Anda di halaman 1dari 10

SPEKTRUM KISI

Dwi Marta Ardiyanti


Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Jember
Email: dwimarta06@gmail.com

Abstract— Berikan ringkasan dari arikel anda singkat dan jelas.


Ringkasan harus bisa menjawab what, why dan how secara ringkas. Style:
Abstract
Keywords—Daftar kata kunci anda. Style keywords.

1. Pendahuluan
Francesco Grimaldi adalah seorang matematikawan dan fisikawan asal
Italia pertama yang mengemukakan teori difraksi pada tahun 1655 dengan
percobaannya tentang deviasi cahaya sepanjang garis lurus yang disebut sebagai
“diffractio”. Cahaya yang terkena oleh penghalang akan mengalami perubahan
fase maupun amplitudo. Prinsip Huygens mengemukakan bahwa semakin kecil
penghalang, maka penyebaran gelombangnya semakin besar[1]. Difraksi adalah
peristiwa pembelokan cahaya ke belakang sebuah penghalang. Proses yang
menyebaban difraksi terdapat pada setiap perambatan gelombang. Gelombang
yang dilewatkan pada sebuah penghalang maka akan teramati efek difraksi yang
dihasilkan dari interferensi bagian muka gelombang tersebut. Intensitas cahaya
pada sembarang titik dapat dihitung menggunakan prinsip Huygens. Prinsip
Huygens menyatakan bahwa setiap muka gelombang dapat dianggap
memproduksi gelombang-gelombang baru (wavelet) yang memiliki panjang
gelombang yang sama dengan sebelumnya[2].
Alat yang digunakan untuk mengukur spektrum dalam ilmu spektroskopi
dinamakan dengan spektrometer. Dua jenis spektrometer berdasarkan bagian
pendispersi, yaitu prisma dan kisi. Spektrometer berbasis kisi memiliki kempuan
untuk memberikan resolusi yang baik. Kisi atau grating akan mendispersikan
spektrum visibel[3]. Cahaya dapat digolongkan sebagai sebuah gelombang yang
dapat memindahkan energi tanpa disertai dengan perpindahan massa. Cahaya
dapat digolongkan sebagai gelombang dan partikel. Cahaya sebagai gelombang
dapat mengalami peristiwa difraksi dimana pada peristiwa difraksi tampak pola
gelap dan terang. Pola difraksi akan terlihat jika ada sumber cahaya yang
dilewatkan dalam sebuah celah atau penghalang[4].
Eksperimen spektrum kisi dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh
panjang gelombang (λ) terhadap sudut difraksi ( θ ), pengaruh sudut difraksi (
θ ) pada orde terhadap jarak antar kisi (d) yang terukur, dan perbandingan jarak
antar kisi secara eksperimen dan referensi. Besarnya sudut difraksi dapat dilihat
dengan menggeser teropong ke kanan untuk memperoleh sudut kanan dan
menggeser sudut kiri untuk memperoleh sudut kiri. Beberapa sudut dari orde satu
dan orde dua dengan memvariasikan sudut datang ( i = 0 ° dan i = 10 ° )
akan diperoleh besarnya jarak antar celah (d) dalam kisi dengan menggunakan
ralat perhitungan.
Syarat terjadinya peristiwa difraksi yakni panjang gelombang sinar yang
datang harus seorde dengan celah yang digunakan. Semakin sempit suatu celah,
maka pola difraksi yang dihasilkan aka semakin jelas. Cahaya terdifraksi ketika
diteruskan melalui kaca atau dipantulkan oleh spekulum akan menghasilkan
cahaya maksimum (garis spektrum). Kisi pemantul digunakan untuk
menghasilkan spektrum pada daerah ultraungu pada spektrum elektromagnetik [5].
Persamaan yang menerangkan tentang difraksi adalah sebagai berikut :
d sin ¿ nλ (1.1)

Gambar 1.1 Cahaya Datang pada Kisi Difraksi


(Sumber : Weston dan Zemensky, 1987)
Celah sempit yang terletak secara paralel dan berjarak sama disebut
dengan kisi difraksi. Kisi dapat dibuat dengan menggunakan mesin presisi berupa
garis-garis paralel dan diteliti diatas pelat kaca. Jarak yang tidak tergores diantara
garis-garis berfungsi sebagai celah. Sebuah kisi dapat dibuat 300-600 celah tiap 1
[6]
mm nya. . Persamaan yang memenuhi jika jarak antar dua celah beraturan
(konstanta kisi) d dan sinar yang digunakan adalah monokromatis adalah :
1
d= (1.2)
N
dimana d adalah kosntanta yang menyatakan jarak antar kedua celah dan N adalah
banyaknya goresan tiap satuan panjang adalah. Secara umum besar intensitas
cahaya dapat ditentukan dengan persamaan yang diturunkan dari prinsip Huygens:
2
sina
I θ =I m ( )
a
(1.3)

Spektrometer atau spektroskop adalah alat yang digunakan untuk mengukur


panjang gelombang dengan akurat menggunakan sebuah kisi difraksi, atau prisma,
untuk memisahkan gelombang cahaya yang berbeda. Fungsi lain dari
spektrometer yaitu untuk mengamati dan mengukur sudut deviasi cahaya datang
karena pembiasan dan dispersi. Prinsip kerja dari spektrometer adalah sebuah
cahaya didatangkan melewati celah sempit yang disebut dengan kolimator.
Cahaya akan bersifat sejajar dan diteruskan pada kisi. Cahaya yang masuk pada
sebuah kisi yang jarak celahnya diketahui didispersikan ke dalam sebuah
spektrum[7].

2. Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah sebuah langkah-langkah atau metode yang
digunakan dalam melakukan sebuah eksperimen untuk memudahkan praktikan
agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan literatur. Eksperimen spektrum kisi
bersifat kuantitif dan primer dimana pengambilan data dilakukan secara langsung.
Data yang diperoleh saat melakukan eksperimen adalah besarnya sudut kanan
(θ R ) dan sudut kiri (θ L ) pada orde satu dan orde dua, serta panjang
gelombang dari berbagai spektrum warna yang teramati. Eksperimen spektrum
kisi ini menggunakan cahaya sebagai objek yang digunakan untuk menghasilkan
sebuah spektrum cahaya, seperti warna ungu, hijau, kuning 1, dan kuning 2.
Eksperimen dilakukan sebanyak dua kali pengukuran yaitu dengan
memvariasikan sudut datang. Pengukuran pertama dilakukan ketika sudut datang
(i) diatur pada posisi 0 ° dan pengukuran kedua ketika sudut datang (i) 10 ° .
Spektrum kisi dilakukan dengan mengamati garis spektrum warna yang terbentuk
maka digunakan alat spektrometer. Spektrometer berfungsi untuk mengamati
garis-garis spektrum cahaya, Holografic Grating yang digunakan untuk
merefleksikan berbagai panjang gelombang, tabung sumber cahaya, dan power
supply tube sebagai sumber pemberi tegangan. Peralatan tersebut disusun sesuai
dengan gambar dibawah ini :
Gambar 2.1 Susunan Eksperimen Spektrum Kisi
(Sumber : Tim Penyusun, 2018)
Eksperimen spektrum kisi dilakukan dengan langkah- langkah sebagai
berikut:

Gambar 2.1 Diagram Alir Langkah Kerja Spektrum Kisi


Sudut difraksi (θn ) diperoleh dari sudut kanan (θ R ) dan sudut kiri
(θ L ) sebagai berikut:
θr −θi
θn= (2.1)
2
Jarak antar kisi dapat ditentukan jika sudut difraksi telah diperoleh,
sehingga:

d= (2.2)
sin θ
Sedangkan, jarak antar kisi sesuai dengan literatur adalah :
1
d ref = nm (2.3)
600

3. Hasil
Hasil yang dieperoleh setelah melaksanakan eksperimen spektrum kisi
adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1 Tabel Hasil Pengamatan Spektrum Kisi pada Sudut datang i=0°
λ d
Orde Warna θn
(nm) (nm)
Ungu 435,8 19 1339
24,
1 1317
Hijau 546,1 5
25,
1340
Kuning 1 577 5
40,
1342
Ungu 435,8 5
2 Hijau 546,1 56 1317
61,
1313
Kuning 1 577 5

d́ Δd ( d́ ± D(%
(nm) ∆ d́ )
(nm) ∆ d́ ) nm
12,19
16,49 14,4
1332
6
(1332±14,46) 0,08
14,71
37,68
87,32
126,7
1 83,9
1334
1
(1334±83,91) 0,08
12,19
0,39

Tabel 4.2 Tabel Hasil Pengamatan Spektrum Kisi pada Sudut datang i=10°
λ d
Orde Warna θn
(nm) (nm)
19,
1306
Ungu 435,8 5
24,
1 1317
Hijau 546,1 5
25,
1340
Kuning 1 577 5
40,
1342
Ungu 435,8 5
2 Hijau 546,1 55 1333
60,
1326
Kuning 1 577 5

( d́ ±
d́ Δd
∆ d́ D(%)
(nm) (nm) ∆ d́ )
nm
12,26
132 16,49 15,4 (1321±15,49 0,000
1 17,71 9 ) 8
37,68
133 83,00 79,8 (1334±78,89 0,000
118,98
4 12,26 9 ) 8
16,49

Gambar 3.1 Grafik Hubungan sin θ terhadap nλ pada Sudut datang i= 0⁰ dan 10⁰ pada
orde 1

Gambar 3.2 Grafik Hubungan sin θ terhadap nλ pada Sudut datang i= 0⁰ dan dan 10⁰
pada Orde 2

Gambar 3.3 Grafik Hubungan λ terhadap θn pada Sudut datang i= 0⁰ dan dan 10⁰pada
orde 1

Gambar 3.4 Grafik Hubungan λ terhadap θn pada Sudut datang i= 0⁰ dan dan 10⁰ pada
orde 2
4. Diskusi
Difraksi adalah peristiwa penguraian cahaya monokromatik menjadi cahaya
polikromatik (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu). Cahaya
polikromatik yang dilewatkan pada celah sempit akan mengalami gejala difraksi
yang disebabkan oleh perbedaan indeks bias dari komponen-komponen warna.
Pembentukan spektrum warna akan terlihat lebih jelas dan taajam apabila lebar
celahnya semakin sempit atau konstanta kisinya semakin banyak atau besar.
Eksperimen spektrum kisi dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh
panjang gelombang (λ) terhadap sudut difraksi ( θn ), pengaruh sudut difraksi (
θn ) pada orde terhadap jarak antar kisi (d) yang terbentuk, dan perbandingan
jarak antar kisi (d) yang diperoleh secara eksperimen dengan referensi.
Eksperimen spektrum kisi dilakukan sebanyak dua kali percobaan.
Percobaan pertama yaitu dengan sudut datang i = 0° dan percobaan kedua yaitu
dengan sudut datang i = 10°. Urutan spektrum warna yang terlihat ketika teropong
digeser ke kanan dan ke kiri dari terang pusatnya adalah warna ungu, hijau, dan
kuning. Spektrum warna yang telihat diantaranya adalah warna ungu, hijau, dan
kuning dengan panjang gelombang yang berbeda-beda pula. Warna ungu memiliki
panjang gelombang 4,358 x 10 m , warna hijau memiliki panjang gelombang
−7

5,461 x 10
−7
m, dan warna kuning 1 memiliki panjang gelombang
5,77 x 10
−7
m. Berdasarkan hasil eksperimen yang dapat dilihat dalam tabel
hasil dan grafik bahwa spektrum warna ungu dengan panjang gelombang
terpendek memiliki deviasi sudut difraksi θn yang kecil dibandingkan dengan
warna kuning yanng memiliki panjang gelombang terbesar. Hal ini dinyatakan
telah sesuai dengan teori bahwa deviasi sudut difraksi (θ) berbanding lurus dengan
panjang gelombang (λ) masing-masing spektrum warna nya yang dinyatakan
dalam rumus d sinθ=n .
Sudut difraksi (θn ) diperoleh dari sudut kanan (θ R ) dan sudut kirinya
(θ L ) . Deviasi sudut difraksi (θn ) warna ungu paling kecil dibandingkan
warna hijau dan kuning, sedangkan deviasi sudut difraksi (θn ) orde satu lebih
kecil dibandingkan pada orde dua. Hal ini sesuai dengan teori berdasarkan rumus
difraksi kisi bahwa semakin besar suatu orde dari spektrum cahaya maka sudut
difraksi (θn ) akan semakin besar pula. Hal ini berkebalikan dengan jarak antar
kisinya (d). Semakin besar orde yang digunakan, maka semakin besar pula sudut
yang terbentuk tetapi jarak antar kisinya (d) akan semakin kecil. Hal ini
disebabkan karena setiap frekuensi spektrum cahaya dari setiap panjang
gelombang spektrumnya memiliki bilangan gelombang yang konstan yang
mengarah pada nilai minimum. Berdasarkan rumus difraksi kisi, besarnya jarak
antar kisi sebanding dengan panjang gelombang tatapi berbanding terbalik dengan
sudut difraksinya, sehingga ketika sudut difraksi (θn ) nya semakin besar, maka
jaraknya akan semakin kecil. Orde satu memiliki intensitas maksimum (lebih
terang) karena lebih dekat dengan terang pusat sedangkan orde dua memiliki
intensitas cahaya minimum (lebih pudar/ samar-samar) karena letaknya jauh dari
terang pusat.
Jarak antar kisi (d) yang dihasilkan secara eksperimen ketika sudut datang
diatur i=0 ° pada orde satu adalah 1332 nn, pada orde dua adalah 1324 nm.
Ketika sudut datang diatur i=10 ° diperoleh besarnya jarak antar kisi (d) pada
orde satu adalah 1321 nm, sedangkan pada orde dua diperoleh besarnya (d)
adalah 1334 nm. Jarak antar kisi pada referensi sama dengan 1 per 600 nm atau
sebanding dengan 1666,67 nm. Jarak antar kisi (d) yang diperoleh secara
eksperimen tidak sesuai dibandingkan dengan referensi. Ketidaksesuaian antara
referensi dan eksperimen dapat terjadi karena ketidaktepatan praktikan dalam
pengukuran atau pembacaan sudut dan dapat juga dikarenakan praktikan kurang
teliti ketika pengukuran spektrum warna pada teropong.

5. Kesimpulan dan Saran


5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari eksperimen tentang spektrum kisi adalah sebagai berikut :
1. Spektrum warna yang telihat diantaranya adalah warna ungu, hijau, dan
kuning dengan panjang gelombang yang berbeda beda. Semakin panjang
atau besar suatu panjang gelombang spektrum cahaya, maka sudut deviasi
yang terbentuk akan semakin besar pula.
2. Besarnya jarak antar kisi sebanding dengan panjang gelombangnya tatapi
berbanding terbalik dengan sudut difraksinya, sehingga ketika sudut difraksi
(θn ) nya semakin besar, maka jaraknya akan semakin kecil.
3. Pada orde satu diperoleh nilai jarak antar kisi (d) ketika i = 0 ° adalah
1332 dan i = 1 0° adalah 1321 nm sedangkan pada orde dua ketika i =
0° adalah 1324 nm dan pada i = 1 0° adalah 1334 nm. Pada referensi
besarnya d adalah 1666,67 nm.

5.2 Saran
Praktikan diharapkan lebih memahami prosedur atau langkah kerja terlebiih
dahulu sebelum melaksanakan eksperimen. Hal ini perlu dilakukan agar tidak
terlalu merepotkan asisten praktikan. Praktikan juga diharaapkan untuk lebih teliti
dalam melakukan percobaan agar didapatkan hasil yang sesuai anatara eksperimen
dengan referensi.

6. Daftar Pustaka
[1]
Hecht, Eugene. 2002. Optics 4th edition. Jefferson City: Addelphi University.
[2]
Sutarman. 2003. Fisika Dasar Jilid 2. Malang : Japan International Cooperation
Agency (JICA).
[3]
Young, Hugh D., Freedman, Roger A. 2003. Fisika Universitas Edisi Kesepuluh
Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
[4]
Halliday, D. dan Resnickm R, 1984. Fisika Jilid 2 Edisi Ketiga. Jakarta :
Erlangga.
[5]
Weston, Francis dan Zemensky, Mark. 1987. Fisika untuk Universitas. Jakarta :
Yayasan Dana Buku Indonesia.
[6]
Alonso, Marcelo. 1994. Dasar-Dasar Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga.
[7]
Giancoli, Doughlass C. 2001. Fisika Jilid 2 Edisi kelima. Jakarta : Erlangga.