Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah yang banyak di derita oleh sebagian besar masyarakat di dunia ini
adalah penyakit gigi dan mulut, secara umum penyakit yang banyak di keluhkan
oleh masyarakat adalah karies dan kerusakan jaringan periodontal, karies banyak
dijumpai pada kehidupan manusia modern karena dikaitkan dengan pola hidupnya
sehari-hari seperti pola makan dengan makanan olahan yang lebih mudah melekat
pada permukaan gigi.

Untuk menghindari karies gigi beberapa upaya dilakukan baik dengan cara
internal Maupin eksternal. Dengan cara internal seperti memperhatikan makanan
yang baik dengan banyak mengonsumsi sayur dan buah-buahan serta air minum
secukupnya. Sedangkan secara eksternal lebih kepemeliharaan individual itu
sendiri serta kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan, contohnya menggosok gigi
dilakukan sebanyak 2-3 kali sehari terutama setelah makan. Menggosok gigi
sangat penting dilakukan terutama dalam pasta gigi mengandung zat-zat yang
dapat menghindari gigi dari karies. Zat yang sangat penting untuk kesehatan gigi
yang dipercaya ada hubungannya dengan penunda karies gigi adalah fluoride.

Senyawa Fluoride dalam pasta gigi antara lain: stannous Fluoride, Sodium
Fluoride, dan Sodium Monophosphate Fluoride. Fungsi utama senyawa Fluoride

1
agar jaringan keras gigi lebih tahan terhadap lingkungan asam dan bersifat
kariogenik, serta bersifat bakterisida dan memiliki efek antiplak tambahan.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin melakukan penelitian yang


bertujuan untuk meneliti efek kandungan fluoride dalam pasta gigi dengan
kesehatan gigi. Sehingga peneliti mengambil judul tentang kegunaan zat fluoride
dalam pasta gigi untuk kesehatan gigi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana karies gigi dapat terjadi ?


2. Bagaimana Penerapan fluoride dalam pencegahan karies gigi?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui bagaiman terjadinya karies gigi


2. Untuk mengetahui penggunaan fluoride dalam mencegah karie gigi

1.4 Manfaat Penulisan

2
 Manfaat untuk pendidikan : sebagai referensi untuk mahasiswa terutama
untuk makasiswa kesehatan.
 Manfaat buat pembaca : agar pembaca mampu memahami dan mengetahui
cara penggunaan fluorite dalam pencegahan karies gigi.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penyebab karies gigi

2.1.1 Definisi Karies Gigi

Karies gigi merupakan penyakit yang terdapat pada jaringan keras gigi
yaitu email, dentin dan sementum yang mengalami proses kronis regresif. Karies
gigi terjadi karena adanya interaksi antara bakteri di permukaan gigi, plak atau
biofilm dan diet, terutama komponen karbohidrat yang dapat difermentasikan oleh
bakteri plak menjadi asam, terutama asam laktat dan asetat. Yang ditandai dengan
adanya demineralisasi jaringan keras gigi dan rusaknya bahan organik akibat
terganggunya keseimbangan email dan sekelilingnya, menyebabkan terjadinya
invasi bakteri serta kematian pulpa bakteri dapat berkembang ke jaringan
periapeks sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri pada gigi.

2.1.2 Patogenesis Karies Gigi

Karies gigi dimulai dengan kerusakan pada email yang dapat berlanjut ke
dentin. Mekanisme terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak beserta
bakteri penyusunnya. Dalam proses terjadinya karies, mikroorganisme
lactobacillus dan Streptococcus mempunyai peranan yang sangan besar. Proses

4
karies dimulai oleh Streptococcus dengan membentuk asam sehingga
menghasilkan pH yang lebih rendah. Penurunan pH tersebut mendorong
laktobacillus untuk memproduksi asam dan menyebabkan terjadinya proses
karies.

Streptococcus memiliki sifat-sifat tertentu yang memungkinkannya


memegang peranan utama dalam proses karies gigi, yaitu memfermentasi
karbohidrat menjadi asam sehingga mengakibatkan pH turun, membentuk dan
menyimpan polisakarida intraseluler dari berbagai jenis karbohidrat, simpanan ini
dapat dipecahkan kembali oleh mikroorganisme tersebut bila karbohidrat eksogen
kurang sehingga dengan demikian menghasilkan asam terus menerus.

Proses karies gigi diperkirakan sebagai perubahan dinamik antara tahap


demineralisasi dan remineralisasi. Proses demineralisasi merupakan proses
hilangnya sebagian atau keseluruhan dari kristal enamel. Demineralisasi terjadi
karena penurunan pH oleh bakteri kariogenik selama metabolisme yang
menghasilkan asam organik pada permukaan gigi dan menyebabkan ion kalsium,
fosfat dan mineral yang lain berdifusi keluar enamel membentuk lesi di bawah
permukaan. sedangkan proses demineralisasi adalah proses pengembalian ion-ion
kalsium dan fosfat yang terurai ke luar enamel atau kebalikan reaksi
demineralisasi dengan penumpatan kembali mineral pada lesi dibawah permukaan
enamel. Remineralisasi terjadi jika asam pada plak dinetralkan oleh saliva,
sehingga terjadi pembentukan mineral baru yang dihasilkan oleh saliva seperti
kalsium dan fosfat menggantikan mineral yang telah hilang dibawah permukaan
enamel.

Proses remineralisasi dan demineralisasi terjadi secara bergantian didalam


rongga mulut selama mengkonsumsi makanan dan minuman. Lesi awal karies
dapat mengalami remineralisasi tergantung pada beberapa faktor diantaranya diet,
penggunaan fluore dan keseimbanhan pH saliva. Jika lapisan tipis enamel masih
utuh, lesi awal karies akan mengalami remineralisasi sempurna. Sebaliknya, jika
lapisan enamel rusak maka proses remineralisasi tidak dapat terjadi secara

5
sempurna dan gigi harus direstorasi. Jika lesi awal karies mengalami
demineralisasi terus-menerus, maka lesi akan berlanjut ke dentin membentuk
kavitas yang tidak dapat kembali normal (irreversibel), tetapi mungkin juga tidak
berkembang (arrested).

2.1.3 Faktor Risiko Karies

Karies merupakan peyakit multi-faktorial, Untuk dapat terjadinya karies


harus didapatkan berbagai macam faktor risiko. Faktor risiko adalah berbagai
aspek atau karakteristik dasar dari studi populasi yang mempengaruhi
kemungkinan terjadinya suatu penyakit. Adanya hubungan sebab akibat antara
faktor risiko dengan terjadinya karies penting sebagai proses identifikasi dan
menilai perkembangan lesi awal karies.

a) Pengalaman karies

Menurut penelitian epidemiologis, pengalaman karies berhubungan


terhadap perkembangan karies dimasa mendatang. Sensitifitas parameter ini
hampir mencapai 60%. Tingginya skor pengalaman karies pada gigi desidui dapat
memprediksi terjadinya karies pada gigi permanennya.

b) Umur

Pada studi epidemiologis terdapat suatu peningkatan prevalensi karies


sejalan dengan bertambahnya umur. Gigi yang paling akhir erupsi lebih rentan
terhadap karies karena sulitnya membersihkan gigi yang sedang erupsi. Anak-
anak mempunyai risiko karies yang paling tinggi ketika gigi mereka baru erupsi
sedangkan orangtua lebih berisiko terhadap terjadinya karies akar. Dalam
penelitiannya Tarigan membuat faktor umur menjadi tiga fase, yaitu:

o Periode gigi campuran, disini Molar satu paling sering terkena


karies.

6
o Periode pubertas (remaja) umur antara 14- 20 tahun. Pada masa ini
terjadi perubahan hormonal yang dapat menimbulkan
pembengkakan gusi, sehingga kurang terjaganya kebersihan mulut
dan dapat meningkatkan presentase karies.
o Umur antara 40-50 tahun.

Pada umur ini sudah terjadi retraksi atau menurunnya gusi dan papila
sehingga, sisa-sisa makanan sering lebih sukar dibersihkan.

c) Jenis Kelamin

Nilai DMFT wanita masa anak-anak dan remaja lebih tinggi dibandingkan
pria. Walaupun demikian, komponen gigi yang hilang (M,missing) lebih sedikit
daripada pria umumnya karena oral higiene wanita lebih baik. Sebaliknya, pria
mempunyai komponen tumpatan pada gigi (F, filling) yang lebih banyak dalam
indeks DMFT.

d) Sosial Ekonomi

Ada hubungan antara keadan ekonomi dan prevalensi karies. Faktor yang
mempengaruhi perbedaan ini ialah pendidikan dan penghasilan yang berhubungan
dengan diet, kebiasaan merawat gigi dan lain-lain. Hubungan antara status sosial
ekonomi berbanding terbalik, peningkatan status sosial ekonomi merupakan
faktor risiko terjadinya karies gigi dan secara umum diukur dari indikator seperti
pendapatan, tingkat pendidikan, pola hidup dan prilaku kesehatan gigi. Karies
lebih sering terjadi pada kelas sosial ekonomi rendah dibandingkan dengan kelas
sosial ekonomi tinggi. Sebenarnya hal ini terjadi bukan karena mahalnya biaya
perawatan gigi, tetapi lebih karena besarnya rasa kebutuhan terhadap kesehatan
gigi.

e) Oral Higiene

Salah satu komponen dalam terjadinya karies adalah plak bakteri pada
gigi. Karies dapat dikurangi dengan melakukan penyingkiran plak secara mekanis
dari permukaan gigi. Pembersihan dengan menggunakan pasta gigi mengandung

7
fluoride secara rutin dapat mencegah karies. Pemeriksaan gigi yang teratur dapat
mendeteksi gigi yang berpotensi menjadi karies. Kontrol plak yang teratur dan
pembersihan gigi dapat membantu mengurangi insidens karies gigi. Bila plaknya
perawatan gigi, tetapi lebih karena besarnya rasa kebutuhan terhadap kesehatan
gigi.

f) Pola Makan

Pengaruh pola makan dalam proses karies biasanya lebih bersifat lokal
daripada sistemik, terutama dalam hal frekuensi mengonsumsi makanan. Kadar
kariogenik dalam makanan tergantung pada komponen-kompnennya dan
dipengaruhi berbagai macam faktor. Karbohidrat akan di metabolisme oleh
bakteri plak menjadi asam dengan kadar yang berbeda. Seseorang dengan
kebiasaan diet gula terutama sukrosa cenderung mengalami kerusakan pada
giginya dibandingkan kebiasaan diet lemak dan protein. Setiap kali seseorang
mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat yang dapat
diragikan, maka beberapa bakteri penyebab karies di rongga mulut akan memulai
memproduksi asam sehingga terjadi demineralisasi yang berlangsung selama 20-
30 menit setelah makan. Diantara periode makan, saliva akan bekerja menetralisir
asam dan membantu proses remineralisasi. Tetapi apabila makanan dan minuman
berkarbonat terlalu sering dikonsumsi, maka enamel gigi tidak mempunyai
kesempatan untuk melakukan remineralisasi dengan sempurna sehingga terjadi
karies.

Konsistensi dari makanan juga mempengaruhi kecepatan pembentukan


plak. Makanan lunak yang tidak memerlukan pengunyahan hanya memiliki
sedikit efek membersihkan gigi geligi atau bahkan tidak sama sekali, sedamgkan
jenis makanan yang mudah melekat ke gigi seperti coklat dan permen,
memudahkan kemungkinan terjadinya karies karena lamanya retensi makanan
terhadap gigi.

Gula bukan hanya terdapat pada makanan, tetapi juga terdapat pada
minuman. Minuman yang mengandung gula seperti jus, minuman soda berpotensi

8
menyebabkan demineralisasi enamel karena nilai pH yang rendah mempengaruhi
perkembangan bakteri di rongga mulut. Beberapa jenis diet yang dapat
mempengaruhi naik dan turunnya pH rongga mulut yaitu:

 Diet kariogenik yaitu, makanan dan minuman yang mengandung


karbohidrat yang diragian dan dapat menyebabkan penuurunan pH plak
dibawah 5,5. Seperti kopi, teh manis, coklat dll)
 Diet kariostatik, yaitu makanan yang tidak dapat dimetabolisme oleh
bakteri plak dan tidak menyebabkan penurunan pH plak dibawah. Seperti
sarbitol, mannitol dan xylitol.
 Diet antikariogenik, yaitu makanan dan minuman yang dapat menaikan
pH plak sehingga membantu proses remineralisasi. Seperti keju dan
kacang-kacangan.

Ketiga diet ini dipengaruhi oleh jenis makanan, frekuensi konsumsi gula,
lamanya retensi makanan, komposisi dan kemampuan makanan merangsang
sekresi saliva. Diet yang seimbang akan menurunkan risiko karies dan
meningkatkan kesehatan umum.

2.2 Pemberian fluoride dalam pencegahan karies

Fluor adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
lambang F dan nomor atom 9. Namanya berasal dari bahasa Latin fluere, berarti
"mengalir”. Dalam bentuk murninya dia sangat berbahaya, dapat menyebabkan
pembakaran kimia parah begitu berhubungan dengan kulit. Flour merupakan
unsur nonlogam yang paling elektronegatif, oleh sebab itu juga merupakan unsur

9
yang paling reaktif. Jika didekatkan dengan bahan-bahan yang terbuat dari
minyak dan gas maka akan dapat menimbulkan api. Fluor sangat reaktif sehingga
jarang ditemukan dalam keadaan bebas, fluor biasa dijumpai berikatan dengan
unsur atau senyawa lain, sehingga biasanya berbentuk dalam senyawa seperti
fluorit , kriolit, dan apatit. Fluor yang berikatan dengan oksigen akan membentuk
senyawa fluorida, yang terdapat dalam mineral yang terlarut dalam air sungai dan
air laut.
Fluor merupakan unsur yang penting dalam pembentukan gigi dan tulang.
Kekerasan gigi dan tulang ditentukan oleh kadar senyawa-senyawa kalsium yang
tinggi di dalam tulang. Fluor adalah mineral yang secara alamiah terdapat di
semua sumber air termasuk laut. Fluor tidak pernah ditemukan dalam bentuk
bebas di alam. Ia bergabung dengan unsur lain membentuk senyawa fluoride.
Fluor biasa ditemukan pada ikan, daging, sayuran, buah-buahan, susu,
ikan teri serta air minum yang telah terfluoridasi. Fungsi fluor untuk tubuh
sangatlah banyak sekali, terutama fungsi yang berkaitan dengan pembentukan gigi
dan tulang. Fungsi fluor untuk tulang adalah membantu mineralisasi tulang dan
mencegah osteoporosis. Sedangkan fungsi fluor pada gigi adalah untuk
mengurangi insiden terjadinya karies dengan menghambat metabolism bakteri
karies, menghambat demineralisasi enamel dengan meningkatkan
remineralisasinya.
Pemakaian fluor pada gigi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan
cara sistemik maupun topical. Cara sistemik ini berpengaruh pada waktu
pertumbuhan dan perkembangan gigi. Sedangkan cara topical pengaruhnya ialah
pada saat gigi tersebut telah tumbuh untuk melindungi gigi.
Fluor ini memiliki dampak yang sangat banyak bagi tubuh. Selain dampak
positif yang telah dijelaskan diatas, dampak negative kekurangan serta kelebihan
fluor sangatlah banyak. Seperti dampak kekurangan fluor yaitu gigi akan mudah
rapuh dan rentan terserang karies. Sedangkan jika konsumsi fluor secara berlebih
juga menimbulkan keadaan negative yang disebut fluorosis, keadaan ini ditandai
dengan adanya mottled enamel pada gigi serta dapat menimbulkan kerusakan
ginjal jika dikonsumsi dalam dosis yang tinggi.

10
a. Penggunaan Fluor Secara Topikal

Menurut Angela (2005), tujuan penggunaan fluor adalah untuk


melindungi gigi dari karies, fluor bekerja dengan cara menghambat metabolisme
bakteri plak yang dapat memfermentasi karbohidrat melalui perubahan hidroksil
apatit pada enamel menjadi fluor apatit yang lebih stabil dan lebih tahan terhadap
pelarutan asam. Reaksi kimia : Ca10(PO4)6(OH)2+F → Ca10(PO4)6(OHF)
menghasilkan enamel yang lebih tahan asam sehingga dapat menghambat proses
demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi. Remineralisasi adalah proses
perbaikan kristal hidroksiapatit dengan cara penempatan mineral anorganik pada
permukaan gigi yang telah kehilangan mineral tersebut (Kidd dan Bechal,
1991). Demineralisasi adalah proses pelarutan kristal hidroksiapatit email gigi,
yang terutama disusun oleh mineral anorganik yaitu kalsium dan fosfat, karena
penurunan pH plak sampai mencapai pH kritis (pH 5) oleh bakteri
yang menghasilkan asam (Rosen, 1991; Wolinsky, 1994).
Penggunaan fluor sebagai bahan topikal aplikasi telah dilakukan sejak
lama dan telah terbukti menghambat pembentukan asam dan pertumbuhan
mikroorganisme sehingga menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam
mempertahankan permukaan gigi dari proses karies. Penggunaan fluor secara
topikal untuk gigi yang sudah erupsi, dilakukan dengan beberapa cara (Yanti,
2002) :
 Topikal aplikasi yang mengandung fluor
 Kumur-kumur dengan larutan yang mengandung fluor
 Menyikat gigi dengan pasta yang mengandung fluor

1. Topikal Aplikasi

Yang dimaksud dengan topikal aplikasi fluor adalah pengolesan langsung


fluor pada enamel. Setelah gigi dioleskan fluor lalu dibiarkan kering selama 5
menit, dan selama 1 jam tidak boleh makan, minum atau berkumur (Lubis, 2001).

11
Sediaan fluor dibuat dalam berbagai bentuk yaitu NaF, SnF2, APF yang
memakainya diulaskan pada permukaan gigi dan pemberian varnish fluor. NaF
digunakan pertama kali sebagai bahan pencegah karies. NaF merupakan salah satu
yg sering digunakan karena dapat disimpan untuk waktu yang agak lama,
memiliki rasa yang cukup baik, tidak mewarnai gigi serta tidak mengiritasi
gingiva. Senyawa ini dianjurkan penggunaannnya dengan konsentrasi 2%,
dilarutkan dalam bentuk bubuk 0,2 gram dengan air destilasi 10 ml (Yanti, 2002).
Sekarang SnF2 jarang digunakan karena menimbulkan banyak kesukaran,
misalnya rasa tidak enak sebagai suatu zat astringent dan kecenderungannya
mengubah warna gigi karena beraksinya ion Sn dengan sulfida dari makanan,
serta mengiritasi gingiva. SnF2 juga akan segera dihidrolisa sehingga harus selalu
memakai sediaan yang masih baru (Kidd dan Bechal, 1991). Konsentrasi senyawa
ini yang dianjurkan adalah 8%. Konsentrasi ini diperoleh dengan
melarutkan bubuk SnF2 0,8 gramdengan air destilasi 10 ml. Larutan ini sedikit
asam dengan pH 2,4-2,8.
APF lebih sering digunakan karena memiliki sifat yang stabil, tersedia
dalam bermacam-macam rasa, tidak menyebabkan pewarnaan pada gigi dan tidak
mengiritasi gingiva. Bahan ini tersedia dalam bentuk larutan atau gel, siap pakai,
merupakan bahan topikal aplikasi yang banyak di pasaran dan dijual bebas. APF
dalam bentuk gel sering mempunyai tambahan rasaseperti rasa jeruk, anggur dan
jeruk nipis (Yanti, 2002).
Pemberian varnish fluor dianjurkan bila penggunaan pasta gigi
mengandung fluor, tablet fluor dan obat kumur tidak cukup untuk mencegah atau
menghambat perkembangan karies. Pemberian varnish fluor diberikan setiap
empat atau enam bulan sekali pada anak yang mempunyai risiko karies tinggi.
Salah satu varnish fluor adalah duraphat (colgate oral care) merupakan larutan
alkohol varnis alami yang berisi 50 mg NaF/ml (2,5 % sampai kira-kira 25.000
ppm fluor). Varnish dilakukan pada anak-anak umur 6 tahun ke atas karena anak
dibawah umur 6 tahun belum dapat menelan ludah dengan baik sehingga
dikhawatirkan varnish dapat tertelan dan dapat menyebabkan fluorosis enamel
(Angela, 2005).

12
2. Pasta gigi fluor

Penyikatan gigi dua kali sehari dengan menggunakan pasta gigi yang
mengandung fluor terbukti dapat menurunkan karies (Angela, 2005). Akan tetapi
pemakaiannya pada anak pra-sekolah harus diawasi karena pada umunya mereka
masih belum mampu berkumur dengan baik sehingga sebagian pasta giginya bisa
tertelan. Kebanyakan pasta gigi yang kini terdapat di pasaran mengandung kira-
kira 1 mg F/g ( 1 gram setara dengan 12 mm pasta gigi pada sikat gigi) (Kidd dan
Bechal, 1991).

2. Efek fluor secara topikal

Ada beberapa pendapat mengenai efek aplikasi fluor secara topikal dalam
menghambat karies gigi yaitu enamel menjadi lebih tahan terhadap demineralisasi
asam, dapat memacu proses remineralisasi pada permukaan enamel, menghambat
sistem enzim mikrobiologi yang merubahkarbohidrat menjadi asam dalam plak
gigi dan adanya efek bakteriostatik yang menghambat kolonisasi bakteri pada
permukaan gigi (Lubis, 2001).

b. Pemberian Fluor Secara Sistemik

Fluoride sistemik adalah fluoride yang diperoleh tubuh melalui


pencernaan dan ikut membentuk struktur gigi. Fluoride sistemik juga memberikan
perlindungan topikal karena fluoride ada di dalam air liur yang terus membasahi
gigi. Fluoride sistemik ini meliputi fluoridasi air minum dan melalui pemberian
makanan tambahan fluoride yang berbentuk tablet, tetes atau tablet isap. Namun
di sisi lain, para ahli sudah mengembangkan berbagai metode penggunaan fluor,
yang kemudian dibedakan menjadi metode perorangan dan kolektif. Contoh

13
penggunaan kolektif yaitu fluoridasi air minum (biasa kita peroleh dari air
kemasan) dan fluoridasi garam dapur (Ars creation, 2010).

3.2 Mekanisme Perlindungan Fluor terhadap Gigi

Fluor mempunyai tiga mekanisme aksi dasar, yaitu:

o Menghambat metabolisme bakteri


o Menghambat demineralisasi
o Meningkatkan remineralisasi

1. Menghambat metabolisme bakteri

 Fluor yang terionisasi (F-) tidak dapat menembus dinding dan membran
bakteri , tetapi dapat masuk ke sel bakteri kariogenik dalam bentuk HF.
 Ketika pH plak turun akibat bakteri yang menghasilkan asam, ion
hydrogen akan berikatan dengan fluor dalam plak membentuk HF yang
dapat berdifusi secara cepat ke dalam sel bakteri.
 Di dalam sel bakteri, HF akan terurai menjadi H+ dan F-. H+ akan
membuat sel menjadi asam dan F- akan mengganggu aktivitas enzim
bakteri.
 Contohnya fluor menghambat enolase (enzim yang dibutuhkan bakteri
untuk metabolisme karbohidrat).
 Terperangkapnya fluor di dalam sel merupakan proses yang kumulatif.

2. Menghambat demineralisasi

14
 Mineral di dalam gigi (email, sementum, dentin) dan tulang adalah
karbonat hidroksiapatit, dengan formula Ca10-x(Na)x(PO4)6-y(CO3)z(OH)2-
u(F)u.

 Pada saat perkembangan gigi, mineral pertama yang hilang adalah


karbonat (CO3) yang menyebabkan terbentuknya ruangan di dalam kristal.
 Saat demineralisasi, mineral yang hilang adalah karbonat, tetapi selama
remineralisasi karbonat tidak akan terbentuk kembali melainkan
digantikan oleh mineral yang baru.
 Pada kristal yang mengalami defisiensi kalsium tetapi kaya karbonat, akan
lebih rentan terhadap asam selama demineralisasi.
 Karbonat hidroksiapatit (CAP) lebih larut dalam asam daripada
hidroksiapatit (HAP= Ca10(PO4)6(OH)2) dan fluorapatit (FAP=
Ca10(PO4)6F2) dimana ion OH- pada hidroksiapatit digantikan oleh F-
menghasilkan FAP yang sangat resisten terhadap disolusi asam.
 Fluor menghambat demineralisasi.
 Fluor yang menyelubungi kristal CAP lebih efektif menghambat
demineralisasi daripada fluor yang tergabung di dalam kristal pada email.
 Fluor yang tergabung dalam kristal pada dosis 20-100 ppm, tidak
memberikan pengaruh pada solubilitas terhadap asam.
 Namun, Fluor yang terkonsentrasi pada permukaan kristal yang baru
selama remineralisasi dapat mengubah solubilitas terhadap asam.
 Pada saat bakteri menghasilkan asam, fluor dalam cairan plak akan masuk
bersama asam ke bawah permukaan gigi yang kemudian diadsorpsi lebih
kuat ke permukaan Kristal CAP (mineral email) dan menyebabkan
mekanisme proteksi yang poten melawan disolusi asam pada permukaan
kristal pada gigi.
 Fluor yang menyelubungi kristal berasal dari cairan plak melalui aplikasi
topikal, seperti air minum atau produk fluor.
 Fluor yang tergabung dalam kristal tidak berperan signifikan dalam
proteksi terhadap karies sehingga perlu diberikan fluor terus-menerus
sepanjang hidup.

15
3. Meningkatkan remineralisasi

 Ketika saliva mengenai plak dan komponen-komponennya, saliva dapat


menetralisasi asam sehingga menaikkan pH yang akan menghentikan
demineralisasi.
 Saliva bersama kalsium dan fosfat akan menarik komponen yang hilang
ketika demineralisasi kembali menyusun gigi. Permukaan kristal yang
terdemineralisasi yang terletak antara lesi akan bertindak sebagai
‘nukleator’ dan permukaan baru akan terbentuk.
 Proses tersebut disebut remineralisasi, yaitu penggantian mineral pada
daerah-daerah yang terdemineralisasi sebagian akibat lesi karies pada
email atau dentin (termasuk bagian akar).
 Fluor akan meningkatkan remineralisasi dengan mengadsorpsi pada
permukaan kristal menarik ion kalsium diikuti dengan ion fosfat untuk
pembentukan mineral baru.
 Mineral yang baru terbentuk disebut veneer yang tidak mengandung
karbonat dan komposisinya memiliki kemiripan antara HAP dan FAP.
FAP mengandung sekitar 30.000 ppm fluor dan memiliki kelarutan
terhadap asam yang rendah.
 Mineral yang baru terbentuk memiliki sifat seperti FAP yang kelarutan
dalam asam lebih rendah daripada CAP.

3.3 Dampak Kelebihan dan Kekurangan Fluor

a. Dampak Kekurangan Fluor

Dampak dari kekurangan flour dapat menyebabkan :

1. Kerusakan gigi yang berlebihan.

16
2. Kekurangan fluor ini akan mengakibatkan gigi menjadi rapuh.

3. Selain gigi menjadi rapuh, bila kekurangan flour ini dapat menyebabkan gigi
mudah terserang karies atau gigi gigis (caries dentis).

4. Terjadi perubahan warna pada gigi anak.

5. Dapat terjadi penipisan tulang.

b. Dampak Kelebihan Flour

Tingginya kandungan fluor pada air minum mengakibatkan kerusakan


pada gigi. Semua zat bila digunakan tidak semestinya atau berlebihan maka akan
menyebabkan masalah atau berbahaya bagi kesehatan. Di bawah ini tabel
kelebihan dosis fluor yang dapat menyebabkan kelaianan :

2 ppm Mottled enamel


5 ppm Osteosklerosis
50 ppm Kelainan kelenjar thyroid
120 ppm Retardasi pertumbuhan
125 ppm Ginjal
2,5 gram – 5 gram Dosis akut dan kematian

Kelebihan flour dapat mengakibatkan kelainan tulang dan gigi. Flour


dalam tubuh separuhnya akan disimpan dalam tulang dan terus bertambah sesuai
umur, akibatnya tulang menjadi mudah patah karena terjadi flourosis pada tulang.
Berikut merupakan dampak fluor :

 Fluorosis sendiri adalah perubahan yang tampak pada gigi akibat konsumsi
fluor yang berlebihan pada awal masa anak-anak ketika giginya sedang
tumbuh. Dampak fluorosis ini bisa ringan dan bisa pula fatal, flourosis gigi
ditandai dengan :
a) Noda coklat atau bintik-bintik kuning yang menyebar di permukaan gigi
akibat pembentukan email gigi yang tidak sempurna.

17
b) Email gigi yang tidak sempurna menyebabkan gigi menjadi mudah
berlubang.
c) Timbul bercak putih dan cokelat di gigi.

Kasus ini banyak ditemukan di Indonesia. Walau berdampak ringan dan tidak
menimbulkan rasa nyeri pada gigi, namun bisa mengurangi penampilan akibat
gigi yang tidak sedap dipandang mata.
 Gigi bisa berlubang yang akhirnya hancur atau tanggal.
 Kerusakan hati. Gejala-gejala penyakit/kerusakan hati akibat fluorosis
biasanya sama dengan gejala penyakit lever yang disebabkan faktor lain.
Walau kasus fluorosis yang menyebabkan penyakit lever ini belum
ditemukan, orang tua harus tetap memantau pemakaian pasta gigi pada anak.
 Kerusakan ginjal. Hingga saat ini kasus semacam ini amat jarang ditemukan.
Namun kelebihan fluor juga bisa mengakibatkan kerusakan ginjal yang bila
tidak segera ditangani akan mengarah pada gagal ginjal.
 Kerapuhan tulang (osteoporosis). Tidak hanya gigi yang dibuat rapuh/rusak,
tapi juga seluruh tulang akan terancam rapuh. Akibat lebih lanjut, tumbuh-
kembang si kecil jadi terhambat sementara pengobatannya pun amat sulit.
 Kerusakan pada gigi berupa perubahan warna gigi menjadi tidak putih lagi
seperti gigi yang sehat tetapi menjadi pucat dan buram dan yang paling parah
adalah warna gigi menjadi gelap dan gigi menjadi rapuh. Proses tersebut
disebut fluorosis. Fluorosis tidak dapat diobati, tetapi kalau tanda tersebut
diketahui lebih awal dapat dicegah agar tidak lebih berlanjut.
 Kelebihan fluor tersebut juga akan merusak tulang, mengakibatkan rasa sakit
yang hebat pada tulang dan akibat yang paling fatal dapat mengakibatkan
kelumpuhan. Hal ini juga dapat menyebabkan anemia, email gigi kita terlihat
ada bercak-bercak putih yang dinamakan mottled enamel. Mottled enamel
(spot putih) akibat kelebihan flour karena pengaruh air minumnya. Terkadang
dapat menimbulkan noda yang berwarna coklat sampai hitam. kerusakan gigi
yang pada stadium lanjut gigi menjadi bergaris-garis gelap dan terlihat seperti
lubang dan gigi yang tanggal.

18
 Kepadatan gigi meningkat, mengganggu impuls syaraf serta pertumbuhan
tulang diluar tulang belakang.
 Kelebihan fluor juga dapat menimbulkan gangguan kelenjar thyroid

3.4 Klasifikasi Fluorosis

Fluorosis dapat diklasifikasikan menjadi:


a. Penggunaan air ber-fluoride pada tingkat kelas 1ppm yang konstan merupakan
penyebab bintik gigi yang paling ringan.

b. Sangat ringan (Very Mild) : dalam jenis ini ada daerah putih sangat kecil yang
kadang-kadang terlihat pada permukaan gigi, tapi tidak melibatkan lebih dari 25%
dari permukaan gigi.
c. Ringan (Mild) : dalam jenis ini ada keterlibatan gigi lebih luas dan melibatkan
50% dari permukaan gigi.
d. Sedang (Moderate) : gigi memiliki keterlibatan permukaan yang lebih banyak,
mengalami atrisi, dan menunjukkan pigmentasi kuning atau coklat.
e. Berat (Severe) : semua permukaan enamel terlibat, terdapat noda coklat yang
luas, dan permukaan gigi mengalami korosi.
(Walton dan Torabinejab, 1996)

19
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

1) Karies gigi merupakan penyakit yang terdapat pada jaringan keras gigi
yaitu email, dentin dan sementum yang mengalami proses kronis regresif.
2) Karies gigi dimulai dengan kerusakan pada email yang dapat berlanjut ke
dentin. Mekanisme terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak
beserta bakteri penyusunnya. Dalam proses terjadinya karies,
mikroorganisme lactobacillus dan Streptococcus mempunyai peranan
yang sangan besar. Proses karies dimulai oleh Streptococcus dengan
membentuk asam sehingga menghasilkan pH yang lebih rendah.
Penurunan pH tersebut mendorong laktobacillus untuk memproduksi asam
dan menyebabkan terjadinya proses karies.
3) Fluor adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
lambang F dan nomor atom 9. Namanya berasal dari bahasa Latin fluere,
berarti "mengalir”.
4) Pemberian fluor dapat diberikan secara system topical dan sistemik.
5) Dampak dari kekurangan fluor dapat menyebabkan : Kerusakan gigi yang
berlebihan, kekurangan fluor ini akan mengakibatkan gigi menjadi rapuh.
Selain gigi menjadi rapuh, bila kekurangan flour ini dapat menyebabkan
gigi mudah terserang karies atau gigi gigis (caries dentis). Terjadi
perubahan warna pada gigi anak. Serta dapat terjadi penipisan tulang.

20
6) Dampak dari kelebihan fluor dapat menyebabkan : Fluorosis, gigi bisa
berlubang yang akhirnya hancur atau tanggal, kerusakan hati, kerusakan
ginjal, kerapuhan tulang (osteoporosis), kerusakan pada gigi, kelebihan
fluor tersebut juga akan merusak tulang, mengakibatkan rasa sakit yang
hebat pada tulang dan akibat yang paling fatal dapat mengakibatkan
kelumpuhan. Kepadatan gigi meningkat, mengganggu impuls syaraf serta
pertumbuhan tulang diluar tulang belakang. Kelebihan fluor juga dapat
menimbulkan gangguan kelenjar thyroid.

3.2 Saran

Tiada gading yang tak retak, begitupun dengan karya ilmiah ini masih jauh
dari sempurna, oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat konstruktif guna perbaikan karya ilmiah ini di masa mendatang.

21
DAFTAR PUSTAKA

Ars Creation. 2010. Fluor dan Kesehatan Gigi.


http://goldenpen007x.blogdrive.com/archive/147.html (diakses 14 Mei 2010).

Angela A. 2005. Pencegahan primer pada anak yang beresiko karies tinggi. Maj.
Ked. Gigi (Dent. J.). 38 (3):130-34.

C. Marya & V. Dahiya : Fluoride Varnish: A Useful Dental Public Health Tool .
The Internet Journal of Dental Science. 2007 Volume 4 Number 2

D., Zelvya P.R. 2003. Kesehatan Gigi dan


Mulut.http://beta.tnial.mil.id/cakrad_cetak (diakses 14 Mei 2010)

Donley, Kevin J. Fluoride Varnishes. Journal of Californian Dental Association.


2003

Featherstone JDB. 2000. The science and practice of caries


prevention. JADA. 131:887–99.

Fejerskow, et all. 1991. Fluorosis (alih bahasa oleh Purwanto). Jakarta:


Hipokrates.

Herdiyati, Yetty, dkk. 2010. Penggunaan Fluor dalam Kedokteran Gigi. Bandung:
FKG UNPAD

Houwink, Prof. Dr. B., dkk. Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan. 1993. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press

http://healthmantra.com/ypb/apr01/fluorosis.shtml

22