusan, Surat Keputusan untuk PK I
– III ditandatangani oleh Direktur. Selanjutnya dilaksanakan penyesuaian
pekerjaaan dan sistem penghargaan.

Bagan 2.

Alur Penetapan Jenjang Karir Perawat

Rumah Sakit

Tahap I

Pendaftaran sebagai perawat jenjang karir

Tahap II

Pemenuhan Kompetensi

1. Pendidikan Formal

2. Lama Kerja

3. Rekomendasi

4. Pendidikanberkelanjutan
G
A

Tahap IV

Penerbitan SK

Penyesuaian pekerjaan
sesuai jenjang karir

Tahap III

Uji Kompetensi

1. Uji Dokumentasi

2. Uji Tertulis

3. Uji Praktik
PENILAIAN
KINERJA
PERAWAT

RUMAH
SAKIT

A. Pengertian Dan Tugas


1. Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja profesi perawata RS adalah merupakan salah satu upaya untuk
melaksanakan evaluasi kompetensi klinik pada pemantapan profesionalisme
perawat

2. Tujuan

Penilaian kinerja perawat dilakukan secara periodik (triwulan) dengan tujuan :

a. Memastikan seluruh SDM Keperawatan memiliki kompetensi untuk


menyelenggarakan asuhan keperawatan

b. Mendorong dan memotivasi SDM Keperawatan tepat mengikuti uji kenaikan


jenjang sesuai jadwal

c. Mengidentifikasi kemampuan/kompetensi yang dimiliki oleh setiap perawat


pelaksana sebagai dasar untuk mengembangkan diri secara profesional

d. Memotivasi perawat untuk meningkatkan kompetensi profesional dan dapat


berkontribusi maksimal dalam memberikan pelayanan keperawatan di
Rumah Sakit

e. Sebagai pedoman dalam melaksanakan sistem penghargaan dan


hukuman/sanksi sesuai dengan kinerja yang diperlihatkan

f. Meningkatkan kemampuan evaluasi diri dalam proses pencapaian kompetensi


profesional dalam memberikan asuhan keperawatan

3. Membangun budaya kerja kondusif saling mendukung melalui kegiatan


coaching, mentoring, preceptorship dalam memberikan pelayanan
keperawatan

4. Mengembangakan potensi SDM perawat pada tingkat optimal sehingga


dicapai pelayanan keperawatan
B. Prinsip-Prinsip Kerja

Prinsip-prinsip kinerja perawat RS meliputi :

1. Kinerja Umum

Pemahaman dan sistem penilaian sama yang berlaku bagi semua pegawai RS

2. Kinerja profesi adalah berbagai komponen dan item yang berhubungan langsung
dengan kemampuan melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan level
klinik. Penilaian kinerja profesi dilakukan secara periodik tiap semester untuk
persiapan uji klinik dan uji kenaikan jenjang

Komponen Penilaian Kinerja Profesi terdiri dari :

Kemampuan Asuhan Keperawatan 40 %

Kemampuan Kolaborasi 10 %

Kemampuan Kepemimpinan 10 %

Kemampuan Manajemen 10 %

Disiplin Profesi 10 %

Pengembangan Diri 20 %

100 %

C. Mekanisme Pelayanan Kerja

Penilaian kinerja profesional dikenal dengan performance appraisal kualitatif.


Mekanisme penilaian kinerja profesional tersusun sebagai berikut :

1. Semua SDM keperawatan diwajibkan mengisi kelengkapan status list (terutama


yang terkait dengan dokumentasi asuhan keperawatan). Pada tahap
transisi/persiapan pengisian dilakukan manual.

2. Melalui data harian pribadi akan direkapitulasi ke dalam data bulanan dan data
semesteran

3. Tiap semester dilakukan penilaian sebagai bahan informasi pembuatan


rekomendasi untuk mengikuti uji klinik dan uji kompetens